Anda di halaman 1dari 15

KEKUATAN TNIADDALAM KETAHANAN PANGAN

BAB I
Pendahuluan

1. Umum.
A. Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia
mengingat pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh
pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama seperti diamanatkan oleh Undang
Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. Dalam UU tersebut disebutkan Pemerintah
menyelenggarakan pengaturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan, sementara
masyarakat menyelenggarakan proses produksi dan penyediaan, perdagangan, distribusi
serta berperan sebagai konsumen yang berhak memperoleh pangan yang cukup dalam
jumlah dan mutu, aman, bergizi, beragam, merata, dan terjangkau oleh daya beli mereka.
Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan sebagai peraturan
pelaksanaan UU No.7 tahun 1996 menegaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi yang terus berkembang dari waktu ke waktu, upaya penyediaan pangan
dilakukan dengan mengembangkan sistem produksi pangan yang berbasis pada sumber
daya, kelembagaan, dan budaya lokal, mengembangkan efisiensi sistem usaha pangan,
mengembangkan teknologi produksi pangan, mengembangkan sarana dan prasarana
produksi pangan dan mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif.Makan dan
cukup makan adalah hak dasar setiap orang. Kelaparan mengenaskan bagi yang
merasakannya, aib bagi masyarakat sekitarnya, dan jika massal serta terjadi di tengah
kemakmuran maka merupakan cacat peradaban. Namun ironisnya sampai saat ini masih
sangat banyak penduduk yang menderita kelaparan. September 2009 ini sekitar 14.98
persen penduduk dunia kekurangan pangan(undernourishment). Dalam persen, angka
kematian akibat kelaparan memang hanya sekitar 0.7; namun itu berarti lebih dari
7.169.800 orang karena jumlah penduduk dunia adalah sekitar 6.792 milyar. Jadi, per
hari rata-rata lebih dari 13.350 orang mati akibat kelaparan. Perubahan iklim dan krisis
finansial global yang kini terjadi mengakibatkan masa depan ketahanan pangan global
menjadi lebih rawan. Terkait dengan itu setiap negara dituntut untuk memantapkan
ketahanan pangannya. Indonesia sebagai Negara agraris dan pernah mencapai
swasembada pangan, diharapkan dapat mencapi dan memantapkan ketahanan pangan
bagi penduduknya. Kejadian rawan pangan dan gizi buruk mempunyai makna politis
yang negatif bagi penguasa, bahkan di beberapa negara berkembang krisis pangan
dapat menjatuhkan pemerintah yang sedang berkuasa. Sejarah membuktikan bahwa
ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial, stabilitas ekonomi,
stabilitas politik dan keamanaan atau ketahanan nasional. Dalam arti, jika dalam suatu
negara terjadi kerawanan pangan maka kestabilan ekonomi, politik, dan sosial akan
terguncang.
B. PP Ketahanan Pangan juga menggarisbawahi untuk mewujudkan ketahanan
pangan dilakukan pengembangan sumber daya manusia yang meliputi pendidikan dan
pelatihan di bidang pangan, penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
pangan dan penyuluhan di bidang pangan. Di samping itu, kerjasama internasional juga
dilakukan dalam bidang produksi, perdagangan dan distribusi pangan, cadangan pangan,
pencegahan dan penanggulangan masalah pangan serta riset dan teknologi pangan.

C. Maksud dan Tujuan.


a. Maksud. Maksud penulisan karangan militer ini adalah untuk memberikan
masukan atau gambaran kepada komando tentang ketahanan pangan
merupakan program yang cukup strategis bagi sat Kowil untuk dilaksanakan
secara optimal dalam rangka di wilayah.
b. Tujuan. Adapun tujuan penulisan karangan militer ini adalah untuk bahan
pertimbangan satuan komando atas dalam rangka menentukan kebijaksanaan
tentang ketahanan pangan di masa yang akan datang yang semakin komplek.
c. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Penulisan karangan militer ini dibatasi pada
peran Binter dalam mewujudkan ketahanan pangan sat kowil dalam rangka
pertahanan negara yang disusun dengan tata urut sebagai berikut :

a) Pendahuluan.
b) Latar Belakang Pemikiran.
c) Kondisi pangan Saat ini.
d) Faktor-faktor yang mempengaruhi.
e) Kondisi Yang Diharapkan.
f) Upaya Yang Dilakukan.
g) Penutup.

D. Metoda dan pendekatan. Pernulisan karmil in menggunakan metoda diskriptip nalisis


dengan pendekatan dan pengamatan di lapangan.
E. Pengertian-pengertian:
a. Binter adalah segala usaha dan kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan,
penyusunan, pengembangan pengerahan dan pengendalian potensi wilayah dan
segenap aspeknya.
b. Undang-undang No.7 Tahun 1996 tentang Pangan, mengartikan ketahanan
pangan sebagai : kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang
tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,
merata, dan terjangkau. Pengertian mengenai ketahanan pangan tersebut mencakup
aspek makro, yaitu tersedianya pangan yang cukup; dan sekaligus aspek mikro, yaitu
terpenuhinya kebutuhan pangan setiap rumah tangga untuk menjalani hidup yang
sehat dan aktif. Pada tingkat nasional, ketahanan pangan diartikan sebagai
kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh
pangan yang cukup, mutu yang layak, aman; dan didasarkan pada optimalisasi
pemanfaatan dan berbasis pada keragaman sumber daya lokal.
BAB-II
LATAR BELAKANG

F. Umum.
Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem
ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi
menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, baik dari segi
kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Subsistem distribusi berfungsi
mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar seluruh
rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup
sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Sedangkan subsistem konsumsi
berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi
kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Situasi
ketahanan pangan di negara kita masih lemah. Hal ini ditunjukkan antara lain oleh:
(a) jumlah penduduk rawan pangan (tingkat konsumsi < 90% dari rekomendasi
2.000 kkal/kap/hari) dan sangat rawan pangan (tingkat konsumsi <70 % dari
rekomendasi) masih cukup besar, yaitu masing-masing 36,85 juta dan 15,48 juta jiwa
untuk tahun 2002.
(b) anak-anak balita kurang gizi masih cukup besar, yaitu 5,02 juta dan 5,12 juta
jiwa untuk tahun 2002 dan 2003 (Ali Khomsan, 2003). Berdasarkan definisi ketahanan
pangan dari FAO (1996) dan UU RI No. 7 tahun 1996, yang mengadopsi definisi dari
FAO, ada 4 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan
yaitu:
1. Kecukupan ketersediaan pangan.
2. Stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari
tahun ke tahun.
3. Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan serta.
4. Kualitas/keamanan pangan

G. Keberadaan TNI AD di suatu wilayah baik sebagai Satuan Balakhanpus maupun


sebagai Balakhanwil, didalam melaksanakan Binter terbatas akan berhubungan erat
dengan penyelenggaraan Binter yang dilaksanakan oleh Kowil. secara umum
kegiatan Binter oleh Kowil dan Binter terbatas oleh Satuan non Kowil saling mengisi
dan menunjang sehingga sasaran yang ingin dicapai dapat berhasil secara optimal.
H. Dasar penilaian.
Dari keterkaitan TNI, maka subyek ketahanan pangan pada hakekatnya
melibatkan segenap aparat TNI, aparat pemerintah dan seluruh masyarakat.
I. Permasalahan.
Masalah lain yang dihadapi adalah permasalahan aspek produksi, di mana
petani tidak memiliki akses memperoleh produksi pertanian, kesulitan memperoleh
pupuk dan benih, serta mutu pupuk dan benih sudah tidak baik. Untuk memperoleh
pupuk dan benih yang baik harga cukup mahal dan tidak stabil.
Di samping itu, kurang berfungsinya peran koperasi sebagai lembaga
ekonomi tingkat dasar, yang berpotensi sebagai penyalur/perpanjangan tangan
lembaga keuangan formal, akses petani ke teknologi dirasa sangat kurang karena
lemahnya media komunikasi dan peran PPL (Petugas Penyuluhan Lapangan) di
dalam penyebaran informasi teknologi pertanian kepada petani. Dan yang tak kalah
penting dari masalah ini adalah pangsa pasar (market share) dan akses petani ke
pasar sangat sulit.
Keberhasilan suatu program akan dapat dicapai maupun diatasi tergantung
dari personel yang ada dalam Satuan tersebut untuk dapat mendeteksi secara dini
tiap permasalahan dan perkembangan yang ada disekitar pangkalan, sehingga
tiap masalah maupun perkembangan yang terjadi dapat dijadikan suatu acuan untuk
mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi, khususnya terhadap masaalah-
masalah yang mungkin akan mengganggu stabilitas keamanan Nasional.
BAB-III
KONDISI PANGAN SAAT INI

J. UMUM.
Krisis global saat ini, khususnya perubahan iklim (climate change), bisa
mengarah pada krisis pangan. Indonesia diperkirakan mengalami krisis pangan
pada tahun 2017.1 Sebelum krisis pangan terjadi, jauh-jauh hari sudah banyak
kalangan baik, pemikir, praktisi serta akademisi termasuk TNI AD memberikan
sumbang saran dan pemikiran untuk mengantisipasi krisis pangan ini. Persoalan
pangan adalah masalah yang sangat penting, bukan hanya pada saat sekarang,
tetapi pada masa-masa yang akan datang. Pangan adalah kebutuhan yang paling
mendasar dari suatu bangsa. Banyak contoh negara dengan sumber ekonomi cukup
memadai tetapi mengalami kehancuran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan
pangan bagi penduduknya. Dengan adanya ketergantungan pangan, suatu bangsa
perlu mengambil upaya upaya untuk mencapai kemandirian dalam memenuhi
kebutuhan pangan nasional sebagai bahan yang mendasar bagi ketahanan nasional
yang harus dilindungi. Peraturan Pemerintah No.68 Tahun 2002 tentang Ketahanan
Pangan sebagai peraturan pelaksanaan UU No.7 tahun 1996 menegaskan bahwa
untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang terus berkembang dari waktu ke waktu,
upaya penyediaan pangan dilakukan dengan mengembangkan sistem produksi
pangan yang berbasis pada sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal,
mengembangkan efisiensi sistem usaha pangan, mengembangkan teknologi
produksi pangan, mengembangkan sarana dan prasarana produksi pangan dan
mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif.

K. Dasar Kebijakan
1) UU R.I Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. (Pasal 7, ayat 2, Tugas pokok TNI
yang menyangkut OMSP, di antaranya membantu tugas pemerintahan di daerah,
memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini
sesuai dengan sistem pertahanan semesta dan membantu tugas pemerintahan di
daerah.
2) Undang-undang Nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025) sebagai arah Pembangunan
Nasional. 8
3) Instruksi Presiden (Inpres) nomor 1 tahun 2010 tanggal 19 Februari 2010
tentang Program Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, juga
menguatkan program kegiatan optimalisasi peran TNI AD, karena sangat
signifikan terhadap kegiatan seperti, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan,
lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. 9
L. Masalah dan Tantangan
1) Sarana produksi pertanian berupa bibit dan pupuk harganya mahal dan sulit
diperoleh.
2) Ketersediaan pangan semakin terbatas dan menurunnya kapasitas produksi
dan daya saing pangan nasional.
3) Belum memadainya infrastruktur, prasarana distribusi pangan baik darat
maupun antar pulau serta kerusakan pangan selama penyimpanan dan distribusi.
4) Belum berkembangnya teknologi, industri dan produk pangan alternatif
berbasis sumber daya pangan lokal serta rendahnya daya beli masyarakat.
5) Sistem Pemantauan secara dini dan akurat untuk mendeteksi kerawanan
pangan dan gizi.
6) Terbatasnya data yang akurat dan mutakhir serta mudah diakses untuk
perencanaan pengembangan ketahanan pangan.
7) Menurunnya minat masyarakat untuk memlih profesi dalam bidang pertanian.
BAB-IV
TNI AD dan Konsep Ketahanan Pangan

M. UMUM
Apa itu ketahanan pangan? Berdasarkan Undang-Undang Pangan No. 7 Tahun
1996 tentang Pangan, pada Pasal 1 Ayat 17 menyatakan bahwa ketahanan pangan
sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan rumah tangga yang tercermin dari
tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata
dan terjangkau. Undang-undang ini sejalan dengan definisi ketahanan pangan menurut
Food and Agriculture Organization (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
tahun 1992, yaitu, akses setiap rumah tangga atau individu untuk dapat memperoleh
pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat. Sementara pada WFS
1996, ketahanan pangan disebut sebagai akses setiap rumah tangga atau individu
untuk dapat memperoleh pangan pada setiap waktu untuk keperluan hidup yang sehat
dengan persyaratan penerimaan pangan sesuai dengan nilai atau budaya setempat.10
FAO (1992) mendefinisikan ketahanan pangan sebagai situasi di mana semua rumah
tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk memperoleh pangan bagi
seluruh anggota keluarganya dan di mana rumah tangga tidak beresiko mengalami
kehilangan kedua akses tersebut. Hal ini berarti konsep ketahanan pangan mencakup
ketersediaan yang memadai, stabilitas dan akses terhadap pangan -pangan utama.
Determinan dari ketahanan pangan dengan demikian adalah daya beli atau pendapatan
yang memadai untuk memenuhi biaya hidup (FAO, 1996).
Berdasarkan pengertian dan konsep tersebut di atas, maka beberapa ahli sepakat
bahwa ketahanan pangan minimal mengandung dua unsur pokok yaitu ”ketersediaan
pangan dan aksesibilitas masyarakat terhadap pangan”. Walaupun pangan tersedia
cukup di tingkat nasional dan regional, tetapi jika akses individu untuk memenuhi
kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih dikatakan rapuh.
Pengertian dan konsep di atas sangat beralasan dan sesuai fakta yang ada. TNI AD
sangat mendukung pendapat tersebut, sehingga dengan dasar dan acuan itu, TNI AD
ingin berperan dan menyumbangkan saran tentang ketahanan pangan. Konsep ini tidak
terlepas dari aturan dasarnya yaitu UU RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Selain
itu, berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 2010 tanggal 19 Pebruari
2010 tentang Program Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional, juga
menguatkan program kegiatan optimalisasi peran TNI, karena sangat signifikan
terhadap kegiatan seperti pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, lingkungan hidup
dan pengelolaan bencana

N. Peran Kowil TNI AD Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan


a. Keberadaan Komando Kewilayahan TNI AD.
TNI AD mendapat amanat untuk membantu penanggulangan bencana, membantu
pemerintahan di daerah dan melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan. Salah
satu sarana untuk membantu pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan
bangsa, seperti kemiskinan, pengangguran, degradasi lingkungan dan bencana alam
adalah dengan memantapkan peran Kowil TNI AD. Satuan Kowil TNI AD sesuai tipologi
wilyahnya, yang tergelar di seluruh wilayah Indonesia sangat berperan penting dan
strategis dalam membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Melalui gelar OMSP
misalnya, Kowil TNI AD dapat membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan rakyat melalui Pembinaan Teritorial (Binter) dengan metode Binwanwil,
Komsos dan Bakti TNI. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengupas peran Kowil dalam
membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kowil TNI AD adalah penggelaran kekuatan pertahanan TNI AD di seluruh wilayah
kedaulatan NKRI yang berfungsi sebagai pencegah dan penindak awal terhadap setiap
ancaman baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar negeri. Ditinjau dari bentuk
dan luasnya wilayah NKRI dan konfigurasi geografi, bentuk dan tingkat ancaman aktual
terhadap keamanan nasional yang dihadapi masa kini dan bentuk ancaman yang
diperkirakan pada masa depan serta kemampuan dukungan anggaran negara yang
sangat terbatas untuk pembangunan sektor pertahanan, maka dapat dinyatakan bahwa
negara masih belum mampu menyediakan kekuatan pertahanan yang ideal dalam
kurun waktu jangka pendek maupun jangka sedang.
Oleh karena itu, strategi pertahanan yang paling mungkin dipilih saat ini dan
dipersiapkan sebagai suatu strategi penangkalan dengan digelarnya Kowil TNI AD
dengan tugas-tugas antara lain, pendataan terhadap pemberdayaan wilayah
pertahanan ketahanan pangan sebagai logistik wilayah pada masa perang dalam
perspektif kepentingan nasional, selaku penangkal dan penindak awal dari segala
bentuk ancaman di wilayahnya. Ditinjau dari organisasi matra darat, laut maupun udara
belum sepenuhnya dapat berfungsi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Eksistensi Kowil TNI AD mulai dari Kodam, Korem, Kodim, Koramil dan Babinsa sangat
besar peranannya dalam membantu pemerintah melaksanakan program-program
pembangunan nasional. Melalui peran Kowil TNI AD yang tersebar di wilayah
Indonesia, proses pembangunan nasional yang membutuhkan stabilitas keamanan
nasional dapat dipelihara oleh satuan Kowil. Peran Kowil sebagai sistem deteksi dini di
tengah masyarakat selama ini dapat mencegah terjadinya berbagai ancaman dan
gangguan terhadap keamanan nasional. Ancaman separatisme, terorisme dan
radikalisme dapat diantisipasi oleh satuan Kowil sehingga menunjang proses
pembangunan nasional yang saat ini sedang giat-giatnya dicanangkan oleh pemerintah.
Dengan Babinsa sebagai ujung tombak di tengah masyarakat, apabila diberi peran dan
diberdayakan secara optimal, maka segala gerakan dan manuver yang membahayakan
terhadap keutuhan NKRI dapat dideteksi dengan tepat, selanjutnya dilakukan
pencegahan dan ditangkal dengan cepat. Sebagai mata dan telinga TNI AD , Kowil
menjadi alat pendengar, penglihat dan perekam segala gerak-gerik dan infiltrasi asing
yang akan membahayakan integritas bangsa. Kowil pada masa lalu, terbukti ampuh
dan efektif dalam memelihara keamanan nasional. Melalui metode Binwanwil, Komsos
dan Bakti TNI, Kowil juga membantu pemerintah dalam membangun sarana
prasarana/infrastruktur yang menunjang jalannya pembangunan nasional.
Pembangunan jalan, jembatan, pembukaan lahan di berbagai wilayah banyak dilakukan
oleh satuan Kowil. Peran satuan Kowil yang sangat strategis tersebut tentunya akan
sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan di wilayahnya
masing-masing. Hal ini terbukti dari permintaan berbagai pihak terhadap eksistensi
satuan Kowil yang meminta peran yang lebih besar dari satuan Kowil dalam membantu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh
masyarakat dan pengusaha daerah. Bahkan, banyak dari komponen masyarakat yang
memberikan bantuan moral dan materil kepada satuan Kowil untuk membiayai kegiatan
operasionalnya membantu pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
b. Peran TNI AD
Bagian ini menekankan peran TNI AD dalam mewujudkan ketahanan pangan. Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa gelar kekuatan TNI AD dapat diberdayakan
sebagai realisasi peran TNI AD yang merupakan optimalisasi OMSP dalam mengatasi
krisis pangan. Masalah ketahanan pangan saat ini mengalami dua bentuk krisis
pangan, yakni krisis pangan secara berkala dan kronis, karena bencana alam, konflik
sosial, fluktualisasi harga, dan lain-lain. Sedangkan jenis yang kedua adalah krisis yang
terjadi berulang-ulang dan terus menerus.12 Untuk memahami mengapa krisis pangan
melanda sebuah negara agraris seperti Indonesia, kita perlu tahu apa saja faktor
determinan utama ketahanan pangan. Ketahanan pangan harus dikaitkan dengan
masalah pembangunan pedesaan dan pertanian.13 Dalam hal ini ada beberapa poin
yang mendapat perhatian untuk dijadikan kajian yang terkait peran TNI AD, yaitu SDM
petani, etos kerja dan pemberdayaan (empowering) lahan, sarana produksi, gerakan
bersama tani dan Gelar Kekuatan TNI AD Balahanwil dan Balahanpus.
1) SDM Petani
Teknologi dan sumber daya manusia bukan hanya jumlah tetapi juga kualitas sangat
menentukan Indonesia dalam mencapai ketahanan pangan. Indonesia memiliki kualitas
pertanian yang sangat rendah, karena jumlah petani yang berkategori pendidikan
rendah (SD). Dengan rendahnya pendidikan ini tentu berpengaruh terhadap
kemampuan petani Indonesia untuk mengadopsi teknologi modern, termasuk
menggunakan mesin pertanian dan traktor. Di samping itu, SDM sebagai salah satu
faktor produksi, sangat menentukan keberhasilan pembangunan pertanian. Efisiensi
dan efektivitas akan tercapai apabila sumber daya manusia mampu mengelola sumber
daya dan faktor produksi lainya secara profesional. Oleh karena itu, SDM petani harus
diberdayakan melalui pelatihan, penyuluhan, studi banding dan bantuan teknis secara
intensif. Di sini peran perguruan tinggi seperti IPB dan universitas lainnya dengan
fakultas yang menangani pertanian serta lembaga penelitian dan pengembangan di
wilayah setempat sangat krusial.
2) Etos kerja dan pemberdayaan (empowering)
Petani yang selama ini diposisikan sebagai objek, harus berubah fungsinya menjadi
pelaku utama pembangunan, agar memiliki etos kerja yang baik. Di samping itu
memiliki agricultural oriented, sehingga melahirkan kader-kader petani yang berpikir
bahwa profesi petani itu membanggakan dan terhormat.
3) Sarana Produksi
Untuk menciptakan pertanian yang modern, tentunya harus didukung dengan adanya
sarana produksi yang memadai seperti, alat-alat pertanian modern, pupuk dan bibit
unggul, dan lain-lain. Ketika peralatan modern belum tersedia.
4) Gerakan Bersama Tani.
Dalam menciptakan iklim dan semangat bertani, perlu dilakukan gerakan pertanian
secara bersama yang melibatkan segenap komponen masyarakat, mulai dari desa
secara masif dan berkelanjutan di seluruh pelosok tanah air.
5) Gelar Kekuatan TNI AD Balahanwil dan Balahanpus
Sebagai kelanjutan gerakan bersama tani, peran TNI AD dalam OMSP dilibatkan
dengan memperhatikan dislokasi gelar satuan bersama masyarakat setempat.
BAB V
PENUTUP

a. Kesimpulan
1) Bagi bangsa Indonesia, ketahanan pangan merupakan komponen penting dari
ketahanan nasional untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang
cukup, layak, aman, dan terjangkau. Sebagaimana vitalnya pembangunan demokrasi
sebagai pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia, keberhasilan mempertahankan
serta memperkuat ketahanan pangan memerlukan peran dan kerja keras segenap
elemen bangsa, tak terkecuali TNI AD. Dengan kemanunggalan TNI-Rakyat dan
keberadaan Kowil mulai dari Kodam, Korem, Kodim, Koramil dan Babinsa sangat besar
perannya dalam membantu pemerintah melaksanakan program-program pembangunan
nasional, termasuk mewujudkan program ketahanan pangan.
2) Eksistensi satuan Kowil saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya
dalam kerangka OMSP, yang di dalamnya terdapat amanat untuk membantu
pemerintah dalam menanggulangi pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, bencana
alam dan ketahanan pangan serta memberdayakan wilayah pertahanan, dan mengawal
jalannya proses pembangunan nasional yang telah digariskan secara sah.
3) Dalam perspektif pertahanan negara, ketahanan pangan merupakan bagian dari total
defense penyiapan logistik wilayah. Oleh karena itu, TNI AD memiliki peran yang
signifikan dalam mewujudkan ketahanan pangan. Mengatasi krisis pangan menjadi
sasaran tugas yang harus dipikirkan dan dikerjakan dengan upaya-upaya yang kongkrit
dan berkesinambungan. Untuk itu, TNI AD perlu bekerjasama dengan pihak-pihak yang
terkait agar dapat menyiapkan lahan pertanian sekaligus menyiapkan personelnya, baik
dari matra darat maupun matra lain untuk memberikan pelatihan ketahanan pangan,
seperti penyuluhan pertanian, bercocok tanam, menangkap dan menangkar ikan,
pembuatan kompos, melakukan budi daya hayati dan nabati, meningkatkan
produktivitas tanaman pangan, seperti, padi, jagung, kedelai serta keterampilan teknis
tertentu, di antaranya mesin, elekronik dan bangunan yang mendukung sarana produksi
pertanian.
4) Ketahanan pangan menjadi tren dan masalah strategis yang kini melanda dunia,
termasuk Indonesia, sehingga harus cepat diatasi dan ditanggulangi dengan cara yang
tepat dan benar. Oleh karena itu, sebagai langkah awal diperlukan kesamaan visi dan
persepsi antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk saling bahu-membahu
dan bekerjasama. Dengan kerjasama dan kerja keras serta kebersamaan semua pihak,
krisis pangan Indonesia yang diprediksi banyak kalangan dapat terjadi pada tahun 2017
tidak akan terjadi.

b. Saran
1) Perlunya memberikan pemahaman kepada semua komponen bangsa terhadap
eksistensi dan peran satuan Kowil yang sangat besar manfaatnya bagi bangsa dan
masyarakat Indonesia dalam membantu pemerintah mengawal proses
pembangunan nasional di daerah serta membantu pemerintah meningkatkan
kesejahteraan rakyat, sehingga TNI AD dapat dijadikan mitra sejajar dalam
mengatasi setiap permasalahan termasuk krisis pangan, agar mencapai
swasembada pangan, yang pada akhirnya terlepas dari ketergantungan pada
produk impor.
2) Perlunya dibangun kantong-kantong pertanian dari unsur TNI AD dan masyarakat,
sehingga mampu, meminimalkan dan menghentikan praktek konversi lahan
pertanian produktif, mengoptimalkan lahan tidur yang dikuasai oleh negara untuk
kegiatan pertanian produktif, membangun agro industri berbasis masyarakat di
tingkat pedesaan dan meningkatkan teknologi pertanian tepat guna, sehingga akan
dapat mewujudkan ketahanan pangan di daerah.
3) Perlunya menanamkan kesadaran dan pemahaman yang sama tentang pertanian
sebagai motor penggerak perekonomian nasional, sehingga mampu menciptakan
kaderisasi petani yang berkualitas dan modern. Hal ini sejalan dengan visi
pembangunan pertanian modern, tangguh dan efisien. Semua ini landasan yang
harus dipedomani untuk mewujudkan ketahanan pangan.
4) TNI AD mendorong akademisi dan pakar ilmiah, agar mendesain ketahanan
pangan sekaligus juga dapat memberdayakan masyarakat untuk meminimalkan
penyebab krisis pangan, di antaranya kerusakan lingkungan hidup dan menjaga
kualitas lahan pertanian, agar dapat terwujudnya ketahanan pangan di Indonesia.
5) Menyiapkan kemampuan TNI AD di bidang pertanian, sebagai bekal para prajurit
pada saat terjun ke lapangan untuk menggerakan masyarakat, swasta, dunia usaha
dan komponen masyarakat lainnya, sekaligus sebagai bekal dalam second career
(pasca purna tugas ) bagi prajurit.