Anda di halaman 1dari 1

Pro

 Pakar Hukum dan HAM dari Universitas Padjajaran, Atip Latiful Hayat, berpendapat bahwa kewenangan pembubaran ormas oleh
pemerintah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi
Kemasyarakatan ( Perppu Ormas) merupakan bentuk pembatasan atas hak berkumpul dan berserikat.

Berdasarkan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), hak berkumpul dan berserikat bukan merupakan hak yang
absolut. Artinya, pemerintah berhak membatasi hak tersebut. Meski demikian, menurut Atip, pembatasan itu harus didasarkan untuk
melindungi keamanan nasional dan melalui proses pengadilan.

"Dengan demikian ahli berpendapat pembatasan terhadap kebebasan berkumpul dan berserikat pada pokokntya adalah sesuatu yang tidak
diperbolehkan, kecuali ada kepentingan yang substantif, sah, proporsional dan dibenarkan oleh hukum," ujar Atip, saat memberikan
keterangan ahli dari pihak pemohon pada sidang uji materi Perppu Ormas di Mahkamah Konstitusi, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2017).

"Agar pembatasan oleh pemerintah itu sah dan proporsional, maka Komisi HAM PBB menekankan agar dilakukan lewat mekanisme yang
transparan, detail, tertulis dan tetap lewat proses pengadilan," kata dia. Atip menjelaskan, Resolusi Komisi HAM PBB Nomor 21 Tahun 2013
menekankan bahwa seseorang tidak boleh dikriminalisasi karena melaksanakan kebebasan berserikat dan berkumpul. Seseorang juga tidak
boleh diancam karena menjalankan kebebasan tersebut. Namun, dalam Pasal 4 ICCPR, kebebasan untuk berserikat bukan merupakan hak
yang absolut. Artinya, hak itu tunduk pada sejumlah pembatasan. Meski demikian, Atip menegaskan, pembatasan yang diperkenankan
adalah pembatasan yang jelas, pasti, dan berdasarkan hukum. "Secara khusus pembatasan tidak boleh dilakukan atas alasan seseorang
tidak memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintah," kata Atip.

 Pro-kontra penerbitan Perppu, sejatinya terletak pada adanya kekhawatiran di masa depan. Pemerintah, dianggap amat potensial
menggunakan aturan itu untuk memukul jauh lawan-lawan politiknya.

kontra

"Berdasarkan Keputusan MK Nomor 139/PUU-Vll/2009, Presiden bisa mengeluarkan Perppu atas dasar kebutuhan mendesak untuk
menyelesaikan masalah hukum secara cepat berdasarkan Undang-Undang,"
Selama ini, lanjut dia, UU Ormas merumuskan ajaran yang bertentangan dengan Pancasila secara sempit. Sementara paham-paham
tersebut berkembang pesat.

Pemerintah menilai perppu ini dibuat semata untuk melindungi ideologi kebangsaan dan bukan untuk memberi batas kebebasan
berdemokrasi.