Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Manajemen Keperawatan


1. Pengertian Manajemen
a. Manajemen Keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan integrasi
sumber-sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk
mencapai tujuan dan objektifitas asuhan keperrawatan dan pelayanan
keperawatan. Manajemen keperawatan dapat didefinisikan sebagai suatu proses
dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengawasan untuk mencapai
tujuan ( Marquis & Huston, 2010 ).
b. Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf
keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional
( Nursalam,2011 ).

2. Fungsi- fungsi Manajemen


Secara ringkas fungsi manajemen adalah sebagai berikut adalah :
a. Perencanaan ( Planing)
Perencanaan adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan
organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkain kegiatan untuk
mencapainya, melalui perencanaan yang akan dapat ditetapkan tugas-tugas staf.
Dengan tugas ini seorang pemimpin akan mempunyai pedoman untuk melakukan
supervisi dan evaluasi serta menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf
dalam menjalankan tugas-tugasnya.
b. Pengorganisasian ( Organizing)
Pengorganisasian adalah rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun
semua sumber data yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara
aefisien untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Actuating ( directing, comanding,coordinating )
Penggerakan adalah proses memberikan bimbingan kepada staf agar mereka
mampu bekerja secara optimal dan melakukan tugas-tugasnya sesuai dengan
keterampilan yang mereka mililki dan dukungan sumber daya yang tersedia.

7
d. Pengendalian/ pengawasan (controling)
Pengendalian adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan
rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi terhadap
penyimpangan yang terjadi. Merupakan fungsi pengawasan agar tujuan dapat
tercapai sesuai dengan rencana, apakah orang-orangnya, cara dan waktunya tepat.
Pengendalian juga berfungsi agar kesalahan dapat segera diperbaiki.
e. Penilaian (evaluasi)
Merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil-hasil pekrjaan yang
seharusnya dicapai. Hakikat penilaian merupakan fase tertentu setelah selesai
kegiatan, sebelum, sebagai korektif dan pengobatan ditujukan pada fungsi
oraganik administrasi dan manajemen.

3. Proses Manajemen
Proses manajemen keperawatan sesuai dengan peningjatan sistem terbuka dimana
masing-masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan dipengaruhi oleh
lingkungan. Karena merupakan suatu sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu
input, proses, output, kontrol dan mekanisme umpan balik.
a. Input
Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personel,
peralatan dan fasilitas.
b. Proses
Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok manajer dari tingkat
pengelola keperawatan teringgi sampai keperawat pelaksana yang mempunyai
tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan. Untuk
melaksanakan proses manajemen diperlukan keterampilan klinik, keterampilan
hubungan antar manusia dan keterampilan konseptual.
c. Output
Adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset
d. Kontrol
Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget
dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang
standar dan akreditasi.

8
e. Mekanisme Timbal Balik
Berupa laporan finansial, audit keperawatan, survey kendali mutu dan
penampilan kerja perawat. Berdasarkan prinsip-prinsip diatas maka para manajer
dan administrator seyogyanya bekerja bersama-sama dalam perencanaan dan
pengorganisasian serta fungsi-fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya (Swanburg, 2005 ).

B. Konsep Kepemimpinan
Defenisi kepemimpinan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengertian Kepemimpinan
a. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas seseoarang atau
sekelompok orang yang mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan
dalam situasi tertentu (Georgi R. Terry, 2002 ).
b. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan
setuju dengan apa yang harus mereka kerjakan dan bagaimana mengerjakan tugas
tersebut bsecara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan
kelompok dslam mencapai tujuan bersama (Yulk Dalam Sunyoto, 2011 ).
c. Kepemimpinan adalah proses dimana seseorang pemimpin mempengaruhi
individu atau anggota kelompik untuk mencapai tujuan (Genberg & Baron dalam
Sunyoto, 2011 ).
Sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan harus memiliki pemngetahuan,
kesadaran diri, kemampuan berkomunikasi yang efektif dan tujuan yang jelas
serta menjadi role mode dalam implementasi tugas dn tanggung jawab pekerjaan
dengan kemampuan kerjasama dengan orang lain serta bawahan.
Selain itu seorang pemimpin yang efektif harus memiliki kualitas diri dan kualitas
perilaku sebagai berikut : Integritas, berani mengambil resiko, inisiatif , energi,
seimbang, kemampuan menhadapi stress, dan menyelesaikan masalah ( Wargana,
2010 ).

2. Teori Kepemimpinan Dan Gaya Kepemimpinan ( Robbins & Coulterr dalam Anwar
Kurniadi, 2013 ).
Beberapa ahli memeliti bahwa tidak ada teori bagaimana menjadi seorang pemimpin
yang paling baik dan jenis apa yang paling efektif ( Tappen 1999 : dikutip Anwar

9
Kuryadi, 2013 ). Tetapi seorang pemimpin perawat akan terlihat berbeda dari sisi
kualitas dan perilakunya anatar lain :
a. Trait Approach, yaitu paham teori bakat kepemimpinan, pemimpin yang
dilahirkan memiliki mbakat-bakat tertentu
b. Situational Teori, yaitu kepemimpinan berhubungan dengan situasi sosial.
Individu dapat menjadi seorang pemimpin dalam situasi tertentu tetapi pada
situasi lain dapat menjadi pengikut.
c. Transformational Leadership, perilaku seorangb pemimpin terhadap lingkungan
pekerjaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang untuk memimpin
orang lain.

3. Tipologi Kepemimpinan
Menurut Siagian 2012, dalam praktiknya dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut
berkembang tipe kepemimpinan diantaranya sebagai berikut :
a. Tipe Otokratis
Seoarang pemimpin yang otokratis adalah pemimpin yang memiliki kriteria atau
ciri sebagai berikut : mengaggap oraganisasi sebagai milik pribadi,
mengganggap bahwahan sebagai alat semata-mata, tidak mau menerima kritik,
terlalu tergantung terhadap kekuasaan formalnya.
b. Tipe Mileteritis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu tipe militerisme berbeda dengan seorang
pemimpin organisasi militer yang memiliki sifat dalam gerakan bawahan sistem
perintah yang sering lebih digunakan, dala gerakan bawahan senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya, suakr menberima kritikan dari bawahannya
menggemari upacara-upacara dalam berbagai keadaan.
c. Tipe Paternalitis
Seorang pemimpin dengan tipe ini memiliki ciri mengganggap bahwa hanya
manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi, cara memberikan
kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif.
d. Tipe Karismatik
Seorang pemimpin yang yang tergolong sebagai pemimpin yang kharismatik
umumnya pemimpin mempunyai dya tarik yang lebih esar dan mempunyai
pengikut yang jumlahnya sangat besar tetapi pada dasarnya pengikut sering
tidak dapat menejlaskan alasan mengikuti pemimpin tersebut.

10
e. Tipe Demokratis
Pengetahuan tentang kepemimpinan dlam membuktikan tipe pemimpin yang
demokratislah yang paling tepat untuk organisasi moderen. Hal ini terjadi
karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut: dalam
proses pemggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia
itu adalah mahkluk yang termulia didunia; selalu berusaha mensinkronisasikan
kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi
daripada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari
bawahannya ; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam
usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya
kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar
bawahannya itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani
untuk berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan
bawahannya lebih suskes dari padanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas
diri pribadinya sebagai pemimpin.

C. Model Asuhan Keperawatan Profesional


Menurut Grant dan Massey (1997) serta marquis dan Huston (1998) dalam Suarli
(2009), terdapat lima model asuhan keperawatan profesional (MAKP)yang sudah ada dan
akan terus dikembangkan di masa depan, dalam menghadapi tren pelayanan
keperawatan :
1. Fungsional
Model fungsional diaksanakan oleh perawat dalam pengelolahan asuhan keperawata.
Hal itu dilakukan sebagai pilihan utama sejak perang dunia kedua. Waktu itu, karena
masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya
melakukan satu samapi dua jenis intervensi keperawatan ( misalnya , merawat luka)
kepeda semua pasien di bangsal.
Sistim ini secara umum mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
a. Kelebihan :
1) menerapkan menejemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas
yang jelas, pengawasan yang baik.
2) Perawat senior menyibukan diri dengan tugas manajerial, sedangkan
perawatan pasien diserakan kepada perawat junior dan / perawat yang belum
berpengalama.

11
3) Sangat cocok untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga
b. Kelemahan:
1) tidak memberikan kepuasan maupun perawat
2) pelayanan keperawatan terpisah – pisah, tidak dapat menerapkan proses
keperawatan.
3) Persepsi perawat cenderung kepada tindakanya berkaitan dengan ketrampilan
saja.

2. Keperawatan Tim
Model ini menggunkan tim yang terdiri atas anggota yang berbeda – beda,dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menjadi 2-3 tim / grup yang terdiri atas tenaga profesional, tenaga tteknis, dan
pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu.
Sistem ini mepunyai kelenihan dan kekurangan sbb:
a. Kelebihan :
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
2) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
3) Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah diatasi dan
meberi kepuasan kepada anggota tim
b. Kelemahan:
Komunikasi antaranggota tim terbentuk terutama dalam bentuk konferensi tim,
yang biasanya membutuhkan waktu karna sulit untuk melaksanakannya pada
waktu – waktu sibuk.
c. Konsep keperawatan tim
Secara garis besar, konsep keperawatan tim ini terdiri atas beberapa poin yang
harus dilaksanakan yaitu:
1) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan
beberapa teknik kepemimpinan
2) Komunikasi yang efektif sangat penting, agar kontinitas rencana
keperawatan terjamin
3) Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim
4) Peran kepala ruangan dalam metode ini sangat penting artinya metode tim
ini akan berhasil dengan baik hanya bila didukung oleh kepala ruangan
5) Tanggung jawab anggota tim

12
a) Memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang berada dibawah
tanggung jawabnya
b) Bekerja sama dengan anggota tim dan antar tim
c) Memberikan laporan
6) Tanggung jawab ketua tim
a) Membuat perencanaan
b) Membuat penugasan, supervisi,dan evaluasi.
c) Mengenal / mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat
kebutuhan pasien
d) Mengembangan kemampuan anggota
e) Menyelenggarakan konferensi
7) Tanggung jawab kepala ruangan
Secara garis besar tanggung jawab kepala ruangan terbagi menjadi 4 yaitu:
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.

3. Keperawatan Primer
Keperawatan primer adalah metode penugasan dimana satu orang perawat
bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperwawatan pasien. Hal
ini dilakukan mulai dari pasien masuk sampai keluar rumah sakit. Keperawatan
primer mendorong praktrik kemandirian perawat, karena ada kejelasan antara si
pembuat rencana asuhan dan pelaksanaan. Metode primer ini ditandai dengan adanya
keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan , melakukan, dan mengoordinasi asuhan keperawatan selama pasien
dirawat. Secara garis besar, sistem primer memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai
berikut:
a. Kelebihan :
1) Bersifat kotinu dan konferhensif.
2) Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil dan
memungkinkan pengembangan diri
3) Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter, dan rumah sakit
( giliies1989)
4) Selain itu, kelebihan dirasakan adalah pasien merasa dihargai terpenuhi
kebutuhanya secara individu. Selain itu, asuhan yang diberikan bermutu tinggi

13
dan akan tercapai pelayanan yang efektif terhadap pengobatan proteksi,
informasi, dan advokasi.
5) Dokter juga merasa kepuasan dengan sistem / model primer karena senantiasa
mendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu di perbaharui
dalam kompherensif.
b. Kelemahan :
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan
pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif,self derection, memiliki
kemampuan untuk mengambil keputasan yang tepat menguasai keperawatan
klinik, akuntabel, serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.

4. Metode kasus
Dalam model ini setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluru kebutuhan pasien
saat berdinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap sift dan
tidak ada jaminan bahwa pasie akan di rawat oleh orang yang sama untuk hari
berikutnya. Hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawatan privad atau untuk
perawatan khusus, seperti ruang isolasi dan intensive care. Metode kasus secara
umum mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
a. Kelebihan:
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus
2) Sistem evaluasi dan manejerial menjadi lebih mudah
b. Kekurangan :
1) Perawat penanggung jawab belum dapat teridentifikasi
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dengan kemampuan dasar yang sama

5. Modifikasi : Keperawatan Tim-Primer


Model ini merupakan kombinasi dari dua sitem , yaitu keperawatan tim dan
keperawatan primer. Menurut Ratna S Sudarsono ( 2000) , penetapan model ini
didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut.
a. Metode keperawatan primer tidak digunakan secara murni.karna perawat primer
memerlukan latarbelakang pendidikan S1 keperawatan atau yang setara.
b. Metode keperawatan tim tidak di gunakan secara murni, karna tanggungjawap
asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim

14
c. Melalui kombinasi kedua model tersebut, diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada perawat primer.
Disamping itu karena saat ini sebagian besar perawat yang ada di Rumah Sakit
adalah lulusan SPK, maka mereka akan mendapatkan bimbingan dari perawat
primer / ketua tim tentang asuhan keperawatan

D. Perawatan Kateter Urine


Kateter terbuat dari bahan karet, plastik, metal, atau silikon. Kateterisasi kandung kemih
adalah dimasukkannya kateter melalui uretra (saluran kemih) ke dalam kandung kemih
untuk mengeluarkan air seni atau urine. Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan
selang kateter ke dalam kandung kemih melalui saluran kemih dengan tujuan
mengeluarkan urine (Brunner and Suddart, 2008).
Pengertian perawatan kateter adalah suatu tindakan keperawatan dalam memelihara
kateter, penempatan urine bag yang benar, serta mempertahankan kepatenan kateter.
Tujuan perawatan kateter yaitu :
a. Menjaga kebersihan saluran kencing.
b. Mempertahankan kepatenan kateter.
c. Mempertahankan penempatan urine bag yang benar.
d. Mencegah terjadinya infeksi.
e. Mengendalikan terjadinya infeksi.
Kualitas perawatan kateter didasarkan pada pemberian perawatan kateter yang
dilakukan Kualitas perawatan kateter merupakan tingkat pemberian pelayanan
keperawatan berupa perawatan kateter sesuai standar operasional perawatan kateter
dengan mengacu pada standar pelayanan profesi keperawatan. Perawatan kateter pada
pasien-pasien terpasang kateter dower mutlak dilakukan untuk meminimalkan
dampak yang tidak diinginkan berupa terjadinya infeksi nosokomial saluran kemih.
Jenis tindakan perawatan kateter / DC (Brunner & Suddart, 2008) yaitu :
1. Tindakan mencuci tangan mutlak harus dilakukan ketika beralih dari pasien yang
satu dengan yang lainnya saat memberikan perawatan dan saat sebelum serta
sesudah menangani setiap bagian dari kateter atau sistem drainase untuk
mengurangi penularan infeksi.
2. Perawatan perineum harus sering dilakukan yaitu mencuci daerah perineum
dengan sabun dan air dua kali sehari atau sesuai kebutuhan klien dan setelah

15
defekasi. Sabun dan air efektif mengurangi jumlah mikroorganisme sehingga
dapat mencegah kontaminasi terhadap uretra.
3. Kateter urin harus dicuci dengan sabun dan air paling sedikit dua kali sehari,
gerakan yang membuat kateter bergeser maju mundur harus dihindari untuk
mencegah iritasi pada kandung kemih ataupun orifisium internal uretra yang dapat
menimbulkan jalur masuknya kuman kedalam kandung kemih.
4. Cegah pengumpulan urin dalam selang dengan menghindari berlipat atau
tertekuknya selang, terbentang di atas tempat tidur. Hindarkan memposisikan
klien diatas selang. Monitor adanya bekuan darah atau sedimen yang dapat
menyumbat selang penampung. Urin di dalam kantong drainase merupakan
tempat yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri.
5. Cegah refluks urin kedalam kandung kemih dengan mempertahankan kantung
drainase lebih rendah dari pada ketinggian kandung kemih klien.
6. Urine bag tidak boleh tergeetak di lantai. Urine bag dan selang kateter harus
segera diganti jika terjadi kontaminasi karena aliran urine tersumbat atau tempat
persambungan selang dengan kateter mulai bocor hal ini untuk mencegah
berkembangnya bakteri. Urine bag harus dikosongkan sekurang-kurangnya setiap
delapan jam melalui katup (klem) urine bag.
7. Mengosongkan kantung penampung kedalam takaran urin untuk klien tersebut,
takaran harus dibersihkan dengan teratur agar tidak terjadi kontaminasi pada
sistem drainase.
8. Jangan melepaskan sambungan selang kateter, kecuali bila akan dibilas untuk
mencegah masuknya bakteri.
9. Kateter urine tidak boleh dilepas dari selang untuk mengambil sampel urine,
mengirigasi kateter, memindahkan atau mengubah posisi pasien untuk mencegah
kontaminasi bakteri dari luar.
10. Mengambil urin untuk pemeriksaan lab harus menggunakan teknik aseptik dengan
cara megeluarkan urine dari klem urine bag.
11. Kateter tidak boleh terpasang lebih dari 7 hari.

16
E. Analisis SWOT
1. Pengertian
Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) adalah metode
perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan,
peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Proses ini
melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan
mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam
mencapai tujuan tersebut. Didalam pendekatan ini kita akan mengumpulkan semua
data tentang tenaga keperawatan, adimistrasi dan bagian keuangan yang akan
mepengaruhi fungsi organisasi keperawatan secara keseluruhan. Setiap data akan di
kelompokan apakah merupakan kekuatan, kelemahan, kesempatan ataukah
merupakan ancaman bagi organisasi.
2. Matriks SWOT
Matriks SWOTadalah alat untuk menyusun faktor-faktor strategis dari suatu kegiatan
yang dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal
yang dihadapi dari suatu kegiatan yang dapat disesuaikan dengan kekuatan dan
kelemahan yang dimilikinya.
Matriks SWOT Menurut Hunger-Wheelen (1996), dapat digambarkan sebagai
berikut:
IFAS
STRENGTHS (S) WEAKNESS (W)
EFAS

STRATEGI SO STRATEGI WO
Strategi yang Strategi yang
OPPORTUNITIES
menggunakan kekuatan meminimalkan
(O)
untuk memanfaatkan kelemahan dan
peluang memanfaatkan peluang

17
STRATEGI ST STRATEGI WT
Strategi yang Strategi yang

THREATS (T) menggunakan kekuatan meminjamkan


untuk mengatasi kelemahan dan
ancaman menghindari ancaman

Tahapan penentuan startegi dengan matriks SWOT adalah sebagai berikut :


a. Buat daftar peluang eksternal organisasi.
b. Buat ancaman ekternal organisasi.
c. Buat daftar kekuatan kunci internal organisasi.
d. Buat daftar kelemahan kunci internal organisasi.
e. Cocokkan kekuatan-kekuatan internal dan peluang-peluang eksternal dan catat
hasilnya dlam sel startegi SO.
f. Cocokkan kelemahan-kelemahan dan peluang-peluang eksternal, dan catat hasilnya
dalam sel startegi WO.
g. Cocokkan kekuatan-kekuatan internal dan ancaman-ancaman eksternal, dan catat
hasilnya dalam sel strtegi ST.
h. Cocokkan kelemahan-kelemahan internal dan ancaman-ancaman eksternal, dan
catat hasilnya dalam sel strategi WT.
Strategi SO menggunakan kekuatan internal organisasi untuk memanfaatkan
peluang eksterna. Semua manager akan lebih suka bila organisasi mereka
beradapada posisi dimana kekuatan internal dapat memanfaatkan trend dan
kejadian eksternal. Organisasi pada umumnya akan menjalankan strategi WO, ST
atau WT agar dapat mencapai situasi dimana mereka dapat menerapkan strategi
SO. Ketika suatu organisasi memiliki kelemahan utama, ia akan berusaha
mengatasinya dan menjadikannyua kekuatan. Ketika sebuah organisasi
menghadapi ancaman utama, ia akan berusaha menghindarinya untuk
berkonsentrasi pada peluang.
Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan
memanfaatkan peluang eksternal. Kadang-kadang terdapat peluang eksternal kunci
tetapi organisasi memiliki kelemahan internal yang menghambatnya untuk
mengeksploitasi peluang tersebut. Strategi ST menggunakan kekuatan organisasi

18
untuk menghindari atau mengurangi pengaruh dari ancaman eksternal. Ini tidak
berarti bahwa organisasi yang kuat harus selalu menghadapi ancaman di
lingkungan eksternal secara langsung.
Strategi WT adalah taktik defensit yang diarahkan pada pengurangan kelemahan
internal dan menghindari ancaman eksternal. Sebuah organisasi menghadapi
berbagai acaman eksternal dan kelemahan internal akan berada pada posisi yang
tidak aman. Kenyataannya organisasi seperti itu mungkin harus berusaha bertahan
hidup, bergabung, mengurangi ukuran, mendeklarasikan kebangkrutan, atau
memilih likuidasi.

F. Matriks IFE
Matriks IFE digunakan untuk mengetahui faktor-faktor internal organisasi berkaitan
dengan kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) yang dianggap penting.Data
dan informasi aspek internal organisasi dapat digali dari beberapa fungsional organisasi,
misalnya dari aspek manajemen, keuangan, SDM, pemasaran, sistem informasi, dan
produksi atau operasi.
Tahapan kerja matriks IFE adalah sebagai berikut :
1. Buatlah daftar critical success factors untuk aspek internal kekuatan (strengths) dan
kelemahan (weaknessesi).
2. Tentukan bobot (weight) dari critical success factors tadi dengan sakala yang lebih
tinggi bagi yang berprestasi tinggi dan begitu pula sebaliknya. Jumlah seluruh bobot
harus sebesar 1,0. Nilai bobot dicari dan dihitung berdasarkan rata-rata industrinya.
3. Beri rating (nilai) antara 1 sampai 4 bagi masing-masing factor yang memiliki nilai:
1 = sangat lemah
2 = tidak begitu lemah
3 = cukup kuat
4 = sangat kuat
Jadi rating mengacu pada kondisi organisasi, sedangkan bobot mengacu pada industry
dimana organisasi berada.
4. Kalikan antara bobot dan rating dari masing-masing factor untuk menentukan nilai
skornya.
5. Jumlahkan semua skor untuk mendpatkan skor total bagi organisasi yang dinilai. Nilai
rata-rata adalah 2,5 manandakan bahwa secara internal, organisasi adalah lemah,
sedangkan nilai yang berda doatas 2,5 menunjukan posisi internal yang kuat.

19
Matriks IFE terdiri dari cukup banyak faktor.jumlah factor-faktor berdampak pada
jumlah.

G. Matriks EFE
Matriks EFE digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor eksternal organisasi berkaitan
dengan opportunities (peluang) dan threat (ancaman) bagi organisasi. Data eksternal
dikumpulkan untuk menganalisis hal-hal menyangkut persoalan ekonomi, social, budaya,
demografi, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, persainagan dipasar
industry dimana organisasi berada, serta data eksternal relevan lainnya.Hal ini penting
karena factor eksternal berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap
organisasi. Tahapan kerja dari matriks EFE adalah sebagai berikut :
1. Buatlah daftar critical success factors (factor-faktor utama yang menpunyai dampak
yang penting pada kesuksesan atau kegagalan usaha) untuk aspek eksternal yang
mencangkup perihal opportunities (peluang) dan threat (ancaman) bagi organisasi.
2. Tentukanweight dan critical success factor tadi dengan skala yang lebih tinggi bagi
yang berprestasi tinggi dan begitu pula sebaliknya. Jumlah seluruh bobot harus sebesar
1,0. Nilai bobot dicari dan dihitung berdasarkan rata-rata industrinya.
3. Tentukan rating setiap critical success factors antara 1-4, dimana ;
1 = dibawah rata-rata
2 = rata-rata
3 = diatas rata-rata
4 = sangat bagus
Jadi rating ditentukan berdasarkan efektifitas strategis organisasi, dengan demikian
nilainya didasarkan pada kondisi organisasi.
4. Alihkan nilai bobot dengan ratingnya untuk mendapatkan skor semua critical success
factors
5. Jumlahkan semua skors untuk mendapatkan skors total bagi organisasi yang dinilai.
Skor total 4.0 mengindikasikan bahwa organisasi merespon dengan cara ynag luar
biasa terhadap peluang-peluang yang ada dan menghindari ancaman-ancaman dipasar
industrinya. Semntara itu, skorr total sebesar 1.0 mengindikasikan bahwa organisasi
tidak menmanfaatkan peluang-peluang yang ada atau tidak menghindari ancamn-
ancaman eksternal.

20
H. Matriks IE
Matriks IE bermanfaat untuk memposisikan suatu organisasi ke dalam matriks yang
terdiri dari 9 sel dengan memperhatikan nilai total EFE dan IFE. Matriks IE
menempatkan berbagai divisi dari organisasi dalam diagram skematis, sehingga disebut
matriks portofolio. Matriks IE dengan sumbu horizontal X adalah nilai IFE yang dibagi
menjadi 3 daerah yaitu :
1,0 – 1,99 = IFE lemah
2,0 – 2,99 = IFE rata-rata
3,0 – 4,0 = IFE kuat
Matriks IE dengan sumbu vertikal Y adalah nilai EFE yang dibagi menjadi 3 daerah,
yaitu:
1,0 – 1,99 = EFE rendah
2,0 – 2,99 = EFE rata-rata
3,0 – 4,0 = EFE kuat
IE matriks menghasilkan 3 implikasi strategi yang berbeda yaitu :
1. SBU yang berada pada sel I, II, atau IV dapat digambarkan sebagai Grow dan Build.
Strategi yang cocok bagi SBU ini adal strategi intensif (market penetration, market
development, dan product development) dan strategi integratif (backward integration,
forward integration, dan horizontal integration).
2. SBU yang berada pada sel III, V, VII paling baik dikendalikan dengan strategi-
startegi hold dan maintain. Staregi yang umum dipakai adalah strategi market
penetrationdan product development.
3. SBU yang berada pada sel VI, VIII, IX dapat menggunakan strategi harvest atau
divestiture.

I. Prioritas Masalah
Prioritas merupakan sebuah proses individu atau kelompok dalam memberikan item
rangking. Proses untuk memprioritaskan masalah dengan metode pembobotan yang
memperhatikan aspek :
a. Magnetude (Mg) : Kecenderungan besar dan seringnya masalah terjadi
b. Severy (Sv) : Besarnya kerugian yang ditimbulkan dari masalah ini
c. Manageability (Mn) : Berfokus pada keperawatan sehingga dapat diatur
d. Nursing Consent(Nc) : Melibatkan pertimbangan dan perhatian Perawat
e. Affability (Af) : Ketersediaan sumber daya

21
Contoh Prioritas Masalah dalam Keperawatan
No MASALAH Mg Sv Mn Nc Af SKOR KET
1 Sistem penugasan 5 5 5 4 4 23 I
perawat yang belum
efektif yang diterapkan
di Gelatik (SP2KP)
2 Pelaksanaan Asuhan 5 5 4 3 3 20 II
Keperawatan yang
belum optimal
3 Komunikasi dan 4 4 3 3 3 17 IV
koordinasi pemesanan
tempat untuk
penerimaan klienbaru
belum efektif
4 Dalam pelaksanaan 4 3 4 4 3 18 III
discharge planning tidak
disertakan pemberian
leaflet
Contoh Tabel Prioritas Masalah Hamel dan Prahalad (2000), Proritas Masalah
Rentang nilai yang digunakan adalah 1- 5 :
1. Sangat penting :5
2. Penting :4
3. Cukup penting :3
4. Kurang penting :2
5. Sangat kurang penting :1

J. Analisa Fish Bone


Analisa tulang ikan dipakai jika ada perlu untuk mengkategorikan berbagai sebab
potensial dari satu masalah atau pokok persoalan dengan cara yang mudah dimengerti dan
rapi. Juga alat ini membantu kita dalam menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi
dalam proses. Yaitu dengan cara memecah proses menjadi sejumlah kategori yang
berkaitan dengan proses, mencakup manusia, material, mesin, prosedur, kebijakan dan
sebagainya.

22
1. Langkah-langkah Analisa Fish Bone
a. Menyiapkan sesi sebab-akibat
b. Mengidentifikasi akibat
c. Mengidentifikasi berbagai kategori.
d. Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran.
e. Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama
f. Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin
2. Manfaat Analisa Fish Bone
Manfaat analisa Analisa Fish Bone adalah memperjelas sebab-sebab suatu masalah
atau persoalan.
3. Langkah - Langkah Penerapan Analisa Fish Bone
Langkah 1: Menyiapkan sesi Analisa Tulang Ikan
a. Analisa Tulang Ikan kemungkinan akan menghabiskan waktu 50-60 menit.
b. Peserta dibagi dalam kelompok, maksimum 6 orang per kelompok.
c. Dengan menggunakan alat curah pendapat memilih pelayanan atau komponen
pelayanan yang akan dianalisa.
d. Siapkan kartu dan kertas flipchart untuk setiap kelompok.
e. Buatlah gambar pada flipchart berdasarkan contoh dibawah ini.
f. Tentukan seorang Pencatat. Tugas Pencatat adalah mengisi diagram tulang ikan.

Langkah 2: Mengidentifikasi akibat atau masalah


Akibat atau masalah yang akan ditangani tulislah pada kotak sebelah paling kanan dia
Langkah 3: Mengidentifikasi berbagai kategori sebab utama
a. Dari garis horizontal utama, ada empat garis diagonal yang menjadi "cabang".
Setiap cabang mewakili "sebab utama" dari masalah yang ditulis.
b. Kategori sebab utama mengorganisasikan sebab sedemikian rupa sehingga masuk
akal dengan situasi. Kategori-kategori ini bisa diringkas seperti :
c. Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Mesin, Materi, Pengukuran
d. Metode, Mesin, Material, Manusia - (4M)
e. Tempat (Place), Prosedur (Procedure), Manusia (People), Kebijakan (Policy) -
(4P)
f. Lingkungan (Surrounding), Pemasok (Supplier), Sistem (System), Keterampilan
(Skill) - (4S)

23
g. Kategori tersebut hanya sebagai saran; bisa menggunakan kategori lain yang dapat
membantu mengatur gagasan-gagasan. Sebaiknya tidak ada lebih dari 6 kotak.

Langkah 4: Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran


a. Setiap kategori mempunyai sebab-sebab yang perlu diuraikan dengan
menggunakan curah pendapat.
b. Saat sebab-sebab dikemukakan, tentukan bersama-sama dimana sebab tersebut
harus ditempatkan dalam Diagram tulang ikan. (yaitu, tentukan di bawah kategori
yang mana gagasan tersebut harus ditempatkan. Misalnya di kategori mesin.)
c. Sebab-sebab ditulis pada garis horizontal sehingga banyak "tulang" kecil keluar
dari garis horizontal utama.
d. Suatu sebab bisa ditulis dibawah lebih dari satu kategori sebab utama (misalnya,
menerima data yang terlambat bisa diletakkan dibawah manusia dan sistem).
Langkah 5: Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama
Setelah setiap kategori diisi carilah sebab-sebab yang muncul pada lebih dari satu
kategori. Sebab - sebab inilah yang merupakan petunjuk "sebab yang tampaknya paling
mungkin " lingkarilah sebab yang tampaknya paling memungkin pada diagram. Catat
jawabannya pada kertas flipchart terpisah.

Langkah 6: Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin


a. Diantara semua sebab-sebab, harus dicari sebab yang paling mungkin.
b. Kaji kembali sebab-sebab yang telah didaftarkan (sebab yang tampaknya paling
memungkinkan) dan tanyakan, "Mengapa ini sebabnya ?"
c. Pertanyaan "Mengapa ?" akan membantu Anda sampai pada sebab pokok dari
permasalahan teridentifikasi.
d. Tanyakan "Mengapa ?" sampai saat pertanyaan itu tidak bisa dijawab lagi. Kalau
sudah sampai kesitu sebab pokok telah telah terindentifikasi.

H. Perhitungan BOR dan LOS


1. BOR (Bed Occupancy Ratio) = Angka penggunaan tempat tidur
BOR menurut Huffman (dalam Arwani, 2006) adalah “the ratio of patient
service days toinpatient bed count days in a period under consideration”.
Sedangkan menurut Depkes RI (2005), BOR adalah prosentase pemakaian tempat

24
tidur pada satuan waktu tertentu.Indikator ini memberikan gambaran tinggi
rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.Nilai parameter BOR
yang ideal adalah antara 60-85% (Depkes RI, 2005).
Jumlah Hari Perawatan
𝐵𝑂𝑅 = 𝑋 100
Jumlah Tempat Tidur x Jumlah hari dalam bulan

2. Length of Stay/LOS (Rata-Rata Lamanya Klien Dirawat)


LOS menurut Huffman (dalam Arwani, 2006) adalah “The average
hospitalization stay of inpatient discharged during the period under
consideration”. LOS menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat
seorang pasien.Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi,
juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada
diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih
lanjut.Secara umum nilai LOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes RI, 2005).
Jumlah lama dirawat
𝐿𝑂𝑆 =
Total jumlah klien keluar (Jumlah klien keluar hidup +
Jumlah klien keluar meninggal dunia)
3. Cara Perhitungan Jumlah Perawat Dengan Jumlah Pasien
Menurut Douglas, 2007, ada beberapa kriteria jumlah perawat yang dibutuhkan
per klien untuk dinas pagi, sore dan malam dengan rumus:
Perhitungan Jumlah Perawat Dengan Jumlah Pasien
Waktu Klasifikasi Pagi Sore Malam
Minimal 0,17 0,14 0,07
Parsial 0,27 0,15 0,10
Total 0,36 0,30 0,20

Menurut metode Thailand dan Filipina dalam Arwani (2006), tenaga perawat
dapat dihitung sebagai berikut:
3,4 x 52 minggu x 7 hari x TT x BOR
𝐵𝑂𝑅 =
41 minggu kerja efektif x 40 jam kerja dalam 1 minggu

Menurut Wesler (dalam Arwani, 2006) untuk mengetahui jumlah kebutuhan


tenaga perawat dapat dikelompokan menjadi; untuk dinas pagi 47%, dinas siang
36%, dinas malam 17%.

25