Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS ASPEK BIOLOGIS IKAN LALAWAK (PERTUMBUHAN,REPRODUKSI

DAN KENIASAAN MAKAN)

Universitas Padjadjaran
nadzalabdillah306@gmailcom

Abstrak
Praktikum ini telah dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 2017 di laboratorium Fisiologi
Hewan Air. Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis aspek pertumbuhan,
reproduksi dan kebiasaan makan ikan Lalawak. Ikan lalawak yang menjadi objek pengamatan
diamati dari aspek panjang dan bobot ikan, pola pertumbuhan, faktor kondisi, rasio kelamin,
tingkat kematangan gonad, fekunditas, tingkat kematangan telur, hepatosomatik indeks, indeks
propenderan, dan tingkat trofik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makan ikan lalawak
(Barbodas balleroides) memiliki pola pertumbuhan yang allometrik negatif dimana pertumbuhan
panjang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan bobot, memiliki rasio kelamin dimana rasio
kelamin jantan lebih besar daripada betina, dan kebiasaan dan cara makan ikan lalawak yang
tergolong kedalam hewan herbivor

Kata kunci : Ikan lalawak, Kebiasaan Makanan , Pertumbuhan, Reproduksi,

Absract
Practicum was conducted on October 12, 2017 at the Animal Physiology laboratory. This
Practicum aims to identify and analyze aspects of growth, reproduction and feeding habits of
Lalawak fish. Lalawak fish that became observation object were observed from long aspect
and fish weight, growth pattern, condition factor, sex ratio, gonad maturity level, fecundity,
egg maturity level, hepatosomatic index, propendant index, and trophic level. The results
showed that the lalawak fish meal (Barbodas balleroides) had a negative allometric growth
pattern in which long growth was faster than weight growth, had a sex ratio where the male
sex ratio was larger than female, and the habits of lalawak fish belonging to herbivore

Keywords : Fish lalawak, Food Habits, Growth, Reproduction

Pendahuluan
Genus Barbodes mempunyai ciri-ciri morfologi mulut kecil, terminal atau subterminal, celahnya
tidak memanjang melebihi garis vertical yang melalui pinggiran depan mata, mempunyai bibir
halus berpapila atau tidak tetapi tanpa lipatan, bibir bagian atas terpisah dari moncongnya oleh
suatu lekukan yang jelas, pangkal bibir atas tertutup oleh lipatan kulit moncong, pada ujung
rahang bawah tidak ada tonjolan. Bagian perut di depan sirip perut datar atau membulat
tidak memipih menbentuk geligir tajam, jika terdapat geligir hanya dibagian belakang sirip
perut. Gurat sisi sempurna, tidak ada pori tambahan pada sisik sepanjang gurat sisi. Terdapat 7 –
10 ½ jari-jari bercabang pada sirip punggung, jari-jari terakhir sirip punggung lemah atau keras
tapi tidak bergerigi, tidak ada duri mendatar di depan sirip punggung, 5 – 8 ½ jari-jari bercabang
pada sirip dubur

Pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu. Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan ikan antara lain keturunan, pertumbuhan kelamin dan umur,
serta kerentanan penyakit. Keturunan berhubungan dengan cara seleksi induk, yaitu induk yang
bermutu tentu menghasilkan anakan yang baik atau sebaliknya. Pertumbuhan kelamin dan umur
pun sangat berkaitan. Ada baiknya pemeliharaan ikan pada beberapa jenis dipisahkan antara
jantan dan betina. Hal ini untuk menghindari adanya gejala pematangan kelamin secara dini. Bisa
saja ikan yang masih kecil sudah bertelur sehingga pertumbuhan badannya terhambat.
Kerentanan penyakit terkadang merupakan faktor keturunan dan tergantung jenis ikan. Ada ikan
yang tahan terhadap bakteri, tetapi rentan terhadap jamur atau sebaliknya. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang jenis ikan pun diperlukan untuk mengetahui setiap jenis penyakit yang
sering menyerang ikan tersebut. Obat obatan yang digunakan untuk mengobati penyakit harus
selalu disiapkan sebagai tindakan antisipasi bila timbul penyakit. Pada pemeliharaan ikan ini
kualitas air, kepadatan ikan, serta jumlah dan kualitas pakan pun harus selalu diperhatikan.
Kepadatan ikan sangat penting untuk kenyamanan hidup. Ikan yang terlalu padat dapat
menimbulkan stres karena kualitas air cepat menjadi jelek. Bahkan, oksigen terlarut cepat habis.
Selain itu, pada ikan tertentu dapat terjadi gesekan antar ikan sehingga menimbulkan luka.
Akibatnya, penampilan ikan menjadi jelek atau bahkan dapat menimbulkan kematian. Jumlah
dan kualitas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya terlalu sedikit, ikan akan sukar
tumbuh. Sebaliknya bila terlalu banyak, kondisi air menjadi jelek, terutama pakan buatan.
Pemberian pakan dengan frekuensi lebih sering dan jumlah yang tidak terlalu banyak akan lebih
baik dibanding diberikan sekaligus dalam jumlah banyak. Pertumbuhan pada ikan dapat
diketahui melalui penghitungan panjang dan berat pada ikan yang kemudian dikorelasikan

Bahan dan Metode

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain : benang dan milimeter
blok,styrofoam, jarum sonde, pinset, pisau bedah, gunting bedah, cawan petri, baki,
timbangan digital, mikroskop, object glass, pipet tetes, counting chamber, ikan lalawak, dan
akuades.

Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode observasi, yang juga
berpedoman pada buku penuntun praktikum biologi perikanan dan buku-buku literatur yang
berhubungan dengan hasil pengamatan selama praktikum berlangsung. Adapun aspek yang
dikaji dalam praktikum ini meliputi :
1. Aspek Pertumbuhan
Pengujian dalam aspek pertumbuhan diperlukan untuk mengetahui korelasi hungan panjang
dan bobot pada ikan lalawak. Adapun perhitungan korelasi hubungan panjang dan berat
pada ikan dapat dihitung menggunakan rumus :
∑ log 𝑊 − (𝑁 𝑥 log 𝑎)
𝑏=
⅀ log 𝐿
Hubungan Panjang Berat :
- b = 3 (Isometrik), dimana pertumbuhan panjang dan berat seimbang.
- b ≠ 3 (Alometrik), terbagi menjadi alometrik negatif (b < 3) dan alometrik positif (b > 3)
2. Aspek Reproduksi
Pengujian mengenai aspek reproduksi bertujuan untuk mengetahui rasio kelamin, TKG, IKG,
hepatosomatik indeks, tingkat kematangan telur, diameter telur, fekunditas. Adapun
perhitungannya dapa diketahui menggunakan rumus :

𝐽
𝑅𝑎𝑠𝑖𝑜 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑚𝑖𝑛 =
𝐵
Keterangan :
J = Jumlah ikan jantan (ekor)
B = Jumlah ikan betina (ekor)

𝐵𝑔
𝐼𝐾𝐺 = 𝑥 100%
𝐵𝑡
Keterangan :
IKG = Indeks Kematangan Gonad
Bg = Bobot gonad (gram)
Bt = Bobot tubuh ikan)

𝐵ℎ
𝐻𝑆𝐼 = 𝑥 100%
𝐵𝑡
Keterangan :
HSI = Hepatosomatik Indeks (%)
Bh = Bobot hati (gram)
Bt = Bobot tubuh ikan (gram)
3. Aspek Kebiasaan Makan dan Cara Makan
Kebiasaan makan ikan dapat diketahui menggunakan indeks propenderan, sedangkan
indeks pilihan digunakan unutk mengetahui pakan yang digemari oleh ikan (Effendie, 1979).
Adapun perhitungannya dapat diketahui menggunakan rumus :
𝑉𝑖 𝑥 𝑂𝑖
𝐼𝑃𝑖 =
∑𝑛𝑖=1 𝑉𝑖 𝑥 𝑂𝑖
Keterangan :
IPi = Indeks propenderan
Vi = persentase volume satu macam makanan
Oi = persentase frekuensi kejadian satu macam makanan
∑(VixOi)= jumlah Vi x Oi dari semua jenis makanan
𝑟𝑖 − 𝑝𝑖
𝐸=
𝑟𝑖 + 𝑝𝑖
Keterangan :
E = indeks pilihan
Ri = jumlah relatif macam-macam organisme yang dimakan
Pi = jumlah relatif macam organisme dalam perairan

Hasil dan pembahasan

Hasil
Berdasar data hasil praktikum yang kami lakukan terhadap ikan lalawak dengan beberapa aspek
biologi seperti aspek pertumbuhan, aspek reproduksi dan aspek kebiasaan makan bahwa ikan
lelawak dengan bobot 370 gram dengan TKG IV kita dapatkan data sebagai berikut
Aspek pertumbuhan

Pada data yang di dapatkan kelompok 14 bahwa bagian aspek pertumbuhan yang kami dapatkan
adalah sebagai berikut ;

Bobot :370 g SL :230mm lingkar kepala :130 mm


FL :250mm TL :285 Lingkar Badan 220 mm

Kemudian berdasar dari hasil praktikum yang kami dapatkan dari keseluruhan kelompok
berikut merupakan aspek pertumbuhan keseluruhan kelompok ;

DISTRIBUSI PANJANG IKAN LALAWAK


25.00% 21.43%
PRESENTASE(%)

20.00% 17.86% 17.86% 17.86% 17.86%


15.00%
10.00% 7.14%
5.00%
0.00%
165-185 286-206 207-227 228-248 249-269 270-290
INTERVAL PANJANG TOTAL (mm)

Pada grafik distribusi panjang ikan lelawak dapat kita lihat bahwa dominan panjang ikan lelawak
berada pada interval 270-290, yaitu berjumlah 21,43% yang disusul oleh rentang 286 sampai
dengan 269 dengan presentase yang sama yaitu 17,85%. Dimana dari keseluruhan kelompok
panjang ikan nya hampir sebagian besar sama , hal ini juga menunjukan bahwa ikan yang kami
dapat berukuran dewasa yang nantinya setiap kenaikan panjang akan berpengaruh kepada
bobot ikan.
35.00% 32.14% DISTRIBUSI BOBOT IKAN LALAWAK
30.00%
PERSENTASE (%)

25.00%
20.00% 17.86%
14.29% 14.29%
15.00% 10.71%
10.00% 7.14%
3.57%
5.00%
0.00%
98 - 150,2 151,2 - 201,3 - 257,5 - 310,7 - 363,8 - 417,0 -
203,3 256,5 309,7 362,8 416,0 469,2
INTERVAL (g)

Pada grafik distribusi bobot ikan lalawak kita dapatkan hasil dari keseluruhan bahwa bobot
ikan dominana berada pada rentan 98-150,2 gram dengan presentase 32,14%, yang disusul oleh
bobot 201,3-256,5 dengan presenatse 17,86% yang mana hal ini menunjukan pengaruh dari
panjang ikan dari grafik sebelumnya, yang di pengaruhi nantinya oleh food and habits

Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Lalawak


2.65
2.45
2.25
2.05
Berat

1.85 y = 2.2241x - 2.9412


R² = 0.6746
1.65
1.45
1.25
2.20 2.25 2.30 2.35 2.40 2.45 2.50
Panjang

Pada data grafik di atas dapat kita simpulkan dari aspek pertumbuhan ikan lelawak dari
panjang dan bobot ikan bahwa,semakin berat bobot ikan maka akan semakin panjang tubuh ikan
tersebut . Analisis panjang dan berat bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan di
alam. Rumus hubungan antara panjang total ikan dengan beratnya adalah persamaan
eksponensial (Effendie 1979) :
Sehingga ikan lelawak yang didaptkan kelompok 14 dengan panjang total 285mm dan
berat 370 gram tergolong kedalam ukuran yang besar yang merupkan ikan dewasa Ukuran
ikan ditentukan berdasarkan panjang atau beratnya. Ikan yang lebih tua, umumnya
lebih panjang dan gemuk. Pada usia yang sama, ikan betina biasanya lebih berat dari ikan
jantan. Pada saat matang telur, ikan mengalami penambahan berat dan volume. Setelah
bertelur beratnya akan kembali turun. Tingkat pertumbuhan ikan juga dipengaruhi oleh
ketersediaan makanan dilingkungan hidupnya (Alamsyah, 1974).
Aspek reproduksi
Reproduksi merupakan tahapan penting dalam siklus hidupnya untuk menjami kelangsungan
hidup suatu spesies (Effendie, 2002).bagian aspek reproduksi ikan lelawak kami daptkan
data sebagai berikut;

Kelamin :Betina Bobot Gonad :35 gram


TKG :IV Bobot Hati :0,12 gram

Rasio kelamin ikan


Lalawak

12
16

betina jantan

Grafik ratio ikan lelawak menujukan jumlah dan perbandingan jumlah ikan lelawak betina dan
jantan dimana betina dengan ratio 12 dan jantan dengan ratio 16.

INDEKS KEMATANGAN GONAD LALAWAK BETINA

2 1.88
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8 0.62
0.6
0.4 0.24
0.2 0.06
0
TKG 1 TKG 2 TKG 3 TKG 4 TKG 5

Pada bagian indeks kematangan gonad bahwa sebagian besar dengan presntase
1,88% berada pada TKG 3 yanng merupakan dalam proses perkembangan mendekati
kematangan gonad, berarti ikan lalawak yang berasal dari jatigede dalam masa kawin
ditandai dengan TKG 3 yang mana telurnya mulai keliatan.
Menurut Effendie (2002), setiap spesies ikan dan bahkan pada spesies yang sama
tidak memiliki kesamaan awal matang gonadnya, hal ini dapat disebabkan perbedaan
wilayah penyebaran dan banyaknya makanan

IKG per TKG Ikan Lalawak


12.815312
15 5

10
IKG

5 HSI per IKG


1.135
Ikan Nila
1.52
0.5306 0
2 0 1.793125
Grafik di 1.5848 atas
Presentase (%)

I II III IV V
menujukan 1 0.8761666670.9725 IKG per
TKG
0.529916667 0.56
0.5
0.3553 0.2939166670.2884
0
I II III IV V
TKG

IKG HSI
TKG dimana TKG rata-rata IKG terbesar berada pada TKG IV dimanan pada ikan betina nilai IKG
lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan. Adakalanya Indeks Kematangan Gonad (IKG)
dihubungkan dengan Tingkat Kematangan Gonad (TKG) yang pengamatannya berdasarkan
ciri-ciri morfologi kematangan gonad. Dengan merperbandingkan demikian akan tampak
hubungan antara perkembangan di dalam dan di luar gonad, atau nilai-nilai morfologi yang
kuantitatif. Bergantung pada macam dan pola pemijahannya, maka akan didapatkan nilai
indeks yang sangat bervariasi setiap saat (Effendie, 2002).

Indeks Hepatosomatik/Hepatosomatic Index (HSI) adalah suatu metode yang


dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam hati secara kuantitatif. Pada HIS
per IKG, bahwa ikan betina menunjukan pada saat IKG maksimum nilai HIS juga akan menjadi
maksimum, sedangkan pada ikan jantan hubungan antara IKG dan His tidak jelas, dimana nilai IKG
cenderung lebih tinggidari pada HIS yaitu pada angka 1,7% di TKG IV dan akhirnya sama bertemu
pada titik 0,56% di TKG V.

Faktor kondisi ikan lalawak

Faktor Kondisi Ikan 1.286


Lalawak
1.281
1.300 1.267
1.232 1.235
Faktor Kondisi

1.250

1.200

1.150
1.105
1.100

1.050

1.000
165-185 186-206 207-227 228-248 249-269 270-290
Interval Panjang total (mm)
1.2
Indeks Pilihan Ikan Lalawak
1

0.8

0.6

0.4

0.2

Meretsky et al. (2000) mengatakan bahwa perubahan bobot ikan dapat dihasilkan dari
perubahan pakan dan alokasi energi untuk tumbuh dan reproduksi, yang mengakibatkan
bobot ikan berbeda walaupun panjangnya sama.

Aspek Food and feeding habits

60 27.0683453 57.1043165
50 5
Indeks Preponderan

40 2 10.7014388
30 1.07913669
20 5 4.04676259
10 1
0
(%)

Komposisi Makanan Ikan Lalawak (%)

Food habits adalah pengelompokan ikan berdasarkan makanan, ada ikan pemakan plankton,
pemakan tanaman, pemakan dasar, pemakan detritus, ikan buas dan ikan pemakan
campuran (Effendie 2002).
Pada aspek food and feeding habits menunjukan makanan dan kebiasaan makan dari suatu
ikan, dimana pada grafik diatas ikan lelwak yang merupakan ikan herbivora dominan
mengkonsumsi detritus sebagai bahan makanan utama nya dan fitoolankton di sebagian nya
dan zooplankton dll merupakan makanan sampingan nya

Saran

Sebaiknya pengamatan mengenai analisis aspek biologi pada ikan lalawak lebih banyak lagi
dilakukan dan lebih intensif oleh pihak-pihak terkait, agar data-data yang masih belum ada
dapat dilengkapi lagi. Dengan demikian, diharapkan pengetahuan mengenai aspek biologi
ikan lalawak dapat bertambah lagi di masa depan karena belum semua masyarakt duunia
tahu dengan ikan lalawak ini
Daftar Pustaka

Alamsyah, Z. 1974. Ikhtiologi Sistematika (Ichtyologi I). PPM. PT. ITB. Bogor.
183 halaman

Effendie, M.I. 1997. Biologi Perikanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Nusatama


Effendie, M.I. 2002. Biologi Perikanan. Jakarta : Yayasan Pustaka Nusatama