Anda di halaman 1dari 22

JOURNAL READING

“ SEBUAH REVIEW MENGENAI PENGGUNAAN PELEMBAB PADA


DERMATITIS ATOPIK“

Diajukan untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik


di Departemen Penyakit Kulit dan Kelamin
Rumah Sakit Tentara TK II dr. Soedjono, Magelang

Pembimbing:
Letkol CKM dr. Susilowati, Sp. Kk

Disusun Oleh:
Fauzia Citra Dyanti
1620221221

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
“VETERAN” JAKARTA
RUMAH SAKIT TENTARA TK II DR. SOEDJONO, MAGELANG
LEMBAR PENGESAHAN

JOURNAL READING

“ SEBUAH REVIEW MENGENAI PENGGUNAAN PELEMBAB PADA


DERMATITIS ATOPIK “

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu


Penyakit Kulit dan Kelamin
Rumah Sakit Tentara TK II dr. Soedjono, Magelang

Telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal: 23 Maret 2018

Dokter Pembimbing

Letkol CKM dr. Susilowati, Sp. Kk


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan journal reading dengan judul “ Sebuah
Review Mengenai Penggunaan Pelembab Pada Dermatitis Atopik”. Journal reading ini
ditulis untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai penggunaan pelembab pada
dermatitis atopik dan merupakan salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik
di Departemen Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Tentara TK II dr.
Soedjono, Magelang.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada


dosen pembimbing, Letkol CKM dr. Susilowati, Sp. Kk yang telah meluangkan waktu
untuk membimbing dan memberikan pengarahan dalam penyusunan journal reading
ini dari awal hingga selesai. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa journal reading ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun demi perbaikan dimasa yang akan datang. Semoga laporan
kasus ini dapat berguna bagi kita semua.

Magelang, 23 Maret 2018

Penulis
Sebuah Review Mengenai Penggunaan Pelembab Pada Dermatsitis Atopik

Yoke Chin Giam1,*, Adelaide Ann Hebert2, Maria Victoria Dizon3, Hugo Van Bever4, Marysia Tiongco-
Recto5,
Kyu-Han Kim6, Hardyanto Soebono7, Zakiudin Munasir8, Inne Arline Diana9, and David Chi Kang
Luk10

1
NationalSkin Centre, Singapore 308205, Singapore
2
Departments of Dermatology and Pediatrics, University of Texas-Houston Medical School, Houston,
TX 77030, USA
3
Department of Dermatology, College of Medicine and Surgery, University of Santo Tomas, Manila,
the Philippines
4
Division of Paediatric Allergy, Immunology and Rheumatology, Khoo Teck Puat-National University
Children’s Medical Institute, Singapore 119228, Singapore
5
Section of Allergy and Immunology, Department of Pediatrics, University of the Philippines, Manila,
the Philippines
6
Department of Dermatology, Seoul National University Hospital, Seoul 03080, Korea
7
Department of Dermatology Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281,
Indonesia
8
Department of Allergy and Immunology, Department of Child Health, Medical Faculty, University of
Indonesia, Jakarta, Indonesia
9
Faculty of Medicine, Padjadjaran University/Division of Paediatric Dermatology, Hospital Dr. Hasan
Sadikin, Bandung, Indonesia
10
Department of Pediatrics and Adolescent Medicine, United Christian Hospital, Kwun Tong, Hong
Kong

ABSTRAK

Penatalaksanaan dermatitis atopic (DA) yang efektif melibatkan penanganan pada


barier kulit yang rusak. Maka dari itu, Pasien dengan DA disarankan untuk
menggunakan pelembab secara teratur. Sampai saat ini, hanya ada sedikit studi
komparatif yang melibatkan pelembab pada pasien DA, dan tidak ada sistem klasifikasi
yang menentukan secara objektif jenis pelembab mana yang paling sesuai dengan
fenotipe DA yang spesifik. Dengan pemikiran ini, sekelompok ahli alergi dan
imunologi, dermatologist dewasa dan anak-anak, dan pusat-pusat pediatri di Asia
Tenggara bertemu untuk meninjau data dan praktik terkini serta untuk
mengembangkan rekomendasi mengenai penggunaan pelembab pada pasien dengan
DA di wilayah Asia Pasifik. Dalam melakukan pemilihan pelembab yang sesuai untuk
pasien dengan DA, harus memperhatikan beberapa factor seperti sifat kronis dan
keparahan DA yang diderita pasien, umur pasien, kepatuhan pasien dalam pengobatan,
dan latar belakang ekonomi pasien. Pertimbangan lain yang harus diperhatikan
meliputi sifat ajuvan produk, akseptabilitas kosmetik, dan ketersediaannya. Gambaran
klinis yang baik pada fenotip DA merupakan keuntungan dari penggunaan pelembab
yang spesifik. Diharapkan penelitian di masa depan bisa mengidentifikasi perbedaan
fenotip DA berdasarkan dengan subtipe mutasi filaggrin, evaluasi mikroskopis
confocal, pH, kehilangan air transepidermal atau kehadirannya IgE. Rekomendasi
untuk memperbaiki penggunaan pelembab secara teratur di antara pasien DA
mencakup tindakan yang dilakukan secara fokus pada kepatuhan pengobatan,
pendidikan pasien dan perawat, tujuan pengobatan yang tepat, penghindaran zat
kepekaan, dan berkolaborasi dengan spesialis lain yang relevan.

Kata kunci : Dermatitis Atopik, Kepatuhan, Asia Pasific, Pelembab, Klasifikasi

PENGENALAN

Dermatitis atopik (AD) adalah gangguan inflamasi pruritus kronis


ditandai dengan adanya kerusakan pada barier kulit. Perubahan pada barier kulit ini
menyebabkan peningkatan penetrasi oleh alergen yang berasal dari lingkungan dan
organisme infektif yang menyebabkan peradangan yang terus-menerus di kulit.
Meskipun dahulu kerusakan barrier kulit dikenal sebagai epipenomena, sekarang
kerusakan barier kulit diyakini memainkan peran utama dalam patofisiologi penyakit
ini.

Karena DA bersifat kronis dan memiliki potensi untuk kambuh, strategi


pengobatan yang paling penting adalah melibatkan penanganan dan pencegahan
penyebaran, serta melakukan perbaikan barier kulit dalam jangka panjang melalui
pendidikan pasien yang memadai dan kerja sama dengan para perawat. Di antara
modalitas pengobatan yang tersedia, pelembab adalah persyaratan dasar untuk
penanganan DA yang optimal terlepas dari tingkat keparahannya. Pelembab ini
melembabkan kulit dan memperbaiki fungsi barier kulit. Saat ini pedoman manajemen
merekomendasikan penggunaan pelembab sebagai kunci dan langkah dasar dalam
pengobatan DA bersamaan dengan menghindari pemicu dan kontrol gejala dan
pembengkakan.

Pilihan pengobatan pelembab untuk pasien DA sangat dipengaruhi oleh


preferensi pribadi, dengan beberapa studi komparatif yang dirancang dengan baik yang
menyelidiki efek pelembab dalam pasien. Apalagi saat ini belum ada klasifikasi klinis
secara obyektif yang menentukan jenis pelembab yang paling sesuai untuk fenotipe
DA yang spesifik. Mengingat isu-isu ini dan variasi luas yang diamati dalam
pengobatan DA wilayah Asia Pasifik, diskusi panel yang terdiri dari sepuluh pakar
alergi dan imunologi, dermatologist dewasa dan anak-anak, dan ahli anak-anak dari
sekitar wilayah Asia Pasifik berkumpul untuk melakukan pertemuan pada bulan Juni
2014 untuk membahas pentingnya penggunaan pelembab yang tepat dalam pengobatan
DA. Tinjauan ini menyoroti topik yang dibahas dalam diskusi ini, serta menyajikan
rekomendasi yang diterima oleh panel.

PERATURAN PENGGUNAAN PELEMBAB PADA DERMATITIS ATOPIK

Prinsip dasar dalam pengobatan DA adalah perawatan kulit secara optimal yang
memadai untuk mengatasi kerusakan kulit. Disfungsi barier kulit ini bermanifestasi
sebagai peningkatan kehilangan air transepidermal (TEWL) dan peningkatan penetrasi
alergen dan agen infeksius yang menyebabkan peradangan dan pruritus intens. Hal
yang berkontribusi untuk kelainan ini adalah terganggunya diferensiasi terminal
epidermal yang dapat menyebabkan defisiensi filaggrin dan penurunan lemak kulit
alami. Pelembab mengembalikan kemampuan lapisan lemak interselular untuk
menyerap, menyimpan dan mendistribusikan air. Pelembab ini mungkin menembus
dan berkontribusi pada reorganisasi struktur lapisan kulit. Pelembab meningkatkan
hidrasi kulit yang diukur dengan parameter subjektif dan objektif.
Secara keseluruhan, pemilihan pelembab dalam praktik bergantung pada
temuan yang paling banyak memiliki manfaat berdasarkan pertimbangan dan hasil
subjektif yang dilakukan oleh dokter dan pasiennya. Akseptabilitas kosmetik pada
pelembab juga harus menjadi pertimbangan jika kepatuhan dan hasil ingin
ditingkatkan. Faktor penting lainnya adalah ketersediaan produk dan kemasan yang
mudah digunakan untuk dibawa dalam jumlah yang memadai.

KLASIFIKASI PELEMBAB

Pelembab dapat dibagi menjadi berberapa kelompok. Istilah pelembab dan


emolien dapat digunakan secara bergantian. Namun, dalam ulasan ini, emolien
dianggap sebagai pelembab yang terdiri dari lipid dan senyawa pelembab. Produk-
produk ini diformulasikan dalam berbagai sistem pengiriman termasuk gel, minyak,
krim, salep, dan lotion, serta memiliki komposisi dan sifat yang berbeda untuk
meningkatkan khasiat.
PELEMBAB DAN OBAT ANTI INFLAMASI

Terdapat beberapa pilihan obat anti-inflamasi yang tersedia untuk mengobati


DA. Kortikosteroid dianggap tepat untuk kebanyakan pasien. Penghambat kalsineurin
bisa memberi aktivitas antiinflamasi alternatif tanpa efek samping yang berhubungan
dengan kortikosteroid. Baru-baru ini, beberapa agen antiinflamasi yang lebih baru telah
ditambahkan ke dalam formulasi pelembab untuk meringankan DA ringan sampai
sedang. Terdapat beberapa agen anti-inflamasi yaitu asam glycyrrhetinic,
palmitoylethanolamine, telmesteine, Vitis vinifera, produk perbaikan barrier lemak
yang dominan seramide dan produk pemecahan filaggrin (misalnya, ceramide
prekursor / pseudoceramide, sphingolipid 5-sphingosine, niacinamide, vitamin B3,
asam karboksilat karboksilat, dan arginin). Agen aktif ini dikombinasikan dengan
emolien atau humektan, yang dapat memberikan perbaikan pada barrier dan kontrol
terhadap xerosis.

Beberapa pilihan nonsteroidal, seperti noncalcineurin, sekarang telah tersedia.


MAS063DP adalah yang pertama kali disetujui oleh Administrasi Makanan dan Obat
AS untuk menghilangkan gejala AD dan dermatitis kontak alergi. MAS063DP adalah
krim nonsteroid yang dapat memperbaiki barrier kulit yang mengandung glycyrrhetinic
asam, ekstrak Vitis vinifera dan telmesteine dalam kombinasi dengan shea mentega
(emolien) dan asam hialuronat (humektan). Berdasarkan penelitian yang dilakukan
secara acak, MAS063DP adalah monoterapi efektif untuk AD ringan sampai sedang
pada anak dan pasien dewasa.

FENOTIP PASIEN DAN PELEMBAB

Tingkat keparahan penyakit kronis, terutama DA, berdampak pada kualitas


hidup (QoL) dari pasien dan keluarga. Pada pasien dengan DA, kualitas hidup yang
berkurang biasanya disebabkan oleh garukan yang diakibatkan karena rasa gatal dan
masalah tidur yang berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit yang lebih besar.
Kelompok pasien tertentu dengan morfologi penyakit yang serupa telah
dipertimbangkan untuk mendapatkan manfaat dari jenis pelembab yang spesifik.
Namun, sistem klasifikasi yang digunakan untuk menentukan jenis pelembab yang
paling cocok untuk fenotip DA ini belum dikembangkan.

Terdapat beberapa gen yang berkontribusi pada jenis kulit dan


mekanisme perbaikan yang menyiratkan adanya fenotip DA yang berbeda. Namun, ada
pengetahuan yang cukup tentang substrat yang diperlukan (yaitu, bahan pelembab)
untuk mengatasi kerusakan epidermis yang spesifik. Oleh karena itu, pemilihan
pelembab ditentukan oleh preferensi individu, keamanan, kemanjuran dan tidak adanya
wewangian, sifat aditif atau agen sensitisasi lainnya.
Perkumpulan ahli klinis dari Inggris telah mengembangkan panduan mengenai
pemilihan pelembab untuk jenis kulit kering pada pasien dengan DA. Untuk kasus DA
yang ringan hingga sedang, krim oklusif emolien yang dianjurkan tergantung dari
ketebalan barier, kandungan lipid yang bervariasi, tingkat keparahan penyakit dan
lokasi tubuh. Untuk AD yang lebih parah, salep emolien oklusif direkomendasikan,
tetapi ahli klinis mengakui bahwa ini mungkin memiliki penerimaan terbatas. Untuk
AD yang sangat parah, salep oklusif tanpa kandungan air bisa dipertimbangkan. Jika
krim emolien sederhana tidak efektif atau produk yang lebih diminati tidak dapat
diterima, krim emolien yang mengandung humase yang dapat diterapkan. Terakhir,
untuk pruritus direkomendasikan emolien yang mengandung suatu agen antipruritik.
Namun, para ahli mengakui bahwa mungkin terdapat kesulitan mengenai diferensiasi
jenis kulit saat menggunakan pendekatan ini (misalnya, "kering" versus "sangat kering"
kulit).

PREFERENSI ASIA PASIFIC

DA adalah kelainan yang relatif umum terdapat pada pasien di wilayah Asia
Pacific. Dalam survei 2 tahun di Singapura pada tahun 1989, dermatitis masuk dalam
peringkat teratas di antara kelainan kulit yang paling umum terdapat pada Pasien yang
berasal dari Tionghoa, Melayu, dan India. Baru-baru ini, data dari survei cross-
sectional internasional tentang anak-anak sekolah dilaporkan bahwa prevalensi DA
pada anak-anak berusia 13-14 tahun berkisar antara 0,9% di China dan 9% di Malaysia
dan Singapura. Prevalensi DA di negara-negara Asia-Pasifik nampak meningkat yang
dikaitkan dengan faktor lingkungan dan sosio-ekonomi. Kejadian dan tingkat
keparahan AD di antara pasien Asia juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan, budaya
dan faktor makanan. Selanjutnya, bukti adanya kemungkinan mutasi gen filaggrin lebih
luas terdapat pada populasi Asia. Di seluruh kawasan Asia-Pasifik, terdapat variasi
dalam jenis kulit, serta perbedaan besar dalam kondisi sosial ekonomi. Di dunia ini,
manajemen DA cenderung dipengaruhi oleh perbedaan sistem perawatan kesehatan
dan akses ke perawatan medis, serta budaya keragaman dan iklim variabel. Data survei
regional menunjukkan adanya variasi subtantial di Asia mengenai praktik pengobatan
di DA. Panduan konsensus yang baru saja diterbitkan berfokus secara khusus pada DA
di kawasan Asia Pasifik. Pedoman ini merekomendasikan penggunaan pelembab
secara teratur sebagai terapi pemeliharaan dan sebagai terapai tambahan seperti steroid
topikal. Panduan spesifik ini juga mencatat bahwa penggunaan pelembab harus
bergantung pada jenis kulit, tingkat kekeringan, dan kelembapan iklim.

HAMBATAN PADA PENGOBATAN DERMATITIS ATOPIK

Pengobatan DA yang tidak memuaskan telah dikaitkan dengan


kesalahpahaman tentang penyakit ini, kurangnya informasi dan pengelolaan diri serta
ketidakpatuhan yang tidak memadai. Berbagai hambatan pada kepatuhan pasien
mengenai pengobatan AD telah diidentifikasi. Hambatan tersebut mencakup
keterampilan komunikasi yang buruk dari penyedia layanan kesehatan,
ketidakmampuan untuk menciptakan hubungan dokter-pasien yang terpercaya,
kurangnya waktu yang cukup untuk mengedukasi pasien selama kunjungan klinis, dan
kurangnya komunikasi timbal balik yang efektif antara pasien dan dokter. Kurangnya
komunikasi yang efektif menyebabkan kegagalan untuk mendapatkan sudut pandang
pasien mengenai penyakit ini, serta kegagalan untuk mengatasi kekhawatiran pasien.
Kurangnya diskusi mengenai dampak penyakit pada kualitas hidup pasien mungkin
dirasakan oleh pasien sebagai kurangnya rasa empati yang disapatkan dari seorang
dokter. Hambatan lainnya yaitu tidak mengikutsertakan pasien dengan rencana
pengobatan dan kegagalan dokter untuk mengenali tingkat pendidikan / pemahaman
pasien. Hambatan tersebut dapat mempengaruhi perawatan diri pasien yang
diakibatkan karena informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan usia atau budaya
yang dimiliki oleh pasien. Oleh karena itu, pembelajaran yang didapatkan dari
hambatan pengobatan DA, diharapkan dapat memperbaiki perkembangan hubungan
fungsional dokter-pasien yang akan memungkinkan pengambilan keputusan yang
terbimbing dan kepatuhan terhadap pengobatan, khususnya penggunaan pelembab.
PROGRAM EDUKASI UNTUK PASIEN DENGAN DERMATITIS ATOPIK

Program pendidikan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran Pasien dengan


DA. Mereka adalah alat yang efektif untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan
dengan cara menyediakan dukungan psikologis untuk pasien dan para perawat. Topik
penting untuk setiap program pendidikan pada pasien AD termasuk penyebab atau
pemicu AD (terutama disfungsi penghalang kulit), manifestasi klinis dan bentuk dari
DA, pilihan pengobatan dan perawatan kulit yang berfokus pada manajemen penyakit
dan rencana perawatan jangka panjang, serta pengelolaan lingkungan. Berbagai
program pendidikan komprehensif tersedia, misalnya pendidikan pasien terapeutik
yang membantu pasien dengan penyakit kronis memperoleh atau mempertahankan
keterampilan yang mereka butuhkan untuk meningkatkan kepatuhan terapi mereka,
kesehatan umum dan kualitas hidup.

Selain itu, keterlibatan perawat dermatologi dalam perawatan dan pendidikan


pasien telah terbukti meningkatkan perawatan dan kontrol pada gejala pasien.
Meskipun awalnya digunakan untuk tujuan non-medis, identifikasi yang spesifik,
terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbasis waktu (SMART) telah semakin digunakan
dalam praktek medis untuk memberikan panduan terstruktur bagi pasien untuk
menetapkan tujuan pengobatan untuk kondisi kronis. Tujuannya dapat dituliskan dalam
jurnal pribadi pribadi. Pasien perlu mendapat pendidikan mengenai penghindaran
bahan-bahan yang telah menyebabkan iritasi kulit seperti pada pembersih dan deterjen,
atau bahkan pelembab. Telah ditemukan adanya beberapa zat yang dapat menyebabkan
reaksi imunologis yang diakibatkan karena adanya hipersensitivitas setelah pasein
berkontak dengan zat tersebut. Dengan demikian, pasien harus diberi tahu tentang iritan
ini (mis., Neomisin, lavender, natrium lauril sulfat, setil alkohol, dll.) dan dari alergen
(mis., minyak kacang, yang merupakan penyebab alergi makanan di Asia, wewangian,
paraben).
DISKUSI PARA AHLI MENGENAI PRAKTIK KLINIS SAAT INI

Dalam hal faktor klinis, para ahli menyimpulkan bahwa kronisitas dan tingkat
keparahan AD adalah pertimbangan utama saat memilih pengobatan untuk AD.
Mayoritas para ahli setuju bahwa usia pasien, kepatuhan, kualitas hidup dan latar
belakang ekonomi juga merupakan masalah penting. Sifat ajuvan, akseptabilitas
kosmetik, biaya, aksesibilitas, dan ketersediaan krim atau formulasi salep dianggap
penting oleh sebagian besar ahli saat memilih produk pelembab untuk pasien mereka.
Pertimbangan lain dalam pemilihan pelembab dalam praktek termasuk preferensi
pribadi pasien, yang mungkin dipengaruhi oleh kondisi cuaca, waktu, dan biaya.
Beberapa ahli mencatat bahwa mereka menawarkan pilihan produk pelembab yang
sesuai untuk masing-masing pasien.
Para ahli tersebut mengakui bahwa mungkin ada fenotipe klinis AD yang
terdefinisi dengan baik yang secara optimal akan diuntungkan dari pelembab yang
spesifik. Kategori dari fenotip klinis tersebut dapat diidentifikasi melalui perbedaan
berdasarkan subtipe mutasi filaggrin, evaluasi mikroskopis confocal, pH, level TEWL,
kehadiran IgE spesifik alergi pada kulit oriental versus non-oriental. Terakhir,
pelembab yang diresepkan pada berbagai fenotipe harus berguna untuk keduanya kulit
lesi dan / atau nonlesional.

REKOMENDASI PARA AHLI

Meskipun penggunaan pelembab dalam perawatan AD telah secara luas diakui,


terdapat banyak variabilitas dalam hal praktik resep dan pemahaman pasien [41]. Oleh
karena itu, para ahli membentuk rekomendasi untuk penggunaan pelembab pasien
dengan AD di wilayah Asia-Pasifik

Pendekatan Pada Pasien


Perlunya pelembab harus ditekankan pada pasien dan para perawat selama
kunjungan klinik dengan menggunakan pendekatan yang berpusat pada pasien.
Kunjungan klinik digunakan untuk membahas tujuan dan manfaat terapi. Selebaran
instruksional dapat disediakan bersamaan dengan panduan mengenai periode ketika
pasien diketahui memiliki kemungkian untuk menderita DA (yaitu, march alergi pada
pediatrik pasien). Pemicu spesifik yang berasal dari lingkungan harus dievaluasi dan
dideteksi untuk mencegah flare-up di masa mendatang dan diet yang tidak perlu
modifikasi. Semua krim harus diperkenalkan kepada pasien bersamaan dengan
penjelasan tentang bagaimana, dan seberapa banyak. Preferensi pribadi pasien harus
dipertimbangkan sebagai sarana untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan mereka.
Pasien harus diberitahu tentang biaya krim dan perawatan lainnya. Jika biaya menjadi
masalah, pasien wajib diberitahu mengenai pelebab yang memiliki harga yang tidak
mahal. Pasien harus didorong untuk mencoba pelembab yang sesuai sehingga cukup
untuk megobat gejala.

Pendekatan Holistic Untuk Edukasi Pasien


Berdasarkan hal yang telah disebutkan di atas, penggunaan pelembab pada
terapi AD bisa dioptimalkan dengan mengembangkan sasaran SMART, menjelaskan
jangka panjang rencana perawat bersikap empati dan memotivasi, dan dengan
menerima semua pertanyaan dari pasien dan perawat. Untuk membahas apakah tujuan-
tujuan ini telah dipenuhi atau tidak, pertemuan lanjutan harus dijadwalkan sejak dini
selama jadwal perawatan.

Bantuan Professional Tambahan


Pengobatan AD harus melibatkan kolaborasi antar dokter spesialis (mis.,
dermatologists, dokter anak, imunologi, pulmonologists, THT, dokter mata, ahli alergi)
untuk menangani semua yang terkait dengankondisi pasien (misalnya, AD, asma,
rinitis alergi, alergi konjungtivitis, alergi makanan). Hal tersebut dapat memastikan
adanya manajemen yang menyeluruh mengenai kondisi pasien.

KESIMPULAN
AD adalah kondisi kronis dan dapat kambuh yang membutuhkan perawatan
terus menerus pada kerusakan kulit yang terjadi. Pengelolaan kondisi ini bergantung
pada pendekatan preventif dan terapeutik yang efektif yang didapatkan dari
komunikasi dengan baik kepada pasien dan perawat. Pelembap sangat penting untuk
pencegahan dan penggunaan optimal dari produk yang tepat dapat menghasilkan hasil
yang lebih baik. Pasien dengan DA dan dokter mereka di wilayah Asia Pasifik
menghadapi tantangan khusus, dan variasi luas.

Pendapat ahli spesialis dari Asia-Pasifik wilayah menegaskan bahwa pilihan


pengobatan di AD sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas perawatan, pertimbangan
biaya dan preferensi pribadi subjektif. Adanya bukti untuk mendukung keberadaan
fenotipe klinis yang spesifik dalam AD dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk
mengembangkan langkah-langkah obyektif yang digunakan untuk mengidentifikasi
fenotipe ini untuk membantu dokter dalam membuat pilihan pengobatan rasional.
Para ahli mengusulkan sejumlah rekomendasi untuk mendukung kepatuhan
pengobatan dan edukasi pasien untuk mengoptimalkan hasil pemilihan pengobatan
untuk AD. Pengobatan juga harus holistik dan seharusnya pertimbangkan kondisi lain
pasien yang ada
DAFTAR PUSTAKA

1. Vijayanand P, Seumois G, Simpson LJ, Abdul-Wajid S, Baumjohann D,


Panduro M, Huang X, Interlandi J, Djuretic IM, Brown DR, Sharpe AH,
Rao A, Ansel KM. Interleukin-4 production by follicular helper T cells
requires the conserved Il4 enhancer hypersensitivity site V. Immunity
2012;36:175-87.

2. Kabashima K. New concept of the pathogenesis of atopic dermatitis: interplay


among the barrier, allergy, and pruritus as a trinity. J Dermatol Sci 2013;70:3-
11.

3. Akdis CA, Akdis M, Bieber T, Bindslev-Jensen C, Boguniewicz M,


Eigenmann P, Hamid Q, Kapp A, Leung DY, Lipozencic J, Luger TA, Muraro
A, Novak N, Platts-Mills TA, Rosenwasser L, Scheynius A, Simons FE, Spergel
J, Turjanmaa K, Wahn U, Weidinger S, Werfel T, Zuberbier T; European
Academy of Allergology and Clinical Immunology/
American Academy of Allergy, Asthma and Immunology. Diagnosis and
treatment of atopic dermatitis in children and adults: European Academy of
Allergology and Clinical Immunology/American Academy of Allergy, Asthma
and Immunology/PRACTALL Consensus Report. J Allergy Clin Immunol
2006;118:152-69.

4. Simpson E, Dutronc Y. A new body moisturizer increases skin hydration and


improves atopic dermatitis symptoms among children and adults. J Drugs
Dermatol 2011;10:744-9.

5. National Institute for Health and Care Excellence. NICE Pathways - Mapping
our guidance. [Internet]. London: National Institute for Health and Care
Excellence; c2016 [cited 2016 Jan 28]. Available from: http://pathways.
nice.org.uk/pathways/atopic-eczema-in-children#path=view%3A/
pathways/atopic-eczema-in-children/treatments-for-atopic-eczema-
inchildren.xml&content=close.

6. Ring J, Alomar A, Bieber T, Deleuran M, Fink-Wagner A, Gelmetti C,


Gieler U, Lipozencic J, Luger T, Oranje AP, Schafer T, Schwennesen T,
Seidenari S, Simon D, Stander S, Stingl G, Szalai S, Szepietowski JC, Taïeb A,
Werfel T, Wollenberg A, Darsow U; European Dermatology Forum (EDF);
European Academy of Dermatology and Venereology (EADV); European
Federation of Allergy (EFA); European Task Force on
Atopic Dermatitis (ETFAD); European Society of Pediatric Dermatology
(ESPD); Global Allergy and Asthma European Network (GA2LEN).
Guidelines for treatment of atopic eczema (atopic dermatitis) part I. J Eur Acad
Dermatol Venereol2012;26:1045-60.

7. Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Atopic


dermatitis (eczema) [Internet]. Brookvale (AU): Australasian Society of Clinical
Immunology and Allergy; c2016 [cited 2016 Jan 29]. Available from:
http://www.allergy.org.au/health-professionals/hpinformation/asthma and-
allergy/atopic-dermatitis.

8. Lynde C, Barber K, Claveau J, Gratton D, Ho V, Krafchik B, Langley


R, Marcoux D, Murray E, Shear N. Canadian practical guide for the treatment
and management of atopic dermatitis. J Cutan Med Surg 2005;8 Suppl 5:1-9.

9. Sinclair W, Aboobaker J, Green R, Jordaan F, Levin M, Lewis H, Manjra A,


Puterman A, Todd G. Guidelines on the management of atopic dermatitis in
South Africa [Internet]. London: Dermatology; c2015 [cited 2016 Jan 28].
Available from:
http://www.derma.co.za/images/Guidelines_on_the_management_of_atopic_d
ermatitis_in_South_Africa.pdf.

10. Rubel D, Thirumoorthy T, Soebaryo RW, Weng SC, Gabriel TM,


Villafuerte LL, Chu CY, Dhar S, Parikh D, Wong LC, Lo KK; Asia-Pacific
Consensus Group for Atopic Dermatitis. Consensus guidelines for the
management of atopic dermatitis: an Asia-Pacific perspective. J Dermatol
2013;40:160-71.

11. Lindh JD, Bradley M. Clinical Effectiveness of moisturizers in atopic


dermatitis and related disorders: a systematic review. Am J Clin

12. Moncrieff G, Cork M, Lawton S, Kokiet S, Daly C, Clark C. Use of


emollients in dry-skin conditions: consensus statement. Clin Exp Dermatol
2013;38:231-8.

13. Kraft JN, Lynde CW. Moisturizers: what they are and a practical
approach to product selection. Skin Therapy Lett 2005;10:1-8.

14. Lynde CW. Moisturizers: what they are and how they work. Skin
TherapyLett2001;6:3-5.
15. Loden M. Effect of moisturizers on epidermal barrier function. Clin
Dermatol2012;30:286-96.

16. Rawlings AV, Canestrari DA, Dobkowski B. Moisturizer technology versus


clinical performance. Dermatol Ther 2004;17 Suppl 1:49-56.

17. Breternitz M, Kowatzki D, Langenauer M, Elsner P, Fluhr JW.


Placebocontrolled, double-blind, randomized, prospective study of a
glycerolbased emollient on eczematous skin in atopic dermatitis: biophysical
and clinical evaluation. Skin Pharmacol Physiol 2008;21:39-45.

18. Eichenfield LF, Tom WL, Berger TG, Krol A, Paller AS, Schwarzenberger
K, Bergman JN, Chamlin SL, Cohen DE, Cooper KD, Cordoro KM, Davis DM,
Feldman SR, Hanifin JM, Margolis DJ, Silverman RA, Simpson EL, Williams
HC, Elmets CA, Block J, Harrod CG, Smith Begolka W, Sidbury R. Guidelines
of care for the management of atopic dermatitis: section 2. Management and
treatment of atopic dermatitis with
topical therapies. J Am Acad Dermatol 2014;71:116-32.

19. Arkwright PD, Motala C, Subramanian H, Spergel J, Schneider LC,


Wollenberg A; Atopic Dermatitis Working Group of the Allergic Skin Diseases
Committee of the AAAAI. Management of difficult-to-treat atopic dermatitis. J
Allergy Clin Immunol Pract 2013;1:142-51.

20. Lynde C. Moisturizers for the treatment of inflammatory skin conditions.


JDrugsDermatol2008;7:1038-43.

21. Varothai S, Nitayavardhana S, Kulthanan K. Moisturizers for patients with


atopic dermatitis. Asian Pac J Allergy Immunol 2013;31:91-8.

22. Simpson EL. Atopic dermatitis: a review of topical treatment options.


Curr Med Res Opin 2010;26:633-40.

23. Carr WW. Topical calcineurin inhibitors for atopic dermatitis: review
and treatment recommendations. Paediatr Drugs 2013;15:303-10.

24. Paediatric Dermatology Subspecialty Core Group of the Philippine


Dermatological Society. A guide to understanding moisturizers in atopic
dermatitis. Quezon (PH): PhilippineDermatologicalSociety;2014.

25. Abramovits W, Perlmutter A. Atopiclair: its position within a topical


paradigm for the treatment of atopic dermatitis. Expert Rev Dermatol
2007;2:115-9.
26. Abramovits W, Boguniewicz M; Adult Atopiclair Study Group. A
multicenter, randomized, vehicle-controlled clinical study to examine the
efficacy and safety of MAS063DP (Atopiclair) in the management of mild to
moderate atopic dermatitis in adults. J Drugs Dermatol 2006;5:236-44.

27. Baum ew, Del Rosso J, Dwyer GA, Eastern JS, Herron MD. MAS063
(Atopiclair®) for the treatment of atopic dermatitis in infants and children:
proceedings of a roundtable discussion. J Clin Aesthet Dermatol [Internet]. 2008
(Suppl B) Nov [cited 2016 Jan 28];1:1-16. Available from:
http://www.jcadonline.com/wp-content/uploads/2009/04/atopiclair_
roundtable_supplb_to_nov08.pdf.

28. Atopiclair [prescribing information]. Bristol (TN): Graceway


Pharmaceuticals, LLC; 2007 [cited 2016 Jan 28]. Available from; http://www.
flexus.com/atopiclair/Atopiclair%20Prescribing%20Info.pdf.

29. Boguniewicz M, Zeichner JA, Eichenfield LF, Hebert AA, Jarratt M,


Lucky AW, Paller AS. MAS063DP is effective monotherapy for mild to
moderate atopic dermatitis in infants and children: a multicenter, randomized,
vehicle-controlled study. J Pediatr 2008;152:854-9.

30. Schneider L, Tilles S, Lio P, Boguniewicz M, Beck L, LeBovidge J, Novak


N, Bernstein D, Blessing-Moore J, Khan D, Lang D, Nicklas R, Oppenheimer J,
Portnoy J, Randolph C, Schuller D, Spector S, Tilles S, Wallace D. Atopic
dermatitis: a practice parameter update 2012. J Allergy Clin Immunol
2013;131:295-9.e1-27.

31. Madison KC. Barrier function of the skin: “la raison d’etre” of the epidermis.
J Invest Dermatol2003;121:231-41.

32. Chua-Ty G, Goh CL, Koh SL. Pattern of skin diseases at the National
Skin Centre (Singapore) from 1989-1990. Int J Dermatol 1992;31:555-9.

33. Lee BW, Detzel PR. Treatment of childhood atopic dermatitis and economic
burden of illness in Asia Pacific countries. Ann Nutr Metab 2015;66 Suppl 1:18-
24.

34. Chen H, Common JE, Haines RL, Balakrishnan A, Brown SJ, Goh CS,
Cordell HJ, Sandilands A, Campbell LE, Kroboth K, Irvine AD, Goh DL, Tang
MB, van Bever HP, Giam YC, McLean WH, Lane EB. Wide spectrum of
filaggrin-null mutations in atopic dermatitis highlights differences between
Singaporean Chinese and European populations. BrJDermatol2011;165:106-14.

35. Nomura T, Sandilands A, Akiyama M, Liao H, Evans AT, Sakai K, Ota M,


Sugiura H, Yamamoto K, Sato H, Palmer CN, Smith FJ, McLean WH, Shimizu
H. Unique mutations in the filaggrin gene in Japanese patients with ichthyosis
vulgaris and atopic dermatitis. J Allergy Clin Immunol 2007;119:434-40.

36. Chan YC, Tay YK, Sugito TL, Boediardja SA, Chau DD, Nguyen KV, Yee
KC, Alias M, Hussein S, Dizon MV, Roa F, Chan YH, Wananukul S,
Kullavanijaya P, Singalavanija S, Cheong WK. A study on the knowledge,
attitudes and practices of Southeast Asian dermatologists in the management of
atopic dermatitis. Ann Acad Med Singapore

37. Shin JY, Kim do W, Park CW, Seo SJ, Park YL, Lee JR, Kim MB, Kim KH,
Ro YS, Cho SH. An educational program that contributes to improved patient
and parental understanding of atopic dermatitis. Ann Dermatol 2014;26:66-72.

38. Hon KL, Wang SS, Pong NH, Leung TF. The ideal moisturizer: a survey
of parental expectations and practice in childhood-onset eczema. J Dermatolog
Treat 2013;24:7-12.

39. Santer M. Childhood eczema treatment: the barriers. Nurs Times


2014;110:23-5.

40. Cork MJ, Britton J, Butler L, Young S, Murphy R, Keohane SG. Comparison
of parent knowledge, therapy utilization and severity of atopic eczema before
and after explanation and demonstration of topical therapies by a specialist
dermatology nurse. Br J Dermatol2003;149:582-9.

41. Holden C, English J, Hoare C, Jordan A, Kownacki S, Turnbull R, Staughton


RC. Advised best practice for the use of emollients in eczema and other dry skin
conditions. JDermatologTreat2002;13:103-6.

42. Long CC, Mills CM, Finlay AY. A practical guide to topical therapy in
children. Br J Dermatol 1998;138:293-6.

43. Weingarten SR, Henning JM, Badamgarav E, Knight K, Hasselblad V, Gano


A Jr, Ofman JJ. Interventions used in disease management programmes for
patients with chronic illness-which ones work? Meta-analysis of published
reports. BMJ 2002;325:925.
44. Staab D, von Rueden U, Kehrt R, Erhart M, Wenninger K, Kamtsiuris P,
Wahn U. Evaluation of a parental training program for the management of
childhood atopic dermatitis. Pediatr Allergy Immunol 2002;13:84-90.

45. Futamura M, Masuko I, Hayashi K, Ohya Y, Ito K. Effects of a shortterm


parental education program on childhood atopic dermatitis: a randomized
controlled trial. Pediatr Dermatol 2013;30:438-43.

46. Kupfer J, Gieler U, Diepgen TL, Fartasch M, Lob-Corzilius T, Ring J,


Scheewe S, Scheidt R, Schnopp C, Szczepanski R, Staab D, Werfel T,
Wittenmeier M, Wahn U, Schmid-Ott G. Structured education program
improves the coping with atopic dermatitis in children and their parents-a
multicenter, randomized controlled trial. J Psychosom
Res 2010;68:353-8.

47. Lawton S. Atopic eczema and evidence-based care. J Dermatol Nurse


Assoc2011;4:131-9.

48. Substance Abuse and Mental Health Services Administration. S.M.A.R.T.


treatment planning [Internet]. Rockville (MD): SAMHSA; c2016 [cited 2016
Jan 28]. Available from: http://www.samhsa.gov/
samhsa_news/volumexiv_5/article2.htm.

49. Saint Vincent Catholic Medical Centers. Treatment plans using the
S.M.A.R.T. model [Internet]. Rockville (MD): SAMHSA; c2016 [cited 2016
Jan 28]. Available from: https://www.decisionhealth.com/
content/articles/Facilities/SMART_Train_the_trainer.pdf.

50. US Consumer Product Safety Commission. CPSC staff’s strong


sensitizer guidance document [Internet]. Bethesda (MD): US Consumer Product
Safety Commission; c2016 [cited 2016 Jan 28]. Available from:
http://www.cpsc.gov/Global/Regulations-Laws-andStandards/Regulated-
Products Rules/strongsensitizerguidance.pdf