Anda di halaman 1dari 22

RESUME PERILAKU ORGANISASI BAB 9

“Dasar dari Perilaku Kelompok”

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perilaku Organisasi yang diampu oleh:

Edi Sukarmanto, SE., M.Si

Nama: Sita Marlina

NPM: 10090115155

Kelas: Akuntansi – D

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Setiap manusia dalam berbagai kegiatan

apapun manusia akan terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan

bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak ditemui kelompok-kelompok

seperti ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar

atau kecil adalah sangat kuat kercenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok –

kelompok tertentu. Di mulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan

tempat kerja, seringnya berjumpa dan berapakali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka

timbullah kedekatan satu sama lain, dan mulailah mereka berkelompok dalam organisasi

tertentu.

Tantangan yang paling berat dihadapi oleh organisasi dengan meningkatnya perubahan adalah

perbedaan individu yang ada di dalam organisasi, yang selanjutnya akan membentuk perilaku

kelompok. Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia, setiap hari manusia akan

terlibat dalam aktivitas kelompok. Demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan

organisasi. Hal ini akan saling bersinergi manakala aktifitas akan bersentuhan satu sama lain

dalam membentuk satu capaian yang di inginkan bersama. Kelompok dapat mengubah motivasi

individu atau kebutuhan, dan bisa mempengaruhi prilaku individu dalam satu kondisi organisasi.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Mendefinisikan dan Mengklasifikasikan Kelompok

Kelompok (group) adalah dua individu atau lebih,yang berinteraksi dan saling bergantung,yang

datang bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat bersifat formal

atau informal. Kelompok yang bersifat formal adalah suatu kelompok kerja yang ditetapkan

yang didefinisikan oleh struktur organisasi. Kelompok yang bersifat informal adalah suatu

kelompok yang tidak ditetapkan strukturnya secara formal atau tidak ditetapkan secara

organisasional; misalnya kelompok yang terlihat sebagai tanggapan atas kebutuhan untuk kontak

sosial.

2.1.1 Mengapa Orang-Orang Membentuk Kelompok?

Kecenderungan kita untuk mengambil kebanggaan personal atau pelanggaran atas prestasi

sebuah kelompok merupakan ranah teori identitas sosial (social identity theory) atau sudut

pandang yang mempertimbangkan ketika dan kapan para individu mempertimbangkan para

anggota kelompoknya sendiri. Identitas sosial membantu kita memahami siapa kita dan di mana

kita cocok dengan orang lain, tetapi identitas sosial dapat memiliki sisi negative pula. Di atas

perasaan penderitaan orang, favoritism dalam kelompok (ingroup favoritism) sudut pandang

yang melihat para angota dari dalam kelompok lebih baik dibandingkan orang lain, dan orang-

orang yang tidak tergabung dalam kelompok semuanya sama.

Beberapa karakteristik yang membuat identitas sosial menjadi penting bagi seseorang:
 Kesamaan. Tidak mengejutkan, orang-orang yang memiliki nilai atau karakteristik yang

sama sebagaimana para anggota lainnya dari organisasi mereka memiliki level

identifikasi kelompok yang lebih tinggi. Kesamaan demografis dapat juga mengarah pada

identifikasi yang semakin kuat bagi para anggota yang baru direkrut, sementara mereka

yang berbeda secara demografis akan memiliki kesulitan untuk mengidentifikasi

kelompok sebagai suatu keseluruhan.

 Keunikan. Orang-orang yang lebih cenderung memperhatikan identitas yang

memperlihatkan bagaimana mereka berbeda dari kelompok lainnya.

 Status. Oleh karena orang-orang menggunakan identitas untuk mendefinisikan diri

mereka sendiri dan meningkatkan penghargaan diri, sehingga masuk akal bahwa mereka

tertarik dalam mengaitkan diri mereka sendiri dengan kelompok yang memiliki status

tinggi. Orang-orang cenderung untuk tidak mengidentifikasikan dengan status organisasi

yang rendah dan akan lebih cenderung untuk meninggalkan identitas tersebut.

 Penurunan yang tidak pasti. Keanggotaan dalam sebuah kelompok juga membantu

beberapa orang memahami siapa mereka dan bagaimana mereka menyesuaikan diri ke

dalam dunia.
2.2 Tahap-tahap dalam Pengembangan Kelompok

2.2.1 Model Lima Tahap

Model lima tahap pengembangan (five-stage group development) Lima tahap unik yang harus

dilalui oleh kelompok: membentuk, mempeributkan, menyusun norma, mengerjakan, dan

membubarkan.

Tahap membentuk (forming stage) tahap pertama dalam pengembangan kelompok,

dikarakterisasikan dengan banyaknya ketidakpastian.

Tahap mempeributkan (storming stage) tahap kedua dalam pengembangan kelompok,

dicirikan dengan konflik di dalam kelompok.

Tahap menyusun norma (norming stage) tahap ketiga dalam pengembangan kelompok,

dicirikan dengan hubungan yang dekat dan kekompakan.

Tahap mengerjakan (performing stage) tahap keempat dalam pengembangan kelompok, yang

mana kelompok sepenuhnya fungsional.

Tahap membubarkan (adjourning stage) tahap terakhir dalam pengembangan kelompok untuk

kelompok sementara, yang dicirikan dengan memusatkan perhatian pada mengakhiri kegiatan

dan bukannya kinerja tugas.


2.2.2 Suatu Model Alternatif bagi Kelompok yang Bersifat Sementara dengan Tenggat

Waktu

Kelompok yang bersifat sementara dengan tenggat waktu yang nampaknya tidak mengikuti

model lima tahap yang biasanya. Kajian-kajian mengindikasi bahwa mereka memiliki urutan

tindakan (atau kelambanan) yang unik sendiri: (1) pertemuan pertama mereka menetapkan arah

kelompok, (2) fase pertama aktivitas kelompok adalah salah satu dari inersia, (3) suatu transisi

terjadi tepat ketika kelompok telah terpakai setengah dari waktu yang telah ditetapkan, (4)

transisi ini memprakarsai perubahan besar, (5) fase kedua dari inersia mengikuti transisi, dan (6)

pertemuan terakhir kelompok dicirikan oleh aktivitas yang diakselerasikan. Pola ini dinamakan

model kesetimbangan berselang (punctuated equilibrium model) suatu rangkaian fase yang mana

kelompok yang bersifat sementara bergerak melaluinya yang melibatkan transisi antara

kelambanan dengan aktivitas.


2.3 Properti Kelompok: Peranan, Norma, Status, Besaran, Kekompakan, dan Keragaman

Properti Kelompok 1: Peran

Peran (role) adalah suatu rangkaian pola perilaku yang diharapkan yang dikaitkan dengan

seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam unit sosial. Persepsi peran (role perception)

adalah suatu sudut pandang individu mengenai bagaimana dia seharusnya bertindak dalam suatu

situasi tertentu. Ekspektasi peran (role expectation) bagaimana yang lainnya meyakini seseorang

akan bertindak dalam situasi tertentu. Kontak psikologis (psychological contact) sebuah

pernyataan yang tidak tertulis yang mengemukakan apa yang manajekem harapkan dari

karyawan dan sebaliknya. Konflik peran (role conflict) adalah suatu situasi yang mana individu

dihadapkan oleh ekspektasi peran yang berbeda-beda.

Properti Kelompok 2: Norma

Norma adalah standar perilaku yang diterima di dalam kelompok dan berlaku di antara para

angota kelompok. Norma sebenarnya dapat menakup beberapa aspek dari perilaku kelompok.

Mungkin yang paling umum adalah norma kinerja, memberikan petunjuk secara eksplisit

mengenai bagaimana kerasnya para anggota harus bekerja, apa level output yang harus

dihasilkan, bagaimana menyelesaikan pekerjaan, apa level kemalasan yang tepat, dan

sebagainya. Kepatuhan (conformity) adalah penyesuaian perilaku seseorang agar sejalan dengan

norma kelompok. Orang-orang yang patuh pada kelopok penting yang mana mereka miliki atau

berharap untuk memiliki. Kelompok penting ini adalah kelompok acuan (reference group)

kelompok yang anggotanya memperhatikan anggota lain, menganggap bahwa dirinya anggota

atau akan menjadi anggota kelompok itu dan merasa bahwa para anggota kelompok sangat

berarti baginya. Perilaku menyimpang di tempat kerja (deviant workplace behavior) adalah
perilaku bersifat sukarela yang melanggar norma organisasi secara signifikan dan, dengan

demikian, dapat mengancam kesejahteraan organisasi atau apra anggotanya. Juga dinamakan

perilaku antisosial atau ketidaksopanan di tempat kerja.

Properti Kelompok 3: Status

Status adalah suatu posisi yang didefinisikan secara sosial atau peringkat yang diberikan kepada

kelompok atau para anggota kelompok oleh orang lain. Apa yang menentukan status? Menurut

teori karakteristik status, status cenderung berasal dari salah satu di antara ketiga sumber berikut:

1. Kekuasaan seseorang yang dimiliki atas orang lain

2. Kemampuan seseorang untuk memberikan kontribusi bagi tujuan kelompok

3. Karakteristik pribadi individu

Status dan Norma. Status memiliki efek yang lebih menarik pada kekuasaan norma dan tekanan

untuk mematuhi. Para individu yang memiliki status yang tinggi sering kali diberikan banyak

kebebasan menyimpang dari norma daripada para anggota kelompok lain.

Status dan Interaksi Kelompok. Orang-orang yang memiliki status yang tinggi cenderung

menjadi anggota kelompok yang lebih sombong. Mereka lebih sering berbicara dengan bebas,

kebih banyak mengkritik, menyatakan lebih banyak perintah, dan lebih sering menginterupsi

anggota lain. Tetapi perbedaan status benar-benar menghambat keragaman dari gagasan dan

kreativitas dalam kelompok karena para anggota yang memiliki status yang lebih rendah

cenderung unruk berperan serta kurang aktif dalam pembahasan kelompok. Ketika mereka

memiliki keahlian dan wawasan yang dapat membantu kelompok, gagal untuk memanfaatkan

mereka sepenuhnya yang menurunkan keseluruhan kinerja kelompok.


Ketidakadilan Status. Penting bagi para anggota kelompok untuk meyakini hierarki status

tersebut adil. Hal yang dianggap sebagai ketidakadilan akan menciptakan ketidakseimbangan

yang mana menginspirasi bermacam-macam tipe perilaku yang korektif. Hierarki kelompok

dapat mengarah pada kebencian diantara mereka yang berada pada batas bawah status kontinum.

Perbedaan status yang besar di dalam kelompok juga berhubungan dengan kinerja individu yang

lebih buruk, kesehatan yang lebih rendah, dan keinginan yang kuat untuk meninggalkan

kelompok.

Status dan Stigmatisasi. Meskipun jelas bahwa status memengaruhi cara orang memandang,

status orang dengan siapa berafiliasi juga dapat memengaruhi pandangan orang lain terhadap

kita. Kajian-kajian telah memperlihatkan bahwa orang-orang yang distigmatisasi dapat

“menulari” orang lain dengan stigma mereka. Efek “stigma oleh asosiasi” ini dapat

menghasilkan opini negative dan melakukan evaluasi orang-orang yang terafiliasi dengan

individu yang distigmatisasi, bahkan jika asosiasi singkat dan terjadi secara kebetulan.

Properti Kelompok 4: Besaran

Salah satu dari temuan yang paling penting mengenai besaran kelompok dengan memperhatikan

kemalasan sosial (social loafing) kecenderungan bagi para indvidu untuk mengeluarkan sedikit

upaya ketika bekerja secara kolektif daripada ketika bekerja secara individu. Riset terkini

mengindikasikan bahwa semakin kuat etika kerja individu, maka akan sedikit kecenderungan

bagi orang tersebut untuk terlibat dalam kemalasan sosial. Terdapat pula beberapa cara untuk

mencegah kemalasan sosial:

1. Menetapkan tujuan kelompok sehingga kelompok memiliki tujuan umum untuk berusaha

maju
2. Meningkatkan kompetisi intrakelompok, yang mana menitikberatkan pada hasil yang

dibagikan

3. Terlibat dalam evaluasi rekan, sehingga masing-masing orang akan saling mengevaluasi

kontribusi satu sama lain orang

4. Memilih para anggota yang memiliki motivasi yang tinggi dan lebih memilih untuk

bekerja dalam kelompok; dan

5. Jika memungkinkan, mendasari imbalan kelompok sebagai bagian atas kontribusi yang

unik dari masing-masing anggota.

Properti Kelompok 5: Kekompakan

Kekompakan (cohesiveness) keadaan yang mana para anggota kelompok tertarik satu sama lain

dan termotivasi untuk tetap bertahan dalam kelompok.Kekompakan memengaruhi produktivitas

kelompok. Riset-riset secara konsisten memperlihatkan bahwa hubungan antara kekompakan

dengan produktivitas bergantung pada norma yang terkait dengan kinerja kelompok. Jika norma

kualitas, output, dan kerja sama dengan pihak luar tinggi, suatu kelompok yang kompak akan

menjadi lebih produktif daripada kelompok yang kurang kompak. Tetapi jika kekompakan tinggi

dan norma kinerja rendah, maka produktivitas akan menjadi rendah. Jika kekompakan rendah

dan norma kinerja tinggi, maka produktivitas meningkat, tetapi lebih rendah dibandingkan

kelompok dengan norma kinerja dan kekompakan yang tinggi. Jika kekompakan dan norma

kinerja keduanya rendah, maka produktivitas akan cenderung turun dalam kisaran paling rendah

hingga sedang. Yang dapat dilakukan untuk mendorong kekompakan kelompok:

1. Buatlah kelompok yang lebih kecil

2. Mendorong perjanjian dengan tujuan kelompok


3. Meningkatkan waktu yang dihabiskan oleh para anggota bersama-sama

4. Meningkatkan status kelompok dan anggapan kesulitan dalam memperoleh keanggotaan

5. Menstimulasi kompetisi dengan kelompok lainnya

6. Memberikan imbalan pada kelompok dan bukannya pada para individu

7. Mengisolasi kelompok secara fisik

Properti Kelompok 6: Keragaman

Keragaman (diversity) adalah sejauh mana para anggota dari suatu kelompok memiliki

kesamaan, atau berbeda dari satu sama lain. Keragaman terlihat untuk meningkatkan konflik

kelompok, terutama dalam tahap awal masa jabatan kelompok, yang mana sering kali

menurunkan moral kelompok dan meningkatkan tingkat berhentinya anggota. Dampak dari

keragaman kelompok berpadu. Sulit untuk menjadi kelompok yang beragam dalam jangka

pendek. Namun, jika para anggota dapat memperkirakan perbedaan-perbedaan mereka, dari

waktu ke waktu keragaman dapat membantu mereka memiliki pemikiran yang lebih terbuka dan

kreatid serta melakukan dengan lebih baik. Bahkan efek yang positif tidak mungkin menjadi

sangat kuat.

Salah satu kemungkinan efek samping dalam tim yang beragam terutama mereka yang beragam

dalam hal karakteristik level permukaan adalah Lini Kesalahan (faultlines) atau divisi yang

dipandang yang membagi kelompok menjadi dua atau lebih subkelompok yang didasarkan pada

perbedaan individu, misalnya jenis kelamin, ras, umur, pengalaman kerja, dan pendidikan.

Secara keseluruhan, meskipun riset mengenai lini kesalahan menyarankan bahwa keragaman

dalam kelompok merupakan pedang bermata dua, riset terbaru mengindikasikan bahwa mereka

dapat secara strategis dipekerjakan untuk meningkatkan kinerja.


2.4 Pengambilan Keputusan Kelompok

2.4.1 Kelompok versus Individu

Pengambilan keputusan kelompok dapat secara luas digunakan dalam organisasi tetapi keputusan

kelompok lebih disukai bila diambil oleh individu itu bergantung pada sejumlah factor. Melihat

pada kekuatan dan kelemahan dalam pengambilan keputusan kelompok.

Kekuatan Pengambilan Keputusan Kelompok

Kelompok dapat menghasilkan informasi dan pengetahuan yang lebih lengkap. Dengan

menggunakan sumber daya dari beberapa individu, maka kelompok akan membawa lebih banyak

input secara heterogenitas ke dalam proses keputusan. Mereka menawarkan keragaman pada

pandangan yang lebih luas. Hal ini akan membuka peluang untuk mempertimbangkan lebih

banyak pendekatan dan alternative. Terakhir, kelompok mengarah pada meningkatnya

penerimaan suatu solusi. Para anggota kelompok yang berpartisipasi dalam pengambilan

keputusan lebih cenderung untuk mendukung secara antusias dan mendorong orang lain untuk

menerimanya.

Kelemahan Pengambilan Keputusan

Keputusan kelompok menghabiskan waktu karena kelompok-kelompok umumnya memerlukan

lebih banyak waktu untuk mencapai suatu solusi. Terdapat kepatuhan tekanan. Keinginan oleh

para anggota kelompok agar dapat diterima dan mempertimbangkan sarana bagi kelompok dapat

melumatkan pertentangan secara terbuka. Pembahasan kelompok dapat didominasi oleh salah

satu atau beberapa anggota. Jika para anggotanya hanya berkemampuan rendah dan medium,

maka keseluruhan kelompok menjadi kurang efektif. Terakhir, keputusan kelompok yang lemah
akan menimbulkan tanggung jawab yang ambigu. Dalam suatu keputusan individu, siapa yang

bertanggung jawab atas hasila khir adalah jelas. Dalam suatu keputusan kelompok, tanggung

jawab tiap individu anggota terdilusi.

Efektivitas dan Efisiensi

Keputusan kelompok umumnya lebih akurat daripada kepurusan rata-rata individu dalam suatu

kelompok, tetapi kurang akurat daripada pertimbangan yang paling akurat. Dalam hal kecepatan,

para individu lebih unggul. Jika kreativitas penting, kelompok cenderung menjadi lebih efektif.

Jika efektivitas berarti derajat penerimaan pencapaian atas solusi final, maka kelompok lebih

unggul. Tetapi kita tidak dapat mempertimbangkan efektivitas tanpa menilai pula efisiensi.

Dengan beberapa pengecualian, pengambilan keputusan kelompok memerlukan lebih banyak

jam kerja daripada individu yang menyelesaikan permasalahan yang sama sendirian.

Ringkasan

Ringkasnya, kelompok merupakan kendaraan yang sempurna untuk mengerjakan beberapa

langkah dalam proses pengambilan keputusan dan menawarkan keduanya baik luas dan

mendalamnya input bagi pengumpulan informasi. Jika para anggota kelompok memiliki

keragaman latar belakang, maka alternative yang dihasilkan menjadi lebih ekstensif dan analisis

menjadi sangat penting. Ketika solusi final telah disetujui, terdapat lebih banyak orang dalam

suatu keputusan kelompok mendukung dan mengimplementasikannya. Keunggulan ini mampu

mengurangi dampak dari waktu yang telah dihabiskan oleh waktu yang telah dihabiskan oleh

keputusan kelompok, konflik internal yang mereka ciptakan, serta tekanan yang mereka hasilkan

atas kepatuhan. Namun, dalam beberapa kasus, kita dapat mengharapkan para individu untuk

mengambil keputusan dengan lebih baik daipada kelompok.


2.4.2 Pemikiran Kelompok dan Pergeseran Kelompok

Pemikiran kelompok (groupthink) suatu fenomena yang mana norma bagi consensus

mengabaikan penilaian realistis atas serangkaian alternative tindakan. Pergeseran kelompok

(groupshift) suatu perubahan antara keputusan kelompok dengan keputusan individu yang

diambil seorang anggota di dalam kelompok: pergeseran dapat mengarah pada penyelamatan

atau risiko yang lebih besar tetapi umumnya mengarah pada versi yang lebih ekstrem atas posisi

awal kelompok.

2.4.3 Teknik-Teknik dalam Pengambilan Keputusan Kelompok

Bentuk yang paling umum dari pengambilan keputusan kelompok terjadi dalam kelompok yang

berinteraksi (interacting groups) kelompok yang para anggotanya saling berinteraksi

berhadapan muka satu sama lain. Sumbang pendapat dan teknik kelompok nominal dapat

menurunkan permasalahan-permasalahan dalam kelompok yang berinteraksi secara tradisional.

Sumbang pendapat (brainstorming) suatu proses menghasilkan gagasan yang secara spesifik

mendorong beberapa dan seluruh alternative sementara itu menahan beberapa kritikan atas

alternatif-alternatif tersebut. Sumbang pendapat dapat menghasilkan gagasan-gagasan tetapi

bukan suatu cara yang efisien. Dua teknik berikut ini jauh lebih maju daripada sumbang

pendapat yang membantu kelompok-kelompok agar sampai pada suatu solusi yang diinginkan.

Teknik kelompok nominal (nominal group technique) suatu metode pengambilan keputusan

kelompok yang mana para anggota individual akan bertemu berhadapan muka untuk menyatukan

pertimbangan-pertimbangan mereka dalam suatu cara yang sistematis tetapi independen. Secara

spesifik, permasalahan dihadirkan dan kemudian kelompok akan mengambil langkah-langkah

berikut.
1. Sebelum pembahasan dilakukan, setiap anggota secara independen menulis gagasan-

gagasan atas permasalahan

2. Setelah periode hening, masing-masing anggota akan menghadirkan salah satu gagasan

kepada kelompok. Tidak ada pembahasan yang dilakukan hingga seluruh gagasan telah

dihadirkan dan dicatat

3. Kelompok membahas gagasan-gagasan untuk menjernihkan dan mengevaluasinya

4. Masing-masing anggota kelompok dengan diam dan independen memeringatkan sesuai

urutan gagasan. Gagasan dengan peringkat keseluruhan yang tertinggi akan menentukan

keputusan final

Kelebihan utama dari teknik kelompok nominal adalah bahwa teknik ini memungkinkan bagi

keompok untuk bertemu secara formal tetapi tidak menghambat pemikiran yang independen,

seperti yang dilakukan pada kelompok yang berinteraksi. Tiap-tiap teknik keputusan kelompok

memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Pilihan bergantung pada apa kriteria yang

ingin anda tekankan dan trade-off biaya-manfaat.’


BAB III

Kesimpulan

Kita dapat menarik beberapa implikasi dari pembahasan kita memngenai kelompok. Pertama,

norma mengendalikan perilaku dengan menetapkan standar mengenai benar dan salah. Norma-

norma yang ditetapkan oleh kelompok dapat membantu dalam menjelaskan perilaku para

anggota bagi para manajer. Kedua, ketidakadilan status dapat menciptakan frustasi dan dapat

memengaruhi produktivitas secara negative dan kesediaan untuk tetap bertahan dengan

organisasi. Ketiga, dampak dari besaran kinerja kelompok bergantung pada tipe tugas. Kelompok

yang lebih banyak dihubungkan dengan kepuasan yang lebih rendah. Kelima, keragaman terlihat

memiliki dampak yang terpadu dalam kinerja kelompok, dengan beberapa studi yang

menyarankan bahwa keragaman dapat membantu kinerja dan yang lainnya menyarankan bahwa

ini dapat melukainya. Keenam, konflik peran dikaitkan dengan ketegangan yang disebabkan oleh

pekerjaan dan ketidakpuasan pekerjaan. Terakhir, orang-orang umumnya lebih memilih

berkomunikasi dengan yang lainnya setara level status mereka sendiri atau yang lebih tinggi, dan

bukannya yang berada di bawah mereka.


Tinjauan Akhir Bab

Pertanyaan Tinjauan

9-1 Mendefinisikan kelompok. Apakah perbedaan tipe-tipe kelompok?

Jawaban:

Kelompok adalah dua individu atau lebih, yang berinteraksi dan saling bergantung, yang datang

bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelompok dapat bersifat formal dan

informal. Kelompok formal adalah suatu kelompok kerja yang ditetapkan dan didefinisikan oleh

struktur organisasi, sedangkan kelompok informal adalah suatu kelompok yang tidak ditetapkan

strukturnya secara organisasional (formal), misalnya kelompok yang terlihat sebagai tanggapan

ataskebutuhan untuk kontak sosial.

9-2 Apakah lima langkah dalam pengembangan kelompok?

Jawaban:

Tahap membentuk (forming stage) tahap pertama dalam pengembangan kelompok,

dikarakterisasikan dengan banyaknya ketidakpastian.

Tahap mempeributkan (storming stage) tahap kedua dalam pengembangan kelompok,

dicirikan dengan konflik di dalam kelompok.

Tahap menyusun norma (norming stage) tahap ketiga dalam pengembangan kelompok,

dicirikan dengan hubungan yang dekat dan kekompakan.

Tahap mengerjakan (performing stage) tahap keempat dalam pengembangan kelompok, yang

mana kelompok sepenuhnya fungsional.


Tahap membubarkan (adjourning stage) tahap terakhir dalam pengembangan kelompok untuk

kelompok sementara, yang dicirikan dengan memusatkan perhatian pada mengakhiri kegiatan

dan bukannya kinerja tugas.

9-3 Apakah peranan perubahan kebutuhan dalam situasi yang berbeda? Jika demikian,

bagaimana?

Jawaban:

Manusia berperilaku karena didorong oleh serangkaian kebutuhan dan kebutuhan setiap manusia

pasti berbeda Kebutuhan merupakan beberapa pernyataan di dalam diri seseorang yang

menyebabkan seseorang itu berbuat untuk mencapainya sebagai suatu objek atau hasil. Begitu

juga dalam organisasi seperti seorang karyawan yang didorong untuk mendapatkan tambahan

gaji supaya bisa hidup satu bulan dengan keluarganya, tingkah lakunya akan berbeda dengan

seorang karyawan yang didorong oleh keinginan untuk mendapatkan jabatan, kedudukan agar

mendapatkan harga diri didepan orang lain. Kadang kala seseorang ketika sudah memenuhi

kebutuhan yang satu dia akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang belum tercapaikan.

Pemahaman tentang kebutuhan yang berbeda dari seseorang ini amat bermanfaat untuk

memahami konsep perilaku seseorang dalam organisasi.


9-4 Bagaimana norma kelompok dan status memengaruhi perilaku individu?

Jawaban:

Status memiliki efek yang lebih menarik pada kekuasaan norma dan tekanan untuk mematuhi.

Orang-orang yang memiliki status yang tinggi dapat menolak atas tekanan kepatuhan daripada

rekan-rekan yang memiliki status yang lebih rendah. Seorang individu yang dinilai lebih tinggi

oleh suatu kelompok tetapi tidak memerlukan atau mempedulikan imbalan sosial kelompok

dapat mengbaikan norma kepatuhan.

9-5 Bagaimana besaran kelompok memengaruhi kinerja kelompok?

Jawaban:

Salah satu dari temuan yang paling penting mengenai besaran kelompok dengan memperhatikan

kemalasan sosial (social loafing), kecenderungan bagi para individu untuk mengeluarkan sedikit

upaya ketika bekerja secara kolektif daripada sendiri. Hal ini secara langsung menantang asumsi

bahwa produktivitas kelompok sebagai suatu keseluruhan sedikitnya sama dengan jumlah

produktivitas para individu yang berada di dalamnya.

9-6 Apakah keuntungan dan keterbatasan kelompok yang kompak?

Jawaban:

Salah satu kemungkinan efek samping dalam tim yang beragam terutama mereka yang beragam

dalam hal karakteristik level permukaan adalah Lini Kesalahan (faultlines) atau divisi yang

dipandang yang membagi kelompok menjadi dua atau lebih subkelompok yang didasarkan pada

perbedaan individu, misalnya jenis kelamin, ras, umur, pengalaman kerja, dan pendidikan.

Meskipun riset mengenai lini kesalahan menyarankan bahwa keragaman dalam kelompok
merupakan pedang bermata dua, riset terbaru mengindikasikan bahwa mereka dapat secara

strategis dipekerjakan untuk meningkatkan kinerja.

9-7 Apakah implikasi keragaman bagi efektivitas kelompok?

Jawaban:

Keragaman terlihat untuk meningkatkan konflik kelompok, terutama dalam tahap awal masa

jabatan kelompok, yang mana sering kali menurunkan moral kelompok. Level masa

jabatan keragaman yang lebih tinggi tidak terkait dengan kinerja kelompok yang lebih rendah

ketika terdapat praktik sumber daya manusia yang berorientasi pada tim yang efektif. Tim yang

memiliki opini anggota yang berbeda akan cenderung lebih banyak mengalami konflik, tetapi

para pemimpin yang dapat mengarahkan kelompok untuk fokus pada tugas dan

mendorong pembahasan-permasalahan kelompok. Efek samping dalam tim yang beragam

adalah lini kesalahan, yaitu divisi yang dipandang membagi kelompok menjadi dua atau lebih

sub kelompok yang didasarkan pada perbedaan individu misalnya jenis kelamin, ras, umur,

pengalaman kerja, dan pendidikan. Lini kesalahan yang didasarkan pada perbedaan

keterampilan, pengetahuan, dan keahlian dapat memberikan manfaat ketika kelompok-kelompok

dalam budaya organisasi yang menekankan kuat pada hasil.

9-8 Apakah kekuatan dan kelemahan dari pengambilan keputusan kelompok (versus

individual)?

Jawaban:

 Kekuatan Pengambilan Keputusan Kelompok


Kelompok dapat menghasilkan informasi dan pengetahuan yang lebih lengkap. Dengan

menggunakan sumber daya dari beberapa individu, maka kelompok akan membawa lebih banyak

input secara heterogenitas ke dalam proses keputusan. Mereka menawarkan keragaman pada

pandangan yang lebih luas. Hal ini akan membuka peluang untuk mempertimbangkan lebih

banyak pendekatan dan alternativ.

 Kelemahan Pengambilan Keputusan

Pembahasan kelompok dapat didominasi oleh salah satu atau beberapa anggota. Jika para

anggotanya hanya berkemampuan rendah dan medium, maka keseluruhan kelompok menjadi

kurang efektif. Keputusan kelompok yang lemah akan menimbulkan tanggung jawab yang

ambigu.

9-9 Seberapa efektif teknik berinteraksi, sumbang pendapat, dan kelompok nominasi?

Jawaban:

Bentuk yang paling umum dari pengambilan keputusan kelompok terjadi dalam kelompok yang

berinteraksi (interacting groups) kelompok yang para anggotanya saling berinteraksi berhadapan

muka satu sama lain. Sumbang pendapat dan teknik kelompok nominal dapat menurunkan

permasalahan-permasalahan dalam kelompok yang berinteraksi secara tradisional. Sumbang

pendapat (brainstorming) suatu proses menghasilkan gagasan yang secara spesifik mendorong

beberapa dan seluruh alternative sementara itu menahan beberapa kritikan atas alternatif-

alternatif tersebut. Sumbang pendapat dapat menghasilkan gagasan-gagasan tetapi bukan suatu

cara yang efisien. Dua teknik berikut ini jauh lebih maju daripada sumbang pendapat yang

membantu kelompok-kelompok agar sampai pada suatu solusi yang diinginkan. Teknik

kelompok nominal (nominal group technique) suatu metode pengambilan keputusan kelompok
yang mana para anggota individual akan bertemu berhadapan muka untuk menyatukan

pertimbangan-pertimbangan mereka dalam suatu cara yang sistematis tetapi independen.

Anda mungkin juga menyukai