Anda di halaman 1dari 38

ANALISIS MANAJEMEN KURIKULUM DAN

PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 INDRALAYA


UTARA DAN SMA NEGERI 3 TANJUNG RAJA

LAPORAN PENELITIAN

Oleh :

LARAS FEBRIYANTI 061111815200

WAFI LUTFIATUN NISA 06111181520003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDERALAYA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan sebagai pondasi dalam kehidupan mengambil peran penting
dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua kalangan
memiliki peran penting dalam terlaksananya pendidikan yang bermutu bagi suatu
negara. Berbagai cara telah dilakukan oleh pemerintah, namun hingga saat ini
upaya-upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Pada
kenyataannya pendidikan di Indonesia masih sama, bahkan cenderung menurun.
Berdasarkan data dari UNDP, angka Human Development Indeks (HDI)
masyarakat Indonesia yang sangat rendah menunjukkan bahwa mutu pendidikan di
Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara lain di Asia. Kondisi rendahnya mutu
pendidikan ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya manajemen
kurikulum dan pembelajaran di Indonesia yang masih belum maksimal.
Keberhasilan suatu pendidikan sedikit banyak ditentukan oleh keberhasilan
kurikulum dan pembelajaran yang di gunakan. Oleh karena itu kurikulum sendiri
dapat dikatakan sebagai jantung dari sebuah pendidikan. Dalam hal ini kurikulum
dimulai dari perencanaan sampai pelaksanaan dan penilaiannya, yang berperan
dalam pengambilan keputusan mengenai kurikulum itu sendiri. Untuk itu dalam
rangka menjamin keberhasilan kurikulum diperlukan pengelolaan yang tepat dan
sistematis. Pengelolaan atau manajemen kurikulum yang terkoordinasi dengan baik
akan menunjang keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan.
Pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari berbagai aspek yang
mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan,
politik, budaya, dan sosial), proses pengembangan, kebutuhan peserta didik,
kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan. Aspek-aspek tersebut
akan menjadi bahan yang perlu dipertimbangkan dalam suatu pengembangan
kurikulum. Model pengembangan kurikulum merupakan suatu alternatif
prosedur dalam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan
mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan

1
kurikulum harus dapat menggambarkan suatu proses sistem perencanaan
pembelajaran yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan
pendidikan.
Berbagai macam model kurikulum telah dikembangkan oleh para ahli
kurikulum, pendidikan dan psikologi. Sudut pandang ahli yang satu terkadang
berbeda dengan sudut pandang ahli yang lain. Ada yang memandang dari sudut
isinya dan ada juga yang memandang dari sisi pengelolaanya (sentralisitik atau
desentralistik). Tidak sedikit pula ahli yang mengembangkan model kurikulum dari
sisi proses penggunaan kurikulum tersebut. Namun demikian, jika anda teliti lebih
lanjut, para ahli tersebut mempunyai satu tujuan atau arah yaitu mengoptimalkan
kurikulum.
Sedangkan pembelajaran merupakan keadaan dimana seorang guru atau
pengajar menciptakan situasi dan kondisi agar siswa dapat belajar dengan efektif
dan efisien. Sehingga pengelolaan pembelajaran yang baik juga menunjang
keberhasilan dalam suatu pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini
berfokus pada rumusan masalah yaitu “apakah manajemen kurikulum dalam
pembelajaran di SMAN 1 Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja telah
memenuhi standar?”

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
dan menggambarkan manajemen kurikulum dalam pembelajaran di SMAN 1
Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Peneliti

2
Menambah pengetahuan bagi peneliti tentang manajemen kurikulum dalam
pembelajaran di SMAN 1 Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja
2. Sekolah
Dapat menjadi evaluasi bagi sekolah apakah kurikulum yang diterapkan di sekolah
tersebut sudah memenuhi standar.
3. Peneliti Lain
Menjadi bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Manajemen Kurikulum


2.1.1 Pengertian
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan yang mencakup
tujuan, isi dan bahan pengajaran serta metoda yang digunakan sebagai bahan
pengajaran yang akan diselenggarakan dalam sebuah kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Manajemen kurikulum adalah sebuah proses atau sistem pengelolaan
kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik untuk mengacu
ketercapaian tujuan kurikulum yang sudah dirumuskan. Dari pendapat diatas dapat
diinventarisasi mengenai komponen-komponen dalam manajemen kurikulum
berikut; 1) perencanaan, 2) implementasi, 3) evaluasi, 4) penyempurnaan program.
Proses manajemen kurikulum tidak lepas dari kerjasama sosial antara dua
orang atau lebih secara formal dengan bantuan sumber daya yang mendukungnya.
Pelaksanaanya dilakukan dengan metode kerja tertentu yang efektif dan efisien dari
segi tenaga dan biaya, serta mengacu pada tujuan kurikulum yang sudah ditentukan
sebelumnya.
Selanjutnya, Depdiknas (2000: 67) menyebutkan kegiatan dalam
manajemen kurikulum yaitu:
a) Menjabarkan kompetensi lulusan menjadi analisis mata pelajaran,
b) Menyusun program tahunan
c) Menyusun program semester
d) Menyusun program satuan pelajaran
e) Membuat rencana pengajaran
f) Melakukan penbagian tugas mengajar
g) Menyusun jadwal pelajaran
h) Menyusun jadwal kegiatan pengayaan

4
i) Menyusun jadwal ekstrakurikuler
j) Menyusun jadwal penyegaran guru.
Dalam pengembangan kurikulum banyak pihak pihak yang harus
berpartisipasi diantaranya adalah administrator pendidikan, para ahli pendidikan
ahli dalam kurikulum, ahli dalam bidang ilmu pengetahuan, guru dan orangtua,
tokoh masyarakat, dari pihak tersebut yang secara terus menerus menerus turut
terlibat dalam pengembangan kurikulum agar berjalan sesuai dengan yang
direncanakan.

pemerintah Para Ahli Masyaraka


t
Administrator Para ahli pendidikan Ahli dalam bidang
pendidikan ahli dalam kurikulum ilmu pengetahuan

Tokoh masyarakat Guru dan orang tua

2.1.2 Prinsip dan Fungsi Manajemen Kurikulum


Prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan manajemen kurikulum
adalah sebagai berikut:
1. Produktivitas, hasil (output) peserta didik yang akan diperoleh dalam
pelaksanaan kurikulum harus sangat diperhatikan agar sesuai dengan
rumusan tujuan manajemen kurikulum.
2. Demokratisasi, proses manajemen kurikulum harus berdasarkan asas
demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana dan subjek didik pada
posisi yang seharusnya agar dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-
baiknya dan penuh tanggung jawab.
3. Kooperatif, agar tujuan dari pelaksanaan kurikulum dapat tercapai dengan
maksimal, maka perlu adanya kerjasama yang positif dari berbagai pihak
yang terkait.
4. Efektivitas dan efisiensi, rangkaian kegiatan kurikulum harus dapat
mencapai tujuan dengan pertimbangan efektif dan efisien, agar kegiatan
manajemen kurikulum dapat memberikan manfaat dengan meminimalkan
sumber daya tenaga, biaya, dan waktu.

5
5. Mengarahkan pada pencapaian visi, misi, dan tujuan yang sudah ditetapkan.
Adapun fungsi-fungsi dari manajemen kurikulum adalah sebagai
berikut:
1. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, karena
pemberdayaan sumber dan komponen kurikulum dapat dilakukan dengan
pengelolaan yang terencana.
2. Meningkatkan keadilan dan kesempatan bagi peserta didik untuk mencapai
hasil yang maksimal melalui rangkaian kegiatan pendidikan yang dikelola
secara integritas dalam mencapai tujuan.
3. Meningkatkan motivasi pada kinerja guru dan aktifitas siswa karena adanya
dukungan positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
4. Meningkatkan pastisipasi masyarakat untuk membantu pengembangan
kurikulum, kurikulum yang dikelola secara profesional akan melibatkan
masyarakat dalam memberi masukan supaya dalam sumber belajar
disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

2.2 Ruang lingkup Manajemen Kurikulum


Manajemen kurikulum adalah bagian dari studi kurikulum yang menurut
para ahli memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Studi ini tidak hanya membahas
tentang dasar-dasarnya, tetapi juga mempelajari kurikulum secara keseluruhan yang
dilaksanakan dalam pendidikan.

Ruang lingkup manajemen kurikulum adalah sebagai berikut:


1. Manajemen perencanaan
2. Manajemen pelaksanaan kurikulum
3. Supervisi pelaksanaan kurikulum
4. Pemantauan dan penilaian kurikulum
5. Perbaikan kurikulum
6. Desentralisasi dan sentralisasi pengembangan kurikulum
Sebuah kurikulum terdiri dari beberapa unsur komponen yang terangkai
pada suatu sistem. Sistem kurikulum bergerak dalam siklus yang secara bertahap,

6
bergilir, dan berkesinambungan. Oleh sebab itu, manajemen kurikulum juga harus
memakai pendekatan sistem.

2.2.1 Manajemen Perencanaan Kurikulum


Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan
belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku
yang diinginkan dan menilai sampai mana perubahan-perubahan yang telah terjadi
pada siswa.
Lima hal yang mempengaruhi perencanaan dan pembuat keputusan :
 Filosofis
 Konten/materi
 Manajemen pembelajaran
 Pelatihan guru
 Sistem pembelajaran.
Perencanaan adalah suatu proses sosial yang kompleks dan menuntut berbagai
jenis tingkat pembuatan keputusan. Sebagaimana pada umumnya rumusan model
perencanaan harus berdasarkan asumsi-asumsi rasionalitas dengan pemrosesan
secara cermat. Perencanaan kurikulum dijadikan sebagai pedoman yang berisi
petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan, media penyampaian,
tindakan yang perlu dilakukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan,
sistem kontrol, dan evaluasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Dengan perencanaan akan memberikan motivasi pada pelaksanaan sistem
pendidikan sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.Kegiatan inti pada
perencanaan adalah merumuskan isi kurikulum yang memuat seluruh materi dan
kegiatan yang dalam bidang pengajaran, mata pelajaran, masalah-masalah, proyek-
proyek yang perlu dikerjakan.

2.2.2 Manajemen Pengorganisasian dan Pelaksanaan Kurikulum


Manajemen pengorganisasian dan pelaksanaan kurikulum berkenaan
dengan semua tindakan yang berhubungan dengan perincian dan pembagian semua
tugas yang memungkinkan terlaksana. Manajemen pelaksanaan kurikulum

7
bertujuan supaya kurikulum dapat terlaksana dengan baik. Dalam hal ini
manajemen bertugas menyediakan fasilitas material, personal dan kondisi-kondisi
supaya kurikulum dapat terlaksana.
Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua:
1. Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah, yang dalam hal ini langsung
ditangani oleh kepala sekolah yang bertanggung jawab supaya kurikulum
dapat terlaksana di sekolah. Kepala sekolah juga berkewajiban menyusun
kalender akademik selama satu tahun, menyusun jadwal pelajaran dalam
satu minggu, pengaturan tugas dan kewajiban guru, dan lain-lain yang
berkaitan tentang usaha untuk pencapaian tujuan kurikulum.
2. Pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, yang dalam hal ini dibagi dan
ditugaskan langsung kepada para guru. Pembagian tugas ini meliputi; (1)
kegiatan dalam bidang proses belajar mengajar, (2) pembinaan kegiatan
ekstrakurikuler yang berada diluar ketentuan kurikulum sebagai penunjang
tujuan sekolah, (3) kegiatan bimbingan belajar yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi yang berada dalam diri siswa dan membantu siswa
dalam memecahkan masalah.

Peran-peran penting pada manajemen pelaksanaan kurikulum adalah:


(1) Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pembelajaran
Kepala sekolah menempati posisi terdepan dalam mendesain kurikulum.
Kepala sekolah didorong untuk mencari cara agar mengembangkan apa yang sudah
dilakukan guru di kelas dengan ide dari pengembang kurikulum pusat. Kepala
sekolah membentuk gambaran mental apa yang harus dicapai siswa dan bagaimana
pencapaiannya pada disiplin yang berbeda, termasuk bagaimana cara menilai
penampilan siswa. Pejabat daerah meninjau ulang ekspektasi kinerja dan memberi
saran untuk modifikasi sampai mereka puas bahwa kepala sekolah sudah jelas
dalam memahami operasional tujuan pendidikan nasional.
Selanjutnya dalam pelatihan di tingkat yang lebih tinggi para guru dan
karyawan dilatih berdasarkan jenjangnya, dan mereka mengembangkan rencana
sepanjang tahun pada mata pelajaran yang berbeda-beda. Rencana-rencana tersebut

8
dikritisi dan tiap guru mebuat rencana kelasnya masing-masing. Kepala sekolah dan
guru memutuskan langkah-langkah yang akan diambil dalam menerjemahkan
kurikulum pada tataran praktis. Setelah rencana diterapkan, kepala sekolah
mendukung guru dalam melakukan eksperimen untuk menemukan cara baru dalam
modifikasi kelas dan mengelompokkan guru agar bertemu secara teratur untuk
membahas dan berbagi tentang strategi pembelajaran baru.
Kepemimpinan yang fokus adalah ketika kepala-kepala sekolah bersama
guru menganalisa kemajuan siswa berdasarkan tes dan patokan dan kemudian
menentukan implikasi untuk pembelajaran.

(2) Kepala Sekolah dalam Kepemimpinan Bersama


Kepala sekolah dan guru memiliki kebebasan untuk menyusun visi
kurikulum mereka sendiri daripada hanya mencari cara mencapai tujuan yang
disusun pihak lain. Para karyawan berfokus pada masalah di sekolah mereka. Salah
satu pendekatannya adalah dengan berfokus pada budaya sekolah, termasuk
keyakinan, nilai-nilai, tradisi, praktek, harapan, dan asumsi-asumsi. Cara yang baik
untuk memulai mengembangkan visi kurikulum adalah dengan menetapkan
pernyataan misi dan analisis kritis pada kurikulum yang sedang berjalan. Sangat
baik untuk merumuskan etos dari sekolah, ciri khas, dan aspek-aspek unggulan dari
sekolah.
Guru dan kepala sekolah mengeksplor peraturan sekolah (kebijakan
penilaian, penjadwalan, buku teks, pembelajaran keluar, dan yang lainnya).
Biasanya tim ini yang menentukan kebijakan, menginterpretasikannya, dan
menentukan konsekuensinya. Di bawah kepemimpinan bersama, peran kepala
sekolah adalah untuk melepaskan kapasitas kreativitas dari tim tadi, bukan
mengontrolnya. Salah satu tujuan dalam sesi perencanaan adalah semua harus
berbagi pengetahuan, pengamatan, interpretasi, dan harus ada bukti dan
kesepakatan tentang validitas dari pandangan yang bertentangan. Keputusan
didasarkan pada konsensus rasional, bukan dari kepala sekolah atau guru-guru yang
populer. Selama berdiskusi peserta tetap menjaga norma dan nilai dari sekolah.

9
Peran guru dalam pengambilan keputusan kurikulum bukan hal yang baru.
Gary Peltier menulis tentang program penyusunan kurikulum tahun 1922
menggunakan partisipasi guru. Hasilnya, para guru menjadi lebih tahu tentang
tujuan pendidikan, lebih dapat menginterpretasikan program, dan lebih menerima
metode-metode baru. Guru menjadi lebih menerima pandangan baru tentang mata
pelajaran, dan lebih respon terhadap kebutuhan sosial dan siswa.
(3) Kepala Departemen atau Wakil Kepala Sekolah dalam Manajemen Kurikulum
Pada beberapa sekolah, kepala sekolah menetapkan kepala departemen atau
wakil kepala sekolah untuk kepemimpinan kurikulum. Kepala departemen
menyediakan struktur kurikulum, diskusi, dan pengambilan keputusan. Departemen
kurikulum menangani isu-isu tentang hasil yang diharapkan, isi materi dan
sekuensnya, kriteria untuk materi dan aktivitas baru, pendekatan pengajaran,
pengawasan dalam implementasi, dan evaluasi.

2.2.3 Supervisi Pelaksanaan Kurikulum


Supervisi atau pemantauan kurikulum adalah pengumpulan informasi yang
dilakukan oleh pen=mantau ahli berdasarkan data yang tepat, akurat, dan lengkap
tentang pelaksanaan kurikulum dalam jangka waktu tertentu untuk mengatasi
permasalahan dalam kurikulum. Pelaksanaan kurikulum di dalam pendidikan harus
dipantau untuk meningkatkan efektifitasnya. Pemantauan ini dilakukan supaya
kurikulum tidak keluar dari jalur. Oleh sebab itu seorang yang ahli menyusun
kurikulum harus memantau pelaksanaan kurikulum mulai dari perencanaan sampai
mengevaluasinya.
Secara garis besar pemantauan kurikulum bertujuan untuk mengumpulkan
seluruh informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam
memecahkan masalah. Dalam tataran praktis, pemantauan kurikulum memuat
beberapa aspek, yaitu sebagai berikut:
1. Peserta didik, dengan mengidentifikasi pada cara belajar, prestasi belajar,
motivasi belajar, keaktifan, kreativitas, hambatan dan kesulitan yang
diahadapi.

10
2. Tenaga pengajar, dengan memantau pada pelaksanaan tanggung jawab,
kemampuan kepribadian, kemampuan kemasyarakatan, kemampuan
profesional, dan loyalitas terhadap atasan.
3. Media pengajaran, dengan melihat pada jenis media yang digunakan, cara
penggunaan media, pengadaan media, pemeliharaan dan perawatan media.
4. Prosedur penilaian: instrument yang dihadapi siswa, pelaksanaan penilaian,
pelaporan hasil penilaian.
5. Jumlah lulusan: kategori, jenjang, jenis kelamin, kelompok usia, dan
kualitas kemampuan lulusan.

2.2.4 Penilaian Kurikulum


Penilaian kurikulum atau evaluasi kurikulum merupakan bagian dari sistem
manajemen. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan
menyajikan data untuk penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan
direvisi atau diganti.
Menurut R. Ibrahim (2004) model evaluasi kurikulum secara garis besar
digolongkan ke dalam empat rumpun model, yaitu :
 Measurement, evaluasi pada dasarnya adalah pengukur siswa untuk
mengungkapkan perbedaan individual maupun kelompok.
 Congruence, evaluasi pada dasarnya merupakan pemeriksaan kesesuaian
atau congruence antara tujuan pendidikan dan hasil belajar yang dicapai,
untuk melihat sejauh mana perubahan hasil pendidikan telah terjadi.
 Illumination, evaluasi pada dasarnya merupakan studi mengenai
pelaksanaan program karena pengaruh faktor lingkungan , kebaikan-
kebaikan dan kelemahan program, serta pengaruh program terhadap
terhadap perkembangan hasil belajar.
 Educational System Evaluation, evaluasi pada dasarnya adalah
perbandingan antara performance setiap dimensi program dan kriteria, yang
akan berakhir dengan suatu deskripsi dan judgement.

11
Sedangkan model-model evaluasi menurut McNeil (2006) adalah:
 Model-model Konsensus (Tradisional dan Evaluasi Secara Teknis)
David Nevo merangkum dalam pertanyaan dan jawaban tentang evaluasi dengan
pendekatan model konsensus:
1. Apakah pengertian dari evaluasi? Evaluasi pendidikan adalah penjelasan
sistematis dari obyek-obyek pendidikan (proyek, program, materi,
kurikulum, dan lembaga) dan penilaian dari kebermanfaatannya.
2. Apa fungsi dari evaluasi? Ada 4 fungsi evaluasi yaitu: formatif (untuk
perbaikan), sumatif (untuk pemilihan dan akuntabilitas), sosial politik
(untuk memotivasi dan mendapatkan dukungan masyarakat), dan
administratif (untuk menjalankan wewenang).
3. Informasi apa saja yang harus didapatkan? Penilai harus mendapatkan
informasi tentang tujuan dari obyek, strategi dan perencanaannya, proses
penerapannya, hasil dan dampaknya.
4. Kriteria apa yang digunakan untuk menilai manfaat dari obyek yang dinilai?
Dalam menilai sebuah obyek pendidikan, yang harus dipertimbangkan
adalah apakah obyek tersebut: menanggapi kebutuhan dari klien; mencapai
tujuan nasional, cita-cita, dan nilai-nilai sosial; memenuhi standar yang
berlaku; berjalan baik dibandingkan obyek alternatif yang lain; dan
mencapai tujuan penting.
5. Bagaimana melakukan proses evaluasinya? Prosesnya harus mencakup 3
aktivitas: berfokus pada masalah; mengumpulkan dan menganalisis data
empiris; dan mengkomunikasikan penemuan pada klien.
6. Siapa yang seharusnya melakukan evaluasi? Perorangan atau tim yang
mempunyai: kompetensi dalam metode penelitian dan teknik menganalisis
data; pemahaman terhadap konteks sosial dan substansi khas dari obyek
yang dinilai; kemampuan untuk membina hubungan baik dengan semua
yang terlibat; dan mengintegrasikan seluruh kemampuan yang disebutkan
diatas dalam bekerja.
7. Dengan standar apa seharusnya evaluasi dinilai? Evaluasi harus memenuhi
standar keseimbangan dalam: kegunaan (bermanfaat dan praktis); ketepatan

12
(teknis yang memadai); kemungkinan (realistis dan bijaksana); dan
kewajaran (dilakukan dengan legal dan etis).

 Model Pluralistik (Humanistik dan Evaluasi Rekonstruksi Sosial)


Model evaluasi pluralistik cenderung digunakan hanya ketika penelitian
kurang menarik untuk alasan politis, biaya, dan kepraktisan. Model yang lebih baru
ini terutama digunakan untuk kurikulum yang di luar kebiasaan, dan yang
berhubungan dengan pendidikan estetis, proyek multikultural, dan sekolah
alternatif.
a. Model Stake
Menurut Robert E. Stake, harus ada evaluasi awal untuk menentukan apa
yang sebenarnya diinginkan oleh klien dan partisipan dari evaluasi program
tersebut. Hal ini perlu diketahui untuk mendesain projek evaluasi. Penekanan
utama dalam model Stake adalah deskripsi dan penilaian. Baginya, penilai harus
melaporkan perbedaan orang melihat kurikulum.

b. Model Connoisseurship
Elliot W. Eisner mengembangkan sebuah proses evaluasi yang dapat
menangkap lebih dari yang didapat dari tes. Salah satu prosedurnya adalah
mengkritisi pendidikan, dimana penilai mengajukan beberapa pertanyaan seperti:
Apa yang sudah terjadi selama tahun ajaran di sekolah tersebut? Apa saja kegiatan-
kegiatan kuncinya? Bagaimana kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan? Bagaimana
siswa dan guru berpartisipasi? Apa saja konsekuensinya? Bagaimana kegiatan itu
dapat dikuatkan? Bagaimana kegiatan tersebut dapat membuat siswa belajar?
Alat lain untuk menunjang program adalah film, rekaman video, foto, dan
rekaman suara wawancara siswa dan guru. Connoisseurship berhubungan dengan:
mencatat apa yang dikatakan dan yang tidak dikatakan, bagaimana hal tersebut
dikatakan, nadanya, dan faktor lain yang mengindikasikan arti.

13
2.2.5 Perbaikan Kurikulum
Kurikulum akan senantiasa mengalami perubahan seiring dengan
perkembangan zaman. Kurikulum itu sangat dipengaruhi oleh perubahan
lingkungan yang menuntutnya untuk melakukan penyesuaian supaya dapat
memenuhi permintaan baik dikarenakan adanya kebutuhan dari siswa dan
kebutuhan masyarakat yang selalu mengalami perkembangan dan pertumbuhan
terus menerus.
Perbaikan kurikulum intinya adalah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan yang dapat disoroti dari dua aspek, proses, dan produk. Kriteria proses
menitikberatkan pada efisiensi pelaksanaan kurikulum dan sistem intruksional,
sedangkan kualitas produk melihat pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai dan
output (kelulusan siswa).
Berkaitan dengan prosedur perbaikan, seluruh komponen sumber daya
manusiawi, seperti: administrator, pemilik sekolah, kepala sekolah, guru-guru,
siswa, serta masyarakat sangat berperan besar. Tanggung jawab masing-masing
harus dirumuskan secara jelas. Selain itu aspek evaluasi juga harus dikaji sejak awal
perencanaan program perbaikan kurikulum. Dengan evaluasi yang tepat dan data
informasi yang akurat akan sangat diperlukan dalam membuat keputusan kurikulum
dan intruksional.
Chamberlain telah merumuskan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam
perbaikan, yaitu:
1. Mengidentifikasi masalah sebenarnya sebagai tuntutan untuk mengetahui tujuan,
2. Mengumpulkan fakta atau informasi tambahan,
3. Mengajukan kemungkinan pemecahan dengan keputusan yang optimal dan
diharapkan,
4. Memilih pemecahan sebagai percobaan,
5. Merencanakan tindakan yang dikehendaki untuk melaksanakan penyelesaian,
6. Melakukan solusi percobaan,
7. Evaluasi.

14
2.2.6 Sentralisasi dan Desentralisasi Kurikulum
Sentralisasi merupakan pemusatkan semua wewenang kepada sejumlah
kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi.
Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. Kelemahan
sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah
daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga
waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama.

(1) Kekuatan dan Kelemahan Sentralisasi Pendidikan


Sebagai negara berkembangn Indonesia mengikuti sistem sentralistik yang telah
lama dikembangkan pada sistem pemerintahannya Konsekuensinya
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia serba seragam, serba keputusan dari atas,
seperti kurikulum yang seragam tanpa melihat tingkat relevansinya baik kehidupan
anak dan lingkungannya.
Dengan adanya sentralisasi pendidikan telah melahirkan berbagai fenomena
yang memprihatinkan seperti :
1. Totaliterisme penyelenggaraan pendidikan
2. Keseragaman manajemen, sejak dalam aspek perencanaan, pengelolaan,
evaluasi, hingga model pengembangan sekolah dan pembelajaran.
3. Keseragaman pola pembudayaan masyarakat
4. Melemahnya kebudayaan daerah
5. Kualitas manusia yang robotic, tanpa inisiatif dan kreatifitas.
Dengan demikian, sebagai dampak sistem pendidikan sentralistik, maka upaya
mewujudkan pendidikan yang dapat melahirkan sosok manusia yang memiliki
kebebasan berpikir, mampu memecahkan masalah secara mandiri, bekerja dan
hidup dalam kelompok kreatif penuh inisiatif dan impati, memiliki keterampilan
interpersonal yang memadai sebagai bekal masyarakat, menjadi sangat sulit untuk
di wujudkan.
Beberapa alasan yang mendasari perlunya desentralisasi :
1. Mendorong terjadinya partisipasi dari bawah secara lebih luas.
2. Mengakomodasi terwujudnya prinsip demokrasi.

15
3. Mengurangi biaya akibat alur birokrasi yang panjang sehingga dapat
meningkatkan efisiensi.
4. Memberi peluang untuk memanfaatkan potensi daerah secara optimal.
5. Mengakomodasi kepentingan poloitik.
6. Mendorong peningkatan kualitas produk yang lebih kompetitif.

(2) Kekuatan dan Kelemahan Desentralisasi Pendidikan


Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan
kebijakan kepada orang-orang pada level bawah (daerah). Kelebihan sistem ini
adalah sebagian keputusan dan kebijakan yang ada di daerah dapat diputuskan di
daerah tanpa campur tangan pemerintah pusat. Namun kekurangan dari sistem ini
adalah pada daerah khusus, euforia yang berlebihan dimana wewenang itu hanya
menguntungkan pihak tertentu atau golongan serta dipergunakan untuk mengeruk
keuntungan para oknum atau pribadi.
Sistem pendidikan yang sentralistik yang mematikan kemampuan berinovasi
tentunya tidak sesuai dengan pengembangan suatu masyarakat demokrasi terbuka.
Oleh sebab itu, desntralisasi pendidikan berarti lebih mendekatkan proses
pendidikan kepada rakyat sebagai pemilik pendidikan itu sendiri. Rakyat harus
berpartisipasi di dalam pembentukan social capital tersebut. Ikut sertanya rakyat di
dalam penyelenggaraan pendidikan dalam suatu masyarakat demokrasi berarti pula
rakyat ikut membina lahirnya social capital dari suatu bangsa.
Dari beberapapengalaman di negara lain,kegagalan disentralisasi di akibatkan
oleh beberapa hal :
1. Masa transisi dari sistem sentralisasi ke desintralisasi ke memungkinkan
terjadinya perubahan secara gradual dan tidak memadai serta jadwal
pelaksanaan yang tergesa-gesa.
2. Kurang jelasnya pembatasan rinci kewenangan antara pemerintah pusat,
propinsi dan daerah.
3. Kemampuan keuangan daerah yang terbatas.
4. Sumber daya manusia yang belum memadai.
5. Kapasitas manajemen daerah yang belum memadai.

16
6. Restrukturisasi kelembagaan daerah yang belum matang.
7. Pemerintah pusat secara psikologis kurang siap untuk kehiulangan
otoritasnya.
Berdasarkan pengalaman, pelaksanaan disentralisasi yang tidak
matang juga melahirkan berbagai persoalan baru, diantaranya :
1. Meningkatnya kesenjangan anggaran pendidikan antara daerah, antar
sekolah antar individu warga masyarakat.
2. Keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan masyarakat (orang tua)
menjadikan jumlah anggaran belanja sekolah akan menurundari waktu
sebelumnya,sehingga akan menurunkan motivasi dan kreatifitas tenaga
kependidikan di sekolahuntuk melakukan pembaruan.
3. Biaya administrasi di sekolah meningkat karena prioritas anggaran di
alokasikan untuk menutup biaya administrasi, dan sisanya baru
didistribusikan ke sekolah.
4. Kebijakan pemerintah daerah yang tidak memperioritaskan pendidikan,
secara kumulatif berpotensi akan menurunkan pendidikan.
5. Penggunaan otoritas masyarakat yang belum tentu memahami sepenuhnya
permasalahan dan pengelolaan pendidikan yang pada akhirnya akan
menurunkan mutu pendidikan.
6. Kesenjangan sumber daya pendidikan yang tajam di karenakan perbedaan
potensi daerah yang berbeda-beda. Mengakibatkan kesenjangan mutu
pendidikan serta melahirkan kecemburuan sosial.
7. Terjadinya pemindahan borok-borok pengelolaan pendidikan dari pusat ke
daerah.
Selain dampak negatif tentu saja desentralisasi pendidikan juga telah
membuktikan keberhasilan antara lain :
1. Mampu memenuhi tujuan politis, yaitu melaksanakan demokratisasi dalam
pengelolaan pendidikan.
2. Mampu membangun partisifasi masyarakat sehingga melahirkan
pendidikan yang relevan, karena pendidikan benar0benar dari oleh dan
untuk masyarakat.

17
3. Mampu menyelenggarakan pendidikan secara menfasilitasi proses belajar
mengajar yang kondusif, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas
belajar siswa.

2.3 Konsep Dasar Manajemen Pembelajaran


2.3.1 Pengertian
Belajar pada hakekatnya adalah suatu aktivitas yang mengharapkan
perubahan tingkah laku pada diri individu yang sedang belajar. Dari konsep belajar
muncul istilah pembelajaran. Yang dapat diartikan pembelajaran sebagai upaya
membelajarkan siswa.
Pembelajaran sebagai suatu rangkaian kegiatan (kondisi, peristiwa,
kejadian, dsb) yang sengaja dibuat untuk mempengaruhi pembelajar, sehingga
proses belajarnya dapat berlangsung mudah. Pembelajaran bukan hanya terbatas
pada kegiatan yang dilakukan guru, seperti halnya dengan konsep mengajar.
Pembelajaran mencakup semua kegiatan yang mungkin mempunyai
pengaruh langsung pada proses belejar manusia. Pembelajaran mencakup pula
kejadian-kejadian yang diturunkan oleh bahan-bahan cetak, gambar, program radio,
televisi, film, slide maupun kombinasi dari bahan-bahan itu. Bahkan saat ini
berkembang pembelajaran dengan pemanfaatan berbagai program komputer untuk
pembelajaran atau dikenal dengan e-learning.
Konsep manajemen pembelajaran dapat diartikan proses mengelola yang
meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengendalian (pengarahan) dan
pengevaluasian kegiatan yang berkaitan dengan proses membelajarkan si
pembelajar dengan mengikutsertakan berbagai faktor di dalamnya guna mencapai
tujuan.
Dalam “memanaje” atau mengelola pembelajaran, manajer dalam hal ini
guru melaksanakan berbagai langkah kegiatan mulai dari merencanakan
pembelajaran, mengorganisasikan pembelajaran, mengarahkan dan mengevaluasi
pembelajaran yang dilakukan. Pengertian manajemen pembelajaran demikian dapat
diartikan secara luas dalam arti mencakup keseluruhan kegiatan bagaimana
membelajarkan siswa mulai dari perencanaan pembelajaran sampai pada penilaian

18
pembelajaran. Pendapat lain menyatakan bahwa manajemen pembelajaran
merupakan bagian dari strategi pembelajaran yaitu strategi pengelolaan
pembelajaran.
Manajemen pembelajaran termasuk salah satu dari manajemen
implementasi kurikulum berbasis kompetensi. Manajemen yang lain adalah
manajemen sumber daya manusia, manajemen fasilitas, dan manajemen penilaian.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal menajemen pembelajaran sebagai
berikut; jadwal kegiatan guru-siswa; strategi pembelajaran; pengelolaan bahan
praktik; pengelolaan alat bantu; pembelajaran ber-tim; program remidi dan
pengayaan; dan peningkatan kualitas pembelajaran.
Pada dasarnya manajemen pembelajaran merupakan pengaturan semua
kegiatan pembelajaran, baik dikategorikan berdasarkan kurikulum inti maupun
penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya, oleh
Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional. Dengan berpijak dari
beberapa pernyataan di atas, kita dapat membedakan konsep manajemen
pembelajaran dalam arti luas dan dalam arti sempit. Manajemen pembelajaran
dalam arti luas berisi proses kegiatan mengelola bagaimana membelajarkan si
pembelajar dengan kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan atau pengendalian dan penilaian. Sedang manajemen pembelajaran
dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang perlu dikelola oleh guru selama
terjadinya proses interaksinya dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.

2.3.2 Prinsip dan Fungsi Manajemen Pembelajaran


Prinsip-prinsip manajemen pembelajaran adalah prinsip-prinsip universal
yang meliputi prinsip kesatuan arah atau goal oriented, prinsip efektivitas, prinsip
efisiensi, prinsip utilitas, prinsip keteraturan, prinsip hierarki, prinsip jenjang
komando, prinsipkesatuan komando, prinsip partisipasi dan kerjasama,
prinsipkoordinasi, prinsip rentangan kontrol, prinsipdelegasi, prinsip moril, prinsip
sub ordinasi, dan prinsip remunerasi.
Adapun uraian prinsip-prinsip tersebut dalam pembelajaran dapat
dikemukakan sebagai berikut

19
1. Prinsip kesatuan arah, yakni bahwa tujuan-tujuan pembelajaran menjadi titik
tumpu tingkah laku instruksional dan tingkah laku manajerial dari pihak guru
dan siswa. Ke arah tujuan pembelajaran pada akhirnya tertuju segala daya dan
usaha kelas
2. Prinsip efektivitas, yakni bahwa tujuan-tujuan pembelajaran yang harus dicapai
secara maksimal
3. Prinsip efisiensi, yakni bahwa aktivitas pembelajaran harus digunakan secara
ekonomis sehingga tidak terjadi pemborosan
4. Prinsip utilisasi, yakni segala sumber daya yang tersedia harus dimanfaatkan
dengan sebesar-besarnya
5. Prinsip hierarki, yakni dalam pembelajaran terdapat proseskomunikasi timbal
balik antarguru dengan siswa, sehingga dengan prinsip ini diharapkan
pembelajaran berjalan dengan sistematis dan terstruktur
6. Prinsip keteraturan, yakni dengan prinsip ini diharapkan siswa belajar dengan
nyaman dan kondusif
7. Prinsip jenjang komando dan kesatuan komando, yakni sebagai konskuensi dari
prinsip hierarki, sehingga segala aktivitas pembelajaran harus berjalan sesuai
dengan jalur-jalur yang telah ditentukan antara guru dengan siswa dan kesatuan
arah sebagai bentuk organisasi kelas yang kondusif., maka diperlukan kesatuan
arah. Oleh karenanya, tujuan merupakan titik tumpu arah pembelajaran
8. Prinsip partisipasi dan kerjasama, yaknidiperlukan sikap yang kooperatif dan
berperan aktif dalam pembelajaran
9. Prinsip koordinasi, yaknidalam prinsip ini akan ada usaha mensinkronkan semua
kegiatan pembelajaran dan mencegah terjadinya konflik dikalangan warga kelas
10. Prinsip rentangan kontrol, yakni prinsip dengan pengelolaan kelas. Oleh karena
itu, kegiatan pengelolaan kelas mutlak diperlukan untuk menjamin pengelolaan
pembelajaran dapat efektif
11. Prinsip delegasi wewenang, prinsip ini sebenarnya hampir sama dengan hierarki,
yakni perlunya job deskripsi yang jelas dalam pembelajaran antara guru dengan
siswa dan siswa dengan siswa

20
12. Prinsip moril, yakni kelas merupakan suatu tim sehingga tugas yang diemban
kelompok harus ditanggung bersama-sama. Dengan moril yang tinggi, maka
tugas-tugas akan dapat dikerjakan dengan semangat yang tinggi.
13. Prinsip subordinasi, yakni bahwa kepentingan pribadi dalam kegiatan
pembelajaran harus tunduk pada kepentingan kelompok kelas.
14. Prinsip remunerasi, yakni bahwa usaha dan prestasi serta sikap dan prilaku siswa
yang sesuai kultur sekolah perlu mendapat pengakuan dan penghargaan yang
pantas. Dalam psikologi pembelajaran, prisip ini sering disebut reinforcement.

Secara skematis, manajemen pembelajaran sesuai dengan Permendiknas ,


sebagai berikut;
Fungsi Cakupan Deskripsi
Manajemen Kegitan
Perencanaan Penyusunan Silabus sebagai acuan pengembangan RPP
Proses Silabus dapat dikembangkan oleh para guru
silabus
Pembelajaran secara mandiri atau berkelompok dalam
sebuah sekolah atau beberapa sekolah,
kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran
(MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG),
dan dinas Pendidikan
Rencana RPP sebagai periapan pembelajaran memuat
Pelaksanna
identitas mata pelajaran, satandar kompetensi
Pembelajara
n (RPP) (SK), kompetensi dasar (KD), indikator
pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran,
materi ajar, alokasi waktu, metode
pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.
Pelaksanaan Kegiatan Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran
proses persyaratan meliputi hal-hal sebagai berikut; ketentuan
pembelajaran tentang rombongan belajar, beban kerja
pelaksanaan

21
proses minimal guru, buku teks pelajaran, dan

pembelajara pengelolaan kelas. Kegiatan pelaksanaan


pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan,
n dan
kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Pelaksanaa

Pembelajaran
Penilaian Penilaian dilakukan secara konsisten,
hasil sistematik dan terprogram dengan
Pembelajaran
menggunakan tes dan non tes dalam bentuk
tertuis atau lisan, pengamatan kinerja,
pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa
tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan
penilain diri
Pengawasan Pemantaua Pemantauan dilakukan pada tahap
proses n, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
Supervisi, hasil pembelajaran. Supervisi dilakukan
pembelajaran Evaluasi, pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan
Pelaporan penilaian hasil pembelajaran Hasil kegiatan
Dan Tindak pemantauan, supervisi, dan evaluasi proses
lanjut. pembelajaran dilaporkan kepada pemangku
kepentingan Tindak lanjut berupa
pemberian penguatan dan penghargaan,
pemberian teguran dan pemberian
kesempatan untuk mengikuti
pelatihan/penataran lebih lanjut.

Fungsi-fungsi manajemen pembelajaran di atas berlaku untuk semua mata


pelajaran. Artinya secara umum guru dalam mengelola pembelajarannya dapat
mengacu pada fungsi-fungsi berikut kegiatan cakupannya. Pada penerapannya
untuk setiap bidang studi atau mata pelajaran, tentu saja kita dapat

22
mengembangkannya sesuai dengan karakter dan ciri khas dari pembelajaran mata
pelajaran yang diampunya.

2.4 Ruang Lingkup Manajemen Pembelajaran


Manajemen pembelajaran adalah upaya pendidik dalam merencanakan,
melaksanakan dan memfasilitasi proses pembelajaran serta mengevaluasi hasil
pembelajaran. Seorang pendidik harus mempunyai keterampilan dalam
pengelolaan (manajemen) pembelajaran yang meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu:
(1) membuat perencanaan pembelajaran, (2) melakukan proses pembelajaran, dan
(3) melaksanakan evaluasi pembelajaran.

2.4.1 Perencanaan Pembelajaran


Perencaanaan pembelajaran merupakan dasar/acuan dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran, sehingga perencanaan pembelajaran merupakan hal yang
amat penting dalam konteks proses pembelajaran. Rencana pembelajaran
merupakan dasar bagi peserta didik menerima pengalaman belajar di kelas.
Keberhasilan peserta didik dalam belajar banyak ditentukan oleh baik atau
buruknya suatu pembelajaran yang disiapkan oleh pendidiknya. Perencanaan
Pembelajaran meliputi penataan guru (pendidik), peserta didik dan tenaga
administrasi, penggunaan metode, material, prosedur yang merupakan unsur-unsur
perangkat pembelajaran yang harus terorganisasi secara sistematis dan sistemik.
Kesalingketergantungan antara tiap unsur dalam sistem pembelajaran yang bersifat
esensial dan masing-masing memberikan kontribusi kepada sistem pembelajaran.
Keterlibatan dan peran tiap unsur dalam sistem saling mempengaruhi.
Menurut Kemp dalam Patria (2008:24) dalam merancang perencanaan
pembelajaran ada unsur-unsur yang harus diperhatikan, yaitu:
1) Memperkirakan kebutuhan belajar untuk merancang suatu program
pembelajaran dengan Menyatakan tujuan, kendala dan prioritas yang harus
diketahui,
2) Memilih pokok bahasan atau tugas untuk dilaksanakan dan menunjukkan
tujuan yang ingin dicapai,

23
3) Meneliti ciri siswa harus mendapat perhatian selama perencanaan.,
4) Menentukan isi pelajaran dan menguraikan unsur tugas yang berkaitan
dengan tujuan.
5) Menyatakan tujuan belajar yang ingin dicapai segi isi dan unsur tugas,
6) Merancang kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang sudah
dinyatakan,
7) Memilih sejumlah media untuk mendukung kegiatan pengajaran,
8) Merincikan pelayanan penunjang yang diperlukan untuk mengembangkan
dan melaksanakan semua kegiatan serta untuk memperoleh atau membuat
bahan,
9) Memepersiapkan evaluasi hasil program,
10) Menentukan persiapan siswa untuk mempelajari pokok bahasan dengan
memberikan uji awal kepada mereka.

2.4.2 Pelaksanaan Pembelajaran


Pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil apabila mencapai tujuan yang
telah ditetapkan dalam perencanaan. Pelaksanaan yaitu suatu kegiatan memadukan
atau mengintegrasikan sumber/potensi yang ada atau yang dapat disediakan dalam
rangkaian kegiatan yang telah direncanakan secara sistematis dalam rangka
mencapai tujuan, meliputi: sumber daya manusia, tujuan belajar, bahan belajar,
alat/media belajar, tempat belajar, fasiitas atau sarana prasarana pendukung lainnya.
Pelaksanaan pembelajaran juga harus mencakup tiga kegiatan utama yaitu
kegitan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan
dilakukan guru dalam upaya menyiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk
mengikuti pembelajaran. Kegiatan inti sendiri merupakan suatu proses
pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar yang dilakukan secara interaksi,
inspiratif, menyenangkan. Menantang, memotivasi peserta didik utnuk aktif dan
sebagainya. Didalam kegiatan inti ini menggunakan metode pembelajaran yang
sesuai dengan kemampuan dan karakteristik anak. Sedangkan pada kegiatan akhir
dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan guru bersama siswa untuk membuat
suatu rangkuman tentang konsep-konsep materi yang telah diajarkan pada

24
pertemuan tersebut, melakukan penilaian hasil belajar siswa dan memberikan
evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman siswa.

2.4.3 Evaluasi Pembelajaran


Evaluasi dalam pembelajaran merupakan penetapan nilai sehubungan
dengan fenoma pendidikan. Evaluasi bertujuan untuk mendapatkan infromasi yang
akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh peserta didik
sehingga pendidik dapat mengupayakan tindak lanjutnya. Keberhasilan
pembelajaran dapat dilihat dari kegiatan evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan
oleh pendidiknya.
Menurut Arikunto (2005) yang dimaksud dengan evaluasi meliputi dua hal
yaitu mengukur dan menilai. Adapun yang dimaksud dengan mengukur adalah
membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Ukuran ini bersifat kuantitatif.
Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik
atau buruk. Jika pengukuran bersifat kuantitatif, maka penilaian bersifat kualitatif.
Evaluasi secara spesifik berkaitan dengan proses pembelajaran
dikemukakan oleh Hamalik (2001:66), menurutnya yang dimaksud dengan evaluasi
hasil pembelajaran adalah keseluruhan kegiatan pengukuran, pengolaha, penafsiran
dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang hasil belajar dalam upaya
mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan memberikan
infromasi kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan belajar serta memberikan
infromasi agar siswa dapat menyalurkan bakat dan kemampuannya sesuai dengan
kemampuan tiap individu.

25
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk
menganalisis dan menggambarkan manajemen kurikulum dalam pembelajaran di
SMAN 1 Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tanggal 3 April 2017 tahun
ajaran 2017/2018. Penelitian ini dilakukan di Indralaya, yaitu di SMAN 1 Indralaya
Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja.

3.3 Subjek Penelitian


Subjek dalam penelitian ini adalah manajemen kurikulum dalam
pembelajaran di SMAN 1 Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja.

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Agar objektivitas hasil penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan, data
yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang kompeten, maka metode
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:

3.4.1 Observasi
Observasi merupakan salah satu alat penilaian yang banyak digunakan
dalam mengukur proses dan tingkah laku individu dalam sebuah kegiatan yang bisa
diamati (Sudjana). Dalam hal ini observasi yang peneliti lakukan adalah dengan
cara mengamati manajemen kurikulum dalam pembelajaran di SMAN 1 Indralaya
Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja.

3.4.2 Dokumentasi

26
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), dokumentasi adalah
pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi di bidang
pengetahuan; pemberian atau pengumpulan bukti dan keterangan seperti gambar,
kutipan, kliping, dan bahan referensi lainnya. Dalam hal ini dokumentasi yang
peneliti lakukan adalah dengan cara mengabadikan segala sesuatu yang
berhubungan dengan manajemen kurikulum dalam pembelajaran di SMAN 1
Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja. Contohnya seperti
mendokumentasikan rpp, silabus, prota, promes, kalender akademik, dll.

3.4.3 Wawancara
Wawancara adalah percakapan langsung antara interview (pewawancara)
dengan interviewer (orang yang diwawancarai) melalui media tertentu (Wirawan,
2011). Dalam penelitian ini digunakan wawancara terbuka (open ended interview),
dimana interviewer dapat menjawab sesuai yang dianggapnya tepat dan dengan
bahasanya sendiri. Dalam hal ini wawancara yang peneliti lakukan adalah dengan
cara mewawancarai wakil kepala bagian kurikulum dalam pembelajaran di SMAN
1 Indralaya Utara dan SMAN 3 Tanjung Raja.

3.5 Teknik Analisa Data


3.5.1 Data Observasi
Data yang didapat melalui lembar observasi diberi tanda check list (Sutrisno
Hadi, 1990) seperti tabel 1 berikut:
Tabel 1. Aspek Kurikulum (Sutrisno Hadi, 1990)
No Aspek Check List
1
2
3
Komentar

27
Data yang diperoleh melalui angket dalam bentuk skala kualitatif dikonversi
menjadi skala kuantitatif. Dicari persentasi dari kurikulum dalam pembelajaran.
persentase dihitung menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Sudjana
(2011:129):
𝑃 = 𝑓/𝑛 × 100%
Keterangan:
P = Persentase (jumlah persentase yang dicari)
f = Fkeruensi banyaknya asper yang diberi check list
n = Fumlah aspek yang dinilai

3.5.2 Data Dokumentasi


Data yang diperoleh dari dokumentasi dipergunakan sebagai lampiran
dalam penelitian ini.

3.5.3 Data Wawancara


Data yang diperoleh dari wawancara dipergunakan untuk memperkuat data
yang diperoleh dari hasil observasi.

28
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Sekolah


Berikut ini profil dari SMAN 1 Indralaya Utara:
NPSN 10643818
NSS 301111014001
Nama SMAN 1 Indralaya Utara
Akreditasi A
Status Negeri
Alamat Jl Pesirah Mat Nang Desa Tanjung Periang Indralaya
Utara
Kabupaten Ogan Ilir
Provinsi Sumatera Selatan
No. Telp 07117083804
Email smanunggulanidlu@yahoo.co.id

Profil dari SMAN 3 Tanjung Raja :


NPSN 10643834
NSS
Nama SMAN 3 Tanjung Raja
Akreditasi C
Status Negeri
Alamat Desa Ulak Kerbau Baru kec, Tanjung Raja
Kabupaten Ogan Ilir
Provinsi Sumatera Selatan
No. Telp 0712351926
Email nankitam@yahoo.co.id

4.2 Hasil
Hasil data yang diperoleh dari hasil observasi disajikan dalam lembar
observasi berikut ini:

29
Tabel 2: Aspek Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran di SMAN 1
Indralaya Utara

No Aspek Yang Diamati Ada Tidak Ada Keterangan

1 Kalender Akademik √ Belum ditempel


2 Program Tahunan √
3 Program Semester √
4 Silabus √ lengkap
Rencana Pengajaran
5 √ lengkap
(Rpp)
Pembagian Tugas
6 √ Ada arsip
Mengajar

7 Jadwal Pelajaran √ Ada arsip


Jadwal Pelajaran
8 √
Tambahan
Jadwal Kegiatan
9 √
Pengayaan

10 Jadwal Ekstrakurikuler √
Laporan Hasil Belajar (E-
11 √
Raport)
Tugas Pokok Dan Fungsi
12 √ lengkap
Waka Kurikulum
Arsip Ujian Tengah
13 √ Online (edmodo)
Semester
Arsip Ujian Akhir
14 √ Online (edmodo)
Semester

30
Tabel 2: Aspek Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran di SMAN 3
Tanjung Raja

No Aspek Yang Diamati Ada Tidak Ada Keterangan

1 Kalender Akademik √ Sudah ditempel


2 Program Tahunan √ Tidak ada arsip

3 Program Semester √ Tidak ada arsip

4 Silabus √ Tidak ada arsip


Rencana Pengajaran Tidak ada arsip
5 √
(Rpp)
Pembagian Tugas
6 √
Mengajar

7 Jadwal Pelajaran √
Jadwal Pelajaran
8 ×
Tambahan
Jadwal Kegiatan
9 √
Pengayaan

10 Jadwal Ekstrakurikuler √
Laporan Hasil Belajar (E-
11 √
Raport)
Tugas Pokok Dan Fungsi
12 √ Tidak ada arsip
Waka Kurikulum
Arsip Ujian Tengah Tidak ada arsip
13 √
Semester
Arsip Ujian Akhir Tidak ada arsip
14 √
Semester

31
Pembahasan
Mengacu pada Surat Keputusan Kepala SMAN 1 Indralaya Utara
Kabupaten Ogan Ilir Nomor: 800/004/SMAN1.IDLU/disdik.SS/2018 Tentang
Pembagian Tugas Guru mengajar/ bimbingan peserta didik, wakil kepala sekolah,
guru BK, wali kelas, pembina/koordinator kegiatan, kepala labor dan pustaka,
pembina ekstrakulikuler, guru piket dan pegawai serta jadwal pelajaran Semester
Genap Tahun Pelajaran 2017/2018 bahwa Struktur Kurikulum di SMAN 1
Indralaya Utara sudah sesuai dengan Kurikulum 2013 dan Struktur Kurikulum. Dari
surat keputusan ini diketahui bahwa kurikulum yang digunakan di SMAN 1
Indralaya Utara adalah Kurikulum 2013 untuk kelas X dan XI serta KTSP untuk
kelas XII.
Sementara itu untuk SMAN 3 Tanjung Raja peneliti tidak mendapatkan
arsip dari Surat Keputusan Kepala sekolah dikarenakan pihak Waka Kurikulum
yang bersangkutan sedang tidak berada di sekolah. Pada Silabus Mata Pelajaran
Fisika Kurikulum 2013 yang digunakan SMAN 1 Indralaya Utara memuat:
Kerangka pengembangan kurikulum fisika sekolah menengah atas/madrasah aliyah
(peta kompetensi inti SMA/MA, ruang lingkup materi ilmu pengetahuan alam, peta
materi fisika)
Kontekstualisasi pembelajaran fisika sesuai dengan kondisi lingkungan dan
peserta didik Kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran
(kelas X, kelas XI dan kelas XII serta alokasi waktu)

32
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Manajemen sekolah adalah suatu model manajemen yang memberikan
otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan
partisipatif yang melimbatkan secara lansung semua warga sekolah (guru, siswa,
kepala sekolah, pegawai sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat) untuk
meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dari
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen kurikulum dan pembelajaran
merupakan salah satu komponen manajemen sekolah yang utama dan sangat
mendukung demi kelansingan pembelajaran di suatu sekolah sebagai suatu
organisasi pendidikan. SMAN 1 Indralaya utara dan SMAN 3 Tanjung Raja telah
memiliki perencanaan dan pengorganisasian manajemen kurikulum dan
pembelajaran yang baik.

Saran
Sebaiknya pihak sekolah lebih meningkatkan pengembangan menajemen
sekolah terutama manajemen kurikulum dan pembelajaran agar kualitas dan mutu
sekolah tetap baik dan bertambah baik.

33
DAFTAR PUSTAKA

Rusman,2008.ManajemenKurikulum.http://antonilamini.wordpress.com/2008/05/
18/sentralisasi-dan-desentralisasi-pendidikan/
Triwiyanto,Teguh.2015.Manajemen Kurikulum Dan Pembelajaran.Jakarta.PT
Bumi Aksara
Dakir, Prof, Dr, H.2010.Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta: PT
Rineka Cipta
Sukmadinata,Nana Syaodih.2005Pengembangan Kurikum Teori dan Praktek,
Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya
Muhaimin, Prof. Dr.2005. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Yagyakarta : Pustaka Pelajar
Burhan Nurgiyantoro.2008.Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah,
Yagyakarta:BPFE- Yagyakarta
Darmaningtiyas.1999. Pendidikan Pada Dan Setelah Kritis.Yagyakarta: Pustaka
Pelajar

34
Lampiran

35
36
37