Anda di halaman 1dari 18

Nama: Nia Noor Safitri

NIM: 6411416069

Rombel: 2

ANEMIA

A. Definisi
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red
cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara
praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung
eritrosit (red cell count). (Bakta, 2009). Anemia didefinisikan sebagai kondisi dimana
terjadinya penurunan konsentrasi eritrosit atau hemoglobin pada darah sampai
dibawah normal12 ; hal ini terjadi apabila keseimbangan antara kehilangan darah
(lewat perdarahan atau penghancuran sel) dan produksi darah terganggu.
B. Etiologi
Pada dasarnya anemia disebabkan oleh karena:
 Gangguan pembentukan eritrosit oleh sumsum tulang
Gangguan pembentukan eritrosit terjadi apabila terdapat defisiensi substansi
tertentu seperti mineral (besi, tembaga), vitamin (B12, asam folat), asam amino, serta
gangguan pada sumsum tulang.
 Kehilangan darah keluar tubuh (perdarahan)
Perdarahan baik akut maupun kronis mengakibatkan penurunan total sel darah
merah dalam sirkulasi.
 Proses penghancuran eritrosit dalam tubuh sebelum waktunya (hemolisis)
Hemolisis adalah proses penghancuran eritrosit.
C. Klasifikasi
Berdasarkan penyebab terjadinya anemia, secara umum anemia dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
 Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya
cadangan besi tubuh, sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang yang
pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.
 Anemia Hipoplastik

Anemia hipoplastik disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu


membuat sel-sel darah baru. Penyebabnya belum diketahui, kecuali yang
disebabkan oleh infeksi berat (sepsis), keracunan dan sinar rontgen atau radiasi.

 Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik adalah anemia yang disebabkan defisiensi vitamin


B12 dan asam folat. Anemia jenis ini ditandai dengan adanya sel megaloblast
dalam sumsum tulang belakang. Sel megaloblast adalah sel prekursor eritrosit
dengan bentuk sel yang besar.

 Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan oleh proses hemolisis. Hemolisis adalah


penghancuran atau pemecahan sel darah merah sebelum waktunya. Hemolisis
berbeda dengan proses penuaan yaitu pemecahan eritrosit karena memang sudah
cukup umurnya.

TABEL

D. Gejala
 Kelopak mata pucat
 Sering kelelahan
 Sering mual
 Sakit kepala
 Ujung jari pucat
 Sesak napas
 Denyut jantung tidak teratur
 Menurunnya kekebalan tubuh

E. Anemia Defisiensi Besi


1. Definisi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya
cadangan besi tubuh (depleted iron store) sehingga penyediaan besi untuk
eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.
Anemia defisiensi besi merupakan tahap defisiensi besi yang paling parah, yang
ditandai oleh penurunan cadangan besi, konsentrasi besi serum, dan saturasi
transferin yang rendah, dan konsentrasi hemoglobin atau nilai hematokrit yang
menurun (Abdulmuthalib, 2009). Besi merupakan bagian dari molekul
Hemoglobin, dengan berkurangnya besi maka sintesa hemoglobin akan berkurang
dan mengakibatkan kadar hemoglobin akan turun. Dampak dari anemia defisiensi
besi ini sangat luas, antara lain terjadi perubahan epitel, gangguan pertumbuhan
jika terjadi pada anak-anak, kurangnya konsentrasi pada anak yang
mengakibatkan prestasi disekolahnya menurun, penurunan kemampuan kerja bagi
para pekerja sehingga produktivitasnya menurun. Kebanyakan besi tubuh adalah
dalam hemoglobin dengan 1 ml sel darah merah mengandung 1 mg besi (2000 ml
darah dengan hematokrit normal mengandung sekitar 2000 mg zat besi).
Pertukaran zat besi dalam tubuh merupakan lingkaran yang tertutup. Besi yang
diserap usus setiap hari kira-kira 1-2 mg, ekskresi besi melalui eksfoliasi sama
dengan jumlah besi yang diserap usus yaitu 1-2 mg. Besi yang diserap oleh usus
dalam bentuk transferin bersama dengan besi yang dibawa oleh makrofag sebesar
22 mg dengan jumlah total yang dibawa tranferin yaitu 24mg untuk dibawa ke
sumsum tulang untuk eritropoesis. Eritrosit yang terbentuk memerlukan besi
sebesar 17 mg yang merupakan eritrosit yang beredar keseluruh tubuh, sedangkan
yang 7 mg akan dikembalikan ke makrofag karena berupa eritropoesis inefektif.
Secara umum, metabolisme besi ini menyeimbangkan antara absorbsi 1-2 mg/ hari
dan kehilangan 1-2 mg/ hari. Kehamilan dapat meningkatkan keseimbangan besi,
dimana dibutuhkan 2-5 mg besi perhari selama kehamilan dan laktasi. Diet besi
normal tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut sehingga diperlukan suplemen
besi.
2. Etiologi
 Kehilangan darah yang bersifat kronis dan patologis:
a. Yang paling sering adalah perdarahan uterus ( menorrhagi, metrorrhagia)
pada wanita, perdarahan gastrointestinal diantaranya adalah ulcus
pepticum, varices esophagus, gastritis, hernia hiatus, diverikulitis,
karsinoma lambung, karsinoma sekum, karsinoma kolon, maupun
karsinoma rectum, infestasi cacing tambang, angiodisplasia. Konsumsi
alkohol atau aspirin yang berlebihan dapat menyebabkan gastritis, hal ini
tanpa disadari terjadi kehilangan darah sedikit-sedikit tapi berlangsung
terus menerus.
b. Yang jarang adalah perdarahan saluran kemih, yang disebabkan tumor,
batu ataupun infeksi kandung kemih. Perdarahan saluran nafas
(hemoptoe).
 Kebutuhan yang meningkat pada prematuritas, pada masa pertumbuhan
[remaja], kehamilan, wanita menyusui, wanita menstruasi. Pertumbuhan yang
sangat cepat disertai dengan penambahan volume darah yang banyak, tentu
akan meningkatkan kebutuhan besi.
 Malabsorbsi : sering terjadi akibat dari penyakit coeliac, gastritis atropi dan
pada pasien setelah dilakukan gastrektomi.
 Diet yang buruk / diet rendah besi.
Merupakan faktor yang banyak terjadi di negara yang sedang
berkembang dimana faktor ekonomi yang kurang dan latar belakang
pendidikan yang rendah sehingga pengetahuan mereka sangat terbatas
mengenai diet/ asupan yang banyak mengandung zat besi. Beberapa makanan
yang mengandung besi tinggi adalah daging, telur, ikan, hati, kacang kedelai,
kerang, tahu, gandum. Yang dapat membantu penyerapan besi adalah vitamin
C, cuka, kecap. Dan yang dapat menghambat adalah mengkonsumsi banyak
serat sayuran, penyerapan besi teh, kopi, `oregano`.
 Faktor nutrisi atau peningkatan kebutuhan besi jarang sebagai penyebab
utama. Penyebab paling sering pada laki-laki adalah perdarahan
gastrointestinal, dimana dinegara tropik paling sering karena infeksi cacing
tambang. Pada wanita paling sering karena menormettorhagia.
3. Epidemiologi
Di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007,
menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil 59%, anak-anak 70,1%, wanita
usia subur (WUS) 59,9% dan laki-laki dewasa sebesar 33,4%. Untuk prevalensi
ADB di Indonesia belum ada data yang pasti. Martoatmojo et al. memperkirakan
ADB pada laki-laki 16 – 50% dan 25 – 84% pada perempuan tidak hamil.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 24,8% dari penduduk
di dunia menderita anemia dengan kelompok yang paling tinggi prevalensinya
adalah ibu hamil, usia lanjut dan diikuti oleh bayi dan anak usia dua tahun, anak
usia pra sekolah, anak usia sekolah dan wanita tidak hamil. Pada jumlah absolut
anemia terjadi pada 1,62 miliar orang di seluruh dunia dengan komposisi 293 juta
anak usia balita, 56 juta ibu hamil dan 468 juta wanita yang tidak hamil (WHO,
2005). Setengah dari kejadian anemia di seluruh dunia merupakan anemia
defisiensi besi. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2004 ADB telah
menyebabkan 273.000 kematian dimana 45% terjadi di Asia Tenggara, 31% di
Afrika, 9% di Mediterania timur, 7% di Amerika, 4% di area Pasifik Barat dan 3%
di Eropa dengan 97% dari kejadian ini ditemukan pada negara dengan tingkat
pendapatan rendah sampai menengah.
4. Patogenesis
Perdarahan menahun menyebabkan kehilangan besi sehingga cadangan besi
semakin menurun. Jika cadangan besi menurun maka keadaan ini disebut iron
depleted state atau negative iron balance. Keadaan ini ditandai oleh penurunan
kadar serum feritin, peningkatan absorpsi besi dalam usus serta pengecatan besi
dalam sumsum tulang negatif (Bakta, 2015). Apabila kekurangan besi berlanjut
maka cadangan besi menjadi kosong sama sekali, penyediaan besi untuk
eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada bentuk eritrosit
tetapi anemia secara klinis belum terjadi dimana keadaan ini disebut iron deficient
erythropoiesis. Kondisi kekurangan besi yang terus berkepanjangan akan
menyebabkan jumlah besi menurun terus dan eritropoesis akan semakin terganggu
sehingga kadar hemoglobin mulai menurun sehingga timbullah anemia
hipokromik mikrositer yang disebut sebagai anemia defisiensi besi. Pada saat ini
juga terjadi kekurangan besi pada epitel serta pada beberapa enzim yang dapat
menimbulkan kelainan pada kuku, epitel mulut dan faring serta berbagai gejala
lainnya.
5. Individu Berisiko
 Wanita menstruasi
 Wanita menyusui/hamil karena peningkatan kebutuhan zat besi
 Bayi, anak-anak dan remaja yang merupakan masa pertumbuhan yang cepat
 Orang yang kurang makan makanan yang mengandung zat besi, jarang makan
daging dan telur selama bertahun-tahun.
 Penderita penyakit maag.
 Penggunaan aspirin jangka panjang
 Colon cancer
 Vegetarian karena tidak makan daging, akan tetapi dapat digantikan dengan
brokoli dan bayam.
6. Klasifikasi
Defisiensi besi dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu:
 Deplesi besi (Iron depleted state).: keadaan dimana cadangan besinya
menurun, tetapi penyediaan besi untuk eritropoesis belum terganggu.
 Eritropoesis Defisiensi Besi (Iron Deficient Erytropoesis) : keadaan dimana
cadangan besinya kosong dan penyediaan besi untuk eritropoesis sudah
terganggu, tetapi belum tampak anemia secara laboratorik.
 Anemia defisiensi besi : keadaan dimana cadangan besinya kosong dan sudah
tampak gejala anemia defisiensi besi.
7. Gejala
Pada anemia defisiensi besi biasanya penurunan hemoglobinnya terjadi
perlahan-lahan dengan demikian memungkinkan terjadinya proses kompensasi
dari tubuh, sehingga gejala aneminya tidak terlalu tampak atau dirasa oleh
penderita.
Defisiensi zat besi mengganggu proliferasi dan pertumbuhan sel. Yang
utama adalah sel dari sum-sum tulang, setelah itu sel dari saluran makan.
Akibatnya banyak tanda dan gejala anemia defisiensi besi terlokalisasi pada
sistem organ ini:
a. Glositis ; lidah merah, bengkak, licin, bersinar dan lunak, muncul secara
sporadis.
b. Stomatitis angular ; erosi, kerapuhan dan bengkak di susut mulut.
c. Atrofi lambung dengan aklorhidria ; jarang
d. Selaput pascakrikoid (Sindrom Plummer-Vinson) ; pada defisiensi zat besi
jangka panjang.
e. Koilonikia (kuku berbentuk sendok) ; karena pertumbuhan lambat dari
lapisan kuku.
f. Menoragia ; gejala yang biasa pada perempuan dengan defisiensi besi.
Satu gejala aneh yang cukup karakteristik untuk defisiensi zat besi adalah
Pica, dimana pasien memiliki keinginan makan yang tidak dapat dikendalikan
terhadap bahan seperti tepung (amilofagia), es (pagofagia), dan tanah liat
(geofagia). Beberapa dari bahan ini, misalnya tanah liat dan tepung, mengikat zat
besi pada saluran makanan, sehingga memperburuk defisiensi. Konsekuensi yang
menyedihkan adalah meningkatnya absorpsi timbal oleh usus halus sehingga
dapat timbul toksisitas timbal disebabkan paling sedikit sebagian karena gangguan
sintesis heme dalam jaringan saraf, proses yang didukung oleh defisiensi zat besi.

F. Anemia Defisiensi Asam Folat


1. Definisi
Anemia defisiensi Asam Folat adalah anemia yang terjadi karena tubuh
kekurangan asam folat.
2. Etiologi
a. Kurangnya asupan asam folat
b. Kebutuhan asam folat yang meningkat, misalnya pada kehamilan
c. Defisiensi asam folat pada sindrom malabsorbsi seperti penyakit degenerative
atau radang difus pada usus, penyakit celiac, enteritis karena infeksi kronis
dan fistula enteroenterik
d. Malabsorbsi folat kongenital, suatu defek resesif autosom dalam absorbsi
asam folat di usus dan ketidakmampuan mentransfer asam folat dari plasma ke
susunan saraf pusat
e. Defisiensi asam folat yang terkait obat misalnya antikonvulsan, kontrasespsi
oral, metrotreksat, pirimetamin, dan trimetoprim
f. Defisiensi dihidrofolat congenital
3. Epidemiologi
Anemia defisiensi besi sampai saat ini masih merupakan masalah nutrisi di
seluruh dunia terutama di negara berkembang dan diperkirakan 30% penduduk
dunia menderita anemia dan lebih dari setengah menderita ADB.1,2,3 WHO
(1968) menyatakan ADB pada bayi dan anak di negara sedang berkembang
dihubungkan dengan kemiskinan, malnutrisi, infeksi malaria, infestasi cacing
tambang, HIV, defisiensi vitamin A dan asam folat.
4. Patofisiologis
a. Kekurangan asam folat akan mengakibatkan anemia megaloblastik. Asam
folat merupakan bahan esensial untuk sintesis DNA dan RNA, yang penting
sekali untuk metabolisms inti sel. DNA diperlukan untuk mitosis sedangkan
RNA digunakan untuk pematangan sel. JadI bila terdapat kekurangan asam
folat, banyak sel yang antri untuk memperoleh DNA agar dapat membelah.
b. Jumlah asam folat di dalam tubuh 6-10 mg (4-6 mg terdapat dalam hati),
sedangkan kebutuhan setiap hari hanya kira-kira 50μg. Sumber asam folat
dalam makanan ialah hati, ginjal, sayur mayur hijau dan ragi. Hampir semua
susu mempunyai kadar asam folat yang rendah.
c. Absorbsi dari asam folat terutama terjadi di usus halus bagian proksimal dan
tidak tergantung pada factor instrinsik seperti pada vitamin B12. Defisiensi
asam folat lebih umum terjadi dibandingkan dengan defisiensi B12
(kobalamin). Asam folat lebih cepat disimpan dan dihancurkan jika
dibandingkan dengan kobalamin, tanpa diet yang tepat akan terjadi anemia
megaloblastik.
5. Manifestasi Klinis
a. Pada pemeriksaan jasmani hanya terdapat anemia tanpa ikterus. Hepar dan
limpa tidak membesar, pada jantung mungkin dapat didengar murmur
sistolik. Dengan demikian dari segi klinis tidak berbeda dengan anemia
defisiensi besi.
b. Penderita tampak pucat
c. Nafsu makan menurun
d. Iritabilitas
e. Mudah lelah
f. Diare
g. Susah berjalan
h. Rasa baal di atangan dan kaki
i. Lidah lembek
j. Lemah otot
6. Kriteria Diagnosa
 Dasar diagnosa
Anamnesa : Di samping memiliki gambaran umum anemia, bayi yang
menderita defisiensi asam folat mununjukkan gejala irritable, gagal tumbuh
dengan baik, dan diare kronis
 Pemeriksaan: Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda - tanda fisik
anemia seperti konjungtiva pucat.
 Laboratorium:
Jenis anemia pada defisiensi folat adalah makrositik (MCV > 100 fl).
Variasi bentuk dan ukuran eritrosit umumnya ada. Jumlah retikulosit rendah,
dan eritrosit bernuklei dengan morfologi megaloblastik sering nampak pada
gambaran darah tepi. Netropeni dan trombositopeni mungkin ada, terutama
pada defisiensi yang telah berlangsung lama. Kadar asam folat serum < 3
ng/ml. Bentuk netrofil abnormal besar dengan sitoplasma bervakuola dan
hipersegmentasi nuclei megakariosit. Sumsum tulang hiperseluler. Aktivitas
LDH sangat meningkat.
7. Penatalaksanaan
a. Bila diagnosis sudah ditegakkan atau pada anak dengan sakit berat, asam
folat diberikan secara oral atau parenteral dengan dosis 1-5 mg/24 jam.
Jika diagnostik spesifik diragukan, 50-100 mikrogram/24 jam folat dapat
diberikan selama satu minggu sebagai uji diagnostic atau 1 mikrogram/24
jam sianokobalamin parenteral untuk kecurigaan defisiensi vitamin B12.
Terapi pemberian asam folat harus diteruskan sampai 3-4 minggu.
b. Pada anemia defisiensi asam folat terapi yang dapat dilakukan adalah
meningkatkan intake asam folat. Biasanya dengan mengkonsumsi
suplemen asam folat sebanyak 1 mg setiap hari akan mengurangi anemia
dalam 5 sampai 7 hari. Terapi bisa dilanjutkan sampai asam folat terdapat
dalam tubuh dalam jumlah yang tepat biasanya hal ini terjadi dalam 1
minggu sampai 2 bulan. Pengobatan anemia defisiensi asam folat akan
sangat berbahaya jika pada penderita tersebut juga terdapat anemia
defisiensi B12 karena defisiensi vitamin B12 dapat mengakibatkan
kerusakan pada system saraf.
c. Jika asam folat sudah terdapat dalam tubuh dalam jumlah yang cukup
pasien harus tetap menjaga jumlah asam folat dalam tubuh dengan
mengkonsumsi asam folat dalam jumlah yang cukup banyak, seperti yang
terdapat pada buah jeruk dan sayur-sayuran hijau. Pada penderita penyakit
kronis seperti anemia hemolitik, hipertiroid dan gagal ginjal kronik harus
mengkonsumsi suplemen asam folat sepanjang hidupnya.
G. Anemia Defisiensi Vitamin B12
1. Definisi
Anemia megaloblastik adalah anemia akibat gangguan sintesis DNA yang
ditandai dengan sel megaloblastik. Anemia megaloblastik dapat disebabkan oleh
defisiensi asam folat maupun vitamin B12. Sehingga anemia defisiensi vitamin
B12 yaitu anemia yang terjadi akibat gangguan sintesis DNA, ditandai dengan sel
megaloblastik dan disebabkan karena kekurangan vitamin B12.
2. Epidemiologi
Data dari WHO tahun 2008 menunjukkan bahwa anemia akibat defisiensi
asam folat dan vitamin B12 merupakan salah satu masalah kesehatan dunia.
Penurunan kadar kedua vitamin tersebut ditemukan pada sebagian besar penduduk
di berbagai negara di dunia. Penelitian di Prince of Wales Hospital, Hong Kong
menunjukkan 81% dari 124 pasien memiliki kadar vitamin B12 <200 pg/ml.
Prevalensi anemia defisiensi vitamin B12 di AS (300 ribu- 3 juta penduduk) dan
di Eropa sebanyak 1,6-10% penduduk. Anemia defisiensi vitamin B12 banyak
terjadi pada usia lanjut dibandingkan dengan penduduk usia muda. Penelitian oleh
Madigan Army Medical Center menunjukkan bahwa 15% orang dewasa diatas 65
tahun menunjukkan defisiensi vitamin B12 setelah dilakukan pemeriksaan
laboratorium.
3. Etiologi
 Kurang asupan vitamin B12
Vitamin B12 hanya terdapat di dalam makanan hewani seperti daging,
susu dan telur. Vitamin B12 juga tidak dihasilkan dalam tubuh, sehingga
kebutuhannya secara murni didapatkan dari asupan makanan. Seorang
vegetarian yang sama sekali tidak mengkonsumsi protein hewani, beresiko
mengalami anemia defisiensi vitamin B12.
 Malabsorbsi
a. Defisiensi asam lambung, pepsin, faktor intrinsik
b. Gangguan di intestinal
c. Kerusakan pada pankreas
 Peningkatan kebutuhan
Kehamilan, hipertiroid, keganasan
 Obat-obatan
a. Penghambat sintesis DNA
- Analog purin (6-tioguanin, azatioprin), analog pirimidin (5-
fluorourasil) - Antivirus (zidovudin)
b. p-aminosalisilat, kolkisin, neomisin
4. Patogenesis
Anemia defisiensi vitamin B12 merupakan salah satu jenis dari anemia
megaloblastik. Anemia megaloblastik ditandai dengan adanya sel megaloblast
(prekursor eritrosit) di dalam sumsum tulang akibat dari kekurangan vitamin B12
dan asam folat. Kedua vitamin tersebut berperan penting dalam maturasi semua
sel normal, terutama sintesis DNA pada sel yang memilki aktivitas pembelahan
sel yang cepat. Sel-sel hematopoiesis sangat peka terhadap perubahan kadar kedua
vitamin tersebut, oleh karena itu defisiensi salah satu atau kedua vitamin
menyebabkan eritropoiesis terganggu dan berakhir pada anemia.
5. Tanda dan Gejala
a. Anemia
Disebut juga sebagai sindrom anemia yang dapat muncul pada setiap
kasus anemia setelah penurunan hemoglobin sampai kadar tertentu (Hb<7
g/dl). Sindrom anemia ini terdiri dari rasa lemah, lesu, cepat lelah, tinnitus,
mata berkunang-kunang, kaki dingin, sesak nafas dan dispepsia. Pada
pemeriksaan, pasien tampak pucat, yang mudah dilihat pada konjungtiva,
mukosa mulut, telapak tangan, dan jaringan dibawah kuku.
b. Glossitis
Glossitis merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada lidah
yang ditandai dengan terjadinya deskuamasi papila filiformis sehingga
menghasilkan daerah kemerahan yang mengkilat.
c. Gangguan neurologi
Pada keadaan defisiensi vitamin B12, siklus metil mengalami
gangguan sehingga tidak terbentuk protein dasar meylin. Hal itu
menyebabkan terjadi demyelinisasi pada neuron-neuron, dan berakhir pada
neuropati (ataxia, paralisis parastesia). Demyelinisasi dan neuropati sering
disebut sebagai sub-acute combined degeneration yang menyerang medula
spinalis dan saraf perifer.
 Tanda dan gelaja yang dapat terlihat adalah sebagai berikut:
- Penurunan fungsi sensorik dan motorik (penurunan pergerakan otot dan
refleks)
- Parestesia
- Paralisis
- Gangguan keseimbangan
- Demensia dan gangguan psikis

H. Anemia Pada Ibu Hamil


a. Definisi
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik
dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit
penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiran
prematurs, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam
berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya
kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca
bersalin serta anemia yang berat (<4 gr%) dapat menyebabkan dekompensasi
kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada
persalinan (Wiknjosastro, 2007). Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu
dengan kadar hemoglobin dibawah 11gr % pada trimester 1 dan 3 atau kadar <
10,5 gr % pada trimester 2, nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi
wanita tidak hamil, terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2
(Cunningham. F, 2005). Anemia yang paling sering dijumpai dalam kehamilan
adalah anemia akibat kekurangan zat besi karena kurangnya asupan unsur besi
dalam makanan. Wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg perhari atau 2 kali
lipat kebutuhan kondisi tidak hamil. Jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap
kejadian anemia saat kehamilan. Kehamilan yang berulang dalam waktu singkat
akan menguras cadangan zat besi ibu. Pengaturan jarak kehamilan yang baik
minimal dua tahun menjadi penting untuk diperhatikan sehingga badan ibu siap
untuk menerima janin kembali tanpa harus menghabiskan cadangan zat besinya
(Mardliyanti, 2006). Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil
mengalami hemodelusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30 % sampai
40 % yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningkatan
sel darah 18 % sampai 30 % dan hemoglobin sekitar 19 % (Manuaba, 2010).
b. Faktor Riisiko
 Umur Ibu
Menurut Amiruddin (2007), bahwa ibu hamil yang berumur kurang
dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun yaitu 74,1% menderita anemia dan
ibu hamil yang berumur 20 – 35 tahun yaitu 50,5% menderita anemia.
Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebihdari 35 tahun,
mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil, karena akan membahayakan
kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, beresiko
mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia.
 Paritas
Menurt Herlina (2006), Ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai
resiko 1.454 kali lebih besar untuk mengalami anemia di banding dengan
paritas rendah. Adanya kecenderungan bahwa semakin banyak jumlah
kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia.
 Kurang Energi Kronis (KEK)
41% (2.0 juta) ibu hamil menderita kekurangan gizi. Timbulnya
masalah gizi pada ibu hamil, seperti kejadian KEK, tidak terlepas dari
keadaan sosial, ekonomi, dan bio sosial dari ibu hamil dan keluarganya
seperti tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, konsums pangan, umur,
paritas, dan sebagainya. Ibu hamil KEK adalah ibu hamil yang
mempunyai ukuran LILA<23.5 cm. Deteksi KEK denganukuran LILA
yang rendah mencerminkan kekurangan energi dan protein dalam
intake makanan sehari hari yang biasanya diiringi juga dengan
kekurangan zat gizi lain, diantaranya besi. Dapat diasumsikan bahwa
ibu hamil yang menderita KEK berpeluang untuk menderita anemia
(Darlina, 2003).
 Infeksi dan Penyakit
Menurut penelitian, orang dengan kadar Hb <10 g/dl memiliki
kadar sel darah putih (untuk melawan bakteri) yang rendah pula.
Seseorang dapat terkena anemia karena meningkatnya kebutuhan
tubuh akibat kondidi fisiologis (hamil, kehilangan darah karena
kecelakaan, pascabedah atau menstruasi), adanya penyakit kronis atau
infeksi (infeksi cacing tambang, malaria, TBC) (Anonim, 2004).

 Jarak Kehamilan
Menurut Ammirudin (2007) proporsi kematian terbanyak
terjadi pada ibu dengan prioritas 1 – 3 anak dan jika dilihat menurut
jarak kehamilan ternyata jarak kurang dari 2 tahun menunjukan
proporsi kematian maternal lebih banyak. Jarak kehamilan yang terlalu
dekat menyebabkan ibu mempunyai waktu singkat untuk memulihkan
kondisi rahimnya agar bisa kembali ke kondisi sebelumnya. Pada ibu
hamil dengan jarak yang terlalu dekat beresiko terjadi anemia dalam
kehamilan. Karena cadangan zat besi ibu hamil pulih. Akhirnya
berkurang untuk keperluan janin yang dikandungnya.
 Pendidikan
Pada beberapa pengamatan menunjukkan bahwa kebanyakan
anemia yang di derita masyarakat adalah karena kekurangan gizi
banyak di jumpai di daerah pedesaan dengan malnutrisi atau
kekurangan gizi. Kehamilan dan persalinan dengan jarak yang
berdekatan, dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat social
ekonomi rendah (Manuaba, 2010). Menurut penelitian Amirrudin dkk
(2007), faktor yang mempengaruhi status anemia adalah tingkat
pendidikan rendah.
6. Klasifikasi
Secara umum menurut Proverawati (2009) anemia dalam kehamilan
diklasifikasikan menjadi:
 Anemia defisiensi besi

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat
besi dalam darah. Pengobatannya adalah pemberian tablet besi yaitu keperluan zat
besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan.

 Anemia Megaloblastik

Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat (pteryglutamic acid)


dan defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin) walaupun jarang. Menurut Hudono
(2007) tablet asam folat diberikan dalam dosis 15-30 mg, apabila disebabkan oleh
defisiensi vitamin B12 dengan dosis 100-1000 mikrogram sehari, baik per os
maupun parenteral.

 Anemia Hipoplastik dan Aplastik

Anemia disebabkan karena sum-sum tulang belakang kurang mampu


membuat sel-sel darah baru.

 Anemia Hemolitik
Anemia disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung
lebih cepat daripada pembuatannya. Menurut penelitian, ibu hamil dengan
anemia paling banyak disebabkan oleh kekurangan zat besi (Fe) serta asam
folat dan viamin B12. Pemberian makanan atau diet pada ibu hamil dengan
anemia pada dasarnya ialah memberikan makanan yang banyak mengandung
protein, zat besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12.

7. Bahaya Anemia terhadap Kehamilan (Manuaba, 2010)


Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal : berat badan
kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa
intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal,
shock, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi yang
dapat terjadi pada neonatus : premature, apgar scor rendah, gawat janin. Bahaya
pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus
premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim,
asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosisdan mudah terkena infeksi, dan
dekompensasi kordis hingga kematian ibu (Mansjoer A. dkk., 2008). Bahaya
anemia pada ibu hamil saat persalinan, dapat menyebabkan gangguan his primer,
sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi
karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif
(Mansjoer A. dkk., 2008). Anemia kehamilan dapat menyebabkan kelemahan dan
kelelahan sehingga akan mempengaruhi ibu saat mengedan untuk melahirkan bayi
(Smith et al., 2012).
8. Hubungan Jarak Kehamilan dengan Anemia
Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita
adalah jarak kelahiran pendek Hal ini disebabkan kekurangan nutrisi yang
merupakan mekanisme biologis dan memulihkan faktor hormonal. Jarak
kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia pada saat kehamilan
yang berulang dalam waktu singkat akan mengurangi cadangan zat besi ibu.
Pengetahuan jarak kehamilan yang baik minimal 2 tahun menjadi penting untuk
diperhatikan sehingga badan ibu siap untuk menerima janin kembali tanpa harus
mengurangi cadangan zat besi. Menurut Ammirudin (2007) resiko untuk
menderita anemia berat dengan ibu hamil dengan jarak kurang dari 24 bulan dan
24 – 35 bulan sebesar 1,5 kali dibandingkan ibu hamil dengan jarak kehamilan
lebih dari 36 bulan. Hal ini dikarenakan terlalu dekat jarak kehamilan sangat
berpengaruh terhadap kesiapan organ reproduksi ibu. Jarak kehamilan sangat
berpengaruh terhadap kejadian anemia pada saat kehamilan yang berulang dalam
waktu singkat akan menguras cadangan zat besi ibu.
9. Pencegahan
Pencegahan anemia pada ibu hamil antara lain :
a. Mengkonsumsi pangan lebih banyak dan beragam, contoh sayuran warna
hijau, kacang – kacangan, protein hewani, terutama hati.
b. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C seperti jeruk, tomat,
mangga dan lain–lain yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi.
c. Manfaat zat besi selama kehamilan bukan untuk meningkatkan atau
menjaga konsentrasi hemoglobin ibu, atau untuk mencegah kekurangan zat
besi pada ibu. Ibu yang mengalami kekurangan zat besi pada awal
kehamilan dan tidak mendapatkan suplemen memerlukan sekitar 2 tahun
untuk mengisi kembali simpanan zat besi dari sumber-sumber makanan
sehingga suplemen zat besi direkomendasikan sebagai dasar yang rutin
(Depkes, 2008).
d. Banyaknya perbedaan kebutuhan energi selama hamil, maka World Health
Organisation (WHO) menganjurkan jumlah tambahan sebesar 150 Kkal
sehari pada trimester I, 350 Kkal pada trimester II dan III (Lubis, 2003).

I. Anemia Sel Sabit


a. Definisi
Penyakit Anemia sel sabit (sickle cell disease) adalah suatu penyakit
keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit dan anemia
hemolitik kronik. Pada penyakit sel sabit, sel darah merah memiliki hemoglobin
(protein pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal, sehingga mengurangi
jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel menjadi seperti sabit.
Sel yang berbentuk sabit menyumbat dan merusak pembuluh darah terkecil dalam
limpa, ginjal, otak, tulang dan organ lainnya; dan menyebabkan berkurangnya
pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh dan akan pecah pada saat
melewati pembuluh darah, menyebabkan anemia berat, penyumbatan aliran darah,
kerusakan organ dan mungkin kematian. Anemia sel sabit adalah kondisi serius di
mana sel-sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit, seperti huruf C. Sel
darah merah normal berbentuk donat tanpa lubang (lingkaran, pipih di bagian
tengahnya), sehingga memungkinkan mereka Anemia Sel Sabit melewati
pembuluh darah dengan mudah dan memasok oksigen bagi seluruh bagian tubuh.
Sulit bagi sel darah merah berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah
terutama di bagian pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini
akan tersangkut dan akan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan
organ tubuh.
b. Etiologi
Di dalam eritrosit terdapat zat hemoglobin, terdiri dari globin yang berupa
protein dan hem yang bukan protein. Hem pada semua hemoglobin adalah identik,
sedangkan globin berbeda-beda pada spesies yang berlainan. Kebanyakan orang
memiliki hemoglobin yang dikenal sebagai hemoglobin A. Untuk pembentukan
hemoglobin ini dibutuhkan adanya gen HbA, sehingga kebanyakan orang
mempunyai genotip HbAHbA. Di samping itu dikenal pula hemoglobin lain yang
terdapat di dalam eritrosit orang yang menderita anemia. Karena bentuk
eritrositnya pada penderita ini menyerupai sabit (dalam bahasa Inggris disebut
”sickle-cell”), maka anemianya dinamakan anemia sel sabit (”sickle-cell anemia”)
dan hemoglobinnya disebut hemoglobin S. Terbentuknya hemoglobin S ini
ditentukan oleh gen HbS, sehingga orang yang menderita penyakit anemia sel
sabit mempunyai genotip HbSHbS. Atau dapat pula ditulis:
 Individu sehat : HbAHbA
 Individu terkena anemia sel sabit : HbSHbS
 Individu genotip heterozigot : HbAHbS
Selain itu sel sabit juga dapat disebabkan oleh : (Price A Sylvia, 1995, hal : 239):
- Infeksi
- Disfungsi jantung
- Disfungsi paru
- Anastesi umum
- Menyelam
c. Bagaimana Anemia Sel Sabit Diwariskan
Anemia sel sabit merupakan warisan sebagai kondisi (yang berarti bahwa
gen tidak terkait dengan kromosom seks) autosom resesif sedangkan sifat sel sabit
merupakan warisan sebagai sifat dominan autosom. Ini berarti bahwa gen tersebut
dapat diturunkan dari orangtua yang membawa kepada anak laki-laki dan
perempuan. Agar anemia sel sabit terjadi, gen sel sabit harus diwariskan dari
kedua ibu dan ayah, sehingga anak memiliki dua gen sel sabit. Bila tidak, maka
hanya akan berperan sebagai pembawa gen (karrier) yang tidak menimbulkan
gejala.
d. Gejala
 Kelelahan dan Anemia
Kelelahan adalah gejala umum pada orang-orang dengan anemia sel sabit.
Anemia sel sabit menyebabkan bentuk anemia yang kronis yang dapat menjurus
pada kelelahan. Sel-sel darah merah sabit adalah mudah pecah (robek) yang
menyebabkan jangka hidup yang jauh lebih pendek dari sel-sel ini (jangka hidup
yang normal dari sel darah merah adalah 120 hari). Anemia dari anemia sel sabit
cenderung menjadi sabil tanpa perawatan-perawatan spesifik. Derajat dari anemia
ditentukan dengan pengukuran-pengukuran dari tingkat hemoglobin darah.
Tingkat-tingkat hemoglobin darah pada orang-orang dengan anemia sel sabit
umumnya adalah antara 6 sampai 8 gms/dl (tingkat-tingkat normal diatas 11
gms/dl).
 Sistem jantung : nafas pendek, dispnea sewaktu kerja berat, gelisah
 Sistem pernafasan : nyeri dada, batuk, sesak nafas, demam, gelisah
 Sistem saraf pusat : pusing, kejang, sakit kepala, gangguan BAK dan BAB
 Sistem genitourinaria : nyeri pinggang, hematuria
 Sistem gastrointestinal : nyeri perut, hepatomegali, demam
 Sistem okular : nyeri, perubahan penglihatan, buta
 Sistem skeletal : nyeri, mobilitas berkurang, nyeri dan bengkak pada lengan
dan kaki.
(Price A Sylvia, 19995, hal : 240)
e. Penatalaksanaan
Transplantasi sumsum tulang menawarkan satu-satunya obat potensial
untuk anemia sel sabit. Tapi, menemukan donor sulit dan prosedur tersebut
memiliki risiko serius yang berhubungan dengan itu, termasuk kematian.
Akibatnya, pengobatan untuk anemia sel sabit biasanya bertujuan untuk
menghindari krisis, menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi.