Anda di halaman 1dari 10

I.

DEFINISI
 Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti sebelum hamil. Masa nifas dimulai sejak 2 jam lahirnya plasenta sampai
6 minggu (42 hari).
(Vivian Nanny Lia Dewi, 2013 : 1)
 Masa nifas (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-
alat kandungan kembali seperti sediakala. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu.
(Ai Yeyeh,2010:2)
 Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Pada masa ini terjadi perubahan
fisiologi, yaitu:
 Perubahan fisik
 Involusi uterus dan pengeluaran lokea
 Laktasi
 Perubahan sistem lain
 Perubahan psikis

(Saifuddin Abdul Bari, 2013:122)

 Puerperium (masa nifas) adalah periode dalam persalinan segera setelah bayi lahir, dan
istilah ini telah diperluas untuk mencakup minggu-minggu selanjutnya saluran
reproduksi kembali pada tahap semula.
(Worman F Gant,2010:374)

II.PERUBAHAN FISIOLOGI MASA NIFAS

1. Perubahan Sistem Reproduksi


a. Uterus
Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi adalah proses kembalinya uterus
ke dalam keadaan sebelum hamil. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar
akibat kontraksi otot uterus. Pada tahap ketiga persalinan, uterus berada digaris
tengah, kira-kira 2 cm dibawah umbilicus.besar uterus kira-kira sama dengan buah
jeruk, beratnya kira-kira 100 gr.
Fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari pasca partum ke enam fundus
normal aka nada dipertengahan umbilicus dan simfisis. Uterus tidak bisa dipalpaso
pada abdomen pada hari ke 9 post partum. Peningkatan estrogen dan progesterone
bertanggung jawab untuk pertumbuhan uterus selama hamil. Pertumbuhan uterus
prenatal bergantung pada hyperplasia, peningkatan jumlah sel-sel otot dan hipertropi
sel sel yang telah ada.
Pada masa post partum perununan kadar hormone-hormon ini menyebabkan
terjadinya autolysis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi berlebihan.
Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
a. Iskemia Miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah
pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemia dan menyebabkan serat otot
atrofi
b. Autolysis
Proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterus. Enzim
proteolitik akan memendekan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga
panjangnya 10 kali dari semula. Hal ini disebabkan karena perununan hormon
estrogen dan progesteron.
c. Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga
akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darak
ke uterus. Proses ini membantu mengurangi perdarahan.

Involusi Tinggi Fundus Berat Diameter Bekas Keadaan


Uteri Uterus Plasenta Melekat Serviks
Bayi lahir Setinggi pusat 1000
Uri lahir 2 jari dibawah 750 12,5 Lembek
pusat
1 minggu Pertengahan pusat 500 7,5
simpisis
2 minggu Tak teraba diatas 350 3-4
simpisis
6 minggu Bertambah kecil 50-60 1-2
8 minggu Sebesar normal 30
(Vivian nanny lia dewi,2013:55-57)

b. Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Bentuk serviks setelah post partum
menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan karena korpus uteri yang
berkontraksi tapi serviks tidak. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh
pembuluh darah.
(Vivian Nanny Lia Dewi,2013:58)
c. Lochea

Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas, lochea pada ibu nifas dibagi
menjadi 6 yaitu:
Lochea Rubra

Lochea ini muncul pada hari 1-2 pasca persalinan, berwarna merah mengandung
darah dan sisa – sisa selaput ketuban, lanugo dan mekonium.

Lochea sanguinolenta
Lochea ini keluar pada hari ke 3-7 pasca persalinan, berwarna merah kuning dan
berisi darah lendir.

Lochea Serosa

Muncul pada hari ke 7-14 pasca persalinan, berwarna kecoklatan, mengandung lebih
banyak serum.

Lochea Alba

Muncul 2-6 minggu pasca persalinan, berwarna putih kekuningan mengadungan


leukosit dan serabut yang mati.

Lochea Purulenta

Lochea ini adalah tanda-tanda adanya infeksi atau subinvolusi. Ciri-cirinya keluar
cairan seperti nanah dan berbau busuk.

Lochea Statis

Lochea yang keluarnya tidak lancer.

d. Vulva dan vagina


Beberapa hari pertama sesudah proses kelahiran, vulva dan vagina tetap berada dalam
keadaan kendur. Pintu keluar vagina pada bagian pertama nifas membentuk lorong
berdinding lunak dan luas yang ukurannya secara perlahan-lahan mengecil. Setelah
minggu ketiga rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali
sementara labia lebih mononjol.
e. Perineum
Perubahan perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami
robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan
episiotomy dengan indikasi tertentu.
f. Payudara
Pada hari kedua post partum ASi dapat diperas dari putting susu. ASI yang keluar
pertama disebut Colostrum berwarna kekuningan, mengandung lebih banyak protein,
yang sebagian besar adalah glokailin, dan lebih banyak mineral tetapi gula dan lemak
sedikit. Sekresi colostrums bertahan selama 5 hari, dengan perubahan bertahap,
menjadi susu matur. Komponen utama adalah protein, laktosa, air, dan lemak.
Dengan kelahiran, terdapat penurunan mendadak dan besar kadar progesterone dan
estrogen, yang berfungsi mengawali laktasi sebagian besar oleh perangsangan
berulang-ulang proses menyusui.
(Ai Yeyeh dkk,2010:50-74)
g. Sistem pencernaan
Perubahan sistem pencernaan ada beberapa hal yaitu:
1. Nafsu makan
Ibu biasanya merasa lapar setelah melahirkan sehingga ibu boleh mengonsumsi
makanan ringan. Ia sering merasa lapar dan siap makan 1-2 jam post primordial.
Permintaan untuk makan 2 kali dari jumlah yang biasa ibu konsumsi.
Sering kali untuk pemulihan nafsu makan, diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal
usus kembali normal. Meskipun kadar progesterone menurun setelah melahirkan,
namun asupan makan juga mengalami penurunan selama 1-2 hari, gerak tubuh
berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan
diberikan enema.
2. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan mortalitas otot traktus cerna menetap selama
waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan anastesia dan analgetik bisa
memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
3. Pengosongan Usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama 2-3 hari. Keadaan ini bisa
disebabkan karena tonus otot usus yang menurun selama proses persalinan, atau
pada masa awal post partum. Ibu beranggapan nyeri saat defekasi akibat
episiotomy. Kebiasaan BAB rutin perlu dilatih untuk merangsang pengosongan
usus. Sistem pencernaan perlu waktu berangsur-angsur untuk pulih. Pola makan
ibu tidak akan seperti biasa dan perineum ibu terasa sakit saat defekasi. Faktor
tersebut mendukung untuk konstipasi. Akan tetapi kurang pengetahuan pada ibu
dan khawatir lukanya membuka juga berpengaruh.
(Dewi, Vivian,2011:61-62)
h. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Curah jantung meningkat selama persalinan dan berlangsung sampai kala III ketika
volume darah uterus dikeluarkan. Panurunan terjadi pada beberapa hari pertama post
partum dan akan kembali normal pada akhir minggu ke-3 post partum.
i. Perubahan tanda-tanda vital pada masa nifas
1. Suhu badan pasca persalinan dapat naik 0,50C keadaan normal, tetapi tidak boleh
melebihi 380C ibu mengalami tanda-tanda infeksi.
2. Nadi umumnya 60-80 x permenit dan segera setelah persalinan seringkali terjadi
frekuensi jantung 40-50 x/menit. Hal ini akan kembali normal sekitar 3 minggu
post partum.
3. Tekanan darah pada ibu post partum mengalami sedikit perubahan. Hipotensi
autostatis dapat terjadi 48 jam post partum karena terjadi pembengkakan kelenjar
limpe.
4. Respirasi
Umumnya mengalami perubahan-perubahan tekanan abdomen dan kapasitas
rongga toraks setelah melahirkan, sehingga menghasilkan peningkatan yang
terjadi pada volume residu. Hal ini akan kembali 6 minggu pasca partum.
(Reeder,dkk.2011:14-15)

III.ADAPTASI PSIKOLOGI IBU NIFAS


Dalam menjalani masa nifas ibu akan mengalami beberapa fase adaptasi, yaitu:
1. Fase taking in
Disebut dengan fase ketergantungan, periode ini berlangsung dari hari pertama sampai
hari ke-2 pasca lahir. Pada fase ini ibu lebih mementingkan dirinya sendiri daripada
bayinya.
2. Fase taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari pasca melahirkan. Ibu lebih berkonsentrasi pada
kemampuannya dalam menerima tanggung jawab untuk merawat sang bayi.
3. Fase letting go
Fase dimana sang ibu sudah merasa penuh bertanggungjawab sebagai ibu. Ibu menyadari
bahwa kebutuhan sang anak bergantung padanya.

IV. TAHAPAN MASA NIFAS


1. Puerperium dini
Pada periode ini ibu dibolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2. Puerperium intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
3. Remote puerperium
Fase dimana ibu secara penuh menerima tanggung jawab dan waktu yang diperlukan
untuk pulih dan sehat.

V. KEBUTUHAN MASA NIFAS

1. GIZI

Kulitas makanan dan jumlah yang dikonsumsi sangat berpengaruh pada produksi ASI. Ibu
menyusui harus mendapatkan tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk
memproduksi ASI dan untuk aktivitas ibu. Kebutuhan cairan 3 liter sahari dengan 1 liter per 8
jam.

2. AMBULASI DINI

Ibu dianjurkan untuk turun tempat tidur secepat mungkin apabila tidak ada kontraksi. Klien yang
mendapatkan anastesi epidural atau kaudal selama melahirkan dapat melakukan ambulasi dini
saat ibu merasa sudah mampu.

3. KEBERSIHAN DINI

Wanita post partum mengalami diaforesis nyata karena cairan intestinal yang tertanam selama
kehamilan mandi akan membuat ibu lebih segar. Ibu yang tidak mengalami komplikasi boleh
mandi setelah beberapa jam. Ibu mengganti pembalut setiap 3-4 jam.
4. ELIMINASI

- BAK

Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah BAK spontan. Urin jumlah banyak akan diproduksi dalam
waktu 12-16 post partum. Jumlah urin normal 500-600 cc.

-BAB

BAB biasanya masih tertuna selama 2-3 hari karena edema persalinan dan perineum yang sakit.
Bila dalam waktu 3 hari ibu belum BAB bisa diberi obat.

5. PERAWATAN PAYUDARA

Tujuan perawatan payudara adalah untuk mencegah infeksi. Ibu dapat membersihkan puting
dengan air. Ibu harus menghindari zat-zat yang membuat puting kering seperti ; sabun- alkohol.

6. SEKSUAL DAN KB

Seksual pada saat post partum dipengaruhi oleh derajat trauma pada perineum. Seksualitas bisa
dilakukan saat lochea sudah berhenti. Serta perineum sudah sembuh jadi ibu tidak nyeri saat
berhubungan. Ibu paca partum dianjurkan untuk segera ber-KB, agar jarak kehamilan dapat
terlaksana.

7. ISTIRAHAT

Pada masa nifas ibu post istirahat cukup istirahat yang cukup menambah produksi ASI. Istirahat
siang dianjurkan 2 jam dan pada malam hari 7-8 jam.

8. SENAM NIFAS

Ibu post partum dianjurkan untuk seksual mungkin melakukan senam nifas. Yang dianjurkan
sedini mungkin yaitu ibu dengan persalinan normal tanpa indikasi.

VI. KUNJUNGAN MASA NIFAS.

1. 6-8 jam post partum ( kunjungan pertama )


Tujuan :
- Mencegah perdarahan masa nifas akibat atonia uteri
- Deteksi dan merawat penyebab lain perdarahan berlanjut cara mencegah perdarahan
- Pemberian ASI awal
- Menjaga bayi tetap sehat dengan mencegah hipotermia
- Penolong persalinan harus mendapingi ibu dan bayi baru lahir selama 2 jam pertama
post partum.
2. 6 hari post partum ( kunjungan kedua
Tujuan :
- Memastikan involusi uterus berjalan normal dan tidak ada perdarahan
- Menilai adanya demam
- Memastikan ibu bahwa tidak ada penyulit
- Memastikan ibu mendapat makanan cukup, cairan, dan istirahat
- Memberi konseling pada ibu tentang
 Asuhan pada bayi
 Perawatan tali pusat
 Menjaga bayi tetap hangat
 Perawatan bayi sehari-hari
3. 2 minggu post partum (kunjungan ketiga)
Tujuan :
- Memastikan involusi uterus berjalan baik dan tidak ada perdarahan
- Menilai adanya demam
- Memastikan ibu cukup nutrisi dan istirahat
- Memastikan ibu tidak ada penyulit
- Memberi konseling pada ibu tentang perawatan bayi
- Mengevaluasi perjalanan post partum dan kesejahteraan ibu
- Memudahkan akses dalam menerima pertanyaan dan masalah
- Menegevaluasi kesejahteraan bayi
4. 6 minggu post partum (kunjungan keempat)
Tujuan;
- Mengevaluasi normalitas dan akhir puerperium
- Mengidentifikasi kebutuhan ibu, termasuk kebutuhan kontrasepsi.
( Rita yulifah, 2011 : 86)

KONSEP ANEMIA
I. DEFINISI
Anemia yaitu suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin hematokrit
dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal. Pada penderita anemia lebih sering
disebut kurang darah, kadar HB dibawah nilai normal.
Derajat
1. Hb 11 gr % : normal
2. Hb 9-10 gr% : anemia ringan
3. Hb 7-8 gr% ; anemia sedang
4. Hb < 7 gr% ; anemia berat
( ida ayu , 2012 : 239)
II. ETIOLOGI
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya anemiadefisiensi besi
antara lain kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya
gangguan absorbsi usus, perdarahan akut maupun kronis dan meningkatnya
kebutuhan zat besi seperti pada waktu hamil, nifas, dan masa pertumbuhan.
III. KLASIFIKASI
1. Anemia defisiensi zat besi
Kekurangan ini dapat disebebkan karena kurangnya unsur besi dalam
makanan, karena gangguan reabsorbsi, gangguan penggunaan
terlampauinya banyak zat besi keluar dari badan misalnya perdarahan
pada wanita tidak hamil, hamil dan wanita yang menyusui dianjurkan di
indonesia mengkonsumsi unsur besi masing-masing 12 minggu dan 17
minggu
(sarwono, 2010:451)
2. Anemia defisiensi asam folat (anemia megaloblastik)
Adalah anggota kelompok penyakit darah yang ditandai oleh kelainan
darah dan sumsum tulang akibat sintesis DNA
3. Hemonoglobinopati
a. Anemia hemonoglobinopati
Anemia sel sabit, penyakit sabit hemoglobin C dan penyakit sel sabit
talasemia merupakan hemoglobin upah sabit yang tersering dijumpai.
Morbiditas dan mortilitas ibu, abortus dan mortalitas perinatal semuanya
meningkat pada hemonoglobinopati ini.
b. Talasemia
Ditandai oleh gangguan reproduksi satu atau lebih rntaipeptidaeglobin
normal , gangguan laju sintesis dapat menyebabkan eritropoesis yang tidak
efektif, hemolisis dan anemia dengan derajat bervariasi. Insiden ini selama
kehamilan pada semua ras kemungkinan adalah dalam 300.500.
c. Anemia akibat kehilangan darah atau infeksi (hemolisis)
Anemia akibat perdarahan yang baru terjadi lebih mungkin bermanifestasi
pada masa nifas. Pada awal kehamilan, anemia akibat perdarahan sering
terjadi pada kasus abortus, KET dan molahidatidosa. Solusio plasenta dan
plasenta previa dapat menjadi sumber perdarahan serius dan anemia
sebelum atau sesudah kelahiran.
(cuningham, 2009: 1310)
IV. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Anemia sebelum persalinan
2. Gizi rendah
3. Perdarahan
4. Luka jalan lahir
5. Luka tindakan operasi
(manuaba, 2010 :130)
V. TANDA DAN GEJALA
1. Penderita mengeluh lemah
2. Penglihatan berkunang-kunang
3. Mudah cepat letih
4. Gangguan saluran cerna
5. Nadi lemah dan cepat
6. Pucat
7. Mudah pingsan sementara, TD masih normal
8. Kadar Hb < 11 gr %
9. Pusing
10. Jantung berdebar-debar
( sarwono, 2010 ; 282)
VI. PATOFISIOLOGIS
Dalam persalinan pastinya mengalami kehilangan darah banyak dan dapat
diperburuk dengan rendahnya status gizi ibu, sehingga anemia tidak lagi
dihindari pada masa nifas,
VII. KOMPLIKASI
1. Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan post partum
2. Memudahkan infeksi puerperium
3. Pengeluaran ASI berkurang
4. Anemia nifas
5. Mudah terjadi infeksi mamae
6. Terjadinya dekompensasi kondisi mendadak setelah persalinan
(manuaba, 2010 : 32)
VIII. PENANGANAN
1. Pemantauan kadar Hb setiap hari
2. Jika perlu diberi transfusi:
a. Perdarahan pasca persalinan dengan syok
b. Kehilangan darah saat operasi
c. Anemia berat pada kehamilan
3. Pantau keseimbangan cairan
a. Pantau intake dan outtake
b. Jika produksi urin berkurang (<30 ml/jam)
 Pemeriksaan kreatin serum
 Dehidrasi dengan NaCl / RL perifer
c. Jika produksi urin tetap berkurang, berikan firosemid 40 mg IV dosis
tunggal
d. Jika produksi tetap < 30 ml/jam selama 4 jam dan kretinis serum 2,9
mg/dl
4. Beri ferosemid 20 mg IV/ peroral
5. Beri sulfat fenosus/fenosus femurat 100 mg peroral ditambahkan asam
folat 400 mg/ oral sekali sekali
(sarwono, 2010. M-45)

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, vivian nelilia. 2013. Asuhan kebidanan pada ibu nifas. Jakarta : EGC

Manuaba, Ida bagus . 2012. Ilmu kebidanan. Penyakit kandungan dan Kb: jakarta : EGC

Gond, norman.F. 2011. Dasar-dasar ginekologi dan obstetri. Jakarta : EGC

Reeder,dkk.2014. keperawatan maternitas kesehatan wanita,bayi daan keluarga. Jakarta : EGC

Rukiyah, Ai yeyeh, dkk. 2011. Asuhan kebidanan III (nifas). Jakarta: TIM

Saifudin, Abdul bari. 2009. Buku acuan nasional pelayanan maternal dan neonatal.Jakarta : PT
BP-SP