Anda di halaman 1dari 35

Pengertian Hukum Faraday dan Bunyi Hukum Faraday – Hukum Faraday adalah

Hukum dasar Elektromagnetisme yang menjelaskan bagaimana arus listrik menghasilkan


medan magnet dan sebaliknya bagaimana medan magnet dapat menghasilkan arus listrik
pada sebuah konduktor. Hukum Faraday inilah yang kemudian menjadi dasar dari prinsip
kerja Induktor, Transformator, Solenoid, Generator listrik dan Motor Listrik. Hukum yang
sering disebut dengan Hukum Induksi Elektromagnetik Faraday ini pertama kali
dikemukakan oleh seorang Fisikawan Inggris yang bernama Michael Faraday pada tahun
1831.

Induksi Elektromagnetik adalah gejala timbulnya gaya gerak listrik (ggl) di dalam suatu
kumparan bila terdapat perubahan fluks magnetik pada konduktor pada kumparan tersebut
atau bila konduktor bergerak relatif melintasi medan magnet. Sedangkan yang dimaksud
dengan Fluks banyaknya jumlah garis gaya yang melewati luasan suatu bidang yang tegak
lurus garis gaya magnetik.

Percobaan Faraday

Dalam percobaan Faraday atau sering dikenal dengan istilah Eksperimen Faraday ini,
Michael Faraday mengambil sebuah magnet dan sebuah kumparan yang terhubungkan ke
galvometer. Pada awalnya, magnet diletakkan agak berjauhan dengan kumparan sehingga
tidak ada defleksi dari galvometer. Jarum pada galvometer tetap menunjukan angka 0. Ketika
magnet bergerak masuk ke dalam kumparan, jarum pada galvometer juga bergerak
menyimpang ke satu arah tertentu (ke kanan). Pada saat magnet didiamkan pada posisi
tersebut, jarum pada galvometer bergerak kembali ke posisi 0. Namun ketika magnet
digerakan atau ditarik menjauhi kumparan, terjadi defleksi pada galvometer, jarum pada
galvometer bergerak menyimpang berlawanan dengan arah sebelumnya (ke kiri). Pada saat
magnet didiamkan lagi, jarum pada galvometer kembali ke posisi 0. Demikian juga apabila
yang bergerak adalah Kumparan, tetapi Magnet pada posisi tetap, galvometer akan
menunjukan defleksi dengan cara yang sama. Dari percobaan Faraday tersebut juga
ditemukan bahwa semakin cepat perubahan medan magnet semakin besar pula gaya gerak
listrik yang diinduksi oleh kumparan tersebut.
Catatan : Galvometer adalah alat uji yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya arus
listrik yang mengalir.
Bunyi Hukum Faraday
Berdasarkan percobaan yang dilakukannya tersebut, Michael Faraday menyimpulkannya
dengan dua pernyataan seperti berikut ini yang juga sering disebut dengan Hukum Induksi
Elektromagnetik Faraday 1 dan Hukum Induksi Elektromagnetik Faraday 2.

Hukum Faraday 1

Setiap perubahan medan magnet pada kumparan akan menyebabkan gaya gerak listrik
(GGL) yang diinduksi oleh kumparan tersebut.

Hukum Faraday 2

Tegangan GGL induksi di dalam rangkaian tertutup adalah sebanding dengan kecepatan
perubahan fluks terhadap waktu.

Namun ada juga mengabungkan kedua hukum Faraday tersebut menjadi satu pernyataan
yaitu :

Setiap perubahan medan magnet pada kumparan akan menyebabkan gaya gerak listrik
(GGL) Induksi yang sebanding dengan laju perubahan fluks.

Hukum Faraday tersebut dapat dinyatakan dengan rumus dibawah ini :

ɛ = -N (ΔΦ/Δt)

Keterangan :

ɛ = GGL induksi (volt)


N = Jumlah lilitan kumparan
ΔΦ = Perubahan fluks magnetik (weber)
∆t = selang waktu (s)
Tanda negatif menandakan arah gaya gerak listrik (ggl) induksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya Gaya Gerak Listrik (GGL)

Berikut dibawah ini adalah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besar kecilnya Gaya
Gerak Listrik (GGL).

1. Jumlah lilitan pada kumparan, semakin banyak lilitan pada kumparan semakin besar
tegangan yang diinduksikan.
2. Kecepatan gerak medan magnet, semakin cepat garis gaya medan magnet atau fluks
yang mengenai konduktornya semakin besar pula tegangan induksinya.
3. Jumlah garis gaya medan magnet atau fluks, semakin besar jumlah garis gaya medan
magnet atau fluks yang mengenai konduktor, semakin besar juga tegangan
induksinya.
Pengertian Hukum Faraday
Hukum Faraday merupakan suatu hukum yang mempelajari tentang dasar
“Elektromagnetisme” yang menjelaskan tentang proses arus listrik yang menghasilkan medan
magnet dan proses bagaimana suatu medan magnet menghasilkan arus listrik pada sebuah
konduktor. Hukum Faraday kemudian dijadikan sebagai prinsip dan dasar dari sebuah kinerja
Induktor, Transformator, Generator Listrik, Selenoid, dan Motor Listrik.

Ilmu yang mempelajari tentang dasar suatu proses bekerjanya suatu arus listrik dan medan
magnet ini sering disebut Hukum Induksi Elektromagnetik Faraday. Hukum Faraday ini
pertama ditemukan oleh Michael Faraday pada tahun 1831. Michael merupakan seorang
Fisikawan yang berasal dari Inggris.

Perlu Anda ketahui bahwa dalam sebuah Induksi Elektromagnetik, akan timbul gejala gaya
gerak listrik atau biasa disingkat dengan istilah (ggl) di sebuah kumparan akibat adanya suatu
perubahan fluks magnetik pada konduktor. Gejala gaya gerak listrik tersebut pun akan timbul
jika konduktor bergerak secara relatif melintasi medan magnet. Tahukah Anda arti dari fluks
di sebuah kumparan? Fluks merupakan jumlah garis gaya yang melintasi luasan suatu bidang
yang tegak lurus dengan garis gaya magnetik.

Untuk mengetahui bekerjanya suatu Hukum Faraday, Michael membuat suatu percobaan
Faraday. Percobaan tersebut sering dikenal sebagai “Eksperimen Faraday”. Dalam percobaan
tersebut, Michael Faraday menggunakan bahan perantara kumparan dan sebuah magnet yang
dihubungkan ke Galvometer. Pertama-tama, magnet diletakkan dengan jarak yang jauh
dengan kumparan, sehingga tidak ada defleksi dari Galvometer.

Setelah itu, Anda akan menemukan jarum yang menunjukkan angka 0 pada Galvometer. Saat
magnet mulai bergerak masuk ke arah kumparan, jarum pada Galvometer tersebut pun akan
ikut bergerak menyimpang ke satu arah tertentu. Arah yang selalu dituju ialah arah ke kanan.
Saat magnet tersebut didiamkan maka jarum pada Galvometer pun akan ikut bergerak
kembali menuju ke posisi 0. Akan tetapi, saat magnet digerakkan dan ditarik ke arah
menjauhi kumparan maka akan terjadi suatu proses defleksi pada Galvometer.

Hal itu pun akan terjadi pada jarum Galvometer yang bergerak secara menyimpang ke arah
yang berlawanan yaitu ke kiri. Ketika magnet didiamkan lagi, maka jarum di Galvometer
akan kembali ke posisi 0. Proses tersebut pun berlaku pada gerakan kumparan. Jika magnet
berada di posisi yang tetap maka Galvometer akan menunjukkan defleksi dengan cara yang
sama kembali.

Pada percobaan ini, penggunaan Galvometer sangatlah menentukan berjalannya suatu


percobaan Hukum Faraday. Galvometer merupakan alat uji untuk mengetahui ada tidaknya
suatu arus listrik. Dari percobaan Faraday ini Anda dapat mengetahui bahwa semakin cepat
perubahan pada medan magnet maka semakin besar pula gaya gerak listrik yang diinduksi
oleh kumparan.

Setelah mengetahui tentang pengertian dari Hukum Faraday, Anda pun harus mengetahui
tentang bunyi dari hukum tersebut. Lalu bagaimana bunyi dari Hukum Faraday?
Bunyi Hukum Farday 1 Dan 2
Menurut Michael Faraday yang didasarkan dengan percobaan yang telah dilakukan, ia
menyimpulkan bahwa dalam sebuah Hukum Faraday ada dua hukum. Hukum tersebut ialah
Hukum Induksi Elektromagnetik Faraday 1 dan Hukum Induksi Elektromagnetik Faraday.
Berikut ialah penjelasan mengenai Hukum Faraday 1 dan 2 menurut Michael Faraday.

 Bunyi Hukum Faraday 1

“Setiap terjadinya satu perubahan pada medan magnet yang terdapat kumparan yang akan
mengakibatkan sebuah gaya gerak listrik (ggl) yang telah diinduksi oleh kumparan tersebut”

 Bunyi Hukum Faraday 2

“Tegangan suatu gaya gerak listrik di dalam rangkaian tertutup akan sebanding dengan
kecepatan pada perubahan fluks terhadap waktu”

Berdasarkan dengan Hukum Faraday tersebut, Michael menghubungkan dengan satu


pernyataan yaitu:

“Setiap terjadinya suatu perubahan medan magnet pada kumparan akan mengakibatkan gaya
gerak listrik (ggl) induksi yang sebanding dengan laju perubahan fluks”

Gaya gerak listrik dalam sebuah arus listrik sangat mempengaruhi bekerjanya suatu
rangkaian listrik. Terjadinya suatu gaya gerak listrik dalam suatu rangkaian listrik dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Berikut ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi besar
kecilnya suatu gaya gerak listrik (ggl).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Besar Kecilnya


(GGL)
 Jumlah lilitan pada kumparan

Semakin banyak jumlah lilitan pada kumparan maka semakin besar pula tegangan yang
diinduksikan.

 Kecepatan gerak medan magnet

Semakin cepat gerak garis gaya medan magnet atau fluks mengenai konduktor, maka
semakin besar pula tegangan induksinya.

 Jumlah garis medan magnet (fluks)

Semakin besar jumlah garis gaya medan magnet (fluks) mengenai konduktor maka semakin
besar pula induksinya.
Dengan faktor-faktor di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa besarnya induksi dipengaruhi
oleh kecepatan gerak, jumlah lilitan, dan jumlah garis medan magnet.

Rumus Hukum Faraday 1 Dan 2


Dalam sebuah Hukum Faraday, secara matematis perhitungan arus listrik dapat dirumuskan
menjadi:

 Rumus Hukum Faraday untuk menghitung suatu gaya gerak listrik maka,
rumus yang digunakan secara sistematis ialah sebagai berikut:

ɛ = -N (ΔΦ / ∆t)

Keterangan:

 ɛ ialah gaya gerak listrik (ggl) induksi (volt)


 N ialah jumlah lilitan kumparan
 ΔΦ ialah perubahan gaya medan magnet atau fluks magnetiks (weber)
 ∆t ialah selang waktu (s)
 Sedangkan untuk tanda negatif merupakan tanda untuk arah gaya gerak listrik (ggl)
induksi.

 Selain Hukum Faraday di atas, ada hukum lain yang digunakan yaitu dapat
dirumuskan menjadi

m = (Q / F) (M / z)

Keterangan:

 m ialah Total dari Muatan Listrik yang dilewatkan oleh Zat


 F ialah tetapan ataupun Konstanta Faraday
 M ialah Massa Molar dari Zat
 z ialah bilangan dari valensi ion Zat (Elektron yang ditransfer per ion)
 Tahukah Anda, bahwa yang telah dijelaskan ialah M, F dan z merupakan Konstan.
Jadi semakin besar nilai Q, maka nilai m juga semakin besar.
 Pengertian, Rumus dan Bunyi Hukum Ohm – Dalam Ilmu Elektronika, Hukum
dasar Elektronika yang wajib dipelajari dan dimengerti oleh setiap Engineer
Elektronika ataupun penghobi Elektronika adalah Hukum Ohm, yaitu Hukum dasar
yang menyatakan hubungan antara Arus Listrik (I), Tegangan (V) dan Hambatan (R).
Hukum Ohm dalam bahasa Inggris disebut dengan “Ohm’s Laws”. Hukum Ohm
pertama kali diperkenalkan oleh seorang fisikawan Jerman yang bernama Georg
Simon Ohm (1789-1854) pada tahun 1825. Georg Simon Ohm mempublikasikan
Hukum Ohm tersebut pada Paper yang berjudul “The Galvanic Circuit Investigated
Mathematically” pada tahun 1827.
 Bunyi Hukum Ohm
 Pada dasarnya, bunyi dari Hukum Ohm adalah :
 “Besar arus listrik (I) yang mengalir melalui sebuah penghantar atau Konduktor akan
berbanding lurus dengan beda potensial / tegangan (V) yang diterapkan kepadanya
dan berbanding terbalik dengan hambatannya (R)”.
 Secara Matematis, Hukum Ohm dapat dirumuskan menjadi persamaan seperti
dibawah ini :
 V=IxR
 I=V/R
 R=V/I
 Dimana :
V = Voltage (Beda Potensial atau Tegangan yang satuan unitnya adalah Volt (V))
I = Current (Arus Listrik yang satuan unitnya adalah Ampere (A))
R = Resistance (Hambatan atau Resistansi yang satuan unitnya adalah Ohm (Ω))
 Dalam aplikasinya, Kita dapat menggunakan Teori Hukum Ohm dalam Rangkaian
Elektronika untuk memperkecilkan Arus listrik, Memperkecil Tegangan dan juga
dapat memperoleh Nilai Hambatan (Resistansi) yang kita inginkan.
 Hal yang perlu diingat dalam perhitungan rumus Hukum Ohm, satuan unit yang
dipakai adalah Volt, Ampere dan Ohm. Jika kita menggunakan unit lainnya seperti
milivolt, kilovolt, miliampere, megaohm ataupun kiloohm, maka kita perlu
melakukan konversi ke unit Volt, Ampere dan Ohm terlebih dahulu untuk
mempermudahkan perhitungan dan juga untuk mendapatkan hasil yang benar.

Hukum Ohm merupakan suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui
sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan
kepadanya. Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai
resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya.Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penghantar,
namun istilah “hukum” tetap digunakan dengan alasan sejarah.

Orang pertama yang menyelidiki hubungan antara kuat arus listrik dengan beda potensial
pada suatu penghantar adalah Georg Simon Ohm, ahli fisikadari Jerman. Ohm berhasil
menemukan hubungan matematis antara kuat arus listrik dan beda potensial yang kemudian
dikenal sebagai hukum Ohm.
Secara sistematis hukum ohm dirumuskan sebagai berikut:

Contents

o 0.1 V = I .R
 1 Hukum Ohm untuk Rangkaian Tertutup
o 1.1 VAB = ε – Ir atau VAB = IR
o 1.2 Baca postingan selanjutnya:

V = I .R

Keterangan:
V : beda potensial atau tegangan (volt)
I : kuat arus (ampere)
R : ham batan I istri k (ohm)

Persamaan di atas dikenal sebagai hukum Ohm, yang berbunyi “Kuat arus yang mengalir
pada suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar itu
dengan syarat suhunya konstan/tetap”.

Hukum Ohm untuk Rangkaian Tertutup

Suatu rangkaian memerlukan beda potensial antara ujung-ujung rangkaian agar arus listrik
dapat mengalir. Beda potensial tersebut diperoleh dari sumber tegangan. Dalam setiap
sumber tegangan terdapat GGL (Gaya Gerak Listrik), yaitu beda potensial antara ujung-ujung
sumber tegangan sebelum dihubungkan dengan rangkaian dan disimbolkan dengan s. Ketika
sumber tegangan dihubungkan dengan rangkaian dan arus mengalir melalui rangkaian, beda
potensial antara ujung-ujung sumber tegangan disebut tegangan jepit (V).

Perhatikan gambar berikut:

Sebuah sumber tegangan (baterai) dihubungkan dengan suatu rangkaian tertutup. Besar
tegangan yang mengalir pada rangkaian sebagai berikut
VAB = ε – Ir atau VAB = IR

Keterangan:
VAB = tegangan jepit (volt)
ε = gaya gerak listrik baterai ( volt)
r = hambatan dalam baterai (ohm)
I = arus yang mengalir (ampere)
R = hambatan luar (ohm)

.4.4 Hukum MELDE

Hukum Melde mempelajari tentang besaran-besaran yang mempengaruhi cepat rambat


gelombang transversal pada tali. Melalui percobaannya (lakukan kegiatan 1.1), Melde
menemukan bahwa cepat rambat gelombang pada dawai sebanding dengan akar gaya
tegangan tali dan berbanding terbalik dengan akar massa persatuan panjang dawai.

Percobaan Melde digunakan untuk menyelidiki cepat rambat gelombang transversal dalam
dawai. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 1.15 percobaan Melde

Pada salah satu ujung tangkai garpu tala diikatkan erat-erat sehelai kawat halus lagi kuat.
kawat halus tersebut ditumpu pada sebuah katrol dan ujung kawat diberi beban, misalnya
sebesar g gram. Garpu tala digetarkan dengan elektromagnet secara terus menerus, hingga
amplitudo yang ditimbulkan oleh garpu tala konstan.

Untuk menggetarkan ujung kawat A dapat pula dipakai alat vibrator. Dalam kawat akan
terbentuk pola gelombang stasioner. Jika diamati akan terlihat adanya simpul dan perut di
antara simpul-silpul tersebut. Diantara simpul-simpul itu antara lain adalah A dan K, yaitu
ujung-ujung kawat tersebut, ujung A pada garpu tala dan simpul K pada bagian yang ditumpu
oleh katrol. Pada seluruh panjang kawat AK = L dibuat terjadi 4 gelombang, maka kawat
mempunyai λ1 = ¼ L. Jika f adalah frekuensi getaran tersebut, maka cepat rambat gelombang
dalam kawat adalah v1 = f . λ1 = ¼ fL. Jadi, sekarang beban ditambah hingga menjadi 4 gram,
maka pada seluruh panjang kawat ternyata hanya terjadi 2 gelombang, jadi 2λ2 = L, λ2 = ½ L
sehingga : v2 = f . λ2 = ½ fL

Kemudian beban dijadikan 16 gram, maka pada seluruh panjang kawat hanya terjadi satu
gelombang, jadi : λ3 = L, maka v3 = f . λ3 = f L. Beban dijadikan 64 gram, maka pada seluruh
panjang kawat hanya terjadi 1/2 gelombang, jadi : ½ λ4 = L ; λ4 =2 L sehingga

v4 = f . λ4 = 2f . L

Dari hasil pengamatan ini, maka timbul suatu anggapan atau dugaan, bahwa agaknya ada
hubungan antara cepat rambat gelombang dengan berat beban, yang pada hakekatnya
merupakan tegangan dalam kawat. data pengamatan tersebut di atas kita susun sebagai :
Pengamatan I F1 = g l1 = ¼ L v1 = ¼ fL
Pengamatan II F2 = 4g l2 = ½ L V2 = ½ fL
Pengamatan III F3 = 16g l3 = L V3 = fL
Pengamatan IV F4 = 64g l4 = 2L V4 = 2 fL

Data di atas kita olah sebagai berikut :

v2/v1 =2, dan F2/F1 = 4

v3/v1 =4, dan F3/F1 = 16

v4/v1 =8, dan F4/F1 = 64

Kesimpulan:

Cepat rambat gelombang dalam tali, kawat, dawai berbanding senilai dengan akar gaya
tegangan kawat, tali dawai tersebut.

Percobaan di atas diulang kembali dengan bahan sama, panjang kawat tetap, beban sama
(dimulai dari 16g gram), hanya saja luas penampang kawat dibuat 4 kali lipat, maka dapat
kita amati sebagai berikut :

λ1’= ½ L ; v'1 = ½ fL

v3 = f .L (dari percobaan pertama, dengan menggunakan 16g gram) maka :

v1’/v3 = ½

Percobaan diulangi lagi dengan beban tetap 16g gram, akan tetapi kawat diganti dengan
kawat yang berpenampang 16 kali lipat (dari bahan yang sama dan panjang tetap), maka
dalam kawat terjadi 4 gelombang, sehingga :

λ2’= ¼ L ; v2’ = ¼ fL sehingga : v2’/v3 = ¼ .

Apabila panjang kawat tetap dan dari bahan yang sama, sedangkan penampang diubah, maka
berarti sama dengan mengubah massa kawat. Jika massa kawat semula adalah m1, maka pada
percobaan tersebut massa kawat berturut-turut diubah menjadi m2 = 4 m1

dan m3 = 16 m1. Berdasarkan data percobaan kedua, maka setelah diolah sebagai berikut :

v1’/v3 = ½ dan m2/m1 =4m1/m1 =4

v2’/v3 = ¼ dan m3/m1 = 16m1/m1= 16

Dari pengolahan data tersebut dapatlah disimpulkan bahwa:


Cepat rambat gelombang berbanding balik nilai akar kuadrat massa kawat, asalkan
panjangnya tetap.

Percobaan selanjutnya diulangi lagi, akan tetapi diusahakan agar massa kawat antara simpul-
simpul A dan K tetap, sedangkan panjang AK variabel. Ternyata cepat rambatnyapun
berubah pula, meskipun beban tidak berubah, Kalau jarak AK menjadi ¼ jarak semula yaitu
= ¼ L, maka cepat rambatnya menjadi ½ kali semula, sebaliknya jika panjang kawat AK
dilipat empatkan dari AK semula, menjadi 4L, maka cepat rambatnya menjadi 2 kali cepat
rambat semula, asalkan massa kawat tetap. Dari percobaan ketiga ini dapatlah disimpulkan.

Untuk massa kawat yang tetap, maka cepat rambat gelombang berbanding senilai dengan
akar kuadrat panjang kawat.

Kesimpulan (2) dan (3) dapat disatukan menjadi : Cepat rambat gelombang dalam kawat
berbanding terbalik nilai dengan akar massa persatuan panjang kawat.

Jika massa persatuan panjang kawat ini dimisalkan atau dilambangkan dengan, maka
kesimpulan (1) sampai dengan (3) di atas dapat dirumuskan menjadi :

......................................................1.17

Dengan:

v = cepat rambat gelombang dalam kawat (tali, dawai)

F = gaya tegangan kawat

m = massa persatuan panjang kawat

k = faktor pembanding, yang dalam SI harga k = 1.

adalah percobaan fisika yang membuktikan tentang hubungan cepat rambat bunyi dalam
suatu benda lurus misalnya tali dengan tegangan tali serta besaran fisika lainnya. Alat untuk
membuktikan ini pada awalnya menggunakan prinsip gitar sederhana yang bernama
sonometer. Sonometer adalah alat yang terdiri dari tali atau kawat yang diikat kuat-kuat dan
dihubungkan dengan beban dimana beban ini untuk mengontrol tegangan tali dan sebuah
kotak suara yang terbuat dari kayu dimana kotak ini berguna untuk memperkuat bunyi.
langkah-langkah adalah sebagai berikut:

1. Jepit kawat di titik F1

dan F2 yang berjarak sekitar 1


 meter satu sama lain.
 Ambil penjepit M yang dapat digeser-geserkan lalu jepitlah pada posisi tertentu, misalnya
pada jarak l dari titik F1
 .
 Getarkan kawat atau dawai di tengah-tengah F1−M
 sehingga terdengar bunyi.
 Dekatkan garpu tala atau sumber getar lainnya dengan berbagai macam frekuensi yang
sudah diketahui, lihat sumber getar mana yang ikut bergetar. Frekuensi sumber getar yang
ikut bergetar ini merupakan frekuensi gelombang yang dihasilkan oleh kawat itu.
 Gambarkanlah grafik f sebagai fungsi 1l
 .
 Ubah-ubah tegangan kawat dengan cara mengganti atau mengubah-ubah beban yang
dipasang.
 Gambar grafik hubungan f

7. sebagai fungsi tegangan tali (tegangan tali=berat benda).

Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa frekuensi dawai berbanding terbalik dengan
panjang dawai yang dipetik,
f∼1l
Frekuensi sebanding dengan akar dari tegangan tali (berat benda).
f∼√F
Kita misalkan bila μ
adalah massa jenis linier dari sebuah dawai yatu massa per panjang dawai ml. maka frekuensi
yang dihasilkan berbanding terbalik dengan √μ.
f∼1√μ
Maka dengan memperhatikan 3 hubungan di atas kita peroleh bahwa ruas kiri dan ruas kanan
sudah memiliki besaran yang sama tetapi tidak memiliki nilai yang sama. Mengapa? Karena
kita membutuhkan suatu nilai atau koefisien untuk menyetarakan hubungan ruas kanan dan
ruas kiri dengan peristiwa yang sesungguhnya. Oleh karena itu, berdasarkan penelitian dan
percobaan nilai k=12
.
f=k1l√Fμf=12l√Fμvλ=12l√Fμ
Nilai λ=2l
karena pada senar atau dawai yang dipetik memiliki dua simpul dan satu perut.

maka hasil akhirnya adalah


v=√Fμ
Teori Kuantum Max Planck

Pada tahun 1900 Max Planck mengemukakan teori kuantum. Planck menyimpulkan bahwa atom-
atom dan molekul dapat memancarkan atau menyerap energi hanya dalam jumlah tertentu. Jumlah
atau paket energi terkecil yang dapat dipancarkan atau diserap oleh atom atau molekul dalam
bentuk radiasi elektromagnetik disebut kuantum. Planck menemukan bahwa energi foton (kuantum)
berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.

Salah satu fakta yang mendukung kebenaran dari teori kuantum Max Planck adalah efek fotolistrik,
yang dikemukakan oleh Albert Einsteinpada tahun 1905. Efek fotolistrik adalah keadaan di mana
cahaya mampu mengeluarkan elektron dari permukaan beberapa logam (yang paling terlihat adalah
logam alkali) (James E. Brady, 1990).

Susunan alat yang dapat menunjukkan efek fotolistrik ada pada gambar 1.1. Elektrode negatif
(katode) yang ditempatkan dalam tabung vakum terbuat dari suatu logam murni, misalnya sesium.
Cahaya dengan energi yang cukup dapat menyebabkan elektron terlempar dari permukaan logam.

Elektron tersebut akan tertarik ke kutub positif (anode) dan menyebabkan aliran listrik melalui
rangkaian tersebut.

Percobaan Efek Fotolistrik Memperlihatkan susunan alat yang menunjukkan efek fotolistrik,
Seberkas cahaya yang ditembakkan pada permukaan pelat logam akan menyebabkan logam
tersebut melepaskan elektronnya. Elektron tersebut akan tertarik ke kutub positif dan menyebabkan
aliran listrik melalui rangkaian tersebut. Sumber: General Chemistry, Principles & Structure, James E.
Brady, 5th ed, 1990.

Einstein menerangkan bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel foton yang energinya sebanding
dengan frekuensi cahaya. Jika frekuensinya rendah, setiap foton mempunyai jumlah energi yang
sangat sedikit dan tidak mampu memukul elektron agar dapat keluar dari permukaan logam. Jika
frekuensi (dan energi) bertambah, maka foton memperoleh energi yang cukup untuk melepaskan
elektron (James E. Brady, 1990). Hal ini menyebabkan kuat arus juga akan meningkat. Energi foton
bergantung pada frekuensinya.

dengan:
h = tetapan Planck (6,626 × 10–34 J dt)
c = kecepatan cahaya dalam vakum (3 × 108 m det–1)
λ = panjang gelombang (m)

Pengertian Gaya Lorentz


Bagaimana bila suatu kawat penghantar yang sedang dialiri listrik berada dalam medan magnet? Jika
kawat berarus berada dalam medan magnet maka kawat tersebut akan mendapatkan gaya yang
dinamakan gaya lorentz.

Rumus Gaya Lorentz

Besarnya gaya lorentz berbanding lurus dengan medan magnet, kuat arus listrik, dan panjang kawat
pengantar. Secara matematis dapat dituliskan dalam persamaan berikut :

Keterangan :
FL = gaya lorentz (newton = N)
B = medan magnet (Tesla = T)
L = Panjang kawat penghantar (m)

Arah Gaya Lorentz


Bila pada kaidah tangan kanan dimana ibu jari menunjukkan arah arus listrik (I), empat jari
menunjukkan medan magnet (B), maka arah gaya Lorentz (F) adalah tegak lurus ke atas telapak
tangan kanan kita.

Gambar: Arah Gaya Lorentz

Sehingga jika kawat penghantar berbentuk bujur sangkar ABCD, ketika arus berada pada AB maka
arah gaya menuju bawah, sedangkan pada kawat penghantar CD maka arah gaya Lorentz ke atas.

Hal ini akan membuat kawat penghantar AB bergerak ke arah bawah sedangkan CD ke arah atas
sehingga kawat penghantar bergerak berputar.

Contoh Gaya Lorentz dalam Kehidupan Sehari-hari


Pengaruh gaya lorentz pada perputaran kawat penghantar menjadi landasan kerja beberapa alat
diantaranya motor listrik dan Galvanometer.

Motor Listrik

Motor listrik adalah alat yang dapat mengubah energi listrik menjadi energi gerak. Motor listrik
bekerja dengan memanfaatkan adanya perputaran kumparan berarus listrik di sekitar medan
magnet.

Misalkan arah garis gaya magnet dari U ke S (dari kiri ke kanan). Arah arus ditunjukkan dengan tanda
panah, maka sesuai kaidah tangan kanan maka kawat AB akan bergerak ke bawah, sedangkan kawat
CD bergerak ke atas.

Gambar: Motor Listrik (Elektromotor)

Setelah itu kumparan berhenti berputar. Supaya kumparan dapat berputar terus maka digunakan
komutator. Komutator terdiri dari dua keping tembaga berbentuk setengah lingkaran. Disekat satu
sama lain.

Komutator berguna untuk mengubah arah arus dalam kumparan bila telah melintasi daerah netral.
Yang dimaksud dengan daerah netral adalah daerah dimana kutub kumparan tepat berhadapan
dengan kutub magnet.
Pada motor listrik yang lebih kuat, kumparan yang digunakan lebih banyak lagi. Demikian pula
gelang-gelang belahnya. Kumparan-kumparan terletak dalam alur-alur silinder besi yang berfungsi
sebagai angker atau jangkar.

Ujung tiap kumparan berakhir pada komutator. Kumparan yang berputar harus dilekatkan
sedemikian rupa. Bila salah satu sisi kawat berada di depan kutub utara, sisi kawat yang lain berada
di depan kutub selatan.

Semua kumparan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi suatu rangkaian tertutup. Jalur-jalur
tembaga yang disekat satu sama lain disebut lamel dan seluruhnya membentuk sebuah kolektor.
Sikat-sikatnya terbuat dari karbon.

Galvanometer

Galvanometer adalah suatu jenis alat ukur listrik yang mempunyai kumparan yang dapat berputar.
Kumparan kawat ini mempunyai inti besi lunak.

Kumparan diletakkan di antara kutub-kutub magnet ladam yang kuat. Bila pada kumparan tersebut
dialirkan arus, maka kumparan akan berputar. Kumparan tidak dapat berputar terus karena ditahan
oleh pegas spiral.

Gambar: Galvanometer

Berputarnya kumparan akan menggerakkan jarum penunjuk. Galvanometer Besarnya putaran jarum
penunjuk bergantung pada kuat arus. Makin besar kuat arus makin besar putarannya.

Prinsip gaya Lorentz dimanfaatkan dalam motor listrik. Motor listrik adalah alat yang dapat
mengubah energi listrik menjadi energi gerak. Berikut adalah contoh motor listrik yang
merupakan salah satu contoh penerapan gaya lorentz dan bagian-bagian motor listrik
tersebut.

Ketika kumparan yang ada dalam daerah


medan magnetik dialiri arus listrik, kumparan tersebut menghasilkan gaya lorentz yang
menyebabkan kumparan berputar pada suatu sumbu. Setelah berputar setengah putaran atau
sekitar 180o, komutator akan mengubah arah arus yang mengalir pada kumparan sehingga
arahnya berlawanan dengan arah arus semula. Hal ini menyebabkan gaya Lorentz berubah
sebesar 180o dan kumparan meneruskan putarannya hingga satu putaran penuh. Setelah
berputar satu putaran penuh, komutator tersebut kembali mengubah arah arus dalam
kumparan sehingga kumparan kembali berputar pada sumbunya. Proses ini terus berulang
sehingga motor listrik pun terus berputar. Prinsip kerja motor listrik DC diatas merupakan
salah satu contoh penerapan gaya lorentz dalam kehidupan sehari-hari.

 Home
 Ekonomi
 Budaya
 Geografi
 Kimia
 Sejarah
 Fisika

Home » Fisika » Penerapan Aplikasi Gaya Magnetik Gaya Lorentz dalam Kehidupan Sehari-hari,
Kegunaan Galvanometer, Motor Listrik, Relai, Kereta Maglev, Video Recorder

Penerapan Aplikasi Gaya Magnetik Gaya Lorentz dalam Kehidupan


Sehari-hari, Kegunaan Galvanometer, Motor Listrik, Relai, Kereta
Maglev, Video Recorder
Penerapan Aplikasi Gaya Magnetik Gaya Lorentz dalam Kehidupan Sehari-hari, Kegunaan
Galvanometer, Motor Listrik, Relai, Kereta Maglev, Video Recorder.

1. Cara / Prinsip Kerja, Fungsi dan Komponen Galvanometer

Galvanometer berperan sebagai komponen dasar pada beberapa alat ukur, antara lain
amperemeter, voltmeter, serta ohmmeter.
Gambar 1. Galvanometer tangen. [1]
Peralatan ini digunakan untuk mendeteksi dan mengukur arus listrik lemah. Sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 1, galvanometer berupa kumparan bergerak, terdiri atas sebuah
kumparan terbuat dari kawat tembaga isolasi halus dan dapat berputar pada sumbunya yang
mengelilingi sebuah inti besi lunak tetap yang berada di antara kutub-kutub suatu magnet
permanen. Interaksi antara medan magnetik B permanen dengan sisi-sisi kumparan akan dihasilkan
bila arus I mengalir melaluinya, sehingga akan mengakibatkan torka pada kumparan. Kumparan
bergerak memiliki tongkat penunjuk atau cermin yang membelokkan berkas cahaya ketika bergerak,
dimana tingkat pembelokan tersebut merupakan ukuran kekuatan arus.

2. Penerapan Gaya Lorentz untuk Motor Listrik

Sebuah motor listrik merupakan alat untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Mesin
ini tidak bising, bersih, dan memiliki efisiensi tinggi. Alat ini bekerja dengan prinsip bahwa arus yang
mengalir melalui kumparan di dalam medan magnet akan mengalami gaya yang digunakan untuk
memutar kumparan. Pada motor induksi, arus bolak-balik diberikan pada kumparan tetap (stator),
yang menimbulkan medan magnetik sekaligus menghasilkan arus di dalam kumparan berputar
(rotor) yang mengelilinginya. Keuntungan motor jenis ini adalah arus tidak harus diumpankan
melalui komutator ke bagian mesin yang bergerak. Pada motor serempak (synchronous motor), arus
bolak-balik yang hanya diumpankan pada stator akan menghasilkan medan magnet yang berputar
dan terkunci dengan medan rotor. Dalam hal ini magnet bebas, sehingga menyebabkan rotor
berputar dengan kelajuan yang sama dengan putaran medan stator. Rotor dapat berupa magnet
permanen atau magnet listrik yang diumpani arus searah melalui cincin geser.

Gambar 2. Bagian-bagian Motor listrik.

3. Aplikasi Gaya Magnetik untuk Relai

Relai merupakan suatu alat dengan sebuah sakelar, untuk menutup relai digunakan magnet listrik.
Arus yang relatif kecil dalam kumparan magnet listrik dapat digunakan untuk menghidupkan arus
yang besar tanpa terjadi hubungan listrik antara kedua rangkaian.

Gambar 3. Relai. [2]

4. Penerapan Gaya Magnet untuk Kereta Maglev

Maglev merupakan kereta api yang menerapkan konsep magnet listrik untuk mengubah energi listrik
menjadi energi mekanik. Kata “Maglev” berasal dari magnetic levitation. Kereta api ini dipasangi
magnet listrik di bawahnya yang bergerak pada jalur bermagnet listrik. Magnet tolak-menolak
sehingga kereta api melayang tepat di atas jalur lintasan. Gesekan kereta api dengan jalur lintasan
berkurang sehingga kereta api bergerak lebih cepat.
Gambar 4. Kereta Maglev. [3]

5. Penerapan Gaya Lorentz untuk Video Recorder

Pada video recorder, sinyal disimpan di dalam pita magnetik. Video recorder sangat tergantung pada
magnetisme dan listrik. Ia menggunakan dorongan magnetik dari kawat yang membawa arus dalam
motor listrik untuk memutar drum pada kecepatan tinggi dan menggerakkan pita yang melaluinya
dengan lembut. Untuk merekam suatu program, arus yang mengalir melalui kumparan kawat di
dalam drum digunakan untuk menciptakan pola magnetik pada pipa. Jika pita tersebut diputar
ulang, alat perekam menggunakan pola magnetik ini untuk menghasilkan arus yang dapat diubah ke
dalam gambar.

Gambar 5. Camcorder. [4]

Hukum pembiasan pertama kali dinyatakan oleh Willebrord Snellius, seorang


ahli Fisika berkebangsaan Belanda. Snellius melakukan eksperimen dengan
melewatkan seberkas sinar pada balok kaca. Secara sederhana, percobaan
Snellius ditunjukkan seperti pada gambar di bawah ini.
Seberkas cahaya (sinar laser/kotak cahaya) di arahkan menuju permukaan
balok kaca (gambar kiri). Ternyata, sinar dibelokkan pada saat mengenai
bidang batas udara-kaca. Jika digambarkan dalam bentuk dua dimensi (gambar
kanan), maka sinar datang dari udara dibiaskan dalam kaca mendekati garis
normal. Sehingga besar sudut datang (i) selalu lebih besar dari sudut bias (r).

Jika percobaan yang sama diulang dengan sudut datang yang berubah-ubah
yaitu sebesar i1, i2, i3 hingga sudut biasnya r1, r2, r3 ternyata Snellius menemukan
bahwa hasil perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut biasnya
selalu konstan atau tetap. Dengan hasil percobaannya tersebut, Snellius
mengemukakan Hukum Pembiasan yang berbunyi sebagai berikut.
■ Sinar datang, garis normal dan sinar bias terletak dalam satu bidang datar.
■ Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias pada dua medium
yang berbeda merupakan bilangan tetap.

Secara matematis, pernyataan Hukum Snellius yang kedua di atas dapat


dituliskan dalam bentuk persamaan berikut.
sin i1 sin i2 sin i3
= =
sin r1 sin r2 sin r3
sin i
= Tetap ………………… pers. (1)
sin r
Tetapan atau konstanta tersebut disebut dengan indeks bias relatif suatu
medium terhadap medium lain. Jika sinar datang dari medium 1 ke medium 2,
maka indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1 ditulis sebagai berikut.
n2
n21 =
n1
Dengan demikian, persamaan (1) di atas dapat ditulis ulang sebagai berikut.
sin i
= n21
sin r
sin i n2
=
sin r n1
Sehingga kita peroleh rumus hubungan antara sudut datang, sudut bias dan
indeks bias medium sebagai berikut.

n1 sin i = n2 sin r

Keterangan:
n1 = indeks bias mutlak medium 1
n2 = indeks bias mutlak medium 2
n21 = indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1
i = sudut datang pada medium 1
r = sudut bia pada medium 2

Selain kedua pernyataan Hukum Snellius di atas, masih ada hal lain yang
berlaku pada peristiwa pembiasan cahaya, yaitu sebagai berikut.

1) Jika sinar datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat, sinar
akan dibiaskan mendekati garis normal. Ini berarti, sudut bias lebih kecil
daripada sudut datangnya (r < i).
2) Jika sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat, cahaya
akan dibiaskan menjauhi garis normal. Jadi, sudut datang lebih kecil dari sudut
bias (i < r).

3) Jika sinar datang tegak lurus batas dua medium, maka sinar tidak dibiaskan
melainkan diteruskan.

Ketika cahaya cahaya dari sebuah medium merambat melewati medium lain
yang berbeda kerapatan, cepat rambat cahaya akan berubah. Cepat rambat
cahaya akan berkurang jika memasuki medium dengan kerapatan tinggi.
Sebaliknya, cepat rambat cahaya akan bertambah jika memasuki medium
dengan kerapatan rendah.

Baca Juga:
 Alat Optik: Pengertian, Macam,
Gambar, Rumus, Contoh Soal dan
Pembahasan Bagian 2
 Alat Optik: Pengertian, Macam,
Gambar, Rumus, Contoh Soal dan
Pembahasan Bagian 1
 Kumpulan Contoh Soal Alat Optik
Fisika dan Pembahasan Lengkap
Perbandingan cepat rambat cahaya di ruang hampa (c) dengan cepat rambat
cahaya di dalam medium disebut indeks bias mutlak. Indeks bias mutlak suatu
medium dapat dicari dengan rumus:
c
n =
v
Keterangan:
n = indeks bias mutlak medium
c = cepat rambat cahaya di ruang hampa (3 × 108 m/s)
v = cepat rambat cahaya di dalam medium

Pada hukum Snellius di atas, indeks bias mutlak medium 1 ditunjukkan oleh
n1 dan indeks bias mutlak medium 2 ditunjukkan dengan n2. Sementara itu,
perbandingan indeks bias mutlak dari dua buah medium disebut indeks bias
relatif. Jika cahaya datang dari medium 1 dengan indeks bias n1 menuju
medium 2 dengan indeks bias mutlak n2, maka indeks bias relatif medium 2
terhadap medium 1 dinyatakan dengan persamaan berikut.
n2
n21 =
n1
sin i
n21 =
sin r
Dengan mensubtitusikan persamaan n = c/v, kita mendapat bentuk persamaan
berikut ini.
v1
n21 =
v2
Keterangan:
n21 = indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1
i = sudut datang
r = sudut bias
n1 = indeks bias medium 1
n2 = indeks bias medium 2
v1 = cepat rambat cahaya pada medium 1
v2 = cepat rambat cahaya pada medium 2

Bunyi Hukum Bejana Berhubungan


Bejana berhubungan adalah suatu wadah atau bejana yang tidak memiliki sekat atau saling
berhubungan. Jika bejana ini diisi zat cair yang sejenis, maka permukaan zat cair ini akan
sama tinggi. Namun, jika zat cair yang diisikan berbeda jenis, maka permukaannya tidak
akan sama tinggi.

Jika kamu perhatikan, permukaan minyak dan permukaan air tidak mendatar dan kedua
pemukaan tersebut tidak sejajar.

Permukaan minyak akan lebih tinggi daripada permukaan air karena adanya perbedaan massa
jenis zat cair dalam kedua pipa, yaitu massa jenis minyak yang lebih kecil daripada massa
jenis air.

Rumus Hukum Bejana Berhubungan

Berdasarkan pengertian tekanan hidrostatis, maka tekanan yang dilakukan zat cair yang
sejenis pada kedalaman yang sama adalah sama besar. Dengan menerapkan pengertian
tekanan hidrostatis dan membuat bidang batas antara zat cair yang berbeda jenis, diperoleh:

P1 = P2 atau ρ1 h1 = ρ2 h2

Keterangan:

Home » Fisika » IPA » Pengertian, Rumus dan Bunyi Hukum Bejana Berhubungan
Tuesday, 29 December 2015 Fisika IPA

Pengertian, Rumus dan Bunyi Hukum Bejana Berhubungan

Berikut ini adalah pembahasan tentang pengertian bejana berhubungan dan rumus bejana
berhubungan, bunyi hukum bejana berhubungan fisika, konsep bejana berhubungan, gambar bejana
berhubungan, dilengkapi dengan contoh soal yang terkait dengan bejana berhubungan.

Bunyi Hukum Bejana Berhubungan


Bejana berhubungan adalah suatu wadah atau bejana yang tidak memiliki sekat atau saling
berhubungan. Jika bejana ini diisi zat cair yang sejenis, maka permukaan zat cair ini akan sama
tinggi. Namun, jika zat cair yang diisikan berbeda jenis, maka permukaannya tidak akan sama tinggi.

Jika kamu perhatikan, permukaan minyak dan permukaan air tidak mendatar dan kedua pemukaan
tersebut tidak sejajar.

Permukaan minyak akan lebih tinggi daripada permukaan air karena adanya perbedaan massa jenis
zat cair dalam kedua pipa, yaitu massa jenis minyak yang lebih kecil daripada massa jenis air.

Gambar: Bejana Berhubungan diisi dengan Zat Cair berbeda jenis

Rumus Hukum Bejana Berhubungan

Berdasarkan pengertian tekanan hidrostatis, maka tekanan yang dilakukan zat cair yang sejenis pada
kedalaman yang sama adalah sama besar. Dengan menerapkan pengertian tekanan hidrostatis dan
membuat bidang batas antara zat cair yang berbeda jenis, diperoleh:
P1 = P2 atau ρ1 h1 = ρ2 h2
Keterangan:
ρ1 = massa jenis zat cair pertama

ρ2 = massa jenis zat cair kedua

h1 = tinggi permukaan zat cair pertama di atas batas


h2 = tinggi permukaan zat cair kedua di atas batas

Hukum Biot Savart

Sebuah kawat apabila dialiri oleh arus listrik akan menghasilkan medan magnet yang garis-
garis gayanya berupa lingkaran-lingkaran yang berada di sekitar kawat tersebut. Arah dari
garis-garis gaya magnet ditentukan dengan kaidah tangan kanan (apabila kita menggenggam
tangan kanan ibu jari sebagai arah arus listrik sedang keempat jari yang lain merupakan
arah medan magnet). (Hk. Oersteid)

Keterangan :

Apabila sebuah jarum kompas ditempatkan disekitar kawat berarus ( lihat gambar),
maka jarum kompas akan mengarah sedemikian sehinga selalu mengikuti arah medan magnet
Keterangan :

Kuat medan magnet di suatu titik di sekitar kawat berarus listrik disebut induksi
magnet (B). Besar Induksi maget (B) oleh Biot dan Savart dinyatakan :

 Berbanding lurus dengan arus listrik (I)


 Berbanding lurus dengan panjang elemen kawat penghantar (ℓ)
 Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara titik itu ke elemen kawat penghantar
 Berbanding lurus dengan sinus sudut antara arah arus dan garis penghubung titik itu
ke elemen kawat penghantar

Secara matematis untuk menentukan besarnya medan magnet disekitar kawat berarus
listrik digunakan metode kalkulus. Hukum Biot Savart tentang medan magnet disekitar kawat
berarus listrik adalah
Keterangan:

 dB = perubahan medan magnet dalam tesla ( T )

k =

 μo = permeabilitas ruang hampa =

i = Kuat arus listrik dalam ampere ( A )

 dl = perubahan elemen panjang dalam meter (m)

HUKUM BIOT-SAVART

Medan magnetik akan


timbul pada penghantar yang
dialiri arus listrik. Konsep ini
telah diteliti oleh ilmuwan asal
Denmark, yaitu Hans Christian
Oersted (1777-1851). Dari hasil
penelitiannya, Oersted mengem
ukakan bahwa jika sebuah
magnet didekatkan pada suatu
penghantar yang dialiri arus
listrik, maka magnet tersebut
akan menyimpang (terjadi
simpangan). Penyimpangan ini
dibuktikan dengan bergeraknya
jarum kompas saat didekatkan
pada sebuah kawat yang
berarus.
Medan magnetik
merupakan besaran vektor,
sehingga memilki besar dan
arah. Vektor medan magnetik
diberi simbol B, sedangkan
besar medan magnetik diberi
simbol B. Arah medan magnetik
dapat ditentukan dengan kaidah
tangan kanan, yaitu ibu jari
menunjukkan arah arus listrik
dan keempat jari lainnya
menunjukkan arah medan
magnetik. Satuan medan
magnetik adalah Tesla (T),
dengan 1 T = 1 N.s/C.m.
Lalu, bagaimana kalian
menghitung besar medan
magnetik yang ditimbulkan oleh
arus listrik tersebut?
Penelitian Oersted tentang
medan magnetik dilanjutkan
oleh ilmuwan lain yang
bernama Jean Baptiste
Biot dan Felix Savart.
Keduanya dapat menentukan
besarnya medan magnetik yang
ditimbulkan oleh kawat berarus
pada suatu jarak tertentu.
Temuan ini dikenal sebagai
hukum Biot-Savart. Hukum Biot-
Savat merupakan persamaan
yang digunakan untuk
menghitung medan magnetik
yang dihasilkan oleh kawat
berarus listrik. Berikut ini
merupakan beberapa
penggunaan hukum Biot-Savart.
📣 Hukum Biot-Savart untuk
medan magnetik yang
ditimbulkan oleh elemen arus
Hukum ini digunakan untuk
menentukan medan
magnetik B di sembarang titik P
pada sebuah
kawat. Biot dan Savart menyata
kan bahwa besar medan
magnetik:
🎯 berbanding lurus dengan arus
listrik (I);
🎯 berbanding lurus dengan
panjang elemen kawat
penghantar (dl);
🎯 berbanding terbalik dengan
kuadrat jarak antara titik itu ke
elemen kawat penghantar (r2);
🎯 berbanding lurus dengan
sinus sudut antara arah arus
dan garis penghubung titik itu ke
elemen kawat penghantar.
Secara matematis, dirumuskan
sebagai berikut.