Anda di halaman 1dari 53

UJI BAKTERIOLOGI MAKANAN DAN MINUMAN YANG DIJUAL

OLEH RUMAH MAKAN SEKITAR TERMINAL DKI JAKARTA PADA


ARUS MUDIK 2015

LAPORAN PENELITIAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

Disusun oleh :
DINDA NURUL NABILA
No. Registrasi : 3425122225

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2015
LEMBAR PENGESAHAN

Uji Bakteriologis Makanan dan Minuman yang Dijual oleh Rumah Makan
Sekitar Terminal DKI Jakarta pada Arus Mudik 2015 di Balai Besar Teknik
Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta

Laporan Praktek Kerja Lapangan telah diperiksa dan disetujui oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

Ns. Sri Rahayu S.Kep, M.Biomed Anto Tahanto


NIP. 197909252005012002 NIP. 1962011419820311002

Mengetahui,

Ketua Jurusan Biologi Ketua Program Studi Biologi


FMIPA UNJ FMIPA UNJ

Drs. M. Nurdin Matondang, M.Si Eka Putri Azrai, S.Pd, M.Si


NIP. 195207051984031001 NIP. 197002061998032001

Kepala BBTKLPP Jakarta

Dr. P. A. Kodrat Pramudho SKM, M.Kes


NIP. 195703061980031002

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian Praktek Kerja Lapangan

(PKL) yang berjudul “Uji Bakteriologis Makanan dan Minuman yang Dijual oleh

Rumah Makan sekitar Terminal DKI Jakarta pada Arus Mudik 2015”. Laporan ini

dibuat untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan pada Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta. Penulis menyadari, dalam

proses penyelesaian laporan penulis mendapat bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. P. A. Kodrat Pramudho SKM, M.Kes selaku Kepala Balai Besar Teknik

Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta yang

telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mendapatkan

pengalaman bekerja

2. Anto Tahanto selaku pembimbing dari Balai Besar Teknik Kesehatan

Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta sekaligus

Kepala Instalasi Laboratorium Jakarta yang banyak membantu kegiatan

selama PKL berlangsung

3. Ns. Sri Rahayu S.Kep, M.Biomed selaku dosen pembimbing dari Universitas

Negeri Jakarta yang banyak memberikan masukan dan saran kepada penulis

selama proses penulisan

4. Eka Putri Azrai, S.Pd, M.Si, selaku dosen pengampu mata kuliah PKL

ii
5. Dr. Dalia Sukmawati, sebagai pembimbing akademik saya yang selalu

memberikan masukan dan saran

6. Orang tua saya, Bapak Ahmad Baijuri dan Ibu Fitriah yang telah memberikan

dukungan moral maupun materil serta doa yang tidak terputus untuk anaknya

7. Heris Trisna Yasin sebagai sahabat yang selalu memberikan dukungan dan

bantuan dalam menyelesaikan laporan PKL

8. Teman-teman Biologi Reguler 2012, khususnya Andisa, Hazleini, Sherly,

Family, Agustina, Stefani, Via, Putri, dan Tiya, yang selalu mendukung saya

dalam menyelesaikan laporan PKL.

Melalui laporan ini penulis memaparkan kegiatan yang dilakukan selama

PKL di Instalasi Laboratorium Biologi Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan

dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam

melakukan penyusunan laporan PKL terdapat banyak kekurangan. Penulis mohon

maaf dengan segala kerendahan hati bila terdapat kekurangan dalam laporan PKL

ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran para pembaca agar

dapat mengembangkan tulisan ini agar lebih berguna bagi bidang ilmu biologi

pada khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya.

Jakarta, 12 Desember 2015


Penulis

Dinda Nurul Nabila

iii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ........................................................................................ vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................3
1.3 Tujuan .................................................................................3
1.4 Manfaat ...............................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Makanan .............................................................................5
2.1.1 Makanan Sehat .......................................................6
2.2 Minuman ............................................................................9
2.2.1 Minuman Sehat .....................................................10
2.3 Bakteri ..............................................................................11
2.4 Penyakit yang Timbul Akibat Bakteri ..............................12
2.5 Most Probable Number ....................................................13
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat ...........................................................15
3.2 Jenis Sampel .....................................................................15
3.3 Metode ..............................................................................15
3.4 Alat dan Bahan .................................................................15
3.5 Cara Kerja.........................................................................16
3.5.1 Pembuatan Media .................................................16
3.5.2 Pemeriksaan Makanan ..........................................20
3.5.3 Pemeriksaan Minuman .........................................22
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

iv
4.1. Pemeriksaan Makanan ......................................................27
4.1.1 Escherchia coli .....................................................27
4.1.2 Salmonella sp. ......................................................30
4.1.3 Bacillus cereus ......................................................32
4.1.4 Staphylococcus aureus .........................................34
4.2. Pemeriksaan Minuman .....................................................37
4.2.1 Total Coliform ......................................................37
4.2.2 Escherchia coli .....................................................39
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .......................................................................43
5.2 Saran ..............................................................................43
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 44

v
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Diagram hasil pemeriksaan Escherchia coli pada
Makanan ................................................................................... 27
Gambar 2. Diagram hasil pemeriksaan Salmonella sp. Pada
makanan .................................................................................... 31
Gambar 3. Diagram hasil pemeriksaan Bacillus cereus pada
makanan .................................................................................... 32
Gambar 4. Diagram hasil pemeriksaan Staphylococcus aureus pada
makanan .................................................................................... 35
Gambar 5. Diagram hasil pemeriksaan Total Coliform pada
minuman ................................................................................... 37
Gambar 6. Diagram hasil pemeriksaan Escherchia coli pada
minuman ................................................................................... 39

vi
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Hasil pemeriksaan makanan .................................................... 25
Tabel 2. Hasil pemeriksaan minuman ................................................... 26

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Makanan dan minuman merupakan kebutuhan pokok manusia karena

kedua hal tersebut dapat memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan,

kerja dan penggantian sel tubuh yang rusak serta membantu proses alamiah dan

kimiawi dalam tubuh. Selain itu kegunaan dari makanan dan minuman adalah

memberikan tenaga untuk bekerja, untuk pertumbuhan badan, melindungi tubuh

terhadap beberapa macam penyakit, mengatur suhu tubuh dan membentuk

makanan cadangan di dalam tubuh.

Hampir semua makanan dan minuman tercemar oleh berbagai

mikroorganisme dari lingkungan sekitarnya. Beberapa jenis mikroba yang

terdapat pada makanan dan minuman adalah Salmonella sp, Staphylococcus

aureus, Escherichia coli, Bacillus cereus, kapang, khamir serta mikroba patogen

lainnya. Pencemaran mikroba pada maknanan dan minuman merupakan hasil

kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber–sumber pencemaran

mikroba, seperti tanah, udara, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan

manusia maupun hewan. Hanya sebagian saja dari berbagai sumber pencemar

yang berperan sebagai sumber mikroba awal yang selanjutnya akan berkembang

biak pada bahan pangan sampai jumlah tertentu.

Makanan dan minuman dapat bertindak sebagai perantara atau substrat

tumbuhnya mikroorganisme yang bersifat partogen maupun tidak karena makanan

1
2

dan minuman menggandung nutrisi yang dapat membantu pertumbuhan

mikroorganisme yang ada pada makanan dan minuman itu. Mikroorganisme yang

bersifat patogen dapat menimbulkan penyakit menular yang cukup berbahaya

misalnya tipes, kolera, disentri, tbc dan penyakit lain yang mudah disebarkan

melalui makanan dan minuman. Terjadi peningkatan gangguan pencernaan akibat

keracunan makanan dan minuman yang disebabkan oleh mikroorganisme

patogenik. Penyakit yang disebabkan oleh bahan pangan dan keamanan bahan

pangan itu sendiri telah menjadi perhatian saat ini.

Untuk menghasilkan makanan dan minuman yang berkualitas tinggi dan

bebas dari mikroba, ada banyak faktor yang berperan seperti air, tempat

pengolahan makanan, peralatan, dan orang yang berperan dalam pengolahan

makanan. Pengolah makanan memegang peranan penting dalam upaya

penyehatan makanan karena sangat berpotensi dalam menularkan penyakit.

Upaya untuk mencegah makanan dan minuman dari kemungkinan

tercemar baik dari cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang yang dapat

mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia, merupakan

suatu keharusan. Keamanan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat

merupakan hal yang sangat penting karena makanan dan minuman yang beredar

dimasyarakat harus layak untuk dikonsumsi. Makanan dan minuman yang aman

untuk dikonsumsi, tidak hanya melindungi kesehatan masyarakat Indonesia

namun juga dapat meingkatkan kualitas generasi muda Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah menetapkan standar makanan dan minuman

yang layak untuk dikonsumsi dari segi bakteriologis yang terkandung dalam
3

makanan dan minuman tersebut serta peraturan perundang-undangan yang

berkaitan dengan masalah keamanan makanan dan minuman yang beredar agar

masyarakat Indonesia mengkonsumsi makanan yang terjamin kesehatannya.

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit

(BBTKLPP) Jakarta merupakan salah satu balai besar dibawah naungan

Kementrian Kesehatan Indonesia yang memiliki kegiatan yang dilakukan oleh

bidang SE (Surveilans Epidemiologi) yaitu SKD (Sistem Kewaspadaan Dini)

yang merupakan suatu kegiatan kajian pemeriksan makanan dan minuman yang

produksi oleh rumah makan atau industri rumahan yang bererdar di terminal di

daerah DKI Jakarta sebagai pengawasan dini akan kelayakan makanan dan

minuman yang beredar pada saat arus mudik berlangsung.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah pada penelitian di Balai Besar Teknik Kesehatan

Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP Jakarta) adalah :

1. Apakah makanan dan minuman yang dijual oleh rumah makan yang berada di

sekitar terminal di DKI Jakarta pada arus mudik tercemar oleh bakteri

pathogen?

2. Apakah makanan dan minuman yang dijual oleh rumah makan yang berada di

sekitar terminal di DKI Jakarta pada arus mudik layak dikonsumsi?

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahahui kualitas makanan dan

minuman yang dijual di rumah makan sekitar terminal di DKI Jakarta pada saat
4

musim arus mudik menurut pemeriksaan mikrobiologis, serta kelayakan makanan

dan minuman tersebut untuk dikosumsi.

1.4 Manfaat

Pengujian makanan dan minuman di Balai Besat Teknik Kesehatan

Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta bermanfaat untuk :

1. Memberikan gambaran informasi mengenai kualitas makanan dan minuman

yang dijual oleh rumah makan yang berada disitar terminal di DKI Jakarta

dari segi bakteriologis.

2. Memberikan gambaran informasi mengenai layak atau tidaknya makanan dan

minuman yang dijual oleh rumah makan yang berada di sekitar terminal di

DKI Jakarta dari segi bakteriologis.


BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Makanan

Makanan adalah hasil dari proses pengolahan suatu bahan pangan yang

dapat diperoleh dari hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan adanya teknologi

(Moertjipto, 1993). Makanan dalam ilmu kesehatan adalah setiap substrat yang

dapat dipergunakan untuk proses di dalam tubuh. Terutama untuk membangun

dan memperoleh tenaga bagi kesehatan sel tubuh (Irianto, 2004).

Makanan adalah semua substansi yang diperlukan oleh tubuh, kecuali air

dan obat – obatan dan substansi – substansi yang diperlukan untuk pengobatan

(Anwar dalam Pohan 2009: 18).

Berdasarkan cara perolehannya, pangan dapat dibedakan menjadi tiga

bagian yaitu (Saparinto dan Hidayati, 2006) :

1. Makanan segar, yaitu makanan yang belum mengalami pengolahan yang

dapat dikonsumsi langsung ataupun tidak langsung (bahan baku pengolahan

pangan).

2. Makanan olahan, yaitu makanan hasil proses pengolahan dengan cara atau

metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan. Makanan olahan bisa

dibedakan lagi menjadi makanan olahan siap saji dan tidak siap saji.

a. Makanan olahan siap saji adalah makanan yang sudah diolah dan siap

disajikan di tempat usaha atau di luar tempat usaha atas dasar pesanan.

5
6

b. Makanan olahan tidak siap saji adalah makanan yang sudah mengalami

proses pengolahan, akan tetapi masih memerlukan tahapan pengolahan

lanjutan untuk dapat dimakan atau diminum.

3. Makanan olahan tertentu, yaitu pangan olahan yang diperuntukkan bagi

kelompok tertentu dalam upaya memelihara dan meningkatkan kualitas

kesehatan, contoh: susu rendah lemak untuk orang yang menjalani diet lemak

dan lain-lain. Penanganan makanan yang tidak tepat dapat menyebabkan

penyakit yang disebut foodborne disease, yaitu gejala penyakit yang timbul

akibat mengkonsumsi pangan yang mengandung bahan/senyawa beracun atau

organisme patogen. Bahan/senyawa kimia beracun bisa berasal dari makanan

itu sendiri maupun dari luar makanan seperti kemasannya. Ketika masuk ke

dalam tubuh manusia zat kimia akan menimbulkan efek yang berbeda-beda,

tergantung jenis dan jumlahnya. Penggunaan bahan pengemas makanan yang

dilarang dapat menyebabkan penyakit kanker, tumor dan gangguan saraf

(Yuliarti, 2007).

2.1.1 Makanan Sehat

Secara umum makanan sehat merupakan makanan yang higienis dan

bergizi (mengandung hidrat arang, protein, vitamin, dan mineral). Makanan

merupakan salah satu bagian penting untuk kesehatan manusia mengingat setiap

saat dapat terjadi penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh makanan. Kasus

penyakit bawaan makanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor

tersebut antara lain kebiasaan mengolah makanan secara tradisional, menyimpan


7

dan penyajian yang tidak bersih, dan tidak memenuhi persyaratan sanitasi (Azwar,

1996).

Ada dua faktor yang menyebabkan suatu makanan menjadi berbahaya bagi

manusia antara lain (Chandra, 2006) :

1. Kontaminasi

a. Parasit, misalnya: cacing dan amuba

b. Golongan mikroorganisme, misalnya: salmonela dan shigella

c. Zat kimia, misalnya: bahan pengawet dan pewarna

d. Bahan-bahan radioaktif, misalnya kobalt, dan uranium

e. Toksin atau racun yang dihasilkan mikroorganisme, misalnya: stafilokokus

dan clostridium botulinum.

2. Makanan yang pada dasarnya telah mengandung zat berbahaya, tetapi tetap

dikonsumsi manusia karena ketidaktahuan mereka dapat dibagi menjadi tiga

golongan, yaitu :

a. Secara alami makanan itu memang telah mengandung zat kimia beracun,

misalnya singkong yang mengandung HCN ikan, dan kerang yang

mengandung unsur toksik tertentu (Hg dan Cd) yang dapat melumpuhkan

sistem saraf

b. Makanan dijadikan sebagai media perkembangbiakan sehingga dapat

menghasilkan toksin yang berbahaya bagi manusia, misalnya dalam kasus

keracunan makanan akibat bakteri

c. Makanan sebagai perantara. Jika suatu makanan yang terkontaminasi

dikonsumsi manusia, di dalam tubuh manusia agent penyakit pada


8

makanan itu memerlukan masa inkubasi untuk berkembang biak dan

setelah beberapa hari dapat mengakibatkan munculnya gejala penyakit.

Misalnya penykit typhoid abdominalis dan disentri basiler.

Berbagai bahaya dapat terjadi berhubungan dengan makanan. Menurut

Kepmenkes No:1098/Menkes/SK/VII/20036 dan Peraturan Pemerintah RI No. 28

Tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, pada pasal 9 PP No. 28

Tahun 2004 dijelaskan bahwa cara produksi pangan siap saji yang baik harus

memperhatikan aspek keamanan pangan dengan cara mencegah tercemarnya

pangan siap saji oleh cemaran biologis yang mengganggu, merugikan dan

membahayakan kesehatan.

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Rumah Makan

dan Restoran, angka kuman E.coli dalam makanan jadi disyaratkan 0 per gram

contoh makanan, dan untuk minuman disyaratkan angka kuman E.coli 0 per 100

ml contoh minuman (WHO, 2000).

Seperti batas angka kuman untuk daging ayam yang diolah dengan

pemanasan, batas maksimum yang disyaratkan untuk Staphylococcus aureus

adalah 0 per gram contoh makanan. Untuk jenis minuman ringan dan sari buah

batas maksimum yang disyaratkan untuk Staphylococcus aureus adalah 0 per ml

(Keputusan Dirjen POM Nomor 03726/B/SK/VII/89 tentang Batas Maksimum

Cemaran Mikroba Dalam Makanan).


9

Selain Staphylococcus aureus dan E. coli beberapa bakteri pathogen lain

yang tidak boleh ada di dalam makanan misalnya Salmonella sp. dan Bacillus

aureus serta angka total coliform yang telah ditetapkan.

2.2 Minuman

Minuman merupakan bahan yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup,

yang berguna bagi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, kualitas minuman

harus terjamin agar konsumen sebagai pemakaian produk minuman dapat

terhindar dari penyakit akibat minum terlebih minuman yang mengandung bahan

tambahan makanan seperti bahan pengawet makanan.

Definisi minuman adalah segala sesuatu yang dapat dikonsumsi dan dapat

menghilangkan rasa haus. Minuman umumnya berbentuk cair, namun ada pula

yang berbentuk padat seperti es krim atau es lilin. Minuman kesehatan adalah

segala sesuatu yang dikonsumsi yang dapat menghilangkan rasa haus dan dahaga

juga mempunya efek menguntungkan terhadap kesehatan. (Winarti, 2006)

Minuman adalah segala sesuatu yang dikonsumsi dan dapat

menghilangkan rasa haus. Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berasa

dan tidak berbau. Air minum pun seharusnya tidak mengandung kuman patogen

yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Tidak mengandung zat kimia yang

dapat mengubah fungsi tubuh, tidak korosif, dan tidak merugikan secara

ekonomis. Pada hakekatnya hal ini bertujuan untuk mencegah terjadi serta

meluasnya penyakit bawaan air atau water borne diseasase (Slamet, 1994 dalam

Purba 2010).
10

2.2.1 Minuman Sehat

Standar air minum di Indonesia mengikuti standar WHO yang dalam

beberapa hal disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Pada tahun 2002,

Departemen Kesehatan RI telah menetapkan kriteria kualitas air secara

mikrobiologis, melalui Keputusan Menteri Kesehatan No. 907 tahun 2002 bahwa

air minum tidak diperbolehkan mengandung bakteri coliform dan Escherichia

coli. Sedangkan dalam Standar NasionalIndonesia (SNI) No. 01-3553-2006, air

minum dalam kemasan selain tidak boleh mengandung bakteri patogen yaitu

Salmonella sp. dan Pseudomonasa eruginosa, juga tidak boleh mengandung

cemaran mikroba lebih besardari 100 koloni/ml.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor

492/menkes/PER/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum

adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang

memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air yang memenuhi

persyaratan kualitas air minum dapat digolongkan

dengan empat syarat:

1. Syarat fisik

Air minum tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

2. Syarat kimia

Air tidak mengandung bahan anorganik, pestisida dan bahan sampingan

lainnya diatas batas ketentuan maksimal. Dengan batas minimum dan

maksimum pH (6,5-8,5), hingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan.


11

3. Syarat bakteriologis

Dengan batas kandungan dari E. coli atau faecal coli didalam 100 ml sampel

air sebanyak 0 (tidak ada). Dan batas kandungan Total Bakteri Coliform didalam

100 ml air adalah sebanyak 0 (tidak ada).

4. Syarat radioaktif

Nilai Gross alpha activity adalah 0,1 bq/liter dan nilai Gross beta activity

adalah 1 bq/liter, dan ketentuannya agar tidak melebihi batas yang

telahditentukan dan kontaminasi radioaktif lainnya.

2.3 Bakteri

Bakteri merupakan salah satu kelompok mikroorganisme penting dan

beraneka ragam yang biasanya berhubungan dengan makanan dan manusia.

Fardiaz (1992) mendefinisikan bakteri sebagai organisme prokariot bersel tunggal

yang umumnya mempunyai ukuran sel berkisar antara panjang 0,5-1,0 μm dan

lebar 0,5-2,5 μm. Berdasarkan morfologinya bakteri terdiri dari empat bentuk

dasar, yaitu :

1. Bentuk bulat atau coccus, contohnya: staphylococci, streptococci

2. Bentuk batang atau bacillus, contohnya: bacilli

3. Bentuk spiral atau spirillus, contohnya: spirilla

4. Bentuk koma atau vibrius, contohnya: vibrio

Bakteri ini dapat ditemukan dalam keadaan tunggal, berpasangan, tetrad,

kelompok kecil, gerombolan atau berantai.

Menurut Fardiaz (1998), struktur dan komponen bakteri sangat sederhana

karena bakteri adalah organisme uniseluler. Secara umum struktur bakteri terdiri
12

dari : dinding sel, membran sel (membran plasma), sitoplasma, kromosom

tunggal, dan ribosom. Pada beberapa bakteri tertentu biasanya terdapat kapsul,

glikokalik, pili, mesosom, flagela, spora, dan granul inklusi.

Bakteri berkembang biak secara aseksual dengan proses pembelahan biner

yaitu membelah diri menjadi dua (binary fission). Pada sel asli (sel induk) ukuran

dan massanya akan bertambah sehingga mampu membelah menjadi dua sel baru

(sel anak) (Pelczar dan Chan 1986).

Spora merupakan ”body” yang kuat dan keras yang terbentuk pada

beberapa jenis bakteri jika kondisinya menjadi kurang baik atau tidak mampu lagi

bertahan hidup pada lingkungan untuk mendapatkan bahan-bahan penting untuk

pertumbuhannya. Spora terbentuk didalam sel bakteri dan kemudian sel akan

mengalami kehancuran. Spora dapat bertahan hidup pada kondisi yang kurang

baik untuk periode yang lama. Pembentukan spora hanya terjadi pada beberapa

jenis bakteri, ada dua kelompok bakteri yang dapat membentuk spora yaitu

bacillus dan clostridium. Spora bersifat tahan terhadap panas jika pangan dimasak,

juga tahan terhadap suhu rendah (pendinginan) dan beberapa produk kimia

(disinfektan) (Purnomo dan Adiono 1987).

2.4 Penyakit yang Timbul Akibat Bakteri

Makanan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk

pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit

yang disebabkan oleh pangan. Keracunan pangan atau foodborne disease

(penyakit bawaan makanan), terutama yang disebabkan oleh bakteri patogen

masih menjadi masalah yang serius di berbagai negara termasuk Indonesia.


13

Bakteri dapat menyebabkan keracunan pangan melalui dua mekanisme,

yaitu intoksikasi dan infeksi.

1. Intoksikasi

Intoksikasi adalah keracunan pangan yang disebabkan oleh produk toksik

bakteri patogen (baik itu toksin maupun metabolit toksik). Bakteri tumbuh

pada pangan dan memproduksi toksin Jika pangan ditelan, maka toksin

tersebut yang akan menyebabkan gejala, bukan bakterinya.

2. Infeksi

Bakteri patogen dapat menginfeksi korbannya melalui pangan yang

dikonsumsi. Dalam hal ini, penyebab sakitnya seseorang adalah akibat

masuknya bakteri patogen ke dalam tubuh melalui konsumsi pangan yang

telah tercemar bakteri. Untuk menyebabkan penyakit, jumlah bakteri yang

tertelan harus memadai. Hal itu dinamakan dosis infeksi.

2.5 MPN (Most Probable Number)

Metode MPN terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan (presumtive test),

uji konfirmasi (confirmed test), dan uji kelengkapan (completed test). Dalam uji

tahap pertama, keberadaan coliform masih dalam tingkat probabilitas rendah;

masih dalam dugaan. Uji ini mendeteksi sifat fermentatif coliform dalam sampel.

Karena beberapa jenis bakteri selain coliform juga memiliki sifat fermentatif,

diperlukan uji konfirmasi untuk mengetes kembali kebenaran adanya coliform

dengan bantuan medium selektif diferensial. Uji kelengkapan kembali

meyakinkan hasil tes uji konfirmasi dengan mendeteksi sifat fermentatif dan
14

pengamatan mikroskop terhadap ciri-ciri coliform: berbentuk batang, Gram

negatif, tidak-berspora (Fardiaz,1989).

Output metode MPN adalah nilai MPN. Nilai MPN adalah perkiraan

jumlah unit tumbuh (growth unit) atau unit pembentuk koloni (colony-forming

unit) dalam sampel. Namun pada umumnya, nilai MPN juga diartikan sebagai

perkiraan jumlah individu bakteri. Satuan yang digunakan, umumnya per 100 mL

atau per gram. Jadi misalnya terdapat nilai MPN 10/g dalam sebuah sampel air,

artinya dalam sampel air tersebut diperkirakan setidaknya mengandung 10

coliform pada setiap gramnya. Makin kecil nilai MPN, maka air tersebut makin

tinggi kualitasnya, dan makin layak minum. Metode MPN memiliki limit

kepercayaan 95 persen sehingga pada setiap nilai MPN, terdapat jangkauan nilai

MPN terendah dan nilai MPN tertinggi (FDA, 1989).


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Pengujian sampel makanan dan minuman di laksanakan di Balai Besar

Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jakarta

pada tanggal 15 juni 2015 sampai dengan 24 juli 2015.

3.2 Jenis sampel

Pengujian ini menggunakan sampel makanan dan minuman yang didapat

di rumah makan sekitar terminal di DKI Jakarta selama arus mudik 2015.

3.3 Metode

Pengujian sampel yang masuk menggunakan metode deskriptif dengan

pengujian sampel secara kualitatif.

3.4 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama proses pengujian sampel adalah ATK, cawan

petri, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur, bulb, botol media, jarum

inokulasi, Bunsen, timbangan, magnetic stirrer, vortex, incubator, autoclave,

lemari pendingin, freezer, laminar air flow.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah media BPW

(Buffer Pepton Water), media EMBA (Eosine Methylene Blue Agar), media TB

(Tryptose Broth), media SCA (Simons Citrate Agar), media MR-VP (Methil Red-

Voges Proskauer), media NA (Nutrient Agar) atau, Reagen Kovacs, larutan LMX,

15
16

media TW (Tryptone Water), media EC Broth (E. Coli Broth), Media BHI (Brain

Heart Infusion), media SSA (Salmonella Shigella Agar), Media BPA (Baird

Parker Agar), media LTB (Lauryl Tryptose Broth) single dan double strength,

media BGLB (Briliiant Green Lactose Broth).

3.5 Cara Kerja

Beberapa langkah dan cara kerja yang dilakukan pada saat pengujian

sampel makanan dari awal pembuatan media sampai akhir meliputi beberapa

tahapan.

3.5.1 Pembuatan Media

langkah pembuatan media yang digunakan dalam pengujian sampel

makanan dan sampel air minum.

1. Media BPW (Buffer Peptone Water)

Sebanyak 10 gram pepton, 5 gram sodium chloride, 3.5 gram disodium

phospate, dan 1.5 gram potassium dihydrogen phosphate ditimbang, lalu

dilarutkan ke dalam 1000 ml aquadest. Kemudian media di homogenkan

dengan menggunakan stirer. Setelah larut sempurna, media diatur pada pH

7.2±0.2. Selanjutnya media disterilisasi dengan autoclave pada suhu 121°C

selama 15 menit.

2. Media BHI (Brain Heart Infusion)

Sebanyak 200 gram Calf brain infusion, 250 gram Beef heart infusion, 10

gram Proteose peptone atau gelysate, 5 gram NaCl, 2.5 gram

Na2HPO4.12H2O, 2 gram Dextrose ditimbang, lalu media dilarutkan ke

dalam 1000 ml aquadest. Kemudian media di homogenkan dengan


17

menggunakan stirer dan masak sampai bening. Setelah larut sempurna, media

diatur pada pH 7.2 ±0.1. Kemudian media disterilisasi dengan autoclave pada

suhu 121°C selama 15 menit. Selanjutnya media didinginkan hingga 60°C

dan dituang sebanyak 90 ml ke dalam botol.

3. Media BPA (Baird Parker Agar)

Sebanyak 10 gram Casein enzymic hydrolysate, 5 gram beef extract, 10 gram

yeast extract, 12 gram glycine, 10 gram sodium pyruvate, 5 gram lithium

chloride dan 20 gram agar lalu media dilarutkan ke dalam 1000 ml aquadest.

Kemudian media di homogenkan dengan menggunakan stirer dan masak

sampai bening. Setelah larut sempurna, media diatur pada pH 7.0±0.2.

Kemudian media disterilisasi dengan autoclave pada suhu 121°C selama 15

menit. Selanjutnya media didinginkan hingga 60°C dan dituang sebanyak 15

ml ke cawan petri.

4. Media SSA (Salmonella Shigella Agar)

Sebanyak 5 gram Lab-Lemco powder, 5 gram pepton, 5 gram laktosa, 8.5

gram bile salt, 10 gram sodium citrate, 8.5 gram sodium thiosulfate, 1 gram

ferric citrare, 0.00033 gram brilliant green, 0.025 gram neutral red, 13.5

gram bacto agar ditimbang, lalu media dilarutkan ke dalam 1000 ml

aquadest. Kemudian media di homogenkan waterbath hingga larut sempurna

selama 1 menit pada suhu 45-50°C. Setelah larut sempurna, media diatur

pada pH 7.0±0.2. Media tidak di sterilkan pada autoclave hanya di larutkan di

dalam waterbath. Selanjutnya media dituang sebanyak 15 ml ke dalam cawan

petri.
18

5. Medium PEMBA (polymixin pyruvate egg yolk mannitol bromothymol blue

agar)

Sebanyak 1 gram Casein peptone mixture, 10 gram mannitol, 10 gram

sodium piruvat, 2 gram sodium klorida, 0.1 gram magnesium sulfat, 2.5 gram

disodium hydrogen posfat, 0.25 pottasium hydrogen posfat, 0.12 bromotymol

blue dan 15 gram agar lalu media dilarutkan ke dalam 1000 ml aquadest.

Kemudian media di homogenkan dengan menggunakan stirer dan masak

sampai bening. Setelah larut sempurna, media diatur pada pH 7.0±0.2.

Kemudian media disterilisasi dengan autoclave pada suhu 121°C selama 15

menit. Selanjutnya media didinginkan hingga 60°C dan dituang sebanyak 15

ml ke cawan petri.

6. Media LTB (Lauryl Tryptose Broth)

Sebanyak 35,6 gram LTB untuk single strength dan 71,2 gram LTB untuk

double strength ditimbang, lalu dilarutkan ke dalam 1000 ml aquadest.

Kemudian media di homogenkan dengan menggunakan stirer. Setelah larut

sempurna, media diatur pada pH 7.2±0.2. Selanjutnya media di masukan

kedalam tabung reaksi ±10ml lalu disterilisasi dengan autoclave pada suhu

121°C selama 15 menit.

7. Media BGLB (Briliiant Green Lactose Broth)

Sebanyak 40 gram BGLB ditimbang, lalu dilarutkan ke dalam 1000 ml

aquadest. Kemudian media di homogenkan dengan menggunakan stirer.

Setelah larut sempurna, media diatur pada pH 7.2±0.2. Selanjutnya media di


19

masukan kedalam tabung reaksi ±10ml lalu disterilisasi dengan autoclave

pada suhu 121°C selama 15 menit.

8. Media EC Broth

Sebanyak 37 gram EC Broth ditimbang, lalu dilarutkan ke dalam 1000 ml

aquadest. Kemudian media di homogenkan dengan menggunakan stirer.

Setelah larut sempurna, media diatur pada pH 7.2±0.2. Selanjutnya media di

masukan kedalam tabung reaksi ±10ml lalu disterilisasi dengan autoclave

pada suhu 121°C selama 15 menit.

9. Media TW (Tryptone Water)

Sebanyak 15 gram media TW ditimbang, lalu dilarutkan ke dalam 1000 ml

aquadest. Kemudian media di homogenkan dengan menggunakan stirer.

Setelah larut sempurna, media diatur pada pH 7.2±0.2. Selanjutnya media di

masukan kedalam tabung reaksi ±10ml lalu disterilisasi dengan autoclave

pada suhu 121°C selama 15 menit.

10. Media EMB (Eosine Methylene Blue) Agar

Sebanyak 37,5 gram media EMB Agar ditimbang, lalu media dilarutkan ke

dalam 1000 ml aquadest. Kemudian media di homogenkan dengan

menggunakan stirer dan masak sampai bening. Setelah larut sempurna, media

diatur pada pH 7.0±0.2. Kemudian media disterilisasi dengan autoclave pada

suhu 121°C selama 15 menit. Selanjutnya media didinginkan hingga 60°C

dan dituang sebanyak 15 ml ke cawan petri.


20

3.5.2 Pemeriksaan Makanan

Langkah kerja dalam pemeriksaan makanan secara bakteriologi adalah

sebagai berikut.

1. Pemeriksaan Escherichia coli

Melakukan pengenceran pada sampel makanan sebesar 10-1, 10-2 dan 10-3.

setelah itu, lakukan tes perkiraan dengan memasukan kedalam 9 tabung LTB

Single Strength masing-masing 3 tabung pada setiap pengenceran secara

aseptis. Inkubasi pada suhu 35ºC selama 48±2 jam. Tabung yang terbentuk

gas dinyatakan positif, dan lanjut kedalam tes penegasan sedangkan tabung

yang tidak terbentuk gas dinyatakan negatif. Tes penegasan pada tabung

positif yaitu dengan memindahkan dengan isi tabung dengan ose kedalam

media EC Broth lalu inkubasi kembali selama 48±2 jam. Tabung yang

terbentuk gas dinyatakan positif, dan lanjut kedalam tes selanjutnya

sedangkan tabung yang tidak terbentuk gas dinyatakan negatif. Tabung yang

dinyatakan positif, isi tabung digoreskan kedalam media EMB Agar, lalu

diinkubasi selama 24±2 jam. Amati koloni yang terbentuk, jika kolobi

berbentuk bulat datar dan berwarna hijau metalik dapat di pastikan bahwa

makanan terkontaminasi Escherichia coli. Untuk mengetahui banyaknya

Escherichia coli yang terdapat pada 1 gr makanan, hasil positif dari seri

tabung EC Broth dapat di lihat pada table MPN Makanan.

2. Pemeriksaan Salmonella Sp.

Sebanyak 10 ml sampel yang sudah dihomogenkan dengan larutan BPW

dimasukkan ke dalam botol media berisi 90 ml media SCB (Salenite Cystein


21

Broth). Kemudian diinkubasi pada suhu 35˚C selama 24±2 jam. Sampel yang

berasal dari media SCB kemudian diinokulasi menggunakan jarum ose

dengan cara membuat goresan pada cawan petri yang berisi media SSA.

Selanjutnya media SSA di inkubasi kedalam inkubator pada suhu 35ºC.

selama 24±2 jam. Setelah proses inkubasi koloni yang diduga Salmonella sp.

pada media SSA memiliki ciri koloni putih jernih.

3. Pemeriksaan Bacillus cereus

Sebanyak 10 ml sampel yang sudah dihomogenkan dengan larutan BPW

dimasukkan ke dalam botol. Kemudian diinkubasi pada suhu 35˚C selama

24±2 jam. Sampel yang berasal dari media BPW kemudian diinokulasi

menggunakan jarum ose dengan cara membuat goresan pada cawan petri

yang berisi media PEMBA. Selanjutnya media PEMBA di inkubasi kedalam

inkubator pada suhu 35ºC. selama 24±2 jam. Setelah proses inkubasi koloni

yang diduga Bacillus cereus. pada media PEMBA memiliki ciri koloni yang

berwarna merah jambu dengan zona presipitasi disekelilingnya.

4. Pemeriksaan Staphylococcus aureus

Sebanyak 10 ml sampel yang sudah dihomogenkan dengan larutan BPW

dimasukkan ke dalam botol media berisi 90 ml media BHI (Brain Heart

Infusion). Kemudian diinkubasi pada suhu 35˚C selama 24±2 jam. Sampel

yang berasal dari media BHI kemudian diinokulasi menggunakan jarum ose

dengan cara membuat goresan pada cawan petri yang berisi media BPA.

Selanjutnya media BPA di inkubasi kedalam inkubator pada suhu 35ºC.

selama 24±2 jam. Setelah proses inkubasi koloni yang diduga Staphylococcus
22

aureus pada media BPA memiliki ciri-ciri koloni bundar, licin/halus,

cembung, diameter 2-3 mm, berwarna abu-abu hingga kehitaman, sekeliling

tepi koloni bening (terbentuk halo). Koloni-koloni mempunyai konsistensi

berlemak dan lengket bila diambil dengan jarum inokulasi (Badan

Standarisasi Nasional Indonesia, 2011).

3.5.3 Pemeriksaan Minuman

Langkah kerja dalam pemeriksaan minuman secara bakteriologi adalah

sebagai berikut.

1. Pemeriksaan Escherichia coli

Lakukan tes perkiraan dengan memasukan sebanyak 10 ml sampel air minum

pada 10 tabung berisi LTB Double Strength secara aseptis, inkubasi pada

suhu 35ºC selama 48±2 jam. Bila terbentuk gas, maka tabung dinyatakan

positif dan lanjut kedalam tes pendugaan sedangkan jika tabung tidak

terdapat gas, maka dinyatakan negative. Tabung yang dinyatakan positif,

dipindahkan dengan ose kedalam tabung berisi media TW secara aseptis,

inkubasi pada suhu 35ºC selama 48±2 jam. Setelah itu, teteskan reagen

Kovack’s pada tabung. Jika terbentuk cincin berwarna merah keunguan

menandakan bahwa sampel postif mengandung Escherichia coli, jika tabung

tidak terbentuk cincin berwarna merah keunguan setelah ditetesi reagen

Kovack’s berarti sampel negative mengandung Escherichia coli. Besar nilai

Escherichia coli yang terkandung dalam sampel air minum, dapat dilihat dari

banyak tabung positif setelah ditetesi reagen Kovack’s dalam tabel MPN air

minum.
23

2. Pemeriksaan Total Koliform

Lakukan tes perkiraan dengan memasukan sebanyak 10 ml sampel air minum

pada 10 tabung berisi LTB Double Strength secara aseptis, inkubasi pada

suhu 35ºC selama 48±2 jam. Bila terbentuk gas, maka tabung dinyatakan

positif dan lanjut kedalam tes pendugaan sedangkan jika tabung tidak

terdapat gas, maka dinyatakan negative. Tabung yang dinyatakan positif,

masuk kedalam tes pendugaan yaitu dengan memindahkan isi tabung dengan

ose kedalam tabung berisi media BGLB secara aseptis, inkubasi pada suhu

35ºC selama 48±2 jam. Jika terbentuk gas, maka tabung dinyatakan positif

menandakan bahwa sampel postif mengandung bakteri koliform, jika tidak

berarti sampel negative mengandung bakteri koliform. Besar nilai koliform

yang terkandung dalam sampel air minum, dapat dilihat dari banyak tabung

positif dalam tabel MPN air minum.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Mudik merupkan suatu tradisi rutin yang dilakukan oleh masyarakat

Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri. Mudik merupakan kegiatan pulang ke

kampung halaman bagi masyarakat yang merantau ke kota besar menjelang Hari

Raya Idul Fitri agar dapat berkumpul dengan keluarga besar dan sanak saudara

untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri secara bersama.

Pada saat musim mudik, biasanya terminal dipenuhi oleh calon pemudik

untuk transit, melakukan keberangkatn, atau sekedar membeli tiket. Terminal

merupakan tempat penting karena menyadiakan jasa angkutan ke desa-desa yang

biasanya dimanfaatkan oleh pemudik.

Didalam dan disekitar terminal banyak sekali penjual makanan dalam

bentuk rumah makan atau hanya warung makan kecil yang biasanya di

manfaatkan oleh pemudik untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Saat musim

mudik, pengunjug yang datang ke terminal sangat banyak, hal ini bias saja

membuat para penjual makanan membuat dan menyajikan makanan yang dijual

secara sembarangan. Oleh karena itu, dilakukan pemeriksaan makanan dan

minuman yang dijual disekitar dan didalam terminal untuk meminimalisasi

dijualnya makanan yang tidak layak konsumsi.

Pemeriksaan makanan yang dilakukan merupakan pemeriksaan dari segi

bakteriologis. Hasil pemeriksaan sampel makanan dan minuman yang diambil

pada beberapa rumah makan disekitar terminal di DKI Jakarta menunukan hasil

24
25

yang bervariasi. Terdapat makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri

pathogen yang dapat menimbulkan berbagai penyait bagi tubuh.

Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Makanan


Hasil Pemeriksaan
Jenis
No. Lokasi Bacillus
Sampel E.coli Salmonella sp. S. aureus
Cereus
1. Terminal Pulogadung

RM A Makanan a <3,6 (-) (-) (-)


Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM B Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM C Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM D Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM E Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
2. Terminal Kp. Rambutan

RM A Makanan a 6,1 * (-) (-) (-)


Makanan b 4* (-) (-) (-)
RM B Makanan a 3,6 (-) (-) (-)
Makanan b 11 * (-) (-) (-)
RM C Makanan a 6,1 * (-) (-) (-)
Makanan b 6,2 * (-) (-) (-)
RM D Makanan a 11 * (-) (-) (-)
Makanan b 3,6 (-) (-) (-)
RM E Makanan a 11 * (-) (-) (-)
Makanan b 6,1 * (-) (-) (-)
3. Terminal Kalideres

RM A Makanan a <3,6 (-) (-) (-)


Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM B Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan <3,6 (-) (-) (-)
RM C Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM D Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM E Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
4. Terminal Tj. Priok

RM A Makanan a <3,6 (-) (-) (-)


Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM B Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
26

Hasil Pemeriksaan
Jenis
Lokasi Bacillus
Sampel E.coli Salmonella sp. S. aureus
Cereus
RM D Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
RM D Makanan a <3,6 (-) (-) (-)
Makanan b <3,6 (-) (-) (-)
Keterangan : Syarat makanan yang boleh dikonsumsi, Nilai MPN E. coli ≤ 3,6
* Tidak memenuhi syarat

Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Minuman


No Lokasi Jenis Sampel Hasil Pemeriksaan
Total Coliform Escherchia coli
1. Terminal Pulogadung

RM A Minuman >23 * <1,1


RM B Minuman 2,2 * <1,1
RM C Minuman <1,1 <1,1
RM E Minuman >23 * <1,1
2. Terminal Kp. Rambutan

RM A Minuman 2,2 * 16 *
RM B Minuman 9,2 * 1,1
RM C Minuman 6,9 * 1,1
RM D Minuman 1,1 1,1
RM E Minuman 1,1 1,1
3. Terminal Kalideres

RM A Minuman 2,2 * 2,2 *


RM B Minuman >23 * 5,1 *
RM C Minuman 6,9 * <1,1
RM D Minuman 23 * 2,2 *
RM E Minuman <1,1 <1,1
4. Terminal Tj. Priok

RM A Minuman <1,1 <1,1


RM B Minuman >23 * 2,2 *
RM C Minuman 16 * <1,1
RM D Minuman 23 * <1,1
RM E Minuman <1,1 <1,1
Keterangan : Syarat minuman yang boleh dikonsumsi, Nilai MPN E. coli dan
Coliform ≤1,1
* Tidak memenuhi syarat

Sampel makanan yang diambil pada saat sampling di sekitar terminal yang

ada di DKI Jakarta, di periksa di Laboratorium Biologi BBTKLPP Jakarta, semua

sampel yang masuk diperiksa secara aseptis. Pemerikaan makanan dan minuman
27

meliputi pemeriksaan Eschercia coli, Salmonella sp., Bacillus cereus,

Staphylococcus aureus untuk makanan dan pemeriksaan Colifom dan Eschercia

coli untuk minuman.

4.1 Pemeriksaan Makanan

4.1.1 Eschercia coli

Hasil pemeriksaan Eschercia coli pada makanan di beberapa terminal di

DKI Jakarta menujukan hasil bahwa makanan yang dijual pada terminal Kp.

Rambutan yang telah diperiksa secara bakteriologis, 80% dari hasil sampling

positif mengandung bakteri Eschrcia coli. Bakteri Eschercia coli merupakan

bakteri yang paling banyak ditemukan dalam makanan dan minuman, yang

ermasuk kedalam kelompok bakteri patogen. Beberapa penyakit yang dapat

ditimbulkan akibat Eschercia coli misalnya diare.

Hasil Pemeriksaan Makanan (%)


100 80
80
60
40 0
20
0 0
0 Eschercia Coli
Terminal
Pulogadung Terminal Kp.
Terminal
Rambutan Terminal Tj.
Kalideres
Priok

Gambar 1. Diagram hasil pemeriksaan Eschercia coli pada makanan

Sampel makanan masuk kedalam uji dugaan (presumptive test), pertama-

tama di blender terlebih dahulu untuk menghomogenkan seluruh komponen

makanan misalnya, dalam sayur di homogenkan isi beserta kuahnya. Lalu, bahan

maknan yang telah di blender, masuk ke tahap pengenceran yaitu, 10-1, 10-2, 10-3,
28

masing- masing pengenceran dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telah berisi

LTB single strain sebanyak 1 ml. Selanjutnya tabung yang telah berisi sampel dan

media di inkubasi selama 48±2 jam pada suhu 35º C. Tabung yag positif

mengandug E.coli dan Coliform akan timbul gas yang terperangkap pada tabug

durham. Hal ini menandakan, bahwa terdapat bakteri coliform dan E. coli yang

menfermentasikan laktosa pada media

Tabung yang positif terdapat gas kemudian dilanjutkan dengan uji

penegasan (confirmation test). Dengan menggunakan ose, sampel ditanamkan

pada tabung yang dengan media EC Broth sebanyak 1-2 ose. Tabung kemudian

diinkubasikan dengan suhu 35º C selama 48±2 jam. Tabung yang terdapat bakteri

coliform akan muncul gas yang akan terperangkap pada tabung durham.

Kemudian, tabung yang dinyatakan positif digoreskan pada media EMB Agar

menggunakan ose, inkubasi media EMB Agar selama 24±2 jam. Setelah inkubasi,

amati kolini Eschercia coli dengan ciri-ciri bulat data berwarna hijau metalik. Jika

terdapat koloni dengan cirri-ciri tersebut, sampel makanan positif mengandung

Eschercia coli.

Perhitungan Most Probable Number (MPN) dengan menelaah jumlah

tabung yang dinyatakan positif pada media EC broth pada masing-masing seri.

Jumlah sering tabung yang dinyatakan positif dirujuk pada tabel MPN makanan 3

seri dan dihitung dengan rumus berikut:

10
MPN dalam 100ml  Nilai MPN X
volume terbesar seri pengencera n

Hasil perhitungan MPN dengan rumus diatas, menunjukan kualitas

makanan yang layak konsumsi atau tidak. Untuk makanan yang layak konsumsi,
29

nilai MPN makanan tersebut harus di bawah 3,6. Dengan demikian, dari sampel

makanan yang masuk, sebanyak 80% sampe makanan yang diambil dari terminal

Kp. Rambutan tidak layak konsumsi karena nilai MPN lebih besar dari 3,6.

Escherichia coli merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang

pendek yang memiliki panjang sekitar 2 µm, diameter 0,7 µm, lebar 0,4-0,7µm

dan bersifat anaerob fakultatif. E. coli membentuk koloni yang bundar, cembung,

dan halus dengan tepi yang nyata (Smith-Keary, 1988 ; Jawetz et al., 1995).

E. coli adalah anggota flora normal usus. E. coli berperan penting dalam

sintesis vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu, asam-asam empedu dan

penyerapan zat-zat makanan. E. coli termasuk ke dalam bakteri heterotrof yang

memperoleh makanan berupa zat oganik dari lingkungannya karena tidak dapat

menyusun sendiri zat organik yang dibutuhkannya. Zat organik diperoleh dari sisa

organisme lain. Bakteri ini menguraikan zat organik dalam makanan menjadi zat

anorganik, yaitu CO2, H2O, energi, dan mineral. Di dalam lingkungan, bakteri

pembusuk ini berfungsi sebagai pengurai dan penyedia nutrisi bagi tumbuhan

(Ganiswarna, 1995).

E. coli menjadi patogen jika jumlah bakteri ini dalam saluran pencernaan

meningkat atau berada di luar usus. E. coli menghasilkan enterotoksin yang

menyebabkan beberapa kasus diare. E. coli berasosiasi dengan enteropatogenik

menghasilkan enterotoksin pada sel epitel (jawetz et al., 1995).

Manifestasi klinik infeksi oleh E. coli bergantung pada tempat infeksi dan

tidak dapat dibedakan dengan gejala infeksi yang disebabkan oleh bakteri lain

(jawetz et al., 1995). Penyakit yang disebabkan oleh E. coli yaitu :


30

1. Infeksi saluran kemih

E. coli merupakan penyebab infeksi saluran kemih pada kira-kira 90 %

wanita muda. Gejala dan tanda-tandanya antara lain sering kencing, disuria,

hematuria, dan piuria. Nyeri pinggang berhubungan dengan infeksi saluran

kemih bagian atas.

2. Diare

E. coli yang menyebabkan diare banyak ditemukan di seluruh dunia. E. coli

diklasifikasikan oleh ciri khas sifat-sifat virulensinya, dan setiap kelompok

menimbulkan penyakit melalui mekanisme yang berbeda

3. Sepsis

Bila pertahanan inang normal tidak mencukupi, E. coli dapat memasuki aliran

darah dan menyebabkan sepsis

4. Meningitis

E. coli dan Streptokokus adalah penyebab utama meningitis pada bayi. E. coli

merupakan penyebab pada sekitar 40% kasus meningitis neonatal (Jawetz et

al., 1996).

4.1.2 Salmonella sp.

Hasil pemeriksaan pada makanan di beberapa terminal di DKI Jakarta

menujukan hasil bahwa makanan yang dijual setelah diperiksa secara

bakteriologis, 100% sampling negatif mengandung bakteri Salmonella sp.

Salmonella adalah bakteri yang termasuk mikroorganisme yang amat kecil dan

tidak terlihat mata. Selain itu bakteri ini tidak meninggalkan bau maupun rasa
31

apapun pada makanan. Salmonella bisa terdapat di udara, air, tanah, sisa kotoran

manusia maupun hewan atau makanan hewan.

0
0
0 0 Salmonella sp.
0
Terminal
Terminal Kp.
Pulogadung Terminal
Rambutan Terminal Tj.
Kalideres
Priok

Gambar 2. Diagram hasil pemeriksaan Salmonella sp. pada makanan

Sampel makanan yang masuk, di periksa di Labroratorium Biologi

BTKLPP Jakarta secara aseptis. Sampel makanan di blender terlebih dahulu untuk

menghomogenkan seluruh komponen makanan misalnya, dalam sayur di

homogenkan isi beserta kuahnya. Lalu, bahan maknan yang telah di blender,

dimasukan kedalam medium BPW. Buffered Peptone Water adalah media

mikrobiologi yang digunakan untuk media pre-enrichment untuk meningkatkan

nilai recovery dari salmonella yang injured pada sampel makanan untuk

dilanjutkan ke pengayaan selektif dan isolasi.

Sampel yang berasal dari medium BPW kemudian diinokulasi

menggunakan jarum ose dengan cara membuat goresan pada cawan petri yang

berisi media SSA. Selanjutnya media SSA di inkubasi kedalam inkubator pada

suhu 35ºC selama 48±2 jam. Setelah proses inkubasi, amati bentuk koloni yang

tumbuh. Koloni yang diduga Salmonella sp. pada media SSA memiliki ciri koloni

putih jernih.
32

Semua serotipe Salmonella yang diketahui di dunia ini bersifat patogen

maka adanya bakteri ini dalam makanan dianggap membahayakan kesehatan.

Oleh karena itu berbagai standar makanan siap santap mensyaratkan tidak ada

Salmonella dalam 25 gram sampel makanan. Makanan yang diambil dari sekitar

terminal di DKI Jakarta, semuanya memenuhi standard dan layak untuk

dikonsumsi.

Salmonella sp. merupakan penyebab infeksi utama pada manusia, bakteri

ini selalu masuk melalui jalan oral, biasanya dengan cara mengkontaminasi

makanan dan minuman. Diantara faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

ketahanan tubuh terhadap infeksi Salmonella sp adalah keasaman lambung, flora

normal dalam usus dan ketahanan usus lokal (Jawet’z, 2005).

4.1.3 Bacillus cereus

Hasil pemeriksaan pada makanan di beberapa terminal di DKI Jakarta

menujukan hasil bahwa makanan yang dijual setelah diperiksa secara

bakteriologis, 100% sampling negatif mengandung bakteri Bacillus cereus.

Makanan yang diambil dari sekitar terminal di DKI Jakarta, semuanya memenuhi

standard dan layak untuk dikonsumsi.

0.5
0
0 0
0 Bacillus cereus
0
Terminal
Terminal Kp.
Pulogadung Terminal
Rambutan Terminal Tj.
Kalideres
Priok

Gambar 3. Diagram hasil pemeriksaan Bacillus cereus pada makanan


33

Sampel makanan yang masuk, di periksa di Labroratorium Biologi

BTKLPP Jakarta secara aseptis. Sampel makanan di blender terlebih dahulu untuk

menghomogenkan seluruh komponen makanan misalnya, dalam sayur di

homogenkan isi beserta kuahnya. Lalu, bahan maknan yang telah di blender,

dimasukan kedalam medium BPW. Buffered Peptone Water adalah media

mikrobiologi yang digunakan untuk media pre-enrichment untuk meningkatkan

nilai recovery dari salmonella yang injured pada sampel makanan untuk

dilanjutkan ke pengayaan selektif dan isolasi.

Sampel yang berasal dari medium BPW kemudian diinokulasi

menggunakan jarum ose dengan cara membuat goresan pada cawan petri yang

berisi media PEMBA. Selanjutnya media PEMBA di inkubasi kedalam inkubator

pada suhu 35ºC selama 48±2 jam. Setelah proses inkubasi koloni yang diduga

Bacillus cereus pada media PEMBA memiliki ciri koloni yang berwarna merah

jambu dengan zona presipitasi disekelilingnya.

Bacillus cereus merupakan bakteri yang berbentuk batang, tergolong

bakteri Gram-positif, bersifat aerobik, dan dapat membentuk endospora.

Keracunan akan timbul jika seseorang menelan bakteri atau bentuk sporanya,

kemudian bakteri bereproduksi dan menghasilkan toksin di dalam usus, atau

seseorang mengkonsumsi pangan yang telah mengandung toksin tersebut.

Ada dua tipe toksin yang dihasilkan oleh Bacillus cereus, yaitu toksin yang

menyebabkan diare dan toksin yang menyebabkan muntah (emesis).

1. Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab

diare, maka gejala yang timbul berhubungan dengan saluran pencernaan


34

bagian bawah berupa mual, nyeri perut seperti kram, diare berair, yang terjadi

8-16 jam setelah mengkonsumsi pangan.

2. Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab

muntah, gejala yang timbul akan bersifat lebih parah dan akut serta

berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas, berupa mual dan

muntah yang dimulai 1-6 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar.

Bakteri penghasil toksin penyebab muntah bisa mencemari pangan

berbahan beras, kentang tumbuk, pangan yang mengandung pati, dan tunas

sayuran. Sedangkan bakteri penghasil toksin penyebab diare bisa mencemari

sayuran dan daging. Tindakan pengendalian khusus bagi rumah tangga atau

penjual makanan terkait bakteri ini adalah pengendalian suhu yang efektif untuk

mencegah pertunasan dan pertumbuhan spora. Bila tidak tersedia lemari

pendingin, disarankan untuk memasak pangan dalam jumlah yang sesuai untuk

segera dikonsumsi. Toksin yang berkaitan dengan sindrom muntah bersifat

resisten terhadap panas dan pemanasan berulang, proses penggorengan pangan

juga tidak akan menghancurkan toksin tersebut.

4.1.4 Staphylococcus aureus

Hasil pemeriksaan pada makanan di beberapa terminal di DKI Jakarta

menujukan hasil bahwa makanan yang dijual setelah diperiksa secara

bakteriologis, 100% sampling negatif mengandung bakteri Staphylococcus

aureus. Makanan yang diambil dari sekitar terminal di DKI Jakarta, semuanya

memenuhi standard dan layak untuk dikonsumsi.


35

0.5
0
0 0
0 0 Staphylococcus
aureus
Terminal
Terminal Kp.
Pulogadung Terminal
Rambutan Terminal Tj.
Kalideres
Priok

Gambar 4. Diagram hasil pemeriksaan Staphylococcus aureus pada makanan

Sampel makanan yang masuk, di periksa di Labroratorium Biologi

BTKLPP Jakarta secara aseptis. Sampel makanan di blender terlebih dahulu untuk

menghomogenkan seluruh komponen makanan misalnya, dalam sayur di

homogenkan isi beserta kuahnya. Lalu, bahan maknan yang telah di blender,

dimasukan kedalam medium BHI. BHI adalah media penyubur yang berguna

untuk pertumbuhan berbagai macam bakteri baik bentuk cair maupun agar. Bahan

utama terdiri dari beberapa jaringan hewan ditambah pepton, buffer posfat, dan

sedikit dekstrosa. Penambahan karbohidrat memungkinkan bakteri dapat

menggunakan langsung sebagai sumber energi.

Sampel makanan dalam media BHI diinokulasi ke dalam media media

BPA. Selanjutnya media BPA di inkubasi kedalam inkubator pada suhu 35ºC.

selama 24±2 jam. Setelah proses inkubasi koloni yang diduga Staphylococcus

aureus pada media BPA memiliki ciri-ciri koloni bundar, licin/halus, cembung,

diameter 2-3 mm, berwarna abu-abu hingga kehitaman, sekeliling tepi koloni

bening (terbentuk halo). Koloni-koloni mempunyai konsistensi berlemak dan

lengket bila diambil dengan jarum inokulasi.


36

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif berbentuk bulat

berdiameter 0,7-1,2 µm, tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak teratur

seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan tidak

bergerak (Gambar 2.1). Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37 ºC, tetapi

membentuk pigmen paling baik pada suhu kamar (20-25 ºC). Koloni pada

perbenihan padat berwarna abu-abu sampai kuning keemasan, berbentuk bundar,

halus, menonjol, dan berkilau. Lebih dari 90% isolat klinik menghasilkan S.

aureus yang mempunyai kapsul polisakarida atau selaput tipis yang berperan

dalam virulensi bakteri (Jawetz et al., 1995)

Keracunan makanan dapat disebabkan kontaminasi enterotoksin dari S.

aureus. Waktu onset dari gejala keracunan biasanya cepat dan akut, tergantung

pada daya tahan tubuh dan banyaknya toksin yang termakan. Jumlah toksin yang

dapat menyebabkan keracunan adalah 1,0 µg/gr makanan. Gejala keracunan

ditandai oleh rasa mual, muntah-muntah, dan diare yang hebat tanpa disertai

demam (Jawetz et al., 1995).

Sindroma syok toksik (SST) pada infeksi S. aureus timbul secara tiba-tiba

dengan gejala demam tinggi, muntah, diare, mialgia, ruam, dan hipotensi, dengan

gagal jantung dan ginjal pada kasus yang berat. SST sering terjadi dalam lima hari

permulaan haid pada wanita muda yang menggunakan tampon, atau pada

anakanak dan pria dengan luka yang terinfeksi stafilokokus. S. aureus dapat

diisolasi dari vagina, tampon, luka atau infeksi lokal lainnya, tetapi praktis tidak

ditemukan dalam aliran darah (Jawetz et al., 1995).


37

4.2 Pemeriksaan Minuman

4.2.1 Total Coliform

Hasil pemeriksaan coliform pada minuman di beberapa terminal di DKI

Jakarta menujukan hasil bahwa minuman yang dijual pada sekitar terminal yang

telah diperiksa secara bakteriologis, positif mengandung bakteri coliform.

Hasil Pemeriksaan Minuman (%)


75
100 80
80 60
75
60
40
20
0
Coliform
Terminal
Pulogadung Terminal Kp.
Terminal
Rambutan Terminal Tj.
Kalideres
Priok

Gambar 5. Diagram hasil pemeriksaan Coliform pada minuman

Sampel minuman masuk kedalam uji dugaan (presumptive test). Sampel

minuman dimasukan ke seri 5 tabung LTB Single strength dan double strength

dengan volume 10 ml pada LTB doble strength dan 1 ml dan 0,1 ml pada LTB

single strength. Selanjutnya tabung yang telah berisi sampel dan media di

inkubasi selama 48±2 jam pada suhu 35º C. Tabung yag positif mengandung

Coliform akan timbul gas yang terperangkap pada tabug durham. Hal ini

menandakan, bahwa terdapat bakteri coliform menfermentasikan laktosa pada

media

Tabung yang positif terdapat gas kemudian dilanjutkan dengan uji

penegasan (confirmation test). Dengan menggunakan ose, sampel ditanamkan

pada tabung yang dengan media BGLB sebanyak 1-2 ose. Tabung kemudian
38

diinkubasikan dengan suhu 35º C selama 48±2 jam. Tabung yang terdapat bakteri

coliform akan muncul gas yang akan terperangkap pada tabung durham.

Perhitungan Most Probable Number (MPN) dengan menelaah jumlah

tabung yang dinyatakan positif pada media BGLB pada masing-masing seri.

Jumlah sering tabung yang dinyatakan positif dirujuk pada tabel MPN air minum

5 seri dan dihitung dengan rumus berikut:

10
MPN dalam 100ml  Nilai MPN X
volume terbesar seri pengencera n

Batas kandungan coliform pada air minum adalah >1,1. Hasil pemeriksaan

bakteriologis, hanya 30% yang layak untuk dikonsumsi dari segi bakteri coliform.

Bakteri coliform merupakan bakteri yang paling banyak ditemukan dalam

makanan dan minuman. Hasil pemeriksaan disemua terminal yang dijadikan temat

sampling, minuman yang tidak layak konsumsi paling banyak berada pada

terminal kalideres dengan presentase sebanyak 80%, terminal Pulogadung dan

terminal Tj. Priok menduduki peringkat kedua yaitu sebanyak 75%, dan terakhir

terminal Kp. Rambutan yaitu 60%. Dpat dilihat, bahwa kelayakan minuman untuk

dikonsumsi masih kurang diperhatikan pada setiap pemilik warung. Peralatan

gelas dan wadah air minum lain merupakan salah satu penyebab kontaminasi

terbesar pada air minum.

Bakteri Coliform merupakan golongan bakteri intestinal, yaitu hidup

dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri ini sebagai indikator keberadaan

bakteri patogenik lain (Dwidjoseputro, 2005).

Bakteri coliform adalah bakteri berukuran 10 mikron dengan diameter 1

mikron berbentuk batang pendek, gram negatif yang dapat membentuk rantai,
39

bersifat aerobik atau falkulatif anaerobik, tidak membentuk spora dan mampu

memfermentasikan laktosa dan glukosa. terutama terdapat dalam air permukaan

dan air yang telah tercemar oleh kotoran manusia (Waluyo, 2005).

Terdapatnya bakteri coliform dalam air dapat menjadi indikasi

kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Berdasarkan asal dan

sifatnya, bakteri Coliform dibagi menjadi 2 golongan (Suklan, 2002) :

1. Berasal dari tinja manusia, contoh: E.coli

2. Bukan berasal dari tinja manusia tetapi biasa nya berasal dari hewan atau

tanaman, contoh : Aerobacter dan Klebsiella.

4.2.2 Ecsherchia coli

Hasil pemeriksaan Escherchia coli pada minuman di beberapa terminal di

DKI Jakarta menujukan hasil bahwa minuman yang dijual pada sekitar terminal

yang telah diperiksa secara bakteriologis, positif mengandung bakteri Esherchia

coli.

Hasil Pemeriksaan Minuman (%)


80 60
60
40 0 20
20 20
0 Escherchia coli
Terminal
Terminal Kp.
Pulogadung Terminal
Rambutan Terminal Tj.
Kalideres
Priok

Gambar 6. Diagram hasil pemeriksaan Escherchia coli pada minuman

Sampel minuman masuk kedalam uji dugaan (presumptive test). Sampel

minuman dimasukan ke seri 5 tabung LTB Single strength dan double strength
40

dengan volume 10 ml pada LTB doble strength dan 1 ml dan 0,1 ml pada LTB

single strength. Selanjutnya tabung yang telah berisi sampel dan media di

inkubasi selama 48±2 jam pada suhu 35º C. Tabung yag positif mengandung

Coliform akan timbul gas yang terperangkap pada tabug durham. Hal ini

menandakan, bahwa terdapat bakteri coliform menfermentasikan laktosa pada

media.

Tabung yang positif terdapat gas kemudian dilanjutkan dengan uji

penegasan (confirmation test). Dengan menggunakan ose, sampel ditanamkan

pada tabung yang dengan media TW (Tryptone Water) sebanyak 1-2 ose. Tabung

kemudian diinkubasikan dengan suhu 35º C selama 48±2 jam. Setelah di

inkubasi, masing-masing tabung yang berisi media TW dan sampel di teteskan

reagen Kovack’s. Bila terbentuk cincin warna ungu pada permukaan media,

berarti sampel positif mengandung Escherchia coli. Jumlah seri yabung yang

positif mengandung Echerchia coli.

Perhitungan Most Probable Number (MPN) dengan menelaah jumlah

tabung yang dinyatakan positif pada media pada masing-masing seri. Jumlah

sering tabung yang dinyatakan positif dirujuk pada tabel MPN minman 5 seri dan

dihitung dengan rumus berikut:

10
MPN dalam 100ml  Nilai MPN X
volume terbesar seri pengencera n

Batas kandungan Escherchia coli pada air minum adalah >1,1. Hasil

pemeriksaan bakteriologis yang didapatkan, 75% layak untuk dikonsumsi dari

segi pemeriksaan Escherchia coli. Bakteri Escherchia coli merupakan bakteri

yang paling banyak ditemukan dalam makanan dan minuman. Hasil pemeriksaan
41

disemua terminal yang dijadikan tempat sampling, minuman yang tidak layak

konsumsi paling banyak berada pada terminal kalideres dengan presentase

sebanyak 60%, terminal Kp. Rambutan dan terminal Tj. Priok menduduki

peringkat kedua yaitu sebanyak 20%, dan terakhir terminal Kp. Rambutan yaitu

0% atau tidak ada minuman yang tercemar Escherchia coli dari hasil sampling.

Dapat dilihat, bahwa kelayakan minuman untuk dikonsumsi masih kurang

diperhatikan pada setiap pemilik warung. Peralatan gelas dan wadah air minum

lain merupakan salah satu penyebab kontaminasi terbesar pada air minum.

Escherichia coli adalah bakteri yang bersifat anaerob fakultatif yang

banyak ditemukan dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Sifat E.coli

dapat menyebabkan infeksi primer pada usus, misalnya diare pada anak dan

musafir.

Dikenal 4 jenis E coli (brooks, dkk. 2005). Yaitu :

1. Entero Pathogenic Escherichia coli (EPEC), melekat pada mukosa usus kecil

dan dapat menimbulkan diare cair

2. Entero Toxigenic Escherichia coli (ETEC), Beberapa strain menghasilkan

eksotoksin yang labil terhadap panas dan menghasilkan enterotoksin yang

stabil terhadap panas. Penyebab penting diare pada bayi

3. Entero Invasive Escherchia coli (EIEC), Strain EIEC memfermentasi laktosa

lambat atau tidak memfermentasi laktosa dan tidak motil. Dapat

menimbulkan demam, perut kram, berak berlendir dan berdarah seperti

disentri
42

4. Escherichia coli Entero Haemoragik (EHEC), memproduksi verotoksin,

negatif pada MacConkey agar sorbital, dapat menimbulkan diare, sidroma

uremic hemolytic, anemia dan trombositopeni.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengujian bakeriologis sampel makanan dan minuman yang

telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kualitas makanan dan minuman yang

dijual oleh rumah makan sekitar terminal di DKI Jakarta pada saat arus mudik

2015 menurut pemeriksaan secara bakteriologis masih banyak yang belum

memenuhi syarat untuk dikonsumsi. Hal ini dapat dilihat bahwa banyak sekali

makanan dan minuman yang ternemar bakteri patogen.

5.2 Saran

Setelah melakukan pemeriksaan, saran yang dapat disampaikan penulis

adalah :

1. Ketika akan mengerjakan sampel yang diuji terlebih dahulu harus membaca

prosedur kerja yang telah ditetapkan.

2. Saat melakukan pengerjaan dan pembacaan sampel harus dilakukan secara

aseptis dan hati-hati agar tidak terkontaminasi serta tidak membahayakan diri

sendiri.

43
DAFTAR PUSTAKA

Adiono, Hari Purnomo. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta: UI-Press.

Azwar, A, 1996. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Penerbit Mutiara


Sumber Widya, Jakarta.

Brooks GF,Butel JS,Morse SA.Mikrobiologi kedokteran.Alih Bahasa. Mudihardi


E, Kuntaman,Wasito EB et al. Jakarta: Salemba Medika, 2005

Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-dasar mikrobiologi. Djambatan: Malang

Fardiaz. 1998. Panduan Pengolahan Pangan Yang Baik Bagi Industri Rumah
Tangga. Badan Pengawas Obat dan Makanan Deput Bidang Pengawas
Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Jakarta

Ganiswarna, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi IV, 271-288 dan 800-810,
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Irianto, K. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Bandung:
Yrama Widya

Jawetz, E. et al. (1995). Review of Medical Microbiology. Los Altos, California:


Lange Medical Publication.

Moertjipto, 1993, Makanan: Wujud, Variasi dan Fungsinya Serta Cara


Penyajiannya Pada Orang Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta:
Depdikbud

Pelczar, M.J. & E.C.S. Chan, 1986, Penterjemah , Ratna Siri Hadioetomo dkk.
Dasar-Dasar Mikrobiologi 1, Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Pohan,D, 2009. Pemeriksaan Escherichia coli Pada Usapan Peralatan Makan


Yang Digunakan Oleh Pedagang Makanan Di Pasar Petisah Medan.
Skripsi FKM USU,Medan.

Saparinto C dan Hidayati D. 2006. Bahan Tambahan Pangan. Kanisius:


Yogyakarta.

Slamet, J. S. 1994. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.

Suklan, 1989. Makanan Kesehatan dan Katering, Penerbit CV Miswar, Jakarta.

44
45

Waluyo, Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah


Malang Prees.

Winarti, S., 2006. Minuman Kesehatan. Trubus Agrisarana, Surabaya

Yuliarti, Nurheti., 2007. Awas Bahaya di Balik Lezatnya Makanan, Yogyakarta :


Penerbit Andi.