Anda di halaman 1dari 54

KETAHANAN FISSURE SEALANT DI RONGGA MULUT SISWA

SDN KOMPLEK LUGINASARI


(SDN LUGINASARI 1, SDN LUGINASARI 2, DAN SDN SUKAGALIH 7)
KOTA BANDUNG SETELAH APLIKASI TIGA TAHUN

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan


Program Pendidikan Diploma III Jurusan Keperawatan Gigi
Polteknik Kesehatan Kemenkes Bandung

Disusun Oleh :
HANA A. IMAILLAH
P17325112028

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUPLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
2015
LEMBAR PENGUJIAN

Karya Tulis Ilmiah dengan Judul

KETAHANAN FISSURE SEALANT DI RONGGA MULUT SISWA


SDN KOMPLEK LUGINASARI
(SDN LUGINASARI 1, SDN LUGINASARI 2, DAN SDN SUKAGALIH 7)
KOTA BANDUNG SETELAH APLIKASI TIGA TAHUN

Telah diujikan pada Hari Rabu Tanggal 5 Bulan Agustus Tahun 2015

Penguji 1 Penguji 2

drg. Sri Mulyanti, M. Kes Denden Ridwan Chaerudin, S.SIT, M.DSc


NIP. 196508301993122001 NIP. 197111141997031002

Penguji 3

drg. Megananda Hiranya Putri, M.Kes


NIP. 196504121991032001
LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah dengan Judul

KETAHANAN FISSURE SEALANT DI RONGGA MULUT SISWA


SDN KOMPLEK LUGINASARI
(SDN LUGINASARI 1, SDN LUGINASARI 2, DAN SDN SUKAGALIH 7)
KOTA BANDUNG SETELAH APLIKASI TIGA TAHUN

Telah disahkan pada Hari Tanggal Bulan Agustus Tahun 2015

Pembimbing

drg. Megananda Hiranya Putri, M.Kes


NIP. 196504121991032001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Kesehatan Gigi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

drg. Hj. Hetty Anggrawati K, M.Kes. AIFO


NIP. 195610051987122001
LEMBAR PERSEMBAHAN

Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama.

Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu.

Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka.

Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka.
(Umar bin Abdul Aziz)

SUKSES itu TIDAK TULI,karena dia mendengar DOA kita.


SUKSES itu TIDAK BUTA,
karena dia selalu mengamati KERJA KERAS kita.

Setulus hatimu Umi, searif arahanmu Bapak

Doamu hadirkan keridhaan untukku, petuahmu tuntunkan jalanku

Pelukmu berkahi hidupku, diantara perjuangan dan tetesan doa malammu

Dan sebait doa telah merangkul diriku, menuju hari depan yang cerah

Dengan kerendahan hati yang tulus, bersama keridhaan-Mu ya Allah

Kupersembahkan karya tulis ini untuk yang Engkau muliakan, Umi dan Bapak

Serta orang-orang terkasih di dalam kehidupanku

Mungkin tak dapat selalu terucap, namun hati ini selalu berkata

Sungguh aku sayang kalian


ABSTRAK

KETAHANAN FISSURE SEALANT DI RONGGA MULUT SISWA


SDN KOMPLEK LUGINASARI
(SDN LUGINASARI 1, SDN LUGINASARI 2, DAN SDN SUKAGALIH 7)
KOTA BANDUNG SETELAH APLIKASI TIGA TAHUN

Hana A. Imaillah1), Megananda Hiranya Putri2)


Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan Bandung

Fissure sealant adalah tindakan preventif yang utama pada daerah kunyah untuk gigi
sehat dengan memberikan lapisan sealant pada pit dan fissure sehingga tidak
menjadi tempat melekatnya makanan dan bakteri sisa makanan yang dapat
mengakibatkan karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan
fissure sealant di rongga mulut siswa SDN Komplek Luginasari (SDN Luginasari 1,
SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih 7) Kota Bandung setelah aplikasi tiga tahun.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, populasi yang digunakan sebagai subjek
penelitian adalah seluruh gigi yang telah di fissure sealant pada siswa SDN Komplek
Luginasari pada tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 25 gigi, pengambilan sampel
menggunakan cara total sampling, analisa data disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap siswa SDN Komplek
Luginasari setelah aplikasi selama tiga tahun yang berjumlah 25 gigi, dengan kondisi
fissure sealant yang masih utuh atau tidak lepas sebanyak 14 gigi (56%), sedangkan
11 gigi (44%) dengan kondisi fissure sealant-nya lepas, baik terlepas semua maupun
sebagian. Kejadian karies sekunder pada gigi yang sudah di fissure sealant sebanyak
4 gigi (16%), sedangkan 21 gigi (84%) tidak terjadi karies sekunder. Tidak ditemukan
karies yang terbentuk pada gigi yang fissure sealant-nya terlepas.

Kata Kunci :Ketahanan Fissure Sealant


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah

yang berjudul “Ketahanan Fissure Sealant di Rongga Mulut Siswa SDN Komplek

Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih 7) Kota

Bandung Setelah Aplikasi Tiga Tahun”.Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini

dimaksudkan untuk melengkapi tugas dan memenuhi salah satu syarat dalam

menyelesaikan pendidikan diploma III di Politeknik Kesehatan Bandung Jurusan

Keperawatan Gigi.

Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini peneliti memperoleh banyak

bimbingan, bantuan dan petunjuk dari berbagai pihak, baik dalam penelitian maupun

dalam penyusunan. Dengan demikian peneliti menyampaikan rasa terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada pihak yang telah membantu terutama kepada :

1. Dr. Ir. H. Osman Syarief, MKM selaku Direktur Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan Bandung

2. Drg. Hj. Hetty Anggrawati K, M.Kes, AIFO selaku Ketua Jurusan Keperawatan

Gigi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Bandung

3. Hera Nurnaningsih, S.SIT, M.Kes selaku wali tingkat 3B Jurusan Keperawatan

Gigi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Bandung


4. Drg. Hj. Sri Artini, M.Pd dan Deru Marah Laut, S.SIT selaku dosen pembimbing

akademik yang telah memberikan bimbingan dan dukungannya selama ini

5. Drg. Megananda Hiranya Putri M. Kes, selaku dosen pembimbing dalam

penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, terimakasih atas segala perhatian, pengertian

dan kesabaran selama memberikan bimbingan

6. Drg. Sri Mulyanti M.Kes dan Denden Ridwan Chaerudin, S.SIT, M.DSc selaku

penguji yang telah memberikan masukan terbaik dalam menyelesaikan Tugas

Akhir ini

7. Seluruh staf dan dosen Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik Kesehatan

Kementerian Kesehatan Bandung

8. Terimakasih yang luar biasa kepada kedua orang tua tercinta, terimakasih atas

semua kasih sayang, perhatian, doa juga waktu yang selalu tercurah

9. Terimakasih yang luar biasa kepada orang-orang terkasih yang menghiasi

hidupku

10. Terimakasih kepada Ester Novia Veranata Simbolon, Meity Chaerunnisa Suryadi

dan Agung Putri untuk bantuan dan dukungan dalam menyelesaikan Karya Tulis

Ilmiah

11. Teman-teman seperjuangan angkatan 18 Jurusan Keperawatan Gigi Politeknik

Kesehatan Kementerian Kesehatan Bandung


Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata

sempurna, untuk itu segala bentuk kritikan dan saran yang bersifat membangun masih

penulis harapkan demi perbaikan karya-karya penulis di masa yang akan datang.

Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat

bagi penulis dan pembaca.

Bandung, Agustus 2015

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGUJIAN
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERSEMBAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR .................................................................................................. i
DAFTAR ISI…............................................................................................................iv
DAFTAR TABEL ....................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian ................................................................................................ 3
1. Tujuan Umum .............................................................................................. 3
2. Tujuan Khusus ............................................................................................. 3
D. Manfaat Penelitian .............................................................................................. 4
1. Manfaat Teoritis ........................................................................................... 4
2. Manfaat Praktis ............................................................................................ 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 5
A. Fissure Sealant .................................................................................................... 5
1. Pengertian Fissure Sealant ........................................................................... 5
2. Fungsi Fissure Sealant ................................................................................. 6
3. Tujuan Fissure Sealant ................................................................................. 6
4. Indikasi Fissure Sealant ............................................................................... 6
5. Kontraindikasi Fissure Sealant .................................................................... 7
6. Bahan Sealant............................................................................................... 8
7. Instruksi Manipulasi Semen Glass-Ionomer untuk Fissure Sealant .......... 10
8. Teknik Klinik Fissure Sealant .................................................................... 12
9. Ketahanan Fissure Sealant .......................................................................... 15
10. Kelemahan Penggunaan Fissure Sealant.................................................... 15
B. Karies ................................................................................................................ 16
1. Pengertian Karies ........................................................................................ 16
2. Daerah Rentan Karies ................................................................................. 17
3. Proses Terjadinya Karies ............................................................................ 19
4. Pencegahan Karies….……………………………………………………..22
C. Kerangka Teori…………….……………………………………………….....25
BAB III METODE PENELITIAN............................................................................. 26
A. Desain Penelitian .............................................................................................. 26
B. Waktu dan Tempat Penelitian........................................................................... 26
C. Populasi dan Sampel ......................................................................................... 26
1. Populasi ....................................................................................................... 26
2. Sampel......................................................................................................... 27
D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ................................................................... 27
E. Alur Penelitian .................................................................................................. 27
F. Pengolahan Data dan Analisa ........................................................................... 27
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................... 28
A. Hasil Penelitian ................................................................................................. 28
B. Pembahasan ...................................................................................................... 30
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 36
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 36
B. Saran ................................................................................................................. 36
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi kondisi fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi kejadian karies sekunder pada gigi yang sudah di

fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun

Tabel 4.3Distribusi frekuensi kejadian karies yang terbentuk pada gigi yang pernah

di fissure sealant dan fissure sealant-nya terlepas setelah aplikasi tiga

tahun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia sekolah dasar tergolong dalam kelompok rawan penyakit gigi

dan mulut. Untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, pemerintah melalui

Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya pendekatan pelayanan

kesehatan yang diwujudkan dalam program kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah

(UKS) melalui puskesmas. Sebagai salah satu kegiatan pokok puskesmas yang di

dalamnya terdapat Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dalam rangka

meningkatkan kualitas kesehatan anak sekolah (Depkes, 1996).

Program UKGS sudah berjalan sejak 1951, namun status kesehatan gigi

pada anak sekolah dasar belum memuaskan. Data Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) 2013 menunjukkan indeks DMF-T sebesar 4,6 yang berarti

kerusakan gigi penduduk Indonesia 4-5 gigi per orang. Sedangkan indikator

utama pengukuran DMF-T menurut WHO pada anak usia 12 tahun, yang

dinyatakan dengan indeks DMF-T yaitu ≤ 3 (Notohartojo, 2013).

Pit dan fissure pada gigi merupakan tempat-tempat yang sering terkena

karies, karena di daerah tersebut plak yang terbentuk sulit dibersihkan dengan

menyikat gigi (Putri dkk, 2010). Mengingat prevalensi karies pada pit dan fissure

cukup tinggi, maka dilakukan berbagai upaya untuk mengubah permukaan

oklusal gigi molar menjadi lebih tahan terhadap serangan karies. Pada tahun
1955, Buonocore memperkenalkan metode perlekatan resin pada permukaan

email yang dietsa asam. Metode ini potensial untuk tindakan pencegahan

terhadap karies dan dapat diaplikasikan langsung ke permukaan oklusal (Kidd

dan Bechal, 2012).

SDN Komplek Luginasari Kota Bandung adalah sekolah dasar yang

berada di wilayah kerja Puskesmas Sukagalih dan telah dilaksanakan program

pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut oleh tenaga perawat gigi dari

Poltekkes Bandung sebagai SD binaan. Kegiatan yang dilaksanakan pada

program pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut tersebut di antaranya yaitu

fissure sealant.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Endah Siti Jubaedah (2009)

mengenai Ketahanan Tambalan Fissure Sealant Setelah Aplikasi 1 dan 2 Tahun

di SDN Harapan 2 Tahun 2009 menunjukkan bahwa 65,8% fissure sealant tidak

terlepas dan 34,2% fissure sealant terlepas serta 81,6% fissure sealant tidak

terjadi karies dan 18,4% terjadi karies setelah aplikasi satu tahun. Sedangkan

setelah aplikasi dua tahun menunjukkan bahwa 60,9% fissure sealant tidak

terlepas dan 39,1% fissure sealant terlepas serta 78,2% fissure sealant tidak

terjadi karies dan 21,8% terjadi karies. Sehingga dapat disimpulkan terjadi

penurunan ketahanan fissure sealant setelah aplikasi satu dan dua tahun.

Selain itu, berdasarkan pengalaman pribadi peneliti ketika praktik di

klinik pada siang harinya ada pasien yang mengeluhkan bahwa tambalan yang
baru diaplikasikan tadi pagi terlepas dan setelah peneliti periksa tambalan

tersebut ternyata fissure sealant.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang

“Ketahanan Fissure Sealant di Rongga Mulut Siswa SDN Komplek Luginasari

(SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih 7) Kota Bandung

Setelah Aplikasi Tiga Tahun”.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah ketahanan fissure sealant di rongga mulut siswa SDN

Komplek Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih

7) Kota Bandung setelah aplikasi tiga tahun?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya ketahanan fissure sealant di rongga mulut siswa SDN

Komplek Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN

Sukagalih 7) Kota Bandung setelah aplikasi tiga tahun.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui kondisi fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun.

b. Mengetahui adanya karies sekunder pada gigi yang sudah di fissure

sealant setelah aplikasi tiga tahun.


c. Mengetahui adanya karies yang terbentuk pada gigi yang pernah di

fissure sealant dan fissure sealant-nya terlepas setelah aplikasi tiga

tahun.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi

yang membaca, khususnya untuk ilmu keperawatan gigi tentang

ketahanan fissure sealant di rongga mulut siswa SDN Komplek

Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih

7) Kota Bandung setelah aplikasi tiga tahun.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi untuk

perpustakaan di Jurusan Keperawatan Gigi dalam Karya Tulis Ilmiah

yang berjudul “Ketahanan Fissure Sealant di Rongga Mulut Siswa SDN

Komplek Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN

Sukagalih 7) Kota Bandung Setelah Aplikasi Tiga Tahun”.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi penelitian selanjutnya, dapat dijadikan dasar penelitian mengenai

ketahanan fissure sealant di rongga mulut siswa SDN Komplek

Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih

7) Kota Bandung setelah aplikasi tiga tahun.

b. Bagi institusi, dapat menentukan tindakan selanjutnya dari hasil yang

didapat.
c. Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan, terutama mengenai

ketahanan fissure sealant di rongga mulut siswa SDN Komplek

Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN Sukagalih

7) kota Bandung setelah aplikasi tiga tahun.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Fissure Sealant

1. Pengertian Fissure Sealant

Fissure merupakan bentuk anatomi normal dari gigi. Fissure

berbentuk seperti parit-parit kecil yang terdapat pada permukaan kunyah

gigi–gigi belakang. Pada beberapa orang, bentuk fissure ini cukup dalam

sehingga menyebabkan plak yang menempel di daerah tersebut sulit di

bersihkan dengan sikat gigi. Untuk mencegah terjadinya hal ini, dapat

dilakukan suatu perawatan gigi, yaitu fissure sealant yang bisa juga disebut

dengan pit dan fissure sealant/dental sealant/tooth sealants. Dengan

perawatan ini, fissure yang dalam akan ditutup dengan bahan tambal, yaitu

lapisan yang melindungi permukaan kunyah gigi dari bakteri penyebab gigi

berlubang. Sehingga tidak lagi menjadi tempat perlekatan plak dan gigi

menjadi lebih mudah dibersihkan (Ford, 1993).

Fissure sealant adalah perawatan preventif dengan cara meletakkan

bahan pada pit dan fisura gigi yang bertujuan untuk mencegah proses karies

gigi (Nunn, 2000).

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fissure

sealant adalah tindakan preventif yang utama pada daerah kunyah gigi sehat

dengan memberikan lapisan sealant pada pit dan fissure sehingga tidak
menjadi tempat melekatnya makanan dan bakteri sisa makanan yang dapat

mengakibatkan karies gigi.

2. Fungsi Fissure Sealant

Fungsi fissure sealant adalah untuk menutup pit dan fissure yang

dalam dengan tujuan mencegah karies.

3. Tujuan Fissure Sealant

Tujuan dari fissure sealant, yaitu agar terjadi penetrasi bahan ke

dalam pit dan fissure serta berpolimerisasi dan menutup daerah tersebut dari

bakteri dan debris (Anusavice, 2004). Bahan sealant ideal mempunyai

kemampuan retensi yang tahan lama, kelarutan terhadap cairan mulut

rendah, biokompatibel dengan jaringan rongga mulut dan mudah

diaplikasikan (Lesser, 2001).

4. Indikasi Fissure Sealant

Indikasi fissure sealant menurut Kidd dan Bechal, terdiri dari:

a. Gigi permanen

1) Pit dan fissure dalam

2) Gigi yang baru erupsi

3) Resiko karies tinggi

4) Memungkinkan isolasi adekuat terhadap kontaminasi saliva


5) Konsumsi gula yang tinggi

6) Oral hygiene yang buruk

b. Gigi susu

Penutupan fissure pada molar susu tidak sesering pada molar

tetap. Indikasinya terutama jika karies ditemukan di mana-mana, yaitu

pada pasien dengan resiko karies tinggi.

5. Kontraindikasi Fissure Sealant

a. Self cleansing yang baik pada pit dan fissure

b. Terdapat tanda klinis maupun radiografis adanya karies interproximal

yang memerlukan perawatan

c. Banyaknya karies interproximal dan restorasi

d. Gigi erupsi hanya sebagian dan tidak memungkinkan isolasi dari

kontaminasi saliva

e. Umur erupsi gigi lebih dari 4 tahun dan tidak terjadi karies.

(Hick dalam Pinkham, 1994)

Pertimbangan lain dalam pemberian sealant juga sebaiknya

diperhatikan. Umur anak berkaitan dengan waktu awal erupsi gigi-gigi

tersebut. Umur 3-4 tahun merupakan waktu yang berharga untuk pemberian

sealant pada gigi molar sulung; umur 6-7 tahun merupakan saat erupsi gigi

permanen molar pertama; umur 11-13 tahun merupakan saatnya molar kedua

dan premolar erupsi. Sealant juga seharusnya diberikan pada gigi dewasa
bila terbukti banyak konsumsi gula berlebih atau karena efek obat dan

radiasi yang mengakibatkan xerostomia (Harris, 1999).

6. Bahan Sealant

Berdasarkan bahan dasarnya, sealant dibedakan menjadi:

a. Bisphenol A-glycidyl Methacrylate (Bis-GMA)

Bahan sealant berbasis resin dapat melakukan polimerisasi secara

autopolimerisasi dan fotopolimerisasi. Sealant berbasis resin bertahan

lebih lama dan kuat karena memiliki kemampuan penetrasi yang lebih

bagus. Hal ini karena adanya proses etsa pada enamel gigi yang

menghasilkan kontak yang lebih baik antara bahan resin dengan

permukaan enamel (Ganesh, 2007). Etsa menghilangkan mineral enamel

gigi dan menghasilkan resin tag dan secara klinis nampak lebih putih dan

pudar. Bahan sealant yang diberikan pada area yang dietsa akan

berpenetrasi ke dalam resin tag. Hal ini dapat meningkatkan retensi

mekanis bahan sealant dengan permukaan emanel gigi.

Penggunaan sealant berbasis resin digunakan pada hal berikut:

1) Kekuatan kunyah besar

2) Insidensi karies relatif rendah

3) Gigi sudah erupsi sempurna

4) Area bebas kontaminasi atau mudah dikontrol

5) Pasien kooperatif
b. Cyanoacrylate, Polyurethane (Semen Glass-Ionomer)

Semen glass-ionomer yang sering digunakan bersifat

autopolimerisasi (Kervanto, 2009). Semen glass-ionomer memiliki

kemampuan mencegah karies yang hampir sama dengan sealant berbasis

resin. Manipulasi sealant semen glass-ionomer lebih mudah, dan tidak

diperlukan tahapan pengetsaan pada pemukaan gigi (Subramaniam,

2008). Berbeda dengan sealant berbasis resin, bahan semen glass-ionomer

melakukan interaksi khusus dengan enamel gigi dengan melepaskan

kalsium, strontium dan ion flour yang bersifat kariostatik dan mengurangi

perkembangan karies pada daerah yang diberi sealant (Walsh, 2006).

Indikasi penggunaan fissure sealant dengan semen glass-ionomer

sebagai berikut:

1) Kekuatan kunyah relatif tidak besar

2) Pada insedensi karies tinggi

3) Gigi yang belum erupsi sempurna

4) Area yang kontaminasi sulit dihindari

5) Pasien kurang kooperatif


7. Instruksi Manipulasi Semen Glass-Ionomer untuk Fissure Sealant

a. Persiapan Operator

1) Berpakaian bersih, kuku pendek, rambut rapi dan tidak memakai

perhiasan

2) Memakai alat pelindung diri (masker dan handschoen)

b. Persiapan Alat dan Bahan

1) Lihat petunjuk pabrik mengenai komposisi, masa kadaluarsa, waktu

pengerasan dan cara manipulasi.

2) Bubuk semen glass-ionomer Fuji VII (dengan sendok takar) dan

cairan.

3) Paper pad

4) Cement spatel

5) Timer atau jam dengan detik

c. Manipulasi Bahan

1) Tahap Persiapan

a) Kocok bubuk dalam kemasan/wadah

b) Takar bubuk dengan sendok takar dan ratakan dengan spatula,

letakkan pada paper pad

c) Bagi bubuk menjadi dua

d) Keluarkan cairan dari botol dengan posisi botol tegak lurus dan

tidak dipencet, letakkan dekat bubuk


2) Tahap Pengadukan

a) Tarik satu bubuk kecairan, aduk dengan gerakan memutar pada

daerah yang luas sebanyak 15 detik

b) Tarik bagian bubuk kedua, lanjutkan seperti di atas selama 15

detik kedua

c) Tentukan konsistensi dengan menarik adonan ke atas dengan

spatula setinggi 0.75 inchi, terbentuk pita yang tidak terputus

d) Adonan harus homogen, halus dan permukaannya mengkilat

3) Pembersihan

a) Buang sisa semen dari paper pad dan spatel di bawah air

mengalir

b) Jika semen telah mengeras, rendam paper pad dan spatel dalam

air hangat dan disikat dengan baking soda.

8. Teknik Klinik Fissure sealant

Teknik klinik fissure sealant menurut Kidd dan Bechal:

a. Pengisolasian

Dalam kaitannya dengan keberhasilan atau kegagalan upaya

penutupan fissure, isolasi mungkin merupakan tahap yang paling kritis.

Jika pori yang dibuat oleh etsa tertutupi saliva maka ikatan yang

terbentuk akan menjadi lemah.


Isolator karet merupakan cara isolasi yang dapat diandalkan dan

disukai daripada pemakaian gulungan kapas dan penyedot ludah. Cara

yang terakhir ini sukar dilakukan dengan baik, karena gigi yang dietsa

harus dicuci dengan bersih. Basahnya kapas isolator tidak dapat

dihindari sehingga harus diganti sehingga sangat mudah sekali

permukaan gigi yang teretsa itu terbasahi saliva dan kontaminasi ini

merusak ikatan antara penutup fissure dengan email. Jika isolator karet

yang digunakan, hanya gigi yang dirawat sajalah yang perlu diisolasi.

b. Membersihkan gigi

Permukaan oklusal gigi dipoles dengan pumis. Pumis dicuci

bersih dengan semprotan udara dan air, lalu sonde yang panjang

diseretkan sepanjang fissure. Cara ini akan menghilangkan plak pada

daerah yang lebih dalam yang tidak dapat dibersihkan dengan

penyikatan. Kemudian gigi dicuci lagi dan dikeringkan dengan baik.

c. Pengetsaan

Asam fosfat yang digunakan adalah antara 30-50% agar jaringan

yang hilang minimal, tetapi kedalaman pori-porinya maksimal. Bahan

etsa diulaskan di atas seluruh permukaan oklusal, dan di lingual atau

bukal yang groovenya perlu ditutup. Pengetsaan seluruh permukaan

oklusal menghindari bahaya bahan sealant menutupi daerah yang tidak

teretsa sehingga menyebabkan kebocoran. Asam etsa dapat


diaplikasikan, baik menggunakan kapas kecil, potongan busa kecil, kuas

kecil, ataupun semprit halus. Setelah semua daerah yang dietsa terulasi

asam, waktunya dicatat, dan email dietsa selama 60 detik.

d. Pencucian

Sesudah 60 detik asam dicuci bersih. Mula-mula gunakan

semprotan air dari semprit air sehingga sebagian besar asam terbuang.

Sesudah penyemprotan air selama lima detik, tombol udara juga ditekan

sehingga akan memberikan semprotan air dan udara yang kuat selama

15-20 detik. Jika bentuk gel yang digunakan, masa pencucian harus

dilipatgandakan paling sedikit 30 detik untuk lebih memastikan bahwa

gel dan produk hasil reaksi asam sudah bersih. Selama fase pencucian,

asisten menyedot sisa air dengan aspirator.

e. Pengeringan email yang teretsa

Sekarang, permukaan gigi dikeringkan dengan udara dari three

water syringe. Fase ini sangat penting karena jika pada permukaan yang

sudah dietsa masih basah akan menghalangi penetrasi resin ke email.

Lama pengeringan yang dianjurkan paling sedikit 15 detik. Pada tahap

ini daerah yang teretsa harus terlihat jelas dan putih.

Sebaiknya cek selalu apakah saluran udara tidak tercemar oleh

air atau oli. Hal ini dapat dilihat dengan menyemprotkan pada

permukaan kaca yang bersih. Adanya kelembapan atau minyak yang

berasal dari saluran angin akan menggagalkan penutupan fisur ini.


f. Pencampuran

Bahan resin sinar tidak perlu dicampur. Resin kimia

(swapolimer) terdiri atas 2 komponen yang harus dicampur dengan

perlahan-lahan agar tidak timbul gelembung udara.

g. Aplikasi

Aplikator atau kuas kecil sekali pakai yang disediakan dalam

kemasan digunakan untuk meletakkan bahan penutup fissure ke ceruk

dan fisura, ke lereng panjang mahkota yang dietsa. Jika dipakai resin

sinar, alat penyinar harus diletakkan langsung di atas bahan penutup,

tetapi tidak boleh menyentuhnya.

Penyinaran dilakukan selama 60 detik. Selain itu, untuk gigi

molar sumber sinar harus diarahkan ke arah distal dari permukaan

oklusal selama 60 detik kemudian ke mesial selama 60 detik.

h. Pengesekan oklusal

Oklusi diperiksa dengan kertas artikulasi dan sonde untuk

mengecek ada atau tidaknya bahan sealant yang masih menyangkut di

sekitar tepi sealant ketika diperiksa.


9. Ketahanan Fissure Sealant

Dengan penggunaan pengunyahaan setiap harinya, fissure sealant

dapat bertahan selama lima tahun atau lebih. Walau demikian fissure sealant

dapat aus dengan sendirinya sehingga perlu diperiksa secara rutin. Jika

terjadi kerusakan pada sealant hanya perlu diganti dengan yang baru pada

bagian yang rusak saja (Pratiwi, 2009).

10. Kelemahan Penggunaan Fissure sealant

Kelemahan penggunaan fissure sealant menurut J.O. Forrest:

a. Penggunaan fissure sealant tidak dapat menghilangkan perlunya

dilakukan fluoridasi topikal.

b. Fissure sealant hanya dapat melindungi satu permukaan saja (oklusal),

keempat permukaan yang lainnya (mesial, distal, bukal, lingual) hanya

mendapat perlindungan dari efek fluoride dan pengontrolan plak yang

dilakukan pasien.

c. Hanya dapat digunakan pada fissure yang sangat dalam sehingga mudah

terserang karies, tetapi bukan pada daerah yang sudah karies.


B. Karies

1. Pengertian Karies

Karies gigi merupakan penyakit yang telah menyebar luas dan dapat

dicegah, tetapi sebagian besar penduduk dunia pernah terserang penyakit ini.

Karies gigi atau dental caries adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai

dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi dan meluas kearah

pulpa (Susanto, 2009).

Karies merupakan hasil interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak

atau biofilm, dan diet (khususnya komponen karbohidrat yang dapat

difermentasikan oleh bakteri plak menjadi asam, terutama asam latat dan

asetat) sehingga terjadi demineralisasi jaringan keras gigi dan memerlukan

waktu untuk kejadiannya (Putri dkk, 2010).

Karies adalah penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin, dan

sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu

karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi

jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya

(Kidd dan Bechal, 2012).

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karies

adalah penyakit jaringan keras gigi yang disebabkan oleh hasil interaksi dari

bakteri di permukaan gigi dan diubah menjadi asam sehingga terjadi

demineralisasi jaringan keras gigi.


2. Daerah Rentan Karies

Daerah rentan karies menurut Kidd dan Bechal, terdiri dari:

a. Pit dan fissure

Merupakan daerah yang sukar dibersihkan meski dengan sikat gigi

karena bentuknya seperti parit-parit kecil yang terdapat pada permukaan

kunyah gigi molar dan premolar.

b. Bagian proximal

Daerah celah diantara dua gigi yang sering terselip sisa makanan.

Permukaan proksimal di bawah titik kontak gigi atau di sela-sela antara

gigi yang satu dengan gigi lainnya. Daerah ini tidak mudah dibersihkan

dan sukar untuk dijangkau oleh serabut sikat gigi. Membersihkan daerah

proksimal memerlukan keahlian dan dapat dilakukan dengan penggunaan

dental floss atau benang gigi. Akan tetapi, sebagian besar orang malas

membersihkan gigi dengan benang gigi.

c. Daerah servikal

Daerah servikal atau yang dekat dengan leher gigi pada

permukaan bukal/labial (sisi yang berhadapan dengan pipi atau bibir) atau

permukaan palatal/lingual (sisi yang berhadapan dengan palatum atau

langit-langit dan lidah). Daerah ini merupakan daerah dengan ketebalan

lapisan email paling tipis dibanding dengan bagian gigi yang lain. Karies
servikal biasanya berbentuk bulan sabit yang berawal sebagai daerah

putih dan kemudian berlubang.

d. Bagian akar

Terjadi pada orang yang gingivanya terjadi resesi.

e. Daerah sekitar restorasi

Sangat penting dijelaskan pada pasien bahwa penumpatan tidak

menyebabkan gigi menjadi kebal tehadap karies dan karies bisa terjadi

di sekitar tumpatan, yang disebut karies sekunder atau karies

rekuren.Perlu diperhatikan bahwa sebelum melakukan penumpatan

permanen, perkembangan penyakit yang lebih lanjut harus dicegah

dengan penjelasan mengenai diet, pengawasan plak, dan peningkatan

daya tahan gigi dengan fluor.

Perluasan karies bisa terjadi karena lesi sebelumnya tidak

dibersihkan dengan baik, restorasi tidak menutup seluruh kavitas

sehingga memungkinkan bersarangnya plak, atau kurang baiknya

pengendalian plak dan diet setelah restorasi.

f. Permukaan gigi yang berdekatan dengan gigi tiruan dan jembatan.


3. Proses Terjadinya Karies

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di

permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses

menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan

menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan

demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Suryawati, 2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi karies gigi, yaitu :

a. Mikroorganisme

Bakteri yang sangat dominan dalam karies gigi adalah

Streptococcus mutans. Bakteri ini sangat kariogenik karena mampu

membuat asam dari karbohidrat dan berperan dalam proses awal karies.

Mikroorganisme menempal di gigi bersama plak. Plak terdiri dari

mikroorganisme (70%) dan bahan antar sel (30%). Plak akan tumbuh bila

ada karbohidrat, sedang karies akan terjadi bila ada plak dan karbohidrat

(Suwelo, 1992).

b. Substrat

Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat

yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mengakibatkan

demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk

pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstra sel.

Walaupun demikian, tidak semua karbohidrat sama derajat

kariogeniknya. Karbohidrat yang kompleks, misalnya pati relatif tidak


berbahaya karena tidak dicerna secara sempurna di dalam mulut,

sedangkan karbohidrat dengan berat molekul yang rendah seperti gula

akan segera meresap ke dalam plak dan dimetabolisme dengan cepat oleh

bakteri (Kidd dan Bechal, 2012).

c. Gigi

Faktor-faktor dari gigi yang berpengaruh terhadap peningkatan

karies menurut Kidd dan Bechal, yaitu:

1) Morfologi gigi

Plak yang mengandung bakteri merupakan awal terbentuknya

karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak

sangat mungkin diserang karies. Kawasan-kawasan yang mudah

diserang karies tersebut adalah pit dan fisur, permukaan halus di

daerah aproksimal sedikit di bawah titik kontak, email pada tepian di

daerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva, permukaan akar yang

terbuka, serta tepi tumpatan dan permukaan gigi yang berdekatan

dengan gigi tiruan dan jembatan.

2) Lingkungan gigi (saliva, cairan celah gusi, fluor)

Dalam keadaan normal, gigi geligi selalu dibasahi saliva yang

mampu meremineralisasi karies yang masih dini karena banyak

mengandung kalsium dan fosfat. Kemampuan tersebut meningkat jika

ada ion fluor.


Pada daerah tepi gingiva, gigi dibasahi oleh cairan celah gusi

yang mengandung antibodi yang didapat dari serum yang spesifik

terhadap Streptococcus mutans.

d. Saliva

Saliva berperan penting pada proses karies. Fungsi saliva yang

adekuat penting dalam pertahanan melawan karies. Mekanisme fungsi

perlindungan saliva, meliputi aksi pembersihan bakteri, aksi buffer, aksi

antimikroba, dan remineralisasi (Putri dkk, 2010).

Aksi pembersihan bakteri terjadi karena saliva mengandung

molekul glikoprotein yang menyebabkan beberapa bakteri mengelompok

(aglutinasi) dan ditelan. Saliva juga mengandung urea dan buffer lain

yang membantu melarutkan asam dalam plak. Aksi antimikroba plak

terjadi karena kandungan bermacam-macam protein dan antibodi yang

dapat menghambat bahkan membunuh bakteri. Saliva pun mengandung

ion-ion kalsium, fosfat, kalium, dan fluoride yang membantu

remineralisasi (Putri dkk, 2010).

e. Waktu

Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral

selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses tersebut

terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh

karena itu, bila saliva ada di dalam lingkungan gigi, maka karies tidak

menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam


bulan atau tahun. Dengan demikian, sebenarnya terdapat kesempatan

yang baik untuk menghentikan penyakit ini (Kidd dan Bechal, 2012).

4. Pencegahan Karies

Pencegahan karies menurut Putri:

a. Pemajanan fluoride

Fluoride dalam jumlah kecil dapat meningkatkan ketahanan

struktur gigi terhadap demineralisasi. Fluoride memberikan pengaruh

antikaries melalui tiga mekanisme yang berbeda. Mekanisme yang

pertama, keberadaan ion fluoride dapat meningkatkan terjadinya

fluorapaptite pada struktur gigi dari ion kalsium dan ion fosfat yang ada

pada saliva. Mekanisme yang kedua, lesi karies baru yang tidak

mengalami kavitas diremineralisasi. Mekanisme yang ketiga, fluoride

telah memiliki aktivitas antimikroba.

b. Imunisasi

Bakteri masuk ke dalam perut melalui mulut dan usus, kemudian

bersinggungan dengan jaringan limfoid khusus yang terletak di Peyer’s

patches di sepanjang dinding usus. Sel B dan T yang menjadi peka

terhadap bakteri akan bermigrasi melalui sistem limfatik ke dalam aliran

darah dan akhirnya berhenti di jaringan grondular, termasuk kelenjar

ludah di rongga mulut. Sel-sel yang peka ini akan menghasilkan antibodi

IgA yang dikeluarkan di dalam ludah yang dapat menggumpalkan bakteri


di dalam mulut sehingga mencegah penggumpalan bakteri pada gigi dan

struktur organ lainnya, dan bakteri akan lebih mudah dibersihkan dari

mulut dengan cara menelannya.

c. Fungsi saliva

Saliva berpengaruh dalam pencegahan karies. Walaupun

xerostomia dapat timbul karena bertambah usia. Jika seorang pasien

menderita xerostomia, konsultasi dengan dokter dianjurkan untuk

identifikasi perubahan dalam perawatanyang diakibatkan sedikitnya

saliva. Stimulan saliva juga dapat diresepkan pada pasien dengan fungsi

saliva yang lemah.

d. Antimikroba

Fluoride memiliki efek antimikroba seperti halnya penggunaan

klorheksidin. Bahan ini pertama kali terdapat di Amerika Serikat sebagai

obat kumur dan pertama kali digunakan untuk terapi periodontal. Bahan

tersebut diresepkan sebagai obat kumur 0,12% bagi pasien berisiko tinggi

untuk penggunaan jangka pendek. Klorheksidin diresepkan untuk

penggunaan di rumah menjelang tidur ssebagai obat kumur selama 30

detik. Penggunaan pada waktu tersebut, saliva tidak keluar terlalu banyak,

membuat agen tersebut memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk

berinteraksi dengan Streptococcus mutans.


e. Pola makan

Makanan bersukrosa memiliki dua efek yang sangat merugikan.

Pertama, seringnya asupan makanan yang mengandung sukrosa

berpotensi menimbulkan kolonisasi Streptococcus mutans. Kedua, plak

lama yang terkena sukrosa termetabolisme menjadi asam organik

sehingga terjadi penurunan pH. Aktivitas karies sangat dipengaruhi oleh

frekuensi, bukan kuantitas sukrosa yang dicerna. Perubahan kecil pada

pola makan, seperti mengganti konsumsi makanan ringan dengan yang

bebas gula lebih dapat diterima pasien daripada perubahan yang drastis.

f. Kebersihan mulut

Pembersihan harian plak dengan penggunaan benang gigi,

menyikat gigi, dan penggunaan obat kumur adalah usaha terbaik untuk

mencegah karies dan penyakit periodontal. Pengangkatan plak secara

mekanis dengan menyikat gigi dan penggunaan benang gigi bermanfaat

tanpa memusnahkan flora normal. Sedangkan penggunaan obat kumur

dalam pemakaian jangka panjang memengaruhi penggunanya terhadap

infeksi bakteri patogen, seperti Candida albicans.

g. Permen karet xylitol

Xylitol mengurangi Streptococcus mutans dengan mengubah arah

metabolismenya dan meningkatkan remineralisasi serta membantu

mencegah karies gigi. Disarankan mengunyah xylitol selama 5-30 menit

setelah makan karena proses mengunyah dapat menstimulasi keluarnya


ludah, yang meningkatkan buffering penurunan pH yang timbul setelah

makan.

h. Fissure sealant

Ceruk dan fissure merupakan tempat tumbuhnya plak. Daerah ini

umumnya daerah yang rentan terhadap karies dan paling sedikit

dipengaruhi fluor. Fissure sealant adalah bahan yang dirancang sebagai

pencegah karies di fissure dan ceruk.

C. Kerangka Teori

1. Kondisi fissure sealant


2. Karies sekunder
Teknik klinik fissure sealant 3. Karies yang terjadi setelah
fissure sealant terlepas

Ketahanan fissure sealant


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang digunakan untuk

menunjukkan gambaran ketahan fissure sealant yang meliputi kondisi fissure

sealant, terjadi karies sekunder atau tidak, dan apabila fissure sealant-nya

terlepas terjadi karies atau tidak.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2014 - Agustus 2015 dan

pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 11-14 Mei 2015 yang di lakukan di

SDN Komplek Luginasari (SDN Luginasari 1, SDN Luginasari 2, dan SDN

Sukagalih 7) Kota Bandung.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruhan dari suatu variabel yang

menyangkut masalah yang diteliti. Populasi yang digunakan sebagai subjek

penelitian adalah seluruh gigi yang telah di fissure sealant pada siswa SDN

Komplek Luginasari pada tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 25 gigi

dari 23 orang siswa.


2. Sampel

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang akan diteliti. Dalam

penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan secara total sampling

yaitu seluruh unit populasi dijadikan sampel.

D. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Pada penelitian ini, peneliti pelakukan pengumpulan data melalui data

sekunder yang diperoleh dari buku status kesehatan gigi dan mulut siswa SDN

Komplek Luginasari. Sebagai data primernya diperoleh dari observasi atau

pemeriksaan langsung pada siswa SDN Komplek Luginasari.

E. Alur Penelitian

1. Responden dibawa ke ruang pemeriksaan

2. Peneliti memperkenalkan diri pada responden

3. Responden diberikan penjelasan mengenai tujuan dan manfaat penelitian

4. Responden dipersilahkan duduk di kursi pemeriksaan

5. Peneliti melakukan pemeriksaan pada gigi yang telah di fissure sealant

F. Pengolahan Data dan Analisa

Data yang diperoleh dari pemeriksaan langsung, diolah dengan cara

manual dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN Komplek Luginasari dimulai pada

tanggal 11-14 Mei 2015. Dengan jumlah siswa 23 orang yang sudah diberikan

perlakuan fissure sealant pada tahun ajaran 2012/2013 dengan jumlah gigi yang

difissure sealant sebanyak 25 gigi.

Berdasarkan hasil observasi dan analisa di lapangan didapatkan hasil

sebagai berikut :

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi kondisi fissure sealant

setelah aplikasi tiga tahun

No Kondisi Fissure Sealant Jumlah %


1 Tidak lepas 14 56
2 Lepas 11 44
Jumlah 25 100

Berdasakan tabel di atas dapat diketahui kondisi fissure sealant setelah

aplikasi tiga tahun yang masih utuh atau tidak lepas sebanyak 14 gigi (56%).
Tabel 4.2Distribusi frekuensi kejadian karies sekunder pada gigi

yang sudah di fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun

No Karies Sekunder Jumlah %


1 Tidak ada 21 84
2 Ada 4 16
Jumlah 25 100

Berdasakan tabel di atas dapat diketahui kejadian karies sekunder pada

gigi yang sudah di fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun sebanyak 4 gigi

(16%).

Tabel 4.3Distribusi frekuensi kejadian karies yang terbentuk

pada gigi yang pernah di fissure sealant dan

fissure sealant-nya terlepas setelah aplikasi tiga tahun

Karies Yang Terbentuk Pada Gigi Yang


No Jumlah %
Fissure Sealant-nya Terlepas
1 Tidak ada 7 100
2 Ada 0 0
Jumlah 7 100

Berdasakan tabel di atas dapat diketahui kejadian karies yang terbentuk

pada gigi yang pernah di fissure sealant dan fissure sealant-nya terlepas setelah

aplikasi tiga tahun sebanyak 0 gigi (0%).


B. Pembahasan

Pit dan fissure pada gigi merupakan tempat-tempat yang sering terkena

karies, karena di daerah tersebut plak yang terbentuk sulit dibersihkan dengan

menyikat gigi (Putri dkk, 2010). Mengingat prevalensi karies pada pit dan fissure

cukup tinggi, maka dilakukan berbagai upaya untuk mengubah permukaan

oklusal gigi molar menjadi lebih tahan terhadap serangan karies. Pada tahun

1955, Buonocore memperkenalkan metode perlekatan resin pada permukaan

email yang dietsa asam. Metode ini potensial untuk tindakan pencegahan

terhadap karies dan dapat diaplikasikan langsung ke permukaan oklusal, agar

daerah pit dan fissure menjadi lebih mudah untuk dibersihkan dengan menyikat

gigi ataupun pengunyahan (Kidd dan Bechal, 2012).

Ketahanan sealant pada gigi merupakan faktor utama dalam keberhasilan

aplikasi fissure sealant. Hal ini terbukti berdasarkan hasil penelitian yang

dilakukan oleh penulis, kondisi fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun yang

masih utuh atau tidak lepas sebanyak 14 gigi (56%) dari 25 gigi yang diperiksa.

Bertahannya fissure sealant di dalam rongga mulut ini didukung oleh teori

menurut Kidd dan Bechal bahwa apabila tindakan penutupan pit dan fissure

dilakukan oleh operator (dokter gigi/perawat gigi) dengan cara dan prosedur

klinis yang tepat maka tingkat keberhasilan tindakan fissure sealant akan tinggi

dan bertahan selama lima tahun.


Hasil penelitian dari pemeriksaan 23 siswa SDN Komplek Luginasari

dengan jumlah 25 gigi, didapatkan data sebanyak 14 gigi (56%) dengan kondisi

fissure sealant-nya masih utuh atau tidak lepas, sedangkan 11 gigi (44%) dengan

kondisi fissure sealant-nya lepas, baik terlepas semua maupun sebagian. Ada

beberapa faktor penyebab yang dapat mempengaruhi kondisi fissure sealant

sehingga fissure sealant dapat terlepas jika dilakukan tidak sesuai dengan teknik

klinik fissure sealant (Kidd dan Bechal, 2012).

Pengisolasian erat kaitannya dengan keberhasilan atau kegagalan upaya

penutupan fissure, isolasi mungkin merupakan tahap yang paling kritis. Jika pori

yang dibuat oleh etsa tertutupi saliva maka ikatan yang terbentuk akan menjadi

lemah (Kidd dan Bechal, 2012). Biasanya di UKGS menggunakan cotton roll

yang terbuat dari tisu. Basahnya cotton roll tersebut tidak dapat dihindari

sehingga harus diganti. Jika melakukan pergantian cotton roll tidak berhati-hati

dapat mengakibatkan permukaan gigi yang sudah diberi etsa terbasahi saliva

sehingga merusak ikatan antara bahan sealant dengan email. Kemudian pada saat

membersihkan gigi. Di UKGS membersihkan gigi menggunakan brush dan pasta

gigi. Sehingga bisa saja masih terdapat debris dan sisa pasta apabila kurang teliti

membersihkannya. Debris dan sisa pasta tersebut yang tertinggal di permukaan

pit dan fissure menyebabkan retensi antara email dan bahan sealant berkurang.

Selain itu pada proses pengetsaan (dentin conditioner), jika permukaan gigi yang

sudah diberi etsa (dentin conditioner) terbasahi saliva dan terjadi kontaminasi
maka ikatan antara bahan sealant dengan email akan rusak dan jika pada proses

pembersihan gigi tidak teliti, etsa (dentin conditioner) yang berperan sebagai

retensi untuk bahan penutup pit dan fissure ini akan hilang karena adanya debris

yang tertinggal.

Pada saat pencampuran (manipulasi bahan) pun mempengaruhi kekuatan

ikatan sealant. Kekuatan ikatan sealant dengan email bergantung kepada

kemampuan bahan sealant mengalir kecelah yang terbentuk karena etsa (Kidd

dan Bechal, 2012). Makin kental bahannya, makin terbatas alirannya sehingga

retensi yang terbentuk semakin berkurang. Akan tetapi, bila konsistensi sealant

terlalu encer maka bahan sealant juga mudah terlepas. Penyebab utama

berbedanya konsistensi kekentalan bahan sealant merupakan kesalahan dalam

manipulasi bahan, diantaranya: 1) Sendok takar yang digunakan biasanya masih

terdapat sisa dari bubuk bekas pemakaian sebelumnya yang jika tidak

dibersihkan maka takaran antara liquid dan bubuknya tidak seimbang sehingga

bahan sealant konsistensinya terlalu encer, 2) Liquid yang diteteskan tidak

dengan posisi botol tidak tegak lurus dan dipencet. Jika posisi botol sedikit

miring, kemungkinan liquid yang keluar tidak sempurna sehingga konsistensi

bahan sealant terlalu kental. Sedangkan jika meneteskan liquid dengan memencet

botolnya, kemungkinan liquid yang keluar terlalu banyak dan tidak sesuai standar

pabrik sehingga konsistensi bahan sealant terlalu encer, 3) Cara mengaduk yang

salah bisa menyebabkan adonan tidak homogen sehingga sealant tidak bertahan
lama, dan 4) Waktu mengaduk yang kurang tepat dapat menyebabkan bahan

sealant terlalu kental maupun terlalu encer. Jika waktu pengadukan terlalu

sebentar, bahan sealant akan terlalu encer. Sedangkan jika mengaduk terlalu

lama, bahan sealant akan terlalu kental. Selain itu, pada saat pengaplikasian

bahan sealant dengan kondisi di UKGS yang tidak ideal dari mulai tidak

tersedianya saliva ejector serta kursi lapangan yang kurang nyaman yang

mengakibatkan anak menjadi gelisah dan biasanya tidak mau diam sehingga pada

saat pengaplikasian bahan sealant kemungkinan terjadi kontaminasi saliva pada

permukaan gigi yang akan di sealant

Hal-hal di atas tersebut dapat menyebabkan terlepasnya fissure sealant

yang disebabkan oleh kondisi sarana dan prasarana di UKGS yang tidak

memadai serta keterampilan operator yang kurang karena kurang patuh pada

SOP Fissure Sealant yang ada. Selain itu, kurangnya kerjasama antara pasien

dengan operator, yang di mana pasien tidak mau diam ketika dilakukan tindakan

klinis dari fissure sealant juga berpengaruh dalam aplikasi fissure sealant.

Oleh karena itu, operator yang akan melakukan tindakan fissure sealant

seharusnya lebih teliti dan mematuhi SOP Fissure Sealant untuk mengurangi

jumlah fissure sealant yang terlepas. Karena fissure sealant merupakan tindakan

khusus yang selayaknya menggunakan sarana dan prasarana penunjang yang

memadai, maka sebaiknya institusi penyelenggara UKGS melengkapi sarana dan

prasarana yang seharusnya. Selain itu, orang tua yang akan menjemput anaknya
di UKGS sebaiknya memahami bahwa setiap tindakan perawatan gigi

diantaranya yaitu fissure sealant memerlukan waktu untuk setiap tahapnya agar

didapatkan hasil yang optimal. Dan untuk siswa yang fissure sealant-nya terlepas

maka sebaiknya dilakukan tindakan aplikasi fissure sealant kembali meskipun

tidak terjadi karies yang akan dilakukan oleh kakak asuhnya pada tahun

berikutnya.

Hasil penelitian dari pemeriksaan 23 siswa SDN Komplek Luginasari

dengan jumlah 25 gigi, didapatkan data kejadian karies sekunder pada gigi yang

sudah di fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun sebanyak 4 gigi (16%).

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan timbulnya karies sekunder pada gigi

yang sudah di fissure sealant, jika dilakukan tidak sesuai dengan teknik klinik

fissure sealant (Kidd dan Bechal, 2012).

Pada saat membersihkan gigi masih terdapat debris yang tertinggal di

permukaan pit dan fissure tidak terbersihkan secara sempurna pada gigi yang

akan di sealant dapat menyebabkan demineralisasi yang memungkinkan proses

karies tetap berkembang di bawah sealant. Kemudian pada saat pencucian email

yang sudah teretsa dan tidak tercuci dengan bersih, sehingga asam yang

ditimbulkan dari etsa masih ada di permukaan email yang akan di sealant. Selain

itu, kurang teliti pada saat mengecek oklusal menggunakan sonde untuk

mengetahui ada atau tidaknya bahan sealant yang masih menyangkut di sekitar

tepi sealant ketika diperiksa karena jika terdapat sangkutan, tempat tersebut bisa
menjadi tempat melekatnya plak. Ketiga hal tersebut dapat menyebabkan

terjadinya karies sekunder di sekitar fissure sealant yang disebabkan oleh kondisi

sarana dan prasarana di UKGS yang tidak memadai serta keterampilan operator

yang kurang karena kurang patuh pada SOP Fissure Sealant yang ada. Selain itu,

oral hygiene pasien yang buruk dapat menyebabkan karies sekunder pada gigi

yang telah di fissure sealant karena kurang telatennya pasien dalam menjaga

kebersihan gigi dan mulutnya.

Oleh karena itu, operator yang akan melakukan tindakan fissure sealant

seharusnya lebih teliti dan mematuhi SOP Fissure Sealant untuk meminimalisir

terjadinya karies sekunder. Karena fissure sealant merupakan tindakan khusus

yang selayaknya menggunakan sarana dan prasarana penunjang yang memadai,

maka sebaiknya institusi penyelenggara UKGS melengkapi sarana dan prasarana

yang seharusnya. Selain itu, orang tua siswa sebaiknya memahami bahwa setiap

tindakan perawatan gigi diantaranya yaitu fissure sealant memerlukan

ketelatenan dalam merawat kebersihan giginya agar tidak muncul karies

meskipun gigi tersebut telah ditutup oleh bahan sealant.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap siswa SDN

Komplek Luginasari, dapat diperoleh kesimpulan antara lain :

1. Kondisi fissure sealant setelah aplikasi tiga tahun yang masih utuh atau tidak

lepas sebanyak 14 gigi (56%), sedangkan 11 gigi (44%) dengan kondisi

fissure sealant-nya lepas, baik terlepas semua maupun sebagian.

2. Kejadian karies sekunder pada gigi yang sudah di fissure sealant setelah

aplikasi tiga tahun sebanyak 4 gigi (16%), sedangkan 21 gigi (84%) tidak

terjadi karies sekunder.

3. Kejadian karies yang terbentuk pada gigi yang pernah di fissure sealant dan

fissure sealant-nya terlepas setelah aplikasi tiga tahun sebanyak 0 gigi (0%).

B. Saran

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis menyampaikan

saran sebagai berikut :

1. Bagi operator, lebih teliti dalam menentukan indikasi atau kontraindikasi

tindakan fissure sealant.

2. Bagi operator, lebih teliti dan mematuhi SOP yang ada dalam melakukan

tindakan klinis fissure sealant sehingga dapat meminimalisir terlepasnya

fissure sealant dan terjadinya karies sekunder.


3. Untuk institusi, penjelasan mengenai tindakan perawatan gigi yang akan

dilakukan di UKGS termasuk tindakan fissure sealant sebaiknya

dikomunikasikan pada pertemuan orang tua siswa di SD.

4. Untuk anak yang fissure sealant-nya terlepas, sebaiknya dilakukan

pengaplikasian fissure sealant kembali yang akan dilakukan oleh kakak asuh

UKGS pada tahun berikutnya.

5. Fissure sealant merupakan tindakan khusus yang selayaknya menggunakan

sarana dan prasarana penunjang yang memadai, maka sebaiknya institusi

penyelenggara UKGS melengkapi sarana dan prasarana yang seharusnya.


DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, K. J. 2004. Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC.

[Depkes] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1996. Pedoman


Pengembangan Pembinaan UKGS. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Ford, T. R. P. 1993. Restorasi Gigi. Jakarta : EGC.

Forrest, J. O. 1995. Pencegahan Penyakit Mulut. Jakarta : Hipokrates.

Ganesh, M. 2007. “Comparative Evaluation of marginal Sealing Ability of Fuji VII


and Concise as Pit and Fissure”.The Journal Contemporary Dental
Practice.Diakses dari http://www.thejcdo.com/issue033/ganesh/ganesh.pdf
pada 17 Desember 2014.

Harris, O. N. 1999. Primari Preventive Dentistry. USA : Appleton & Lange.

Jubaedah, S. E. 2009.Ketahanan Tambalan Fissure Sealant Setelah Aplikasi 1 dan 2


Tahun di SDN Harapan 2 Bandung Tahun 2009.Bandung :Jurusan Kesehatan
Gigi.

Kervanto, S. 2009. ”Arresting Occlusal Enamel Caries Lesions with Pit and Fissure
Sealant”.Academic Dissertation on Faculty of Medicine University of Helsinki.
Diakses dari
http://www.oa.doria.fi/bitstream/handle/10024/43707/arrestin.pdf?sequence=1
pada 22 Desember 2014.

Kidd, E. A. M. ;S. J.Bechal. 2012. Dasar-dasar Karies :Penyakit dan


Penanggulangannya. Jakarta : EGC.

Lesser, D. 2001. An Overview of Dental Sealants. Diakses dari


http://www.adha.org/downloads/sup_sealant.pdf pada 20 Desember 2014.

Notohartojo, I. T. 2013. Penilaian Indeks DMF-T Anak Usia 12 Tahun Oleh Dokter
Gigi dan Bukan Dokter Gigi di Kabupaten Ketapang Propinsi Kalimantan
Barat.Diakses dari
ejournal.litbang.depkes.go.id/index.p…/MPK/article/view/3064 pada18 Januari
2015.
Nunn, J.H. 2008. “British Society of Paediatric Dentistry : a Policy Document of
Sealants in Peediatric Dentistry”. International Jurnal of Paediatric Dentistry.
Diakses dari http://www.bpsd.co.uk/publication-19.pdf pada 22 Desember
2014.

Pinkham, J. R. 1994. Pediatric DentistryTrough Adolescence. Philadelphia : W.B.


Saunders Co.

Pratiwi, D. 2009. Gigi Sehat dan Cantik.Jakarta :Kompas.

Putri, M. H., Eliza H., Neneng N. 2010. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras
dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta : EGC.

[RISKESDAS] Riset Kesehatan Dasar. 2013. Jakarta:Badan Penelitian dan


Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Subramaniam. 2008. “Retention of Resin Based Sealant and Glass Ionomer Used as a
Fissure Sealant : a Comparative Study”. Jurnal Indian Soc. Pedodontics
Prevent Departement. Diakses dari
http://www.jisppd.com/temp/JIndianSocPedodPrevDent263114-
3280171_090641.pdf pada 22 Desember 2014.

Suryawati, P. N. 2010. 100 Pertanyaan Penting Perawatan Gigi Anak. Jakarta:


DianRakyat.

Susanto, A. J. 2009. Dental Caries (Karies Gigi). Diakses dari http://www.


repository.ui.ac.id pada 22 Desember 2014.

Suwelo, I. S. 1992. Karies Gigi Pada Anak Dengan Berbagai Faktor Ideologi.
Jakarta : EGC.

Walsh, L. J. 2006. “Pitand Fissure Sealant:CurrentEvidence and Concepts”. Dental


Practice Journal. Diakses dari
http://www.fda.gov/…/ResourcesForYou/Consumers/ucm232699_pdf pada 18
Januari 2015.
LAMPIRAN
DATA ANAK YANG DIFISSURE SEALANT SETELAH APLIKASI 3 TAHUN DI KOMPLEK LUGINASARI
(SDN LUGINASARI 1, SDN LUGINASARI 2, DAN SDN SUKAGALIH 7) KOTA BANDUNG
KARIES YANG TEBENTUK
KONDISI FS KARIES SEKUNDER
NO NAMA SISWA GIGI PADA GIGI YG FS-NYA LEPAS
TDK LEPAS LEPAS ADA TDK ADA ADA TDK ADA
1 SPP 36 V V
2 MS 36 V V
3 ABK 36 V V
4 AYR 36 V V
5 DBG 36 V V
6 HF 36 V V
46 V V
7 MGM 36 V V
8 AL 36 V V V
9 NI 46 V V V
10 SM 36 V V V
46 V V
11 WW 46 V V
12 DN 36 V V
13 FF 26 V V
14 PAS 36 V V
15 DMAS 36 V V
16 FNF 36 V V
17 DYA 16 V V V
18 BA 46 V V
19 SR 46 V V
20 FPR 36 V V
21 RA 36 V V
22 OAZ 46 V V
23 L 36 V V
JUMLAH 14 11 4 21 0 7