Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

MATA KULIAH MIKOLOGI PERTANIAN


“Peranan Jamur Trichoderma viride secara Mikroskopis
sebagai Plant Growth-Promoting Fungus (PGPF)”
Dosen Pengampu : Prof. Ir. Liliek Sulistyowati, Ph.D

Oleh :
Nama : Annisa Hurrin Ain
NIM : 155040207111156
Kelas : C

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini pertumbuhan penduduk dunia semakin lama terus mengalami
peningkatan yang cukup pesat, hal ini dipengaruhi oleh arus globalilasi yang
memacu pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Pertumbuhan penduduk
yang meningkat ini menyebabkan pemenuhan kebutuhan pangan juga
mengalami peningkatan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia sektor
pertanian memegang penanan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan
tersebut. Dalam kegiatan pertanian sering kali dijumpai gangguan baik dari
hama maupun penyakit.
Usaha untuk meningkatkan hasil usaha tani terus digerakkan oleh petani,
biasanya petani memilih menggunakan pupuk kimia karena hasilnya dapat
dirasakan dengan cepat dan juga harga pupuk kimia yang murah. Sehingga
dengan modal keseluruhan yang telah dikeluarkan petani untuk bercocok
tanam cukup besar sehingga petani tidak berani menanggung resiko
kegagalan usaha taninya. Padahal penggunaan pupuk kimia yang berlebihan
dan terus menerus telah menunjukkan suatu dampak negatif bagi lingkungan
dan juga kehidupan biota tanah dibawahnya khususnya tingkat kesuburan
yang semakin parah. Tanah yang telah kristis tidak dapat ditanami oleh
tanaman. Oleh karena itu perhatian pada alternatif pupuk yang lebih ramah
lingkungan semakin besar untuk menurunkan penggunaan pupuk kimia.
Pupuk mikrobiologis atau biofertilizer atau pupuk hayati adalah pupuk yang
mengandung mikroorganisme hidup yang ketika diterapkan pada benih,
permukaan tanaman, atau tanah, akan mendiami rizosfer atau bagian dalam
dari tanaman dan mendorong pertumbuhan dengan meningkatkan pasokan
nutrisi utama dari tanaman. Mikroorganisme menguntungkan sangat
melimpah jumlahnya, baik yang berada di sekitar perakaran (rizosfer) maupun
jaringan tanaman (endofit). Potensi tersebut, khususnya jamur bermanfaat
seperti Tricoderma sp. yang telah umum digunakan sebagai PGPF atau plant
growth-promoting fungus. Oleh karena itu penting untuk mengetahui potensi
jamur dalam meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan tanaman.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana mekanisme jamur Tricoderma sp. dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman ?
b. Spesies apa saja yang bermanfaat sebagai PGPF?
c. Apa saja keuntungan dari penggunaan jamur sebagai PGPF?
1.3 Tujuan
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah mengetahui peranan jamur di
bidang pertanian khususnya sebagai PGPF serta manfaatnya bagi manusia
dan lingkungan secara lebih dalam. Selain itu diharapkan makalah ini dapat
memberikan penjelasan tentang bagaimana jamur PGPF dapat meningkatkan
kesuburan tanah serta informasi jenis-jenis jamur yang berperan sebagai
PGPF.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Morfologi dan Fisiologi
Jamur memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia di bumi ini, selain
untuk dikonsumsi jamur juga dapat digunakan untuk menyuburkan tanah sehingga
dapat meningkatkan ketahan tanaman. Salah satu jamur yang sangat potensial
sebagai agen penyubur tanah yakni jamur dari famili Trichoderma. Trichoderma
adalah salah satu jamur tanah yang tersebar luas (kosmopolitan), yang hampir
dapat ditemui di lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Trichoderma bersifat
saprofit pada tanah, kayu, dan beberapa jenis bersifat parasit pada jamur lain.
Trichoderma viride merupakan jenis yang paling banyak dijumpai diantara
genusnya dan mempunyai kelimpahan yang tinggi pada tanah dan bahan yang
mengalami dekomposisi. Pada spesies saprofit, tumbuh pada kisaran suhu optimal
22-30°C. Sedangkan menurut Enari (1983), suhu optimal untuk pertumbuhan
jamur ini adalah 32-35°C dan pH optimal sekitar 4.0.
Trichoderma viride adalah salah satu jenis jamur yang bersifat selulolitik
karena dapat menghasilkan selulase. . Enzim ini berfungsi sebagai agen pengurai
yang spesifik untuk menghidrolisis ikatan kimia dari selulosa dan turunannya.
Trichoderma viride juga berperan sebagai mikroorganisme yang mampu
menghancurkan selulosa tingkat tinggi dan memiliki kemampuan mensintesis
beberapa faktor esensial.

(Khandelwal dkk. 2012)


Koloni dari jamur Trichoderma berwarna putih, kuning, hijau muda, dan
hijau tua. Dijelaskan lebih lanjut bahwa kultur jamur Trichoderma viride pada skala
laboratorium berwarna hijau, hal ini disebabkan oleh adanya kumpulan konidia
pada ujung hifa jamur tersebut. Susunan sel jamur bersel banyak berderet
membentuk benang halus yang disebut dengan hifa. Hifa pada jamur ini berbentuk
pipih, bersekat, dan bercabang-cabang membentuk anyaman yang disebut
miselium. Miseliumnya dapat tumbuh dengan cepat dan dapat memproduksi
berjuta-juta spora, karena sifatnya inilah Trichoderma dikatakan memiliki daya
kompetitif yang tinggi. Dalam pertumbuhannya, bagian permukaan akan terlihat
putih bersih, dan bermiselium kusam. Setelah dewasa, miselium memiliki warna
hijau kekuningan.
2.2 Habitat
Trichoderma spp. dapat ditemui di hampir semua jenis tanah dan pada
berbagai habitat. Jamur ini dapat berkembang biak dengan cepat pada daerah
perakaran. Selain itu Trichoderma spp. merupakan jamur parasit yang dapat
menyerang dan mengambil nutrisi dari jamur lain. Peranan Trichoderma spp. yang
mampu menyerang jamur lain namun sekaligus berkembang baik pada daerah
perakaran menjadikan keberadaan jamur ini dapat berperan sebagai biocontrol
dan memperbaiki pertumbuhan tanaman. Beberapa species Trichoderma seperti
T. harzianum, T. viride dan T. album, telah diteliti peranannya sebagai bio-control.
A. nidulans termasuk dalam jenis Aspergillus dan mampu berkembang biak
dengan cepat dalam membentuk filamen-filamen jamur baik dalam media cair
maupun media padat dan pada berbagai kandungan nutrisi (Setyowati, dkk, 2003).
Aspergillus dapat ditemukan pada tanah, sampah dan di udara. Aspergillus dapat
menyebabkan infeksi, alergi atau keracunan baik pada tumbuhan, hewan maupun
manusia (Setyowati, dkk. 2003).
2.3 Peran dalam Meningkatkan Kesuburan Tanah dan Ketahanan Tanaman
Trichoderma adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari
perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai
organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator
pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai
agens hayati adalah T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum
luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media
aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai
biodekomposer, yaitu dapat mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan
dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Selain itu, Trichoderma dapat juga
digunakan sebagai biofungisida, dimana Trichoderma mempunyai kemampuan
untuk dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada
tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani,
Sclerotium rolfsii, dll.
Saat ini, Trichoderma merupakan salah satu mikroorganisme fungsional
yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah. Pupuk biologis Trichoderma dapat
dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak.
Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman,
serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato
Dextrose Agar). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sharma dkk., (2016)
yang menyatakan bahwa penggunaan mikroba meningkatkan status fisiologis dan
morfologi tanaman; sehingga mereka dapat digunakan untuk mengganti pupuk
kimia mahal secara ekonomis. Kombinasi G.mosseae, A.laevis, dan T.viride dapat
digunakan untuk peningkatan pertumbuhan Phaseolus mungo yang berkelanjutan.
Jamur Trichoderma mempunyai kemampuan untuk meningkatkan
kecepatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama kemampuannya
untuk menyebabkan produksi perakaran sehat dan meningkatkan angka
kedalaman akar (lebih dalam di bawah permukaan tanah). Akar yang lebih dalam
ini menyebabkan tanaman menjadi lebih resisten terhadap kekeringan, seperti
pada tanaman jagung dan tanaman hias. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Fotoohiya dkk., (2016) bahwa mekanisme antagonis jamur ini dapat
adalah sebagai berikut.
Saat mikroba patogen sedang dalam masa dorman, serangan antagonis
jamur Trichoderma dapat menyebabkan kerusakan biologis inokulum patogen.
Mekanisme antagonis ini dapat berupa predasi, perparasi, dan parasitisme
propagul. Bentuk lain dari antagonisme adalah dengan penekanan
perkecambahan propagul melalui kompetisi karbon, nitrogen, ion besi, oksigen
dan unsur penting lainnya. Sedangkan antagonis pada permukaan tanman
meliputi antibiosis, kompetisi dan predasi. Mikoparasitisme dari Trichoderma sp.
merupakan suatu proses yang kompleks dan terdiri dari beberapa tahap dalam
menyerang inangnya. Interaksi awal dari Trichoderma sp. yaitu dengan cara
hifanya membelok ke arah jamur inang yang diserangnya, Ini menunjukkan
adanya fenomena respon kemotropik pada Trichoderma sp. karena adanya
rangsangan dari hyfa inang ataupun senyawa kimia yang dikeluarkan oleh jamur
inang. Ketika mikoparasit itu mencapai inangnya, hifanya kemudian membelit atau
menghimpit hifa inang tersebut dengan membentuk struktur seperti kait (hook-like
structure), mikoparasit ini juka terkadang mempenetrasi miselium inang dengan
mendegradasi sebagian dinding sel inang. Contoh mekanisme kerja Trichoderma
spp. adalah menekan perkembangan Jamur Akar Putih (JAP) dengan cara
pembentukan antibiotik dan mikroparasitisme, kompetisi dan kolonisasi rizomorfa.
Mekanisme penghancuran Jamur Akar Putih (JAP) terjadi melalui proses lisis
miselium dan rizomorfa. Lisis merupakan proses enzimatik oleh enzim selulose
yang dihasilkan oleh T. koningii. Disebutkan pula bahwa Trichoderma harzianum
menekan pertumbuhan jamur phythoptora infestan pada tanaman kentang. Jamur
trichoderma harsianum ini merupakan jamur isolat lokal, jadi apabila
menggunakan kompos akan mendukung berkembang biaknya jamur trichoderma
ini sehingga dapat menekan pertumbuhan phythopthora dilahan kentang.

Disamping itu pula, penambahan pupuk biologis Trichoderma sp. akan


meningkatkan efisiensi pemupukan. Pada tanah yang tandus pemberian pupuk
organik Trichoderma sp. dan pupuk kimia secara bersamaan akan memberikan
hasil yang maksimal daripada pemberian pupuk organik atau pupuk kimia secara
terpisah walaupun dengan jumlah yang banyak. Dengan pemberian pupuk organik
akan menghemat penggunaan pupuk kimia. Penyakit layu dan busuk pangkal
batang pada tanaman yang disebabkan oleh jamur fusarium sangat sulit
dikendalikan dengan fungisida kimia. Oleh karena itu mengaplikasikan pupuk
biologis dan biofungisida Trichoderma sp. pada tanaman dapat mencegah
penyakit akar dan busuk pangkal batang yang dapat menyebabkan layu tanaman.
BAB III
PENUTUP

Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dapat menyebabkan


penurunan produksi di lahan. Penggunaan mikroba meningkatkan status fisiologis
dan morfologi tanaman; sehingga mereka dapat digunakan untuk mengganti
pupuk kimia tidak memiliki dampak negatif bagi lingkungan. Jamur Trichoderma
mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, terutama kemampuannya untuk menyebabkan produksi
perakaran sehat dan meningkatkan angka kedalaman akar. Akar yang lebih dalam
ini menyebabkan tanaman menjadi lebih resisten terhadap kekeringan,
DAFTAR PUSTAKA

Agrios, G. N. 2005. Plant Pathology. Fifth Edition. Elsevier Academic Press. USA.
922 p.

Enari, 1983. Microbial Cellulose. Applied Science Publisher, London P-183 – 222.

Fotoohiyan, Zeinab. Rezaee, Saeed. M, Amir Hossein. Moradi, Mohammad. 2016.


Biocontrol Potential of Trichoderma harzianum in Controlling Wilt Disease
of Pistachio Caused by Verticillium dahliae. Journal of Plant Protection
Researc. Department of Plant Pathology. Science and Research Branch.
Islamic Azad University. Tehran. Iran.

Khandelwal, Mridula. Datta, Sakshi. Mehta, Jitendra. Naruka, Ritu. Makhijani,


Komal. Sharma, Gajendra. Kumar, Rajesh. Subhas, Chandra. 2012.
Isolation, Characterization & Biomass Production of Trichoderma viride
Using Various Agro Products- A Biocontrol Agent. Microbiology and
Pathology Division. Vital Biotech Research Institute. University of Kota.
India.

Sharma, Navnita. Yadav, Kuldeep. And Aggarwal, Ashok. 2016. Growth Response
of Two Phaseolus mungo L. Cultivars Induced by Arbuscular Mycorrhizal
Fungi and Trichoderma viride. Department of Botany. Kurukshetra
University. Kurukshetra. Haryana. India.

Setyowati, N, Fahrurrozi, P. Prawito, dan E. Satria. 2003. Penurunan Penyakit


Busuk Akar dan Pertumbuhan Gulma pada Tanaman Selada yang Dipupuk
Mikroba. Pros. Konf. Nas. HIGI XVI. Bogor Juli 2003.