Anda di halaman 1dari 8

1

INTENSITAS SERANGAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA SAYUR


ORGANIK DENGAN SISTEM PERTANAMAN GANDA

Yoakim Hermawan Pranoto, Karunia Idaharvina, Natalia


Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil pengamatan dan wawancara
mengenai pertanaman ganda serta data inventarisasi intensitas serangan
penyakit. Pertanian organik mulai diterapkan kembali karena kekhawatiran
terhadap pengaruh buruk bagi kesehatan dan keseimbangan lingkungan.
Pengamatan dan wawancara kegiatan Kerja Lapangan dilaksanakan pada bulan
Juli 2005 di kebun Bina Sarana Bakti, Cisarua, Bogor. Jenis data utama yang
digunakan adalah hasil data pengamatan langsung dan wawancara mengenai
pertanaman ganda serta data inventarisasi intensitas serangan penyakit.
Pengamatan penyakit dilakukan dengan sampel lokasi yang diambil pada 4 plot
dari 10 plot yang ada, yaitu : plot A, Plot C, plot D, dan plot H Hasil
inventarisasi penyakit di lapangan dilakukan identifikasi di Laboratorium
Virologi Fakultas Pertanian UGM. Hasil pengamatan penyakit pada famili
Brasicaceae dan Solanaceae di lapangan menunjukkan intensitas serangan
penyakit di kebun Bina Sarana Bakti berkisar antara 0-81%. Penerapan
Usahatani Non Sintetik (Pertanian Organik) dengan pertanaman ganda (Multiple
Cropping) dan rotasi tanam mampu menekan dan menghambat sumber inokulum
penyakit.

Kata Kunci : Pertanian organik, Penyakit, Sayur, Pertanaman Ganda

PENDAHULUAN
Pertanian secara organik sudah diterapkan oleh petani jaman dahulu
sebelum mereka mengenal teknologi modern. Pertanian modern yang diterapkan
saat ini adalah sistem pertanian konvensional yang mengandalkan pemakaian
bahan-bahan kimia sintetis dan input dari luar yang begitu tinggi. Sawah diberi
input pupuk kimia sintetis yang besar, air tercemar oleh bahan pestisida dan
herbisida yang berbahan aktif racun. Dampak negatif pertanian konvensional akan
mengganggu keseimbangan alam dengan berkurangnya keanekaragaman hayati.
Sayuran merupakan produk pertanian yang banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat dalam bentuk mentah (tanpa diolah). Bahan-bahan kimia sintetis yang
digunakan sebagai pupuk maupun pestisida dalam sistem pertaniannya ikut
terkonsumsi. Bahan kimia tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia
karena bahan tersebut bersifat sulit terurai. Oleh sebab itu penanganan dan
produksi sayur diupayakan tidak menggunakan bahan kimia yang berbahaya dan
beracun.
Pertanian organik mulai diterapkan kembali karena kekhawatiran terhadap
pengaruh buruk bagi kesehatan dan keseimbangan lingkungan. Usaha pencegahan
serangan OPT pada pertanian organik tidak menekan secara drastis namun dengan
memelihara keseimbangan OPT pada batas tertentu. Kegiatan mencegah serangan
OPT lebih diutamakan dalam pertanian organik. Pencegahan intensitas serangan
OPT dalam pertanian organik dengan menerapkan rotasi dan kombinasi tanaman.
2

Ciri alam Indonesia ternyata memungkinkan tanaman untuk tumbuh terus


sepanjang tahun dan berkesinambungan. Vegetasi yang tumbuh bermacam-
macam sehingga Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang banyak.
Namun fenomena yang lain terjadi pergeseran karena situasi dan kondisi alam
dapat pula menuju monokultur. Peristiwa yang alamiah terjadi seperti tumbuhnya
enceng gondok yang telah meluas sehingga keberadaannya menjadi dominan.
Pertumbuhan tanaman monokultur terus berkembang dan menjadi tidak terkendali
Secara umum pertanian diartikan sebagai suatu kegiatan menanami tanah
dengan tanaman yang nantinya menghasilkan sesuatu yang dapat dipanen, dan
kegiatan pertanian ini merupakan campur tangan manusia terhadap tanaman dan
daur hidupnya (Sutanto, 2002a). Sedangkan pertanian organik dapat didefinisikan
sebagai suatu sistem produksi pertanaman yang berasaskan daur ulang hara secara
hayati. Daur hara dapat melalui sarana limbah tanaman dan ternak, serta limbah
lainnya yang mampu memperbaiki status kesuburan tanah (Sutanto, 2002b).
Dewasa ini permintaan akan bahan makanan organik di seluruh dunia
semakin meningkat, terutama dari negara-negara maju. Bahan makanan organik
yang dimaksud adalah bahan makanan yang dibudidayakan tanpa menggunakan
pestisida maupun pupuk kimia sintetis. Para konsumen di negara-negara maju
sadar makanan bermutu dan bebas cemaran kimia (Bosovic, 2002).
Budidaya tanaman hortikultura yang meliputi sayuran, buah-buahan, dan
tanaman hias. Pada umumnya penanaman sayuran dan buah-buahan untuk
keperluan keluarga masing-masing. Baru setelah banyak orang yang tinggal di
kota atau bekerja dalam industri, banyak orang yang tidak dapat mencukupi
kebutuhannya sendiri sehingga produk hortikultura menjadi penting peranannya
(Anonim, 2002).
Sistem pertanaman yang sering diterapkan dalam penanaman sayur dengan
pola monokultur. Pertanian monokultur merupakan penanaman satu jenis tanaman
yang sama dengan areal yang luas selama bertahun-tahun. Pola monokultur yang
diterapkan terus-menerus dapat meningkatkan kerentanan terhadap serangan hama
dan penyakit. Sedangkan lahan yang ditanami dengan campuran sayuran yang
beragam seperti bayam merah, bayam hijau, kangkung, kailan, sawi, kubis,
lombok, tomat, jagung manis, ketimun, daun bawang menjamin keseimbangan
dan keanekaragaman hayati (Prince, 2004).
Sebagaimana umumnya dalam pemeliharaan tanaman tidak lepas dari
gangguan organisme penggangu tanaman (OPT), seperti hama, penyakit, maupun
gulma. Upaya untuk mengatasi gangguan tersebut, dalam Usahatani Non Sintetik
(Pertanian Organik) menerapkan teknik budidaya yang baik, seperti pemilihan
bibit berkualitas, pemupukan berimbang, penerapan Pengelolaan Hama Terpadu
(PHT), dan pengaturan pola tanam (Pracaya, 2003).
Tulisan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil pengamatan dan
wawancara mengenai pertanaman ganda serta data inventarisasi intensitas
serangan penyakit pada budidaya sayur secara organik di Bina Sarana Bakti,
Cisarua, Bogor.

METODE PENDEKATAN
Tulisan ini berdasarkan data hasil laporan kegiatan Kerja Lapangan. Kerja
Lapangan dilaksanakan pada bulan Juli 2005 di kebun Bina Sarana Bakti, Cisarua,
Bogor Pemilihan lokasi di Bina Sarana Bakti, dengan pertimbangan sistem
3

pertanian yang digunakan menerapkan prinsip-prinsip pertanian organik. Jenis


data utama yang digunakan adalah hasil data pengamatan langsung dan
wawancara mengenai pertanaman ganda serta data inventarisasi intensitas
serangan penyakit.
Pengamatan penyakit dilakukan dengan sampel lokasi yang diambil pada 4
plot dari 10 plot yang ada, yaitu : plot A, Plot C, plot D, dan plot H. Plot A
merupakan lokasi paling subur dibandingkan lokasi lain. Lokasi ini berbentuk
teras, dengan pengairan berasal dari air hujan. Keadaan tanah lembab karena lahan
banyak ditumbuhi tanaman keras. Plot C merupakan lokasi dengan lama
penyinaran yang paling panjang. Lokasi ini berbentuk teras, dengan pengairan
berasal dari air sungai. Plot D merupakan lokasi dengan sumber air melimpah.
Lokasi ini berbentuk lembah, dengan pengairan berasal dari kolam dan sungai
yang mengalir. Plot H merupakan lokasi yang lembab. Lokasi ini termasuk
dataran, dengan intensitas penyinaran tinggi. Hasil inventarisasi penyakit di
lapangan dilakukan identifikasi di Laboratorium Virologi Fakultas Pertanian
UGM.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Keberadaan organisme pengganggu tanaman (OPT) dalam Pertanian
Organik masih bisa diterima sampai ambang batas ekonomi. Beberapa hal yang
dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor yang berada di kebun organik.
Semua faktor akan saling mempengaruhi dan harus dikelola secara
berkesinambungan. Tujuan dari pengelolaan OPT di kebun organik mengarah
keharmonisan setiap organisme yang ada.
Hasil pengamatan penyakit pada famili Brasicaceae dan Solanaceae
tercantum tabel 1.
Tabel 1. menunjukkan intensitas serangan penyakit berkisar antara 0-81%.
Secara rinci keadaan penyakit di setiap plot yang diamati pada plot A intensitas
serangan penyakit di daerah ini tergolong sangat ringan. Plot C dan H intensitas
serangan penyakit di daerah ini tergolong ringan. Sedangkan plot D intensitas
serangan penyakit di daerah ini berat, hal ini disebabkan posisi lahan rendah.
Adanya serangan penyakit pada famili Brasicaceae dan Solanaceae
dikarenakan adanya sumber inokulum penyakit di lahan pertanaman. Dari tabel
1.menunjukkan rata-rata intensitas serangan penyakit ringan. Bakteri dan virus
dapat disebar langsung dari satu tanaman ke tanaman lain pada saat penjarangan
tanaman, percikan air, irigasi atau kemungkinan besar ialah serangga vektor.
Penerapan Usahatani Non Sintetik (Pertanian Organik) dengan pertanaman ganda
(Multiple Cropping) dan rotasi tanam mampu menekan dan menghambat sumber
inokulum penyakit.
Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brasicae) di lapangan menyerang
tanaman bunga kol, kailan, dan caisin. Penyakit ini terdapat pada tanaman bunga
kol di plot A dengan intensitas berat dan plot H dengan intensitas serangan sangat
ringan. Penyakit ini disebabkan oleh jamur, namun patogen tersebut tidak dapat
diidentifikasi di laboratorium. Gejala timbul pada akar yang terinfeksi jamur akan
mengadakan reaksi dengan melakukan pembelahan dan pembesaran sel, yang
menyebabkan terjadinya bintil atau kelenjar yang tidak teratur.
4

Tabel 1. Jenis penyakit dan intensitas serangan yang diamati pada bulan
Juli 2005 di Kebun Bina Sarana Bakti (BSB)

No Famili Tanaman Jenis Penyakit Patogen Intensitas serangan


A C D H
1 Brasicaceae
-Bunga kol Busuk basah Tidak - + - -
(Brassica oleracea teridentifikasi (k) (k) (k) (k)
var. Botrytis L.) Akar gada Plasmodiophora
brassicae ++++ - - +
-Kol (Brassica Batang kawat - (m) - (k) + (k) - (k)
oleracea L.)
-Kailan (Brassica Batang kawat + (m) ++ (m) + (m) - (k)
albo-glabra Bail.)
-Caisin (Brassica Akar (klaprut) Plasmodiophora + (k) + (m) - (m) - (k)
campestris brassicae
L.Ssp.Chinensis
(Rupr.) Olson)
-Pacoy (Brassica Batang kawat - (m) - (k) + (m) - (k)
chinensis L.)
-Brokoli(Brassica Batang kawat + (m) + (k) ++(m) - (k)
oleracea L.)
3 Solanaceae
-Cabai (Capsicum Bercak daun Cercospora +++++ - - ++
annum) arachidicola (m) (k) (k) (m)
-Tomat Busuk daun Phytoptora infestans - +++++ +++++ ++
(Lycopersicon Layu bakteri Pseudomonas (k) (m) (m) (k)
esculentum Mill.) solanacearum - + + -
virus Tomato Leaf Curl
Virus - - +++ +
Keterangan :
_ : tidak ada (0%) m : monokultur
+ : sangat ringan (0-20%) k : kombinasi
++ : ringan (21-40%)
+++ : sedang (41-60%)
++++ : berat (61-80%)
+++++ : sangat berat (81-100%)

Penyakit busuk basah (Erwinia carotovora) menyerang tanaman bunga


kol. Penyakit ini terdapat pada tanaman bunga kol di plot C dengan intensitas
serangan sangat ringan. Menurut referensi yang ada penyakit ini disebabkan oleh
bakteri berbentuk batang, yang memiliki buluh cambuk peritrik, tidak membentuk
spora atau kapsul, gram negatif, dan bersifat anaerob fakultatif. Bakteri dapat
mempertahankan diri dalam tanah dan sisa-sisa tanaman lapangan. Infeksi
umumnya terjadi melalui luka atau lentisel. Pembusukan terjadi cepat dalam udara
yang lembab dan pada suhu yang relatif tinggi (Semangun, 2000).
Penyakit rebah semai (Damping off) menyerang tanaman kol, kailan,
caisin, pacoy, dan brokoli. Intensitas serangan penyakit rebah semai sangat ringan.
Menurut referensi yang ada, penyakit dengan gejala tanaman layu, batang dan
akarnya busuk dapat disebabkan oleh jamur, yaitu Alternaria spp., Rhizoctonia
5

solani Kuhn., Phytium debaryanum Hesse, dan Fusarium spp. Penyakit hanya
timbul jika tanah terlalu basah (Semangun, 2000).
Penyakit busuk daun (Phytophtora infestans) di lapangan menyerang
tanaman tomat. Penyakit ini terdapat pada plot C dan D dengan intensitas
serangan sangat berat. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophtora infestans.
Sporangium yang disebarkan oleh angin, umumnya tumbuh dengan membentuk
spora kembara (zoospora), dan terkadang tumbuh langsung dengan membentuk
pembuluh kecambah. Sporangium jamur terutama disebarkan oleh angin. Jika
jatuh pada setetes air pada permukaan bagian tanaman yang rentan, maka
sporangium akan mengeluarkan spora kembara (zoospora) yang dapat berenang,
kemudian membentuk pembuluh kecambah, lalu mengadakan infeksi. Pemilihan
waktu tanam pada musim kemarau dapat mengurangi tingkat serangan penyakit.
Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum). Penyakit ini
menyerang tanaman tomat. Penyakit ini terdapat di plot C dan D dengan intensitas
serangan sangat ringan.
Penyakit Bercak daun (Cercospora capsici) di lapangan menyerang
tanaman cabai. Penyakit ini terdapat di plot A (intensitas serangan sangat berat)
dan plot H (intensitas serangan ringan).
Pengelolaan patogen dalam Pertanian Organik dilakukan secara bertahap.
Keberadaan patogen ditekan dengan memelihara keseimbangan organisme
penggangu tanaman (OPT) pada batas tertentu. Pengelolaan OPT ada 3 hal yaitu
preventif, kuratif dan eradication. Kegiatan preventif merupakan kegiatan untuk
mencegah serangan hama dan penyakit. Kegiatan preventif itu dengan
menerapkan rotasi dan kombinasi tanam. Penerapan rotasi dan kombinasi tanaman
untuk menekan dan mengurangi penyebaran sumber inokulum.
Penanaman ganda (Multiple cropping) yang diterapkan di Bina Sarana
Bakti dengan membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang
sama. Keuntungan sistem multiple cropping antara lain: (1) frekuensi panen dan
produksi usaha tani serta pendapatan petani dapat ditingkatkan, (2) mengurangi
resiko kegagalan, (3) mencegah dan mengurangi pengangguran lahan musiman,
(4) memperbaiki kesuburan tanah dengan adanya stabilitas biologis, (5) adanya
pengolahan tanah minimal, (6) memperbaiki keseimbangan gizi dengan adanya
keanekaragaman makanan, (7) mengurangi erosi, (8) mengurangi risiko kerusakan
oleh hama dan penyakit.
Bentuk penanaman multiple cropping yang diterapkan dengan penanaman
tanaman pendamping (Companion planting), tanaman campuran (Mixed
cropping), tumpang sari (Intercropping dan Interplanting), tanaman sela (Relay
planting). Companion planting merupakan penanaman suatu jenis tanaman
sebagai tanaman pendamping yang melengkapi tanaman utama dari segi fisik
ataupun kimia. Secara fisik antara lain: tanaman pendamping memiliki tajuk yang
besar sehingga melindungi tanaman, akar tanaman pendamping mampu
memompa nutrisi yang berada di dalam tanah sehingga mampu dimanfaat oleh
tanaman utama dengan sistem penyerapan dangkal. Bahan kimia yang dikeluarkan
akar, batang, daun, bunga tanaman pendamping mampu menolak OPT sehingga
tidak menggangu tanaman utama.
Tanaman campuran (Mixed cropping) yang diterapkan di Bina Sarana
Bakti dengan membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan pada
waktu yang sama. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam perencanaan penanaman
6

secara kombinasi antara lain: (1) umur tanaman, (2) bentuk tubuh tanaman, (3)
toleransi tanaman terhadap cahaya dan naungan, (4) kebutuhan nutrisi, (5) bentuk
perakaran, (6) companion planting.
Tanaman ada yang berumur panjang dan berumur pendek. Sehingga
apabila dikombinasikan maka populasi tanaman lebih banyak. Kombinasi
tanaman yang tumbuh tinggi dengan rendah akan saling memberikan keuntungan
bagi tanaman yang lain. Tanaman yang lebih tinggi seperti jagung memberikan
naungan bagi tanaman selada yang ada dibawahnya.
Untuk mempermudah mengkombinasikan tanaman dengan melihat tipe
tanaman tersebut. Tananam dapat digolongkan menjadi tanaman repellent (basil,
kemangi, kenikir, adas, bawang daun, seledri, peterseli), tanaman yang
pertumbuhan ke atas (cabe, tomat, terung), tanaman berakar dangkal (kol, brokoli,
caisin, selada), tanaman yang memerlukan lanjaran (buncis, kapri, kacang merah,
kacang panjang), benih disebar dalam alur (bayam, kangkung), umbi (wortel, bit,
lobak), tanaman tegak ke atas (jagung), tanaman perdu (kacang tanah).
Tabel 2. Kombinasi Tanaman dalam Sistem Pertanaman Ganda
Tanaman Utama Companion Allies Keterangan
kapri wortel, jagung bawang daun melindungi dari aphids
selada lobak, wortel bawang daun melindungi dari aphids
seledri buncis, tomat bawang daun melindungi dari aphids
tomat piterselly bawang daun penyakit busuk
kubis bunga kenikir penyakit klaprut
tomat piterselly,seledri bawang putih penyakit busuk daun
Keterangan:
Companion : bila ditanam bersama akan saling menguntungkan
Allies : tanaman yang memberikan perlindungan serangan OPT

Untuk mengkombinasikan tanaman dengan menggabungkan dua atau tiga


golongan tanaman. Kombinasi tanaman dalam sistem pertanaman ganda
tercantum pada tabel 2. Sebagai contoh dari tabel 2 penanaman golongan tanaman
repellent (kenikir) dengan golongan tanaman berakar dangkal (kol, brokoli, caisin,
selada) dapat mencegah serangan pada akar (klaprut). Dari tabel 1 menunjukkan
intensitas serangan klaprut pada caisin tergolong sangat ringan pada pertanaman
ganda. Hal ini dikarenakan akar tanaman kenikir mengeluarkan eksudat akar anti
patogen (Plasmodiophora brassicae) di dalam tanah yang menyerang tanaman
yang berakar dangkal.
Dari hasil kombinasi tanaman kapri, jagung, dan bawang daun yang
ditunjukkan tabel 2. dapat melindungi tanaman utama dari serangan aphids.
Dampak positif penurunan aphids dapat menurunkan vektor penyebaran virus. Hal
ini ditunjukkan pula dari hasil tabel 1. pengamatan virus pada tomat (Tomato Leaf
Curl Virus) tergolong ringan. Penerapan kombinasi tanaman membuat kondisi
lingkungan semakin stabil, sehingga tidak terjadi ledakan penyakit.
Di Bina Sarana Bakti pada umumnya satu bedengan (10 m2) ditanami
lebih dari satu tanaman. Namun ada pula yang ditanami satu jenis tanaman dengan
alasan mengejar target tanam, tidak dapat jatah tanam yang dapat dikombinasikan,
kombinasi tanaman tidak sesuai karena penampilan fisik tanaman, dan
disesuaikan dengan ukuran bedengan.
7

Perkembangan penanaman yang dilakukan secara alami di alam akan


terjadi keanekaragaman yang membuat kondisi keseimbangan dan keberlanjutan.
Namun kenyataanya proses penanaman yang seringkali dilakukan oleh manusia
berusaha menuju ke penanaman monokultur. Sehingga manusia melakukan cara
lain dalam budidaya tanaman, yang seringkali membahayakan lingkungan dengan
penggunaan pestisida kimia buatan, fungisida, herbisida dan juga pupuk kimia
sintetis.
Perbedaan yang amat penting dari pertanian organik dan konvensional
bahwa pertanian konvensional lebih banyak menggunakan cara monokultur yaitu
menanam hanya satu jenis tanaman saja secara berulang-ulang. Belajar dari alam
yang senantisa membuat keseimbangan, maka pertanian organik diharapkan
menanam secara polikultur. Pertanian organik tidak menerapkan menanam satu
jenis tanaman secara berulang-ulang. Salah satu teknik budidaya untuk
menghindari ledakan hama dan penyakit dilakukan rotasi tanam.
Rotasi tanaman bertujuan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
akumulasi dan pengurasan unsur hara di dalam tanah serta memutus
kesinambungan hama atau penyakit. Penentukan rotasi tanam didasarkan pada
karakter tiap komoditas tanaman. Karakter tanaman ini dibedakan berdasarkan
kebutuhan tanaman terhadap nutrisi menurut kelompok heavy feeders, light
feeder, dan soil builders. Rotasi tanam dilakukan dengan pergiliran kelompok
tanaman tersebut.
Kelompok heavy feeders adalah tanaman pengguna nitrogen paling tinggi,
seperti sayuran daun dan tanaman-tanaman lain yang mempunyai daun
berdiameter luas seperti kubis, selada dan labu. Kelompok light feeder,
merupakan tanaman penghasil umbi yang memerlukan kalium lebih banyak dari
pada nitrogen seperti wortel, lobak, ubi. Kelompok soil builders merupakan
tanaman yang dapat memfiksasi nitrogen dari udara seperti buncis, kacang
polong, dan kacang tanah.
Untuk melindungi kebun dan mengurangi serangan hama serta penyebaran
penyakit dari kebun yang lain di Bina Sarana Bakti menanam tanaman pagar.
Tanaman yang digunakan sebagai tanaman pagar antara lain: kirinyu, bunga
sepatu, Calliandra calothyrus (kaliandra putih, kuning), Sesbania sesban,
flemingia. Pencegahan pencurian dari ulah manusia dibuat pagar yang cukup
tinggi dan ditanam tanaman yang berduri. Tanaman yang digunakan seperti
bambu, lamtoro, flemingia. Penananam tanaman pemecah angin (windbreaker)
ditanam untuk mengurangi resiko rebahnya tanaman oleh angin yang kencang.
Tanaman yang digunakan antara lain: turi, lamtoro, flemingia, kaliandra, kelor
(Moringa oleifera), gamal (Gliricidia sepium).

KESIMPULAN
Intensitas serangan penyakit di kebun Bina Sarana Bakti berkisar antara 0-
81%. Penerapan Usahatani Non Sintetik (Pertanian Organik) dengan penanaman
ganda (Multiple Cropping) dan rotasi tanam mampu menekan dan menghambat
sumber inokulum penyakit. Rotasi tanaman bertujuan untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya akumulasi dan pengurasan unsur hara di dalam tanah
serta memutus kesinambungan hama atau penyakit.
8

DAFTAR PUSTAKA
Anononimous. 2002. Pengembangan Agribisnis Hortikultura Berkelanjutan.
Direktorat Pengembangan Usaha Hortikultura.Direktorat Jenderal Bina
Produksi Hortikultura, Jakarta
Bosovic, I.D.S.C.I. 2002. Prospek perdagangan produk pertanian organik. Warta
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 18(1):1-12
Pracaya. 2003. Bertanam Sayuran Organik di Kebun, Plot, dan Polibag. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Prince, J.2004. Kearifan Hidup, Kedaulatan Petani, dan Pertanian Organik:
Menanamkan Benih-benih Transformasi sosial. Australian Consorsium for
Indonesian Studies. Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
Semangun, H. 2000. Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Sutanto, R. 2002a. Pertanian Organik : Menuju Pertanian Alternatif dan
Berkelanjutan.Kanisius, Yogyakarta
___________. 2002b. Penerapan Pertanian Organik : Pemasyarakatan dan
Pengembangan. Kanisius, Yogyakarta.