Anda di halaman 1dari 5

D.

Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Kultur Biji Jeruk Nipis
No Pertumbuhan Eksplan Keterangan
0 HST 21 HST Biji terkontaminasi
oleh jamur

Gambar 2.1 Gambar 2.2 Eksplan
Eksplan umur 0 HST umur 21 HST

2. Pembahasan
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman
secara vegetatif. Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman
dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta
menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik
yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan
bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Menurut Hendaryono (2009)
banyak sekali permasalahan yang dapat diteliti untuk menghasilkan bibit
secara in vitro, yaitu mulai dari cara budidayanya, eksplan yang digunakan
sampai dengan macam enzim yang digunakan untuk fusi protoplas.
Eksplan adalah bahan tanaman yang dipakai untuk perbanyakan tanaman
dengan sistem kultur jaringan, misalnya jaringan meristem tunas atau daun
muda, kepalasari atau tepungsari, putik lembaga (endosperm) atau embrio,
kotiledon atau hipokotil. Kultur biji merupakan kultur yang bahan
tanamnya (eksplan) menggunakan biji (seedling).
Menurut Sari (2010), sumber dan umur eksplan merupakan faktor
yang sangat penting dalam keberhasilan kultur biji. Biji anggur sebelum
digunakan dicuci menggunakan sabun terlebih dahulu sampai bersih, lalu
bilas denan aquadest. Pada saat di Laminar Air Flow (LAF) biji anggur
dibilas kembali dengan aquadest setelah itu direndam dengan larutan
chlorox 100% selama 1 menit. Setelah direndam biji dapat dikulturkan
pada media kultur.
Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Berbagai komposisi media
kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman yang dikulturkan. Media yang digunakan pada
percobaan kultur biji anggrek yaitu media Murashige dan Skoog (MS).
Menurut Lestari (2013), faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan
kultur biji adalah komposisi media (adanya vitamin,gula, dan zat pengatur
tumbuh) dan stimulus fisik (cahaya, pH, dan suhu).
Untuk meningkatkan daya regenerasi dari eksplan diperlikan
penambahan zat pengatur tumbuh dalam media tanam. Menurut Triningsih
(2013), dalam kultur jaringan, dua golongan zat pengatur tumbuh yang
sangat penting adalah sitokinin dan auksin. Sitokinin (BAP) berfungsi
sebagai perangsang pertumbuhan tunas, berpengaruh terhadap
metabolisme sel, pembelahan sel, merangsang sel, mendorong
pembentukan buah dan biji, mengurangi dormansi apikal, serta mendorong
inisiasi tunas lateral
Berdasarkan percobaan kultur biji jeruk nipis sampai pengamatan
terakhir tidak mengalami perkembangan secara cepat. Pada minggu
pertama eksplan tidak menunjukkan perkembangan sama sekali. Jamur
tersebut berwarna hitam pekat. Akan tetapi hanya satu eksplan saja yg
terkontaminasi.
Kontaminasi oleh mikroba merupakan salah satu masalah serius
dalam kultur in vitro tanaman). Kontaminasi tersebut merupakan penyebab
utama hilangnya kultur tanaman. Proses kultur jaringan membutuhkan
kondisi yang steril. Kalau kondisi terkontaminasi, kultur akan mati atau
rusak. Menurut Kristina (2017), komponen paling rentan terhadap
kontaminasi mikroorganisme adalah media tumbuh dan eksplan, media
kultur jaringan merupakan media yang sangat mendukung bagi
pertumbuhan jamur dan bakteri. Mikrooganisme akan tumbuh dengan
cepat dan akan menutupi permukaan media dan eksplan yang ditanam. Di
samping itu, mikrooganisme akan menyerang eksplan melalui luka-luka
akibat pemotongan dan penanganan waktu sterilisasi sehingga
mengakibatkan jaringan eksplan. Eksplan yang terkontaminasi akan
menunjukkan gejala berwarna putih, biru atau krem yang disebabkan
jamur dan bakteri.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Praktikum Kultur Jaringan Acara II Kultur Biji dapat disimpulkan,
bahwa:
a. Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta
menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara
aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah
tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat
memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
b. Kultur biji merupakan kultur yang bahan tanamnya (eksplan)
menggunakan biji (seedling).
c. Media yang digunakan pada percobaan kultur biji jeruk nipis yaitu
media Murashige dan Skoog (MS). Media Murashige dan Skoog (MS)
dapat digunakan hampir semua jenis kultur.
d. Eksplan tidak menunjukkan perkembangan tumbuhnya tunas, tetapi
terkontaminasi oleh jamur dan berwarna hitam pekat pada bijinya.
2. Saran
Praktikum Kultur Jaringan Acara II Kultur Biji disarankan, agar:
a. Praktikan lebih memperhatikan kebersihan diri agar tidak ada
mikroorganisme yang dibawa masuk ke Laminar Air Flow (LAF).
b. Lebih teliti pada saat mencuci eksplan yang akan digunakan.
c. Praktikan lebih teliti dan hati-hati pada saat penanaman eksplan
sehingga media tidak mengalami kerusakan.
d. Praktikan mengikuti praktikum sesuai dengan perintah co-ass dan lebih
memperhatikan co-ass.
DAFTAR PUSTAKA

Hendaryono. 2009. Teknik Kulur Jaringan. Yogyakarta : Kanisius


Kristina M. 2017. Deskrimsi jenis – jenis kontaminan dari kultur kalus
Catharanthus roseus. J Mipa Unsrat Online. 6(1): 47-52.
Lestari E. 2013. Pengaruh konsentrasi ZPT 2,4-d dan BAP terhadap pertubuhan
dan perkembangan biji Dendrobium laxiflorum J.J Smith secara in vitro. J
Sains dan Semi Pomits. 2(1) :43-47.
Sari M. 2010. Pengaruh umur eksplan terhadap keberhasilan pembentukan kalus
embriogenik pada kultur meristem jahe ( Zingiber offcinale Rosc). J Littri.
16(1): 37-42
Triningsih. 2013. Pertumbuhan eksplan puar tenangau (Elettariopsis sp.) secara in
vitro. J Online Agroteknologi. 1(2): 275-281.