Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI

PENETRANT TEST

Disusun Oleh :
Rizky Dwi Rachmadi (0216030005)
Ganang Radya K.G (0216030006)
Christien Adeliasavitri (0216030008)
Ahmad Fahruddin (0216030016)
Abdul Azis (0216030029)

JURUSAN TEKNIK BANGUNAN KAPAL


PRODI TEKNIK BANGUNAN KAPAL
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2018
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Pada proses pengelasan yang dilakukan pada material yang bersifat
kelogaman kadang ditemukan kecacatan pada material yang diuji disebabkan
karena banyak faktor, seperti kurang bagusnya bahan yang digunakan dan
kurang sempurnanya proses pengelasan. Untuk mengetahui kecacatan yang
terjadi pada material yang diuji sering digunakan NDT (Non Destructive Test).
NDT (Non Destructive Test) sering digunakan untuk menguji suatu
material itu sendiri disebabkan karena metode ini lebih efektif dan efisien
daripada metode – metode yang lain. Menggunakan metode NDT banyak
manfaat yang di dapat, seperti biaya yang relatif murah dan waktu yang tidak
terlalu lama, sehingga kegiatan pengujian ini akan berjalan semakin optimal.
Praktikum ini diadakan agar praktikan mengetahui tata cara dan prosesur
pengujian material dengan NDT menggunakan metode Liquid Penetrant.
Dengan metode ini kita bisa mengetahui proses pengujian dengan detail dan
apakah terdapat kecacatan atau keretaka pada proses pengelasan tersebut. Selain
itu praktikum ini juga berguna bagi praktikkan untuk menilai baik buruknya
suatu pengelasan.

2. TUJUAN
1.1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan pengujian Non-destructive test
dengan Liquid Penetrant.

Teknik Bangunan Kapal Page 1


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

1.2.1 Tujuan Khusus


Mahasiswa mampu menjelaskan syarat-syarat suatu komponen
yang dapat diuji dengan Liquid penetran dan mampu menjelaskan jenis-
jenis diskontinyuitas yang mampu dideteksi dengan Liquid Penetran.

2. DASAR TEORI
Pengevaluasian atau inspeksi terhadap suatu diskontinyuitas pada
konstruksi yang menggunakan material logam, sebaiknya dilakukan secara rutin,
untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja, dan juga akan
mempermudah perawatannya. Untuk melakukan pengevaluasian atau inspeksi
tersebut diperlukan suatu metoda pengujian yang sekiranya mampu mendeteksi
keberadaan diskontinyuitas pada suatu logam material.
Uji liquid penetrant merupakan salah satu metoda pengujian jenis NDT
(Non-Destructive Test) yang relatif mudah dan praktis untuk dilakukan. Uji
liquid penetran ini dapat digunakan untuk mengetahui diskontinyuitas halus
pada permukaan seperti retak, berlubang atau kebocoran. Pada prinsipnya
metoda pengujian dengan liquid penetrant memanfaatkan daya kapilaritas.
Liquid penetrant dengan warna tertentu (merah) meresap masuk kedalam
diskontinyuitas, kemudian liquid penetrant tersebut dikeluarkan dari dalam
diskontinyuitas dengan menggunakan cairan pengembang (developer) yang
warnanya kontras dengan liquid penetrant (putih). Terdeteksinya diskontinyuitas
adalah dengan timbulnya bercak-bercak merah (liquid penetrant) yang keluar
dari dalam diskontinyuitas
Diskontinyuitas yang mampu dideteksi dengan pengujian ini adalah
diskontinyuitas yang bersifat terbuka dengan prinsip kapilaritas seperti pada
gambar . Deteksi diskontinyuitas dengan cara ini tidak terbatas pada ukuran,
bentuk arah diskontinyuitas, struktur bahan maupun komposisinya. Liquid
penetrant dapat meresap kedalam celah diskontinyuitas yang sangat kecil.
Pengujian penetrant tidak dapat mendeteksi kedalaman dari diskontinyuitas.

Teknik Bangunan Kapal Page 2


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
Proses ini banyak digunakan untuk menyelidiki keretakan permukaan (surface
cracks), kekeroposan (porosity), lapisan-lapisan bahan, dll. Penggunaan uji
liquid penetrant tidak terbatas pada logam ferrous dan non ferrous saja tetapi
juga pada ceramics, plastic, gelas, dan benda-benda hasil powder metalurgi.

Gambar 1. Proses Kapilaritas pada spesimen uji

Penggunaan uji liquid penetrant ini sangat terbatas, misalnya:


1. Keretakan atau kekeroposan yang ada dapat dideteksi jika keretakan tersebut
merembat hingga ke permukaan benda. Sedangkan keretakan yang ada
dibawah permukaan benda, tidak akan terdeteksi dengan menggunakan
metoda pengujian ini.
2. Pada permukaan yang terlalu kasar atau berpori-pori juga dapat
mengakibatkan indikasi palsu.
3. Metoda pengujian ini tidak dianjurkan untuk menyelidiki benda-benda hasil
hasil metallurgy yang kurang padat.

Teknik Bangunan Kapal Page 3


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

Klasifikasi liquid penetrant sesuai cara pembersihannya


Liquid penetrant bila dilihat dari cara pembersihannya dapat
diklasifikasikan menjadi tiga macam metoda dan ketiganya memiliki perbedaan
yang mencolok. Pemilihan salah satu system bergantung pada faktor-faktor :
1) Kondisi permukaan benda kerja yang diselidiki
2) Karakteristik umum discuntinuity/keretakan logam
3) Waktu dan tempat penyelidikan
4) Ukuran benda kerja

Metoda pengujian liquid penetran ini diklasifikasikan sesuai dengan


cara pembersihannya, yaitu:
1. Water Washable Penetrant System
Sistem liquid penetrant ini dapat berupa fluorescent. Proses pengerjaannya
cepat dan efisien. Pembilasan harus dilakukan secara hati-hati, karena liquid
penetran dapat terhapus habis dari permukaan diskontinyuitas.
2. Post Emulsifible System
Biasa digunakan untuk menyelidiki keretakan yang sangat kecil,
menggunakan penetrant yang tidak dapat dibasuh dengan air. Penetrant jenis
ini dilarutkan dengan oli dan membutuhkan langkah tambahan pada saat
penyelidikan yaitu pembubuhan emulsifier yang dibiarkan pada permukaan
spesimen.
3. Solvent Removable System
Solvent removable sistem digunakan pada saat pre cleaning dan pembasuhan
penetrant. Penetrant jenis ini larut dalam oli. Pembersihan penetrant secara
optimum dapat dicapai dengan cara mengelap permukaan benda kerja
dengan lap yang telah dilembabkan dengan solvent. Tahap akhir dari
pengelapan dilakukan dengan menggunakan kain kering. Penetrant juga

Teknik Bangunan Kapal Page 4


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
dapat dihilangkan dengan cara membanjiri permukaan benda kerja dengan
solvent.

Klasifikasi liquid penetrant berdasarkan pengamatannya


Berdasarkan pengamatannya ada tiga jenis liquid penetrant, yaitu:
1. Visible Penetrant
Pada umumnya visible penetrant berwarna merah. Hal ini ditunjukkan
pada penampilannya uang contrast terhadap latar belakang warna
developernya. Proses ini tidak membutuhkan pencahayaan ultra violet,
tetapi membutuhkan cahaya putih minimal 1000 lux untuk pengamatan.
2. Fluorescent Penetrant
Liquid penetrant ini adalah yang dapat berkilau bila disensivitas
fluorescent penetrant bergantung pada kemampuannya untuk menampilkan
diri terhadap cahaya ultra violet yang lemah pada ruangan yang gelap.
3. Dual Sensitivity Penetrant
Pada system ini, specimen mengalami dua kali pengujian yaitu visible
penetrant dan fluorescent penetrant, sehingga dengan dual sensitivity dapat
diperoleh hasil dengan ketelitian yang lebih tinggi dan akurat.

Acceptance Criteria
Dalam uji ini material dapat dinyatakan memiliki cacat yang harus
direject apabila material tersebut secara umum memiliki ukuran cacat yang lebih
dari 1,6mm. dan material tersebut dapat diterima apabila permukaannya bebas
dari :
1. Linier indication
Suatu cacat dikatakan memiliki indikasi linier apabila pada cacat
tersebut memiliki panjang lebih dari 3 kali lebarnya.

Teknik Bangunan Kapal Page 5


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
2. Rounded indication
Suatu cacat dikatakan memiliki indikasi lingkaran apabila pada cacat
tersebut memiliki panjang kurang dari 3 kali lebarnya.
o Material tersebut akan direject apabila memiliki panjang atau
lebar indikasi lingkaran lebih dari 4,8 mm.
o Material tersebut akan direject apabila memiliki 4 atau lebih
indikasi lingkaran yang tersusun dalam satu baris, dengan
jarak antara indikasi lingkaran kurang dari 1,6 mm.
Maka, apabila permukaan suatu material bebas dari kedua indikasi yang
telah disebutkan di atas, material tersebut dapat diterima.

Teknik Bangunan Kapal Page 6


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

BAB II
METODOLOGI

1. ALAT DAN BAHAN


Alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1.1. Alat
a. Penggaris
b. Kain dan Tissue
c. Kamera
d. Timer (Stop Watch)
e. Lampu
f. Light intensity

1.2. Bahan
a. Spesiment uji berupa Weld part ( baja karbon )
b. Cleaner (SKC – S)
c. Liquid Penetrant (SKL – SP1)
d. Developer (SKD –S2)

Teknik Bangunan Kapal Page 7


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

Gambar 2.1. Cleaner (kiri), Penetrant (Tengah) dan Developer (kanan)


2. PROSEDUR PERCOBAAN
2.1 Menentukan Teknik Uji Liquid Penetrant
Sebelum percobaan dilakukan ditentukan terlebih dahulu teknik yang
digunakan dalam Liquid Penetrant Test, yaitu dengan menggunakan
Solvent Removable System. Solvent removable sistem digunakan pada
saat pre cleaning dan pembasuhan penetrant.
Penetrant jenis ini larut dalam oli. Pembersihan penetrant secara
optimum dapat dicapai dengan cara mengelap permukaan benda kerja
dengan lap yang telah dilembabkan dengan solvent. Tahap akhir dari
pengelapan dilakukan dengan menggunakan kain kering. Percobaan
kemudian dilakukan dengan menggunakan material uji berupa Weld part
(baja karbon).

Teknik Bangunan Kapal Page 8


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

2.2 Pre Cleaning


Pertama-tama sebelum dilakukan pengujian liquid penetrant, spesimen
(crank shaft) dibersihkan terlebih dahulu dengan cara mengelap permukaan
menggunakan kain lap, kemudian kain lap yang lebih bersih dibasahi dulu
dengan cleaner lalu digosokkan pada spesimen untuk membersihkan
spesimen dari kotoran, oli, lemak-lemak, dll kemudian specimen disemprot
dengan cleaner kemudian material uji di-lap hingga benar-benar bersih.

Gambar 2.2. Pre Cleaning

2.3 Penentuan Dwell Time


Sebelum dilakukan penyemprotan liquid penetrant terlebih dahulu
ditentukan Dwell Time yang digunakan untuk proses penetrasi liquid
penetrant dengan baik. Dwell Time ditentukan dengan dua pertimbangan,
yang pertama ditentukan dari bahan penetrant tersebut, dan yang kedua
menggunakan table standard dari ASME 2001 section V article 6,
berdasarkan bahan material yang digunakan.
Karena material ujinya berupa baja maka Dwell Time minimumnya
adalah 5 menit.

Teknik Bangunan Kapal Page 9


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

2.4 Aplikasi Liquid Penetrant


Setelah itu dilakukan penyemprotan liquid penetrant ke material uji
dengan Dwell Time 10 menit yang ditujukan agar diperoleh penetrasi
liquid penetrant yang baik. Selain itu juga warna liquid penetrant yang
digunakan berbeda (kontras) dengan warna developer yang digunakan
supaya dapat diketahui secara visual diskontinyuitas yang ada.

Gambar 2.3 Aplikasi Liquid Penetrant

2.5 Cleaning sisa penetrant


Setelah liquid penetrant disemprotkan, dan dengan menggunakan
Dwell Time 10 menit, liquid penetrant yang ada di daerah spesiment yang
akan diamati, dibersihkan dengan menggunakan solvent. Caranya yaitu
dengan mengelap permukaan spesiment dengan kain yang telah
dilembabkan dengan solvent dengan arah searah. Perhatian kain yang
digunakan harus bersih karena dikhawatirkan kotoran yang ada pada kain
akan menempel pada spesimen uji.

2.6 Aplikasi Developer


Setelah 5 menit liquid penetrant yang telah disemprotkan pada material
uji dibersihkan bagian atasnya (permukaannya) dengan menggunakan lap

Teknik Bangunan Kapal Page 10


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
kering. Setelah itu agar permukaan material uji lebih bersih dari liquid
penetrant maka permukaan material uji dibersihkan dengan lap ataupun
kertas penyerap yang dilembabkan dengan cleaner untuk membersihkan
permukaan spesimen hingga tidak ada lagi sisa penetrant yang ada kecuali
yang meresap di dalam diskontinyuitas.
Sebelum diberi (disemprotkan) developer terlebih dahulu dilihat Dwell
Time dari developer yang digunakan. Dwell Time dari developer yaitu
minimum 10 menit. Setelah itu barulah disemprotkan ke material uji
dengan jarak penyemprotan ± 25 centimeter sehingga diperoleh
penyemprotan yang rata ke seluruh permukaan material uji.

Gambar 2.4 Aplikasi Developer


2.7 Evaluasi
Setelah spesiment disemprot dengan liquid penetrant dengan rata,
kemudian ditunggu selama 10 menit hingga benar-benar diperoleh hasil
yang baik lalu kita mengamati adanya warna liquid penetrant yang tampak
karena terangkat keluar kepermukaan oleh developer. Warna yang tampak
tersebut kemudian diukur panjangnya dan didokumentasikan untuk

Teknik Bangunan Kapal Page 11


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
diperoleh data yang lebih baik mengenai diskontinyuitas yang diperoleh
dari pengujian Non-Destructive Test dengan menggunakan Liquid
Penetrant.

Gambar 2.5 Evaluasi Hasil Percobaan

2.8 Post Cleaning


Setelah diadakan evaluasi, tahap yang terakhir yaitu pembersihan
spesimen. Spesimen dibersihkan dengan cara mengelap permukaan
menggunakan kain lap, kain lap yang telah dibasahi dengan cleaner,
kemudian specimen disemprot dengan cleaner kemudian dilap lagi dengan
kain lap. Hal ini ditujukan agar liquid penetrant dan developer yang telah
disemprotkan pada spesiment dapat terangkat, sehingga spesiment bersih
seperti pada tahap pre-cleaning.

Teknik Bangunan Kapal Page 12


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

BAB III
ANALISA DATA

1. Data Hasil Percobaan


Tabel 3.1. Data percobaan
Type of Penetrant visible flourescent dual sensivity
Method solvent removable water washable post emulsifier
Precleaning 5 min Emulsifying - min
Time
Penetration 10 min Developing 10 min
machine
Surface condition weld grind
process ............
base metal weld part
Range edge preparation repair weld
back chipping ............................
Size Type of Result
No Part/Item Remark
(mm) defect Accepted Reject
1 Indikasi 1 13,6 x 7,3 Rounded √
2 Indikasi 2 12,7 x 7,2 Rounded √
3 Indikasi 3 12,3 x 5,7 Rounded √
4 Indikasi 4 4,8 x 5,3 Rounded √
5 Indikasi 5 4,6 x 3,2 Rounded √
6 Indikasi 6 3,3 x 3,5 Rounded √
7 Indikasi 7 13,4 x 10,8 Rounded √
8 Indikasi 8 18,6 x 14,8 Rounded √
9 Indikasi 9 Crack √
Linghting equipment : Philips Tornado 15 watt
Light intensity : 105 fc

Teknik Bangunan Kapal Page 13


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
dipilih
tidak dipilih
Pada Percobaan ini kami menggunakan dwel time untuk precleaning 10
menit, untuk liquid penetran 10 menit, dan untuk aplikasi developer ditunggu
sampai kering

105 fc

180mm

Gambar 3.1. Jarak lampu terhadap material


Selain itu pada percobaan ini kami menggunakan lampu PHILIPS
TORNADO 15 WATT dengan intensitas cahaya 105 fc. Untuk mendapatkan
intensitas cahaya tersebut maka kami atur jarak antara lampu (sumber cahaya)
dan material adalah 180 mm.

2. Gambar Hasil percobaan

Gambar 3.2. Cacat pada permukaan material

Teknik Bangunan Kapal Page 14


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT
Pada percobaan ini kami menemukan 9 diskontinuity pada permukaan
material yaitu :
Size Type of
No Part/Item
(mm) defect
1 Indikasi 1 13,6 x 7,3 Rounded
2 Indikasi 2 12,7 x 7,2 Rounded
3 Indikasi 3 12,3 x 5,7 Rounded
4 Indikasi 4 4,8 x 5,3 Rounded
5 Indikasi 5 4,6 x 3,2 Rounded
6 Indikasi 6 3,3 x 3,5 Rounded
7 Indikasi 7 13,4 x 10,8 Rounded
8 Indikasi 8 18,6 x 14,8 Rounded
9 Indikasi 9 - Crack

Pada indikasi yang ke-1, 2, 3, 4, 7, 8, 9 terdapat discontinuity berupa


rounded dan crack dengan ukuran < 5 mm maka berdasar ASME maka cacat ini
dianjurkan untuk direpair dan dilakukan pengujian ulang.

Teknik Bangunan Kapal Page 15


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya
LAB UJI BAHAN Kelompok 2
POLTEK PERKAPALAN
NEGERI SURABAYA PRAKTIKUM 2 Praktikum
PENETRANT TEST NDT

BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa
terdapat discontinuity pada material uji weld part ( but joint) yakni berupa
discontinuity berbentuk rounded dan crack yang berada pada logam lasan.
Karena cacat yang terdeteksi cukup besar jadi material harus di perbaiki.

Teknik Bangunan Kapal Page 16


Politeknik Perkapalan Negri Surabaya