Anda di halaman 1dari 2

Gunung Kidul: Dari Rawan Pangan, Jadi Aman Pangan

Minggu, 01/10/2017 11:44 Oleh DeeWaluyo

JPP, GUNUNG KIDUL - Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian Justan Riduan Siahaan
selaku Penanggung Jawab Upsus Wilayah DIY hadir mendampingi Gubernur DIY
Hamengku Buwono X dalam Acara Ekspose Keberhasilan Program 8 Desa Percontohan
Dalam Upaya Mempercepat Pengurangan Kemiskinan dan Kerawanan Pangan.

Dalam upaya mewujudkan Program Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk


membangun Desa Percontohan Pengentasan Kemiskinan dan Kerawanan Pangan di
Daerah Pedesaan, Pemerintah Daerah melalui Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan
(BKPP) DIY dan Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul melalui Dinas Pertanian dan
Pangan Kabupaten, dan didukung BPTP DIY Balitbangtan telah berhasil melakukan upaya
peningkatan produksi padi di kawasan lahan tadah hujan dengan memanfaatkan kearifan
lokal dan inovasi teknologi hasil penelitian dan pengembangan pertanian. Salah satu
contohnya adalah pendampingan dan pengawalan budidaya padi di musim kemarau pada
lahan tadah hujan di kawasan perbukitan yang dikelola Kelompok Tani di Dusun Sedono,
Pundungsari, Semin, Gunung Kidul.

Keberhasilan tersebut secara simbolis digelar panen padi oleh Gubernur DIY Hamengku
Buwono X, Inspektur Jenderal Kementan Justan Riduan Siahaan, Bupati Gunung Kidul
Badingah, Kapolda DIY, Danrem 072/Pmk, Kadistan DIY, Kepala BKPD DIY, Kepala
BPTP, Kementerian PDTT, Badan POM RI. dll. Dari hasil panen rersebut diperoleh hasil
Gabah Kering Panen Varietas Inpari 19 adalah 9,95 ton/ha dan Inpari 30 adalah 10,18
ton/ha.

Dalam sambutannya Hamengku Buwono X berpesan bahwa jaringan sinergi lintas aktor
dan sektor ini akan dijadikan sebagai salah satu model pilihan penanggulangan kemiskinan
di DIY. Karena sebuah lompatan besar yang bisa mengubah status 8 desa rawan pangan
menjadi aman pangan menuju lumbung pangan. Beliau juga mengapresiasi Desa
Pundungsari telah mampu meningkatkan produksi padi sekitar 10 ton/ha. Desa
percontohan ini akan direplikasikan ke desa lain untuk dikembangkan secara kreatif,
inovatif dan berkelanjutan.
Gunungkidul Panen Raya di Lahan Tadah Hujan
Rabu 10 Januari 2018 10:20 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNGKIDUL -- Sebagian petani di Gunungkidul baru saja


melakukan panen raya di lahan tadah hujan. Panen raya yang sekaligus dikemas dalam
safari panen itu dilakukan, pada Selasa (9/1), di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop
Kabupaten Gunungkidul.

Kepala Badan sumber daya manusia (SDM) Kementerian Pertanian (Kementan),


Momon Rusmono, menyampaikan bahwa safari panen oleh jajaran Kementan
dimaksudkan untuk memastikan dan mengabarkan pada masyarakat bahwa pada masa
paceklik November 2017 hingga Januari 2018 seperti sekarang ini di berbagai wilayah
Indonesia tetap ada panen dan stok pangan cukup. "Sehingga tidak perlu impor beras,"
ujar Momon.

Menurutnya, produktivitas padi lokal Segreng yang dipanen di desa Melikan, Kecamatan
Rongkop adalah 5,12 ton per hektare gabah kering. Sedangkan lahan pertanian di desa
ini adalah seluas 252 hektar dan yang siap panen seluas 20 hektare.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian dan


Pengembangan Kementan Yogyakarta, Joko Pramono, menyampaikan Kementan juga
mendorong pengembangan varietas unggul lokal spesifik dalam kerangka pelestarian
Sumber Daya Genetik.

Varietas unggul lokal Segreng punya kelebihan serta harga lebih tinggi dari beras
putih. "Untuk meningkatkan produktivitas BPTP Yogyakarta telah melakukan introduksi
varietas Inpari 24 (beras merah) yang potensi hasilnya bisa mencapai enam hingga
tujuh ton per hektar," kata dia.

Sedangkan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi memberikan keterangan


bahwa Gunungkidul pada tahun sebelumnya surplus beras 105 ribu ton dan meyakini
tahun ini juga surplus. Sebab, lanjut Immawan, para petani khususnya di lahan tadah
hujan punya kebiasaan menyimpan hasil panen untuk konsumsi sehari hari hingga tiba
musim panen berikutnya, sehingga ketahanan pangan rumah tangga petani
Gunungkidul cukup bagus.