Anda di halaman 1dari 4

No UU No. 18 Tahun 1999 UU No.

2 Tahun 2017 Keterangan


1. Sistematika Undang – Undang
Terdiri dari 12 Bab dan 46 Pasal Terdiri dari 14 Bab dan 106 Perubahan
• BAB I Ketentuan Umum Pasal sistematika Undang –
• BAB II Asas Dan Tujuan • BAB I Ketentuan Umum Undang, dengan
• BAB III Usaha Jasa Konstruksi • BAB II Asas Dan Tujuan penambahan 2 bab
• BAB IV Pengikatan Pekerjaan • BAB III Tanggung Jawab Dan dan 60 pasal.
Konstruksi Kewenangan
• BAB V Penyelenggaraan • BAB IV Usaha Jasa Konstruksi
Pekerjaan Konstruksi • BAB V Penyelenggaraan Jasa
• BAB VI Kegagalan Bangunan Konstruksi
• BAB VII Peran Masyarakat • BAB VI Keamanan,
• BAB VIII Pembinaan Keselamatan, Kesehatan, Dan
• BAB IX Penyelesaian Sengketa Keberlanjutan Konstruksi
• BAB X Sanksi • BAB VII Tenaga Kerja
• BAB XI Ketentuan Peralihan Konstruksi
• BAB XII Ketentuan Penutup • BAB VIII Pembinaan
• BAB IX Sistem Informasi Jasa
Konstruksi
• BAB X Peran Masyarakat
• BAB XI Penyelesaian
Sengketa
• BAB XII Sanksi Administratif
• BAB XIII Ketentuan Peralihan
• BAB XIV Ketentuan Penutup
2. Penyelesaian Sengketa
Sengketa yang terjadi dalam Kontrak  Sengketa yang terjadi dalam Penambahan bab
Kerja Konstruksi diselesaikan Kontrak Kerja Konstruksi baru.
dengan prinsip dasar musyawarah diselesaikan dengan prinsip
untuk mencapai kemufakatan. dasar musyawarah untuk
mencapai kemufakatan.
• Tahapan upaya penyelesaian
sengketa sebagaimana
dimaksud pada ayat (2)
meliputi:
a. mediasi;
b. konsiliasi; dan
c. arbitrase.

1|Page
UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 18 TAHUN 1999
TENTANG
JASA KONSTRUKSI

BAB IX
PENYELESAIAN SENGKETA
Bagian Pertama

Umum
Pasal 36
(1) Penyelesaian sengketa jasa konstruksi dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar
pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa.

(2) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
berlaku
terhadap tindak pidana dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sebagaimana diatur
dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

(3) Jika dipilih upaya penyelesaian sengketa di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan
hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau
para
pihak yang bersengketa.

Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan
Pasal 37
(1) Penyelesaian sengketa jasa konstruksi di luar pengadilan dapat ditempuh untuk masalah-
masalah
yang timbul dalam kegiatan pengikatan dan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi,
serta dalam hal terjadi kegagalan bangunan.

(2) Penyelesaian sengketa jasa konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
menggunakan jasa pihak ketiga, yang disepakati oleh para pihak.

(3) Pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dibentuk oleh Pemerintah
dan/atau
masyarakat jasa konstruksi.

Bagian Ketiga
Gugatan Masyarakat
Pasal 38
(1) Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi berhak
mengajukan
gugatan ke pengadilan secara :
a. orang perseorangan;

2|Page
b. kelompok orang dengan pemberian kuasa;
c. kelompok orang tidak dengan kuasa melalui gugatan perwakilan.

(2) Jika diketahui bahwa masyarakat menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan
konstruksi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi peri kehidupan pokok masyarakat,
Pemerintah wajib berpihak pada dan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat.

Pasal 39
Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) adalah tuntutan untuk melakukan
tindakan tertentu dan/atau tuntutan berupa biaya atau pengeluaran nyata, dengan tidak
menutup
kemungkinan tuntutan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 40
Tata cara pengajuan gugatan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1)
diajukan oleh orang perseorangan, kelompok orang, atau lembaga kemasyarakatan dengan
mengacu kepada Hukum Acara Perdata.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 2 TAHUN 2017
TENTANG
JASA KONSTRUKSI

BAB XI
PENYELESAIAN SENGKETA

Pasal 88
1. Sengketa yang terjadi dalam Kontrak Kerja Konstruksi diselesaikan dengan prinsip dasar
musyawarah untuk mencapai kemufakatan.
2. Dalam hal musyawarah para pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat
mencapai suatu kemufakatan, para pihak menempuh tahapan upaya penyelesaian sengketa
yang tercantum dalam Kontrak Kerja Konstruksi.
3. Dalam hal upaya penyelesaian sengketa tidak tercantum dalam Kontrak Kerja Konstruksi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), para pihak yang bersengketa membuat suatu
persetujuan tertulis , mengenai tata cara penyelesaian sengketa yang akan dipilih.
4. Tahapan upaya penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
 mediasi;
 konsiliasi; dan
 arbitrase.
5. Selain upaya penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a dan huruf
b, para pihak dapat membentuk dewan sengketa
6. Dalam hal-upaya penyelesaian sengketa dilakukan dengan membentuk dewan sengketa
sebagaimana dimaksud pada ayat (5), pemilihan keanggotaan dewan dilaksanakan
berdasarkan prinsip profesionalitas dan tidak menjadi bagian dari salah satu pihak.

3|Page
7. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Tahan Proses Penyelesaian Sengketa Berdasarkan NOMOR 2 TAHUN 2017

4|Page