Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Kasus

Pada 1999, Bekasi juga pernah memprotes pengelolalan sampah yang dilakukan Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang. Terutama mengenai
dampaknya terhadap lingkungan yang ditimbulkan oleh pembuangan tersebut.

Konflik bahkan sempat berujung pada penutupan TPA Bantargebang yang dilakukan
Pemerintah Kota Bekasi pada 10 Desember 2001. Penutupan ini mengakibatkan ratusan ribu
meter kubik sampah tak terangkut dari Jakarta. Dalam bukunya yang berjudul 'Konflik Sampah
Kota', Ali Anwar menulis bahwa penutupan tersebut mengakibatkan sampah tak bisa diangkut
keluar dari Ibu Kota.

Padahal, saat itu sampah yang harus dibuang dari Jakarta mencapai 25.600 meter kubik per
hari, atau setara 6.000 ton. Hal ini mengakibatkan sampah menggunung di di berbagai sudut Ibu
Kota. Air lindi mengalir, menyebarkan bau tak sedap di mana-mana, baik di permukiman,
bahkan di jalan-jalan protokol Kota Jakarta.

Penutupan itu dilakukan lantaran tuntutan Bekasi agar Jakarta memperbaiki manajemen
persampahan, tak ditanggapi Jakarta. Bekasi juga menuntut untuk mengambil alih 50 persen
lahan TPA Bantargebang. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bekasi sampai membentuk
Tim Evaluasi TPA Bantargebang untuk mengevaluasi TPA tersebut.

Sebulan sebelum TPA Bantargebang ditutup, tim sempat berkunjung ke Kota Surabaya pada
6-8 November 2001. Kunjungan dilakukan untuk melihat langsung dampak yang ditimbulkan
dari penutupan TPA Sampah Keputih. Penutupan itu rupanya berakibat fatal bagi Surabaya.
Sekitar 172 ribu meter kubik sampah menggunung di jalan-jalan Kota Pahlawan. Jumlah itu dari
perhitungan 8.600 meter kubik sampah yang tak bisa dibuang selama 20 hari.
Disebutkan dalam buku pertama yang menulis soal sampah kota itu, bahwa untuk
menyingkirkan sampah di Surabaya tersebut dibutuhkan waktu 127 hari menggunakan 150 truk
yang bekerja tiga rit setiap hari.

Kunjungan tim itu dilakukan meskipun sistem persampahan di TPA Keputih berbeda dengan
Bantargebang. Keputih menggunakan sistem open dumping, sedangkan Bantargebang dengan
sistem sanitary landfill.

"Rupanya bukan sistemnya yang menjadi sorotan, melainkan dampak yang ditimbulkan
akibat penutupan TPA Keputih," tulis Ali Anwar, yang juga dikenal sebagai sejarawan Bekasi,
dalam buku terbitan Februari 2003 tersebut.

Nah, sekembalinya dari kunjungan ke Surabaya, pada 11 November, Ketua Tim Evaluasi
DPRD Bekasi Hasnul Kholid Pasaribu meminta Jakarta bercermin pada kejadian di Surabaya.
Tidak ada gelagat Pemerintah Provinsi DKI mau menyelesaikan masalah itu. DPRD juga berang
lantaran Wali Kota Bekasi Nonon Sonthanie diam-diam menemui Sutiyoso untuk kompromi
dengan Gubernur DKI Jakarta itu.

Akhirnya pada 14 November 2001, Panitia Khusus DPRD Bekasi memutuskan agar TPA
Bantargebang ditutup total. Rekomendasi ini diberikan kepada Pemkot Bekasi. Mendengar
demikian, Sutiyoso mengancam akan menggugat Pemkot Bekasi jika TPA Bantargebang ditutup.
Ia menyebut Pemprov DKI sudah berbuat banyak sebagai kompensasi keberadaan TPA tersebut.
Antara lain, membangun jaringan jalan senilai Rp 40 miliar, puskesmas, ambulans, hingga
insentif Rp 2,5 miliar.

Menyusul ancaman Sutiyoso, ratusan warga Desa Sumur Batu, Bantargebang, melakukan
pembakaran sebuah truk sampah DKI Jakarta. Peristiwa itu bermula ketika truk sampah Dinas
Kebersihan DKI bernomor B-9443-JQ yang seharusnya membuang sampah dalam lokasi TPA
dengan sistem sanitary landfill, ternyata membuang sampah di tepi jalan arah TPA. Aksi itu
membuat warga kesal.

Atas permintaan DPRD, Pemkot Bekasi akhirnya menyatakan menutup total TPA tersebut.
Namun hari pertama penutupan TPA Bantargebang berlangsung panas dan berbuntut kerusuhan
antara warga yang mendukung penutupan TPA dengan para pemulung yang menolak penutupan.
Sebanyak 14 kendaraan Dinas Kebersihan DKI Jakarta diamuk massa di Bantargebang, dua di
antaranya dibakar. Kantor TPA juga dibakar.

Namun, konflik sampah pada 2001 itu akhirnya bisa selesai setelah pemerintah pusat turun
tangan. Dengan difasilitasi Kementerian Dalam Negeri (dulu masih departemen), Pemerintah
Provinsi DKI dan Pemkot Bekasi kembali berunding. Sutiyoso juga mengadakan pertemuan
dengan Pemkot dan DPRD Bekasi. TPA Bantargebang pun dibuka kembali pada 15 Desember
2001. Penutupan selama lima hari itu menimbulkan dampak yang luar biasa bagi Ibu Kota.

Kisruh di Era Ahok

Berselang 14 tahun kemudian, kisruh sampah antara DKI dan Bekasi kembali bergulir. Kali
ini DPRD Bekasi menyampaikan permasalahan yang nyaris sama dengan kasus terdahulu.
Mereka menyampaikan keberatannya soal rute truk, jam kerja dan lainnya.

"Ini komplain DPRD Bekasi karena Jakarta melewati batas waktu pengiriman yang tidak
sesuai. Yang kedua, melewati rute yang tidak ditentukan. Ketiga, yang paling parah mobil
truknya sudah rusak semua, jadi air sampahnya berantakan di jalan, bikin bau. Keempat, fasilitas
sarana dan prasarana di Bantargebang belum dipenuhi sesuai dengan peranjian antara Jakarta dan
Bekasi," ujar Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta M Sanusi.

Massa juga ikut turun tangan. Mereka yang tampil dengan seragam loreng hitam itu
mencegah truk sampah asal Jakarta melintas menuju Bantargebang yang telah beralih nama dari
TPA menjadi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Siang tadi,
satu unit truk mencoba melintas dan terpaksa memutar arah karena pendemo mengadang dan
meminta truk tersebut kembali ke Jakarta.

Massa aksi yang didominasi pria berseragam loreng hitam itu berkumpul di posko simpang
Cileungsi menuju Bantargebang. Mereka memasang spanduk besar di dekat lokasi aksi.

Belum jelas, bagaimana penyelesaian dari kisruh terakhir ini. Namun yang pasti, Gubernur
DKI Basuki Tjahaja Purnama sudah mengajak pihak Bekasi untuk duduk bersama.
"Bekasi buang sampah ke Bantargebang bayar enggak sama kita? Enggak. Jadi ya sudah gitu
loh kita mesti duduk bareng. Ini jelas ada sebuah tanda kutip kenapa incinerator terus
dipermasalahkan, sampah nambah banyak. Kita lagi mau atasi bersama," terangnya.

Bantargebang saat ini

Pemandangan berbeda terlihat dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)


Bantargebang. Kesan TPST Bantargebang sebagai tempat penampungan sampah dengan bau
yang sangat menyengat sudah hilang. Kompas.com yang menyambangi TPST Bantargebang,
Jumat (10/11/2017), langsung disambut oleh hijaunya pohon-pohon serta warna warni taman
bunga setelah memasuki gerbang depan. Kompas.com/Setyo Adi Wajah baru TPST
Bantargebang setelah swakelola kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta tahun lalu. Tidak ada
lagi sampah berserakan yang masuk ke area jalan. Citra TPST Bantargebang yang panas dan
gersang langsung hilang melihat kondisi ini. Meski demikian, tumpukan sampah masih terlihat di
pandangan mata. Baca juga : Pemprov DKI Akan Jadikan TPST Bantargebang Kawasan yang
Hijau dan Sehat Piramida sampah Ada yang terlihat menarik dari tumpukan sampah di TPST
Bantargebang. Di beberapa zona pengolahan sampah, terlihat gunungan sampah lebih rapi
dengan bentuk piramida.

Tempat pengelolaan sampah tersebut mencoba beberapa perubahan setelah swakelola oleh
pemprov DKI Jakarta, September 2016 lalu. Pembangunan ruang terbuka hijau salah satunya
membantu merubah wajah TPST Selain kerapian, piramida ini bertujuan meminimalkan potensi
longsor yang membahayakan para pekerja lepas di TPST Bantargebang. Bentuk piramida juga
sebagai proses pemasangan geomembran yang berguna untuk pembangkit listrik. Menyusuri
PTSP Bantargebang Advertisment Berjalan lebih jauh ke dalam, pekerja lepas TPST
Bantargebang membuat ruang terbuka hijau berupa taman dengan beragam jenis tumbuhan.
Jenisnya mencakup pohon pepaya, mangga, jambu, serta umbi-umbian. Di tengah taman juga
terlihat beberapa pekerja lepas TPST Bantargebang yang tengah menebar berbagai jenis bibit
ikan di sebuah kolam.

Ada larangan (warga) memancing juga, biasanya warga sekitar iseng mancing di sini, buang
sampah sembarangan, itu kami larang. Jadi biar kolam sama kebunnya menghasilkan dulu," ucap
salah satu pekerja lepas ruang hijau TPST Bantargebang Efendi. Kompas.com/Setyo Adi Wajah
baru TPST Bantargebang, Jumat (10/11/2017). Tempat pengelolaan sampah tersebut mencoba
beberapa perubahan setelah swakelola oleh pemprov DKI Jakarta, September 2016 lalu.
Pembangunan ruang terbuka hijau salah satunya membantu merubah wajah TPST Berjalan lebih
jauh ke dalam, tepatnya di area kompos, diperlihatkan proses pembuatan pupuk organik dari
sampah-sampah basah pasar di sekitar DKI Jakarta. Pupuk ini digunakan untuk perawatan area
ruang terbuka hijau.

Tempat pengelolaan sampah tersebut mencoba beberapa perubahan setelah swakelola oleh
pemprov DKI Jakarta, September 2016 lalu. Pembangunan ruang terbuka hijau salah satunya
membantu merubah wajah TPST Salah satu yang berbeda dari kunjungan Kompas.com ke TPST
Bantargebang yang menampung 18 juta meter kubik sampah ini adalah bau. Beberapa tahun lalu,
bau sampah kerap sudah tercium sejak dari Jalan Raya Narogong yang berjarak 1,8 km. Namun
bau tersebut sekarang hilang. Meski bau masih terasa jika berada di dekat area sampah. Tempat
pengelolaan sampah tersebut mencoba beberapa perubahan setelah swakelola oleh pemprov DKI
Jakarta, September 2016 lalu. Pembangunan ruang terbuka hijau salah satunya membantu
merubah wajah TPST Pemandangan terkini TPST Bantargebang juga terlihat dari video yang
diunggah akun Facebook Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Rabu (8/11/2017). Dalam video
tersebut terlihat tempat pengelolaan sampah DKI Jakarta ini menjadi lebih hijau dengan
pembuatan taman serta manajemen sampah yang lebih rapi. Perubahan ini terjadi sejak
pengelolaan dilakukan oleh DInas Kebersihan DKI Jakarta pada September 2016

4.2 Data dan Fakta

Bahwa,di kawasan Bantar Gebang Bekasi menyebutkan, akibat dijadikan kawasan tersebut
sebagai TPA, warga di sekitar menderita yang tiada berujung. Dampak, seperti Penyakit ISPA,
Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma, Rheumatik, Hipertensi, dan lain-
lain merupakan hasil penelitian selama kawasaan tersebut dijadikan TPA.
Hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk,jumlah limbah domestik dari rumah tangga
adalah sebesar 2.915.263.800 ton/tahun atau 5900 – 6000 ton/hari; lumpur dari septic tank
sebesar 60.363,41 ton/tahun dan yang bersumber dari industri pengolahan sebesar 8.206.824,03
ton/tahun.
Penanganan kebersihan di wilayah DKI Jakarta dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan DKI
Jakarta, dengan jumlah sarana dan prasarana yang terdiri dari tonk sebanyak 737 buah (efektif :
701 buah); alat-alat besar : 128 buah (efektif : 121 buah); kendaraan penunjang : 107 buah
(efektif : 94 buah), sarana pengumpul/pengangkutan sampah dari rumah tangga : gerobak
sampah : 5829 buah; gerobak celeng : 1930 buah, galvanis : 201 buah.
Sampah yang diangkut dari Lokasi Penampungan Sementara (LPS) akan diolah di Tempat
Pemusnahan Akhir (TPA). TPA yang sekarang adalah TPA Bantar Gebang, Bekasi dengan luas
yang direncanakan 108 Ha. Status tanah adalah milik Pemda DKI Jakarta dan sistim pemusnahan
yang dilaksanakan adalah “sanitary landfill”. Luas tanah yang sudah dipergunakan sebesar 85
persen, sisanya ± 15 persen diperkirakan dapat menampung sampah sampai tahun 2004,
sehingga Pemda DKI Jakarta saat ini sudah mencari alternatif-alternatif lain sistim penanganan
sampah melalui kerjasama dengan pihak swasta.
Akibat operasional yang tidak sempurna, maka timbul pencemaran terhadap badan air di
sekitar LPA dan air tanah akibat limbah serta timbulnya kebakaran karena terbakarnya gas
methan. Untuk mengatasi hal ini Dinas Kebersihan telah melakukan kegiatan-kegiatan antara
lain :
1. Menambah fasilitas Unit Pengolahan Limbah dan meningkatkan efisiensi pengolahan
sehingga kualitas limbah memenuhi persyaratan untuk dibuang.
2. Meningkatkan/memperbaiki penanganan sampah sesuai dengan prosedur “sanitary
landfill”.
3. Membantu masyarakat sekitar LPA dengan menyediakan air bersih, Puskesmas dan
ambulance.
4. Mengatur para pemulung agar tidak mengganggu operasional LPA.
Besarnya beban sampah tidak terlepas dari minimnya pengelolaan sampah dari sumber
penghasil dan di tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Baru sekitar 75 m3 yang didaur
ulang atau dibuat kompos. Sementara itu, sisanya sekitar 60% dibuang begitu saja tanpa
pengolahan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dan, 30% dibiarkan di TPS. Tak heran
bila sampah akan menumpuk di TPA. Akibatnya, daya tampung TPA akan menjadi cepat
terpenuhi.
4.3 Analisa Kasus
4.3.1 Dampak Sampah terhadap Lingkungan dan masyarakat
Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat.Sesuai
dengan ketentuan tersebut bahwa setiap orang berhak menolak dengan adanya hal-hal yang dapat
merugikan kesehatan baginya. Dalam hal ini, Tidak ada teknologi yang dapat mengolah sampah
tanpa meninggalkan sisa. Oleh sebab itu, pengelolaan sampah selalu membutuhkan lahan sebagai
tempat pembuangan ahir.
Dengan adanya tempat pembuangan sampah di suatu daerah, biasanya akan mempengaruhi
kesehatan dan lingkungan bagi warga sekitarnya. Seperti contoh yang terjadi di TPA bantar
gebang, dengan adanya TPA maka warga sekitarnya TPA menuai derita yang tiada berujung.
Dampak, seperti Penyakit ISPA, Gastritis, Mialgia, Anemia, Infeksi kulit, Kulit alergi, Asma,
Rheumatik, Hipertensi, dan lain-lain merupakan hasil penelitian di Bantar Gebang selama
kawasaan tersebut dijadikan TPA.
Dengan adanya TPA tersebut juga dapat merusak lingkungan dan ekologi disekitarnya. beberapa
kerusakan lingkungan yang hingga kini tidak bisa ditanggulangi akibat sebuah kawasan ekologi
dijadikan TPA antara lain: pencemaran tanah dimana Kegiatan penimbunan sampah akan
berdampak terhadap kualitas tanah (fisik dan kimia) yang berada di lokasi TPST dan sekitarnya.
Tanah yang semula bersih dari sampah akan menjadi tanah yang bercampur dengan
limbah/sampah, baik organik maupun anorganik baik sampah rumah tangga maupun limbah
industri dan rumah sakit. Tidak ada solusi yang konkrit dalam pengelolaannya, maka potensi
pencemaran tanah secara fisik akan berlangsung dalam kurun waktu sangat lama.
4.3.2 Sistem Pengelolaan Sampah Dan Kebijakan Pemerintah.
Alam secara fisik dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dalam mengupayakan
kehidupan yang lebih baik dan sehat menjadi tidak baik dan tidak sehat dan dapat pula
sebaliknya, apabila pemanfaatanya tidak sesuai dengan kemampuan serta melihat
situasinya.Begitu pula dengan sampah, dapat membuat hidup jadi tidak sehat. Karena itu sampah
harus dapat diolah dengan baik agar tidak menimbulkan berbagai penyakit.
Faktor internal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah minimnya kualitas SDM
yang berakibat fatal pada buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah
tidak lagi mampu menampung kuantitas sampah yang semakin besar. Penyebab utamanya adalah
selama ini pengelolaan sampah cenderung menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan
mengacu pada pendekatan sumber.
Kedua, faktor penyebab secara EKSTERNAL. Faktor penyebab eksternal yang paling
klasik terdengar adalah minimnya lahan TPA yang hingga saat ini memang menjadi kendala
umum bagi kota-kota besar. Akibatnya, sampah dari kota-kota besar ini sering dialokasikan ke
daerah-daerah satelitnya seperti TPA Jakarta yang berada di daerah Bekasi, Depok, dan
Tangerang serta TPA Bandung yang berada di Cimahi atau di Kabupaten Bandung. Alasan
eksternal lainnya yang kini santer terdengar di media massa adalah aksi penolakan keras dari
warga sekitar TPA yang merasa sangat dirugikan dengan keberadaan TPA di wilayahnya.Salah
satu kelemahan pengelolaan sampah di TPA adalah masalah minimnya kualitas SDM yang
berakibat fatal pada buruknya teknologi pengelolaan sampah yang saat ini terbukti sudah tidak
lagi mampu menampung kuantitas sampah yang semakin besar. Penyebab utamanya adalah
selama ini pengelolaan sampah cenderung menggunakan pendekatan end of pipe solution, bukan
mengacu pada pendekatan sumber.
Secara umum, pemerintah daerah dalam menanggulangi masalah sampah seharusnya
mempunyai rencana pengelolaan lingkungan hidup yang baik bagi warga sekitar. Dimana dalam
menyusun pengelolaan lingkungan ada 3 faktor yang perlu diperhatikan dan tidak dapat
dipisahkam yaitu:
a. Siapa yang akan melakukan pengelolaan lingkungan dan pengelolaan lingkungan apa yang
harus dilakukan
b. Sesuai dengan dampak yang diduga akan terjadi, maka akan ditetapkan cara pengelolaan yang
bagaimana yang akan dilakukan atau teknologi apa yang akan digunakan agar hasilnya sesuai
dengan baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah

c. Karena berbagai institusi termasuk pemilik proyek yang akan melakukan pengelolaan
lingkungan hidup secara terpadu, maka teknologi yang akan digunakan tergantung pada
kemampuan biaya yang akan dikeluarkan, terutama kemampuan dari pemilik proyek sebagai
sumber pencemar.
Permasalahan umum yang terjadi pada pengelolaan sampah kota di TPA , khususnya kota-kota
besar adalah adanya keterbatasan lahan, polusi, masalah sosial dan lain-lain. Karena itu
pengelolaan sampah di TPA harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
 Memanfaatkan lahan yang terbatas dengan efektif
 Memilih teknologi yang mudah, dan aman terhadap lingkungan
 Memilih teknologi yang memberikan produk yang bisa dijual dan memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi masyarakat
 Produk harus dapat terjual habis.

Karena itu, untuk memenuhi kriteria tersebut diatas, teknologi yang layak dalam
pengelolaan sampah di TPA bantar gebang dan untuk diterapkan adalah kombinasi dari berbagai
teknologi serta penunjang lainya yaitu :

 Teknologi landfill untuk produksi kompos dan gas metan


 Teknologi anaerobik komposting dranco untuk produksi gas metan dan kompos
 Incinerator untuk membakar bahan anorganik yang tidak bermanfaat serta pengeringan
kompos
 Unit produksi tenaga listrik dari gas metan
 Unit drainase dan pengolah air limbah

Dalam menangani masalah sampah dikota jakarta, pemerintah dalam hal ini membuat
kebijakan-kebijakan, dimana masalah sampah tersebut juga merupakan masalah lingkungan
hidup. Permasalahan lingkungan hidup merupakan masalah pemerintah dan juga masyarakat,
namun perlu disadari untuk semua hal yang berkaitan dengan jenis pencemaran (sampah) atau
perusakan lingkungan telah dijadikan permasalahan, dimana faktor penyebabnya antara lain:

 Kurangnya kesadaran masyarakat.


 Kurangnya masyarakat dalam melakukan tindakan.
 Kurangnya pengetahuan masyarakat untuk menangani masalah lingkungan.
 Keterbatasan sarana dan prasarana dari pemerintah.

Dengan mencermati permasalahan yang terjadi maka pemerintah mencoba berbagai


terobosan yang efektif dan efisien (tepat guna dan tepat sasaran). Sejauh ini, berbagai solusi
terus-menerus diupayakan meskipun dalam perkembangannya berbagai kendala kerapkali
dijumpai. Solusi-solusi yang sejauh ini telah diupayakan melalui sejumlah program kerja antara
lain dalah pelaksanaan regionalisasi pengelolaan sampah melalui program GBWMC (Great
Bandung Waste Management). Terdapat 4 poin dalam nota kesepahaman itu, yaitu :

 pengelolaan sampah bersama secara terpadu di kawasan Bandung metropolitan


 membentuk wadah yang mandiri dalam pengelolaan sampah terpadu
 percepatan pembentukan wadah mandiri dengan membentuk tim perumus yang
terdiri dari 5 wilayah tersebut
 nota kesepahaman ini berlaku hingga terbentuknya wadah yang mandiri tersebut

4.4 Identifikasi Manfaat dan Kerugian Akibat Keberadaan Tempat Pembuangan


Akhir (TPA) Bantar Gebang

Keberadaan tempat pembuangan akhir memberikan dampak kepada

masyarakat. Dampak yang diberikan dapat berupa manfaat dan kerugian. Dampak

yang dirasakan masyarakat akibat keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

diidentifikasi dengan analisis persepsi masyarakat. Pada saat pelaksanaan

penelitian, para responden diberi pilihan mengenai dampak keberadaan TPA

terhadap masyarakat. Manfaat antara lain : peningkatan pendapatan masyarakat,

salah satu sumber pendapatan pemerintah Kota Bekasi, memiliki nilai daur ulang.

Pilihan untuk kerugian antara lain: pencemaran air, pencemaran udara,

pencemaran tanah, sarang penyakit, dan pengurangan estetika Kota Bekasi.

4.4.1 Identifikasi Manfaat Akibat Keberadaan TPA Bantar Gebang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pihak responden memberikan persepsi

bahwa keberadaan TPA memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar TPA.

Persepsi dari masyarakat mengenai manfaat dapat dilihat bahwa menurut


masyarakat manfaat yang timbul akibat

keberadaan TPA adalah peningkatan pendapatan, salah satu sumber pendapatan

pemerintah Kota Bekasi, dan memiliki nilai daur ulang.


Seluruh masyarakat memberikan persepsi bahwa keberadaan TPA Bantar

Gebang memberikan manfaat berupa pendapatan bagi masyarakat. Hal tersebut

dikarenakan masyarakat menilai bahwa banyak masyarakat yang bekerja

bersumber dari TPA Bantar Gebang. Pekerjaan yang ditekuni masyarakat antara

lain adalah pemulung, penyobek plastik, pengumpul plastik, pengumpul besi.

Dalam hal manfaat keberadaan TPA sebagai salah satu sumber pendapatan

pemerintah Kota Bekasi masyarakat yang bertempat tinggal > 2 km memberikan

penilaian paling besar (81%), masyarakat yang bertempat tinggal 1-2 km (19%),

sedangkan masyarakat yang bertempat tinggal < 1 km tidak menilai keberadaan

TPA memberikan manfaat sebagai salah satu pemasukan bagi pemerintah Kota

Bekasi. Banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui bahwa pemerintah DKI

Jakarta membayar kepada pemerintah Kota Bekasi menjadi salah satu penyebab

masyarakat tidak memberikan penilaian ini sebagai manfaat dari TPA. Nilai daur

ulang hanya diberikan penilaian oleh masyarakat yang tinggal < 1 km dan > 2 km

sebagai manfaat dengan persentase yang sama yaitu 6%.

Hasil penelitian juga menunjukkan perbedaan persepsi mengenai manfaat

yang diberikan akibat keberadaan TPA Bantar Gebang antara masyarakat yang

berpendapatan berasal dari TPA dengan masyarakat yang berpendapatan bukan

dari TPA. Perbedaan tersebut didasari dengan adanya perbedaan profesi yang
4.4 Identifikasi Kerugian Akibat Keberadaan TPA Bantar Gebang

Keberadaan TPA juga dinilai masyarakat memberikan dampak berupa


kerugian kepada mereka yang bertempat tinggal di sekitar TPA. Persepsi
masyarakat mengenai kerugian yang dirasakan dapat dilihat bahwa kerugian yang
dirasakan oleh masyarakat adalah terjadinya pencemaran air, pencemaran udara,
menjadi sarang penyakit, dan pengurangan nilai estetika. Pencemaran tanah tidak
dirasakan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar TPA karena
masyarakat masih dapat memanfaatkan lahan untuk menanam, bahkan ada
beberapa masyarakat yang menanam padi.

4.5 Perbandingan Antara Manfaat dan Kerugian Akibat Keberadaan TPA Bantar
Gebang

Manfaat dan kerugian yang diakibatkan oleh keberadaan TPA Bantar Gebang tentunya
dapat dikendalikan baik oleh pemilik, pengelola, maupun masyarakat. Hal tersebut
tentunya akan meningkatkan manfaat yang telah dihasilkan akibat keberadaan TPA
Bantar Gebang menjadi lebih besar. Hal tersebut tentunya juga dapat mengurangi
kerugian yang dirasakan masyarakat akibat keberadaan TPA Bantar Gebang. Manfaat
yang dirasakan masyarakat adalah sebesar Rp183.547.000 sebagian besar dirasakan
oleh masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang berjarak < 1 km, sedangkan
untuk masyarakat yang bertempat tinggal yang jaraknya > 2 km manfaat yang berupa
peningkatan pendapatan tidak dirasakan sepenuhnya. Hal tersebut tentunya akan
menimbulkan kesenjangan antara masyarakat yang mendapatkan manfaat secara
langsung berupa pendapatan dengan masyarakat yang tidak memanfaatkan pendapatan.
Pengelola sebaiknya memberikan solusi untuk memberikan manfaat yang sebanding
antara masyarakat yang tempat tinggalnya berjarak < 1km dengan > 2 km.Total
estimasi kerugian yang dialami oleh masyarakat adalah sebesar Rp13.385.300. Kerugian
yang dirasakan oleh masyarakat berupa biaya yeng dikeluarkan untuk mengganti
kebutuhan air mereka sehari-hari dan biaya pengobatan yang diakibatkan oleh
pencemaran yang terjadi di sekitar lingkungan masyarakat. Biaya yang dikeluarkan
masyarakat tergolong dinilai masih kecil dibandingkan dengan pencemaran yang terjadi.
Hal tersebut diakibatkan kepedulian masyarakat yang masih rendah terhadap kebersihan
air dan kesehatan, sehingga sebagian besar masyarakat tetap mengkonsumsi air sumur
yang sudah tercemar akibat keberadaan TPA Bantar Gebang. Selain itu, sistem tubuh
manusia yang dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar juga menjadi salah satu
penyebab minimnya kerugian yang dirasakan masyarakat. Terlihat dari sedikitnya
jumlah masyarakat yang menderita penyakit pencernaan, kulit, maupun pernafasan
akibat pencemaran yang diakibatkan TPA. Masyarakat sudah menganggap pencemaran
itu hal yang wajar terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.Dari estimasi yang telah
dilakukan maka nilai manfaat bersih yang dihasilkan akibat keberadaan TPA Bantar
Gebang dapat ditentukan dengan pengurangan antara manfaat dengan kerugian yang
telah dihasilkan. Manfaat bersih yang dihasilkan oleh keberadaan TPA Bantar Gebang
adalah sebesar Rp 170.161.700. Nilai tersebut menunjukkan nilai yang positif, maka
keberadaan TPA Bantar Gebang memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan
dengankerugian yang dirasakan oleh masyarakat. Manfaat tersebut berupa peningkatan
pendapatan masyarakat bagi masyarakat di sekitar TPA Bantar Gebang.Nilai manfaat
bersih yang positif dikarenakan dampak yang diterima masyarakat berupa kerugian
akibat keberadaan TPA Bantar Gebang bersifat komulatif. Kerugian yang diderita oleh
masyarakat tidak hanya dirasakan di masa sekarang, tetapi juga akan dirasakan di masa
yang akan datang yang efeknya akan semakin besar dari waktu ke waktu. Hal tersebut
didukung dengan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan dan
kesehatan akan dirinya sendiri sehingga kerugian yang dirasakan masyarakat pada saat
ini dinilai sangat kecil. Hal ini dapat menjadi sinyal peringatan bagi masyarakat bahwa
manfaat yang diterima akibat keberadaan TPA Bantar Gebang pada saat sekarang dapat
menjadi jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerugian yang akan diterima oleh
masyarakat akibat keberadaan TPA Bantar Gebang di masa yang akan datang