Anda di halaman 1dari 3

Indonesia Masih Tetap Seperti Dulu, Inkonsisten

Indonesia merupakan negara hukum yang sudah terkandung dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 3. Tapi
sebagai warga negara yang tinggal di negara hukum, aneh rasanya bila melanggar hukum. Hal inilah
yang sering terjadi di Indonesia, dikarenakan keseringan maka saat ini sudah menjadi tradisi atau
kebiasaan. Kita sepakat negara kita negara hokum tapi masih sering melanggar hokum itulah yang
disebut dengan ketidak konsistenan. Beberapa contoh kecil ketidak konsistenan di dunia pendidikan :
1. Setiap menjelang tahun ajaran baru dunia pendidikan kita selalu diwarnai dengan berbagai
macam kekisruhan, termasuk kekisruhan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB).
Sebagai hajatan rutin tahunan dan sudah berlangsung lebih dari 71 tahun, semestinya permulaan
tahun ajaran baru ataupun PPDB bukan masalah. Namun, kenyataan di lapangan, masih saja
muncul persoalan-persoalan lama yang terulang.
2. Kenaikan kelas/kelulusan : Perdebatan seru pasti terjadi antar guru-guru, intervensi pimpinan dan
pihak luar tidak bisa dilawan saat penentuan kenaikan kelas atau kelulusan. Meskipun dalam
standart kenaikan kelas atau kelulusan sudah jelas, contohnya siswa tidak naik kelas apabila
tidak dapat menuntaskan minimal 4 pelajaran disekolah sesuai dengan KKM, kehadiran yang
kurang dari 90, atau sikap dan prilaku yang sering melanggar peraturan sekolah, namun dalam
pelaksanaannya siswa tersebut harus dinaikan atau diluluskan karena sesuatu hal.
3. Mengawas pada UN : didalam peraturan pelaksanaan UN diatur sedemikian ketatnya tapi
sebelum pelaksanaannya dilakukan terlebih dahulu pengarahan tentang UN oleh kepala sekolah
yang intinya adalah agar para pengawas silang dapat membantu ‘kelancaran’ selama ujian.
dalam hal ini ditekankan seorang pengawas disuruh tidak berlebih-lebihan, berpura-pura tidak
tau apabila siswa mulai kasak kusuk dan justru pengawas yang jujur dan menindak peserta yang
berbuat curang malah ia akan dimusuhi dan dilaporkan oleh kepala sekolah tempat mengawas
ke atasannya. Laporannya karena yang bersangkutan tidak membantu “kelancaran” dan
meningkatkan lulusan di sekolah tersebut.
4. Masih banyak lagi contohnya

Begitu juga pelaksanaan sertifikasi guru dengan segala teori dan hal hal lainnya sampai
beerbulan-bulan sampai akhirnya pelaksanaan UTN ataupun UTN ulang, hal ini hanya sekedar
formalitas dan menyelesaikan kegiatan yang sudah dianggarkan

5. karena itu ibadah juga alasannya. Halah… Ibadah kok dengan cara membiarkan siswa
curang atau malah gurunya yang menjawabkan soal ujian. Mau dibawa ke mana
pendidikan di negeri ini? Ini sering terjadi di sekolah yang “terpinggirkan” di mana
memang sudah mendapat petunjuk (bahkan dari pejabat diknas/pendis) agar mengatur
“bagaimana baiknya” agar siswa dapat lulus. Terjemahannya yah seperti tadi itu.

13 Alasan Orang Suka Melanggar Hukum - Setiap orang punya alasan tersendiri karena telah
melanggar hukum. Untuk itu akan saya ulas 13 Alasan Orang Suka Melanggar Hukum.

1. Tidak Tahu
Alasan yang paling umum kenapa seseorang melanggar hukum adalah dengan alasan tidak tahu ada
aturan hukum. Alasan ini sebenarnya alasan klasik, karena setiap tindakan manusia ada aturan yang
mengaturnya, apalagi jika negara sudah menyatakan dirinya negara hukum. Alasan ini tidak
membebaskan seseorang dari sanksi hukum.

2. Tidak Mau Tahu


Banyak orang tahu aturan hukum ketika melakukan suatu tindakan atau perbuatan, tetapi aturan itu
dilanggar dan diabaikan. Biasanya orang seperti ini merasa hukum telah menjadi penghabat bagi
pencapaian keinginannya. Sepanjang tidak ada yang mengusik atau merasa aman-aman saja, ia akan
terus melakukannya dan ia baru berhenti saat perbuatannya ada yang melaporkannya, atau tertangkap
petugas hukum dan diproses secara hukum. Tindakan orang serupa ini tergolong perbuatan melanggar
hukum yang mendasar karena ada unsur kesengajaan.

3. Terpaksa
Kebanyakan orang memberikan alasan mengapa ia melanggar hukum karena terpaksa. Orang itu
merasa tidak ada pilihan lain, ia terpaksa melakukannya bisa jadi karena kondisi ekonomi, sosial atau
dilakukan atas perintah atasan, atau pun karena diancam. Alasan terpaksa terkadang hanya merupakan
alibi, sebab keadaan terpaksa dalam hukum itu ada ukuran dan nilainya.

4. Tidak Mampu Mengendalikan Diri


Sabar adalah sebagian dari iman. Tetapi seseorang melanggar hukum karena tidak sabar, sehingga tidak
mampu mengendalikan dirinya, dan emosinyalah yang meledak. Biasanya perbuatan melanggar hukum
pada orang seperti ini, oranganya tidak berpikir panjang dan tidak memikirkan akibat hukum dari
perbuatan atau tindakannya. Bagi orang serupa ini, urusan hukum belakangan yang terpenting baginya ia
harus puaskan dan salurkan emosinya terlebih dahulu.

5. Niat Jahat
Tuntutan hidup atau pencapaian target atau untuk meraih sebuah kesempatan, sehingga banyak orang
mencari jalan bagaimana ia bisa mencapainya. Orang seperti ini biasanya, akan melakukan perbuatan
melanggar hukum ketika ada yang menjadi hambatan bagi dia untuk mencapai tujuannya. Mencari celah-
celah hukum yang bisa dimanfaatkan biasa menjadi “harta karun” bagi orang seperti ini. Kemudian ada
juga, orang seperti ini tidak segan melakukan tindakan untuk menganiaya seseorang yang tidak ia sukai
atau ia pandang sebagai ancaman bagi dirinya.

6. Sudah Terbiasa
Orang yang sudah biasa melanggar hukum bukan lagi hal yang aneh dan merepotkan bagi untuk kembali
melakukan pelanggaran hukum. Meskipun sudah pernah mendapat ganjaran, tetapi ganjaran yang
pernah ia terima itu bukannya membuat dia sadar, melainkan ia makin paham dan mahir untuk
melakukan pelanggaran hukum lagi. Orang seperti ini sudah memperhitungkan akibat yang akan diterima
apabila ia melanggar hukum dan perbuatan itu dilakukannya dengan penuh kesadaran. Pelanggaran
hukum ini bobotnya lebih berat.

7. Karena Ada Kesempatan


Pada prinsipnya manusia terlahir baik dan nilai-nilai kebaikan itu ada dalam diri setiap manusia. Dan
manusia pada umumnya cenderung berbuat baik atau melakukan yang baik-baik. Tetapi karena ada
kesempatan atau peluang, ia pun melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum. Pelanggaran
hukum dengan alasan adanya kesempatan, cenderung datang tiba-tiba ketika melihat objeknya.

8. Membela Diri
Alasan melanggar hukum dengan dalil membela diri merupakan alasan yang tidak kalah seringnya
dijadikan seseorang untuk menghalalkan perbuatannya. Hukum sendiri sebenarnya memberikan tempat
khusus bagi orang yang melanggar hukum karena alasan membela diri, dan bila alasan membela diri itu
bisa dibuktikan dan sesuai dengan ukuran timbangnya yang diberikan hukum, orang tersebut ada
kemungkinan terbebas dari ancaman hukuman. Tetapi alasan membela diri tidaklah semudah diucapkan
karena banyak hal lain yang terkait dengan perbuatan melanggar hukum bersangkutan.

9. Memilih Ketentuan Hukum Yang Menguntungkan


Karena ada banyak sistem hukum yang belaku, maka seseorang memilih salah satu ketentuan dari
sistem hukum yang ada. Misalnya dengan hukum agama, seorang laki-laki boleh punya istri dari satu,
tetapi hukum negara tidak mempolehkannya, kecuali ada alasan yang sah. Maka orang tersebut tetap
meneruskan niatnya kimpoi lagi, dan ia dengan sadar melanggar hukum negara.

10. Tidak Setuju Dengan Ketentuan Hukum


Alasan ini jarang terjadi, tetapi bila diselidiki mungkin pernah terjadi. Alasan melanggar hukum dalam
konteks ini lebih merupakan berkatan dengan prinsip yang dianut seseorang. Tetapi ia tidak dapat
dijadikan alasan pembenar, karena setiap aturan hukum yang dibentuk tidak bisa memuaskan setiap
orang. Artinya jika suatu hukum sudah dibuat dan disepakati oleh lembaga yang sah dan berwenang,
maka setiap orang harus mematuhinya.

11. Tergoda
Tidak sedikit orang yang melakukan perbuatan melanggar hukum karena tergoda akan sesuatu yang
menguntungkan dirinya, padahal dia tahu betul perbuatan yang akan dilakukannya melanggar hukum.
Perbuatan melanggar hukum dengan alasan tergoda ini bisa berkombinasi dengan alasan-alasan yang
lain.

12. Merasa Selalu Benar


Tidak jarang juga orang melanggarkan hukum karena merasa dirinya yang paling dan ia menganggap
dirinya mengerti benar dengan hukum. Orang ini seringkali mengabaikan nasehat orang lain dan selalu
mencarikan alasan-alasan bagi pembenaran perbuatannya, meskipun kepadanya telah ditunjukkan ada
aturan lain dari aturan hukum yang dipahaminya.