Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH KOMPRES PANAS TERHADAP NYERI KARENA

PEMBENGKAKAN PAYUDARA PADA IBU NIFAS


DI PUSKESMAS

ABSTRAK

Pembengkakan (engorgement) payudara terjadi karena ASI tidak


dihisap oleh bayi secara adekuat, sehingga sisa ASI terkumpul pada sistem
duktus yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan dan bendungan ASI.
Kompres panas juga akan menghasilkan efek fisiologis untuk tubuh
yaitu efek vasodilatasi, peningkatan metabolisme sel dan merelaksasikan otot,
sehingga nyeri yang dirasa berkurang. Kompres panas dengan suhu 40,5˚C - 43˚C
merupakan salah satu pilihan tindakan yang digunakan untuk mengurangi dan
bahkan mengatasi rasa nyeri.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompres panas ke
intensitas nyeri dari pembengkakan payudara pada ibu nifas.
PENDAHULUAN

Masa nifas disebut juga masa pasca salin adalah masa atau waktu sejak
bayi dilahirkan dan plasenta keluar dari rahim sampai enam minggu berikutnya,
serta pulihnya kembali organ-organ kandungan (Sulistyowati, 2009). Salah satu
diantara macam infeksi pada ibu nifas adalah infeksi payudara. Dengan jumlah
angka kejadian sekitar 30 - 40%. Infeksi ini terjadi akibat kurang perawatan
sewaktu hamil dan kurangnya perhatian tenaga medis tentang perawatan payudara
yang dapat berakibat mastitis. Mastitis adalah infeksi dan peradangan pada
mammae terutama pada primipara yang infeksi terjadi melalui luka pada putting
susu. Biasanya muncul gejala pada ibu demam, payudara bengkak, kemerahan dan
terasa nyeri (Prawirohardjo, 2010).
Dewasa ini, menyusui bayi merupakan program pemerintah yang wajib
dilakukan oleh ibu nifas karena banyak manfaat dari proses menyusui, baik bagi
ibu nifas maupun bagi bayinya. Namun tidak dipungkiri bahwa banyak fakta di
masyarakat yang menunjukkan bahwa dalam melakukan proses menyusui
sebenarnya tidak mudah, bahkan bayak ibu yang gagal dalam menyusui. Penyulit
tersebut antara lain terjadinya putting susu lecet dan payudara bengkak yang
menyebabkan ibu tidak bisa maksimal dalam menyusui bayinya dan bayipun tidak
bisa menyusu secara optimal sehingga produksi ASI (Air Susu Ibu) tidak lancar
dan bayi tidak mendapat ASI yang berlimpah.
Pembengkakan (engorgement) payudara terjadi karena ASI tidak
dihisap oleh bayi secara adekuat, sehingga sisa ASI terkumpul pada sistem
duktus yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan dan bendungan ASI
(Bahiyatun, 2009). Bendungan ASI: payudara yang terbendung membesar,
membengkak dan sangat nyeri. Payudara terlihat mengkilap dan puting susu
teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit
menghisap ASI sampai bengkak berkurang. Statis pada pembuluh darah dan limfe
akan mengakibatkan meningkatnya tekanan intraduktal yang mempengaruhi
berbagai segmen pada payudara, sehingga tekanan seluruh payudara meningkat.
Hal tersebut juga bisa terjadi dikarenakan adanya sumbatan pada saluran susu
(Bahiyatun, 2009).
Nyeri payudara pada post partum dapat diatasi dengan melakukan
kompres panas untuk mengurangi rasa sakit (Ambarwati dan Wulandari,
2010). Kompres panas juga akan menghasilkan efek fisiologis untuk tubuh
yaitu efek vasodilatasi, peningkatan metabolisme sel dan merelaksasikan otot,
sehingga nyeri yang dirasa berkurang. Kompres panas dengan suhu 40,50C - 43 0C
merupakan salah satu pilihan tindakan yang digunakan untuk mengurangi dan
bahkan mengatasi rasa nyeri (Potter dan Perry, 2006).
Sesuai penelitian Nengah (2012) bahwa ada pengaruh yang signifikan dari
pemberian kompres panas terhadap penurunan intensitas nyeri pembengkakan
payudara, serta penulis menyarankan menggunakan kompres panas sebagai terapi
alternatif dalam nyeri non farmakologi manajemen pada ibu post partum yang
sedang mengalami payudara pembengkakan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompres panas ke
intensitas nyeri dari pembengkakan payudara pada ibu nifas.

METODE
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dengan Studi Leteratur pada jurnal dan
buku yang berhubungan dengan topik.
B. Waktu Penelitian
Waktu penelitian untuk Studi Leteratur ini dimulai pada bulan Maret 2018.
C. Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder
yaitu data yang diperoleh dari jurnal yang berhubungan dengan topik dan buku
dokumentasi.
D. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik pengolahan data yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini
adalah dengan mencari persamaan dan perbedaan pada beberapa jurnal.
PEMBAHASAN
A. Teknik Menyusui
Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada
bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia,
1994).
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan.
Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta
berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan
sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan
persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar,
puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola
mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan :
1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang
lepas tidak menumpuk.
2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk
memudahkan isapan bayi.
3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan
jalan operasi.
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami
berbagai masalah, hanya karena tidak rnengetahui cara-cara yang sebenarnya
sangat sederhana, seperti misalnya Cara menaruh bayi pada payudara ketika
menyusui, isapan bayi yang mengakibatkan puting terasa nyeri, dan masih
banyak lagi masalah yang lain. Terlebih pada minggu pertama setelah
persalinan seorang ibu lebih peka dalam emosi. Untuk itu seorang ibu butuh
seseorang yang dapat mernbimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam
menyusui. Orang yang dapat rnembantunya terutarna adalah orang yang
berpengaruh besar dalam kehidupannya atau yang disegani, seperti suami,
keluargai/kerabat terdekat, atau kelompok ibu-ibu pendukung ASI dan
dokter/tenaga kesehatan.
Seorang dokter atau tenaga kesehatan yang berkecimpung dalam
bidang laktasi, seharusnya mengetahui bahwa walaupun menyusui itu
merupakan suatu proses alamiah, namun untuk mencapai keberhasilan
menyusui dipertukan pengetahuan mengenai teknik-teknik menyusui yang
benar. Sehingga pada suatu saat nanti clapat disampaikan pada ibu yang
membutuhkan bimbingan laktasi.

Posisi Menyusui
Ada berbagai macam posisi menyusui, yang biasa dilakukan adalah
dengan duduk, berdiri atau berbaring. Ada posisi khusus yang berkaitan
dengan situasi tertentu seperti rnenyusui bayi kembar dilakukan dengan cara
seperti memegang bola (football position), di mana kedua bayi disusui
bersamaan kini dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi
ditengkurapkan di atas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi,
dengan posisi in maka bayi tidak akan tersedak.

Langkah-Langkah Menyusui Yang Benar


1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada
puting dan di sekitar kalang payudara. Cara ini mempunyai manfaat
sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.
2. Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara.
- ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik
menggunakan kursi yang rendah (agar kaki ibu tidak menggantung)
dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
- Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala bayi
terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh menengadah, dan
bokong bayi ditahan dengan telapak tangan),
- Satu tangan bayi diletakkan di belakang badan ibu, dan yang satu di
depan.
- Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya membetokkan kepala bayi).
- Telinga dan lengan bayi terietak pada satu garis lurus.
- Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
3. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di
bawah, jangan menekan puting susu atau kalang payudaranya saja.
4. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflex) dengan cara:
- Menyentuh pipi dengan puting susu atau,
- Menyentuh sisi mulut bayi.
5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke
payudara ibu dan puting serta kalang payudara dirnasukkan ke mulut bayi:
- Usahakan sebagian besar kalang payudara dapat masuk ke mulut bayi,
sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan
menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di
bawah kalang payudara. Posisi yang salah, yaitu apabila bayi hanya
mengisap pada puting susu saja, akan mengakibatkan masukan ASI
yang tidak adekuat dan puting susu lecet.
- Setelah bayi mulai menghisap payudara tak perlu dipegang atau
disangga lagi.
Cara Pengamatan Teknik Menyusui Yang Benar
Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu
menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi
ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusui. Untuk mengetahui bayi telah
menyusu dengan teknik yang benar, dapat dilihat:
a. bayi tampak tenang,
b. badan bayi menempel pada perut ibu,
c. mulut bayi terbuka lebar,
d. dagu menempel pada payudara ibu,
e. sebagian besar kalang payudara masuk ke dalam mulut bayi,
f. bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan,
g. puting susu ibu tidak terasa nyeri,
h. telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus, kepala tidak
menengadah.
6. Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada saat payudara sampai terasa kosong, sebaiknya
diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas isapan bayi:
- jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut
atau, dagu bayi ditekan ke bawah.
7. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan
pada puting, susu dan di sekitar kalang payudara; biarkan kering dengan
sendirinya.
8. Menyendawakan bayi.
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung
supaya bayi tidak muntah (gumoh Jawa) setelah menyusui.
Cara menyendawakan bayi adalah:
- Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian
panggungnya ditepuk perlahan-lahan,
- Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk
periahan-lahan.

B. Puting lecet
Berdasarkan Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Coca et al
(2008) didapatkan masalah yang paling sering dialami oleh ibu menyusui
adalah puting susu lecet. Sekitar 57,4% ibu yang menyusui mengalami puting
susu lecet/nyeri dan paling banyak dialami oleh ibu primipara sebanyak
54,9%. Masalah puting susu lecet ini 95% terjadi pada wanita yang menyusui
bayinya dengan posisi menyusui yang tidak sampai areola dan hanya
menyusui pada puting susu saja. Kesalahan lain dapat disebabkan pada saat
ibu menghentikan proses menyusui kurang hati-hati (Maryunani, 2009).
Selain karena posisi menyusui yang kurang tepat. Puting susu lecet
dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti oral trush (Candidadates) atau
Dermatitis, dermatitis adalah kondisi kulit yang mengalami peradangan,
peradangan dapat dilihat dengan adanya ruam, kulit merah, yang dapat
menimbulkan rasa gatal. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat
menyusui, dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah pada puting,
retakan puting susu dapat sembuh dalam waktu 48 jam,teknik menyusui yang
tidak benar, Puting susu ibu yang terpapar oleh sabun, krim, alkohol, ataupun
zat iritan lain saat ibu membersihkan puting susu, moniliasis (infeksi jamur)
pada mulut bayi yang menular pada puting susu ibu, Bayi dengan tali lidah
pendek (Frenulun lingue) Cara menghentikan proses menyusui yang kurang
tepat (Dewi, 2011).
Kebanyakan puting lecet disebabkan oleh kesalahan dalam teknik
menyusui, yaitu bayi tidak bisa mengisap puting sampai aerora payudara.
Puting lecet dapat juga disebabkan oleh moniliasis pada mulut bayi yang
menular pada puting susu ibu; pemakaian sabun, alkohol, krim, atau zat iritan
lainnya untuk mencuci puting susu. (Bahiyatun, 2009, hal 35)
Puting lecet adalah masalah menyusui di mana puting mengalami
cedera karena lecet, kadang kulitnya sampai terkelupas atau luka berdarah
(sehingga ASI menjadi berwarna pink).
Penyebabnya biasanya adalah karena hisapan bayi tidak benar
sehingga mencederai puting. Biasanya karena bayi sudah kenal puting botol
sebelum mengenal puting ibunya, sehingga bayi tidak menghisap puting
ibunya dengan benar. Oleh karena itu jika bermaksud untuk menyusui,
hindarkan bayi diberi susu botol sebelum ASI.
Penanganan terbaik untuk puting lecet adalah pencegahan. Pencegahan
terbaik adalah dengan memastikan pelekatan bayi ke payudara dengan benar
sejak hari pertama. Kontak kulit antara ibu dan bayi sesegera mungkin setelah
kelahiran bayi, setidaknya dalam satu atau dua jam pertama, akan
memudahkan bayi untuk melekat sendiri dengan baik.
Terjadinya puting lecet di awal menyusui pada umumnya disebabkan
oleh salah satu atau kedua hal berikut: posisi dan pelekatan bayi yang tidak
tepat saat menyusu, atau bayi tidak mengisap dengan baik. Meskipun
demikian, bayi dapat belajar untuk mengisap payudara dengan baik ketika ia
melekat dengan tepat saat menyusu (mereka akan belajar dengan sendirinya).
Jadi, proses mengisap yang bermasalah seringkali disebabkan oleh pelekatan
yang kurang baik. Infeksi jamur yang terjadi di puting (disebabkan oleh
Candida Albicans) dapat pula menyebabkan puting lecet. Vasospasma yang
disebabkan oleh iritasi pada saluran darah di puting akibat pelekatan yang
kurang baik dan/atau infeksi jamur, juga dapat menyebabkan puting lecet .
Rasa sakit yang disebabkan oleh pelekatan yang kurang baik dan proses
mengisap yang tidak efektif akan terasa paling sakit saat bayi melekat ke
payudara dan biasanya akan berkurang seiring bayi menyusu. Namun jika
lecetnya cukup parah, rasa sakit dapat berlangsung terus selama proses
menyusu akibat pelekatan kurang baik/mengisap tidak efektif. Rasa sakit
akibat infeksi jamur biasanya akan berlangsung terus selama proses menyusui
dan bahkan setelahnya. Banyak ibu mendeskripsikan rasa sakit seperti teriris
sebagai akibat pelekatan yang kurang baik atau proses mengisap yang kurang
efektif. Rasa sakit akibat infeksi jamur seringkali digambarkan seperti rasa
terbakar. Jika rasa sakit pada puting terjadi padahal sebelumnya tidak pernah
merasakannya, maka rasa sakit tersebut mungkin disebabkan oleh infeksi
Candida, meskipun infeksi tersebut dapat pula merupakan lanjutan dari
penyebab lain sakit pada puting, sehingga periode tanpa sakit hampir tidak
pernah terjadi. Retak pada puting dapat terjadi karena infeksi jamur. Kondisi
dermatologis (kulit) dapat pula menyebabkan sakit pada puting.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Menurut jurnal penelitian Eka Yusmanisari (2014), menunjukkan
bahwa melakukan teknik menyusui salah sebanyak 15 orang (53,57%) dan
ibu yang mengalami kejadian puting susu lecet sebanyak 16 orang (57,14%),
sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara teknik menyusui dengan
kejadian putting susu lecet pada ibu nifas.
Sedangkan pada jurnal penelitian Frizka Indarningtyas (2013),
melakukan teknik menyusui dengan benar dan mengalami putting susu lecet
sebanyak 4,9% orang, sedangkan yang tidak melakukan teknik menyusui
dengan benar dan mengalami putting susu lecet sebanyak 31,7%
orangternyata ada hubungan antara teknik menyusui dengan kejadian putting
susu lecet pada ibu nifas.
Pada jurnal peneltian Risneni (2015), Hasil penelitian didapatkan ibu
yang menyusui bayinya dengan teknik menyusui yang salah dan mengalami
kejadian lecet puting susu sebesar (68,6%). Disimpulkan ada hubungan yang
signifikan antara teknik menyusui dengan terjadinya lecet puting susu pada
ibu nifas.

B. Pembahasan
Hasil ketiga penelitian tersebut memperkuat pendapat Soetjiningsih
(2012) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ASI dimana
bila teknik menyusui tidak benar, dapat menyebabkan puting susu lecet,
payudara bengkak, saluran ASI tersumbat, mastitis, abses payudara, ASI
tidak keluar secara optimal sehingga memperngaruhi produksi ASI, bayi
enggan menyusu, dan bayi menjadi kembung.
Hal ini sesuai dengan teori Dewi,dkk (2011), bahwa faktor lain yang
menyebabkan terjadinya lecet putting susu pada ibu nifas yaitu puting susu
terpapar oleh sabun, krim, alkohol, ataupun zat iritan lain saat ibu
membersihkan puting susu, moniliasis pada mulut bayi yang menular pada
puting susu ibu, bayi dengan tali lidah pendek (frenulum lingue) dan cara
menghentikan menyusui yang kurang tepat (sesuai jurnal penelitian Risneni
(2015).

KESIMPULAN
Kesimpulan ketiga jurnal penelitian tersebut bahwa, ibu nifas yang
menyusui bayinya dengan teknik menyusui yang salah dapat mengalami kejadian
lecet puting susu.
Daftar Jurnal
1. Risneni , 2015, Hubungan Teknik Menyusui Dengan Terjadinya Lecet Puting
Susu Pada Ibu Nifas, Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Tanjungkarang
2. Frizka Indarningtyas Nur Pratiwi, 2013, Hubungan Teknik
Menyusui Dengan Kejadian Putting Susu Lecet Pada Ibu Nifas di Wilayah
Puskesmas Sekaran. Diploma IV Bidan Pendidik Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Eka Yusmanisari, SST.,M.Kes, 2014, Hubungan Kejadian Puting Susu Lecet
Dengan Teknik Menyusui Pada Ibu Nifas Di Bidan Anik Hanif, Amd.Keb
Desa Winongan Gempol, Dosen Akademi Kebidanan Ar Rahma

Daftar Pustaka
1. Bahiyatun, 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta: EGC.
2. Soetjiningsih, DSAK, Dr, 2008, ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan,
Cetakan II, Jakarta : EGC.