Anda di halaman 1dari 36

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN SEKTE ALIRAN

KEBATINAN DI PARE PADA TAHUN 1952-1968

HISTORIOGRAFI
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Metodologi dan Historiografi
Yang dibina oleh Bapak Dr. Ari Sapto M.Pd M.Hum

Oleh
Ririn Trianingsih
(150731606562)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
PENDIDIKAN SEJARAH
DESEMBER 2017
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural karena
memiliki keragaman budaya. Keberadaan wilayah Nusantara yang
terletak di persilangan antar negara-negara di belahan Barat dan
Timur, Selatan dan Utara menjadi titik temu hubungan antar
bangsa (Supardi, 2016: 8). Kebudayaan merupakan keseluruhan
suatu tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia melalui belajar
(Koentjaraningrat, 2015:144). Menurut antropolog suatu bangsa
mempunyai kebudayaan jika masyarakatnya memiliki bersama
sejumlah pola-pola berpikir dan berkelakuan yang didapat melalui
proses belajar (Ihromi, 2000: 21). Terdapat beberapa hal unsur
kebudayaan universal mulai dari bahasa, sistem pengetahuan,
organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata
pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian (Koentjaraningrat,
2015:165).
Masyarakat Indonesia dikenal memiliki ciri khas yang
menjadikannya sebagai identitas budaya bangsa. Oleh karena itu,
Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang memiliki kepribadian
ditengah derasnya arus globalisasi hingga kini. Sebelum
mendapatkan pengaruh dari budaya asing, Masyarakat Indonesia
telah memiliki budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kebudayaan merupakan pandangan hidup sekelompok orang
dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai dan simbol-simbol yang
diterima masyarakat tanpa sadar yang diwariskan melalui proses
komunikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya (Liliweri,
2002:8).
Kebudayaan Jawa merupakan cerminan dari kehidupan
masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa memegang teguh tradisi

1
sebagai adat istiadat dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut
menjadi identitas Masyarakat Jawa dalam kebudayaan Jawa yang
disebut “kejawen”. Budaya Jawa yang dipegang teguh oleh
masyarakat pengikutnya melahirkan local genius karena memiliki
ciri khas yang menjadikan kebudayaan masyarakat Jawa dinilai
unik.
Masyarakat Jawa kental akan unsur-unsur religi yang
dituangkan dalam suatu kepercayaan. Sejak zaman prasejarah
masyarakat Jawa telah mengenal kepercayaan melalui sistem religi
yang bersifat sederhana. Menurut Soejono (2010: 247) konsepsi
kepercayaan masyarakat terhadap roh muncul pada masa
kebudayaan megalitik yang memiliki ciri khas religi, yaitu
berkembangnya kepercayaan terhadap kehidupan baru pasca
kematian. Konsepsi kepercayaan seperti itu menonjol pada
kehidupan masyarakat petani dimana telah mampu memproduksi
makanan sehari-hari. Salah satu sikap yang paling menonjol adalah
sikap terhadap kehidupan sesudah mati. Kepercayaan bahwa roh
seseorang tidak lenyap pada saat orang tersebut meninggal, sangat
mempengaruhi kehidupan manusia. Roh dianggap mempunyai
kehidupan di alamnya tersendiri sesudah meninggal. Oleh karena
itu, dalam memperlakukan seseorang yang telah meninggal
masyarakat memiliki tradisi ritual tersendiri. Hal tersebut
ditunjukkan sebagai penghormatan kepada mayat.
Pada massa Hindu-Buddha, hubungan intensif yang telah
terjalin terutama dengan India secara tidak langsung menyebarkan
budaya di Indonesia. Menurut Hardiati, dkk. (2010: 15) awal
hubungan antara India dengan Nusantara berawal dari
perdagangan. Kehadiran orang-orang India ternyata memiliki
pengaruh yang besar terhadap budaya di Nusantara. Khususnya
dalam proses pengindiaan di Asia Tenggara. Dalam hubungan
tersebut terdapat pelbagai teori mengenai proses masuknya India di
Nusantara. Hal tersebut didasarkan pada eratnya kehidupan

2
masyarakat India dengan sistem kasta membuat adanya pelbagai
anggapan mengenai proses masuknya budaya India di Nusantara.
Berkembangnya pengaruh India tidak hanya menghasilkan
budaya material, namun secara hampir keseluruhan masyarakat
Indonesia telah akrab dengan kebudayaan India yang secara garis
besar memiliki kesamaan kepercayaan yang dianut oleh
masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Kepercayaan tersebut
ialah animisme dan dinamisme. Dimana kepercayaan terhadap
benda dan roh halus yang bersifat mistik tersebut telah mendarah
daging terhadap kehidupan masyarakat Indonesia sejak masa
prasejarah. Mudahnya budaya India yang masuk di Nusantara
secara tidak langsung juga mempengaruhi perkembangan
kepercayaan (sistem religi) yang dianut masyarakat Indonesia,
khususnya Jawa.
Adanya kesamaan antara agama Hindu maupun Buddha
terhadap kepercayaan asli yang dianut masyarakat Jawa membuat
masyarakat menerima baik agama tersebut. Sejak saat itu,
masyarakat Indonesia, khususnya Jawa memiliki kepercayaan
terhadap dewa-dewa yang diyakini sebagai Tuhan mereka.
Eksistensi agama Hindu maupun Buddha memiliki pengaruh yang
besar terhadap kehidupan masyarakat Jawa. Hal tersebut karena
agama tersebut juga memiliki unsur-unsur mistik. Masyarakat
Jawa memiliki karakter religious dan bertuhan. Hal tersebut terlihat
ari fakta sejarah bahwa mereka mempunyai kepercayaan adanya
Tuhan yang mengayomi dan melindungi (Karomi, 2013: 288).
Namun, eksistensi agama Hindu maupun Buddha kian
meredup dikarenakan masuknya budaya Islam di Indonesia. Agama
Islam ternyata juga mendapatkan respon baik karena dalam agama
Islam tidak mengenal sistem kasta. Oleh karena itu, banyak dari
masyarakat yang berpindah untuk masuk Islam terutama bagi
kalangan masyarakat bawah. Penyebaran Islam di Jawa memiliki
pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Jawa selanjutnya.

3
Penyebaran Islam dilakukan dengan cara yang lebih mudah
dimengerti oleh masyarakat yang membahas tentang aqidah,
syariah dan akhlak. Oleh karena itu, didalam agama Islam tidak
terdapat perbedaan antara suku, ras dan negara (Safrizal, 2015:
236). Selain itu, cara penyebaran agama Islam disesuaikan dengan
masyarakat Jawa yang masih kental akan hal mistik. Oleh karena
itu, Islam di Jawa disebut sebagai Islam Nusantara karena
masyarakat meskipun beragama Islam tetap menjalankan tradisi
adat dari nenek moyang.
Kelompok masyarakat di Mojokuto (Pare) terbagi menjadi tiga
golongan yaitu Priyayi, Santri dan Abangan. Ketiga golongan
tersebut dikonsepkan sebagai berikut: 1) Priyayi menekankan pada
aspek Hindu dan disosialisasikan dengan unsur birokrasi, 2) Santri
menekankan aspek Islam sinkretisme serta umumnya
diasosiasikan dengan unsur pedagang dan sebagian kecil kaum
petani, 3) Abangan, menekankan aspek animism sinkretisme Jawa
secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan
unsur petani desa (Geertz, 2013: 572). Golongan Priyayi dan
Abangan akan dikaji lebih dalam oleh penulis karena kedua
golongan tersebut memiliki peran dalam proses lahirnya aliran
kebatinan di Pare, tertutama bagi golongan Abangan. Hal tersebut
sesuai dengan latar belakang mereka bahwa masyarakat Abangan
memiliki pandangan akan kentalnya unsur kejawen yang telah
mendarah daging pada kehidupan sosial mereka. Meskipun mereka
telah menerima Islam sebagai agamanya, mereka sulit untuk
melepaskan tradisi yang telah mengakar pada kehidupan
masyarakat Jawa. berbeda dengan golongan Santri yang telah
benar-benar menerima ajaran Islam dan mulai meninggalkan dunia
mistik. Sedangkan kaum Priyayi secara tidak langsung juga
mempertahankan unsur kejawen dikarenakan adanya hubungan
dengan agama Hindu yang dianutnya.

4
Beberapa aliran kebatinan lahir sebagai dampak dari kondisi
pasca kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Proses
penjajahan Bangsa Asing yang terlampau lama mengakibatkan
degradasi moral masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut cukup
memprihatinkan karena penjajahan mempengaruhi mental serta
moral bangsa yang dijajah sehingga menimbulkan masalah sosial
pada kehidupan masyarakat. Eksistensi aliran kebatinan di Jawa
tidak terlepas dari perkembangan budaya yang ada di Indonesia
sejak zaman prasejarah hingga masa Hindu-Buddha (Hadiwijono,
1983: 7).
Krisis moral yang dialami masyarakat pasca kemerdekaan
melahirkan adanya kepercayaan yang bertujuan untuk
memperbaiki moral serta meningkatkan budi pekerti yang luhur
untuk tercapainya suatu kesempurnaan. Oleh karena itu,
masyarakat berupaya untuk mencari kepercayaan yang akan
diyakininya sesuai dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Aliran
kebatinan lahir sebagai upaya untuk mengembalikan moral serta
budi pekerti terutama bagi Bangsa Indonesia. Hal tersebut karena
Indonesia merupakan bagian dari Bangsa Timur yang terkenal akan
kekhasan sikap yang berbudi serta moral yang dipandang baik.
Selain itu, khususnya masyarakat jawa telah memandang mistisme
sebagai suatu bagian dari kehidupan. Hal tersebut tidak lepas dari
sejarah religi Indonesia yang telah mempercayai akan adanya
kekuatan gaib melalui suatu benda.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Mengapa terdapat aliran kebatinan di Pare?
2. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan sekte aliran
kebatinan di pare pada tahun 1952-1968?

5
1.3 Tujuan Penelitian
Beradasarkan rumusan masalah diatas, tujuan penulisan
kajian historiografi adalah sebagai berikut:
1. Untuk memaparkan alasan terdapat aliran kebatinan di Pare
2. Untuk memaparkan pertumbuhan dan perkembangan sekte
aliran kebatinan di pare pada tahun 1952-1968

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat bagi perkembangan historiografi
sejarah lokal di Pare serta untuk mengetahui kebenaran mengenai
adanya perkembangan aliran kebatinan di Pare yang belum banyak
diketahui masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga digunakan
untuk melestarikan aset bagian budaya asli Indonesia dalam hal
konsep religi, dimana kehidupan sosial masyarakat Jawa tidak bias
terlepas dari hal mistik. Oleh karena aliran kebatinan merupakan
local genius karena telah mempertahankan Budaya Jawa ditengah
derasnya arus globalisasi. Hal tersebut sangat terlihat, meskipun
masyarakat Jawa telah mengalami Islamisasi tidak sedikit dari
mereka yang masih mempertahankan tradisi lokal dalam
kehidupan sehari-hari. Penelitian ini didukung oleh sumber yang
memiliki relevansi kuat yang didapatkan dari data-data penelitian
berupa hasil wawancara, dokumentasi maupun kajian pustaka.

2. Manfaat Praktis
Dalam hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi:
1) Bagi Peneliti
Kajian penelitian historiografi memiliki manfaat bagi
peneliti khususnya untuk memngetahui akan pertumbuhan dan
perkembangan aliran kebatinan di Pare sebagai bentuk dari
ketahanan masyarakat Jawa terhadap pengaruh budaya asing.

6
Kajian historiografi ini juga sebagai bentuk ari corak keragaman
budaya dari segi unsur religi (kepercayaan) di Indonesia. Data
yang diperoleh peneliti dapat dijadikan sebagai kebenaran
karena bersumber pada hasil wawancara peneliti ke lapangan
serta merujuk pada sumber primer sehingga peneliti akan benar-
benar menambah wawasan bagi peneliti dalam kajiannya di
daerahnya sebagai sejarah lokal.
2) Bagi Masyarakat
Kajian historiografi ini dapat memberikan wawasan yang
lebih mendetail terkait sejarah di daerahnya. Bagi masyarakat
yang belum mengetahui akan sejaramh perkembangan aliran
kebatinan, kajian historiografi ini akan sangat berguna sebagai
wawasan baru masyarakat. Aliran kebatinan dinilai sebagai
warisan budaya yang membuktikan bahwa masyarakat
Indonesia memiliki kecerdasan pada tingkat spiritual yang tinggi.
3) Bagi Jurusan Sejarah
Kajian Historiografi ini bermanfaat sebagai khazanah Ilmu
Pengetahuan Sejarah di Jurusan Sejarah Universitas Negeri
Malang. Kajian historiografi ini juga menambah sebagai referensi
materi bagi jurusan sejarah. Dimana hasil penelitian ini dapat
dijadikan referensi (rujukan) bagi penulisan Sejarah dengan tema
yang sama pada penelitian selanjutnya.
4) Bagi Pemerintah
Penelitian ini dapat memberi acuan pada pemerintah akan
kesadaran bahwa di Indonesia memiliki kekayaan tidak hanya dari
segi sumber daya alam saja, melainkan kekayaan dari ragam
budaya. Mulai dari kesenian, suku bangsa, bahasa daerah hingga
religi. Dalam religi, kajian historiografi ini unik karena kepercayaan
aliran kebatinan tumbuh haya di tanah Indonesia. Aliran kebatinan
lebih menekankan aspek jawasentris karena masyarakat jawa tidak
dapat lepas dari unsur mistik dalam kesehariannya. Oleh karena
itu, peneliti berusaha memaparkan kebenaran data supaya

7
menghindari terjadinya ambiguitas dengan pihak manapun. Oleh
karena itu, kajian historografi ini dapat dijadikan sumbangan bagi
Pemerintah daerah dalam upayanya untuk mengembangkan
historiografi yang menjadi ikonik tersendiri bagi daerah tersebut.

1.5 Ruang Lingkup


1. Aspek Temporal
Aspek temporal dalam penelitian yang Berjudul “Pertumbuhan
dan Perkembangan Sekte Aliran Kebatinan di Pare pada Tahun
1952-1968” ini dibatasi pada aspek temporal pada masa pasca
kemerdekaan khususnya di wilayah Pare. Namun, ada beberapa
aliran kebatinan yang lahir pada masa sebelum kemerdekaan
Negara republik Indonesia. Sehingga peneliti juga akan memberikan
penyajian informasi mengenai hal tersebut. Sajian informasi
tersebut digunakan sebagai pendukung kebenaran data bahwa
perkembangan aliran kebatinan pasca kemerdekaan Negara
Kesatuan republic Indonesia telah ada sebelum Indonesia merdeka.
Hal tersebut karena faktor penjajahan Bangsa Asing yang membuat
kehidupan masyarakat Indonesia mengalami penderitaan. Sebagai
kota kecil yang subur, Pare memiliki keunikan dikarenakan
banyaknya aliran kebatinan muncul serta berkembang di wilayah
Pare bahkan diterima baik oleh masyarakat Pare. Hal tersebut
penting untuk dikaji secara lebih mendalam mengenai
pertumbuhan dan perkembangan aliran kebatinan di Pare pada
masa pasca kemerdekaan Negara Kesatuan republik Indonesia.
2. Aspek Spasial
Aspek Spasial dari penelitian kajian historiografi ini secara
jelas terletak Di Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Lingkup
penelitian ini sebenarnya hanya berfokus pada pertumbuhan dan
perkembangan sekte aliran kebatinan di Pare. Namun, karena
pertumbuhan aliran kebatinanyang berkembang di Pare tidak
hanya bersal dari wilayah Pare. Maka akan dijelaskan pula aliran

8
kebatinan yang tumbuh di wilayah luar Pare. Oleh karena itu
peneliti juga akan membahas wilayah lain sebagai tempat lahirnya
aliran kebatinan yang kemudian menyebar hingga berkembang di
wilayah Pare.
3. Fokus Penelitian
Fokus penelitian dalam kajian historiografi ini adalah untuk
menganalisis mengenai pertumbuhan dan perkembangan aliran
kebatinan di Pare pada tahun 1952-1968 atau lebih tepatnya
kondisi pada pasca kemerdekaan. Peneliti tertarik untuk mengkaji
lebih dalam mengenai beberapa aliran kebatinan yang tumbuh dan
berkembang di wilayah Pare. Hal tersebut dikarenakan rasa
keingintahuan peneliti mengenai sekte atau kelompok kebatinan
apa saja yang pernah berkembang di wilayah Pare. Hasil dari
penelitian ini berupa kajian historiografi yang dapat dijadikan
sebagai bahan literatur tambahan guna memperkaya wawasan dan
ilmu bagi pembaca. Hal tersebut dikarenakan sekte-sekte aliran
kebatinan masih awam untuk dibahas masyarakat secara luas,
khususnya sekte yang pernah berkembang di Pare. Bahkan sampai
saat ini masih dianut oleh sebagian masyarakat Pare.
Terbatasnya literatur mengenai agama kebatinan membuat
masyarakat memberikan stereotip negative tentang sekte-sekte
aliran kebatinan yang berkembang di kalangan masyarakat,
terutama bagi mereka penganut agama besar. Salah satu contohnya
adalah agama Islam, dimana masyarakat yang beragama Islam
menganggap aliran kebatinan adalah hal yang tidak dapat dilogika
dengan akal sehat. Oleh karena itu, sebagian mengatakan bahwa
aliran kebatinan termasuk dalam kategori musyrik. Namun, bagi
pendukung budaya jawa atau yang biasa disebut sebagai “kejawen”
aliran kebatinan merupakan hasil dari ketahanan masyarakat
terhadap budaya Jawa sebagai akibat krisis moral yang dialami
masyarakat pada masa penjajahan.

9
Pada dasarnya, perkembangan aliran kebatinan melahirkan
kontroversi khususnya terhadap masyarakat secara umum. Oleh
karena itu, respon yang ditunjukkan pemerintah mengenai
tuntutan masyarakat penganut agama aliran kebatinan yang ingin
juga mendapatkan hak dalam kebebasan beragama. Salah satunya
adalah tuntutan kepada pemerintah untuk mengakui secara resmi
aliran kebatinan sebagai salah satu bagian dari agama besar di
Indonesia.
Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk dikaji sebagai
penambah wawasan masyarakat. Selain itu, penelitian ini juga
merupakan hasil pengembangan penelitian sebelumnya. Namun
perbedaannya bahwa penelitian ini tidak hanya membahas satu
sekte aliran kebatinan yang berkembang di wilayah Pare. Namun,
beberapa sekte yang pernah tumbuh maupun berkembang di
wilayah Pare akan di bahas dalam penelitian ini. Kajian historiografi
ini berguna untuk masyarakat, selain sebagai penambah wawasan
terhadap kurangnya literatur yang membahas mengenai aliran
kebatinan. Kajian historiografi ini dapat menjadikan refleksi bagi
pembaca mengenai materi yang disajikan yang membahas tentang
aliran kebatinan di Pare. Sehingga masyarakat dapat mengambil
nilai-nilai positif terhadap apa yang disampaikan dalam kajian
historiografi serta menjadikannya sebagai warisan budaya asli
Indonesia untuk tetap hidup damai ditengah perbedaan. Oleh
karena itu, kajian historiografi ini sangat menarik untuk diuraikan.

1.6 Kajian Pustaka


1. Kondisi Demografi Wilayah Pare
Menurut Fatimah (2011: 40-410) berdasarkan data yang
diperoleh, Kecamatan Pare berada dibawah kawasan Kabupaten
Kediri dan memiliki luas 100,00 km2 dengan curah hujan mm/hari
13,4466 . Kecamatan Pare dibatasi oleh kecamatan-kecamatan lain
sebagai berikut:

10
1) Selatan berbatasan dengan Kecamatan Puncu, Kecamatan
Plosoklaten dan Kecamatan Gurah
2) Utara berbatasan dengan Kecamatan Badas
3) Barat berbatasan dengan Kecamatan Pagu dan Kecamatan
Plemahan
4) Timur berbatasan dengan Kecamatan Kepung dan Kecamatan
Kandangan
Masyarakat yang tinggal di wilayah Pare mayoritas berprofesi
sebagai petani. Selain itu, terdapat pula profesi lainnya seperti
buruh pabrik yang bekerja pada industri maupun kuli bangunan
kontruksi maupun jasa, pedagang, penggalian hingga pegawai
negeri sipil.
Berdasarkan data ststistik kecamatan, dalam kondisi sosial
dan kegamaan, masyarakat Pare mayoritas beragama Islam. Agama
Islam di kecamatan ini sudah mewarnai pola kehidupan sosial
masyarakat Pare. Menurut Fatimah (2011: 42-43) bagi masyarakat
Pare, agama dianggap sebagai hal yang suci atau sakral yang harus
dibela serta merupakan pedoman hidup bagi manusia. Oleh karena
itu, masyarakat Pare sangat menjaga tata perilaku terhadap sesama
manusia terutama terhadap golongan yang dihormati seperti guru
besar dalam suatu agama. Di kecamatan Pare sering diadakan
kegiatan yang bersifat keagamaan. Bagi umat Islam yang berada di
Pare tentunya tidak asing dengan acara selamatan bagi yang baru
lahir maupun seseorang yang sudah meninggal, pengajian (ceramah
kegiatan), yasinan, tahlilan dan kegiatan agama lainnya. Tujuan
diadakannya acara tersebut adalah untuk meningkatkan rasa
keakraban antar tetangga atau kerabat.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti menggunakan teori
strukturalisme Levi-Strauss bahwa setiap aktivitas sosial dan
hasilnya merupakan perangkat tanda dan simbol yang
menyampaikan pesan-pesan tertentu (Ahimsa-Putra, 2001: 67).

11
Kondisi sosial masyarakat Pare mempengaruhi kepercayaan
yang berkembang dikalangan masyarakat. Pada umumnya
masyarakat Jawa terikat pada mistisme.
2. Agama
Agama merupakan suatu kepercayaan yang diyakini oleh
manusia. Menurut Hakiki (2011: 63) fungsi utama agama atau
kepercayaan adalah memandu kehidupan manusia agar
memperoleh keselamatan di dunia mapun di akhirat setelah
kematian. agama mengajarkan kasih sayang kepada sesama serta
dengan makhluk Tuhan lainnya seperti hewan, tumbuhan,
manusia maupun dengan Tuhan. Agama menjadikan pedoman
hidup manusia ketika berada di dunia semasa hidupnya. Agama
mengajarkan kepada manusia mengenai bagaimana mengatur
hubungan dengan Tuhan, cara berkomunikasi yakni dengan cara
beribadah sesuai dengan ketetapan pada setiap agama. Selain itu
dalam agama juga diajarkan perintah yang harus dilaksanakan
serta dilarang. Jika seseorang ingin mendapatkan kedamaian hidup
dunia maupun akhirat maka harus menaati serta mengamalkan
ajaran agamanya.
Agama yang berkembang di Indonesia dan telah diakui secara
resmi oleh pemerintah saat ini ada enam agama, diantaranya:
Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha dan
Konghuccu. Namun, terdapat agama-agama yang berkembang di
suatu wilayah kecil, sebatas pada lingkup lokal. Umumnya, agama
tersebut merupakan suatu aliran kepercayaan yang ajarannya
diturunkan melalui manusia yang dipilih Tuhan. Semua agama
mengajarkan tentang hal kebaikan dalam berhubungan dengan
manusia. Dalam hal tersebut, termasuk aliran kebatinan juga
mengajarkan hal-hal kebaikan yang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan pemerintah setempat. Hal tersebut
dikarenakan perkembangan aliran kebatinan muncul pada saat
kondisi Indonesia mengalami krisis moral. Aliran kebatinan muncul

12
sebagai suatu jalan untuk menyelesaikan permasalahan yang
terjadi di Indonesia dengan cara mengembalikan ajaran moral serta
budi pekerti yang mulai luntur pada kalangan masyarakat
berdasarkan pandangan budaya Jawa.
Kehadiran aliran kebatinan ternyata berpengaruh bagi
kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut karena pada saat
Indonesia dijajah Bangsa Asing, terjadi degradasi moral yang
menyebabkan Bgsa Indonesia kehilangan jati dirinya. Oleh karena
itu, masyarakat Jawa khususnya kaum priyayi berusaha mencari
jati diri dengan berkomunikasi secara personal dengan Tuhan
(meditasi) untuk mendapatkan petunjuk. Pada perkembangannya,
aliran kebatinan memiliki pengikut yang cukup banyak. Namun,
terlepas dari hal tersebut aliran kebatinan menimbulkan
kontroversi terhadap masyarakat yang menganut agama besar.
misalnya islam yang menganggap bahwa aliran kebatinan dianggap
sebagai agama yang menyimpang.
3. Budaya Jawa “ Kejawen”
Konsep mistik lahir sebagai hasil akulturasi kebudayaan
Jawa dengan unsur kebudayaan dari luar seperti Hindu, Buddha
maupun Islam. Realitasnya, masyarakat Jawa khususnya
masyarakat Pare memandang kejawen adalah suatu pandangan
dasar terhadap kebudayaan yang masuk. Oleh karena itu, agama-
agama yang berkembang di Jawa tidak selalu murni sesuai dengan
asal Negara aslinya. Namun, telah terjadi pencampuran dengan
unsur-unsur jawa. budaya Jawa atau kejawen lahir dari pandangan
hidup masyarakat Jawa. Menurut Geertz (2013: 584) Budaya Jawa
atau sering disebut sebagai Jawaisme yang memiliki unsur
mistisme yang dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Kerangka dasar kejawen yang menekankan fungsionalitas
kesujudan, ritus panembah, manages ing Hyang dan sumungkem
ing Gusti perlu diakui sebagai faktor penggerak studi kebudayaan
dalam arti luas. Kepercayaan terhadap kebesaran dan keesaan

13
Tuhan amatlah berakar dalam rasa-budaya Jawa sehingga
masyarakat dihadapkan pada misteri yang kemudian mengarah
pada mistisme sehingga kemudian masyarakat luluh dlam persepsi
akulturatif (Sastroatmodjo, 2006: 5).
4. Mistisme
Masyarakat Jawa memiliki keragaman budaya dalam
kepercayaan agama yang dianutnya. Masyarakat Jawa terkenal
akan tradisi kejawen yang erat hubungannya dengan mistisme.
Menurut Fikriono (2012) Secara umum, para peneliti telah
menyepakati bahwa kejawen adalah suatu kepercayaan tentang
pandangan hidup yang diwariskan oleh para leluhur tanah Jawa.
Menurut Geertz (2013,445) mistik merupakan aspek religius yang
khas dari kehidupan masyarakat Jawa. Sedangkan menurut
Nicholson (1998, 22) mistik merupakan keyakinan yang dipandang
sebagai kemajuan dalam kehidupan rohani bagi suatu bangsa.
5. Aliran Kebatinan
Menurut Hakiki (2011: 67) istilah “kebatinan” berasal dari
kata “batin” dalam bahasa Arab yang berarti “didalam” atau “yang
tersembunyi”. Karena sifatnya tersembunyi, kebatinan sangat sulit
untuk dirumuskan karena bersifat subjektif. Beberapa definisi
aliran kebatinan sebagai berikut: terambil dari kata “batin” yang
artinya dibagian dalam. Dapat dikemukakan H.M Rasyidi yang
mengatakan bahwa kata “batiny” yang dapat diartikan sebagai
orang-orang yang mencari arti yang dalam dan tersembunyi dalam
kitab suci.
6. Local Genius
Local genius merupakan suatu ketahanan yang dimiliki
masyarakat Indonesia dalam menanggapi kebudayaan yang masuk.
Konsep local genius telah dimiliki masyarakat Indonesia sejak
zaman prasejarah. Dalam hal religi, hal tersebut dibuktikan melalui
ketahanan yang dimiliki masyarakat Indonesia. meskipun
menadpatkan pengaruh budaya asing berupa sistem religi, namun

14
masyarakat Indonesia tidak serta merta untuk mengadopsi budaya
tersebut. Namun mengambil sisi baik dari budaya yang datang
sebagai budaya yang baru. Kemudian mencampurkannya dalam
budaya asli sehingga terciptalah suatu ketahanan atau yang
disebut sebagai local genius maupun local identity.
Konsep local genius juga diterapkan oleh masyarakat
penganut agama aliran kebatinan dengan mempertahankan nilai-
nilai luhur budaya Jawa kemudian diaplikasikan dalam suatu
bentuk agama yang diyakini masyarakat. Konsep local genius dalam
aliran kebatinan adalah masyarakat tetap mempercayai adanya
unsur mistis sebagai warisan budaya asli, sedangkan mempercayai
bahwa Tuhan itu ada tunggal sebagai bentuk adopsi terhadap
agama Islam.

1.7 Metode Penelitian


Metode yang akan digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini
adalah metode penelitian sejarah. Garrahan (dalam Abdurahman
2007: 53) menyatakan metode penelitian sejarah adalah
seperangkat aturan dan prinsip sistematis untuk mengumpulkan
sumber-sumber sejarah secara efektif, menilainya secara kritis, dan
mengajukan sintesis dari hasil-hasil yang dicapai dalam bentuk
tertulis. Sependapat dengan pernyataan Gottschalk (2006: 32)
menjelaskan bahwa metode penelitian sejarah adalah suatu proses
menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan
masa lampau. Prosedur penelitian sejarah meliputi empat langkah
yaitu: (1) heuristik, (2) kritik, (3) interpretasi dan (4) historiografi.
1) Heuristik
Langkah pertama dalam penelitian ini adalah heuristik.
Heuristik merupakan proses mengumpulkan data atau menemukan
sumber-sumber yang dibutuhkan dan dipergunakan sebagai bahan
penulisan sejarah. Sumber-sumber yang dibutuhkan berupa
sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dapat

15
diperoleh dari kegiatan observasi dan wawancara di lokasi
penelitian yaitu di Kecamatan Pare tepatnya di desa Kauman
kompleks pasar lama Pare.
Observasi merupakan proses pengamatan dan pencatatan
secara sistematis terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu
gejala pada objek penelitian (Nawawi, 1990 : 94). Pengumpulan data
dapat dilakukan dengan cara melihat, mendengarkan dan mencatat
dengan sebenar-benarnya informasiyang telah didapat. Observasi
diartikan sebagai sebuah studi yang disengaja, dengan cara
pengamatan dan pencatatan (Kartono, 1990: 143).
Respon dari narasumber adalah sebuah media untuk
memperoleh semua perasaan, pengalaman, emosi yang
disampaikan oleh narasumber sebagai sumber penelitian pada saat
proses wawancara berlangsung (Gulo, 2002:119). Pelaksanaan
wawancara dilakukan dengan Ibu Sri Rahayu sebagai anggota salah
satu aliran kebatinan di Pare. Selain sumber primer, peneliti juga
menggunakan sumber sekunder berupa literatur atau buku yang
relevan serta hasil penelitian terdahulu.
2) Kritik
Tahap selanjutnya setelah data terkumpul adalah
mengadakan penilaian dan kritik terhadap sumber data yang
diperoleh baik tulis maupun lisan untuk mencari keauntentikan
sumber yang telah diperoleh (Gottschalk, 1975). Kritik adalah
kegiatan menguji atau menyeleksi sumber-sumber sejarah dalam
rangka mendapatkan fakta sejarah. Kritik digunakan sebagai usaha
untuk mempertimbangkan apakah sumber atau data yang diproses
benar-benar diperlukan atau tidak (Widja, 1988: 21). Tujuan kritik
adalah untuk menyeleksi data sebagai fakta.
Kritik sejarah meliputi kritik ekstern dan intern. Kritik
ekstern dilakukan untuk menilai keaslian sumber dan kebenaran
sumber yang diperoleh dengan cara melihat fisik dari sumber yang
meliputi bentuk buku, tulisan, latar belakang penulisan, tahun

16
penerbian dan lain sebagainya. Sedangkan kritik intern adalah
kegiatan meneliti kebenaran isi sumber. Peneliti membandingkan
sumber yang satu dengan sumber yang lainnya yang diperoleh dari
hasil wawancara dengan salah satu anggota aliran kebatinan di
Pare, kemudian dipilih kevalidan sumber dengan cara mengambil
data-data yang lebih banyak jumlahnya dalam mengungkap sebuah
fenomena yang telah dikaji, yaitu Perkembangan Aliran Kebatinan
di Pare. Peneliti juga melakukan kritik sumber terhadap sumber
dokumen. Peneliti melakukan penilaian terhadap isi sumber. Isi
sumber tersebut dapat dijadikan sebagai sumber penelitian yang
teruji kebenarannya atau tidak.
3) Interpretasi
Tahap berikutnya adalah melakukan interpretasi. Interpretasi
diartikan sebagai langkah dalam menafsirkan keterangan sumber
yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti dan menjadi
fakta yang logis, kronologis dan faktual untuk mendapatkan fakta
yang berarti, masuk akal dan mendapatkan kesesuaian (Widja,
1988: 23). Fakta-fakta yang diperoleh diperoleh diseleksi kemudian
dipilih mana yang relevan. Interpretasi dilakukan dengan
menganalisa data-data yang telah melewati proses kritik dirangkai
hingga menjadi kesatuan informasi yang relevan dan masuk akal.
Rangkaian tersebut harus rasional agar menghasilkan generalisasi
yang kemudian menemukan kenyataan sejarah. Berdasarkan
urutan kejadian peristiwa yang dikaji peneliti, maka interpretasi
peneliti menghasilkan fakta bahwa adanya aliran kebatinan yang
berkembang di Pare.
4) Historiografi
Langkah terakhir dalam metode penelitian sejarah adalah
historiografi. Historiografi merupakan cara penulisan, pemaparan
atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan.
Peneliti memberikan gambaran yang jelas mengenai proses
penelitian dari awal (fase perencanaan) sampai dengan fase akhir

17
(penarikan kesimpulan). Jadi dapat disimpulkan historiografi
merupakan penulisan sejarah yang diperoleh dari fakta-fakta
sejarah dan dirangkai menjadi cerita sejarah yang menarik. Dengan
demikian peneliti dapat merekonstruksi pertumbuhan dan
perkembangan sekte aliran kebatinan di Kecamatan Pare pada
tahun 1952-1968. Langkah historiografi yang dilakukan oleh
peneliti adalah dengan dari data-data yang telah diperoleh menjadi
cerita yang sitematis dan kronologis.

1.8 Sistematika Penulisan


Pada penelitian ini sistematika penulisan laporan historiografi
yakni sebagai berikut:
1. Bab I merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang
lingkup penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan
sistematikan penulisan
2. Bab II merupakan gambaran umum atau konsep umum bahasan
3. Bab III merupakan uraian singkat sejarah aliran kebatinan
4. Bab IV merupakan pembahasan dari rumusan masalah
5. Bab V merupakan penutup.

18
BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 Aliran Kebatinan sebagai Representasi Budaya Kejawen


Masyarakat Jawa sangat kental akan tradisi dan budaya.
Tradisi dan budaya Jawa mendominasi tradisi dan budaya nasional
di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan banyaknya orang Jawa yang
menjadi elite Negara yang berperan dalam ketatanegaraan di
Indonesia sejak sebelum kemerdekaan dan sesudahnya.
Masyarakat Jawa kental akan tradisi kejawen yang diterapkan
dalam adat istiadat.
Geertz (2013: 572) membagi kondisi sosial masyarakat Pare
menjadi tiga golongan yaitu Priyayi, Santri dan Abangan. Ketiga
golongan tersebut dikonsepkan sebagai berikut: 1) Priyayi
menekankan pada aspek Hindu dan disosialisasikan dengan unsur
birokrasi, 2) Santri menekankan aspek Islam sinkretisme serta
umumnya diasosiasikan dengan unsur pedagang dan sebagian kecil
kaum petani, 3) Abangan, menekankan aspek animisme sinkretis
Jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan
dengan unsur petani desa.
Hal tersebut dikarenakan masyarakat sering percaya akan
adanya tahayul terutama bagi masyarakat kelas rendah yang masih
kuat mempercayai ramalan. Mereka mudah menjadi korban
fanatisme agama, dan memuja tanpa keberatan yang menganggap
sebagai hal supranatrural. Selain itu, paham Islam tidak mampu
membebaskan masyarakat dari kekuatan supranatural yang
bersifat mistik. Sehingga penduduk Jawa menggabungkan
kepercayaan dari dua agama (Raffles, 2014: 155).
Kondisi tersebut membuat masyarakat jawa, termasuk Pare
sulit untuk melepaskan tradisi kejawen yang telah mengakar. Pada
saat Indonesia mengalami penderitaan akibat penjajahan Bangsa
Asing. Beberapa tokoh cendikiawan serta supranatural mulai dari

19
golongan priyayi hingga abangan untuk mencari pencerahan
terhadap sang Kuasa. Penerapan budaya Islam yang tidak
dijalankan sesuai dengan Islam asalnya membuat masyarakat
masih mempercayai hal mistik yang jelas dilarang dalam hukum
Islam. Namun, hal ini dianggap wajar bagi masyarakat. Menuurut
Hadiwijono (1983: 5) agama-agama besar belum mampu
menyelesaikan permasalahan yang ada pada msyarakat.
Aliran kebatinan tidak hanya lahir dari golongan abangan,
namun juga lahir dari golongan priyayi Jawa. Wilayah Pare
merupakan salah satu wilayah yang pada zamannya memiliki daya
tarik terhadap eksistensi perkembangan aliran kebatinan sebagai
representasi budaya Jawa. Aliran-aliran kebatinan merupakan
sekumpulan kecil yang terkumpul dari sekte-sekte kebatinan.
Telah dijelaskan sekte aliran kebatinan muncul karena
kondisi masyarakat Indonesia mengalami penderitaan akibat
penjajahan Bangsa Asing. Bagi Indonesia, penjajahan tersebut
menimbulkan penderitaan masyarakat secara berkepanjangan.
Sehingga berdampak pada degradasi moral. Oleh karena itu, aliran
kebatinan muncul sebagai penawar krisis moral yang dialami
masyarakat. Ajaran kebatinan mengajarkan budi pekerti serta
memperbaiki mental serta moral masyarakat.
Pada dasarnya, aliran kebatinan memiliki kesamaan dalam
kepercayaan bahwa Tuhan itu Esa, namun setiap sekte memiliki
cara sendiri-sendiri untuk melakukan komunikasi dengan Tuhan.
Di wilayah Pare sekte-sekte aliran kebatinan tidak hanya muncul di
Pare, melainkan juga berasal dari Jawa Tengah yang kemudian
berkembang di Pare. Aliran kebatinan merupakan hasil representasi
filsafat nenek moyang yang pernah diamalkan sebelum adanya
perkembangan agama di Nusantara. Berkembangnya aliran
kebatinan di Mojokuto merupakan bentuk bangkitnya kembali
kepercayaan asli Indonesia.

20
BAB III
SEJARAH ALIRAN KEBATINAN

Aliran kebatinan yang dikenal sebagai kepercayaan terhadap


Tuhan Yang Maha Esa merupakan suatu sistem kepercayaan
spiritual yang muncul dan berkembang di Indonesia. Kepercayaan
ini merupakan bagian dari budaya bangsa dalam aspek religi.
Tradisi adat yang berhubungan dengan roh maupun benda gaib
telah dipercaya sejak zaman nenek moyang pada masa prasejarah.
Seiring perkembangan zaman, kedatangan agama dari Negara lain
meskipun berpengaruh terhadap perubahan masyarakat Indonesia
tidak membuat masyarakat Indonesia dengan mudah tradisi
kejawen yang penuh dengan hal mistik tersebut.
Aliran kebatinan mulai dikenal pada tahun 1950an sampai
1960an yang muncul dalam berbagai bentuk gerakan atau
perguruan kebatinan. Masing-masing perguruan kebatinan
dipimpin oleh seorang guru kebatinan yang mengajarkan ilmunya
kepada para pengikutnya yang diperoleh berdasarkan wahyu dari
Tuhan (Sofwan, 1999: 1). Adanya aliran kebatinan dilatar belakangi
oleh kondisi sosial masyarakat yang dapat dinilai memprihatinkan
akibat penindasan penjajahan bangsa Barat. Aliran kebatinan
sebenarnya telah ada sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.
namun eksistensinya muncul pasca kemerdekaan Indonesia.
Globalisasi dan modernisasi sebenarnya adalah sebuah era
dimana dunia ini seakan tidak bersekat, batas-batas territorial
seakan tak tak berarti. Dalam era globalisasi interaksi antar
budaya, peradaban dan Negara semakin mudah dilakukan. Adanya
proses saling mempengaruhi satu sama lain. Pada akhirnya
globalisasi menjadi alat untuk saling mempengaruhi antara budaya,
peradaban, ideology, dan peradaban telah terkontaminasi dari
pengaruh unsur-unsur lain. Konsekuensinya adalah masuknya
ideologi dilakukan dengan cara yang mudah sehingga akan terjadi

21
penularan globalisasi tidak sesuai dengan karakteristik kultur dan
sosialnya. Karena alasan-alasan tersebut maka sebagian kelompok
aliran kebatinan berusaha menghindar perkembangan modern.
Upaya yang dilakukan kelompok ini adalah dengan mulai
menelusuri nilai-nilai asli dahulu yang kini sudah terdesak dengan
arus modernisasi dan globalisasi (Hakiki, 2011: 68-69)

22
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Aliran Kebatinan di Pare

Pare merupakan salah satu kota kecil yang unik. Beberapa


aliran kebatinan pernah mengalami kemajuan di wilayah Pare.
Berdasarkan sejarahnya, pada masa Hindu-Buddha wilayah Pare
merupakan bekas wilayah Majapahit. Hal tersebut didasarkan akan
banyaknya temuan situs-situs Hindu-Buddha di Pare.

Pada masa Islam, wilayah Pare mengalami perubahan pesat.


Hal tersebut dapat dilihat mengenai proses Islamisasi yang
dilakukan di daerah pedalaman Jawa, termasuk wilayah Pare.
Namun, Islamisasi tidak membuat masyarakat meninggalkan
kebisaan tradisi yang sudah mengakar kuat. Meskipun pada
akhirnya agama-agama modern mampu menggeser kedudukan
agama Jawa sehingga eksistensinya sempat meredup (Syafrizal,
2015).

23
Selain agama Islam, terdapat agama lainnya seperti Kristen
Protestan Kristen Katolik yang tersebar di beberapa titik desa-desa
yang mengalami Kristenisasi. Sebagian kecil lainnya beragama
Hindu dan Buddha. Meskipun Pare merupakan masyarakat
multikultural, namun masyarakat Pare hidup dengan kedamaian.

Telah diuraikan mengenai adanya aliran kebatinan di Pare


disebabkan karena Pare merupakan wilayah yang subur. Kondisi
sosial masyarakat di Pare termasuk multikultural. Berbeda dengan
wilayah lainnya. Masyarakat Pare memegang teguh tradisi kejawen
yang dianggap sebagai bagian dari nilai-nilai luhur budaya Jawa
yang perlu dipertahankan.

Geertz (2013: 572) telah membagi tiga golongan masyarakat


Pare. Hal ini Pare memiliki wilayah tersendiri karena setiap
golongan memiliki peranannya masing-masing. Diantaranya adalah
Priyayi, santri dan abangan. Bagi masyarakat Pare agama
merupakan suatu elemen penting sehingga masyarakat Pare sangat
memperhatikan etika-etika dalam bersikap. Sebagian besar
masyarakat Pare menganut agama Islam. Namun Islam di Pare
terbagi menjadi dua golongan yaitu Islam putihan yang dianut oleh
kaum santri serta Islam abangan yang sebagian besar dianut oleh
masyarakat petani kelas bawah karena masih mempercayai unsur-
unsur mistik untuk mendukung ketentraman hidupnya (misalnya
kepercayaan akan turunnya hujan untuk hasil panen yang
melimpah).
Aliran kebatinan merupakan hasil pemikiran filsafat nenek
moyang berdasarkan pengalaman dalam berkomunikasi dengan
Tuhan. Pada saat agama-agama besar masuk ke Nusantara,
masyarakat merespon baik pembawaan agama dari bangsa lain.

24
4.2 Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran Kebatinan di Pare
pada

1. Budi Setia
Didirikan pada masa pendudukan militer Belanda pada
tahun 1949 di Mojokuto (sekarang bernama Pare). Didirikan oleh
seorang elite “priyayi” federalis (sekarang guru kawruh kasunyatan).
Pada saat itu, terdapat larangan organisasipribumi, namun adanya
peran dari polisi Belanda yang ternyata juga sorang teosof.
Kemudian disarankan agar mendirikan kelompok kecil dibawah
pengarahan polisi Belanda tersebut untuk pertemuan secara
berkala dan melakukan meditasi demi perdamaian. Pertemuan
untuk bermeditasi dan membahas masalah keagamaan dilakukan
seminggu sekali di kediaman polisi Belanda tersebut. Hal tersebut
dilakukan untuk perdamaian serta kemenangan terhadap Belanda.
Kebanyakan anggota Setia Budia adalah pegawai yang berjumlah
sekitar 25-30 anggota. Guru spiritual bernama Wiryo (Geertz 2013:
490- 494).
Dalam perkembangannya, organisasi tersebut meluas
menjadi komunitas teosofi. Budi setia adalah aliran kebatinan yang
didirikan oleh kaum priyayi. Dilatarbelakangi kondisi kekacauan,
Budi setia mengharuskan kepada setiap anggotanya untuk
memikirkan secara batin bahwasannya pemberontakan seperti itu
dinilai jahat yang merupakan hasil dari egoism manusia. Pada
intinya aliran Budi Setia merupakan ajaran yang menentang egoism
dengan menyebarkan keyakinan untuk tujuan rohani. Dalam
perkembangannya mayoritas kelompok Budi Setia adalah anggota
PNI (Geertz, 2013: 501).

2. Sumarah
Paguyuban Sumarah didirikan di Yogyakarta pada tahun
1950 oleh dokter Soerono Prodjohoesodo. Beliau menjabat pada

25
tahun 1950-1972. Namun, ajaran Sumarah sudah diwahyukan
kepada R.Ng. Soekirnohartono seorang pegawai kesultanan
Yogyakarta. Ilmu Sumarah adalah mengenai sujud Sumarah
(menyerahkan diri) sampai bersatunya Dzat Yang Maha Esa. Ilmu
Sumarah diajarkan melalui istem pamong (pengasuhan), bukan
perguruan. Pertamuan Paguyuban Sumarah ini hanya untuk
bermeditasi. Paguyuban Sumarah dipandang sebagai latihan sujud
(Hadiwijono. 1983: 13-14).
Berdasarkan Geertz (2013: 495) Sumarah merupakan
paguyuban yang paling terorganisir karena memiliki konstitusi
tertulis, pertemuan antar cabang untuk bermeditasi bersama,
kongres nasional para guru kebatinan Sumarah, mendirikan
sekolah serta membantu orang miskin. Adanya konstitusi tertulis
tersebut untuk mengatur pengorganisasian formal serta mendapat
perdamaian lahir dan batin. Para kelompok harus mengucapkan
Sembilan janji sebagai berikut:
1) Anggota jamaah Sumarah percaya akan adanya Tuhan yang telah
menciptakan langit dan bumi serta semua yang terdapat
didalamnya dan mengakui para nabi serta kitab-kitab suci
2) Mereka berjanji untuk mengingat Tuhan dan tidak menyembah
diri sendiri dan mereka mencari kebenaran, Tuhan serta
penyerahan diri
3) Mereka berjanji akan berusaha menjaga kesehatan jasmani,
kedamaian rohani dan jiwa murni serta berwatak, berkata serta
bertindak mulia
4) Mereka berjanji mendukung persaudaraan universal atas dasar
cinta yang mendalam
5) Mereka berjanji memperluas tugas hidup sebagai warga Negara
menuju keagungan,kemuliaan dan mengusahakan perdamaian
serta ketertiban dunia.
6) Mereka berjanji untuk berbuat benar, tunduk kepada hukum
Negara, menghargai orang lain, tidak merendahkan kepercayaan

26
oranglain dan mencoba menjelaskan SUmarah dengan cinta
kepada semua orang serta menjelaskan bahwa semua agama
harus bersatu dalam aspirasi
7) Mereka berjanji akan berhenti berbuat jahat, menyakiti,
membenci, berbuat dosa dan semua kata serta perbuatan harus
benar dan tidak berpura-pura serta melakukan kewajibannya
dengan sabar, akurat tanpa tergesa-gesa dan kaku
8) Mereka berjanji memperluas pengetahuan mereka mengenai
soal-soal duniawi dan sisi dalam segala dari segala sesuatu
9) Mereka berjanji untuk tidak fanatik, tetapi bersandar kepada
kebenaran.

3. Kawruh Beja
Menurut Geertz (2013: 496) Perkumpulan kawruh Beja lebih
longgar ditingkat lokal karena kongres nasionalnya diselenggarakan
di Surabaya. Di Mojokuto (Pare) Kawruh Beja kebanyakan
memperhatikan spekulasi mengenai dasar-dasar metafisik dari
perasaan dan kejadian-kejadian yang dirasa, kemudian dituangkan
kedalam majalah bulanan “Dudu Kowe” yang diterbitkan di
Yogyakarta. Seseorang bias menjadi guru Kawruh Beja dengan
mempelajari majalah tersebut. Selain itu, terdapat serangkaian
buku khusus yang harus dipelajari serta kursus priadi selama lima
bulan. Isi dalam buku tersebut boleh didiskusikan dengan orang
lain yang juga mempelajarinya. Hal tersebut karena tidak ada
rahasia didalam pembahasan buku tersebut. Guru utama di
Mojokuto dulunya adalah soerang pegawai birokrasi sipil dan
pabrik gula Belanda. Pengikutnya adalah sekelompok kecil priyayi
tua yang berjumlah kurang lebih enam orang. Rapat diadakan
setiap bulan purnama yang dihadiri oleh sekitar orang desa
berjumlah sekitar tigapuluh orang serta pendatang dari kota lain.
Pertemuan tersebut hanya sekedar mendiskusikan masalah serta
membaca artikel yang terdapat dalam majalah “Dudu Kowe”, tidak

27
ada meditasi. Anggota Kawruh Beja mengatakan bahwa tidak
berurusan dengan apa yang tidak bias dialami secara langsung,
ajaran ini membangun sistem atas dasar fakta yang bias dipahami.
Bukan berarti aliran kebatinan ini tidak meyakini adanya Tuhan,
namun aliran ini membuktikan bahwa Tuhan itu benar Adanya.

4. Kawruh Kasunyatan
Menurut Geertz (2013: 499- 500), Kawruh Kasunyatan
didirikan oleh bangsawan Surakarta bernama Raden Mas Suwana
pada tahun 1925. Guru besar sekte ini merupakan seorang federalis
yang dulunya menjabat sebagai kepala desa di Mojokuto (Pare) yang
mengaku telah belajar dari pemimpin sekaligus pendirinya.
Sehingga langsung mendirikan cabang pertama di Mojokuto (Pare)
pada tahun 1927. Kawruh Kasunyatan merupakan kelompok
kebatinan paling tua di Mojokuto (Pare). Sekte ini bertemu 35 hari
sekali yaitu bertepatan pada hari Minggu Legi di kediaman guru
besar tersebut. Pertemuan itu berlangsung semalam penuh dan
terbuka untuk siapa saja. Namun, terdapat bagian khusus yang
dilakukan pda tengah malam sehingga tidak semua orang dapat
mengikutinya. Pertemuan tersebut kebanyakan berasal dari luar
Mojokuto (Pare), umumnya priyayi menjadi anggotanya. Pertemuan
tersebut mengundang banyak orang, bahkan mereka harus
berdesak-desakan untuk melakukan meditasi bersama setelah
tengah malam di kediaman guru.

5. Sapta Darma
Ajaran Sapta Darma merupakan aliran kebatinan yang
sederhana. Ajaran Sapta Darma berarti memiliki tujuh kewajiban
atau tujuh amal suci. Sedangkan tiga ajaran utama meliputi sujud,
wewarah tujuh serta sesanti. Tatacara ibadah ajaran Sapta Darma
dilakukan dengan cara sujud menghadap timur secara bersama-
sama di tempat ibadah (sanggar) maupun secara pribadi dirumah.

28
Sujud merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan Tuhan.
Oleh karena itu, sujud dilakukan dengan menghadap wetan (timur)
yang berarti wiwitan atau dimaknai sebagai asal mula manusia
(hasil wawancara dengan Ibu Sri Rahayu)
Menurut Hadiwijono (1983: 27) maksud ajaran Sapta Darma
adalah “ mengyu-hayu bagya bawana” yang berarti usaha agar
hidup manusia bahagia di dunia dan di akhirat. Berikut merupakan
lambang agama sapta Darma.

Gambar: Lambang agama Sapta Darma


(Sumber:
https://www.google.co.id/search?biw=1366&bih=623&tbm)
Berdasarkan simbol/ lambang Sapta Darma, manusia
dipandang sebagai suatu kombinasi dari roh dan benda. Roh berarti
jiwa manusia yang berasal dari Allah (cahaya Allah) yang dipandang
sama dengan hawa murni. Roh memberikan yang memberikan
hidup didalam jasmani manusia. Benda dalam tubuh manusia
terdiri dari sari bumi. Kombinasi roh dan benda terjadi melalui
perantara Adam dan Hawa (Ayah dan Ibu) sehingga manusia
merupakan suatu ketritunggalan yang terdiri atas sari Ayah, sari
Ibu yang berasal dari bumi serta sinar dari cahaya Allah (roh).
Setiap makhluk hidup diberikan kehidupan oleh Allah. Namun,
manusia diberikan hidup yang sempurna dari pada binatang and

29
tumbuhan karena memiliki hawa nafsu, budi dan pikiran. Oleh
karena itu, manusia harus mampu menguasai jasmaninya untuk
menaklukkan hawa nafsunya.
Selain itu, manusia harus menjalankan tujuh petuah
(wewarah pitu) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat,
yang meliputi sebagai berikut:
1) setia dan tawakkal terhadap Panca Sila Allah
2) menjalankan undang-undang Negara dengan jujur dan suci
3) turut serta menyingsingkan lengan baju dalam menegakkan nusa
dan bangsa
4) menolong dengan sesame tanpa mengharapkan pamrih
5) berani hidup berdasarkan kekuatan atas kepercayaan diri sendiri
6) bersikap memiliki budi pekerti yang halus dalam kehidupan
bermasyarakat, kekeluargaan serta memberikan jalan yang
memuaskan terhadap penyelesian masalah
7) meyakini bahwa dunia tidak abadi, melainkan selalu berubah.

6. Pangestu

Gambar: lambang ajaran kebatinan Pangestu


Sumber:
https://www.google.co.id/search?q=lambang+pangestu
Pangestu singkatan dari Paguyuban Ngesti Tunggal berarti
Persatuan untuk dapat bertunggal. Didirikan pada tanggal 20 Mei
1949 di Surakarta. Dalam serat Sasangka Jati agama Pangestu

30
sudah diwahyukan pada tanggal 14 Pebruari 1932 kepada Bapak
Soenarto Mertowerdojo di rumahnya di Widuran Surakarta. Sejak
kecil Bapak Soenarto memang orang yang gemar mencari jalan
kebenaran tuntunan Ilahi. Dari banyak guru spiritual yang
ditemuinya, tidak memberikan titik pencerahan kepada bapak
Soenarto sehingga memutuskan tidak berguru lagi. Ajaran aliran ini
disebut Suksma Jati. Inti dari pertemuan pangestu adalah olah rasa
yaitu pertemuan antara warga guna memperdalam ajaran sang
Guru Sejati. Di Mojokuto (Pare) sebagian kecil kelompok
masyarakat menjadi pengikut sekte Pangestu.

7. Ilmu Sejati
Menurut Geertz (2013: 456) Ilmu Sejati merupakan sekte
aliran kebatinan yang didirikan oleh Raden Mas Prawirosudarso di
Madiun pada tahun 1925. Didasarkan atas pengertian terhadap
Tuhan dan hidup. Tuhan berada dalam tubuh kita sendiri yang
diidentifikasi “Aku”. Hal tersebut berarti setiap individu harus
melihat kedalam dirinya sendiri untuk menemukan dan memahami
Tuhan. Selanjutnya, Tuhan tercermin dalam setiap nafas individu.
Dari uraian tersebut Ilmu Sejati kadang diidentifikasikan kedalam
Islam sejati. Hal tersebut membuat kalangan santri (Islam Putihan)
di Mojokutho (Pare) sempat marah karena pola syahadat yang
digunakan kata-kata lain yakni sebagai berikut: “Saya percaya
bahwa TUhan berada didalam diri saya sendiri dan nafas saya
adalah utusan-Nya (Nabi-Nya)”. Selain itu, cara meditasi yang
dilakukan adalah dengan cara mengatur pernafasan dan
mendengarkan pernafasannya sendiri dengan merasakan makna
tertinggi. Ajaran Ilmu Sejati dianggap bertentangan secara
diametral dengan prinsip Islam menurut santri. Perkembangan
Ilmu sejati di Mojokutho tidak terikat sebagai organisasi besar,
namun merupakan kelompok kecil yang menggunakan hubungan
guru dengan murid dalam mengajarkan ajarannya.

31
BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Aliran kebatinan merupakan suatu kepercayaan batin yang


barasal dari filsafat warisan Bangsa Indonesia. Aliran kebatinan
mengalami kebangkitan kembali karena adanya arus modernisasi
derta globalisasi yang berdampak akan lunturnya moral serta nilai-
nilai budi luhur masyarakat. Oleh karena itu, aliran kebatinan
muncul sebagai jawaban atas kondisi Indonesia mengalami krisis
moral. Selain itu, eksistensi aliran kebatinan berkembang kembali
pada masa Indonesia posisi penjajahan bangsa Asing. Terutama
pasca kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia indonesia
mengalami degradasi moral sehingga tidak sedikit masyarakat
mencari jati diri dengan cara menggali kembali nilai-nilai luhur
budaya bangsa.
Kota Pare merupakan sebuah kota kecil yang dulunya
bernama Mojokuto. Dimana beberapa aliran kebatinan pernah
berkembang sebagai agama lokal masyarakat Pare. Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan seorang antropolog bernama Geertz
bahwa Pare memiliki komposisi penduduk yang unik. Diantaranya
adalah golongan Priyayi, santri dan abangan. Dimana priyayi dan
abangan merupakan golongan yang memiliki peranan penting
dalam perkembangan aliran kebatinan di Pare.
Pare terkenal akan masyarakat yang menjunjung tinggi etika
religi. Selain itu, masyarakat pare juga masih memegang tegung
tradisi kejawen yang dijadikan pandangan hidup sebagai
masyarakat Jawa. oleh karena itu, agama di Pare memiliki corak
yang unik, berbeda dengan lainnya. Sebagai contoh Islam dibagi
menjadi dua golongan, yaitu Islam putihan yang merupakan

32
golongan santri serta Islam abangan yang merupakan golongan
yang masih memiliki kepedulian akan tradisi Jawa. Golongan
masyarakat abangan merupakan salah satu dari aktor dalam aliran
kabatinan selain priyayi.
Terdapat beberapa sekte aliran kebatinan yang tumbuh
maupun berkembang di Pare. Diantaranya adalah Budi Setia,
Sumarah, Kawruh Beja, Kawruh Kasunyatan, Sapta Darma
Pangestu. Meskipun sekte-sekte tersebut memiliki perbedaan,
namun ajaran yang diajarkan memiliki kesamaan dikarenakan
mempercayai adanya bahwa Tuhan itu Satu. Perkumpulan yang
mereka adakan umumnya dengan melakukan meditasi bersama
atau membahas masalah agama.

33
DAFTAR RUJUKAN

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss.


Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press.
Abdurahman, D. 2007. Metode Penelitian Sejarah. Yogjakarta: Ar-
ruzz Media.
Fikriono, Muhaji. Puncak Makrifat Jawa. Pengembaraan Barin Ki
Ageng Suryomentaram. Jakarta: Noura Books.

Fatimah, S. 2011. Penerapan kafa’ah nikah perspektif kiai


pesantren dan kiai akademisi di kecamatan pare kabupaten
kediri. Thesis. Malang: UIN Maliki (online),
etheses.uin-malang.ac.id/1897/8/05210073_Bab_4.pdf
diakses 17 November 2017.
Geertz, Clifford. 2014. Agama Jawa. Abangan, Santri, Priyayi dalam
Kebudayaan Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

Gottschalk, L. 2006. Mengerti Sejarah. Jakarta: Universitas


Indonesia Press.
Hadiwijoyo, Harun. 1983. Kebatinan dan Injil. Jakarta: BPK Gunung
Mulia.

Hardiati, E.S., Djafar H., Soeroso, Ferdinandus, P.E.J., & Nastiti,


T.S (Eds.). 2010. Zaman Kuno. Dalam R.P Soejono & R.Z
Leirissa (Eds.). Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai
Pustaka.
Hakiki, Kiki Muhammad. 2011. Aliran Kebatinan di Indonesia.
Jurnal Al-AdYaN, (online), vol. VI No. 2 hal. 63-76.
Koentjaraningrat. 2015. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka
Cipta.
Karomi, Kholid. 2013. Tuhan dalam Mistik Islam Kejawen. Kajian
atas Pemikiran Raden Ngabehi Ranggawarsita. Jurnal
Kalimah, (online), Vol. 2, (2), hal. 288-304

34
Sumber:https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/ka
limah/article/viewFile/97/87. Diakses 20 November
2017.
Liliweri, Alo. 2002. Makna Budaya dalam Komunikasi antar Budaya.
Yogyakarta: PT. LKiS.
Nicholson, Reynold A. 1998. Mistik dalam Islam. Jakarta: Bumi
Aksara.
Sastroatmodjo, Suryanto. 2006. Citra Diri Orang Jawa. Tangerang:
PT. Agromedia Jakarta.
Soejono, R.P. 2010. Zaman Prasejarah di Indonesia. Dalam Sejarah
Nasional Indonesia I. Jakarta : P.N Balai Pustaka.
Sofwan, Ridin. 1999. Kebaradaan Seluk Beluk Aliran Kebatinan.
Semarang: Aneka Ilmu.
Syafrizal, Achmad. 2015. Sejarah Islam Nusantara. Jurnal STAIN
Pamekasan (online), vol. 2 (2) hal. 236-253
http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/islamun
a/article/view/664/617.
Soejono, R.P. 2010. Zaman Prasejarah di Indonesia. Dalam Sejarah
Nasional Indonesia I. Jakarta : P.N Balai Pustaka.

35