Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kayu merupakan salah satu material konstruksi yang paling banyak terdapat di

alam dan pertama kali digunakan dalam sejarah umat manusia. Kayu sampai saat ini

masih banyak digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan untuk rumah tinggal,

gedung, jembatan, bantalan kereta api dan lain-lain. Kayu dipilih sebagai bahan

konstruksi selain karena alasan mudah didapat, harganya relatif murah dan memiliki nilai

estetika yang tinggi. ( Frick,1981 ) juga menyatakan bahwa material kayu akan selalu

dibutuhkan manusia karena sifat utama yang dimiliki yaitu kayu merupakan kekayaan

alam ( natural resources )yang tidak akan pernah habis, mudah dalam pemrosesan serta

memiliki sifat –sifat spesifik yang tidak dimiliki oleh bahan lain.

Selain keuntungan kayu seperti yang telah disebutkan di atas kayu juga

mempunyai kekuatan yang tinggi ( tekan sejajar atau tegak lurus serat) dan berat yang

rendah dibandingkan dengan konstuksi yang lainnya, mempunyai daya tahan yang tinggi

terhadap pengaruh kimia ( Chemical Attack ), dan bersifat isolator. Namun demikian kayu

juga memiliki kekurangan antara lain sifat kurang homogen dengan adanya cacat kayu,

mata kayu, beberapa bersifat kurang awet, dapat memuai dan menyusut dengan

perubahan kelembaban meski tetap elastis dan yang terutama adalah kayu mudah

terbakar. Tidak semua jenis kayu dapat dijadikan bahan konstruksi. Penilaian terhadap

kayu di bedakan atas kelas kuat dan kelas awetnya.

1
Ditinjau dari perencanaan mekanika, konstruksi kayu memiliki perbedaan dengan

konstruksi lain, seperti pada beton bertulang atau baja. Pada konstruksi kayu akan

ditemukan kondisi sambungan yang tidak mungkin rigid seperti pada beton bertulang

atau pada konstruksi baja. Pada konstruksi kayu terdapat batasan deformasi atau

displacement pada sambungannya dimana batasan displacement sambungan yang

diizinkan adalah sampai dengan 1,5 mm (Felix, 1992).

Untuk alat sambung sendiri ada beberapa macam yaitu alat sambung perekat

(epoxy), pasak, paku dan baut. Efektifitas masing – masing alat sambung berbeda – beda

tergantung dari karakterisatik masing – masing sambungan dimana keefektifitasan alat

sambung perekat dapat mencapai 100%, pasak 60%, paku 50% dan baut 30%.

Untuk penelitian ini, material digunakan kayu Meranti . Kayu Meranti saat ini

menjadi salah satu alternatif yang bisa dijadikan sebagai bahan konstruksi karena lebih

mudah ditemukan dipasaran dan harganya jauh lebih murah dibanding dengan kayu

Damar laut, Jati dan lain – lain yang dikenal sebagai bahan konstruksi berkualitas baik.

Berdasarkan pemikiran diatas dan karena penelitan – penelitian sebelumnya hanya

meneliti sambungan dengan satu jenis alat penyambung saja maka dilakukan penelitian

terhadap sambungan kayu meranti dengan menggunakan alat sambung paku dan baut di

uji untuk masing – masing alat sambung tersebut dan kombinasi keduanya. Pembebanan

yang diberikan adalah pembebanan aksial tekan sejajar serat. Dan sebagai acuan

digunakan Standar Perencanaan Konstruksi Kayu Indonesia 2002

2
1.2. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam analisa yaitu untuk mengetahui :

1. Bagaimana pengaruh pemberian gaya normal pada sambungan kayu meranti dengan alat

penyambung paku dan baut serta berapa besar beban ultimate yang dapat dipikul pada

masing – masing tipe alat sambung tersebut.

2. Bagaimana jika kedua alat sambung dikombinasi, antara baut dan paku.Apakah

mengalami perkuatan atau perlemahan jika dibandingkan dengan sambungan kayu

dengan penyambung paku dan penyambung baut.

3. Berapa kisaran nilai faktor keamanan untuk menaikkan kekuatan sambungan kombinasi

jika ternyata mengalami perlemahan dibandingkan terhadap kayu tanpa sambungan,

dengan sambungan paku dan dengan sambungan baut serta mendapatkan efektifitas

masing – masing sambungan.

4. Bagaimana bentuk grafik hubungan beban dan deformasi dari keempat sampel penelitian.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian dari tugas akhir ini adalah :

1. Mengetahui pengaruh pemberian gaya normal pada sambungan kayu meranti dengan alat

penyambung paku dan baut serta berapa besar beban ultimate yang dapat dipikul pada

masing – masing tipe alat sambung tersebut.

2. Mengetahui jika kedua alat sambung dikombinasi, antara baut dan paku.Apakah

mengalami perkuatan atau perlemahan jika dibandingkan dengan sambungan kayu dengan

penyambung paku dan penyambung baut.

3
3. Mengetahui kisaran nilai faktor keamanan untuk menaikkan kekuatan sambungan

kombinasi jika ternyata mengalami perlemahan dibandingkan terhadap kayu tanpa

sambungan, dengan sambungan paku dan dengan sambungan baut serta mendapatkan

efektifitas masing – masing sambungan.

4. Mengetahui bentuk grafik hubungan beban dan deformasi dari keempat sampel penelitian.

1.4. Batasan Masalah

Pada penelitian ini masalah dibatasi pada :

1. Kayu yang digunakan adalah Kayu Meranti dimana dimensi kayu yang disambung (4 x 8 x

16)cm, penyambung (2 x 8 x 30)cm.

2. Alat sambung yang digunakan adalah paku dan baut.

3. Jumlah paku dan baut dalam sambungan kombinasi direncanakan setengah dari jumlah

paku dan setengah dari jumlah baut.

4. Perencanaan mengacu pada Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia 2002