Anda di halaman 1dari 103

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI PERAIRAN

NAMA

: NUR AINI AZIZAH

NIM

: 175080507111023

KELOMPOK

: 5

ASISTEN

: BELLA NUR AINI

KELOMPOK : 5 ASISTEN : BELLA NUR AINI FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2018

ANALISIS PARAMETER FISIKA, KIMIA DAN BIOLOGI SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DI BEDENGAN, SELOREJO, DAU MALANG

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN BUDIDAYA PERAIRAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Oleh:

NAMA

: NUR AINI AZIZAH

NIM

: 175080507111023

Oleh: NAMA : NUR AINI AZIZAH NIM : 175080507111023 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2018

: NUR AINI AZIZAH NIM : 175080507111023 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2018
: NUR AINI AZIZAH NIM : 175080507111023 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2018

LEMBAR PENGESAHAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN DI BEDENGAN DAU, MALANG, JAWATIMUR

BUDIDAYA PERAIRAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Lulus Mata Kuliah Ekologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya

Oleh:

NAMA

: NUR AINI AZIZAH

NIM

: 175080507111025

Koordinator Asisten

Praktikum Ekologi Perairan

Dhehan Febrianto NIM. 155080500111002

Mengetahui,

Asisten Praktikum

Praktikum Ekologi Perairan

Bella Nur Aini

NIM. 165080200111043

Dosen Pengampu

Mata Kuliah Ekologi Perairan

Dr. Ir. Mulyanto, M.Si

NIP.119600317198602 1 001

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala

limpahan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Ekologi

Perairan ini dapat disusun.

Memahami

akan

kekurangan

dan

keterbatasan

referensi

dalam

pelaksanaan praktikum Ekologi Perairan, maka kami menyajikan suatu pedoman

pelaksanaan praktikum yang pada dasarnya dirangkum dari berbagai referensi

untuk

menuntun

praktikan.

Metode-metode

praktis

diutamakan

untuk

memudahkan dalam pengukuran (pengambilan data di lapang). Buku Panduan

Praktikum

ini

terbatas

pada

pengukuran

penting dan dilakukan di lapang.

parameter-parameter

utama

yang

Buku ini

merupakan revisi

dan

pembakuan

dari penuntun-penuntun

praktikum Ekologi Perairan terdahulu (non-publicated). Besar harapan bahwa

Buku Penuntun Praktikum ini dapat bermanfaat bagi praktikan dan berbagai

pihak.

Kami menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada

pihak-pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu

dalam penyelesaian buku ini. Menyadari akan keterbatasan yang kami miliki,

maka

kami

sangat

mengharapkan

saran

atau

penyempurnaan buku ini di lain waktu.

i

kritik

konstruktif

bagi

Malang, 25 April 2018

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

1

DAFTAR

GAMBAR

vi

DAFTAR TABEL

vii

1. PENDAHULUAN

8

1.1 Latar Belakang

8

1.2 Tujuan Praktikum Ekologi Perairan

9

1.3 Kegunaan Praktikum Ekologi Perairan

9

2. TINJAUAN PUSTAKA

11

2.1 Sungai

11

2.2 Parameter Kualitas Air

12

2.2.1 Fisika

12

 

a. Suhu

12

b. Kecepatan Arus

12

2.2.2

Kimia

13

a. Potential of Hydrogen (pH)

13

b. Dissolved Oxygen (DO)

13

c. Carbon Dioxide (CO 2 )

13

d. Total Organic Matter (TOM)

14

e. Amonia

14

f. Nitrat

15

g. Orthofosfat

15

2.2.3

Biologi

15

a. Benthos

15

b. Perifiton

17

ii

3.

METODE

18

3.1

Fungsi Alat dan Bahan

18

3.1.1

Parameter Fisika

18

 

a.

Suhu

18

b.

Kecepatan Arus

18

3.1.2

Parameter Kimia

19

 

a.

Potential of Hydrogen (pH)

19

b.

Dissolved Oxygen (DO)

20

c.

Carbon Dioxide (CO 2 )

21

d.

Total Organic Matter (TOM)

22

e.

Amonia

24

f.

Nitrat

26

g.

Orthofosfat

27

3.1.2

Parameter Biologi

28

 

a.

Benthos

28

b.

Perifiton

29

3.2

Analisis Prosedur

18

3.2.1 Parameter Fisika

31

 

a. Suhu

31

 

b. Kecepatan Arus

31

3.2.2

Parameter Kimia

32

 

a. Potential of Hydrogen (pH)

32

b. Dissolved Oxygen (DO)

32

c. Carbon Dioxide (CO 2 )

33

d. Total Organic Matter (TOM)

35

e. Amonia

36

iii

f.

Nitrat

36

 

g.

Orthofosfat

37

 

3.2.3

Parameter Biologi

38

 

a.

Benthos

38

b.

Perifiton

38

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

40

4.1

Deskripsi Lingkungan Pengamatan

40

4.1.1 Stasiun Benthos

40

4.1.2 Stasiun Perifiton

41

4.2

Analisis Hasil Pengamatan Tiap Parameter

42

4.2.1 Parameter Fisika

42

 

a. Suhu

42

 

b. Kecepatan Arus

43

 

4.2.2

Parameter Kimia

45

 

a. Potential of Hydrogen (pH)

46

b. Dissolved Oxygen (DO)

47

c. Carbon Dioxide (CO 2 )

49

d. Total Organic Matter (TOM)

51

e. Amonia

54

 

f. Nitrat

55

 

g. Orthofosfat

57

 

4.2.3

Parameter Biologi

59

 

a. Benthos

59

b. Perifiton

60

 

4.3 Kualitas Perairan di Bedengan

63

4.4 Faktor Koreksi

63

iv

4.5

Manfaat di Bidang Perikanan

64

5

PENUTUP

65

5.1 Kesimpulan

65

5.2 Saran

65

DAFTAR PUSTAKA

67

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar

1.

Stasiun

Benthos

40

Gambar 2. Stasiun Perifiton

41

vi

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Alat dan Bahan Suhu

18

Tabel 2. Alat dan Bahan Kecepatan Arus

18

Tabel 3. Alat dan Bahan Parameter pH

19

Tabel 4. Alat dan Bahan Parameter DO

20

Tabel 5. Alat dan Bahan Parameter CO 2

22

Tabel 6. Alat dan Bahan Parameter TOM

24

Tabel 7. Alat dan Bahan Parameter Amonia

25

Tabel 8. Alat dan Bahan Parameter Nitrat

26

Tabel 9. Alat dan Bahan Parameter Orthofosfat

28

Tabel 10. Alat dan Bahan Parameter Benthos

29

vii

1.1 Latar Belakang

1.

PENDAHULUAN

Suatu organisme memerlukan lingkungan hidup yang sesuai dengan

kehidupannya. Air mempunyai beberapa sifat penting sebagai lingkungan bagi

organisme

air

yang

dikaitkan

dengan

bahan-bahan

dan

energi

yang

dikandungnya dengan sifat fisiknya. Air merupakan media hidup untuk organisme

perairan baik tumbuhan maupun hewan, sedangkan sifat kimia air mempunyai

fungsi sebagai pembawa zat-zat hara yang diperlukan bagi pembentukan bahan-

bahan organik oleh produsen primer perairan tersebut.

Sinar matahari merupakan penunjang kehidupan makhluk hidup, kecuali

organisme kimia sintetis yang relatif tidak banyak. Semua bentuk kehidupan

mendapatkan hara organik berenergi tinggi baik langsung maupun tidak langsung

dari fotosintesis. Melalui alur rantai makanan pada akhirnya siklus energi juga

akan dimanfaatkan oleh produsen, begitu pula yang terjadi pada lingkungan

perairan. Salah satu cara untuk memahami interaksi organisme- organisme

dengan lingkungan perairan adalah dengan mempelajari proses yang terjadi

pada

rantai

makanan.

Tingkatan

berlapis

ekologi

meliputi

ekosistem

individu/organisme dengan ciri biasanya memiliki struktur khusus yang disebut

dengan adaptasi, ekosistem populasi yaitu kumpulan individu sejenis pada suatu

daerah dan pada waktu tertentu, ekosistem komunitas yang terdiri dari beberapa

populasi yang berbeda dan berinteraksi antar spesies, ekologi ekosistem yaitu

suatu kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen biotik dan abiotik terdapat

siklus kehidupan.

Ekologi umumnya didefinisikan sebagai ilmu tentang interaksi antara

8

organisme-organisme dan lingkungannya. Lingkungan di sini mempunyai arti

luas, mencakup semua hal di luar organisme yang bersangkutan. Tidak saja

termasuk cahaya, suhu, curah hujan, kelembaban dan topografi, tetapi juga

parasit, predator dan kompetitor.

Ekologi

perairan

adalah

ilmu

yang

mempelajari

hubungan

timbal

balik/interaksi

antara

organisme

perairan

dengan

lingkungannya.

Dengan

demikian ada beberapa cabang ilmu yang menunjang ekologi yang harus

dipahami mahasiswa misalnya: Klimatologi, Limnologi, Geologi, Fisika, Kimia,

Biologi, Planktonologi dan sebagainya

1.2 Tujuan Praktikum Ekologi Perairan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melatih dan meningkatkan

kemampuan mahasiswa dalam:

1.

Mengetahui hasil pengukuran parameter fisika yang mempengaruhi

perairan Bedengan

2.

Mengetahui hasil pengukuran parameter kimia yang mempengaruhi

perairan Bedengan

3.

Mengetahui hasil pengukuran parameter biologi yang mempengaruhi

perairan Bedengan

4.

Menentukan kualitas perairan Bedengan berdasarkan hasil pengukuran

parameter fisika, kimia dan biologi.

1.3

Kegunaan Praktikum Ekologi Perairan

1.

Mengenalkan sekaligus menumbuhkan rasa empati mahasiswa terhadap

ekosistem sungai.

2.

Meningkatkan kemampuan teknis dalam mengukur parameter fisika,

kimia dan biologi.

9

3.

Bagi peneliti atau lembaga ilmiah, sebagai sumber informasi keilmuan

dan dasar untuk penulisan ataupun penelitian lebih lanjut berkaitan

dengan ekosistem sungai dan ekosistem kolam.

10

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sungai

Sungai merupakan daerah dimana terdapat air yang mengalir dari hulu

(pegunungan) menuju hilir (laut). Selain mengalirkan air dari hulu, sungai juga

membawa material-material organik maupun anorganik dan mengantarkannya

keseluruh bagian sungai sampai hilir. Oleh karena itu, sungai dapat digolongkan

sebagai perairan yang mengalir. Odum (1998) menyatakan bahwa ada 2 zona

utama pada aliran sungai yaitu:

Zona Air Deras yaitu daerah yang dangkal dimana kecepatan arus cukup

tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang

lepas, sehingga dasarnya padat. Zona ini dihuni benthos yang beradaptasi

khusus atau organisme perifitik yang dapat melekat atau berpegang dengan kuat

pada dasar yang padat dan oleh ikan yang kuat berenang. Zona ini umumnya

terdapat pada hulu sungai didaerah pegunungan.

Zona Air Tenang yaitu bagian sungai yang dalam dimana kecepatan arus

sudah berkurang, maka lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar

sehingga dasarnya lunak. Zona ini umumnya terdapat pada bagian hilir.

Arus merupakan faktor pembatas utama pada aliran deras, tetapi dasar

yang keras terdiri dari batu, dapat menyediakan permukaan yang cocok untuk

organisme (flora dan fauna) untuk menempel dan melekat. Dasar air yang tenang

bersifat lunak dan terus-menerus berubah umumnya membatasi organisme

bentik, tetapi bila kedalaman lebih besar lagi, dimana gerakan air lebih lambat,

lebih sesuai untuk plankton dan neuston.

11

2.2

Parameter Kualitas Air

2.2.1

Fisika

a.

Suhu

Suhu adalah derajat panas dinginnya suatu perairan. Kisaran suhu pada

perairan Indonesia antara 23-32 o C. Mahida (1986), menyatakan bahwa tingkat

oksidasi senyawa organik jauh lebih besar pada suhu tinggi dibanding pada suhu

rendah. Clark (1974), menjelaskan bahwa keadaan suhu alami memberikan

kesempatan bagi ekosistem untuk berfungsi secara optimum. Banyak kegiatan

hewan air dikontrol oleh suhu, misalnya: migrasi, pemangsaan, kecepatan

berenang, perkembangan embrio dan kecepatan proses metabolisme. Oleh

sebab itu, perubahan suhu yang besar pada ekosistem perairan dianggap

merugikan (Clark, 1974). Sedangkan menurut Handjojo dan Setianto (2005)

dalam Irawan (2009), suhu air normal adalah suhu air yang memungkinkan

makhluk hidup dapat melakukan metabolisme dan berkembang biak.

b. Kecepatan Arus

Arus adalah pergerakan massa air secara vertikal dan horizontal. Menurut

Barus (2001), pada ekosistem lentik arus dipengaruhi oleh kekuatan angin,

semakin kuat tiupan angin akan menyebabkan arus semakin kuat dan semakin

dalam mempengaruhi lapisan air. Pada perairan lotik umumnya kecepatan arus

berkisar antara 3 m/detik. Meskipun demikian sangat sulit untuk membuat suatu

batasan mengenai kecepatan arus. Karena arus di suatu ekosistem air dapat

berfluktuasi dari waktu ke waktu tergantung dari fluktuasi debit dan aliran air dan

kondisi substrat yang ada. Arus air pada perairan lotik umumnya bersifat turbulen

yaitu arus air yang bergerak ke segala arah sehingga air akan terdistribusi ke

seluruh bagian dari perairan. Peranan arus adalah membantu difusi oksigen

12

serta membantu distribusi bahan organik dan nutrien.

2.2.2

Kimia

a.

Potential of Hydrogen (pH)

pH (potential of Hydrogen) adalah negatif logaritma dari ion H + . Menurut

Kordi dan Tancung (2007), derajat keasaman (pH) yaitu logaritma dari kepekatan

ion-ion H (hidrogen) yang terlepas dalam satu cairan. Derajat keasaman atau pH

air menunjukkan aktifitas ion hidrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan

sebagai konsentrasi ion hidrogen (dalam nol per liter) pada suhu tertentu atau

dapat ditulis pH = - log (H + ). Manik (2003), menyatakan bahwa peningkatan

keasaman air (pH rendah) umumnya disebabkan limbah yang mengandung

asam-asam mineral bebas dan asam karbonat. Keasaman tinggi (pH rendah)

juga dapat disebabkan adanya FeS 2 dalam air akan membentuk H 2 SO 4 dan ion

Fe 2+ (larut dalam air).

b. Dissolved Oxygen (DO)

DO (Dissolved Oxygen) adalah jumlah oksigen terlarut dalam perairan

yang dimanfaatkan oleh organnisme perairan untuk respirasi dan penguraian

zat-zat anorganik oleh mikroorganisme. Menurut Simanjuntak (2012), sumber

utama oksigen di perairan adalah difusi udara dan dari proses fotosintesis

fitoplankton.

Sedangkan

pemanfaatannya

digunakan

untuk

respirasi,

dekomposisi dan oksidasi unsur kimia. Oksigen terlarut merupakan salah satu

penunjang

utama

dalam

kehidupan

di

perairan

dan

indikator

kesuburan

perairan.

c. Carbon Dioxide (CO 2 )

Menurut Susana (1988), karbondioksida adalah senyawa yang terbentuk

13

dari 1 atom Karbon dan 2 atom Oksigen (CO2), mudah larut dalam air, tidak

berbau dan tidak berwarna. Karbondioksida termasuk gas yang reaktif dan

banyak terdapat dalam air. Karbondioksida yang terdapat dalam air umumnya

berasal dari udara melalui proses difusi dan terbawa oleh air hujan. Selain itu

karbondioksida juga berasal dari hasil proses respirasi mikroorganisme dan dari

hasil penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme.

d. Total Organic Matter (TOM)

TOM (Total Organic Matter) adalah kumpulan bahan organik kompleks

yang sedang dan belum mengalami proses dekomposisi yang terdiri dari bahan

organik terlarut, tersuspensi (particulate) dan koloid di dalam suatu perairan.

Menurut Kohangia (2002), bahwa kandungan bahan organik yang terdapat di

sedimen perairan terdiri dari partikel-partikel yang berasal dari hasil pecahan

batuan dan potongan-potongan kulit (shell) serta sisa rangka dari organisme

perairan atau dari detritus organik yang telah tertransportasi oleh berbagai media

alam dan terendapkan didasar perairan dalam waktu yang cukup lama. TOM

berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi autochnus (dari perairan itu sendiri)

dan allotochnus (dari perairan luar).

e.

Amonia

Menurut Umroh (2007), amonia merupakan hasil katabolisme protein

yang

diekskresikan

oleh

organisme

dan

merupakan

salah

satu

hasil

dari

penguraian zat organik oleh bakteri. Amonia di dalam air terdapat dalam bentuk

tak terionisasi (NH 3 ) atau bebas, dan dalam bentuk terionisasi (NH 4 ) atau ion

ammonium.

Sumber

amonia di perairan adalah dari sisa metabolism

pemecahan nitrogen organik.

14

dan

f. Nitrat

Menurut Hendrawati, et al. (2007), nitrat (NO - ) adalah bentuk utama

Nitrogen di perairan dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman

dan

alga.

Nitrat

sangat

mudah

larut

dalam

air

dan

bersifat

stabil.

Nitrat

merupakan unsur yang diperlukan untuk membentuk senyawa penting termasuk

DNA dan RNA. Tatangidatu (2013), menyatakan bahwa tingginya kadar nitrat

dipengaruhi oleh tingkat pencemaran dan pemupukan, kotoran hewan dan

manusia. Peran nitrat dalam perairan adalah sebagai nutrien utama bagi alga

dan mengklasifikasi kesuburan perairan.

g. Orthofosfat

Orthofosfat merupakan salah satu bentuk fosfat yang dapat dimanfaatkan

secara langsung oleh tanaman air. Sedangkan polifosfat harus mengalami

hidrolisis membentuk orthofosfat terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan

sebagai sumber fosfor. Manurut Sembering (2008), orthofosfat merupakan nutrisi

yang paling penting dalam menentukan produktivitas perairan. Selain sebagai

nutrisi untuk fitoplankton, orthofosfat juga berfungsi sebagai indikator kesuburan

perairan.

2.2.3

Biologi

a.

Benthos

Benthos adalah organisme yang hidup di dasar perairan (substrat) baik

yang sesil maupun vagil. Benthos hidup di pasir, lumpur, batuan, patahan karang

atau karang yang sudah mati. Substrat perairan dan kedalaman mempengaruhi

pola penyebaran dan morfologi fungsional serta tingkah laku hewan bentik. Hal

tersebut berkaitan dengan karakteristik serta jenis makanan benthos.

Organisme

yang

termasuk

makrozoobenthos

15

diantaranya

adalah:

Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida.

Klasifikasi benthos menurut ukurannya: Makrobenthos merupakan benthos yang

memiliki ukuran lebih besar dari 1 mm (0.04 inch), contohnya cacing, pelecypod,

anthozoa,

echinodermata,

sponge,

ascidian,

and

crustacea.

Meiobenthos

merupakan

benthos

yang

memiliki

ukuran

antara

0.1-1

mm,

contohnya

polychaete,

pelecypoda,

copepoda,

ostracoda,

cumaceans,

nematoda,

turbellaria, dan foraminifera. Mikrobenthos merupakan benthos yang memiliki

ukuran lebih kecil dari 0.1 mm, contohnya bakteri, diatom, ciliata, amoeba, dan

flagellata.

Barus (2004) menyatakan bahwa berdasarkan tempat hidupnya, benthos

dapat dibedakan menjadi epifauna yaitu benthos yang hidupnya di atas substrat

dasar perairan, dan infauna yaitu benthos yang hidupnya tertanam di dalam

substrat dasar perairan. Sedangkan berdasarkan siklus hidupnya, benthos dapat

dibagi menjadi holobenthos, yaitu kelompok benthos yang seluruh hidupnya

bersifat benthos dan merobenthos, yaitu kelompok benthos yang hanya bersifat

benthos pada fase-fase tertentu dari siklus hidupnya. Sedangkan Odum (1971),

mengklasifikasikan benthos berdasarkan kebiasaan makannya yaitu filter-feeder

(menyaring partikel-partikel detritus yang melayang di perairan) dan deposit-

feeder (memakan partikel-partikel detritus yang mengendap di dasar perairan).

Hewan makrobenthos mempunyai peranan yang sangat penting dalam

siklus nutrien di dasar perairan. Montagna et al. (1989) menyatakan bahwa

dalam ekositem perairan makrobenthos berperan sebagai salah satu mata

rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai

konsumen tingkat tinggi.

16

b.

Perifiton

Perifiton

adalah

nama

yang

diberikan

pada

kelompok

berbagai

organisme yang tumbuh atau hidup menempel pada substrat dalam air seperti

tanaman,

kayu,

batu

dan

sebagainya.

Meskipun

perifiton

umumnya

diperlakukan sebagai bentos, ini bukanlah ciri khas komunitas tersebut dalam

hal tertentu. Ia hadir sangat banyak pada substrat apapun, misalnya ujung kayu

yang berada dalam air beberapa centimeter dari dasar.

Perifiton

adalah

hewan

maupun

tumbuhan

yang

hidup

di

bawah

permukaan air, sedikit bergerak atau melekat pada batu-batu, ranting, tanah

atau substrat lainnya. Menurut Wetzel (1982), perifiton berdasarkan substrat

menempelnya dibedakan atas epifitik (menempel pada permukaan tumbuhan),

epipelik

(menempel

pada

permukaan

sedimen),

epilitik

(menempel

pada

permukaan

batuan),

epizooik

(menempel

pada

permukaan

hewan),

dan

epipsammik (hidup dan bergerak di antara butir-butir pasir).

Dalam suatu perairan mengalir (lotik), alga perifiton lebih berperan sebagai

produsen daripada fitoplankton. Hal ini disebabkan karena fitoplankton akan

selalu terbawa arus, sedangkan alga perifiton relatif tetap pada tempat hidupnya.

Alga perifiton juga penting sebagai makanan beberapa jenis invertebrata dan

ikan (Graham dan Wilcox, 2000). Karena perifiton relatif tidak bergerak, maka

kelimpahan dan komposisi perifiton di sungai dipengaruhi oleh kualitas air sungai

tempat hidupnya.

17

3.

METODE

3.1

Fungsi Alat dan Bahan

3.1.1

Parameter Fisika

a.

Suhu

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Suhu adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Alat dan Bahan Suhu

Alat

Fungsi

Thermometer Hg Stopwatch

Untuk mengukur suhu perairan Untuk mengukur waktu pengukuran suhu

Kamera

Untuk dokumentasi

 

Bahan

Fungsi

Air sungai

Sebagai sampel yang diukur suhunya

Tali

Sebagai pengikat termometer Hg

b.

Kecepatan Arus

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Kecepatan arus sungai adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Alat dan Bahan Kecepatan Arus

Alat

Fungsi

Current meter

Untuk mengukur kecepatan arus

Stopwatch

Untuk mengukur kecepatan arus

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sungai

Sebagai sampel yang diukur kecepatan

arusnya

3.1.2 Parameter Kimia

a. Potential of Hydrogen (pH)

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

pH sungai adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Alat dan Bahan Potential of Hydrogen (pH)

Alat

Fungsi

Kotak standar pH

Indikator pembanding nilai pH yang didapat

Stopwatch

Untuk menghitung waktu kecepatan arus

Botol 600 ml

Untuk wadah air sampel

Nampan

Untuk wadah alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sampel

Sebagai sampel yang diukur pHnya

pH paper

Untuk mengukur pH perairan

19

b. Dissolved Oxygen (DO)

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

DO sungai adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Alat dan Bahan Dissolved Oxygen (DO)

 

Alat

Fungsi

Botol DO

Untuk mengambil air sampel

Pipet tetes

Untuk mengambil larutan dalam skala kecil

Buret

Untuk wadah Na 2 S 2 O 3

Statif

Untuk penyangga buret

Corong

Untuk memudahkan masuknya larutan ke

dalam buret

Washing bottle

Untuk tempat aquades

Ember

Untuk wadah limbah air bening yang

dibuang

Kamera

Untuk dokumentasi

Gelas ukur 25 ml

Untuk mengukur larutan

Bahan

Fungsi

Air sampel

Sebagai sampel yang diukur DOnya

MnSO 4

Untuk mengikat O 2 dalam air

NaOH+KI

Untuk membentuk endapan coklat dan

melepas I 2

H 2 SO 4

Untuk melarutkan endapan coklat dan

pengkondisian asam

20

Amilum

Na 2 S 2 O 3 (0,025 N)

Sebagai indikator warna ungu dan

pengkondisian basa

Sebagai larutan titrasi

Aquades

Sebagai pengkalibrasi

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

c.

Carbon Dioxide (CO 2 )

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

CO 2 adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Alat dan Bahan Carbon Dioxide (CO 2 )

Alat Pengukur CO 2

Fungsi

Gelas ukur 25 ml

Untuk mengukur larutan

Pipet tetes

Untuk mengambil larutan dalam skala kecil

Statif

Sebagai penyangga buret

Buret

Sebagai wadah larutan titrasi (Na 2 so 3 )

Corong

Untuk memudahkan air sampel/larutan

masuk dalam buret

Botol 600 ml

Untuk mengambil air sampel

Washing bottle

Untuk tempat aquades

Nampan

Untuk tempat alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan Pengukur CO 2

Fungsi

Air sampel

Sebagai sampel yang diukur CO 2 nya

21

Indikator PP

Sebagai indikator warna pink dan

pengkondisian basa

Na 2 CO 3 (0,0454 N)

Sebagai larutan titrasi

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

Aquades

Sebagai pengkalibrasi

Kertas label

sebagai penanda pada botol sampel

d. Total Organic Matter (TOM)

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

TOM adalah sebagai berikut:

Tabel 6. Alat dan Bahan Total Organic Matter (TOM)

Alat

Fungsi

Erlenmeyer

Untuk wadah air sampel

Beaker glass

Untuk tempat menyimpan dan membuat

larutan

Botol 600 ml

Untuk tempat atau wadah air sampel

Pipet volume

Untuk mengambil larutan dalam skala 1-10

ml

Bola hisap

Untuk membantu mengambil larutan

Hot plate

Untuk memanaskan larutan

Buret

Untuk wadah larutan titrasi

Statif

Penyangga buret

Corong

Untuk memudahkan memasukkan larutan

Thermometer Hg

Washing bottle

Untuk mengukur suhu perairan

Sebagai tempat aquades

22

Nampan

Untuk tempat alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sampel

Sebagai sampel yang diukur TOMnya

KMnO 4 (0,01 N)

Sebagai oksidator dan mengikat bahan

organik di perairan serta larutan titrasi

H 2 SO 4

Sebagai pengkondisian asam dan

katalisator

Na-oxalate (0,01 N)

Sebagai reduktor

Aquades

Sebagai pelarut

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

23

e.

Amonia

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Amonia air sungai adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Alat dan Bahan Amonia

Alat

Fungsi

Gelas ukur

Untuk mengukur volume air sampel

Erlenmeyer

Sebagai wadah air sampel

Pipet tete

Untuk mengambil larutan dalam skala kecil

Tabung reaksi kecil

Rak tabung reaksi

Washing bottle

Spektrofotometer

Untuk tempat menyimpan hasil reaksi

Sebagai wadah tabung reaksi

Untuk wadah aquades

Untuk mengukur kadar nitrat dengan

panjang gelombang 425nm dengan nomor

program 380

Nampan

Untuk tempat alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sampel

Sebagai sampel yang diukur amonianya

Larutan nessler

Untuk mengikat amonia dan indikator

warna kuning

Aquades

Sebagai pelarut

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

Kertas saring

Untuk menyaring larutannya

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

f.

Nitrat

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Nitrat sungai adalah sebagai berikut:

Tabel 8. Alat dan Bahan Nitrat

Alat

Fungsi

Botol 600 ml

Untuk wadah atau tempat air sampel

Cawan porselen

Untuk mereaksikan zat dalam suhu tinggi

Hot plate

Untuk memanaskan air sampel

Gelas ukur

Sebagai tempat mengukur air sampel

Erlenmeyer

Sebagai wadah air sampel

Pipet tetes

Untuk mengambil larutan dalam skala kecil

Spatula

Untuk menghomogenkan sampel

Tabung reaksi kecil

Rak tabung reaksi

Spektrofotometer

Untuk tempat menyimpan hasil reaksi

Untuk wadah tabung reaksi

Untuk mengukur kadar nitrat dengan

panjang gelombang 410 nm dengan nomor

program 353

Washing bottle

Untuk wadah aquades

Nampan

Untuk tempat alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sampel

Asam fenoldisulfonik

NH 4 OH

Sebagai sampel yang diukur nitratnya

Sebagai pelarut kerak nitrat

Untuk melarutkan lemak, suplay ion H +

dan indikator warna kuning

26

Aquades

Sebagai pelarut

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

Kertas saring

Untuk menyaring sampel pada nitrat

g.

Orthofosfat

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Orthofosfat air sungai adalah sebagai berikut:

Tabel 8. Alat dan Bahan Orthofosfat

Alat

Fungsi

Botol 600 ml

Untuk tempat air sampel

Gelas ukur

Untuk mengukur air sampel

Erlenmeyer

Untuk wadah saat menghomogenkan

larutan

Pipet tetes

Untuk mengambil larutan dalam skala kecil

Tabung reaksi kecil

Rak tabung reaksi

Washing bottle

Spektrofotometer

Untuk tempat penyimpanan hasil reaksi

Untuk wadah tabung reaksi

Untuk wadah aquades

Untuk mengukur orthofosfat dengan

panjang gelombang 690 nm dan nomor

program 353

Nampan

Untuk meletakkan alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

27

Fungsi

Air sampel

Ammonium molybdate

Sebagai sampel yang diukur orthofosfatnya

Untuk mengikat fosfat dan mengubah

amonium menjadi fosfor molybdat

SnCl 2

Sebagai indikator warna biru

Aquades

Untuk mengkalibrasi

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

Kertas saring

Untuk menyaring sampel

3.1.2

Parameter Biologi

a.

Benthos

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Benthos adalah sebagai berikut:

Tabel 9. Alat dan Bahan Benthos

 

Alat

Fungsi

Jaring kicking

Untuk mengambil benthos di perairan yang

berarus deras

Penjepit

Untuk mengambil benthos

Botol film

Untuk wadah benthos

Pipet tetes

Untuk mengambil larutan sampel dalam

skala kecil

Loop

Untuk membantu melihat organisme

Buku identifikasi

Untuk mempermudah identifikasi benthos

Nampan

Untuk tempat alat dan bahan

28

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sungai

Sebagai media hidup benthos

Benthos

Sebagai objek yang diamati dan dihitung

kelimpahannya

Alkohol 96%

Untuk mengawetkan benthos

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

b.

Perifiton

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Ekologi Perairan materi

Perifiton adalah sebagai berikut:

Tabel 10. Alat dan Bahan Perifiton

Alat

Fungsi

Botol film

Untuk wadah sampel

Penggaris

Untuk mengukur luas pengambilan sampel

yang disikat

Cutter

Untuk menandai batu/substrat yang akan

disikat

Sikat gigi

Untuk menyikat perifiton yang menempel

pada batu/substrat

Pipet tetes

Untuk mengambil larutan dalam skala kecil

Cool box

Untuk menyimpan sampel perifiton

Mikroskop binokuler

Untuk mengamati perifiton

Objek glass

Untuk meletakkan organisme saat diamati

29

dengan mikroskop

Cover glass

Untuk menutup objek glass

Washing bottle

Untuk wadah aquades

Buku identifikasi presscot

Untuk mengetahui klasifikasi dari spesies

perifiton

Nampan

Untuk tempat alat dan bahan

Kamera

Untuk dokumentasi

Bahan

Fungsi

Air sampel

Sebagai media tempat hidup perifiton

Substrat dasar

Sebagai media tempat hidup perifiton

Perifiton

Sebagai objek yang diamati

Larutan lugol

Untuk mengewetkan perifiton

Aquades

Sebagai pengkalibrasi objek glass dan

cover glass

Tisu

Untuk membersihkan alat yang telah

digunakan

Kertas label

Sebagai penanda pada botol sampel

30

3.2

Analisis Prosedur

3.2.1 Parameter Fisika

a. Suhu

Berdasarkan

praktikum

lapang

Ekologi

Perairan

pengukuran

suhu,

langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan terlebih dahulu. Adapun alat

yang digunakan adalah thermometer Hg, stopwatch, nampan untuk tempat

alatnya, sedangkan bahan yang digunakan adalah air sungai (air sampel) di

perairan Bedengan. Selanjutnya thermometer Hg dimasukkan ke dalam perairan,

tetapi

sebelum

itu

ada

yang

harus

diperhatikan

terlebih

dahulu

sebelum

pemakaian thermometer Hg yaitu pertama posisi badan harus membelakangi

matahari

dan

tidak

tersentuh

oleh

tangan agar

tidak

mempengaruhi

hasil

pengukuran yang didapat. Kemudian ditunggu selama

2 menit. Setelah selesai

langsung

diangkat,

dan

dilakukan

pembacaan

hasil

dari

thermometer

Hg,

pembacaan thermometer Hg ini dilakukan secara cepat agar hasilnya akurat dan

suhu udara sekitar tidak mempengaruhi nilai dari skala thermometer Hg yang

sebenarnya. Lalu dicatat hasilnya dalam skala 0 C.

b. Kecepatan Arus

Berdasarkan praktikum lapang Ekologi Perairan, pengukuran kecepatan

arus, langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan terlebih dahulu.

Adapun alat yang digunakan adalah botol air mineral 600 ml (2 buah), stopwatch

dan tali rafia. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air sungai (air sampel) di

perairan bedengan. Selanjutnya ujung botol 1 diikat dengan tali rafia, lalu diberi

jarak dengan botol kedua yang kemudian ujung botol kedua juga diikat dengan

tali rafia dengan jarak antar kedua botol 30 cm, kemudian menyisahkan panjang

tali rafia sepanjang 5 meter. Botol 1 diisi dengan air yang berfungsi sebagai

31

pemberat dan botol kedua dibiarkan kosong yang berfungsi sebagai pelampung.

Kemudian 2 botol tersebut dimasukkan ke dalam perairan dan dihitung lamanya

tali

merenggang

dengan

menggunakan rumus:

Dimana:

stopwatch

(Hp)

s v = t
s
v =
t

lalu

dicatat

hasilnya

dengan

s

= panjang tali (meter)

t

= waktu yang diperlukan tali untuk merenggang

v

= kecepatan arus

3.2.2

Parameter Kimia

a.

Potential of Hydrogen (pH)

Berdasarkan praktikum lapang Ekologi Perairan pengukuran pH, langkah

pertama adalah menyiapkan alat dan bahan. Adapun alat yang digunakan adalah

pH paper dan air sungai (air sampel). Sedangkan untuk bahan yang digunakan

yaitu air sampel. Selanjutnya pH paper dicelupkan ke dalam perairan selama 2-3

menit agar air benar-benar menyerap pada pH paper. Kemudian pH paper

diangkat dari perairan, lalu dikibas-kibaskan. Setelah itu warna yang ditunjukkan

pada pH paper lalu dicocokkan pada letak pH standar dan dicatat hasilnya.

b. Dissolved Oxygen (DO)

Berdasarkan praktikum lapang Ekologi Perairan pengukuran DO, langkah

pertama adalah menyiapkan alat dan bahan. Adapun alat yang digunakan adalah

buret, statif, corong, gelas ukur 25 ml, botol DO, washing bottle, pipet tetes.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah air sungai (air sampel), larutan MnSO 4

2 ml, NaOH+KI, H 2 SO 4 2 ml, amilum, Na 2 SO 3 0,025 N, kertas label, dan tisu.

32

Selanjutnya

dicatat

volume

botol

DO

yaitu

240

ml.

Kemudian

botol

DO

dimasukkan ke dalam perairan dengan kemiringan 45 0 dan ditutup dalam

perairan agar tidak terdapat gelembung. Kemudian tambahkan 2 ml MnSO 4 yang

berfungsi untuk mengikat oksigen di dalam air. Lalu tambahkan 2 ml NaOH+KI

untuk membentuk endapan coklat dan melepas I 2 , kemudian dihomogenkan dan

ditunggu hingga terbentuk endapan pada dasar botol. Lalu air pada lapisan atas

dibuang dan endapan coklat yang tersisa ditambahkan H 2 SO 4 2 ml untuk

melarutkan endapan coklat dan pengkondisian asam. Setelah itu ditambahkan 3

tetes amilum sebagai indikator warna ungu dan pengkondisian basa, kemudian

dititrasi dengan larutan Na 2 S 2 O 3 0,025 N menggunakan buret. Dicatat volume

awal larutan kemudian volume akhir lalu dihitung dengan rumus:

V titran x N titran x 8 x 1000 DO = V botol DO −
V titran x N titran x 8 x 1000
DO =
V botol DO − 4

Dimana:

DO

: Dissolved Oxygen (ppm)

V titran

N titran

: volume larutan titrasi

: konsentrasi larutan titrasi

8

: Ar O

1000

: konversi L ke mL

V

botol DO

: volume botol DO yang digunakan

c.

Carbon Dioxide (CO 2 )

Berdasarkan

praktikum

lapang

Ekologi

Perairan

pengukuran

CO 2 ,

langkah

pertama

adalah

menyiapkan

alat

dan

bahan.

Adapun

alat

yang

digunakan adalah erlenmeyer 100 ml, buret, statif, botol air mineral 600 ml, gelas

ukur 25 ml, pipet tetes, corong. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air

33

V titran x N titran x 22 x 1000 CO2 = V air sampel
V titran x N titran x 22 x 1000
CO2 =
V air sampel

sungai (air sampel), indikator PP, Na 2 CO 3 , kertas label, dan tisu. Selanjutnya

diukur

25

ml

air

sampel

dengan gelas

ukur.

Lalu

dimasukkan ke dalam

erlenmeyer 100 ml. Setelah itu ditambahkan 3 tetes indikator PP yang berfungsi

sebagai indikator warna pink dan pengkondisian basa. Lalu dilihat apakah terjadi

perubahan warna. Jika berwarna pink maka menandakan air tidak mengandung

CO 2 bebas, jika belum berwarna pink maka selanjutnya dititrasi dengan Na 2 CO 3

hingga berwarna pink pertama kali. Dicatat volume awal dan akhir larutan

titrannya dan dihitung dengan rumus:

Dimana:

CO 2

: Carbon Dioxide (ppm)

V titran

: volume larutan titrasi awal volume larutan titrasi akhir

N titran

: konsentrasi larutan titrasi yaitu 0,0454 N

22

: Mr CO 2

1000

: konversi L ke mL

V air sample

: volume sampel yang digunakan

34

d.

Total Organic Matter (TOM)

Berdasarkan praktikum lapang Ekologi Perairan materi pengukuran TOM,

langkah

pertama

adalah

menyiapkan

alat

dan

bahan.

Adapun

alat

yang

digunakan adalah erlenmeyer 100 ml, pipet tetes, buret, statif, thermometer Hg,

hot plate, pipet volume, bola hisap, gelas ukur, dan corong. Sedangkan bahan

yang digunakan adalah air sungai (air sampel), larutan KMnO 4 , H 2 SO 4 , Na-

oxalate, aquades, tisu, dan kertas label. Selanjutnya diukur 12,5 ml air sampel

pada gelas ukur dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan

42,4 KMnO 4 yang berfungsi sebagai oksidator dan mengikat bahan organik di air.

Lalu ditambahkan 2,5 ml H 2 SO 4 sebagai pengkondisian asam dan katalisator.

Kemudian dipanaskan 175 0 karena suhu tersebut merupakan kerja optimum

KMnO 4 . Setelah itu di dinginkan 65 0 C karena merupakan suhu optimal Na-

oxalate. Lalu ditambahkan Na-oxalate 0,01 N yang berfungsi sebagai reduktor

sampai tak berwarna. Kemudian dititrasi dengan KMnO 4 hingga berwarna pink

pertama kali. Dicatat V awal dan V akhir sebagai (x) dan dicatat V titran aquades

sebagai (y) lalu dihitung dengan rumus:

x − y x 31,6 x 0,01 x 1000 TOM = V air sampel
x − y x 31,6 x 0,01 x 1000
TOM =
V air sampel

Dimana:

TOM

: Total Organic Matter (ppm)

x

: volume larutan titrasi (sampel)

y

: volume larutan titrasi (aquades)

31,6

: Mr KMnO 4

0,01

: N dari Na-oxalate

1000

: konversi L ke mL

Ml air sampel : jumlah air sampel yang digunakan

35

e.

Amonia

Berdasarkan

praktikum

lapang

Ekologi

Perairan

materi

pengukuran

amonia, langkah awal adalah menyiapkan alat dan bahan. Adapun alat yang

digunakan adalah gelas ukur, corong, pipet tetes, tabung reaksi kecil, rak tabung

reaksi, washing botlle, spektroforometer, sedangkan bahan yang digunakan

adalah air sampel, larutan nessler, aquades, tisu, kertas saring, dan alumunium

foil. Mengambil air sampel sebanyak 25mL dengan gelas ukur. Lalu sampel

disaring

dengan

kertas

saring

dan

dimasukan

kedalam

breeder

glass,

ditambahkan 0,5mL larutan nessler yang berfungsi mengikat amonia dan sebagai

indikator warna. Kemudian air sampel di homogenkan dan di diamkan

10

menit.

Lalu

memasukan

air

bening

kedalam

tabung

reaksi

dan

tutup

menggunakan

alumunium

foil.

Menghitung

kadar

amonia

menggunakan

spektrofotometer dengan panjang gelombang 425nm dan nomor program 380.

Setelah itu memasukkan atau aquades sebagai pengkalibrasi lalu memasukkan

larutan sampel dan tekan enter. Tunggu hasil yang muncul pada layar dan ulangi

lagi untuk sampel kedua. Kemudian tekan power untuk mematikan.

f. Nitrat

Berdasarkan praktikum lapang Ekologi Perairan materi pengukuran nitrat,

langkah

awal

adalah

menyiapkan

alat

dan

bahan.

Alat

dan

bahan

yang

digunakan adalah hotplate, gelas ukur 25mL, cawan porsela, pipet tetes, tabung

reaksi,

rak

tabung

reaksi,

spatula,

washing

bottle,

dan

spektrofotometer.

Sedangkan bahan yang digunakan yaitu ais sampel, asam fenol disulfenik,

NH 4 OH, aquades, dan kertas saring. Selanjutnya 12,5mL sampel pada gelas

ukur dimasukkan kedalam cawan porselen dengan disaring terlebih dahulu

dengan

kertas

saring

agar

padatan

36

tersuspensi

tidak

ikut

masuk.

Lalu

dipanaskan

diatas

hotplate

hingga

membentuk

kerak

nitrat.

Kemudian

di

dinginkan

dan

ditimbanng

dengan

0,25mL

asam

fenol

disulfenik

untuk

melarutkan kerak nitrat dan dihomogenkan dengan spatula lalu di encerkan

dengan aquades 5mL dan ditambahkan NH 4 OH, hinga berwarna kuning yang

berfungsi untuk melarutkan lemak dan suplai ion H + . Kemudian ditambahkan

12,5 mL aquadesa dan dimasukan kedalam tabung reaksi kecil dan dihitung

dengan spetrofotometer yaitu hubungan dengan arus listrik. Lalu hitung panjang

gelombang nitrat 410 nm dengan nomor program 353, masukkan aquades 10mL.

Lalu tekan tombol “zero” sampai muncul 0,0. Kemudian ambil aquades dan

diganti dengan larutan nitrat dan tekan “enter”. Lalu catat hasil yang muncul pada

layar.

g.

Orthofosfat

Berdasarkan

praktikum

lapang

Ekologi

erairan

materi

perhitungan

orthofosfat,

langkah

awal

menyiapkan

alat

dan

bahan.

Adapun

alat

yang

digunakan adalah beaker glass 250mL, gelas ukur 50mL, erlenmeyer 250mL,

dan pipet tetes. Sedangkan bahan yang digunakan yakni air sampel, SnCl 2 ,

amonium, molybalate, kertas label, kertas saring, dan tisu. Selanjutnya diambil

12,3mL air sampel (perifiton dan benthos) lalu air sampel disaring menggunakan

kertas saring. Erlenmeyer digunakan untuk wadah kertas saringan. Setelah itu

dimasukkan SnCl 2 sebanyak 3 tetes dan dihomogenkan lagi. Lalu masukkan air

sampel ke dalam tabung reaksi kecil, lalu tutup tabung reaksi menggunakan

alumunium foil. Setelah itu dihitung dengan spektrofotometer dengan panjang

gelmbang

690nm.

Mekanisme

penggunaan

spektrofotometer

yaitu

pertama

hubungkan dengan arus listrik, lalu tekan tombol power, tunggu selama 15 detik

sampai muncul “method” dan ketik angka 490 lalu klik enter. Maka akan muncul

37

angka 690nm lalu di enter lagi dan buka spektrofotometer. Lap tabung reaksi

karena jika tidak di lap maka hasil spektrofotometer tidak valid. Setelah itu

masukkan tabung reaksi yang berisi sampel tersebut kedalam spetrofotometer

lalu tutup dan tekan enter. Catat hasil yang muncul di layar.

3.2.3 Parameter Biologi

a. Benthos

Langkah pertama dilakukan pengambilan sampel benthos yaitu jaring

dipegang dengan arah melawan arus. Lalu pada bagian dasar perairan diaduk

menggunakan kedua kaki secara bersamaan. Hal ini dilakukan bertujuan untuk

melepas organisme dari dasar perairan agar masuk ke dalam jaring. Kemudian

jala dibalik ke arah luar untuk memindahkan sampel. Lalu diberi alkohol 96%

untuk

mengawetkan.

Setelah

diawetkan

dilakukan

perhitungan

kelimpahan

benthos dengan cara, sampel benthos diamati secara langsung dengan bantuan

loop. Kemudian dilakukan pengamatan bentuk dan jenis benthos. Dicocokkan

dengan buku identifikasi benthos. Setelah itu dilakukan perhitungan kelimpahan

benthos dengan menggunakan rumus N=

b. Perifiton

, lalu diperoleh hasil dan dicatat.

Langkah pertama yang dilakukan adalah pengambilan sampel perifiton

dengan cara menandai dengan cutter pada permukaan substrat seluas 3x3 cm.

kemudian disikat / dikerik bagian permukaan yang ditandai. Lalu hasil kerikan

tersebut dimasukkan ke dalam botol film. Diberi aquades hingga botol film penuh.

Kemudian

diberi

lugol

untuk

mengawetkan.

Setelah

diawetkan

dilakukan

perhitungan

kelimpaahan

perifiton

dengan

cara,

sampel

perifiton

diambil

menggunakan pipet tetes. Lalu diteteskan pada objek glass sebanyak 1 tetes.

Lalu ditutup menggunakan cover glass dengan kemiringan 45 0 . Kemudian

38

diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 40x,

100x,

400x,

1000x.

dilakukan pengamatan dan dihitung jumlah perifiton pada tiap bidang pandang.

Lalu diidentifikasi menggunakan buku identifikasi prescott. Kemudian dihitung

kelimpahan

perifiton

dengan

menggunakan

diperoleh hasil dan dicatat.

39

rumus

N=

,

lalu

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Deskripsi Lingkungan Pengamatan

4.1.1

Stasiun Benthos

Deskripsi Lingkungan Pengamatan 4.1.1 Stasiun Benthos (Gambar 1. Stasiun Benthos) Saat melakukan praktikum lapang

(Gambar 1. Stasiun Benthos)

Saat

melakukan

praktikum

lapang

Ekologi

Perairan

aktivitas

yang

dilakukan di Bedengan Bumi Perkemahan Selorejo, adalah pengambilan sampel

benthos saat kondisi cuaca cerah. Lingkungan disekitar juga dapat dijumpai

hutan pinus dan sungai dengan aliran air yang deras, serta suasana yang sejuk.

Kondisi perairan di daerah tersebut baik, dimana perairan tersebut jernih dengan

aliran air yang baik. Hasil data

yang didapatkan pada stasiun benthos 6 suhu

adalah 20 0 C, dengan kecepatan arus

sebesar 1m/s. Sungai ini memiliki pH

sebesar 7-8 yang berarti perairan tersebut dalam kondisi baik, dengan nilai

oksigen terlarut 4,9 mg/L. Selain itu,nilai CO 2 19,8 ppm, dengan substrat dasar

batuan dan juga pasir.

40

4.1.2

Stasiun Perifiton

4.1.2 Stasiun Perifiton (Gambar 2. Stasiun Perifiton) Saat praktikum lapang Ekologi Perairan hal yang dilakukan di

(Gambar 2. Stasiun Perifiton)

Saat praktikum lapang Ekologi Perairan hal yang dilakukan di Bedengan

Bumi Perkemahan Selorejo, adalah melakukan pengambilan sampel benthos

saat kondisi cuaca sedang cerah. Lingkungan sekitar juga dapat dijumpai hutan

pinus dan sungai dengan aliran air yang deras, serta suasana yang sejuk.

Kondisi perairan di daerah tersebut baik, dimana perairan tersebut jernih dengan

aliran air yang baik. Data yang didapatkan pada stasiun perifiton 2 adalah suhu

sebesar 20 0 C, kecepatan arus sebesar 0,75m/s. Kisaran pH yang didapat

sebesar 7, yang menandakan perairan tersebut dalam kondisi yang baik. Kadar

oksigen terlarut sebesar 6,8 ppm, sedangkan kadar CO 2 yang didapat adalah

sebesar 19,8 ppm.

41

4.2

Analisis Hasil Pengamatan Tiap Parameter

4.2.1

Parameter Fisika

a.

Suhu

GRAFIK PARAMETER SUHU

22.5

22 21.5 21 20.5 20 19.5 19 Suhu (°C)
22
21.5
21
20.5
20
19.5
19
Suhu (°C)

18.5

18

17.5

1

2

3

4

5

6

BENTHOSGRAFIK PARAMETER SUHU 22.5 22 21.5 21 20.5 20 19.5 19 Suhu (°C) 18.5 18 17.5

PERIFITONGRAFIK PARAMETER SUHU 22.5 22 21.5 21 20.5 20 19.5 19 Suhu (°C) 18.5 18 17.5

Praktikum lapang Ekologi Perairan yang dilakukan di Sungai Bedengan

hal yang dilakukan adalah pengukuran suhu pada pos perifiton maupun pos

benthos. Hasil data yang didapatkan pada pos perifiton 1 yaitu 19 0 C, pos

perifiton 2 yaitu 20 0 C, pos perifiton 3 yaitu 19 0 C, pos perifiton 4 yaitu 19 0 C, pos

perifiton 5 yaitu 22 0 C, pos perifiton 6 yaitu 19 0 C. Sedangkan data hasil yang

didapatkan pada pos benthos 1 yaitu 20 0 C, pos benthos 2 yaitu 22 0 C, pos

benthos 3 yaitu 19 0 C, pos benthos 4 yaitu 19 0 C, pos benthos 5 yaitu 19 0 C, pos

benthos 6 yaitu 20 0 C. Suhu tertinggi terdapat pada pos perifiton 5. Perbedaan

suhu dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, vegetasi yang menutupi dan

waktu saat pengukuran dilakukan.

Menurut Mantaya, et al. (2016), suhu merupakan salah satu faktor yang

sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyerapan organisme.

Setiap Perubahan suhu cenderung mempengaruhi banyak proses kimiawi yang

terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga

42

mempengaruhi biota secara keseluruhan. Suhu berkisar antara 20 0 C - 32 0 C

merupakan kissaran suhu dimana ikan atau biota perairan yang lain dapat

melakukann metabolisme yang baik atau zat pengurai masih dapat bekerja

dengan maksimal.

Menurut Gulo, et al. (2015), limbah dapat meningkatkan suhu perairan

sehingga menurunkan kelarutan oksigen. Perbedaan suhu pada suatu perairan

dapat dipengaruhi oleh 4 faktor, yakni: (1) variasi jumlah panas yang diserap (2)

pengaruh konduksi panas (3) pertukaran tempat massa air secara lateral oleh

arus dan (4) pertukaran air secara vertikal. Kelarutan oksigen di dalam air sangat

dipengaruhi terutama oleh faktor suhu. Konsentrasi menurun sejalan dengan

meningkatnya suhu air.

Faktor yang sangat penting dalam pengaturan proses kehidupan dan

penyerapan organisme salah satunya adalah suhu. Suhu merupakan derajat

panas

dan

dinginnya

suatu

benda.

Setiap

perubahan

suhu

cenderung

mempengaruhi

banyak

proses

kimiawi.

Limbah

dapat

meningkatkan

suhu

perairan sehingga menurunkan kelarutan oksigen. Kisaran suhu dimana ikan

atau biota perairan yang lain dapat melakukan metabolisme yang baik dan zat

pengurai masih dapat bekerja dengan maksimal berkisar antara 20 0 C - 32 0 .

43

b. Kecepatan Arus

GRAFIK PARAMETER KECEPATAN ARUS 1.4 1.2 1 0.8 BENTHOS 0.6 PERIFITON 0.4 0.2 0 1
GRAFIK PARAMETER KECEPATAN
ARUS
1.4
1.2
1
0.8
BENTHOS
0.6
PERIFITON
0.4
0.2
0
1
2
3
4
5
6
Kecepatan Arus (m/s)

Hasil data dari praktikum lapang Ekologi Perairan berdasarkan hal yang

dilakukan di Sungai Bedengan dilakukan pengukuran arus pada pos perifiton

maupun pos benthos. Data hasil yang didapatkan pada pos perifiton 1 yaitu

1,25m/s, pos perifiton 2 yaitu 0,75m/s, pos perifiton 3 yaitu 1,1m/s, pos perifiton 4

yaitu 0,65 m/s,

pos perifiton 5

yaitu 0,7m/s, pos perifiton 6

yaitu

0,6m/s.

Sedangkan data hasil yang didapatkan pada pos benthos 1 yaitu 0,83m/s, pos

benthos 2 yaitu 0,13m/s, pos benthos 3 yaitu 0,38m/s, pos benthos 4 yaitu

0,45m/s, pos benthos 5 sebesar 1m/s, pos benthos 6 sebesar 1m/s. Kecepatan

arus tertinggi terdapat pada pos dan terendah terdapat pada pos. Perbedaan

kecepatan arus ini dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain topografi,

kemiringan, dan kelandaian.

Menurut Fisesa, et al. (2014), perairan dikategorikan dalam perairan yang

berarus sangat deras jika kecepatan arus >1 m/detik, berarus deras yaitu 0,5 - 1

m/detik, berarus sedang yaitu 0,25 - 0,5 m/detik, berarus lambat 0,1 - 0,5 m/detik,

dan berarus sangat lambat yaitu 0,1 - 0,25 m/detik. Pengendapan partikel lumpur

di dasar perairan tergantung pada kecepatan arus, apabila arus lemah maka

44

yang akan mengendap adalah lumpur halus. Pergerakan air yang lambat

menyebabkan

partikel-partikel

halus

mengendap,

detritus

melimpah

dan

kandungan bahan organik tinggi.

 

Menurut

Wahyuni

dan

Zakaria

(2018),

kecepatan

arus

pada

suatu

perairan sangat memberikan dampak yang signifikan terhadap pola distribusi,

komposisi

dan

juga

tingkah

laku

ikan

dimana

kecepatan

arus

juga

akan

berdampak pada faktor abiotik yang lainnya. Arus perairan merupakan gerakan

suatu masa air yang sangat penting bagi kehidupan akuatik. Arus mempunyai

peranan dalam menyediakan atau transportasi zat hara, plankton, telur ikan dan

larva ikan serta biota lainnya untuk berpindah dari satu tempat ketempat lain.

Arus perairan merupakan gerakan suatu masa air yang sangat penting

bagi kehidupan akuatik. Pergerakan arus yang lambat menyebabkan partikel-

partikel halus mengendap, detritus melimpah dan kandungan bahan organik

tinggi. Peranan arus dalam kehidupan akuatik diantaranya untuk transportasi zat

hara, plankton, telur ikan dan larva ikan serta biota lainnya untuk berpindah dari

satu tempat ketempat lain. Dampak yang signifikan dapat terjadi pada pola

distribusi,

komposisi

dan

juga

tingkah

laku

ikan

akibat

kecepatan

arus.

Kecepatan arus juga akan berdampak pada faktor abiotik yang lainnya.

45

4.2.2

Parameter Kimia

a. Potential of Hydrogen (pH)

GRAFIK PARAMETER pH 8.2 8 7.8 7.6 7.4 BENTHOS 7.2 PERIFITON 7 6.8 6.6 6.4
GRAFIK PARAMETER pH
8.2
8
7.8
7.6
7.4
BENTHOS
7.2
PERIFITON
7
6.8
6.6
6.4
1
2
3
4
5
6
Potential of Hydrogen

Praktikum lapang Ekologi Perairan hal yang dilakukan saat di Sungai

Bedengan dilakukan pengukuran pH pada pos perifiton maupun pos benthos.

Hasil data yang didapatkan pada pos perifiton I sebesar 7-8, pos perifiton II

sebesar 7, pos perifiton III sebesar 7-8, pos perifiton IV sebesar 7-8, pos perifiton

V sebesar 7-8 dan pos perifiton VI sebesar 7-8. Sedangkan data hasil yang

didapatkan pada pos benthos I sebesar 8, pos benthos II sebesar 7-8, pos

benthos III sebesar 8, pos benthos IV sebesar 7-8, pos benthos V sebesar 7 dan

pos benthos VI sebesar 7-8. Rata-rata hasil yang didapat berkisar antara 7-8 hal

ini dikarenakan perairan yang diukur sama jadi hasilnya pun akan mendekati

sama. Berdasarkan gambar grafik diatas dapat disimpulkan bahwa kadar pH

pada perairan Bedengan bisa dikatakan optimal.

Menurut Gulo, et al. (2015), aktivitas manusia di sepanjang perairan

dapat memberikan dampak buruk terhadap perairan tersebut yang ditandai

dengan masuknya sejumlah beban pecemar ke dalam lingkungan perairan yang

mengganggu ekosistem. Limbah yang dibuang ke sungai mempengaruhi kualitas

46

air serta fungsi dan struktur ekosistem sungai. Limbah atau sampah seperti

buangan detergen mengandung senyawa kimia yang dapat meningkatkan nilai

pH. Perubahan pH bisa dipengaruhi oleh adanya buangan senyawa-senyawa

yang masuk kedalam lingkungan perairan. Kisaran pH yang dapat menopang

kehidupan organisme perairan adalah 6.50 - 8.50.

Menurut Pratiwi, et al. (2018), Rendahnya pH sungai dapat disebabkan

oleh masukan bahan organik yang berasal dari aktivitas masyarakat sekitar,

seperti limbah perkebunan, pertanian, hingga limbah rumah tangga. Perubahan

pH bisa dipengaruhi oleh adanya buangan senyawa-senyawa yang masuk

kedalam lingkungan perairan. PH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan

karena

mempengaruhi

kehidupan

organisme.

Pada

pH

rendah

kandungan

oksigen terlarut akan berkurang, dan mengakibatkan konsumsi oksigen menurun.

Kebanyakan perairan alami memiliki pH berkisar antara 6-9. Sebagian besar

biota perairan sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7

8,5.

Potential of Hydrogen (pH) merupakan salah satu parameter penting

dalam suatu ekologi perairan untuk mengetahui kualitas baik buruknya suatu

perairan. Kisaran pH yang dapat menopang kehidupan organisme perairan

adalah 6.50 - 8.50. Aktivitas manusia yang dilakukan

di sepanjang perairan

dapat memberikan dampak buruk terhadap perairan tersebut. Hal ini ditandai

dengan masuknya sejumlah beban pecemar ke dalam lingkungan perairan yang

mengganggu ekosistem. Kebanyakan perairan alami memiliki pH berkisar antara

6-9.

47

b. Dissolved Oxygen (DO)

GRAFIK PARAMETER DO 25 20 15 BENTHOS 10 PERIFITON 5 0 1 2 3 4
GRAFIK PARAMETER DO
25
20
15
BENTHOS
10
PERIFITON
5
0
1
2
3
4
5
6
Dissolved Oxygen (mg/L)

Praktikum Ekologi Perairan di labolatorium ekologi perairan dilakukan uji

kandungan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) didapatkan hasil data dari 6 pos.

Pada pos benthos 1 didapatkan hasil sebesar 9,3 mg/L, benthos 2 sebesar 4,31

mg/L, benthos 3 sebesar 7,49 mg/L, benthos 4 sebesar 7,13 mg/L, benthos 5

sebesar 5,54 mg/L, benthos 6 sebesar 4,903 mg/L. Pada pos perifiton 1

didapatkan hasil sebesar 6,83 mg/L, perifiton 2 sebesar 6,8 mg/L, perifiton 3

sebesar 21,84 mg/L, perifiton 4 sebesar 7,34 mg/L, perifiton 5 sebesar 10,15

mg/L, perifiton 6 sebesar 4,59 mg/L. Nilai DO yang terbesar didapatkan pada

stasiun perifiton 3. Nilai DO yang terkecil didapatkan pada stasiun benthos 2.

Menurut Mahyudin, et al. (2015), suatu perairan dapat dikatakan baik dan

mempunyai tingkat pencemaran yang rendah jika kadar oksigen terlarutnya (DO)

lebih besar dari 5 mg/L , sedangkan konsentrasi oksigen terlarut (DO) pada

perairan yang masih alami memiliki nilai DO kurang dari 10 mg/L. Konsentrasi

oksigen terlarut minimal untuk kehidupan biota tidak boleh kurang dari 6 mg/L.

Sedangkan baku mutu air kelas II untuk parameter DO yaitu 4 mg/L.

48

Menurut Vandra, et al. (2016), untuk mengetahui kualitas air dalam suatu

perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia seperti

oksigen terlarut (DO). Oksigen terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam

proses penyerapan makanan oleh makhluk hidup dalam air. Semakin banyak

jumlah DO maka kualitas air semakin baik, jika kadar oksigen terlarut terlalu

rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik

yang mungkin saja terjadi.

Dissolved

Oxygen

(DO)

merupakan

salahsatu

baku

mutu

air

yang

dijadikan parameter kualitas perairan. Kualitas air dalam suatu perairan, dapat

diketahui dengan melakukan pengamatan beberapa parameter kimia seperti

oksigen terlarut (DO). Oksigen terlarut di suatu perairan sangat berperan dalam

proses penyerapan makanan oleh makhluk hidup dalam air. Suatu perairan

dapat dikatakan baik dan mempunyai tingkat pencemaran yang rendah jika kadar

oksigen terlarutnya (DO) lebih besar dari 5 mg/l. Kadar oksigen terlarut terlalu

rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap di perairan akibat degradasi

anaerobik.

c. Carbon Dioxide (CO 2 )

GRAFIK PARAMETER CO2

45

40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 5 6
40
35
30
25
20
15
10
5
0
1
2
3
4
5
6
Carbon Dioxide (mg/L)

BENTHOSGRAFIK PARAMETER CO2 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3

PERIFITONGRAFIK PARAMETER CO2 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3

49

Praktikum

lapang

Ekologi

Perairan

materi

pengukuran

kandungan

Karbondioksida (CO 2 ) didapat hasil data dari 6 pos. Untuk pos benthos 1

didapatkan hasil sebesar 11,98 mg/L, benthos 2 sebesar 19,08 mg/L, benthos 3

sebesar 19,976 mg/L, benthos 4 sebesar 39,952 mg/L, benthos 5 sebesar 27,96

mg/L, benthos 6 sebesar 19,8 mg/L. Pada pos perifiton 1 didapatkan hasil

sebesar 39,6 mg/L, perifiton 2 sebesar 19,8 mg/L, perifiton 3 sebesar 15,9808

mg/L, perifiton 4 sebesar 0 mg/L, perifiton 5 sebesar 19,9 mg/L, perifiton 6

sebesar 39,952 mg/L. Nilai CO 2 yang tertinggi terdapat pada stasiun perifiton 6.

Nilai CO 2 yang terendah terdapat pada stasiun benthos 1.

Menurut Raharjo, et al. (2016), karbondioksida baik dalam bentuk CO 2

bebas maupun sebagai karbonat dan bikarbonat terdapat dalam air terutama

dihasilkan oleh proses pernapasan organisme dan penguraian bahan organik

dalam perairan. Daya toleransi organisme terhadap CO 2 bebas dalam air

bermacam-macam tergantung jenisnya tapi pada umumnya bila lebih dari 15

ppm

dapat

memberikan

pengaruh

yang

merugikan.

Tingginya

nilai

CO 2

diperairan merupakan hasil proses difusi CO 2 dari udara dan hasil proses

respirasi organisme akuatik. Selain itu, CO 2 di perairan juga dihasilkan dari

penguraian bahan-bahan organik oleh bakteri. Kadar karbondioksida bebas di

perairan berkaitan erat dengan bahan organik dan kadar oksigen terlarut.

Peningkatan

kadar

CO 2

diikuti

oleh

penurunan

kadar

oksigen

terlarut.

Karbondioksida akan mempengaruhi proses pernafasan organisme perairan

terutama pada kondisi DO <2 mg/L.

Menurut Fajri dan Kasry (2013), kandungan karbondioksida yang terdapat

di dalam perairan merupakan hasil proses difusi karbondioksida dari udara dan

proses respirasi organisme akuatik. Sedangkan karbondioksida di dasar perairan

50

juga dihasilkan dari proses dekomposisi. Kandungan karbondioksida bebas di

perairan tidak boleh > 12 mg/L dan tidak boleh < 2 mg/L.

Karbondioksida

dalam

suatu

perairan

merupakan

hasil

dari

proses

pernapasan organisme dan penguraian bahan organik dalam perairan, senyawa

ini terdiri dari satu atom C dan dua atom O. Pada umumnya bila senyawa ini

lebih

dari

15

ppm

dapat

memberikan

pengaruh

yang

merugikan.

Kadar

karbondioksida bebas di perairan berkaitan erat dengan bahan organik dan kadar

oksigen terlarut. Peningkatan kadar CO 2 diikuti oleh penurunan kadar oksigen

terlarut. Kandungan karbondioksida bebas di perairan tidak boleh > 12 mg/l dan

tidak

boleh

<

2

mg/l

apabila

kondisi

DO

<2

mg/l

karbondioksida

akan

mempengaruhi proses pernafasan organisme perairan.

d. Total Organic Matter (TOM)

GRAFIK PARAMETER TOM

180

160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6
160
140
120
100
80
60
40
20
0
1
2
3
4
5
6
Total Organic Matter (mg/L)

BENTHOSGRAFIK PARAMETER TOM 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3

PERIFITONGRAFIK PARAMETER TOM 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 1 2 3

Praktikum lapang Ekologi Perairan materi pengukuran Total Organic

Matter (TOM) didapat data hasil dari 6 pos. Pada pos benthos 1 didapatkan hasil

sebesar 5,056 mg/L, benthos 2 sebesar 63,2 mg/L, benthos 3 sebesar 17,696

mg/L, benthos 4 sebesar 12,64 mg/L, benthos 5 sebesar 45,5 mg/L, benthos 6

sebesar 20,224 mg/L. Pada pos perifiton 1 didapatkan hasil sebesar 55,616

51

mg/L, perifiton 2 sebesar 15,2 mg/L, perifiton 3 sebesar 27,808 mg/L, perifiton 4

sebesar 80,896 mg/L, perifiton 5 sebesar 125,28 mg/L, perifiton 6 sebesar

162,95 mg/L. Pada bentos nilai TOM tertinggi ada pada bentos 5 sebesar 45,5

mg/L dan terendah pada bentos 1 yaitu 5,056 mg/L. Sedangkan pada perifiton

nilai tertinggi ada pada perifiton 6 dengan hasil hasil sebesar 162,95 mg/L dan

nilai terendah TOM pada perifiiton 2 dengan nilai 15,2 mg/L.

Menurut Nugroho, et al. (2014), nilai bahan organik total perairan yang

ideal untuk budidaya adalah berkisar antara 20-30 mg/L. Jika lebih dari itu bisa

dikatakan perairan tersebut tercemar berat. Konsentrasi bahan organik baik

perairan juga dapat berubah secara cepat yang dipengaruhi oleh ledakan alga,

pemangsaan zooplankton, badai dan masukan air tawar.

Menurut Marwan, et al. (2015), ketersediaan unsur hara di dalam perairan

menjadi indikator kesuburan perairan tersebut. Dalam hal ini, unsur zat hara yang

dilihat adalah kandungan bahan organik total di perairan sungai. Zat hara

tersebut sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup organisme

didalamnya. Zat Hara merupakan zat-zat yang diperlukan dan mempunyai

pengaruh terhadap proses dan perkembangan hidup organisme. Zat hara ini juga

berperan penting dalam sel jaringan jasad hidup organisme serta dalam proses

fotosintesis. Bahan-bahan organik total secara alamiah berasal dari perairan itu

sendiri melalui proses- proses penguraian pelapukan ataupun dekomposisi

tumbuh-tumbuhan, sisa-sisa organisme mati dan buangan limbah baik limbah

daratan seperti domestik, industri, pertanian, limbah peternakan, ataupun sisa

pakan yang dengan adanya bakteri terurai menjadi zat hara.

Total Organic Matter (TOM) merupakan kumpulan bahan organik yang

sedang atau belum mengalami proses dekomposisi. Kisaran TOM yang baik

52

pada perairan yaitu 50-75 ppm. Beberapa manfaat TOM sebagai sumber

makanan, indikator kesuburan perairan, serta menjadi sumber bahan keperluan

bakteri. Ketersediaan unsur hara dalam perairan menjadi indikator kesuburan

perairan. Dalam hal ini, unsur zat hara yang dilihat adalah kandungan bahan

organik total di perairan sungai.

53

e.

Amonia

GRAFIK PARAMETER AMONIA

1.6

1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1 2 3 4 5 6 Amonia
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
1
2
3
4
5
6
Amonia (mg/L)

BENTHOSGRAFIK PARAMETER AMONIA 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1 2 3 4

PERIFITONGRAFIK PARAMETER AMONIA 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 1 2 3 4

Praktikum lapang Ekologi Perairan materi pengukuran kandungan amonia

didapatkan hasil data dari 6 pos. Pada pos benthos 1 didapatkan hasil sebesar

1,44 mg/L, benthos 2 sebesar 0,81 mg/L,