Anda di halaman 1dari 24

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA II

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2017/2018

MODUL : Pengadukan dan Pencampuran


PEMBIMBING : Rispiandi, ST., MT.

Tanggal Praktikum : 3 Mei 2018


Tanggal Laporan : 7 Mei 2018

Oleh :
Kelompok 4
Dewi Anggraeni (161411007)
Hibah Baskoro Rahman (161411012)
Muhammad Fikri Haikal (161411019)
Ririn Fitiana (161411025)

Kelas 2A D3 Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
I. Tujuan
1. Memahami dan mengevaluasi kinerja peralatan pengadukan dan pencampuran.
2. Memahami kondisi operasi yang mempengaruhi operasi pengadukan dan
pencampuran.
3. Membuat grafik bilangan Reynolds terhadap waktu yang diperlukan dalam
operasi pengadukan dan pencampuran sampai homogen.
4. Menentukan waktu pencampuran dalam operasi pengadukan dan
pencampuran.

III. DATA PENGAMATAN


RUN RPM Tampak Atas Tampak Samping Keterangan

1 64,3 Pada tampak atas, partikel


padat masih menyatu di
sekitar poros.

Pada tampak samping,


partikel padat berputar
mengikuti arus air yang
terbentuk di dalam tangki
dan masih ada partikel yang
mengendap di dasar.

2 118,1 Pada tampak atas, partikel


padat berputar sedikit
menjauhi poros namun masih
terlihat menyatu atau tidak
menyebar dan vortex mulai
terbentuk.

Pada tampak samping,


partikel padat mulai berputar
cepat dengan penyebaran
mulai ke atas tangki.
3 169 Pada tampak atas, vortex
semakin besar sehingga
partikel padat mulai
menyebar mendekat ke
dinding tangki.

Pada tampak samping,


partikel padat berputar
menyebar dari bagian bawah
ke bagian atas, namun belum
semua merata dibagian atas.

4 217,9 Pada tampak atas, vortex


semakin besar sehingga
partikel padat berputar
menyebar menjauh dari
pusat poros air hingga
menyentuh dinding tangki.

Pada tampak samping,


partikel padat menyebar dari
bagian bawah hingga hampir
bagian atas tangki.

5 263,1 Pada tampak atas, partikel


padat menyebar hingga
mayoritas mendekati dinding
tangki dan hanya sedikit yang
berada dekat poros karena
vortex sangat besar.

Pada tampak samping,


hampir seluruh partikel padat
menyebar keseluruh bagian
tangki dari bawah hingga atas
Variasi Fluida Skala Kecepatan t1 ditambah t2 t rata-rata
(rpm) NaOH ditambah (detik)
(detik) H2SO4 (detik)

Fluida Encer (Air) 1 64,3 24 14,6 19,3


T = 27,5°C
2 118,1 18,5 11 14,8
3
ρ = 1000 kg/m
3 169 5 12 8,5
-3
μ = 2.5×10 kg/ms
4 217,9 3 9 6

5 263,1 2 7,3 4,7

Fluida Pekat (Tepung 1 64,3 25 19 22


Kanji)
2 118,1 13,3 18,6 16
T = 27,5°C
3 169 10 15 12,5
ρ = 1,7720 gr/mL
4 217,9 11 9 10
3
= 1772,0 kg/m
5 263,1 8,6 8,3 8,4
μ = 8.4×10-3 kg/ms

IV. PENGOLAHAN DATA


5.1 Pada Fluida Encer

 Menghitung Bilangan Reynold (Reynold Number)


𝟐
𝑫 𝑵𝝆
𝑵𝒓𝒆 =
𝝁
a. Kecepatan 64,2 rpm
64,2 kg
(0,2 𝑚)2 ( 𝑟𝑝𝑠) (1000 3 )
60 m
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3 𝑚𝑠

= 17120

b. Kecepatan 118,1 rpm


118,1 kg
(0,2 𝑚)2 ( 𝑟𝑝𝑠) (1000 3 )
60 m
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3 𝑚𝑠

= 31493,3
c. Kecepatan 169 rpm
169 kg
(0,2 𝑚)2 ( 𝑟𝑝𝑠) (1000 3 )
60 m
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3 𝑚𝑠

= 45093,3
d. Kecepatan 217,9 rpm
217,9 kg
(0,2 𝑚)2 ( 𝑟𝑝𝑠) (1000 3 )
60 m
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3 𝑚𝑠

= 58106
e. Kecepatan 263,1 rpm
263,1 kg
(0,2 𝑚)2 (
60 𝑟𝑝𝑠) (1000 m3 )
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3
𝑚𝑠
= 70160
 Menghitung mixing time factor dengan menggunakan grafik

a. Kecepatan 43,2 rpm

a. Kecepatan 43,2 rpm

Nre = 17120
10x = 17120
x
log10 = log 11520
x = 4,23
10x =
104,23  diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,5
= 3,16 x 102
b. Kecepatan 118,1 rpm
Nre = 31493,3
10x = 31493,3
x
log10 = log 31493,3
x = 4,5
10x =
104,5 diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,2 = 1,58 x 102
c. Kecepatan 169 rpm
Nre = 45093,3
10x = 45093,3
x
log10 = log 45093,3
x = 4,65
10x =
104,65  diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,2 = 1,58 x 102

d. Kecepatan 217,9 rpm


Nre = 58106
10x = 58106
x
log10 = log 58106
x = 4, 76
10x =
104,83 diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,2 = 1,58 x 102

e. Kecepatan 263,1 rpm


Nre = 70160
10x = 70160
x
log10 = log 70160
x = 4,85
10x =
104,85  diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,2 = 1,58 x 102
 Menghitung Blending Time Factor
3/ 2 1/ 6
 Da   g 
1/ 2
 Dt 
f t  ntT    H   2 
 Dt   n Da 
a. Kecepatan 64,2 rpm
3 1 1
0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 3,16 x 102 [ ] [ ] [ ] = 19,7 menit
0,3 0,9 64,22 𝑥0,2

b. Kecepatan 118,1 rpm


3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,58 x 10 [ ] [ ] [ ] = 19,36 menit
0,3 0,9 118,12 𝑥0,2

c. Kecepatan 169 rpm


3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,58 x 10 [ ] [ ] [ ] = 17,18 menit
0,3 0,9 1692 𝑥0,2

d. Kecepatan 217,9 rpm


3 1 1
0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,58 x 10 [ ] [ ] [
2
] = 15,78 menit
0,3 0,9 21𝟕,𝟗,2 𝑥0,2

e. Kecepatan 263,1 rpm


3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,58 x 10 [ ] [ ] [ ] = 14,8 menit
0,3 0,9 263,12 𝑥0,2

5.2 Pada Fluida Pekat


 Menghitung Bilangan Reynold (Reynold Number)
𝟐
𝑫 𝑵𝝆
𝑵𝒓𝒆 =
𝝁
f. Kecepatan 64,2 rpm
64,2 kg
(0,2 𝑚)2 (
60 𝑟𝑝𝑠) (1000 m3 )
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
8,4 × 10−3
𝑚𝑠
= 5095,2

g. Kecepatan 118,1 rpm


118,1 kg
(0,2 𝑚)2 (
60 𝑟𝑝𝑠) (1000 m3 )
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
8,4 × 10−3 𝑚𝑠

= 9373
h. Kecepatan 169 rpm
169 kg
(0,2 𝑚)2 (
60 𝑟𝑝𝑠) (1000 m3 )
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
8,4 × 10−3 𝑚𝑠

= 13412, 7
i. Kecepatan 217,9 rpm
217,9 kg
(0,2 𝑚)2 (
60 𝑟𝑝𝑠) (1000 m3 )
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3 𝑚𝑠

= 17293, 7
j. Kecepatan 263,1 rpm
263,1 kg
(0,2 𝑚)2 (
60 𝑟𝑝𝑠) (1000 m3 )
𝑁𝑟𝑒 =
𝑘𝑔
2,5 × 10−3 𝑚𝑠

= 20881
 Menghitung mixing time factor dengan menggunakan grafik

f. Kecepatan 43,2 rpm

a. Kecepatan 43,2 rpm

Nre = 5095,2
10x = 5095,2
x
log10 = log 5095,2
x = 3, 71
10x =
104,23  diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,32
= 2,09 x 102
g. Kecepatan 118,1 rpm
Nre = 9373
10x = 9373
x
log10 = log 9373
x = 3,97
10x =
103,97 diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,19 = 1,55 x 102
h. Kecepatan 169 rpm
Nre = 13412, 7
10x = 13412, 7
x
log10 = log 13412, 7
x = 4,12
10x =
104,12  diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,17 = 1,47 x 102

i. Kecepatan 217,9 rpm


Nre = 17293,7
10x = 17293,7
x
log10 = log 17293,7
x = 4,24
10x =
104,24 diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,2 = 1,58 x 102

j. Kecepatan 263,1 rpm


Nre = 20881
10x = 20881
x
log10 = log 20881
x = 4,3
10x =
104,3  diplotkan pada grafik ntT vs Nre
Maka didapatkan ntT = 102,2 = 1,58 x 102
 Menghitung Blending Time Factor
3/ 2 1/ 6
 Da   g 
1/ 2
 Dt 
f t  ntT    H   2 
 Dt   n Da 
a. Kecepatan 64,2 rpm
3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 2,09 x 10 [ ] [ ] [ ] = 18,4 menit
0,3 0,9 64,22 𝑥0,2

b. Kecepatan 118,1 rpm


3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,55 x 10 [ ] [ ] [ ] = 17,0 menit
0,3 0,9 118,12 𝑥0,2

c. Kecepatan 169 rpm


3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 2,17 x 10 [ ] [ ] [ ] = 14, 3 menit
0,3 0,9 1692 𝑥0,2

d. Kecepatan 217,9 rpm


3 1 1
0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,58 x 10 [ ] [ ] [
2
] = 14,2 menit
0,3 0,9 21𝟕,𝟗,2 𝑥0,2

e. Kecepatan 263,1 rpm


3 1 1
2 0,2 2 0,3 2 9,8 6
f t = 1,58 x 10 [ ] [ ] [ ] = 13,3 menit
0,3 0,9 263,12 𝑥0,2

5.3 Penyajian Hasil Percobaan

Variasi Fluida Skala Kecepatan t rata-rata Bilangan Mixing Blending Time


(rpm) Reynold Time Factor (menit)
(detik)
Factor

Fluida Encer (Air) 1 64,2 19,3 17120 316 19,7


T = 27,5°C
2 118,1 14,8 31493,3 158 19,4
ρ = 1,7720 gr/mL
3 169 8,5 45093,3 158 17,2
= 1772,0 kg/m3
4 217,9 6 58106 158 15,8
μ = 8.4×10-3 kg/ms
5 263,1 4,7 70180 158 14,8

Fluida Pekat 1 64,2 22 5095,2 209 18,4


(Tepung Kanji)
2 118,1 16 9373 155 17
T = 28,4°C
3 169 12,5 13412,7 147 14,3
ρ = 1,7725 gr/mL 4 217,9 10 17293.7 158 14,2

= 1772,5 kg/m3 5 263,1 8,4 20881 158 13,3

μ = 8.4×10-3 kg/ms

a. Gambar pola aliran dari berbagai variasi kecepatan putar pengaduk


Kecepatan
No. Tampak Atas Tampak Samping
(rpm)

1. 64,2

2. 118,1

3. 169
4. 217,9

5. 263,1

b. Grafik Kecepatan Putar Pengadukan terhadap Waktu Pengadukan


 Fluida Encer

Kecepatan Putar vs Waktu Pengadukan


Larutan Encer
25
Waktu Pengadukan (s)

20

15
y = -0.0768x + 23.452
R² = 0.9525
10

0
0 50 100 150 200 250 300
Kecepatan Putar (rpm)

 Fluida Pekat
Kecepatan Putar vs Waktu Pengadukan
Larutan Pekat
25

Waktu Pengadukan (s)


20

15

10
y = -0.0672x + 24.965
R² = 0.9535
5

0
0 50 100 150 200 250 300
Kecepatan Putar (rpm)

c. Grafik Kecepatan Putar Pengadukan terhadap Mixing Time Factor


 Fluida Encer

Kecepatan Putar vs Mixing Time Factor Larutan


Encer
350

300
Mixing Time Factor

250

200

150

100 y = -0.6518x + 298.1


R² = 0.5273
50

0
0 50 100 150 200 250 300
Kecepatan Putar (rpm)

 Fluida Pekat
Kecepatan Putar vs Mixing Time Factor Larutan Pekat
250

Mixing Time Factor 200

150
y = -0.2057x + 199.64
R² = 0.4267
100

50

0
0 50 100 150 200 250 300
Kecepatan Putar (rpm)

d. Grafik waktu pengadukan terhadap reynold number


 Fluida Cair

Waktu Pengadukan vs Bilangan Reynold


Larutan Encer
80000
70000
60000
Bilangan Reynold

50000
40000
30000
20000
y = -3306.3x + 79643
10000 R² = 0.9526
0
0 5 10 15 20 25
Waktu Pengadukan (s)

 Fluida Pekat
Waktu Pengadukan vs Bilangan Reynold
Larutan Pekat
25000

20000
Bilangan Reynold

15000

10000

5000 y = -1126.3x + 28731


R² = 0.9535

0
0 5 10 15 20 25
Waktu Pengadukan (s)

e. Grafik Blending Time Factor terhadap Reynold Number


 Fluida Cair

Blending Time Factor vs Bilangan Reynold


Larutan Encer
80000

70000

60000
Bilangan Reynold

50000

40000

30000
y = -9526.7x + 209972
20000 R² = 0.9596
10000

0
0 5 10 15 20 25
Blending Time Factor (menit)

 Fluida Pekat
Blending Time Factor vs Bilangan Reynold
Larutan Pekat
25000

20000
Bilangan Reynold

15000

10000

y = -2778.7x + 56114
5000
R² = 0.9204

0
0 Blending
5 Time Factor (menit)
10 15 20

f. Grafik Blending Time Factor Terhadap Kecepatan Putar Pengaduk


 Fluida Cair

Blending Time Factor vs Kecepatan Putar


Larutan Encer
300

250
Kecepatan Putar (rpm)

200

150
y = -35.714x + 787.17
R² = 0.9596
100

50

0
0 5 10 15 20 25
Blending Time Factor (menit)

 Fluida Pekat
Blending Time Factor vs Kecepatan Putar
Larutan Pekat
300

250
Kecepatan Putar (rpm)

200

150

100
y = -35.011x + 707.03
50 R² = 0.9204

0
0 5 10 15 20
Blending Time Factor (menit)
PEMBAHASAN

Pembahasan oleh Dewi Anggraeni (161411007)

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pengadukan dan pencampuran (mixing),
pada variasi larutan dan variasi kecepatan putaran pengadukan. Pengaduk yang dipakai berupa
tipe Merrine Propeller, dengan variasi kecepatan putaran pada skala 1-5 yang telah dikalibrasi
dengan nilai kecepatan putarnya sebesar 64,3 rpm ; 118,1 rpm; 169 rpm; 217,9 rpm; dan 263,1
rpm. Percobaan dilakukan 3 kali, yang pertama penentuan pola aliran dan yang kedua ketiga
dilakukan proses mixing dengan variasi larutan encer dan larutan pekat.

Percobaan pertama dilakukan penentuan pola aliran dengan menambahkan bijih selasih
pada air 15 liter, sehingga pola aliran akan terlihat pada setiap kecepatan putaran pengadukan.
Dari hasil yang didapat, diketahui bahwa semakin tinggi kecepatan yang digunakan, maka
vortex yang dihasilkan akan semakin besar. Dari vortex tersebut, mengakibatkan permukaan
air meninggi pada daerah dinding tangki, Hal tersebut sesuai dengan teori, dimana vortex akan
mengakibatkan padatan pada fluida terlempar kearah luar akibat adanya gaya sentrifugal.

Percobaan kedua dilakukan proses mixing pada larutan encer (air 15L) yang telah
ditambahkan indikator pp sebanyak 15 mL dan dihitung waktu untuk tercapai homogenitasnya,
dengan melihat perubahan warna yang terjadi pada larutan saat ditambahkan larutan NaOH 2M
dan larutan H2SO4 2M dengan perbandingan 1:2. Perubahan warna ini terjadi karena adanya
indikator phenolptalein pada larutan dimana akan berwarna pink saat kondisi basa ( adanya
OH-) dan bening saat kondisi asam. Dari hasil yang didapat, diketahui bahwa semakin besar
kecepatan yang digunakan, maka semakin cepat homogenitas fluida yang terjadi, hal ini
dikarenakan semakin cepat perputaran pengaduk akan semakin cepat pula arus yang
ditimbulkan sehingga tumbukan antar partikel yang terjadi pun semakin cepat dan menjadikan
larutan lebih cepat homogen. Homogenitas fluida sendiri dicirikan dengan meratanya warna
pink atau warna bening yang nampak.

Pecobaan ketiga dilakukan proses mixing pada larutan pekat dengan menambahkan
tepung kanji sebanyak 500 gram dalam 15L air dan dilakukan perhitungan waktu untuk
mencapai homogenitasnya dengan dilakukan proses yang sama seperti pada percobaan kedua.
Dari data yang didapat, diketahui bahwa semakin besar kecepatan putaran pengaduknya maka
semakin cepat tercapai homogenitasnya, namun apabia dibandingkan dengan percobaan dua
(larutan encer), waktu untuk mencapai homogenitasnya lebih lama hal ini disebabkan karena
adanya perbedaan viskositas larutan yang digunakan. Pada larutan pekat (larutan kanji) nilai
viskositasnya lebih besar dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tercapai
homogenitasnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar viskositas fluida, maka
semakin lama waktu untuk tercapainya homogenitas dari larutan tersebut.

Dari data yang didapat dilakukan perhitungan untuk mendapatkan bilangan Reynold.
Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa rejim aliran yang terbentuk adalah
turbulen, yaitu nilai Nre diatas 4000. Semakin tingginya kecepatan putaran pengaduk, maka
semakin turbulen aliran yang terbentuk sehingga menyebabkan terbentuknya vorteks di tengah
tangki sekitar pengaduk.

Selain itu, dicari pula nilai mixing time factor dan nilai blending time. disimpulkan
bahwa semakin besar nilai Nre, semakin kecil nilai blending time factor yang didapat. Namun,
pada percobaan larutan pekat didapatkan nilai blending time factor yang lebih besar daripada
nilai blneding time factor dari percobaan larutan encer. Hal tersebut dipengaruhi oleh nilai
viskositas yang berbeda, dimana pada larutan pekat memiliki nilai viskositas yang lebih besar.

Berdasarkan percobaan didapat semakin besar nilai NRe maka semakin kecil Blending
Time Factornya. Sedangkan hubungan antara waktu tercapainya homogenitas larutan, mixing
time factor dan Blending Time Factor berbanding lurus, dimana ketika waktu tercapai
homogenitas larutan kecil maka mixing time factor dan Blending Time Factor pun memiliki
nilai yang kecil pula.

Kesimpulan

1. Variabel yang berpengaruh pada proses Mixing antara lain kecepatan pengadukan,
densitas larutan, dan viskositas larutan. Dimana semakin cepat pengadukan, semakin
cepat tercapai homogenitas, dan semakin kecil nilai densitas dan viskositas larutan
maka semakin cepat tercapai homogenitas
2. Semakin besar nilai kecepatan pengadukan, semakin besar nilai Bilangan Reynold dan
semakin kecil waktu tercapai homogenitas.
3. Nilai viskositas suatu larutan berbanding terbalik dengan nilai Bilangan Reynold dan
nilai waktu pengadukan.
4. Semakin besar nilai kecepatan pengadukan maka semakin kecil waktu
pencampurannya.
Pembahasan Oleh Hibah Baskoro Rahman (161411012)

Percobaan Mixing dilakukan untuk memahami dan mengevaluasi kinerja alat pengaduk
dan pencampur (mixing), memahami kondisi operasi yang mempengaruhi proses mixing, dan
menentukan waktu pencampuran. Proses pengadukannya dilakukan dengan lima variasi
kecepatan yaitu sekala 1-5 (100-500) yang setelah dikalibrasi diperoleh 64,3 rpm ; 118,1 rpm;
169 rpm; 217,9 rpm; dan 263,1 rpm. Selain itu, fluida yang dipakai juga dibedakan menjadi

dua yaitu fluida encer (air keran), dan fluida kental (air+tepung kanji).

Selain kalibrasi, diawal praktikum dilihat dan ditentukan pola aliran untuk setiap
putaran menggunakan air yang ditambahkan biji selasih. Dari hasil pengamatan menunjukkan
bahwa semakin besar kecepatan pengadukan menghasilkan pusaran (vortex) yang semakin
besar. Akibatnya biji selasih semakin banyak yang berada pada dinding dibandingkan dengan

yang kecepatan putarannya rendah.

Pada percobaan menggunakan fluida encer, ditentukan waktu perubahan warna dari
pink (basa) ke bening (asam atau netral) dan sebaliknya dari bening ke pink . Hasil percobaan
menunjukkan bahwa semakin besar kecepatan putaran mengakibatkan semakin cepat
perubahan warna terjadi. Hal ini terjadi karena semakin cepat putaran maka turbulensi yang
terjadi juga semakin besar dan akibatnya pencampuran (blending time) berlangsung lebih
cepat.

Pada percobaan menggunakan fluida kental juga ditentukan waktu perubahan warna
dari pink ke bening dan sebaliknya. Hasilnya juga menunjukkan hal yang sama yaitu semakin

besar kecepatan putaran makan semakin cepat perubahan warna terjadi. Namun, meskipun
demikian waktu yang dibutuhkan masih lebih lambat dibandingkan dengan menggunakan
fluida encer. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan viskositas dan densitas fluida pada fluida
kental dan cair yang akan berakibat pada turbulensi yang terjadi yang mana diketahui bahwa
semakin besar turbulensi makan percampuran berlangsung lebih cepat.
Kesimpulan

1. Pengadukan dan pencampuran berfungsi lebih baik (lebih cepat) pada fluida yang
encer.
2. Semakin besar kecepatan putaran maka semakin besar pula turbulensinya.
3. Hal yang mempengaruhi operasi pengadukan dan pencampuran yaitu kecepatan
putaran, kekentalan fluida, dan densitas fluida.

Pembahasan oleh Muhammad Fikri Haikal (161411019)

Pada praktikum kali ini dilakukan proses pengadukan (mixing) dengan menggunakan
bahan asam sulfat, NaOH, dan juga tepung kanji. Praktikum kali ini dilakukan untuk
mengetahui perbedaan kecepatan pengadukan pada proses mixing. Pertama – tama dilakukan
kalibrasi kecepatan pengadukan menggunakan alat tachometer. Skala pengadukan pada
praktikum kali ini yaitu 100, 200, 300, 400, dan 500. Lalu didapatkan laju laju kecepatan
pengadukan berturut turut sebesar 64,2; 118,1; 169; 217,9 dan 263,1 (dalam satuan rpm).

Setelah dilakukan proses kalibrasi, dimasukan biji selasih pada alat mixing yang
bertujuan mengetahui arah putaran pengadukan. Dari situ dapat dilihat bahwa semakin besar
kecepatan, semakin besar pula rejim alirannya.

Praktikum kali ini dilakukan 2 run yaitu campuran asam – basa dengan air keran (encer)
dan campuran asam – basa dengan larutan kanji (pekat). Sebelum memulai proses mixing,
dimasukkan terlebih dahulu indicator pp sebagai indicator bahwa larutan tersebut bersifat basa
dengan berubah warnanya menjadi pink. Lalu dimasukkan NaOH sebanyak 20 mL dan larutan
berubah menjadi warna pink, setelah itu dimasukkan larutan asam sulfat 10 mL dan berubah
menjadi warna bening. Pada saat proses berubahnya warna larutan, dicatat waktunya hingga
larutan menjadi homogen. Percobaan ini dilakukan dengan 5 variasi kecepatan pengadukan.

Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa semakin cepat kecepatan pengadukan
semakin cepat larutan menjadi homogen sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menjadi
homogen menjadi lebih cepat. Pada larutan encer, waktu yang dibutuhkan untuk menjadi
homogen lebih cepat dibandingkan pada larutan pekat. Hal ini terjadi karena larutan pekat
memiliki viskositas yang lebih besar dibandingkan larutan encer. Begitu pula dengan bilangan
Reynolds, run 1 lebih besar dibandingkan run kedua pada tiap variasi kecepatan karena
viskositas fluida mempengaruhi nilai bilangan Reynolds.
Kecepatan pengadukan juga mempengaruhi nilai bilangan Reynold. Semakin besar
kecepatan pengadukan maka bilangan Reynold juga semakin besar dan turbulensi yang
dihasilkan semakin besar. Sedangkan hubungan antara kecepatan pengadukan dengan blending
time factor dan mixing time factor berbanding terbalik, semakin besar kecepatan pengadukan
maka blending time factor dan mixing time factor semakin kecil.

Kesimpulan

1. Semakin cepat kecepatan pengadukan, semakin cepat larutan menjadi homogen dan
bilangan Reynolds semakin besar.
2. Semakin besar viskositas larutan, semakin kecil bilangan Reynold dan semakin besar
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai larutan yang homogen.
3. Semakin besar kecepatan pengadukan maka blending time factor dan mixing time
factor semakin kecil

Pembahasan oleh Ririn Fitiana (161411025)

Pada praktikum mixing atau pencampuran ini, dilakukan pencampuran pada tangki
berpengaduk. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui factor apa saja yang dapat
mempengaruhi proses mixing. Hal pertama yang dilakukan adalah kalibrasi kecepatan putar
pengaduk yang berjenis propeller. Kecepatan putar diatur oleh skala yang ada pada rangkaian
alat mixing. Skala yang digunakan pada praktikum ini yaitu pada angka 100, 200, 300, 400 dan
500. Untuk mengetahui nilai kecepatan putar pada skala yang digunakan, maka dilakukan
kalibrasi dengan cara mengukur kecepatan putar pengaduk menggunakan alat tachometer.
Kecepatan putar pengaduk yang terukur berturut-turut (dalam satuan rpm) adalah 64,2; 118,1;
169; 217,9 dan 263,1.

Setelah kalibrasi kecepatan putar, kemudian dilakukan proses mixing dengan


memasukkan biji selasih. Tujuannya agar dapat diketahui pola pengadukan atau pola aliran
pada saat proses pengadukan. Dari pola aliran, maka dapat ditentukan rejim aliran pada
campuran yang sedang di-mixing. Karena bentuk pengaduk adalah propeller, maka saat
pengadukan, putaran dari propeller ini menyebabkan adanya vortex. Semakin tinggi kecepatan
putar pengaduk maka semakin besar ukuran vortex yang terbentuk. Vortex ini menyebabkan
proses pencampuran kurang maksimal karena partikel-partikel yang dicampur akan cenderung
berkumpul pada titik tertentu seperti pada poros vortex sehingga berisiko terjadinya pemisahan
partikel (seperti pada sentrifugasi).
Percobaan dilakukan sebanyak dua run, run 1 yaitu proses pencampuran asam dan basa
pada air keran (encer) dan run 2 proses pencampuran ditambahkan larutan tepung kanji yang
dilarutkan dalam air panas (kental/pekat). Pertama-tama air/campuran ditambahkan indicator
penolftalein agar dapat terjadi perubahan warna saat adanya perubahan pH campuran dari asam
ke basa atau sebaliknya. Sehingga dapat diketahui berapa lama waktu yang diperlukan
campuran hingga homogen.

Campuran ditambahkan oleh larutan basa (NaOH 2 M) sebanyak 20 mL, campuran


akan berubah warna menjadi merah muda yang menandakan suasana campuran menjadi basa.
Kemudian dimasukkan larutan asam sulfat dengan konsentrasi 2 M sebanyak 10 mL, campuran
akan berubah warna menjadi bening (suasana campuran berubah menjadi asam). Perbandingan
volume asam dan basa adalah 1 : 2.

Percobaan dilakukan pada 5 variasi kecepatan putar. Data yang diambil adalah waktu
yang diperlukan untuk campuran berubah warna dari merah muda menjadi bening dan dari
bening menjadi merah muda lagi. Waktu tersebut kemudian dirata-ratakan dan dianggap
sebagai waktu pencampuran. Pada saat perubahan warna terjadi secara merata di seluruh bagian
campuran, maka pada saat itu campuran telah homogen. Dari data hasil pengamatan dapat
dilihat bahwa semakin besar kecepatan putar pengaduk, maka semakin cepat pula campuran
mencapai homogen sehingga waktu pencampuran semakin cepat pula.

Apabila dibandingkan antara run 1 (larutan encer) dan run 2 (larutan pekat), pada run 2
waktu pencampuran lebih lama daripada run 1 pada setiap variasi kecepatan putar pengaduk
yang sama. Dan pada run 2 bilangan Reynold lebih kecil dari run 1, hal tersebut menunjukkan
bahwa run 1 lebih turbulen dari run 2 yang disebabkan oleh adanya tepung kanji yang kental
sehingga viskositas campuran pada run 2 lebih besar. Semakin besar viskositas campuran,
maka semakin kecil nilai bilangan Reynold dan juga semakin lama waktu yang diperlukan
campuran untuk mencapai homogen (teraduk sempurna).

Selain itu, semakin besar kecepatan putar pengaduk maka semakin banyak dan semakin
cepat tumbukan yang terjadi antar setiap partikel maka semakin cepat homogen. Namun
apabila dibandingkan berdasarkan skala putaran, semakin besar kecepatan putar pengaduk
maka bilangan Reynold juga semakin besar atau turbulensi yang dihasilkan semakin besar.
Sedangkan hubugan antara kecepatan putar dengan mixing time factor dan blending time factor
ini berbanding terbalik, semakin besat kecepatan pengadukan maka blending time factor dan
mixing time factor semakin kecil.
Kesimpulan

1. Selain lamanya waktu pengadukan, factor-faktor lain yang mempengaruhi dalam proses
pengadukan dan pencampuran adalah kecepatan putar pengaduk dan
kekentalan/viskositas campuran.
2. Viskositas campuran berpengaruh terhadap rejim aliran campuran sehingga
berpengaruh terhadap turbulensi dan pola yang terjadi pada saat pengadukan sehingga
akan berpengaruh terhadap lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
homogenitas campuran.
3. Kecepatan putar pengaduk berbanding lurus dengan Bilangan Reynold berbanding
terbalik dengan waktu pencampuran.
4. Bilangan Reynold berbanding terbalik dengan nilai mixing time factor dan blending
time factor.

DAFTAR PUSTAKA