Anda di halaman 1dari 25

GANGGUAN STRESS PASCA TRAUMA

(Post-traumatic Stress Disorder)

Disusun Sebagai Tugas Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)

Psikiatri

Di Rumah Sakit Umum Deli Serdang

Oleh :

Dena Tria Andini 1608320091

Melfi Purnama 1608320140

Novita Sari 1608320148

Jefri Aditya Saragih 1608320121

Yuni Rizky Lubis 1608320128

Pembimbing :

dr. Hanip Fahri, MM, M.ked (KJ), Sp.Kj

Kepanitraan Klinik Senior Rumah Sakit Umum Deli Serdang

Lubuk Pakam

2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaykum wr. wb

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan refarat berjudul
GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA.
Tujuan Refarat ini adalah sebagai salah satu syarat dalam kegiatan
Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Departemen Psikiatri Rumah Sakit Umum
Daerah Deli Serdang, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera
Utara. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih
kepada yang terhormat dr. Hanip Fahri, MM, M.ked (KJ), Sp.Kj yang telah
membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah refarat ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih memiliki
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan dikarenakan keterbatasan kemampuan
penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun, agar kedepannya penulis dapat memperbaiki dan menyempurnakan
kekurangan tersebut.

Wassalamualaykum Wr.Wb

Medan, 18 April 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... v

BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1

BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................. 3


2.1 Defenisi ...................................................................................................... 3
2.2 Epidemiologi .............................................................................................. 4
2.3 Etiologi ....................................................................................................... 5
2.4 Faktor Resiko ............................................................................................. 5
2.5 Psikopatologi .............................................................................................. 7
2.6 Cara Menegakkan Diagnosis...................................................................... 8
2.7 Diagnosis Banding ..................................................................................... 12
2.8 Penatalaksanaan ......................................................................................... 16
2.9 prognosis ................................................................................................... 18

BAB 3 KESIMPULAN .................................................................................. 20


DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 22

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Gangguan stres pascatraumatik (Post-traumatic stress disorder) adalah

gangguan kecemasan dimana seseorang yang memiliki pengalaman traumatik atau

mengalami kejadian yang membahayakan hidupnya menunjukkan gejala-gejala,

seperti kekakuan pada tubuh, merasakan kembali emosi pada saat peristiwa

tersebut terjadi, dan peningkatan stimulasi fisiologis.1

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) sebenarnya muncul sebagai

manifestasi dari pengalaman mengerikan. Penderitanya adalah mereka yang

merupakan korban hidup yang secara fisik selamat, tetapi secara mental masih

berada dalam tekanan psikologis dan terus-menerus berada dalam keadaan

tersebut. Individu dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) akan

mengalami ansietas dan selalu teringat trauma melalui memori, mimpi atau reaksi

terhadap isyarat internal tentang peristiwa yang terkait dengan trauma. Gangguan

ini dapat terjadi pada semua usia, termasuk anak-anak dan remaja.2

Dalam DSM-IV-TR dinyatakan bahwa gejala PTSD yang ditemukan

menggambarkan suatu stres yang terjadi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Gejala-gejala PTSD bisa mulai muncul seminggu hingga tiga puluh tahun setelah

peristiwa traumatik ekstrem. Jadi, kurun waktu efek trauma bisa begitu panjang.

Gejala-gejala tersebut bisa hilang timbul sepanjang hidup penderita, sehingga

mengganggu fungsi kerja dan keefektifan hidup. Meskipun tidak diobati dan

1
2

ditangani dengan benar, ada sekitar 30% pasien Post Traumatic Stress Disorder

(PTSD) yang sembuh sendiri. Namun, ada sekitar 40% yang terus-menerus

bahkan mengalami berbagai gejala dalam tingkat sedang dan 10% akan terus-

menerus mengalami berbagai gejala dalam tingkat berat. Hal serupa dinyatakan

oleh badan kesehatan dunia (WHO) yang memperkirakan bahwa dalam setiap

bencana, sebanyak 50% korban selamat akan mengalami Post Traumatic Stress

Disorder (PTSD). Di antara mereka yang mengalaminya, sebanyak 5-10% akan

mengalami manifestasi yang berat. Bahkan ada pakar yang menyebutkan angka

ini mencapai 10-20%.3

Survei dari Universitas Indonesia (UI) yang dibiayai WHO terhadap anak-

anak di Aceh pasca tsunami menunjukkan bahwa sebanyak 20-25% di antaranya

mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan membutuhkan

pertolongan dari tenaga ahli. Hasil penelitian lain pada kelompok remaja

prevalensi terjadinya Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) mencapai 8-9%, dan

kelompok remaja berisiko mencapai 13-45%.4


BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Definisi

Gangguan stres pascatraumatik (Post-traumatic stress disorder) adalah

Gangguan kecemasan dimana seseorang yang memiliki pengalaman traumatik

atau mengalami kejadian yang membahayakan hidupnya menunjukkan gejala-

gejala, seperti kekakuan pada tubuh, merasakan kembali emosi pada saat peristiwa

tersebut terjadi, dan peningkatan stimulasi fisiologis.1

PTSD juga merupakan gangguan kecemasan yang umum dan sering kronis

dan melumpuhkan yang dapat berkembang setelah terpapar kejadian yang sangat

menegangkan yang ditandai oleh bahaya yang sebenarnya atau terhadap ancaman

diri maupun orang lain.5

Selain itu post traumatic stress disorder (PTSD) dapat diartikan sebagai suatu

kondisi atau keadaan yang terjadi setelah seseorang mengalami peristiwa

traumatik atau kejadian buruk dalam hidupnya. PTSD dianggap sebagai salah satu

bagian dari gangguan kecemasan (anxiety disorder). Orang yang mengalami

PTSD merespon peristiwa traumatik yang dialami dengan ketakutan dan

keputusasaan, mereka akan terus mengenang peristiwa itu dan selalu mencoba

menghindari hal-hal yang dapat mengingatkan kembali akan peristiwa tersebut.6

3
2.2.Epidemiologi

Pada tahun 1980, American psychiatric association memperkenalkan

gangguan jiwa yang disebut gangguan stress pasca trauma (Post Traumatic Stress

Disorder/PTSD) dengan kriteria diagnosis yang tercantum dalam DSM III.

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kasus gangguan

stress pasca trauma merupakan salah satu kasus psikiatri yang cukup sering

ditemui. Kasus ini dijumpai pada 10,3% untuk pria dan 18,3% untuk wanita.

Di Amerika Serikat, 60% laki-laki dan 50% wanita mengalami setidaknya

sekali masalah traumatik selama hidupnya. Dari mereka, 8% laki-laki dan 20%

wanita bisa mengalami PTSD. Kasus pemerkosaan lebih mungkin menjadi PTSD

daripada kasus traumatic lainnya, karena kasus pemerkosaan perempuan jauh

lebih banyak daripada laki-laki (9% versus 1%), mungkin ini yang menyebabkan

kejadian PTSD lebih banyak pada wanita. 88% laki-laki dan 79% wanita yang

mengalami PTSD juga memiliki riwayat gangguan psikiatrik lainnya, hampir

setengahnya menderita depresi mayor, 16% menderita gangguan cemas selain

PTSD, dan 28% memiliki riwayat fobia social. Dan para penderita PTSD lebih

beresiko untuk memiliki gaya hidup tidak sehat seperti penyalahgunaan alcohol

yang dialami 52% laki-laki dan 28% perempuan penderita PTSD, sedangkan

penggunaan NAPZA terlihat pada 35% laki-laki dan 27% perempuan penderita

PTSD.8

4
5

2.3.Etiologi

Pada gangguan stres pascatraumatik gejala berkembang setelah peristiwa yang

menimbulkan trauma psikologis diluar dari rentang pengalaman manusia normal.

Stresor atau kejadian trauma merupakan penyebab utama dalam perkembangan

PTSD. Stresor menghasilkan sindrom tertentu yang diharapkan demikian pada

manusia rata-rata. Stresor mungkin dialami sendirian, seperti pemerkosaan atau

penyerangan, atau dalam kelompok, seperti peperangan. Berbagai bencana masal-

seperti banjir, kecelakaan pesawat udara, bom atom, dan kematian juga telah

diidentifikasi sebagai stresor. Stresor mengandung suatu komponen psikologis

dan sering kali suatu komponen fisik yang menyertai yang dapat secara langsung

menimbulkan cedera pada sistem saraf pusat. Klinisi percaya bahwa gangguan

adalah lebih parah dan berlangsung lebih lama jika stresor berasal dari manusia,

seperti pemerkosaan, dibandingkan jika tidak berasal dari manusia, seperti banjir.7

2.4.Faktor Risiko

Siapapun bisa mendapatkan PTSD pada usia berapa pun. Termasuk veteran

perang dan korban kekerasan fisik dan seksual, pelecehan, kecelakaan, bencana,

dan banyak kejadian serius lainnya. Tidak semua orang dengan PTSD telah

melalui kejadian yang berbahaya. Beberapa orang mendapatkan PTSD setelah

seorang teman atau anggota keluarga mengalami bahaya atau dirugikan. Kematian

tiba-tiba dan tak terduga orang yang dicintai juga dapat menyebabkan PTSD.8

Banyak ilmuan sedang mempelajari mengapa beberapa orang bisa berpotensi

PTSD dan lainnya tidak. Beberapa berfokus pada gen yang berperan dalam
6

menciptakan kenangan takut, dan lainnya memeriksa bagian otak yang terlibat

dalam menangani rasa takut dan stres. Semakin parah, tahan lama, atau berbahaya

peristiwa traumatis, semakin rentan seseorang untuk berpotensi PTSD. 9

Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang mengalami kejadian

berbahaya mendapat PTSD. Bahkan, sebagian besar tidak akan mendapatkan

gangguan tersebut. Banyak faktor yang berperan dalam apakah seseorang akan

berpotensi PTSD atau tidak. Beberapa ini adalah faktor risiko yang membuat

seseorang lebih mungkin untuk mendapatkan PTSD. Faktor-faktor lain, yang

disebut faktor ketahanan, dapat membantu mengurangi risiko gangguan tersebut.

Beberapa faktor risiko dan ketahanan ini hadir sebelum trauma dan lain-lain

menjadi penting selama dan setelah peristiwa traumatis.8

Faktor risiko untuk PTSD meliputi8 :

1. Telah mengalami peristiwa berbahaya dan trauma

2. Memiliki riwayat penyakit mental

3. Tersakiti

4. Melihat orang terluka atau terbunuh

5. Merasa horor, tidak berdaya, atau ketakutan ekstrim

6. Memiliki dukungan sosial yang sedikit atau tidak sama sekali setelah

kejadian berbahaya

7. Mencoba adaptasi pada keadaan setelah kejadian, seperti kehilangan

orang yang dicintai, rasa sakit dan cedera, atau kehilangan pekerjaan atau

rumah.
7

Faktor ketahanan yang dapat mengurangi risiko PTSD meliputi8 :

1. Mencari dukungan dari orang lain, seperti teman-teman dan keluarga

2. Menemukan sebuah kelompok dukungan setelah peristiwa traumatis

3. Merasa baik tentang tindakan sendiri dalam menghadapi bahaya

4. Memiliki strategi coping, atau cara mendapatkan melalui acara buruk dan

belajar dari itu

5. Mampu bertindak dan merespons secara efektif meskipun merasa

ketakutan.

2.5.Psikopatologi

Kondisi lain dengan PTSD bisa saja terjadi, seperti depresi, kecemasan,

atau penyalahgunaan zat. Lebih dari separuh pria dengan PTSD juga memiliki

masalah dengan alkohol. Yang paling umum terjadi masalah berikutnya pada pria

adalah depresi, diikuti oleh gangguan perilaku, dan kemudian masalah dengan

obat-obatan. Pada wanita, yang paling umum masalah terjadi adalah depresi.

Hanya di bawah setengah dari wanita dengan PTSD juga mengalami depresi.

Masalah paling umum berikutnya pada wanita kekhawatiran tertentu, kecemasan

sosial, dan kemudian masalah dengan alkoholi. Secara umum, orang-orang

dengan PTSD merupakan pengangguran, orang yang mengalami perceraian atau

perpisahan, pelecehan seksual dan kejadian pemecatan. Veteran vietnam dengan

PTSD ditemukan memiliki banyak masalah dengan keluarga dan hubungan

interpersonal lainnya, masalah dengan pekerjaan, dan peningkatan insiden

kekerasan. Orang dengan PTSD juga mungkin mengalami berbagai gejala fisik.
8

Ini adalah kejadian umum pada orang yang mengalami depresi dan gangguan

kecemasan lainnya.10

Beberapa bukti menunjukkan bahwa PTSD dapat dikaitkan dengan

peningkatan kemungkinan mengembangkan gangguan medis. Penelitian ini

sedang berlangsung, dan terlalu dini untuk menarik kesimpulan tegas tentang

yang gangguan berhubungan dengan PTSD. PTSD dikaitkan dengan sejumlah

perubahan neurobiologis dan fisiologis yang khas. PTSD dapat berhubungan

dengan perubahan neurobiologis yang stabil baik di sistem saraf pusat dan

otonom, seperti aktivitas gelombang otak berubah, penurunan volume

hippocampus, dan aktivasi abnormal amigdala. Kedua hipokampus dan amigdala

yang terlibat dalam pengolahan dan integrasi memori. Amigdala juga telah

ditemukan untuk terlibat dalam mengkoordinasikan respons rasa takut tubuh.10

2.6.Cara menegakkan Diagnosis

Kriteria diagnosis DSM-IV-TR untuk PTSD merinci bahwa gejala

mengalami, menghindari, dan terus terjaga lebih dari 1 bulan. Untuk pasien yang

gejalanya ada, tetapi kurang dari 1 bulan, diagnosis yang sesuai adalah

gangguanstres akut. Kriteria diagnosis DSM-IV-TR, PTSD memungkinkan klinisi

untuk merinci apakah gangguan tersebut akut (jika gejala kurang dari 3 bulan)

atau kronis (jika gejala telah ada selama 3 bulan atau lebih). DSM-IV-TR juga

memungkinkan klinisi merinci bahwa gangguan tersebut adalah dengan awitan

yang tertunda jika awitan gejala 6 bulan atau lebih setelah peristiwa yang

memberikan stres.7 Menurut DSM-IV-TR, kriteria diagnosis bagi penderita

gangguan stres pascatrauma:


9

a. Kejadian traumatik

1. Satu atau banyak peristiwa yang membuat seseorang mengalami,

menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian yang berupa

ancaman kematian, cidera yang serius sehingga mengancam integritas fisik

dirinya sendiri atau orang lain.

2. Tanggapan individu terhadap pengalaman tersebut dengan ketakutan atau

ketidakberdayaan yang sangat kuat.

b. Mengalami kembali satu atau lebih gejala di bawah ini:

1. Teringat kembali akan kejadian trauma menyedihkan yang dialaminya

dan bersifat mengganggu (bisa berupa gambaran, pikiran, persepsi).

2. Mimpi buruk yang berulang tentang peristiwa trauma yang dialaminya

(yang mencemaskan).

3. Mengalami kilas balik trauma (merasa seakan kejadian trauma yang

dialaminya terjadi kembali, hal ini bisa terjadi karena ilusi,

haluinasinya).

4. Kecemasan psikologis dan fisik bersamaan dengan hal yang

mengingatkan terhadap kejadian trauma (kenangan akan peristiwa

trauma).

c. Menghindari secara persisten stimulus yang berkaitan dengan trauma dan

mematikan perasaan/tidak berespon terhadap suatu hal sehingga akan

berdampak pada perubahan rutinitas pribadi. Gejala ini meliputi tiga atau lebih

hal di bawah ini:


10

1. Kemampuan untuk menghindari pikiran, perasaan, percakapan yang

berhubungan dengan kejadian trauma.

2. Kemampuan menghindari aktivitas, tempat, orang yang dapat

membangkitkan kembali kenangan akan trauma yang dialaminya.

3. Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari peristiwa trauma.

4. Kurangnya ketertarikan dalam berpartisipasi terhadap peristiwa penting.

5. Merasa terasing dari orang di sekitarnya.

6. Terbatasnya rentang emosi (tidak dapat merasakan cinta dan dicintai).

7. Perasaan bahwa masa depannya suram.

d. Gejala hiperarousal yang persisten meliputi dua atau lebih gejala di bawah ini:

1. Sulit untukmemulai tidur/sulit mempertahankannya.

2. Sulit berkonsentrasi.

3. Mudah kesal dan meledak-ledak emosinya.

4. Hypervigilance(kewaspadaan yang berlebihan).

5. Reaksi kaget yang berlebihan.18e.Durasi dari gangguan (gejala di

kriteria B, C, D) lebih dari sebulan.11

f. Gangguan/gejala di atas ini menyebabkan kecemasan dan gangguan fungsional

dalam berhubungan sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya.Sedangkan

pedoman diagnostik PTSD menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis

Gangguan Jiwa (PPDGJ) III dalam F 43.1 yaitu :

a. Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun

waktu enam bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang

berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai


11

melampaui enam bulan). Kemungkinan diagnosis masih dapat

ditegakkan apabila tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset

gangguan melebihi waktu enam bulan, asal saja manifestasi klinisnya

adalah khas dan tidak didapat alternatif kategori gangguan lainnya.

b. Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang

atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-

ulang kembali (flashback).

c. Gangguan otonomik, gangguan afek, dan kelainan tingkah laku

semuanya dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas.

d. Suatu “sequelae” menahun yang terjadi lambat setelah stres yang luar

biasa, misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasi

dalam kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang berlangsung lama

setelah mengalami katastrofia).Kriteria diagnosis PTSD dibuat untuk

orang dewasa dan tidak sepenuhnya semua kriteria di atas dapat

dipergunakan bagi anak-anak. Anak-anak memilki 19keterbatasan

dalam kemampuan verbalnya dan memiliki cara yang berbeda dalam

bereaksi terhadap stres. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak

mungkin tidak memenuhi kriteria DSM-IV-TR secara penuh meskipun

secara jelas anak tersebut memiliki gangguan psikiatri yang analog

dengan PTSD pada dewasa. Biasanya anak seringkali tidak memiliki

tiga tanda dari numbing(mematikan perasaannya) dan withdrawl

(menarik diri) seperti pada orang dewasa karena kemampuan verbal

untuk mengekspresikan perasaannya masih kurang. Anak - Anak


12

mungkin mengalami perubahan antara hiperarousal dan

numbing/withdrawl.12

2.7.Diagnosis banding

1. Gangguan penyesuaian

Pada gangguan penyesuaian, keparahan stressor dan jenisnya dapat dapat

bermacam-macam dibandingkan yang dibutuhkan pada kriteria A PTSD.

Diagnosis gangguan penyesuaian digunakan bila respon terhadap stressor yang

ada tidak memenuhi semua kriteria A PTSD (atau kriteria untuk gangguan mental

lain). Gangguan penyesuaian juga didiagnosis ketika pola gejala PTSD terjadi

sebagai respons terhadap stressor yang tidak memenuhi kriteria A PTSD

(misalnya, ditinggalkan pasangan, dipecat).13

2. Gangguan dan kondisi pasca trauma lain.

Tidak semua psikopatologi yang terjadi pada individu yang terpapar

stressor yang ekstrem harus dikaitkan dengan PTSD. Untuk diagnosis diperlukan

paparan trauma yang mendahului onset atau eksaserbasi gejala yang

bersangkutan. Apalagi jika pola respon terhadap stressor yang ekstrem memenuhi

kriteria untuk gangguan mental lainnya, Diagnosa ini harus menggantikan, atau

ditambahkan dengan PTSD. Diagnosa dan kondisi lain harus dikesampingkan jika

lebih baik dijelaskan dengan PTSD ( misalnya , gejala gangguan panik yang

terjadi hanya setelah terpapar ingatan yang traumatis ). Jika parah, pola respon

terhadap stressor yang ekstrem memerlukan diagnosa yang terpisah (misalnya,

amnesia disosiatif). 13
13

3. Gangguan stres akut.

Gangguan stres akut dibedakan dari PTSD karena pola gejala pada

gangguan stres akut dibatasi untuk jangka waktu 3 hari sampai 1 bulan setelah

paparan peristiwa traumatis .

Kriteria diagnostic DSM-IV-TR gangguan stress akut:

A. Orang tersebut telah terpajan dengan peristiwa traumatic dan kedua hal ini ada:

1. Orang tersebut mengalami, menyaksikan, atau menghadapi peristiwa

uang melibatkan kematian atua cedera serius yang sebenarnya atau

mengancam, atau ancaman terhadap integritas fisik dirinya atau orang

lain.

2. Respon orang tersebut melibatkan rasa takut yang intens, rasa tidak

berdaya atau horror.

B. Pengalaman peristiwa traumatic selalu timbul berulang dalam tiga atau lebih

gejala disosiatif berikut ini:

1. Rasa lepas atau tidak adanya respon emosional

2. Menurunnya kesadaran akan sekelilingnya (linglung)

3. Derealisasi

4. Depersonalisasi

5. Amnesia disosiatif

C. Peristiwa traumatic secara terus menerus dialami kembali pada satu atau lebih

cara.

D. Penghindaran stimulus yang nyata dan membangkitkan kembali trauma.

E. Gejala ansietas atau meningkatnya keterjagaan yang nyata.


14

F. Gangguan ini menimbulkan distress yang secara klinis bermakna atau hendaya

dalam area fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain atau mengganggu

lemampuan seseorang menjalankan tugas penting, seperti memperoleh bantuan

yang penting atau berbagai hal- hal yang personal dengan bercerita pada angota

keluarga mengenai peristiwa traumatik.

G. Gangguan ini ada selama minimum 3 hari maksimum 4 minggu setelah

peristiwa traumatik.

H. Gangguan ini bukan disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat.11

4. Gangguan kecemasan dan gangguan obsesif-kompulsif .

Pada OCD, ada pikiran berulang yang mengganggu , ini memenuhi

definisi obsesi. Selain itu, pikiran yang mengganggu tidak berhubungan dengan

peristiwa traumatis yang dialami , kompulsi biasanya ada, dan gejala lain dari

PTSD atau gangguan stres akut biasanya tidak ada.13

5. Gangguan depresif mayor

Depresi berat mungkin atau tidak mungkin didahului oleh peristiwa

traumatik dan harus didiagnosis jika gejala PTSD lainnya tidak ada. Khususnya,

gangguan depresi mayor tidak termasuk gejala kriteria B atau C PTSD. Juga tidak

termasuk sejumlah gejala PTSD Kriteria D atau E. 13

6. Gangguan kepribadian

Kesulitan interpersonal dengan onset atau yang kambuh, setelah terpapar

peristiwa traumatikbisa jadi indikasi dari PTSD dibandingkan gangguan

kepribadian, dimana kesulitan independen dari setiap eksposur traumatis.13


15

7. Gangguan disosiatif

Amnesia disosiatif, gangguan identitas disosiatif, dan gangguan

depersonalisasi- derealisasi mungkin atau mungkin tidak didahului dengan

paparan peristiwa traumatis ataupun mungkin atau tidak mungkin terjadi

bersamaan dengan PTSD . Ketika kriteria PTSD juga dipenuhi, namun, subtipe

PTSD '' dengan gejala disosiatif " juga harus dipertimbangkan.13

8. Gangguan konversi (gangguan gejala neurologis fungsional )

Onset baru dari gejala somatik dalam konteks distress post traumatik

mungkin merupakanindikasi dari PTSD daripada gangguan konversi (gangguan

gejala neurologis fungsional).13

9. Gangguan psikotik .

Flashback pada PTSD harus dibedakan dari ilusi, halusinasi, dan gangguan

persepsi lain yangmungkin terjadi pada skizofrenia, gangguan psikotik singkat,

dan gangguan psikotik lainnya ; depresi dan gangguan bipolar dengan psikotik;

delirium ; gangguan terinduksi zat; dan gangguan psikotik karena kondisi medis

lain.13

10. Traumatic Brain Injury .

Ketika cedera otak terjadi dalam konteks peristiwa traumatis (misalnya,

kecelakaan traumatis , ledakan bom , trauma akselerasi / deselerasi), gejala PTSD

mungkin muncul.13

11. Gangguan buatan dan malingering

Sebagian karena publisitas yang didapat PTSD, klinisi juga harus

mempertimbangkan kemungkinan gangguan buatan dan malingering.7


16

2.8.Penatalaksanaan Gangguan Stress Pasca Trauma

Terapi pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita Post Traumatic

Stress Disorder (PTSD), yaitu dengan menggunakan farmakoterapi, psikoterapi

dan ataupun keduanya . Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat hanya

dalam hal kelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal. Terapi anti depresan

pada gangguan stress pasca traumatik ini masih kontroversial. Obat yang biasa

digunakan adalah benzodiazepine, lithium, camcolit dan zat pemblok beta

(propanolol, klonidin dan karbamazepin). Pada pengobatan psikoterapi terapis

berkonsentrasi pada masalah PTSD. Psikoterapi yang dapat diterapkan dan efektif

pada pasien PTSD terdapat 3 tipe, yaitu anxiety management, cognitive therapy,

dan exposure therapy.

1. Pada anxiety management, terapis akan menganjurkan beberapa

keterampilan untuk membantu mengatasi gejala PTSD dengan lebih baik

melalui relaxation training, breathing retraining, positive thinking and

self-talk, assertiveness training dan thought stopping.

a. Relaxation training, yaitu belajar mengontrol ketakutan dan

kecemasan secara sistematis dan merelaksasikan kelompok otot-otot

utama.

b. Breathing retraining, yaitu belajar bernafas dengan perut secara

perlahan-lahan, santai dan menghindari bernafas dengan tergesa-gesa

yang menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan reaksi fisik yang

tidak baik seperti jantung berdebar dan sakit kepala.


17

c. Positive thinking and self-talk, yaitu belajar untuk menghilangkan

pikiran negatif dan mengganti dengan pikiran positif ketika

menghadapi hal-hal yang membuat stress (stressor).

d. Assertiveness training, yaitu belajar bagaimana mengekspresikan

harapan, opini dan emosi tanpa menyalahkan atau menyakiti orang

lain.

e. Thought stopping, yaitu belajar bagaiman mengalihkan pikiran ketika

kita sedang memikirkan hal-hal yang membuat kita stress.

2. Pada cognitive therapy, terapis membantu untuk merubah kepercayaan

yang tidak rasional yang mengganggu emosi dan mengganggu kegiatan.

Misalnya seorang korban kejahatan mungkin menyalahkan diri sendiri

karena tidak hati-hati. Tujuan kognitif terapi adalah mengidentifikasi

pikiran-pikiran yang tidak rasional, mengumpulkan bukti bahwa pikiran

tersebut tidak rasional untuk melawan pikiran tersebut yang kemudian

mengadopsi pikiran yang lebih realistik untuk membantu mencapai emosi

yang lebih seimbang.

3. Dalam exposure therapy para terapis membantu menghadapi situasi yang

khusus, seperti obyek, memori atau emosi yang mengingatkan pada

trauma dan menimbulkan ketakutan yang tidak realistik dalam

kehidupannya. Terapi dapat berjalan dengan cara, yaitu :

a. Exposure in the imagination, adalah bertanya pada penderita untuk

mengulang cerita secara detail sampai tidak mengalami hambatan

menceritakan ;
18

b. Exposure in reality, yaitu membantu menghadapi situasi yang

sekarang aman tetapi ingin dihindari karena menyebabkan ketakutan

yang sangat kuat (misal : kembali kerumah setelah terjadi perampokan

dirumah. Ketakutan bertambah kuat jika kita berusaha mengingat

situasi tersebut dibanding berusaha melupakannya. Pengulangan

situasi disertai penyanderaan yang berulang akan membantu

menyadari situasi lampau yang menakutkan tidak lagi berbaya dan

dapat diatasi.

Selain itu dapat dilakukan support group therapy dan terapi bicara. Dalam

support group therapy seluruh peserta merupakan penderita PTSD yang

mempunyai pengalaman serupa (misalnya korban bencana tsunami, korban

gempa bumi) dimana dalam proses terapi mereka saling menceritakan tentang

pengalaman traumatis mereka, kemudian mereka saling memberipenguatan satu

sama lain. Dalam sejumlah penelitian terapi bicara membuktikan bahwa mampu

memperbaiki kondisi jiwa penderita. Dengan berbagi cerita dapat memperingan

beban pikiran dan kejiwaan yang dipendam. Bertukar cerita membuat merasa

dirinya lebih baik dari orang lain. Kondisi ini memicu seseorang untuk bangkit

dari trauma yang diderita dan melawan kecemasan.

2.9.Prognosis

Jika tidak diobati, sekitar 30% psien akan pulih sempurna, 40% akan terus

memiliki gejala ringan, 20% akan terus memiliki gejala sedang, dan 10% tetap
19

tidak berubah atau bertambah buruk. Setelah 1 tahun, sekitar 50% pasien akan

pulih.4

Prognosis pasien menjadi lebih baik bila adanya awitan cepat, durasi

gejala singkat (kurang dari 6 bulan), fungsi pramorbid baik, dukungan sosial baik,

dan tidak adanya gangguan psikiatri, medis, atau gangguan terkait zat lain atau

faktor risiko lain.4


20

BAB III

KESIMPULAN

Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yang

timbul setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atau

peristiwa-peristiwa trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasan

atau suatu kecelakaan yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan seseorang

memberikan reaksi dalam keadaan ketakutan, tak berdaya dan merasa cemas. Bila

gejala-gejala gangguan stres pasca trauma menjadi parah, gangguan tersebut

menimbulkan gangguan dalam aktivitas. Terdapat berbagai penyebab terjadinya

gangguan stres pasca trauma. Stressor adalah penyebab utama terjadinya

gangguan stress pasca trauma. Stressor berupa kejadian yang traumatis misalnya

akibat perkosaan, kecelakaan yang parah, kekerasan pada anak atau pasangan,

bencana alam, perang, atau dipenjara. Pedoman untuk mendiagnosis PTSD dapat

menggunakan PPDGJ III dan DSM IV/V.

Penatalaksaan gangguan stress pasca trauma berupa terapi farmakologi

dan nonfarmakologi. Terapi farmakologi yang merupakan lini pertama untuk

PTSD adalah golongan SSRI. Namun sebagai alternatif dapat digunakan golongan

obat antidepresan lainnya seperti antidepresan trisiklik, MAO inhibitors, atau

SNRI. Terapi nonfarmakologi yang dilakukan dapat berupa psikoterapi, dukungan

sosial, modiikasi pola hidup dan edukasi. Psikoterapi memegang peranan penting

dalam pengobatan PTSD. Umumnya prognosis pasien PTSD baik. Prognosis

pasien menjadi lebih baik bila adanya awitan cepat, durasi gejala singkat (kurang
21

dari 6 bulan), fungsi pramorbid baik, dukungan sosial baik, dan tidak adanya

gangguan psikiatri, medis, atau gangguan terkait zat lain atau faktor risiko lain.
22

DAFTAR PUSTAKA

1. Wade C, Tavris C. Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 1. Jakarta: Erlangga;


2008; 121.
2. American psychiatric Association/APA. Diagnostic and statistical Manual
Of Mental Disorder (4th ed) text revision. Arlington : APA; 2000.
3. WHO. Humanitarian Health Action. 2014.
4. Astuti RT. Pengalaman traumatik remaja perempuan akibat banjir lahar
dingin pasca erupsi gunung merapi dalam perspektif tumbuh kembang di
hunian sementara kabupaten magelang. Program Magister Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia; 2012.
5. Cahill SP, Pontoski K. Post-Traumatic stress disorders and acute stress
disorder I. Psychiatry. 2005; 15(2); 14-25.
6. Sadock BJ, Sadock VA. Post traumatic stress disorder and acute stress
disorders.Synopsis of psychiatry. 10th ED. Philadelphia : Lippincot
Williams & Wilkins.2007. p. 612-21.
7. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan-Sadock Sinopsis Psikiatri Jilid
Dua. Tangerang: KARISMA; 2010; 254-255.
8. National Institute of Mental Health. 2015. Post Traumatic Stress Disorder
(PTSD). USA: US Department of Health. Page: 4 (available in:
http://militaryoutreachusa.org/wp-content/uploads/2015/06/NIMH-PTSD-
Booklet.pdf )
9. Anxiety and Depression Association of America. 2014. Post Traumatic
Disorder (PTSD). USA: AADA. Page: 5 (available in:
https://www.adaa.org/sites/default/files/ADAA_PTSD.pdf)
10. US Department of Veterans Affairs. 2010. National Centers for PTSD,
Advancing Science and Promoting Understanding of Traumatic Stress.
USA: US Department of Veterans Affairs. Page : 4 (available in:
https://www.mirecc.va.gov/cih-
visn2/Documents/Patient_Education_Handouts/Handout_What_is_PTSD.
pdf)
11. . Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Edisi 2. 2013. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.h. 277-86.
12. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.
1993. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Direktoral jenderal Pelayanan
Medis h.190-2.
13. American Psychiatric Association. Diagnostic an Statistical Manual Of
Mental Disorders. 5th edition. 2013. Arlington: American Psychiatric
Association p. 278-80.
14. National Institute of Mental Health. Post traumatic stress disorder. 2016;
4-6.