Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen
komponen suatu senyawa. Langkah identifikasi dikenal sebagai analisis kualitatif, sedangkan
langkah estimasinya adalah langkah kuantitatif. Analisis kualitatif dapat dikatakan lebih
sederhana, sedangkan analisis kuantitatif agak lebih rumit. Analisis kualitatif bertujuan
mengidentifikasi penyusun-penyusun suatu zat, campuran-campuran zat, atau larutan-larutan
yang biasanya unsur-unsur penyusunnya bergabung antara yang satu dengan yang lain.
Sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk menentukan banyaknya penyusun-penyusun
suatu zat atau persenyawaan.

Biasanya identifikasi zat dilakukan dengan penambahan zat lain yang susunannya
telah diketahui, sehingga terjadi perubahan (reaksi kimia). Zat yang susunannya telah
diketahui dan yang menyebabkan terjadinya reaksi disebut pereaksi (reagen).

Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu reaksi kering dan
reaksi basah. Cara kering biasanya digunakan pada zat padat, sedangkan cara basah
digunakan pada zat cair (larutan) yang kebanyakan menggunakan pelarut air. Cara kering
hanya menyediakan informasi yang diperlukan dan informasi tersebut bersifat jangka pendek.
Sedangkan cara basah dapat digunakan untuk analisis makro, semimakro, dan mikro sehingga
banyak keuntungan yang didapat, misalnya reaksi terjadi dengan cepat dan mudah
dikerjakan. Perubahan yang terjadi pada cara basah adalah terjadinya endapan, perubahan
warna larutan, dan timbulnya gas.

Penambahan suatu elektrolit yang mengandung ion sejenis ke dalam larutan jenuh
suatu garam akan menurunkan kelarutan garam tersebut karena konsentrasi ion bertambah
dan kesetimbangan bergeser ke arah pembentukan garamnya.

Untuk mempermudah dalam reaksi identifikasi kation-anion, maka digunakan metode


analisis kualitatif sistematik. Metode ini merupakan pengklasifikasian kation-kation ke dalam
5 golongan.

1
1.2 Rumusan masalah
Adapun Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1. Bagaimana sistem pengklasifikasian kation?
2. Ion-ion apa saja yang termasuk kedalam kation golongan I dan II?
3. Bagaimanakah sistem pemisahan kation golongan I dan II
4. Bagaimanakah identifikasi kation golongan I dan II ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Kimia Analisa yang diberikan Dosen.
2. Mengungkapkan seberapa jauh pemahaman penulis terhadap materi Pemisahan
Kation Golongan I dan II dalam mata kuliah Kimia Analisa

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Kation


Untuk tujuan analisis kualitatif, kation-kation didefinisikan ke dalam lima golongan
berdasarkan sifat-sifatnya terhadap beberapa reagensia (pereaksi). Dengan menggunakan
pereaksi- pereaksi tertentu secara sistematik, dapat ditetapkan ada atau tidaknya kation-kation
berdasarkan golongannya. Selain dari pada itu, metode ini dapat juga digunakan untuk
memisahkan golongan-golongan ini untuk kemudian dilakukan analisis lebih lanjut. Regensia
(pereaksi) golongan yang dipakai untuk klasifikasi ion yang paling umum adalah asam
klorida, hidrogen sulfida, amonium sulfida, serta amonium karbonat. Klasifikasi ini
didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan pereaksi-pereaksi ini dengan
membentuk endapan atau tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation yang paling
umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida dan karbonat dari kation
tersebut. Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai
berikut :
a. Golongan I
Kation golongan I membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion-ion golongan ini
adalah timbel, merkurium (I) (raksa), dan perak.
b. Golongan II
Kation golongan II tidak dapat bereaksi dengan asam klorida, namun dapat membentuk
endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion-ion golongan
ini adalah merkurium(II), tembaga, bismut, kadmium, arsenik (III), arsenik (V), stibium
(III), stibium (V), timah (II), dan timah (III)(IV).
c. Golongan III
Kation golongan III tidak bereaksi dengan asam klorida encer atau dengan hidrogen
sulfida dalam suasana asam mineral encer. Kation golongan ini membentuk endapan
dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. Kation-kation golongan
ini adalah kobalt (II), nikel (II), besi (II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink, dan
mangan (II).
d. Golongan IV
Kation golongan ini tidak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III. Kation-
kation pada golongan IV membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya

3
amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Kation-kation golongan ini
adalah: kalsium, strontium, dan barium.
e. Golongan V
Kation-kation pada golongan V adalah kation yang umum yang tidak bereaksi dengan
reagensia-reagensia pada golongan sebelumnya. Kation ini merupakan golongan kation
yang terakhir yaitu ion-ion magnesium, natrium, kalium, amonium, litium, dan hidrogen.

2.2 Kation golongan I


Kation golongan I : Timbel(II), Merekurium(I), dan Perak(I)
Pereaksi golongan : Asam klorida encer (2M)
Reaksi golongan : Endapan putih timbal klorida (PbCl2), Merkurium(I) klorida
(Hg2Cl2), dan perak klorida (AgCl).

Kation golongan I membentuk klorida-klorida yang tak larut, namun timbale


klorida sedikit larut dalam air, dan karena itu timbal tak pernah mengendap dengan
sempurna bila ditambahkan asam klorida encer kepada suatu cuplikan ion timbal yang
tersisa itu diendapkan secara kuantitatif dengan Hidrogen sulfida (H2S) dalam suasana
asam bersama-sama kation golongan II .
Nitrat dari kation-kation golongan I sangat mudah larut diantara sulfat-sulfat,
timbal praktis tidak larut, sedang perak sulfat jauh lebih banyak. Kelarutan merkurium(I)
sulfat terletak diantara kedua zat diatas. Bromida dan iodida juga tidak larut. Sedangkan
pengendapan timbal halida tidak sempurna dan endapan itu mudah sekali larut dalam air
panas. Sulfida tidak larut. Asetat-asetat lebih mudah larut, meskipun perak asetat bisa
mengendap dari larutan yang agak pekat. Hidroksida dan karbonat akan diendapkan
dengan reagensia yang jumlahnya ekuivalen. Tetapi pada reagensia berlebih, ia dapat
bergerak dengan bermacam- macam cara dimana ada perbedaan dalam sifat-sifat zat ini
terhadap ammonia.

2.2.1 Timbal, Pb (Ar : 207,19)


Timbel merupakan logam berwarna abu-abu kebiruan dengan rapatan sebesar 11,48
g/ml pada suhu kamar. Timbel mudah larut dalam asam nitrat dengan tingkat kepekatan
sedang (8M), dan terbentuk nitrogen oksida:
3Pb + 8HNO3 → 3Pb2 + 6NO3- + 2NO + 4H2O

4
Gas nitrogen (II) oksida yang tidak berwarna bila tercampur dengan udara akan
teroksidasi menjadi nitrogen dioksida berwarna merah:
2NO ↑ (tidak berwarna) + O2 ↑ → 2NO2 ↑ (merah)
Dengan asam nitrat pekat dapat terbentuk lapisan pelindung berupa timbel nitrat pada
permukaan logam yang mencegah pelarutan lebih lanjut. Asam klorida encer atau asam sulfat
encer mempunyai pengaruh yang hanya sedikit, karena terbentuknya timbal klorida atau
timbal sulfat yang tak larut pada permukaan logam itu.
Reaksi-reaksi dari ion timbal(II), larutan timbal nitrat (0,25 M) atau timbal asetat
(0,25 M) dapat dipakai untuk mempelajari reaksi-reaksi ini.
a) Asam klorida encer ( klorida yang larut) : endapan putih dalam larutan yang dingin
dan tak terlalu encer :
Pb2+ + 2Cl- ↔ PbCl2
b) Hidrogen sulfida dalam suasana netral/asam encer : endapan hitam timbel sulfida :
Pb2+ + H2S → PbS↓ + 2H+
Pengendapan tidak sempurna, jika ada asam mineral kuat dengan konsentrasi lebih
dari 2M. Karena terbentuknya ion hidrogen dalam reaksi diatas, campuran sebaiknya
dibufferkan dengan natrium asetat. Dengan mengalirkan gas hidrogen sulfida kedalam
campuran yang megandung endapan timbal klorida putih, yang terakhir ini akan
diubah menjadi timbal sulfida (hitam) dengan reaksi pertukaran endapan :
PbCl2↓ + H2S → PbS↓ + 2H+ + 2Cl-
Perhatikan : Hidrogen sulfida adalah gas yang sangat beracun dan semua pengerjaan
dengan gas ini harus dilakukan dalam kamar asam. Semua tindakan pengamanan
harus diambil untuk menjaga agar hidrogen sulfida tidak lolos masuk ke udara
laboratorium.
c) Larutan amonia : endapan timbal putih hidroksida :
Pb2+ + 2NH3 + 2H2O → Pb(OH)2↓ + 2NH4+
Endapan tidak larut dalam reagensia berlebihan.
d) Natrium hidroksida : endapan putih timbal hidroksida :
Pb2+ + 2OH-→ Pb(OH)2↓
Endapan larut dalam reagensia berlebihan, pada mana terbentuk ion
tetrahidroksoplumbat (II) :
Pb(OH)2↓ + 2OH- → [Pb(OH) 4] 2-
Jadi, timbal hidroksida mempunyai sifat amfoter.

5
e) Asam sulfat encer (atau sulfat-sulfat yang larut) : endapan putih timbal sulfat :
Pb2+ + SO42- → Pb SO4↓
Endapan ini tak larut dalam reagensia yang berlebihan. Asam sulfat yang panas,
pekat, melarutkan endapan karena terbentuk timbal hidrogen sulfat :
Pb SO4↓ + H2SO4 → Pb2+ + 2HSO4-
f) Kalium kromat dalam larutan netral, asam asetat atau amonia : endapan kuning timbal
kromat :
Pb2+ + CrO42+ → Pb CrO4↓
g) Kalium iodida : endapan kuning timbal iodida :
Pb2+ + 2I - → PbI2 ↓
Endapan larut sedang-sedang saja dalam air mendidih, menghasilkan larutan yang tak
berwarna, darimana endapan memisah lagi sebagai keping keping berwarna kuning
keemasan setelah mendingin.
h) Natrium sulfit dalam larutan netral : endapan putih timbal sulfit
Pb2+ + SO32+ → Pb SO3↓
i) Natrium karbonat : endapan putih campuran timbal karbonat dan timbal hidroksida
2Pb2+ + 2CO32- + H2O → Pb(OH)2 ↓ + PbCO3 + CO2 ↑
Pada pendidihan tak nampak perubahan [perbedaan dari ion-ion merkurium(I) dan
perak(I)]. Endapan larut dalam asam nitrat encer, bahkan dalam asam asetat, dan gas
CO2 dibebaskan :
Pb(OH)2 ↓ + PbCO3 + 4H+ → 2Pb2+ + 3H2O + CO2 ↑
j) Dinatrium hidrogen fosfat : endapan putih timbal fosfat
3Pb2+ + 2HPO42- ↔ Pb3(PO4)2 ↓ + 2H+
Reaksi ini dapat-balik ; asa –asam kuat (asam nitrat) melarutkan endapan. Endapan
juga larut dalam natrium hidroksida.
k) Kalium sianida (racun) : endapan putih timbal sianida
Pb2+ + 2CN- → Pb(CN)2↓
Yang tak larut dalam reagensia berlebihan. Reaksi ini dapat dipakai untuk
membedakan ion timbal(II) dari merkurium(I) dan perak (I), yang bereaksi secara
berlainan.
l) Tetrametildiamino-difenilmetana (tetrabasa) (0,5 %)
Terbentuk hasil oksidasi warna biru (hidrol: -CH2 → -CH(OH) pada kondisi-kondisi
yang disebut dibawah.

6
Taruh 1 ml larutan uji dalam tabung pemusing 5 ml, tambahkan 1 ml kalium
hidroksida 2 M dan 0,5 – 1 ml larutan hidrogen peroksida 3 %. Ddiamkan selama 5
menit. Pisahkan endapan dengan pemusing, dan cuci satu kali dengan air dingin.
Tambahkan 2 ml reagensia. Kocok dan pusingkan. Cairan akan berwarna biru.
Batas konsentrasi : 1 dalam 10.000
m) Benzidina (0,05 %) (Bahaya : reagensia ini karsinorgenik/dapat menimbulkan kanker)
Warna yang biasa disebut ‘biru benzidina’ dihasilkan pada oksidasi dengan timbel
dioksid. Ion bismut, serium, mangan, kobalt, nikel, perak, dan talium memberi reaksi
yang serupa, tetapi dengan melakukan uji dalam suatu ekstrak basa, (misalnya dengan
larutan tetrahidrosoplumbat(II)), hanya talium yang mengganggu. Oksidasi mudah
dilakukan dengan natrium hipobromit, kelebihan natrim hipobromit ini dapat
diuraikan dengan amonia :
[2NH3 + 3OBr- → N2 ↑ + 3Br- + 3H2O]
Taruh setetes larutan uji diatas kertas reaksi-tetes, tambahkan berturut-turut 2 tetes
natrium hidroksida 3 m dan 1 tetes air brom jenuh. Tambahkan 2 tetes larutan amonia
1:1 , hilangkan amonia yang kelebihan dengan mengibas-ngibaskan kertas diatas
nyala api kecil. Tambahkan 2 tets reagensia : terjadi warna biru.
Kepekaan : 1 𝜇g Pb. Batas konsentrasi : 1 dalam 50.000
n) Galosianina (1%)
Terjadi endapan lembayung-tua yag komposisinya tidak diketahui. Uji ini dapat
dipakai untuk timbal sulfat yang berbutir halus, yang diendapkan diatas kertas saring.
Taruh setetes larutan uji diatas kertas reaksi-tetes, diikuti oleh setetes larutan air
piridina 1 % dan setetes reagensia galosianina (biru), hilangkan kelebihan reagensia
dengan menaruh beberapa lembar kertas saring dibawah kertas reaksi-tetes dan
menambahkan tetesan-tetesan larutan piridina pada bercak itu sampai cairan pencuci
yang menembus keluar menjadi tak berwarna, geser kertas-kertas saring itu ke posisi
yang baru sehabis setiap penambahan larutan piridina, terjadi bercak ungu tua.
Kepekaan : 1 - 6 𝜇g Pb. Batas konsentrasi : 1 dalam 50.000
o) Difeniltiokarbazon (ditizon) (0,005 %)
Garam kompleks berwarna merah-bata, dalam larutan netral, amoniakal, basa atau
alkalisianida. Taruh larutan yang netral atau sedikit basa itu dalam tabung-uji mikro,
masukkan beberapa kristal kecil kalium sianida, lalu 2 tetes reagensia. Kocok selama
30 menit, warna hijau dari reagensia berubah menjadi merah.

7
Kepekaan : 0,1 𝜇g Pb (dalam larutan netral). Batas konsentrasi : 1 dalam 1.250.000
p) Uji kering
 Uji pipa tiup ; bila suatu timbal dipanaskan dengan karbonat alkali diatas arang,
diperoleh manik timbal yang dapa ditempa ( yang lembut dan akan menodai
kertas) dikelilingi oleh kerak kuning timbal monoksida.
 Uji nyala ; biru muda (tak memastikan)

2.2.2 Merkurium atau raksa, Hg (Ar : 200,59) – Merkerium (I)


Merkurium adalah logam cair berwarna putih keperakan pada suhu biasa dengan
rapatan 13,534 g/ml pada 25oC. Merkurium mudah bereaksi dengan asam nitrat, namun tidak
dipengaruhi oleh asam klorida atau asam sulfat encer (2M), tetapi mudah bereaksi dengan
asam nitrat. Asam nitrat yang dingin dan sedang pekatnya (8M), dengan merkurium yang
berlebihan menghasilkan ion merkurium(I) :
6Hg + 8HNO3 → 3H22+ + 2NO ↑ + 6NO3- + 4H2O
Dengan asam nitrat pekat panas yang berlebihan akan terbentuk ion merkurium(II) :
3Hg + 8HNO3 → 3H2+ + 2NO ↑ + 6NO3- + 4H2O
Reaksi ion merkurium(I) larutan merkurium(I) nitrat (0,05 M) dapat dipakai utuk
mempelajari reaksi-reaksi ini :
a) Asam klorida encer atau klorida-klorida yang larut : endapan putih merkurium(I)
klorida (kalomel)
Hg22+ + 2Cl- → Hg2Cl2 ↓
Endapan tak larut dalam asam encer.
b) Hidrogen sulfida dalam suasana netral atauasam encer : endapan hitam yang
merupakan campuran dari merkurium(II) sulfida dan logam merkurium
Hg22+ + H2S → Hg + HgS↓ + 2H+
Berhubung hasil kali kelarutan merkurium(II) sulfida luar biasa kecilnya, reaksi ini
sangat peka.
c) Larutan amonia : endapan hitam yang merupakan campuran logam merkurium dan
merkurium(II) amidonitrat basa, (yang sendirinya merupakan endapan putih)
NH2
2Hg22+ + NO3- + 4NH3 + H2O → HgOHg ↓ + 2Hg↓ + 3NH4+
NO3

8
Reaksi ini dapat dipakai untuk membedakan antara ion merkurium(I) dan ion
merkurium(II).
d) Natrium hidroksida : endapan hitam merkurium(I) oksida
Hg22+ + 2OH- → Hg2O↓ + H2O
Endapan tak larut dalam reagensia berlebihan, tetapi mudah larut dalam asam nitrat
encer.
e) Kalium kromat dalam larutan panas : endapan kristalin merah merkurium(I) kromat
Hg22+ + CrO42- → Hg2CrO4↓
Jika uji dilakukan dalam keadaan dingin, terbentuk endapan amorf coklat dengan
komposisi yang tak tertentu. Ketika dipanaskan, endapan menjadi kristal
merkurium(I) kromat yang merah.
Natrium hidroksida mengubah endapam menjadi merkurium (I) oksida yang hitam :
Hg2CrO4↓ + 2OH- → Hg2O↓ + CrO42- + H2O
f) Kalium iodida ditambahkan perlahan-lahan dalam larutan dingin : endapan hijau
merkurium(I) iodida
Hg22+ + 2I - → Hg2I2 ↓
Jika ditambahkan reagensia berlebihan, terjadi reaksi disproporsionasi, dan terbentuk
ion tetraiodomerkurat(II) yang larut dalam merkurium hitam yang berbutir halus :
Hg2I2 ↓ + 2I- → [HgI4] 2- ↓ + Hg↓
g) Natrium karbonat dalam larutan dingin : endapan kuning merkurium(I) karbonat
Hg22+ + CO32- → Hg2CO3↓

Endapan berubah menjadi abu-abu kehitaman ketika mana merkurium(II) oksida dan
merkurium terbentuk :
Hg2CO3↓ → HgO↓ + Hg↓ + CO2↑
Penguraian dapat dipercepat dengan memanaskan campuran itu.
h) Dinatrium hidrogen fosfat : endapan putih merkurium(I) hidrogen fosfat :
2Hg22+ + HPO42- ↔ Hg2(PO4)2 ↓
i) Kalium sianida (racun) menghasilkan larutan merkurium(II) sianida dan endapan
merkurium :
Hg22+ + 2CN- → Hg ↓ + Hg(CN)2
Merkurium(II) sianida meski tidak larut, tetapi praktis tak terdisosiasi.
j) Timah(II) klorida mereduksi ion merkurium(I) menjadi loga merkurium yang berupa
endapan hitam keabu-abuan :

9
Hg22+ + Sn2+ → 2Hg ↓ + Sn4+
Ion merkurium(II) juga bereaksi serupa.
k) Kalium nitrit mereduksi logam merkurium dari larutan ion merkurium(I) dalam
keadaan dingin, dalam bentuk endapan hitam keabuan :
Hg22+ + NO2- + H2O → 2Hg ↓ + NO3- + 2H+
Pada kondisi-kondisi yang serupa, ion merkurium(II) tak bereaksi.
l) Lembaran tembaga atau mata uang tembaga yang mengkilap. Jika setets merkurium(I)
nitrat ditaruh diatas permukaan tembaga yang mengkilap, terbentuk endapan logam
merkurium :
Cu + Hg22+ → Cu2+ + 2Hg ↓
m) Lembaran aluminium, jik setetes merkurium(I) nitrat ditaruh diatas permukaan
aluminium yang bersih, terbentuk aluminium amalgam, dan ion-ion aluminium
melarut :
3Hg22+ + 2Al → 2Al3+ + 6Hg ↓
n) Difenil karbazida (1% dalam alkohol)
Membentuk senyawa yang berwarna lembayung dengan ion-ion merkurium(I) atau
merkurium(II), yamg komposisinya belum diketahui dengan pasti benar.
o) Uji kering : semua senyawa-senyawa merkurium bila dipanaskan dengan natrium
karbonat anhidrat dengan sangat berlebihan ( 7-8 kali volumenya) dalam tabung uji-
kecil, akan menghasilkan cermin abu-abu, yang terdiri dari tetesan-tetesan halus
merkurium, dibgian sebelah atas tabung. Butiran-butiran ini meggumpal bila digosok
dengan batang kaca.
Perhatikan : uap merkurium sangat beracun, dan tak boleh lebih dari 0,1 gram zat ini
dipakai dalam uji tersebut.

2.2.3 Perak ; Ag (Ar : 107,868)


Perak adalah logam yang putih, dapat ditempa dan liat. Rapatannya tinggi (10,5 g/ml)
dan ia melebur pada 960,5oC. Ia tak larut dalam asam klorida, asam sulfat encer (1M) atau
asam nitrat encer (2M).
Perak membentuk ion monovalen dalam larutan yang tak berwarna. Senyawa-
senyawa perak(II) tidak stabil, tetapi memainkan peranan penting dalam proses-proses
oksidasi-reduksi yang dikatalisis oleh perak. Perak nitrat mudah larut dalam air; perak asetat,
perak nitrit, dan perak sulfat kurang larut, sedang semua senyawa-senyawa perak lainnya

10
praktis tidak larut. Tetapi kompleks-kompleks perak, larut. Halida-halida perak peka terhadap
cahaya; ciri-ciri khas ini dipakai secara luas dalam bidang fotografi.
Reaksi-reaksi dari ion perak(I); larutan perak nitrat (0,1M) dapat dipakai untuk
mempelajari reaksi-reaksi ini.
a) Asam klorida encer (atau klorida-klorida yang larut) : endapan putih perak klorida
Ag+ + 2Cl- → AgCl ↓
Dengan asam klorida pekat, tak terjadi pengendapan. Setelah cairan didekantasi dari
atas endapan, ia akan larut dalam asam klorida pekat, pada mana kompleks
dikloroargentat terbentuk :
AgCl ↓ + Cl- ↔ [AgCl2]-
Dengan mengencerkan dengan air, kesetimbangan bergeser kembali ke kiri dan
endapan muncul lagi. Larutan amonia encer melarutkan endapan, pada mana ion
kompleks diaminaargentat terbentuk :
AgCl ↓ + 2NH3 → [Ag (NH3)2]+ + Cl-
b) Hidrogen sulfida (gas atau larutan-air jenuh) dalam suasana netral atau asam :
endapan hitam perak sulfida
2Ag+ + H2S ↔ Ag2S↓ + 2H+
Asam nitrat pekat panas menguraikan perak sulfida, dan belerang tertinggal dalam
bentuk endapan putih :
3Ag2S↓ + 8HNO3 → S↓ + 2NO ↑ + 6Ag+ + 6NO3- + 4H2O
c) Larutan amonia : endapan coklat perak oksida
2Ag+ + 2NH3 + H2O → Ag2O↓ + 2NH4+
d) Natrium hidroksida : endapan coklat perak oksida
2Ag+ + 2OH- → Ag2O↓ + H2O
e) Kalium iodida : endapan kuning perak iodida
Ag+ + I - → AgI ↓
Endapan tak larut dalam amonia encer atau pekat, tetapi mudah larut dalam kalium
sianida (racun) (a) dan natrium triosulfat (b)
AgI ↓+ 2CN -→ [Ag(CN)2]- + I – (a)
AgI ↓+ 2S2O32 -→ Ag(S2O3)2 3- + I – (b)
f) Kalium kromat dalam larutan netral : endapan merah perak kromat
2Ag+ + CrO42- → Ag2CrO4↓
g) Kalium sianida (racun) bila ditambahkan tetes demi tetes dalam larutan netral perak
nitrat : endapan putih perak sianida
11
Ag2+ + CN- → Ag2CN ↓
Bila kalium sianida ditambah dengan berlebihan, endapan hilang karena terbentuk
ion-ion disianoargentat :
Ag2CN ↓ + CN- → [Ag(CN)2]-
h) Natrium karbonat : endapan putih kekuningan, perak karbonat :
2Ag+ + CO32- → Ag2CO3↓

Bila dipanaskan endapan terurai dan terbentuk endapan coklat perak oksida :

Ag2CO3↓ → Ag2O ↓ + CO2 ↑


i) Dinatrium hidrogen fosfat dalam larutan netral : endapan kuning perak fosfat
3Ag+ + HPO42- → Ag3PO4 ↓ + H+
j) Hidrazina sulfat ( jenuh) : bila ditambahkan kepada larutan dari ion diaminaargentat,
terbentuk logam perak yang berupa serbuk halus, sedang gas nitogen dilepaskan :
4[Ag(NH3)2]+ + H2N – NH2.H2SO4 → 4Ag ↓ + N2 ↑ + 6NH4+ + 2NH3 + SO42-

k) p-Dimetilaminobenzilidena-rodanina ( dengan singkat : reagensia rodanina, larutan


0,3% dalam aseton) : endapan berwarna lembayung-kemerahan dalam larutan yang
sedikit bersifat asam.
l) Uji kering (uji pipa tiup) : bila suatu logam perak dipanaskan dengan karbonat alkali
diatas arang, dihasil sebutir manik putih yang dapat ditempa tanpa kerak oksidanya ;
manik ini mudah larut dalam asam nitra. Larutan segera diendapkan oleh larutan
klorida ence, tetapi tidak oleh asam sulfat yang sangat encer.

2.3 Kation golongan II


Reagensia golongan : hidrogen sulfat (gas atau larutan-air jenuh)
Reaksi golongan : endapan-endapan dengan berbagai warna : merkurium(II) sulfida,
HgS (hitam) ; Timbal(II) sulfida, PbS (hitam) ; tembaga(II) sulfida, CuS (hitam) ; kadmium
sulfida, CdS (kuning); bismut(III) sulfida, Bi2S3 (coklat); arsenik(III) sulfida, As2S3 (kuning),
arsenik(V) sulfida (kuning); stibium (III) sulfida, Sb2S3 (jingga) ; stibium (V) sulfida, Sb2S3
(jingga) ; timah(II)sulfida, SnS (coklat) ; dan timah(IV) sulfida, SnS (kuning).
Kation-kation golongan II menurut tradisi dibagi 2 sub golongan : sub golongan
tembaga dan sub golongan arsenik.dasar dari pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfida
dalam amonium polisulfida. Sementara sulfida dari sub golongan tembaga tak larut dalam
reagensia ini, sulfida dari sub golongan arsenik melarut dengan membentuk garam tio.

12
2.3.1 Merkurium (raksa), Hg (Ar : 200,59)-Merkurium (II)
Reaksi – reaksi ion merkurium(II) ; dapat dipelajari dengan larutam merkurium(II)
nitrat encer (0,05 M)
a) Hidrogen sulfida (gas atau larutan air jenuh) : dengan adanya asam klorida encer,
mula-mula akan terbentuk endapan putih merkurium(II) klorosulfida (a), yang terurai
bila ditambahkan hidrogen sulfida lebih lanjut, dan akhirnya terbentuk endapan hitam
merkurium(II) sulfida (b) :
3Hg2+ + 2Cl- + 2H2S → Hg3S2Cl2 ↓ + 4H+ (a)
Hg3S2Cl2↓ + H2S → 3HgS ↓ + 2H+ + 2Cl- (b)
b) Larutan amonia : endapan putih dengan komposisi tercampur ; pada dasarnya terdiri
dari merkurium(II) oksida dan merkurium(II) amidonitrat :
2Hg2+ + NO3- + 4NH3 +H2O → HgO.Hg(NH2)NO3↓ + 2Hg↓ + 3NH4+
Garam ini seperti kebanyakan senyawa-senyawa merkurium, bersublimasi pada
tekanan atmosfer.
c) Natrium hidroksida bila ditambahkan dalam jumlah sedikit: endapan merah
kecoklatan dengan komposisi yang berbeda-beda; jika ditambahkan dalam jumlah
yang stoikiometris, endapan berubah menjadi kuning ketika terbentuk merkurium(II)
oksida :
Hg2+ + 2OH- → HgO↓ + H2O
d) Kalium iodida bila ditambahkan perlahan-lahan kepada larutan : endapan merah
merkurium(II) iodida :
Hg2+ + 2I -→ HgI2 ↓
Endapan melarut dalam reagensia berlebihan, pada mana ion tetraiodomerkurat(II)
terbentuk :
HgI2 ↓ + 2I- → [HgI4]2- ↓
e) Kalium sianida (racun) : tak menimbulkan perubahan apa-apa dalam larutan encer
(perbedaan dati ion-ion lain dari sub-golongan tembaga).
f) Timah(II) klorida : bila ditambahkan dalam jumlah sedang : endapan putih dan seperti
sutera, merkurium(I) klorida (kalomel) :
2Hg2+ + Sn2+ → 2Hg ↓ + Sn4+ + 2Cl-
g) Lembaran atau mata uang tembaga mereduksi ion merkurium(II) menjadi logamnya :
Cu + Hg22+ → Cu2+ + Hg ↓

13
h) Reagensia dienkuprato(II) sulfat dengan adanya kalium iodida : endapan lembayung
biru tua dalam larutan netral atau amoniakal, mula-mula dihasilkan ion tetra
iodomerkurat (II) :
Hg2+ + 4I- → [HgI4]2-
i) Difenilkarbazida bereaksi dengan ion merkurium(II) dengan cara yang serupa dengan
merkurium(I).
j) Uji kobalt(II) tiosianat : kepada larutan uji, tambahkan reagensia sejumlah volume
yang sama (kadar kira-kiara 10%, baru saja dibuat), dan gosok-gosok dinding bejana
dengan batang kaca. Terbentuk endapan kristalin yang biru tua, yaitu kobalt
tetratiosianatomerkurat(II) :
Hg2+ + Co2+ + 4SCN- → Co[Hg(SCN)4] ↓
k) Uji kering, semua senyawa-senyawa merkurium, tak peduli keadaan valensinya,
membentuk logam merkurium bila dipanaskan dengan natrium karbonat anhidrat
yamg berlebihan.

2.3.2 Bismut, Bi (Ar : 208,98)


Bismut adalah logam yang putih kemerahan, kristalin dan getas. Titik leburnta
271,5oC. Ia tidak larut dalam asam klorida disebabkan oleh potensial standarnya (0,2 V),
tetapi melarut dalam asam pengoksid seperti asam nitrat pekat, air baja, dan asam sulfat
pekat;panas.
Reaksi-reaksi ion bismut dapat dipelajari dengan larutan bismut(III) nitrat (0,2M),
yang mengandung kira-kira 3 – 4 % asam nitrat.
a) Hidrogen sulfida (gas larutan air jenuh) : endapan hitam bismut sulfida :
2Bi3+ + 3H2S → Bi2S3↓ + 6H+
Endapan tak larut dalam asam encer dingin dan dalam amonia sulfida. Asam klorida
pekat yang mendidih melarutkan endapan, pada mana gas hidrogen sulfida
dibebaskan :
Bi2S3↓ + 6HCl → 2Bi3+ + 6Cl- + 3H2S↑
b) Larutan amonia : garam basa putih dengan berbagai komposisi. Raksi kimia yang
diperikasakan adalah :
Bi3++ NO3- + 2NH3 +2H2O → Bi ( OH)2NO3↓ + 2Hg↓ + 2NH4+
Endapan tak larut dalam reagensia berlebihan (perbedaan dari tembaga atau
kadmium).

14
c) Natrium hidroksida : endapan putih bismut (III) hidroksida :
Bi3+ + 3OH- → Bi (OH)3↓
Endapan hanya sedikit sekali larut dalam reagensia berlebihan dalam larutan dingin,
2-3 mg bismut terlarut per 100 ml natrium hidroksida (2M). Endapan larut dalam
asam :
Bi (OH)3↓ + 3H+ → Bi3+ + 3H2O
Bila di didihkan endapan kehilangan air dan menjadi putih kekuningan :
Bi (OH)3↓ → BiO.OH + H2O
d) Kalium iodida bila ditambahkan tetes demi tetes : endapan hitam bismut(III) iodida :
Bi3+ + I- → BiI3↓
Endapan mudah melarut dalam reagensia berlebihan, pada mana terbentuk ion
tetraiodobismutatyang berwarna jingga:
BiI3↓ + I- ↔ [BiI4]-
e) Kalium sianida (racun) : endapan putih bismut hidroksida. Reaksi ini adalah suatu
hidrolisis:
Bi3++ 3H2O + 3CN -→ Bi(OH)3↓ + 3HCN↑
Endapan tak larut dalam reagensia berlebih (perbedaan dari ion kadmium).
f) Natrium tetrahidroksostanat(II) (0,125 M, yang baru saja dibuat) : dalam larutan
dingin ia mereduksi ion bismut(III) menjadi logam bismut yang memisahkan dalam
bentuk endapa hitam. Mula-mula natrium hidroksida yang ada dalam reagensi,
bereaksi dengan ion bismut(III) (a), lalu bismut(III) hidroksida ini direduksi oleh ion
tetrahidroksostanat(II), pada mana terbentuk logam bismut dan ion
heksahidroksostanat :
Bi3+ + 3OH- → Bi (OH)3↓ (a)
2Bi (OH)3↓ + 3[Sn(OH)4]2- → 2Bi ↓ + 3[Sn(OH)6]2- (b)
g) Air ; bila suatu larutan garam bismut didalam kedalam air yang banyak, akan
dihasilkan suatu endapan putih garam basa yang bersangkutan, yang larut dalam asam
mineral encer, tetapi tidak larut dalam asam tartarat (perbedaan dari stibium) dan
dalam hidroksida alkali (perbedaan dari timah).
Bi3++ NO3- + H2O → BiO(NO)3↓ + 2H+
Bi3++ Cl- + H2O → BiO.Cl ↓ + 2H+
h) Dinatrium hidrogen fosfat : endapan kristalin putih bismut fosfat :
Bi3+ + HPO42- → BiPO4 ↓ + H+

15
i) Reagensia pirogalol (10% yang baru saja dibuat), bila ditambahkan dengan sedikit
berlebihan kepada larutan ion bismut yang sedikit asam dan panas : endapan kuning
bismut pirogalat :
Bi + C6H3(OH)3 → Bi(C6H3O3) ↓ +3H+
j) Regensia sinkonina kalium iodida (1%) : pewarnaan atau endapan merah jingga
dalam larutan asam encer (cinchonine).
k) Tiourea (10%) : kompleks dengan ion bismut(III) yang berwarna kuning kuat dengan
adanya asam nitrat encer. Uji ini boleh dilakukan diatas kertas reaksi tetes, diatas
lempeng bercak atau dalam tabung uji mikro.
l) 8-hidroksikuinolina (5%) dan kalium iodida (6M) dalam suasana asam : endapan
merah 8-hidroksikuinilina-tetraiodobismutat
Bi3+ + C9H7ON + H+ + 4I- → C9H7ON.HbiI4 ↓
Jika ion halida lain tak ada maka reaksi ini adalah khas untuk bismut.
m) Uji kering (uji pipa tiup) bila suatu senyawa bismut dipanaskan diatas arang dengan
natrium karbonat dalam nyala pipa tiup, kita memperoleh sebutir manik yang getas,
yang dikelilingi oleh kerak kuning oksidanya.

2.3.3 Tembaga, Cu (Ar : 63,54)


Tembaga adalah logam merah-muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat. Ia melebur
pada 1038oC. Karena potensial elektrode standarnya positif, (+0,34 V untuk pasangan
Cu/Cu2+), ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya
oksigen ia bisa larut sedikit. Asam sitrat yang sedang pekatnya (8M) dengan mudah
melarutkan tembaga :
3Cu + 8HNO3 → 3Cu2+ + 6NO3- + 2NO↑ + 4H2O
Asam sulfat pekta panas juga melarutkan tembaga :
Cu + 2H2SO4 → Cu2+ + SO42- + SO2↑ + 2H2O
Tembaga mudah pula larut dalam air raja :
3Cu + 6HCl + 2HNO3 → 3Cu2+ + 6Cl- + 2NO↑ + 4H2O
Reaksi-reaksi ion tembaga(II) dapat dipelajari dengan memakai larutan tembaga(II)
sulfat :
a) Hidrogen sulfida (gas atau larutan air jenuh) : endapan hitam tembaga(II) sulfida :
Cu2+ + H2S → CuS↓ + 2H+
b) Larutan amonia bila ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit : endapan biru
suatu garam basa ( tembaga sulfat basa) :

16
2Cu2++ SO4- + 2NH3 +2H2O → Cu (OH)2CuSO4↓ + 2NH4+
c) Natrium hidroksida dalam larutan dingin : endapan biru tembaga(II) hidroksida:
Cu2++ 2OH- → Cu (OH)2↓
Endapan tak larut dalam reagensia berlebihan. Bila dipanaskan, endapan diubah
menjadi tembaga(II) oksida hitam oleh dehidratasi :
Cu(OH)2↓ → CuO ↓ + H2O
d) Kalium iodida : mengendap tembaga(I) iodida yang putih, tetapi larutannya berwarna
coklat tua karena terbentuknya ion-ion triodida(iod) :
2Cu2+ + 5I- → 2CuI↓ + I3-
e) Kalium sianida (racun) : bila ditambahkan dengan sedikit sekali mula-mula terbentuk
endapan kuning tembaga(II) sianida :
Cu2 + CN -→ Cu(CN)2↓
f) Kalium heksasianoferat(II) : endapan coklat kemerahan, yaitu tembaga
heksasianoferat(II) dalam suasana netral atau asam :
2Cu2+ + [Fe(CN)6]4- → Cu2[Fe(CN)6] ↓
g) Kalium tiosianat : endapan hitam tembaga (II) tiosianat:
Cu2 + 2SCN- → Cu(SCN)2 ↓
h) Besi : jika sepotong paku besi yang bersih atau mata pisau lipat dicelup dalam larutan
suatu garam tembaga, kita peroleh endapan yang merah dari tembaga padanya:
Cu2 + Fe → Fe2+ + Cu
i) ∝ − benzoinoksima (atau kupron) (5% dlam alkohol)
(C6H5.CHOH.C(=NOH). C6H5) : membentuk endapan hijau, tembaga(II)
benzoinoksima Cu(C14H11O2N), yang tak larut dalam amonia encer.
j) Salisilaldoksima (1%)
Membentuk endapan kuning kehijauan tembaga salisilaldoksima Cu(C7H6O2N)2
dalam larutan asam asetat, yang larut dalam asam asetat, yang larut dalam asam
mineral.
k) Asam rubeanat (atau ditio-oksamida) (0,5)
Endapan hitam, tembaga rubeanat Cu[C(=NH)S]2 dari larutan amoniakal atau yang
sedikit asam. Endapan terbentuk meskipu ada alkali tartrat, tetapi tidak dalam larutan
alkali sianida. Hanya ion-ion nikel dan kobalt bereaksi pada kondis-kondisi yang
serupa, dengan menghasilkan masing-masing endapan-endapan biru dan coklat.
l) Amonium tetratiosianatomerkurat(II)
{(NH4)2[Hg(SCN)4]} :

17
Endapan kristal berwarna lembayung tua dengan adanya ion zink atau kadmium.
m) Uji katalitik : garam besi(III) bereaksi dengan tiosulfat menurut persamaan-
persamaan:
Fe3+ + 2S2O32- → [Fe(S2O3)2]- (a)
[Fe(S2O3)2]- + Fe3+ → 2Fe2+ + S2O32- (b)
Reaksi (a) cukup cepat ; reaksi (b) lambat, tetapi sangat dipercept oleh runutan
tembaga.
n) Uji kering
 Uji pipa tiup : bila senyawa tembaga dipanaskan dengan karbonat alkali diatas
arang, logam tembaga yang merah diperoleh, tetapi tak terlihat oksida.
 Manik boraks : hijau selagi panas, dan biru ketika deingin sehabis dipanaskan
dalam nyala oksidasi ; merah dalam nyala reduksi, yang diperoleh paling baik
dengan menambahkan runutan timah.
 Uji nyala : hijau, terutama pada kehadiran halida, misalnya dengan
membasahkan dengan asam klorida pekat sebelum dipanaskan.

2.3.4 Kadmium, Cd (Ar : 112,40)


Kadmium adalah logam putih keperakan yang dapat ditempa dan liat. Ia melebur pada
321oC. Ia melarut dengan lambat dalam asam encer dengan melepaskan hidrogen (disebabkan
potensial elektrodenya yang negatif) :
Cd + 2H+ → Cd2+ + H2 ↑
Kadmium membentuk ion bivalen yang tidak berwarna, kadmium klorida, nitrat dan sulfat
larut dalam air, sulfidanya tak larut dan berwarna kuning khas. Reaksi ion kadmium(II) dapat
dipelajari paling mudah dengan larutan kadmium sulfat 0,25 :
a) Hidrogen sulfida (gas atau larutan air jenuh) : endapan kuning kadmium sulfida :
Cd2+ + H2S → CdS↓ + 2H+
b) Larutan amonia bila ditambahkan tetes demi tetes : endapan putih kadmium(II)
hidroksida :
Cd2++ 2NH3 +2H2O ↔ Cd( OH)2↓ + 2NH4+
c) Natrium hidroksida : endapan putih kadmium(II) hidroksida :
Cd2++ 2OH- ↔ Cd (OH)2↓
d) Kalium sianida (racun) : endapan putih kadmium sianida, bila ditambahkan perlahan-
lahan kepada larutan :

18
Cd2++ 2 CN -→ Cd(CN)2↓
e) Kalium tiosianat : tak membentuk endapan (perbedaan dari tembaga)
f) Kalium iodida : tak membentuk endapan (perbedaan dari tembaga)
g) Dinitro-p-difenil karbazida (0,1%)
Membentuk produk yang berwarna coklat dengan kadmium hidroksida yang berubah
menjadi biru kehijauan dengan formaldehida.
h) 4-nitronaftalena-diazoamino-azo-benzena (‘cadion 2B’) (0,02%) :
Kadmium hidroksida membentuk warna merah dengan dengan reagensia yang kontras
dengan rona biru reagensia.
i) Uji kering
 Uji pipa tiup : semua senyawa kadmium bila dipanaskan dengan alkali
karbonat diatas arang, menghasilkan kerak berwarna coklat kadmium oksida
CdO.
 Uji pipa : garam kadmium direduksi oleh natrium oksalat menjadi unsur
kadmium, yang biasanya diperoleh sebagai cermin logam, dikelilingi oleh
sedikit kadmium oksida coklat. Pada pemanasan dengan belerang, logam itu
berubah menjadi kadmium sulfida kuning.

2.3.5 Arsenik, As (Ar : 74,92)-Arsenik(III)


Arsenik adalah zat padat berwarna abu-abu seperti baja, getas, dan memiliki kilap
logam. Jika dipanaskan arsenik bersublimasi dan timbul bau seperti bawang putih yang khas
ketika di panaskan dalam aliran udara yang bebas, arsenik terbakar dengan nyala biru,
menghasilkan asap putih arsenik(III) oksida (As4O6). Semua senyawa arsenik beracun. Unsur
ini tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer tetapi larut dengan mudah dalam asam
nitrat encer, menghasilkan ion arsenit.
Reaksi-reaksi ion arsenik(III) ; Larutan arsenik(III) oksida (As2O3 0,1M) atau natrium
arsenit (Na3AsO3) dapat dipakai untuk eksperimen ini. Arsenik(III) Oksida tak larut dalam air
dingin, tetapi dengan mendidihkan campuran selama 30 menit akan larut dengan
sempurna.campuran dapat di dinginkan tanpa bahaya akan mengendapnya oksida.
a) Hidrogen sulfida : endapan kuning arsenik(III) sulfida :
2As3+ + 3H2S → As2O3↓ + 6H+
b) Perak nitrat : endapan kuning perak arsenit dalam larutan netral (perbedaan dari
arsenat) :

19
AsO33- + 3Ag+→ AsO33- + Ag2AsO3↓
c) Campuran magnesia ( larutan yang mengandung MgCl2, NH4Cl dan sedikit NH3) : tak
ada endapan (perbedaan dari arsenat).
d) Larutan tembaga sulfat : endapan hijau tembaga arsenik, yang dirumuskan berbeda-
beda sebagai CuHAsO3 dan Cu3(AsO3)2.xH2O, dari larutan netral. Endapan larut
dalam asam dan juga dalam larutan amonia dengan membentuk larutan biru. Endapan
juga melarut dalam larutan natrium hidroksida; ketika di didihkan, tembaga(I) oksida
mengendap.
e) Kalium tri-iodida (larutan iod dalam kalium iodida) : mengoksidasi ion arsenit ambil
kehilngan warna :
AsO33- + I3- + H2O → AsO43- +3 I- + 2H+
f) Larutan timah(II) klorida dan asam klorida pekat. Beberapa tetes laruta arsenit
ditambahkan pada 2 ml sam klorida pekat dan 0,5 ml larutan timah(II) klorida jenuh,
dan larutan dipanaskan perlahan-lahan; larutan menjadi coklat tua dan akhirnya hitam
disebabkan oleh memisahnya arsenik unsur :
2As3+ + 3Sn2+ → 2As↓ + 3Sn4+

2.3.6 Arsenik, As (Ar : 74,92)-Arsenik (V)


Reaksi-reaksi ion arsenat ; larutan dinatrium hidrogen arsenat Na2H AsO4.7H2 0,1M
dapat dipakai untuk mempelajari reaksi-reaksi ini. Larutan harus mengandung sedikit asam
klorida encer.
a) Hidrogen sulfida : tak terjadi endapan segera dengan adanya asam klorida encer. Jik
aliran gas diteruskan, campuran arsenik(III) sulfida (As2S3) dan belerang mengendap
dengan lambat. Pengendapan akan lebih cepat dalam larutan panas.
AsO43-+ H2S → AsO33- + S↓+ H2O
2AsO33- + 3H2S + 6H+ → As2S3 ↓ + 6H2O
b) Larutan perak nitrat : endapan merah kecoklatan, Perak arsenat (Ag3AsO4) dari
larutan netral (perbedaan dari arsenit dan fosfat, yang menghasilkan endapan-endapan
kuning). Endapan larut dalam asam dan dalam larutan amonia, tetapi tidak larut dalam
asam asetat :
AsO43-+ 3Ag2+ → Ag3AsO4↓
c) Campuran magnesia : endapan kristalin putih magnesium amonium arsenat dari
larutan netral atau amoniakal (perbedaan dari arseit) :
AsO43-+ 3Mg2+ + NH4 +→ MgNH4AsO4↓

20
d) Larutan amonium molibdat : bila reagensia ini dan asam nitrat ditambahkan dengan
sangat berlebihan kepada larutan suatu arsenat, akan diperoleh endapan kristalin
berwarna kuning :
AsO43-+ 12MoO42- + 3NH4+ + 2H+ → (NH4)As Mo12O40↓ + 12H2O
e) Larutan kalium iodida : jika ada serta asam klorida pekat, iod akan diendapkan
dengan mengocok campuran dengan 1-2 ml kloroform atau karbon tetraklorida zat
yang terakhir ini akan diwarnai ungu oleh iod. Reaksi ini dapat dipakai untuk
mendeteksi arsenat dengan adanya arsenit ; zat-zat pengoksid tidak boleh ada.
AsO43- +2H+ + 2I- ↔ + H2O → AsO33- + I2↓ + H2O
f) Larutan uranil asetat : endapan seperti gelatin berwarna kuning muda.

2.3.7 Uji-uji khusus untuk uji arsenik yang berjumlah sedikit.


Uji-uji ini dapat dipakai untuk semua senyawa arsenik, dan memegang peranan
penting dalam analisis forensik.
a) Uji Marsh : uji yang harus dilakukan dalam kamar asam. Didasarkan pada fakta
bahwa semua senyawa arsenik yang larut akan direduksi oleh hidrogen yang baru
terbentuk dalam larutan asam menjadi arsina(AsH3) suatu gas yang tak berwarna,
yang sangat beracun dengan bau seperti bawang putih. Jika gas ini bercampur denga
hidrogen, dialirkan melalui tabung gelas yang dipanaskan ia terurai menjadi hidrogen
dan logam arsenik, yang membentuk deposit seperti cermin yang hitam kecoklatan,
sedikit dibelakang bagian tabung yang dipanaskan.
b) Uji Gutzeit : ini pada dasarnya adalah suatu modifikasi dari uji Marsh, dimana
perbedaan utamanya adalah bahwa hanya satu tabung reaksi yang diperlukan, dan
arsina dideteksi dengan perak nitrat atau merkurium(II) klorida.
c) Uji Fleitmann : uji ini berdasarkan fakta bahwa hidrogen yang baru saja dihasilkan
dari dalam larutan basa, misalnya dari aluminium atau zink dengan larutan natrium
hidroksida, mereduksi senyawa-senyawa arsenik(III) menjadi arsina, tetapi tak
mempengaruhi senyawa-senyawa stibium.
d) Uji Reinsch : jika sepotong pita atau lembaran tipis tembaga yang cemerlang di
didihkan dengan larutan suatu senyawa arsenik(III) yang diasamkan dengan asam
klorida pekat paling sedikit sepersepuluh dari volume larutan, arsenik akan
diendapkan diatas tembaga sebagai selaput abu-abu tembaga arsenida. Stibium,
merkurium, perak dan logam-logam lain juga diendapkan pada kodisi-kondisi yang
serupa.

21
e) Uji kering
 Uji pipa tiup : senyawa-senywa arsenik bila dipanaskan diatas arang dengan
natrium karbonat, memberi kerak putih arsenik(III) oksida, dn timbul bau
seperti bawang putih ketika panas.
 Bila dipanaskan dengan kalium sianida berlebihan dan natrium karbonat tak
berhidrat dalam sebuh tabung bola yang kering , dihasilkan cermin hitam
arsenik pada bagin tabung yang lebih dingin, yang larut dalam larutan natrium
hipoklorid.

2.3.8 Stibium, Sb (Ar : 121,75)-stibium(III)


Stibium adalah logam putih keperakan yang mengkilap, dan melebur pada 630oC.
Stibium tak larut dalam asam klorida dan dalam asam sulfat encer. Dalam asam sulfat pekat
dan panasia melarut perlahan-lahan dengan membentuk ion stibium(III) :
2Sb + 3H2SO4 + 6H+ → 2Sb3+ + 3SO2 ↑ + 6H2O
Reaksi-reaksi ion stibium(III) ; larutan 0,2M stibium(III) klorida dapat dipakai untuk
mempelajari reaksi-reaksi ini :
a) Hidrogen sulfida : endapan merah jingga stibium trisulfida, dari larutan-larutan yang
tak terlalu asam.
2Sb3+ + 3H2S → Sb2S3 + 6H+
b) Air ; bila larutan dituangkan kedalam air , terbentuk endapan putih antimonil klorida,
yang larut dalam asam klorida dan dalam larutan tartrat. Dengan air yang berlebihan
dihasilkan oksida terhidrasi Sb2O3.xH2O.
c) Larutan natrium hidroksida atau amonia : endapan putih stibium(III) oksida terhidrasi
Sb2O3.xH2O yang larut dalam laruta basa alkali yang pekat (5M) membentuk
antimonit :
2Sb3++6OH- → Sb2O3↓ + 3H2O
Sb2O3↓ + 2OH-→ 2SbO2-↓ + H2O
d) Zink : dihasilkan endapan hitam yaitu stibium.
2Sb3+ + 3Zn ↓→ 2Sb↓ + 3Zn2+
e) Kawat besi : endapan hitam stibium.
Sb3+ + 3Fe → 2Sb↓ + 3Fe2+
f) Larutan kalium iodida : warna jadi merah karena pembentukan garam komplek
Sb3+ + 6I- → [SbI6]3-

22
g) Reagensia rodamina –B (atau tetraetilrodamina)
Pewarnaan lembayung atau biru dengan stibium kuinkuevalen (bervalensi 5).
h) Reagensia asam fosfomolibdat
‘Biru molibdenum’ dihasilkan oleh garam-garam stibium (III).

2.3.9 Stibium, Sb (Ar : 121,75)-Stibium (V)


Reaksi-reaksi ion stibium(V); ion stibium (V) diturunkan dari oksida amfoter Sb2O3,
dalam asam, oksida ini melarut dengan membentuk kation stibium(V), Sb5+ :
Sb2O5 + 10H+ ↔ 2Sb5+ + 5H2O
a) Hidrogen sulfida : endapan merah jingga stibium pentasulfida, dalam larutan yang
sedang asamnya.
2Sb5+ + 5H2S → Sb2S5↓ + 10H+
b) Air : endapan putih garam-garam basa dengan komposisi yang bermacam-macam;
pda akhirnya akan membentuk asam antimonat :
2Sb5+ + 4H2O → H3SbO4↓ + 5H+
c) Larutan kalium iodida : dalam larutan yang bersifat asam iod memisah :
Sb5+ + 2I- → Sb3+ + I2
d) Zink atau timah: endapan hitam stibium dengan adanya asm klorida :
2Sb5+ + 5Zn ↓→ 2Sb↓ + 5Zn2+
2Sb5+ + 5Sn ↓→ 2Sb↓ + 5Sn2+
e) Reaksi rodamida-B

2.3.10 Uji-uji khusus untuk stibium yang berjumlah sedikit


a) Uji Marsh : uji ini dijalankan tepat seperti yag diuraikan untuk arsenik.
b) Uji Gutzeit : dihasilkan noda coklat yang larut dalam alkohol 80%, asalkan
konsentrasi stibium dari larutan itu tidk terlalu tinggi.
c) Uji-uji Fleitmann atau bettendorff : hasil negatif akan diperoleh bila uji-uji ini dipakai
untuk senyawa-senyawa stibium (perbedaan dari arsenik).
d) Uji Reinsch : endapan abu-abu sampai hitam terbentuk diatas tembaga.
e) Uji kering (uji pipa tiup)

23
2.3.11 Timah, Sn ( Ar : 118,69)-Timaha(II)
Timah adalah logam putih perak yang dapat ditempa dan liat pada suhu biasa, tetapi
pada suhu rendah menjadi getas karena berubah menjadi suatu modifikasi alotropi yang
berlainan. Ia meleleh pada 231,8oC. Logam ini melarut dengan lmbat dalam asam klorida
encer dan asam sulfat encer, dengan membentuk garam-garam timah(II) (stano) :
Sn + 2H+ → Sn2+ + H2 ↑
Reaksi-reaksi ion timah(II) : laruta timah(II) klorida , SnCl2.2H2O 0,25 M dipakai
untuk memepelajari reaksi-reaksi ini. Lartan harus mengandung sedikitnya 4% asam klorida
bebas (100ml HCl pekat perliter) :
a) Dengan Hidrogen sulfida (gas/ larutan jenuh) terbentuk endapan coklat timah (II)
sulfida:
Sn2+ + H2S → SnS↓ + 2H+
b) Dengan natrium hidroksida terbentuk endapan putih timah (II) hidroksida yang larut
dalam alkali berlebihan.

Sn2++2OH- → Sn(OH)2↓

Sn(OH)2↓ +2OH- → Sn(OH)42-↓

c) Dengan larutan merkurium (II) klorida terbentuk endapan putih merkurium (I)
klorida, jika sejumlah besar reagensia di tambahkan dengan cepat :
Sn2+ + Hg2Cl2 → Hg2Cl2↓ + Sn4+ + 2Cl-
d) Dengan larutan bismut nitrat dan natrium hidroksida terbentuk endapan hitam logam
bismut.
e) Zink logam : timah yang mirip karet busa mengendap dan melekat pada zink.
f) Uji dimetilglioksima-besi(III) klorida : tidak dihasilkan pewarnaan bila ion besi(III)
dicmpur dengan reagensia dimetilglioksima dan sedikit larutan amonia, tetapi jika ada
sedikit ssaja runutan besi (II) yang dihasilkan oleh reduksi dengan ion timah(II),
terjadi warna merah tua, yang ditimbulkan oleh kompleks besi(II) dimetilglioksima.
g) Reagensia kakotelina : pewarnaan lembayung dengan garam-garam stano.
h) Reagensia hijau diazina (zat warna yang terbentuk oleh reaksi kopling antara sfranina
terazotisasi degan dimetilanilina) : timah(II) klorida mereduksi hijau diazina yang
berwarna biru menjadi safranina yang berwarna merah.
i) Reagensia 4-metil-1,2- dimerkaptobenzea (ditiol) : endapan merah bila dipanskan
dengan garam-garam timah(II) dalam larutan asam.

24
2.3.12 Timah, Sn (Ar : 118,69)-Timah(IV)
Reaksi-reaksi ion timah(IV): untuk mempelajari reaksi ini pakailah larutan 0,25 M
amonium heksaklorostanat(IV), dengan melarutkan 92 gr (NH4)2[SnCl6] dalam 250 ml asam
klorida pekat dan mengencerkan larutan menjadi 1 liter dengan air.
a) Dengan Hidrogen sulfida (gas/larutan jenuh) terbentuk endapan kuning timah (IV)
sulfida. Endapan larut dalam asam klorida pekat.
Sn4+ + 2H2S → SnS2↓ + 4H+
b) Dengan natrium hidroksida terbentuk endapan putih seperti gelatin yaitu timah (IV)
hidroksida.
Sn4++2OH- → Sn(OH)4↓
Sn(OH)42-↓+2OH-→Sn(OH)62↓
c) Dengan larutan merkurium (II) klorida tidak terbentuk endapan.
d) Dengan logam besi terjadi reduksi ion timah (IV) menjadi timah(II).
Sn4++ Fe → Fe2+ + Sn2+

25
BAB III

KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

1. Kation golongan I dapat membentuk garam klorida jika direaksikan dengan Cl-.
Senyawa yang terbentuk berupa AgCl, Hg2Cl2, dan PbCl2. PbCl2 dapat dipisahkan
dari senyawa klorida Hg dan Ag dengan cara memanaskan campuran garam klorida
sampai mendidih kemudian disaring. Pb2+ akan terlarut karena kation Pb2+ mudah
larut dalam air panas dan asam klorida pekat.

2. Kation golongan IIA tidak bereaksi dengan asam klorida tetapi membentuk endapan
dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer sehingga sering disebut
golongan tembaga-timah. Ion-ion golongan ini adalah raksa(II), tembaga, bismut,
cadmium, arsen(III), arsen(V), stibium(III), stibium(V), timah(II), dan timah(IV).
Kation golongan II dibagi menjadi dua bagian sub golongan, yaitu sub golongan
tembaga dan sub golongan arsenik. Dasar pembagian ini adalah kelarutan endapan
sulfida dalam ammonium polysulfida.

3.2 Saran

Demikian makalah ini kami buat, tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan.
Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun bagi para
pembacanya dan terutama bagi kami pribadi sebagai kesempurnaan makalah ini. Dan semoga
makalah ini bisa menjadi acuan untuk meningkatkan makalah- makalah selanjutnya dan
bermanfaat bagi para pembaca dan khususnya kelompok kami.

26
DAFTAR PUSTAKA

Svehla, G. (Setiono & Pudjaatmaka, alih bahasa). 1985. Vogel Analsis Anorganik Kualitatif
Makro dan Semimikro, Edisi 5 Bagian I dan Bagian II. Jakarta: Kalman Media Pusaka
http://wanibesak.files.com/2011/06/analisis-kation-dan-anion.pdf
https://docs.google.com/file/d/0B_7lFpil7ZYOZWRBdy1RMEZwdFU/edit?pli=1

27