Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

GEOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI

SEISMIK

Disusun Oleh:
Tenny Ruth Simamora
21100115120029

LABORATORIUM SEDIMEN, GEOLOGI MINYAK


BUMI DAN GEOKIMIA
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
MEI 2018
A. LANGKAH-LANGKAH PENGERJAAN
1. Melakukan picking pada Horizon (Forrmasi) A, Horizon (Formasi) B dan
Horizon (Formasi ) C dengan menggunakan pensil warna dimana Horizon
A berwarna hijau, Horizon B berwarna merah dan Horizon C berwarna biru.
2. Jika tidak menemukan kemenerusan lapisan/horizon, dapat dibantu dengan
mengambil line yang tidak ditemukan kemenerusannya kemudian
lipat/tekuk line tersebut dan perhatikan arah kemenerusannya.
3. Jika semua line sudah dipicking, lakukan identifikasi struktur geologi pada
masing-masing horizon dengan memakai pensil warna hijau.
4. Lakukan pembacaan Two-Way Time (TWT) pada setiap line dan plotkan
pada basemap.
5. Pindahkan TWT yang sudah diplotkan pada basemap ke kalkir untuk dapat
melakukan pengerjaan selanjutnya.
6. Kemudian buatlah kontur dengan interval setiap 20 feet sehingga menjadi
peta Time Structure (lapisan A dan lapisan B)
7. Hitunglah velocity pada setiap sumur dengan rumus
𝑇𝑣𝑑𝑠𝑠 ∗ 2000
𝑇𝑊𝑇
kemudian buat kontur sehingga menjadi peta Velocity (lapisan A dan lapisan
B)
8. Hitunglah kedalaman pada setiap sumur dengan rumus
𝑇𝑊𝑇
Velocity *
2000
kemudian buatlah kontur sehingga menjadi peta Depth Structure (lapisan A
dan lapisan B)
B. PEMBAHASAN
Interpretasi seismik digunakan untuk memetakan stuktur bawah
permukaan yang dapat digunakan untuk nemukan lokasi yang prospek akan
hidrokarbon. Untuk itu diperlukan pembuatan peta depth structure yang
sebelumnya diperlukan pembuatan peta time structure dan peta velocity.
Sebelum pembuatan peta yang dilakukan adalah melakukan proses picking
horizon untuk mengetahui adanya batas atas maupun batas bawah suatu
perlapisan formasi. Proses picking ini dilakukan pada semua bagian top
formation.
Setelah dilakukkan picking horizon dan pengeplotan struktur dalam
peta basemap, peta time structure dan peta depth structure terlihat bahwa
terdapat struktur yang berkembang pada lapangan tersebut. Diketahui
terdapat sesar naik dan sesar turun yang membentuk horst dan graben

Gambar 1. Ilustrasi horse dan graben sesar


Berdasarkan arahnya ditemukan adanya 2 arah struktur yang berbeda,
yaitu arah timurlaut – baratdaya dan baratdaya- tenggara. Setelah
dilakukkan picking horizon dan pengeplotan stuktur dalam peta terlihat
bahwa terdapat struktur yang berkembang pada lapangan tersebut.
Diketahui terdapat sesar naik dan sesar turun yang membentuk horst dan
graben.
Berdasarkan tatanan tektonik yang bekerja pada cekungan ini dapat
ditentukan bahwa Cekungan Natuna Barat terbentuk akibat intra-
continental rift basin dalam Dataran Sunda (Sundaland). Cekungan
terbentuk pada kala Eosen-Oligosen pada fasa ekstensional, pada kala
Miosen- saat ini terjadi pembalikan fasa berupa inversi dan kontraksi.
Cekungan ini memiliki karakteristik berupa seri graben berarah Timur
laut yang terbentuk pada fasa ekstensi yang terletak sepanjang batas barat
dari punggungan metamorfik/plutonik Natuna. Fase kompresi terjadi pada
kala Miosen yang merubah graben terlipatkan menjadi antiklin.
Secara tektonik cekungan Natuna Barat dikelilingi oleh Khorat Swell
pada bagian utara, selatan dikelilingi oleh paparan Sunda dan bagian timur
adalah busur Natuna. Pada bagian barat laut dibatasi oleh Cekungan Malay
dan pada bagian barat daya dibatasi oleh Cekungan Penyu.
Orientasi struktur dominan pada cekungan Natuna Barat berarah SW-
NE dan NW-SE. pada arah NW-SE struktur dominan adalah sesar
mendatar. Terdapat antiklin pada cekungan ini terutama pada bagian atas
dari bentukan half graben. Kenampakan elemen struktur ini dibentuk
dari dua fasa tektonik berbeda. Fasa ekstensi terjadi pada kala Eosen
Akhir-Oligosen dan kemudian dilanjutkan dengan fasa kompresional yang
menghasilkan struktur inversi.
Cekungan Natuna Timur dibatasi oleh busur Natuna pada bagian barat
dan pada bagian timur dibatasi oleh cekungan Serawak. Bagian selatan
oleh paparan Sunda dan bagian utara dibatasi oleh Cekungan Vietnam.
Cekungan terbagi menjadi dua sub cekungan yaitu Sub Cekungan Sokang
dan Sub Cekungan Natuna Timur laut. Rekonstruksi pada zaman Kapur
Akhir hingga Eosen Awal (White dan Wing 1978) menghasilkan
kesimulan bahwa Cekungan Natuna Timur adalah bagian dari fore arc basin
yang besar yang memanjang melalui perairan Natuna hingga
serawak.Berbeda dengan Cekungan Natuna Barat, Cekungan Natuna
Timur memiliki arah struktur SW-NE yang didominasi oleh bentukan
sesar-sesar akibat ekstensional yang mirip dengan cekungan Natuna Barat,
namun pada cekungan ini tidak ditemukan sama sekali regime
kompresional. Menurut White dan Wings 1978, kecenderungan struktur
mengikuti tatanan dari basement yang terbentuk dari migrasi zona subduksi
kearah timur.
Jika dihubungan dengan geologi regional, lapangan ini berada pada
cekungan Natuna. Dimana Cekungan Natuna berdasarkan tatanan
stratigrafinya terdiri atas:
1. Basement
Basement Laut Natuna berkembang pada Zaman Eosen-Awal
Oligosen yang selama fase pergerakan. Pada waktu itu terbentuk
Cekungann Natuna Barat,Cekungan Natuna High, dan Cekungan Natuna
Timur. Basement terdiri dari batuan beku dan metamorfik atau endapan
continental non-marine.
2. Formasi Belut
Formasi ini mulai diendapkan pada Zaman Awal Oligosen dari
hasil pelapukan batuan granit basement. Hasil pelapukan ini
diendapakan pada palung dan lembah yang telah terbentuk.
3. Formasi Gabus
Pengendapan yang terjadi pada Awal Oligosen masih berlanjut
hingga Akhir Oligosen. Bagian bawah formasi terdiri dari endapan
alluvial dan delta, di atasnya diendapkan endapan delta transgresif.
Formasi ini terdiri dari batuan pasir pada sistem delta yang umumnya
berlempung dan susah diperkirakan persebarannya.
4. Formasi Udang
Formasi ini terbentuk pada akhir Oligosen sampai awal Miosen. Ciri
formasi adalah pengendapan bidang landai dengan energi lemah ke bagian
atas formasi. Ini menyebabkan terbentuknya endapan klastik halus pada
sistem meandering dan brackish lacustrine.
5. Formasi Barat
Pengendapan formasi ini berlangsung pada awal Miosen, dominan
batulempung disisipi batupasir. Pengaruh endapan marine ditemukan pada
bagian bawah formasi yang ditandai dengan serbuk tanaman air tawar.
6. Formasi Arang
Formasi Arang terbentuk pada Miosen Bawah sampai Akhir Miosen
Tengah, dominan batupasir kasar sampai batupasir halus, juga terdapat
batupasir glaukonitik, menandakan pengendapan batupasir terjadi di laut
dalam.

Gambar 2. Tatanan Stratigrafi Regional Cekungan Natuna


Kemudian, dari tatanan stratigrafi regionalnya maka dapat
ditentukan Petroleum System-nya, dimana minyak dan gas b u m i pada
Cekungan Natuna Barat ditemukan di Formasi Gabus, Udang, Upper
Arang dan Lower Arang. Dengan sumber organik adalah batubara yang
ada pada Formasi Lower Arang dan Gabus, serta shale lakustrin yang
terdapat pada Formasi Belut, Gabus, Barat, Lower Arang dan Upper
Arang (Pollock et al., 1984; Michael dan Adrian, 1996). Batuan
penudung (seal rocks) merupakan batulempung yang banyak dijumpai
pada Formasi Belut, Gabus, Barat, Lower dan Upper Arang.
Gambar 3. Tektonostratigrafi menunjukan 4 Megasikuen (Conocophillips, 2007)
A. Batuan Sumber (Source Rock)
Berdasarkan analisis pirolisis menunjukkan bahwa hidrokarbon
berada seribu feet dari formasi Barat. Serta menyatakan bahwa
Formasi Benua, Lama, Keras dan Barat memiliki potensial menjadi
batuan sumber. Minyak X terbentuk dari kerogen tipe 1 yang berasal
dari formasi Lama dan Keras. Titik akumulasi adalah pada kedalaman
9000 ft, pada 227o F. Batuan sumber pada Lower Gabus yang memiliki
nilai TOC rendah- sedang, dan terjadi didalam mudstone, thin
carboneceus sandstone, dan batubara.(Redjoso, Tutuka Riadji.2013)
B. Reservoar dan Seal
Batuan reservoar pada formasi Lama/Benua memliki porositas
berkisar antara 7% dengan permeabilitas 0,1-2,3 md. Formasi Lower
Gabus memiliki porositas rata-rata 22%, dan formasi Keras memiliki
porositas 16-23%. Formasi Barat dan Arang memiliki batuan shale,
sehingga efektif menjadi batuan seal/cap rock. Dorongan yang kuat
pada tahap inversi menjadikan formasi ini adalah formasi Fault Seal.
(Redjoso, Tutuka Riadji.2013)
C. Trap dan Migrasi
Karena depocenter pada cekungan Natuna Barat adalah lipatan tipe
Sunda, trap yang paling mudah terjadi adalah anticline. Lapisan
sandstone dari sedimen syn-rift dapat juga menjadi trap stratifraphic
dan kombinasi keduanya. Waktu hidrokarbon bermigrasi bertepatan
pada saat inversi awal, yaitu pada zaman Oligocene. Arah migrasi
terbagi menjadi dua kemungkinan. Pertama adalah migrasi dip/lateral,
yaitu dari source rock menuju reservoar rock, dan yang lainnya
adalah migrasi vertikal, yaitu migrasi dari source rock menuju
reservoar melalui jalur patahan secara vertikal. (Redjoso, Tutuka
Riadji.2013)
D. Akumulasi Hidrokarbon (Play)
Cekungan Natuna Barat terdiri dari tiga tipe akumulasi. Normal
Play fault N-S series berkembang sepanjang utara dan formasi selatan
Kakap. Beberapa hidrokarbon terperangkap dalam pay zone yang
terpisah dan independent Trap tergantung dari jenis fault, dengan top seal
diberikan oleh regionel shale unit dan shale intra formasi. Prospek
potensial cukup kecil untuk satuan akumulasi, akan tetapi reserve
komersial dapat mencapai 2 MMBBLS. Akumulasi ini cukup mature
pada saat ini. Akumulasi syn-rift telah teridentifikasi pada bagian barat
tengah dari Formasi Selatan Kakap. Hidrokarbon ditemui pada lapisan
sandstone fluvio-deltaic dari formasi Upper Lama. Akumulasi
Lipatan Sunda ditemukan pada Formasi North Kakap. Inversi struktural
pada daerah ini mengakibatkan uplift dan erosi pada sealing regional.
(Redjoso, Tutuka Riadji.2013)
Berdasarkan stuktur bawah permukaannya dapat diinterpretasikan
adanya suatu cebakan hidrokarbon pada lapangan tersebut. Dimana trap
(cebakan) pada lapangan ini adalah stuctural trap yaitu fault. Dalam
perangkap patahan, bidang patahan merupakan bagian dari struktur
cebakan minyak dan lebih lanjut, menghambat migrasi ke atas. Dimana
sesar naik dan sesar normal pada lapangan ini merupakan suatu jebakan
yang menghambat migrasi hidrokarbon keatas. Hal tersebut didukung
dengan adanya bukti line seismik.

Gambar 4. Ilustrasi structural trap: fault