Anda di halaman 1dari 6

STRATEGI PENGURANGAN STRES PANAS

Stres panas harus ditangani dengan serius, agar tidak memberikan pengaruh
negatif yang lebih besar. Beberapa strategi yang digunakan untuk mengurangi
stres panas dan telah memberikan hasil positif adalah :
Þ Perbaikan sumber pakan/ransum, dalam hal ini keseimbangan energi, protein,
mineral dan vitamin (Ha, 2002 ; Mei and Hwang, 2002 ; Churng, 2002).
Þ Perbaikan genetik untuk mendapatkan breed yang tahan panas (Kwang,
2002).
Þ Perbaikan konstruksi kandang, pemberian naungan pohon dan mengkontinyu
kan suplai air (Velasco, et al. 2002).
Þ Penggunaan naungan, penyemprotan air dan penggunaan kipas angin serta
kombinasinya (Liang, 2002).

Adaptasi Ternak
Faktor-Faktor yang melibatkan proses adaptasi terhadap ternak antara lain:
1. Faktor Lingkungan
Dalam mempelajari hewan ternak, kita harus mengkaji faktor-faktor lingkungan
secara komprehensif. Hal ini perlu dipahami karena akan terjadi saling interaksi
di antara faktor-faktor lingkungan itu sendiri dan terjadi saling mempengaruhi
sebelum faktor-faktor lingkungan tersebut mempengaruhi hewan ternak. Terjadi
saling interaksi di antara sesama mineral-mineral dengan protein, mineral
dengan vitamin, dalam mempengaruhi hewan ternak. Faktor-faktor lingkungan
terutama faktor fisik dan kimia berpengaruh baik secara langsung maupun tidak
langsung terhadap tingkat dan proses metabolisme hewan ternak.
Adaptasi atau penyesuaian diri ternak terhadap lingkungan merupakan suatu
bentuk atau sifat tingkah laku yang ditujukan untuk bertahan hidup atau
melakukan reproduksi dalam suatu lingkungan tertentu. Lingkungan yang tidak
baik dapat mengakibatkan perubahan status fisiologis ternak yang disebut stres.
Ternak yang terkena stres tingkah lakunya akan berubah. Cara ternak untuk
mengatasi atau mengurangi stres adalah dengan penyesuaian diri, baik secara
genetis maupun fenotipe.
Ternak akan selalu beradaptasi dengan lingkungan tempat hidupnya. Adaptasi
lingkungan ini tergantung pada ciri fungsional, struktural atau behavioral yang
mendukung daya tahan hidup ternak maupun proses reproduksinya pada suatu
lingkungan. Apabila terjadi perubahan maka ternak akan mengalami stress.
Selain itu lingkungan merupakan faktor utama yang mempengaruhi tingkat
produktivitas ternak atau performance selain faktor genetic. Sehingga
lingkungan yang berhubungan langsung dengan performance pada ternak
merupakan faktor terpenting dalam penentuan karakter atau sifat dari ternak.
Pada umumnya lingkungan mempunya presentase yang lebih tinggi dibanding
genetic yaitu 70% untuk lingkungan sedangkan genetic 30%. Sehingga
mengambil bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter ternak.
2. Faktor Iklim
Berdasarkan gambaran curah hujan, Mohr (1933) membagi daerah-daerah di
Indonesia ke dalam 5 golongan, yaitu sebagai berikut.
1. Daerah basah, yakni daerah yang hampir setiap bulannya mempunyai curah
hujan minimal 60 mm.
2. Daerah agak basah, yakni daerah dengan periode kering yang lemah dan
terdapat satu bulan kering.
3. Daerah agak kering, yaitu daerah-daerah yang mengalami bulan-bulan kering
sekitar 3-4 bulan setiap tahunnya.
4. Daerah kering, yakni daerah yang mengalami bulan-bulan kering yang
lamanya mencapai 6 bulan.
5. Daerah sangat kering, yakni daerah dengan masa kekeringan yang panjang
dan parah.
Iklim merupakan faktor penentu cirri khas dan pola hidup dari suatu ternak.
Iklim sendiri merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja status faali dari
ternak. Pengaruh langsung iklim pada ternak adalah pada produktivitasnya.
Penentuan status faali dari ternak sangat penting untuk diketahui karena dengan
mengetahui status faali pada ternak, para peternak dapat menentukan dan
menemukan pengaruh lingkungan pada ternak. Karena pada dasarnya dengan
mengetahui temperature lingkungan, kelembaban, temperature kulit, suhu
tubuh, suhu rectal, respirasi dan denyut jantung, peternak akan dapat
mengetahui cara dan pengaruh buruk faktor-faktor iklim terhadap ternak serta
untuk mengetahui pada temperature dan kelembaban beberapa ternak memiliki
produktivitas yang baik dan efisien, oleh karena itu perlu adanya pengelolaan
yang lebih lanjut dan intensif. Selain itu iklim juga sangat berpengaruh terhadap
hewan ternak. Beberapa ahli mempelajari pengaruh iklim terhadap objek yang
spesifik, di antaranya iklim berpengaruh terhadap bentuk tubuh (Hukum
Bergmann), insulasi pelindung atau kulit dan bulu (Hukum Wilson), warna
(Hukum Gloger), tubuh bagian dalam/internal (Hukum Claude Bernard), dan
kesehatan dan produksi ternak.
Iklim yang cocok untuk daerah peternakan adalah pada klimat semi-arid.
Daerah dengan klimat ini ditandai dengan kondisi musim yang ekstrim, dengan
curah hujan rendah secara relatif dan musim kering yang panjang. Fluktuasi
temperatur diavual dan musim sangat besar, lengas udara sepanjang tahun
kebanyakan sangat rendah dan terdapat intensitas radiasi solar yang tinggi
karena atmosfir yang kering dan lagit yang cerah. Meskipun curah hujan
keseluruhan berkisar antara 254 sampai 508 mm, dapat terjadi lebat bila turun
hujan tetapi kejadiannya sangat jarang. Radiasi sinar matahari terhadap hewan
ternak dapat menimbulkan dua bentuk gangguan umum, yaitu mutasi gen oleh
radiasi kosmik dan kerusakan sel kulit oleh sinar ultra violet pada proses
'sunburn'. Hewan ternak mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri
dengan perubahan iklim.
3. Faktor Suhu
Suhu dan kelembaban udara merupakan faktor-faktor yang penting, karena
pengaruhnya sangat besar terhadap kondisi ternak. Suhu dan kelembaban udara
yang tinggi akan menyebabkan stress pada ternak sehingga suhu tubuh,
respirasi, dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun,
akhirnya menyebabkan produktivitas ternak rendah. Selain itu faktor suhu
berbeda dengan faktor yang lain yaitu iklim tidak dapat diatur atau dikasai
sepenuhnya oleh manusia. Bila suhu lingkungan berada di atas atau di bawah
comfort zone untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi
atau atau meningkatkan laju metabolisme. Williamson dan Payne (1968)
menjelaskan, pada sapi tropik yang dipelihara pada suhu lingkungan di atas
27°C mekanisme pengaturan panas aktif dan laju pernafasan dan penguapan
meningkat
Selain itu suhu dan kelembaban udara merupakan faktor yang mengatur iklim
serta adaptasi dan distribusi dari ternak dan vegetasi. Sebagi contoh, kehidupan
ternak sapi diperlukan suhu optimal diantara 13 sampai 180C dan bila suhu naik
diantara 1 – 100C dari suhu optimalnya, ternak akan mengalami depresi. Suhu
udara dan kelembaban tinggi akan menimbulkan stress akibat kenaikan suhu
tubuhnya. Untuk menurunkan suhu tubuhnya yang naik, maka diperlukan energi
tambahan guna mencapai keseimbangan tubuhnya, efisiensi energi pakan
(makanan) menjadi lebih kecil.
4. Faktor Ransum/Pakan
Pakan adalah sumber bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk menyusun
atau meramu ransum/makanan ternak. Ransum/makanan terdiri atas satu atau
lebih jenis bahan yang diberikan untuk kebutuhan ternak sehari semalam. Setiap
pakan ternak yang diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat
makanan yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin.
Faktor pakan berpengaruh terhadap podukivitas ternak, menurut para ahli
bahwa produktivitas ternak di suatu daerah dapat dilihat dari ketersediaan pakan
di daerah tersebut. Apabila ternak di daerah tersebut produktivitasnya rendah
maka kualitas dan kuantitas pakan yang tersedia keadaannya rendah pula. Dan
perlu diperhatikan pula faktor pakanpun dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.
Daerah yang ditempati oleh ternak harus ada kecocokan satu sama lainnya, yang
kemudian ditunjang dengan ketersediaan pakan yang cukup baik kualitas
maupun kuantitasnya untuk memenuhi kebutuhan hidup ternak. Dengan terjadi
saling ketergantungan satu sama lain dan masing-masing saling membantu,
maka produktivitas ternak di daerah tersebut akan menampilkan performans
yang baik.
Indicator kebehasilan adaptasi terhadap ransum antara lain:
• Semakin banyak ransum yang dimakan heat increment tinggi pada saat proses
pencernaan (terutama pakan kasar)
• Heat increment sangat mengganggu ternak pada saat udara panas lesu
cekaman panas penampilan turun (produksi rendah)
• Dalam kondisi udara dingin heat increment
• Nafsu makan naik, konsumsi naik, produksi rendah
5. Faktor Perkandangan
Pemeliharaan ternak terkurung dalam kandang adalah salah satu ciri khas
peternakan modern, terutama pada ternak monogastrik. Ini merupakan salah
satu faktor lingkungan ternak yang sangat penting diperhatikan di daerah tropis.
Dengan mengandangkan ternak, penyebaran penyakit terutama penyakit
zoonosis dapat lebih terkendali, pelayanan ternak lebih mudah, kerusakan
lingkungan dapat diminimalkan dan mikroklimat yang terbaik bagi ternak dapat
diusahakan. Kandang ternak harus memenuhi kebutuhan fisik maupun fisiologis
ternak, tahan lama, hemat energi (tenaga, air), dan hemat lahan. Lahan untuk
lokasi kandang perlu ditentukan dengan memperhatikan luas, topografi,
permukaan air tanah, dan jarak dari pemukiman, sedangkan bangunan kandang
harus memenuhi kebutuhan ternak sesuai dengan golongan atau status biologis
ternak, yakni bentuk bangunan, luas lantai, tata letak, arah dan jenis bahan
bangunan.
Pada peternakan modern dikenal tiga tipe perkandangan, yaitu sebagai berikut.
1. Kandang klimatik.
2. Kandang lingkungan terkontrol.
3. Kandang tipe kenel (kennel).
Syarat faktor-faktor fisik bangunan kandang ternak untuk daerah tropis adalah
sebagai berikut.
1. Bahan bangunan harus tahan lama, relatif murah dan berdaya pantul tinggi
terhadap sinar.
2. Berkemampuan rendah menyimpan beban panas yang berasal dari tubuh
ternak.
3. Kemiringan atap cukup biasanya 30-45 derajat sehingga ternak terlindung
dengan baik terhadap panas sinar, hujan, dan angin.
4. Sirkulasi udara terjamin dengan baik sehingga udara tak sehat dapat ke luar
dan udara segar dapat masuk.
5. Arah memanjang (poros) bangunan kandang adalah Timur-Barat, berbeda
dengan arah bangunan di daerah subtropis/temperat ataupun beriklim dingin.
6. Ada dua tipe lantai kandang, yaitu: (a) Lantai polos (solid floor); (b) Lantai
berbilah (slotted floor)
Hal yang perlu diperhatikan dalam menyelaraskan ternak dengan
perkandangannya adalah pembatasan jumlah pemeliharaan ternak. Dalam
memelihara ternak perlu adanya pembatasan jumlah yang dipelihara, hal ini
perlu diperhatikan oleh karena bila jumlah yang dipelihara dalam satu satuan
luas besar maka akan berpengaruh terhadap produksi ternak. Seperti yang
dikemukakan oleh Salisbury dan Salisbury bahwa semakin besar/tinggi jumlah
ternak yang dipelihara., maka bobot tubuh yang dihasilkan akan semakin kecil,
yang sebagian besar disebabkan insiden penyakit. Apabila dilihat dari segi
produksi energi maka semakin besar jumlah pemeliharaan ternak maka semakin
besar panas lingkungan sekitarnya sehingga ternak lebih terkonsentrasi untuk
menghalau panas dari luar tubuh, akibatnya untuk pertumbuhannya akan
terganggu.

Hasil pengukuran temperatur tubuh pada dua bangsa sapi: sapi Onggole dan
sapi persilangan Brahman x Charolais, memperlihatkan bahwa rataan
temperatur tubuh sapi Onggole 38,3 ºC dan sapi persilangan Brahman Cross
39,5 ºC. Menurut saudara mana sapi yang lebih tahan panas.
Jawab :
Dilihat dari soal bahwa Sapi persilangan Brahman x charolais yang
memiliki temperatur 39,5 ºC hal itu berarti bahwa jumlah keringat yang
dieksresikan lebih banyak dari pada Sapi Ongole dengan temperatur 38,3 ºC,
jadi sapi Ongole dengan suhu di bawah sapi persilangan Brahman x charolais
akan lebih tahan terhadap cekaman panas karena jumlah keringat yang
diekskresikan lebih sedikit. Hal ini disebabkan bahwa daya tahan ternak
terhadap panas dapat dihitung dengan melihat jumlah keringat yang
diekskresikan.

Manajemen pengendalian lingkungan seperti teknik modifikasi atau rekayasa


untuk mengendalikan suhu panas perlu dilakukan untuk memberikan tingkat
kenyamanan ternak sehingga dapat menghasilkan produksi yang optimal.
Rekayasa untuk mengurangi suhu lingkungan yang panas dapat dilakukan
dengan penyiraman air menggunakan sprinkler ke tubuh ternak.

Menurut Ismail (2006), perlakuan penyiraman pada sapi perah memberikan


respon yang baik terhadap produktivitas ternak, tetapi belum dilaporkan
pengaruhnya terhadap fisiologis dan produksi pada sapi potong. Berdasarkan
permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh
frekuensi penyiraman air terhadap respon fisiologis dan produksi Sapi
Peranakan
Simmental.

Salah satu upaya manipulasi 6

lingkungan yang dapat dilakukan untuk menurunkan suhu lingkungan di dalam


kandang adalah melakukan penyiraman dengan menggunakan air yang diubah
menjadi kabut melalui nozzle (mulut sprinkler). Perlakuan penyiraman
diharapkan dapat mereduksi panas yang berasal dari tubuh dan suhu lingkungan
tempat sapi dipelihara, sehingga dicapai kondisi lingkungan yang mendekati
kondisi nyaman atau Temperature-Humidity Index (THI) ( Dahlen dan
Stoltenow,
2012).
Perlakuan penyiraman yang berarti memberikan perlakuan pendinginan,
memiliki
konsep dasar untuk membantu ternak dalam memperlancar proses pelepasan
panas. Sukarli (1995) menjelaskan bahwa perlakuan penyiraman membantu
ternak mengurangi cekaman panas melalui konduksi, konveksi, dan evaporasi
kulit. Pelepasan panas dilakukan secara konduksi saat air disiramkan ke tubuh
ternak sehingga terjadi proses transfer panas dari tubuh ke media air yang
suhunya
lebih rendah. Transfer panas terjadi pada lapisan tipis yang berada di sekitar
kulit.