Anda di halaman 1dari 19

GLOBALISASI

Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan
dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya.[1][2] Kemajuan infrastruktur
transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor
utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi)
aktivitas ekonomi dan budaya.[3]

Meski sejumlah pihak menyatakan bahwa globalisasi berawal di era modern, beberapa pakar
lainnya melacak sejarah globalisasi sampai sebelum zaman penemuan Eropa dan pelayaran ke
Dunia Baru. Ada pula pakar yang mencatat terjadinya globalisasi pada milenium ketiga sebelum
Masehi.[4][5] Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi dan budaya
dunia berlangsung sangat cepat.

Istilah globalisasi makin sering digunakan sejak pertengahan tahun 1980-an dan lebih sering lagi
sejak pertengahan 1990-an.[6] Pada tahun 2000, Dana Moneter Internasional (IMF)
mengidentifikasi empat aspek dasar globalisasi: perdagangan dan transaksi, pergerakan modal
dan investasi, migrasi dan perpindahan manusia, dan pembebasan ilmu pengetahuan.[7] Selain
itu, tantangan-tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, polusi air dan udara lintas
perbatasan, dan pemancingan berlebihan dari lautan juga ada hubungannya dengan globalisasi.[8]
Proses globalisasi memengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis dan tata kerja, ekonomi, sumber
daya sosial-budaya, dan lingkungan alam.

Pengenalan

Rentang Jalur Sutra dan rute perdagangan rempah milik Kesultanan Utsmaniyah pada masa
penjelajahan tahun 1453

Manusia telah berinteraksi dalam kisaran jarak jauh selama ribuan tahun. Sebagai contohnya
adalah Jalur Sutra darat yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa dan menyebabkan banyak
perubahan pada peradaban bangsa-bangsa di "Dunia Lama". Pemikiran, agama, bahasa,
kesenian, dan aspek budaya lainnya menyebar dan bercampur ketika negara-negara bertukar
barang dan ide.

Perpindahan manusia, barang, dan ide secara global meluas pada abad-abad selanjutnya. Pada
abad ke-15 dan 16, bangsa Eropa membuat rintisan terpenting dalam penjelajahan samudra, salah
satunya adalah pelayaran transatlantik ke "Dunia Baru" yang disebut Amerika. Pada awal abad
ke-19, perkembangan bentuk transportasi baru (seperti kapal uap dan rel kereta) dan
telekomunikasi yang menyusutkan ruang dan waktu memungkinan terjadinya interaksi global
dengan sangat cepat.[9] Pada abad ke-20, kendaraan darat, angkutan intermodal, dan maskapai
penerbangan membuat transportasi semakin cepat. Penemuan telekomunikasi elektronik, seperti
telepon genggam dan Internet, membuat miliaran orang bisa saling terhubung dengan berbagai
cara pada tahun 2010.
Pengertian
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu
(benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah.
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working
definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya
sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa
seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan
kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis,
ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara
adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari
sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir.
Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-
negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung
berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang
lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali
menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.

Jan Aart Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan
globalisasi:

 Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional.


Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing,
namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
 Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar
negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
 Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material
maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi
pengalaman seluruh dunia.
 Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin
menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
 Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan
keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih
mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki
status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara. [26]

Globalisasi Sejarah
Ada penyebab jauh dan dekat yang dapat ditemukan pada faktor-faktor sejarah yang
memengaruhi globalisasi. Globalisasi berskala besar dimulai pada abad ke-19.[9]

Globalisasai Kuno

Globalisasi kuno dipandang sebagai suatu fase dalam sejarah globalisasi yang mengacu pada
peristiwa dan perkembangan globalisasi sejak masa peradaban terawal sampai kira-kira tahun
1600-an. Istilah ini dipakai untuk menyebut hubungan antara masyarakat dan negara dan cara
keduanya dibentuk oleh persebaran ide dan norma sosial baik di tingkat lokal maupun
regional.[27]

Dalam skema ini, ada tiga penyebab yang dipaparkan sebagai pemicu globalisasi. Penyebab
pertama adalah pemikiran Timur yang berarti bahwa negara-negara Barat telah mengadaptasi
dan menerapkan prinsip-prinsip yang dipelajari dari Timur.[27] Tanpa ide tradisional dari Timur,
globalisasi Barat tidak akan terjadi sebagaimana mestinya. Penyebab kedua adalah jarak;
interaksi antarnegara belum berskala global dan masih berada di seputaran Asia, Afrika Utara,
Timur Tengah, dan sebagian Eropa.[27] Pada globalisasi awal, negara masih sulit berinteraksi
dengan negara lain yang letaknya jauh. Kemajuan teknologi kemudian memungkinkan negara
mengetahui keberadaan negara lain yang letaknya jauh, dan fase globalisasi yang baru pun
terjadi. Penyebab ketiga adalah saling ketergantungan, kestabilan, dan regularitas. Jika suatu
negara tidak bergantung dengan negara lain, tidak ada cara lain bagi negara tersebut untuk
memengaruhi dan dipengaruhi oleh negara lain. Inilah salah satu penggerak utama di balik
hubungan dan perdagangan global. Tanpa keduanya, globalisasi tidak akan berjalan seperti yang
sudah-sudah dan negara akan tetap bergantung pada produksi dan sumber dayanya sendiri
supaya bisa terus berdiri. Sejumlah pakar berpendapat bahwa globalisasi kuno tidak berjalan
seperti globalisasi modern karena negara-negara waktu itu tidak saling bergantung seperti
sekarang.[27]

Ada pula sifat multipolar dalam globalisasi kuno yang melibatkan partisipasi aktif bangsa non-
Eropa. Karena globalisasi kuno sudah ada sebelum Pembelahan Besar abad ke-19, masa ketika
Eropa Barat memiliki produksi industri dan hasil ekonomi yang lebih maju ketimbang kawasan
lain di dunia, globalisasi kuno menjadi fenomena yang tidak hanya digerakkan oleh Eropa tetapi
juga oleh wilayah Dunia Lama yang ekonominya sudah maju seperti Gujarat, Bengal, pesisir
Cina, dan Jepang.[28]

Ekonom dan sosiolog historis Jerman Andre Gunder Frank berpendapat bahwa globalisasi
diawali oleh munculnya hubungan dagang antara Sumer dan Peradaban Lembah Indus pada
milenium ketiga SM. Globalisasi kuno ini terjadi pada Zaman Helenistik, zaman ketika pusat-
pusat kota komersial membentuk poros budaya Yunani yang merentang dari India sampai
Spanyol, termasuk Alexandria dan kota-kota era Alexander lainnya. Sejak itu, posisi geografis
Yunani dan impor gandum memaksa bangsa Yunani melakukan perdagangan lewat laut.
Perdagangan di Yunani kuno sangat tidak dibatasi, dan negara hanya mengendalikan suplai
gandum.[4]

Modern Awal

Globalisasi modern awal atau proto-globalisasi mencakup periode sejarah globalisasi antara 1600
dan 1800. Konsep proto-globalisasi pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan A. G. Hopkins
dan Christopher Bayly. Istilah ini berarti fase peningkatan hubungan dagang dan pertukaran
budaya yang menjadi ciri khas periode sebelum munculnya globalisasi modern pada akhir abad
ke-19.[29] Fase globalisasi ini dicirikan oleh bangkitnya imperium maritim Eropa pada abad ke-
16 dan 17. Imperium pertama yang muncul adalah Portugal dan Spanyol, kemudian muncullah
Belanda dan Britania. Pada abad ke-17, perdagangan dunia berkembang lebih jauh ketika
perusahaan kerajaan (chartered company) seperti British East India Company (didirikan tahun
1600) dan Vereenigde Oostindische Compagnie (didirikan tahun 1602, sering dianggap sebagai
perusahaan multinasional pertama yang membuka sahamnya) didirikan.[30]

Globalisasi modern awal berbeda dengan globalisasi modern dalam hal tujuan ekspansionisme,
cara mengelola perdagangan global, dan tingkat pertukaran informasi. Periode ini ditandai oleh
banyaknya perjanjian dagang seperti yang dilakukan East India Company, peralihan hegemoni
ke Eropa Barat, terjadinya konflik berskala besar antara negara besar seperti Perang Tiga Puluh
Tahun, dan munculnya komoditas baru seperti perdagangan budak. Perdagangan Segitiga
memungkinan Eropa mendapatkan keuntungan dari sumber-sumber daya di dunia barata.
Perpindahan hewan, tanaman, dan wabah penyakit yang dikaitkan dengan konsep Pertukaran
Columbus oleh Alfred Crosby juga memainakn peran penting dalam proses ini. Perdagangan dan
komunikasi modern awal melibatkan banyak kelompok masyarakat, termasuk pedagang Eropa,
Muslim, India, Asia Tenggara, dan Cina, terutama di kawasan Samudra Hindia.
Britania Raya pada abad ke-19 menjadi kekuatan super ekonomi pertama di dunia berkat
teknologi pabriknya yang superior dan sistem transportasi global yang maju seperti kapal uap
dan rel kereta api.

Modern

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah globalisasi

Sepanjang abad ke-19, globalisasi mulai mendekati bentuknya yang modern akibat revolusi
industri. Industrialisasi memungkinkan standardisasi produksi barang-barang rumah tangga
menggunakan ekonomi skala, sedangkan pertumbuhan penduduk yang cepat menciptakan
permintaan barang yang stabil. Pada abad ke-19, kapal uap sangat menghemat biaya transportasi
internasional dan rel kereta menjadikan transportasi darat lebih murah. Revolusi transportasi
terjadi antara 1820 dan 1850.[9] Jumlah negara yang ikut dalam perdagangan internasional
semakin banyak.[9] Globalisasi pada masa ini sangat dipengaruhi oleh imperialisme abad ke-19
seperti yang terjadi di Afrika dan Asia. Penemuan kontainer kapal tahun 1956 turut memajukan
globalisasi perdagangan.[31][32]

Setelah Perang Dunia Kedua, para politikus berhasil mewujudkan konferensi Bretton Woods,
perjanjian yang disepakati negara-negara besar untuk menyusun kebijakan moneter internasional,
perdagangan dan keuangan, dan pembentukan sejumlah lembaga internasional yang bertujuan
memfasilitasi pertumbuhan ekonomi, pembebasan perdagangan secara bertahap, dan
penyederhanaan dan pengurangan batasan perdagangan. Awalnya, General Agreement on Tariffs
and Trade (GATT) mengeluarkan beberapa perjanjian untuk menghapus batasan perdagangan.
GATT kemudian digantikan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk mengelola sistem
perdagangan. Ekspor nyaris berlipat dari 8,5% total produk bruto dunia tahun 1970 menjadi
16,2% tahun 2001.[33] Pemanfaatan perjanjian global untuk memajukan perdagangan terhambat
oleh gagalnya putaran negosiasi Doha. Banyak negara yang beralih ke perjanjian bilateral atau
perjanjian multilateral yang lebih kecil, misalnya Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika
Serikat–Korea Selatan 2011.

Sejak 1970-an, penerbangan semakin terjangkau bagi kelas menengah di negara-negara


berkembang Kebijakan langit terbuka dan maskapai bertarif rendah ikut mendorong persaingan
pasar. Pada tahun 1990-an, pertumbuhan jaringan komunikasi bertarif rendah memangkas biaya
komunikasi antarnegara. Banyak hal yang bisa dilakukan melalui komputer tanpa memedulikan
lokasinya seperti akuntansi, pengembangan perangkat lunak, dan desain rekayasa.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi dan kebudayaan dunia
tumbuh sangat cepat. Pertumbuhan ini melambat sejak 1910-an sampai seterusnya akibat Perang
Dunia dan Perang Dingin,[34] tetapi berhasil melaju lagi sejak kebijakan neoliberal dirintis tahun
1980-an dan perestroika serta reformasi ekonomi Cina Deng Xiaoping membawa paham
kapitalisme barat ke Blok Timur lama.[35] Pada awal 2000-an, sebagian besar negara maju
mengalami Resesi Besar,[36] sehingga memperlambat proses globalisasi untuk sementara.[37][38][39]
Perdagangan dan globalisasi telah berevolusi jauh pada masa kini. Masyarakat yang
terglobalisasi memiliki serangkaian pendorong dan faktor yang terus mendekatkan manusia,
kebudayaan, pasar, kepercayaan, dan aktivitasnya.[40]

Aspek
Organisasi bisnis global

Seiring kemajuan transportasi dan komunikasi, bisnis internasional tumbuh pesat setelah awal
abad ke-20. Bisnis internasional mencakup semua transaksi komersial (swasta, penjualan,
investasi, logistik, dan transportasi) yang terjadi antara dua wilayah, negara, dan bangsa atau
lebih di luar batas politiknya. Diversifikasi internasional ini disesuaikan dengan kinerja dan
inovasi, namun biasanya kinerja meningkat dan inovasi menurun.[41] Biasanya perusahaan-
perusahaan swasta melakukan transaksi untuk mendapatkan laba.[42] Transaksi bisnis semacam
ini melibatkan sumber daya ekonomi seperti modal, sumber daya alam, dan sumber daya
manusia untuk produksi barang fisik dan jasa internasional seperti keuangan, perbankan,
asuransi, konstruksi, dan aktivitas produksi lainnya.[43]

Kerja sama bisnis internasional membuahkan perusahaan multinasional, yaitu perusahaan yang
memiliki pendekatan global terhadap pasar dan produksi atau perusahaan yang beroperasi di
lebih dari satu negara. Sebuah perusahaan multinasional bisa juga disebut perusahaan
transnasional. Perusahaan multinasional terkenal mencakup perusahaan makanan cepat saji
seperti McDonald's dan Yum Brands, produsen kendaraan seperti General Motors, Ford Motor
Company, dan Toyota, produsen elektronika konsumen seperti Samsung, LG, dan Sony, dan
perusahaan energi seperti ExxonMobil, Shell, dan BP. Sebagian besar perusahaan besar
beroperasi di beberapa pasar nasional.

Perusahaan atau bisnis umumnya berpendapat bahwa kelangsungan di pasar global yang baru
mengharuskan mereka untuk mencari barang, jasa, tenaga kerja, dan material dari luar negeri
supaya produk dan teknologinya bisa terus diperbarui agar dapat bertahan di tengah-tengah
persaingan yang memanas.[44] Menurut laporan terkini dari McKinsey Global Institute, arus
barang, jasa, dan keuangan mencapai $26 triliun pada tahun 2012 atau 36 persen dari PDB
global. Jumlah tersebut 1,5 kali lebih banyak ketimbang tahun 1990.[45]

Perdagangan internasional
Singapura, negara teratas di Enabling Trade Index, menerima globalisasi dan menjadi negara
yang sangat maju

Perdagangan internasional adalah pertukaran modal, barang, dan jasa melintasi perbatasan atau
wilayah internasional.[46] Di kebanyakan negara, perdagangan internasional menduduki pangsa
besar dalam produk domestik bruto (PDB). Industrialisasi, transportasi maju, perusahaan
multinasional, offshoring, dan outsourcing sama-sama memberi dampak besar terhadap
perdagangan global. Pertumbuhan perdagangan internasional adalah komponen dasar dari
globalisasi.

Keuntungan perdagangan absolut muncul ketika negara-negara dapat memproduksi suatu


komoditas dengan biaya lebih rendah per unit ketimbang mitra dagangnya. Dengan logika yang
sama, negara tersebut harus mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut.[47] Meski
ada kemungkinan untung dagang dari keuntungan absolut, keuntungan komparatif, yaitu
kemampuan menawarkan barang dan jasa dengan biaya marjinal dan biaya kesempatan yang
lebih rendah, memperluas batas kemungkinan pertukaran yang sama-sama menguntungkan. Di
lingkungan bisnis yang terglobalisasi, perusahaan berpikir bahwa keuntungan komparatif yang
ditawarkan perdagangan internasional merupakan hal yang penting agar bisa terus bersaing.

Perjanjian dagang, blok ekonomi, dan zona perdagangan khusus


Produk domestik bruto per kapita dalam dolar AS tahun 2011 per kapita, disesuaikan dengan
inflasi dan paritas kemampuan beli (skala log) dari tahun 1860 sampai 2011. Lingkaran populasi:
Amerika Serikat (kuning), Britania Raya (oranye), Jepang (merah), Cina (merah), dan India
(biru).[48]

Penetapan kawasan perdagangan bebas menjadi sesuatu yang harus dilakukan pemerintahan era
modern untuk melakukan perjanjian dagang dengan entitas asing dan multinasional.[49]

Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zone; SEZ) adalah kawasan geografis hukum
ekonomi dan hukum lainnya lebih condong ke pasar bebas daripada hukum nasional negara
tersebut. Hukum nasional bisa ditangguhkan di dalam zona khusus ini. Kategori SEZ mencakup
berbagai macam zona, termasuk Zona Perdagangan Bebas (FTZ), Zona Pemrosesan Ekspor
(EPZ), Zona Bebas (FZ), kawasan industri (IE), pelabuhan bebas, Zona Perusahaan Kota, dan
lain-lain. Biasanya, tujuan zona ini adalah meningkatkan investasi langsung asing oleh investor
asing, terutama bisnis internasional atau perusahaan multinasional (MNC). Zona ini adalah
wilayah khusus yang pajak perusahaannya sangat rendah atau bahkan ditiadakan sama sekali
untuk mendorong aktivitas ekonomi. Pelabuhan bebas sejak dulu memiliki peraturan cukai yang
menguntungkan, misalnya pelabuhan bebas Trieste. Seringkali pelabuhan bebas ini merupakan
bagian dari zona ekonomi bebas.

FTZ adalah tempat barang didatangkan, ditangani, diproduksi atau disesuaikan, dan diekspor
kembali tanpa campur tangan otoritas bea cukai. Ketika barang sudah pindah ke tangan
konsumen di dalam negara di luar FTZ, barulah barang tersebut tunduk pada peraturan cukai
yang ada. Zona perdagangan bebas ditetapkan di sekitar pelabuhan besar, bandara internasional,
dan perbatasan nasional, tempat-tempat dengan keuntungan dagang secara geografis.[50] It is a
region where a group of countries has agreed to reduce or eliminate trade barriers.[51]

Kawasan perdagangan bebas adalah blok dagang yang negara-negara anggotanya telah
menandatangani perjanjian perdagangan bebas yang menghapus tarif, kuota impor, dan
preferensi pada sebagian besar (jika tidak semua) barang dan jasa yang diperdagangkan
antarnegara. Jika penduduknya bebas berpindah antarnegara, selain kawasan perdagangan bebas,
kawasan ini juga bisa dianggap sebagai perbatasan terbuka. Uni Eropa, yang beranggotakan 27
negara, menyediakan kawasan perdagangan bebas dan perbatasan terbuka.

Zona Industri Khusus (Qualified Industrial Zone; QIZ) adalah kawasan industri yang menaungi
operasi pabrik di Yordania dan Mesir. QIZ adalah zona perdagangan bebas khusus yang
didirikan bekerja sama dengan Israel untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas antara
Amerika Serikat dan israel. Di bawah perjanjian dagang dengan Yordania seperti yang
ditetapkan Amerika Serikat, barang-barang yang diproduksi di QIZ bisa langsung masuk ke
pasar AS tanpa tarif datau kuota impor jika memenuhi syarat tertentu. Untuk mendapat status
tersebut, barang yang dihasilkan di zona ini harus mengandung sedikit sumbangan atau input dari
Israel. Selain itu, nilai minimum sebesar 35% harus ditambahkan ke produk akhirnya. QIZ
adalah ide pebisnis Yordania Omar Salah, dan QIZ pertama ditetapkan oleh Kongres Amerika
Serikat pada tahun 1997.

Asia Pasifik disebut-sebut sebagai "kawasan dagang paling terintegrasi di muka Bumi" karena
perdagangan intraregionalnya mencakup sekitar 50-60% dari total impor dan ekspor Asia
Pasifik.[52] Asia Pasifik juga memiliki perdagangan ekstraregional. Ekspor barang konsumen
seperti televisi, radio, sepeda, dan tekstil ke Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang turut
mendorong ekspansi ekonomi.[53]

Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN[54] adalah perjanjian blok dagang Perhimpunan Negara-
negara Asia Tenggara (ASEAN) yang mendukung produsen lokal di semua negara ASEAN.
Perjanjian AFTA ditandatangani pada 28 Januari 1992 di Singapura. Ketika perjanjian AFTA
ditandatangani, ASEAN masih beranggotakan enam negara, yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura, dan Thailand. Vietnam bergabung tahun 1995, Laos dan Myanmar tahun
1997 dan Kamboja tahun 1999.
Pariwisata internasional

Pariwisata adalah perjalanan untuk keperluan rekreasi, liburan, atau bisnis. Organisasi Pariwisata
Dunia mendefinisikan wisatawan sebagai orang-orang yang "bepergian ke dan menetap di
tempat-tempat selain lingkungan sekitar mereka selama tidak lebih dari satu tahun untuk
keperluan liburan, bisnis, dan lain-lain".[81] Ada bermacam bentuk pariwisata seperti wisata
pertanian, wisata kelahiran, wisata kuliner, wisata budaya, wisata lingkungan, wisata ekstrem,
wisata geografi, wisata sejarah, wisata LGBT, wisata medis, wisata laut, wisata budaya pop,
wisata agama, wisata kumuh, wisata perang, dan wisata kehidupan liar.

Globalisasi membuat pariwisata sebagai aktivitas liburan global yang populer. Organisasi
Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa saat ini juga ada sekitar 500.000 orang di dalam
pesawat terbang di seluruh unia.[82]

Penerbangan modern memudahkan manusia bepergian jarak jauh.

Akibat resesi akhir 2000-an, permintaan perjalanan internasional turun drastis sejak paruh akhir
2008 sampai akhir 2009. Setelah meningkat sebanyak 5% pada paruh pertama 2008,
pertumbuhan kedatangan wisatawan internasional mulai menurun pada paruh akhir 2008 dan
persentase kenaikan untuk tahun itu turun menjadi 2%, berbeda dengan 7% pada tahun 2007.[83]
Tren negatif ini semakin parah pada tahun 2009 karena merebaknya wabah virus influenza H1N1
sehingga jumlah kedatangan wisatawan internasional turun 4,2% pada tahun 2009 menjadi 880
juta orang, dan pendapatan pariwisata internasional turun 5,7%.[84] Salah satu pengecualian bagi
perjalanan bebas adalah perjalanan dari Amerika Serikat ke Kanada dan Meksiko yang memiliki
perbatasan semi-terbuka. Berdasarkan hukum Amerika Serikat, perjalanan ke negara-negara
tersebut saat ini memerlukan paspor.[85]

Pada tahun 2010, jumlah uang yang berputar di bidang pariwisata internasional mencapai
US$919 miliar, naik 6,5% sejak 2009, berkat peningkatan nilai riil sebesar 4,7%.[86] Tahun 2010,
terdapat 940 juta kedatangan wisatawan internasional di seluruh dunia.[87]

Olahraga internasional

Ajang olahraga internasional modern bisa menjadi peristiwa besar yang memengaruhi aspek
politik, ekonomi, dan budaya negara-negara di seluruh dunia. Dalam hal politik dan olahraga,
olahraga dapat memengaruhi negara, identitasnya, dan dunia.

Olimpiade kuno merupakan serangkaian kompetisi yang diadakan antara perwakilan beberapa
negara kota dan kerajaan dari Yunani Kuno. Kegiatan ini menampilkan pertandingan atletik,
pertarungan, dan balap kereta kuda. Saat Olimpiade berlangsung, semua peperangan antara
negara kota yang berpartisipasi ditunda sampai Olimpiade selesai.[88] Asal-usul Olimpiade
dipenuhi misteri dan legenda.[89] Sepanjang abad ke-19, Olimpiade menjadi kegiatan global yang
populer.

Meski sejumlah ekonom skeptis dengan manfaat ekonomi penyelenggaraan Olimpiade sambil
menekankan bahwa "kegiatan mega" seperti ini memakan biaya besar, penyelenggaraan
Olimpiade (atau pencalonannya saja) dapat meningkatkan nilai ekspor negara penyelenggara,
karena negara penyelenggara atau kandidat memberi tanda-tanda keterbukaan perdagangan saat
mencalonkan diri sebagai penyelenggara Olimpiade.[90] Selain itu, ada penelitian yang
menunjukkan bahwa penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas memberi efek positif yang kuat
terhadap sumbangan filantropis perusahaan yang berkantor pusat di kota penyelenggara sehingga
menguntungkan sektor nirlaba lokal. Efek positif ini mulai muncul di tahun-tahun menjelang
Olimpiade dan dapat bertahan beberapa tahun sesudahnya, tetapi tidak permanen. Temuan ini
memperlihatkan bahwa penyelenggaraan Olimpiade mampu menciptakan kesempatan bagi
pemerintah kota untuk memengaruhi perusahaan setempat agar menguntungkan sektor nirlaba
lokal dan masyarakat sipil.[91] Olimpiade juga memberi efek negatif terhadap masyarakat di kota
penyelenggara. Misalnya, Centre on Housing Rights and Evictions melaporkan bahwa persiapan
Olimpiade membuat lebih dari dua juta orang terusir dari tempat tinggalnya selama dua
dasawarsa terakhir dan merugikan masyarakat miskin.[92]

Globalisasi terus meningkatkan persaingan internasional di bidang olahraga. Piala Dunia FIFA
merupakan pesta olahraga yang paling banyak ditonton di dunia. Sekitar 700 juta orang
menyaksikan pertandingan final Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan.[93]

Menurut peelitian A.T. Kearney tahun 2011 terhadap tim, liga, dan federasi olahraga, industri
olahraga global bernilai antara €350 miliar dan €450 miliar (US$480-$620 miliar).[94] Semuanya
mencakup konstruksi infrastruktur, perlengkapan olahraga, produk berlisensi, dan pertandingan
olahraga langsung.

Perdagangan internasional ilegal

Pasar gelap tanduk badak membuat populasi badak dunia menyusut sebanyak lebih dari 90
persen selama 40 tahun terakhir.[95]

"Pasar gelap" dan kejahatan terorganisasi biasanya beroperasi di tataran transnasional dengan
total penjualan global senilai hampir US$2 triliun per tahun.[96]

Perdagangan obat-obatan

Pada tahun 2010, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) melaporkan bahwa
perdagangan obat-obatan terlarang global menghasilkan lebih dari US$320 miliar per tahun.[97]
PBB memperkirakan bahwa di seluruh dunia terdapat lebih dari 50 pengguna rutin heroin,
kokain, dan obat sintetis.[98] Perdagangan spesies terancam internasional menempati posisi kedua
di bawah perdagangan obat-obatan dalam "industri" penyelundupan.[99] Obat tradisional Cina
biasanya membutuhkan bahan dari semua bagian tumbuhan, daun, batang, bunga, akar, serta
bahan dari hewan dan mineral. Penggunaan bagian tubuh spesies terancam (seperti kuda laut,
tanduk badak, tanduk antelope saiga, dan tulang dan cakar harimau) menciptakan pasar gelap
pemburu yang memburu hewan-hewan terlarang.[100][101]

Perdagangan dan penyelundupan manusia

Poster peringatan prostitusi dan perdagangan manusia di Korea Selatan untuk prajurit G.I. yang
diterbitkan United States Forces Korea.

Perdagangan manusia adalah aktivitas yang menjadikan manusia sebagai barang yang
diperdagangkan, biasanya untuk keperluan perbudakan seks, tenaga kerja paksa, atau
pengambilan organ atau jaringan tubuh,[102][103] termasuk pengganti kehamilan (surrogacy) dan
pengangkatan sel telur.[104] Perdagangan manusia adalah industri bernilai tinggi dan salah satu
industri dengan pertumbuhan tercepat yang nilainya mencapai US$32 miliar per tahun. Sebagai
perbandingan, semua perdagangan ilegal internasional pada tahun 2010 bernilai sekitar US$650
miliar.[105] Perdagangan manusia merupakan masalah global yang muncul akibat kesulitan
ekonomi, budaya, hukum, dan kebijakan imigrasi.[106] Tahun 2004, total pendapatan tahunan
perdagangan manusia diperkirakan antara US$5 miliar dan $9 miliar.[107] Tahun 2005, Patrick
Belser dari ILO memperkirakan laba global tahunan dari perdagangan manusia mencapai
US$31,6 miliar.[108] Tahun 2008, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan hampir 2,5 juta
orang dari 127 negara diperdagangkan ke 137 negara di seluruh dunia.[109]

Perdagangan manusia berbeda dengan penyelundupan manusia. Dalam penyelundupan manusia,


orang yang diselundupkan dengan sukarela meminta atau mempekerjakan seseorang, biasa
disebut penyelundup, untuk memindahkan mereka secara diam-diam dari satu tempat ke tempat
lain. Biasanya penyelundupan jenis ini melibatkan pemindahan dari satu negara ke negara yang
pernah menolak masuk pihak terselundup di perbatasan internasional. Tidak ada penipuan saat
perjanjian awal antara pihak penyelundup dan terselundup. Setelah masuk ke negara tujuan dan
tiba di tempat akhir, orang yang diselundupkan biasanya bebas untuk mencari jalannya sendiri.
Menurut International Centre for Migration Policy Development (ICMPD), penyelundupan
manusia adalah kejahatan terhadap negara karena melanggar hukum imigrasi dan tidak
menganggap pelanggaran hak-hak migran yang diselundupkan sebagai tindak kejahatan.
Perdagangan manusia adalah kejahatan terhadap korbannya karena melanggar hak-hak korban
melalui paksaan dan eksploitasi.[110]

Globalisasi ekonomi
Shanghai menjadi simbol ledakan ekonomi Cina yang baru. Pada tahun 2011, Cina memiliki
960.000 jutawan.[111]

Globalisasi ekonomi adalah meningkatnya saling ketergantungan ekonomi negara-negara di


dunia berkat percepatan pergerakan barang, jasa, teknologi, dan modal lintas perbatasan.[112] Jika
globalisasi bisnis terpusat pada penghapusan peraturan perdagangan internasional semisal tarif,
pajak, dan beban lainnya yang menghambat perdagangan global, globalisasi ekonomi adalah
proses peningkatan integrasi ekonomi antar negara yang berujung pada munculnya pasar global
dan pasar dunia tunggal.[113] Tergantung paradigmanya, globalisasi ekonomi bisa dipandang
sebagai fenomena positif atau negatif. Globalisasi ekonomi terdiri dari globalisasi produksi,
pasar, persaingan, teknologi, dan perusahaan dan industri.[112] Tren globalisasi saat ini dapat
dianggap hasil dari integrasi negara maju dengan negara yang kurang maju melalui investasi
langsung asing, pengurangan batasan perdagangan, reformasi ekonomi, dan imigrasi.

Tahun 1944, 44 negara menghadiri Konferensi Bretton Woods untuk menstabilkan mata uang
dunia dan menetapkan kredit untuk perdagangan internasional pada era pasca Perang Dunia II.
Tatanan ekonomi internasional yang direncanakan oleh konferensi ini menjadi pemicu tatanan
ekonomi neoliberal yang digunakan hari ini. Konferensi ini juga menubuhkan beberapa
organisasi yang penting bagi terbentuknya ekonomi global dan sistem keuangan global, seperti
Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Misalnya, reformasi ekonomi Cina menghadapkan Cina pada arus globalisasi tahun 1980-an.
Para ahli menemukan bahwa Cina berhasil mencapai tingkat keterbukaan yang sulit ditemukan di
negara-negara besar dan padat lainnya. Persaingan barang asing menyentuh hampir semua sektor
ekonomi Cina. Investasi asing turut membantu meningkatkan kualitas produk dan pengetahuan
dan standar, terutama di bidang industri berat. Pengalaman Cina menguatkan klaim bahwa
globalisasi ikut menambah kekayaan negara miskin.[114] Pada 2005–2007, Pelabuhan Shanghai
menyandang gelar pelabuhan tersibuk di dunia.[115][116][117][118]

Contoh lainnya, liberalisasi ekonomi di India dan reformasi ekonominya dimulai pada tahun
1991. Per 2009, sekitar 300 juta orang, setara dengan jumlah penduduk Amerika Serikat, telah
keluar dari jeratan kemiskinan.[119] Di India, alihdaya proses bisnis disebut-sebut sebagai "mesin
pembangunan utama India sampai beberapa dasawarsa selanjutnya yang banyak berkontribusi
pada pertumbuhan PDB, penambahan lapangan pekerjaan, dan pemberantasan
kemiskinan".[120][121]

Sistem keuangan global


Pada awal abad ke-21, kerangka kerja perjanjian hukum, institusi, dan pelaku ekonomi formal
dan informal dunia bersama-sama membantu arus modal keuangan internasional untuk keperluan
investasi dan pendanaan perdagangan. Sistem keuangan global ini muncul saat terjadinya
gelombang globalisasi ekonomi modern pertama yang ditandai dengan pendirian bank sentral,
perjanjian multilateral, dan organisasi antarpemerintah yang bertujuan memperbaiki transparansi,
regulasi, dan keefektifan pasar internasional.[123] Ekonomi dunia semakin terintegrasi secara
finansial sepanjang abad ke-20 seiring terjadinya liberalisasi modal dan deregulasi sektor
keuangan di setiap negara. Setelah terekspos dengna arus modal yang volatil, serangkaian krisis
keuangan di Eropa, Asia, dan Amerika Latin turut berpengaruh pada negara-negara lain. Pada
awal abad ke-21, berbagai lembaga keuangan tumbuh besar dengan jaringan aktivitas ekonomi
yang lebih canggih dan terhubung. Ketika Amerika Serikat mengalami krisis keuangan pada
awal abad tersebut, krisis tersebut merambat dengan cepat ke negara-negara lain. Krisis ini
dikenal sebagai krisis keuangan global dan diakui sebagai pemicu Resesi Besar di seluruh dunia.

Pengetatan
Pemerintah kadang menjalankan kebijakan pengetatan atau austeritas untuk mengurangi defisit
anggaran saat ekonomi melesu. Kebijakan ini meliputi pemotongan belanja, kenaikan pajak, atau
campuran keduanya.[124][125][126] Kebijakan pengetatan menunjukkan likuiditas pemerintah
terhadap krediturnya dan badan penilai kredit dengan cara menyetarakan pendapatan fiskal
dengan belanja.

Efek pengetatan dari segi ekonomi belum jelas karena definisinya yang luas dan tidak spesifik,
contoh eksperimen alamiahnya yang sedikit dari dulu, serta kemungkinan bercampur dengan
efek peristiwa lain yang cenderung mendahului pengetatan seperti resesi dan krisis keuangan.
Dalam makroekonomi, pengurangan belanja pemerintah akan meningkatkan jumlah
pengangguran. Hal ini pula meningkatkan belanja jaring pengaman dan mengurangi pendapatan
pajak sampai batas tertentu. Belanja pemerintah turut berkontribusi pada produk domestik bruto
(PDB) sehingga rasio utang-ke-PDB yang menandakan likuiditas bisa jadi tidak segera membaik.
Belanja defisit jangka pendek berkontribusi pada pertumbuhan PDB saat konsumen dan bisnis
tidak mau atau tidak mampu belanja.[127] Menurut teori kontraksi fiskal ekspansioner (EFC),
pengurangan belanja pemerintahan secara besar-besaran dapat mengubah ekspektasi pajak dan
belanja pemerintah masa depan sehingga mendorong konsumsi swasta dan perluasan ekonomi
secara menyeluruh.[128] Sejak 2011, Dana Moneter Internasional mengeluarkan peringatan
terhadap upaya pengetatan yang dijalankan tanpa memperhatikan dasar-dasar
ekonomi[129][130][131] dan banyak pengkritik yang mengatakan bahwa upaya pengetatan seringkali
salah diarahkan dan berbahaya bagi ekonomi negara saat dijalankan.[132][133][134]

Pelarian modal

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pelarian modal dan Krisis likuiditas
Lihat pula: Sendatan mendadak (ekonomi), Ekspor pajak, Penghentian modal, dan Arus
keuangan ilegal

Pelarian modal terjadi ketika aset atau uang mengalir keluar dari suatu negara dengan cepat
karena negara tersebut baru menaikkan tingkat pajak, tarif, upah tenaga kerja, atau kondisi
keuangan lainnya yang dianggap merugikan seperti kemacetan utang pemeirntah yang
mengganggu para investor. Pelarian modal kadang mengakibatkan hilangnya kekayaan dengan
sangat cepat dan biasanya diiringi oleh turunnya nilai tukar negara yang terdampak dengan
tajam, lantas memicu depresiasi nilai tukar mata uang atau devaluasi paksa dengan nilai tukar
tetap. Peristiwa ini bisa sangat merugikan jika modalnya dimiliki oleh warga negara terdampak,
karena bukan hanya warganya yang dibebani oleh hilangnya kepercayaan pada ekonomi dan
devaluasi mata uangnya, tetapi juga aset mereka kehilangan banyak nilai nominalnya. Ini pun
mengakibatkan penurunan tajam daya beli aset negara tersebut dan kenaikan harga barang impor.
Krisis ekonomi Argentina tahun 2001 mengakibatkan devaluasi mata uang dan pelarian modal
yang kemudian menurunkan jumlah impor.

Pelarian modal dapat menyebabkan krisis likuiditas di negara terdampak yang mengalami arus
modal keluar, negara yang mengalami kehilangan aset investor karena dilikuidasi, dan negara
yang terlibat di perdagangan internasional seperti perkapalan dan keuangan. Penelitian tahun
2008 yang diterbitkan oleh Global Financial Integrity memperkirakan pelarian modal atau arus
keuangan ilegal dari negara berkembang mencapai "sekitar US$850 miliar sampai $1 triliun per
tahun."[135] Pelaku pasar yang membutuhkan uang tunai kesulitan mencari rekan dagang
potensial untuk dijadikan target penjualan asetnya. Ini bisa jadi merupakan konsekuensi
partisipasi pasar yang rendah atau pengurangan uang tunai oleh pelaku pasar keuangan. Pemilik
aset pun lantas terpaksa menjual aset-asetnya dengan harga di bawah harga dasar jangka panjang.
Para peminjam biasanya menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi dan persayratan kolateral,
berbeda dengan masa-masa ketika likuiditas masih masuk akal. Utang tanpa jaminan hampir sulit
diperoleh. Saat terjadi krisis likuiditas, pasar peminjaman antarbank tidak berjalan mulus.

Pelarian modal juga memengaruhi negara maju. Artikel tahun 2009 di The Times melaporkan
bahwa ratusan pemberi pinjaman dan pengusaha kaya belakangan ini keluar dari Britania Raya
karena pemerintahnya menaikkan pajak. Mereka pindah ke tempat-tempat yang pajaknya rendah
seperti Jersey, Guernsey, Pulau Man, dan Kepulauan Virgin Britania.[136] Bulan Mei 2012, skala
pelarian modal dari Yunani pasca pemilu legislatif "tanpa hasil" diperkirakan mencapai €4 miliar
per minggu.[137] Pada akhir bulan itu, Bank Sentral Spanyol mengungkapkan bahwa arus modal
senilai €97 miliar keluar dari ekonomi Spanyol pada kuartal pertama 2012.[138]

Ukuran globalisasi

INDEKS

Pengukuran globalisasi ekonomi berfokus pada berbagai variabel seperti perdagangan, Investasi
Langsung Asing (FDI), investasi portofolio, dan pendapatan. Indeks-indeks baru justru berusaha
mengukur globalisasi dengan variabel yang lebih umum seperti aspek politik, sosial, budaya, dan
lingkungan.[139]

Salah satu indeks globalisasi adalah KOF Index. KOF Index mengukur tiga dimensi utama
globalisasi, yaitu ekonomi, sosial, dan politik.[140] Another is the A.T. Kearney / Foreign Policy
Magazine Globalization Index.[141]

Globalisasi sosial-budaya

Globalisasi Budaya

Globalisasi budaya telah meningkatkan kontak lintas budaya namun diiringi dengan
berkurangnya keunikan komunitas yang dulunya terisolasi. Misalnya, sushi dapat ditemukan di
Jerman dan Jepang, tetapi di sisi lain popularitas Euro-Disney melampaui popularitas kota Paris
sehingga bisa saja mengurangi permintaan roti Perancis yang autentik.[143][144][145] Kontribusi
globalisasi pada pengasingan seseorang dari tradisinya masih tergolong rendah daripada dampak
modernitas itu sendiri seperti yang dikatakan eksistensialis Jean-Paul Sartre dan Albert Camus.
Globalisasi telah memperluas kesempatan memperoleh rekreasi melalui penyebaran budaya pop
lewat Internet dan televisi satelit.

Agama adalah salah satu elemen budaya pertama yang mengglobal; ada yang disebarkan melalui
paksa, migrasi, evangelis, imperialis, dan pedagang. Kristen, Islam, Buddhisme, dan sekte-sekte
terbaru seperti Mormonisme sudah memengaruhi kebudayaan endemik di tempat-tempat yang
jauh dari tempat asalnya.[146]

Conversi mengklaim pada tahun 2010 bahwa globalisasi lebih didorong oleh arus aktivitas
budaya dan ekonomi dari Amerika Serikat yang lebih dikenal sebagai Amerikanisasi[147][148] atau
Westernisasi. Misalnya, dua gerai makanan dan minuman global tersukses di dunia adalah
perusahaan asal Amerika Serikat, McDonald's dan Starbucks. Keduanya sering dijadikan contoh
globalisasi karena masing-masing memiliki lebih dari 32.000[149] dan 18.000 gerai di seluruh
dunia per tahun 2008.[150]

Istilah globalisasi bermakna transformasi. Tradisi kebudayaan seperti musik tradisional bisa saja
lenyap atau berubah menjadi gabungan tradisi. Globalisasi mampu menciptakan keadaan darurat
demi melestarikan warisan musik. Para pengarsip berusaha mengoleksi, merekam, atau menulis
repertoar sebelum melodinya mengalami asimilasi atau penyesuaian. Musisi lokal berjuang
mendapatkan keautentikan dan melestarikan tradisi musik daerah. Globalisasi dapat membuat
para pementas atau seniman mengabaikan instrumen musik tradisional. Genre gabungan yang
baru bisa menjadi bahan penelitian yang menarik.[151]

Globalisasi mendorong fenomena Musik Dunia dengan mengizinkan musik yang direkam di
suatu tempat untuk mencapai pendengar di dunia Barat yang hendak mencari ide dan suara baru.
Contohnya, banyak musisi Barat yang telah mengadopsi inovasi yang berasal dari kebudayaan
lain.[152]

Istilah "Musik Dunia" awalnya ditujukan pada musik etnis. Sekarang, globalisasi memperluas
cakupan istilah ini hingga sub-genre hibrid seperti World fusion, Global fusion, Ethnic fusion[153]
and Worldbeat[154][155]

Musik juga tersebar keluar dari dunia Barat. Musik pop Anglo-Amerika menyebar ke seluruh
dunia melalui MTV. Teori dependensi menjelaskan bawha dunia adalah sistem internasional
yang terpadu. Dari sudut pandang musik, ini berarti kehilangan identitas musik daerah.[156]

Bourdieu mengatakan bahwa persepsi konsumsi bisa dipandang sebagai identifikasi diri dan
pembentukan identitas. Dari sisi musik, ini artinya setiap manusia memiliki identitas musiknya
sendiri berdasarkan kesukaan dan selera. Kesukaan dan selera ini sangat dipengaruhi oleh
kebudayaan karena kebudayaan adalah fakto paling mendasar yang membentuk keinginan dan
perilaku seseorang. Konsep kebudayaan lokal sekarang berubah akibat globalisasi. Selain itu,
globalisasi turut meningkatkan interdependensi faktor pribadi, politik, budaya, dan ekonomi.[157]

Laporan UNESCO tahun 2005[158] menunjukkan bahwa pertukaran budaya makin sering terjadi
dari kawasan Asia Timur, namun negara-negara Barat masih eksportir budaya terbesar. Pada
tahun 2002, Cina merupakan eksportir budaya terbesar di dunia setelah Britania Raya dan
Amerika Serikat. Antara tahun 1994 dan 2002, pangsa ekspor budaya Amerika Utara dan Uni
Eropa menurun, sementara ekspor budaya Asia naik melampaui Amerika Utara. Fakta lainnya
yang terkait adalah populasi dan luas Asia lebih besar berkali-kali lipat daripada Amerika Utara.
Amerikanisasi berhubungan dengan masa-masa tingginya pengaruh politik tinggi Amerika
Serikat dan pertumbuhan toko, pasar, dan barang Amerika Serikat yang diekspor ke negara lain.

Globalisasi, sebagia fenomena yang beragam, berkaitan dengan dunia politik multilateral serta
perkembangan pasar dan benda budaya antarnegara. Pengalaman yang dialami India
mengungkapkan jamaknya pengaruh globalisasi budaya.[159]

Multilingualisme dan lingua franca

Penutur multibahasa melampaui jumlah penutur monobahasa di dunia.[160] Saat ini, kebanyakan
orang di dunia bisa menuturkan lebih dari satu bahasa.[161] Kontak bahasa terjadi ketika dua
bahasa/varietas atau lebih saling beinteraksi. Kontak bahasa terjadi dalam berbagai fenomena,
termasuk konvergensi bahasa, peminjaman kata, dan releksifikasi. Hasil kontak yang paling
lazim adalah pidgin, kreol, ganti kode, dan bahasa campuran.
Multilingualisme mencuat sebagai fenomena sosial yang diatur oleh kebutuhan globalisasi dan
keterbukaan budaya.[162] Berkat kemudahan akses informasi yang difasilitasi Internet, umat
manusia semakin sering terekspos dengan bahasa asing, lantas memicu perlunya penguasaan
beberapa bahasa.

Lingua franca adalah bahasa yang secara sistematis dipakai untuk berkomunikasi antar orang-
orang yang bahasa ibunya tidak sama, biasanya memakai bahasa ketiga yang berbeda dengan
bahasa ibu dua orang tersebut.[163] Saat ini, bahasa kedua yang paling populer adalah bahasa
Inggris. Sekitar 3,5 miliar orang lumayan paham dengan bahasa tersebut.[164] Bahasa Inggris
adalah bahasa yang paling dominan di Internet.[165] Sekitar 35% surat, teleks, dan kawat di dunia
ditulis dalam bahasa Inggris; sekitar 40% program radio dunia disiarkan dalam bahasa
Inggris.[166]

Meski penutur multibahasa sering dijumpai, jumlah bahasa yang dituturkan secara global terus
berkurang. 20 bahasa terbesar yang penuturnya lebih dari 50 juta orang dituturkan oleh 50%
penduduk dunia, sedangkan sisanya dituturkan di daerah-daerah kecil. Kebanyakan bahasa
memiliki kurang dari 10.000 penutur.[167] Bahasa yang kurang tersebar ini sejak dulu terlindungi
oleh lokasi geografisnya yang tertutup. Sekarang, penutur bahasa daerah dan minoritas makin
sulit bersaing dengan penutur bahasa dominan sehinga bahasa-bahasa tersebut dianggap bahasa
terancam. Jumlah total bahasa di dunia tepatnya tidak diketahui dan perkiraannya bermacam-
macam tergantung faktornya. Perkiraan saat ini berada di antara 6.000 dan 7.000 bahasa[168] dan
sekitar 50–90% di antaranya akan punah pada tahun 2100.[167]

Politik

Secara umum, globalisasi pada akhirnya akan mengurangi keistimewaan negara bangsa.
Lembaga supranasional seperti Uni Eropa, WTO, G8, atau Mahkamah Internasional
menggantikan atau memperluas fungsi negara untuk memfasilitasi perjanjian internasional.[169]
Sejumlah pengamat menyebut globalisasi sebagai penyebab turunnya kekuatan Amerika Serikat,
salah satunya akibat defisit perdagangan AS yang tinggi. Hal ini memicu perpindahan kekuatan
global ke negara-negara Asia seperti Cina yang memiliki kekuatan pasar dan berhasil meraih
level pertumbuhan yang luar biasa. Per 2011, ekonomi Cina diperkirakan akan mengalahkan
Amerika Serikat pada tahun 2025.[170]

Organisasi nonpemerintah terus memengaruhi kebijakan publik melintasi batas negara, termasuk
di bidang bantuan kemanusiaan dan pembangunan negara.[171] Organisasi amal dengan misi
global juga selangkah di depan di bidang kemanusiaan. Badan amal seperti Bill and Melinda
Gates Foundation, Accion International, Acumen Fund (sekarang Acumen), dan Echoing Green
menggabungkan model bisnis dengan filantropi yang kemudian melahirkan organisasi bisnis
seperti Global Philanthropy Group dan asosiasi filantropi baru seperti Global Philanthropy
Forum. Proyek-proyek Bill and Melinda Gates Foundation mencakup komitmen senilai ratusan
miliar dolar untuk mendanai imunisasi di beberapa negara miskin yang pertumbuhannya
cepat,[172] serta ratusan juta dolar untuk mendanai program sosialisasi menabung bagi orang-
orang miskin.[173] Hudson Institute memperkirakan bahwa total aliran dana dari filantropis swasta
ke negara-negara berkembang mencapai US$59 miliar pada tahun 2010.[174]

Menanggapi globalisasi, sejumlah negara mulai menganut kebijakan isolasionisme. Misalnya,


pemerintah Korea Utara mempersulit orang asing untuk memasuki negaranya dan sangat
mengawasi aktivitas mereka seandainya dibolehkan masuk. Para pekerja sosial diperiksa secara
menyeluruh dan tidak diizinkan mengunjungi tempat-tempat yang dilarang pemerintah. Warga
Korea Utara tidak bisa seenaknya keluar dari negara itu.[175][176]

Media dan opini publik


Penelitian tahun 2005 oleh Peer Fiss dan Paul Hirsch menemukan peningkatan jumlah artikel
negatif terhadap globalisasi pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 1998, artikel negatif
mengalahkan artikel positif dengan perbandingan dua banding satu.[177] Pada tahun 2008, Greg Ip
mengklaim bahwa kenaikan jumlah penolakan terhadap globalisasi ini diakibatkan oleh nafsu
ekonomi pribadi.[178] Jumlah artikel koran yang cenderung negatif bertambah dari 10% total
artikel koran tahun 1991 menjadi 55% pada tahun 1999. Peningkatan ini terjadi pada masa ketika
jumlah total artikel mengenai globalisasi nyaris berlipat ganda.[177]

Sejumlah jajak pendapat internasional menunjukkan bahwa penduduk negara berkembang


cenderung lebih menyukai globalisasi.[179] BBC menemukan bahwa semakin banyak masyarakat
negara berkembang yang menganggap globalisasi berjalan terlalu cepat. Di beberapa negara
seperti Meksiko, Amerika Tengah, Indonesia, Brazil, dan Kenya, mayoritas masyarakatnya
justru merasa globalisasi berjalan terlalu lambat.[180]

Philip Gordon mengatakan bahwa, "[per 2004] mayoritas warga Eropa percaya bahwa globalisasi
dapat memperkaya hidup mereka, dan percaya bahwa Uni Eropa dapat membantu mereka
memanfaatkan keuntungan globalisasi sekaligus melindungi mereka dari dampak
negatifnya."[181] Penolakan lebih banyak berasal dari kalangan sosialis, grup lingkungan, dan
nasionalis.

Penduduk UE tampak tidak merasa terancam oleh globalisasi pada 2004. Pasar pekerjaan UE
lebih stabil dan kecil sekali kemungkinan pemotongan upah/tunjangan bagi para pekerjanya.
Anggaran sosial di Uni Eropa lebih tinggi daripada Amerika Serikat.[182] Dalam jajak pendapat di
Denmark tahun 2007, 76% responden menjawab bahwa globalisasi adalah sesuatu yang
bagus.[183]

Fiss, et al., menyurvei opini publik Amerika Serikat tahun 1993. Survei mereka menunjukkan
bahwa pada tahun 1993 lebih dari 40% responden tidak kenal dengan konsep globalisasi. Ketika
survei ini dilakukan lagi tahun 1998, 89% responden memiliki pandangan yang terbelah terhadap
globalisasi, ada yang baik dan ada yang buruk. Pada saat yang sama, diskursus tentang
globalisasi bermula di komunitas keuangan sebelum beralih ke perdebatan panas antara
pendukung dan penentang dari kalangan pelajar dan pekerja. Polarisasi pendapat meningkat
secara dramatis setelah WTO dibentuk tahun 1995; peristiwa ini dan unjuk rasa selanjutnya
memunculkan pergerakan anti-globalisasi yang lebih besar.[177] Awalnya, pekerja berpendidikan
tinggi berkemungkinan besar untuk mendukung globalisasi. Pekerja kurang berpendidikan, yang
lebih layak bersaing dengan imigran dan pekerja di negara berkembang, cenderung menentang
globalisasi. Situasi berubah pasca krisis keuangan 2007. Menurut jajak pendapat tahun 1997,
58% lulusan universitas mengatakan bahwa globalisasi bagus bagi Amerika Serikat. Pada 2008,
hanya 33% lulusan universitas yang berkata seperti itu. Responden yang pendidikan terakhirnya
SMA juga menentang globalisasi.[178]

Menurut Takenaka Heizo dan Chida Ryokichi, pada 1998 ada persepsi di Jepang bahwa ekonomi
mereka "kecil dan rapuh". Jepang memang minim sumber daya dan menggunakan aktivitas
ekspor untuk membeli bahan mentah. Kegelisahan atas posisi mereka ini memunculkan istilah-
istilah seperti internasionalisasi dan globalisasi ke percakapan sehari-hari. Namun tradisi Jepang
dari dulu mengutamakan pemenuhan kebutuhan diri semampunya, terutama dalam hal
pertanian.[184]

Keadaan bisa saja berubah pasca krisis keuangan 2007. BBC World Public Poll yang dilakukan
tahun 2008 saat krisis terjadi menunjukkan bahwa penolakan globalisasi di negara-negara maju
terus meningkat. Jajak pendapat BBC bertanya apakah globalisasi tumbuh terlalu cepat atau
tidak. Jawaban positif lebih banyak di Perancis, Spanyol, Jepang, Korea Selatan, dan Jerman.
Tren penolakan di negara-negara ini tampaknya lebih kuat daripada di Amerika Serikat. Jajak
pendapat tersebut juga mengaitkan kecenderungan anggapan bahwa globalisasi berjalan terlalu
cepat dengan persepsi bahwa kerentanan ekonomi dan kesenjangan sosial terus meningkat.[180]
Banyak pihak di negara berkembang memandang globalisasi sebagai penggerak positif yang
mengangkat mereka dari jeratan kemiskinan.[185] Pihak penentang globalisasi biasanya
menggabungkna permasalahan lingkungan dengan nasionalisme. Mereka menganggap
pemerintah sebagai agen neo-kolonialisme yang tunduk kepada perusahaan multinasional.[186]
Kritik semacam ini berasal dari kelas menengah. Brookings Institute berpendapat bahwa kritik
muncul karena kelas menengah melihat kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang
mobilitas sosialnya ke atas mengancam keamanan ekonomi mereka.[187]

Meski banyak kritikus menyalahkan globalisasi atas menurunna kelas menengah di negara-
negara maju, kelas menengah justru tumbuh cepat di negara-negara berkembang.[188] Disertai
urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah semakin memperlebar celah kemakmuran antara kota
dan desa.[189] Tahun 2002, 70% penduduk India tinggal di pedesaan dan bergantung pada sumber
daya alam untuk aktivitas sehari-hari.[186] Akibatnya, organisasi masyarakat di pedesaan sering
merasa keberatan dengan proses globalisasi.[190]

Organisasi nirlaba Reporters Without Borders setiap tahunnya merilis Indeks Kebebasan Pers,
yaitu peringkat negara-negara di dunia berdasarkan catatan kebebasan pers pada tahun
sebelumnya. Indeks ini mencerminkan tingkat kebebasan yang dinikmati jurnalis, kantor berita,
dan netizen di setiap negara, serta upaya pemerintah untuk menghormati dan menjamin
kebebasan ini.

Internet Global

Internet adalah produk globalisasi sekaligus penggerak (katalis) yang menghubungkan para
pengguna komputer di seluruh dunia. Sejak 2000 sampai 2009, jumlah pengguna Internet di
seluruh dunia naik dari 394 juta orang menjadi 1,858 miliar.[192] Pada tahun 2010, 22 persen
penduduk dunia memiliki akses ke perangkat komputer dengan jumlah entri pencarian Google
sebanyak 1 miliar per hari, 300 juta pengunjung blog, dan 2 miliar video ditonton setiap harinya
di YouTube.[193] Menurut lembaga penelitian IDC, ukuran perdagangan elektronik dunia secara
keseluruhan, termasuk transaksi bisnis-bisnis dan bisnis-konsumen global, mendekati US$16
triliun pada tahun 2013. IDate, lembaga penelitian lainnya, memperkirakan pasar produk dan
jasa digital global bernilai US$4,4 triliun pada tahun 2013. Laporan Oxford Economics
menambahkan kedua jumlah tersebut untuk mematok ukuran ekonomi digital secara keseluruhan
di angka $20,4 triliun, setara dengan kira-kira 13,8% dari aktivitas penjualan dunia.[194]

Walaupun banyak pihak mengklaim perdagangan Internet membawa keuntungan ekonomi, ada
pula bukti bahwa beberapa elemen Internet seperti peta dan jasa berbasis lokasi bisa mendorong
kesenjangan ekonomi dan celah digital.[195] Perdagangan elektronik mungkin ikut bertanggung
jawab atas konsolidasi dan lenyapnya bisnis rumah tangga (mom and pop, brick and mortar)
sehingga terjadi peningkatan kesenjangan pendapatan.[196][197][198]

Komunitas daring adalah komunitas virtual yang eksis di Internet, dan anggota-anggotanya dapat
membuatnya eksis dengan ambil bagian dalam ritual keanggotaan. Perubahan sosio-teknis yang
besar bisa jadi diakibatkan oleh jejaring sosial Internet.[199]

Penduduk dunia dan Kelebihan penduduk manusia


Penduduk dunia terus mengalami pertumbuhan sejak akhir Kelaparan Besar dan Wabah Hitam
tahun 1350 pada angka 370 juta.[200] Tingkat pertumbuhan tertinggi – penduduk dunia bertambah
di atas 1,8% per tahun – sempat terjadi pada 1950-an dan agak lama pada 1960-an dan 1970-an.
Tingkat pertumbuhan memuncak di level 2,2% pada tahun 1963, dan turun sampai 1,1% pada
tahun 2011. Total kelahiran tahunan sedang tinggi-tingginya pada akhir 1980-an atau sekitar
138 juta jiwa.[201] Tingkat kelahiran ini diperkirakan bertahan di level tahun 2011 sebanyak
134 juta jiwa. Tingkat kematian mencapai 56 juta jiwa per tahun dan diperkirakan naik menjadi
80 juta jiwa per tahun pada 2040.[202] Proyeksi terkini menunjukkan adanya kenaikan jumlah
penduduk (namun tingkat pertumbuhannya turun perlahan) dan populasi dunia diperkirakan
mencapai 7,5 dan 10.5 miliar tahun 2050.[203][204]

Kepala International Food Policy Research Institute, menyatakan pada tahun 2008 bahwa
perubahan pola makan secara bertahap di kalangan orang kaya baru adalah faktor terpenting
yang mendorong kenaikan harga pangan dunia.[205] Sejak 1950 sampai 1984, seiring terjadinya
transformasi pertanian di seluruh dunia melalui Revolusi Hijau, produksi gandum naik lebih dari
250%.[206] Populasi dunia bertambah 4 miliar jiwa sejak awal Revolusi Hijau. Tanpa Revolusi
Hijau, akan terjadi kelaparan dan malnutrisi yang lebih besar daripada yang didokumentasikan
PBB saat ini; sekitar 850 juta orang menderita malnutrisi kronis tahun 2005).[207][208] Muncul
kekhawatiran mengenai naiknya tingkat erosi tanah karena semakin banyak lahan digarap
menggunakan peralatan mekanik, pupuk kimia, dan alat lainnya.[209][210][211] Dengan berlipatnya
konsumsi makanan laut oleh manusia dalam 30 tahun terakhir yang menyusutkan tambak dan
menghancurkan ekosistem laut, manusia perlu menyadari untuk menciptakan suplai makanan
laut yang berkelanjutan.[212]

Pertumbuhan penduduk, berkurangnya sumber energi, kelangkaan pangan akan menghasilkan


"badai sempurna" pada tahun 2030 menurut kepala ilmuwan pemerintah Britania Raya, John
Beddington. Beddington mencatat bahwa cadangan pangan dunia berada di titik terendah dalam
50 tahun terakhir dan dunia akan memerlukan energi, pangan, dan air 50% lebih banyak pada
2030..[213][214] Kondisi pembalakan hutan dan erosi tanah di kawasan Sahel di selatan Sahara
sangat parah.[215]

Dunia harus menghasilkan makanan 70% lebih banyak pada 2050 untuk memberi makan sekitar
2,3 miliar jiwa tambahan dan memenuhi permintaan seiring naiknya pendapatan, menurut
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB .[216] Sejumlah peneliti sosial telah
memperingatkan adanya kemungkinan bahwa peradaban global akan mengalami periode
kontraksi dan re-lokalisasi ekonomi akibat berkurangnya bahan bakar fosil dan naiknya krisis
transportasi dan produksi makanan.[217][218][219] Helga Vierich memprediksi kembalinya aktivitas
ekonomi lokal berkelanjutan seperti pemburu-pengumpul, hortikultura, dan pastoralisme.[220]

Urbanisasi

Pertumbuhan penduduk sepanjang masa industrialisasi cepat dan globalisasi abad ke-20 diiringi
dengan bertambahnya urbanisasi di seluruh dunia. Tahun 2011, mayoritas penduduk dunia
tinggal di kawasan perkotaan industri yang dikelilingi pabrik dan kantor bisnis, bukan lagi
kawasan pedesaan tradisional yang didominasi pertanian.[221] Beberapa kota mulai muncul
sebagai kota global dan dianggap sebagai pusat aktivitas ekonomi penting dunia. Megakota,
yaitu kota yang dihuni lebih dari 10 juta orang, bertambah jumlahnya dari 3 kota pada tahun
1973 menjadi 24 pada tahun 2013. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah menjadi 27 kota pada
2025.[222]

Kesehatan Global

Kesehatan global merupakan kesehatan penduduk dalam konteks global yang mencakup sudut
pandang dan kekhawatiran negara-negara.[223] Permasalahan kesehatan yang melintasi perbatasan
negara atau memiliki pengaruh poliitk dan ekonomi secara global terus ditekankan.[224]
Kesehatan global didefinisikan sebagai 'bidang studi, penelitian, dan praktik yang prioritasnya
adalah memperbaiki kesehatan dan mencapai kesetaraan kesehatan untuk semua orang di
dunia'.[225] Lantas kesehatan global berkutat dengan perbaikan kesehatan dunia, pengurangan
kesenjangan, dan perlindungan dari ancaman global yang tidak peduli dengan perbatasan
negara.[226] Global Mental Health merupakan salah satu penerapan prinsip tersebut di ranah
kesehatan mental.[227]

Pos periksa SARS di terminal kedatangan internasional Bandara Internasional Taoyuan Taiwan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merupakan lembaga kesehatan utama di tingkat
internasional. Lembaga penting lainnya yang turut mengurus aktivitas kesehatan global adalah
UNICEF, World Food Programme (WFP), United Nations University International Institute for
Global Health, dan Bank Dunia. Inisiatif besar untuk memperbaiki kesehatan global diresmikan
dengan nama Deklarasi Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Tujuan Pembangunan
Milenium.[228]

Perjalanan internasional ikut menyebarkan penyakit menular yang mematikan.[229] Moda


transportasi modern memungkinkan orang dan barang dalam jumlah besar bepergian keliling
dunia secara lebih cepat, tetapi mereka juga membuka celah bagi perpindahan vektor penyakit
lintas benua.[230] Salah satunya adalah AIDS/HIV.[231] Akibat imigrasi, sekitar 500.000 orang di
Amerika Serikat diyakini menderita penyakit Chagas.[232] Pada tahun 2006, kadar tuberkulosis
(TB) di kalangan penduduk Amerika Serikat kelahiran luar negeri 9,5 kali lipat lebih besar
daripada penduduk kelahiran A.S.[233] Berawal di Asia, Wabah Hitam menewaskan sedikitnya
sepertiga penduduk Eropa pada abad ke-14.[234] Kehancuran yang lebih parah dialami oleh
penduduk asli benua Amerika setelah kedatangan pendatang Eropa "Dunia Baru" seperti Aztec,
Maya, dan Inca tewas akibat penyakit cacar yang menyebar melalui proses kolonisasi Eropa.

Lingkungan alam global

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Lingkungan alam, Sumber daya alam, dan Modal alam
Lihat pula: Ekologi manusia dan Sistem manusia–lingkungan ganda

Lingkungan alam mencakup semua makhluk hidup dan benda tak hidup yang terbentuk secara
alamiah di Bumi atau suatu wilayah. Lingkungan alam adalah lingkungan yang meliputi interaksi
seluruh spesies makhluk hidup.[235] Lingkungan alam berbeda dengan lingkungan bangun yang
terdiri dari daerah dan komponen yang sangat dipengaruhi aktivitas manusia. Sulit untuk
menemukan lingkungan yang benar-benar alami. Kealamiahan (naturalness) bervariasi dalam
satu kontinuum, mulai dari 100% alami sampai 0% alami. Kita bisa mempertimbangkan berbagai
aspek atau komponen lingkungan, lalu mengamati bahwa tingkat kealamiahannya tidak
seragam.[236] Meski begitu, di dunia ini sudah tercipta sistem gabungan manusia–lingkungan.

Ancaman manusia terhadap lingkungan alam, seperti perubahan iklim, polusi air dan udara lintas
perbatasan, pemancingan berlebih di lautan, dan penyebaran spesies invasif, membutuhkan
solusi transnasional dan global. Karena pabrik-pabrik di negara berkembang meningkatkan
produksi global dan kurang diatur oleh regulasi lingkungan, terjadi penambahan polusi air dan
udara di seluruh dunia.[237][238]

Laporan State of the World tahun 2006 mencantumkan bahwa pertumbuhan ekonomi India dan
Cina yang tinggi tidak berkelanjutan. Laporan tersebut menyatakan, "Kapasitas ekologi dunia
tidak cukup untuk memuaskan keinginan Cina, India, Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat serta
keinginan seluruh dunia secara berkelanjutan."[239] Dalam artikel berita tahun 2006, BBC
melaporkan, "...apabila Cina dan India mengonsumsi sumber daya per kapita yang sama seperti
Amerika Serikat atau Jepang pada 2030, seisi planet Bumi dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan mereka semua."[239] Dalam jangka panjang, efek ini dapat mengakibatkan
bertambahnya konflik perebutan sumber daya alam[240] dan bencana Malthus. Investasi langsung
internasional di negara berkembang akan memunculkan "race to the bottom" karena negara-
negara tersebut berlomba-lomba melonggarkan hukum perlindungan lingkungan dan sumber
daya alamnya untuk menarik modal asing.[8][241] Kebalikan teori ini bisa pula terjadi seandainya
negara maju mempertahankan aktivitas ramah lingkungan dan membebankan tanggung
jawabnya pada negara target investasinya, lantas menciptakan fenomena "race to the top".[8]

Hutan terbakar di Brasil. Pembalakan hutan untuk mendirikan peternakan adalah penyebab
utama deforestasi di Amazon Brasil sejak pertengahan 1960-an. Kacang kedelai merupakan salh
satu kontributor deforestasi terbesar di Amazon Brasil.[242]
Waktu yang perlu dilalui dalam perjalanan lintas benua dan negara semakin menyusut karena
globalisasi, sehingga negara-negara berkembang dan maju perlu mencari cara baru untuk
menyelesaikan masalah dalam skala global, bukan regional lagi. Agencies like the United
Nations now must be the global regulators of pollution, whereas before, regional governance was
enough.[243] Serangkaian tindakan telah diambil oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk
mengawasi dan mengurangi polutan atmosfer melalui Protokol Kyoto, Inisiatif Udara Bersih
PBB, dan penelitian polusi udara dan kebijakan publik.[244] Lalu lintas, produksi, dan konsumsi
dunia mengakibatkan peningkatan jumlah polutan udara secara global. Belahan Bumi utara
adalah penghasil karbon monoksida dan sulfur dioksida terbesar.[245]

Perubahan modal alam mulai mengikis pemikiran ekonomi di salah satu bidang utama
globalisasi ekonomi: pembagian tenaga kerja internasional dan produksi yang berbasis pada
rantai persediaan global.[246] Batas keplanetan untuk sejumlah sumber daya alam strategis telah
dicapai, dan sumber daya lainnya hampir mencapai batasnya. Seiring waktu, puncak minyak dan
perubahan iklim akan menyebabkan "puncak globalisasi" yang dapat dilihat dari berkurangnya
ton-mil barang yang diangkut lintas lautan dan benua. keunggulan komparatif rantai persediaan
global akan dipatahkan oleh kenaikan biaya transportasi dan penundaan saat barang transit.[246]

Cina dan India meningkatkan konsumsi bahan bakar fosil mereka setelah ekonominya beralih
dari pertanian subsisten ke industri dan urbanisasi.[247][248] Konsumsi minyak Cina naik 8% setiap
tahun antara 2002 dan 2006, bertambah dua kali lipat sejak 1996–2006.[249] Tahun 2007, Cina
mengalahkan Amerika Serikat sebagai produsen emisi CO2 terbesar di dunia.[250] Hanya 1 persen
dari 560 juta penduduk kota di Cina (per 2007) yang menghirup udara bersih sesuai standar Uni
Eropa. Ini artinya negara-negara maju bisa "mengalihdayakan" sebagian polusi konsumsinya ke
negara yang punya banyak industri penghasil polusi.

Masyarakat memanfaatkan sumber daya hutan untuk menapai tingkat pembangunan ekonomi
yang berkelanjutan. Dari dulu, hutan di negara-negara berkembang awal mengalami "transisi
hutan", yaitu periode deforestasi dan reforestasi ketika masyarakat di sekitarnya semakin maju,
terindustrialisasi, dan memindahkan produksi sumber daya alam primernya ke negara lain
melalui impor. Untuk negara di pinggir sistem global, tidak ada negara yang bisa dijadikan
tempat pemindahan produksi SDA, dan degradasi hutan akan berlangsung tanpa henti. Transisi
hutan memberi pengaruh besar terhadap hidrologi, perubahan iklim, dan keragaman hayati suatu
wilayah melalui penurunan kualitas air serta penumpukan gas rumah kaca melalui reboisasi
hutan baru menjadi hutan generasi kedua dan ketiga.[251][252] Sumber utama deforestasi adalah
industri perkayuan yang didominasi oleh Cina dan Jepang.[253] Pasar minyak palem global
mengakibatkan deforestasi parah di Asia Tenggara sehingga banyak spesies hewan yang
terancam keberlangsungannya, seperti badak, harimau, dan orangutan.[254][255]

Tanpa daur ulang, seng akan habis terpakai pada tahun 2037, indium dan hafnium akan habis
tahun 2017, dan terbium habis pada tahun 2012.[256] Fenomena "puncak" lainnya, seperti puncak
minyak, puncak batubara, puncak gas, puncak air, dan puncak gandum, ikut memengaruhi
ketersediaan dan keberlangsungan modal alam.

Pada tahun 2003, 29% tambak laut terbuka terancam gagal.[257] Jurnal Science merilis sebuah
penelitian empat tahun pada November 2006 yang memprediksi bahwa dengan frekuensi saat ini,
dunia akan kehabisan makanan laut liar pada tahun 2048.[258] Sebaliknya, globalisasi
menciptakan pasar global untuk budi daya ikan dan makanan laut yang pada tahun 2009
menyediakan 38% persediaan dunia dan mampu mengurangi pemancingan berlebih.[259]

Perdagangan barang global bergantung pada transportasi barang yang andal dan murah dalam
rantai persediaan yang rumit dan jauh.[246] Pemanasan global dan puncak minyak menghambat
globalisasi karena memiliki dampak atas biaya transportasi dan pergerakan barang. Karena
melawan pola geografis keunggulan komparatif dengan biaya transportasi yang tinggi,
perubahan iklim dan puncak minyak dapat mengakibatkan puncak globalisasi. Setelah puncak
globalisasi, volume ekspor akan menurun berdasarkan ton-mil barang yang diangkut.[260]