Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH

“PENGUKURAN”
Dosen Pengampu : Khollilurrohman, M.Pd

Disusun Oleh :
 Muhammad Yusuf (13211170007)
 Intan Putri Ana (13211170004)
 Lulu Hammada Q. (13211170003)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PRODI S1 ILMU GIZI
UNIVERSITAS MUHADI SETIABUDI BREBES
SK MENDIKBUD NO : 348/E/0/2012 TANGGAL 2 OKTOBER 2012
Jl. Pangeran Diponegoro Km.2 Wanasari Brebes-Jawa Tengah 52252
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu fisika, pengukuran dan besaran merupakan hal yang bersifat dasar, dan
pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas mengukur
menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari berbagai
fenomena yang sedang dipelajari.
Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi pengukuran atau mengukur itu
sendiri. Mengukur adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang
telah disepakati. Misalnya menghitung volume balok, maka harus mengukur untuk dapat
mengetahui panjang, lebar dan tinggi balok, setelah itu baru menghitung volume.
Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu
fenomena atau permasalahan secara kualintatik. Dan jika dikaitkan dengan proses penelitian
atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari data-
data yang mendukung. Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-data numeric
yang menunjukan pola-pola tertentu sebagai bentuk karakteristik dari permasalahan tersebut.
Pentingnya besaran dalam pengukuran, maka dilakukan praktikum ini yang dapat
membantu untuk memahami materi dasar-dasar pengukuran. Dalam mengamati suatu gejala
tidak lengkap apabila tidak dilengkapi dengan data yang didapat dari hasi pengukuran yang
kemudian besaran-besaran yang didapat dari hasil pengukuran kemudian ditetapkan sebagai
satuan.
Dengan salah satu argument di atas, setelah dapat kita ketahui betapa penting dan
dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam fisika, untuk memperoleh hasil / data dari suatu
pengukuran yang akurat dan dapat dipercaya.

1.2 Pembahasan
Pengukuran didefinisikan sebagai kegiatan mengukur suatu benda dengan membandingkan antara
nilai besaran pada benda dan nilai besaran pada alat ukur. Berbagai macam alat pengukuran memiliki
ketelitian yang berbeda-beda. Adapun alat-alat besaran panjang,massa dan waktu dijelaskan sebagai
berikut.
 Pengukuran Besaran Panjang
Alat ukur besaran panjang yang sering digunakan antara lain mistar,rollmeter ( pita pengukur
) ,jangka Sorong dan mikrometer sekrup

1. Mikrometer sekrup
Digunakan untuk mengukur benda yang memiliki panjang maksimum 25 mm.
Mikrometer sekrup memiliki dua skala yaitu skala tetap dan skala nonius. Skala nonius
pada mikrometer sekrup berbentuk selubung yang dapat diputar maju atau mundur. Pada
umumnya,skala nonius terdapat 50 skala dalam sekali putaran. Akibat putaran
tersebut,rahang geser akan bergerak sejauh 0,5 mm. Melalui pergerakan rahang geser
Anda dapat mengetahui ketelitian mikrometer sebagai berikut.
Ketelitian = Pergerakan rahang geser sekali putaran = 0,5mm =0,01mm
Jumlah garis skala nonius. 50
Nilai ketidakpastian dari mikrometer sekrup sebesar 0,005 mm. Nilai tersebut diperoleh
dari setengah ketelitian mikrometer sekrup.
2. Jangka Sorong
Digunakan untuk mengukur panjang benda dengan panjang maksimal 10cm. Jangka
Sorong berguna untuk mengukur panjang diameter lingkaran luar,panjang diameter
lingkaran dalam,dan kedalaman benda. Jangka Sorong memiliki dua skala yaitu skala
nonius dan skala utama. Skala utama merupakan skala yang terdapat pada rahang
tetap,sedangkan skala nonius merupakan skala yang terdapat pada rahang geser.
Pembagian skala pada jangka Sorong mengakibatkan ketelitian jangka Sorong sebesar
0,01 cm. Nilai ketidakpastian pada jangka Sorong sebesar 0,005 cm yang diperoleh ½
dari nilai ketelitian.

 Rahang dalam
Terdiri dari rahang geser dan rahang tetap. Rahangdalam memiliki fungsi untuk mengukur
dimensi luar atau sisi bagian luar sebuah benda misal tebal,lebar sebuah benda kerja.
 Rahang luar
Terdiri dari rahang geser dan rahang tetap. Rahang luara memiliki fungsi untuk mengukur
diameter dalam atau sisi bagian dalam sebuah benda misalnya diameter hasil pengeboran.
 Depth probe atau pengukur kedalaman
Mempunai fungsi untuk mengukur kedalaman sebuah benda.
 Skala utama ( dalamcm )
Memiliki fungsi untuk menyatakan ukuran utama dalam bentuk centimeter.
 Skala utama ( dalam inchi )
Memiliki fungsi untuk menyatakan ukuran utama dalam bentuk inchi.
 Skala nonius ( dalam mm )
berfungsi sebagai skala pengukuran fraksi dalam bentuk mm.
 Skala nonius ( dalam inchi )
Berfungsi sebagai skala pengukuran fraksi dalam bentuk inchi.
 Pengunci
Berfungsi untuk menahan bagian-bagian yang bergerak saat berlangsungnya proses
pengukuran misal rahang dan depth probe.
3. Penggaris
Penggaris pada umumnya memiliki skala terkecil 1 mm. Skala terkecil pada mistar
dinyatakan jarak antara dua goresan pendek pada mistar. Nilai ketidakpastian mistar
adalah setengah dari skala terkecil. Jadi,ketidakpastian mistar adalah 0,5 mm atau 0,05cm

 Pelajari tanda 1 sentimeter. Angka besar yang terletak di sebelah garis panjang
dalam penggaris menandakan satu sentimeter. Sebuah penggaris metrik memiliki 30
tanda ini. Sebagai contoh letakkan ujung krayon di sisi kiri penggaris untuk
mengukurnya. Perhatikan ujung satunya lagi. Jika ujung krayon tersebut tepat
menyentuh garis panjang dengan angka 14 yang besar, maka panjang benda itu adalah
14 sentimeter.[9]

 Pelajari tanda 1/2 sentimeter. Di tengah antara setiap tanda sentimeter, terdapat
garis yang lebih pendek yang menandai 1/2 sentimeter atau 0.5 cm. Secara
keseluruhan terdapat 60 garis ini dalam sebuah penggaris. [10]
Sebagai contoh, jika Anda mengukur sebuah kancing dan ujungnya jatuh di garis ke
lima sebelah kanan di antara angka 1 dan 2 sentimeter. Maka panjang kancing Anda
adalah 1.5 cm.

 Pelajari tanda milimeter. Di antara setiap garis 0.5 cm ada empat garis lagi yang
menandai 1 milimeter. Ada total 10 garis untuk setiap 1 sentimeter, dengan garis 0.5
cm berlaku sebagai garis 5 mm, sehingga setiap sentimeter sama dengan 10 mm. Ada
300 tanda ini secara keseluruhan pada satu penggaris. [11]
Sebagai contoh, jika Anda mengukur selembar kertas dan ujungnya jatuh di garis
ketujuh antara angka 24 dan 25 sentimeter, berarti panjang benda Anda adalah 247
mm atau 24.7 cm.
 Pengukuran Besaran waktu
Alat ukur besaran waktu dapat berupa jam atau stopwatch. Ada 2 macam stopwatch yaitu
stopwatch digital dan analog. Untuk stopwatch digital kita langsung dapat membaca pada
layar stopwatch selang waktu yang diukur. Sedangkan stopwatch analog memiliki ketelitian
lebih tinggi dibandingkan stopwatch digital. Adapun pengukuran waktu menggunakan
stopwatch analog melalui pembacaan jarum pada stopwatch. Jarum panjang menunjukkan
detik,sedangkan jarum pendek menunjukkan menit. Jarak antara 2 gores yang ditunjukkan
jarum panjang menunjukkan 2 sekon. Jarak itu dibagi dibagi dengan 20 skala. Dengan
demikian skala terkecilnya 0,1 sekon. Adapun ketidakpastian dari stopwatch analog sebesar
0,05 sekon. Ketidakpastian tersebut diperoleh dari setengah skala terkecilnya.

 Pengukuran Besaran massa


Dapat dilakukan menggunakan neraca atau timbangan. Neraca menggunakan prinsip kerja
seperti tuas. Contoh dari neraca tersebut seperti neraca ohauss,neraca sama lengan dan neraca
dacin. Adapula neraca yang tidak menggunakan prinsip kerja tuas. Neraca tersebut seperti
timbangan berat badan dan neraca digital. Timbangan badan menggunakan prinsip
kesetimbangan gaya pada pegas,sedangkam neraca digital menerapkan prinsip tenaga
elektronik.

1. Neraca ohauss
Berdasarkan jumlah lengannya,beraca ohauss dibagi menjadi dua macam,yaitu neraca
ohauss dua lengan dan tiga lengan. Neraca ohauss dua lengan memiliki anting logam
yang dapat digeser pada setiap lengannya. Anting logam pada lengan depan bermassa
100-500 gram. Selain dua lengan,neraca ini memiliki skala utama dan nonius. Skala
utama menunjuk 0 sampai 9 gram, sedangkan sampai 0,9 gram. Adapun neraca ohauss
tiga lengan memiliki lengan depan,lengan tengah dan lengan belakang. Di setiap lengan
terdapat anting logam. Pada lengan belakang,anting logam dapat digeser dari 0 – 100
gram dengan skala 0,10,20,30, . . . , 100. Lengan tengah terdapat anting logam yang dapat
digeser dari 0 – 500 gram dengan skala 0,1,2, . . . ,10. Pada lengan depan setiap 1 gram
terdiri dari 10 skala sehingga skala terkecilnya 0,1 gram.
2. Neraca sama lengan
Neraca sama lengan dilengkapi dua piringan dan anak timbangan. Piringan digunakan
sebagai tempat untuk meletakkan benda yang diukur massanya,sedangkan anak
timbangan digunakan untuk satuan besar perbandingan.

3. Neraca dacin
Salah satu bentuk dari neraca dacin ialah timbangan bayi ygbada di posyandu. Dalam
KBBI kata dacin diartikan alat ukur untuk menimbang sesuatu,berupa tongkat yang diberi
skala dilengkapi dengan anak timbangan dan tempat meletakkan barang yang akan
ditimbang. Ketika menimbang benda,neraca dacin diposisikan tergantung di atas tanah.
Pengukuran benda dilakukan dengan cara menggeser bandul dacin sehingga posisi antar
lengan seimbang.

 Pengukuran volume benda tidak beraturan


Volume adalah perhitungan yang menyatakan banyaknya ruang yang ditempati oleh suatu
objek. Suatu benda dibedakan menjadi benda beraturan dan tidak beraturan. Contoh benda yg
beraturan seperti kubus,balok dan tabung. Adapun contoh benda yang tidak beraturan seperti
batu. Pada benda beraturan,pengukuran volume dapat dilakukan dengan menentukan
panjang,lebar maupun tinggi terlebih dahulu. Pengukuran panjang,lebar maupun tinggi dapat
dilakukan menggunakan penggaris,jangka Sorong atau mikrometer sekrup.
Namun,pengukuran volume benda tidak beraturan dapat dilakukan menggunakan gelas ukur.