Anda di halaman 1dari 15

FM PITA SEMPIT

SIGIT KUSMARYANTO, IR, M.ENG


HTTP://sigitkus@ub.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini kebutuhan akan informasi merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi
manusia. Selain dengan itu sarana untuk menyebarkan informasi juga telah berkembang.
Telah banyak dijumpai pesawat televisi, radio, telepon dan teleks, yang mana semuanya
itu merupakan peralatan komunikasi yang digunakan untuk menyebarkan informasi.
Sarana komunikasi membuat tempat-tempat di muka bumi terasa dekat karena peristiwa
yang terjadi di suatu tempat lain dalam relatif yang sama.
Ada berbagai cara untuk penyaluran atau pengiriman informasi kepada pihak lain
yang berjauhan. Informasi yang dikirimkan terdiri dari berbagai jenis misalnya suara
manusia, sinyal dalam bentuk gambar dan lain sebagainya. Untuk pengiriman atau
penyaluran informasi ini,maka diperlukan suatu sistem yang dapat mengirimkan sinyal
informasi (pemancar) dan sistem yang dapat menerima sinyal informasi tersebut
(penerima). Bentuk dan sifat sistem ini bergantung pada informasi yang dikirimkannya.
Banyak metoda yang digunakan dalam penyaluran informasi ini, salah satu dari sistem ini
adalah sistem dengan gelombang pembawa (carrier system).
Pada sistem dengan gelombang pembawa, agar informasi ini dapat dikirimkan,
dilakukan dengan mengubah-ubah karakteistik gelombang pembawa yang digunakan.
Perubahan ini disebut modulasi, pemakaian modulasi ini misalnya dalam bidang transmisi
radio, dimana frekuensi dari sinyal audio tidak menguntungkan untuk dipancarkan
langsung. Dengan gelombang pembawa, informasi itu ditumpangkan ke suatu frekuensi
tinggi, kemudian dipancarkan.
Perubahan pada gelombang pembawa dapat dilakukan misalnya terhadap
amplitudonya, frekuensi atau terhadap fasanya. Apabila amplitudo gelombang pembawa
diubah-ubah sesuai dengan sinyal informasi, maka diperoleh Modulasi Amplitudo (AM),

1
bila frekuensinya diubah-ubah didapatkan Modulasi Frekuensi (FM), sedangkan bila sudut
fasanya yang diubah-ubah maka diperoleh Modulasi Fasa (PM).
Pada makalah ini hanya akan membahas tentang Modulasi Frekuensi dimana
seperti yang telah kita ketahui banyak menawarkan kelebihan dibandingkan Modulasi
Amplitudo, kelebihan ini antara lain adalah :
 Meningkatkan signal-to-noise ratio (S/N).
 Daya pancar yang dibutuhkan untuk mendapatkan S/N yang sama, lebih kecil.
 Peralatan pemancar lebih efisien. Proses modulasinya diletakkan pada bagian daya
level rendah (low-level modulation), sehingga tidaka memerlukan daya pemodulasi
yang besar.
Selain kelebihan-kelebihan di atas, FM juga digunakan dalam lima sistem utama yaitu :
 FM broadcast (siaran), dari 88 hingga 108 MHz, lebar tiap kanal adlah 200 KHz, yang
merupakan pemancar-pemancar FM siaran.
 Sistem televisi, sinyal bideo dimodulasi amplitudo, tetepi suara dipancarkan
menggunakan pemancar lain dan dimodulasi frekuensi (wideband FM).
 Dalam sistem komunikasi satelit, sinyal-sinyal TV atau sinyal video dan sinyal suara,
keduanya dipancarkan menggunakan wideband FM, baik dari bumi ke satelit atau
sebaliknya.
 Narrowband FM digunakan dalam pelayanan umum ataupun khusus yang mana hanya
memancarkan sinyal suara saja (misalnya : taxi, polisi, dan sebagainya).
 Dalam radio amatir, narrowband FM digunakan untuk sinyal-sinyal suara.

2
BAB II
DASAR TEORI

Modulasi didefinisikan sebagai proses perubahan informasi dari bentuk aslinya ke


suatu bentuk yang lebih sesuai untuk pentransmisian antara suatu pemancar dengan
suatu penerima (Tomasi, 1988 : 81).
Memodulasi berarti mengatur atau menyetel dan dalam telekomunikasi tepatnya berarti
mengatur suatu pembawa (carrier) frekuensi tinggi dengan pertolongan sinyal informasi
yang berfrekuensi lebih rendah (Roody & Coolen, 1990 : 265), dimana terdapat tiga
besaran sinyal pembawa yang dapat dimodulasi oleh sinyal informasi (pemodulasi) yaitu
amplitudo, frekuensi atau fasa sinyal pembawa (Tomasi, 1988 : 2).

2.1 Modulasi Fekuensi


Modulasi frekuensi merupakan suatu modulasi dimana frekuensi gelombang
pembawa berubah-ubah menurut sinyal informasi. Gambar 2.1 menunjukkan prinsip kerja
proses modulasi frekuensi. Gambar 2.1(a) adalah sinyal pemodulasi, sedangkan sinyal
pembawa ditunjukkan oleh Gambar 2.1(b). Sinyal termodulasi yang terbentuk dapat
dilihat dalam Gambar 2.1(c). Dalam gambar tersebut tampak bahwa perubahan amplitudo
sinyal pemodulasi menyebabkan terjadinya perubahan pada periode sinyal pembawa.
Sehingga, frekuensi sinyal pembawa juga mengalami perubahan.

(a)

(b)

(c)

Gambar 2.1 Modulasi frekuensi dari gelombang pembawa sinus oleh sinyal sinus (a). Pembawa tak
termodulasi (b). Sinyal pemodulasi (c). Gelombang termodulasi frekuensi
Sumber : Tomasi, 1988 : 269

3
Dalam modulasi frekuensi, frekuensi diasumsikan sebagai turunan sudut apabila
 d 
sudut tersebut berubah-ubah terhadap waktu   i   dan fekuensi radian termodulasi
 dt 
ini sebagai perubahan frekuensi sinyal pembawa oleh gelombang pemodulasi
 i   c  K f  t  , sehingga gelombang pembawa dimodulasi frekuensi dapat dinyatakan
sebagai (Schwartz, 1986 : 282) :
f c t   A cos  t  (2.1)

dimana :
f c t  : gelombang pembawa dimodulasi frekuensi
A : amplitudo gelombang pembawa (V)
  t  : sudut gelombang pembawa ( 0 )

Jika   t  berubeh sesuai dengan gelombang pemodulasi f  t  maka akan


diperoleh :

 t     i dt
  c t   0  K  f  t  dt (2.2)

Bila f  t   a cos  m t dengan f  t  adalah gelombang pemodulasi, a adalah amplitudo

gelombang pemodulasi dan  m adalah frekuensi sudut gelombang pemodulasi, maka :

  t   c t   0 
K.a
sin  m t
m

 c t  sin  m t (2.3)
m
dengan  adalah suatu kontanta yang bergantung pada amplitudo a sinyal pemodulasi
dan rangkaian pengubah variasi-variasi dalam amplitudo sinyal ke perubahan-perubahan
dalam frekuensi pembawa yang bersesuaian. Sedangkan  0 diambil pada nilai sama

dengan nol dengan mengacu pada suatu acuan fasa yang tepat.
Dari analisa di atas, gelombang yang dimodulasi frekuensi dapat ditulis sebagai
(Schwartz, 1986 : 285) :

  
f c  t   A cos c t  sin  m t  (2.4)
 m 

4
dimana :
f c t  : gelombang pembawa dimodulasi frekuensi
A : amplitudo gelombang pembawa (V)
c : frekuensi sudut gelombang pembawa ( 0 )

 : simpangan frekuensi sudut gelombang pembawa (Hz)


m : frekuensi sudut gelombang pemodulasi (Hz)

Dalam persamaan 2.4 dapat dilihat bahwa amplitudo gelombang pembawa tidak berubah,
meskipun telah dimodulasi. Amplitudo gelombang pemodulasi menentukan besarnya
perubahan frekuensi pembawa, sedangkan frekuensi pemodulasi menentukan kecepatan
perubahan frekuensi pembawa.

2.1.1 Indeks Modulasi


Indeks modulasi dalam pemodulasian frekuensi (FM) adalah perbandingan deviasi
frekuensi terhadap frekuensi pemodulasi (Barker, 1987 : 258).
 f (2.5)
 
m fm
dimana :
 : indeks modulasi

f : simpangan (deviasi) frekuensi maksimum (Hz)

fm : frekuensi maksimum sinyal gelombang pemodulasi (Hz)

Substitusi persamaan 2.5 ke persamaan 2-4 akan menghasilkan sebuah


persamaan baru yang menyatakan sebuah gelombang pembawa yang dimodulasi dengan
sinyal sinusoida sebagai berikut :
f c  t   A cos c t   sin  m t  (2.6)

2.1.2 Spektrum Frekuensi


Bentuk gelombang menurut waktu dari suatu sinyal dapat direpresentasikan oleh
serangkaian gelombang-gelombang sinus dan kosinus yang dinamakan sebagai spektrum
sinyal (Roody & Coolen, 1990 : 73). Sementara (Tomasi, 1988 : 7) menyatakan bahwa
spektrum frekuensi menggambarkan frekuensi terhadap amplitudo sinyal, dimana sumbu
horisontal menyatakan frekuensi dan sumbu vertikal menyatakan amplitudo.

5
Untuk menganalisa spektrum gelombang FM, maka persamaan 2.6 harus diuraikan
terlebih dahulu dengan langkah-langkah sebagai berikut:
f c t   Asin c t cos sin m t   cosc t sin  sin m t  (2.7)

dimana :

cos  sin  mt   J 0    2 J 2 n  cos 2n mt (2.8)
n 1

sin  sin  mt   2 J 2 n 1  sin 2n  1 mt (2.9)
n 0

Melalui uraian trigonometri seperti dalam persamaan 2.8 dan 2.9 bentuk J n  

merupakan suatu fungsi Bessel bentuk pertama dengan orde-n. Maka persamaan
gelomang FM menjadi :
f c t   A sin  ct  J 0    2 J 2  cos 2 m t  2 J 4  cos 4 m t  ...
 A cos  ct 2 J1   sin  m t  2 J 3   sin  m t  ... (2.10)

atau dapat ditulis dalam bentuk


f c t   J 0   A cos  ct  J1   A sin  c   m  t  sin  c   m  t 
 J 2   A sin  c  2 m  t  sin  c  2 m  t 
 J 3   A sin  c  3 m  t  sin  c  3 m  t 
 J 4   A sin  c  4 m  t  sin  c  4 m  t  (2.11)

dimana :
f c t  : gelombang pembawa dimodulasi frekuensi

J n   : fungsi Bessel orde ke-n

J 0   A cos ct : komponen gelombang pembawa

J1   Asin c  m t  sin c  m t  : komponen pada  f m di sekitar gelombang


pembawa
J 2   Asin c  2 m t  sin c  2 m t  : komponen pada  2 f m di sekitar
gelombang pembawa
Jadi gelombang pembawa termodulasi terdiri dari suatu pembawa dan sejumlah
tak hingga pita-pita sisi dispasi pada frekuensi-frekuensi  f m , 2 f m dan seterusnya dari

pembawa.
Dari persamaan 2.11 dapat digambar spektrum gelombang FM yang terbentuk
seperti ditunjukkan dalam Gambar 2.2

6
Amplitudo

J0 J1 J2 J 3 J4 J5 J6 Frekuensi (fc)

Gambar 2.2 Spektrum Gelombang FM


Sumber : Principles of Communication, 1989 : 155

Dari gambar 2.2 dapat diamati bahwa spektrum gelombang FM terbentuk dari
komponen sinyal pembawa dengan amplitudo J 0   dan beberapa sinyal pita sisi yang

terletak simetris terhadap sinyal pembawa. Masing-masing sinyal pita sisi memiliki
amplitudo yang berbeda sesuai koefisien J1  , J 2  , J 3  ,..... dst. Interval antar pita

sisi merupakan kelipatan bilangan bulat terhadap  m .

2.1.3 Deviasi Frekuensi

T1 T2 T3 T4

F1=1/T1 F2=1/T2 F3=1/T3 F4=1/T4

Gambar 2.3 Perubahan frekuensi terhadap waktu


Sumber : Tomasi, 1988 : 265

Gambar 2.3 menunjukkan suatu bentuk gelombang sinyal sinusoida dengan


frekuensi yang berubah (berdeviasi) terhadap waktu. Tampak dalam gambar tersebut,
bahwa perubahan periode (T) mengakibatkan terjadinya perubahan frekuensi (f).
Perubahan frekuensi tersebut dinamakan deviasi frekuensi. Dalam kaitannya dengan

7
modulasi frekuensi, (Tomasi, 1988 : 269) menyatakan bahwa deviasi frekuensi adalah
perubahan frekuensi yang muncul pada pembawa akaibat pengaruh sinyal pemodulasi.
Dengan pemisalan bahwa frekuensi f1 = 1/T1 pada sinyal sinusoida dalam
Gambar 2.1 terjadi dalam selang waktu dari t=0 sampai dengan t=t1, serta frekuensi f2 =
1/T2 terjadi dalam selang waktu dari t=t1 sampai dengan t=t2, maka perubahan (deviasi)
fekuensi yang erjadi adalah f1 – f2.
Secara matematis, deviasi frekuensi didefinisikan sebagai :
 f  K Em cos m t (2.12)

dimana :
f : deviasi frekuensi (Hz)

K : konstanta deviasi (Hz/V)


Em : amplitudo maksimum sinyal pemodulasi ( Volt )

m : frekuensi sinyal pemodulasi (rad/detik)

t : waktu (detik)

2.1.4 Lebar Pita


Lebar pita (bandwidth) adalah bagian spektrum frekuensi yang digunakan oleh
suatu stasiun pemancar. Secara matematis lebar pita sama dengan frekeunsi tertinggi
stasiun pemancar dikurangi frekuensi terendahnya (Barker, 1987 : 19).
lebar pita = f tertinggi – f terendah
Aturan Carson menyatakan bahwa lebar pita dari gelombang yang mengalami
modulasi frekuensi = 2 kali jumlah deviasi puncak frekuensi dan frekuensi teringgi sinyal
pemodulasi (Tomasi, 1988 : 278).
Secara matematis aturan Carson adalah :
BFM = 2.N.fm
= 2 (+1) fm
= 2 ( f +1) fm
= 2 (f+fm) (2.13)
Dengan BFM = lebar pita maksimum (Hz)
N = banyaknya pita sisi
 = indeks modulasi
f = deviasi frekuensi maksimum (Hz)
fm = frekuensi tertinggi sinyal pemodulasi (Hz)

8
BAB III
FM PITA SEMPIT

Untuk menyederhanakan analisa FM, maka perlu diperlakukan dalam dua bagian.
Mula-mula ditinjau pembawa dimodulasi secara sinusoidal dengan  << /2, dan
kemudian dengan  > /2.  kecil sesuai dengan lebar pita sempit, dan dengan demikian
sistem-sistem FM dengan  << /2 dinamakan sistem-sistem FM pita sempit. Persamaan-
persamaan untuk FM pita sempit memberikan frekuensi-frekuensi pita sisi yang dapat
digeser secara sama di sekitar pembawa (Schwartz, 1986 : 285).
Untuk menunjukkan hal ini, perlu ditinjau pembawa dimodulasi secara sinusoidal
persamaan 2.6, dan andaikan  << /2. (Ini berarti bahwa pergeseran phasa maksimum
pembawa adalah jauh lebih kecil daripada /2 radian. Hal ini biasanya diartikan  < 0,2
rad).

f c t   cos  c t   sin  m t sin  c t 


 cos  c t cos sin  mt   sin  c t sin  sin  m t  (3.1)

Tetapi, untuk     / 2 , cos  sin  mt   1 dan sin  sin m t    sin m t .

Jadi gelombang dimodulasi-frekuensi untuk indek modulasi kecil berbentuk :



f c t   cos  c t   sin  m t sin  c t   (3.2)
2
Untuk pembawa dimodulasi-frekuensi f c t  , mempunyai suatu bentuk yang
serupa dengan keluaran suku pemodulasi produk, ini mengandung suku pembawa tak
dimodulasi orisinil plus suatu suku diberikan oleh produk sinyal pemodulasi dengan
pembawa. Untuk sinyal pemodulasi sinusoidal,  sin  mt memberikan frekuensi-frekuensi

pita sisi digeser   m radian dari  c . Dengan demikian lebar pita sinyal FM pita sempit ini

adalah 2 f m  2 B hertz.

Jika kita memisalkan suatu sinyal pemodulasi umum adalah f t  dari sinyal

pemodulasi sinusoidal yang dipergunakan di atas, maka kita akan memperoleh hasil-hasil
yang serupa. Dengan frekuensi radian sesaat  i adalah turunan sudut sebagai suatu

fungsi waktu,maka :
f c t   cos t  (3.3)

9
didapatkan
d (3.4)
i 
dt
Jika   t  dalam persamaan 3.3 diubah oleh suatu sinyal pemodulasi f t  , maka

bentuk modulasi yang dihasilkan dinamakan modulasi sudut. Khususnya, jika


  t   ct   0  K1 f  t  (3.5)

dengan K1 suatu kontanta sistem, yang berhubungan dengan sistem modulasi phasa. Di

sini phasa gelombang pembawa berubah-ubah secara linier dengan sinyal pemodulasi.
Mislkan frekuensi sesaat, seperti yang didefinisikan oleh persamaan 3.4, berubah
secara linier dengan sinyal pemodulasi, maka
i   c  K 2 f t  (3.6)

  t    i dt  c t   0  K 2  f  t  dt (3.7)

Dengan menghilangkan sudut phasa sebarang  0 , dan mendefinisikan suatu fungsi waktu

baru g t  sebagai integral f  t , g  t    f t  dt , sehingga didapatkan pembawa

dimodulasi-frekuensi,

f c t   cos c t  K 2 g t   (3.8)

Jika K 2 dan amplitudo maksimum g t  cukup kecil sehingga K2 g t    / 2 , maka

f c t   cos c t  K 2 g t  sin c t (3.9)

FM pita sempit terdiri dari pembawa plus dua pita sisi, satu pada setiap sisi
pembawa dan masing-masing mempunyai bentuk spektrum fungsi g t  . Lebar pita suatu

bsinyal FM pita sempit, pada umumnya, adalah 2B hertz, dengan B adalah komponen
frekueansi tertinggi di g t  atau di turunannya f t  , sinyal pemodulasi orisinil.

Kita tulis kembali persamaan 3.2 dalam bentuk fekuensi pita sisinya,

f c t   cos c t   sin  m t sin c t



 cos c t   cos c  m  t  cos c  m  t  (3.10)
2
Bentuk di atas juga dapat ditulis dalam bentuk

    
f c t   Re e j c t 1  e  j m t
 e j m t
 (3.11)
  2 2 

10
dengan Re  menyatakan bagian riil.
e j  c t dapat dinyatakan sebagai suatu vektor satuan yang berputar dengan arah
perputaran berlawanan dengan arah perputaran jarum jam pada laju  c rad/det.

Ditumpangkan pada perputaran ini adalah perubahan dalam vektor yang disebabkan oleh
tiga suku dalam kurung. Kemudian diambil bagian riil vektor resultan, atau proyeksinya
pada sumbu riil. Jika perputaran kontinu  c dihilangkan dan memusatkan hanya pada

tiga suku dalam kurung, kita dapat menggambar ini sebagai tiga vektor (Gambar 3.1).
Dalam gambar tersebut dapat diamati bahwa vektor yang dihasilkan menyimpang dalam
phasa dari vektor tak dimodulasi, sedangkan amplitudonya hampir tak berubah (khusus
untuk kasus  <<  /2).

/2 /2

1
-m t m t

Gambar 3.1 Representasi vektor FM pita sempit

Dengan menggunakan pendekatan vektor maka kita dapatkan,


f c t   cos  ct  m cos  mt cos  ct

 cos  ct 
m
 cos  c   m  t  cos  c   m  t 
2
  m m 
 Re e j c t 1  e j m t  e  j m t  (3.12)
  2 2 
Dapat dikatakan bahwa resultan dua vektor pita sisi dalam kasus FM akan selalu
tegak lurus pada (atau dalam kuadratur phasa dengan) pembawa tak dimodulasi. Jadi
kasus FM menimbulkan perubahan phasa dengan perubahan amplitudo yang sangat kecil
( << /2).
Untuk memperoleh suatu keluaran dimodualsi-phasa, menurut pembahasan
sebelumnya, maka harus ditambahkan suatu suku pembawa kuadratur-phasa pada
keluaran pemodulasi-diseimbangi. Sistem semacam itu ditunjukkan pada Gambar 3.2

11
dalam bentuk diagram-blok. (hanya dibatasi pada perubahan phasa kecil 0,2 rad atau
kurang).
Sistem FM pita sempit Gambar 3.2 dipergunakan di sistem FM tak langsung
Amstrong.

Penjumlah
f(t) Pemodulasi
Pengintegrasi
diseimbangi
Keluaran FM
Pita Sempit

Penggeser
Pembawa
Phasa 900

Gambar 3.2 Sistem FM pita sempit ( < 0,2)

12
BAB IV
KESIMPULAN

 Sinyal FM disebut FM Pita Sempit jika indeks modulasi   <<  / 2 radian (biasanya

diartikan   << 0.2 rad) dan bandwidthnya sama dengan dua kali frekuensi tertinggi

sinyal pemodulasi  2 f m  .

BFM  2 fm : f << fm ,  <<  /2


 Dengan karakteristik di atas FM Pita Sempit digunakan pada radio amatir atau
pelayanan umum ataupun khusus yang mana hanya memancarkan sinyal suara saja
(misalnya : taxi, polisi, dan sebagainya).

13
DAFTAR PUSTAKA

Barker, Forest. 1987. Communications Electronic-System Circuits and Devices. Singapore.


Prentice Hall International, Inc.
Roody, Dennis dan Collen, John. 1990. Komunikasi Elektronika. Jilid 1. Jakarta. Penerbit
Erlangga.
Schwartz, Mischa.1986.Informasi, Modulasi dan Bising. Edisi III.Terjemahan Sri Jatno
Wirjosoedirdjo. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Tomasi, Wayne. 1988. Fundamentals of Electronics Communications Systems. New Jersey
Prentice Hall International, Inc.
Sigit Kusmaryanto, 2004, Diktat Kuliah: Sistem Transmisi Telekomunikasi, Teknik Elektro

14
15