Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit tular Vektor dan zoonotik merupakan penyakit menular melalui
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, antara lain malaria, demam berdarah,
filariasis (kaki gajah), chikungunya, japanese encephalitis (radang otak), rabies
(gila anjing), leptospirosis, pes, dan schistosomiasis (demam keong). Penyakit
tersebut hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia
dengan angka kesakitan dan kematian yang cukup tinggi serta berpotensi
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dan/atau wabah serta memberikan
dampak kerugian ekonomi masyarakat.
Upaya penanggulangan penyakit tular Vektor dan zoonotik selain dengan
pengobatan terhadap penderita, juga dilakukan upaya pengendalian Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit, termasuk upaya mencegah kontak secara langsung
maupun tidak langsung dengan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, guna
mencegah penularan penyakit menular, baik yang endemis maupun penyakit baru
(emerging).
Penyakit tular Vektor dan zoonotik menjadi permasalahan kesehatan di
Indonesia karena penyakit ini endemis dan sering kali menimbulkan kejadian luar
biasa (KLB). Pada tahun 2016 jumlah penderita akibat lima penyakit tular Vektor
dan zoonotik di Indonesia sebesar 426.480 penderita, terdiri dari malaria sebesar
208.450 penderita, demam berdarah sebesar 204.171 penderita, chikungunya
sebesar 807 penderita, japanese enchepalitis sebesar 43 penderita, dan filariasis
sebesar 13.009 penderita.
Dalam rangka pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit,
pemerintah telah menetapkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
374/Menkes/Per/III/2010 tentang Pengendalian Vektor. Namun sejalan dengan
perkembangan hukum, pengetahuan, dan teknologi, peraturan menteri kesehatan
tersebut perlu disesuaikan dengan perkembangan program pengendalian Vektor
dan Binatang Pembawa Penyakit serta program penanggulangan penyakit tular
Vektor dan zoonotik yang menuntut untuk dilakukan reduksi, eliminasi, dan
eradikasi. Selain itu, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014
tentang Kesehatan Lingkungan, Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
merupakan media lingkungan yang perlu ditetapkan Standar Baku Mutu
Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan serta upaya pengendaliannya.
Untuk itu Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan penyelenggara harus
memiliki pedoman untuk melaksanakan kewajiban guna memenuhi Standar Baku
Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan untuk Vektor dan
Binatang Pembawa Penyakit. Pengaturan ini juga diperlukan untuk memberikan
edukasi kepada masyarakat.

1
1.2 Maksud dan Tujuan
1.2.1 Maksud
Maksud dibuatnya pedoman ini terdapat dalam Pasal 2 BAB 1
Ketentuan Umum dalamPeraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 50 Tahun 2017 Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Dan Persyaratan Kesehatan Untuk Vektor Dan Binatang Pembawa Penyakit
Serta Pengendaliannya, yaitu:
Peraturan Menteri ini bermaksud untuk:
a. mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat dengan menurunkan
kepadatan Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit;
b. mencegah penularan dan penyebaran penyakit tular Vektor dan
zoonotik; dan
c. memberikan acuan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Penyelenggara, dan pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan
Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit.
1.2.2 Tujuan
Pedoman ini bertujuan untuk memberikan acuan bagi Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam mewujudkan kualitas
lingkungan yang sehat dengan menurunkan kepadatan Vektor dan Binatang
Pembawa Penyakit serta mencegah penularan dan penyebaran penyakit tular
Vektor dan zoonotik sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.
1.3 Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, serta
sistematika penulisan.
BAB 2 DASAR TEORI
Bab ini berisikan dasar teori yang berupa pengertian, tujuan dan hal-hal yang
berhubungan dengan topik yang dibahas dalam makalah ini. Yang dikutip
dari Peraturan Pemerintah dan terdapat dalam web internet.
BAB 3 LOKUS PERMASALAHAN
Pada bab ini membahas tentang lokasi dimana peraturan tersebut berlaku.
BAB 4 PEMBAHASAN
Bab ini berisi pembahasan perkembangan hukum lingkungan tentang
pengendalian vektor, dengan pendekatan-pendekatannya.
BAB 5 PENUTUP
Dalam bab ini terdapat kesimpulan dari pembahasan dan saran tindakan yang
harus dilakukan untuk masalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Pada daftar pustaka terdapat halaman web dan literatur dimana diambilnya
hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

2
BAB II DASAR TEORI

Beberapa pertimbangan diterbitkannya Permenkes ini diantaranya:

1. bahwa penyakit yang ditularkan melalui vektor masih menjadi penyakit


endemis yang dapat menimbulkan wabah atau kejadian luar biasa serta
dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat sehingga perlu
dilakukan upaya pengendalian atas penyebaran vektor;
2. bahwa upaya pengendalian vector lebih dititikberatkan pada kebijakan
pengendalian vektor terpadu melalui suatu pendekatan pengendalian
vektor dengan menggunakan satu atau kombinasi beberapa metode
pengendalian vektor;

Sedangkan beberapa dasar hukum yang melatar belakangi Permenkes ini


diantaranya :

1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular


2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Peraturan
Pemerintah Nomor 7 tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran,
Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida
3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 560/ Menkes/Per/VIII/1986 tentang
Jenis-jenis Penyakit yang dapat Menimbulkan Wabah dan Tata Cara
Pelaporannya;
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1350/Menkes/SK/XII/2001 tentang
Pengelolaan Pestisida;
5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 07/ Permenta n/SR. 140/2/2007 tenta
ng Sya rat dan Tata Cara Pendaftaran Pestisida
6. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42/Permenta n/SR. 140/2/2007
tentang pengawasan pestisida

Beberapa pengertian yang termaktup dalam Permenkes ini (Pasal 1)

1. Vektor adalah artropoda yang dapat menularkan,memindahkah dan/atau


menjadi sumber penular penyakit terhadap manusia.
2. Pengendalian vektor adalah semua kegiatan atau tindakan yang ditujukan
untuk menurunkan populasi vektor serendah mungkin sehingga
keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit
tular vektor di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan
vektor sehingga penularan penyakit tular vektor dapat dicegah.

3
3. Pengendalian Vektor Terpadu (PVT) merupakan pendekatan yang
menggunakan kombinasi beberapa metode pengendalian vektor yang
dilakukan berdasarkan azas keamanan, rasionalitas dan efektifitas
pelaksanaannya serta dengan mempertimbangkan kelestarian
keberhasilannya.
4. Surveilans vektor adalah pengamatan vektor secara sistematis dan terus
menerus dalam hal kemampuannya sebagai penular penyakit yang
bertujuan sebagai dasar untuk memahami dinamika penularan penyakit
dan upaya pengendaliannya.
5. Dinamika Penularan Penyakit adalah perjalanan alamiah penyakit yang
ditularkan vektor dan faktor-faktor yang mempengaruhi penularan
penyakit meliputi : inang (host) termasuk perilaku masyarakat, agent, dan
lingkungan
6. Sistim Kewaspadaan Dini adalah kewaspadaan terhadap penyakit
berpotensi Kejadian Luar Biasa beserta faktor-faktor yang
mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans epidemiologi
dan dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan,
upaya-upaya pencegahan dan tindakan penanggulangan kejadian luar biasa
yang cepat dan tepat.
7. Pestisida rumah tangga adalah semua bahan kimia yang digunakan dalam
rumah tangga sehari-hari untuk mencegah gangguan serangga di
permukiman.

Pasal 2, Ruang lingkup pengaturan meliputi penyelenggaraan, perizinan,


pembiayaan, peran serta masyarakat, monitoring dan evaluasi serta pembinaan
dan pengawasan.

Pasal 3, Tujuan upaya pengendalian vektor adalah untuk mencegah atau


membatasi terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu wilayah, sehingga
penyakit tersebut dapat dicegah dan dikendalikan.

Pasal 4; Upaya penyelenggaraan pengendalian vektor dapat dilakukan oleh


Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau pihak swasta dengan menggunakan
metode pendekatan pengendalian vektor terpadu (PVT); Merupakan pendekatan
pengendalian vector yang dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan,
rasionalitas dan efektivitas pelaksanaannya serta berkesinambungan; Dan

4
dilaksanakan berdasarkan data hasil kajian surveilans epidemiologi antara lain
informasi tentang vektor dan dinamika penularan penyakit tular vektor.

Pasal 5, Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan pengelolaan lingkungan


secara fisik atau mekanis, penggunaan agen biotik, kimiawi, baik terhadap vektor
maupun tempat perkembangbiakannya dan/atau perubahan perilaku masyarakat
serta dapat mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal sebagai
alternatif.

Pasal 6, Pengendalian vektor yang menggunakan bahan-bahan kimia harus


dilakukan oleh tenaga entomolog kesehatan dan tenaga lain yang terlatih; yang
harus telah mengikuti pelatihan pengendalian vektor yang dibuktikan dengan
sertifikat dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang telah terakreditasi

Pasal 8, Penggunaan insektisida dapat digunakan setelah mendapat ijin dari


Menteri Pertanian atas saran dan atau pertimbangan Komisi Pestisida
(KOMPES).; Penggunaan pestisida rumah tangga harus mengikuti petunjuk
penggunaan sebagaimana tertera pada label produk; Peralatan yang digunakan
dalam pengendalian vektor harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI)
atau sesuai dengan rekomendasi WHO.

Pasal 9, Standar dan persyaratan perlengkapan pelindung diri (PPD), bahan dan
peralatan, serta penggunaan insektisida untuk pengendalian vektor sebagaimana
dimaksud dalam pasal 8 dan Pasal 9 tercantum dalam Lampiran Peraturan ini.

Pasal 11, Penyelenggara Pengendalian Vektor yang dilakukan oleh swasta harus
berbentuk badan hukum dan memiliki izin operasional dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. dengan persyaratan : Memiliki surat izin usaha dan surat izin
tempat usaha; Memiliki NPWP; Memiliki tenaga entomologi atau tenaga
kesehatan lingkungan dan tenaga terlatih; Memiliki persediaan bahan dan
peralatan sesuai ketentuan
yang berlaku.

5
BAB III LOKUS PERMASALAHAN

Lokus dimana berlakunya peraturan pemerintah ini adalah di seluruh


wilayah Indonesia, baik di pemerintah daerah, provinsi maupun pemerintah pusat.
Sasaran pembinaan dan pengawasan adalah unit pelaksana pengendalian vektor di
seluruh wilayah Indonesia yang memiliki potensi penularan penyakit tular vektor
seperti :
a. Fasilitas kesehatan
Seperti rumah sakit, klinik, posyandu, dan puskesmas, baik milik pemerintah
ataupun swasta, baik didaerah maupun dipusat.
b. Tempat-tempat umum
Seperti bandara, stasiun, terminal, perpustakaan, tempat makan, tempat ibadah,
toilet dll, dan dimanapun berada baik didesa ataupun dikota.
c. Kawasan industri seperti pertambangan, pariwisata, dan lain-lain
Kawasan industri baik milik swata maupun pemerintah harus diperhatikan dan
perlu pengawasan yang baik.
d. Tempat permukiman
Pembinaan dan pengawasan harus sangat diperhatikan didaerah pemukiman,
karena didaerah pemukiman rentan ditemukannya masalah penyakit yang
disebabkan vektor terutama pemukiman padat penduduk, dan kumuh. Maka dari
itu pemerintah perlu mengadakan pembinaan dan pengawasan sesuai dengan
peraturan yang telah dibuat.
e. Tempat perkembangbiakan alamiah
Perlu diakannya pembinaan dan pengawasan sesuai dengan peraturan yang telah
dibuat, karena di tempat perkembangbiakan ilmiah terutama tempat
perkembangbiakan vektor untuk diteliti, baik di daerah maupun di pusat.

6
BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Perkembangan Hukum Lingkungan di Bidang Pengendalian Vektor


Sebelumnya pemerintah telah membuat peranturan pemerintah dibidang
pengendalian vektor yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 374/Menkes/Per/Iii/2010 Tentang Pengendalian Vektor, namun
digantikan oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 50
Tahun 2017 Tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan Dan Persyaratan
Kesehatan Untuk Vektor Dan Binatang Pembawa Penyakit Serta
Pengendaliannya.
Pergantiannya yaitu ada pada:
1. Pada PerMenKes tahun 2010 terdapat 9 BAB dan 18 pasal, dan pada
PerMenKes tahun 2017 terdapat 11 BAB dan 29 pasal, pada perubahan
peraturan terdapat 2 BAB tambahan dan 11 pasal tambahan.
2. Pada PerMenKes tahun 2017 terdapat tambahan BAB tentang sumber
daya yang terdiri dari 4 bagian dan 6 pasal baru.
Terdapat perubahan dan tambahan pada BAB V Pembiayaan di
PerMenKes tahun 2010 menjadi BAB V Sumber Daya bagian ke-4, yaitu
penambahan ayat dua yang berbunyi “(2) Pendanaan Pengendalian
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit yang dilaksanakan oleh
Penyelenggara dibebankan pada Penyelenggara yang bersangkutan.”
3. Terdapat perubahan pada BAB IV Perizinan Pasal 11 ayat 3 dalam
PerMenKes tahun 2010 yang berbunyi “(3) Izin sebagaimana pada ayat
(1) berlaku selama 2 tahun dan dapat diperpanjang.” Berubah menjadi
“(3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama 3 (tiga)
tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.” Dalam
BAB VI Pasal 19 ayat 3 dalam PerMenKes tahun 2017.
4. Terdapat penambahan pada BAB VI Peran Serta Mayarakat Pasal 13 di
PerMenKes 2010 yang tadinya hanya berisi tentang keterlibatan
masyarakat untuk melindungi, menyehatan dengan peningkatan
kesadaran, ditambah menjadi melakukan kegiatan rutin dan berkala
dalam edukasi, pemantauan, serta sumbangan pemikiran dan
pertimbangan berkenaan dengan penyelenggaraan Pengendalian
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, yang terdapat di BAB VIII
Peran Serta Masyarakat Pasal 21 ayat 2 di PerMenKes tahun 2017.
5. Pada BAB VIII Pembinaan dan Pengawasan PerMenKes 2010 terdapat 2
pasal dan 4 ayat namun pada PerMenKes tahun 2017 BAB IX Pembinaan
dan Pengawasan terdapat 5 pasal dan 14 ayat, terdapat tambahan 3 pasal
dan 10 ayat.

7
6. Pada PerMenKes tahun 2017 terdapat tambahan bab lain yaitu BAB X
Ketentuan Peralihan dengan 1 pasal.
7. Pada BAB 3 Penyelenggaraan dan Pengendalian Vektor Bagian ke-3
Bahan dan Peralatan Pasal 8 hanya berisi beberapa alat dan tidak terlalu
spesifik penjelasannya, dan perubahnya pada PerMenKes tahun 2017 BAB
5 Sumber Daya Bagian ke-2 Bahan dan Peralatan terdapat lebih banyak
bahan dan alat yang dimaksud juga dengan spesifikasi yang lebih jelas.

4.2 Epidemiologi
Epidemiologi berkaitan dengan apa, siapa, dimana, kapan, kenapa dan bagaimana
peraturan tersebut bisa terjadi.
1. Apa?
Apa yang menjadi bahasan untuk peraturan kali ini? Jawabanya yaitu Peraturan
Kementerian Kesehatan tentang pengendalian vektor yang sebelumya dibuat pada
tahun 2010 kemudian mengalami perubahan pada tahun 2017.
2. Siapa?
Siapa yang membuat peraturan ini? Dan untuk siapa peraturan ini berlaku?
Jawabannya tentu saja yang membuat peraturan ini adalah pemerintah pusat
khususnya Kementerian Republik Indonesia. Dan peraturan ini dibuat untuk
seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
3. Dimana?
Dimana sajakah peraturan ini berlaku? Tentu saja peraturan ini berlaku diseluruh
wilayah Indonesia, baik didaerah, provinsi maupun dipusat, berlaku juga
diperusahaan baik milik swasta ataupun milik pemerintah.
4. Kapan?
Kapankah peraturan ini berlaku? Peraturan pertama berlaku saat PerMenKes
membuat peraturan tentang Pengendalian Vektor tahun 2010, yaitu 17 Maret
2010, dan diberhentikan. Lalu pada tanggal 9 November 2017 PerMenKes
mengeluarkan dan memberlakukan tentang Pengendalian Vektor tahun 2017
sampai dengan sekarang ini.
5. Kenapa?
Kenapa pemerintah membuat dan memberlakukan peraturan ini? Karena
menelisik tentang peraturan-peraturan yang ada tentang penyakit menukar,
tentang pengawasan atas peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida,
tentang penyelenggaraan pelayanan terpadu, dll yang berhubungan dengan
kesehatan yang disebabkan oleh vektor dan binatang pembawa penyakit maka
diperlukannya peraturan tentang pengendalian vektor dan binatang pembawa
penyakit untuk menyelesaikan permasalahan tentang penyakit yang terjadi, serta
meningkatkan kualitas kehidupan bangsa Indonesia.

8
6. Bagaimana?
Bagaimana cara pemerintah mewujudkan peraturan yang telah dibuatnya?
Caranya adalah dengan melakukan penyuluhan, mengajarkan secara seksama
kepada masyarakat sehingga tumbuh kesadaran dalam diri mereka. Mengajak
mereka ikut berpartisipasi dan menuangkan ide, dan memberi sanksi yang tegas
jika ada yang melanggar peraturan yang berlaku. Serta semua pendanaan berasal
anggaran negara dan pihak-pihak yang berkerja sama.

4.3 Resiko
Resiko yang diterima masyarakat dengan adanya peraturan ini tentu saja
berdampak baik bagi mereka, karena dengan dikeluarkan peraturan ini mereka
menjadi lebih mengerti bagaimana cara menjaga kesehatan, menjaga pola hidup
bersih, mengerti cara memberantas vektor penyakit, dan tentu saja jika meraka
punya keterampilan atau ide mereka bisa mengusulkannya kepada pemerintah
karena pemerintah mengajak masyarakat untuk berperan aktif, kreatif dan posif
unuk mensukseskan peratuaran ini.

4.4 Pendekatan
4.4.1 Pendekatan Ekologi
Pada dipelajari hubungan (interaksi) anatara vector dan sejenisnya,
dengan makhluk lain yang tidak sejenis dan antara alam lingkungannya yang
nonbiologis.

1. Habitat Larva
Nyamuk Aeddea aegypti yang membiak terutam pada habitat yang buatan
manusia (man_made), jenis air yang disukai adalah air jernih, sehingga
dengan mengurangi sebanyak mungkin container berisi air atau yang akan
diisi air pada musim penghujan telah banyak mengurangi nyamuk dewasa
Aedes aegypti. Ontoh container air (water container) adalah kaleng-kaleng
bekas, botol, ban bekas, drum, tanggul bumbu, cekungan pada saluran air
atap terbuat dari seng, tempat minum burung, dan lain-lain.
2. Kontak Vektor pejamu (Host Vector Contact)
Menurut Hess & Hayes (1970), pengetahuan tentang pola kontak antara
suatu vector dan binatang vertebrata dari mana vector mengambil darah
sebagai makanannya adalah penting untuk memahami epidemiologi sesuatu
penyakit ditularkan vector.
Penilaian kuantitatif tentang kontak antara pejamu dan vector pada
suatu tempat dan waktu, dapat bermanfaat untuk menduga kemungkinan
bahaya epidemic penyakit ditularkan vector.

9
Besar kontak antara vector dengan pejamu tergantung kepada kebiasaan
mencari makan dari vector dan tersedianya pejamu pada tempat dan waktu
kegiatan vector.
Salah satu aspek penting dari kebiasaan makan vector ialah kerusakan
pejamu (host-preference) yakni kecenderungan mencari darah mangsa kepada
suatu vertebrata tertentu walaupun terdapat pejamu alternative.
Frekuensi kontak vector pejamu dipengaruhi oleh suhu, kelembaban,
dan musim. Karena itu, kontak pejamu mempunyai pola musiman, yang
selanjutnya mempunyai nilai epidemiologi yng penting.
3. Tempat Istirahat (Resting Place)
Berjenis-jenis spesies nyamuk beristirahat pada siang haru di tempat-
tempat yang sepi,gelap,dingin,dan basah. Perhitungan hati-hati di tempat
istirahat,memberi gambaran tentang kepadatan populasi nyamuk. Tempat
istirahatnya bisa di dalam rumah, kandang kerbau, kandang ayam, di bawah
jembatan, didalam gua, dan lain-lain.
4. Jangkauan Terbang dan Penyebarannya (Dispersal and flight Range)
Penyabaran vector dari tempat pembiakannya adalah penting dari segi
penyebaran penyakit yang ditularkan vector. Penyebaran dilakukan dengan
terbang, lari, atau secara positif dibawa oleh pejamu.
Indeks yang digunakan adalah jarak terbang 90 (Flight Distance 90 =
FD 90), yakni jarak terbang dimana 90% dari vector yang dilepas dapat
ditangkap embali. Jarak terbang50 (Flight Distance 50 = FD 50) berarti jarak
terbang d mana 50% dari vector yang dilepas dapat ditangkap kembali. Lebih
penting dari segi epidemiologi adalah jangkauan terbang efektif (Effective
Flight Range) yakni jarak dari habitat larva di mana vector betina berada
dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan transmisi penyakit.
5. Siklus Harian Musiman
Waktu mencari makan (feeding time) mempunyai pola makan harian
yang di pengaruhi oleh tenggelam dan terbitnya matahari, demikian juga
waktu istirahat (resting time). Pemgumpulan specimen vector perlu
memerhatikan pala harian tersebut.
Pola kegiatan harian dapat dipengaruhi oleh perubahan musim,
terutama turunnya hujan, perubahan suhu, dan kelembaban relative. Hal ini
dapat memengaruhi jumlah populasi. Misalnya, jumlah telur yang pecah dari
Aedes aegypti ketika musim dingin Bangkok lebih rendah daripada ketika
musim panas. Stadium larva dari culex p. fatigans di new Delhi ketika musim
dingin lebih lam berlangsungnya (21 hari) dari pada pada musim panas (11
hari).

10
4.4.2 Pendekatan Epidemiologi
Ada beberapa vector epidemiologi yang dapat memengaruhi terjadinya suatu
penyakit, di antaranya factor cuaca, vector, reservoir, georafis, dan factor
perilaku. Berikut penjelasan mengenai factor-faktor tersebut.
1. Cuaca
Iklim dan musim merupakan faaktor utama yang memengaruhi
terjadinya penyakit infeksi. Iklim dan variasi musim dapat memengaruhi
kehidupan agen penyakit, reservoir, dan vector. Selain itu, perilaku manusia
juga dapat meningkatkan transmisi atau menyebabkan kerentanan terhadap
penyakit infeksi.
2 . Vektor
Organisme hidup yang dapat menularkan agen penyakit dari satu hewan
ke hewan lain atau ke manusia disebut vector. Artropoda merupakan,vector
penting di dalam penularan penyakit parasit dan virus yang spesifik. Nyamuk
merupakan vector penting untuk penularan virus yang menyebabkan
ansefalitas pada manusia.
Ricketsia merupak parasit intraseluler obligat yang mampu hidup diluar
jaringan hewan dan dapat ditularkan antara hewan oleh vector. Rat fleas,
body lice, dan wood tick adalah vector artropoda yang menyebabkan
penularan penyakit yang disebabkan ricketsia.
3. Reservoir
Hewan-hewan yang menyimpan kuman patogn sementara hewan itu
sendiri tidak terkena penyakit disebut reservoir. Reservoir untuk
arthropodborne disease adalah hewan yang dapat hidup bersama dengan
pathogen. Pad banyak kasus, pathogen mengalami multiplikasi di dalam
vector atau reservoir tanpa menyebabkan kerusakan pada hospes
intermediatnya.
4. Geografis
Insidensi penyakit yang ditularkan artropoda berhubungan langsung
dengan geografis tempat reservoir dan vector berada. Bertahan hidupnya
agen penyakit bergantung pada iklim (suhu, kelembaban, dan curah hujan)
dan fauna local.
5. Perilaku Manusia
Interaksi antarmanusia, kebiasaan untuk membuang sampah secara
sembarangan, kebersihan individu dan lingkungan dapat menjadi penyebab
penularan penyakit bawaan artropoda (arthropdborne-disease).

11
BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Banyak terjadi perubahan dari Permenkes Tahun 2010 Tentang
Pengendalian Vektor menjadi Permenkes Tahun 2017 Tentang Pengendalian
Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit. Dan tentu saja perubahan dan
penambahan itu telah disesuaikan dengan kondisi yang terjadi dimasyarakat, dan
perubahan serta penambahan itu juga untuk mensejahterakan masyarakat dan
meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia.
5.2 Saran
Untuk kedepannya pemerintah harus lebih giat lagi dalam melakukan
pembinaan dan pengawasan tentang pengendalian vektor, dan lebih banyak lagi
tempat-tempat serta elemen-elemen masyarakat yang tersentuh perubahan baik
yang diberikan pemerintah.

12