Anda di halaman 1dari 21

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

Pokok Pembahasan : Latihan ROM Aktif dan Pasif pada pasien tirah baring
Sasaran : Pasien dan keluarga pasien yang di rawat di Ruang Trauma Center
RSUP Dr. M. Djamil Padang
Hari/Tanggal : Selasa, 8 November 2016
Waktu : 10:00 s/d 11.00 WIB
Tempat : Di Ruang Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang
Penyuluh : Mahasiswa/i Profesi Ners STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

A. Latar Belakang
Beberapa penyakit atau kondisi yang dapat mengakibatkan kemunduran
muskuloskeletal, biasanya pada penderita stroke, penderita dengan tirah baring, penderita
diabetes melitus dan pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran. Sehingga
sangat perlu untuk menjaga keadaan dan mempertahankan kondisi sendi.
Salah satu aspek penting dalam pelayananan keperawatan adalah menjaga dan
mempertahankan kontunitas otot dan kekuatan sendi. Intervensi dalam kekuatan sendi
klien akan menjadi salah satu indikator kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
Kekakuan sendi dapat berasal dari tirah baring yang lama, namun juga dapat disebabkan
karena penyakit penyerta lainnya seperti penurunan kesadaran (Kozier, dkk, 2010).
Akibat lanjut dari tirah baring lama adalah terjadinya resiko dekubitus, kontraktur,
nyeri bahu, penekanan saraf dan kematian. Dekubitus merupakan problem yang serius
karena dapat mengakibatkan lamanya perawatan dirumah sakit sehingga dapat
memperlambat program rehabilitasi bagi penderita (Potter dan Perry, 2009). Selain itu
dekubitus juga dapat menyebabkan nyeri yang berkepanjangan, rasa tidak nyaman,
terganggu dan frustasi yang dirasakan pasien dan meningkatkan kekakuan sendi akibat
pergerakan yang terbatas. Salah satu intervensi untuk pasien yang mengalami kekakuan
sendi akibat tirah baring yaitu latihan rentang gerak (Range of Motion).
Latihan rentang gerak (Range of Motion) merupakan rehabilitasi yang bertujuan
sebagai pencegahan dan pengoreksi suatu kemunduran dari sistem muskuloskeletal (Arif,
M, 2012). Klien yang dirawat dengan reposisi beserta immobilisasi lamanya sesuai
dengan terjadinya kasus dalam keadaan immobilisasi ini, maka otot-otot dan sendi-sendi
tidak dapat bergerak untuk waktu yang lain (Soeharso, R, 2009), akan terjadi beberapa
respon tubuh yaitu perubahan pada sistem muskuloskeletal berupa penurunan kekuatan
dan massa otot.
Range of motion ( ROM ) adalah gerakan dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh
sendi yang bersangkutan (Suratun, dkk, 2011). Latihan range of motion (ROM) adalah
latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan
kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan
massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2014).
Latihan ROM biasanya dilakukan pada pasien semikoma dan tidak sadar, pasien
dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan
rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis
ekstermitas total.
Selain berfungsi sebagai pertahanan atau dapat memperbaiki tingkat kesempurnaan
kemampuan menggerakan persendian secara normal, lengkap, dan untuk meningkatkan
massa otot serta tonus otot, ROM juga memiliki klasifikasi ROM, jenis ROM, indikasi
serta kontraindikasi dilaksanakan ROM dan juga prinsip dasar dilakukan ROM.
Berdasarkan survey ruangan selama 1 minggu terakhir ini banyaknya pasien tirah
baring di ruangan terdapat ± 15 orang, dengan berbagai macam penyakit seperti fraktur,
cidera kepala, osteomelits dan lain-lain. Pasien dengan penyakit tersebut pada umumnya
mengalami tirah baring yang cukup lama karena kondisi yang belum stabil, salah satunya
pasien dengan fraktur ada ± 9 orang dengan tirah baring. Oleh karena itu penting bagi
kita perawat bagian dari tenaga medis untuk memberi Asuhan Keperawatan seperti salah
satunya latihan gerakan ROM yang harus di berikan pada pasien tirah baring.
Berdasarkan latar belakang diatas maka kami mahasiswa/i STIKes
MERCUBAKTIJAYA PADANG kelompok tertarik untuk memberikan penyuluhan
kepada pasien dan keluarga pasien di Ruang Rawat Trauma center RSUP Dr. M. Djamil
Padang agar keluarga pasien mengetahui tentang gerakan ROM pada pasien tirah baring.

B. Tujuan
a) Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan pasien dan keluarga pasien
di Ruang Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang mengetahui tentang latihan
gerakan ROM Aktif dan Pasif pada pasien tirah baring.
b) Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan :
1. Pasien dan keluarga pasien mampu menjelaskan pengertian ROM.
2. Pasien dan keluarga pasien mampu menyebutkan tujuan ROM Aktif dan Pasif.
3. Pasien dan keluarga pasien mampu menyebutkan manfaat ROM Aktif dan Pasif.
4. Pasien dan keluarga pasien mampu menyebutkan indikasi latihan ROM Aktif dan
Pasif
5. Pasien dan keluarga pasien mampu menyebutkan kontraindikasi latihan ROM
Aktif dan Pasif
6. Pasien dan keluarga pasien mampu menyebutkan dan mempraktekan gerakan-
gerakan ROM Aktif dan Pasif.
C. Manfaat
a) Bagi Mahasiswa Keperawatan
Dapat memberikan informasi pada calon tenaga pelayanan kesehatan (mahasiswa
Keperawatan) tentang latihan gerakan ROM Aktif dan Pasif pada pasien tirah baring.
b) Bagi Audients
Agar keluarga pasien lebih mengetahui apa itu gerakan ROM Aktif dan Pasif pada
pasien.
D. Materi (Terlampir)
E. Kegiatan Penyuluhan
1. Topik Kegiatan : Penyuluhan latihan gerakan ROM Aktif dan Pasif pada pasien
tirah baring.
2. Sasaran : Pasien dan Keluarga pasien di Ruang Trauma Center
RSUP Dr. M. Djamil Padang ± 10 orang.
3. Metode : Ceramah, Tanya Jawab dan Demonstrasi
4. Media dan Alat : LCD, Laptop, Leaflet
5. Tempat : Di ruangan Trauma Center RSUP Dr. M. Djamil Padang
6. Waktu : 10.00 – 11.00 WIB
7. Setting Tempat :

: Moderator

: LCD/Proyektor

: Penyuluh

: Peserta

: Fasilitator

: Observer

8. Pengorganisasian
a) Penanggung Jawab : ulman riantara
b) Moderator : cigita wulandari
c) Presentator : ulman riantara
d) Fasilitator : tyo nizki utama
Maharani oktari
Monalisa elianti
Sri rahayu
Riki ardi
e) Observer : reci mella pujiana

F. Pembagian Tugas
1. Peran Moderator
a. Membuka dan menutup acara
b. Memperkenalkan diri dan anggota kelompok
c. Menata tertibkan acara penyuluhan
d. Menjaga kelancaran acara
e. Memimpin diskusi
f. Kontrak waktu dan bahasa
g. Menyimpulkan hasil penyuluhan bersama keluarga pasien

2. Peran Presenter
a. Menyajikan materi penyuluhan
b. Bersama fasilitaror menjalin kerja sama dalam penyuluhan
c. Menjawab pertanyaan
3. Peran Observer
a. Mengamati jalannya acara
b. Mengevaluasi kegiatan
c. Mencatat prilaku verbal dan non verbal peserta penyuluhan
4. Peran Fasilitator
a. Memotivasi peserta penyuluhan
b. Menjadi contoh dalam kegiatan
c. Menjawab pertanyaan audien
d. Membagikan leaflet
e. Menjalankan absensi penyuluhan
f. Mengambil dan mengumpulkan absensi
g. Menyediakan perlengkapan alat dan media penyuluhan
h. Mengatur setting tempat penyuluhan

G. Kegiatan Penyuluhan

Pokok Kegiatan
No Waktu
kegiatan Penyuluh Audiens
1. Pembukaan a. Mengucapkan salam a. Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri, b. Memperhatikan
nama kelompok dan
pembimbing
c. Menjelaskan kontrak c. Menyetujui 5
waktu dan kontrak kontrak waktu menit
bahasa
d. Menjelaskan topik d. Mendengarkan
dan
memperhatikan
e. Menjelaskan tujuan e. Mendengarkan
penyuluhan dan
memperhatikan
2. Penyampaian a. Menggali pengetahuan a. Menjawab
materi dan pasien keluarga pasien
demonstrasi tentang pengertian
ROM Aktif dan Pasif
b. Memberikan b. Mendengarkan 20
reinforcement positif menit
c. Menjelaskan c. Mendengar dan
pengertian ROM Aktif memperhatikan
dan Pasif
d. Menggali pengetahuan d. Menjawab
pasien dan keluarga
pasien tentang tujuan
ROM Aktif dan Pasif
e. Memberi e. Mendengarkan
reinforcement positif
f. Menjelaskan tujuan f. Mendengar dan
ROM Aktif dan Pasif memperhatikan
g. Menggali pengetahuan g. Menjawab
pasien dan keluarga
pasien tentang manfaat
ROM Aktif dan Pasif
h. Memberi h. Mendengarkan
reimforcement positif
i. Menjelaskan manfaat i. Mendengar dan
ROM Aktif dan Pasif memperhatikan
j. Menggali pengetahuan j. Menjawab
pasien dan keluarga
pasien tentang indikasi
ROM Aktif dan Pasif
k. Memberi reinforcemet k. Mendengarkan
positif
l. Menjelaskan tentang l. Mendengar dan
kontraindikasi ROM memperhatikan
Aktif dan Pasif
m.Menggali pengetahuan m. Menjawab
pasien dan keluarga
pasien tentang
kontraindikasi ROM
Aktif dan Pasif
n. Memberi reinforcemet n. Mendengarkan
positif
o. Menjelaskan tentang o. Mendengar dan
kontraindikasi ROM memperhatikan
Aktif dan Pasif
p. Menggali pengetahuan p. Menjawab
pasien dan keluarga
pasien tentang gerakan
ROM Aktif dan Pasif
q. Memberi q. Mendengarkan
reinforcement positif
r. Menjelaskan dan r. Mendengarkan
mendemonstrasikan dan
gerakan-gerakan ROM memperhatikan
Aktif dan Pasif
5. Penutup a. Mengevaluasi kepada a. Mendengar,
pasien dan keluarga memperhatikan
pasien terkait materi dan
penyuluhan mengemukakan
5
b. Memberikan pendapat
menit
reinforcement positif b. Mendengarkan
c. Bersama keluarga c. Mendengarkan
pasien menyimpulkan dan
meteri penyuluhan memperhatikan
d. Menutup penyuluhan d. Menjawab salam
dan memberi salam
H. Evaluasi
a. Struktur
1. Diharapkan 75% keluarga pasien yang diundang menghadiri penyuluhan
2. Diharapkan pengorganisasian sesuai dengan peran dan tugasnya
3. Diharapkan setting tempat sesuai dengan perencanaan
b. Evaluasi Proses
1. Diharapkan acara di mulai sesuai yang direncanakan
2. Diharapkan materi diberikan sesuai dengan rencana kegiatan
3. Diharapkan 75% keluarga berpartisipasi dalam bertanya ataupun menjawab
pertanyaan
4. Diharapkan 75% keluarga pasien tidak meninggalkan ruangan penyuluhan selama
penyuluhan berlangsung
c. Evaluasi Hasil
80% pasien dan keluarga pasien mampu :
1. Menyebutkan pengertian ROM.
2. Menyebutkan 3 dari 5 tujuan ROM Aktif dan Pasif.
3. Menyebutkan 3 dari 7 manfaat ROM Aktif dan Pasif.
4. Menyebutkan 2 dari 4 indikasi latihan ROM Aktif dan Pasif
5. Menyebutkan kontraindikasi latihan ROM Aktif dan Pasif
6. Menyebutkan dan mempraktekan gerakan-gerakan ROM Aktif dan Pasif.

I. Penutup
Latihan rentang gerak (Range of Motion) merupakan rehabilitasi yang bertujuan
sebagai pencegahan dan pengoreksi suatu kemunduran dari sistem muskuloskeletal
(Arif, M, 2014). Klien yang dirawat dengan reposisi beserta immobilisasi lamanya,
akan terjadi beberapa respon tubuh yaitu perubahan pada sistem musculoskeletal.
Individu dengan immobilisasi selama satu minggu akan menurun kekuatan otot 20 %
dan dapat menimbulkan kontraktur,dekubitus dan juga pneumonia (Hettinger dan
Muller, 2012).
Untuk mencegah kemampuan komplikasi yang ditimbulkan maka diberikan
latihan rehabilitas sedini mungkin pada waktu memberikan Asuhan keperawatan.
Latihan rehabilitas ini dapat dilakukan dengan latihan rentang gerak pasif (Pasif
Range of Motion) dan latihan rentang gerak aktif (Aktif Range of Motion).

Padang, November 2016

Ketua Kelompok

(ulman riantara)

Disetujui Oleh :

Pembimbing Akademik : Pembimbing Klinik :

( ) ( )
Lampiran

TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian ROM (Range Of Motion)


ROM ( Range of Motion) adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan
sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal.
Potongan sagital adalah garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang, membagi
tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati tubuh dari sisi ke sisi
dan membagi tubuh menjadi bagian depan ke belakang. Potongan transversal adalah garis
horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas dan bawah.
Latihan range of motion (ROM) merupakan istilah baku untuk menyatakan batas atau
batasan gerakan sendi yang normal dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya kelainan
ataupun untuk menyatakan batas gerakan sendi yang abnormal (Arif, M, 2014).
Pengertian ROM lainnya adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya
kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya
sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. Latihan range of motion (ROM)
adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat
kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk
meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2012).

B. Tujuan ROM (Range Of Motion)


Adapun tujuan dari ROM (Range Of Motion), yaitu :
1. Meningkatkan atau mempertahankan fleksibiltas dan kekuatan otot
2. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan
3. Mencegah kekakuan pada sendi
4. Merangsang sirkulasi darah
5. Mencegah kelainan bentuk,kekakuan dan kontraktur
(Arif, M, 2014)
C. Manfaat ROM (Range Of Motion)
Adapun manfaat dari ROM (Range Of Motion), yaitu :
1. Menentukan nilai kemampuan sendi tulang dan otot dalam melakukan pergerakan
2. Mengkaji tulang, sendi, dan otot
3. Mencegah terjadinya kekakuan sendi
4. Memperlancar sirkulasi darah
5. Memperbaiki tonus otot
6. Meningkatkan mobilisasi sendi
7. Memperbaiki toleransi otot untuk latihan

D. Indikasi dan Sasaran ROM


1. ROM Aktif :
a. Indikasi :
1) Pada pasien stroke atau penurunan tingkat kesaadaran
2) Pada pasien dengan tirah baring lama
3) Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan
persendian sepenuhnya, digunakan A-AROM (Active-Assistive ROM, adalah
jenis ROM Aktif yang mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah
secara manual atau mekanik, karena otot penggerak primer memerlukan
bantuan untuk menyelesaikan gerakan).
4) ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.
5) ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan dibawah
daerah yang tidak dapat bergerak.
b. Sasaran :
1) Apabila tidak terdapat inflamasi dan kontraindikasi, sasaran ROM Aktif
serupa dengan ROM Pasif.
2) Keuntungan fisiologis dari kontraksi otot aktif dan pembelajaran gerak dari
kontrol gerak volunter.
3) Sasaranspesifik:
a) Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang terlibat
b) Memberikan umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi
c) Memberikan rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan persendian
d) Meningkatkan sirkulasi
e) Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik
2. ROM Pasif
a. Indikasi :
1) Pada daerah dimana terdapat inflamasi jaringan akut yang apabila dilakukan
pergerakan aktif akan menghambat proses penyembuhan
2) Ketika pasien tidak dapat atau tidak diperbolehkan untuk bergerak aktif pada
ruas atau seluruh tubuh, misalnya keadaan koma, kelumpuhan atau bed rest
total
b. Sasaran :
1) Mempertahankan mobilitas sendi dan jaringan ikat
2) Meminimalisir efek dari pembentukan kontraktur
3) Mempertahankan elastisitas mekanis dari otot
4) Membantu kelancaran sirkulasi
5) Meningkatkan pergerakan sinovial untuk nutrisi tulang rawan serta difusi
persendian
6) Menurunkan atau mencegah rasa nyeri
7) Membantu proses penyembuhan pasca cedera dan operasi
8) Membantu mempertahankan kesadaran akan gerak dari pasien
(Hettinger dan Muller, 2013)

E. Kontraindikasi dan Hal-hal yang harus diwaspadai pada latihan ROM


Kontraindikasi dan hal-hal yang harus diwaspadai pada latihan ROM
1. Latihan ROM tidak boleh diberikan apabila gerakan dapat mengganggu proses
penyembuhan cedera.
a. Gerakan yang terkontrol dengan seksama dalam batas-batas gerakan yang bebas
nyeri selama fase awal penyembuhan akan memperlihatkan manfaat terhadap
penyembuhan dan pemulihan
b. Terdapatnya tanda-tanda terlalu banyak atau terdapat gerakan yang salah,
termasuk meningkatnya rasa nyeri dan peradangan
2. ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau kondisinya membahayakan (life
threatening)
a. PROM dilakukan secara hati-hati pada sendi-sendi besar, sedangkan AROM pada
sendi ankle dan kaki untuk meminimalisasi venous stasis dan pembentukan
trombus
b. Pada keadaan setelah infark miokard, operasi arteri koronaria, dan lain-lain,
AROM pada ekstremitas atas masih dapat diberikan dalam pengawasan yang ketat

F. Macam-macam Gerakan ROM


Ada berbagai macam gerakan ROM, yaitu :
1. Fleksi, yaitu berkurangnya sudut persendian.
2. Ekstensi, yaitu bertambahnya sudut persendian.
3. Hiperekstensi, yaitu ekstensi lebih lanjut.
4. Abduksi, yaitu gerakan menjauhi dari garis tengah tubuh.
5. Adduksi, yaitu gerakan mendekati garis tengah tubuh.
6. Rotasi, yaitu gerakan memutari pusat dari tulang.
7. Eversi, yaitu perputaran bagian telapak kaki ke bagian luar, bergerak membentuk
sudut persendian.
8. Inversi, yaitu putaran bagian telapak kaki ke bagian dalam bergerak membentuk sudut
persendian.
9. Pronasi, yaitu pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan bergerak ke
bawah.
10. Supinasi, yaitu pergerakan telapak tangan dimana permukaan tangan bergerak ke atas.
11. Oposisi, yaitu gerakan menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan
yang sama.

G. Gerakan ROM Berdasarkan Bagian Tubuh


Menurut Potter & Perry, (2012), ROM terdiri dari gerakan pada persendian sebagai
berikut :
1. Leher, Spina, Serfikal
- Wajah menghadap kedepan
- Arahkan kepala kebawah sampai dagu menyentuh dada
- Kembali ke posisi semula
- Arahkan kepala menghadap keatas seperti menengadah dan kembali ke posisi
awal
- Miringkan kepala ke samping kanan
- Kembalikan ke posisi semula
- Miringkan lagi ke samping kiri
- Arahkan wajah melihat ke samping kanan
- Kembalikan ke posisi semula
- Arahkan wajah melihat ke samping kiri
- Kembalikan ke posisi semula
- Lakukan sebanyak 8 kali

2. Bahu
- Luruskan tangan
- Angkat tangan sampai dengan bahu
- Luruskan tangan ke samping
- Angkat sampai siku
- Arahkan tangan ke bagian bawah
- Kembali ke posisi awal
- Arahkan kebagian atas

3. Tangan
- Luruskan telapak tangan
- Turunkan telapak tangan
- Kembali ke posisi awal
- Naikkan telapak tangan
- Luruskan tangan
- Angakat tangan sebatas siku
- Luruskan kembali
- Putar tangan kearah kanan
- Kembali ke posisi awal
- Putar kearah kiri

4. Jari-jari tangn
- Membuat genggaman
- Meluruskan jari-jari tangan
- Menggerakkan jari-jari tangan ke belaknag sejauh mungkin
- Meregangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain
- Merapatkan kembali jari-jari tangan
5. Kaki
- Jari-jari kaki di bengkokan kebawah
- Kembali ke posisi semula
- Bengkokan keatas
- Luruskan telapak kaki
- Miringakan ke kanan
- Kembali ke posisi awal
- Miringkan ke kiri
- Luruskan telapak kaki
- Angkat dan tekuk sampai ke lutut kemudian luruskan
- Luruskn kaki
- Tarik kaki menjauhi tubuh dan arahkan kembali ke tubuh
- Luruskan kaki
- Putar kea rah luar dan dalam
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2011. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba Medika.

Perry & Potter. 2012. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan praktik. Edisi
4. Jakarta : EGC.

Tarwoto & Wartonah, 2009. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.

Potter, Patricia A. & Perry, Anne Griffin (2012). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi
4. Jakarta: EGC

Warfield, Carol, 2010. Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui Terapi Medis . Jakarta :
Gramedia Widiasarana Indonesia.

Depkes RI, 2011. Penerapan Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta. Bakti Husada.

http://forbetterhealth.wordpress.com/2009/01/07/melatih-rentang-gerak-sendi/
http://askep-askeb.cz.cc/2010/01/range-of-motion.html