Anda di halaman 1dari 11

Difusi dan Osmosis

Air memasuki dan meninggalkan sel-sel melalui osmosis. Kasus khusus difusi, adalah
pergerakan air melintasi membran permeable yang selektif. Osmosis terjadi ketika dua larutan
yang dipisahkan oleh membran memiliki perbedaan tekanan osmotik, atau osmolaritas
(konsentrasi zat terlarut total yang diekspresikan sebagai molaritas, atau mol zat terlarut per/liter
larutan). Jika dua larutan yang dipisahkan oleh sebuah membran permeable selektif yang
memiliki osmolaritas yang sama, kedua larutan itu disebut Isoosmotik. Dalam kondisi ini molekul
air terus menerus melintasi membran, namun dengan laju yang sama ke kedua arah. Dengan
kata lain, tidak ada pergerakan neto air melalui osmosis diantara larutan-larutan isoosmotik.
Ketika dua larutan memiliki perbedaan molaritas, larutan dengan konsentrasi zat-zat terlarut
yang lebih besar disebut Hiperosmotik. Air mengalir melalui osmosis dari larutan hipoosmotik ke
larutan hiperosmotik (Campbell, 2010 : 118).
Difusi zat terlarut dari daerah dengan konsentrasi tinggi pada konsentrasi rendah lebih besar
kemungkinan perpindahan secara langsung. Dapat terjadi secara spontan dan difusi ion yang
tidak bermuatan dapat melewati membran. Membran sel adalah bersifat selektif permeable, dia
dapat melewatkan air dan molekul kecil lainnya serta partikel tidak bermuatan untuk berpindah
dengan mudah, namun tidak demikian dengan molekul besar dan molekul bermuatan (Zeiger,
2002 : 9).
Difusi adalah pergerakan molekul suatu zat secara random yang menghasilkan pergerakan
molekul efektif dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contoh-contohnya adalah difusi zat
warna dalam air tenang, difusi glukosa dan teknik tomografi, difusi zat melalui membran, difusi
oksigen dalam membran polimer. Bahkan difusi tidak hanya terjadi pada skala mikro tetapi juga
skala makro, seperti difusi gas dalam galaksi. Model dasar yang digunakan dalam penelitian
tentang difusi biasanya adalah hukum Fick, namun bentuknya akan bervariasi sesuai dengan
asumsi-asumsi peneliti. Difusi larutan gula sangat penting dalam dunia biologi, contohnya adalah
fenomena transport gula dalam tanaman (Trihandaru, 2012 : 1).
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Contoh yang sederhana adalah
pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain adalah
uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua
larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas
secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap
terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Difusi yang paling sering terjadi adalah difusi
molekuler. Difusi ini terjadi jika terbentuk perpindahan dari sebuah lapisan molekul yang diam
dari solid atau fluida (Uwie, 2010: 1).
Untuk memenuhi kebutuhan materi dan mempertahankan keseimbangan fisiologi di dalam
tubuhnya, tumbuhan melakukan beberapa aktivitas, diantaranya adalah absorbsi (penyerapan),
transportasi (pengangkutan) atau translokasi (pemindahan) dan transpirasi (pelepasan air
melalui stomata). Beberapa prinsip yang berhubungan dengan proses penyerapan pada akar :
1. Penyerapan air tanah oleh akar dapat terjadi melalui meknisme imbibisi, difusi, osmosis dan
transpor aktif.
2. Pada tumbuhan darat, penyerapan gas-gas (O2 dan CO2) lebih banyak melalui daun,
sedangkan ion-ion dalam larutan tanah melalui akar. Pada tumbuhan air hampir seluruh
permukaan tubuhnya dapat melakukan penyerapan air beserta gas-gas dan ion-ion yang terlarut
di dalamnya. Difusi merupakan gerakan penyebaran suatu partikel (air, molekul zat terlarut, gas
atau ion- ion) dari daerah yang potensial kimianya lebih tinggi menuju ke daerah yang potensial
kimianya lebih rendah.
a. Difusi terjadi karena adanya gerakan molekul dan beda potensial kimia.
b. Difusi dipengaruhi oleh temperatur, konsentrasi zat terlarutr (solute), tekanan dan partikel
adsorptif (permukaan mudah mengikat air).
c. Permeabilitas membran akan menentukan laju difusisetiap partikel melewati membran.
Membran sel merupakan bagian yang mengatur keluar–masuknya senyawa kimia dari dan ke
dalam sel pada tumbuhan. Dengan adanya membran sel, tumbuhan mampu berada pada posisi
yang tepat pada lingkungan zat kimia yang kompleks dan selalu berubah, mampu mengambil
dan menahan nutrien sejumlah yang diperlukan, dan membuang produk buangannya. Membran
sel juga mampu menyediakan kemudahan biokimiawi untuk memindahkan ion-ion mineral, gula,
asam-asam amino, elektron, serta metabolit lain melewati membran. Substansi-substansi dalam
larutan ini melewati membran dengan cara difusi dan transpor aktif serta Proses osmosis tidak
spesifik. Osmosis adalah proses perpindahan air dari zat yang berkonsentrasi rendah (hipotonis)
ke larutan yang berkonsentrasi tinggi (hipertonis), proses ini biasa melalui membran selektif
permeabel dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Osmosis adalah difusi air
melalui membran semi‐permeabel, dari larutan yang banyak air ke larutan yang sedikit air.
Definisi paling sederhananya adalah difusi air melalui membran semipermeabel (permeabel
hanya kepada pelarut, tidak kepada terlarut). Osmosis melepaskan energi, dan bias melakukan
kerja, sebagaimana akar pohon yang bisa membelah batu. Pelarut (dalam banyak kasus adalah
air) bergerak dari larutan berkonsentrasi lebih rendah (hipotonik) ke larutan berkonsentrasi lebih
tinggai (hipertonik) yang bertujuan menyamakan konsentrasi kedua larutan. Efek ini dapat dilihat
dari bertambahnya tekanan pada larutan hipertonik relatif terhadap larutan hipotonik. Sehingga
tekanan osmotik didefinisikan sebagai tekanan yang diperlukan untuk menjaga kesetimbangan,
dengan tidak adanya aliran pelarut. Tekanan osmotik merupakan properti koligatif, yaitu properti
yang gayut terhadap konsentrasi molar zat terlarut dan bukan terhadap jenis zatnya (Lakitan,
2008 : 229).
Osmosis merupakan difusi air dari daerah yang memiliki potensial air lebih rendah ke daerah
yang potensial airnya lebih tinggi, melalui suatu membran semi permeabel. Potensial osmotik
suatu larutan selalu negatif yang ekivalen dengan nilai tekanan osomotiknya yang sebenarnya
(Suyitno, 2003 : 9-10).
Kemasiran dalam proses pengasinan telur
terjadi karena adanya garam yang masuk kedalam
kuning telur. Akibat adanya tekanan osmosis, semakin lama telur diasinkan semakin banyak
garam di kuning telur maka air di kuning telur akan
semakin banyak yang keluar ke kuning telur dan
semakin masir telur yang dihasilkan. Sifat kayu manis yang membentuk gel yang mampu
menyelubungi garam sehingga rasa asin dan kayu
manis kurang terasa dan mendekati rasa dari telur rebus biasa (Andriyanto, 2013 : 17)
Air bergerak dalam ikan melalui kombinasi difusi cair,
uap difusi, gerak molekular, dan osmosis. Pada saat yang sama, garam dapat pindah
ke ikan jika konsentrasi garam pada permukaan ikan lebih besar daripada yang
di dalam. Bersamaan dengan keringnya ikan akibat gerakan air ke permukaan
interior, gradien konsentrasi air secara bertahap menurun. Dengan demikian
kekuatan pendorong untuk memindahkan air menurun, dan tingkat pengeringan melambat.
Bagian dari proses pengeringan ini disebut sebagai 'difusi yang diatur ' atau
'penurunan tingkat pengeringan'. Pengeringan akan berlanjut dengan
kecepatan semakin menurun sampai kesetimbangan tercapai, dimana pada
tahap ini ikan dikatakan telah mencapai 'kandungan air ekuilibrium' (Zulfri, 2012 : 4).

Plasmolisis
Tanaman layu (menjadi lemah) ketika tekanan turgor didalam sel dari jaringan kosong atau tidak
ada. Plasmolisis, adalah penyusutan dari protoplasma keluar dari dinding sel, yang mana terjadi
ketika sel pada larutan yang kekurangan air atau kadar airnya sedikit (Zeiger, 2002 : 45)
Plasmolisis adalah peritiwa melepasnya plasmalema atau membran plasma dari dinding sel
karena dehidrasi (hilangnya air sel) bila sel berada di lingkungan larutan yang hipertonis
(Suyitno, 2003 : 9-10).
Jika sel ditempatkan di larutan dengan konsentrasi tinggi atau hipertonis terhadap sel, maka air
akan keluar dari vakuola sehingga membrane sitoplasma akan mengkerut dan terlepas dari
dinding sel. Hal seperti ini lazim disebut plasmolisis (Sihombing, 2010 : 12).
Pada larutan yang
berkonsentrasi tinggi, larutan tersebut menjadi pekat sehingga sel akan kehilangan
turgornya. Apabila volume kandungan sel dalam akar tenaman terus berkurang, juga
dapat menyebabkan terjadinya plasmolisis. Fitter dan Hay (1994) menyatakan
terjadinya plasmolisis yang terus menerus akan dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
fisiologis (Nathania, 2012 : 81-82).
Plasmolisis merupakan proses keluarnya air sel dari membran sitoplasma
yang kemudian mengkerut dan terpisah dari dinding sel akibat konsentrasi osmotik
medium jauh lebih tinggi dari pada sel mikroba itu sendiri. Gula merupakan sumber energi
bagi pertumbuhan bakteri Acetobacter xylinum, dimana konsentrasi gula atau jenis substrat
mempengaruhi pertumbuhan sel dan pembentukan produk (Mulyati, 2010 : 108)
Jika bakteri,khamir dan kapang ditempatkan dalam larutan gula yang pekat, maka air dalam sel
akan keluar menembus membran dan mengalir ke dalam larutan gula, peristiwa tersebut dikenal
dengan Osmosis, dankeadaan ini sel mikroorganisme mengalami plasmolisis sehingga
perkembangbiakannya terhambat (Gianti, 2011 : 31).
Contoh plasmolisis pada tanaman adalah pemupukan dengan konsentrasi yang terlalu tinggi.
Pada peristiwa ini, plasma (cairan) sel keluar dari sel akibat larutan diluar sel (larutan pupuk)
lebih pekat dibandingkan cairan sel. Tanaman akan terlihat mengering seperti terbakar, yang
pada akhirnya dapat menyebabkan kematian tanaman. Dengan demikian pupuk akan
memberikan pengaruh yang baik bagi tanaman apabila diberikan pada konsentrasi yang tepat
(Sutardi, 2009 : 106)
Karena kandungan mineralnya yang tinggi pada air bittern seperti Mg, Ca, Na, K dan Cl dan
rasanya yang pahit, diduga seperti halnya garam dalam bentuk larutan bahan dengan
konsentrasi yang tinggi dapat menekan kegiatan pertumbuhan mikroba tertentu, berperan dalam
membatasi air yang tersedia, dapat mengeringkan protoplasma dan menyebabkan plasmolisis
(Desrosier, 1988). Menurut Tranggono (1988), menyatakan bahwa air bittern seperti halnya
garam dengan konsentrasi yang tinggi akan mengurangi aktifitas biologis enzim, perubahan pH
yang menyolok, serta akan menghambat kerja enzim dan mencegah perkembangan
mikroorganisme. Sedangkan Desrosier (1988), menyatakan bahwa air bittern seperti halnya
garam dalam bentuk larutan suatu substrat bahan dengan konsentrasi yang tinggi, dapat
menekan kegiatan pertumbuahan mikroba tertentu, berperan dalam membatasi air yang
tersedia, dapat mengeringkan protoplasma dan menyebabkan plasmolisis (Kementrian
Perindustrian, 2011 : 77).
Kondisi sel yang terplasmolisis tersebut dapat dikembalikan ke kondisi semula. Pengembalian
dari kondisi terplasmolisis ke kondisi semula ini dikenal dengan istilah deplasmolisis. Prinsip
kerja dari deplasmolisis ini hampir sama dengan plasmolisis. Tapi konsentrasi medium dibuat
menjadi hipotonis sehingga yang terjadi adalah cairan memenuhi ruang antar dinding sel dengan
membran sel bergerak keluar, sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk ke dalam dan
dapat menembus membran sel karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk
masuk ke dalam. Masuknya molekul ari ke dalam tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma
terisi kembali dengan cairan sehingga membran sel kembali dengan cairan sehingga akibat
timbulnya tekanan turgor akibat gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini
adalah sel kembali ke keadaan semula (Ferdinand an Ariwibowo, 2002).
4. Metodelogi Penelitian
4.1 Alat dan Bahan
a. Alat
· Pelubang gabus berdiameter 0.5 cm
· Bunsen/ pemanas listrik
· Tabung reaksi bertutup ulir (10 buah, berdiameter 2.5 cm)
· Gelas kimia atau wadah tahan panas
· Mikroskop
· Object glass
· Cover glass
· Pipet tetes
· Pisau silet
b. Bahan
· Umbi kunyit (Curcuma sp.)
· Metanol
· Aseton
· Aquadest
· Bawang merah (Allium cepa)
· Jadam (Rhoeo discolor)
· Larutan gula
· Larutan garam fisiologis
4.2 Cara Kerja
Difusi & Osmosis

a. Perlakuan Fisik (Suhu)

b. Perlakuan dengan pelarut Organik

4.3 Kontrol
4.4 Analisis
4.2.1 Plasmolisis

5 Hasil Pengamatan
5.1 Tabel Hasil Pengamatan Difusi dan Osmosis
No
Perlakuan
Gambar
Keterangan
1
Perlakuan fisik (suhu).
700C, 500C, 400C

· Suhu 700C, Agak kuning keruh


· Suhu 500C, Kuning/Orange
· Suhu 400C, Kuning/Orange pekat

2
Pelarut Organik (Kontrol, Metanol, Aseton)
· Kontrol, Agak kuning keruh
· Metanol, Kuning/Orange
· Aseton, Kuning/Orange pekat
5.2 Tabel Hasil Pengamatan Plasmolisis
No
Perlakuan
Gambar
Keterangan
Rhoeo discolor
Allium cepa
1
Larutan Gula
Sitoplast keluar dari sel (plasmolisis) ditandai dengan berkumpulnya pigmen keunguan
(antosianin) di tengah/ tepi menuju keluar sel
2
Aquadest
Plasmolisis dibalikkan yaitu dg membuat lingkungan hipotonis (aquadest), maka air akan
terserap kedalam sel karena tekanan turgor.
3
Garam Fisiologis
Sel tetap pada bentuk semula karena larutan garfis bersifat isotonis, dimana konsetrasi zat
terlarut didalam dan diluar sel sama.

6 Pembahasan
Pada praktium kali ini mengenai difusi dan osmosis dimana terbagi menjadi dua praktium yaitu
mengenai permeabilitas membran sel yang membahas tentang pengaruh suhu dan pelarut
organik dalam proses difusi osmosis dan praktikum mengenai plamolisis. Dalam praktikum ini
bertujuan untuk mengamati pengaruh perlakuan fisik (suhu) dan kimia (jenis pelarut) terhadap
permeablilitas membran sel serta untuk mengetahui pengaruh larutan hipertonik dan larutan
hipotonik pada sel tumbuhan.
Pada praktikum mengenai pengaruh suhu dan pelarut terhadap permeabilitas membran sel
digunakan umbi kunyit untuk mengathui perubahan warna yang terjadi pada masing-masing
suhu dan pelarut organik yang digunakan. Pada perlakuan fisik dengan pengaruh suhu terhadap
perubahan warna yang terjadi pada umbi kunyit dengan suhu yang berbeda beda yaitu 40oC,
50oC, dan 70oC serta pelarut organik berupa Metanol,Aseton dan aquades sebagai kontrol.
Langkah awal pada praktikum ini adalah dengan memotong kubus umbi kunyit
berukuran 1cmx1cm yang kemudian dicuci dengan air mengalir untuk untuk menghilangkan
pigmen warna pada permukaan kubus umbi kunyit. Kunyit mengandung pigmen warna sejenis
karoten yaitu curcumin. Sehingga perlu dicuci agar tidak mempengaruhi hasil pengamatan.
Kemudian masing-masing 2 umbi kunyit di celupkan pada Aquadest dengan suhu masing-
masing 40oC, 50oC, dan 70oC selama 1 menit. Lalu memindahkan kedalam 5 ml Aquadest dan
dibiarkan selama 1 jam pada suhu kamar. Perlakuan suhu ini digunakan untuk mengetahui
respon membran sel terhadap peningkatan suhu, dan mengetahui dampak dari perubahan suhu
terhadap sel.Karena Curcumin pada kunyit tersebut maka aktivitas yaitu pergerakan isi sel lebih
mudah diketahui karena dapat ditandai dengan keluarnya pigmen warna berupa Curcumin tadi.
Jika dilihat dari hasil pengamatan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pada kisaran
suhu 40oC warna yang terbentuk adalah sebagian besar kuning/orange pekat. Pada suhu 50oC
kuning/orange dan suhu 70oC berwarna agak kuning. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan
dasar teori, seharusnya semakin tinggi suhu maka akan semakin keruh. Perubahan
suhu mempengaruhi permbealitas sel, karena kenaikan suhu akan mempengaruhi persentasi
nilai transmisi yang cenderung menurun dan juga naik pada penurunan suhu. Penurunan nilai
absorbsi pada suhu disebakan suhu mempengaruhi keaktifan pembentukan pigmen betacyainin,
mengakibatkan dinding sel akan menjadi mengembang. Pori- pori mengembang atau membesar
mengakibatkan kerusakan pada sel akan terjadi. Kerusakan pada sel jelas terjadi dan
mempengaruhi daya gaya permebealitas sel akibat kerusakan sel karena suhu melebihi batas
maksimum akan berakibat bereaksi keaktifan dari plasma sel berkurang, sehingga gerakan
urutan keluar masuk akan semakin besar.
Untuk kenaikan suhu yang reaktif tidak berakibat terjadinya kerusakan sel, maka
perubahan suhu tersebut hanya mengakibatkan keaktifan pigmen betacyanin meningkat dan
daya permebealitas sel akan meningkat. Untuk kenaikan suhu yang reaktif tidak berakiat
terjadinya hubungan dengan suhu terhadap nilai absorbsi, maka semakin tinggi suhu yang kita
naikkan, maka daya absorbsi atau daya permeabilitas sel pun meningkat. Sifat semipermeabel
dari membrane protoplasma berbeda untuk sel yang satu dengan sel yang lainnya, hal ini
tergantung dari susunan kimia dan fisika dari membrane tersebut. Untuk jenis sel yang sama
akibat masuk dan keluarnya air pun akan semakin kecil. Untuk perlakuan pendinginan juga akan
mempengaruhi transmisi yang akan menurunkan nilai absorbsi sel atau permeealitas sel. Itu
adalah dasar penerapan dari mengapa bahan produk akan lebih baik bila pada suhu yang
rendah. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakn rendah suhu yang diberikan maka warna yang
terbentuk akan semakin bening, begitu juga sebaliknya semakin besar suhu yang diberikan
maka semaikn keruh warna yang terbentuk. Kesalahan pada praktikum ini adalah pada proses
pencelupan variasi suhu yang tidak sesuai dengan langkah kerja yang terdapat di modul.
Menurut data dari praktikan bahwa semua umbi kunyit dimasukan dalam 1 wadah dan akan
diambil masing-masing 2 kunyit apabila sudah pada suhu 40oC, kemudian diambil 2 kubus
kunyit lagi pada suhu 50oC, dan begitu pula pada suhu 70oC. Seharusnya langkah kerja yang
diharapkan adalah memanaskan aquadest sampai suhu 40oC, 50oC, 70oC kemudian masing-
masing 2 umbi kunyit dicelupkan selama 1 menit. Hal inilah yang mungkin menyebabkan
kesalahan pada hasil pengamatan.
Selanjutnya adalah pengaruh pelarut organik terhadap permeabilitas membran sel.
Larutan yang digunakan adalah Metanol, Aseton dan Aquadest. Kemudian tabung reaksi diisi
dengan metanol sebanyak 5 ml yang lalu memesukkan 2 umbi kunyit dan 2 lainnya dimasukkan
dan direndam dalam aseton sebanyak 5 ml. Masing-masing didiamkan selama 30-40 menit pada
suhu kamar. Sedangkan 2 lainnya pada Aquadest dijadikan sebagai kontrol untuk mengamati
adanya perubahan pada perlakuan.
Sedangkan pada perlakuan dengan bahan kimia, absorbandsi terbesar adalah perlakuan
dengan metanol yaitu berwarna kuning/orange pekat. Hal ini sudah sesuai dengan dasar teori
karena Metanol (CH3OH) merupakan senyawa alkohol yang bersifat polar dan mudah berikatan
dengan membran sel. Ikatan ini menyebabkan senyawa organic penyusun membrane sel
menjadi larut (adhesi) dalam metanol. Di samping itu metanol memiliki panjang rantai OH paling
pendek sehingga ikatan antara metanol dan membran sel tidak memerlukan waktu yang lama.
Dari sifat kimia metanol inilah, menyebabkan membran sel dan dinding sel lebih cepat rusak dan
kehilangan permeabilitas sehingga menyebabkan cairan sel keluar dari dalam sel keluar sel
secara difusi karena perbedaan konsentrasi dengan aquades dibagian luar sel. Dari proses ini
menyebabkan cairan aquades berwarna kuning/orange pekat.
Perlakuan kedua adalah dengan pelarut organik berupa Aseton dan hasil yang didapatkan
adalah berwarna kuning/orange. Warna kuning/orange yang ditimbulkan lebih pekat pada
metanol, karena Aseton(CH3COCH3), adalah senyawa alkohol yang bersifat polar dan dapat
berikatan dengan membran sel. Bila dibandingkan dengan metanol, aseton tidak dengan cepat
berikatan dengan membran plasma karena gugus OH pada aseton lebih panjang dibandingkan
dengan metanol sehingga sulit dan memerlukan waktu yang lama untuk berikat dengan
komponen membran plasma. Karena panjangnya gugus OH menyebabkan ikatan yang
diperoleh sedikit namun dapat mempengaruhi dan memperlemah permeabilitas membran,
sehingga sebagian membran rusak karena ikatan antara komponen membran dan aseton.
Rusaknya sebagian komponen membran menyebabkan membran berlubang dan terjadi proses
difusi pada membran yang rusak disamping proses osmosis pada membran yang masih
berfungsi dari dalam sel ke luar sel yang dipicu oleh perbedaan konsentrasi antara diluar dan
didalam sel, dimana didalam sel konsentrasi larutan tinggi dan diluar sel konsentrasi larutan
rendah sehingga cairan sel keluar dari sel, hal ini dibuktikan oleh berubahnya warna aquades
dari bening menjadi kuning/orange meskipun tidak sangat pekat seperti pada methanol.
Sedangkan variabel kontrol yaitu umbi kunyit yang direndam dengan aquadest dan
didiamkan pada suhu kamar dalam waktu 30-40 menit. Terlihat sedikit berwarna kuning. Hal ini
disebabkan karena aquadest bersifat isotonis terhadap sel sehingga terjadi peristiwa osmosis
dimana air (hipotonik) bergerak masuk kedalam sel kunyit yang konsentrasinya lebih tinggi untuk
menyamakan konsentrasi, sedangkan isi dari sel kunyit tidak keluar pada lingkungan yang
ditandai dengan sangat sedikitnya kandungan pigmen Curcumin yang terlarut pada lingkungan
(Aquadest) karena tekanan turgor dari sel kunyit..
Senyawa organik memiliki daya kelarutan yang tinggi pada bahan organik maka pigmen
Curcumin yang ada banyak yang terlarut. Hal ini akan mempengaruhi permebealitas dari sel,
akibat kenaikan nilai absobrsi sel menyebabkan sel dan pori-pori sel pada dindingnya makin
kecil membrane semi permeabel atau permeable sel aktif yang hanya bisa dilalui oleh pelarut
saja. Membrane semi permeabel atau membrane differensial terhadap pelarut (air dalam sel
hidup) sangat permeabel dan bersifat impermeabel terhadap substansi yang dilarutkan beberapa
membrane semipermeabel ditemukan pada semi, satu diantaranya adalah membrane plasma.
Membrane plasma dari sel, air dan gula terlarut dalam garam mineral didalam sel dan air dalam
sel tersebut tercampur. Selama pengocokan berlangsung, membrane ini permeabel terhadap
air., tetapi tidak selalu besar terhadap sel hidup, selaput permeabel mempunyai permebealitas
yang berbeda dari senyawa yang berbeda-beda dilewati molekul air, tetapi menghambat
masuknya senyawa hidup yang merusak semipermeabel.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi, yaitu: Ukuran partikel.
Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak, sehinggak kecepatan
difusi semakin tinggi. Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat kecepatan
difusi. Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan difusinya. Jarak.
Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat kecepatan difusinya. Suhu.
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan lebih cepat. Maka,
semakin cepat pula kecepatan difusinya.
Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang
lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh
pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran.
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan
meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan
konsentrasi yang lebih encer. Dalam mengambil zat-zat nutrisi yang penting dan mengeluarkan
zat-zat yang tidak diperlukan, sel melakukan berbagai jenis aktivitas, dan salah satunya adalah
difusi. Ada dua jenis difusi yang dilakukan, yaitu difusi biasa dan difusi khusus.
Terdapat tiga sifat larutan yang dapat menentukan pergerakan air pada osmosis, yaitu
hipertonik, hipotonik, dan isotonik . Suatu larutan dikatakan hipertonik jika memiliki konsentrasi
zat terlarut lebih tinggi dibandingkan larutan pembandingnya. Dalam hal ini, larutan pembanding
akan bersifat hipotonik karena memiliki konsentrasi zat terlarut lebih kecil. Larutan isotonik,
memiliki konsentrasi zat terlarut yang sama dengan larutan pembanding.
Pada praktikum kedua adalah pengamatan terhadap peristiwa plasmolisis dalam sel. Bahan
yang digunakan untuk pengamatan adalah sel epidermis dari bunga jadam (Rhoeo discolor) dan
sel dari umbi bawang merah (Alllium cepa). Sedangkan hal yang akan diamati adalah apa
perbedaan bentuk semula sel dan sel yang mengalami plasmolysis.
Dalam dasar teori disebutkan bahwa membran sitoplasma merupakan bagian yang mengatur
keluar masuknya senyawa kimia dari dan ke dalam sel. Dengan adanya membran sel,
organisme maupun mikroorganisme mampu berada pada posisi yang tepat pada lingkungan zat
kimia yang kompleks dan selalu berubah, mampu mengambil dan menahan nutrien sejumlah
yang diperlukan dan membuang produk buangannya. Membran sel juga mampu menyediakan
kemudahan biokimiawi untuk memindahkan ion-ion mineral, gula asam-asam amino, elektron,
serta metabolit lain melewati membran. Substansi-substansi dalam larutan ini melewati membran
dengan cara difusi dan transport aktif serta proses osmosis tidak spesifik.
Berdasarkan sifat permeablelitas, membran dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Impermeable, dimana air maupun zat terlarut didalamnya tidak dapat melaluinya.
b. Selektif Permeable, yaitu membran yang dapat dilalui oleh air maupun zat tertentu yang
terlarut didalamnya.
c. Semi permeable, yaitu membran yang hanya dapat dilalui oleh air tetapi tidak dapat dilalui
oleh zat terlarut, misalnya membran sitoplasma.
Untuk pengamtan tentang plasmolisis hal pertama yang dilakukan adalah membuat
preparat sederhana dari sel bawang merah dan sel epidermis bunga jadam. Pada pengamatan
sel epidermis bunga jadam, membuat sayatan tipis secara membujur pada permukaan daun
tumbuhan tersebut. Sedangkan pada sel bawang merah, tidak perlu menyayat namun
mengelupas kulit bawang merah tersebut secara tipis hingga didapat lapisan bawang merah
yang sangat tipis. Setelah itu tahap selanjutnya adalah memberi tetesan larutan glukosa pada
sel tersebut dan mendiamkan selama 10-15 menit. Tujuan Memberikan larutan gula pada sel
adalah agar konsentrasi dari dalam dan luar sel berbeda, larutan gula memiliki konsentrasi yang
lebih tinggi (hipertonik) dari pada konsentrasi didalam sel (hipotonik), lalu dibiarkan selama 10-15
menit agar dapat terlihat pengaruh dari larutan hipertonik pada larutan hipotonik atau menunggu
reaksi dari sel tersebut, karena epidermal Rhoeo discolor dan Allium cepa merupakan sel
tumbuhan yang diselubungi dinding sel, maka untuk proses eksoosmosis yang akan terjadi akan
memakan waktu yang relative lebih lama daripada sel hewan. Dimana seperti yang telah di
paparkan dalam dasar teori bahwa jika larutan yang berkonsentrasi rendah, lalu larutan tersebut
berada pada lingkungan yang konsentrasinya lebih tinggi maka akan terjadi perpindahan zat
perlarut dari dalam sel untuk menyamakan kadar cairan diluar dan didalam sel. Dalam
pengamatan ini zat yang keluar ditandai dengan berpindahnya pigmen antosianin atau zat yang
berwarna merah keunguan dari umbi lapis Allium cepa dan epidermis bawah daun Rhoeo
discolor. Pada sel bawang merah yang teah ditetesi oleh larutan glukosa terlihat lebih bening
setelah waktu 10 menit dan mengkerut. Kemudian mengamati sel tersebut di bawah mikroskop.
Pada tahap ini peristiwa yang dilihat adalah peristiwa plasmolisis, yaitu lepasnya membran
plasma sel dan keluarnya cairan dari dalam sel ke lingkungan untuk menyamakan konsentrasi
sehingga sel terlihat mengkerut. Pada sel bawang merah terjadi perubahan bentuk sel yang
amat signifikan. perbedaan yang terlihat adalah bentuk sel bawang merah tersebut lebih kecil
dari sel ukuran normal, kemudian diikuti oleh hilangnya warna merah pada sitoplasma sel
tersebut karena bergerak keluar. Peristiwa bertambah kecilnya sel bawang merah ini bisa terjadi
karena terjadi plasmolisis. Setelah membran sel lepas dari dinding selnya lalu cairan sitoplasma
keluar ke luar sel (lingkungan). Peristiwa keluarnya cairan sel tersebut disebut osmosis. Osmosis
terjadi karena caran sitoplasma di dalam sel lebih rendah konsentrasinya daripada cairan
lingkungan (larutan glukosa). Sehingga terjadi osmosis yaitu perpindahan zat dari konsentrasi
rendah ke konsentrasi tinggi. Warna merah pada bawang merah diakibatkan karena adanya
pigmen merah yang terdapat di daerah vakuola makanan. Karena terjadi plasmolisis maka
pigmen tersbut ikut keluar ke lingkungan sehingga ketika diamati warna bawang merah tersebut
memudar. Hal yang sama juga terjadi pada epidermis daun Rhoeo discolor. Pada pengamatan
pertama ini kita mengetahui bahwa larutan gula bersifat hipertonik dan mengakibatkan terjadi
plasmosis yaitu keluarnya sitoplast, pada epidermis bawah daun Rhoeo discolor yang ditandai
dengan keluarnya pigmen warna (zat terlarut didalam sel) ke lingkungan. Dengan adanya
eksoosmosis yang terjadi pada sel bawang merah maupun epidermis bawah bunga jadam
menyebabkan tekanan turgor dalam vakuola kepada membran plasma dan dingding sel karena
masuknya pelarut dari lingkungan kedalam vakuola makanan yang selanjutnya menyebabkan
plasmolisis terjadi pada sel bawang merah maupan daun bunga jadam.
Setelah proses pengamatan dengan menggunakan larutan glukosa selesai, maka
selanjutnya kedua preparat sel tersebut ditetesi dengan aquadest. Kemudian dilakukan
pengamatan di bawah mikroskop. Tujuan dari penggunaan aquadest karena aquadest
merupakan cairan dengan konsentrasi rendah (hipotonik). Di dalam modul halaman.5 disebutkan
bahwa “Plasmolisis dapat dibalikkan jika sel diletakkan di larutan hipotonik”. Preparat ini
dibiarkan selama 10-15 menit dengan lingkungan aquadest agar plasmolisis dapat dibalikkan.
Setelah 10 menit dari pengamatan tanpa mikroskop terlihat kandungan aquadest di kaca benda
berkurang. Pada saat sel bawang merah diamati di dalam mikroskop maka terlihat sel bawang
merah tersebut menggembung dan berwarna bening. Hal ini dapat terjadi karena terjadinya
peristiwa endoosmosis dimana konsentrasi zat pelarut lingkungan yang hipotonik dapat masuk
ke dalam sel dan sel terjadi turgid. Sementara pada sel epidermis Rhoeo discolor sel juga terlihat
menggembung dan berwarna bening. Jadi pada saat sel bawang merah dan epidermis bunga
jadam diberi aquadest, keduanya terjadi proses endoosmosis. Dan dapat disimpulkan bahwa
larutan aquadest bersifat hipotonik.
Sesuai dengan dasar teori yang dipaparkan bahwa, Kondisi sel yang terplasmolisis tersebut
dapat dikembalikan ke kondisi semula. Pengembalian dari kondisi terplasmolisis ke kondisi
semula ini dikenal dengan istilah deplasmolisis. Prinsip kerja dari deplasmolisis ini hampir sama
dengan plasmolisis. Tapi konsentrasi medium dibuat menjadi hipotonis sehingga yang terjadi
adalah cairan memenuhi ruang antar dinding sel dengan membran sel bergerak keluar,
sedangkan air yang berada di luar bergerak masuk ke dalam dan dapat menembus membran sel
karena membran sel mengizinkan molekul-molekul air untuk masuk ke dalam. Masuknya
molekul ari ke dalam tersebut mengakibatkan ruang sitoplasma terisi kembali dengan cairan
sehingga membran sel kembali dengan cairan sehingga akibat timbulnya tekanan turgor akibat
gaya kohesi dan adhesi air yang masuk. Akhir dari peristiwa ini adalah sel kembali ke keadaan
semula.
Pada pengamatan ketiga kita menggunakan larutan garfish (garam fisiologis, yaitu
larutan NaCl. Praktikan membuat preparat sederhana yang baru dari sayatan epidermis bawah
daun Rhoeo discolor dan umbi lapis Allium cepa untuk diamati. Kemudian diberi larutan garam
fisiologis selama 10-15 menit, setelah waktu 10 menit ditetesi larutan garfis keadan sel bersifat
normal. Hal ini terjadi karena larutan garfis bersifat isotonis sehingga konsentrasi dalam sel dan
di luar sel sama dan sel tetap normal. Larutan garam fisiologis biasa digunakan untuk
mempertahankan konsentrasi sel, karena larutan garfis mengandung Na+ dan Cl- yang
merupakan mikromolekul bermuatan kecil sehingga antara larutan dan sel tidak saling
mempengaruhi atau tetep pada keadaan konstan. Keadaan ini sesuai dengan teori yang
mengatakan bahwa larutan garam fisiologis merupakan larutan yang isotonis yaitu suatu larutan
yang mempunyai konsentrasi zat terlarut yang sama (tekanan osmotik yang sama) dengan di
dalam sel, sehingga tidak ada pergerakan air. Oleh karena tidak ada pergerakan apapun ke
dalam sel maupun ke luar sel maka ukuran dan bentuk anatomi sel ini tidak mengalami
perubahan (Campbell, 2010).
7 Penutup
7.1 Kesimpulan
a. Pengaruh faktor fisik terhadap permeabilitas membran menunjukkan semakin tinggi suhu,
semakin rusak permeabilitas membran dan larutan pada aquades semakin kuning/orange pekat.
Sedangkan pengaruh faktor kimia menunjukkan bahwa metanol lebih menghasilkan warna
kuning/orange pekat dibandingkan dengan rendaman pada aseton. Hal ini disebabkan karena
struktur kimia dan gugus OH pada metanol lebih sederhana dan mudah berikatan dengan
komponen membran sel dari pada aseton.
b. Pengaruh larutan hipertonis (konsentrasi tinggi) pada sel tumbuhan dapat menyebabkan
plasmolisis yaitu lepasnya membran sel dari dinding sel karena peristiwa eksoosmosis.
Plasmolisis dapat dibalikkan dengan menempatkan sel pada lingkungan yang hipotonis sehingga
terjadi peristiwa endoosmosis, pengaruh larutan hipotonis pada sel tumbuhan menyebabkan
cairan didalam sel berlebih dan sel akan mengembang. Larutan garfis bersifat isotonis sehingga
sel tetap pada kondisi semula, karena konsentrasi zat didalam dan dilingkungan sama dan tidak
akan terjadi pergerakan partikel dari dalam maupun luar selsel.

7.2 Saran
Untuk meminimalisis kegagalan dari hasil praktikum diharapkan asisten maupun
praktikan mengikuti prosedur yang sudah diatur dalam modul.

Daftar Pustaka
Andriyanto, Arief. 2013. Pengaruh Penambahan Ekstrak Kayu Manis Terhadap Kualitas
Sensoris, Aktivitas Antioksidan Dan Aktivitas Antibakteri Pada Telur Asin Selama Penyimpanan
Dengan Metode Penggaraman Basah. Jurnal Teknosains Pangan. ISSN: 2302-0733. Vol 2 No 2
Campbell, Reece. 2010. BIOLOGI Edisi Kedelapan Jilid 3. Jakarta : Erlangga
Ferdinand, Fiktor P. dan Moekti Ariwibowo. 2002. Praktis Belajar Biologi. Jakarta: Grafindo
Media Pratama
Gianti, Ice. 2011. Pengaruh Penambahan Gula Dan Lama Pemyimpanan Terhadap Kualitas
Fisik Susu Fermentasi. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak. ISSN : 1978 – 0303.Vol. 6, No. 1
Kementrian Perindustrian. 2011. Studi Pemanfaatan Air Bittern Sebagai Suplemen Dan
Pengawetan Produk Pangan. Jurnal Hasil Penelitian Industri. ISSN : 0215-4609. VOL. 24 No.2
Hal : 77
Lakitan, B. 2008. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Mulyati, Sri. 2010. Pembuatan Film Selulosa dari Nata de Pina. Jurnal Rekayasa Kimia dan
Lingkungan. ISSN 1412-5064. Vol. 7, No. 3, hal. 105-111
Nathania, Benita. 2012. Pengaruh Aplikasi Biourin Gajah terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.). E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika . ISSN: 2301-
6515 Vol. 1, No. 1
Sihombing, Betsy, dkk.2010. Penuntun Praktikum Biologi Umum.Jakarta : Universitas Negeri
Jakarta
Sutardi. 2009. Respon Bibit Kakao Pada Bagian Pangkal, Tengah Dan Pucuk Terhadap
Pemupukan Majemuk. Jurnal Agrovigor. ISSN 1979 577. Vol.2.No.2 Hal : 106
Suyitno. 2003. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta : Universitas Negeri
Yogyakarta
Syafi’i, Imam.2013. Difusi & Osmosis.
http://www.unhas.ac.id/perpustakaan/data/lsyafie/3%20A.%20Difusi%20dan%20Osmosis.pdf
(Diakses pada 22 september 2014)
Taiz, Zeiger. 2002. Plant Physiology 3th Edition. Sunderland : Sinauer Associates
Trihandaru S. 2012. Pemodelan dan Pengukuran Difusi Larutan Gula dengan Lintasan Cahaya
Laser. Yogyakarta : Prosiding Pertemuan Ilmiah XXVI HFI Jateng & DIY, Purworejo 14 April 201.
ISSN : 0853-0823 : 1
Uwie. S. 2010. Difusi Osmosis dan Plasmolisis. http://www.e-dukasi.net. Diakses pada tanggal
25 September 2014 Pukul 10.00 WIB.
Zulfri, Muhammad. 2012. Kaji Eksperimental Sistem Pengering Hibrid Energi Surya-Biomassa
Untuk Pengering Ikan. Jurnal Teknik Mesin. ISSN 2302-0245. Volume 1,No. 1