Anda di halaman 1dari 102

KELUARGA SAKINAH DALAM PERSPEKTIF FIQH ISLAM

Makna Keluarga Sakinah


Membangun rumah tangga yang sakiinah yaitu yang damai, tentram, penuh
keharmonisan dan kebahagiaan bagi semua pihak.
Membentuk Keluarga Sakinah

1. dimulai dengan niat yang baik (motivasi dunia atau akhirat?)

- Hadits Wanita dinbikahi karena empat perkara : karena harta, nasab, kecantikan, agama.
Pilihlah karena agamanya, tentu kau beruntung
- Niat menentukan pola rumah tangga: Islami, materialis, hedonis, formalis.

1. Cara yang baik

- Taaruf : selidiki dari orang yang dipercaya, mengenali tanpa menodai, tak ada
kebohongan.
- Pinangan : tidak boleh meminang di atas pinangan orang lain.
- Pernikahan: memenuhi rukun dan syarat

1. tahu hak dan kewajiban suami istri

Beberapa Ketentuan Syara tentang pernikahan


Rukun Nikah

1. Sighat ijab Qabul


2. Wali
3. saksi

Syarat sah Nikah

1. halalnya wanita yang akan dinikahi


2. Adanya kesaksian terhadap pernikahan

Mahar
-Adalah hak istri. Sebaik-baik wanita adalah yang paling mudah maharnya
- tidak ada batasan besar kecilnya sesuai kerelaan istri.
- harus disebutkan dalam aqad
- berfungsi sebagai lambang tanggung jawab suami
-adanya dukhul (hubungan suami istri) jadi syarat wajib dibayarkannya mahar
-rasulullah memberi mahar istri-istri beliau sebesar dua belas setengah uqiyah ( 1 Uqiyah = 40
dirham. 12 uqiyah = 480 dirham)
Wanita yang haram dinikahi

1. yang dilarang selamanya karena jalur nasab (Mahram Muabbadah)

yaitu : ibu,nenek, anak, saudara permpuan, bibi, keponakan, ibu istri (mertua).Termasuk juga
ibu susuan dan saudara susuan. Anak tiri jika sudah bercampur dengan ibunya, istri dari anak
(menantu permpuan), dan istri bapak (ibu tiri).

1. Wanita yang haram dinikahi dalam waktu tertentu (Mahram Muaqqatah/sementara)

a. saudara perempuan istri (ipar) sampai istri diceraikan dan menyelesaikan masa
iddahnya, atau setelah istri meninggal dunia. QS AnNisa: 23 = diharamkan menghimpun
dua orang permpuan bersaudara)
b. Bibi dari istri baik dari pihak ibu istri atau bapak istri.
c. Wanita yang bersuami sehingga diceraikan dan menyelesaikan masa iddah. QS An-Nisa
28
d. Wanita yang sedang dalam masa iddah baik karena bercerai atau suami meninggal.
Juga haram melamar dalam masa iddah, kecuali pada iddah karena meninggal maka
ada ulama membolehkan tetapi hanya dengar sindiran
e. Wanita yang dithalaq 3, QS Al-Baqarah 230
f. Wanita yang berzina.QS An-Nur: 3

Beberapa Nikah yang dilarang

a. Nikah Silang (Syihar)

Yaitu menikahkan anak gadisnya kepada seorang laki-laki dengan syarat orang tersebut juga
menikahkan putri yang ia miliki dengannya.

a. Nikah Mutah

Yaitu nikah dengan batasan waktu tertentu (nikah sementara/kontrak)

a. Menikahi wanita dalam masa iddah


b. Nikah muhallil

Pernikahan wanita yang sudah dithalak 3 dengan laki-laki suruhan suami yang menthalaknya,
dengan maksud untuk diceraikan kembali, sehingga suami pertama bisa menikahinya lagi.
e. nikah orang yang sedang menjalankan ihram haji/umrah.
Hak dan kewajiban

1. Hak dan kewajiban istri

Berhak mendapat nafkah lahir batin, wajib taat suami dalam kebaikan, melayani suami.

1. Hak dan kewajiban suami

Wajib memberi nafkah lahir batin, membimbing dan mendidik istri, menjadi pimpinan yang
bijak, berhak ditaati dan dilayani istri.
3. Hak dan kewajiban bersama
- Hak dan kewajiban dalam hubungan biologis. Hadits-hadits tentang berhubungan:
jangan mendatangi istri seperti binatang, jangan cepat-cepat meninggalkan istri.
- Hak dan kewajiban dalam menentukan keinginan memiliki anak. Lihat hadits tentang
azal
- Hak dan kewajiban dalam mendidik anak dan mendapat kepatuhan ketaatan anak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk keluarga Sakinah
1.Asyiruhunna bil maruf (Menggauli istri dengan baik)
- pola komunikasi : terbuka, dialog, saling memanggil mesra
- nafkah lahir : sandang, pangan, papan
- nafkah batin : hubungan badan, perlindungan, pengayoman
2. Amar Mamur nahi Munkar
- saling mengingatkan
- introspeksi
- mengakui kesalahan dan maaf
3. pernikahan adalah sebuah kompromi
- tidak kaku dalam menerapkan hak dan kewajiban
- bekerjasama dan bukan saling mengandalkan
Memperbaharui cinta
Cinta adalah perasan yang tumbuh di dalam hati. Dan hati itu sifatnya tidak tetap, bisa berbolak-
balik dengan adanya perubahan kondisi dan berbagai pengaruh. Maka cinta perlu dipupuk,
dipelihara dan ditumbuhsuburkan. Caranya?
1. Cintai Allah dan Rasul.
Mencintai Yang Maha Cinta, akan membawa ketenangan jiwa dan jauh dari nafsu syaitan yang
menyesatkan. Cinta Allah akan mendatangkan rasa syukur sehingga masing-masing pasangan
akan mapu melihat kelebihan masing-masing dan memahami kekurangan masing-masing.
2. Memahami apa yang diminati atau disenangi pasangan.kenali karakter pasangan.
3. Menyediakan waktu khusus bersama-sama
4. berikan kejutan-kejutan kecil, hadiah, perhatian khususnya pada hari-hari spesial.
5.berempati dan bertolak angsur bersama.
http://nabela.blogdetik.com/fiqh-wanita/keluarga-sakinah-dalam-perspektif-fiqh-islam/

Hidup berumah tangga merupakan tuntutan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.
Keluarga atau rumah tangga muslim adalah lembaga terpenting dalam kehidupan kaum
muslimin umumnya dan manhaj amal Islamkhususnya. Ini semua disebabkan karena
peran besar yang dimainkan oleh keluarga, yaitu mencetak dan menumbuhkan
generasi masa depan, pilar penyangga bangunan umat dan perisai penyelamat bagi
negara.[1]
Setiap adanya sekumpulan atau sekelompok manusia yang terdiri atas dua individu
atau lebih, tidak bisa tidak, pasti dibutuhkan keberadaan seorang pemimpin atau
seseorang yang mempunyai wewenang mengatur dan sekaligus membawahi individu
lainnya (tetapi bukan berarti seperti keberadaan atasan dan bawahan).

Demikian juga dengan sebuah keluarga, karena yang dinamakan keluarga adalah
minimal terdiri atas seorang suami dan seorang istri yang selanjutnya muncul adanya
anak atau anak-anak dan seterusnya.[2] Maka, sudah semestinya di dalam sebuah
keluarga juga dibutuhkan adanya seorang pemimpin keluarga yang tugasnya
membimbing dan mengarahkan sekaligus mencukupi kebutuhan baik itu kebutuhan
yang sifatnya dhohir maupun yang sifatnya batiniyah di dalam rumah tangga tersebut
supaya terbentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.

1. A. Pengertian Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah


Keluarga secara sinonimnya ialah rumah tangga, dan keluarga adalah satu institusi
sosial yang berasas karena keluarga menjadi penentu (determinant) utama tentang apa
jenis warga masyarakat. Keluarga menyuburi (nurture) dan membentuk (cultivate)
manusia yang budiman, keluarga yang sejahtera adalah tiang dalam pembinaan
masyarakat.

Secara historis-filosofis, sakinah mawadah warohmah adalah hasil rangkaian dari tiga
kata utama: Sakinah artinya tenang atau tentram, Mawadah artinya cinta atau harapan,
dan Rahmah artinya kasih sayang dan satu kata sambung wa yang artinya dan.
Sebagai mana yang telah diterangkan dalam Al Qur’an surat Ar Ruum ayat 21.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.[3]
Sakinah merupakan pondasi dari bangunan rumah tangga yang sangat penting.
Tanpanya, tiada mawaddah dan warahmah. Kalaupun ada, tidak akan bertahan lama.
Sakinah itu meliputi kejujuran, pondasi iman dan taqwa kepada Allah SWT. Mengapa
sakinah begitu penting dalam pernikahan? Seperti kita tahu bahwa pernikahan itu tidak
hanya ikatan suci di dunia, melainkan ikatan tersebut akan dipertanggungjawabkan juga
di akhirat.

Mawaddah itu berupa kasih sayang. Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini,
mulai dari hewan sampai manusia. Dalam konteks pernikahan, contoh mawaddah itu
berupa “kejutan” suami untuk istrinya, begitu pun sebaliknya. Misalnya suatu waktu si
suami bangun pagi-pagi sekali, membereskan rumah, menyiapkan sarapan untuk anak-
anaknya. Dan ketika si istri bangun, hal tersebut merupakan kejutan yang luar biasa.
Warahmah ini hubungannya dengan kewajiban. Kewajiban seorang suami menafkahi
istri dan anak-anaknya, mendidik, dan memberikan contoh yang baik (teladan).
Kewajiban seorang istri untuk mena’ati suaminya. Intinya warahmah ini kaitannya
dengan segala kewajiban.

Dengan demikian keluarga sakinah mawadah warohmah adalah sebuah kondisi sebuah
keluarga yang sangat ideal yang terbntuk berlndaskan Al Qur’an dan sunah untuk
mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Keluarga sakinah akan terwujud jika
para anggota keluarga dapat memenuhi kewajiban-kewajibanya terhadap allah,
terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, terhadap masyarakat dan terhadap
lingkunganya,sesuai ajaran Al Qur’an dan Sunah Rasul.[4]
1. Ciri Ciri Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah
Adapun Ciri-ciri keluarga skinah mawaddah wa rahmah itu antara lain:

1. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada beberapa hal yaitu
1. memiliki kecenderungan kepada agama.
2. yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.
3. sederhana dalam belanja.
4. santun dalam bergaul.
5. selalu introspeksi.
6. suami dan isteri yang setia (saleh/salehah).
7. anak-anak yang berbakti.
8. lingkungan sosial yang sehat.
9. dekat rizkinya kepada Allah atau rezki yang halal.
1. Hubungan antara suami isteri harus atas dasar saling membutuhkan, seperti
pakaian dan yang memakainya (hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna).
Fungsi pakaian ada tiga, yaitu menutup aurat, melindungi diri dari panas dingin,
perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam
tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak
menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami
segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Isteri harus
selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan
isteri, jangan terbalik jika saat keluar rumah istri atau suami tampil menarik agar
dilihat orang banyak. Sedangkan giliran ada dirumah suami atau istri berpakaian
seadanya, tidak menarik, awut-awutan, sehingga pasangannya tidak menaruh
simpati sedikitpun padanya. Suami istri saling menjaga penampilan pada masing-
masing pasangannya.
2. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap
patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak saja. Besarnya mahar, nafkah, cara
bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama
harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok
perbedaannya. Sebagaimana firman Allah swt.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan
paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali
sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka
melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.
Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu
tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”[5].
1. Suami istri secara tulus menjalankan masing-masing kewajibannya dengan
didasari keyakinan bahwa menjalankan kewajiban itu merupakan perintah Allah
SWT yang dalam menjalankannya harus tulus ikhlas. Suami menjaga hak istri dan
istri menjaga hak-hak suami. Dari sini muncul saling menghargai, mempercayai,
setia dan keduanya terjalin kerjasama untuk mencapai kebaikan didunia ini
sebanyak-banyaknya melalui ikatan rumah tangga. Suami menunaikan
kewajiabannya sebagai suami karema mengharap ridha Allah. Dengan
menjalankan kewajiban inilah suami berharap agar amalnya menjadi berpahala
disisi Allah SWT. Sedangkan istri, menunaikan kewajiban sebagai istri seperti
melayani suami, mendidik anak-anak, dan lain sebagainya juga berniat semata-
mata karena Allah SWT. Kewajiban yang dilakukannya itu diyakini sebagai perinta
Allah, tidak memandang karena cintanya kepada suami semata, tetapi di balik itu
dia niat agar mendapatkan pahala di sisi Allah melalui pengorbanan dia dengan
menjalankan kewajibannya sebagai istri.
2. Semua anggota keluarganya seperti anak-anaknya, isrti dan suaminya beriman
dan bertaqwa kepada Allah dan rasul-Nya (shaleh-shalehah). Artinya hukum-
hukum Allah dan agama Allah terimplementasi dalam pergaulan rumah tangganya.
3. Rezkinya selalu bersih dari yang diharamkan Allah SWT. Penghasilan suami
sebagai tonggak berdirinya keluarga itu selalu menjaga rizki yang halal. Suami
menjaga agar anak dan istrinya tidak berpakaian, makan, bertempat tinggal,
memakai kendaraan, dan semua pemenuhan kebutuhan dari harta haram. Dia
berjuang untuk mendapatkan rizki halal saja.
1. Anggota keluarga selalu ridha terhadap anugrah Allah SWT yang diberikan kepada
mereka. Jika diberi lebih mereka bersyukur dan berbagi dengan fakir miskin. Jika
kekurangan mereka sabar dan terus berikhtiar. Mereka keluarga yang selalu
berusaha untuk memperbaiki semua aspek kehidupan mereka dengan wajib
menuntut ilmu-ilmu agama Allah SWT.[6]
1. C. Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah
Menurut ajaran Islam membentuk keluarga Islami merupakan kebahagiaan dunia
akherat. Kepuasan dan ketenangan jiwa akan tercermin dalam kondisi keluarga yang
damai, tenteram, tidak penuh gejolak. Bentuk keluarga seperti enilah yang dinamakan
keluarga sakinah. Keluarga demikian ini akan dapat tercipta apabila dalam kehidupan
sehari-harinya seluruh kegiatan dan perilaku yang terjadi di dalamnya diwarnai dan
didasarkan dengan ajaran agama.

Lebih lanjut diperjelas oleh Nabi SAW di dalam hadisnya bahwa di dalam keluarga
sakinah terjalin hubungan suami-istri yang serasi dan seimbang, tersalurkan nafsu
seksual dengan baik di jalan yang diridhoi Allah SWT, terdidiknya anak-anak yang
shaleh dan shalihah, terpenuhi kebutuhan lahir, bathin, terjalin hubungan persaudaraan
yang akrab antara keluarga besar dari pihak suami dan dari pihak istri, dapat
melaksanakan ajaran agama dengan baik, dapat menjalin hubungan yang mesra
dengan tetangga, dan dapat hidup bermasyarakat dan bernegara secara baik pula.[7]
Seperti hadis yang disampaikan oleh Anas ra. Bahwasanya ketika Allah menghendaki
suatu keluarga menjadi individu yang mengerti dan memahami agama, yang lebih tua
menyayangi yang lebih kecil dan sebaliknya, memberi rezeki yang berkecukupan di
dalam hidup mereka, tercapai setiap keinginannya, dan menghindarkan mereka dari
segala cobaan, maka terciptalah sebuah keluarga yang dinamakan sakinah,
mawaddah, warahmah.

Itulah antara lain komponen-komponen dari bangunan keluarga sakinah. Antara yang
satu dengan lainnya saling melengkapi dan menyempurnakan. Jadi apabila tidak
terpenuhi salah satunya yang terjadi adalah ketidakharmonisan dan ketimpangan di
dalam kehidupan rumah tangga. Contoh kasus, sebuah rumah tangga yang oleh Allah
diberikan kecukupan materinya akan tetapi hubungan antar anggota keluarganya tidak
terbina dengan baik, artinya tidak ada rasa saling menghormati dan pengertian antara
yang satu dengan yang lainnya, yang tua tidak menyayangi yang lebih muda dan yang
muda tidak mau menghormati yang lebih tua, maka yang terjadi adalah diskomunikasi
dan ketidakharmonisan rumah tangga.keluarga yang seperti ini tidak bisa disebut
keluarga sakinah.

Begitupun sebaliknya, sebuah keluarga yang kekurangan materi atau finansialnya maka
yang terjadi adalah percekcokan dan perselisihan yang mengakibatkan tidak
tenteramnya kehidupan keluarga. Meskipun tidak semua keluarga yang kekurangan
materi akan mengalami hal tersebut, namun itu hanya sedikit sekali terjadi di kehidupan
sekarang ini. Sebab manusia tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya materi.

Namun dari semua itu perlu diingat bahwa ada sesuatu yang sangat penting untuk
diperhatikan dan merupakan penentu baik tidaknya kehidupan keluarga, yaitu tiada lain
adalah suami dan istri itu sendiri. Karena merekalah pelaku utama di dalam rumah
tangga. Seperti disebutkan di atas bahwa salah satu komponen keluarga sakinah
adalah keseimbangan hubungan suami-istri.
Memang sebenarnya kewajiban berbuat baik tidak hanya antar suami dan istri saja. Di
dalam al-Qur’ānkewajiban itu untuk siapa saja. Oleh karenanya, sebagai umat Islam
yang baik kita dianjurkan untuk nasehat-menasehati dimulai dari orang yang paling
dekat hubungannya dengan kita sampai kepada siapa saja yang perlu untuk itu.
Untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah perlu melalui proses yang
panjang dan pengorbanan yang besar, di antaranya:

1. Pilih pasangan yang shaleh atau shalehah yang taat menjalankan perintah Allah
dan sunnah Rasulullah SWT.
2. Pilihlah pasangan dengan mengutamakan keimanan dan ketaqwaannya dari pada
kecantikannya, kekayaannya, kedudukannya.
3. Pilihlah pasangan keturunan keluarga yang terjaga kehormatan dan nasabnya.
4. Niatkan saat menikah untuk beribadah kepada Allah SWT dan untuk menghidari
hubungan yang dilaran Allah SWT
5. Suami berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami dengan
dorongan iman, cinta, dan ibadah. Seperti memberi nafkah, memberi keamanan,
memberikan didikan islami pada anak istrinya, memberikan sandang pangan,
papan yang halal, menjadi pemimpin keluarga yang mampu mengajak anggota
keluaganya menuju ridha Allah dan surga -Nya serta dapat menyelamatkan
anggota keluarganya dario siksa api neraka.
6. Istri berusaha menjalankan kewajibann ya sebagai istri dengan dorongan ibadah
dan berharap ridha Allah semata. Seperti melayani suami, mendidik putra-putrinya
tentan agama islam dan ilmu pengetahuan, mendidik mereka dengan akhlak yang
mulia, menjaga kehormatan keluarga, memelihara harta suaminya, dan
membahagiakan suaminya.
7. Suami istri saling mengenali kekurangan dan kelebihan pasangannya, saling
menghargai, merasa saling membutuhkan dan melengkapi, menghormati,
mencintai, saling mempercai kesetiaan masing-masing, saling keterbukaan dengan
merajut komunikasi yang intens.
8. Berkomitmen menempuh perjalanan rumah tangga untuk selalu bersama dalam
mengarungi badai dan gelombang kehidupan.
9. Suami mengajak anak dan istrinya untuk shalat berjamaah atau ibadah bersama-
sama, seperti suami mengajak anak istrinya bersedekah pada fakir miskin, dengan
tujuan suami mendidik anaknya agar gemar bersedekah, mendidik istrinya agar
lebih banyak bersukur kepada Allah SWT, berzikir bersama-sama, mengajak anak
istri membaca al-qur’an, berziarah qubur, menuntut ilmu bersama, bertamasya
untuk melihat keagungan ciptaan Allah SWT. Dan lain-lain.
10. Suami istri selalu meomoh kepada Allah agar diberikan keluarga yang sakinah
mawaddah wa rohmah.
11. Suami secara berkala mengajak istri dan anaknya melakukan instropeksi diri untuk
melakukan perbaikan dimasa yang akan datang. Misalkan, suami istri, dan anak-
anaknya saling meminta maaf pada anggota keluarga itu pada setiap hari kamis
malam jum’at. Tujuannya hubungan masing-masing keluarga menjadi harmonis,
terbuka, plong, tanpa beban kesalahan pada pasangannnya, dan untuk menjaga
kesetiaan masing-masing anggota keluarga.
12. Saat menghadapi musibah dan kesusahan, selalu mengadakan musyawarah
keluarga. Dan ketika terjadi perselisihan, maka anggota keluarga cepat-cepat
memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan nafsu amarahnya.
Demikianlah bentuk keluarga yang sempurna di dalam Islam, yang semua hal
didasarkan pada bimbingan al-Qur’ān dan as-Sunnah.[8]

Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat,
aman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh
pembelaan. Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu kasih
sayang pada lawan jenisnya (bisa dikatakan mawaddah ini adalah cinta yang didorong
oleh kekuatan nafsu seseorang pada lawan jenisnya).Rahmah adalah jenis cinta kasih
sayang yang lembut, siap berkorban untuk menafkahi dan melayani dan siap
melindungi kepada yang dicintai. Rahmah lebih condong pada sifat qolbiyah atau
suasana batin yang terimplementasikan pada wujud kasih sayang, seperti cinta tulus,
kasih sayang, rasa memiliki, membantu, menghargai, rasa rela berkorban, yang
terpancar dari cahaya iman.
Demikianlah bentuk keluarga yang sempurna di dalam Islam, yang semua hal
didasarkan pada bimbingan al-Qur’ān dan as-Sunnah.

http://andersenalfatih.wordpress.com/2014/01/19/keluarga-sakinah-mawaddah-warahmah/

jawaban nomor 2
Memilih pasangan hidup makin tak mungkin dibatasi sekat geografis, etnis, warna kulit,
bahkan agama. Jika dahulu orang-orang di Indonesia menikah dengan orang yang
paling jauh beda kabupaten, sekarang sudah kerap dengan orang beda provinsi bahkan
negara. Dahulu, biasanya orang menikah dengan yang satu etnis, kini menikah dengan
yang beda etnis sudah jamak terjadi. Orang Jawa tak masalah menikah dengan orang
Minang. Orang Sunda pun tak pantang menikah dengan orang Bugis. Tak sedikit orang
berkulit sawo matang menikah dengan yang berkulit putih, juga hitam. Orang Arab
menikah dengan yang non-Arab. Bule Amerika menikah dengan perempuan Batak.

Memilih pasangan hidup makin tak mungkin dibatasi sekat geografis, etnis, warna kulit,
bahkan agama. Jika dahulu orang-orang di Indonesia menikah dengan orang yang
paling jauh beda kabupaten, sekarang sudah kerap dengan orang beda provinsi bahkan
negara. Dahulu, biasanya orang menikah dengan yang satu etnis, kini menikah dengan
yang beda etnis sudah jamak terjadi. Orang Jawa tak masalah menikah dengan orang
Minang. Orang Sunda pun tak pantang menikah dengan orang Bugis. Tak sedikit orang
berkulit sawo matang menikah dengan yang berkulit putih, juga hitam. Orang Arab
menikah dengan yang non-Arab. Bule Amerika menikah dengan perempuan Batak.

Pernikahan beda agama pun tak terhindarkan. Globalisasi meniscayakan perjumpaan


tak hanya terjadi antar orang-orang yang satu agama, melainkan juga yang beda
agama. Tunas cinta bisa bersemi di kantor-kantor modern yang dihuni para karyawan
beragam agama. Ruang-ruang publik seperti mall, kafe, dan lain-lain membuat
perjumpaan kian tak tersekat agama. Sekat primordial agama terus lumer dan luluh
diterjang media sosial seperti facebook dan twitter. Orang tua tak mungkin membatasi
agar anaknya hanya bergaul dengan yang segama.

Mengahadapi kenyataan itu, para agamawan memiliki pandangan berbeda. Ada yang
bersikukuh bahwa pernikahan beda agama tak direstusi Tuhan. Sebab, agama dirinya
adalah terang, sementara agama orang lain adalah gelap. Terang dan gelap tak
mungkin dipersatukan dalam satu ikatan perkawinan. Para agamawan yang galau ini
coba menepiskan fakta, dan terus merujuk Sabda bahwa nikah beda agama adalah
haram. Menurut mereka, bukan hukum Tuhan yang harus disesuaikan dengan
kenyataan, tapi kenyataan lah yang harus ditundukkan pada kehendak harafiah teks
Qur’an. Analogi yang sering disampaikan, bukan kepala yang harus dicocokkan dengan
ukuran kopiah, tapi peci lah yang mesti mengikuti besar-kecilnya kepala.

Ada juga agamawan yang pasrah pada kenyataan. Menurut mereka, nikah beda agama
tak mungkin untuk dilawan. Agama tak boleh mengharamkan begitu saja. Sebab
manusia bebas dalam memilih agama, maka ia juga bebas menentukan pilihan
pasangan dalam keluarga. ”Dalam dunia yang terus mengarah pada kesederajatan
agama-agama, kita tak mungkin memandang agama orang lain sebagai gelap”, tandas
mereka. Dengan demikian, menurut mereka, agama harus terus ditafsirkan untuk
diadaptasikan dengan kondisi zaman yang selalu berubah.

Agumen Teologis Islam

Tentang nikah beda agama, para ulama Islam terbelah ke dalam tiga kelompok.
Pertama, ulama yang mengharamkan secara mutlak. Dasarnya adalah al-Qur’an (al-
Baqarah [2]: 221) yang mengharamkan orang Islam menikah dengan laki-laki dan
perempuan musyrik. Juga, QS al-Mumtahanah [60]: 10 yang melarang orang Islam
menikah dengan orang kafir. Sementara QS, al-Ma’idah ayat 5 yang membolehkan laki-
laki Muslim menikah dengan perempuan Ahli Kitab, menurut kelompok ini, sudah
dibatalkan dua ayat sebelumnya itu. Secara statistik, menurut mereka, tak mungkin
dua ayat yang mengharamkan bisa dikalahkan oleh satu ayat yang menghalalkan nikah
beda agama. Bagi mereka, kata ”musyrik”, ”kafir” dan ”Ahli Kitab” adalah sinonim (satu
makna), sehingga yang satu bisa membatalkan yang lain.

Ulama pertama ini pun mengacu pada tindakan Umar ibn Khattab. Ibn Katsir
menceritakan bahwa ketika QS, al-Mumtahanah: 10 turun, Umar ibn Khattab langsung
menceraikan dua isterinya yang masih kafir, yaitu Binti Abi Umayyah ibn Mughirah dari
Bani Makhzum dan Ummu Kultsum binti Amr bin Jarwal dari Khuza’ah. Umar pernah
hendak mencambuk orang yang menikah dengan Ahli Kitab. Umar marah karena ia
khawatir tindakan beberapa orang yang menikahi perempuan-perempuan Ahli Kitab itu
akan diikuti umat Islam lain, sehingga perempuan-perempuan Islam tak menjadi
pilihan laki-laki Islam. Namun, kemarahan Umar tak mengubah pendirian sebagian
Sahabat Nabi yang tetap menikahi perempuan Ahli Kitab.

Dikisahkan, Umar pernah berkirim surat pada Khudzaifah agar yang bersangkutan
menceraikan istrinya yang Ahli Kitab itu. Khudzaifah bertanya kepada Umar, ”apakah
anda menyangka bahwa pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab haram?”. Umar
menjawab, ”tidak. Saya hanya khawatir”. Menurut saya, jawaban Umar ini
menunjukkan bahwa ketidak-setujuan Umar itu tak didasarkan secara sungguh-
sungguh pada teks al-Qur’an, melainkan pada kehati-hatian dan kewaspadaan.

Kedua, ulama yang berpendapat bahwa keharaman menikahi orang Musyrik dan Kafir
sudah dibatalkan QS, al-Maidah [5]: 5 yang membolehkan laki-laki Muslim menikahi
perempuan Ahli Kitab. Para ulama berpendapat bahwa tiga ayat tersebut memang
sama-sama turun di Madinah. Akan tetapi, ayat pertama (al-Mumtahanah ayat 10 dan
al-Baqarah ayat 221) lebih awal turun, sehingga dimungkinkan untuk dianulir ayat
ketiga (al-Ma'idah ayat 5). Ibn Katsir mengutip pernyataan Ibnu Abbas melalui Ali bin
Abi Thalhah berkata bahwa perempuan-perempuan Ahli Kitab dikecualikan dari al-
Baqarah ayat 221. Dengan perkataan lain, keharaman menikahi orang musyrik dan
orang kafir seperti tertera dalam al-Baaqarah: 221 dan al-Mumtahanah: 10 telah
ditakhshish (dispesifikasi) oleh al-Maidah:5.

Pendapat ini juga didukung oleh Mujahid, Ikrimah, Said bin Jubair, Makhul, al-Hasan,
al-Dhahhak, Zaid bin
Aslam, dan Rabi’ bin Anas. Thabathabai berpendirian bahwa pengharaman itu hanya
terbatas pada orang-orang Watsani (para penyembah berhala), dan tidak termasuk di
dalamnya orang-orang Ahli Kitab. Beberapa buku tarikh mendaftar para sahabat Nabi
yang melakukan nikah beda agama, di antaranya adalah Utsman bin ‘Affan, Thalhah bin
Abdullah, Khudzaifah ibn Yaman, Sa’ad ibn Abi Waqash, dan sebagainya. Menurut Ibnu
Qudamah, Hudzaifah menikah dengan perempuan Majusi. Sementara menurut
Muhammad Rasyid Ridla, Khudzaifah menikah bukan dengan perempuan Majusi,
melainkan dengan perempuan Yahudi
Ketiga, ulama yang membolehkan secara mutlak. Ulama terakhir ini melanjutkan
argumen ulama kedua yang tak tuntas. Jika ulama kedua hanya membolehkan laki-laki
Muslim menikah dengan perempuan Ahli Kitab, maka ulama terakhir ini membolehkan
hukum sebaliknya; perempuan muslimah menikah dengan laki-laki Ahli Kitab. Bagi
mereka, tak ada beda antara pernikahan laki-laki muslim-perempuan Ahli Kitab dan
pernikahan perempuan muslimah-laki-laki Ahli Kitab. Menurut kelompok terakhir ini,
tak ada teks dalam al-Qur’an yang secara eksplisit melarang pernikahan perempuan
muslimah dengan laki-laki Ahli Kitab. Bagi mereka, tidak adanya larangan itu adalah
dalil bagi bolehnya pernikahan perempuaan muslimah dengan laki-laki Ahli Kitab.

Kekhawatiran sebagian pihak bahwa pernikahan perempuan muslimah dengan laki-laki


Ahli Kitab hanya akan melahirkan generasi non-muslim tak terbukti dalam kenyataan.
Berbagai penelitian tentang pasangan nikah beda agama justru menunjukkan bahwa
jika seorang ibu beragama Islam, 70 % lebih agama anak mengikuti agama si ibu.
Temuan penelitian ini tak mengejutkan bagi saya. Sebab, peranan ibu dalam keluarga
memang amat sentral, termasuk dalam soal agama. Tentang agama apa yang dianut
oleh seorang anak biasanya tak jauh dari agama si ibu, bukan agama si ayah. Dengan
demikian, tak keliru sebuah pepatah Arab berkata, ”ibu adalah sekolah pertama” (al-
umm hiya al-madrasah al-ula).

Apa yang dikemukakan ulama ketiga itu biasanya diacukan pada alasan kesejarahan.
Alkisah, Zainab binti Muhammad SAW menikah dengan Abu al-Ash. Pernikahan tak
dilakukan berdasarkan syariat Islam karena ia dilangsungkan sebelum Islam. Namun,
yang menarik, setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi, Abu al-Ash pun tak
segera masuk Islam. Ia tetap memilih menjadi orang musyrik, seperti umumnya
penduduk Mekah saat itu. Bahkan, ketika Nabi Muhammad dan umat Islam lain hijrah
ke Madinah, Abu al-Ash bersama sang istri (Zainab puteri Nabi) masih bertahan di
Mekah. Alih-alih ikut hijrah, Abu al-Ash justru bersekongkol dengan orang-orang kafir
Musyrik Mekah memeperangi umat Islam. Dikisahkan bahwa Abu al-Ash pernah
ditangkap di Madinah atas keterlibatannya dalam perang Badar dan Uhud. Ia kemudian
diminta uang tebusan dan Nabi meminta agar Zainab dihijrahkan ke Madinah.

Berbagai buku sejarah menceritakan bahwa dengan hijrahnya itu, Zainab hidup
terpisah dengan Abu al-Ash selama bertahun-tahun. Mereka kembali hidup serumah,
setelah Abu al-Ash masuk Islam. Ibn Katsir menuturkan bahwa kembalinya Abu al-Ash
ke pangkuan Zainab binti Muhammad SAW tak disertai dengan akad nikah baru.
Menurut ulama ketiga itu, ini mengisyaratkan bahwa pernikahan Zainab dan Abu al-Ash
yang dilangsungkan sebelum Islam adalah sah sehingga tak perlu ada pernikahan baru.
Pernikahan Zainab dengan Abu al-Ash ini melahirkan dua orang anak, yaitu Umamah
dan Ali. Jika Ali meninggal dalam usia belia, maka Umamah kelak menikah dengan Ali
ibn Abi Thalib setelah istrinya (Fathimah binti Muhammad SAW) meninggal dunia.
Ketika Ali ibn Abi Thalib meninggal, Umamah menikah dengan al-Mughirah bin Naufal
bin al-Harits ibn Abd al-Muththalib.

Nabi juga pernah mengawinkan anak perempuannya, Ruqayyah dengan Utbah ibn Abi
Lahab. Setelah Islam datang, Nabi tak meminta sang puteri untuk berpisah dengan
Utbah. Perceraian terjadi bukan atas kehendak Ruqayyah atau Nabi Muhammad,
melainkan atas perintah ayahanda Utbah, yaitu Abu Lahab. Abu Lahab, musuh
bebuyutan Islam, yang keberatan jika anak laki-lakinya menikah dengan Ruqayyah
yang beragama Islam. Dengan perkataan lain, seandainya Abu Lahab tak menyuruh
Utbah menceraikan Ruqayyah, niscaya pernikahan itu akan tetap berlangsung sekalipun
si suami Musyrik dan si perempuan beragama Islam seperti yang dialami Zainab binti
al-Rasul Muhammad SAW.

Bagaimana di Indonesia?

Fakta historis tersebut tampaknya tak mengubah pendirian sejumlah ulama Indonesia
untuk melarang pernikahan antara orang Islam dan bukan Islam. Pernikahan beda
agama dalam pandangan mereka adalah haram. Per tanggal 1 Juni 1980, MUI Pusat
mengeluarkan fatwa tentang haramnya pernikahan tersebut. Banyak ulama yang
khawatir, seorang istri yang Islam akan tunduk dan ikut agama si suami yang bukan
Islam. Sebagian ulama di Indonesia mewaspadai kemungkinan tendensi politis dari
kalangan non-Islam untuk menaklukkan umat Islam melalui pernikahan beda agama.
Bagi saya, kekhawatiran ini terlampau jauh, karena banyak pernikahan beda agama
yang berlangsung lama dan bertahan dengan agamanya masing-masing.

Para ulama yang pro-pengharaman nikah beda agama itu mendapatkan sokongan dari
negara. Melalui Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang
berisi hukum perkawinan, kewarisan, dan perwakafan, pemerintah melarang umat
Islam menikah dengan orang yang bukan Islam. Dalam pasal 44 KHI dinyatakan
“seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang
tidak beragama Islam”. Dalam pasal 40 disebutkan, “dilarang melangsungkan
perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita karena keadaan tertentu; ….(c)
seorang wanita yang tidak beragama Islam”. Dengan dua ayat ini tampak jelas bahwa
orang Islam, baik laki maupun perempuan, dilarang melangsungkan pernikahan dengan
orang yang tak beragama Islam.

KHI memang bukan Undang-Undang (UU), melainkan hanya sebuah Inpres. Tapi,
faktanya, KHI lah yang menjadi rujukan para pegawai KUA dalam menikahkan para
laki-laki dan perempuan Islam di Indonesia. KHI juga dipakai para hakim agama dalam
mengatasi persoalan-persoalan perceraian di Indonesia. Dengan kenyataan ini, para
pelaku nikah beda agama tak mendapatkan payung hukum yang menjamin dan
melindungi pernikahan mereka. Ini karena negara melalui KHI telah ikut terlibat dalam
penentuan calon pasangan bagi warga negara yang mau menikah. Para aktivis HAM
berkata bahwa negara tak boleh mengintervensi dan merampas hak privat setiap warga
negara, termasuk dalam soal menentukan suami atau istri. Negara hanya memfasilitasi
dan mencatatkan suatu pernikahan bukan menentukan pasangan dalam pernikahan.

http://www.islamlib.com/?site=1&aid=1743&cat=content&cid=11&title=hukum-nikah-beda-
agama

jawaban nomor 3

Perempuan dalam Konsep Islam


a. Perempuan sebagai individu
Al-qur’an menyoroti perempuan sebagai individu. Dalam hal ini terdapat perbedaan
antara perempuan dalam kedudukannya sebagai individu dengan perempuan sebagai anggota
masyarakat. Al-qur’an memperlakukan baik individu perempuan dan laki-laki adalah sama,
karena hal ini berhubungan antara Allah dan individu perempuan dan laki-laki tersebut, sehingga
terminologi kelamin(sex) tidak diungkapkan dalam masalah ini. Pernyataan-pernyataan al-
Qur’an tentang posisi dan kedudukan perempuan dapat dilihat dalam beberapa ayat sebagaimana
berikut:
1. Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang mempunyai kewajiban samauntuk beribadat
kepadaNya sebagaimana termuat dalam Q.S. Adz-Dzariyat ayat 56.
2. Perempuan adalah pasangan bagi kaum laki-laki termuat dalam Q.S. An-naba’ayat 8.
3. Perempuan bersama-sama dengan kaum laki-laki juga akan mempertanggungjawabkan secara
individu setiap perbuatan dan pilihannya termuat dalam Q. S. Maryam ayat 93-95.
4. Sama halnya dengan kaum laki-laki mukmin, para perempuan mukminat yang beramal saleh
dijanjikan Allah untuk dibahagiakan selama hidup di dunia danabadi di surga. Sebagaimana
termuat dalam Q.S. An-Nahl ayat 97.
5. Sementara itu Rasulullah juga menegaskan bahwa kaum perempuan adalah saudara kandung
kaum laki-laki dalam H.R. Ad-Darimy dan Abu Uwanah.
Dalam ayat-ayat-Nya bahkan Al-qur’an tidak menjelaskan secara tegas bahwa Hawa
diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam, sehingga karenanya kedudukan dan statusnya lebih
rendah. Atas dasar itu prinsip al-Qur’an terhadap kaum laki-laki dan perempuan adalah sama
dimana hak istri adalah diakui secara adil(equal) dengan hak suami. Dengan kata lain laki-laki
memiliki hak dan kewajiban atas perempuan,dan kaum perempuan juga memiliki hak dan
kewajiban atas laki-laki. Karena hal tersebutlah maka Al-Qur’an dianggap memiliki pandangan
yang revolusioner terhadap hubungan kemanusiaan, yakni memberikan keadilan hak antara laki-
laki dan perempuan.
b. Perempuan dan Hak Kepemilikan
Dalam Mansour Fakih (ed), Membincang Feminisme Diskursu Gender Persfektif Islam,
Islam sesungguhnya lahir dengan suatu konsepsi hubungan manusia yang berlandaskan keadilan
atas kedudukan laki-laki dan perempuan. Selain dalam hal pengambilan keputusan, kaum
perempuan dalam Islam juga memiliki hak-hak ekonomi, yakni untuk memiliki harta
kekayaannya sendiri, sehingga dan tidak suami ataupun bapaknya dapat mencampuri hartanya.
Hal tersebut secara tegas disebutkan dalam An-Nisa’ayat 32 yang artinya: “Dan janganlah kamu
iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkanAllah kepada sebagian kamu atas sebagian yang
lain. (Karena) bagi laki-laki adabagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan
(pun) ada bagian dariapa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari
karuniaNya.Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Kepemilikan atas kekayaannya tersebut termasuk yang didapat melalui warisan ataupun
yang diusahakannya sendiri. Oleh karena itu mahar atau maskawin dalam Islam harus dibayar
untuknya sendiri, bukan untuk orang tua dan tidak bisadiambil kembali oleh suami.Sayyid Qutb
menegaskan bahwa tentang kelipatan bagian kaum pria dibanding kaum perempuan dalam hal
harta warisan, sebagaimana yang tertulisdalam Al-Qur’an, maka rujukannya adalah watak kaum
pria dalam kehidupan, ia menikahi wanita dan bertanggung jawab terhadap nafkah keluarganya
selain ia jugabertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya
itu.Itulah sebabnya ia berhak memperoleh bagian sebesar bagian untuk dua orang,sementara itu
kaum wanita, bila ia bersuami, maka seluruh kebutuhannya ditanggungoleh suaminya,
sedangkan bila ia masih gadis atau sudah janda, maka kebutuhannya terpenuhi dengan harta
warisan yang ia peroleh, ataupun kalau tidak demikian, iabisa ditanggung oleh kaum kerabat
laki-lakinya. Jadi perebedaan yang ada di sini hanyalah perbedaan yang muncul karena
karekteristik tanggung jawab mereka yang mempunyai konsekwensi logis dalam pembagian
warisan. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa Islam memberikan jaminan yang penuhkepada kaum
wanita dalam bidang keagamaan, pemilikan dan pekerjaan, dan realisasinya dalam jaminan
mereka dalam masalah pernikahan yang hanya boleh diselenggarakan dengan izin dan kerelaan
wanita-wanita yang akan dinikahkan itutanpa melalui paksaan. “Janganlah menikahkan janda
sebelum diajak musyawarah,dan janganlah menikahkan gadis perawan sebelum diminta izinnya,
dan izinnyaadalah sikap diamnya” (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan Islam memberi jaminan semua hak kepada kaum wanita dengan semangat
kemanusiaan yang murni, bukan disertai dengan tekanan ekonomis atau materialis. Islam justru
memerangi pemikiran yang mengatakan bahwa kaum wanita hanyalah sekedar alat yang tidak
perlu diberi hak-hak. Islam memerangi kebiasan penguburan hidup anak-anak perempuan, dan
mengatasinya dengan semangat kemanusiaan yang murni, sehingga ia mengharamkan
pembunuhan seperti itu.

c. Perempuan dan Pendidikan


Islam memerintahkan baik laki-laki maupun perempuan agar berilmu pengetahuan dan
tidak menjadi orang yang bodoh. Allah sangat mengecam orang-orang yang tidak berilmu
pengetahuan, baik laki-laki maupun perempuan.Sebagaimana dalam Q.S. Az-Zumar ayat 9.
Kewajiban menuntut ilmu juga ditegaskan nabi dalam hadis yang artinya,“Menuntut ilmu itu
wajib atas setiap laki-laki dan perempuan”(HR.Muslim). Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa Islam justru menumbangkan suatusistem sosial yang tidak adil terhadap kaum perempuan
dan menggantikannya dengan sistem yang mengandung keadilan. Islam memandang perempuan
adalah sama dengan laki-laki dari segi kemanusiannya. Islam memberi hak-hak kepada
perempuan sebagaimana yang diberikan kepada kaum laki-laki dan membebankan kewajiban
yang sama kepada keduanya.
F. Konsep Jender Menurut Islam
Persepsi masyarakat mengenai status dan peran perempuan masih belum sepenuhnya
sama. Ada yang berpendapat bahwa perempuan harus berada di rumah, mengabdi pada suami,
dan mengasuh anak-anaknya.Namun ada juga yang berpendapat bahwa perempuan harus ikut
berperan aktif dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bebas melakukan sesuai dengan
haknya. Fenomena ini terjadi akibat belum dipahaminya konsep relasi Jender.
Dalam Agama Islam juga timbul perbedaan pandangan karena terdapat perbedaan
dalam memahami teks-teks Al-Qur’an tentang Jender.Nabi Muhammad SAW,datang membawa
ajaran yang menempatkan wanita pada tempat terhormat,setara dengan laki-laki.Beberapa ayat-
ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa wanita sejajar dengan laki-laki seperti :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka akan Kami berikan mereka kehidupan yang baik dan akan Kami berikan balasan
kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka lakukan.”(Q.S.
Al-Nahl:97)
“Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal yang dilakukan oleh kamu sekalian, kaum laki-
laki dan perempuan.”(Q.S.Ali Imran:195)
Seharusnya dapat dipahami bahwa Allah SWT tidak mendiskriminasi hamba-Nya.
Siapapun yang beriman dan beramal saleh akan mendapat ganjaran yang sama atas
amalnya.Dalam konteks ini laki-laki tidak boleh melecehkan wanita atau bahkan menindasnya.
Pada dasarnya wanita memiliki kesamaan dalam berbagai hak dengan laki-laki,namun
wanita memang diciptakan Allah dengan suatu keterbasan dibanding laki-laki. Maka dari itu
tugas kenabian dan kerasulan tidak dibebankan kepada wanita karena perasaan sensitif yang
dimiliki wanita.Dalam suatu ayat dijelaskan
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita).”(Q.S. Al-Nisa’:34)
Secara teologis, Allah menciptakan wanita dari “unsur” pria (wa khalaqa minha zaujaha)(Hasbi
Indra,2004:5).Sehingga pada dasarnya laki-laki memililiki kelebihan daripada wanita.Kelebihan
ini selanjutnya menjadi tanggung jawab laki-laki untuk membela dan melindungi wanita.Namun
segala kekurangan yang ada dalam wanita tidak menjadi alasan wanita kehilangan derajatnya
dalam kesetaraan Jender.
Walaupun demikian,wanita juga tidak boleh melupakan kodratnya sebagai wanita.Dalam
Islam kodrat wanita adalah :
1. Menjadi Kepala Rumah Tangga
Dalam suatu riwayat disebutkan :
“Setiap manusia keturunan Adama adalah kepala, maka seorang pria adalah kepala keluarga,
sedangkan wanita adalah kepala rumah tangga.”(HR Abu Hurairah)
Artinya kodrat wanita sebagai istri kelak akan menjadi kepala rumah tangga yang mana seorang
istri melakukan tugas-tugas yang tidak dapat dilakukan suami seperti : memasak, mencuci,
mengurus rumah tangga,mengasuh anak-anak dan lain-lain.Selain tugas wanita menjadi seorang
istri yang mengabdi kepada suami,juga beribadah kepada Allah.Pada dasarnya beribadah inilah
merupakan tugas utama.
2. Sebagai Ibu dari Anak-Anaknya
Salah satu kodrat wanita yang cukup berat adalah saat wanita harus mengandung dan
melahirkan.Bahkan karena sangat susah payahnya wanita dalam melahirkan hingga sampai
bertaruh nyawa Allah menjanjikan pahala yang sama seperti para syuhada.Kedua hal ini
merupakan kodrat wanita yang sangat mulia.Namun tidak berhenti cukup disitu,peran yang
sebenarnya adalah dikala wanita menjadi ibu yang dapat mendidik anaknya menjadi anak yang
cerdas,berakhlak dan taat dalam agamanya.

G. Kesetaraan Hubungan antara Perempuan dan Laki-laki dalam Islam


Pada dasarnya semangat hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam bersifat
adil (equal). Oleh karena itu subordinasi terhadap kaum perempuan merupakan suatu keyakinan
yang berkembang di masyarakat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan semangat keadilan
yang diajarkan Islam.
Konsep kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam al- Qur’an, antara lain
sebagai berikut:
Pertama, laki laki dan perempuan adalah sama-sama sebagai hamba.
Dalam alqur’an (Az- Zariyat: 56) disebutkan : ‘’Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembahku’’. Dalam kapasitasnya sebagai hamba, tidak
ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang
sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam al-Qur’an biasa diistilahkan dengan orang-
orang yang bertakwa (muttaqin).
Kedua, Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi.
Maksud dan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini adalah di samping untuk
menjadi hamba yang tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah, juga untuk menjadi
khalifah di bumi, sebagaimana tersurat dalam Alqur’an (Al-An’am: 165) : “Dan dialah yang
menjadikan kalian penguasa penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kalian atas
sebahagian yang lain beberapa derjat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya kepada
kalian. SesungguhnyaTuhan kalian amat cepat siksaanNya dan sesungguhnya Dia Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Juga dalam Alqur’an (al-Baqarah: 30) disebutkan : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.
Mereka berkata: mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi orang yang membuat
kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami selalu senantiasa bertasbih kepadaMu dan
mensucikan Mu. Tuhan berfirman, sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kalian
ketahui:”.
Ketiga, Laki-laki dan Perempuan menerima perjanjian primordial.
Menjelang sorang anak manusia keluar dari rahim ibunya, ia terlebih dahulu harus
menerima perjanjian dengan Tuhannya. Disebutkan dalam Alqur’an (Al-A’raf: 172): “Dan
ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) Bukankah Aku ini TuhanMu?
Mereka menjawab: Betul (EngkauTuhan kami), kami menjadi saksi.(Kami lakukan).
Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan
Tuhan)”.
Dalam Islam tanggung jawab individual dan kemandirian berlangsung sejak dini, yaitu
semenjak dalam kandungan. Sejak awal sejarah manusia dalam Islam tidak dikenal adanya
diskriminasi kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama menyatakan ikrar ketuhanan yang
sama.
Keempat, Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi.
Tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan untuk meraih peluang prestasi.
Disebutkan dalam Alquran (Al-Nisa: 124) : “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh,
baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke
dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. Juga (Al-Nahl: 97): “Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman,
Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya
akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah
mereka kerjakan”.
Juga (al-Mu’min:40): “Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan
dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan Barangsiapa mengerjakan amal yang
saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan
masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab”.
Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan konsep kesetaraan yang ideal dan memberikan
ketegasan bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun urusan karir
profesional, tidak mesti dimonopoli oleh satu jenis kelamin saja.
Menurut Nasaruddin Umar, Islam memang mengakui adanya perbedaan (distincion)
antara laki-laki dan perempuan, tetapi bukan pembedaan (discrimination). Perbedaan tersebut
didasarkan atas kondisi fisik-biologis perempuan yang ditakdirkan berbeda dengan laki-laki,
namun perbedaan tersebut tidak dimaksudkan untuk memuliakan yang satu dan merendahkan
yang lainnya.
Ajaran Islam tidak secara skematis membedakan faktor-faktor perbedaan laki-laki dan
perempuan, tetapi lebih memandang kedua insan tersebut secara utuh. Antara satu dengan
lainnya secara biologis dan sosio kultural saling memerlukan dan dengan demikiann antara satu
dengan yang lain masing-masing mempunyai peran. Boleh jadi dalam satu peran dapat dilakukan
oleh keduanya, seperti perkerjaan kantoran, tetapi dalam peran-peran tertentu hanya dapat
dijalankan oleh satu jenis, seperti; hamil, melahirkan, menyusui anak, yang peran ini hanya dapat
diperankan oleh wanita. Di lain pihak ada peran-peran tertentu yang secara manusiawi lebih tepat
diperankan oleh kaum laki-laki seperti pekerjaan yang memerlukan tenaga dan otot lebih besar.
Dengan demikian dalam perspektif normativitas Islam, hubungan antara lakilaki dan
perempuan adalah setara. Tinggi rendahnya kualitas seseorang hanya terletak pada tinggi-
rendahnya kualitas pengabdian dan ketakwaannya kepada Allah swt. Allah memberikan
penghargaan yang sama dan setimpal kepada manusia dengan tidak membedakan antara laki-laki
dan perempuan atas semua amal yang dikerjakannya.
KESIMPULAN

1. Gender adalah suatu konsep yang mengkaji tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan
sebagai hasil dari pembentukan kepribadian yang berasal dari masyarakat (kondisi sosial, adat-
istiadat dan kebudayaan yang berlaku).
2. Pandangan beberapa tokoh mengenai gender yakni merupakan perbedaan peran, fungsi, dan
tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan yang merupakan hasil konstruksi social dan
dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Adapun karakteristik laki-laki dan
perempuan tersebut berdasarkan dimensi social kultural yang tampak dari nilai dan tingkah laku.
3. Perempuan dalam konsep islam adalah perempuan sebagai individu yang memiliki kedudukan
yang sama dengan laki-laki dan memiliki peran masing-masing. Memiliki hak-hak ekonomi dan
kewajiban menuntut ilmu.
4. Alasan biasnya jender yaitu karena ketidaktahuan perempuan akan kebebasan yang dimilikinya,
sehingga menghalangi dalam gerak langkahnya. Selain itu, juga dikarenakan olek kemandekan
tafsir ayat Al-Qur’an dan Hadits terhadap kedudukan laki-laki sebagai pemimpin yang
menjadikan perempuan harus taat kepadanya. Biasnya jender juga disebabkan karena
pengabaian konteks sebab turunnya ayat (asbabun nuzul) dan disabdakannya hadits (asbabul
wurud), serta normalisasi relasi jender yang bersifat patriarkis.
5. Kesetaraan jender bagi perempuan sangat diperjuangkan. Hal ini terlihat dari sejarah perjuangan
perempuan menuju kesetaraan baik di dunia internasional maupun nasional (Indonesia). Di dunia
internasional perjuangan perempuan dibuktikan dengan dihasilkannya'The Millenium
Development Goals' (MDGs) pada konferensi PBB tahun 2000 yang mempromosikan kesetaraan
gender dan pemberdayaan perempuan sebagai cara efektif untuk memerangi kemiskinan,
kelaparan, dan penyakit serta menstimulasi pembangunan yang sungguh-sungguh dan
berkelanjutan. Di Indonesia perjuangan perempuan dipelopori oleh R.A Kartini dengan surat-
suratnya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Selain itu juga banyak organisasi-
organisasi perempuan yang yang ditujukan untuk membantu proses kemerdekaan RI, contohnya
seperti Kowani (Kongres Wanita Indonesia) dan KPI (Kongres Perempuan Indonesia) yang
mendiskusikan tentang RUU Perkawinan yang berkeadilan.
6. Konsep jender menurut Islam memiliki pandangan yang berbeda-beda. Laki-laki diciptakan
dengan kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh wanita. Kelebihan ini selanjutnya menjadi
tanggung jawab laki-laki untuk membela dan melindungi wanita. Namun segala kekurangan
yang ada dalam wanita tidak menjadi alasan wanita kehilangan derajatnya dalam kesetaraan
Jender. Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan dalam berbagai hak. Akan
tetapi, dalam kesamaan hak tersebut perempuan tetap harus mengingat kodratnya sebagai
perempuan, yakni perempuan yang menjadi kepala rumah tangga, dan sebagai ibu dari anak-
anaknya.
7. Kesetaraan jender menurut Islam dipandang dari segi sosio biologis dan tingkat ketaqwaan.
Secara bilogis dan sosio kultural laki-laki dan perempuan saling memerlukan sehingga ada
peran masing-masing diantara keduanya. Sementara itu, kesetaraan jender juga dilihat dari
tingkat pengabdian dan ketaqwaannya kepada Allah, bahwa Allah tidak membeda-bedakan
antara laki-laki dan perempuan melainkan dari tinggi rendahnya kualitas pengabdian dan
ketaqwaan hambanya.
http://masfadlul.blogspot.com/2013/12/makalah-tentang-gender-menurut-islam.html

jawaban nomor 4

PEMBAHASAN

A. Pengertian mawaris dan dasar hukumnya


Mawaris adalahilmu yang membicrakan tentang cara-cara pembagian harta waris. Ilmu
mawarisdisebut juga ilmu faraid. Harta waris ialah harta peninggalan orangmati. Di dalam
islam, harta waris disebut juga tirkah yang berartipeninggalan atau harta yang ditinggal mati
oleh pemiliknya. Di kalangantertentu, harta waris disebut juga harta pusaka. Banyak terjadi
fitnahberkenaan dengan harta waris. Terkadang hubungan persaudaraan dapat terputuskarena
terjadi persengketaan dalam pembagian harta tersebut. Islam hadirmemberi petunjuk cara
pembagian harta waris. Diharapkan dengan petunjuk itumanusia akan terhindar dari pertikaian
sesame ahli waris.
Secaraetimologis Mawaris adalah bentuk jamak dari kata miras (‫)موارث‬, yang merupakan
mashdar (infinitif) dari kata : warasa –yarisu – irsan – mirasan. Maknanya menurut bahasa
adalah ; berpindahnya sesuatudari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kaum kepada
kaum lain.
Sedangkanmaknanya menurut istilah yang dikenal para ulama ialah, berpindahnya hak
kepemilikandari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik
yangditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hakmilik yang legal
secara syar’i. Jadi yang dimaksudkan dengan mawaris dalamhukum Islam adalah pemindahan
hak milik dari seseorang yang telah meninggalkepada ahli waris yang masih hidup sesuai dengan
ketentuan dalam al-Quran danal-Hadis.
Sedangkanmistilah Fiqih Mawaris dimaksudkan ilmu fiqih yang mempelajari siapa-siapa
ahliwaris yang berhak menerima warisan, siapa yang tidak berhak menerima, sertabagian-bagian
tertentu yang diterimanya.
SedangkanWirjono Prodjodikoro mendefinisikan warisan sebagai berikut; soal apakah
danbagaimanakah pelbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorangpada
waktu ia meninggal dunia akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.
Fiqih Mawarisjuga disebut Ilmu Faraid, diambil dari lafazh faridhah, yang oleh
ulamafaradhiyun semakna dengan lafazh mafrudhah, yakni bagian yang telah
dipastikankadarnya. Jadi disebut dengan ilmu faraidh, karena dalam pembagian hartawarisan
telah ditentukan siapa-siapa yang berhak menerima warisan, siapa yangtidak berhak, dan jumlah
(kadarnya) yang akan diterima oleh ahli waris telahditentukan
Pembagian hartawaris dalam islam menggunakan dasar hokum yang terdapat antara lain
dalamQs.An-nisa[4];7 dan 12;
B. TUJUANKEWARISAN ISLAM
Adapun tujuan kewarisan dalam Islam dapat kita rumuskan sebagaiberikut :
1) Penetapan bagian-bagian warisan dan yang berhak menerima secara rinci danjelas, bertujuan
agar tidak terjadinya perselisihan dan pertikan antara ahliwaris. Karena denganketentuan-
ketentuan tersebut, masing-masing ahli waris harus mengikutiketentuan syariat dan tidak bisa
mengikuti kehendak dan keinginan masing-masing.
2) Baik laki-laki maupun perempuan mendapat bagian warisan (yang padamasa jahiliyah hanya
laki-laki yang berhak) sebagai upaya mewujudkan pembagiankewarisan yang berkeadilan
berimbang. Dalam artian masing-masing berhakmenerima warisan sesuai dengan porposi beban
dan tanggung jawabnya.
C. Harta waris sebelum dibagi
Apabila seorangmuslim meninggal dunia dan meninggalkan harta benda, maka setelah
manyatdikuburkan, keluarganya wajib mengelol harta peninggalannya denganlangkah-langkah
berikut;
1) Pertama, membiayai perawatan jenasahnya.
2) Kedua, membayar zakatnya jika si mayat belum mengeluarkan zakatsebelum meninggal.
3) Ketiga, membayar utang-utangnya apabila mayat meninggalkan utang.
4) “jiwa seorang mukmin tergantung padautangnya sehingga dilunsi.”
5) Keempat, membayarkan wasiatnya, jika mayat berwasiat sebelummeninggal dunia.
6) Kelima, setelah dibayarkan semua, tentukan sisa harta peninggalanmayat sebagai harta pusaka
yang dinamai tirkah atau mauruts atauharta yang akan dibagikan kepada ahli waris mayat
berdasarkan ketentuan hokumwaris islam.

D. Asbabul irsih dan mawani’ul irsi


1) Asbabul irsi (sebab-sebab memperoleh harta warisan) seorang berhakmemperoleh harta waris
disebabkan oleh hal-hal berikut :
a. Perkawinan, yaitu adanya ikatan yang sah antara laki-laki danperempuan sebagai suami istri
yang tidak terhalang oleh siapapun.
b. Kekerabatan , yaitu hubungan nasab antara orang yang mewariskan danorang yang mewarisi
yang disebeabkan oleh kelahiran. Hubungan ini tidak akanterputus karena yang menjadi sebab
adanya seseorang tidak bisa dihilangkan.
c. Memerdekakan orang yang meninggal (jika pernah menjadi budak ).
d. Ada hubungan sesame muslim(jika yang meninggal tidak mempunyai ahli waris).
2) Mawani’ ul irsi (sebab-sebab terhalang memperoleh harta waris).Seseorang terhalang untuk
memperoleh harta waris(walaupun sebenarnya ahli berikut :
a. Ia menjadi budak
b. Ia membunuh orang yang meninggalkan warisan
c. Ia berbeda agama dengan yang meninggalkanharta warisan
d. Ia murtad
Apabila seseorang meninggal dunia dan tidak mempunyai ahli waris, hartawarisnya
diserahkan ke baitulmal atau las masjid. Dari baitulmal, hartatersebut dapat dimanfaatkan
bersama harta zakat yang lain.
E. Ahlul irsi (ahli waris)
Ahli warisadalah orang-orang yang mempunyai hubungan dengan
simayat.Hubungan itu bisa berupa perkawinan, hubungan nasab (keturunan),atau pernah
memerdekakan simayat jika pernah menjadi budak.
Ditinjau dari segi bagiannya, ahli waris dibagi menjadi tiga macam;yaitu ahli waris zawil
furud, asabat, dan zawil arham.
1. Ahli waris zawil furud
Ahli waris zawil furud ialah ahli waris yang bagiannya telahditentukan banyak sedikitnya,
misalnya sebagai berikut :
a. Suami memperoleh setengah dari harta peninggalan istri jika istritidak meninggalkan anak.
Apabila istri meninggalkan anak, bagian suamiseperempat.
b. Istri mendapat seperempat dari harta peninggalan suami jika suamitidak meninggalkan anak.
Apabila suami menginggalkan anak, bagian istriseperdelapan.
2. Ahli waris asabat
Ahli waris asabat ialah ahli waris yang belum ditentukan besarkecilnya bagian yang diterima,
bahkan ada kemungkinan asabat tidak memperolehbagiaan sama sekali. Hal ini dipengaruhi ahli
waris zawil furud.
Asabat dibagi menjadi tiga macam, yaitu asabat binafsih, asabatbil-gair, dan asabat
ma’al-gair.
1. Asabat binafsih, yaitu ahli waris yang secara otomatis dapatmenjadi asabat, tanpa sebab yang
lain. Mereka itu ialah :
a) Anak laki-laki, cucu laki-laki terus ke bawah garis laki-laki
b) Bapak, kakek, terus ke atas garis laki-laki
c) Saudara laki-laki sekandung dan sebapak
d) Anak saudara laki-laki sekandung dan sebapak
e) Paman sekandung dengan bapak atau sebapak saja
f) Anak laki-laki paman yang sekandung dengan bapak atau sebapak.
2. Aasabat bil-gair, yaitu ahli waris yang dapat menjadi asabat apabila di tarik ahli waris lain.
Mereka ituialah :
a) Anak perempuan karena ditarik oleh anaklaki-laki
b) Cucu perempuan karena ditarik cucu laki-laki
c) Saudara perempuan sekandung karena ditariksaudara laki-laki sekandung
d) Saudara perempuan sebapak karena ditarik saudara laki-laki sebapak.
3. Asabat ma’al-gair, yaitu ahli waris yang menjadi asabat bersamaahli waris lainnya. Mereka itu
ialah :
a) Saudara perempuan sekandung (seorang atau lebih) bersama dengananak perempuan (seorang
atau lebih)
b) Saudara permpuan sebapak (seoarang atua lebih) bersama dengan anak perempuan
(seorang ataulebih)
3. Ahli waris zawil arham
Ahli wariszawil ahram ialah ahli waris yang sudah jauh hubungan kekeluargaannya
denganmayat. Ahli waris ini tidak mendapat bagian, kecuali karena mendapat pemberiandari
zawil furud dan asabat atau karena tidak ada ahli waris lain (zawil furuddan asabat).
F. Furul muqaddarah
Furudulmuqaddarah atau ketentuan bagian ahli waris ada beberapamacam. Terkadang,
ketentuan itu bisa berubah-ubah karena suatu sebab. Berikutketentuan-ketentuan bagian ahli
waris dan pembahasannya.
1. Ketentuan awal
a) Yang mendapat bagian setengah (1/2) adalah :
1. Anak perempuan tunggal.
2. Cucu perempuan tunggal tunggal dari anak Laki-laki.
3. Saudara perempuan sekandung sebapak (jika sekandung tidak ada).
4. Suami jika istri yang meninggal tidak mempunyai anak.
b) Yang mendapat bagian seperempat (1/4) adalah :
1. Suami jika istri yang meninggal punya anak.
2. Istri jika suami yang meninggal tidak mempunyai anak.
c) Yang mendapatkan bagian seperdelapan (1/8) adalah ;
1. Istri jika suami yang meninggal mempunyai anak
d) Yang mendapat bagian dua pertiga (2/3) adalah ;
1. Dua anak perempuan atau lebih jika tidak anak laki-laki
2. Dua cucu atau lebih dari anak laki-laki jika tidak ada anak perempuan
3. Dua saudara perempuan sekandung atau lebih
4. Dua saudara peempuan atau lebih yang sebapak jika yang sekandung tidak ada
e) Yang mendapat bagian sepertiga (1/3) adalah ;
1. Ibu jika yang meninggal tidak mempunyai anak atau saudara perempuan
2. Dua saudara perempuan atau lebih jika yang meninggal tidak mempunyai anakatau orang tua
f) Yang mendapat bagian seperenam (1/6) adalah ;
1. Ibu jika anak atau cucu dari anak laki-laki, atau tidak ada duasaudara atau lebih, sekandung atau
seribu saja
2. Bapak jika ada anak atau cucu dari anak laki-laki (baik laki-lakimaupun perempuan).
2. Perubahan ketentuan bagian ahli waris
bagian yangditerima ahli wari zawil furud tidak pasti, tetapi dapat berubah karena
adanyaahli waris lain yang sama-sama berhak atas harta waris. Perubahan-prubahan
yangdimaksud adalah sebagai berikut :
a) suami mendapat
1. ½ jika tidak ada anak
2. ¼ jika ada anak
b) Istri mendapat
1. ¼ jika tidak ada ada anak
2. 1/8 jika ada anak
c) Anak laki-laki
1. Menghabiskan seluruh harta apabila tidak ahli waris lain
2. Harta dibagi sama jika bersama saudara laki-lakinya
3. Dua kali lipat bagian anak perempuan jika bersama-sama saudara perempuannya
4. Mendapat sisa jika ada ahli waris lain dan ada sisa
d) Anak perempuan
1. ½ jika sendiri
2. 2/3 jika dua orang atau lebih
3. Asabat jika bersama sauadara laki-lakinya
e) Cucu laki-laki
1. Menghabiskan seluruh harta jika tidak ada ahli waris lainnya
2. Dibagi rata jika bersama saudaranya laki-laki
3. Dua kali bagian saudara perempuannya jika ada saudara perempuan
4. Asabat jika bersama waris yang lain yang mendapat bagian tertentu
f) Cucu perempuan mendapat
1. ½ jika seorang
2. 2/3 jika banyak (untuk mereka 2/3 bagian rata)
3. Asabat jika ditRIK oleh saudaranya laki-laki (cucu laki-laki)
4. 1/6 jika bersama anak perempuan
g) Bapak mendapat
1. 1/6 jika bersama anak laki-laki atau cucu laki-laki perempuan darianak laki-laki atau bersama
saudara
2. 1/6 dari jika bersama anak perempuan
3. Asabat jika tidak ada ahli waris
4. 2/3 jika ahli hanya inu dan bapak
5. 2/3 dari sisa harta (dalam masalah garawain ) yaitu :
 Ahli waris terdiri atas ibu dan bapak saja
 Ahli waris terdiri atas istri, ibu dan bapak
h) Ibu mendapat
1. 1/6 jika bersama anak atau cucu dari anak laki-laki
2. 1/3 jika hanya ibu dan bapak
3. 1/3 dari sisa Dalam masalah garawain
i) Kakek mendapat
1. 1/6 jika bersama anak atau cucu dari anak laki-laki
2. 1/6 ditambah sisa jika bersama anak atau cucu peremuan, sedangkan mayattidak meninggalkan
anak laki-laki dan cucu laki-laki
3. Semua harta jika tidak ada ahli waris yang lain
4. Semua sisa harta jika mayat tidak meninggalkan anak atau cucu
j) Nenek mendapat
1. 1/6 baik bersama ahli waris yang lain atau tunggal
2. 1/6 dibagi bila dua orang atau lebih
k) Saudara laki-laki sekandung mendapat
1. Seluruh harta jika tidak ada ahli Waris lain
2. Dua kali bagian saudara perempuan
3. Asabat jika bersama ahli waris lain
l) Saudara perempuan sekandung mendapat
1. ½ jika ia sebagai ahli waris tunggal
2. 2/3 jika lebih dari seorang dan tidak ada ahli waris lain
3. Asabat bersama saudara laki-laki sekandung
4. Asabat bersama anak perempuan dan cucu perempuan
m) Saudara laki-laki sebapak mendapat
1. Menerima seluruh harta jika tidak ada ahli waris lain, dibagi sama rataapabila lebih dari seorang
2. Asabat jika ada ahli waris lain
n) Saudara perempuan sebapak mendapaat
1. ½ jika hanya seorang diri
2. 2/3 jika lebih dari seorang
3. 1/6 jika bersama saudara perempuan sekandung
4. Asabat bersama saudaranya laki-laki
5. Asabat jika ada anak atau cucu perempun seorang atau lebih dan tidak adasaudara perempuan
seibu
o) Saudara laki-laki atau perempuan seibu mendapat
1. 1/6 jika seorang diri
2. 1/3 jika dua orng atau lebih.

G. Hijab dan mahjub


Hijab ialahahli waris yang menjadi penghalang bagi ahli waris lain untuk menerima
bagianharta waris. Hijab dibedakan menjadi dua macam, yaitu hijab hirman dan hijab
nuqsan.
1) Hijab hirman apabila menutupnya secara mutlak sehingga mahjub (orang yangtertutup) sama
sekali tidak memperoleh bagian.
2) Hijab nuqsan apabila menutupnya tidak mutlak (sekedar mengurangi jatah yangditerima
mahjub), misalnya dari ¼ menjadi 1/8.
Mahjub ialahahli waris yang tertutup ahli waris lain untuk menerima bagian harta
waris.Apabila hijabnya hirman, mahjub pun hirman, demekian pula sebaliknya.
1) Nenek dari garis ibu gugur haknya karena adanya ibu.
2) Nenek dari garis ayah gugur haknya karena adanya ayah dan ibu
3) Saudara seibu gugur haknya baik laki-laki ataupun perempuan oleh:
a. anak kandung laki/perempuan
b. cucu baik laki-laki/perempuan dari garis laki-laki
c. bapak
d. kakek
4) Saudara seayah baik laki-laki/perempuan gugur haknya oleh :
a. ayah
b. anak laki-laki kandung
c. cucu laki-laki dari garis laki-laki
d. Saudara laki-laki kandung
5) Saudara laki-laki/perempuan kandung gugur haknya oleh:
a. anak laki-laki
b. cucu laki-laki dari garis anak laki-laki
c. ayah
6) Jika semua ahli waris itu laki-laki yangdapat bagian ialah.
a. suami
b. ayah
c. anak laki-laki
7) Jika semua ahli waris itu semuanya perempuan dan ada semua, maka yang dapatwarisan ialah:
a. Isteri
b. Anak perempuan
c. Cucu perempuan
d. Ibu
e. Saudara perempuan kandung
8) Urutan pembagian antara saudara laki-laki kandung/ saudara laki-laki seayahsampai kebawah
dan urutan paman kandung / paman seayah sampai kebawah.
- See more at: http://manbaulilmiwalhikami.blogspot.com/2014/01/mawaris-dalam-
islam.html#sthash.TUQ9mD8z.dpuf

http://manbaulilmiwalhikami.blogspot.com/2014/01/mawaris-dalam-islam.html

jawaban nomor 5

DEMOKRASI DAN MUSYAWARAH (ISLAM)

a. Demokrasi

Isitilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno
pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal
dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern.
Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi
modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan
sistem “demokrasi” di banyak negara.

Kata “Demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan
kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai
pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari
rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata
kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi
saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara


sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan rakyat) atas negara
untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga
kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan
dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada
dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga
jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling
mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.

c. Musyawarah

Secara etimologis, musyawarah berasal dari kata “syawara” yang pada


mulanya bermakna mengeluarkan madu dari sarang lebah. Makna ini
kemudian berkembang, sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat
diambil atau dikeluarkan dari yang lain, termasuk pendapat. Musyawarah
dapat juga berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Kata
musyawarah pada dasarnya hanya digunakan untuk hal-hal yang baik,
sejalan dengan makna dasarnya.

Karena kata musyawarah adalah bentuk mashdar dari kata kerja syawara
yang dari segi jenisnya termasuk kata kerja mufa’alah (perbuatan yang
dilakukan timbal balik), maka musyawarah haruslah bersifat dialogis,
bukan monologis. Semua anggota musyawarah bebas mengemukakan
pendapatnya. Dengan kebebasan berdialog itulah diharapkan dapat
diketahui kelemahan pendapat yang dikemukakan, sehingga keputusan
yang dihasilkan tidak lagi mengandung kelemahan.

Musyawarah atau syura adalah sesuatu yang sangat penting guna


menciptakan peraturan di dalam masyarakat mana pun. Setiap negara
maju yang menginginkan keamanan, ketentraman, kebahagiaan dan
kesuksesan bagi rakyatnya, tetap memegang prinsip musyawarah ini.
Tidak aneh jika Islam sangat memperhatikan dasar musyawarah ini.
Islam menamakan salah satu surat Al-Qur’an dengan Asy-Syura, di
dalamnya dibicarakan tentang sifat-sifat kaum mukminin, antara lain,
bahwa kehidupan mereka itu berdasarkan atas musyawarah, bahkan
segala urusan mereka diputuskan berdasarkan musyawarah di antara
mereka. Sesuatu hal yang menunjukkan betapa pentingnya musyawarah
adalah, bahwa ayat tentang musyawarah itu dihubungkan dengan
kewajiban shalat dan menjauhi perbuatan keji.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syura 42: 37-38 : “Dan
(bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji,
dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-
orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan-Nya dan mendirikan
shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antar
mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami
berikan kepada mereka.”

Dalam ayat di atas, syura atau musyawarah sebagai sifat ketiga bagi
masyarakat Islam dituturkan sesudah iman dan shalat. Menurut Taufiq
asy-Syawi, hal ini memberi pengertian bahwa musyawarah mempunyai
martabat sesudah ibadah terpenting, yaitu shalat, sekaligus memberikan
pengertian bahwa musyawarah merupakan salah satu ibadah yang
tingkatannya sama dengan shalat dan zakat. Maka masyarakat yang
mengabaikannya dianggap sebagai masyarakat yang tidak menetapi salah
satu ibadah.

http://www.gudangmateri.com/2010/12/demokrasi-dan-musyawarah-islam.html

Pengertian Hak Asasi Manusia


Secara etimologi hak merupakan unsure normative yang berfungsi sebagai pedoman
prilaku, melindungi kebebasan, kekebalan, serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam
menjadi harkat dan martabatnya. Sedangkan asasi berarti yang bersifat paling mendasar yang
dimiliki manusia sebagai fitrah, sehingga tak satu pun makhluk mengintervensinya apalagi
mencabutnya.
Dalam pasal 1 UU. No. 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “hak asasi
manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung
tinggi, dan dilindungi oleh Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia”.

Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar atau hak-hak pokok yang dimiliki oleh setiap
umat manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa kepada hamba-Nya, yaitu umat
manusia tanpa terkecuali.

Beberapa Macam Hak Asasi Manusia


Hak-hak asasi manusia dapat dibagi menjadi 6, yaitu:

1. Hak asasi pribadi/personal right yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan
memeluk agama, dan kebebasan bergerak.
2. Hak hak asasi ekonomi/property right yaitu hak untuk memiliki sesuatu, membeli, menjual, serta
memanfaatkannya.
3. Hak-hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan atau
yang biasa disebut right of legal equality.

4. Hak-hak asasi politik/politicial right, yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih
(memilih dan dipilih dalam pemilihan umum), dan mendirikan partai politik.
5. Hak-hak asasi sosial dan budaya/social and cultur right, misalnya hak untuk memilih pendidikan
dan mengembangkan kebudayaan.
6. Hak-hak asasi mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan atau procedural
right, missal pengaturan dalam hal penangkapan, penggeledahan dan peradilan.

II.3. Hak Asasi Manusia Dalam Islam


Sejak mula sebelum lahirnya berbagai gagasan tentang HAM, Islam telah meletakkan
dasar yang kuat. Islam memandang bahwa kedudukan manusia adalah sama dan hanya
dibedakan dari sudut ketqawaan, tidak ada paksaan dalam beragama dan tidak boleh suatu kaum
menghina kaum yang lain. Rasulullah SAW. sendiri bersabda, “Setiap manusia dilahirkan dalam
keadaan suci”
Landasan pijak keterkaitan dengan hak tersebut dalam Islam dikenal melalui dua tancap,
yaitu hak manusia dan hak Allah. Hak manusia itu bersifat relative sedangkan hak Allah adalah
mutlak, tetapi antara kedua hak tersebut saling melindungi satu sama lain.

II.4. Prinsip-Prinsip Ham Dalam Islam


Hak asasi manusia dalam Islam sebagaimana tersentuh dalam Allah, menurut Musdar F
Mas’udi, memiliki lima prinsip, yaitu:
1. Hak perlindungan terhadap jiwa.
Kehidupan merupakan suatu hal yang sangat niscaya dan tidak boleh dilanggar oleh siapapun,
Allah berfirman dalam surat

“Membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang menyelamatkan kehidupan seorang


manusia, maka seolah-olah dia telah menyelamatkan kehidupan manusia semuanya”.
2. Hak perlindungan keyakinan.
Dalam hal ini Allah telah menguti dalam Al-Qur’an yang berbunyi “In Taqrah al-dhin” dan
“Lakum dinukum waliyadin”.

3. Hak perlindungan terhadap akal pikiran.


Hak perlindungan terhadap akal pikiran ini telah diterjemah dalam perangkat hukum yang sangat
elementer, yakni tentang harusnya menjauhi makanan dan minuman yang dapat merusak akal
dan pikiran manusia.

4. Hak perlindungan terhadap hak milik.


Hak perlindungan terhadap hak milik telah dimaksudkan dalam hukum sebagaimana telah
diharamkannya pencurian.

5. Hak berkeluarga atau hak memperoleh keturunan dan mempertahankan nama baik.

http://ukhuwahislah.blogspot.com/2013/06/makalah-pandangan-islam-terhadap-ham_7.html
(2) HAM Menurut Konsep Islam

ak asasi dalam Islam berbeda dengan hak asasi menurut pengertian yang umum dikenal. Sebab seluruh hak
merupakan kewajiban bagi negara maupun individu yang tidak boleh diabaikan. Rasulullah saw pernah
bersabda: "Sesungguhnya darahmu, hartamu dan kehormatanmu haram atas kamu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka negara bukan saja menahan diri dari menyentuh hak-hak asasi ini, melainkan mempunyai kewajiban
memberikan dan menjamin hak-hak ini.

Sebagai contoh, negara berkewajiban menjamin perlindungan sosial bagi setiap individu tanpa ada perbedaan jenis
kelamin, tidak juga perbedaan muslim dan non-muslim. Islam tidak hanya menjadikan itu kewajiban negara,
melainkan negara diperintahkan untuk berperang demi melindungi hak-hak ini. Dari sinilah kaum muslimin di
bawah Abu Bakar memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Negara juga menjamin tidak ada pelanggaran terhadap hak-hak ini dari pihak individu. Sebab pemerintah
mempunyai tuga sosial yang apabila tidak dilaksanakan berarti tidak berhak untuk tetap memerintah. Allah
berfirman:

"Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, niscaya mereka menegakkan shalat,
menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar. Dan kepada Allah-lah kembali
semua urusan."(QS. 22: 4)

Nash Qur’an dan Sunnah tentang HAM

eskipun dalam Islam, hak-hak asasi manusia tidak secara khusus memiliki piagam, akan tetapi Al-Qur’an dan As-
Sunnah memusatkan perhatian pada hak-hak yang diabaikan pada bangsa lain. Nash-nash ini sangat banyak, antara
lain:

1. Dalam al-Qur’an terdapat sekitar empat puluh ayat yang berbicara mengenai paksaan dan kebencian. Lebih
dari sepuluh ayat bicara larangan memaksa, untuk menjamin kebebasan berfikir, berkeyakinan dan
mengutarakan aspirasi. Misalnya:"Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu, barangsiapa yang ingin
beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir." (QS. 18: 29)

1. Al-Qur’an telah mengetengahkan sikap menentang kedzaliman dan orang-orang yang berbuat dzalim dalam
sekitar tiga ratus dua puluh ayat, dan memerintahkan berbuat adil dalam lima puluh empat ayat yang
diungkapkan dengan kata-kata:‘adl, qisth dan qishas.

1. Al-Qur’an mengajukan sekitar delapan puluh ayat tentang hidup, pemeliharaan hidup dan penyediaan
sarana hidup. Misalnya: "Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu
membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah
membunuh manusia seluruhnya." (QS. 5: 32). Juga Qur’an bicara kehormatan dalam sekitar dua puluh ayat.

1. Al-Qur’an menjelaskan sekitar seratus lima puluh ayat tentang ciptaan dan makhluk-makhluk, serta tentang
persamaan dalam penciptaan. Misalnya: "... Orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling
bertawa diantara kamu."(QS. 49: 13)

1. Pada haji wada’ Rasulullah menegaskan secara gamblang tentang hak-hak asasi manusia, pada lingkup
muslim dan non-muslim, pemimpin dan rakyat, laki-laki dan wanita. Pada khutbah itu nabi saw juga
menolak teori Yahudi mengenai nilai dasar keturunan.

Manusia di mata Islam semua sama, walau berbeda keturunan, kekayaan, jabatan atau jenis kelamin. Ketaqwaan-lah
yang membedakan mereka. Rakyat dan penguasa juga memiliki persamaan dalam Islam. Yang demikian ini hingga
sekarang belum dicapai oleh sistem demokrasi modern. Nabi saw sebagai kepala negara juga adalah manusia biasa,
berlaku terhadapnya apa yang berlaku bagi rakyat. Maka Allah memerintahkan beliau untuk
menyatakan: "Katakanlah bahwa aku hanyalah manusia biasa, hanya saja aku diberi wahyu, bahwa Tuhanmu
adalah Tuhan yang Esa." (QS. 18: 110).

(4) Rumusan HAM dalam Islam

pa yang disebut dengan hak asasi manusia dalam aturan buatan manusia adalah keharusan (dharurat) yang mana
masyarakat tidak dapat hidup tanpa dengannya. Para ulama muslim mendefinisikan masalah-masalah dalam kitab
Fiqh yang disebut sebagai Ad-Dharurat Al-Khams, dimana ditetapkan bahwa tujuan akhir syari’ah Islam adalah
menjaga akal, agama, jiwa, kehormatan dan harta benda manusia.

Nabi saw telah menegaskan hak-hak ini dalam suatu pertemuan besar internasional, yaitu pada haji wada’. Dari Abu
Umamah bin Tsa’labah, nabi saw bersabda: "Barangsiapa merampas hak seorang muslim, maka dia telah berhak
masuk neraka dan haram masuk surga." Seorang lelaki bertanya: "Walaupun itu sesuatu yang kecil, wahay
rasulullah ?" Beliau menjawab: "Walaupun hanya sebatang kayu arak." (HR. Muslim).

Islam berbeda dengan sistem lain dalam hal bahwa hak-hak manusia sebagai hamba Allah tidak boleh diserahkan
dan bergantung kepada penguasa dan undang-undangnya. Tetapi semua harus mengacu pada hukum Allah. Sampai
kepada soal shadaqah tetap dipandang sebagaimana hal-hal besar lain. Misalnya Allah melarang bershadaqah
(berbuat baik) dengan hal-hal yang buruk. "Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan
dari padanya..." (QS. 2: 267).

1. Hak-hak Alamiah

Hak-hak alamiah manusia telah diberikan kepada seluruh ummat manusia sebagai makhluk yang diciptakan dari
unsur yang sama dan dari sumber yang sama pula (lihat QS. 4: 1, QS. 3: 195).

a. Hak Hidup

Allah menjamin kehidupan, diantaranya dengan melarang pembunuhan dan meng-qishas pembunuh (lihat QS. 5: 32,
QS. 2: 179). Bahkan hak mayit pun dijaga oleh Allah. Misalnya hadist nabi: "Apabila seseorang mengkafani mayat
saudaranya, hendaklah ia mengkafani dengan baik." Atau "Janganlah kamu mencaci-maki orang yang sudah mati.
Sebab mereka telah melewati apa yang mereka kerjakan." (Keduanya HR. Bukhari).

b. Hak Kebebasan Beragama dan Kebebasan Pribadi

Kebebasan pribadi adalah hak paling asasi bagi manusia, dan kebebasan paling suci adalah kebebasan beragama dan
menjalankan agamanya, selama tidak mengganggu hak-hak orang lain. Firman Allah: "Dan seandainya Tuhanmu
menghendaki, tentulah beriman orang di muka bumi seluruhnya. Apakah kamu memaksa manusia supaya mereka
menjadi orang beriman semuanya?" (QS. 10: 99).

Untuk menjamin kebebasan kelompok, masyarakat dan antara negara, Allah memerintahkan memerangi kelompok
yang berbuat aniaya terhadap kelompok lain (QS. 49: 9). Begitu pula hak beribadah kalangan non-muslim. Khalifah
Abu Bakar menasehati Yazid ketika akan memimpin pasukan: "Kamu akan menemukan kaum yang mempunyai
keyakinan bahwa mereka tenggelam dalam kesendirian beribadah kepada Allah di biara-biara, maka biarkanlah
mereka." Khalid bin Walid melakukan kesepakatan dengan penduduk Hirah untuk tidak mengganggu tempat
peribadahan (gereja dan sinagog) mereka serta tidak melarang upacara-upacaranya.

Kerukunan hidup beragama bagi golongan minoritas diatur oleh prinsip umum ayat "Tidak ada paksaan dalam
beragama." (QS. 2: 256).
Sedangkan dalam masalah sipil dan kehidupan pribadi (ahwal syakhsiyah) bagi mereka diatur syari’at Islam dengan
syarat mereka bersedia menerimanya sebagai undang-undang. Firman Allah: "Apabila mereka (orang Yahudi)
datang kepadamu minta keputusan, berilah putusan antara mereka atau biarkanlah mereka. Jika engkau biarkan
mereka, maka tidak akan mendatangkan mudharat bagimu. Jika engkau menjatuhkan putusan hukum, hendaklah
engkau putuskan dengan adil. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang adil." (QS. 5: 42). Jika mereka
tidak mengikuti aturan hukum yang berlaku di negara Islam, maka mereka boleh mengikuti aturan agamanya -
selama mereka berpegang pada ajaran yang asli. Firman Allah: "Dan bagaimana mereka mengangkat kamu sebagai
hakim, sedangkan ada pada mereka Taurat yang di dalamnya ada hukum Allah? Kemudian mereka tidak
mengindahkan keputusanmu. Sesungguhnya mereka bukan orang-orang yang beriman ." (QS.5: 7).

c. Hak Bekerja

Islam tidak hanya menempatkan bekerja sebagai hak tetapi juga kewajiban. Bekerja merupakan kehormatan yang
perlu dijamin. Nabi saw bersabda: "Tidak ada makanan yang lebih baik yang dimakan seseorang daripada makanan
yang dihasilkan dari usaha tangannya sendiri." (HR. Bukhari). Dan Islam juga menjamin hak pekerja, seperti
terlihat dalam hadist: "Berilah pekerja itu upahnya sebelum kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah).

2. Hak Hidup

Islam melindungi segala hak yang diperoleh manusia yang disyari’atkan oleh Allah. Diantara hak-hak ini adalah :

a. Hak Pemilikan

Islam menjamin hak pemilikan yang sah dan mengharamkan penggunaan cara apapun untuk mendapatkan harta
orang lain yang bukan haknya, sebagaimana firman Allah: "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian
yang lain diantara kamu dengan jalan bathil dan janganlah kamu bawa urusan harta itu kepada hakim agar kamu
dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa padahal kamu
mengetahuinya." (QS. 2: 188). Oleh karena itulah Islam melarang riba dan setiap upaya yang merugikan hajat
manusia. Islam juga melarang penipuan dalam perniagaan. Sabda nabi saw: "Jual beli itu dengan pilihan selama
antara penjual dan pembeli belum berpisah. Jika keduanya jujur dalam jual-beli, maka mereka diberkahi. Tetapi
jika berdusta dan menipu berkah jual-bei mereka dihapus." (HR. Al-Khamsah)

Islam juga melarang pencabutan hak milik yang didapatkan dari usaha yang halal, kecuali untuk kemashlahatan
umum dan mewajibkan pembayaran ganti yang setimpal bagi pemiliknya. Sabda nabi saw: "Barangsiapa
mengambil hak tanah orang lain secara tidak sah, maka dia dibenamkan ke dalam bumi lapis tujuh pada hari
kiamat." Pelanggaran terhadap hak umum lebih besar dan sanksinya akan lebih berat, karena itu berarti pelanggaran
tehadap masyarakat secara keseluruhan.

b. Hak Berkeluarga

Allah menjadikan perkawinan sebagai sarana mendapatkan ketentraman. Bahkan Allah memerintahkan para wali
mengawinkan orang-orang yang bujangan di bawah perwaliannya (QS. 24: 32). Aallah menentukan hak dan
kewajiban sesuai dengan fithrah yang telah diberikan pada diri manusia dan sesuai dengan beban yang dipikul
individu.

Pada tingkat negara dan keluarga menjadi kepemimpinan pada kepala keluarga yaitu kaum laki-laki. Inilah yang
dimaksudkan sebagai kelebihan laki-laki atas wanita (QS. 4: 34). Tetapi dalam hak dan kewajiban masing-masing
memiliki beban yang sama."Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara
yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari istrinya." (QS. 2: 228)

c. Hak Keamanan
Dalam Islam, keamanan tercermin dalam jaminan keamanan mata pencaharian dan jaminan keamanan jiwa serta
harta benda. Firman Allah: "Allah yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan
mengamankan mereka dari ketakutan." (QS. Quraisy: 3-4).

Diantara jenis keamanan adalah dilarangnya memasuki rumah tanpa izin (QS. 24: 27). Jika warga negara tidak
memiliki tempat tinggal, negara berkewajiban menyediakan baginya. Termasuk keamanan dalam Islam adalah
memberi tunjangan kepada fakir miskin, anak yatim dan yang membutuhkannya. Oleh karena itulah, Umar bin
Khattab menerapkan tunjangan sosial kepada setiap bayi yang lahir dalam Islam baik miskin ataupun kaya. Dia
berkata: "Demi Allah yang tidak ada sembahan selain Dia, setiap orang mempunyai hak dalam harta negara ini,
aku beri atau tidak aku beri." (Abu Yusuf dalam Al-Kharaj). Umar jugalah yang membawa seorang Yahudi tua
miskin ke petugas Baitul-Maal untuk diberikan shadaqah dan dibebaskan dari jizyah.

Bagi para terpidana atau tertuduh mempunyai jaminan keamanan untuk tidak disiksa atau diperlakukan semena-
mena. Peringatan rasulullah saw: "Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di
dunia." (HR. Al-Khamsah). Islam memandang gugur terhadap keputusan yang diambil dari pengakuan kejahatan
yang tidak dilakukan. Sabda nabi saw: "Sesungguhnya Allah menghapus dari ummatku kesalahan dan lupa serta
perbuatan yang dilakukan paksaan" (HR. Ibnu Majah).

Diantara jaminan keamanan adalah hak mendpat suaka politik. Ketika ada warga tertindas yang mencari suaka ke
negeri yang masuk wilayah Darul Islam. Dan masyarakat muslim wajib memberi suaka dan jaminan keamanan
kepada mereka bila mereka meminta. Firman Allah: "Dan jika seorang dari kaum musyrikin minta perlindungan
kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ke tempat yang
aman baginya." (QS. 9: 6).

d. Hak Keadilan

Diantara hak setiap orang adalah hak mengikuti aturan syari’ah dan diberi putusan hukum sesuai dengan syari’ah
(QS. 4: 79). Dalam hal ini juga hak setiap orang untuk membela diri dari tindakan tidak adil yang dia terima. Firman
Allah swt: "Allah tidak menyukai ucapan yang diucapkan terus-terang kecuali oleh orang yang dianiaya." (QS. 4:
148).

Merupakan hak setiap orang untuk meminta perlindungan kepada penguasa yang sah yang dapat memberikan
perlindungan dan membelanya dari bahaya atau kesewenang-wenangan. Bagi penguasa muslim wajib menegakkan
keadilan dan memberikan jaminan keamanan yang cukup. Sabda nabi saw: "Pemimpin itu sebuah tameng,
berperang dibaliknya dan berlindung dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Termasuk hak setiap orang untuk mendapatkan pembelaan dan juga mempunyai kewajiban membela hak orang lain
dengan kesadarannya. Rasulullah saw bersabda: "Maukah kamu aku beri tahu saksi yang palng baik? Dialah yang
memberi kesaksian sebelum diminta kesaksiannya." (HR. Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi). Tidak
dibenarkan mengambil hak orang lain untuk membela dirinya atas nama apapun. Sebab rasulullah
menegaskan: "Sesungguhnya pihak yang benar memiliki pembelaan." (HR. Al-Khamsah). Seorang muslim juga
berhak menolak aturan yang bertentangan dengan syari’ah, dan secara kolektif diperintahkan untuk mengambil
sikap sebagai solidaritas terhadap sesama muslim yang mempertahankan hak.

e. Hak Saling Membela dan Mendukung

Kesempurnaan iman diantaranya ditunjukkan dengan menyampaikan hak kepada pemiliknya sebaik mungkin, dan
saling tolong-menolong dalam membela hak dan mencegah kedzaliman. Bahkan rasul melarang sikap mendiamkan
sesama muslim, memutus hubungan relasi dan saling berpaling muka. Sabda nabi saw: "Hak muslim terhadap
muslim ada lima: menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengantar ke kubur, memenuhi undangan dan
mendoakan bila bersin." (HR. Bukhari).

f. Hak Keadilan dan Persamaan


Allah mengutus rasulullah untuk melakukan perubahan sosial dengan mendeklarasikan persamaan dan keadilan bagi
seluruh umat manusia (lihat QS. Al-Hadid: 25, Al-A’raf: 157 dan An-Nisa: 5). Manusia seluruhnya sama di mata
hukum. Sabda nabi saw: "Seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya." (HR.
Bukhari dan Muslim).

Pada masa rasulullah banyak kisah tentang kesamaan dan keadilan hukum ini. Misalnya kasus putri bangsawan dari
suku Makhzum yang mencuri lalu dimintai keringanan hukum oleh Usamah bin Zaid, sampai kemudian rasul
menegur dengan: "...Apabila orang yang berkedudukan di antara kalian melakukan pencurian, dia dibiarkan. Akan
tetapi bila orang lemah yang melakukan pencurian, mereka memberlakukan hukum kriminal..." Juga kisah raja
Jabalah Al-Ghassani masuk Islam dan melakukan penganiayaan saat haji, Umar tetap memberlakukan hukum
meskipun ia seorang raja. Atau kisah Ali yang mengadukan seorang Yahudi mengenai tameng perangnya, dimana
Yahudi akhirnya memenangkan perkara.

Umar pernah berpesan kepada Abu Musa Al-Asy’ari ketika mengangkatnya sebagai Qadli: "Perbaikilah manusia di
hadapanmu, dalam majlismu, dan dalam pengadilanmu. Sehingga seseorang yang berkedudukan tidak mengharap
kedzalimanmu dan seorang yang lemah tidak putus asa atas keadilanmu."

(5) Tentang Kebebasan Mengecam Syari’ah

ebagian orang mengajak kepada kebebasan berpendapat, termasuk mengemukakan kritik terhadap kelayakan Al-
Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidup manusia modern. Disana terdengar suara menuntut persamaan hak laki-
laki dengan wanita, kecaman terhadap poligami, tuntutan akan perkawinan campur (muslim-non muslim). Dan
bahkan mereka mengajak pada pemahaman Al-Qur’an dengan mengubah inti misi Al-Qur’an.

Orang-orang dengan pandangan seperti ini pada dasarnya telah menempatkan dirinya keluar dari agama
Islam (riddah) yang ancaman hukumannya sangat berat. Namun jika mayoritas ummat Islam menghendaki hukuman
syari’ah atas mereka, maka jawaban mereka adalah bahwa Al-Qur’an tidak menyebutkan sanksi riddah. Dengan
kata lain mereka ingin mengatakan bahwa sunnah nabi saw. Tidak memiliki kekuatan legal dalam syari’ah, termasuk
sanksi riddah itu.

Untuk menjawab hal ini ada beberapa hal penting yang harus dipahami, yaitu :

1. Kebebasan yang diartikan dengan kebebasan tanpa kendali dan ikatan tidak akan dapat ditemukan di
masyarakat manapun. Ikatan dan kendali ini diantaranya adalah tidak dibenarkannya keluar dari aturan
umum dalam negara. Maka tidak ada kebebasan mengecam hal-hal yang dipandang oleh negara sebagai
pilar-pilar pokok bagi masyarakat.

1. Islam tidak memaksa seseorang untuk masuk ke dalam Islam, melainkan menjamin kebebasan kepada non-
muslim untuk menjalankan syari’at agamanya meskipun bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu,
manakala ada seorang muslim yang mengklaim bahwa agamnya tidak sempurna, berarti ia telah melakukan
kesalahan yang diancam oleh rasulullah saw: "Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah
ia." (HR. Bukhari dan Muslim).

1. Meskipun terdapat kebebasan dalam memeluk Islam, tidak berarti bagi orang yang telah masuk Islam
mempunyai kebebasan untuk merubah hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

1. Dalam Islam tidak ada konsep rahasia di tangan orang suci, dan tidak ada pula kepercayaan yang
bertentangan dengan penalaran akal sehat seperti Trinita dan Kartu Ampunan. Dengan demikian, tidak ada
alasan bagi penentang Islam untuk keluar dari Islam atau melakukan perubahan terhadap Islam.
1. Islam mengakui bahwa agama Ahli Kitab. Dari sini Islam membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita
Ahli Kitab, karena garis nasab dalam Islam ada di tangan laki-laki.

1. Sanksi riddah tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagaimana ibadah dan muamalah lainnya. Al-Qur’an
hanya menjelaskan globalnya saja dan menugaskan rasulullah saw menjelaskan rincian hukum dan
kewajiban. Firman Allah: "Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menjelaskan kepada
ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya." (QS. 16:
44).

http://www.angelfire.com/id/sidikfound/ham.html

SISTEM POLITIK DALAM ISLAM

1. Pengertian Politik Menurut Islam

Politik adalah ‘ilmu pemerintahan’ atau ‘ilmu siyasah’, yaitu ‘ilmu tata negara’. Pengertian dan
konsep politik atau siasah dalam Islam sangat berbeda dengan pengertian dan konsep yang digunakan
oleh orang orang yang bukan Islam. Politik dalam Islam menjuruskan kegiatan umat kepada usaha untuk
mendukung dan melaksanakan syari’at Allah melalui sistem kenegaraan dan pemerintahan.

“Dan katakanlah: Ya Tuhan ku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan
cara yang baik dan berikanlah kepadaku daripada sisi Mu kekuasaan yang menolong.” (AI Isra': 80)

2. Asas Asas Sistem Politik Islam

1. Hakimiyyah Ilahiyyah, Hakimiyyah atau memberikan kuasa pengadilan dan kedaulatan hukum
tertinggi dalam sistem politik Islam hanyalah hak mutlak Allah.

Hakimiyyah Ilahiyyah membawa pengertian pengertian yang berikut:

 Bahawasanya Allah adalah Pemelihara alam semesta yang pada hakikatnya adalah Tuhan yang
menjadi Pemelihara manusia, dan tidak ada jalan lain bagi manusia kecuali patuh dan tunduk kepada
sifat Ilahiyyah Nya Yang Maha Esa.
 Bahawasanya hak untuk menghakimi dan mengadili tidak dimiliki oleh sesiapa kecuali Allah. Oleh
kerana itu, manusia wajib ta’at kepada Nya dan ber’ibadat kepada Nya.
 Bahawasanya hanya Allah sahaja yang memiliki hak mengeluarkan hukum sebab Dialah satu satu Nya
Pencipta.
 Bahawasanya hanya Allah sahaja yang memiliki hak mengeluarkan peraturan peraturan, sebab Dialah
satu satu Nya Pemilik.
 -Bahawasanya hukum Allah adalah sesuatu yang benar sebab hanya Dia sahaja Yang Mengetahui
hakikat segala sesuatu, dan di tangan Nyalah sahaja penentuan hidayah dan penentuan jalan yang
selamat dan lurus.

1. Risalah, Jalan kehidupan para rasul diiktiraf oleh Islam sebagai sunan al huda atau jalan jalan hidayah.
Dalam sistem politik Islam, Allah telah memerintahkan agar manusia menerima segala perintah dan
larangan Rasulullah SAW. Manusia diwajibkan tunduk kepada perintah perintah Rasulullah s.a.w dan
tidak mengambil selain daripada Rasulullah s.a.w untuk menjadi hakim dalam segala perselisihan yang
terjadi di antara mereka. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagi kamu, maka
tinggatkanlah.”(Al Hasyr: 7).

1. Khalifah Khalifah berarti perwakilan. Dengan pengertian ini, ia bermaksud bahawa kedudukan
manusia di atas muka bumi ialah sebagai wakil Allah. Ini juga bermaksud bahwa di atas kekuasaan
yang telah diamanahkan kepadanya oleh Allah, maka manusia dikehendaki melaksanakan undang
undang Allah dalam batas batas yang ditetapkan. Seseorang khalifah hanya menjadi khalifah yang sah
selama mana ia benar benar mengikuti hukum hukum Allah.

Oleh itu khilafah sebagai asas ketiga dalam sistem politik Islam menuntut agar tugas tersebut
dipegang oleh orang orang yang memenuhi syarat syarat berikut:

 Mereka mestilah terdiri daripada orang orang yang benar benar menerima dan mendukung prinsip
prinsip tanggungjawab yang terangkum di dalam pengertian khilafah.
 Mereka tidak terdiri daripada orang orang zalim, fasiq, fajir dan lalai terhadap Allah serta bertindak
melanggar batas batas yang ditetapkan oleh Nya.
 Mereka mestilah terdiri daripada orang orang yang ber’ilmu, berakal sihat, memiliki kecerdasan,
kea’rifan serta kemampuan intelek dan fizikal.
 Mereka mestilah terdiri daripada orang orang yang amanah sehingga dapat dipikulkan tanggungjawab
kepada mereka dengan aman dan tanpa keraguan.
3 Prinsip prinsip Utama Sistem Politik Islam
a. Musyawarah - Prinsip pertama dalam sistem politik Islam ialah musyawarah.

 Asas musyawarah yang paling utama adalah berkenaan dengan pemilihan ketua negara dan orang orang
yang akan menjawat tugas tugas utama dalam pentadbiran ummah.

 Asas musyawarah yang kedua pula adalah berkenaan dengan penentuan jalan dan cara perlaksanaan
undangundang yang telah dimaktubkan di dalam al gur’an dan al Sunnah.

 Asas musyawarah yang seterusnya ialah berkenaan dengan jalan jalan menentukan perkara perkara baru
yang timbul di kalangan ummah melalui proses ijtihad.

b. Keadilan, Prinsip kedua dalam sistem politik Islam ialah keadilan. Ini adalah menyangkut dengan
ke’adilan sosial yang dijamin oleh sistem sosial dan sistem ekonomi Islam. Keadilan di dalam bidang
bidang sosioekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa wujudnya kuasa politik yang melindungi dan
mengembangkannya.

Di dalam perlaksanaannya yang luas, prinsip ke’adilan yang terkandung dalam sistem politik Islam
meliputi dan menguasai segala jenis perhubungan yang berlaku di dalam kehidupan manusia, termasuk
ke’adilan di antara rakyat dan pemerintah, di antara dua pihak yang bersengketa di hadapan pihak
pengadilan, di antara pasangan suami isteri dan di antaxa ibu bapa dan anak anaknya.

c. Kebebasan, Prinsip ketiga dalam sistem politik Islam ialah kebebasan. Kebebasan yang dipelihara
oleh sistem politik Islam ialah kebebasan yang berteraskan kepada ma’ruf dan kebajikan. Menegakkan
prinsip kebebasan yang sebenar adalah di antara tujuan tujuan terpenting bagi sistem politik dan
pemerintahan Islam serta asas asas bagi undang undang perlembagaan negara Islam.

1. Persamaan, Prinsip keempat dalam sistem politik Islam ialah persamaan atau musawah. Persamaan di
sini terdiri daripada persamaan dalam mendapat dan menuntut hak hak, persamaan dalam memikul
tanggungjawab menurut peringkat peringkat yang ditetapkan oleh undang undang perlembagaan dan
persamaan berada di bawah taklukan kekuasaan undang undang.

1. Hak Menghisab Pihak Pemerintah, Prinsip kelima dalam sistem politik Islam ialah hak rakyat untuk
menghisab pihak pemeriritah dan hak mendapat penjelasan terhadap tindak tanduknya. Prinsip ini
berdasarkan kepada kewajiban pihak pemerintah untuk melakukan musyawarah dalam hal hal yang
berkaitan dengan urusan dan pentadbiran negara dan umat. Hak rakyat untuk disuarakan adalah berarti
kewajipan setiap anggota di dalam masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan
kemungkaran.

4. Tujuan Politik Menurut Islam

Tujuan sistem politik Islam ialah untuk membangunkan sebuah sistem pemerintahan dan
kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan seluruh hukum syari’at Islam. Tujuan utamanya
ialah untuk menegakkan sebuah negara Islam atau Darul Islam. Dengan adanya pemerintahan yang
mendukung syari’ah, maka akan tertegaklah keadilan dan berterusanlah segala urusan manusia menurut
tuntutan tuntutan al Din tersebut.

Para fuqaha Islam telah menggariskan sepuluh perkara penting sebagai tujuan kepada
sistem politik dan pemerintahan Islam.

 Memelihara keimanan menurut prinsip prinsip yang telah disepakati oleh ‘ulama’ salaf daripada
kalangan umat Islam.
 Melaksanakan proses pengadilan di kalangan rakyat dan menyelesaikan masalah di kalangan orang
orang yang berselisih.
 Menjaga keamanan daerah daerah Islam agar manusia dapat hidup dalam keadaan aman dan damai.

 Melaksanakan hukuman hukuman yang ditetapkan syara’ demi melindungi hak hak manusia.
 Menjaga perbatasan negara dengan pelbagai persenjataan bagi menghadapi kemungkinan serangan
daripada pihak luar.
 Melancarkan jihad terhadap golongan yang menentang Islam.
 Mengendalikan urusan pengutipan cukai, zakat dan sedekah sebagai mana yang ditetapkan oleh
syara.’
 Mengatur anggaran belanjawan dan perbelanjaan daripada perbendaharaan negara agar tidak
digunakan secara boros ataupun secara kikir.
 Mengangkat pegawai pegawai yang cekap dan jujur bagi mengawal kekayaan negara dan
menguruskan hal ehwal pentadbiran negara.

Demokrasi Pemerintah dan Rakyatnya dalam Islam

Islam menekankan nilai-nilai moral dalam setiap sendi kehidupan manusia tak terkecuali dalam
bidang politik pemerintahan negara, yang menjadi pertanyaan adalah sistem politik atau
pemerintahan seperti apakah yang baik bagi manusia? Bagaimanakah tuntunan Al Quran
dalam masalah ini. Apakah sistem Demokrasi yang banyak dianut negara-negara di dunia
sesuai dengan ajaran islam? Bila dalam prakteknya sistem yang ada mengalami kegagalan
apakah sistemnya yang harus disalahkan atau mereka yang menjalankan sistemnya yang
harus diperbaiki? Banyak pertanyaan mengemuka dan manakah sistem yang ideal dari sistem
yang ada.
Sebelum menelaah lebih jauh harus dicatat bahwa Islam tidak menolak atau mencerca sistem
politik atau pemerintahan yang ada, meskipun Al Quran mengemukakan sistem demokratis
dimana pemimpin dipilih oleh rakyat namun sistem tersebut bukan satu-satunya yang di
rekomendasikan oleh Al Quran. Dalam sistem politik suatu negeri, Islam menyerahkan kepada
umat untuk memilih sistem politik seperti apa yang sesuai dengan tradisi dan budaya selaras
dengan perjalanan sejarah di negeri tersebut, karena sangat sulit untuk menetapkan sistem
tunggal dalam membentuk pemerintahan. Adanya perbedaan budaya dan keragaman
sosiologis umat di seluruh dunia yang harus diperhatikan dalam hal ini.
Lalu dalam sistem politik dan pemerintahan, dimanakah peran Islam dan apakah peran yang
dimainkannya? Untuk menjawab hal ini kita harus melihat bahwa ajaran agama samawi selalu
mengajarkan ajaran moral sebagai tuntunan bagi tiap-tiap umatnya, begitupun Islam mengambil
peran. Islam menekankan tuntunan kepada mereka yang menjalankan pemerintahan, yang
memegang amanat, pemimpin dalam tatanan kehidupan bernegara bagaimana cara
menjalankannya. Islam menuntun individu untuk menjalankan amanat dengan keadilan
universal tanpa melihat seperti apa bentuk pemerintahannya apakah demokrasi, monarki,
feodal atau lainnya
Dalam hal demokrasi kita dapat menelaah seperti apakah corak demokrasi yang dianut oleh
negara di dunia terutama yang diajarkan oleh peradaban barat, sehingga nantinya kita dapat
mempelajari dimanakah perbedaannya dengan makna demokrasi yang diajarkan Al Quran.
Kata demokrasi sendiri berasal dari bahasa Yunani (Demokratia) yang artinya kekuasaan
rakyat, demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana semua warga negara memiliki hak
dalam pengambilan keputusan atau jalannya suatu pemerintahan negara. Meskipun tidak dapat
dipungkiri sistem demokrasi lahir di negeri Yunani namun istilah itu di populerkan oleh Abraham
Lincoln dimana dalam pidatonya ia menyatakan semboyan ‘pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat’.
Sebuah semboyan yang memberi harapan besar bagi setiap individu yang menganutnya
meskipun dalam prakteknya tidak ada satupun negara yang benar-benar ideal dapat
mewujudkannya sebagai pemerintahan ‘dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat’.
Semboyan ‘untuk rakyat’ maknanya menjadi bias, seringkali kata itu yang di maksud adalah
untuk rakyat mayoritas dan tidak berlaku bagi rakyat minoritas, suatu situasi yang mencederai
cita-cita luhur dari demokrasi itu sendiri.
Suatu keputusan yang diambil atas suara mayoritas untuk rakyat pun kita lihat tidak benar-
benar sebagai suara mayoritas absolut. Suatu keadaan yang sering terjadi adalah partai yang
berkuasa pada nyatanya merupakan kelompok yang menggandeng kelompok lain saat
pemilihan umum, sehingga dengan demikian jumlah suara koalisi cukup untuk menjadikan
mereka memegang kendali kekuasaan meski harus menghadapi kenyataan banyak
pertentangan dengan rekanan yang digandengnya dan sering terjadi pemaksaan-pemaksaan
kepentingan. Sering pula terjadi partai yang berkuasa proporsi dukungannya jauh lebih sedikit
dibanding dengan yang tidak mendukung. Adanya pemilih yang tidak menggunakan hak
memilihnya ataupun sistem multi partai dapat menjadikan suara partai penguasa jauh lebih kecil
dibanding partai yang tidak mendukungnya. Dengan kata lain meskipun partai penguasa
berkoalisi dengan partai lainnya itu tidak otomatis menjadikan suara mereka sebagai suara
mayoritas dalam mengambil keputusan. Faktor loyalitas partai yang ikut berkoalisi kadang pula
harus mengorbankan hati nurani dengan keputusan yang diambil oleh partai penguasa yang
menjadi mitranya, sehingga apa yang terjadi adalah suara minoritas yang dibingkai dalam
koalisi mayoritaslah yang menjadi penentu dalam hal ini.
Dalam konteks demokrai ‘oleh rakyat’ sendiri maknanya telah tercemar dari semangat
demokrasi itu sendiri. Apa yang dikatakan pemilihan ‘oleh rakyat’ dikotori oleh praktek korup
seperti politik jual beli suara, teror dan tekanan politis, kecurangan dalam penghitungan suara,
propaganda dusta yang mengaburkan keadaan serta praktek-praktek curang lainnya yang
sering ditemui dalam kehidupan negara yang menganut demokrasi.
Praktek-praktek korup ini yang meskipun lahir dari proses demokrasi dapat menciptakan suatu
kegamangan dalam masyarakat, sebagai konsekuensi dari tuntutan mayoritas seringkai prinsip
keadilan tercabik-cabik. Sering pula terjadi kepentingan kelompok, suku, ras dan bangsa lebih
diutamakan dibanding kepentingan bersama.
Faktor lainnya adalah adanya sistem kapitalisme yang pada akhirnya menentukan pihak yang
mengambil keputusan adalah mereka yang memiliki kepentingan ekonomi lebih
menguntungkan, sehingga makna pemerintahan ‘oleh rakyat’ digantikan oleh pemerintahan
segelintir orang yang memiliki kekuatan ekononmi.
Al Quran merekomendasikan dan menyukai sistem demokrasi tanpa memaksakan, umat
manusia diberi kebebasan memilih sistem pemerintahan yang cocok dan sesuai dengan
keadaan mereka sepanjang diterima rakyatnya. Islam dalam hal demokrasi hanya mengatur
prinsip-prinsip yang penting saja selebihnya diserahkan kepada umat.
Ada 2 prinsip utama yang diajarkan Islam:
1. Pemilihan umum harus dilaksanakan secara demokratis, setiap pemilih maupun yang dipilih
harus berpegang pada nilai luhur kejujuran dan memegang amanah. Setiap pemilih yang
memiliki hak suara harus menunaikan haknya, kecuali jika ada hal kondisional diluar
kemampuannya. Dalam menunaikan haknya setiap pemilih harus bisa mempertanggung-
jawabkan pilihannya, karena pilihannya menentukan kehidupan di masa depan. Seorang
pemilih harus memegang teguh prinsip amanah bahwa apa yang ia lakukan dalam pemilihan
Tuhan menyaksikannya dan tak ada hal sekecil apapun yang dapat disembunyikan dihadapan
Tuhan.
2. Pemerintah harus memegang prinsip keadilan mutlak, apapun keputusannya dalam masalah
politik, agama, sosial maupun ekonomi prinsip keadilan tidak bisa di kompromikan. Tidak ada
satupun kelompok atau partai politik yang diperkenankan mencederai prinsip keadilan.
Sebagai prinsip demokrasi ‘dari rakyat’ setiap permasalah keputusannya harus diambil
berdasarkan hasil musyawarah. Sedangkan prinsip ‘oleh rakyat’ Al Quran mengajarkan:
Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu supaya menyerahkan amanat-amanat kepada yang
berhak menerimanya. (An Nisa:59).
Al Quran tidak menekankan bagaimana seorang pemilih melaksanakan haknya namun dalam
menunaikan amanat pilihan harus dilandasi kejujuran, integeritas dan tidak mementingkan diri
sendiri. Pilihan harus dijatuhkan kepada yang berhak yang benar-benar dapat menjalankan
amanat. Seorang pemilih harus terlepas dari persyaratan yang mencampuri hak pilihnya dan
sebagai pemilih ia merupakan pemegang amanat harus senantiasa berpegang pada keadilan
dalam memilih. Islam tidak memberi ruang bagi abstain atau dalam istilah di Indonesia disebut
golput, hal itu artinya ia tidak menunaikan amanat selama tidak ada kendala yang
menghalanginya untuk menggunakan hak pilihnya. Dalam hal ini islam tidak sependapat
dengan demokrasi barat yang masih memperkenankan kepada mereka yang abstain.
Bagi pemimpin yang menjalankan pemerintahan Al Quran mengajarkan prinsip dasar yang
harus selalu dipegang agar terciptanya perdamaian dan kesejahteraan rakyatnya, prinsip
keadilan harus melandasi dalam kehidupan poltis diatas kepentingan pribadi, suku, ras maupun
golongan keadilan harus diutamakan. Al Quran menyatakan:
Hai orang-orang yang beriman, dan janganlah suatu permusuhan suatu kaum mendorong kamu
bertindak tidak adil. Berlakulah adil, itu lebih dekat kepada taqwa. (Al Maidah:5)
Sementara itu dalam mencapai tujuan potensi kekuatan yang dimiliki hendaknya digunakan
pada jalan kebenaran, jangan karena memiliki potensi kekuatan di tujukan untuk mencapai
kepentingan pribadi tanpa mengindahkan prinsip kebenaran. Kebenaran adalah kekuatan dan
tidak selamanya ia yang terkuat yang berada di pihak yang benar. Firman Allah:
Tanda ini diperlihatkan supaya binasalah ia yang telah binasa dengan keterangan yang jelas
dan supaya hiduplah dia yang telah hidup dengan keterangan yang jelas. (Al Anfal:43)
Terakhir dan yang paling utama adalah hendaknya menghindari dusta, setiap bicara hendaknya
mengungkapkan apa yang benar berdasar keadilan sekalipun dalam medan perang kata-kata
dan jangan pernah terlintas bahwa karena kejujuran dapat mengganggu kepentingan kerabat
yang terdekat sekalipun.
Jauhilah kenajisan berhala dan jauhilah juga ucapan-ucapan dusta.(Al Hajj:31)
Apabila kamu berkata maka hendaklah berlaku adil walaupun yang bersangkutan seorang
kerabat. (Al Anaam:153)
Khazanah pengetatahuan yang ditinggalkan oleh Rasulullah menyangkut penguasa atau
pejabat pengendali roda pemerintahan ternukil dalam beberapa riwayat hadist;
“Tiada seorang penguasa yang mengemban amanat Allah berupa rakyat cilik, lalu mati di
tengah-tengah rakyat yang dicekoki/ditipu olehnya, kecuali Allah mengharamkan sorga
baginya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Abu Ya’la, Rasul SAW bersabda: “Tiada seorang amir/penguasa yang mengatur urusan
umat Islam, lalu tidak bersungguh-sungguh menasehati/mengaturnya dan tidak memperhatikan
hajat keperluan mereka, kecuali tiada naik sorga bersama mereka.” (HR. Muslim)
“Bahwasanya pejabat yang paling jahat, yaitu mereka yang bertindak kejam terhadap rakyat
kecil, oleh sebab itu hati-hatilah anda, supaya tidak termasuk golongan mereka.” (HR. Abu
Daud-Turmudzi)
Menyangkut penguasa yang adil Rasulullah menyatakan bahwa mereka akan mendapatkan
ganjaran atas keadilannya, dalam beberapa hadist hal itu dinyatakan oleh Rasulullah SAW:
Dari Ibnu Amr bin Ash, Rasul bersabda: “Bahwasanya orang-orang yang berlaku adil, di sisi
Allah akan diberi mimbar bercahaya, yaitu mereka yang memutuskan hukum secara adil baik
terhadap keluarga atau rakyat lainnya.” (HR. Muslim)
Dari ‘Iyadl bin Himar, Rasul SAW bersabda: “Ada tiga macam penghuni sorga, yaitu para
pejabat yang berlaku adil dan bijak, yang memperoleh taufik petunjuk Allah, lalu seorang yang
punya rasa belas kasihan, lunak hati terhadap sanak famili dan kepada setiap muslim. Dan
keluarga fakir miskin yang berakhlak mulia, pandai memelihara budi pekerti dan harga diri
mereka.” (HR. Muslim)
Sementara tuntunan yang diajarkan kepada rakyat Al Quran mengajarkan agar mentaati
undang-undang yang dibuat oleh penguasa selama tidak bertolak belakang dengan ajaran
Islam:
“Hai orang-orang mukmin taatilah Allah dan Rasul-Nya dan para penguasa/pemerintahmu. (An-
Nisa:59)
Sabda Rasulullah menyangkut sikap rakyat kepada pemerintah:
Dari Ibnu Umar, Nabi SAW bersabda: “Seseorang muslim wajib tunduk taat terhadap
pemerintahnya, baik dalam hal yang disenangi atau dibenci, kecuali jika menyuruh berbuat
maksiat. Maka jika pemerintah menyuruh demikian tidak perlu digubris/tidak usah
mendengarkan ataupun mentaatinya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Anas Rasul SAW bersabda; “Tunduk taalah kalian, sekalipun yang terangkat jadi
pimpinanmu seorang Hubasyiyah yang berkepala seperti kismis.” (HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Tunduk taatlah kalian kepada pemerintah, baik dirasa
berat ataupun ringan, bahkan dalam protes dan berebut pengaruh denganmu.” (HR. Bukhari)
Dari Ibnu Abas, Rasul bersabda: “Barang siapa benci kepada penguasanya, hendaklah
bersabar karena orang yang bersekongkol/ keluar dari pemerintahnya sekalipun hanya
sejengkal, kemudian ia mati, secara jahiliyah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Abu Bakrah, Rasul SAW bersabda; “Barang siapa mengejek pejabat pemerintah, maka
Allah akan membalasnya.” (HR. Turmudzi)
Itulah prinsip dasar yang diajarkan oleh Al Quran dan ajaran Rasulullah SAW dalam
menjalankan roda pemerintahan, sikap adil dan sikap rakyat terhadap penguasa terelepas dari
sistem apa yang dianut maka nilai-nilai tersebut dapat selaras untuk diterapkan. Prinsip-prinsip
ini merupakan prinsip yang universal bagi kehidupan manusia bilamana di praktekan akan
membawa perdamaian dalam kehidupan sosial. Prinsip Al Quran dan ajaran Rasulullah ini
sayangnya telah banyak ditinggalkan oleh kaum muslim dalam kehidupan bernegara bahkan
dalam penerapan ideologi negara muslim yang menganut sistem teokrasi. Kekacauan dalam
kehidupan beberapa negara muslim tak lepas dari telah dilanggarnya prinsip dasar ini yang
telah diajarkan dan dicontohkan secara sempurna oleh Rasulullah dan sahabat.
- See more at: http://rajapena.org/demokrasi-pemerintah-dan-rakyatnya-dalam-
islam/#sthash.gGH3O13O.dpuf

Jawaban nomor 6

Definisi Waris
Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-
miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah 'berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang
lain', atau dari suatu kaum kepada kaum lain.
Mawaris adalah jama’ dari mirats. Maka dimaksud dengan Mirats, demikian pula irts, wirts,
wiratsah dan turats,yang dimaknakan dengan mauruts ialah: “harta peninggalan orang yang
telah meninggal yang diwarisi oleh para warisnya.”[1]
Dasar Hukum Kewarisan Islam
Hukum kewarisan Islam pada dasrnya bersumber pada al-Qur’an sebagai firman Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan Hadis Rasul. Baik dalam al-Qur’an maupun al-
Hadis, dasar hukum keawarisan itu ada yang secara tegas mengatur, dan ada yang tersirat,
bahkan kadang-kadang ada yang berisi pokok-pokoknya saja, yang paling banyak ditemui dasar
hukum kewarisan adalah Surat an-Nisa ayat 11, 12 dan 176, di samping surah-surah lain sebagai
pembantu.
Rukun warisan
Rukun Kewarisan ada tiga, yaitu[2]:
1. Al-Muwaris, ialah orang yang meninggal dunia
2. Ahli waris, ialah orang yang akan mewarisi harta peninggalan si mati.
3. Mauruts, adalah harta peninggalan si mati setelah dipotong biaya pengurusan
mayit, melunasi hutangnya, dan melaksanakan wasiatnya yang tidak lebih dari sepertiga.

Filosofi waris dalam Hukum Islam


Seperti telah disebutkan diawal bahwa ketentuan Kewarisan telah diatur sedemikian rupa
dalam Al-Qur’an. Dibandingkan dengan ayat-ayat hukum lainnya, ayat-ayat hukum inilah yang
paling tegas dan rinci isi kandungannya. Ini tentu ada hikmah yang ingin di capai oleh Al-Qur’an
tentang ketegasan hukum dalam hal Kewarisan.
Berikut ini ada beberapa hikmah adanya pembagian waris menurut hukum islam[3]:
1. Pembagian waris dimaksudkan untuk memelihara harta (Hifdzul Maal). Hal ini sesuai dengan
salah satu tujuan Syari’ah (Maqasidus Syari’ah) itu sendiri yaitu memelihara harta.
2. Mengentaskan kemiskinan dalam kehidupan berkeluarga.
3. Menjalin tali silaturahmi antar anggota keluarga dan memeliharanya agar tetap utuh.
4. Merupakan suatu bentuk pengalihan amanah atau tanggung jawab dari seseorang kepada orang
lain, karena hakekatnya harta adalah amanah Alloh SWT yang harus dipelihara dan tentunya
harus dipertanggungjawabkan kelak.
5. Adanya asas keadilan antara laki-laki dan perempuan sehingga akan tercipta kesejahteraan sosial
dalam menghindari adanya kesenjangan maupun kecemburuan sosial.
6. Melalui sistem waris dalam lingkup keluarga.
7. Selain itu harta warisan itu bisa juga menjadi fasilitator untuk seseoranng membersihkan dirinya
maupun hartanya dari terpuruknya harta tersebut.
8. Mewujudkan kemashlahatan umat islam.
9. Dilihat dari berbagai sudut, warisan atau pusaka adalah kebenaran, keadilan, dan kemashlahatan
bagi umat manusia.
10. Ketentuan hukum waris menjamin perlindungan bagi keluarga dan tidak merintangi
kemerdekaan serta kemajuan generasi ke generasi dalam bermasyrakat.

Wakaf
Definisi Wakaf
Menurut bahasa wakaf berasal dari waqf yang berarti radiah (terkembalikan), al-tahbis
(tertahan), al-tasbil (tertawan), dan al-man’u (mencegah). Sedangkan menurut istilah syara’ yang
dimaksud dengan wakaf sebagaimana yang di definisikan oleh para ulama adalah menahan suatu
benda yang kekal zatnya dan memungkinkan untuk diambil manfaatnya guna diberikan di jalan
kebaikan.

Tinjauan Filosofi Wakaf Dalam Islam


Pada zaman Nabi tidak timbul perbedaan pendapat tentang wakaf, karena masih
berkonsultasi langsung dengan nabi. Tapi setelah nabi wafat timbul banyak perbedaan di
kalangan imam madzhab, tetapi imam madzahab sependapat, bahwa perbuatan mewakafkan
benda, yaitu menyedekahkan manfaat harta yang di wakafkan itu merupakan amal sholeh yang
intitusinya terdapat dalam dalam syari’at islam. Adapun pendapat-pendapat tentang masalah
wakaf, yaitu:

1) Interpretasi wakaf menurut madzhab Hanafi


Abu Hanifah sependapat dengan Syuraih Ismail ibn Isa al-kindi dan Jufar, bahwa apabila orang
telah mewalafkan hartanya, yaitu menyedekahkan manfaat hartanya, maka institusi wakaff tidak
ada kecuali 3 hal, (a). Wakaf masjid (b). Wakaf yang telah diputus pengadilan (c). Wakaf wasiat
Abu Hanifah berpendapata bahwa harta yang telah di wakafkan boleh ditarik oleh wakif nya dan
harta itu tetap menjadi miliknya[8]. Alasannya ialah mewakafkan harta itu sama dengan institusi
pinjam meminjam (ar-Riyah). Hanya saja perbedaan antara wakaf dengan ar-riyah, kalau wakaf
bendanya ada pada wakif sedangkan pinjam meminjam bendanya ada pada orang yang
meminjam atau orang yang mengambil manfaatnya.
2) Interpretasi wakaf menurut madzhab Maliki
Berbeda dengan madzhab Hanafi, Imam Malik berpendapat bahwa apabila seseorang
mewakafkan hartanya, maka perbuatan itu mempunyai ketentuan hukum bahwa wakaf itu terjadi
dan ada institusi hukumnya dalam islam. Menurut imam malik, wakaf itu tetap menjadi milik
orang yang telah mewakafkannya, artinya harta itu tidak keluar dari hak milik si wakif. Akan
tetapi si wakif dilarang untuk mentransaksikan harta yang diwakafkannya dengan menjual,
mewariskan, dan menghibahkannya selama harta itu di wakafkan. Alasan Imam tentang
kepasttian adanya institusi wakaf dan bahwa harta yang di wakafkan itu tetap menjadi si wakif
adalah pengertian dari hadis Umar yang menunjukan bahwa harta yang diwakafkan itu keluar
dari milik si wakif. Sesuatu pemilikan terhadap benda tidak dapat di hukumi hilangnya pemilikan
itu tanpa dalil.
3) Pendapat Abu Yusuf dan Muhammad dari Madzhab Hanafi
Menurut mereka harta yang telah di wakafkan tidak lagi menjadi milik si wakif dan tidak pula
menjadi milik orang lain, melainkan milik Allah. Dengan demikian wakif tidak lagi memiliki
wewenang untuk mentransaksikannya sebab sudah bukan miliknya lagi.
4) Interpretasi wakaf menurut Madzhab Syafi’i
Imam Syafi’i berpendapat bahwa kepastian adanya wakaf ditunjukan oleh adanya shigat
(pernyataan) dari wakif dan terpenuhinya rukun-rukun dan syarat-syarat wakaf. Menurut Imam
Syafi’i harta yang sudah diwakafkan bukan lagi menjadi milik orang yang mewakafkannya,
melainkan berpindah menjadi milik Allah. Alasannya hadis yang diriwayatkan dari Umar ibn
Khatab tentang tanahnya di haibar. Yaitu sabda nabi: “kalau kamu suka, kamu tahan (pokoknya)
tanah itu dan kamu sedekahkan hasilnya kemudian Umar melakukan shodaqoh, tidak di jual dan
tidak di hibahkan pula diwariskan.
5) Interpretasi wakaf menurut Madzhab Ahmad ibn Hanbal
Menurut Ahmad ibn Hanbal wakaf terjadi karena 2 hal, yang pertama: dengan perbuatan, yang
menunjukan bahwa menurut kebiasaan (‘Urf) bahwa seseorang telah mewakafkan hartanya.
Kedua dengan perkataan baik dengan perkataan yang jelas maupun dengan perkataan yang tidak
jelas. Namun, menurut Imam ibn Hanbal, mewakafkan dengan kata-kata kinayah harus diisertai
dengan niat mewakafkan. Apabila seseorang telah jelas mewakafkan maka si wakif tidak boleh
mempunyai kekuasaan bertindak atas harta yang telah diwakafkannya.

Hibah
Definisi Hibah
Berkenaan dengan definisi hibah (‫) ِهبَة‬, As Sayid Sabiq berkata di dalam kitabnya[9]:
“(Definisi) hibah menurut istilah syar’i ialah, sebuah akad yang tujuannya penyerahan seseorang
atas hak miliknya kepada orang lain semasa hidupnya[10] tanpa imbalan apapun[11]”. Beliau
berkata pula: “Dan hibah bisa juga diartikan pemberian atau sumbangan sebagai bentuk
penghormatan untuk orang lain, baik berupa harta atau lainnya”. Sayyid Sabiq mendefinisikan
hibah adalah akad yang pokok persoalannya pemberian harta milik seseorang kepada orang lain
di waktu dia hidup, tanpa adanya imbalan. Hibah juga dapat diartikan dengan pengeluaran harta
semasa hidup atas dasar kasih sayang untuk kepentingan seseorang atau untuk kepentingan
sesuatu badan sosial, keagamaan, ilmiah juga kepada seseorang yang berhak menjadi ahli
warisnya[12]. Sedangkan Sulaiman Rasyid mendefinisikan bahwa hibah adalah memberuikan zat
dengan tidak ada tukarnya dan tidak ada karenanya. Dalam rumusan kompilasi, hibah adalah
pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang
masih hidup untuk dimiliki.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hibah adalah merupakan suatu pemberian
yang bersifat sukarela (tidak ada sebab dan musababnya) tanpa ada kontra prestasi dari pihak
penerima pemberian, dan pemberian itu dilangsungkan pada saat si pemberi masih hidup (inilah
yang membedakannya dengan wasiat, yang mana wasiat diberikan setelah si pewasiat meninggal
dunia). Dalam istilah hukum perjanjian yang seperti ini dinamakan juga dengan perjanjian
sepihak (perjanjian unilateral) sebagai lawan dari perjanjian bertimbal balik (perjanjian bilateral).

Sumber Hukum
Sumber hukum hukum menurut al-Imam ahmad bin ruslan asy-Syafi’i dalam kitabnya
Mawahibus Shamad adalah dalam firman Alloh surat an-Nisa ayat 4:
$\«ÿƒÍ•£DÇÍÈ $\«ÿ‹ÏZyd çnqè=ä3sù $T¡øÿtR çm÷ZÏiB &äóÓx« `tã öNä3s9 tû÷ùÏÛ bÎ*sù (...4
“....kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan
senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik
akibatnya.”
Juga dalam hadis Nabi SAW yang artinya:
“Dari Nu’man bin Basyir r.a beliau berkata: seseungguhnya ayahnya membawa dia menghadap
Rasulullah, seraya beliau berkata: sesungguhnya saya memberikan anakku yang ini seorang
budak yang menjadi milik saya. Lalu Rasulullah bertanya, apakah semua anakmu kamu berikan
seorang budak seperti ini? Beliau menjawab, tidak! Lalu Rasulullah bersabda, ambillah dia
kembali.”
Hadis tersebut sebagai dalil kewajiban berlaku adil antara anak-anak dalam pemberian. Al-
bukhari sudah menjelaskan dan beberapa ulama lain, sesungguhnya hibah itu batal tanpa
persamaan diantara anak-anak itu.
Filosofi hibah
Perintah Allah dan Rasulullah pasti mempuyai pemanfaatan trhadap umat yang
melaksanakannya, tak terkecuali dengan perintah hibah. Maka bagi seorang yang melaksanakan
hibah tersebut pastilah mendapatkan hakikat manusia yang selalu hidup Dengan sesamanya,
salah satunya adalah[13] :
1. Dengan hibah maka manusia akan saling mencintai dan mempunyai ikatan yang kuat diantara
sesamanya, seperti yang telah diterangkan dalam hadits nabi :
Artinya : “ Dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi Saw, beliau bersabda : saling berhadiahlah kaliian
niscaya kamu akan saling mencintai”. ( H.R. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad dan
diriwayatkan oleh Abu Ya’la dengan sanad yang bagus ).
2. Dengan Hibah juga dapat menghilangkan kedengkian. Seperti yang telah diterangkan dalam
hadits Nabi :
Artinya : Dari Anas R.A : Rasulullah Saw bersabda : “saling memberi hadiahlah kamu sekalian
karena sesungguhnya hadiah itu menghilangkan kedengkian”. ( H.R Al-Bazzar dengan sanad
yang lemah ).

Jawaban nomor 7

A. JUAL BELI
1. Pengertian Jual Beli
Jual beli menurut bahasa disebut ‫البيع‬, secara bahasa berarti
‫(اعطاءشيءفىمقابلةشيء‬memberikan sesuatu untuk ditukar dengan sesuatu). Adapun
menurut istilah syara’ adalah:

‫فيه ون المأذ الوجه على وقبول بايجاب للتصرف قابلين ل بما مال مقابلة‬

“Menukar suatu barang dengan barang (alat tukar yang syah) dengan ijab qabul
dan berdasarkan suka sama suka.”

Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa jual beli harus dilakukan berdasarkan
suka sama suka.

…‫…منكم تراض ان تجارة تكون ان تجارة تكون ان اال لباطل با بينكم التأكلوااموالكم‬

Artinya: “…Janganlah kamu makan harta yang ada di antara kamu dengan jalan
batal, melainkan dengan jalan jual beli suka sama suka….”(QS. An Nisa’: 29)
2. Hukum Jual Beli
Jual beli hukum asalnya jâiz atau mubah/boleh (halal) berdasarkan dalil dari al-
Quran, hadis dan ijma’ para ulama.

…‫…منكم تراض ان تجارة تكون ان تجارة تكون ان اال لباطل با بينكم التأكلوااموالكم‬
Artinya: “….janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang
batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di
antara kamu….. “ (QS. An Nisa’29)

‫الربا وحرم البيع هللا وأحل‬

Artinya: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

(Qs. Al Baqarah 275)

3. Rukun dan Syarat Jual Beli


A. Penjual dan Pembeli
Syaratnya adalah:
1. Brakal, agar dia tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah jual
belinya.
2. Dengan kehendak sendiri (bukan dipaksa). Keterangannya yaitu pada
surat an nisa’ ayat 29(suka sama suka).
3. Tidak mubazir (pemboros), sebab harta orang yang mubazir itu si tangan
walinya.

Firman Allah Swt:

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna


akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupanmu, berilah mereka belanja.” (An-Nisa: 5)

1. Baliq (berumur 15 tahun ke atas/dewasa). Anak kecil tidak sah jual


belinya. Adapun anak-anak yang sudah mengerti tetapi belum sampai
umur dewasa, menurut pendapat sebagian ulama, mereka diperbolehkan
berjual beli barang yang kecil-kecil; karena kalau tidak diperbolehkan,
sudah tentu menjadi kesulitan dan menetapkan peraturan yang
mendatangkan kesulitan kepada pemeluknya.
B. Uang dan Benda yang di beli
Syaratnya adalah:
1. Suci. Barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang untuk
dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disamak.
2. Ada manfaatnya. Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Dilarang pula mengambil tukarannya karena hal itu termasuk dalam arti
menyia-nyiakan (memboroskan) harta yang terlarang.
1. Barang itu dapat diserahkan. Tidak sah menjual suatu barang yang tidak
dapat diserahkan kepada yang membeli, misalnya ikan dalam laut, barang
rampasan yang masih berada ditangan yang merampasnya, barang yang
sedang dijaminkan, sebab semua itu mengandung tipu daya (kecohan).
2. Barang itu diketahui oleh si penjual dan si pembeli. Zat, bentuk, kadar
(ukuran), dan sifat-sifatnya jelas sehingga antara penjual dan pembeli
keduanya tidak saling kecoh-mengecoh[1].
C. Akad (Ijab dan Kabul)

Rukun jual beli ada tiga yaitu; akad (ijab Kabul), orang-orang yang berakad
(penjual dan pembeli), dan ma’kud alaib (objek akad).

Akad ialah ikatan antara penjual dan pembeli, jual beli belum dikatan sah sebelum
ijab dan Kabul dilakuhkan, sebab ijab Kabul menunjukan kerelaan (keridhaan),
pada dasarnya ijab Kabul dilakuhkan dengan lisan, tapi kalau tidak mungkin,
seperti bisu atau yang lainnya, maka boleh ijab Kabul dengan surat-menyurat yang
mengandung arti ijab dan kabul.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dari Abi Hurairah ra. dari Nabi SAW. bersabda: janganlah dua orang yang jual beli
berpisah, sebelum saling meridhai” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi).

Rasulullah SAW bersabda:

“Rasulullah SAW. bersabda: sesungguhnya jual beli hanya sah dengan saling
merelakan” (Riwayat Ibn Hibban dan Ibn Majah).

Jual beli yang menjadi kebiasaan, seperti jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan
sehari-hari tidak disyaratkan ijab dan kabul, ini adalah pendapat jumhur[2].
D. Syarat-syarat Sah Ijab Kabul ialah:
1. Jangan ada yang memisahkan, janganlah pembeli diam saja setelah
penjual menyatakan ijab dan sebaliknya.
2. Janganlah diselangi dengan kata-kata lain antara ijab dan kabul.
3. Beragama islam, syarat ini khusus untuk pembeli saja dalam benda-benda
tertentu, seperti seseorang dilarang menjual hambanya yang beragam
Islam kepada pembeli yang tidak beragama islam, sebab besar
kemungkinan pembeli tersebut akan merendahkan abid yang beragama
islam, sedangkan Allah melarang orang-orang mukmin memberi jalan
kepada orang kafir untuk merendahkan mukmin, firman-Nya:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk
memusnahkan orang-orang yang beriman” (al-Nisa:141)[3].

1. E. Jual Beli Yang Dilarang


1. Terlarang karena kurang syarat atau rukun
1. Jual beli system ijon (belum jelas barangnya)

Jual beli ini dilarang karena barang yang akan dibeli masih samar.

‫م ص النبى نهى مر ابن عليهعن حيامتفق وصال يبد رحتى الثما بيع عن‬

“dari Ibnu Umar ra. Nabi saw melarang jual beli buah-buahansehingga nyata
baiknya buah itu”.(Muttafaq ‘alaih)
1. Jual beli anak binatang ternak yang masih di dalam kandungan

Jual beli ini dilarang karena barangnya belum ada dan tidak tampak juga.

“Sesungguhnya Rasulullah saw melarang jual beli anak binatang yang masih dalam
kandungan induknya”.(HR. Bukhori dan Muslim)
1. Jual beli sperma hewan

Jual beli sperma hewan, seperti mengawinkan seekor domba jantan dengan betina,
agar dapat memperoleh turunan.

‫ل قا عبدهللا جابربن معن ص هللا رسول الماءنهى فضل بيع مسلمعن رواه‬

“Rasulullah saw telah melarang jual beli air jantan binatang.”(HR. Muslim).
1. Jual beli barang yang belum dimiliki

‫احموالبيهقىم رواه‬:‫تقبضه حتى استريته شيأ تبيعن ال د ص هللا رسول قال‬

Artinya: “Nabi saw telah bersabda janganlah engkau menjual sesuatu yang baru
saja engkau beli sehingga engkau menerima (memegangbarang itu)”. (HR. Ahmad
Baihaqi).

2. Jual beli yang sah tetapi terlarang


1. Jual beli pada waktu khutbah/sholat Jum’at bagi laki-laki.

‫وذرواالبيع سعواالىذكرهللا فا الجمعة يوم من للصلوة امنوآاذانودى الذين يأيها‬. ‫تعلمون كنتم ان خيرلكم ذالكم‬

1. Jual beli dengan niat untuk ditimbun saat masyarakat membutuhkan

‫طىءمسلم خا اال يختكر ال م ص هللا رسول قال‬

“Rasulullah saw telah bersabda tidaklah seseorang menimbun barang kecuali orang
yang durhaka”. (HR. Muslim).
1. Jual beli yang tidak mengetahui harga pasar
Contohnya menemui orang-orang desa sebelum mereka masuk ke pasar, untuk
membeli benda-bendanya dengan harga yang semurah-murahnya, sebelum mereka
tau harga pasaran kemudian ia menjual dengan harga yang setinggi-tingginya.
1. Jual beli yang masih dalam tawaran orang lain

Jual beli yang masih dalam tawaran orang lain, umpamanya seseorang
berkata”kembalikan saja barang orang itu kepada penjualnya, nanti barangku saja
kau beli dengan harga yang lebih murah dari itu.

‫ م ص هللا رسول قال هريرة ابى عن‬: ‫عليه متفق بعض علىبيع بعضكم يبع ال‬

“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: janganlah kamu menjual atau
membeli dari sebagian kamu atas barang yang sudah dijual atau dibeli oleh orang
lain”.

(HR. Bukhari dan Muslim.


1. Jual beli dengan cara menipu/memainkan ukuran timbangan

Jual beli ini sah namun haram hukumnya karena kaidah ulama fiqih berikut ini
“Apabila larangan dalam urusan muamalat itu karena hal yang di luar urusan
muamalat, larangan itu tidak menghalangi sahnya akad.

1. Jual beli untuk kemaksiatan

Jual beli untuk kemaksiatan adalah haram hukumnya karena jual beli ini akan
menimbulkan perbuatan maksiat yaitu perbuatan dosa.

3. Hikmah Jual Beli

Allah mensyari’atkan jual beli sebagai penberian keluangan dan keleluasaan dari-
NYA untuk hamba-hamba-NYA, yang membawa hikmah bagi manusia diantaranya:

1. Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang


menghargai hak milik orang lain.
2. Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan.
3. Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram
atau secara bathil.
4. Penjual dan pembeli sama-sama mendapat rizki Allah
5. Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.

B. Utang Piutang
1. Pengertian Utang Piutang
Hutang-piutang menurut syara ialah aqad untuk memberikan sesuatu benda yang
ada harganya atau berupa uang dari seseorang kepada orang lain yang
memerlukan dengan perjanjian orang yang berutang akan mengembalikan dengan
jumlah yang sama.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah
kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (Al-Maidah: 2)

2. Hukum Utang Piutang


Orang yang berhutang hukumnya mubah (boleh), sedangkan orang yang memberi
pinjaman hukumnya sunnah, sebab ia termasuk orang yang menolong sesamanya.
Hukum ini dapat berubah menjadI wajib jika orang yang meminjam itu benda-
benar dalam keadaan terdesak, misalnya hutang beras bagi orang yang kelaparan,
hutang uang untuk biaya pengobatan, dan lain sebagainya.

Rasulullah SAW bersabda :

‫ل قا سلم و عليه هلل ا صلي لنبي ا ان مسعود بن ا عن‬: ‫ة مر قتها كصد ن كا ال ا تين مر ضا قر مسلما ض يقر مسلم من ما‬
‫جه ما ابن رواه‬

Dari Ibnu Mas’ud ra, sesungguhnya Nabi SAW telah besabda “Seorang muslim yang
memberi pinjaman kepada seorang muslim dua kali, seolah-olah dia telah
bersedekah kepadanya satu kali“.(HR. Ibnu Majah)
1. 3. Rukun Utang Piutang

1. Lafaz.( kalimat mengutangi) seperti: “saya uatangkan ini kepada engkau”


jawab yang berhutang “ saya mengaku berhutang kepada engkau”
2. Yang berpiutang dan yang berhutang
3. Barang yang dihutangkan. Tiap-tiap barang yang dapat dihitung,boleh
dihutangkan.
1. 4. Menambah Bayaran

Melebihkan bayaran dari sebanyak hutang, kalau kelebihan itu memang kemauan
yang berhutang dan tidak atas perjanjian sebelumnya, maka kelebihan itu boleh
(halal) bagi yang mengutangkannya, dan menjadi kebaikan untuk orang yang
memebayar utang[4].
Rasulullah SAW bersabda :

‫عليه متفق ء قضا حسنكم ا كم خير من ن فا‬

”Maka sesungguhnya sebaik-baik kamu ialah orang yang sebaik-baiknya pada


waktu membayar hutang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW telah berhutang binatang ternak,
kemudian beliau membayar dengan binatang yang lebih besar umurnya daripada
binatang yang beliau pinjam itu, dan Rasulullah bersabda :

“Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang membayar hutangnya
dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad At-Turmudzi dan disahkannya).
C. Riba
1. Pengertian Riba
Riba menurut bahasa artinya ‫ الزيادة‬yaitu tambahan atau kelebihan. Riba
menurutistilah syara’ ialah suatu aqad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar
suatu barang yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara’ atau dalam
tukar-menukar itu disyaratkan dengan menerima salah satu dari dua barang[5].
1. 2. Hukum Riba
Riba hukumnya haram dan Allah melarang untuk memakan barang riba. Allah SWT
berfirman :

‫الربوا وحرم البيع هللا واحل‬

Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-
Baqarah : 275).

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan
berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan.” (QS. Ali Imran : 130).
3. Macam-macam Riba

Menurut pendapat sebagian ulama’, riba itu da empat macam:

a. Riba Fadhli (‫) الربواالفضل‬

Yaitu tukar-menukar suatu barang yang sama jenisnya tapi tidak sama
ukurannya/takarannya.

Contoh: Seseorang menukarkan seekor kambing dengan kambing lain yang lebih
besar, kelebihannya disebut riba fadhli.

b. Riba Qardhi (‫) الربواالقرضى‬

Yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan atau tambahan.

Contoh: Pinjam uang Rp. 10.000,- waktu mengembalikan minta tambahan menjadi
RP. 12.000,- Maka yang Rp. 2000,- termasuk riba qordhi.

c. Riba Yad ( ‫)الربوااليد‬

Yaitu berpisah dari tempat aqad jual-beli sebelum serah terima.

Contoh: Seseorang membeli barang, setelah dibayar si penjual langsung pergi


padahal barang belum diketahui jumlah dan ukurannya.

1. d. Riba Nasiah (‫)الربواالنسئة‬

Yaitu tukar menukar suatu barang, yang pembayarannya disyaratkan lebih oleh
penjual.

Contoh: Beli radio Rp. 50.000,- (jika kontan) menjadi Rp. 60.000,- (jika
hutang)(yang Rp. 10.000,- termasuk riba nasi’ah)

Pengertian Bunga Dalam Islam


Yusuf Qardawi menyamakan suku bunga dengan riba. Ia menyatakan “bunga yang

diambil oleh penabung di bank adalah riba yang diharamkan, karena riba adalah semua tambahan

yang disyaratkan atas pokok harta.” [1] Ia menambahkan: “apa yang diambil seseorang

tanpa melalui usaha perdagangan dan tanpa berpayah-payah sebagai tambahan atas pokok

hartanya, maka yang demikian itu termasuk riba.” [2]

Bunga menurut Maulana Muhammad Ali adalah tambahan pembayaran atas jumlah

pokok pinjaman.[3] Sedangkan menurut Al-Jurjani, bunga adalah: “kelebihan/ tambahan

pembayaran tanpa ada ganti rugi/ imbalan yang disaratkan bagi salah seorang dari dua orang

yang berakad (bertransaksi)”[4]

Muhammad Hatta membedakan antara bunga dengan riba. Ia menyatakan bahwa riba

diberlakukan untuk kebutuhan konsumtif. Sedangkan bunga diberlakukan untuk kebutuhan

produktif.[5] Demikian pula istilah usury dan interest, bahwa usury adalah bunga pinjaman yang

sangat tinggi, sehingga melampaui suku bunga yang diperbolehkan oleh hukum.

Sedangkan interest ialah bunga pinjaman yang relatif mudah (kecil). Namun dalam prakteknya,

maulana Muhammad Ali menyatakan bahwa sukar untuk membedakan

antara usury dan interest sebab pada hakekatnya kedua-duanya memberatkan bagi peminjam.[6]

Hukum Bunga Bank Dalam Islam

Penetapan telah terjadinya ijma’ ulama tentang keharaman bunga bank bukan kesimpulan

yang bersifat gampangan, tetapi setelah melakukan penelitian yang mendalam terhadap pendapat

semua pakar ekonomi Islam sejak tahun 1970-an hingga saat ini.[7] Beberapa pendapat

diantaranya:

a. Yusuf Qardawi

Dalam bukunya Fatwa-Fatwa Kontemporer, Yusuf Qardawi menyamakan bunga

dengan riba dan, riba adalah haram. Ia menyatakan: “bunga yang diambil oleh penabung di

bank adalah riba yang diharamkan, karena riba adalah semua tambahan yang disyaratkan atas

pokok harta.”[8]
Dalam bukunya yang lain, ia menyatakan bahwa Islam membenarkan pengembangan

uang dengan jalan perdagangan.[9]Seperti firman Allah:


‫عن تَ َراض‬ َ ‫اط ِل ِإ َّل أَن تَ ُكونَ ِت َج‬
َ ‫ارة‬ ِ ‫َياأَيُّ َها الَذِينَ َءا َمنُوا َّل تَأ ُكلُوا أَم َوالَ ُكم َبينَ ُكم ِبال َب‬
‫ّللاَ َكانَ ِب ُكم َر ِحيما‬ َ ‫س ُكم ِإ َن‬ َ ُ‫ِمن ُكم َو َّل تَقتُلُوا أَنف‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu makan harta kamu di antara kamu
dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan dengan adanya saling
kerelaan dari antara kamu.” (an-Nisa': 29)

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa Islam menutup pintu bagi siapa yang berusaha

akan mengembangkan uangnya itu dengan jalan riba. Seperti firman Allah SWT[10] :
‫) فَإِن لَم‬278( َ‫الربَا إِن ُكنتُم ُمؤ ِمنِين‬ ِ َ‫ي ِمن‬ َ ‫ي ََاأَيُّ َها الَذِينَ َءا َمنُوا اتَقُوا‬
َ ‫ّللاَ َوذَ ُروا َما بَ ِق‬
‫وس أَم َوا ِل ُكم َّل تَظ ِل ُمونَ َو َّل‬
ُ ‫سو ِل ِه َو ِإن تُبتُم فَلَ ُكم ُر ُء‬ َ َ‫تَف َعلُوا فَأذَنُوا ِب َحرب ِمن‬
ُ ‫ّللاِ َو َر‬
)279( َ‫تُظلَ ُمون‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kepada Allah, dan tinggalkanlah apa
yang tertinggal daripada riba jika kamu benar-benar beriman. Apabila kamu tidak
mau berbuat demikian, maka terimalah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya,
dan jika kamu sudah bertobat, maka bagi kamu adalah pokok-pokok hartamu,
kamu tidak boleh berbuat zalim juga tidak mau dizalimi.” (al-Baqarah: 278-279)

b. Masjfuk Zuhdi[11]

Masjfuk Zuhdi mengemukakan beberapa ayat al-quran yang mengharamkan riba. Seperti

surat ar-rum ayat 39:

َ‫ّللاِ فَأُو َلئِكَ ُه ُم ال ُمض ِعفُون‬


َ َ‫ّللاِ َو َما َءات َيتُم مِ ن زَ كَاة ت ُ ِريدُونَ َوجه‬ ِ َ‫َو َما َءات َيتُم مِ ن ِربا ِل َيرب َُو ِفي أَم َوا ِل الن‬
َ َ‫اس فَ َل َيربُو عِند‬
Artinya: Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta
manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu
berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah,
maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya).
Masjfuk zuhdi menjelaskan bahwa ayat di atas membicarakan masalah riba secara

eksplisit sehingga belum kongkret melarang riba. Ia menyatakan ayat ini

sebagai conditioning, artinya mempersiapkan kondisi ummat agar siap mental untuk

mentaati larangan riba yang akan dikeluarkan. Artinya akan ada ayat yang akan diturunkan

Allah mengenai pengahraman riba. Ayat itu adalah surat ali-imran : 130

َ‫ّللا لَ َعلَ ُكم تُف ِل ُحون‬


َ َ ‫عفَة َواتَقُوا‬ َ ‫الر َبا أَض َعافا ُم‬
َ ‫ضا‬ ِ ‫َياأَيُّ َها الَذِينَ َءا َمنُوا َّل ت َأ ُكلُوا‬
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan.

Dan ayat berikutnya yang secara jelas mengharamkan riba terdapat dalam surat Al-

Baqarah ayat 287 – 279:

‫) فَإِن لَم‬278( َ‫الربَا إِن ُكنتُم ُمؤ ِمنِين‬ ِ َ‫ي ِمن‬ َ ‫يَاأَيُّ َها الَذِينَ َءا َمنُوا اتَقُوا‬
َ ‫ّللاَ َوذَ ُروا َما بَ ِق‬
‫وس أَم َوا ِل ُكم َّل تَظ ِل ُمونَ َو َّل‬
ُ ‫سو ِل ِه َو ِإن تُبتُم فَلَ ُكم ُر ُء‬ َ َ‫تَف َعلُوا فَأذَنُوا ِب َحرب ِمن‬
ُ ‫ّللاِ َو َر‬
)279( َ‫تُظلَ ُمون‬
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kepada Allah, dan tinggalkanlah apa
yang tertinggal daripada riba jika kamu benar-benar beriman. Apabila kamu tidak
mau berbuat demikian, maka terimalah peperangan dari Allah dan Rasul-Nya,
dan jika kamu sudah bertobat, maka bagi kamu adalah pokok-pokok hartamu,
kamu tidak boleh berbuat zalim juga tidak mau dizalimi.” (al-Baqarah: 278-279)

Menurut Masjfuk Zuhdi ayat ini dapat dipakai menjadi dalil yang mutlak yang dapat dipakai

oleh semua ulama yang mengharamkan bunga/ riba. Karena ayat ini menyatakan sedikit atau

banyak kadar bunga/ riba yang di minta, hukumnya tetap haram.

Berikut ini adalah cuplikan dari keputusan – keputusan penting yang berkaitan dengan

pengharaman bunga bank yang dikeluarkan oleh beberapa majelis fatwa ormas Islam:
a. Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Beberapa isi Fatwa MUI no. 1 tahun 2004 adalah sebagai berikut:[13]

1. Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada jaman

Rasulullah SAW, yaitu Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini

termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya.

2. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan olehBank,

Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun

dilakukan oleh individu.

b. Majelis Tarjih Muhammadiyah

Tarjih Muhammadiyah Sidoarjo (1986) memutuskan: [14]

1. Riba hukumnya haram sesuai dengan dalil al-Quran dan Sunnah

2. Bank dengan sistem bunga hukumnya haram dan bank tanpa riba hukumnya halal

3. Bunga yang diberikan oleh bank – bank milik negara kepada para nasabahnya atau

sebaliknya yang selama ini berlaku, termasuk perkara mutasyabihat

c. Sidang Organisasi Konferensi Islam (OKI)[15]

Sidang yang dilakukan di Karachi, Pakistan pada Desember 1970, telah menyepakati 2 (dua)

hal utama, yaitu:

1. Praktik bank dengan sistem bunga tidak sesuai dengan syariah Islam

2. Perlu segera didirikan bank-bank alternatif yang menjalankan operasinya sesuai dengan

prinsip-prinsip syariah
http://3kh4.wordpress.com/2013/11/09/bunga-bank-dalam-islam/

KESIMPULAN
A. JUAL BELI
jual beli menurut istilah adalah tukar menukar sesuatu barang dengan barang lain
atas dasar suka sama suka dengan syarat dan rukun tertentu.Hukum jual beli
adalah jaiz/mubah (dibolehkan)

Rukun dan syarat Jual beli

 Penjual, syaratnya: Baligh (dewasa), berakal sehat, kehendak sendiri,, serta


dilakukan atas dasar suka sama suka
 Pembeli, syaratnya: Baligh (dewasa), berakal sehat, kehendak sendiri,
dilakukan atas suka sama suka
 Barang yang diperjual belikan, syaratnya: Suci, bermanfaat, milik sendiri
(diberi kuasa untuk menjual), jelas dan dapat diketahui kedua belah pihak,
serta dapat dikuasai oleh penjual atau pembeli
 Alat tukar, syaratnya: Berupa alat tukar yang syah dan masih berlaku, tidak
najis/haram, dan diperoleh dengan jalan halal
 Sighat ijab qobul/serah terima, syaratnya: Keadaan ijab qobul berhubung,
maksud ijab qobul dapat diketahui keduanya, serta dengan kerelaan hati

Jual beli yang dilarang antara lain:

Jual yang terlarang karena kurang syarat dan rukunnya:


 Jual beli system ijon
 Jual beli anak binatang ternak yang masih di dalam kandungan
 Jual beli sperma hewan
 Jual beli barang yang belum dimiliki
 Jual beli barang yang diharamkan.
Jual beli sah tetapi terlarang
 Jual beli padawaktu khutbah sholat Jum’at bagi laki-laki
 Jual beli dengan niat untuk ditimbun saat masyarakat membutuhkan
 Jual beli yang tidak mengetahui harga pasar
 Jual beli yang masih dalam tawaran orang lain
 Jual beli dengan cara menipu/memainkan ukuran timbangan
 Jual beli untuk kemaksiatan

Hikmah jual beli


 Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang
menghargai hak milik orang lain.
 Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan.
 Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram atau
secara bathil.
 Penjual dan pembeli sama-sama mendapat rizki Allah
 Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.

Khiyar adalah mencari kebaikan dari dua perkara yaitu memilih antara
melangsungkan atau membatalkan (jual beli) supaya tidak terjadi penyesalan di
kemudian hari. Macam-macam khiyar antara lain:Khiyar Majlis, Khiyar’aib (cacat)
dan Khiyar syarat.

Hikmah khiyar
 Membuat akad jual beli berlangsung menurut prinsip-prinsip Islam, yaitu
kerelaan dan ridha antara penjual dan pembeli.
 Mendidik masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan akad jual beli,
 Penjual tidak semena-mena menjual barangnya kepada pembeli, dan
mendidiknya agar bersikap jujur dalam menjelaskan keadaan barangnya.
 Terhindar dari unsur-unsur penipuan dari kedua belah pihak kehati-hatian.
 Memelihara hubungan baik antar sesama
B. UTANG PIUTANG
Utang piutang adalah aqad untuk memberikan sesuatu benda yang ada harganya
atau berupa uang dari seseorang kepada orang lain yang memerlukan dengan
perjanjian orang yang berutang akan mengembalikan dengan jumlah yang
sama.Hukumutang piutang adalah mubah (boleh).RukunUtang Piutang: Lafaz.(
kalimat mengutangi) , yang berpiutang dan yang berhutang, barang yang
dihutangkan
C. RIBA
Riba adalah suatu aqad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar suatu barang
yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara’ atau dalam tukar-menukar
itu disyaratkan dengan menerima salah satu dari dua barang.Hukumriba
adalah haram.Jenis Riba, antara lain:Riba Fadhli, Riba Qordhi dan Riba Nasi’ah.

Jawaban nomor 8
akanan dan minuman yang halal
a. Pengertian
Agama Islam telah memberikana aturan-aturan yang sangat jelas di
dalam Al Qur’an dan hadis tentang makanan dan minuman yang halal.
Makanan yang halal adalah makanan yang diizinkan oleh Allah untuk
dimakan, Sedangkan minuman ynag halal adalah semua jenis
minuman yang terbuat dari bahan-bahan yang dihalalkan walaupun
bahan dasarnnya adalah air seperti kopi, the, es juice dan lain-lain.
b. Ciri – ciri makanan dan minuman yang halal
Untuk mengetahui halal haramnya jenis barang ( dzat ) tersebut dan
layak dikonsumsi atau tidaknya kita bias mengetahui cirri – ciri
makanan atau minuman tersebut, antara lain :
1)Penjelasan dalam Al qur’an dan hadis
2)Bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia
3)Tidak merusak badan , akal maupun pikiran
4)Tidak kotor, najis dan tidak menjijikkan
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa kita disuruh memakan makanan
dan minum minuman yang halal dan baik. Serbagaimana dijelaskan
dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 168.
ِ ‫طيِِّباا َحلَالا اْالَ ْر‬
‫ض فِى ِم َّما كل ْوا يَاَيُّ َهاالنَّاس‬ َ ‫تُخط َوالَتَتَّبِع ْوا‬
ِ ‫ان َوا‬
ِ ‫ط‬َ ‫ال َّش ْي‬
‫البقرة ُّم ِبي ِْن َعدو لَك ْم اِنَّه‬:168
Artinya :
Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang
terdapat dibumi dan jangan kamu megikuti langkah-langkah setan.
Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu. (Q.S. Al
Baqarah/2:168)

Syarat makanan dan minuman yang halal tidak hanya ditinjau dari
jenis barangnya ( dzat ) saja , tetapi juga dilihat cara
memperolehnya. Agama Islam mensyaratkan makanan dan minuman
yang halal dilihat dari cara memperolehnya sebagai berikut :
1). Diperoleh tidak dengan cara yang batil atau tidak sah, sebagaiman
firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 188

.‫لباط ِل َب ْينَك ْم َوالَت َأْكل ْواأ َ ْموالَك ْم‬


ِ ْ‫ ِبا‬....
Artinya :
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain
di antara kamu dengan jalan yang bathil .” ( QS al Baqarah / 2 : 188 )
2). Tidak diperoleh dengan cara riba. Sebagaimana dijelaskan dalam
Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 276 :
‫للا يَ ْم َحق‬
ِّ ‫الربَ َو َاوي ْر ِبى‬ ِ ‫ص َدقَا‬
ِّ ِ ‫ت‬ َّ ‫ال‬
Artinya :
Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah…( QS. Al
Baqarah : 276 )

3). Akan menghasilkan hati dan fikiran yang bersih karena mendapat
curahan
cahaya dari Allah SWT
4). Akan diberi rizki yang halal dan dilipat gandakan oleh Allah karena
selalu
mentaati Allah sebagai wujjud rasa syukur.
5). Menunjukkan pada umat lain bahwa islam adalah agama tidak
merugikan orang lain, seperti mencuri, merampok, mencopet, berjudi
dan lain –lain.
Jadi, jika cara mendapatkan makanan dari hasil kerja yang halal,
maka akan menghasilkan yang halal pula, dan jika mencarinya dengan
jalan tidak halal maka akan menghasilkan yang tidak halal pula.
c. Penggolongan makanan dan minuman yang halal
Adapun makanan dan minuman yang dihalalkan menurut agama Islam
dapat digolongkan sebagai berikut.
1)Semua rizki yang diberikan oleh Allah berupa makanan yang baik
dan halal ( padi, jagung, sagu, kedelai, sayuran, buah-buahan, dll.)
2)Semua makanan yang berasal dari laut (air)
3)Semua binatang ternak, kecuali babi dan anjing (ayam, itik,
kambing sapi, kerbau, unta dll)
4)Hasil buruan yang ditangkap oleh binatang yang telah dididik untuk
berburu.
5)Semua jenis madu;
6)Semua jenis minuman yang terbuat dari bahan yang halal (Air kopi,
air teh, sirup, juice buah dll.)

d. Manfaat makanan dan minuman yang halal


Allah SWT dan rasul-Nya memerintahkan umat manusia untuk
membiasakan makanan dan mimuman yang halal. Dengan makan dan
minum yang halala akan memberikan manfaat bagi tubuh manisia.
Manfaatnya antara lain :
1)Terhindar dari murka Allah karena menjauhi laranganya
2)Tubuh kita akan selalu sehat karena yang dimakan adalah sesuatu
yang baik dan enak
3)Yang baik dan hanya mengajarkan kebaikan

2. Makanan dan minuman yang haram


a. Pengertian
Allah SWT telah memerintahkan manusia supaya mengkonsumsi
makanan dan minuman yang baik, Sebaliknyya manusia diharuskan
menjauhi makanan dan minuman yang haram. Makanan yang haram
adalah makanan yang dilarang dikonsumsi menurut syariat Islam,
Sedangkan minuman yang haram adalah minuman yang tidak boleh
diminum oleh orang Islam karena adanya dalil yang jelas. Firman Allah
dalam surat al A’raf ayat 157, yang artinya:
Artinya :
...dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk ...” ( QS. Al A’raf / 7 :
157 )
b.Ciri – ciri makanan dan minuman yang haram
Makanan dan minuman yang diharamkan memiliki ciri – ciri
antara lain :
1)makanan itu membahayakan
2)melemahkan dan merusak akal,
3)mendatangkan madharat terhadap manusia baik jiwa ataupun raga.
4)Memabukkan
5)Menjijikkan
c.Jenis makanan dan minuman yang haram
Berapa jenis makanan yang diharamkan oleh Allah SWT. Antara lain
sebagai berikut :
1)Bangkai binatang ,kecuali ikan dan belalang.
Sabda Raasulullah SAW.

ْ َّ‫َان لَنَا ا ِحل‬


‫ت‬ ِ ‫َواْل َج َرد اْلح ْوت َم ْيتَت‬
Artinya :
Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai, yaitu bangkai ikan dan
belalang”
(HR. Ib nu majah dari Abdullah Bin Umar : 3209)

2)Makanan yang buruk, menjijikakan atau najis seperti kecoak, lalat,


cacing kutu dll
Firman Allah dalam surat Al A’rof yat 157.

َ ‫اْل َخبَ ِئ‬


...‫ث َعلَ ْي ِهم َوي َح ِ ِّرم‬ ...
Artinya :
...dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka ….” ( Q. S. Al
A’rof : 157)
3)Makanan yang memabukkan
Rasulullah SAW bersabda :
‫َح َرام خ َْمر ك ُّل َو خ َْمر م ْس ِكر ك ُّل‬
Artinya :
Tiap-tiap yang memabukkan adalah khomr dan semua khomr
hukumnya haram
( H. R. Muslim dari Ibnu Umar : 3733 )
Sampai saat ini, sudah banyak ditemukan bebagai jenis minuman
yang secara positif memabukkan serta diharamkan melalui fatwa
Majelis Ulama Indonesia, yaitu bir dalam segala merek, vodka, ciu,
anggur putih, wiski, daun ganja, sabu – sabu, heroin, ektasi.
4)Babi
Daging babi haram , termasuk di dalamnya kulit, tulang dan semua
bagian dari hewan tersebut.

5)Binatang yang disembelih tidak atas nama Allah.


6)Benda yang membahayakan
Contoh makanan yang mengandung racun dan makanan yang basi.
Firman Allah dalam surat al Baqarah ayat 195 :
‫الت َّ ْهل َك ِة إِلَى َوالَت ْلق ْوابِأ َ ْي ِديْك ْم‬...
Artinya :
..dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan…
( QS. Al Baqarah / 2 : 195 )

d.Akibat Akibat makanan dan minuman yang haram


Memakan makanan dan minuman yang haram dilarang oleh Allah dan
rasul-Nya, sebab akan berakibat bagi yang mengkonsumsinya.
Beberapa akibat yang ditimbulkan antara lain :
1.akan mendapatkan murka dan azab dari Allah baik didunia maupun
diakhirat.
2.tidak ada keberkahan dalam dirinya.
3.akan membentuk sifat-sifat syaithoniyah seperti suka marah,
berbohong, dan berkhianat.
4.susah menerima ilmu kebenaran.
5.badan tidak sehat dan mudah terkena berbagai macam penyakit.

d. Usaha - usaha untuk menghindari makanan dan minuman ynag


haram.
Sebagai seorang muslim kita harus berusaha menghindari atau
menjauhi makanan dan minuman yang haram. Agar dapat
menghindari makanan dan minuuman yang diharamkan, hendaklah
diperhatikan hal-hal berikut :
1.tanamkan di dalam diri sikap benci dan tidak suka terhadap
makanan dan minunam yang diharamkan
2.hendaklah difahami betul macam-macam makanan dan minuman
yang diharamkan
3.jika terdapat keraguan terhadap makanan dan minuman tersebut
tanyakanlah kepada ulama terdekat
4.bersikap hati-hati terhadap makanan dan minuman yang telah diolah
atau dalam kemasan
5.tanamkan keyakinan di dalam diri bahwa makan dan minum sesuatu
yang haram akan merusak dan membahayakan jiwa kita
6.menjauhi pergaulan yang mengarah pada makanan dan minuman
ynag haram.

e.Hikmah keharaman makanan dan minuman


Dari beberapa makanan dan minuman yang diharamkan oleh Allah ada
isyarat hikmah yang terkandung di dalamnya. Hikmah yang
terkandung antara lain :
1. Minuman yang memabukkan diharamkan karena di dalamnya
mengandung zat etanol atau metanol yang bersifat racun, sehingga
membahayakan kesehatan manusia terutama merusak jaringan otak
dan sarat.
2. Diharamkannya babi karena di dalamnya mengandung cacing pita
yang dapat tumbuh dalam lambung mabusia dan akan merusak alat
pencernakan.
3. Diharamkan bangkai karena bangkai tersebut kemungkinan
mengandung mikroba- mikroba atau baksil yang akan meracuni dan
merusak tubuh manudia
4. Makanan yang menjijikkan atau kotor diharamkan , karena
makanan tersebut dapat mengotori tubuh kita dan akan menjadi racun
dalam tubuh yang akan mengganggu pertumbuhan jasmani dan
rohani.
Dapat disimpulkan bahwa diharamkannya makanan dan minuman
merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia .
Dengan menghayati ketentuan Allah tersebut akan tumbuh kesadaran
bahwa betaapa kasih sayang Allah terhadap hambaNya sangatlah
besar.
http://basicartikel.blogspot.com/2013/07/makanan-dan-minuman-halal-dan-haram_24.html

jawaban nomor 9

Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya
diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum
dalam rukun iman dan rukun Islam.

Kata Islam setelah “Ekonomi” dalam ungkapan Ekonomi Islam berfungsi sebagai identitas tanpa
mempengaruhi makna atau definisi ekonomi itu sendiri. Karena definisinya lebih ditentukan oleh
perspektif atau lebih tepat lagi worldview yang digunakan sebagai landasan nilai.
Sedang ekonomi adalah masalah menjamin berputarnya harta diantara manusia, sehingga
manusia dapat memaksimalkan fungsi hidupnya sebagai hamba Allah untuk mencapai falah di
dunia dan akherat (hereafter). Ekonomi adalah aktifitas yang kolektif.

Berikut ini definisi Ekonomi dalam Islam menurut Para Ahli :


 S.M. Hasanuzzaman, “ilmu ekonomi Islam adalah pengetahuan dan aplikasi ajaran-ajaran dan
aturan-aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam pencarian dan pengeluaran sumber-
sumber daya, guna memberikan kepuasan bagi manusia dan memungkinkan mereka
melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah dan masyarakat.”
 M.A. Mannan, “ilmu ekonomi Islam adalah suatu ilmu pengetahuan social yang mempelajari
permasalahan ekonomi dari orang-orang memiliki nilai-nilai Islam.”
 Khursid Ahmad, ilmu ekonomi Islam adalah “suatu upaya sistematis untuk mencoba memahami
permasalahan ekonomi dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan permasalahan tersebut
dari sudut pandang Islam.”
 M.N. Siddiqi, ilmu ekonomi Islam adalah respon “para pemikir muslim terhadap tantangan-
tantangan ekonomi zaman mereka. Dalam upaya ini mereka dibantu oleh Al Qur’an dan As
Sunnah maupun akal dan pengalaman.”
 M. Akram Khan, “ilmu ekonomi Islam bertujuan mempelajari kesejahteraan manusia (falah)
yang dicapai dengan mengorganisir sumber-sumber daya bumi atas dasar kerjasama dan
partisipasi.”
 Louis Cantori, “ilmu ekonomi Islam tidak lain merupakan upaya untuk merumuskan ilmu
ekonomi yang berorientasi manusia dan berorientasi masyarakat yang menolak ekses
individualisme dalam ilmu ekonomi klasik.”
Ciri Ekonomi Islam
Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip yang mendasar
saja. Karena alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah banyak sekali membahas
tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku sebagai produsen, konsumen dan
pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang sistem ekonomi. Ekonomi dalam Islam harus mampu
memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Selain itu, ekonomi islam
menekankan empat sifat, antara lain:
 Kesatuan (unity)
 Keseimbangan (equilibrium)
 Kebebasan (free will)
 Tanggungjawab (responsibility)
Manusia sebagai wakil (khalifah) Tuhan di dunia tidak mungkin bersifat individualistik, karena
semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata, dan manusia adalah
kepercayaannya di bumi. Didalam menjalankan kegiatan ekonominya, Islam sangat
mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti "kelebihan".

Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam


Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:
 Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah swt kepada manusia.
 Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
 Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
 Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
 Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk
kepentingan banyak orang.
 Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat nanti.
 Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
 Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Konsep Dasar
Melihat keadaan keuangan modern saat ini yang banyak dipengaruhi oleh konsep kapitalis yang
membolehkan banyak apa yang telah dilarang dalam agama Islam, ummat Islam akhirnya
berusaha mencari suatu alternatif sistem keuangan yang dapat menghindarkan diri mereka dari
berbagai macam kegiatan dan transaksi yang bertentangan dengan hukum yang mereka fahami
dalam agama mereka.

Berbagai usaha telah dilaksanakan untuk mewujudkan suatu konsep keuangan (dan ekonomi)
alternatif yang dapat menghindarkan ummat Islam dari berbagai transaksi yang bersifat paradoks
tersebut. Seperti bunga (interest) yang sangat diharamkan dalam ajaran Islam dan sangat
bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits dilaksanakan dalam banyak transaksi perbankan
dan pasar keuangan modern. Belum lagi elemen gharar (uncertainty) dan maysir (gambling)
yang terdapat dalam beberapa kontrak asuransi dan beberapa pasar keuangan derivatif lainnya,
yang menyebabkan kegelisahan di hati banyak Ummat Islam.
Dengan konsep dasar merujuk kepada Ayat-ayat dan Hadits-hadits yang menolak banyak
kegiatan transaksi dan kontrak ini, beberapa usaha kaum Muslim telah berhasil membuat suatu
konsep dasar keuangan Islam untuk mewujudkan suatu konsep keuangan alternatif yang
berlandaskan Syari’ah yang mereka dambakan selama ini. Bermula dengan usaha Ahmed El-
Naggar pada tahun 1963 di Mesir dengan mendirikan sebuah bank lokal yang menghindarkan
segala transaksinya dari riba (berlandaskan syar’iah) dan diikuti oleh banyak usaha akademisi
dan praktisi dari kaum Muslim lainnya.

Dan kini, perkembangan keuangan Islam semakin pesat di berbagai belahan dunia Timur dan
Barat, dan semakin diminati oleh banyak orang untuk dipelajari secara lebih mendalam.
- See more at: http://fahmyzone.blogspot.com/2013/04/pengertian-
ekonomi-islam.html#sthash.mjYuPDcO.dpuf

http://fahmyzone.blogspot.com/2013/04/pengertian-ekonomi-islam.html
Sumber-Sumber Hukum Ekonomi Islam
Sumber – sumber hukum Ekonomi Islam yang esensial ada dua, tapi para ulama’
melakukan ijtihad kemudian menentukan manhaj yang berbeda – beda. Di bawah ini
adalah sumber – sumber hukum Ekonomi Islam.

 Al-Qur’an

Al-qur’an adalah sumber pertama dan utama bagi Ekonomi Islam, di dalamnya dapat
kita temui hal ihwal yang berkaitan dengan ekonomi dan juga terhadap hukum – hukum
dan undang – undang ekonomi dalam tujuan Islam, di antaranya seperti hukum
diharamkannya riba, dan diperbolehkannya jual beli yang tertera pada surah Al-
Baqorah ayat 275:
“......padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang –
orang yang telah sampai kepadanya larangan dari tuhannnya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba) maka baginya apa yang telah di ambilnya dahulu (sebelum datang
larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil
riba) maka orang itu adalah penghuni – penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

 As-Sunah An-Nabawiyah

As-Sunah adalah sumber kedua dalam perundang-undangan islam. Didalamnya dapat


kita jumpai khazanah aturan perokonomian islam. Di antaranya seperti sebab hadis
yang isinya memerintahkan untuk menjaga dan melindungi harta, baik milik pribadi
maupun umum serta tidak boleh mengambil harta yang bukan miliknya.
“Sesungguhnya (menumpahkan) darah kalian, (mengambil) harta kalian, (mengganggu)
kehormatan kalian haram sebagaimana haramnya hari kalian saat ini, di bulan ini, di
negeri ini.....”(H.R Bukhori)

Contoh lain misalnya As-Sunah juga menjelaskan jenis – jenis harta yang harus
menjadi milik umum dan untuk kepentingan umnum, tertera pada hadis: “Aku ikut
berperang bersama Rasulullah, ada tiga hal yang aku dengar dari Rasulullah: Orang –
orang muslim bersyarikat (sama – sama memiliki) tempat penggembala, air dan api”
(HR. Abu Dawud)

 Ijtihad Ulama’

Istilah ijtihad adalah mencurahkan daya kemampuan untuk menghasilkan hukum syara’
dari dalil – dalil syara’ secara terperinci yang bersifat operasional dengan cara
mengambil kesimpulan hukum (istimbat) Iman Al-Amidi mengatakan untuk melakukan
ijtihad harus sampai merasa tidak mampu untuk mencari tambahan kemampuan.
Menurut Imam Al-Ghozali batasan sampai merasa tidak mampu sebagai bagian dari
definisi ijtihad sempurna (al ijtihad attaam)
Imam Syafi’i mengatakan bahwa seorang mujtahid tidak boleh mengtakan “tidak tahu”
dalam suatu permasalahan sebelum ia berusaha dengan sungguh – sungguh untuk
menelitinya dan tidak boleh mengatakan “aku tahu” seraya menyebutkan hukum yang
diketahui itu sebelum ia mencurahkan kemampuan dan mendapatkan hukum itu.
Keberadaan ijtihad sebagai sebuah hukum dinyatakan dalam Al-Qur’an dalam surat an
Nisa (4) ayat 83, yang artinya : “dan apabila datang kepada mereka suatu berita
tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka
menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang
yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul
dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah
kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

 Kitab – kitab Fikih Umum dan Khusus.

Kitab – kitab ini menjelaskan tentang ibadah dan muamalah, di dalamnya terdapat pula
bahasan tentang ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah Al-Mu’amalah Al-
Maliyah, isinya merupakan hasil – hasil ijtihad Ulama terutama dalam mengeluarkan
hum – hukum dari dalil – dalil Al-Qur’an maupun hadis yang sahih. Adapun bahasan –
bahasan yang langsung berkaitan dengan ekonomi Islam adalah: Zakat, Sedekah
sunah, fidyah, zakat fitrah, jual beli, riba dan jual beli uang, dan lain – lain.
http://pendidikanekonomia.blogspot.com/2014/04/arti-hakikat-dan-ruang-lingkup-ekonomi.html
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang
perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid
sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.
Pada hakikatnya ekonomi Islam adalah metamorfosa nilai-nilai Islam dalam ekonomi
dan dimaksudkan untuk menepis anggapan bahwa Islam adalah agama yang hanya
mengatur persoalan ubudiyah atau komunikasi vertikal antara manusia (makhluk)
dengan Allah (khaliq) nya. Beberapa ekonom memberikan penegasan bahwa ruang
lingkup dari ekonomi Islam adalah masyarakat Muslim atau negara Muslim sendiri.
Artinya, ia mempelajari perilaku ekonomi dari masyarakat atau Negara Muslim di mana
nilai-nilai ajaran Islam dapat diterapkan.

Dengan kata lain, kemunculan ekonomi Islam merupakan satu bentuk artikulasi
sosiologis dan praktis dari nilai-nilai Islam yang selama ini dipandang doktriner dan
normatif. Dengan demikian, Islam adalah suatu dien (way of life) yang praktis dan
ajarannya tidak hanya merupakan aturan hidup yang menyangkut aspek ibadah dan
muamalah sekaligus, mengatur hubungan manusia dengan rabb-nya (hablum minallah)
dan hubungan antara manusia dengan manusia (hablum minannas).
Sumber – sumber hukum Ekonomi Islam yang esensial ada dua, tapi para ulama’
melakukan ijtihad kemudian menentukan manhaj yang berbeda – beda. Di bawah ini
adalah sumber – sumber hukum Ekonomi Islam.
1. Al-Qur’an
2. As-Sunah An-Nabawiyah
3. Ijtihad Ulama’
4. Kitab – kitab Fikih Umum dan Khusus.

B. Hakekat Etos Kerja dalam Islam


Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter
serta keyakinan atas sesuatu.
Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan
masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta
sistem nilai yang diyakininya. Dari kata etos ini dikenal pula kata etika yang
hamper mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan
baik buruk moral sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat
yang amat kuat untuk mengerjakan sesuati secara optimal lebih baik dan bahkan
berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.
Pengertian Kerja
Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia,
baik dalam hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal
yang berkaitan dengan masalah keduniawian atau keakhiratan. Kamus besar
bahasa Indonesia susunan WJS Poerdarminta mengemukakan bahwa kerja adalah
perbuatan melakukan sesuatu. Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk
mencari nafkah.

Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu
diikut sertakan didalamnya, oleh karenanya kerja merupakan bukti adanya iman
dan barometer bagi pahala dan siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disampung
mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan, namun harus mempunyai
tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah SWT. Prinsip inilah yang harus
dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil pekerjaan mereka bermutu dan
monumental sepanjang zaman.
Jika bekerja menuntut adanya sikap baik budi, jujur dan amanah, kesesuaian upah
serta tidak diperbolehkan menipu, merampas, mengabaikan sesuatu dan semena-
mena, pekerjaan harus mempunyai komitmen terhadap agamanya, memiliki
motivasi untuk menjalankan seperti bersungguh-sungguh dalam bekerja dan selalu
memperbaiki muamalahnya. Disamping itu mereka harus mengembangkan etika
yang berhubungan dengan masalah kerja menjadi suatu tradisi kerja didasarkan
pada prinsip-prinsip Islam.
Adapun hal-hal yang penting tentang etika kerja yang harus diperhatikan adalah
sebagai berikut :
1. Adanya keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat,
mengontrol dalam kondisi apapun dan akan menghisab seluruh amal perbuatan
secara adil kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk
bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras
memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya.
Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha
seorang pekerja yang dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali)
2. Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. Firman Allah SWT
:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang
kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-
Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)
1. Dilarang memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja,
semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar.
2. Islam tidak membolehkan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya
dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.
3. Professionalisme yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan
sesuai dengan prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang
teguh sifat amanah, kuat dan kreatif serta bertaqwa tetapi dia juga mengerti dan
benar-benar menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan
akan mengalami kerusakan dan kebangkrutan juga menyebabkan menurunnya
produktivitas bahkan sampai kepada kesemrautan manajemen serta kerusakan
alat-alat produksi

Ethos kerja seorang muslim ialah semangat menapaki jalan lurus, mengharapkan
ridha Allah SWT.
Etika kerja dalam Islam yang perlu diperhatikan adalah (1) Adanya keterkaitan
individu terhadap Allah sehingga menuntut individu untuk bersikap cermat dan
bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah
dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. (2) Berusaha dengan cara yang
halal dalam seluruh jenis pekerjaan. (3) tidak memaksakan seseorang, alat-alat
produksi atau binatang dalam bekerja, semua harus dipekerjakan secara
professional dan wajar. (4) tidak melakukan pekerjaan yang mendurhakai Allah
yang ada kaitannya dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan
Allah. (5) Professionalisme dalam setiap pekerjaan
http://pintania.wordpress.com/etos-kerja-dalam-islam/
jawaban nomor 10
Ilmu merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima –
ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggeris Ilmu
biasanya dipadankan dengan kata science, sedang pengetahuan dengan
knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi
sering juga diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meskipun secara konseptual
mengacu paada makna yang sama. Untuk lebih memahami pengertian Ilmu
(science) di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian :
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara
bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk
menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu (Kamus Besar
Bahasa Indonesia)
“Science is knowledge arranged in a system, especially obtained by
observation and testing of fact (And English reader’s dictionary)
“Science is a systematized knowledge obtained by study, observation,
experiment” (Webster’s super New School and Office Dictionary)
2. Kedudukan Ilmu Menurut Islam

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran


islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang
memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya
disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan
bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Didalam Al qur’an , kata ilmu dan kata-kata jadianya di gunakan lebih dari 780 kali , ini

bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari AL qur’ansangat kental

dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri

penting dariagama Islam sebagamana dikemukakan oleh Dr Mahadi Ghulsyani9(1995;;

39) sebagai berikut ;


‘’Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah

penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al quran dan Al –sunah mengajak

kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan ,serta

menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi’’

ALLah s.w.t berfirman dalam AL qur;’an surat AL Mujadalah ayat 11 yang artinya:

“ALLah meninggikan baeberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman

diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmupengetahuan).dan ALLAH

maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”

ayat di atas dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmuakan

menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan

menjadi pendorong untuk menuntut ILmu ,dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan

membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan ALLah ,sehingga akan

tumbuh rasakepada ALLah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal inisejalan

dengan fuirman ALLah:

“sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba –hambanya hanyaklah

ulama (orang berilmu) ; (surat faatir:28)

Disamping ayat –ayat Qur’an yang memposisikan Ilmu dan orang berilmu sangat

istimewa, AL qur’an juga mendorong umat islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu,

seprti tercantum dalam AL qur’an sursat Thaha ayayt 114 yang artinya “dan

katakanlah, tuhanku ,tambahkanlah kepadaku ilmu penggetahuan “. dalam

hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu

,menjadi sangat penting,dan islam telah sejak awal menekeankan pentingnya

membaca , sebagaimana terlihat dari firman ALLah yang pertama diturunkan yaitu

surat Al Alaq ayat 1sampai dengan ayat 5 yang artuinya:

“bacalah dengan meyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia

telah menciptakan Kamu dari segummpal darah .


Bacalah,dan tuhanmulah yang paling pemurah.

Yang mengajar (manusia ) dengan perantara kala .

Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui.”

Ayat –ayat trersebut , jelas merupakan sumber motivasi bagi umat islam untuk tidak

pernah berhenti menuntut ilmu,untuk terus membaca ,sehingga posisi yang tinggi

dihadapan ALLah akan tetap terjaga, yang berearti juga rasa takut kepeada ALLah

akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh ,

dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi denga ilmu akan

membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjd (1992: 130) meyebutkan bahwa

keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah

menengahi antara iman dan amal .

Di samping ayat –ayat AL qur”an, banyak nyajuga hadisyang


memberikan dorongan kuat untukmenuntut Ilmu antara lain
hadis berikut yang dikutip dari kitab jaami’u Ashogir (Jalaludin-
Asuyuti, t. t :44 ) :
“Carilah ilmu walai sampai ke negri Cina ,karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagisetuap muslim’”(hadis
riwayat Baihaqi).
“Carilah ilmu walau sampai ke negeri cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu

itu wajib bagi setiap muslim . sesungguhnya Malaikat akan meletakan sayapnya

bagi penuntut ilmu karena rela atas apa yang dia tuntut “(hadist riwayat Ibnu

Abdil Bar).

Dari hadist tersebut di atas , semakin jelas komitmen ajaran Islam pada ilmu ,dimana

menuntut ilmu menduduki posisi fardhu (wajib) bagi umat islam tanpa mengenal batas

wilayah,

http://uharsputra.wordpress.com/filsafat/islam-dan-ilmu/
KESIMPULAN
Ilmu Pengetahuan tidaklah bertentangan dengan Islam, justru Islam menyuruh
penganutnya untuk mempelajari Ilmu Pengetahuan bahkan mewajibkannya, termasuk
di dalamnya Islam tidak melarang ummatnya berfilsafat. Hanya saja larangan itu
muncul apabila ummat Islam sudah berfilsafat sebelum aqidahnya kuat, hal ini akan
melahirkan penyimpangan berfikir yang bisa menyesatkan bagi dirinya dan orang lain..

Jawaban nomor 11
1. Al-Qur’an & Sunnah:
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya utk menjadikan al-Qur’an & Sunnah sebagai
sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduanya adalah langsung dari sisi Allah
SWT & dlm pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan, & terbebas dari segala vested
interest apapun, karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu & Yang Maha Adil. Sehingga
tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT melalui berbagai
perintah utk memikirkan ayat-ayat-Nya (QS 12/1-3) & menjadikan Nabi SAW sebagai
pemimpin dlm segala hal (QS 33/21).
2. Alam semesta:
Allah SWT telah memerintahkan manusia utk memikirkan alam semesta (QS 3/190-192) &
mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya, diantara ayat2 yang telah dibuktikan oleh
pengetahuan modern seperti[1] :
· Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS 41/11).
· Ayat tentang urutan penciptaan (QS 79/28-30): Kegelapan (nebula dari kumpulan H & He
yang bergerak pelan), adanya sumber cahaya akibat medan magnetik yang menghasilkan panas
radiasi termonuklir (bintang & matahari) → pembakaran atom H menjadi He lalu menjadi C lalu
menjadi O baru terbentuknya benda padat & logam seperti planet (bumi) panas turun
menimbulkan kondensasi baru membentuk air baru mengakibatkan adanya kehidupan
(tumbuhan).
· Ayat bahwa bintang2 merupakan sumber panas yang tinggi (QS 86/3),
matahari sebagai contoh tingkat panasnya mencapai 6000 derajat C.
· Ayat tentang teori ekspansi kosmos (QS 51/47).
· Ayat bahwa planet berada pada sistem tata surya terdekat (sama ad-dunya) (QS 37/6).
· Ayat yang membedakan antara planet sebagai pemantul cahaya
(nur/kaukab) dgn matahari sebagai sumber cahaya (siraj) (QS 71/16).
· Ayat tentang gaya tarik antar planet (QS 55/7).
· Ayat tentang revolusi bumi mengedari matahari (QS 27/88).
· Ayat bahwa matahari & bulan memiliki waktu orbit yang berbeda2 (QS
55/5) & garis edar sendiri2 yang tetap (QS 36/40).
· Ayat bahwa bumi ini bulat (kawwara-yukawwiru) & melakukan rotasi (QS
39/5).
· Ayat tentang tekanan udara rendah di angkasa (QS 6/125).
· Ayat tentang akan sampainya manusia (astronaut) ke ruang angkasa (in
bedakan dgn lau) dgn ilmu pengetahuan (sulthan) (QS 55/33).
· Ayat tentang jenis-jenis awan, proses penciptaan hujan es & salju
(QS 24/43).
· Ayat tentang bahwa awal kehidupan dari air (QS 21/30).
· Ayat bahwa angin sebagai mediasi dlm proses penyerbukan (pollen)
tumbuhan (QS 15/22).
· Ayat bahwa pada tumbuhan terdapat pasangan bunga jantan (etamine) dan
bunga betina (ovules) yang menghasilkan perkawinan (QS 13/3).
· Ayat tentang proses terjadinya air susu yang bermula dari makanan
(farts) lalu diserap oleh darah (dam) lalu ke kelenjar air susu (QS 16/66),
perlu dicatat bahwa peredaran darah baru ditemukan oleh Harvey 10 abad setelah wafatnya nabi
Muhammad SAW.
· Ayat tentang penciptaan manusia dari air mani yang merupakan campuran
(QS 76/2), mani merupakan campuran dari 4 kelenjar, testicules (membuat
spermatozoid), vesicules seminates (membuat cairan yang bersama mani), prostrate
(pemberi warna & bau), Cooper & Mary (pemberi cairan yang melekat & lendir).
· Ayat bahwa zyangote dikokohkan tempatnya dlm rahim (QS 22/5), dengan
tumbuhnya villis yang seperti akar yang menempel dpada rahim.
· Ayat tentang proses penciptaan manusia melalui mani (nuthfah) zygote yang melekat
(‘alaqah) segumpal daging/embryo (mudhghah) dibungkus oleh tulang dlm misenhyme
(‘izhama) tulang tersebut dibalut
oleh otot & daging (lahma) (QS 23/14).
3. Diri manusia:
Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses penciptaannya, baik
secara fisiologis/fisik (QS 86/5) maupun psikologis/jiwa manusia tersebut (QS 91/7-10).
4. Sejarah:
Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya melalui lembar sejarah
(QS 12/111). Jika manusia masih ragu akan kebenaran wahyu-Nya & akan datangnya hari
pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh, Hud, Shalih, Fir’aun,
dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya dibenarkan dlm sejarah hingga
saat ini.

sumber: http://dakwah-online.web.id

jawaban no 12

Asal Mula Alam Semesta - Keajaiban Ilmiah Al Qur'an

Gambar 10. Sebuah bintang terbentuk dari gumpalan gas dan asap (nebula), yang merupakan
peninggalan dari 'asap' yang menjadi asal kejadian alam semesta. (The Space Atlas, Heather dan
Henbest, hal. 50)
Gambar 11. Nebula Laguna adalah sebuah gumpalan gas dan asap yang berdiameter sekitar 60 tahun
cahaya. Ia dipendarkan oleh radiasi ultraviolet dari bintang panas yang baru saja terbentuk di dalam
gumpalan tersebut. (Horizons, Exploring the Universe, Seeds, gambar 9, dari Association of
Universities for Research in Astronomy, Inc.)

Ilmu pengetahuan moderen, ilmu astronomi, baik yang berdasarkan pengamatan maupun
berupa teori, dengan jelas menunjukkan bahwa pada suatu saat seluruh alam semesta
masih berupa 'gumpalan asap' (yaitu komposisi gas yang sangat rapat dan tak tembus
pandang, The First Three Minutes, a Modern View of the Origin of the Universe, Weinberg, hal.
94-105.). Hal ini merupakan sebuah prinsip yang tak diragukan lagi menurut standar astronomi
moderen. Para ilmuwan sekarang dapat melihat pembentukan bintang-bintang baru dari
peninggalan 'gumpalan asap' semacam itu (lihat gambar 10 dan 11)

Bintang-bintang yang berkilauan yang kita lihat di malam hari, sebagaimana seluruh alam
semesta, dulunya berupa materi 'asap' semacam itu. Allah telah berfirman di dalam Al Qur'an:

‫ي دخَان‬
َ ‫اء َو ِه‬ َّ ‫ث َّم ا ْست َ َو ٰى ِإلَى ال‬
ِ ‫س َم‬
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap,... (Al Fushshiilat,
41: 11)

Karena bumi dan langit di atasnya (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi dan lain-lain)
terbentuk dari 'gumpalan asap' yang sama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa matahari dan
bumi dahulu merupakan satu kesatuan. Kemudian mereka berpisah dan terbentuk dari 'asap'
yang homogen ini. Allah telah berfirman:

َ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
‫ض َكانَتَا َرتْقاا فَفَت َ ْقنَاه َما‬ َّ ‫أ َ َولَ ْم يَ َر الَّذِينَ َكفَروا أ َ َّن ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu
adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. (Al Anbiya, 21:30)
Dr. Alfred Kroner adalah salah satu ahli ilmu bumi terkemuka. Ia adalah Profesor geologi dan
Kepala Departemen Geologi pada Institute of Geosciences, Johannes Gutenberg University,
Mainz, Jerman. Ia berkata: "Jika menilik tempat asal Muhammad... Saya pikir sangat tidak
mungkin jika ia bisa mengetahui sesuatu semisal asal mula alam semesta dari materi yang
satu, karena para ilmuwan saja baru mengetahui hal ini dalam beberapa tahun yang lalu melalui
berbagai cara yang rumit dan dengan teknologi mutakhir. Inilah kenyataannya." Ia juga
berkata: "Seseorang yang tidak mengetahui apapun tentang fisika inti 14 abad yang lalu,
menurut saya, tidak akan pernah bisa mengetahui, melalui pemikirannya sendiri, bahwa
dulunya bumi dan langit berasal dari hal yang satu."

http://www.al-habib.info/review/al-quran-asal-mula-alam-semesta.htm

jawaban no 13

2.1.1 Pengertian Manusia Menurut Pandangan Islam


Manusia dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal tanah di
bumi. Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan daging, darah,
urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran dianggapnya barang benda,
yang dihasilkan oleh otak.[1] Pandangan ini menimbulkan kesan seolah-olah manusia ini
makhluk yang rendah dan hina, sama dengan hewan yang hidupnya hanya untuk memenuhi
keperluan dan kepuasan semata.
Dalam pandangan Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi-Nya, yang
diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi akal dan hati, sehingga dapat
memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa Al-Qur’an menurut sunah rasul. Dengan ilmu
manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin
: 95:4). Namun demikian, manusia akan tetap bermartabat mulia kalau mereka sebagai khalifah
(makhluk alternatif) tetap hidup dengan ajaran Allah (QS. Al-An’am : 165). Karena ilmunya
itulah manusia dilebihkan (bisa dibedakan) dengan makhluk lainnya, dan Allah menciptakan
manusia untuk berkhidmat kepada-Nya, sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat
(51) : 56.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-
Ku. (Adz-Dzariyat (51) : 56).

2.3 Proses Penciptaan Manusia

2.3.1 Penciptaan Manusia Menurut Bibel

Menurut penjelasan di dalam Bibel, Bibel tidak memuat pernyataan-pernyataan mengenai


berbagai fenomena alam yang pada setiap masa sejarah manusia dapat menjadi subyek
pengamatan dan dapat meningkatkan banyaknya penjelasan atas kemahakuasaan Tuhan, disertai
dengan rincian-rincian spesifik tertentu. Sebagaimana akan kita lihat nanti, teks-teks semacam
itu hanya ada di dalam Al-Qur’an.
Penjelasan-penjelasan Bibel mengenai asal-usul penciptaan manusia, dijelaskan di dalam
Kitab Genesis dalam ayat-ayat yang membahas penciptaan secara keseluruhan. Salah satu ayat
yang ada di dalam Kitab Genesis berbunyi : “Lalu Tuhan berkata, ‘Biarlah kita membuat
manusia dalam citra kita, sesuai dengan kita; dan jadilah mereka menguasai ikan di laut, burung
di udara, ternak, dan segala suatu di atas bumi serta setiap makhluk yang melata di atas bumi’.[5]

2.3.2 Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an


Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang
berbeda, yaitu: Pertama, disebut dengan tahapan primordial. Manusia pertama, Adam
a.s. diciptakan darial-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal (tanah liat), min hamain
masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-
indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut
(Q.S, Al An’aam (6):2, Al Hijr (15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar
Rahman (55):4). Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia
selanjutnya adalah melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di
dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani
(nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu
dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut
kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan
tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits
yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah swt.
ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40
hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.
Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa di
antaranya sebagai berikut:
1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.
A. Setetes Mani
Sebelum proses pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu
waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma
melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran
reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan
‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita, dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel
telur hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja.
Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini
dijelaskan dalam Al-Qur’an :

“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani
yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).
B. Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim
Setelah lewat 40 hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang
disebut ‘alaqah.
"Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah". (al ‘Alaq/96:2).
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel tunggal
yang dikenal sebagai “zigot” , zigot ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri
hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia
dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada
dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan
semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi
pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat
merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “alaq”
dalam Al Qur’an. Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada
suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel
pada tubuh untuk menghisap darah.
C. Pembungkusan Tulang oleh Otot
Disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang
terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang
itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara
bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan
dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan
menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al-Qur’an
adalah benar kata demi katanya.[6]
Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu
terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan
tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar
tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
D. Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani
Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Ketika mani disinggung di Al-
Qur’an, fakta yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu
ditetapkan sebagai cairan campuran: “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-
baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya
dari sari air yang hina.” (Al-Qur’an, 32:7-8).

2.5 Tujuan dan Fungsi Penciptaan Manusia


Tujuan utama penciptaan manusia adalah agar manusia itu mengabdi kepada Allah
artinya sebagai hamba Allah agar menuruti apa saja yang diperintahkan oleh Allah swt.
Sedangkan fungsi dari penciptaan manusia ini secara global kami menyebutkan
tiga kalsifikasi, yaitu:
1. Manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi
Khalifah disini maksudnya menjadi penguasa untuk mengatur dan mengendalikan
segala isinya. Sebagai pedoman hidup manusia dalam melaksanakan tugas itu,
Allah menurunkan agama-Nya. Agama menjelaskan dua jalan yaitu jalan yang bahagia
dan jalan yang akan membahayakannya.
Perbedaan tingkat yang akan diadakan oleh Allah di dalam masyarakat
manusia, bukanlah suatu kesempatan bagi si kuat untuk menganiaya si lemah atau si
kaya tidak memperdulikan si miskin, melainkan suatu penyusunan masyarakat ke arah
kebaikan hidup bersama melalui tolong menolong.[7]
2. Manusia sebagai Warosatul Anbiya’
Kehadiran Nabi Muhammad saw. di muka bumi ini mengemban misi sebagai
‘Rahmatal lil ‘Alamiin’ yakni suatu misi yang membawa dan mengajak manusia dan
seluruh alam untuk tunduk dan taat pada syari’at-syari’at dan hukum-hukum Allah swt.
guna kesejahteraan perdamaian, dan keselamatan dunia akhirat.
Misi tersebut berpijak pada trilogy hubungan manusia, yaitu:
 Hubungan manusia dengan Tuhan, karena manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
 Hubungan manusia dengan masyarakat, karena manusia sebagai anggota masyarakat.
 Hubungan manusia dengan alam sekitarnya, karena manusia selaku pengelola, pengatur, serta
pemanfaatan kegunaan alam.
3. Manusia sebagai ‘Abd (Pengabdi Allah)
Fungsi ini mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah swt.
Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah swt. dengan penuh
keikhlasan. Secara luas konsep ‘abd ini meliputi seluruh aktivitas manusia dalam
kehidupannya. Semua yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya dapat dinilai
sebagai ibadah jika semua yang dilakukan (perbuatan manusia) tersebut semata-mata
hanya untuk mencari ridha Allah swt.

Terdapat dua pendapat mengenai asal usul manusia, yaitu bahwa asal usul manusia dari nabi
Adam a.s yang merupakan pendapat para ahli agama sesuai dengan kitab-kitab suci sebagai dasar
(termasuk agama Islam). Pendapat kedua berdasarkan penemuan fosil-fosil oleh para ilmuan
yang berpendapat bahwa asal usul manusia sesuai dengan teori evolusi merupakan hasil evolusi
dari kera-kera besar selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling
sempurna. Teori kedua yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena antara teori
dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.
 Proses kejadian manusia berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah terjadi dalam dua
tahap.Pertama, tahapan primordial, yakni proses penciptaan nabi Adam a.s sebagai
manusia pertama. Kedua, tahapan biologi, yakni manusia diciptakan dari inti sari tanah
yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudiannuthfah itu dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim.
Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan
kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh.
 Allah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk, sehingga tidak ada satu
makhlukpun yang lebih tinggi derajatnya dari manusia. Selayaknya ilmu perakitan
komputer, maka Allah telah merakit manusia dengan sistem hardware dan software,
lengkap, berkualitas tinggi dan multifungsi. Kesemua perangkat ini bekerja secara
sinergis dan dinamis agar manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah
di bumi.
 Tujuan utama penciptaan manusia adalah agar manusia menyembah dan mengabdi
kepada Allah swt. Sedangkan fungsi penciptaan manusia ke dunia, diklasifikasikan ke
dalam tiga (3) pokok, yaitu:
1. Manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi
2. Manusia sebagai Warosatul Anbiya’
3. Manusia sebagai ‘Abd (Pengabdi Allah)
Penciptaan Adam adalah kisah penciptaan manusia yang pertama. Adam
diriwayatkan sebagai satu daripada ciptaan Allah swt. yang paling kontroversi
atau paling disebut-sebut oleh makhluk Allah yang lain. Peristiwa tersebut
disebut dalam al-Qur'an dan hadits Rasulullah Muhammad saw.

Ketika Allah berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan


“ seorang khalifah di bumi. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu
dengan berkata): Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu
orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami
sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?. Tuhan berfirman:
Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Surat
Al Baqarah: 30)

Allah telah memerintahkan Malaikat Jibril turun ke bumi untuk mengambil


sebahagian tanah sebagai bahan untuk menjadikan Adam. Walau
bagaimanapun, bumi enggan membenarkan tanahnya diambil malah bersumpah
dengan nama Allah bahwa dia tidak rela untuk menyerahkannya kerana
kebimbangannya seperti yang dibimbangkan oleh para malaikat.

Jibril kembali setelah mendengar sumpah tersebut lalu Allah mengutuskan


pula Malaikat Mikail dan kemudiannya Malaikat Israfil tetapi kedua-duanya juga
tidak berdaya hendak berbuat apa-apa akibat sumpah yang dibuat oleh bumi.
Maka, Allah memerintahkan Malaikat Izrail untuk melakukan tugas tersebut dan
mendesak bumi agar tidak menolak walaupun bumi bersumpah karena tugas
tersebut dijalankan atas perintah dan nama Tuhan.

Maka, Izrail turun ke bumi dan mengatakan yang kedatangannya adalah atas
perintah Allah dan memberi amanat kepada bumi untuk tidak membantah yang
memungkinkan bumi mendurhakai Allah. Menurut Ibnu Abbas, tanah bumi dan
syurga digunakan untuk dijadikan bahan mencipta Adam.

Penyempurnaan[sunting | sunting sumber]


Tubuh Adam mempunyai sembilan rongga atau liang. Tujuh liang di kepala dan
dua di bawah badan yaitu dua mata, dua telinga, dua hidung, satu mulut,
satu dubur dan satuuretra. Lima panca indera dilengkapi dengan anggota
tertentu seperti mata untuk penglihatan, telinga untuk pendengaran, hidung
untuk pengesanan bauan, lidah untuk perasa
seperti asam, asin, manis dan pahit dan kulit untuk sentuhan
bagi panas, dingin, tekanan, viskositas dan sakit.

Ketika Allah menjadikan tubuh Adam, tanah dicampurkan dengan air tawar, asin
dan anyir beserta api dan angin. Kemudian Allah resapkan Nur ke dalam tubuh
Adam dengan pelbagai "sifat". Lalu tubuh Adam digenggam dengan
genggaman Jabarut dan diletakkan di dalam Alam Malakut. Tanah itu
dicampurkan lagi dengan istilah wewangian dan ramuan dari Nur-Sifat Allah dan
dirasmi dengan "Bahrul Uluhiyah". Kemudian, tubuh tersebut dibenamkan dalam
"Kudral 'Izzah" iaitu sifat "Jalan dan Jammal" lalu disempurnakan tubuh tersebut.

Waktu kejadian manusia tidak disebut berapa lama walaupun melalui apa cara
perhitungan sekalipun seperti dalam al-Quran: "Bukankah telah berlalu kepada
manusia satu ketika dari masa (yang beredar), sedang dia (masih belum wujud
lagi dan) tidak menjadi sesuatu benda yang disebut-sebut..." (Surat Al Insaan:1)

Menurut keterangan ulama, tubuh Adam diselubungi dalam tempo 120 tahun, 40
tahun di tanah yang kering, 40 tahun di tanah yang basah dan 40 tahun di tanah
yang hitam dan berbau. Dari situ, Allah ubah tubuh Adam dengan rupa
kemuliaan dan tertutuplah dari rupa hakikatnya. Karena proses kejadian itu
melalui peringkat yang "kotor", tidak heran Malaikat dan Iblis memandang rendah
akan kejadian manusia yang diciptakan dari tanah.
Masuknya ruh[sunting | sunting sumber]
Roh diperintah Allah untuk memasuki jasad Adam tetapi seperti makhluk lain, roh
juga enggan, malas dan segan karena jasad yang seperti batu. Dikatakan ruh
berlegar-legar mengelilingi jasad Adam sambil disaksikan malaikat. Kemudian,
Allah memerintahkan Malaikat Izrail memaksa ruh memassuki tubuh tersebut
masuk ke dalam tubuh Adam. Ia memasukkannya ke dalam tubuh dan roh
secara perlahan-lahan masuk hingga ke kepalanya yang mengambil masa 200
tahun. Setelah meresapi ke kepala Adam, maka berfungsilah otak dan
tersusunlah urat saraf dengan sempurna. Lalu, terjadilah mata dan terus terbuka
melihat tubuhnya yang masih keras dan malaikat di sekelilingnya. Telinga mulai
berfungsi dan didengarnya kalimah tasbih para malaikat. Apabila roh tiba ke
hidung, lalu ia bersin dan mulutnya juga terbuka. Allah mengajarkan kalimah
"Alhamdulillah" yang merupakan kalimah pertama diucapkan Adam dan Allah
sendiri yang membalasnya.

Kemudian, roh tiba ke dadanya lalu Adam berkeinginan untuk bangun padahal
tubuhnya yang bawah masih keras membatu. Ketika itu ditunjukkan sifat
manusia yang terburu-buru. Ketika roh sampai di perut, maka organ dalam dan
perut tersusun sempurna dan saat itu Adam mula merasakan lapar. Akhirnya,
roh meresap ke seluruh tubuh Adam, tangan dan kaki dan berfungsilah dengan
sempurna segala darah daging, tulang, urat saraf dan kulit. Menurut riwayat, kulit
Adam amat baik ketika itu berbanding kulit manusia di kini dan warnanya masih
dapat dilihat di kuku sebagai peringatan kepada keturunan manusia.

Dengan itu, sempurnalah sudah kejadian manusia pertama dan Adam digelar
sebagai "Abul Basyar" iaitu Bapa Manusia. Walau bagaimanapun, hanya Nabi
Muhammad s.a.w.mendapat gelaran "Abul Ruh" atau "Abul Arwah" iaitu Bapa
segala Roh.
http://id.wikipedia.org/wiki/Penciptaan_Adam_menurut_Islam

Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil


04-10-2014 | 11:21:50

Kekuasaan Allah SWT tidak terbatas, kekusaan yang tidak didindingi oleh ruang dan
waktu. Apapun yang dikehendaki, tidak ada satupun yang mampu menghalangi
keinginanNya. Termasuk proses penciptaan Nabiyullah Isa as. Kita menyadari bersama
bahwa ketika Allah menciptakan segala sesuatu di dunia ini berjalan sesuai dengan
sunatullah, atau hukum alam. Begitu pula proses kejadian manusia secara normal dan
wajar adalah didahului pertemuan sel sperma dan ovum seperti firmanNya dalam
surat Al-Mu`minun ayat 12-14, yang maknanya : Dan Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan
saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Itu adalah hukum alam. Tetapi proses kejadian Nabi Isa dikehendaki lain oleh Allah.
Tidak melalui proses kewajaran umumnya penciptaan manusia. Dengan kalimat Allah
melalui malaikat Jibril, Allah meniupkan ruhnya ke rahim Mariam binti `Imron,
seorang perempuan yang suci. (ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam,
seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang
diciptakan) dengan kalimat[195] (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa
putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan Termasuk orang-orang
yang didekatkan (kepada Allah). (Ali Imron:45).

http://www.masjidalakbar.com/khutbah1.php?no=93

Pengertian

Bayi tabung atau pembuahan in vitro adalah sebuah teknik pembuahan yang sel
telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Ini merupakan salah satu metode
untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil.

Proses Bayi Tabung


Proses bayi tabung adalah proses dimana
sel telur wanita dan sel sperma pria diambil untuk menjalani proses pembuahan.
Proses pembuahan sperma dengan ovum dipertemukan di luar kandungan pada
satu tabung yang dirancang secara khusus. Setelah terjadi pembuahan lalu
menjadi zygot kemudian dimasukkan ke dalam rahim sampai dilahirkan.

Hukum bayi tabung menurut pandangan islam

Masalah tentang bayi tabung ini


memunculkan banyak pendapat, boleh atau tidak? Misalnya Majlis Tarjih
Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung
dengan sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor
514 tanggal 1 September 1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam
(OKI) dalam sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung
dengan sperma donor atau ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan
sel sperma suami dan ovum dari isteri sendiri.

http://keperawatanreligionirinegemasari.wordpress.com/

II. KAJIAN KLONING DALAM HUKUM ISLAM

Permasalahan kloning adalah merupakan kejadian kontemporer (kekinian). Dalam


kajian literatur klasik belum pernah persoalan kloning dibahas oleh para ulama. Oleh
karenanya, rujukan yang penulis kemukakan berkenaan dengan masalah kloning
ini adalah menurut beberapa pandangan ulama kontemporer.

Para ulama mengkaji kloning dalam pandangan hukum Islam bermula dari ayat
berikut:

… ‫غي ِْر ُمخَلَّقَ ٍة ِلنُبَيِنَ لَ ُك ْم َونُ ِق ُّر فِي‬


َ ‫ضغَ ٍة ُمخَلَّقَ ٍة َو‬ ْ ُ‫ب ث ُ َّم ِم ْن ن‬
ْ ‫طفَ ٍة ث ُ َّم ِم ْن َعلَقَ ٍة ث ُ َّم ِم ْن ُم‬ ٍ ‫فَإِنَّا َخلَ ْقنَا ُك ْم ِم ْن ت ُ َرا‬
(5 :‫األ ْر َح ِام َما نَشَا ُء … )الحج‬. َ ْ

“… Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian
dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya
dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan
dalam rahim, apa yang Kami kehendaki …” (QS. 22/al-Hajj: 5).

Abul Fadl Mohsin Ebrahim berpendapat dengan mengutip ayat di atas, bahwa ayat
tersebut menampakkan paradigma al-Qur’an tentang penciptan manusia mencegah
tindakan-tindakan yang mengarah pada kloning. Dari awal kehidupan hingga saat
kematian, semuanya adalah tindakan Tuhan. Segala bentuk peniruan atas tindakan-
Nya dianggap sebagai perbuatan yang melampaui batas.

Selanjutnya, ia mengutip ayat lain yang berkaitan dengan munculnya prestasi ilmiah
atas kloning manusia, apakah akan merusak keimanan kepada Allah SWT sebagai
Pencipta? Abul Fadl menyatakan “tidak”, berdasarkan pada pernyataan al-Qur’an
bahwa Allah SWT telah menciptakan Nabi Adam As. tanpa ayah dan ibu, dan Nabi
‘Isa As. tanpa ayah, sebagai berikut:

‫ب ث ُ َّم قَا َل ل‬
ٍ ‫هللا َك َمث َ ِل َءادَ َم َخلَقَهُ ِم ْن ت ُ َرا‬ َ ‫( ََ ِإ َّن َمث َ َل ِعي‬59 :‫هُ ُك ْن فَيَ ُكونُ )ال عمران‬.
ِ َ‫سى ِع ْند‬
“Sesungguhnya misal (penciptaan) `Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan)
Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:
“Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia” (QS. 3/Ali ‘Imran: 59).

Pada surat yang sama juga dikemukakan:

َ‫سى ابْنُ َم ْريَ َم َو ِجي ًها فِي الدُّ ْنيَا َو ْاْل ِخ َرةِ َو ِمن‬َ ‫ت ْال َمالَئِ َكةُ يَا َم ْريَ ُم ِإ َّن هللاَ يُبَش ُِر ِك ِب َك ِل َم ٍة ِم ْنهُ ا ْس ُمهُ ْال َمسِي ُح ِعي‬
ِ َ‫ِإ ْذ قَال‬
‫س ْسنِي بَشَر قَا َل‬ َ ‫ب أَنَّى يَ ُكونُ ِلي َولَد َولَ ْم يَ ْم‬ ِ ‫ت َر‬ َّ ‫اس فِي ْال َم ْه ِد َو َك ْهالً َو ِمنَ ال‬
ْ َ‫ قَال‬. َ‫صا ِل ِحين‬ َ َّ‫ َويُ َك ِل ُم الن‬. َ‫ْال ُمقَ َّربِين‬
(47 -45 :‫ضى أ َ ْم ًرا فَإِنَّ َما يَقُو ُل لَهُ ُك ْن فَيَ ُكونُ )ال عمران‬ َ َ‫ َكذَ ِل ِك هللاُ يَ ْخلُ ُق َما يَشَا ُء إِذَا ق‬.

“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah


menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan
kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih `Isa putera Maryam,
seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang
didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan
ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh. Maryam
berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum
pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan
Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah
berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya:
“Jadilah”, lalu jadilah dia” (QS. 3/Ali ‘Imran: 45-47).

Hal yang sangat jelas dalam kutipan ayat-ayat di atas adalah bahwa segala sesuatu
terjadi menurut kehendak Allah. Namun, kendati Allah menciptakan sistem sebab-
akibat di alam semesta ini, kita tidak boleh lupa bahwa Dia juga telah menetapkan
pengecualian-pengecualian bagi sistem umum tersebut, seperti pada kasus penciptaan
Adam As. dan ‘Isa As. Jika kloning manusia benar-benar menjadi kenyataan, maka itu
adalah atas kehendak Allah SWT. Semua itu, jika manipulasi bioteknologi ini berhasil
dilakukan, maka hal itu sama sekali tidak mengurangi keimanan kita kepada Allah
SWT sebagai Pencipta, karena bahan-bahan utama yang digunakan, yakni sel somatis
dan sel telur yang belum dibuahi adalah benda ciptaan Allah SWT.

Islam mengakui hubungan suami isteri melalui perkawinan sebagai landasan bagi
pembentukan masyarakat yang diatur berdasarkan tuntunan Tuhan. Anak-anak yang
lahir dalam ikatan perkawinan membawa komponen-komponen genetis dari kedua
orang tuanya, dan kombinasi genetis inilah yang memberi mereka identitas. Karena
itu, kegelisahan umat Islam dalam hal ini adalah bahwa replikasi genetis semacam ini
akan berakibat negatif pada hubungan suami-isteri dan hubungan anak-orang tua, dan
akan berujung pada kehancuran institusi keluarga Islam. Lebih jauh, kloning manusia
akan merenggut anak-anak dari akar (nenek moyang) mereka serta merusak aturan
hukum Islam tentang waris yang didasarkan pada pertalian darah.
PENUTUP

Dari uraian di atas, penulis sekedar membuat rumusan sebagai berikut:

1. Kloning sebagai pengembangan IPTEK, termasuk hasil perkembangan fikiran


manusia yang patut disyukuri dan dimanfaatkan bagi peningkatan taraf hidup manusia
ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih terhormat.

2. Hasil pemikiran manusia dengan agama akan seimbang bila hasil pemikiran
tersebut didasarkan pada sistem dan metode pemikiran yang benar, dan agama digali
dengan daya ijtihad yang benar pula. Keduanya saling kuat-menguatkan.

3. Klonasi ditinjau dari segi aspek teologis memperluas wawasan pengenalan


terhadap kodrat iradat Ilahi, bahkan klonasi itu sebagai bukti kecanggihan sunnah
Allah yang tertuang dalam ciptaan-Nya dan membuktikan ke Maha Kuasaan-Nya.

4. Klonasi terhadap manusia dengan tujuan untuk dijadikan cadangan transplantasi


organ tubuh manusia dapat dibenarkan sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan
syara’.

5. Klonasi jaringan sel dan organ tubuh manusia, selama dibenarkan oleh ilmu
pengetahuan dan sesuai dengan tujuan syara’ dipandang sangat membantu bagi
penyembuhan dengan jalan transplantasi.

6. Implementasi klonasi terhadap manusia dipandang bertentangan dengan nilai-


nilai ketinggian martabat manusia dan bertentangan pula dengan tujuan syara’, karena
dipandang kemungkinan terjadinya kekacauan hukum keluarga dan hubungan nasab,
serta ketidakpastian eksistensinya.

7. Keadaan darurat tidak dapat dijadikan alasan untuk melaksanakan implementasi


klonasi manusia, karena tidak ada yang merasa terancam, baik dari segi agama, jiwa,
akal, keturunan, dan harta karena tidak melaksanakan klonasi.

http://abraham4544.wordpress.com/umum/hukum-kloning-dalam-perspektif-agama-islam/