Anda di halaman 1dari 19

PENGARUH METODE PEER EDUCATION TERHADAP

PERUBAHAN PERILAKU MEROKOK PADA

PEROKOK AKTIF PRIA DEWASA

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan untuk memenuhi syarat mencapai gelar sarjana keperawatan pada Fakultas

Keperawatan Universitas Padjadjaran

NELLY BETTY VIVIANNA

NPM 220110140135

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

BANDUNG 2018
ABSTRAK

Rokok bukan lagi hal yang asing di sekitar kita, khususnya di negara Indonesia.
Padahal dampak yang ditimbulkan bagi kesehatan sangat merugikan bagi pengguna
maupun lingkungan sekitarnya, seperti penyakit ISPA, kanker nasofaring, kanker paru,
stroke, dll. Prevalensi perokok di Indonesia terus mengalami peningkatan dan
mengalami tren usia merokok yang sangat dini. Hasil riskesdas menunjukkan tren usia
merokok pada kelompok usia 15-19 tahun sebesar 55,4% pada tahun 2013. Jawa Barat
berada pada posisi ke-2 dari 5 provinsi terbesar dengan jumlah perokok sebesar 27,1%.
Untuk mengatasi masalah perokok diperlukan lingkungan dan teman sebaya yang
mampu memberi pengaruh dalam perbaikan perilaku merokok pada dewasa dini,
sehingga metode peer education dapat menjadi metode yang efektif.

Rancangan penelitian ini quasy experiment, yaitu pretest dan posttest without control
group design. Populasi pada penelitian ini adalah semua pria perokok yang aktif
berkegiatan di lingkugan HKBP Bandung Timur. Instrumen yang digunakan yaitu
Glover-Nilsson Smoking Behavior Questionnaire (GNSBQ) dengan total 11 item
pertanyaan, telah diujicobakan ke seratus orang di Amerika Serikat. Menghasilkan nilai
yang konsisten (cronbach alpha = 0,82) dan secara temporal dinyatakan stabil (r =
0,86). Data akan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS berupa analisis univariat
(distribusi frekuensi dan presentase karakteristik responden) dan bivariat (parametric
test simple linear regression).

Kata kunci: peer education, perilaku merokok.

ii
KATA PENGANTAR

Puji Syukur dan kemuliaan untuk Allah Tuhan di tempat yang maha tinggi, karena atas

berkat dan kasih-Nya peneliti mampu mengajukan proposal penelitian dengan judul

“Pengaruh Metode Peer Education terhadap Kecenderungan Perubahan Perilaku

Merokok pada Perokok Aktif Pria Dewasa”. Dengan rasa hormat dan sukacita, peneliti

berterima kasih kepada:

1. Orang tua dan keluarga (mama, abang, adik) yang sudah dengan sabar

memberikan bantuan dan doa dalam segala bentuk sampai tahap ini.

2. Bapak Ahmad Yamin, S.Kp., M.Kes., Sp.Kom dan Bapak Setiawan, AMK.,

M.Kes yang sudah dengan sabar meluangkan waktunya untuk membimbing

dan memberi arahan dalam prosesnya.

3. Wira, teman terdekat peneliti yang selalu dengan setia memberi dukungan

dalam setiap sukacita dan dukacita, yang membantu dalam setiap aspeknya.

4. Sahabat peneliti, Kiki dan Debo yang juga sedang berjuang dalam penelitiannya

masing-masing.

5. Teman-teman peneliti yang sudah bersama sejak awal perkuliahan, Iffa, Medin,

Vici, Nadia, Tehdi, Amy, Jul, Tina, Nata, yang selalu sabar bantu peneliti untuk

berdiskusi. Juga teman-teman kuliah lainnya, Nurul, Dian, Fathur, Iil, Ibet,

Arin, Hani, dll yang tidak tersebutkan.

6. Margaret, Friska, Ellen, Bangdian, Bangreymond, yang punya kesibukan

namun tetap mampu memberi dukungan dalam ikatan saudara seiman.

iii
Semoga setiap bimbingan, arahan, doa, maupun dukungan yang telah diberikan dapat

menjadi berkat yang kembali pada semua yang telah membantu. Peneliti menyadari

bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, sehingga peneliti mengharapkan kritik

dan saran sebagai bahan untuk memperbaiki penelitian ini. Akhir kata, peneliti ucapkan

terima kasih.

Bandung, 12 April 2018

Peneliti

iv
DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ................................................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ..............................................................................................................iii
DAFTAR ISI............................................................................................................................. v
BAB I ........................................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................................... 8
1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 9
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................................... 9
1.5 Kerangka Pemikiran................................................................................................ 10
1.6 Hipotesa Penelitian ................................................................................................. 13
BAB II.........................................................................................Error! Bookmark not defined.
2.1 Peer Education............................................................Error! Bookmark not defined.
2.2 Perilaku Merokok........................................................Error! Bookmark not defined.
2.2.1 Konsep Perilaku ......................................................Error! Bookmark not defined.
2.2.2 Domain Perilaku .....................................................Error! Bookmark not defined.
2.2.3 Perilaku Merokok....................................................Error! Bookmark not defined.
2.3 Peran Perawat dalam Pencegahan Perilaku Merokok .Error! Bookmark not defined.
BAB III .......................................................................................Error! Bookmark not defined.
3.1 Rancangan Penelitian ..................................................Error! Bookmark not defined.
3.2 Variabel Penelitian ......................................................Error! Bookmark not defined.
3.3 Definisi Konseptual dan Operasional .........................Error! Bookmark not defined.
3.4 Populasi dan Teknik Penarikan Sampel ......................Error! Bookmark not defined.
3.5 Penarikan Peer Educator ............................................Error! Bookmark not defined.
3.6 Prosedur dan Teknik Pengumpulan Data ....................Error! Bookmark not defined.

v
3.7 Instrumen Penelitian, Validitas dan Reliabilitas Instrumen ...... Error! Bookmark not
defined.
3.8 Analisa Data ................................................................Error! Bookmark not defined.
3.7 Etika Penelitian ...........................................................Error! Bookmark not defined.
3.8 Prosedur Pengumpulan Data .......................................Error! Bookmark not defined.
3.9 Waktu dan Lokasi .......................................................Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA .................................................................Error! Bookmark not defined.
LAMPIRAN................................................................................Error! Bookmark not defined.

vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rokok bukan lagi hal yang asing di sekitar kita, khususnya di negara

Indonesia. Padahal merokok merupakan hal yang sangat merugikan, baik bagi

penggunanya secara langsung maupun bagi orang disekitarnya yang terpapar

asap rokok. Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap

asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur

pada sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 900C untuk ujung rokok yang

dibakar dan 300C untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok. Asap

rokok yang diisap atau asap rokok yang dihirup melalui dua komponen yang

lekas menguap berbentuk gas dan komponen yang yang bersama gas

terkondensasi menjadi partikel. Dengan demikian, asap rokok yang diisap dapat

berupa gas sejumlah 85% dan sisanya berupa partikel (Sitepoe, 2000).

Salah satu hasil sisa dari pembakaran rokok tembakau yaitu nikotin

sekitar 30% besarannya dan memiliki sifat adiktif sangat kuat. Zat-zat yang

bersifat adiktif mampu membuat penikmatnya merasa terus bergantung dan

ingin selalu menambah dosisnya, memiliki efek psikoaktif salah satunya

memberi kenikmatan, ada keterikatan, dan kambuh setelah berhenti. Hal ini

yang menyebabkan perokok aktif begitu sulit untuk lepas dari kebiasaan

merokok. Perilaku merokok juga merugikan kesehatan karena dapat

1
mengakibatkan banyak penyakit menular maupun tidak menular seperti

contohnya penyakit ISPA, pneumonia, kanker paru-bronkus, kanker

nasofaring, diabetes melitus dan stroke (Irianto, 2014).

Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan dalam

konsumsi produk tembakau, terutama rokok, demikian pernyataan Menteri

Kesehatan RI, yang disampaikan oleh Dirjen Pencegahan dan Pengendalian

Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM, pada acara

talkshow sebagai rangkaian puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

(HTTS) tahun 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (31/5) (Depkes RI,

2016). Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi

perokok dari 27% pada tahun 1995, meningkat menjadi 36,3% pada tahun 2013.

Artinya, jika 22 tahun yang lalu dari setiap 3 orang Indonesia 1 orang di

antaranya adalah perokok, maka dewasa ini dari setiap 3 orang Indonesia 2

orang di antaranya adalah perokok (Depkes RI, 2016).

Prevalensi merokok di Indonesia tinggi di berbagai macam lapisan

masyarakat, terutama pada pria, baik usia muda maupun tua. Hampir 80%

perokok mulai merokok sebelum usianya menginjak 19 tahun. Umumnya orang

yang merokok di usia muda disebabkan oleh ketidaktahuan akan dampak adiktif

yang ditimbulkan (Infodatin, 2015).

Berdasarkan hasil Riskesdas pada tahun 2013 menunjukkan bahwa

proporsi 5 tertinggi provinsi dengan perokok setiap hari yaitu Kepulauan Riau

2
(27,2%), Jawa Barat (27,1%), Bengkulu (27,1%), Gorontalo (26,8%), dan Nusa

Tenggara Barat (26,8%). Trend usia merokok meningkat pada usia remaja,

yaitu pada kelompok umur 10-14 tahun dan 15-19 tahun. Pada kelompok umur

10-14 tahun, hasil Riskesdas 2007, 2010, dan 2013 menunjukkan hasil 9,6%,

17,5%, dan 18%. Sedangkan pada kelompok umur 15-19 tahun menunjukkan

hasil 36,3%, 43,3%, dan 55,4%. Usia merokok pertama kali yang paling tinggi

adalah pada kelompok 15-19 tahun.

5 provinsi yang proporsi usia merokoknya mulai rentang usia 15-19

tahun dan melebihi rata-rata nasional (50,3%), yaitu Provinsi Lampung, Nusa

Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Bengkulu, dan Jambi dengan masing-

masing presentasi 60,9%, 58,4%, 57,4%, 56,7%, dan 56,6%. Untuk Jawa Barat

sendiri memiliki besaran yang tidak jauh dari rata-rata nasional, yaitu

lebih/kurang 51%.

Dalam teori psikologi perkembangan oleh Hurlock (2002), masa

dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan

baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa dini sebagai masa

pengaturan, dimana ketika seseorang menemukan pola hidup yang diyakininya,

ia akan mengembangkan pola-pola perilaku sikap dan nilai-nilai yang

cenderung akan menjadi kekhasannya selama sisa hidupnya. Selain itu, masa

dewasa dini juga sebagai masa bermasalah. Hal ini dikarenakan banyaknya

masalah-masalah yang berhubungan dengan penyesuaian diri.. Masa dewasa

dini juga sebagai masa ketegangan emosional. Hal ini seringkali dikarenakan

3
banyaknya masalah yang sulit untuk diatasi dan diluar keinginan. Apabila

seseorang mampu memecahkan masalah mereka dengan cukup baik, maka

emosional akan menjadi lebih stabil dan tenang.

Pada remaja sampai dewasa dini, biasanya alasan perilaku mereka yaitu

untuk mengontrol stress maupun depresi yang dirasakan, dan sebagai penanda

terhadap teman/lingkungan sekitar mereka bahwa mereka sedang tidak bahagia

atau tertekan (Hoerster, 2012). Hal ini juga diungkapkan dalam penelitian

Fikriyah dan Yoyok (2012) bahwa adanya pengaruh faktor psikologi terhadap

perilaku merokok seseorang. Dari survey sederhana yang peneliti lakukan

terhadap 21 orang, menghasilkan data usia pertama kali merokok yang paling

banyak pada usia 12 tahun sebesar 19%. Sedangkan untuk usia termuda pertama

kali merokok yaitu usia 6 tahun. Sehingga, dapat dicermati bahwa kondisi

prevalensi perokok di Indonesia yang semakin meningkat dari tahun ke tahun,

serta perkembangan yang dialami pada dewasa dini dapat menjadi pencetus

seseorang untuk merokok, membuat peneliti tertarik untuk menjadikan pria

dewasa sebagai subjek yang akan diteliti terkait perilaku merokoknya

Di Indonesia metode berhenti merokok belum banyak dikenal.

Kebanyakan berhenti merokok karena pengalaman orang lain. Metode berhenti

merokok yang dipakai di Indonesia selain dengan peraturan pemerintah,

biasanya menggunakan metode penyuluhan. Peraturan pemerintah dalam

mendukung masyarakat untuk berhenti merokok adalah penentuan kawasan

tanpa rokok (KTR). Selain itu juga pemerintah memberlakukan kenaikan harga

4
bea cukai rokok dengan tujuan masyarakat mampu berpikir ulang ketika hendak

membeli rokok. Kebijakan pemerintah dalam membatasi iklan di layar televisi

juga telah diupayakan.

Salah satu cara non farmakoterapi yang dapat dilakukan bagi para

perokok yang memiliki keinginan untuk berhenti merokok yaitu dengan

melakukan Terapi Perilaku (Behavioral Therapy). Perilaku merokok seseorang

dapat dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya dengan melalui pendekatan

Health Belief Model. Menurut Marteau dalam Winurini (2012), bahwa health

belief model merupakan faktor yang mampu mempengaruhi kesehatan individu

melalui dua cara, yaitu: (1) dengan mempengaruhi perilakunya; dan (2) dengan

mempengaruhi sistem psikologisnya.

Dalam penelitian kualitatif oleh Winurini (2012), komponen yang

diteliti secara mendalam yaitu persepsi terhadap ancaman (perceived threat)

dan evaluasi perilaku sehat (cuess to action). Dari kedua hal tersebut,

responden yang diteliti mengaku bahwa hal yang dirasakan berat ketika

berusaha untuk merubah perilaku merokok yaitu dukungan sosial. Sebab hal

tersebut merupakan hal yang sangat berpengaruh terutama untuk memperkuat

perubahan perilaku barunya. Hal ini juga didukung dalam penelitian Glover,

et al (2013) yang menyatakan bahwa dukungan sosial yang diberikan oleh

keluarga, teman, maupun teman kerja memiliki pengaruh positif terhadap

perubahan perilaku merokok secara umum.

5
Akan tetapi lingkungan seringkali tidak mendukung. Lingkungan

seringkali menawarkan rokok pada perokok yang sedang berusaha merubah

perilaku sehingga tergiur untuk kembali melakukan perilaku merokok. Rosita,

dkk (2012) menyatakan bahwa meskipun perokok mengetahui dampak akibat

merokok namun secara psikis mereka tetap meyakini hal positif yang mereka

peroleh jika mereka menghisap rokok, misalnya merasa lebih tenang, terlebih

pada saat berkumpul dengan lingkungan sesama perokok.

Meskipun sebagian perokok mengetahui pentingnya berhenti merokok,

namun apabila tidak diikuti dengan niat dan tekad yang kuat, maka persepsi

tersebut tidak dapat dijadikan acuan untuk memprediksikan keberhasilan

perubahan perilaku merokok. Dalam penelitian Rosita, dkk (2012), dinyatakan

bahwa ada hubungan antara niat berhenti merokok dengan keberhasilan

berhenti merokok pada mahasiswa FIK UMS. Hal tersebut sesuai dengan

penelitian Morphett, et al (2015) yang menyatakan bahwa hasrat dan motivasi

merupakan hal yang mendasar dan sangat dibutuhkan untuk mendukung

kesuksesan dalam perubahan perilaku merokok. Oleh karena itu, upaya untuk

menghentikan kebiasaan merokok juga akan lebih mudah bila motivasi itu juga

dari teman sebayanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Lotrean dkk (2010) menyimpulkan

bahwa program perubahan perilaku berbasis pendidik sebaya (peer educator)

lebih efektif daripada program berbasis dewasa. Blankhardt (2002)

menyatakan bahwa Peer education merupakan metode pendidikan yang

diharapkan lebih bermanfaat karena yang dapat merubah perilaku secara baik

6
karena alih pengetahuan dilakukan antarkelompok sebaya yang mempunyai

hubungan lebih akrab, penggunaan "bahasa" yang sama, serta dapat dilakukan

di mana saja dan kapan saja dengan cara penyampaian yang santai. Sasaran

belajar lebih nyaman berdiskusi tentang permasalahan yang dihadapi termasuk

masalah yang sensitif. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Katzenstein

(1999) membuktikan bahwa menerapkan peer educator dalam metode

pendidikan dapat menurunkan insidens HIV pada pekerja pabrik di Zimbabwe.

Metode peer educator yang telah diterapkan pada penelitian Valente (2003) di

Amerika Serikat juga menyimpulkan bahwa program preventif dengan

pendekatan teman sebaya (peer educator) terbukti efektif menurunkan intensi

merokok pada remaja. Berdasarkan paparan beberapa penelitian tersebut,

peneliti menjadikan hal itu sebagai dasar mengapa memilih metode peer

education sebagai metode edukasi yang akan digunakan.

Dalam McCarty (2001), dikemukakan bahwa perawat perlu menjadi

contoh yang baik bagi pasien yang sedang menjalankan program smoking

cessation dengan menunjukkan perilaku yang baik dan menyenangkan untuk

pasien. Sekalipun perawat berperilaku merokok, ternyata kemampuan dalam

memberikan saran dan arahan pada pasien untuk upaya berhenti dari perilaku

merokok, menunjukkan hasil yang lebih baik dan lebih diterima dibandingkan

dengan perawat yang tidak merokok (Pelkonen, 2001).

Dikatakan juga dalam penelitian lainnya, penelitian yang dilakukan oleh

Daroji (2011) bahwa sangat penting ketika petugas kesehatan, khususnya

perawat, untuk memberikan edukasi pada masyarakat, baik itu kepada pasien

7
maupun lingkungan sekitar pasien. Untuk dapat memenuhi tugasnya sebagai

edukator, maka perlu ditingkatkan kompetensi perawat dalam upaya

pencegahan perilaku merokok, seperti misalnya diberikan pelatihan terlebih

dahulu dan mengikuti berbagai seminar terkait tentang perilaku merokok.

Dari uraian diatas diketahui bahwa betapa pentingnya upaya

memperbaiki perilaku merokok pada pria dewasa dengan menggunakan

metode peer education. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan adalah

faktor terbesar yang mampu mempengaruhi perilaku merokok. Khususnya

pada tahap perkembangan usia dewasa dini sebagai masa pengaturan yang

akan berdampak pada pola perilaku selama sisa hidupnya. Bahkan peran

perawat memiliki bagian yang cukup penting dalam membantu individu

memperoleh perbaikan perilaku merokok. Oleh karena itu, peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh metode peer education

terhadap kecenderungan perubahan perilaku merokok pada perokok aktif pria

dewasa sebagai upaya perbaikan perilaku merokok agar yang bersangkutan

mampu menjauhi rokok.

1.2 Rumusan Masalah

Perilaku merokok merupakan perilaku yang sudah tidak asing lagi di

tengah masyarakat Indonesia. Padahal ada banyak sekali dampak buruk yang

ditimbulkan terhadap status kesehatan, baik pada perokok itu sendiri maupun

pada lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, perlu adanya sebuah intervensi

yang tepat untuk memberikan kecenderungan perubahan perilaku merokok.

8
Permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana gambaran perilaku merokok responden sebelum diberikan

intervensi peer education?

2. Bagaimana gambaran perilaku merokok responden setelah diberikan

intervensi peer education?

3. Bagaimana pengaruh intervensi peer education terhadap perubahan

perilaku merokok pada perokok aktif pria dewasa?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui gambaran perilaku merokok responden sebelum

diberikan intervensi peer education.

2. Untuk mengetahui gambaran perilaku merokok responden setelah

diberikan intervensi peer education.

3. Untuk mengetahui pengaruh intervensi peer education terhadap

perubahan perilaku merokok pada perokok aktif pria dewasa.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Metode peer education merupakan metode edukasi yang tepat bagi

perokok untuk memperbaiki pola perilaku yang sangat mudah

dipengaruhi oleh teman sebaya terutama dalam pembentukan perilaku

merokok tersebut.

9
1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi mahasiswa

kesehatan lainnya mengenai bagaimana pengaruh metode peer

education terhadap perubahan perilaku merokok.

Penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan informasi kepada

masyarakat, khususnya perokok, agar mampu melakukan perubahan

perilaku merokok.

1.5 Kerangka Pemikiran

Menurut teori dari beberapa tokoh Mu’tadin 2002 (dalam Fuadah 2011)

dan Sarafino, 1994 (dalam Sulistyawan, 2012), ada beberapa faktor yang

menjadi penyebab seseorang memiliki perilaku merokok. Beberapa faktor

tersebut diantaranya: pengaruh orang tua; pengaruh teman sebaya; faktor

kepribadian (psikologis); pengaruh iklan; faktor biologis; faktor psikologis;

faktor lingkungan sosial; faktor demografis; faktor sosial kultural; dan faktor

sosial politik.

Faktor-faktor tersebut dapat memberikan pengaruh yang cukup kuat

bagi seseorang untuk menjadi perokok. Sebuah metode edukasi yang tepat

dibutuhkan agar dapat membuat perokok cenderung merubah perilaku

merokoknya. Peer education merupakan salah satu metode yang tepat untuk

perilaku merokok karena pada dasarnya seseorang yang merokok sangat mudah

terpengaruh oleh teman sebaya. Ada banyak keuntungan yang diperoleh dari

metode ini berdasarkan hasil penelitian sebelumnya. Melalui teman sebaya

10
yang dipercaya, informasi yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh

partisipan.

Dengan adanya peer educator, diharapkan dapat memberikan

kecenderungan pada perokok untuk merubah perilaku merokoknya. Sehingga

akan ada hasil kecenderungan perubahan perilaku merokok setelah diberikan

edukasi dengan metode peer education. Adapun faktor-faktor yang menjadi

perancu dalam pelaksanaannya yaitu: faktor lingkungan; faktor teman sebaya;

pengaruh iklan; dan faktor sosial kultural.

11
Bagan 1.1 (Kerangka Pemikiran)

Perilaku merokok Perilaku merokok


sebelum intervensi sesudah intervensi

Perilaku merokok Perilaku merokok


yang diukur yang diukur
dengan dengan
menggunakan menggunakan
Faktor yang mempengaruhi Glover Nilsson Glover Nilsson
perilaku merokok Smoking Smoking
Behavioral Behavioral
Questionnaire intervensi Questionnaire
1. Pengaruh orang tua
(GN-SBQ) (GN-SBQ)
2. Pengaruh teman
dengan dengan
sebaya
pembagian Peer education pembagian
3. Faktor kepribadian
kategori kategori
(psikologis)
berdasarkan skor: berdasarkan skor:
4. Pengaruh iklan
5. Faktor biologis Rendah: <12 Rendah: <12
6. Faktor psikologis
7. Faktor lingkungan Sedang: 12-22 Sedang: 12-22
sosial
Tinggi: 23-33 Tinggi: 23-33
8. Faktor demografis
9. Faktor sosial Sangat tinggi: >33
kultural Faktor confounding
10. Faktor sosial politik

1. Faktor
lingkungan
2. Faktor teman
sebaya
3. Pengaruh iklan
4. Faktor sosial
Keterangan: kultural
: yang diteliti

: yang tidak diteliti

Sumber: Mu’tadin 2002 (dalam Fuadah 2011); Sarafino, 1994 (dalam Sulistyawan, 2012); dan
Riztiardhana, 2013.
1.6 Hipotesa Penelitian

Hipotesa dari penelitian ini yaitu:

1. Ha: ada pengaruh edukasi dengan metode peer education terhadap

kecenderungan perubahan perilaku merokok.

2. Ho: tidak ada pengaruh edukasi dengan metode peer education terhadap

kecenderungan perubahan perilaku merokok.