Anda di halaman 1dari 15

Laporan Case Study 2

Blok Disaster Management


SEMESTER V

Disusun Oleh :
Marchanah I1B015014
Karina Denggani Cibro I1B015022
Silvia Salwa I1B015028
Yunita Elvani Chusni I1B015036
Eva Kholifah I1B015038
Dwi Retnaning Tyas I1B015042
Miftakhul Huda I1B015044
Frisca Susdi Ramadanti I1B015066
Ajeng Aprianti I1B015069
Ida Marfuah I1B015072
Novi Ratnasari I1B015074
Fadilla Ika M I1B015075
Syintia Widyane Pratami I1B015086

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU - ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bencana merupakan suatu kejadian yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia,
yang terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan sehingga menyebabkan hilangnya jiwa
manusia, harta benda, dan kerusakan lingkungan. Klasifikasi dari bencana ada dua yaitu man
made disaster dan natural disaster. Man made disaster adalah bencana yang disebabkan oleh
ulah tangan manusia itu sendiri, contohnya peperangan, bom, dan sebagainya. Sedangkan
natural disaster merupakan bencana yang disebabkan oleh alam, contohnya banjir, longsor,
kebakaran, tsunami, angina putting beliung, banjir bandang, gempa, dan gunung meletus.
Di Indonesia bencana gunung meletus sering terjadi dikarenakan Indonesia merupakan
kawasan rings of fire. Gunung meletus adalah gunung yang memuntahkan materi-materi dari
dalam bumi seperti debu, awan panas, asap, kerikil, batu-batuan, lahar panas, lahar dingin,
magma, dan lain sebagainya. Gunung meletus biasanya bisa diprediksi waktunya sehingga
korban jiwa dan harta benda bisa diminimalisir.
1.2. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1.2.1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi gunung meletus
1.2.2. Mahasiswa mampu mengetahui kalsifikasi gunung meletus
1.2.3. Mahasiswa mampu mengetahui tingkatan status gunung meletus
1.2.4. Mahasiswa mampu mengetahui tanda-tanda gunung meletus
1.2.5. Mahasiswa mampu mengetahui dampak gunung meletus
1.2.6. Mahasiswa mampu mengetahui upaya pemerintah dalam menangani bencana
1.2.7. Mahasiswa mampu mengetahui upaya masyarakat dalam menangani bencana
1.2.8. Mahasiswa mampu mengetahui peran perawat dalam menangani bencana
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Gunung Meletus

Gunung berapi merupakan suatu saluran yang berisi cairan yang biasa disebut dengan lava
dan endapan dari seluruh material dengan panjang saluran rata-rata berada 10 km di bawah
perut bumi sampai ke permukaan bumi. Definisi gunung berpi secara umum merupakan
gunung yang masih aktif untuk mengeluarkan isi material yang ada di dalam saluran tersebut.
Saat gunung berapi meletus maka semua yang ada di dalam saluran tersebut akan dikeluarkan
semua dalam bentuk lava dan segala material yang ada di dalam isinya (Rukaesih, 2004).

Gunung berapi yang semula dalam status aktif bisa berubah menjadi separuh aktif dan pada
akhirnya status gunung berapi bisa menjadi tidak aktif. Gunung berapi bisa tidak lagi
mengeluarkan isi material dalam waktu 610 tahun sebelum pada akhirnya akan mengeluarkan
isi materialnya kembali. Sehingga hal tersebut menjadi sangat susah bagi kita untuk
menentukan status apakah gunung tersebut masih aktif atau tidak.

2.2. Klasifikasi Gunung Meletus

Jenis-jenis gunung berapi berdasarkan bentuknya Menurut Hartuti, 2009:

2.2.1. Stratovolcano

Gunung berapi jenis ini terbentuk dari batuan hasil dari letusan yang tersusun secara
berlapis-lapis. Gunung berapi ini memiliki bentuk seperti sebuah kerucut yang besar
dan bentuknya tidak beraturan. Bentuk yang tidak beraturan disebabkan karena
terjadinya letusan pada gunung tersebut. Contoh dari gunung stratovulcano adalah
gunung Merapi.

2.2.2. Perisai

Gunung api perisai terbentuk karena magma cair yang dikeluarkan dengan tekanan
yang rendah tanpa adanya letusan. Lereng dari gunung jenis perisai sangat landai.
Contoh dari gunung perisai adalah gunung Maona Loa Hawai.

2.2.3. Cinder Cone


Gunung Cinder Cone merupakan jenis gunung dimana abu vulkanik dan dan batuan
dari hasil letusannya menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis
Cinder Cone membentuk mangkuk di area puncaknya.

2.2.4. Kaldera

Gunung berapi jenis Kaldera terbentuk dari letusan yang sangat kuat sehingga
melempar ujung atas dari gunung tersebut sehingga membentuk sebuah cekungan.
Gunung Bromo termasuk gunung jenis ini.

2.3. Tingkatan Status Gunung Berapi


2.3.1. Status AWAS
Makna:
- Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan
kritis yang menimbulkan bencana.
- Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap.
- Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam.
Tindakan:
- Wilayah yang teracam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan.
- Koordinasi dilakukan secara harian.
- Piket penuh.
2.3.2. Status SIAGA
Makna:
- Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau
menimbulkan bencana.
- Peningkatan intensif kegiatan seismik.
- Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau
menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana.
- Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu.
Tindakan:
- Sosialisasi di wilayah terancam
- Penyiapan sarana darurat
- Koordinasi harian
- Piket penuh
2.3.3.Status WASPADA
Makna :
- Ada aktivitas apa pun bentuknya.
- Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal.
- Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya.
- Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan
hidrotermal.
Tindakan:
- Penyuluhan/sosialisasi
- Penilaian bahaya
- Pengecekan sarana
- Pelaksanaan piket terbatas
2.3.4. Status NORMAL
Makna :
- Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma
- Level aktivitas dasar
Tindakan:
- Pengamatan rutin
- Survei dan penyelidikan

2.4. Tanda-tanda Gunung Meletus

Gunung berapi akan meletus apabila terdapat tanda-tanda seperti naiknya suhu di sekitar
gunung, mata air menjadi kering sehingga air tanah di sekitar gunung berkurang, gunung
sering mengeluarkan suara gemuruh yang terkadang disertai getaran atau gempa, tumbuhan
yang berada disekitar gunung menjadi layu akibat peningkatan suhu (Tim Editor Atlas &
Geografi, 2016). Tanda lain yang muncul ketika akan terjadi gunung meletus yaitu keluarnya
awan panas yang mengepul, binatang yang berada di pegunungan turun ke pemukiman warga,
adanya bau belerang yang menyengat, terlihat seperti adanya kilatan petir diatas gunung
(Khoisin & Aly, 2016).
2.5. Dampak Gunung Meletus

Gunung meletus yang terjadi pada suatu wilayah akan mengakibatkan kerusakan di berbagai
bidang kehidupan di wilayah tersebut. Besar kecilnya kerusakan bergantung pada jenis dan
besarnya letusan gunung. Bencana dan bahaya letusan gunung berapi dapat berpengaruh
secara langsung maupun tidak langsung. Bahaya langsung diakibatkan oleh material yang
dikeluarkan secara langsung oleh gunung berapi, seperti terkena aliran lava, awan panas,
tertimpa lontaran batu (pijar), dan lahar. Daerah yang rawan terkena bahaya langsung yaitu
daerah sekitar puncak (kawah) hingga daerah lereng (lembah sungai) dengan jangkauan yang
terlanda lebih dari 10 km. Bahaya tidak langsung adalah bahaya yang diakibatkan oleh aliran
lahar dan banjir akibat material letusan yang terhanyut air hujan, sehingga melanda bagian
hilir sungai dan daerah di sekitarnya dengan jangkauan mencapai muara (pantai) pada sungai
yang berhulu disekitar kawah gunung api yang baru meletusdan bergantung pada curah hujan
yang terjadi. Letusan gunung berapi dapat menimbulkan korban dalam jumlah banyak,
mengeluarkan gas beracun yang berbahaya bagi manusia, menimbulkan lahar dingin yang
membahayakan penduduk di lereng gunung, mengeluarkan abu vulkanik yang mengganggu
pernafasan, membentuk danau kawah dengan pH air netral maupun asam hingga sangat asam
dengan pH kurang dari 3 yang apabila air kawah mengalir dan bercampur dengan air sungai
maka air tersebut tidak dapat dipergunakan untuk keperluan irigasi, minum ternak, serta untuk
keperluan manusia. Penduduk yang tinggal di sekitar gunung api akan sering mengalami
gangguan kesehatan, kerusakan gigi dengan keadaan gigi berwarna hitam yang lama-
kelamaan akan patah yang disebabkan karena mengonsumsi air yang mengandung Flour
sangat tinggi dan akan mengalami penyakit gondk apabila kekurangan Iodin (I). Selain itu,
gunung yang meletus akan mengeluarkan abu panas yang mengganggu penglihatan dan
merusak mesin pesawat apabila terdapat pesawat yang melintas di sekitar letusan gunung,
mengganggu kendaraan bermotor, merusak atap rumah, dan merusak lahan pertanian serta
insrastruktur daerah tersebut (Karo, 2014).

2.6. Upaya Pemerintah dalam Menangani Bencana

Upaya-upaya pemerintah untu menangani bencana gunung api meletus dari tahap pra
bencana, saat bencana dan setelah bencana menurut Retnaningsih (2013) yaitu :
No Pra Bencana Saat Bencana Setelah Bencana
1. Melakukan pemantauan yang harus dilakukan adalah Menginventarisir data,
dan pengamatan aktivitas menjauhkan masyarakat dari mencakup sebaran dan
semua gunung api aktif lokasi bencana volume hasil letusan
2. Membuat dan Tanggap Darurat, yaitu Mengidentifikasi daerah yang
menyediakan Peta mengevaluasi laporan dan terancam bahaya lanjutan
Kawasan Rawan Bencana data, membentuk tim
dan Peta Zona Risiko Tanggap Darurat,
Bahaya Gunung api, yang mengirimkan tim ke lokasi,
didukung dengan Peta melakukan pemeriksaan
Geologi Gunung api secara terpadu.

3. Melaksanakan prosedur Meningkatkan pemantauan Memberikan saran


tetap penanggulangan dan pengamatan yang penanggulangan bahaya
bencana letusan gunung didukung oleh penambahan
api peralatan yang lebih
memadai
4. Melakukan bimbingan Meningktakan pelaporan Memberikan penataan
dan pemberian informasi tingkat kegiatan menurut kawasan jangka pendek dan
kegunungapian alur dan frekuensi pelaporan jangka panjang
sesuai dengan laporan

5. Melakukan penyelidikan Memberikan rekomendasi Memperbaiki fasilitas


dan penelitian geologi, kepada pemerintah setempat pemantauan yang rusak
geofisika, dan geokimia di sesuai prosedur
gunung api
6. Melakukan peningkatan Menurunkan status kegiatan,
sumber daya manusia dan bila keadaan sudah menurun
pendukungnya (sarana
dan prasarana).
7. Sosialisasi yaitu petugas Melanjutkan pemantauan
melakukan sosialisasi rutin.
kepada Pemerintah
Daerah serta masyarakat
terutama yang tinggal di
sekitar gunung berapi

2.7. Upaya Masyarakat dalam Menangani Bencana

2.7.1. Tindakan saat sebelum terjadi Gunung Meletus :

 Masyarakat di sekitar gunung berapi harus mengetahui secara pasti tempat dan jalur
evakuasi.
 Masyarakat harus mengenali tanda-tanda terjadinya bencana gunung berapi.
Misalnya turunnya binatang dari puncak atau menyengatnya bau belerang.
 Masyarakat harus mematuhi pengumuman dari instansi berwenang. Misalnya dalam
penetapan status gunung berapi.
 Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahap getaran/gempa.
 Perkuatan pembangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
 Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
 Perkuatan bangunan – bangunan vital yang telah ada.
 Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di
daerah rawan bencana.
 Asuransi.
 Zonasi daerah rawan bencana dan pengaturan penggunaan lahan.
 Pendidikan kepada masyarakat tentang gempa bumi.
 Membangun rumah dengan konstruksi yang aman terhadap gempa bumi.
 Masyarakat waspada terhadap resiko gempa bumi.
 Masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi gempa bumi.
 Masyarakat mengetahui tentang pengamanan dalam penyimpanan barang – barang
yang berbahaya bila terjadi gempa bumi.
 Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan dan kewaspadaan
masyarakat terhadap gempa bumi.
 Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman
kebakaran dan pertolongan pertama.
 Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan
perlindungan masyarakat lainnya.
 Rencana kontingensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi
gempa bumi. (Damayanti, Doty. (2011).

2.7.2. Tindakan saat Terjadi Gunung Meletus

 Hindari daerah berbahaya,yang dimaksud daerah bahaya adalah lereng gunung,


lembah, atau kawasan yang memungkinkan dialiri lahar.
 Pemerintah akan menyediakan angkutan untuk pengungsian. Masyarakat harus
mengungsi ke barak pengungsian.
 Lindungi diri dari abu letusan dan awan panas.gunakan masker untuk menutup
hidung dan mulut , topi, celana panjang, dan baju lengan panjang.
 Abu letusan berbahaya bagi tubuh. Usahakan jangan menghirup secara langsung
udara yang terkena abu letusan.
 Patuhilah pedoman dan perintah dari instansi berwenang tentang upaya
penanggulangan bencana. Jangan mudah terhasut untuk segera kembali ke rumah saat
status masih dalam bahaya
 Jangan memakai lensa kontak
 Memberikan informasi kejadian bencana ke BPBD atau iInstansi terkait
 Melakukan evakuasi mandiri
 Melakukan kaji cepat dampak bencana,
 Berpartisipasi dalam respon tanggap darurat sesuai bidang keahliannya. (Hendra
Cipta, 2012).

2.7.3. Setelah terjadi Letusan Gunung Api


 Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
 Hindari mengendari mobil di daereah yang terkena hujan abu vulkani, karena dapat
meruksa mesin kendaraan
 Bersihkan atap dari timbunan debu vulkanik, karena bera dari abu dapat
menyebabkan atap bangunan rusak bahkan roboh.
 Berpartisipasi dalam pembuatan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi,
 Berpartisipasi dalam upaya pemulihan dan pembangunan sarana dan prasarana
umum.

2.8. Peran Perawat sebagai Care Giver dan Leadership

2.8.1. Peran perawat sebagai care giver adalah :

2.8.1.1. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau


masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai dari masalah yang
bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks.

2.8.1.2. Memperhatikan individu dalam kontekas sesuai kehidupan klien, perawat harus
memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan dari klien. Perawat
menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi diagnosis
keperawatan mulai dari masalah fisik sampai masalah psikologis.

2.8.1.3. Fokus pada pemberian asuhan pada kebutuhan kesehatan klien secara holistik,
meliputi upaya mengembalikan kesehatan emosi, spiritual, dan sosial.

2.8.1.4. Memberikan bantuan pada klien dan keluarga dalam menetapkan tujuan dan
mencapai tujuan tersebut dengan menggunakan energi dan waktu yang minimal
(Potter & Perry, 2005).

2.8.2. Peran perawat sebagai leadership :

2.8.2.1. Mampu membuat keputusan cepat dalam rangka mengatasi masalah bencana,
misalnya menentukan staf yang dilibatkan dalam penanganan bencana,
memenuhi alat dan obat-obatan yang harus disiapkan dan mampu memenuhi
kebutuhan logistik penanganan bencana.

2.8.2.2. Mampu melakukan kooordinasi dengan baik pada saat terjadi bencana.
2.8.2.3. Melaksanakan pengawasan

2.8.2.4. Mengatur waktu kerja dan sumber yang tersedia.

2.8.2.5. Pendelegasian tanggung jawab asuhan dan mengawasi tenaga kesehatan


lainnya (Potter & Perry, 2005).

2.9. Peran Perawat sebagai Edukator dan Kolabolator

2.9.1. Peran Perawat sebagai Edukator

Seorang perawat memiliki peran sebagai edukator atau pemberi informasi kepada
pasien atau orang yang membutuhkan. Pada saat penanganan bencana seorang perawat
bertugas untuk memberikan penyuluhan dan simulasi kepada masyarakat terkait
dengan persiapan menghadapi ancaman bencana. Selain itu, perawat terlibat dalam
memberikan promosi kesehatan meliputi usaha pertolongan pertama pada keluarga,
pelatihan pertolongan pertama pada keluarga, pembekalan informasi tentang
bagaimana menyimpan dan membawa persediaan makanan serta penggunaan air yang
aman. Perawat juga dapat memberikan alamat dan nomor telepon darurat seperti dinas
kebakaran, rumah sakit, dan ambulans. Kemudian, peran perawat yang lain yaitu
memberikan informasi terkait dengan tempat-tempat alternative penampungan dan
posko-posko bencana serta peralatan apa saja yang butuh dibawa pada saat terjadi
bencana.

2.9.2. Peran Perawat sebagai Kolaborator

Pada praktiknya, seorang perawat tidak dapat melakukan penanganan bencana sendiri.
Perawat harus berkolaborasi dengan tim kesehatan lain maupun dengan masyarakat.
Seperti halnya untuk melakukan persiapan dalam menghadapi bencana, seorang
perawat juga harus berkolaborasi dengan dinas pemerintahan, organisasi lingkungan,
PMI, maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan lain. Selain itu, untuk menangani
masalah kesehatan masyarakat pasca gawat bencana, seorang perawat juga harus
bekerjasama atau berkolaborasi dengan tim kesehatan lain, unsur lintas sektor darurat
serta masyarakat sekitar untuk mempercepat fase pemulihan menuju keadaan yang
sehat dan aman.
2.10. Peran Perawat sebagai Advokator

Menurut Fadhillah (2011) peran perawat sebagai pembela/advokat klien dibagi menjadi 3
tugas, yaitu:

2.10.1. Bertindak melindungi klien

Perawat memberi perlindungan kepada pasien dengan tindakan dan intervensi saat
gawat darurat ketika bencana terjadi maupun tindakan berkelanjutan seperti
identifikasi penyakit dan imunisasi ( Savage dan Kub, 2009 dalam Azizah dkk, 2016)

2.10.2. Perawat memberi informasi kepada klien atau memfasilitasi agar tenaga kesehatan
lain memberikan informasi yang diperlukan

Perawat dapat memberi bantuan berupa pelatihan keterampilan yang difasilitasi dan
berkolaborasi dengan instansi maupun lembaga swadaya masyarakat untuk membantu
masyarakat membangun kembali kehidupannya lewat keterampilan yang dimiliki
(Ferry dan Makhfudli, 2009).

2.10.3. Memfasilitasi klien mendapatkan hak dan membantu pasien menyatakan


pendapatnya

Hak-hak pasien salah satunya diatur dalam UU No. 36 tahun 2009 yang meliputi:

- Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tidak sadar,
penyakit menular berat, gangguan jiwa berat).
- Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin dari pasien,
kepentingan pasien, kepentingan masyarakat).
- Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan
nyawa atau cegah cacat).
Maka dari itu, perawat dalam meberi asuhan pada korban bencana harus tetap mengetahui
dan menghargai hak-hak pasien. Pemenuhan hak-hak pasien dapat dilakukan melalui
kerjasama dengan profesi lain untuk menangani masalah kesehatan pasca gawat-darurat
sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan pasien ke keadaan semula (Ferry
dan Makhfudli, 2009).
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
segala macam bencana alam pasti akan menunjukan tanda-tanda sebelum terjadi bencana
tersebut. Maka langkah-langkah mitigasi seperti pelatihan, pembuatan alat peringatan dini,
pembuatan jalur evakuasi dan lain-lain menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko
kerugian setelah terjadinya bencana, penyelanggaraan mitigasi ini perlu dukungan dan
keikutsertaan masyarakat dan pemerintah.

Peran kita sebagai perawat saat bertugas di daerah bencana yaitu, sebagai educator atau
pendidik, leader atau pemimpin, kolabolator, dan care giver. Sebagai pendidik perawat dapat
memberikan pendidikan kepada korban bencana, sebagai leader perawat dapat menjadi
pemimpin dalam regu penyelamat, sebagai kolabolator perawat dapat berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan yang lain, dan sebagai care giver perawat sebagai pemberi intervensi
keperawatan.

Daftar Pustaka

Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Penerbit Andi : Yogyakarta.

Azizah, Y. N., Ratnawati, R., & Setyoadi, S. (2016). PENGALAMAN PERAWAT DALAM
MELAKUKAN PENILAIAN CEPAT KESEHATAN KEJADIAN BENCANA
PADA TANGGAP DARURAT BENCANA ERUPSI GUNUNG KELUD TAHUN
2014 DI KABUPATEN MALANG (STUDI FENOMENOLOGI). Jurnal Ilmu
Keperawatan, 3(2), 129-143.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 2012. Peraturan Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum
Pengkajian Resiko Bencana. Jakarta: BNPB.
Cipta, Hendra. (2012). Siklus Manajemen Bencana (Respons, Recovery, Mitigasi dan
Kesiapsiagaan). Bandung: Blogspot guree kebencanaan.com.

Damayanti, Doty. (2011). Manajemen Bencana Mendorong Mtigasi Berbasis Risiko dalam
Bencana Mengancam Indonesia. Ed. Irwan Suhanda. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

Efendi, Ferry & Makhfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Fadhillah, Harif. 2011. Peran Perawat Dalam Tatanan Pelayanan Kesehatan.


http://ners.unair.ac.id/materikuliah/PERAN%20PERAWAT%20DLM%20YANKE
S%20SBY%20NOP%2011.pdf diakses tanggal 31 Oktober 2017.

Hartuti, Rine Evi.2009. Buku Pintar Gempa. Yogyakarta : DIVA Press.

Karo, S. B. (2014). Dampak bencana pasca meletusnya Gunung Sinabung terhadap kehidupan
sosial ekonomi masyarakat Desa Bekerah Kecamatan Naman Teran Kabupaten
Karo. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Khoisin, D. F., & Aly, S. T. (2016). Efektivitas bahan ajar buku panduan pembelajaran
kebencanaan di Kabupaten Klaten pada bencana letusan gunung berapi dengan
menggunakan strategi make a match terhadap hasil belajar siswa di SMK
Muhammadiyah 2 Klaten (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah
Surakarta).

Potter dan Perry. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktek. Jakarta: EGC

Retnaningsih.H (2013). letusan gunung sinabung dan penanganan bencana di Indonesia. Info
Singkat Kesejahteraan Sosial. Vol.V, No. 18.

Tim Editor Atlas & Geografi. (2016). (Seri bencana alam di Indonesia) Gunung meletus. Jakarta:
Penerbit Erlangga
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan. https://ina-
respond.net/wp-content/uploads/2015/05/3-UU-No-36-tahun-2009-tentang-
Kesehatan.pdf diakses tanggal 31 Oktober 2017.