Anda di halaman 1dari 3

PESTA HUJAN DI MATA SHINTA

Mata Serigala Shinta


Oleh : Andi Rafidah

Judul buku : Pesta Hujan di Mata Shinta


Pengarang : Iqbal Baraas
Penerbit : Frame Publishing
Tahun Terbit : 2008
Jumlah Halaman : 138 halamam
Realita kehidupan manusia selalu berkaitan dengan drama peristiwa yang tak ada habisnya.
Kehidupan manusia tidak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan setiap individu.
Kadangkala manusia dihadapkan pada suatu permasalahan yang pelik dan rumit sehingga
terkadang seperti kisah negeri dongeng modern tanpa batas yang kisahnya bisa membuat orang
simpati, menangis, atau bahkan emosi karena cerita harunya. Permasalahan tersebut harus
diselesaikan dengan cara apapun, meski kadang membuat seseorang menjadi gila karenanya.
Itulah yang kira – kira ingin disampaikan Iqbal Baraas melalui karya kumpulan cerpennya yang
berjudul Pesta Hujan di Mata Shinta. Berbagai tema diangkatnya, mulai dari percintaan,
romantika kehidupan orang kecil, hingga masalah – masalah personal, seperti masalah dalam
rumah tangga.
Di dalam buku ini penulis tidak bercerita tentang kemegahan maupun kekayaan
berlimpah yang kadang kisahnya sudah bisa ditebak. Tapi Iqbal Baraas lebih memilih untuk
mengangkat kehidupan manusia yang sebenarnya, kehidupan manusia yang penuh perjuangan
untuk mendapat kemakmuran dan kesejahteraan yang riil. Melalui buku kumpulan cerpennya ini,
Iqbal ingin mengajak pembaca menyelami realita kehidupan manusia yang sesungguhnya
sehingga bisa mendapatkan hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik dari cerita tersebut.
Ilustrasi cover atau sampul buku ini berbeda dari sampul buku kumpulan cerpen seperti
pada umumnya. Sampul buku ini menggambarkan kehidupan rakyat kecil yang dilukiskan
melalui wayang jawa. Sampul buku kumpulan cerpen ini memiliki sebuah makna yang tidak
semua orang memahami maknanya sehingga melalui sampul buku pembaca bisa dibuat
penasaran dengan isi ceritanya. Gaya bahasa yang digunakan masih banyak menggunakan kata
bermakna konotasi sehingga cerpen yang bercerita tentang hal – hal ringan dan akrab dengan
kehidupan menjadi sulit dimengerti inti dari cerita tersebut. Mungkinkah tatapan mata bisa
meludahi dan mencaci maki seseorang? Akan tetapi, Iqbal juga menyelipkan untuk melakukan
pendekatan pada peristiwa sehari – hari, seperti pada kalimat “mbulet ya, Mak ?” , “Ndak usah
mbulet dan ndak usah mumet. Ndak usah dipikirin dalem – dalem …. Dilihat dari pilihan kata,
Iqbal Baraas termasuk penulis yang berani mengambil berbagai pilihan kata dalam cerpennya.
Judul sampul atau cover buku kumpulan cerpen ini adalah Pesta Hujan di Mata Shinta
yang diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Penulis mengangkat judul ini karena
cerita ini lebih menarik karena konflik yang dipaparkan lebih jelas yaitu tentang kebencian
seorang anak gadis bernama Shinta kepada setiap lelaki, terutama pada sang ayah. Hal ini terjadi
karena ajaran sang ibu yang telah dikhianati mungkin bisa jadi oleh setiap lelaki hingga
kehidupannya berubah miris. Selain itu ungkapan cerpen ini lugas dan langsung, tanpa basa –
basi.
Gaya bercerita Iqbal Baraas yang mengalir apa adanya yang memadukan realitas dengan
aliran absurdisme, yaitu aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa usaha manusia untuk
mencari arti kehidupan akan berakhir dengan kegagalan dan bahwa kecenderungan manusia
untuk melakukan hal itu sebagai sesuatu yang absurd.
Sebenarnya buku ini bisa dibaca oleh semua kalangan karena banyak pelajaran yang bisa
dipetik dari kisah – kisah yang disajikan di dalamnya. Tapi karena pilihan kata yang tergolong
rumit, tak teratur, dan banyak mengandung makna – makna konotasi atau kiasan, buku ini terasa
berat untuk dibaca kalangan anak – anak.