Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Luas lantai digunakan untuk mengetahui luas lahan yang akan digunakan
dalam perencanaan tata letak fasilitas dan perusahaan yang akan didirikan.
Perhitungan luas lantai produksi dimulai dari luas kebutuhan lahan sampai
perkantoran dengan memperhatikan segala fasilitas pendukungnya.

Dalam melakukan suatu perencanaan tata letak fasilitas dan pemindahan


bahan, dibutuhkan beberapa kebutuhan luas lantai untuk kegiatan produksi pabrik
yang akan didirikan, serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. Dengan demikian
perlu dihitung berapa luas lantai yang disiapkan, terutama untuk kegiatan bagian
produksi. Perhitungan luas lantai ini didasarkan pada bahan baku yang akan
disiapkan. Berdasarkan hal tersebut maka akan didapat luas lantai receiving
(gudang bahan baku) model tumpukan dan rak. Tumpukan digunakan untuk
material yang rata-rata mempunyai dimensi yang besar sehingga tidak
memungkinkan untuk dimasukan kedalam suatu wadah atau tempat tertentu.
Sedangkan untuk material yang menggunakan model penyimpanan menggunakan
rak, digunakan untuk material yang berdimensi kecil (Hadiguna, 2008)..

Penerapan perhitungan luas lantai yaitu pada proses produksi produk jemuran.
Produksi produk jemuran dipilih karena pada saat ini permintaan pasar untuk
produk jemurann sangat tinggi terutama untuk kebutuhan rumah tangga.
Perhitungan luas lantai produksi produk jemuran berdasarkan operation process
chart (OPC), routing sheet, dan multi product process chart (MPPC) yang telah
dibuat sebelumnya. Inti permasalahan pada penerapan perhitungan luas lantai ini
yaitu berapa total luas lantai yang diperlukan untuk proses produksi produk
jemuran.

Perhitungan luas lantai pabrik diperlukan untuk mengetahui luas area yang di
sediakan perusahaan dalam pendirian pabrik beserta luas untuk setiap department,
luas lantai yang dihitung adalah receiving, gudang bahan baku utama, gudang
bahan baku pembantu, warehouse, shipping, maintenance, prlayanan produksi,
pelayanan pabrik, kantor dan pelayanan personil, dan department yang terdapat
dalam bagian produksi.

1.2 Permasalahan
Bagaimana peranan luas lantai pabrik dalam pembuatan produk jemuran?
Bagaimana perancangan struktur organisasi dalam kebutuhan luas lantai
pabrik dalam pembuatan produk jemuran?

1.3 Batasan dan Asumsi


Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan asumsi dari masalah yang ada
adalah dapat menentukan kebutuhan luas lantai pabrik serta unsur perancangan
luas lantai pabrik dalam pembuatan produk jemuran, agar produk yang dirancang
dapat sesuai dengan yang diinginkan dan dapat menghemat tempat kerja.

1.4 Tujuan
Adapun tujuan dari laporan ini adalah sebaagai berikut :
Membuat perhitungan luas lantai pabrik
Membuat perancangan struktur organisasi pabrik

1.5 Manfaat
Adapun manfaat dari laporan ini adalah sebagai berikut :
Dapat membuat perhitungan luas lantai pabrik
Dapat membuat perancangan struktur organiasi pabrik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Luas Lantai Pabrik
Luas lantai produksi digunakan untuk mengetahui luas lahan yang akan
digunakan dalam perencanaan tata letak fasilitas dalam perusahaan yang akan
didirikan. Luas lantai dibutuhkan untuk mesin atau peralatan yang dapat
ditentukan setelah mengetahui berapa banyak jumlah mesin yang perlu diawasi
oleh seorang operator (Harahap, 2006). Perhitungan luas lantai produksi dimulai
dari luas kebutuhan lahan sampai perkantoran dengan memperhatikan segala
fasilitas pendukungnya. Perhitungan luas lantai produksi digunakan untuk
mengetahui luas area yang dibutuhkan untuk produksi yang menyangkut area
penempatan kelompok mesin produksi (Binus, 2004).
Penentuan ruangan yang dibutuhkan untuk kegiatan pengiriman berkaitan erat
dengan kegiatan penerimaan, karena kebutuhan ruangan dapat ditentukan dengan
mengacu pada informasi terdahulu pada penerimaan dengan menyesuaikannya
sesuai dengan kebutuhan untuk mengatasi perbedaan antar keduanya, sejauh
prosedur penentuan berkaitan (Apple, 1990). Tujuan menghitung luas lantai
adalah untuk memperkirakan kebutuhan luas lantai bagian produksi (Binus, 2007).
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan dalam menentukan luas lantai,
yang pertama adalah metode produksi pusat, dimana pusat produksi terdiri dari
satu mesin ditambah dengan seluruh peralatan yang diperlukan dan area untuk
operator. Tempat kerja (depan, belakang, kiri, kanan) ditambah ruang
maintenance dan ruang storage akan didapat luas lantai untuk mesin. Pada
prinsipnya semua peralatan dan lokasi storage disusun pada pusat produksi
(Hadiguna, 2008).
Metode yang kedua adalah Roughed – Out Layout Method, dimana model
ditempatkan pada tata letak yang diperoleh dari estimasi konfigurasi umum dan
luas lantai yang dibutuhkan. Metode yang ketiga adalah metode jarak standar,
dimana untuk industri-industri yang standar, luas lantai ditentukan berdasarkan
standar yang telah ditetapkan sebelumnya (Harahap, 2006).

Waktu rasio dan metode proyek merupakan metode luas lantai berikutnya
yaitu dengan menetapkan perbandingan dari meter kuadrat suatu faktor yang bisa
mengukur atu memprediksi tata letak yang diusulkan. Sebagai contoh adalah
meter kuadrat per jam buruh langsung, meter kuadrat per unit produksi dan meter
kuadrat per kepala bagian. Metode yang terakhir adalah mengkonversikan dimana
kebutuhan area yang sekarang dikonversikan untuk kebutuhan tata letak yang
direncanakan. Perlu diingat bahwa kebutuhan area bukan merupakan fungsi linier
dari jumlah produksi. Metode ini dapat digunakan untuk departemen pendukung
dan gudang bahan baku (Harahap, 2006).
Dalam melakukan perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan
dibutuhkan beberapa kebutuhan lahan atau luas lantai untuk kegiatan produksi
pabrik yang akan didirikan, serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya. Dengan
demikian perlu dihitung berapa luas lahan yang disiapkan , terutama untuk
kegiatan bagian produksi. Perhitungan luas lantai ini didasarkan pada bahan baku
yang akan disiapkan, mesin atau peralatan yang digunakan, dan barang jadi yang
dihasilkan. Berdasarkan hal tersebut, maka akan didapat luas lantai receiving
model tumpukan dan rak, luas lantai fabrikasi dan assembling, serta luas lantai
shipping.
Di dalam menghitung kebutuhan luas lantai ini, dilibatkan pula masalah
masalah yang berkaitan dengan kegiatan lainnya yang akan mempengaruhi
terhadap lahan atau luas lantai tersebut, yaitu:
Alat angkut
Cara pengangkutan
Cara penyimpanan bahan baku (ditumpuk/dirak)
Aliran bahan

Yang kesemuanya harus diperhitungkan dalam penentuan luas lantai dengan


menambah allowance.

Tujuan menghitung luas lantai adalah untuk memperkirakan kebutuhan luas


lantai bagian produksi yang meliputi:

1. Receiving (gudang bahan baku model tumpukan dan rak)

Luas lantai gudang bahan baku ini terdiri dari model tumpukan dan rak.
Untuk memberi gambaran dari cara penyimpanan bahan baku di gudang,
maka perlu digambarkan bagaimana cara penyimpanan material tersebut
(baik model tumpukan maupun model rak), sehingga luas lantai yang dipakai
sesuai dengan hasil perhitungan. Gambaran yang dibuat harus memberi
penjelasan mengenai:
Tinggi memuat berapa tumpuk
Lebar memuat berapa tumpuk
Panjang memuat berapa tumpuk

Sehingga jika dijumlahkan, material yang tergambar sesuai dengan


material per satu periode yang akan disimpan. Demikian juga untuk model
rak, luas lantai yang dibutuhkan adalah lahan yang diperlukan berdasarkan
kebutuhan hasil perhitungan setelah disimpan dalam rak sesuai dengan tinggi
dan lebar maksimum dari rak serta cara penyimpanan di dalam rak.

2. Fabrikasi dan Assembling (mesin dan peralatan)


Luas lantai mesin (fabrikasi dan assembling) juga perlu diperhitungkan
dalam perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan. Data yang
diperlukan dalam perhitungan luas lantai ini antara lain adalah: nama mesin,
jumlah mesin, dan ukuran mesin. Data ini dapat diperoleh dari MPPC.
Shipping (gudang barang jadi)
Data yang diperlukan dalam perhitungan luas lantai gudang barang jadi
antara lain adalah: nomor komponen, nama komponen, dan tipe barang jadi.

Kegunaan luas lantai adalah: digunakan dalam perhitungan ongkos material


handling (OMH) antar departemen, sesuai dengan luas lantai hasil perhitungan.

2.2 Perhitungan Luas Lantai


Perhitungan luas lantai produksi digunakan untuk mengetahui luas area yang
dibutuhkan untuk produksi yang menyangkut area penempatan kelompok mesin.
Terdapat dua istilah yang digunakan yaitu kelonggaran yang merupakan ruangan
keleluasaan dari mesin dan kelonggaran gang yang merupakan besarnya gang
yang diperlukan agar lalu lintas material maupun pekerja dapat berjalan lancar.
Adapun langkah-langkah perhitungan luas lantai adalah pertama mendefinisikan
jumlah dan ukuran peralatan yang dibutuhkan pada setiap sub kelompok mesin,
seperti jumlah mesin, operator dan lain-lain. Selanjutnya menentukan panjang dan
lebar kelompok mesin, sisi panjang diperoleh dari sisi terpanjang sub kelompok
mesin ditambah tempet input dan output. Sedangkan sisi lebar diperoleh dari sisi
terlebar sub kelompok mesin ditambah kursi operator, kelonggaran operator
dengan mesin dan kelonggaran antar mesin (Binus, 2004).
Langkah selanjutnya adalah menghitung luas kelompok mesin dengan gang,
diperoleh dari hasil perkalian panjang dan lebar sub kelompok mesin yang
dikalikan dengan jumlah sub kelompok mesin. Kemudian langkah berikutnya
menghitungan luas kelonggaran gang, diperoleh dari hasil perhitungan dan
pengukuran luas kelonggaran gang sebenarnya pada gambar. Terakhir adalah
menghitung luas kelompok mesin dengan gang, diperoleh dari penjumlahan antara
luas kelompok mesin tanpa gang dengan luas kelonggaran gang (Binus, 2004).
1. Luas Lantai Bahan Baku
Luas lantai bahan baku merupakan luas lantai yang dibutuhkan untuk
menyimpan bahan baku untuk pembuatan produk. Luas lantai bahan baku
memiliki dua model, yaitu luas lantai gudang bahan baku model
tumpukkan dan luas lantai gudang bahan baku model rak (Binus, 2007).
Luas Lantai Gudang Bahan Baku Model Tumpukkan
Perhitungan luas lantai bahan baku model tumpukkan
menggunakan data komponen utama, hal ini dikarenakan komponen-
komponen utama memiliki ukuran yang besar sehingga tidak
memungkinkan untuk menggunakan model rak. Luas lantai bahan
baku model tumpukkan menggunakan data dari routing sheet, selain
itu juga membutuhkan nomor komponen, nama komponen, tipe
material, ukuran terima material, volume material, produksi/hari,
tinggi tumpukkan dan kelonggaran. Langkah-langkah perhitungan
luas lantai bahan baku model tumpukkan adalah yang pertama
menentukan potongan per-material (berapa banyak material diterima
atau dibeli dapat dipotong-potong sesuai dengan ukuran bahan baku
yang dibuat) (Binus, 2007).
Langkah yang kedua menentukan material per jam, yaitu material
yang harus disediakan dalam satu jam produksi. Langkah yang ketiga
menentukan material per satu periode, yaitu menentukan material
dalam satu periode. penentuan periode didasarkan pada periode
penerimaan material, kapasitas maksimum dari lahan dan karakteristik
material. Sedangkan langkah yang keempat adalah menentukan
material per unit, yaitu material yang akan diterima untuk disimpan di
gudang (Binus, 2007).
Langkah selanjutnya adalah menentukan volume kebutuhan, yaitu
volume keseluruhan dari material yang akan disimpan di gudang
untuk satu periode. Menentukan luas lantai merupakan langkah yang
ke enam, yaitu lahan yang akan diperlukan berdasarkan volume hasil
perhitungan, setelah ditumpuk sesuai tinggi maksimum tumpukkan
yang diijinkan dan cara penumpukkan yang dilakukan. hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menentukan tinggi tumupukkan adalah
karakteristik material, alat angkut atau cara pengangkutan dan
keamanan. Langkah ketujuh adalah menentukan kelonggaran, yaitu
kelonggaran yang diberikan untuk penanganan bahan. Penentuan
besarnya kelonggaran didasarkan pada alat angkut, cara
pengangkutan, cara penumpukkan dan ukuran material. Langkah yang
terakhir adalah menentukan total luas lantai, yaitu kebutuhan gudang
bahan baku model tumpukkan setelah ditambah dengan kelonggaran
(Binus, 2007).
b) Luas Lantai Gudang Bahan Baku Model Rak
Perhitungan luas lantai bahan baku model rak menggunakan data
komponen tambahan, hal ini dikarenakan komponen-komponen
tersebut memiliki dimensi atau ukuran yang lebih kecil. Jika
penempatan menggunakan model rak, maka dapat memudahkan
pekerja atau operator pada saat mengambil bahan baku tersebut dan
kemungkinan besar bahan baku tersebut tidak bercampur dengan
komponen-komponen tambahan lainnya. Luas lantai bahan baku
model rak juga menggunakan data dati routing sheet. Langkah-
langkah perhitungan luas lantai model rak ini adalah menentukan unit
per jam, yaitu kebutuhan kemasan, menetukan volume per material,
kebutuhan serta luas lantai. Langkah selanjutnya adalah menentukan
kelonggaran, yaitu kelonggaran yang diberikan untuk penanganan
bahan serta menentukan total luas lantai yaitu kebutuhan gudang
bahan baku model rak setelah ditambah kelonggaran (Binus, 2007).
2. Luas Lantai Mesin dan Luas Lantai Gudang Barang Jadi
Perhitungan luas lantai mesin berguna dalam menghitung mesin yang
diperlukan untuk mengetahui luas lantai yang dibutuhkan setiap mesin
pada masing-masing departemen yang ada didalam pabrik. Perhitungan
yang cermat untuk lokasi dan lebar gang yang merupakan salah satu faktor
penting dalam alokasi ruang. Manfaat gang antara lain adalah sebagai
tempat perpindahan bahan baku dan barang jadi, perjalanan pekerja, jalan
masuk pemadam kebakaran, peletakan ulang dan pergantian peralatan
serta sebagai tempat pembuangan scrap (Apple, 1990).
Luas lantai gudang barang jadi harus diperhitungkan untuk dijadikan
tempat penyimpanan produk yang sudah jadi. Pada gudang barang jadi
terdapat komponen yaitu, meja belajar yang sudah menggunakan kemasan
dan lantai untuk kemasan sendiri (Binus, 2007).
Luas Lantai Departemen Pabrikasi dan Assembling Departemen pabrikasi
merupakan bagian dari perusahaan manufaktur yang terdiri dari kegiatan
produksi. Dalam melakukan perhitungan luas lantai departemen pabrikasi
ini maka diperlukan data mentah berupa luas masing-masing jenis mesin
dan jumlah mesin yang dipergunakan. Untuk mesin yang dipergunakan
dalam proses pabrikasi haruslah dikelompokkan kedalam departemen
pabrikasi dan juga dikelompokkan mesin-mesin yang sejenis, karena tipe
tata letak yang digunakan adalah tata letak sesuai peroses (Unikom,
2011).

Departemen assembling pada pembuatan produk berisikan semua


mesin yang digunakan dalam kegiatan perakitan. Begitu pula pada
departemen ini, semua jenis mesin dikelompokkan kedalam suatu area
tertentu (Unikom, 2011)
2.3 Struktur Organisasi
Organisasi merupakan sekumpulan orang yang membentuk sebuah sistem
terpadu mengenai bagaimana orang-orang dalam organisasi mencapai tujuan yang
sama. Tujuan tersebut sering dituangkan dalam sebuah wadah yakni Visi. Orang-
orang dalam organisasi, seberapa besarpun organisasi itu, pasti memiliki
tujuanbersama yang ingin dicapai. Tujuan yang dicapai tidak bisa dilakukan
sendiri-sendiri, secara individual. Sehingga membentukalah organisasi. Berasal
dari kata dasar organ. Arti harfiahnya dalam istilah biologi kurang lebih berarti
sekumpulan jaringan yang membentuk satu kesatuan dimana dapat melakukan
fungsi tertentu secara independen. Kata organ mendapat imbuhan ’isasi’.
Sehingga bisa diartikan sebagai proses dan sekumpulan aktivitas.
Sementara kata Struktur dalam organisasi dapat didefinisikan sebagai
mekanisme formal di mana organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukan
kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan–hubungan diantara
fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi maupun orang-orang yang
menunjukan kedudukan tugas dan wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-
beda dalam suatu organisasi. Struktur ini mengandung unsur-unsur spesialisasi
kerja, stndarisasi, koordinasi, sentralisasi atau disentralisasi dalam pembuatan
keputusan dan besaran (ukuran) satuan kerja.
Sedangkan unsur-unsur struktur organisasi terdiri dari:
Spesialisasi kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas individual dan
kelompok kerja dalam organisasi (pembagian kerja) dan penyatuan tugas-
tugas tersebut menjadi satuan-satuan kerja.
Standarisasai kegiatan, merupakan prosedur-prosedur yang digunakan
organisasi untuk menjamin terlaksananya kegiatan seperti yang
direncanakan.

3. Koordinasi kegiatan menunjukkan prosedur-prosedur yang


mengintegrasikan fungsi-fungsi satuan-satian kerja dalam organisasi.
Sentralisasi dan desentralisasi pembuatan keputusan yang menunjukkan lokasi
(letak) kekuasaan pembuatan keputusan.
Ukuran satuan kerja menunjukkan jumlah karyawan dalam suatu kelompok
kerja.

Struktur organisasi dibuat agar tanggung jawab, wewenang, peran dan fungsi
masing-masing organisasi jelas sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan
teratur lancar dan sesuai keinginan perusahaan.

Perancangan struktur organisasi di gunakan untuk mempertemukan bentuk


organisasi yang sedekat mungkin dengan tujuan yang ingin diraih oleh organisasi
dengan menunjukan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan–
hubungan diantara fungsi-fungsi, bagian-bagian atau posisi-posisi maupun orang-
orang yang menunjukan kedudukan tugas dan wewenang dan tanggung jawab
yang berbeda-beda dalam suatu organisasi dimana dalam melaksanaksan
perancangan struktur organisasi dilakukan bersama-sama untuk mencapai tujuan
organisasi yang sama .

2.4 Apakah
2.5