Anda di halaman 1dari 3

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Taman Nasional Bali Barat (TNBB)


Secara geografis Taman Nasional Bali Barat (TNBB) secara geografis
terletak pada koordinat antara 8 derajat 5 menit – 8 derajat 13 menit Lintang
Selatan dan 114 derajat 26 menit – 114 derajat 35 menit Bujur Timur. Kawasan
ini berada di wilayah administrasi kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng
dan kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Secara persis letak
TN Bali Barat adalah sejauh 60 km ke arah barat laut dari Ibu Kota Bali,
Denpasar. Luas kawasan Taman Nasional ini adalah 19.002,89 hektare yang
terbagi pada kabupaten Jembrana dan Buleleng. Dua desa dan perkebunan
kelapa seluas 618 hektare terdapat di dalam kawasan, yaitu di sepanjang jalan
dari Gilimanuk hingga Singaraja. Terdapat daerah pertanian di bagian selatan
yang memanjang ke bagian tengah hingga ke bagian utara kawasan. Daerah
bagian utara dan barat hingga sejauh 1 km dari pantai merupakan kawasan
karang dan perairan termasuk pulau Menjangan (Supriatna, 2014).
Keadaan topografi pada kawasan taman nasional ini cenderung berbukit-
bukit sampai bergunung, dan hanya sebagian kecil datar sampai bergelombang.
Kawasan ini terletak pada ketinggian antara 210-1.144 m dpl. 15 September
1995 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/95
untuk mengukuhkan penetapan status kawasan TN Bali Barat dengan luas
19.002,89 hektare. Kawasan ini juga telah ditetapkan sebagai World Heritage
Site (situs warisan dunia) (Supriatna, 2014). Kekayaan fauna dan flora Taman
Nasional Bali Barat antara lain :
1. Hutan hujan tropis dataran rendah dengan berbagai jenis, seperti Duren-
Duren (Aglaia argentea), Kesambi (Schleichera oleosa), Anjring
(Drypetes), Bayur (Pterospermum diversifolium), Ketangi (Lagerstroemia
speciosa), Laban (Vitex pubescens), dan Klampok (Eugenia javanica).
2. Savana di daerah Cekik didominasi oleh alang-alang (Imperata cylindrica)
diselingi tegakan Lontar (Borassus flabelliffer), Gebang (Corypha), dan
Sawo Kecik (Manilkara kauki). Di savana Semenanjung Prapat Agung
didominasi oleh pohon Gebang (Corypha sp.) dan Lontar (Borassus sp.),
jenis lainnya adalah Bidara (Zizyphus jujuba), Kesambi (Schleichera
oleosa), Pilang (Acacia leucophloea), Acacia lebbekioides, sejenis rumput
Desmostachys bipinnata dan mimba/intaran (Azadirachta indica).
3. Hutan mangrove tersebar di Teluk Gilimanuk, pantai Batugondang, pantai
Teluk Terima, dan Banyu wedang. Jenisnya didominasi oleh Tancang
(Bruguiera cylindrica atau Bruguieragymnorrhiza), Ceriops tagal,
Excoecarria agallocha, Lumnitzera , berbagai jenis Bakau (Rhizopora
stylosa dan Rhizopora apiculata), Sonneratia alba, Nipah (Nypa fruticans),
dan api-api (Avicennia marina), serta terdapat jenis yang umum di
Indonesia bagian timur dan Australia timur laut, yaitu Osbornia octodonta.
4. Taman Nasional Bali Barat identik dengan taman nasional yang
bertanggung jawab untuk melestarikan spesies terancam punah, Jalak Bali
(Leucopsar rothschildi). Burung Jalak Bali merupakan primadona taman
nasional ini, dan termasuk burung pesolek yang senantiasa menyenangi
habitat yang bersih, serta jelajah terbangnya tidak pernah jauh. Burung
tersebut memerlukan perhatian dan pengawasan ekstra ketat karena
populasinya rendah dan mudah ditangkap. Berdasarkan daftar hewan
terancam di dunia IUCN, Jalak Bali termasuk ke dalam kategori Critically
Endangered yang berarti populasi Jalak Bali di alam sangat kritis, dan
sangat terancam untuk punah. Di Tegal Bunder terdapat Proyek
Penangkaran Jalak Bali yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan (KLHK) (Supriatna, 2014).
B. Analisis Vegetasi
Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik
yang menempati habitata tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar,
dan lain-lain. Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi
oleh komponen ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi
yang tumbuh secara alami pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan
pencerminan hasil interaksi berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami
perubahan drastis karena pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984). Ilmu
vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu
vegetasi yang membantu dalam mendeskripsikan vegetasi (Syafei, 1990).
Untuk menerangkan suatu populasi atau komunitas, diperlukan sejumlah
satuan pengukuran seperti kepadatan, frekuensi, luas penutupan dan biomassa.

C. Metode Kuadran
Metode kuadran adalah salah satu metode analisis vegetasi berdasarkan
suatu luasan petak contoh. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk
vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang
menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel
kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990). Nilai penting
merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relatif dari
sejumlah variabel yang telah diukur (kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan
frekuensi relatif).

RUJUKAN
Supriatna J. 2014. Berwisata Alam di Taman Nasional. Jakarta (ID): Yayasan Obor
Indonesia (YOI).