Anda di halaman 1dari 56

Cara Melakukan Penilaian Awal Berkaitan dengan Kondisi

Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.

Penilaian awal
Dalam menentukan kondisi kasus obstetric yang dihadapi apakah dalam keadaan gawat

darurat atau tidak, secara prinsip harus dilakukan pemeriksaan secara sisstematis meliputi

anamnesis, pemeriksaan fisik umum, dan pemeriksaan obstetric. Dalam praktik, oleh karena

pemeriksaan sistematis yang lengkap membutuhkan waktu agak lama, padahal penilaian harus

dilakukan secara cepat maka dilakukan penilaian awal.

Penilaian awal adalah langkah pertama untuk menentukan dengan cepat kasus obstetric

yang diurigai dalam keadaan gawat darurat dan membutuhkan pertolongan segera dengan

mengidentifikasi penyulit (komplikasi) yang dihadapi. Dalam penilaian awal ini, anamnesis

lengkap belum dilakukan. Anamnesis awal dilakukan bersama-sama periksa pandang, periksa

raba, dan penilaian tanda vital dan hanya untuk mendapatkan informasi yang sangat penting

berkaitan dengan kasus. Misalnya, apakah kasus mengalami perdarahan, demam, tidak sadar,

kejang, sudah mengejan atau bersalin berapa lama, dan sebagainya. Fokus utama persalinan

adalah apakah pasien mengalami syok hipovolemik, syok septic, syok jenis lain (syok
kardiogenik, syok neurologic dan sebagainya) koma, kejang-kejang, dan hal itu terjadi dalam
kehAmilan, persalinan, pascasalin, atau masa nifas. Syok kardiogenik, syok neurologic dan syok

analfilaktik jarang terjadi pada kasus obstetric. Syok kardiogenik dapat terjadi pada kasus

penyakit jantung dalam kehamilan/persalinan. Angka kematian sangat tinggi. Syok neurologic

dapat terjadi pada kasus inversion uteri sebagai akibat rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh

tarikan kuat pada peritoneum, kedua ligamentum infundibulopelvikum dan ligamentum

rotundum. Syok analfilaktik dapat terjadi pada kasus emboli air ketuban.

Pemeriksaan yang dilakukan untuk penilaian awal adalah sebagai berikut:

1. Penilaian dengan periksa pandang

a. Menilai kesadaran penderita : pingsan/koma, kejang-kejang, gelisah tampak kesakitan

b. menilai wajah penderita : pucat, kemerahan, banyak keringat

c. Menilai pernapasan : cepat, sesak napas

d. Menilai perdarahan dari kemaluan

2. Penilaian dengan periksa raba (palpasi) :

a. Kulit : dingin, demam

b. Nadi : lemah/kuat, cepat/normal

c. Kaki/tungkai bawah : bengkak

3. Penilaian tanda vital :

Tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasan

Hasil penilaian awal ini, berfokus pada apakah pasien mengalami syok hipovolemik,

syok septic, syok jenis lain, koma, kejang-kejang atau koma disertai kejang-kejang, menjadi

dasar pemikiran apakah kasus mengalami perdarahan, infeksi, hipertensi/preeklamsia/eklamsia

atau penyulit lain. Dasar pemikiran ini harus dilengkapi dan diperkuat dengan melakukan

pemeriksaan klinik lengkap, tertapi sebelum pemeriksaan klinik lengkap selesai dilakukan,

langkah-langkah untuk melakukan pertolongan pertama sudah dikerjakan sesuai hasil penilaian
awal, misalnya ditemukan kondisi syok, pertolongan pertama untuk melakukan syok sudah harus

dilakukan.

B. Penilaian Klinik Lengkap


Penilaian klini lengkap meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik umum, dan pemeriksaan

obstetric termasuk pemeriksaan panggul secara sistematis meliputi sebagai berikut.

1. Anamnesis
Diajukan pertanyaan kepada pasien atau keluarganya beberapa hal berikut dan jawabannya
dicatat dalam catatan medik.

a. Masalah/keluhan utama yang menjadi alasan pasien dating ke klinik.

b. Riwayat penyakit/masalah tersebut termasuk obat-obatan yang sudah didapat

c. Tanggal hari pertama haid yang terakhir dan riwayat haid

d. Riwayat kehamilan sekarang

e. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu termasuk kondisi anaknya

f. Riwayat penyakit yang pernah diderita dan riwayat penyakit dalam keluarga Riwayat

pembedahan

g. Riwayat alergi terhadap obat

2. Pemeriksaan Fisik Umum


a. Penilaian keadaan umum dan kesadaran penderita

b. Penilaian tanda vital (Tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasan)

c. Pemeriksaan kepala dan leher

d. Pemeriksaan dada (pemeriksaan jantung dan paru-paru)

e. Pemeriksaan perut (kembung, nyeri tekan atau nyeri lepas, tanda abdomen akut, cairan bebas

dalam rongga perut)


f. Pemeriksaan anggota gerak (antara lain edema tungkai dan kaki)

3. Pemeriksaan Obstetri :
a. Pemeriksaan vulva dan perineum

b. Pemeriksaan vagina

c. Pemeriksaan serviks

d. Pemeriksaan rahim (besarnya, kelainan bentuk, tumor dan sebagainya)

e. Pemeriksaan adneksa

f. Pemeriksaan his (frekuensi, lama, kekuatan relaksasi, simetri, dan dominasi fundus)

g. Pemeriksaan janin:

1) Didalam atau diluar rahim


2) jumlah janin

3) presentasi janin dan turunnya presentasi seberapa jauh

4) posisi janin, moulase, dan kaput suksedaneum

5) Bagian kecil janin disamping presentasi (tangan, tali pusat, dan lain-lain)

6) Anomali kongenital pada janin

7) Taksiran berat janin

8) Janin mati atu hidup, gawat janin atau tidak

4. Pemeriksaan Panggul :
a. Penilaian pintu atas panggul :

1) Promontorium teraba atau tidak

2) Ukuran konjugata diagonalis dan konjugata vera

3) penilaian linea inominata teraba berapa bagian atau teraba seluruhnya

b. Penialaian ruang tengah panggul :

1) Penilaian tulang sacrum (cekung atau datar)

2) Penilaian dinding samping (lurus atau konvergen)

3) Penilaian spina ischiadika (runcing atau tumpul)


4) Ukuran jarak antaspina iskiadika distansia interspinarum)

c. Penilaian pintu bawah panggul :


1) Arkus pubis (lebih besara atau kurang dari 90°)

2) Penilaian tulang koksigis (ke depan atau tidak)

3) Penilaian adanya tumor jalan lahir yang menghalangi persalinan pervaginam

4) Penilaian panggul (panggul luas, sempit atau panggul patologik)

d. Penilaian imbang feto-pelvik : (imbang feto-pelvik baik atau disproporsi sefalo-pelvik)

C. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat membantu dan menentukan baik dalam penanganan kasus
perdarahan, infeksi dan sepsis, hipertensi dan preeklamsia/eklamsia, maupun kasus

kegawatdaruratan yang lain.

D. Pemeriksaan Darah
Darah diambil untuk pemeriksaan berikut (disesuaikan dengan indikasi klinik).

1. Golongan darah dan cross match

2. Pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit.

Kadar hemoglobin dan hematokrit penting dalam kasus perdarahan. dalam perdarahan

akut kadar Hb dapat lebih tinggi, tetapi dalam kenyataannya jauh lebih rendah. Dalam kasus

sepsis kadar Hb penting dalam kapasitasnya untuk mengangkut oksigen guna mempertahankan

perfusi jaringan yang adekuat, sehingga harus diupayakan kadar Hb > 10 gr% dan Ht >30%.

Jumlah dan hitung jenis leukosit berguna untuk memprediksi infeksi, walaupun kenaikan

jumlah leukosit tidak spesifik untuk infeksi. Pada kasus demam tanpa tanda-tanda, lokasi infeksi,

bila jumlah leukosit >15.000/mm3 berkaitan dengan infeksi bakteri sebesar 50%. Selain itu,

jumlah leukosit juga menjadi suatu komponen criteria dalam SIRS (Systemik Inflammatory

Response Syndrome) suatu istilah untuk menggambarkan kondisi klinik tertentu yaitu

pengaktifan inflammatory cascade dan dianggap ada apabila terdapat 2 kelainan dari 4 yaitu : 1)

suhu tubuh, 2) Frekuensi jantung, 3) frekuensi napas, 4) jumlah leukosit. Jumlah trombosit
meningkat pada peradangan dan menurun pada DIC (disseminated intravascular coagulation).
3. Pemeriksaan ureum dan kreatinin untuk menilai fungsi ginjal dan dehidrasi berat

4. pemeriksaan glukosa darah

5. Pemeriksaan pH darah dan elektrolit (HCO3, Na, K, dan Cl)

6. Pemeriksaan koagulasi

7. Pemeriksaan fungsi hati, bilirubin, dalam evaluasi gagal organ ganda

8. Kultur darah untuk mengetahui jenis kuman

E. Pemeriksaan Air Kemih


Dilakukan pemeriksaan air kemih lengkap dan kultur. Dalam kondisi syok biasa produksi air

kemih sedikit sekali atau bahkan tidak ada. Berat jenis air kemih meningkat lebih dari 1.020.
Diposkan oleh Nur Ramayanti R di Saturday, October 05, 2013
penilaian klinik awal
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan manajemen
yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( ≤ usia 28 hari) membutuhkan pengetahuan
yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang
bisa saja timbul sewaktu-waktu (Sharieff, Brousseau, 2006).
Kasus kegwatdarurtan apabila tidak segera ditangani akan berakibat kematian pada ibu
dan janinnya. Kasus ini pula dapat menjadi penyebab utama kematian bayi baru lahir. Oleh
karena itu diperlukan penilaian awal terhadap kegawatdaruratan.
Penilaian klinik awal ialah langkah pertama untuk menentukan dengan cepat pada
kasus neonatus yang membutuhkan pertolongan segera dengan mengindentifikasi masalah
penyulit yang dihadapi. Hasil penilaian awal ini menjadi dasar pemikiran apakah kasus
mengalami penyulit atau komplikasi lainnya.
Setelah dilakukan penilaian awal dan mengidentifikasi penyulitnya harus segera
dilakukan pertolongan pertama untuk mencegah terjadinya bahaya yang lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penyebab kegawatdaruratan pada neonatus ?


2. Bagaimana kondisi-kondisi yang menyebakan kegawatdaruratan pada neonatus ?
3. Bagaiamana penilaian klinik awal penanganan kegawatdaruratan pada neonatus ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui kegawatdaruratan pada neonatus


2. Untuk mengetahui kondisi-kondisi yang menyebakan kegawatdaruratan pada
neonatus
3. Untuk mengetahui penilaian klinik awal penanganan kegawatdaruratan pada
neonatus
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penilaian Klinik Awal Pada Kegawatdaruratan Neonatal


1. Pengertian Neonatus
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari,
dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim.
Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system. Neonatus bukanlah miniatur
orang dewasa, bahkan bukan pula miniatur anak. Neonatus mengalami masa perubahan dari
kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang
serba mandiri. Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Transisi
ini hampir meliputi semua sistem organ tapi yang terpenting bagi anestesi adalah system
pernafasan sirkulasi, ginjal dan hepar. Maka dari itu sangatlah diperlukan penataan dan persiapan
yang matang untuk melakukan suatu tindakan anestesi terhadap neonatus
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kegawatdaruratan pada Neonatus
a. Faktor Kehamilan
a) Kehamilan kurang bulan
b) Kehamilan dengan penyakit DM
c) Kehamilan dengn gawat janin
d) Kehamilan dengan penyakit kronis ibu
e) Kehamilan dengan pertumbuhan janin terhambat
f) Infertilitas
b. Faktor pada Partus
a) Partus dengan infeksi intrapartum
b) Partus dengan penggunaan obat sedatif
c. Faktor pada Bayi
a) Skor apgar yang rendah
b) BBLR
c) Bayi kurang bulan
d) Berat lahir lebih dari 4000gr
e) Cacat bawaan
f) Frekuensi pernafasan dengan 2x observasi lebih dari 60/menit

2. Kondisi-Kondisi Yang Menyebabkan Kegawatdaruratan Neonatus


1. Hipotermia
Hipotermia adalah kondisi dimana suhu tubuh < 360C atau kedua kaki dan tangan teraba
dingin. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low
reading termometer) sampai 250C. Disamping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan
awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya
metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen
dengan akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang dapat
ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan factor presipitasi dari hipotermia antara lain : prematuritas, asfiksia, sepsis,
kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral, pengeringan yang tidak adekuat
setelah kelahiran dan eksposure suhu lingkungan yang dingin.
Penilaian klinik Awal
Tanda-tanda klinis hipotermia :
1) Hipotermia sedang (suhu tubuh 320C - <360C ), tanda-tandanya antara lain : kaki teraba dingin,
aktivitas berkurang, latergis, kemampuan menghisap lemah, tangisan lemah dan kulit berwarna
tidak rata atau disebut kutis marmorata.
2) Hipotermia berat (suhu tubuh < 320C ), tanda-tandanya antara lain : sama dengan hipotermia
sedang, dan disertai dengan pernafasan lambat tidak teratur, bunyi jantung lambat, terkadang
disertai hipoglikemi dan asidosis metabolik.
3) Stadium lanjut hipotermia, tanda-tandanya antara lain : muka, ujung kaki dan tangan berwarna
merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama
pada punggung, kaki dan tangan (sklerema)

2. Hipertermia
Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan termoregulasi.
Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih banyak panas daripada
mengeluarkan panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi, hipertermia menjadi keadaan darurat
medis dan membutuhkan perawatan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian.
Penyebab paling umum adalah heat stroke dan reaksi negatif obat. Heat stroke adalah
kondisi akut hipertermia yang disebabkan oleh kontak yang terlalu lama dengan benda yang
mempunyai panas berlebihan. Sehingga mekanisme penganturan panas tubuh menjadi tidak
terkendali dan menyebabkan suhu tubuh naik tak terkendali. Hipertermia karena reaksi negative
obat jarang terjadi. Salah satu hipertermia karena reaksi negatif obat yaitu hipertensi maligna
yang merupakan komplikasi yang terjadi karena beberapa jenis anestesi umum.
Tanda dan gejala : panas, kulit kering, kulit menjadi merah dan teraba panas, pelebaran
pembuluh darah dalam upaya untuk meningkatkan pembuangan panas, bibir bengkak. Tanda-
tanda dan gejala bervariasi tergantung pada penyebabnya. Dehidrasi yang terkait dengan
serangan panas dapat menghasilkan mual, muntah, sakit kepala, dan tekanan darah rendah. Hal
ini dapat menyebabkan pingsan atau pusing, terutama jika orang berdiri tiba-tiba. Tachycardia
dan tachypnea dapat juga muncul sebagai akibat penurunan tekanan darah dan jantung.
Penurunan tekanan darah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengakibatkan kulit
pucat atau warna kebiru-biruan dalam kasus-kasus lanjutan stroke panas. Beberapa korban,
terutama anak-anak kecil, mungkin kejang-kejang. Akhirnya, sebagai organ tubuh mulai gagal,
ketidaksadaran dan koma akan menghasilkan.

Penilaian klinik awal:


a. Suhu tubuh bayi >37,50C
b. Frekuensi pernafasan bayi > 60x/menit
c. Tanda-tanda dehidrasi, yaitu : berat badan menurun, air mani berkurang

3. Asfiksia
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan
hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau
segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi
tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin
timbul.
Penilaian Klinik Awal :
1) Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap
2) Denyut jantung kurang dari 100 x/menit
3) Tonus otot menurun,
4) Warna kulit kebiruan kulit sianosis, pucat,
5) Kejang
6) Penurunan kesadaran tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.

4. Gangguan pernafasan
Sindrom gangguan nafas ataupun sering disebut sindrom gawat napas (Respiratory
Distress Syndrome/RDS) adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada
neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru (Whalley dan Wong, 1995). Gangguan ini biasanya juga dikenal
dengan nama Hyaline membrane disease (HMD) ataupenyakit membran hialin, karena pada
penyakit ini selalu ditemukan membran hialin yang melapisi alveoli.
Penilaian Klinik awal
Gejala/tanda-tanda gangguan pernafasan secara mudah dapat diketahui dengan cara menghitung
frekuensi pernafasan dan melihat tarikan dinding iga serta warna kulit bayi dan merintih.
5. BBLR
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya
pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram. Dahulu neonatus dengan berat badan lahir kurang
dari 2500 gram atau sama dengan 2500 gram disebut prematur. Pada tahun 1961 oleh WHO
semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight
Infants ( BBLR).
Penilaian Klinik Awal :
a. Berat badan < 2500 gram
b. Bayi kecil
c. Pergerakan kurang dan masih lemah
d. Kepala lebih besar dari pada badan
6. Ikterus
Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa karena
adanya deposisi produk akhir katabolisme hem yaitu bilirubin. Secara klinis, ikterus pada
neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL.
Hiperbilirubinemia adalah keadaan kadar bilirubin dalam darah >13 mg/dL. Pada bayi
baru lahir, ikterus yang terjadi pada umumnya adalah fisiologis, kecuali:
1) Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.
2) Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL.
3) Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL/24 jam.
4) Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL.
5) Ikterus menetap pada usia >2 minggu.
6) Terdapat faktor risiko.
Efek toksik bilirubin ialah neurotoksik dan kerusakan sel secara umum. Bilirubin dapat
masuk ke jaringan otak. Ensefalopati bilirubin adalah terdapatnya tanda-tanda klinis akibat
deposit bilirubin dalam sel otak. Kelainan ini dapat terjadi dalam bentuk akut atau kronik.
Bentuk akut terdiri atas 3 tahap; tahap 1 (1-2 hari pertama): refleks isap lemah, hipotonia,
kejang; tahap 2 (pertengahan minggu pertama): tangis melengking, hipertonia, epistotonus; tahap
3 (setelah minggu pertama): hipertoni. Bentuk kronik : pada tahun pertama: hipotoni, motorik
terlambat. Sedang setelah tahun pertama didapati gangguan gerakan, kehilangan pendengaran
sensorial.
Penilaian Klinik Awal
Dokter harus memastikan bahwa semua neonatus dimonitor secara berkala untuk
mengawasi terjadinya ikterus. Ruang perawatan sebaiknya memiliki prosedur standar tata
laksana ikterus. Ikterus harus dinilai sekurang-kurangnya setiap 8 jam bersamaan dengan
pemeriksaan tanda-tanda vital lain.
Pada bayi baru lahir, ikterus dapat dinilai dengan menekan kulit bayi sehingga memperlihatkan
warna kulit dan subkutan. Penilaian ini harus dilakukan dalam ruangan yang cukup terang,
paling baik menggunakan sinar matahari. Penilaian ini sangat kasar, umumnya hanya berlaku
pada bayi kulit putih dan memiliki angka kesalahan yang tinggi. Ikterus pada awalnya muncul di
bagian wajah, kemudian akan menjalar ke kaudal dan ekstrimitas.

7. Pendarahan tali pusat


Perdarahan yang terjadi pada tali pusat bisa timbul sebagai akibat dari trauma pengikatan
tali pusat yang kurang baik atau kegagalan proses pembentukkan trombus normal. Selain itu
perdarahan pada tali pusat juga bisa sebagi petunjuk adanya penyakit pada bayi.
Penilaian klinik
1) Penanganan disesuaikan dengan penyebab dari perdarahan tali pusat yang terjadi.
2) Untuk penanganan awal, harus dilakukan tindakan pencegahan infeksi pada tali pusat.
3) Segera lakukan inform consent dan inform choise pada keluarga pasien untuk dilakukanrujukan.
8. Kejang
Kejang pada bayi baru lahir sering tidak dikenali karena bentuknya berbeda dengan
kejang pada anak atau orang dewasa. Hal ini disebabkan karena ketidakmatangan organisasi
korteks pada bayi baru lahir. Kejang umum tokni-klonik pada jarang pada bayi baru lahir.
Manifestasi kejang pada bayi baru lahir dapat berupa tremor, hiperaktif , kejang-kejang, tiba-tiba
menangis melengking, tonus otot hilang disertai atau tidak dengan hilangnya kesadaran, gerakan
yang tidak menentu (involuntary movements), nistagmus atau mata mengedip-ngedip
paroksimal, gerakan seperti mengunyah dan menelan (fenomena oral dan bukal), bahkan apneu.
Oleh karena manifiestasi klinik yang berbeda-beda dan bervariasi, seringkali kejang pada bayi
baru lahir tidak dikenali oleh oleh yang belum berpengalaman. Dalam prinsip, setiap gerakan
yang tidak biasa pada bayi baru lahir apabila berlangsung berulang-ulang dan periodik, harus
dipikirkan kemungkinan merupakan manifiestasi kejang.
Penilaian Kejang
Penilaian untuk membuat diagnosis antara lain dilakukan dengan urutan sebagai berikut.
1) Anamnesis yang teliti tentang keluarga, riwayat kehamilan, riwayat persalinan dan kelahiran.
a. Riwayat kehamilan
a) Bayi kecil untuk masa kehamilan.
b) Bayi kurang bulan.
c) Ibu tidak disuntik toksoid tetanus.
d) Ibu menderita diabetes mellitus.
b. Riwayat persalinan
a) Persalinan pervaginam dengan tindakan.
b) Persalinan presipatus.
c) Gawat janin.
c. Riwayat kelahiran
a) Trauma lahir.
b) Lahir asfiksia.
c) Pemotongan tali pusat dengan alat.
2) Pemeriksaan kelainan fisik bayi baru lahir.
a. Kesadaran (normal, apatis, somnolen, spoor, koma).
b. Suhu tubuh (normal, hipertemia atau hiportemia).
c. Tanda-tanda infeksi lainnya.

3) Penilaian Klinik Awal Kejang


a. Bentuk kejang.
Gerakan bola mata yang abnormal, nystagmus, kedipan mata paroksimal, gerakan mengunyah,
gerakan oto-otot muka, timbulnya apneu yang episode.Lemahan umum yang periodic,
tremor, jitterness, gerakan klonik sebagian ekstremitas, tubuh baku.
b. Lama kejang.
c. Apakah pernah terjadi sebelumnya.
4) Pemeriksaan laboratorium.
a. Punksi lumbal.
b. Punksi subdural.
c. Gula darah.
d. Kadar kalsium (Ca⁺⁺).
e. Kadar magnesium.
f. Kultur darah.
g. TORCH

9. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal
rendah Istilah hepoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi secara bermakna dibawah
kadar rata-rata. Dikatakan hepoglikemia bila kadar glukosa darah kurang dari 30 mg/dl pada
semua neonatus tanpa menilai masa gestasi atau ada tidaknya gejala hepoglikemia. Umumnya
hepoglikemia terjadi pada neonatus umur 1 – 2 jam. Hal ini disebabkan oleh karena bayi tidak
mendapatkan lagi glukosa dari ibu, sedangkan insulin plasma masih tinggi dengan kadar glukosa
darah yang menurun.
Hipoglikemia (hypo+glic+emia) merupakan konsentrasi glukosa dalam darah berkurangnya
secara abnormal yang dapat menimbulkan gemetaran, keringat dan sakit kepala apabila kronik
dan berat,dapat menyebabkan manifestasisusunan saraf pusat (KamusKedokteran Dorland:2000).
Hipoglikemia neonatorum adalah masalah pada bayi dengan kadarglukosa darah kurang
dari 40 -45mg/dl (Sudarti & Khoerunnisa,Endang : 2010)
Keadaan dimana bila kadar gula darah bayi di bawah kadar rata-rata bayi seusia & berat
badan aterm (2500 gr atau lebih)< 30mg/dl dlm 72 jam pertama, &< 40mg/dl pada hari
berikutnya.
Manifestasi Klinis
Walaupun hipoglikemia sering diklasifikasikan dalam simtomasis dan asimtomatis,
penggolongan tersebut sebenarnya merefleksikan ada atau tidaknya tanda-tanda fisik yang
menyertai kadar glukosa darah yang rendah. Berbagai tanda dapat terlihat pada kasus
hipoglikemia berat atau berkepanjangan dan pada bayi yang mengalami hipoglikemia ringan
sampai sedang yang berkepanjangan serta pada bayi yang mengalami stres fisiologis. Tanda-
tanda klinis yang ditemukan merupakan tanda nonspesifik dan merupakan akibat dari gangguan
pada lebih dari satu aspek fungsi sistem saraf pusat. Meliputi pola pernapasan abnormal, seperti
takipnea, apnea, atau distress napas; tanda-tanda kardiovaskuler, seperti takikardia atau
bradikardia, dan manifestasi neurologis seperti jitteriness, letargis, kemampuan mengisap yang
lemah, instabilitas suhu tubuh, dan kejang.
Banyak dari tanda-tanda tersebut merupakan akibat dari gangguan neonatus yang lain,
seperti sepsis, hypokalemia, dan pendarahan intracranial. Hipoglikemia harus dipertimbangkan
pada bayi yang menunjukkan satu atau lebih dari gejala-gejala tersebut, karena hipoglikemia
yang tak segera diatasi dapat mengakibatkan konsekuensi serius, dan penatalaksanaan
hipoglikemia pun cepat, relatif mudah, dan memiliki efek samping minimal. Tetapi, pada standar
penatalaksanaan neonatus yang ada saat ini, sebagian besar kasus hipoglikemia terdiagnosis
selama pemeriksaan rutin pada bayi yang dipertimbangkan berisiko namun dalam evaluasi
tampak normal secara fisiologis (McGowen, 2003)
10. Tetanus Noenatorum
Tetanus Noenatorum merupakan penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi < 1
bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani (kuman yang mengeluarkan toksin yang
menyerang sistem syaraf pusat)
Penilaian Klinik Awal :
1. Bayi yang semula dapat menetek tiba- tiba sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring
2. Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan
3. Kejang terutama bila kena rangsang cahaya, suara, sentuhan
4. Kadang- kadng disertai sesak nafas dan wajah membiru
Penanganan Klinik
1) Bersihkan jalan napas,
2) longgarkan atau buka pakaian bayi,
3) masukkan sendok atau tong spatel yang dibungkus kasa ke dalam mulut bayi,
4) ciptakan lingkungan yang tenang dan
5) berikan ASI sedikit demi sedikit saat bayi tidak kejang.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan manajemen
yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( ≤ usia 28 hari) membutuhkan pengetahuan
yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi patologis yang mengancam jiwa yang
bisa saja timbul sewaktu-waktu (Sharieff, Brousseau, 2006).
Kasus kegawatdaruratan obstetri dan noenatal apabila tidak segera ditangani akan
berakibat kesakitan yang berat, bahkan kematian ibu dan janinya. Kasus ini menjadi penyebab
utama kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir. Secara umum terdapat 4 penyebab utama
kematian ibu, janin, dan bayi baru lahir dari sisi obstetri, yaitu (1) perdarahan; (2) infeksi sepsis;
(3) hipertensi dan preeklampsia/eklampsia; dan (4) persalinan macet (distosia). Terdapat lebih
dari ¾ ( tiga perempat) kematian noenatal disebabkan kesulitan bernapas saat lahir ( asfiksia),
infeksi, komplikasi lahir, dan berat badan lahir yang rendah.

B. Saran
Kasus kegawatdaruratan maternal bukanlah merupakan tanggung jawab petugas
kesehatan untuk menanganinya. Namun, dibutuhkan peran serta berbagai pihak dalam
mewujudkan kondisi yang mendukung demi tercapainya keselamatan ibu dan bayi yang
mengalami kegawatan melalui sistem pertolongan yang bekerja efektif, efisien.
Kasus kegawatdaruratan merupakan hal yang saat ini mendapat perhatian yang begitu
besar. Oleh karena itu, diharapkan seluruh pihak memberikan kontribusinya dalam merespon
kasus kegawatdaruratan ini. Bagi mahasiswa, sudah sebaiknyamemberikan peran dengan
mempelajari dengan sungguh-sungguh kasus-kasus kegawatadaruratan dan memaksimalkan
keterampilan dalam melakukan penanganan kegawatdaruratan yang berada dalam koridor
wewenang bidan

DAFTAR PUSTAKA
Kebidanan Komunitas, Oleh Safrudin, SKM, M.Kes & Hamidah, S.Pd, M.Kes, EGC.
Saifuddin. (2000) Persalinan Normal. Dalam Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPKKR–POGI. YBPS, Jakarta: 100–21
Saifuddin (2000) Upaya Safe Motherhood. Dalam Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPKKR-POGI. YBPS. Jakarta: 3-10
Wiknjosastro Hanifa, Ilmu Kebidanan. 2009. Jakarta : PT. Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardo.
Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Prinsip umum Penanganan Kasus Gawat Darurat
Perbedaan prinsip dasar dan prinsip umum terletak pada subjeknya. Dalam prinsip dasar, seorang petugas kesehatan
diharuskan melihat secara utuh bahwa pasien adalah manusia yang harus diperhatikan juga haknya. Dalam prinsip
umum, petugas kesehatan dan pasien adalah sama-sama subjek, sebagai mitra yang bekerja sama dalam menangani
suatu kasus kegawatdaruratan.

1. Stabilisasi Pasien

Setelah kita mengenali kondisi kegawatdaruratan, lakukan stabilisasi keadaan pasien sebelum melakukan rujukan.
Elemen-elemen penting dalam stabilisasi pasien:

a. Menjamin kelancaran jalan nafas, pemulihan sistem respirasi dan sirkulasi.

b, Menghentikan sumber perdarahan dan infeksi.

c. Mengganti cairan tubuh yang hilang.

d. Mengatasi rasa nyeri atau gelisah.

2. Terapi Cairan

a. Antisipasi ini dilakukan pada tahap awal untuk persiapan jika kemudian penambahan cairan dibutuhkan.

b. Pemberian cairan ini harus diperhatikan baik jenis cairan, banyaknya cairan yang diberikan, dan kecepatan
pemberian cairan harus dengan diagnosis kasus.

c. Misal, pemberian cairan untuk mengganti cairan tubuh yang hilang pada kasus syok hipovolemik seperti pada
perdarahan berbeda dengan pemberian cairan pada syok septik.

d. Cairan yang diberi sebaiknya berupa Ringer Laktat dan NaCl fisiologis yang dapat menggantikan cairan dalam
tubuh.

3. Resusitasi Jantung Paru (RJP)

a. Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan gabungan penyelamatan pernapasan (bantuan napas) dengan kompresi
dada eksternal. RJP digunakan ketika seseorang mengalami henti jantung dan henti napas.

b. Dalam melakukan RJP, sebagai seorang penolong harus:

 Mempertahankan terbukanya jalan napas (Airway = A)


 Memberi nafas untuk pasien (Breathing = B)
 Mengusahakan kembalinya sirkulasi pasien (Circulation = C)
c. Dalam prinsip RJP selalu mengikutsertakan ABC:
 Suatu pernafasan tidak akan efektif jika jalan nafas tidak terbuka.
 Pernafasan buatan tidak efektif pula jika sirkulasi terhenti.
 Darah yang bersirkulasi tidak akan efektif, kecuali darah tersebut teroksigenisasi.
 Selalu diingat jika perdarahan dapat mengganggu sirkulasi.
 Oleh karena itu jika seorang pasien kehilangan darah terlalu banyak maka RJP yang dilakukan tidak efektif.
d. Langkah-langkah resusitasi jantung paru sejak tahun 2010, berubah dari ABC menjadi CBA.

4. Pemantauan Kandung Kemih

a. Dalam pemantauan kandung kemih, sebaiknya menggunakan kateter untuk mengukur banyaknya urin yang keluar
guna menilai fungsi ginjal dan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran cairan tubuh.

b. Jika kateterisasi tidak mungkin dilakukan, urin ditampung dan dicatat kemungkinan terdapat peningkatan
konsentrasi urin (urin berwarna gelap) atau produksi urin berkurang sampai tidak ada urin sama sekali.

c. Jika produksi urin mula-mula rendah kemudian semakin bertambah, hal ini menunjukkan bahwa kondisi pasien
membaik.

d. Diharapkan produksi urin paling sedikit 100 ml/4 jam atau 30 ml/jam.

5. Rujukan

a. Apabila fasilitas medik di tempat kasus diterima terbatas untuk menyelesaikan kasus dengan tindakan klinik yang
adekuat, maka kasus harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lain yang lebih lengkap.

b. Seharusnya sebelum kasus dirujuk, fasilitas kesehatan yang akan menerima rujukan sudah dihubungi dan
diberitahu terlebih dahulu sehingga persiapan penanganan ataupun perawatan inap telah dilakukan dan diyakini
rujukan kasus tidak akan ditolak.

DAFTAR PUSTAKA
Maryunani, A, & Puspita, E. 2013. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Jakarta: TIM.

SISTEM RUJUKAN
A. PENGERTIAN
1. Sistem rujukan adalah pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas suatu kasus/ masalah medik
yang timbul, baik secara vertikal maupun harizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu,
terjangkau dan rasional (Depkes RI, 1991)
2. Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya
penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah
kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horizontal, kepada yang lebih kompeten, terjangkau
dan dilakukan secara rasional (Hatmoko, 2000)
B. TUJUAN RUJUKAN
Menurut Mochtar, 1998 Rujukan mempunyai berbagai macam tujuan antara lain :
1. Agar setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan sebaik-baiknya
2. Menjalin kerja sama dengan cara pengiriman penderita atau bahan laboratorium dari unit yang kurang
lengkap ke unit yang lebih lengkap fasilitasnya
3. Menjalin perubahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge & skill) melalui pendidikan dan
latihan antara pusat pendidikan dan daerah perifer
Sedangkan menurut Hatmoko, 2000 Sistem rujukan mempunyai tujuan umum dan khusus, antara lain
:
1. Umum
Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung kualitas pelayanan yang optimal
dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna.
2. Khusus
a. Menghasilkan upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara berhasil
guna dan berdaya guna.
b. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preveventif secara berhasil guna dan berdaya
guna.

C. JENIS RUJUKAN
Menurut Hatmoko (2000) jenis rujukan secara konseptual menyangkut hal-hal sebagai berikut :
1) Rujukan medik, meliputi
a. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan operatif dan lain-lain.
b. Pengiriman bahan (specimen) unutuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.
c. Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk mutu pelayanan pengobatan
2) Rujukan kesehatan
Adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan
promotif yang antara lain meliputi bantuan :
a. Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar biasa atau terjangkitnya penyakit
menular
b. Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah
c. Pendidikan penyebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan kerancunan dan bantuan obat-
obatan atas terjadinya keracunan masal
d. Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan air bersih bagi masyarakat
umum
e. Pemeriksaan specimen air di laboratorium kesehatan dan lain-lain

D. PERSIAPAN RUJUKAN
Mempersiapkan rujukan ke rumah sakit dengan melakukan BAKSOKUDa yaitu:
B: Bidan Harus siap antar ibu ke rumah sakit;
A: Alat-alat yang akan di bawa saat perjalanan rujukan;
K: Kendaraan yang akan mengantar ibu ke Rumah Sakit;
S: Surat rujukan disertakan;
O: Obat-obat seperti oksitosin ampul, cairan infuse;
K: Keluarga harus diberitahu dan mendampingi ibu saat dirujuk;
U:Uang untuk pembiayaan di rumah sakit.
Da: Darah untuk tranfusi

E. KEGIATAN RUJUKAN
1.Rujukan dan pelayanan kebidanan
Kegiatan ini antara lain berupa :
a. Pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap
b. Rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan dan nifas
c. Pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi,
yang memerlukan penanganan spesialis
d. Pengiriman bahan laboratorium
e. Bila penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan kirimkan lagi kepada
unit semula, bilamana perlu disertai dengan keterangan yang lengkap (surat balasan)
2. Rujukan kesehatan yang meliputi permintaan bantuan atas :
a. Kejadian luar biasa atau terjangkitnya penyakit menular
b. Terjadinya kelaparan dalam masyarakat
c. Terjadinya keracunan masal
d. Masalah lain yang menyangkut kesehatan masyarakat umum
3. Rujukan informasi medis
Kegiatan ini antara lain berupa :
a. Membahas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit
yang mengirim
b. Menjalin kerjasama sistem pelaporan data-data medis umumnya dan data-data parameter pelayanan
kebidanan khususnya terutama mengenai kematian maternal dan perinatal. Hal ini sangat berguna untuk
memperoleh angka-angka secara regional dan nasional.
4. Pelimpahan pengetahuan dan ketrampilan
Kegiatan ini antara lain berupa :
a. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah perifer untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan
melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan demonstrasi
b. Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah pengetahuan dan keterampilan
mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap atau Rumah sakit pendidikan. Juga dengan mengundang
tenaga medis dan paramedis dalam kegiatankegiatan ilmiah yang diselenggarakan tingkat propinsi atau
institusi pendidikan
5. Pusat Rujukan Antara (Puskesmas dengan 10 tempat tidur)
a. Pengertian
Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat baik
berupa tindakan operatif terbatas maupun perawatan sementara dengan 10 tempat tidur
b. Kriteria
 Puskesmas terletak kurang lebih dari 20 km dari rumah sakit
 Puskesmas mudah dicapai dengan kendaran bermotor dari puskesmas sekitarnya
 Puskesmas dipimpin oleh dokter dan telah mempunyai tenaga yang memadai
 Jumlah kunjungan puskesmas minimal 100 orang per hari rata-rata.
 Puskesmas masih mempunyai tanah kososng seluas 20mx30m
 Penduduk wilayah kerja puskesmas dan penduduk di kelilingnya minimal rata-rata 20.000/Puskesmas
 Pemerintah daerah bersedia untuk menyediakan anggaran rutin yang memadai
c. Fungsi
Merupakan “Pusat Rujukan Antara” melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dibawa ke rumah
sakit
d. Kegiatan
1) Melakukan tindakan opertaif terbatas terhadap penderita gawat darurat antara lain :
 Kecelakaan lalu lintas
 Persalinan dengan penyulit
 penyakit lain yang mendadak dan gawat
2) Merawat sementara penderita gawat darurat atau untuk observasi penderita dalam rangka diagnostik
dengan rata-rata hari perawatan 3 hari atau maksimal 7 hari
3) Melakukan pertolongan sementara untuk mempersiapkan pengiriman penderita lebih lanjut ke Rumah
sakit
4) Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan dengan resiko tinggi dan persalinan dengan penyulit
5) Melakukan metode operasi pria dan metode operasi wanita untuk keluarga berencana
e. Ruangan tambahan
Bangunan tambahan seluas 246m diatas tanah seluas 600m2 terdiri dari :
 Ruang rawat tinggal untuk 10 tempat tidur
 Ruangan operasi
 Ruangan persalinan
 Kamar perawatan jaga
 Ruangan post operatif
 Kamar linen
 Kamar cuci
 Dapur
f. Peralatan medis
 Peralat operasi terbatas
 Peealatan obstetri patologis
 Peralatan resusitasi
 Peralatan vasektomi dan tubektomi
 10 tempat tidur lengkap dengan peralatan perawatan
g. Tenaga
 Dokter kedua di puskesmas yang telah mendapatkan latihan klinis di Rumah Sakit 6 bulan dalam bidang
: obstetri, gynekologi, pediatri dan interne
 2 orang perawat yang telah dilatih selama 6 bulan dalam bidang perawatn bedah, kebidanan, pediatri
dan penyakit dalam
 3 orang perawat kesehatan/ perawat/ bidan yang diberi tugas secara bergilir
 1 orang prakarya kesehatan
h. Alat komunikasi
 Telepon atau radio komunikasi jarak sedang
 1 buah ambulance

F. ALUR RUJUKAN
Dalam rangka pelaksanaan rujukan diperhatikan hal-hal yang menyangkut tingkat kegawatan
penderita, waktu dan jarak tempuh sarana yang dibutuhkan serta tingkat kemampuan tempat rujukan.
Dalam kaitan ini alur rujukan untuk kasus gawat darurat dapat dilaksanakan sebagai berikut :
1. Dari kader
Kader dapat langsung merujuk ke :
a. Puskesmas pembantu atau pondok bersalin atau bidan di desa
b. Puskesmas atau puskesmas denga rawat inap
c. Rumah sakit pemerintah atau swasta
2. Dari posyandu
Dari posyandu dapat langsung merujuk ke :
a. Puskesmas pembantu atau
b. Pondok bersalin atau bidan desa atau puskesmas atau puskesmas dengan rawat inap atau rumah sakit
pemerintah yang terdekat
3. Dari puskesmas pembantu
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swata
4. Dari pondok bersalin
Dapat langsung ke rumah sakit kelas D/C atau rumah sakit swasta

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merujuk pasien :


1. Pada rujukan penderita gawat darurat, batas wilayah administrasi (geografis) dapat diabaikan karena
yang penting adalah penderita dapat pertolongan yang cepat dan tepat
2. Sedangkan untuk penderita yang tidak termasuk gawat darurat dilaksanakan sesuai dengan prosedur
rujukan yang biasa sesuai hierarki fasilitas pelayanan
Unutuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel Alur rujukan

G. MEKANISME
1. Menentukan kegawatdaruratan penderita
a. Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih
Bila ditemukan penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga/ kader/ dukun bayi,
maka segera dirujuk kefasilitas pelayanan kesehatan terdekat, oleh karena mereka belum tentu dapat
menetapkan tingkat kegawatdaruratan.
b. Pada tingkat Bidan di desa
Puskesmas pembantu dan puskesmas tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas pelayanan
kesehatan tersebut harus dapat menentukan tingkat kegawatandaruratan kasus yang ditemui. Sesuai
dengan wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus menentukan kasus yang boleh ditangani
sendiri dan kasus yang harus dirujuk.
2. Menentukan tempat tujuan rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan
dan terdekat. Termasuk fasilitas pelayanan swata dengan tidak mengabaikan kesediaan dan
kemampuan penderita.

3. Pemberian informasi kepada penderita dan keluarganya


Penderita dan keluarganya perlu diberi informasi tentang perlunya penderita segera dirujuk untuk
mendapat pertolongan fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih mampu
4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
Melalui telepon atau radio komunikasi disampaikan kepada tempat rujukan yang tujuannya untuk :
a. Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk
b. meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan dan selama dalam dalam perjalanan
ke tempat tujuan
c. Meminta petunjuk cara penanganan untuk menolong penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.

5. Persiapan penderita
a. Sebelum dikirim, keadaan umum penderita harus diperbaiki terlebih dahulu. Keadaan umum perlu
dipertahankan selama dalam perjalanan. Untuk itu obat-obatan yang diperlukan untuk mempertahankan
keadaan umum perlu disertakan pada waktu pasien diangkut.
b. Surat rujukan perlu disiapkan dengan format rujukan
c. Dalam hal penderita gawat darurat maka seorang perawat/ bidan perlu mendampingi penderita dalam
perjalanan untuk menjaga keadaan umum penderita
6. Pengiriman penderita
Untuk mempercepat sampai ke tujuan, perlu diupayakan kendaraan/ sarana transportasi untuk
mengangkut penderita
7. Tindak lanjut penderita
a. Untuk penderita yang telah dikembalikan, dan memerlukan tindak lanjut, dilakukan tindakan dengan
sarana yang diberikan
b. Bagi penderita yang memerlukan tindak lanjut tapi tidak melapor, maka dilakukan kunjungan rumah

H. UPAYA PENINGKATAN MUTU RUJUKAN


Langkah-langkah dalam upaya meningkatkan mutu rujukan :
1. Meningkatkan mutu pelayanan di puskesmas dalam menampung rujukan puskesmas pembantu dan pos
kesehatan lain dari masyarakat.
2. Mengadakan pusat rujukan antara lain dengan mengadakan ruangan tambahan untuk 10 tempat tidur
perawatan penderita gawat darurat di lokasi strategis
3. Meningkatkan sarana komunikasi antar unit pelayanan kesehatan
4. Menyediakan Puskesmas keliling di setiap kecamatan dalam bentuk kendaraan roda 4 atau perahu
bermotor yang dilengkapi alat komunikasi
5. Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan bagi sistem, baik rujukan medik maupun rujukan
kesehatan
6. Meningkatkan upaya dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan kesehatan
GAWAT DARURAT
Setiap kali saya jaga IGD.. saya merasa masih bingung dan heboh sendiri, orang
jawa bilang "gupoh"... teman2 sayapun juga sering protes karena kehebohan
saya...hehehe... maaf ya teman-teman... sifat ini memang sudah bawaan saya dari
lahir..hihi... tapi insyaAllah saya akan selalu berusaha untuk meminimalkan sifat
tersebut dan berusaha untuk tenang,.... tapi sifat ini susah sekali saya kendalikan setiap
saya jaga IGD... apalagi yang dihadapi adalah pasien yang bermacam-macam dengan
jumlah yang tidak terduga, kadang-kadang langsung datang pasien beruntun atau
"grudukan", keadaan ini membuat saya semakin stress...hahaha.. dan ternyata...hal ini
saya masih sedikit dan kurang belajar mengenai tindakan kegawatdaruratan, seperti
triase, sistematika pertolongan pada kegawatdaruratan.... bismillahirrahmanirrahim....
disini saya akan belajar menganai PPGD...
Latar Belakang
B-GELS atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Pertolongan Pertama
Pada Gawat Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat
dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari
kematian. Di luar negeri, PPGD ini sebenarnya sudah banyak diajarkan pada orang-
orang awam atau orang-orang awam khusus, namun sepertinya hal ini masih sangat
jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia.

Prinsip Utama
Prinsip Utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat
darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah “Time Saving is Life Saving”,
dalam artian bahwa seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat darurat
haruslah benar- benar efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat
kehilangan nyawa dalam hitungan menit saja (henti nafas selama 2-3 menit dapat
mengakibatkan kematian).

Kasus kegawatdaruratan yang mungkin terjadi sehari-hari:


- TENGGELAM
- STROKE
- OBSTRUKSI / BENDA ASING
- INHALASI ASAP
- REAKSI ANAFILAKSIS
- OVERDOSE OBAT
- SENGATAN LISTRIK
- SUFFOKASI
- TRAUMA
- INFARK MYOCARD
- SAMBARAN PETIR
- COMA KARENA BERBAGAI SEBAB

Langkah-langkah Dasar
Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D ( Airway -
Breathing – Circulation – Disability). Keempat poin tersebut adalah poin-poin yang
harus sangat diperhatikan dalam penanggulangan pasien dalam kondisi gawat darurat.

Algortima Dasar PPGD

TRIASE
Cara pemilahan penderita berdasarkan :
- Kebutuhan terapi
- Sumber daya yang tersedia

Terapi didasarkan pada kebutuhan :


A : Airway
B : Breathing
C : Circulation
D : Disability
E : Exposure

LABELISASI
Biru : gawat darurat sangat berat
Merah : gawat darurat
Kuning : tidak gawat, tetapi darurat
Hijau : tidak gawat darurat
Hitam : meninggal

PRIMERY SURVEY & RESUSITASI


Deteksi secara cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang mengancam jiwa.
live suport --- A-B-C-D

A = airway, bebaskan jalan nafas


B = breathing, beri nafas, tambah oksigen
C = circulation, hentikan perdarahan, beri infus
D = disability / SSP, cegah TIK naik

Quick Diagnosis -- Quick Treatment


Istilah:
Cardio Pulmonary Cerebral Resuscitation = CPCR = CPR = RJPO = BLS + ALS

Basic Life Support = B L S


= jalan nafas + nafas buatan + pijat jantung (A-B-C)
Advanced Life Support = A L S
= Drug (+fluid) + E K G + Defibrilasi

Urutan BLS

1. Pastikan pasien sadar atau tidak, bila pasien tidak sadar langsung bebaskan jalan
nafas
oh iyaa...
Pada korban yang tak sadar, jangan diberi bantal di kepala dan jangan diberi ganjal di
bahu
2. Urutan pemeriksaan:
A: Airway
Periksan apakah ada hambatan pada saluran nafas?? usahakan jalan nafas tetap terbuka
secara optimal.
Look:Gerak dada & perut, Tanda distres nafas, Warna mukosa, kulit.
Pada pernafasan yang normal maka antara dada dan perut bergerak bersamaan, artinya
saat dada mengembang maka perut juga mengembang. Hati-hati jika terjadi sebaliknya
atau gerakan dada dan perut yang berkebalikan arah, maka tanda ini merupakan tanda
sebagai obstruksi total dari jalan nafas (see saw).
Listen:Gerak udara nafas dengan telinga
Feel: gerak udara nafas dengan pipi.
Jika pasien sadar, ajak bicara, jika bicara jelas = tak ada sumbatan
Berikan oksigen (jika ada), masker 6 lpm
Jaga tulang leher, baring datar, wajah ke depan, leher posisi netral
Nilai apakah jalan nafas bebas adakah suara crowing, gargling, snoring.
Jenis-jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas :
a.Snoring :suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan jalan
napas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka lakukanlah
pengecekan langsung dengan cara cross-finger untuk membuka mulut (menggunakan 2
jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang digunakan untuk chin lift tadi, ibu jari
mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah). Lihatlah
apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll).
Pindahkan benda tersebut
b. Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang
disebabkan oleh cairan (eg: darah), maka lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu
lakukanlah finger-sweep (sesuai namanya, menggunakan 2 jari yang sudah dibalut
dengan kain untuk “menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan).
c.Crowing: suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena pembengkakan
(edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lakukan maneuver head tilt and
chin lift atau jaw thrust saja Jika suara napas tidak terdengar karena ada hambatan total
pada jalan napas, maka dapat dilakukan:
a.Back Blow sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan
daerah diantara tulang scapula di punggung
b.Heimlich Maneuver,
c.Chest Thrust, dilakukan pada ibu hamil, bayi atau obesitas dengan cara memposisikan
diri seperti gambar lalu mendorong tangan kearah dalam atas.

Gangguan jalan nafas bagian atas:


- Sumbatan pangkal lidah
- Sumbatan benda asing
padat : makanan. muntahan
cair : muntah cairan lambung, darah
- Edema jalan nafas: alergi, angioneurotic edema, luka bakar
- Radang (terutama anak): laryngitis, tonsilitis, diptheria
Treatment of Air way obstruction (manual method)
Sumbatan pangkal lidah
- Jaw thrust
- chin lift + head tilt
- Jalan nafas oropharynx
- Jalan nafas nasopharynx
- Intubasi trachea / LMA
Cairan di hypopharynx; penghisap / suction
Sumbatan di plica vocalis; cricothyroidotomy
B: Breathing
Penyebab gangguan breathing:
Sentral
SSP/pusat nafas

Perifer
- Jalan nafas
- Paru
- Rongga pleura
- Dinding dada
- Otot nafas
- Syaraf
- Jantung
Menilai pernapasan:
- Inspeksi (LIHAT): Frekuensi, pola nafas, simetris atau tidak, penggunaan otot bantu
pernapasan, Bendungan vena leher, sianosis. Pada traum aperiksa adanya luka tusuk,
fleil chest, luka pada dada.
- Palpasi (RABA): nyeri tekan, krepitasi, emfisema subkutis, pergeseran letak trakea
- Perkusi: Sonor, redup, hipersonor.
- Auskultasi (DENGAR): keluhan penderita, suara nafas, adakah suara tambahan nafas
(rhonki?, whezing?), dengarkan adanya suara usus di dada, suara jantung.

Tanda-tanda distress nafas:


- Gelisah (karena hipoksia)
- Tachypnea, nafas cepat, > 30 pm
- Gerak otot nafas tambahan
- Gerak cuping hidung
- Tracheal tug
- Retraksi sela iga
- Gerak dada & perut paradoksal
- Sianosis (tanda lambat)

Terapi oksigen:
C: Circulasi
- Periksa Nadi: Irama, frekuensi, kuat angkat
- Tensi
- Perfusi perifer

Tanda-tanda shock:

GANGGUAN PERFUSI PERIFER


- Raba telapak tangan
Hangat, Kering, Merah : NORMAL
Dingin, Basah, Pucat : SHOCK
- Tekan - lepas ujung kuku / telapak tangan
Merah kembali < 2 detik : NORMAL
Merah kembali > 2 detik : SHOCK
- Bandingkan dengan tangan pemeriksa
Perfusi : pucat - dingin – basah; cap. Refill time lambat ( kuku, telapak )
- Nadi >100 x/mnt
- Tekanan darah <100/90 mmhg
Nadi masih teraba di: Tek darah masih
art. radialis > 80 mmHg
art. femoralis > 70 mmHg
art. carotis > 60 mmHg

Estimasi jumlah perdarahan:


- Fraktur femur tertutup: 1,5-2 liter
- Fraktur tibia tertutup: 0,5 liter
- Fraktur pelvis 3 liter
- Hemothoraks: 2 liter
- Fr. Costae (tiap satu): 150 ml
- Luka sekepal tangan : 500 ml
Bekuan darah sekepal: 500 ml

Pasang jalur infus IV besar x 2


- Untuk mengatasi shock
- Untuk memasukkan obat
- Kalau sudah ada satu infus, pasang infus satu lagi
- Ambil sampel darah untuk cari donor segera pasang stiker nama pasien, pilih vena
besar, cairan harus dapat diguyur
ADVANCED LIFE SUPPORT memerlukan ketersediaan obat-emergensi segera

Disability
Periksa Pupil (besar, simetri, refleks cahaya)
Periksa kesadaran , GCS
A = Awake (sadar penuh)
V = responds to Verbal command (ada reaksi terhadap perintah)
P = responds to Pain (ada reaksi terhadap nyeri)
U = Unresponsive (tak ada reaksi)

Dasar-dasar penanganan pada keadaan gawat darurat juga dapat menggunakan sistem
B1-B6
B1 = Breath = Masalah pernafasan dapat menyebabkankematian dalam 3 menit
B2 = Bleed = Masalah hemodinamik juga dapat menyebabkan kematian dalam
beberapa menit
B3 = Brain = Masalah kesadaran dan susunan syaraf
B4 = Bladder = Masalah urogenital
B5 = Bowel = Masalah tractus digestivus
B6 = Bone = Masalah tulang dan kerangka.

A = Airway = B1
B = Breathing = B1
C = Circulation = B2
D = Disability = B3
E = Exposure

B4 = Bladder = masalah urologi


Menilai fungsi ginjal perlu diperiksa Urine
Volume
Normal : 1 - 2 mI/kg BB
Anuria : 20 ml/24jam
Oliguria :25 ml/jam atau 400 ml/24 jam
Poliuria : > 2500 ml/24 jam
Kwalitas
Berat jenis
Sedimen dan lain-lain

Penyebab oligouria/anuria:
Prerenal
Hipovolemia
Hipotensi/syok
Renal
Prerenal yang tak segera diatasi
Reaksitransfusi
Myoglobinuria karena crush syndrome
Radang
Post renal
Batu, debris

B5 = BOWEL= Masalah tractus digestivus


Perut yang kembung atau distensi (menyangkut mastah B 1)
Ascites : perlu dilakukan punksi
Perdarahan intra abdominal : segera laparatomy
Ileus paralitik :
Pasang pipa lambung
Pasang pipa rektum
Pasang infus
Dipertimbangkan obat - obatseperti prostigmin, alinamin dan lain – lain
Ileus obstruktip
Dipersiapkan untuk laparatomy
Pasang pipa lambung
Pasang infus lakukan rehidrasi dengan monitoring tensi, nadi, CVP (biIa dipasang) dan
produksi urine

Muntah dan diarrhe (menyangkut masalah B2)


Gejala klinis akibat berkurangnya cairan interstisiel
Turgor kulit menurun
Mata cowong
Mukosa kering
Ubun – ubun cekung
Gejala akibat berkurang plasma
Takhikardia
Hipotensi sampai syok
Oliguria

B6 = Bone = masalah pada tulang


Patah tulang leher
Gangguan nafas (B1)
Hipovolemia (B2)
Patah tulang panjang
Gangguan nafas (B1)
Hipovolemia (B2)
Pengkajian Airway, Breathing dan Circulation
Keberhasilan pertolongan terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari kecepatan dan
ketepatan dalam memberikan pertolongan. Semakin cepat pasien ditemukan maka semakin cepat pula
pasien tersebut mendapat pertolongan sehingga terhindar dari kecacatan atau kematian.

Kondisi kekurangan oksigen merupakan penyebab kematian yang cepat. Kondisi ini dapat diakibatkan
karena masalah sistem pernafasan ataupun bersifat sekunder akibat dari gangguan sistem tubuh yang
lain. Pasien dengan kekurangan oksigen dapat jatuh dengan cepat ke dalam kondisi gawat darurat
sehingga memerlukan pertolongan segera. Apabila terjadi kekurangan oksigen 6-8 menit akan
menyebabkan kerusakan otak permanen, lebih dari 10 menit akan menyebabkan kematian. Oleh karena
itu pengkajian pernafasan pada penderita gawat darurat penting dilakukan secara efektif dan efisien.

Tahapan kegiatan dalam penanggulangan penderita gawat darurat telah mengantisipasi hal tersebut.
Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan survei primer
untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mengancam hidup pasien, barulah selanjutnya dilakukan
survei sekunder. Tahapan kegiatan meliputi :

A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas disertai kontrol
servikal.

B: Breathing, mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi adekwat.

C: Circulation, mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol perdarahan.

D: Disability, mengecek status neurologis

E: Exposure, enviromental control, buka baju penderita


tapi cegah hipotermia.

Survei primer bertujuan mengetahui dengan segera kondisi yang mengancam nyawa pasien. Survei
primer dilakukan secara sekuensial sesuai dengan prioritas. Tetapi dalam prakteknya dilakukan secara
bersamaan dalam tempo waktu yang singkat (kurang dari 10 detik). Apabila teridentifikasi henti nafas dan
henti jantung maka resusitasi harus segera dilakukan.

Apabila menemukan pasien dalam keadaan tidak sadar maka pertama kali amankan lingkungan pasien
atau bila memungkinkan pindahkan pasien ke tempat yang aman. Selanjutnya posisikan pasien ke dalam
posisi netral (terlentang) untuk memudahkan pertolongan.
Penilaian airway dan breathing dapat dilakukan dengan satu gerakan dalam waktu yang singkat dengan
metode LLF (look, listen dan feel).

AIRWAY

Jalan nafas adalah yang pertama kali harus dinilai untuk mengkaji kelancaran nafas. Keberhasilan jalan
nafas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses ventilasi (pertukaran gas antara atmosfer
dengan paru-paru. Jalan nafas seringkali mengalami obstruksi akibat benda asing, serpihan tulang akibat
fraktur pada wajah, akumulasi sekret dan jatuhnya lidah ke belakang.

Selama memeriksa jalan nafas harus melakukan kontrol servikal, barangkali terjadi trauma pada leher.
Oleh karena itu langkah awal untuk membebaskan jalan nafas adalah dengan melakukan manuver head
tilt dan chin lift seperti pada gambar di bawah ini :
Data yang berhubungan dengan status jalan nafas adalah :

- sianosis (mencerminkan hipoksemia)


- retraksi interkota (menandakan peningkatan upaya nafas)
- pernafasan cuping hidung
- bunyi nafas abnormal (menandakan ada sumbatan jalan nafas)
- tidak adanya hembusan udara (menandakan obstuksi total jalan nafas atau henti nafas)

BREATHING

Kebersihan jalan nafas tidak menjamin bahwa pasien dapat bernafas secara adekwat. Inspirasi dan
eksprasi penting untuk terjadinya pertukaran gas, terutama masuknya oksigen yang diperlukan untuk
metabolisme tubuh. Inspirasi dan ekspirasi merupakan tahap ventilasi pada proses respirasi. Fungsi
ventilasi mencerminkan fungsi paru, dinding dada dan diafragma.

Pengkajian pernafasan dilakukan dengan mengidentifikasi :


- pergerakan dada
- adanya bunyi nafas
- adanya hembusan/aliran udara

CIRCULATION

Sirkulasi yang adekwat menjamin distribusi oksigen ke jaringan dan pembuangan karbondioksida
sebagai sisa metabolisme. Sirkulasi tergantung dari fungsi sistem kardiovaskuler.

Status hemodinamik dapat dilihat dari :


- tingkat kesadaran
- nadi
- warna kulit

Pemeriksaan nadi dilakukan pada arteri besar seperti pada arteri karotis dan arteri femoral.
Kamis, 08 Januari 2015

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT (PPGD)


PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT

1.1 Pengertian PPGD


PPGD adalah singkatan dari pertolongan pertama pada gawat darurat. PPGD merupakan salah sau
tindakan untuk memberikan pertolongan pertama pada korban yang mengalami kecelakaan dan
ditolong dengan secepat-cepatnya agar korban selamat. Setelah diberi pertolongan pertama, maka
korban perlu ditangani oleh pihak dokter untuk perawatan lanjutan yang lebih tepat. PPGD memiliki
tujuan, antara lain:

1. Mencegah terjadinya kematina;

2. Mencegah terjadinya cacat tubuh;

3. Mencegah kerusakan yang lebih luas;

4. Mencegah terjadinya infeksi;

5. Mencegah rasa sakit pada korban.

1.2 Pemeriksaan ABCD

A. Airway control (jalan nafas)

1. Penilaian: pastikan korban tidak sadar

Dengan cara menyentuh atau menggoyangkan secara halus dan berteriak memanggil. Hati-hati pada
korban trauma (kecelakaan) pada kepala dan leher. Kesalahan pergerakan akan menyebabkan
kelumpuhan otot pernafasan. Apabila korban sadar (dapat bicara) berarti tidak ada masalah dengan jari
nafasnya.

Sumbatan nafas:

Total; sulit bernafas, memegangi leher

Parsial: seperti ngorok, mengi, kumur.

Dalam beberapa kasus dimana korban tidak ada respon.lidah menjadi penyebab dari tersumbatnya jalan
nafas, karena pada saat kehilangan kesadaran otot-otot akan lumpuh termasuk otot dasar lidah akan
jatuh ke belakang sehingga jalan nafas tertutup

2. Bila penderita tidak sadar mintalaha bantuan orang terdekat dalam melakukan melakukan pertolongan;

3. Posisi korban untuk melakukan RJP yang efektif, korban harus terlentang dan berada pada permukaan
yang keras;

4. Bula jalan nafas


Untuk membuka jalan nafas, kepala korban diposisikan ekstensi (tengadah kepala) untuk
menghindari sumbatan jalan nafas oleh lidah. Benda asing atau sisa muntahan yang terlihat dalam mulut
harus segera disingkirkan secara cepat dan seksama.

Ada dua cara untuk membebaskan jalan nafas, antara lain:

a. Tekan dahi dan angkat;

b. Pendorong rahang bawah.

Teknik mempertahankan jalan napas

Pada penderita dengan kasus henti napas maka tindakan untuk membebaskan

jalan napas dan memberikan ventilasi harus segera dulakukan.

1. Chin lift manuver

Empat jari salah satu tangan diletakan di bawah rahang , ibu jari di atas dagu, kemudian secara hati-hati
diangkat ke depan,manuver ini tidak boleh menyebabkan posisi kepala hiperekstensi. Bila perlu ibu jari

dugunakan untuk membuka mulut atau bibir.

2. Jaw thrust
Mendorong angulus mandibula kanan dan kiri ke depan dengan jari-jari kedua tangan sehingga gigi
bawah berada di depan gigi atas, kedua ibu jari membuka mulut dan kedua telapak tangan menempel
pada kedua pipi penderita untuk imobilisasi kepala. Tindakan jaw thrust, buka mulut dan head tilt
disebut triple airway manuver.

A. Breathing support (bantuan pernafasan)

1. Penilaian: tentukan korban tidak bernafas

Penolong mendekatkan telinganya diatas mulut dan hidung korban dan kemudian terus
mempertahankan jalan nafas lalu memperhatikan dada korban. Penolong harus:

a) Melihat gerakan dada naik turun;

b) Mendengarkan udara keluar pada waktu ekspirasi;

c) Merasakan adanya aliran udara.

2. Pertolongan pernafasan buatan

a) Dari mulut ke mulut;

b) Dari mulut kehidung.

1. Teknik pemberian nafas buatan

a. Respon konstan;
b. Minta bantuan;

c. Buka jalan nafas;

d. LDR 3-5menit;

e. Jika tidak bernafas, beri 2-5 kali;

f. Periksa nadi carotis 5-10 detik;

g. Jika nadi berdenyut, lanjutkan pemberian nafas buatan.

B. Circulation support (pemeriksaan nadi)

Tentukan adanya denyut nadi dan menghentikan perdarahan besar. Henti jantung ditandai dengan
adanya denyut nadi pada arteri besar dari korban yang tidak sadar. Pemeriksaan nadi dilakukan dengan
cara meraba secara lembut arteri carotis.

Secara umum dapat dikatakan bila jantung berhenti berdenyut, maka pernafasan akan langsung
mengikuti, namun keadaan ini tidak berlaku sebaliknya. Seseorang akan mengalami kegagalan
pernafasan dengan jantung yang masih berdenyut, akan tetapi dalam waktu singkat akan diikuti henti
jantung karena kekurangan oksigen.
1.3 Basic Life Support

Basic Life Support merupakan seperangkat prosedur pertolongan pertama bagi keadaan darurat
gawat. Prosedur ini terdiri atas tindakan mengenali keadaan berhentinya

respirasi dan kerja jantung (respiratory and cardiac arrest), dan segera melaksanakan RKP sampai
penderita cukup pulih untuk dapat di dipindahkan atau sampai tersedia pertolongan lebih lanjut untuk
menyelamatkan jiwa penderita. Tindakan ini mencakup langkah-langkah A.B.C

1.4 Pendarahan

pendarahan adalah rusaknya dinding pembuluh darah yang di akibatkan oleh luka paksa atau
penyakit sehingga darah keluar dari tubuh melalui luka, seperti luka robek, luka sayatan, luka tusuk dan
lain-lain.

a. Jenis Perdarahan

Perdarahan dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Perdarahan luar (terbuka), pendarahan yang dapat dilihat dengan jelas dengan adanya darah yang
keluar dari luka. Luka ini berada di permukaan luar kulit atau bagian tubuh.Untuk membantu
memperkirakan berapa banyak darah yang telah keluar dari tubuh penderita, hal yang dipakai adalah
keluhan korban dan tanda vital. Bila keluhan korban sudah mengarah ke gejala dan tanda syok seperti
yang dibahas dalam topik ini maka penolong wajib mencurigai bahwa kehilangan darah terjadi dalam
jumlah yang cukup banyak. Perawatan untuk Perdarahan luar, antara lain:

a. Tekanan Langsung

b. Elevasi

c. Titik Tekan

d. Immobilisasi
1. Perdarahan dalam (tertutup), pendarahan ini tidak tampak terlihat dan darahpun tidak keluar banyak
dari luka, ciri-ciri pendarahan dalam seperti memar. Perdarahan dalam dapat berkisar dari skala kecil
hingga yang mengancam jiwa penderita. Kehilangan darah tidak dapat diamati pada perdarahan dalam.

Gejala dan Tanda

Beberapa tanda perdarahan dalam dapat diidentifikasi. Beberapa adalah sbb.:

a. Batuk darah berwarna merah muda


b. Memuntahkan darah berwarna gelap (seperti ampas kopi)
c. Terdapat memar
d. Bagian Abdomen terasa lunak.
Bahaya lain pada perdarahan adalah kemungkinan terjadinya penularan penyakit. Banyak kuman
penyakit bertahan hidup di dalam darah manusia, sehingga bila darah korban ini bisa masuk kedalam
tubuh penolong maka ada kemungkinan penolong dapat tertular penyakit.

Perdarahan dalam harus dicurigai pada beberapa keadaan seperti :

1. Riwayat benturan benda tumpul yang kuat;

2. Memar;

3. Batuk darah;

4. Muntah darah;

5. Buang air besar atau air kecil berdarah;

6. Luka tusuk;

7. Patah tulang tertutup;

8. Nyeri tekan, kaku atau kejang dinding perut.

Perawatan Perdarahan

1. Perlindungan terhadap infeksi pada penanganan perdarahan :


a. Pakai APD agar tidak terkena darah atau cairan tubuh korban.
b. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan sewaktu memberi perawatan

c. Cucilah tangan segera setelah selesai merawat

d. Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda dengan darah atau cairan tubuh korban.

2. Pada perdarahan besar:


a. Jangan buang waktu mencari penutup luka
b. Tekan langsung dengan tangan (sebaiknya menggunakan sarung tangan) atau dengan bahan lain.

c. Bila tidak berhenti maka tinggikan bagian tersebut lebih tinggi dari jantung (hanya pada alat gerak), bila
masih belum berhenti maka lakukan penekanan pada titik-titik tekan.

d. Pertahankan dan tekan cukup kuat.

e. Pasang pembalutan penekan

3. Pada perdarahan ringan atau terkendali :


a. Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka
b. Tekan sampai perdarahan terkendali

c. Pertahankan penutup luka dan balut

d. Sebaiknya jangan melepas penutup luka atau balutan pertama

4. Perdarahan dalam atau curiga ada perdarahan dalam


a. Baringkan dan istirahatkan penderita
b. Buka jalan napas dan pertahankan

c. Periksa berkala pernapasan dan denyut nadi

d. Perawatan syok bila terjadi syok atau diduga akan menjadi syok

e. Jangan beri makan dan minum

f. Rawatlah cedera berat lainnya bila ada

g. Rujuk ke fasilitas kesehatan

1.5 Patah Tulang

patah tulang adalah ketika kekuatan yang diberikan terhadap tulang lebih kuat dari tulang dapat
menanggung, sehingga dapat mengganggu struktur, kekuatan tulang, dan menyebabkan rasa sakit,
hilangnya fungsi dan kadang-kadang pendarahan dan cedera di sekitar lokasi.

Gejala patah tulang


Gejala pada patah tulang bervariasi, maka terlebih dahulu kota mengetahui gelaja tersebut, antara
lain:

1. Sakit pada area anggota badan


2. Pembengkakan;
3. Memar;
4. kelainan bentuk;
5. Ketidakmampuan untuk menggunakan anggota badan.

Jenis patah tulang


Jenis patah tulang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada sebagian korban patah tulang kaki
sampai bagian anggota tulangnya menembus kulit akibat benturan yang sangat keras. Jenis patah tulang
,antara lain:

1. patah Tertutup (sederhana) – patah tulang tidak menembus kulit;


2. patah Terbuka (gabungan) – patah tulang menonjol keluar melalui kulit, atau luka
mengarah ke situs fraktur. Infeksi dan perdarahan eksternal lebih mungkin.

Pertolongan pertama untuk patah tulang

Tindakan Pertolongan pertama untuk patah tulang dengan cara immobilising (membatasi
gerakan) daerah luka. Penyangga dapat digunakan untuk ini. Kontrol perdarahan eksternal. Pecah yang
rumit di mana anggota tubuh sangat cacat mungkin perlu disesuaikan sebelum pembidaian – hanya
paramedis atau staf medis harus melakukan hal ini. Terapi dengan kondisi yang darurat, penolong
pertama harus bisa melakukan tindakan pertolongan pertama pada korban. Alat yang digunakan pada
pertolongan patah tulang, antara lain:

1. mitela: sebagai pengikat dan penutup luka

1. bidai: sebagai penyangga anggota tulang yang patah


Gambar: pertolongan pada patah tulang kaki
Gambar: patah tulang lengan
gambar: patah tulang leher

1.6 Merawat gigitan ular

Terlebih dahulu kita harus memahami bekas gigitan ular. Bekas gigitan ular tidak berbisa hanya
berbentuk barisan giginya. sedangkan untuk ular berbisa juga menunjukkan bekas barisan giginya, akan
tetapi diatas barisan bekas giginya terdapat dua tusukan gigi taring (dua lubang tusukan kecil) karena
gigi taring ular berbisa menyuntikkan racun berbisa.

Pertolongan pertama pada gigitan ular berbisa

penanganan pertama pada gigitan ular berbisa, antara lain:


1. tenangkan korban terlebih dahulu dan usahakan korban tidak boleh bergerak agar sirkulasi darah
menjadi lambat;

2. diamkan anggota kaki atau tangan yang tertekana gigitan, usahakan posisi kaki atau tangan berada di
bawah posisi jantung;

3. gunakan kain atau tali untuk mengikat bagian antara luka dan jantung;

4. bersihkan dengan alkohol;

5. keluarkan bisa dengan poison remover atau membuat sayatan X;

6. lakukan pemijatan disekiar sayatan untuk mengeluarkan bisa

1.7 Hipotermia

Hipoternia adalah keadaan suhu tubuh manusia berada dibawah 35°C. gejala hipotermia dapat
diketahui dengan jelas, antara lain:

1. menggigil kedinginan;

2. korban mudah kelelahan dan ngantuk;

3. pandangan kabur;

4. mental dan fisik menjadi lemah;

5. panik dan kebingungan;

6. nafas menjadi lamban;

7. anggota badan mudah kram lali pingsan.

Cara Penanganan hipotermia antara lain:

1. pindahkan korban ke tempat yang terlindung dari terpaan angin dan hujan;

2. korban harus dalam keadaan hangat dan kering;

3. periksa saluran pernafasan dan denyut nadi;

4. masukkan korban pada sleeping bag agar suhu badan korban menjadi hangat;

5. bisa dilakukan dengan berbagi panas tubuh dari orang lain;

6. berikan korban makanan yang hangat dan minuman yang manis.


DAFTAR PUSTAKA

Public health zone.2013. Luka pendarahan.[serial online]. publichealthzone.files.wordpress .com/.../luka-


perdarahan-syok-dan-pena [17 November 2014].

Sridanti. 2011. Pengertian penanganan patah tulang [serial online].http://www.sridianti .com/pengertian-dan-


penanganan-patah-tulang-fraktur.html [19 November 2014]