Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I

MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI SELAMA PELAKSANAAN


PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)

Dunia pendidikan merupakan salah satu jendela penunjang kehidupan


yang utama karena di dalamnya terdapat suatu proses yang dapat menghantarkan
individu, golongan, instansi, ataupun dunia menuju puncak kesuksesan abadi.
Pentingnya pendidikan mengarahkan dunia untuk terus mengembangkan
pendidikan dengan membangun lembaga-lembaga yang memfasilitasi kebutuhuan
pendidikan seperti bagaimana untuk menjadi pendidik yang baik guna
menghasilkan insan-insan yang berpendidikan baik di masa depan. Salah satu
lembaga pendidikan di Indonesia yang khusus mengarahkan mahasiswa untuk
berkecimpung dalam dunia pendidikan ialah Universitas Pendidikan Indonesia. Di
dalamnya dikemas serangkaian pembelajaran yang bertujuan untuk
mempersiapkan mahasiswa menjadi calon pendidik yang dapat menjadi the agent
of change yang siap untuk terjun dalam dunia pendidikan. Salah satu program
atau kegiatan yang diselenggarakan ialah Program Pengalaman Lapangan (PPL).
Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang diselenggarakan oleh Universitas
Pendidikan Indonesia merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
memfasilitasi mahasiswa untuk terjun langsung dalam dunia pendidikan yang
berfungsi sebagai investasi dini mahasiswa untuk bekal di kemudian hari. Praktik
merupakan bentuk nyata dari teori. Pelaksanaan PPL dapat dijadikan ajang untuk
terus mengasah kemampuan, menggali ilmu dan pengalaman, mengaplikasikan
teori-teori yang telah dipelajari, serta belajar bagaimana bersosialisasi dengan
dunia luar (dalam hal ini siswa, guru, rekan, dan pihak lainnya).
Kegiatan PPL ini meliputi, kegiatan observasi, orientasi, adaptasi, latihan
menyusun rencana pengajaran, latihan praktik penampilan mengajar dengan baik
yang berkaitan pula dengan tugas-tugas kependidikan lainnya.
Pelaksanaan PPL semester genap tahun ajaran 2016/2017 ini dilaksanakan
selama kurang lebih satu semester dari bulan Januari 2017 sampai bulan Juni 2017
di SMP Negeri 26 Bandung. Dalam pelaksanaannya banyak sekali pengalaman
yang didapat oleh praktikan. Pengalaman-pengalaman tersebut hadir dari runtutan

1
2

serangkaian permasalahan yang dialami. Permasalahan yang mucul ialah dari segi
penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, proses penampilan, bimbingan
belajar/ekstra kurikuler, partisipasi dalam kehidupan sekolah, serta proses
bimbingan. Berikut pemaparan lebih detilnya.

A. Penyusunan RPP
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan salah satu faktor
penting bagi pengajar dalam melaksanakan tugasnya, karena RPP berisi acuan
mengenai keseluruhan pembelajaran yang dilakukan (baik per pertemuan, per
pembahasan, atau per bab).
1. Penyusunan RPP Pertama
Pada saat praktikan diberitahukan untuk mulai mengajar pada pertemuan
selanjutnya (setelah melakukan observasi cara mengajar guru di kelas), praktikan
berpikir bahwa praktikan harus membuat RPP, dan memang guru pamong
menginstruksikan untuk membuat RPP yang kemudian disepakati untuk dibuat
per pertemuan. Praktikan merasa sedikit lega karena praktikan mempunyai
beberapa contoh RPP dan memang pada saat perkuliahan juga sudah dihadapkan
dengan tugas-tugas yang mengharuskan untuk mencari, menganalisis, dan bahkan
menyusun RPP. Namun, sebelumnya praktikan merasa bingung harus mengikuti
contoh RPP yang seperti apa, apakah menggunakan struktur RPP yang memang
seperti kebanyakan digunakan (termasuk salah satunya contoh RPP yang dipakai
di sekolah tempat praktikan PPL yang didapat dari peserta PPL sebelumnya).
Karena praktikan tidak begitu menyukai formatnya, pada akhirnya, kala itu,
praktikan membuat RPP dengan contoh yang dipakai pada saat tes micro
teaching. Praktikan sempat bingung juga harus disepertiapakan RPP nya dan apa
saja yang masih kurangnya.
Evaluasi dari penulisan RPP pertama ialah bahwa kompetensi dasar
beserta indikatornya sebaiknya disajikan dalam bentuk tabel agar memudahkan
pengelompokkannya, berhubung indikator dalam penulisan RPP pertama
disajikan dalam bentuk urutan angka sehingga tidak terlihat jelas mana yang
merupakan bagian dari aspek pengetahuan (sebagai contoh, Kompetensi Dasar
3

3.6) dan mana yang merupakan bagian dari aspek keterampilan (sebagai contoh,
Kompetensi Dasar 4.6).
Selain itu, penyusunan langkah-langkah pembelajaran sebaiknya tidak
dilengkapi dengan apa-apa saja yang hendak diucapkan oleh praktikan (seperti
cara mengucapkan greetings, cara memberikan instruksi, dan sebagainya) karena
hal-hal tersebut termasuk ke dalam bagian instrumen sehingga dicantumkan
terpisah. Untuk langkah-langkahnya sebaiknya dibuat singkat saja (intinya), salah
satunya untuk memudahkan pembaca. Tidak hanya itu, masalah lain yang dirasa
ialah kurang tepatnya pencantuman instrumen penilaian.
2. Penyusunan RPP Kedua
Pada penyusunan RPP kedua, masalah yang dirasa mucul ialah bagaimana
menentukan indikator serta bagaimana mengaplikasikannya dalam kegiatan
pembelajaran. Praktikan merasa bingung tentang bagaimana menyusun indikator,
apakah merujuk pada kegiatan yang kemudian mengarahkan siswa untuk
memahami bagaimana mempelajari suatu hal melalui bahasa Inggris, atau apakah
lebih kepada mengajarkan bahasa Inggrisnya itu sendiri karena pada saat
perkuliahan praktikan dianjurkan untuk tidak mengajarkan bahasa Inggris secara
langsung, tetapi mengajarkan bagaimana mempelajari suatu hal atau melakukan
suatu hal dengan menggunakan bahasa Inggris. Salah satu penyebab kebingungan
ini ialah kurangnya pengetahuan praktikan tentang penyusunan RPP dan
penyajian materi pembelajaran.
Karena sempat terjadi perbedaan jumlah pertemuan diantara kedua kelas,
terkadang RPP yang digunakan di kelas VII G berbeda dengan RPP yang
digunakan di kelas VII B. Hal tersebut diakibatkan oleh evaluasi dari RPP
sebelumnya pada saat pertemuan itu atau juga karena praktikan sendiri
mempunyai ide baru yang berbeda. Ini jelas menegaskan bahwa penyusunan RPP
dan penyiapan materi harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum hari H
pelaksanaan pembelajaran agar hasilnya dapat maksimal.
3. Penyusunan RPP Ketiga
Dalam penyusunan RPP ketiga, praktikan tidak mencantumkan aspek-
aspek yang seharusnya ada dalam RPP seperi instrumen, keterampilan, dan format
penilaian, serta lembar kerja siswa. Praktikan belum melengkapi format RPP yang
4

utuh. Praktikan menyusun beberapa aspek seperti lampiran dan instrumen secara
terpisah dalam bentuk sederhana yang dimengerti oleh praktikan dan belum
sempat mencantumkannya dalam RPP. Karena kelas lainnya memiliki jadwal
yang berbeda, akhirnya praktikan segera melengkapi RPP tersebut guna
diaplikasikan di kelas lain.
4. Penyusunan RPP Keempat
Praktikan memang masih merasa kebingungan dengan penyusunan RPP
serta bagaimana pengaplikasiannya di kelas. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya
pengetahuan praktikan akan hal tersebut dan kurang sigapnya mencari solusi yang
tepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada agar tidak terjadi kesalahan
lagi. Namun praktikan sudah mulai terbisa dengan penyususnan RPP.
5. Penyusunan RPP Kelima dan Keenam
Praktikan sudah semakin terbiasa menyusun RPP, dan rasa semangatpun
menjadi bertambah. Namun, dalam penyusunan RPP kelima dan keenam ini
dirasa terlalu banyak mencantumkan indikator. Seharusnya praktikan dapat
memilih indikator yang paling utama dan paling penting untuk diaplikasikan.
Selain itu praktikan kurang tepat dalam menyebutkan bentuk instrumen.
Seharusnya poin instrumen itu diisi dengan instrumen-instrumen yang dipakai
dalam pembelajaran, namun pada RPP keenam ini terjadi kesalahpahaman
pengertian. Praktikan mencantumkan bentuk instrumen seperti halnya aktivitas-
aktivitas yang dilakukan, padahal jelaslah itu berbeda dengan instrumen karena
instrumen itu merupakan suatu bentuk alat yang digunakan selama proses
pembelajaran. Cotoh instrumen ialah instruksi, tabel, teks deskripsi teks
percakapan, dan lain-lain bukan berupa aktivitas seperti menyusun puzzle,
melengkapi tabel, menyusun kalimat, dan sebagainya.
6. Penyusunan RPP Ketujuh, Kedelapan, dan Kesembilan
Praktikan terlalu banyak mencantumkan indikator, dan bahkan lebih parah
dari penyusunnan RPP sebelum-sebelumnya. Hal ini terjadi karena praktikan
belum menyadari betul akan hal itu. Praktikan mengira bahwa setiap aktivitas
yang dilakukan dalam proses pembelajaran dapat dijadikan sebagai indikator
(yang terpenting terulas selama pembelajaran), padahal seharusnya lebih
dikerucutkan agar aktivitas serta tujuan pembelajarannya lebih terukur.
5

7. Penyusunan RPP Kesepuluh dan Seterusnya


Praktikan sudah mulai terbiasa menyusun RPP dan selalu lebih
memperhatikan penulisan, indikator, langkah-langkah pembelajaran, instrumen,
penilaian, lembar kerja siswa, dan sebagainya.

B. Proses Penampilan
Sebelum melakukan pengajaran di kelas, seorang pendidik diharapkan
mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang agar materi yang disampaikan
dapat dicerna dengan baik. Persiapan yang matang dapat menghasilakn
pembelajaran yang efektif dan efisien.
Selama melaksanakan program pengalaman lapangan ini praktikan merasa
kurang percaya diri mengajar di kelas, berhubung pribadi praktikan yang kurang
dapat mencairkan suasana kelas. Praktikan sering kali melakukan kesalahan
penulisan / typo karena memang praktikan sendiri tidak sadar akan hal tersebut,
sehingga baru disadari setelah pembelajaran selesai.
Hal tersebut disebabkan oleh kurang fokusnya praktikan dalam mengajar.
Praktikan juga sering kekurangan waktu mengajar yang akhirnya pembelajaran
tidak selesai tepat pada waktunya. Hal ini tentu selalu disadari oleh guru pamong
dan tentunya beliau selalu menegaskan masalah waktu tersebut. Berikut masalah-
masalah yang dihadapi praktikan selama melaksanakan proses pembelajaran:
1. Penampilan Mengajar Pertama
Pada penampilan pertama, praktikan masih meraba-raba situasi dan
kondisi siswa. Pada saat pembagian kelas mengajar, praktikan dengan praktikan
lain mendapat kendala penempatan berhubung terdapat kesamaan pilihan.
Sehingga penempatannya ditentukan dengan pilihan acak (dikocok).
Kesimpulannya ialah, praktikan mengajar di dua kelas, yaitu kelas VII B dan
kelas VII G. Hal yang tidak diduga ialah bahwa kedua kelas tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda, yang mana kelas VII B cenderung lebih mudah
diarahkan namun tidak begitu aktif dibandingkan dengan kelas VII G, yang mana
anak-anaknya cenderung lebih aktif namun sedikit sulit untuk diarahkan.
2. Penampilan Mengajar Kedua
6

Praktikan sudah mulai dapat menyesuaikan dan dapat menyajikan


beberapa instrumen yang mendukung proses pembelajaran. Namun pada
penampilan kedua ini proses pembelajaran tidak selesai seperti apa yang
direncanakan karena ada salah satu kegiatan yang tidak dapat direalisasikan persis
seperti yang tertera pada RPP. Hal ini diakibatkan oleh pembagian alokasi waktu
yang kurang tepat. Sebagai contoh, pada saat membahas soal berbentuk puzzle,
seharusnya siswa secara berkelompok berlomba-lomba untuk maju ke depan dan
menuliskan hasil kerjanya lalu siswa (kelompok lain) memeriksa pekerjaan
kelompok lainnya. Namun, karena terbatasnya waktu, akhirnya jawaban langsung
dibahas bersama dan dituliskan oleh pengajar.
3. Penampilan Mengajar Ketiga
Pada saat ini praktikan merasa sedikit bingung tentang bagaimana menilai
penampilan berbicara siswa yang dilakukan secara bersama-sama dalam
kelompok, berhubung setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda. Tak
hanya itu, pengajar juga tidak dapat sepenuhnya fokus terhadap setiap detail
penampilan siswa yang nantinya khawatir tidak dapat memberikan nilai yang
tepat dan sesuai. Akhirnya, penampilan berbicara pertama siswa tersebut tidak
dinilai secara langsung. Setelah mendapatkan saran dari guru pamong bahwa
penampilannya harus dinilai (nantinya termasuk ke dalam penilaian kelompok),
saya menilai penampilan masing-masing kelompok di kelas yang lainnya.
Memang sulit untuk mengambil kesimpulan dan memberikan penilaian, tetapi
praktikan mencoba untuk memberikan yang terbaik.
4. Penampilan Mengajar Keempat
Pada pertemuan keempat ini praktikan sudah mulai berpikir untuk
menyajikan sebuah permainan yang dapat membantu mengasah kemampuan
mengingat siswa, yaitu dengan estafet membisikkan kalimat sampai barisan
terakhir, lalu barisan yang terakhir menulis kata-kata tersebut. Tentunya, ada yang
menuliskannya dengan benar dan ada yang menuliskannya dengan sedikit atau
banyak melenceng dari jawaban yang benar. Tak hanya itu, aktivitas lain yang
diberikan ialah menyusun teks percakapan yang telah diaca
7

k menjadi
suatu teks percakapan yang terpadu. Namun praktikan masih belum efektif
mengatur tata letak pembagian kelompk sehingga kelompok yang satu dengan
yang lain saling berdesakan.
5. Penampilan Mengajar Kelima
Praktikan merasa masih belum maksimal dalam memberikan penilaian
kepada siswa pada saat siswa melakukan praktek berbicara secara individu yang
disajikan dalam bentuk percakapan (berpasangan). Praktikan masih kebingungan
untuk mengaplikasikan aspek-aspek penilaian beserta ketentuannya (yang
menunjukkan pengucapan yang lancar itu yang seperti apa, yang menunjukkan
intonasi yang tepat itu seperti apa). Sebagai contoh, apabila ada siswa dengan
kemampuan mengucapkan kata-kata dengan tepat namun terdapat dua atau
beberapa kata yang kurang tepat pengucapannya, apakah tergolong ke dalam
tingkat yang sangat lancar atau lancar saja atau cukup lancar, dan lain sebaginya.
Praktikan sendiri sedikit kerepotan dalam memberikan penilaian dikarenakan
pengetahuan praktikan yang masih awam akan hal itu. Sehingga praktikan
mencoba menentukan nilai sebisa mungkin agar sesuai. Karenanya, praktikan
meihat langsung daftar rentang nilai dari 1-4 beserta penjelasannya guna
menyocokkannya dengan kemampuan siswa.
6. Penampilan Mengajar Keenam
Praktikan mencoba untuk memasukkan aktivitas yang memang tidak ada
dalam buku. Dalam proses ini, praktikan menggabungkan materi tambahan.
Aktivitasnya dirancang guna menambah kepekaan siswa untuk berinteraksi
dengan teman-temannya. Tidak hanya itu, praktikan merancang sebuah lirik lagu
yang berkaitan dengan pembahasan, lalu menekankan siswa untuk menyimak lirik
lagu yang dibacakan oleh guru guna melatih kemampuan mendengarkan siswa.
Namun praktikan terlalu cepat dalam membacakan lirik lagunya sehingga
membuat siswa kurang dapat menangkap dengan baik. Beruntung ada guru
8

pamong disana, beliau mengingatkan untuk tidak terlalu cepat, dan mengingatkan
untuk mengeja kata yang dirasa asing oleh siswa.
7. Penampilan Mengajar Ketujuh, Kedelapan, dan Seterusnya
Praktikan masih selalu tidak sadar mengenai gesture dan raut muka pada
saat mengajar. Terkadang praktikan melakukan suatu gesture atau raut muka yang
memang tidak seharusnya dilakukan. Praktikan benar-benar tidak sadar akan hal
itu. Namun praktikan sudah mulai terbiasa dengan pengelolaan kelas dan
pengelolaan waktu. Mengenai raut muka, hal tersebut sulit untuk dikendalikan
karena pada kenyataannya praktikan memang kurang senyum dan terlihat
menyeramkan (dikuatkan oleh pendapat orang lain).

C. Bimbingan Belajar/Ekstra Kurikuler


Selain mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, praktikan juga
diarahkan untuk berkontribusi dalam kegiatan ekstra kurikuler yang ada di
sekolah. Selain untuk ikut andil sebagai bagian dari suatu tatanan institusi yang
mengharuskan partisipasi di dalamnya, hal ini bertujuan untuk menambah
wawasan serta pengalaman, belajar untuk lebih dekat dengan siswa, belajar
berkoordinasi dengan pihak sekolah ataupun praktikan lainnya, belajar
mengoordinasi suatu kegiatan, dan masih banyak lagi manfaat yang dapat
dirasakan oleh masing-masing praktikan. Terdapat beberapa ekstra kurikuler yang
dapat diikuti seperi Baskara, Pramuka, OSIS, Kariswa (Suara, Musik, atau Tari)
PMR, Basket, dan ekstra kurikuler lainnya. Pada awalnya praktikan merasa
bingung dan sedikit ragu untuk menentukan ekstra kurikuler. Akhirnya, praktikan
memutuskan untuk mengikuti ekstra kurikuler Kariswa Suara yang dilaksanakan
pada hari Rabu dan Pramuka yang dilaksanakan pada hari Sabtu. Terkadang
jadwal ekstra kurikuler berbarengan dengan kepentingan lain yang memang tidak
dapat ditinggalkan. Akhirnya praktikan harus meminta izin untuk tidak mengikuti
ekstra kurikuler pada saat-saat tertentu.

D. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/Tempat Latihan


Selain mengikuti serangkaian kegiatan belajar mengajar di kelas, praktikan
juga diarahkan untuk berkontribusi dalam kehidupan sekolah, seperti
9

melaksanakan upacara, piket KBM/ TU/ UKS/ Perpustakaan. Selain membantu


pihak sekolah, tujuan utama dari kontribusi ini ialah untuk menambah wawasan
dan pengalaman praktikan di lingkungan sekolah agar kedepannya apabila terjun
di dunia pendidikan, praktikan sudah memiliki gambaran dan tahu harus berbuat
apa.
Selama pelaksanaan PPL, praktikan berpartisipasi dalam pelaksanaan
piket, diantaranya ialah piket KBM yang dilakukan satu kali dalam seminggu
yaitu tepatnya pada hari Jumat (walaupun sebelumnya pada hari Senin) serta piket
TU, UKS, dan Perpustakaan yang diatur secara bergiliran dengan praktikan
lainnya. Dalam piket KBM, praktikan memiliki tugas untuk:
1. Membunyikan bel sekolah pada saat jam masuk, pergantian jam pelajaran,
jam istirahat, dan jam pulang sekolah.
2. Memberikan tugas apabila guru yang bersangkutan berhalangan hadir.
3. Membantu para tamu yang memiliki kepentingan dengan pihak sekolah.
4. Menyebarkan surat kepada siswa atau kepada guru (apabila ada suatu
pemberitahuan).
5. Memberikan siswa izin masuk atau keluar kelas/sekolah.
6. Mendata siswa yang tidak hadir. Mengingatkan siswa untuk mengisi absensi
atau bahkan keliling memasuki kelas-kelas untuk mengecek kehadiran.
Untuk piket TU sendiri praktikan diarahkan untuk melengkapi buku/ arsip-
arsip sekolah. Untuk piket UKS sendiri praktikan dianjurkan untuk mengecek
daftar pengunjung UKS, mengecek obat-obatan yang digunakan, serta membantu
siswa atau pihak lain yang membutuhkan. Pelaksanaan piket perpustakaan
diarahkan untuk mencatat siswa yang akan meminjam atau mengembalikan buku
serta merapihkan buku-buku yang tidak tersusun rapi. Selain itu praktikan
mengikuti upacara bendera yang dilaksanakan di sekolah setiap hari Senin.
Tidak hanya itu, praktikan juga diarahkan untuk menjadi bagian dari
pengawas manakala dilaksanakan TO atau Ujian Sekolah. Hal tersebut dapat
menambah pengalaman praktikan dalam hal kegiatan mengawasi ujian, tahu
aturannya, tahu seperti apa berlangsungnya suatu ujian, dan tahu harus mengambil
tindakan seperti apa pada situasi dan kondisi tertentu. Berkaitan dengann ini,
praktikan rasa kurang begitu maksimal dalam menjalankan tugasnya. Sebagai
10

contoh, ketika praktikan memiliki mandat untuk mengawasi TO atau ujian, karena
jadwal yang terkadang bentrok dengan kegiatan pembelajaran di kelas, praktikan
terkadang tidak melaksanakan tugas untuk mengawas. Hal tersebut berakibat pada
ketidak tenangan. Akhirnya praktikan menanyakan kepada praktikan yang lain
mengenai jadwal yang memungkinkan untuk melakukan pergantian jadwal
mengawas.

E. Proses Bimbingan
Pelaksanaan PPL ini tidak dapat berlangsung dengan lancar tanpa adanya
bantuan serta dukungan dari pihak lain. Karenanya memerlukan bimbingan serta
arahan baik itu dari guru pamong ataupun dari dosen pembimbing PPL.
Guru pamong memiliki peranan penting dalam pelaksanaan PPL ini. Guru
pamong mempunyai tugas untuk membimbing praktikan yang dibimbingnya agar
mengenal situasi kelas dan situasi siswa. Selain itu memiliki tugas untuk
memeriksa, mengomentari, dan menilai setiap rencana pelaksanaan pembelajaran
yang dibuat praktikan serta mengamati dan menilai setiap penampilan praktikan
untuk kemudian diberitahukan kepada praktikan hal-hal yang tepat ataupun belum
tepat serta memebrikan saran-saran yang membangun. Dari sini praktikan belajar
untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama serta berusaha untuk lebih baik lagi
dari sebelumnya. Saran atau masukan ini tentunya sangat bermanfaat bagi
praktikan, yang kemudian dapat langsung diaplikasikan dan dijadikan sebagai
arsip pengetahuan oleh praktikan. Proses bimbingan dengan guru pamong ini
berjalan dengan lancar dan biasanya dilakukan setiap selesai pengajaran.
Selain guru pamong, dosen pembimbing PPL juga memiliki peranan
penting bagi kelancaran pelaksanaan PPL, yakni terjalinnya hubungan baik serta
berlangsungnya proses bimbingan selama beberapa kali guna membahas isu-isu
yang biasa terjadi dalam pelaksanaan PPL. Selama proses bimbingan ini, proses
komunikasi berjalan dengan lancar.
11

BAB II

FAKTOR PENYEBAB DARI MASALAH YANG DIALAMI SELAMA


PELAKSANAAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)

Masalah tidak akan muncul tanpa adanya penyebab. Karenanya, untuk


mengenali suatu masalah harus mengenali juga penyebabnya agar upaya
penanggulangannya dapat dikenali. Pelaksanaan PPL di SMPN 26 Bandung ini
tentunya tidak luput dari berbagai permasalahan yang dialami oleh praktikan.
Adapaun penyebab dari masalah-masalah yang mucul seperti yang sudah
dipaparkan sebelumnya ialah sebagai berikut.

A. Penyusunan RPP
Diantara berbagai permasalahan yang dialami praktikan selama proses
penyusunan RPP, berikut beberapa penyebab yang nampak dari permasalahan
yang sudah diulas sebelumnya:
1. Praktikan tidak begitu ahli dalam menentukan indikator dengan tepat.
Praktikan sendiri merasa bingung apakah harus menentukan indikator
berdasarkan setiap aktivitas yang dilakukan, atau hanya mengambil beberapa
poin penting yang menyeluruh. Praktikan belum menyadari betul bahwa
seharusnya indikator itu merupakan aspek yang menjadi acuan tercapai atau
tidaknya suatu tujuan pembelajaran.
2. Praktikan tidak memiliki waktu yang cukup dalam menyusun RPP, sehingga
tidak sempat untuk menuangkan rencana prlaksanaannya ke dalam bentuk
RPP yang utuh.
3. Praktikan kurang mengasah keamampuan akan penyusunan RPP dan kurang
sigapnya mencari solusi yang tepat untuk mengatasi setiap permasalahan
yang ada agar tidak terjadi kesalahan lagi ke depannya.
4. Praktikan kurang mencari informasi dari referensi-referensi lain tentang
bagaimana menyusun RR yang tepat.
12

5. Praktikan kurang menanamkan kesadaran akan pentingnya suatu rencana


pelaksanaan pembelajaran bagi insan pendidik.
6. Praktikan tergesa-gesa dalam proses penyusunan RPP yang akhirnya
berujung pada ketidak telitian.
B. Penampilan
Faktor-faktor penyebab dari masalah
11 yang dialami oleh praktikan selama
proses penampilan mengajar di kelas dipaparkan sebagai berikut.
1. Praktikan merasa kurang percaya diri dan belum bisa sepenuhnya mengatasi
permasalahan ini. Praktikan sering kali masih merasa malu untuk berekspresi
di hadapan siswa yang akhirnya membuat praktikan kurang dapat
mendekatkan diri dengan siswa.
2. Praktikan terkadang tidak fokus pada saat mengjar sehingga tidak sadar akan
kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada saat pembelajaran seperti kesalahan
pengucapan, penulisan, kesalahan dalam berperilaku, kesalahan gesture yang
memiliki akibat fatal dan kesalahan-kesalahan lainnya.
3. Faktor yang menyebabkan waktu pembelajaran berkurang ialah kenyataan
bahwa kelas VII menggunakan sistem moving class. Salah satu contohnya
ialah ketika dilaksanakan Try Out kelas IX, kelas VII G harus mencari
ruangan lain untuk belajar dikarenakan ruangannya dipakai untuk TO (karena
ruangan untuk belajar bahasa Inggris pada salah satu hari ialah di kelas IX H).
Proses pencarian ruangan ini selalu menyita waktu yang cukup ditambah
siswa yang harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain sampai
menemukan tempat yang cocok. Karena dari awal saja sudah menyita waktu
yang cukup, pembelajaran sering tidak selesai tepat pada waktunya
(meskipun hanya beberapa menit saja lebihnya).
4. Praktikan kurang tepat dalam mengalokasikan waktu.
5. Praktikan kurang berpengalaman dalam memberikan penilaian kepada siswa.
6. Praktikan kurang menebar senyum hangat kepada siswa.
7. Praktikan kurang dapat memotivasi siswa dalam belajar karena dirasa masih
kurangnya kemampuan mengelola kelas.
8. Praktikan kurang dapat menarik perhatian siswa sehingga masih ada siswa
yang selalu gaduh pada saat pembelajaran berlangsung.
13

C. Bimbingan Belajar/Ekstra Kurikuler


Penyebab dari permasalahan yang muncul ialah kenyataan bahwa
praktikan kurang giat dalam mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, serta kurang
bersosialisasi dengan siswa dan pihak lainnya. Selain itu, jadwal kegiatan ekstra
kurikuler yang terkadang berbenturan dengan jadwal lainnya yang tidak dapat
ditinggalkan oleh praktikan.

D. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/Tempat Latihan


Kekeliruan dalam proses partisipasi dalam kehidupan sekokah ini terjadi
karena penentuan jadwal mengawas yang memang ditentukan secara acak oleh
beberapa pihak (mengingat yang mendapatkan peran sebagai pengawas harus
lebih mengutamakan mengawas dibandingkan dengan mengajar). Karena
minimnya waktu pembelajaran yang selalu terpotong oleh jadwal-jadwal lain,
akhirnya praktikan lebih memilih untuk mengajar.

E. Proses Bimbingan
Apabila muncul kendala dalam hubungannya dengan proses bimbingan
dengan guru pamong, pastilah itu karena kelalaian praktikan sendiri dalam
mengemban amanat serta kurang sigapnya praktikan dalam bertindak dan
mengelola waktu. Meskipun praktikan selalu menanyakan masukan, komentar,
serta menanyakan hal-hal yang kurang dimengeri oleh praltikan, tetap saja
praktikan dirasa kurang begitu sering dan aktif berkonsultasi dengan guru
pamong. Namun, keseluruhannya berjalan dengan lancar. Terjalin komunikasi
yang baik antara praktikan dan guru pamong. Selain itu, guru pamong selalu dapat
dihubungi dengan mudah dan cepat.
Kendala yang muncul berkaitan dengan proses bimbingan dengan dosen
pembimbing salah satunya disebabkan oleh padatnya agenda kegiatan dosen.
Walaupun begitu, komunikasi tetap terjaga dan dapat terjalin dengan baik. Selain
itu dosen pembimbing juga selalu menanyakan mengenai kelancaran proses
pelaksanaan PPL kepada praktikan memalui media sosial.
14

BAB III

UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH YANG DIALAMI SELAMA


PELAKSANAAN PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)

Setelah diketahui penyebab dari masalah-masalah yang muncul, praktikan


harus mencari solusi untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut, karena
apabila dibiarkan begitu saja akan memberikan dampak yang cukup signifikan
terhadap kelangsungan pembelajaran baik untuk praktikan itu sendiri ataupun
untuk murid dan lingkungan sekitar praktikan. Berikut pemaparan dari beberapa
upaya yang dilakukan.

A. Penyusunan RPP
1. Praktikan melakukan konsultasi kepada guru pamong mengenai format RPP
yang benar. Guru pamong memberi tahu format RPP yang tepat yang
digunakan. Guru pamong memberi tahu praktikan bagaimana mencantumkan
instrumen dengan tepat.
2. Praktikan meminta saran kepada guru pamong tentang bagaimana
menentukan indikator yang tepat dari standar kompetensi tertentu.
3. Praktikan membuat RPP beberapa hari sebelum hari pelaksanaan
pembelajaran.
4. Praktikan mencoba-coba beberapa indikator lalu menentukan yang mana
yang lebih cocok untuk disajikan.
5. Praktikan mencoba membuat RPP dengan LKS yang dibuat sedikit lebih
menarik guna meningkatkan semangat dan motivasi dalam mengajar serta
dalam menyusun RPP berikutnya.
6. Praktikan berkonsultasi dengan praktikan lain mengenai format RPP serta
materi pembelajaran.
7. Praktikan menghindari hal-hal yang dapat menghambat pengerjaan RPP, serta
mengerjakan RPP jauh-jauh hari sebelum pembelajaran agar dapat
dipertimbangkan dengan maksimal.
15

B. Penampilan
1. 14 siswa untuk maju ke depan untuk
Praktikan membagi rata kesempatan
mengerjakan soal yang diberikan. Sebagai contoh, praktikan mengarahkan
siswa untuk berlomba-lomba mengangkat tangannya per baris, lalu siswa
yang lain memerhatikan siswa mana yang mengangkat tangannya lebih awal,
maka ialah yang berhak menuju ke depan. Hal ini dilakukan supaya tidak ada
kecemburuan sosial.
2. Praktikan menyisipkan lagu pada beberapa pertemuan agar siswa merasa
sedikit terhibur.
3. Praktikan melihat cara pengucapan kata-kata tertentu kemudian berlatih cara
pengucapannya agar tidak ada kesalahan lagi pada saat pembelajaran.
4. Praktikan mencoba untuk tidak terbawa emosi.
5. Praktikan mempersiapkan rencana lain untuk diaplikasikan apabila rencana
yang sudah dibuat dirasa tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.
6. Praktikan mengurangi agenda kegiatan sehingga tidak terlalu banyak yang
harus dikerjakan oleh siswa agar pembelajaran selesai tepat pada waktunya.

C. Bimbingan Belajar/Ekstra Kurikuler


Praktikan lebih memerhatikan lagi jadwal kegiatan ekstra kurikuler
sehingga tidak lupa atau tidak mengerjakan dulu agenda lain selama mengikuti
kegiatan ekstra kurikuler. Praktikan berusaha lebih giat lagi untuk mengikuti
kegiatan ekstra kurikuler serta mencoba untuk lebih bersosialisasi dengan siswa,
teman praktikan, dan pihak lainnya.

D. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/Tempat Latihan


Praktikan bergantian dengan praktikan lainnya untuk mengawasi TO/Ujian
(menyesuaikan jadwal) sehingga trejadi proses saling membantu antar praktikan.

E. Proses Bimbingan
16

Praktikan lebih giat lagi untuk melakukan bimbingan dengan guru pamong
serta lebih sering mengonsultasikan rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun
mengonsultasikan hal-hal yang perlu untuk didiskusikan. Selain itu, praktikan
juga lebih sering menghubungi dosen pembimbing PPL mengenai kelancaran
pelaksanaan PPL seperti ujian PPL, dan lain-lain.
17

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang diselenggarakan oleh
Universitas Pendidikan Indonesia merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan
untuk memfasilitasi mahasiswa untuk terjun langsung dalam dunia pendidikan
yang berfungsi sebagai investasi dini mahasiswa sebagai bekal di kemudian hari.
Dalam pelaksanaannya banyak hal-hal yang luar biasa bermanfaat yang dirasakan
oleh para praktikan PPL. Hal-hal luar biasa tersebut dapat menjadi kunci untuk
membuka gerbang-gerbang kehidupan pendidikan yang lebih baik di masa depan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pelaksanannya praktikan sering
menjumpai masalah-masalah atau hambatan-hambatan baik itu yang sederhana
ataupun yang rumit sekalipun. Meskipun begitu, motivasi praktikan, kerjasama
praktikan dengan pihak-pihak lainnya menjadi penawar kemungkinan
terjangkitnya permasalahan yang lebih dalam dan memanjang. Semuanya tetap
berjalan dengan baik dan lancar yang akhirnya menuntun para praktikan menuju
gerbang keberhasilan sampai waktu yang ditentukan.
Banyak sekali pengalaman pun pelajaran yang didapat dari pelaksanaan
PPL ini, yang diantaranya yaitu meningkatkan kesadaran praktikan akan
pentingnya pendidikan dan mendidik yang baik, pentingnya ilmu yang cukup
untuk dapat terjun ke dalam dunia pendidikan secara langsung, pentingnya
berkoordinasi baik dengan pihak-pihak lain, pentingnya bersosialisai positif,
pentingnya menyusun suatu rencana pembelajaran dengan cermat, efektif, dan
efisien, serta pentingnya menjadi suri tauladan yang baik yang dapat
menghasilkan insan-insan penerus bangsa yang cemerlang, jujur, disiplin, adil,
bijaksana, santun, serta dapat saling tolong-menolong dalam kebaikan.

B. Saran
18

Permasalahan merupakan suatu asupan yang harus digemari dan


dibiasakan untuk dikunyah oleh insan pendidik agar menjadi pendidik yang
tangguh, pantang menyerah, dan terbiasa menghadapi berbagai permasalahan agar
dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Begitupun dengan pelaksanaan PPL di
SMPN 26 Bandung ini tidak luput dari berbagai kendala dan permasalahan. Dari
17
pengalaman-pengalaman yang ada, diharapkan praktik pengalaman lapangan
selanjutnya dapat berkembang menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Berikut beberapa saran yang dapat menjadi pertimbangan praktikan PPL
selanjutnya, pihak sekolah, serta pihak universitas.
1. Bagi Praktikan
a. Praktikan diharapkan melakukan persiapan secara matang sebelum
melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas agar hasilnya maksimal
(penyampaian materi dapat diserap dan diterima secara efektif oleh siswa).
b. Mengetahui dengan baik metode-metode dan strategi-strategi pembelajaran
agar dapat menerapkan metode dan strategi yang sesuai dengan karakter
siswa di lapangan serta mengaplikasikan metode dan strategi yang bervariasi
dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas.
c. Menyajikan pembelajaran dalam aktivitas-aktivitas yang dibungkus secara
kreatif dan inovatif yang dapat meningkatkan motivasi siswa.
d. Melakukan bimbingan secara berkala dengan guru pamong dan dosen
pembimbing PPL mengenai rencana pelaksanaan pembelajaran serta
penampilan mengajar di kelas.
e. Menjadi suri tauladan yang baik dalam bersikap, bertindak, dan
berpenampilan.

2. Bagi Pihak Sekolah


a. Pihak sekolah diharapkan dapat meningkatkan sarana dan prasarana
pendidikan yang dapat menunjang proses pembelajaran agar berlangsung
secara efektif.
b. Mempertahankan tali silaturahmi serta kerja sama yang telah terjalin dengan
tetap menjaga hubungan baik.
19

c. Tetap menyediakan lapangan kesempatan bagi para mahasiswa untuk


mengembangkan diri melalui pelaksanaan pengalaman kependidikan yang
selama ini sudah terjalin dengan baik.
d. Tetap berusaha menjadi yang terbaik.
e. Tetap bekerja sama dengan baik (antar perangkat sekolah) dalam
mewujudkan pendidikan yang cemerlang.

3. Bagi Pihak Universitas


Praktikan berharap agar pihak universitas dapat terus meningkatkan
kualitas kegiatan PPL hingga mencapai keberhasilan yang maksimal.
Berkaitan dengan hal ini, untuk kedepannya, semoga permasalahan yang
dapat menghambat kelancaran kegiatan PPL dapat diatasi sehingga:
a. Pembagian buku panduan PPL dilakukan sebelum praktikan terjun langsung
ke lapangan agar dapat dijadikan panduan oleh praktikan dari titik paling
awal sampai titik paling akhir. Tanpa buku panduan di awal, praktikan merasa
bingung tentang apa saja yang harus dilakukan pada saat pertama kali
memasuki sekolah, pihak mana saja yang harus dihubungi, serta harus
berbuat seperti apa dan bertindak bagaimana.
b. Pencantuman ketentuan disajikan dalam bentuk lebih lengkapnya untuk
diperhatikan oleh praktikan agar terlahir persamaan ketentuan antar setiap
praktikan di sekolah manapun.
20

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Akademik Universitas Pendidikan Indonesia. (2017). Panduan


Program Pengalaman Lapangan (PPL). Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.