Anda di halaman 1dari 22

BEST PRACTISE

PELATIHAN MODEL LESSON STUDY


UNTUK MENINGKATAN KINERJA GURU
SMP NEGERI 28 SEMARANG

Mata Kuliah:
Manajemen Pendidik & Tenaga kependidikan

Disusun oleh:
Puji Sri Winarni NIM : 942015005
Suhandi Astuti NIM : 942015016
Wara Hapsari Oktriany NIM : 942015027

Magister Manajemen Pendidikan


FKIP - UKSW
Salatiga 2016
BEST PRACTISE
PELATIHAN MODEL LESSON STUDY
UNTUK MENINGKATAN KINERJA GURU
SMP NEGERI 28 SEMARANG

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Faktor-faktor pendukung keberadaan sekolah adalah guru, siswa, sarana
prasarana, manajemen, stake holder, lingkungan sosial sekolah dan unsur-unsur
lain yang dapat berpengaruh pada keberlangsungan kehidupan sekolah. Guru
merupakan faktor utama dalam penentuan keberhasilan suatu pendidikan di
sekolah , karena pekerjaan sebagai guru merupakan suatu tugas yang
berkewajiban mengantarkan siswanya untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh
sebab itu mutu guru sangat diperhatikan oleh berbagai pihak, dan dalam rangka
meningkatkan serta menjaga kualitas guru, pemerintah telah melaksanakan
berbagai cara, antara lain melalui kebijakan bahwa untuk menjadi guru harus
mempunyai sertifikat pendidik dan melaksanakan kebijakan uji kompetensi guru
(UKG). Salah satu kualitas guru dapat dilihat dari kinerjanya, dan kinerja guru
merupakan kunci keberhasilan pendidikan di sekolah. Apabila guru mampu
menjalankan tugasnya dengan baik, maka sekolah dapat menghasilkan lulusan
yang bermutu. Sebaliknya, jika guru dalam melaksanakan tuganya hanya
menjalankan suatu rutinitas dengan apa adanya tanpa ada kretivitas dan inovasi
atau tidak sesuai dengan standar kompetensi teruatama kompetensi pedagogik dan
kompetensi profesional maka mutu lulusan (siswa) bisa menjadi rendah/ kurang
maksimal. Dengan kata lain, ada sebuah korelasi positif antara sumber daya
manusia (guru) dengan kualitas siswa di sekolah, dimana sumber daya manusia
tersebut membutuhkan manajemen sumber daya manusia yang baik untuk
mencapai kualitas siswa yang baik.
Manajemen sumber daya manusia adalah suatu proses perencanaan,
pengorganisasian, penyusunan staf, pergerakan, dan pengawasan terhadap

1
pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan, dan pemisahan tenaga kerja untuk mencapai tujuan organisasi. Dan
orang yang melakukan aktivitas tersebut adalah manajer sumber daya manusia,
yaitu seorang kepala sekolah (Bangun , 2012:6). Sebagai guru yang profesional,
guru dituntut memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik,
kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Adapun
fenomena yang terjadi di SMP 28 Semarang sebagai berikut: 1) siswa rata-rata
berkemampuan rendah dan sedang; 2) hasil belajar siswa rendah dengan
rendahnya angka ketuntasan belajar klasikal; 3) guru mengajar sekedar
mentransfer ilmu sehingga potensi siswa dalam pembelajaran diabaikan; 4) guru
masih sering mengajar dengan metode konvensional; 5) sumber belajar dan media
pembelajaran yang digunakan oleh guru masih terbatas; 6) guru belum terbiasa
mengajar dengan menggunakan model pembelajaran CTL; 7) sarana dan
prasarana PBM belum terpenuhi; 8) kegiatan MGMP sekolah jarang
dilaksanakan; 9) supevisi dilaksanakan satu kali dalam satu semester dengan
tujuan hanya untuk kepentingan administrasi PKG, tanpa disertai tindak lanjut.
Berdasar hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kondisi rendahnya hasil
prestasi akademik siswa SMPN 28 Semarang selain pengaruh dari input yang
rendah juga disebabkan oleh rendahnya pengelolaan dalam sumber daya pendidik
sebagai agent of change. Hal tersebut dipengaruhi karena guru belum mampu
menguasai kompetensi seperti yang tertulis dalam Permendiknas No. 16 Tahun
2007, yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional sebagai guru SMP.
Kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional merupakan kunci keberhasilan
sebuah pembelajaran, dan karenanya guru dituntut untuk menguasai kompetensi-
kompetensi tersebut, karena pembelajaran merupakan ruh utama dalam suatu
proses pendidikan di sekolah.
Dalam rangka memperbaiki kondisi yang ada kepala sekolah yang
berperan sebagai manajer, edukator, administrator, leader, inovator, supervisor,
dan organisator maka bertanggunga jawab dalam penciptaan kegiatan
pembelajaran lebih kondusif melalui peningkatkan kinerja guru. Kepala SMPN 28
Semarang berusaha melalui teknik pelatihan dan pengembangan berbasis

2
kompetensi untuk guru-guru di sekolah tersebut dengan pelatihan model lesson
study meningkatkan kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran
contextual teaching and learning (CTL). Alasan dipilihnya pelatihan adalah
karena pelatihan dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam melaksanakan
tugasnya. Hal ini senada dengan pendapat Marwansyah (2010:156) bahwa tujuan
pelatihan itu adalah untuk memampukan seseorang melakukan pekerjaan dengan
lebih baik, meningkatkan produktivitas kerja karyawan pada semua tingkat
organisasi, serta meningkatkan ketrampilan seiring dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Sedangkan model pelatihannnya menggunakan model lesson study, dengan
alasan model ini memudahkan guru untuk mengkaji pembelajaran secara
kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual
learning melalui membangun komunitas belajar. Dengan demikian lesson study
bukanlah suatu metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan Lesson Study
adalah kegiatan menerapkan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang
sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru.

1.2 Rumusan Masalah


Permasalahan yang akan dikaji dalam penulisan best practice ini adalah
bagaimanakah implementasi pelatihan lesson study dalam menerapkan
pembelajaran berbasis CTL sebagai upaya peningkatkan kinerja guru di SMPN 28
Semarang?

1.3 Tujuan Penulisan Best Practise


Adapun tujuan penulisan best practice ini adalah sebagai dokumen tertulis
dari praktek terbaik (best practice) implementasi pelatihan lesson study dalam
menerapkan pembelajaran berbasis CTL sebagai upaya peningkatkan kinerja guru
di SMPN 28 Semarang.

1.4 Manfaat Penulisan Best Practise

3
1) Secara teoritis best practice ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan
kepada pemangku kebijakan peningkatan kinerja guru terutama bagi
pengawas dan kepala sekolah.
2) Secara praktis dapat diadopsi oleh lembaga pendidikan atau sekolah lain
dalam mengadakan pelatihan bagi guru sebagai upaya peningkatan kinerja
guru

II. KAJIAN PUSTAKA


Dalam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapi, berikut ini
disajikan teori-teori yang mendukung penyelesaian permasalah yang dihadapi,
yaitu:
2.1. Kinerja Guru
Seperti yang tertulis dalam UU Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005,
bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing dan mengarahkan, melatih dan mengevaluasi peserta
didik pada PAUD, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan
menengah. Sehingga guru sebagai tenaga pendidik adalah pribadi yang paling
banyak bersosialisasi dan berinteraksi dengan siswa dibandingkan dengan
personil lainnya di suatu sekolah. Menurut Uno, Hamzah B (2008:15) tenaga
pengajar (guru) merupakan suatu profesi yaitu suatu jabatan yang memerlukan
keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di
luar bidang pendidikan. Tugas dan tanggung jawab guru sangat banyak baik yang
terkait dengan kedinasan dan profesinya di sekolah. Seperti mengajar dan
membimbing siswa, memberikan penilaian hasil belajar, mempersiapkan
administrasi pembelajaran yang diperlukan, dan kegiatan lain yang berkaitan
dengan pembelajaran. Selain itu guru juga harus berupaya meningkatkan dan
mengembangkan ilmu yang menjadi bidang studinya dan mampu menyesuaikan
dengan perkembangan, ataupun di luar kedinasan yang terkait dengan tugas
kemanusiaan dan kemasyarakatan secara umum di luar sekolah (Sagala, 2011: 11-
12).

4
Kinerja guru adalah perilaku atau respons yang memberi hasil yang
mengacu kepada apa yang mereka kerjakan ketika dia menghadapi tugas
(Yamin&Maisah, 2010: 87), ataupun semua yang menyangkut kegiatan atau
tingkah laku yang dialami guru. Kinerja guru pada dasarnya lebih terfokus pada
perilaku guru di dalam pekerjaannya dan juga perihal efektifitas guru tersebut.
Efektifitas guru dilihat dari sejauh mana kinerja mereka dapat memberikan
pengaruh kepada muridnya. Kinerja guru tampak dan dapat dideskripsikan
melalui penampilan keseharian guru tersebut dalam melakukan aktivitas yang
meliputi, (1) kegiatan sebelum mengajar, (2) kegiatan selama mengajar, (3)
kegiatan selama segmen pengajaran regular; dan (4) kegiatan tentang keterlibatan
guru dalam masyarakat pendidik atau lingkungannya secara lebih luas. Selain itu
dapat dideskripsikan pula melalui aspek-aspek psikologis- sosial, misalnya saja
mengenai hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi keinginan guru untuk
bekerja sama dengan murid dan melakukan pertunjukkan yang baik dalam
pembelajaran maupun di luar aktivitas pembelajaran (Yamin dan Maisah , 2008:
88).
Berkaitan dengan keprofesionalan guru dalam kriteria penilaian kinerja
guru terdapat 4 hal yang dinilai yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi
profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Tetapi dari keempat
kompetensi tersebut yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran di
dalam kelas adalah kompetensi pedagogik dan komptensi profesional. Adapun
komponen kompetensi pedagogik meliputi: 1) menguasai karakteristik peserta
didik; (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik; (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/
bidang pengembangan yang diampu; (4) menyelenggarakan pembelajaran yang
mendidik; (5) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki, (6) berkomunikasi secara
efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, (7) menyelenggarakan penilaian
dan evaluasi proses dan hasil belajar. Sedangkan kompetensi profesional meliputi
1) penguasaan materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung

5
mata pelajaran yang diampu dan 2) mengembangkan keprofesionalan melalui
tindakan reflektif (Permendiknas no. 16 tahun 2007).

2.2. Konsep Pelatihan


2.2.1 Pengertian Pelatihan
Menurut Sikula dikutip oleh Sumantri (2000:2) pelatihan adalah proses
pendidikan yang dilakukan daalam jangka pendek yang menggunakan cara dan
prosedur yang sistematis dan terorganisir. Para peserta pelatihan akan
mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang sifatnya praktis untuk mencapai
tujuan tertentu. SedangkanHadari Nawawi (1997) menyatakan bahwa pelatihan
pada dasarnya adalah proses memberikan bantuan bagi para pekerja untuk
menguasai keterampilan khusus atau membantu untuk memperbaiki
kekurangannya dalam melaksanakan pekerjaan. Selanjutnya Michael J. Jucius
dalam Moekijat (1991 : 2) menjelaskan istilah latihan untuk menunjukkan setiap
proses untuk mengembangkan bakat, keterampilan dan kemampuan pegawai guna
menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tertentu.
Berdasarkan pendapat yang sudah dipaparkan diatas pelatihan pada
dasarnya adalah suatu proses pendidikan yang sistematis dan teroganisir bertujuan
memberikan bantuan bagi para karyawan atau pekerja untuk meningkatkan
ketrampilan dan kemampuan atau membantu untuk memperbaiki kekurangan
dalam melaksanakan pekerjaan mereka.

2.2.2 Tujuan pelatihan


Menurut Moekijat (1993 : 2) tujuan pelatihan adalah sebagai berikut: 1)
untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan
lebih cepat dan lebih efektif, 2) untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga
pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional, 3) untuk mengembangkan sikap,
sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan
dengan manajemen (pimpinan). Dari tujuan pelatihan yang dipaparkan Moekiyat
terlihat bahwa tujuan pelatihan tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan,
ketrampilan dan sikap saja, akan tetapi juga untuk mengembangkan bakat

6
seseorang sehingga dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan yang
dipersyaratkan.

2.2.3 Manfaat pelatihan


Tentang manfaat pelatihan Robinson dalam M. Saleh Marzuki (1992 : 28)
mengemukakan manfaat pelatihan sebagai berikut : 1) pelatihan sebagai alat untuk
memperbaiki penampilan/kemampuan individu atau kelompok dengan harapan
memperbaiki performance organisasi; 2) keterampilan tertentu diajarkan agar
karyawan dapat melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan standar yang diinginkan;
3) pelatihan juga dapat memperbaiki sikap-sikap terhadap pekerjaan, terhadap
pimpinan atau karyawan ; 4) manfaat lain daripada pelatihan adalah memperbaiki
standar keselamatan. Sedangkan menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana
(1998: 215) manfaat pelatihan sebagai berikut:1)Mengurangi kesalahan produksi;
2) meningkatkan produktivitas; 3) meningkatkan kualitas; 4) meningkatkan
fleksibilitas karyawan; 5) respon yang lebih balk terhadap perubahan; 6)
meningkatkan komunikasi; 7) kerjasama tim yang lebih baik, dan hubungan
karyawan yang lebih harmonis.

2.2.4 Langkah-langkah pelatihan


Simamora (1997: 360) menyebutkan ada delapan langkah pelatihan yang
meliputi: 1) tahap penilaian kebutuhan dan sumber daya untuk pelatihan; 2)
mengidentifikasi sasaran-sasaran pelatihan; 3) menyusun kriteria; 4) pre tes
terhadap pemagang 5) memilih teknik pelatihan dan prinsip-prinsip proses belajar;
6) melaksanakan pelatihan; 7) memantau pelatihan; dan (8) membandingkan
hasil-hasil pelatihan terhadap kriteria-kriteria yang digunakan. Langkah-langkah
tersebut dapat diuraikan demikian:
1) Penilaian kebutuhan (need assessment) pelatihan merupakan langkah yang
paling penting dalam pengembangan program pelatihan. Langkah penilaian
kebutuhan ini merupakan landasan yang sangat menentukan pada langkah-
langkah berikutnya. Kekurangakuratan atau kesalahan dalam penilaian
kebutuhan dapat berakibat fatal pada pelaksanaan pelatihan. Dalam penilaian

7
kebutuhan dapat digunakan tiga tingkat analisis yaitu analisis pada tingkat
organisasi, analitis pada tingkat program atau operasi dan analisis pada
tingkat individu. Sedangkan teknik penilaian kebutuhan dapat digunakan
analisis kinerja, analisis kemampuan, analisis tugas maupun survey
kebutuhan (need survey).
2) Perumusan tujuan pelatihan dan pengembangan (training and development
objective) hendaknya berdasarkan kebutuhan pelatihan yang telah ditentukan.
perumusan tujuan dalam bentuk uraian tingkah laku yang diharapkan dan
pada kondisi tertentu. Pernyataan tujuan ini akan menjadi standar kinerja
yang harus diwujudkan serta merupakan alat untuk mengukur tingkat
keberhasilan program pelatihan.
3) Isi program (program content) merupakan perwujudan dari hasil penilaian
kebutuhan dan materi atau bahan guna mencapai tujuan pelatihan. Isi
program ini berisi keahlian (keterampilan), pengetahuan dan sikap yang
merupakan pengalaman belajar pada pelatihan yang diharapkan dapat
menciptakan perubahan tingkah laku. Pengalaman belajar dan atau materi
pada pelatihan harus relevan dengan kebutuhan peserta maupun lembaga
tempat kerja.
4) Pelaksanaan pre-tes dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan awal
peserta pelatihan, sehingga dapat sebagai pembanding kemampuan peserta
sebelum dan sesudah pelatihan, dan sejauh mana kemampuan awal dari
peserta pelatihan.
5) Memilih teknik pelatihan melalui pemilihan prinsip-prinsip belajar (learning
principles), yang efektif adalah yang memiliki kesesuaian antara metode
dengan gaya belajar peserta pelatihan dan tipe-tipe pekerjaan, yang
membutuhkan. Pada dasarnya prinsip belajar yang layak dipertimbangkan
untuk diterapkan berkisar lima hal yaitu partisipasi, reputasi, relevansi,
pengalihan, dan umpan balik (Sondang P. Siagian, 1994 :190). Dengan
prinsip partisipasi pada umumnya proses belajar berlangsung dengan lebih
cepat dan pengetahuan yang diperoleh diingat lebih lama. Prinsip reputasi
(pengulangan) akan membantu peserta pelatihan untuk mengingat dan

8
memanfaatkan pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki. Prinsip
relevansi, yakni kegiatan pembelajaran akan lebih efektif apabila bahan yang
dipelajari mempunyai relevansi dan makna kongkrit dengan kebutuhan
peserta pelatihan. Prinsip pengalihan dimaksudkan pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan belajar mengajar dengan mudah
dapat dialihkan pada situasi nyata (dapat dipraktekkan pada pekerjaan). Dan
prinsip umpan balik akan membangkitkan motivasi peserta pelatihan karena
mereka tahu kemajuan dan perkembangan belajarnya.
6) Pelaksanaan program (actual program) pelatihan pada prinsipnya sangat
situasional sifatnya. Artinya dengan penekanan pada perhitungan kebutuhan
organisasi dan peserta pelatihan, penggunaan prinsip-prinsip belajar dapat
berbeda intensitasnya, sehingga tercermin pada penggunaan pendekatan,
metode dan teknik tertentu dalam pelaksanaan proses pelatihan.
7) Memantau pelatihan untuk melihat keahlian, pengetahuan, dan kemampuan
pekerja (skill knowledge ability of workers) sebagai peserta pelatihan
merupakan pengalaman belajar (hasil) dari suatu program pelatihan yang
diikuti. Pelatihan dikatakan efektif, apabila hasil pelatihan sesuai dengan
tugas peserta pelatihan. dan bermanfaat pada tugas pekerjaan.
8) Dan langkah terakhir dari pengembangan program pelatihan adalah evaluasi
(evaluation) pelatihan. Pelaksanaan program pelatihan dikatakan berhasil
apabila dalam diri peserta pelatihan terjadi suatu proses transformasi
pengalaman belajar pada bidang pekerjaan. Sondang P. Siagian menegaskan
proses transformasi dinyatakan berlangsung dengan baik apabila terjadi
paling sedikit dua hal yaitu peningkatan kemampuan dalam melaksanakan
tugas dan perubahan perilaku yang tercermin pada sikap, disiplin dan etos
kerja (1994:202). Selanjutnya untuk mengetahui terjadi tidaknya perubahan
tersebut dilakukan penilaian. Dan untuk mengukur keberhasilan tidaknya
yang dinilai tidak hanya segi-segi teknis saja. Akan tetapi juga segi
keperilakuan (Sondang P. Siagian; 1994:202). Dan untuk evaluasi diperlukan
kriteria evaluasi yang dibuat berdasarkan tujuan program pelatihan dan
pengembangan.

9
2.3 Lesson study
Lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui
pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan
prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas
belajar. Dengan demikian lesson study bukanlah suatu metode atau strategi
pembelajaran tetapi kegiatan Lesson Study dapat menerapkan berbagai metode
atau strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan
yang dihadapi guru.
Lesson study mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu perencanaan (planning),
implementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection)
terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Lesson study merupakan proses pelatihan guru yang bersiklus, diawali
dengan seorang guru: (1) merencanakan pelajaran melalui eksplorasi akademik
terhadap materi ajar dan alat-alat pelajaran; (2) melakukan pembelajaran
berdasarkan rencana dan alat-alat pelajaran yang dibuat, mengundang sejawat
untuk mengobservasi; (3) melakukan refleksi terhadap pelajaran tadi melalui tukar
pandangan, ulasan, dan diskusi dengan para observer.
Lesson study dipilih dan diimplementasikan karena beberapa alasan.
Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini
karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil
“sharing” pengetahuan professional yang berlandaskan pada praktik dan hasil
pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada
pelaksanaan lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3)
kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian
utam dalam pembelajaran kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson
study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson
study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis,
2002).

10
Kedua, lesson study yang didesain dengan baik akan menjadikan guru
yang professional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru
dapat (1) menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif, (2) mengkaji dan meningkatkan
pelajaran yang bermanfaat bagi siswa, (3) memperdalam pengetahuan tentang
mata pelajaran yang disajikan para guru, (4) menentukan standar kompetensi
yang akan dicapai para siswa (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif, (6)
mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa, (7) mengembangkan
pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan, dan (8) melakukan refleksi
terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan
koleganya (Lewis, 2002).
Hambatan yang sering terjadi pada saat pelaksanaan lesson study biasanya
timbul dari diri guru itu sendiri dan juga kondisi sosial budaya yang telah
membentuk karakter siswa. Terkadang guru model tampil dalam kondisi yang
penuh ketegangan, apalagi yang dialami oleh siswanya. Karena tidak biasanya
belajar disaksikan oleh banyak orang, maka pada saat implementasi itu siswa
seringkali mengalami hal yang serupa dengan gurunya. Mereka merasakan
kekakuan dan ketegangan, sehingga kondisi kelas menjadi sunyi. Ketika belajar
hanya dengan gurunya saja, mereka tidak canggung untuk bertanya, tampil ke
depan atau pun menjawab pertanyaan gurunya, namun ketika diobservasi oleh
guru yang lain, keadaan menjadi berubah.
Ada beberapa pendapat untuk mengatasi masalah yang telah dikemukakan
diatas, diantaranya adalah:
1) Semua guru harus memiliki persepsi ynag sama dalam visi, konsep belajar
dan strateginya, serta filosofi pembelajaran, sehingga prinsip kesejawatan dan
kolegialitas mudah terbentuk.
2) Guru melaksanakan lesson study secara berkesinambungan, tidak saja pada
kegiatan MGMP tetapi juga diterapkan pada sekolahnya masing-masing
3) Kepala sekolah memfasilitasi dan memberi dukungan serta memotivasi
kepada guru untuk dapat melaksanakan lesson study di sekolahnya.

11
4) Pelaksanaan lesson study berbasis sekolah harus menyertakan semua guru,
dan secara bergilir harus berani untuk tampil sebagai guru model.
5) Siswa harus dibiasakan untuk belajar secara aktif, membudayakanbersikap
kritis, berani bertanya dan mampu membangun kerjasama diantara mereka.
Apabila dalam satu sekolah telah mampu melaksanakan kegiatan lesson
study dan diikuti oleh semua guru dan dipimpin oleh kepala sekolah, maka
dengan sendirinya akan terbentuk suatu masyarakat pembelajar yang memiliki
komitmen bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan.

2.4 Pembelajaran CTL


Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sistem pembelajaran
yang menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari
siswa. Proses pembelajaran ini menjadi salah satu model pembelajaran yang
inovatif untuk diterapkan karena informasi yang diterima siswa tidak hanya
disimpan dalam memori jangka pendek yang mudah dilupakan, tetapi juga
disimpan dalam memori jangka panjang sehingga mampu dihayati dan diterapkan
dalam tugas pekerjaan. CTL ini mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi
dunia nyata siswa yang mampu mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
sebagai anggota masyarakat, sehingga pembelajaran ini disebut dengan
pendekatan kontekstual.
Tugas guru sebagai pendidik harus teliti dalam memilih serta mendesain
lingkungan belajar yang betul-betul berhubungan dengan kehidupan nyata, baik
dalam konteks pribadi, sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, serta lainnya sehingga
siswa memiliki keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengonstruksi
sendiri pemahamannya secara aktif. Dengan menerapkan CTL, tanpa disadari
pendidik telah mengikuti tiga prinsip ilmiah modern yang menunjang dan
mengatur segala sesuatu di alam semesta, yaitu: 1) prinsip kesaling-bergantungan;
2) prinsip diferensiasi; dan 3) prinsip Pengaturan Diri. Dalam CTL, prinsip
kesaling-bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali keterkaitan
mereka dengan pendidik lainnya, siswa-siswa, masyarakat dan dengan lingkungan

12
sekitar. Prinsip ini mengajak siswa untuk saling bekerjasama, saling
mengutarakan pendapat, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan,
merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Prinsip diferensiasi
merujuk pada dorongan terus menerus untuk menghasilkan keagamaan,
perbedaan, dan keunikan, dan membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat
pribadi, memunculkan cara belajar masing-masing individu, berkembang dengan
langkah mereka sendiri. Disini para siswa diajar untuk selalu kreatif dan berpikir
kritis guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Di sisi lain, prinsip pengaturan
diri menyatakan bahwa segala sesuatu diatur, dipertahankan, dan disadari oleh diri
sendiri. Prinsip ini mengajak siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya.
Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai
alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi,
menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti. Selanjutnya dengan interaksi
antar siswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru, sekaligus
menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam
bertahan dan keterbatasan kemampuan. Dalam pembelajaran kontekstual guru
dituntut mambantu siswa dalam mencapai tujuan. Guru tidak hanya sekedar
memberi informasi tetapi guru melakukan pengelolaan kelas membentuk sebuah
tim yang bekerja sama dengan siswa untuk menemukan sesuatu yang baru, dalam
hal ini kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered.
Berkaitan dengan tugas guru , Depdiknas menuliskan tugas pokok dan
fungsi guru adalah sebagai berikut: 1) mengkaji konsep atau teori yang akan
dipelajari oleh siswa; 2) memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa
melalui proses pengkajian secara seksama; 3) mempelajari lingkungan sekolah
dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaitkan dengan
konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual; 4)
merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari
dengan mempertimbangkan pengalan yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup
mereka; 5) melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya
dijadikan bahan refleksi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.
Untuk penerapannya, pendekatan kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen

13
utama yaitu: kontruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya
(Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (modeling),
refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya.
Adapun tujuan model pembelajaran CTL adalah:
1) Memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajari
dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-
hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atau ketrampilan yang secara
refleksi dapat diterapkan;
2) Dalam belajar siswa tidak hanya sekedar menghafal tapi perlu adanya
pemahaman;
3) Menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa;
4) Melatih siswa agar dapat berfikir kritis dan trampil dalam memproses
pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat
bagi dirinya sendiri dan orang lain;
5) Pembelajaran lebih produktif dan bermakna;
6) Mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik
dengan konteks kehidupan sehari-hari;
7) Siswa secara individu dapat menemukan dan mentransfer informasi komplek
dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri;
Kelebihan model pembelajaran CTL : 1) pembelajaran menjadi lebih
berwarna dan riil, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara
pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata; 2) pembelajaran lebih
produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena
metode pembelajaran CTL menganut aliran Konstruksivisme, dimana seorang
siswa dituntut untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Siswa melalui “
mengalami” bukan “menghafal”.

III. PEMBAHASAN
3.1 Kondisi Sebelumnya
Kondisi sebelum dilaksanakan pelatihan pembelajaran berbasis CTL
adalah:

14
1) guru masih sering mengajar dengan metode konvensional sehingga hasil
belajar siswa kurang maksimal;
2) guru mengajar sekedar mentransfer ilmu sehingga potensi siswa dalam
pembelajaran diabaikan;
3) sumber belajar dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru masih
terbatas.

3.2 Strategi Pemecahan Masalah


3.2.1 Alasan Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah
Alasan pemilihan pelatihann dengan menggunakan model lesson study,
model ini memudahkan guru untuk mengkaji pembelajaran secara kolaboratif dan
berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning
melalui membangun komunitas belajar. Dengan demikian lesson study bukanlah
suatu metode atau strategi pembelajaran tetapi kegiatan Lesson Study adalah
kegiatan menerapkan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang sesuai
dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru.

3.2.1 Stretegi Pemecahan Masalah


Berdasarkan apa yang sudah diuraikan tersebut di atas, pemecahan
masalah yang dilakukan adalah dengan melaksanakan pelatihan lesson study
penerapan model pembelajaran CTL. Adapun langkah-langkah pelatihan dengan
model lesson study yang dilakukan oleh kepala SMP 28 Semarang adalah sebagai
berikut:
1) Menentukan Kebutuhan Pelatihan
Langkah pertama dan utama dalam program pelatihan adalah menentukan
apakah ada kebutuhan yang diperlukan untuk pelatihan. Analisis kebutuhan
disini berkaitan dengan kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan guru
dalam menerapkan pembelajaran CTL.
2) Menyusun Desain Pelatihan

15
Penyusunan desain pelatihan dengan menggunakan model lesson study
setidaknya perlu mencakup tujuan program pelatihan, struktur program
pelatihan, peserta, pelatih/fasilitator, metode, dan penilaian hasil akhir.
3) Mengembangkan Isi Program
Program latihan harus mempunyai isi yang sama dengan tujuan belajarnya.
Isi program mencakup keahlian/keterampilan, sikap, pengetahuan yang
merupakan pengalaman belajar pada pelatihan yang diharapkan dapat
menciptakan perubahan tingkah laku.
4) Pelaksanaan pre-tes dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan awal
peserta pelatihan, sehingga dapat sebagai pembanding kemampuan peserta
sebelum dan sesudah pelatihan.
5) Memilih Media Pelatihan dan Prinsip Belajar
Usaha pencapaian tujuan pelatihan perlu ditunjang oleh penggunaan alat
bantu serta media yang tepat agar sesuai dengan karakteristik penggunaannya.
Prinsip-prinsip belajar merupakan petunjuk/prosedur tentang tata cara
bagaimana peserta pelatihan dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara
efektif dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan.
6) Pelaksanaan Latihan
Pelaksanaan pelatihan merupakan perwujudan tindakan nyata dari hal-hal
yang telah direncanakan. Pelaksanaan pelatihan meliputi tiga tahap, yaitu: (1)
Pra pelatihan adalah penentuan kriteria dan seleksi orang-orang yang terlibat
dalam latihan, metode yang digunakan, penetapan biaya dan waktu pelatihan.
(2) Pelaksanaan pelatihan, dalam hal ini hendaknya dilakukan sesuai dengan
ketentuan, aturan, dan persyaratan pelaksanaan latihan. (3) Pasca pelatihan
dilakukan melaui kegiatan penilaian terhadap hasil belajar dengan
pelaksanaan program latihan.
7) Memantau pelatihan
Pelatihan perlu dipantau dalam rangka meningkatan mutu pelatihan, sehingga
jika dalam pelaksanaan belum sesuai dengan standar atau tujuan pelatihan
maka segera dapat diambil kebijakan berkaitan dengan pelaksanaan pelatihan.
8) Mengevaluasi pelatihan

16
Pelaksanaan suatu pelatihan dapat dikatakan berhasil apabila dalam diri
peserta tersebut terjadi transformasi, dengan peningkatan kemampuan dalam
melaksanakan tugas dan perubahan perilaku yang tercermin pada sikap,
disiplin, dan etos kerja.

3.3 Pembahasan Hasil yang Dicapai


3.3.1 Profil Sekolah
Berdasar hasil studi dokumen Buku Profil SMPN 28 Semarang Tahun
205/2016, dapat diinformasikan bahwa SMP ini terletak di jalan Kyai Gilang
Mangkang Semarang, secara geografis berada di wilayah Semarang bagian barat,
berbatasan dengan Wilayah Kabupaten Kendal, yang memiliki nilai akreditasi A.
Terdapat 24 rombel dengan masing-masing rombel rata-rata 32 siswa dengan
jumlah total 796 yang terdiri dari 369 laki-laki dan 427 perempuan, mempunyai
40 guru PNS, 3 guru non PNS, serta 12 tenaga kependidikan /TU. Adapun
kualifikasi guru adalah sebagai berikut (lihat tabel 2)

Tabel 2
Kualifikasi Guru
Status Guru
No Kualifikasi
GT GTT Jumlah
1. Sarjana Muda/D3 1 - 1
2. Srata 1 33 3 36
3. Strata 2 6 - 6
Jumlah 40 3 43

Secara sederhana langkah-langkah in service training yang dilakukan oleh


kepala SMP 28 Semarang, dapat di lilhat pada gambar 1.

17
Identifikasi Identifikasi Menyusun
kebutuhan Pelaksana- Menentu-
tujuan kriteria
pelatihan an pre-tes kan teknik
pelatihan pelatihan
pelatihan

memantau
Mengevaluasi Melaksanakan Melaksanakan
Pelaksanaan pelatihan pelatihan pelatihan
lesson study lesson study lesson study

Gambar 1
Langkah-langkah pelatihan lesson study Guru SMP 28 Semarang

Best practise hasil kegiatan pelatihan lesson study dalam menerapkan


pembelajaran berbasis CTL dalam rangka peningkatan kinerja guru dapat
diuraikan sebagai berikut:
1) Guru berantusias mengikuti pelatihan model lesson study dalam menerapkan
pembelajaran berbasisi CTL;
2) Guru menguasai pembelajaran yang menerapkan CTL;
3) Siswa berantusias dengan penerapan CTL;
4) Hasil belajar siswa meningkat diukur dari nilai ketuntasan belajar klasikal
sehingga jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran remidi semakin
berkurang;
5) Hasil nilai UN mengalami peningkatan.

IV PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan best practice yang telah dilaksanakan dapat
disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan lesson study pembelajaran berbasis CTL
mampu meningkatkan kinerja guru yang hasilnya terlihat pada penerapan pada
proses pembelajaran yang berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa,
sehingga ketuntasan belajar meningkat.

18
5.2 Saran
Dalam rangka meningkatkan kinerja guru dapat dilaksanakan dengan
berbagai cara dengan memperhatikan kondisi real yang ada di sekolah dan
disesuaikan dengan tujuan peningkatan kinerja guru.

5.3 Rekomendasi
Kegiatan pelatihan lesson study adalah model pelatihan yang mampu
meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis CTL,
dengan demikian maka model pelatihan ini dapat diadopsi oleh sekolah (lembaga
pendidikan yang lain) dalam usaha meningkatkan kemampuan guru dalam
mengelola kegiatan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Bangun, Wilson. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Erlangga.


Johnson, Elaine B. 2007. Contextual Teaching and Learning. Bandung. Mizan
Learning Center.

Kemendikbud. 2005. Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005.


Jakarta: Kemendikbud.

Kemendikbud, 2015. Supervisi manajerial dan Supervisi Akademik, Jakarta:


PPTK-BPSDMP&PMP Kemendikbud.

Lewis, Catherine C. 2002. Lesson Study: A handbook of Teacher – Led


Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for better schools.Inc

Marzuki. M.S, (1992), Strategi dan Model Pelatihan, Malang . IKIP Malang.

Mawansyah. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Alfabeta


Mockijat. 2008. Evaluasi Pelatihan Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas.
Bandung. Mandar Maju.

Moekijat.(1991). Pengembangan dan Motivasi.Bandung. Pionir Jaya.

19
Moekijat. (1993).Evaluasi Pelatihan Dalam Rangka Meningkatkan Produktivitas
Perusahaan. Bandung. Penerbit Mandar Maju.

Nawawi,H. (1997). Manajeman Sumber Daya Manusia. Yogyakarta. Gajah


Mada Universitas Press.

Ngalim purwanto. 2012. Administrasi dan supervisi Pendidikan. Bandung.


Remaja Rosdakarya.

Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000, tentang Pendidikan dan Pelatihan
Jabatan Pegawai Negeri Sipil. Republik Indonesia. Jakarta.

Sagala, Syaiful. 2011. KemampuanProfesional Guru danTenagaKependidikan.


Bandung: Alfabeta.

Sahertian, Piet, 2010. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam
Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta

Simamora, H. (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta.Bagian


Penerbitan STIE

Sumantri, S. (2000).Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya


Manusia.Bandung. Fakultas Psikologi Unpad.

Tjiptono, F dan Diana, A, (1998).Total Quality , Management.Yogyakarta.


Andi offset.

Uno, Hamzah B. 2008. Profesi Kependidikan. Jakarta :BumiAksara.

Wursanto, I.G. 1998. Manajemen Kepegawaian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


Yamin, Martinis dan Maisah.2010. Standarisasi Kinerja Guru. Jakarta: Gaung
Persada Press.

Zamroni. (2002). Konsepsi Revitalisasi MGMP dalam Konteks School Reform


dengan Pendekatan MBS/MPMBS. Makalah disajikan pada Workshop dan
TOT MKKS dan MGMP Program Pendidikan Menengah Umum di Jakarta
Tahun 2002.

_____, 2015. Forum Ilmiah Guru Jenis dan Karakteristiknya.


http://www.gurusd.net/2015/10/forum-ilmiah-guru-jenis-dan.html: diunduh
pada tanggal 10 Juni 2016.

20
21