Anda di halaman 1dari 13

ABSTRAK

Mobilitas merupakan kunci pembangunan ekonomi. Ekonomi dan perdagangan membutuhkan


kemampuan untuk memindahkan barang dan tenaga kerja serta penyedia jasa dan konsumen. Secara
global, teknologi transportasi terutama mengandalkan bahan bakar minyak bumi (95persen). Pada tahun
2004 di tingkat dunia, sektor transportasi menghasilkan 6,3 Gton emisi CO2 (sekitar 12 persen dari total),
dan transportasi darat menyumbang 74% dari emisi ini. Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap
Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Berdasarkan Keputusan Bali Action Plan (2007), disebutkan
perlunya peran negara-negara berkembang melalui pengurangan emisi secara sukarela. Indonesia dalam
hal ini di G20 Pittsburg (September 2009) mengajukan untuk menurunkan sebesar
26% pada tahun 2020 dengan usaha sendiri dan dapat meningkat menjadi 41% dengan dukungan
internasional. Transportasi akan menurunkan sebesar 6% dari target 26% pada tahun 2020. Dari 6%
sektor transportasi, angkutan jalan sebesar 88%. Oleh karena itu studi ini perlu dilakukan gu na
mengetahui seberapa besar emisi yang diakibatkan oleh setiap jenis kendaraan bermotor, sehingga bias
dipetakan upaya apa saja yang diperlukan untuk menurunkan emisi CO2 yang diakibatkan oleh kendaraan
bermotor agar dapat dicapai target penurunan emisi CO2 tersebut. Dalam studi ini dilakukan perhitungan
emisi CO2 rata-rata dan CO2 total. Hasilnya kendaraan jenis mobil penumpang, sepeda motor dan
minibus merupakan penyumbang terbanyak emisi CO2.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Emisi kendaraan bermotor merupakan sumber pencemaran utama di kota
kota besar di Indonesia. Pencemaran udara sangat erat kaitannya dengan
konsumsi energi bahan bakar minyak. Konsumsi bahan bakar minyak berakibat
polutan ke atmosfir dalam skala yang besar. Sehingga perlu upaya-upaya
untuk pengendalian pencemaran udara agar tidak semakin meningkat
emisinya, sehingga meningkatkan resiko sakit dan gas rumah kaca sebagai
akibat emisi kendaraan bermotor.
Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber
polusi udara mencapai 60-70%. Faktor-faktor penting yang menyebabkan
dominannya pengaruh sektor transportasi terhadap pencemaran udara
perkotaan di Indonesia antara lain (Indonesia Fuel Quality Monitoring 2011,
Kementerian Lingkungan Hidup, 2011):
a. Perkembangan jumlah kendaraan yang cepat (eksponensial);
b. Tidak seimbangnya prasarana transportasi dengan jumlah kendaraan
yang ada;
c. Pola lalu lintas perkotaan yang berorientasi memusat, akibat terpusatnya
kegiatan-kegiatan perekonomian dan perkantoran di pusat kota;
d. Masalah turunan akibat pelaksanaan kebijakan pengembangan kota yang
ada, misalnya daerah pemukiman penduduk yang semakin menjauhi
pusat kota;
e. Kesamaan waktu aliran lalu lintas;
f. Jenis, umur dan karakteristik kendaraan bermotor;
g. Faktor perawatan kendaraan;
h. Jenis bahan bakar yang digunakan;
i. Jenis permukaan jalan;
j. Siklus dan pola mengemudi (driving pattern).

Penggunaan bahan bakar pada sektor transportasi khususnya bensin akan

mengeluarkan senyawa-senyawa seperti CO (karbon monoksida), THC (total

hidro karbon), TSP (debu), Nox (oksida-oksida nitrogen) dan Sox (oksida

oksida sulfur), dan juga karbon dioksida (CO2)

Di Indonesia terdapat beberapa bahan bakar jenis bensin yang memiliki nilai

mutu pembakaran berbeda. Nilai mutu jenis BBM bensin ditentukan

berdasarkan nilai Research Octane Number (RON), yaitu:

a. Premium (RON 88), adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna

kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat warna

tambahan (dye). Pada umumnya premium digunakan untuk bahan

bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti mobil, sepeda


motor, motor tempel, dan lain-lain. Bahan bakar ini sering disebut

juga motor gasoline atau petrol.

b. Pertamax (RON 92), bahan bakar ini ditujukan untuk kendaraan yang

mensyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa

timbal. Pertamax juga direkomendasikan kendaraan yang diproduksi

diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi setara

dengan electronic fuel injection dan catalytic converter.

c. Pertamax Plus (RON 95), jenis BBM ini telah memenuhi standar

performa international World Wide Fuel Charter (WWFC). Pertamax

plus ditujukan untuk kendaraan berteknologi mutakhir yang mensyaratkan

penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan ramah lingkungan.

Peraturan-peraturan terkait upaya mengendalikan pencemaran udara,

diantaranya:

a. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 04/2009 Tentang

Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru.

Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri ini diharapkan dapat

dijadikan panduan bagi industri otomotif untuk memproduksi

kendaraan bermotor dengan teknologi yang ramah lingkungan. Peraturan

Menteri ini hendaknya dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait

dengan sebaik-baiknya berdasarkan komitmen semua stakeholders.

b. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menerbitkan

spesifikasi bahan bakar nasional yairu sesuai peraturan:

1) Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor

3674k/24/DJM/2006 tetang Standar dan Mutu (Spesifikasi)

Bahan Bakar Jenis Bensin yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

2) Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor

3675k/24/DJM/2006 tetang Standar dan Mutu (Spesifikasi)

Bahan Bakar Jenis Solar yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

Penetapan standar kualitas bahan bakar berperan penting dalam upaya


memperketat peraturan emisi.

Terkait dengan Gas Rumah Kaca (GRK), sektor transportasi Indonesia saat

ini merupakan konsumen terbesar produk minyak bumi dan sumber yang

besar dari emisi gas rumah kaca (GRK) secara keseluruhan. Tanpa adanya tindakan yang signifikan untuk
mengurangi intensitas karbon dari sektor

transportasi maka emisi GRK diperkirakan akan meningkat dua kali lipat

dalam waktu kurang dari 10 tahun. Dengan meningkatnya perhatian dunia

kepada isu perubahan iklim maupun bertambahnya angka urbanisasi dan

pertumbuhan pemakaian bahan bakar minyak di Indonesia, saat ini

merupakan kesempatan yang baik untuk menangani masalah emisi di sektor

transportasi secara komprehensif.

Perubahan iklim merupakan tantangan strategis dan tantangan pembangunan

yang dihadapi Indonesia. Pemerintah Indonesia mengakui bahwa perubahan

iklim merupakan isu pembangunan ekonomi dan perencanaan yang penting.

Pemerintah Indonesia juga mengakui bahwa tindakan sejak dini untuk

melakukan mitigasi dan adaptasi akan bermanfaat secara strategis maupun

secara ekonomi bagi Indonesia. Sebagai salah satu langkah penting dalam

melakukan mitigasi, Pemerintah Indonesia telah memulai Kajian Opsi

Pembangunan Rendah Karbon sebagai kesempatan untuk mengevaluasi dan

mengembangkan opsi-opsi strategis dalam rangka mengurangi intensitas

emisi tanpa mengorbankan tujuan-tujuan pembangunan.

Pada tahun 1992 KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil, telah menghasilkan

komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations

Framework Convention on Climate Change oleh sejumlah negara, termasuk

Indonesia. Kemudian pada tahun 1994 pemerintah Republik Indonesia

meratifikasi konvensi tersebut melalui Undang Undang Nomor 6 Tahun

1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on

Climate Change. Disamping itu, sebagai salah satu penandatangan Deklarasi

Millenium pada KTT Millenium yang diadakan oleh PBB pada tahun 2000,
Pemerintah Indonesia berkewajiban melaksanakan dan memantau

perkembangan pencapaian indikator Millenium Development Goals

(MDGs) pada tingkat nasional, khususnya untuk tujuan menjamin

kelestarian lingkungan hidup dengan salah satu indikatornya adalah emisi

CO2 (karbon dioksida) per kapita dan konsumsi bahan perusak ozon (CFC).

Mobilitas merupakan kunci pembangunan ekonomi. Ekonomi dan

perdagangan membutuhkan kemampuan untuk memindahkan barang dan

tenaga kerja serta penyedia jasa dan konsumen. Secara global, teknologi

transportasi terutama mengandalkan bahan bakar minyak bumi (95 persen).

Pada tahun 2004 di tingkat dunia, sektor transportasi menghasilkan 6,3 Gton

emisi CO2 (sekitar 12 persen dari total), dan transportasi darat menyumbang

74% dari emisi ini.

Berdasarkan data dalam Emisi Gas Rumah Kaca Dalam Angka 2009, yang

diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup memperkirakan bahwa

secara nasional, emisi CO2 yang dihasilkan dari sektor transportasi

meningkat yaitu dari 58 juta ton pada tahun 2000 menjadi 73 juta ton pada

tahun 2007. Kontribusi emisi CO2 terbesar berasal dari konsumsi premium

dan turunannya (pertamax, pertamax plus dan super TT), dan solar.

Kendaraan bermotor menyumbang emisi CO2 sebanyak 71 juta ton, dengan

konsumsi energi sebanyak 179 juta sbm.

Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap Pengurangan Emisi Gas Rumah

Kaca Berdasarkan Keputusan Bali Action Plan (2007), disebutkan perlunya

peran negara-negara berkembang melalui pengurangan emisi secara sukarela.

Indonesia dalam hal ini di G20 Pittsburg (September 2009) mengajukan untuk

menurunkan sebesar 26% pada tahun 2020 dengan usaha sendiri dan dapat

meningkat menjadi 41% dengan dukungan internasional. Transportasi akan

menurunkan sebesar 6% dari target 26% pada tahun 2020. Dari 6%

sektor transportasi, angkutan jalan sebesar 88%.

Upaya pengurangan emisi secara sukarela ini disebut juga Nationally


Appropriate Mitigation Actions (NAMAs). Secara internasional belum terdapat

kesepakatan mengenai metodologi NAMAs. Akan tetapi, arah perkembangan

negosiasi antar negara terkait dengan pengurangan emisi mengindikasikan

bahwa Indonesia perlu membuat Nasional Baseline (acuan dasar).

Oleh karena itu studi ini perlu dilakukan guna mengetahui seberapa besar

emisi yang diakibatkan oleh setiap jenis kendaraan bermotor, sehingga bisa

dipetakan upaya apa saja yang diperlukan untuk menurunkan emisi CO2

yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor agar dapat dicapai target

penurunan emisi CO2 tersebut.

B. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan ini adalah melakukan studi penghitungan emisi CO2 pada

setiap kendaraan bermotor transportasi jalan, sedangkan tujuan dari kegiatan

adalah melakukan penghitungan emisi CO2 pada setiap kendaraan bermotor

transportasi jalan serta merumuskan rekomendasi langkah-langkah penurunan

emisi CO2 bidang transportasi jalan.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup/batasan kegiatan dalam studi ini meliputi:

1. Inventarisasi setiap jenis kendaraan bermotor transportasi jalan.

2. Mempelajari kebijakan transportasi mengurangi CO2.

3. Melakukan studi literatur/benchmarking perhitungan penurunan emisi

CO2 kendaraan bermotor dari negara lain.

4. Membangun model perhitungan dan prediksi emisi CO2

5. Melakukan perhitungan emisi CO2 pada setiap kendaraan bermotor

transportasi jalan.

6. Merumuskan rekomendasi langkah-langkah penurunan emisi CO2

bidang transportasi jalan untuk mendukung program nasional pengurangan

emisi gas buang sampai dengan 6% pada tahun 2020.

7. Pengumpulan data untuk kegiatan ini dilakukan di Jakarta, Yogyakarta,

Manado, Denpasar, dan Surabaya.


D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang, maka rumusan masalah dalam studi

ini adalah:

1. Berapa jumlah dan jenis kendaraan bermotor yang beroperasi setiap hari

dan berapa konsumsi bahan bakar yang diperlukan oleh kendaraan

tersebut?

2. Berapa emisi gas buang (CO2) pada setiap jenis kendaraan bermotor

transportasi jalan?

E. Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari studi ini adalah untuk mengetahui perhitungan

emisi CO2 setiap kendaraan bermotor transportasi jalan di Indonesia.

E. Emisi Kendaraan Bermotor

Emisi adalah zat, energy dan atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu

kegiatan yang masuk dan atau dimasukkannya ke dalam udara ambient yang

mempunyai dan atau tidak mempuyai potensi sebagai unsur pencemar (PP No.

41 Tahun 1999). Satuan emisi umumnya berupa kg/tahun, m3/hari atau satuan

massa atau volume/satuan waktu.

Pencemaran atau polusi udara telah mengancam kesehatan masyarakat di

berbagai kota di Indonesia, khususnya kota kota besar seperti Jakarta,

Surabaya,Medan, Bandung, Semarang, Denpasar dan kota kota besar lainnya.

Parameterpencemaran di kota-kota besar secara umum telah melampaui standar

kualitas udara yang ditetapkan oleh pemerintah, terutama parameter nitrogen

oksida, sulfur oksida, partikel debu, dan karbonmonoksida. Hal ini dapat

menyebabkan berbagai penyakit yang akan diderita oleh masyarakat seperti

penyakit pernafasan, hipertensi, gangguan fungsi ginjal, penurunan daya

intelektual anak, jantung coroner, hingga kematian dini.

Sumber dari polusi udara dapat dibagi menjadi dua, yaitu sumber bergerak dan

tidak bergerak. Sumber bergerak adalah sarana transportasi yang terdiri dari:
kendaraan bermotor, pesawat terbang, kereta api dan kapal laut. Sumber tidakbergerak seperti
pembangkit listrik, industri dan kegiatan komersial, rumah

tangga, pembuangan sampah dan lain-lain.

Komponen utama polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor,

yaitu karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidro karbon (HC),

nitrogen oksida (Nox), pertikel, dan timah hitam (Pb). Udara bebas yang ada di

sekitar manusia dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, dan

tergantung pada karakter kimia, biologis dan fisisnya.

Pencemar kimia yang paling banyak adalah karbon oksida, oksida nitrogen,

dan partikulat. Pengaruh zat ini terutama pada kesehatan sistem pernafasan,

kulit, dan selaput lendir yang pada akhirnya akan mempengaruhi kesehatan

peredaran darah. Pencemar fisis adalah kebisingan, sinar ultraviolet, sinar infra

merah, gelombang mikro, gelombang eletromagnetik, dan sinar radioaktif.

Pengaruh zat ini terutama pada kesehatan sistem pendengaran, penglihatan dan

syaraf.

Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi tingkat emisi gas buang

kendaraan bermotor, yaitu karakteristik teknis kendaraan dan faktor

operasional kendaraan. Karakteristik teknik kendaraan terkait dengan desain

dan rekayasa kendaraan, sedangkan kondisi operasional terkait dengan perilaku

kendaraan tersebut dalam jaringan jalan.

Sejumlah karakteristik teknis dari kendaraan mempengaruhi tingkat emisi gas

buang antara lain tipe mesin, ukuran (cc) mesin, berat kendaraan,tipe bahan bakar,

sistem transmisi, penggunaan katalis, dan sebagainya. Pada umumnya emisi gas

buang akan mengalami penurunan jika kecepatan operasi bertambah,dan pada titik

tertentu akan mengalami peningkatan kembali misalnya apabila operasi

kendaraan terjebak kemacetan, lalu lintas padat yang kecepatannya cenderung

pelan.

Di kota-kota besar di Indonesia rata-rata orang melakukan perjalanan 2 hingga

3 jam untuk berangkat kerja di pagi hari. Waktu yang sama atau lebih harus
ditempuh untuk perjalanan pulang. Kondisi ini jelas mempengaruhi

produktivitas dan kualitas hidup warga kota. Lebih dari 1/4 waktu hidupnya

habis di jalan dan 1/3 waktu untuk bekerja. Apabila di sepanjang jalan terus menerus menghirup udara
yang diakibatkan oleh emisi gas buang kendaraan

bermotor, dapat diperkirakan bahwa kondisi kesehatan orang yang melakukan

perjalanan akan menjadi buruk.

F. Emisi CO2

Emisi karbon merupakan jumlah total karbon yang dihasilkan dari suatu

kegiatan. Emisi yang dihasilkan dapat berupa gas CO maupun gas CO2 (yang

termasuk sebagai gas rumah kaca) yang dihasilkan secara langsung maupun

tidak langsung dari kegiatan manusia dan secara umum satuannya dinyatakan

dalam setara ton karbon dioksida (CO2). Emisi karbon, khususnya emisi gas

CO2, merupakan Gas Rumah Kaca (GRK) yang dapat memperbesar Efek

Rumah Kaca (ERK) yang pada akhirnya akan meningkatkan suhu rata-rata

permukaan bumi yang dikenal juga dengan pemanasan global. (SME-ROI,

1996).

Karbon dioksida (CO2) merupakan sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua

atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon.CO2ini

berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan berada di

atmosfer bumi.Karbondioksida adalah hasil dari pembakaran senyawa organic

jika cukup jumlah oksigen yang ada.Karbondioksida juga dihasilkan oleh

berbagai mikroorganisme dalam fermentasi dan dihembuskan oleh

hewan.Tumbuhan menyerap karbondioksida selama fotosintesis.Oleh karena

itu sebagai gas rumah kaca dan dalam konsentrasi yang rendah, CO2

merupakan komponen penting dalam siklus karbon.Selain dihasilkan dari

hewan dan tumbuhan, CO2 juga merupakan hasil samping pembakaran bahan

bakar fosil.

Karbondioksida merupakan sebagian besar gas yang bertanggung jawab atas

efek rumah kaca di atmosfer dengan perkiraan 50% mungkin merupakan CO2.
Rata-rata konsentrasi CO2 di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm, jumlah ini bisa

bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh KMLH dalam Emisi Gas Rumah Kaca

2009, menyebutkan bahwa emisi CO2 dari kendaraan bermotor di Indonesia

tahun 2007 sekitar 71.040.000 ton.

Emisi CO2 dari waktu ke waktu terus meningkat baik pada tingkat global,

regional, nasional pada suatu negara maupun lokal untuk suatu kawasan.Hal ini

terjadi karena semakin besarnya penggunaan energi dari bahan organik (fosil),

perubahan tataguna lahan dan kebakaran hutan, serta peningkatan kegiatan

antropogenik.Walaupun emisi CO2 dikatakan besar, tetapi sampai saat ini

belum terdapat alat untuk mengcounter emisi CO2 ini.Kalaupun ada baru

terbatas pada emisi yang dihasilkan oleh kebakaran hutan yang terdapat di

Sulawesi Tengah dan Kalimantan Tengah.

Alat ukur yang terdapat saat ini baik di tepi jalan raya atau dari satelit, bukan

mengukur emisi CO2 tetapi konsentrasi CO2.Antara emisi dan konsentrasi

berbeda baik definisi maupun satuannya.Emisi adalah besarnya CO2 yang

diukur atau hitung per satuan luas dan waktu.Konsentrasi adalah besarnya CO2

yang dihitung atau ukur per satuan volume atau berat suatu ruangan atau

media. Satuan emisi adalah massa/luas/waktu, sedangkan satuan konsentrasi

bisa berupa ppm (part per million). Emisi tidak membandingkan antara besar

CO2 dengan gas lain, tetapi konsentrasi membandingkan besar CO2 dengan gas

lain penyusun atmosfer ini. Jika dikatakan konsentrasi CO2 naik, jangan

mengambil kesimpulan terlebih dahulu, tetapi harus melihat konsentrasi gas

lain dalam atmosfer. Kalau antara konsentrasi CO2 dengan gas lain penyusun

atmosfer masih seimbang (dalam kondisi standar atmosfer), maka

kemungkinan CO2 dapat dinetralisir dan bereaksi dengan gas lain hingga

konsentrasi CO2 setelah bereaksi dengan gas lain dapat menjadi lebih kecil.

Konsentrasi CO2 terus naik seiring perjalanan waktu.Pada tahun 1750 ketika

revolusi industri baru dimulai, konsentrasi CO2 pada angka 278 ppm.Pada
tahun 2005, konsentrasi CO2 menjadi 380 ppm (Salim, 2007). Sementara emisi

CO2 sebagian besar dihitung melalui pendekatan dan estimasi berdasarkan

sumber-sumber penghasil CO2 dan asumsi-asumsi.

K. Model Perhitungan Emisi CO2 Sektor Transportasi

Model emisi dari kegiatan transportasi, saat ini telah banyak dikembangkan dan

dipergunakan. Namun model-model yang telah ada tersebut ada yang dapat

diterapkan di Indonesia, adapula yang sulit untuk diterapkan karena

keterbatasan data di Indonesia. Model-model tersebut antara laian

1. Mobile Combustion

Mobile Combustion merupakan suatu permodelan udara dengan suatu

perhitungan matematis untuk memprediksi emisi karbon dioksida

(CO2).Perhitungan emisi CO2 menggunakan jumlah bahan bakar yang

dikonsumsi Emisi CO2 dihitung berdasarkan jumlah dan jenis bahan bakar

dikalikan dengan faktor emisi CO2.Berikut ini adalah persamaannya.

Fuela = jumlahbahanbakar × EnergyContent Emission =∑[Fuela× EFa].......... a Dimana :

Jumlah bahan bakar (liter)

Energy Content bensin= 34,66 MJ/l

Energy Content solar = 38,68 MJ/l

Fuela = jumlah bahan bakar (TJ)


EFa Emission= factor emisi CO2 untuk tiap jenis bahan bakar (kg/TJ).

Emission = emisi CO2 total (kg)

a= jenis bahan bakar (bensin, solar, dll)

(IPCC, 2006)

Dalam persamaan mobile combustion ini terdapat beberapa input data,

beberapa inputtersebut antara lain :

a. Jumlah bahan bakar yaitu jumlah bahan bakar yang dikonsumsi oleh

kendaran bermotor , dengan data yang diperoleh dari instansi terkait

b. Faktor emisi CO2 untuk tiap jenis bahan bakar (kg/TJ), didapatkan

dari jurnal yang dikeluarkan berdasarkan IPCC Guidence 2006

2. Mobile 6

Mobile 6 merupakan suatu permodelan udara dengan suatu perhitungan

matematis untukmemprediksi emisi karbon dioksida (CO2) dari mobil,

truk, sepeda motor dalam berbagaikondisi yang mempengaruhi tingkat

emisi yang digunakan, misalnya 31mbient31ure udara31mbient, kecepatan

rata-rata lalu lintas, dll. Perhitungan mobile 6 ini berdasarkan atas

jeniskendaraan yang dikelompokkan menurut jenis bahan bakarnya masing

masing. Berikut adalah persamaannya = ℎ ℎ ℎ =[ × ]= [∑ ( × × )] :

Faktor emisi (g/kg BBM)

Densitas bensin = 0,63 kg/Liter

Densitas solar = 0,7 kg/Liter

Ern = faktor emisi CO2 untuk setiap jenis kendaraan bermotor

e = emisi untuk 1 liter kendaraan CO2 (smp.kg/L)

TG = fraksi kendaraan

O = total jumlah kendaraan bermotor

n = jenis kendaraan

Perhitungan total emisi kendaraan berdasarkan jenis bahan bakar = ( )( ) E = e x Fuel

Dimana :

E = total emisi kendaraan (kg)


e = emisi untuk 1 liter kendaraan CO2 (smp.kg/l)

Fuel = rata-rata bahan bakar per kendaraan (liter/smp)