Anda di halaman 1dari 127

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuhan Kebidanan Komprehensif

1. Pengertian
a. Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah prosedur tindakan yang dilakukan oleh
bidan sesuai dengan wewenang dalam lingkup praktiknya berdasarkan
ilmu dan kiat kebidanan, dengan memperhatikan pengaruh-pengaruh
social, budaya, psikologis, emosional, spiritual, fisik, etika dan kode etik
serta hubungan interpersonal dan hak dalam mengambil keputusan
dengan prinsip kemitraan dengan perempuan dan mengutamakan
keamanan ibu, janin/bayi dan menolong serta kepuasan perempuan dan
keluarganya. Asuhan kebidanan diberikan dengan memperhatikan
prinsip-prinsip bela rasa, kompetensi, suara hati, saling percaya dan
komitmen untuk memelihara serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan
janin/bayinya. (Tresnawati, 2012:2)
b. Asuhan kebidanan komprehensif
Asuhan kebidanan komprehensif adalah suatu pemeriksaan yang
dilakukan secara lengkap dengan adanya pemeriksaan laboratorium
sederhana dan konseling.
Asuhan kebidanan komprehensif mencakup empat kegiatan
pemeriksaan berkesinambungan diantaranya adalah asuhan kebidanan
kehamilan (antenatal care), asuhan kebidanan persalinan (intranatal
care), asuhan kebidanan masa nifas (postnatal care), dan asuhan bayi
baru lahir (neonatal care). (Varney, 2006:1)

10
11

2. Tujuan asuhan kebidanan


Tujuan asuhan kebidanan untuk menyelamatkan ibu dan bayi,
(mengurangi kesakitan dan kematian). Asuhan kebidanan berfokus pada:
pencegahan, promosi kesehatan yang bersifat holistik di berikan dengan cara
yang kreatif dan fleksibel, suportif, peduli, bimbingan, monitor dan
pendidikan berpusat pada perempuan, asuhan berkesinambungan, sesuai
keinginan dan tidak otoriter serta menghormati pilihan perempuan.
a. Masalah kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah
dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan yang
profesional dan interaksi sosial serta asas penelitian dan pengembangan
yang dapat melandasi manajemen secara terpadu
b. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan
kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan
dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat. (Rury, 2012:51-52)
3. Filosofi asuhan kebidanan
Filosofi asuhan kebidanan menggambarkan keyakinan yang di anut
oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberikan
asuhan kebidanan. Filosofi asuhan kebidanan menjelaskan beberapa
keyakinan yang akan mewarnai asuhan. Keyakinan tersebut adalah:
a. Profesi kebidanan secara nasional diakui dalam undang-undang maupun
peraturan pemerintah Indonesia yang merupakan salah satu tenaga
pelayanan kesehatan professional dan secara internasional diakui oleh
International Confederation of Midwives (ICM), International
Federation of International Gynecologist and Obstetrician (FIGO) dan
WHO.
b. Tugas, tanggung jawab dan kewenangan profesi bidan yang telah diatur
dalam beberapa peraturan Keputusan Menteri Kesehatan ditunjukkan
dalam rangka membantu program pemerintah bidang kesehatan
khususnya ikut dalam rangka menurunkan angka kematian ibu (AKI),
12

angka kematian perinatal (AKP), meningkatkan pelayanan kesehatan


ibu dan anak (KIA), pelayanan ibu hamil, melahirkan, nifas yang
nyaman, pelayanan keluarga berencana, dan pelayanan reproduksi
lainnya.
c. Bidan berkeyakinan bahwa setiap individu berhak memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman dan memuaskan sesuai dengan
kebutuhan manusia dan perbedaan budaya. Setiap individu berhak untuk
menentukan nasib sendiri, mendapatkan informasi yang cukup dan
untuk berperan disegala aspek pemaliharaan kesehatannya.
d. Bidan meyakini bahwa menstruasi, kehamilan, persalinan, dan
menopause adalah proses fisiologi dan hanya sebagian, kecil yang
membutuhkan intervensi medic.
e. Persalinan adalah suatu proses yang alami, peristiwa normal, namun
apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal.
f. Setiap individu berhak untuk dilahirkan secara sehat, untuk itu setiap
wanita usia subur, ibu hamil, ibu melahirkan, dan bayinya berhak
mendapatkan pelayanan yang berkualitas.
g. Pengalaman melahirkan anak merupakan tugas perkembangan keluarga
yang membutuhkan persiapan mulai anak menginjak masa remaja.
h. Kesehatan ibu priode reproduksi dipengaruhi oleh prilaku ibu,
lingkungan dan pelayanan kesehatan.
i. Intervensi kebidanan bersifat komprehensif mencakup upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitative ditujukan kepada individu, keluarga
dan masyarakat.
j. Manajemen kebidanan diselenggarakan atas dasar pemecahan masalah
dalam rangka meningkatkan cukupan pelayanan kebidanan yang
professional dan interaksi social atas azas penelitian dan pengembangan
yang dapat melandasi manajeman secara terpadu.
13

k. Proses kependidikan kebidanan sebagai upaya pengembangan


kepribadian berlangsung sepanjang hidup manusia perlu dikembangkan
dan diupayakan untuk berbagai strata masyarakat. (Estiwidani,2011:3-5)
4. Prinsip Asuhan Kebidanan
a. Memahami bahwa kelahiran anak merupakan proses alamiah dan
fisiologis
b. Menggunakan cara yang sederhana, tidak melakukan intervensi tanpa
adanya indikasi sebelum berpaling ke teknologi
c. Aman, berdasarkan fakta, dan member kontribusi pada keselamatan jiwa
ibu
d. Terpusat pada ibu, bukan terpusat pada pemberi asuhan
kesehatan/lembaga (sayang ibu)
e. Menjaga privasi serta kerahasiaan ibu
f. Membantu ibu merasa aman, nyaman dan didukung secara emosional
g. Memastikan bahwa kaum ibu mendapat informasi, penjelasan, dan
konseling yang cukup
h. Mendorong ibu dan keluarga agar aktif dalam membuat keputusan
setelah mendapat penjelasan mengenai asuhan yang akan mereka
dapatkan
i. Menghormati praktik adat dan keyakinan agama mereka
j. Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan social
ibu/keluarganya selama masa kelahiran anak
k. Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit. (Atik,2008:39)
5. Model Asuhan Kebidanan
Ada dua jenis model yang dikenal dalam praktik kebidanan yaitu
model medical (medical model) dan model sehat untuk semua (Health for
all). Keduanya mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pelayanan
kebidanan.
14

a. Model medical (medical model)


Model medical adalah sebuah model yang disusun untuk
membantu masyarakat dalam memahami konsep sehat dan sakit.
Didalamnya mengandung makna bahwa kesehatan merupakan dasar
enting dalam hidup seseorang, serta bagaimana mencegah terjadinya
penyakit dan cara mengatasinya.
Ada tiga elemen yang merupakan simpulan dari model medical, yaitu:
1) Pengendalian cara hidup yang alami
2) Mekanisme kehidupan manusia
3) Pemahaman bahwa penyakit merupakan hal yang tidak terpisahkan
dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial seseorang.
Model medical biasanya digunakan dalam penyembuhan atau
terapi secara spesifik kepada seseorang baik masalah fisik maupun
psikologis.
b. Kesehatan untuk semua (Health For All/HFA)
Model kesehatan untuk semua (KESUMA) dikemukakan oleh
WHO sejak tahun 1978 dan kemudian tahun 1981 secara perlahan juga
diperuntukkan dalam pelayanan kebidanan yang berfokus pada
perawatan wanita, keluarga dan masyarakat. Jika model medical
berfokus pada individu, KESUMA member focus pada asuhan kepada
masyarakat.
Deklarasi model KESUMA adalah focus dan titik berat dalam
pencapaian tujuan adalah dengan menggunakan primary health care
(PHC). Model KESUMA didalamnya terkandung Lima konsep PHC
adalah sebagai berikut:
1) Pemeratan upaya kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat
2) Pelayanan kesehatan berupa promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative
3) Pelayanan kesehatan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna
15

4) Optimalisasi peran serta masyarakat


5) Kolaborasi lintas sektoral
Konsep dasar di atas diaplikasikan ke dalam 8 elemen PHC sebagai
berikut:
a) Pendidikan kesehatan tentang masalah-masalah kesehatan
termasuk metode pencegahan dan penanganannya
b) Ketersediaan makanan bergizi
c) Ketersediaan air dan lingkungan bersih
d) Kesehatan ibu dan anak termasuk di dalamnya keluarga
berencana (KB)
e) Program imunisasi
f) Pencegahan dan penanganan penyakit endemic
g) Penanganan penyakit dan kecacatan
h) Penggunaan obat-obatan esensial. (Estiwidani, 2011:112-113)

B. Masa Kehamilan

1. Pengertian
Kehamilan adalah hasil dari sperma dan sel telur dalam prosesnya
perjalanan sperma untuk menemui sel telur (ovum) betul-betul penuh
perjuangan. Dari sekitar 20-40 juta yang dikeluarkan hanya sedikit yang
berhasil mencapai sel telur. Dari jumlah yang sudah sedikit itu cuma 1
sperma saja yang bisa membuahi sel telur. (Walyani,2015: ).
2. Perubahan yang terjadi pada masa kehamilan trimester III
a. System reproduksi
Uterus pada trimester III, isthimus lebih nyata menjadi bagian dari
korpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah rahim (SBR).
Kontraksi otot-otot bagian atas uterus menjadikan SBR lebih lebar dan
16

tipis, tampak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih tebal
segmen bawah yang tipis.
b. System Perkemihan
Keluhan sering kencing akan timbul lagi karena pada akhir
kehamilan kepala janin mulai turun kepintu atas panggul dan kandung
kemih akan mulai terkena kembali. Selain itu juga terjadi hemodilusi
yang menyebabkan metabolisme air menjadi lancar.
Pelvis ginjal dan ureter lebih berdilatasi pada pelvis kiri akibat
pergeseran uterus yang berat ke kanan akibat adanya kolon rektosigmoid
di sebelah kiri. Perubahan ini membuat pelvis dan ureter menampung
urin lebih banyak dan memperlambat laju aliran urin.
c. System musculoskeletal
Selama trimester III, otot rektus abdominalis dapat memisah dapat
menyebabkan isi perut menonjol digaris tengah. Umbilicus menjadi
lebih datar atau menonjol. Setelah melahirkan, tonus otot secara
bertahap kembali tetapi, pemisah otot (diastase recti) menetap. Di lain
pihak, sendi pelvis pada saat kehamilan sedikit dapat bergerak. Postur
tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan karena janin
membesar dalam abdomen. Untuk menkonpensasikan penambahan berat
ini, bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang belakang lebih
melengkung, sendi tulang belakan lebih lentur, dapat menyebabkan
nyeri tulang punggung pada wanita. Payudara yang besar dan posisi
bahu yang bungkuk pada saat berdiri akan semakin membuat kurva
punggung dan lumbal menonjol. Pergerakan menjadi lebih sulit. Kram
otot-otot tungkai dan kaki merupakan masalah umum selama kehamilan.
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi berhubungan dengan metabolisme
otot atau postur tidak seimbang. Wanita muda yang cukup berotot dapat
mentoleransi perubahan ini tanpa keluhan. Akan tetapi wanita yang tua
17

dapat mengalami gangguan punggung atau nyeri punggung yang cukup


berat selama kehamilan.
d. System kardiovaskuler
Aliran darah meningkat dengan cepat sesuai dengan pembesaran
uterus, walaupun aliran darah uterus meningkat, ukuran konseptus
meningkat lebih cepat. Akibatnya oksigen diambil dari darah uterus
selama masa kehamilan lanjut. Pada kehamilan cukup bulan, 1/6 volume
darah ibu berada dalam system peredaran darah uterus dan posisi
maternal mempengaruhi aliran darah.
e. Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT)
Terjadi kenaikan berat badan sekitar 5,5 kg penambahan berat
badan dari mulai awal kehamilan sampai akhir kehamilan sekitar 11-12
kg.
f. System pernafasan
Pada umur kehamilan 32 minggu keatas, uterus tertekan terus
yang membesar kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa
bergerak dan mengakibatkan kebanyakan wanita hamil mengalami
kesulitan bernafas. (Kuswanti, 2014: 90-92)
3. Kebutuhan Ibu Hamil Trimester III
a. Kebutuhan Fisik Ibu Hamil
1) Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia
termasuk ibu hamil. Berbagai gangguan pernafasan bisa terjadi saat
hamil sehingga akan mengganggu pemenuhan kebutuhan oksigen
pada ibu yang akan berpengaruh pada bayi yang dikandung. Untuk
mencegah hal tersebut diatas dan untuk memenuhi kebutuhan
oksigen maka ibu perlu:
a) Latihan nafas melalui senam hamil
b) Tidur dengan bantal yang lebih tinggi
18

c) Makan yang tidak terlalu banyak


d) Kurangi atau hentikan merokok
e) Konsul ke dokter bila ada kelainan atau gangguan pernapasan
seperti asma dan lain-lain
Posisi miring kiri dianjurkan untuk meningkatkan perfusi
uterus dan oksigenasi fetoplasma dengan mengurangi tekanan
pada vena asenden (hipotensi supine).
2) Nutrisi
Pada saat hamil ibu harus makan makanan yang mengandung
nilai gizi bermutu tinggi meskipun tidak berarti makanan yang
mahal. Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori
perhari, ibu hamil seharusnya mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein, zat besi dan minum cukup cairan (menu
seimbang).
a) Kalori
Pada trimester ketiga, janin mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat pesat ini akan terjadi pada 20
minggu terakhir kehamilan.
b) Protein
Protein sangat dibutuhkan untuk perkembangan buah
kehamilan yaitu untuk pertumbuhan janin, uterus, plasenta,
selain itu ibu penting untuk pertumbuhan payudara dan
kenaikan sirkulasi ibu (protein plasma, hemoglobin, dan lain-
lain).
Protein yang dianjurkan adalah protein hewani seperti
daging, susu, telur, keju dan ikan karena mengandung
komposisi asam amino yang lengkap.
c) Mineral
19

Pada prinsipnya semua mineral dapat terpenuhi dengan


makanan-makanan sehari-hari yaitu buah-buahan, sayur-
saturan dan susu.
d) Vitamin
Vitamin sebenarnya telah terpenuhi dengan makanan
sayur dan buah-buahan, tapi dapat pula diberikan ekstra
vitamin. Pemberian asam folat terbukti mencegah kecacatan
pada bayi.
3) Personal hygiene
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan
sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk
mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama
lipatan kulit (ketiak, buah dada, daerah genitalia) dengan cara
dibersihkan dengan air dan dikeringkan.
Kebersihan gigi dan mulut, perlu mendapat perhatian karena
seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pada ibu yang
kekurangan kalsium. Rasa mual selama masa hamil dapat
mengakibatkan perburukan hygiene mulut dan dapat menimbulkan
karies gigi.
4) Pakaian
Pemakaian pakaian dan kelengkapannya yang kurang tepat
akan mengakibatkan beberapa ketidaknyamanan yang akan
mengganggu fisik dan psikologi ibu. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pakaian ibu hamil adalah memenuhi criteria
berikut:
a) Pakaian harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat
pada daerah perut
b) Bahan pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat
c) Memakai bra yang menyokong payudara
20

d) Memakai sepatu dengan hak yang rendah


e) Pakaian dalam yang selalu bersih. (Kuswanti, 2014:120)

5) Eliminasi (BAK/BAB)
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kemih. Konstipasi
terjadi karena adanya pengaruh hormon progesterone yang
mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus.
Sering buang air kecil merupakan keluhan yang umum dirasakan
oleh ibu hamil, terutama pada trimester I dan III, sedangkan pada
trimester III terjadi pembesaran janin yang juga menyebabkan
desakan kantong kemih. Tindakan mengurangi asupan cairan untuk
mengurangi keluhan ini sangat tidak dianjurkan karena akan
menyebabkan dehidrasi.
6) Seksual
Hubungan seksual selama kehamilan tidak dilarang selama
tidak ada riwayat penyakit seperti:
a) Sering abortus dan kelahiran premature
b) Perdarahan pervaginam
c) Koitus harus dilakukan dengan hati-hati terutama pada minggu
terakhir kehamilan
d) Bila ketuban sudah pecah, koitus sudah dilarang karena dapat
menyebabkan infeksi janin intrauteri
7) Mobilisasi, Body Mekanik
Perubahan tubuh yang paling jelas adalah tulang punggung
bertambah lordosis karena tumpuan tubuh bergeser lebih belakang
dibandingkan sikap tubuh ketika tidak hamil. Keluhan yang sering
muncul dari perubahan ini adalah rasa pegal di punggung dan kram
21

kaki pada malam hari. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut:
a) Memakai sepatu dengan hak yang rendah atau tanpa hak dan
jangan terlalu sempit
b) Posisi tubuh saat mengangkat beban, yaitu dalam keadaan
tegak dan pastikan beban terfokus pada lengan
c) Tidur dengan posisi kaki ditinggikan
d) Duduk dengan posisi punggung tegak
e) Hindari duduk atau berdiri terlalu lama (ganti posisi secara
bergantian untuk mengurangi ketegangan otot).
8) Exercise/senam hamil
Senam hamil dimulai pada umur kehamilan setelah 22
minggu. Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih
otot-otot sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam persalinan
normal serta mengimbangi perubahan titik berat tubuh. Senam
hamil ditujukan bagi ibu hamil tanpa kelainan atau tidak terdapat
penyakit yang menyertai penyakit kehamilan, yaitu penyakit
jantung, ginjal, dan penyakit dalam kehamilan (hamil dengan
perdarahan, kelainan letak dan kehamilan yang disertai dengan
anemia).
Syarat senam hamil:
a) Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh
dokter atau bidan
b) Latihan dilakukan setelah 22 minggu
c) Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin
d) Sebaiknya latihan di rumah sakit atau klinik bersalin dibawah
pimpinan instruktur senam hamil
9) Istirahat
22

Dengan adanya perubahan fisik pada ibu hamil, salah satunya


beban berat pada perut sehingga terjadi perubahan sikap tubuh,
tidak jarang ibu akan mengalami kelelahan, oleh karena itu istirahat
dan tidur sangat penting untuk ibu hamil. Posisi tidur yang
dianjurkan pada ibu hamil adalah miring ke kiri, kaki kiri lurus,
kaki kanan sedikit menekuk dan diganjal dengan bantal dan untuk
mengurangi rasa nyeri pada perut, ganjal dengan bantal pada perut
bawah sebelah kiri.
10) Imunisasi
Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk
mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan
janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah tetanus toksoid (TT)
yang dapat mencegah penyakit tetanus. Imunisasi TT pada ibu
hamil harus terlebih dahulu ditentukan status kekebalan/
imunisasinya. Ibu hamil yang belum pernah mendapatkan imunisasi
maka statusnya adalah T0, jika telah mendapatkan 2 dosis dengan
interval minimal 4 minggu atau pada masa balitanya telah
memperoleh imunisasi DPT sampai 3 kali maka statusnya adalah
T2, bila telah mendapat dosis TT yang ke 3 (interval minimal dari
dosis ke2) maka statusnya T3, status T4 didapat bila telah
mendapatkan 4 dosis (interval minimal 1 tahun dari dosis ke3) dan
status T5 didapatkan bila 5 dosis telah didapat (interval minimal 1
tahun dari TT ke 4).
Selama kehamilan bila ibu hamil statusnya T0 maka
hendaknya mendapatkan minimal 2 dosis (TT1 dan TT2 dengan
interval 4 minggu dan bila memungkinkan untuk mendapatkan TT3
sesudah 6 bulan berikutnya). Ibu hamil dengan status T1 diharapkan
mendapatkan suntikan TT2 dan bila memungkinkan juga diberikan
TT3 dengan interval 6 bulan. (bukan 4 minggu/1 bulan). Bagi ibu
23

hamil yang status T2 maka bisa diberikan satu kali suntikan bila
interval suntikan sebelumnya lebih dari 6 bulan. Bila statusnya T3
maka suntikan selama hamil cukup sekali dengan jarak minimal 1
tahun dari suntikan sebelumnya. Ibu hamil dengan status T4 pun
dapat diberikan sekali suntikan (TT5) bila suntikan terakhir telah
lebih dari setahun dan bagi ibu hamil dengan status T5 tidak perlu
disuntik TT lagi karena telah mendapatkan kekebalan seumur hidup
(25 tahun).
Walaupun tidak hamil maka bila wanita usia subur belum
mencapai status T5 diharapkan mendapatkan dosis TT hingga
tercapai status T5 dengan interval yang ditentukan. Hal ini penting
untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang akan dilahirkan
dan keuntungan bagi wanita untuk mendapatkan kekebalan aktif
terhadap tetanus long life card (LLD). (Kuswanti, 2014:123)
11) Traveling
Meskipun dalam keadaan hamil, ibu masih membutuhkan
reaksi untuk menyegarkan pikiran dan perasaan, misalnya dengan
mengunjungi objek wisata atau pergi keluar kota.
12) Persiapan laktasi
Persiapan menyusui pada masa kehamilan merupakan hal
yang penting karena dengan persiapan dini ibu akan lebih baik dan
siap untuk menyusui bayinya. Untuk itu ibu hamil masuk dalam
kelas “bimbimgan persiapan menyusui” (BPM). Pelayanan pada
BPM terdiri dari penyuluhan tentang keunggulan ASI , manfaat
rawat gabung, perawatan putting susu, perawatan bayi, gizi ibu
hamil, menyusui, dan keluarga berencana.
a) Persiapan psikologis
Langkah-langkah yang harus diambil dalam
mempersiapkan ibu secara kejiwaan untuk menyusui adalah
24

setiap ibu untuk percaya dan yakin bahwa ibu akan ibu sukses
dalam menyusui bayinya, meyakinkan ibu akan keuntungan
ASI dan kerugian susu buatan/formula, memecahkan masalah
yang timbul dalam menyusui, mengikutsertakan suami dan
keluarga lain yang berperan, memberikan kesempatan pada ibu
untuk bertanya.
b) Pemeriksaan payudara
Pemeriksaan payudara bertujuan untuk mengetahui lebih
dini adanya kelainan, sehingga diharapkan dapat dikoreksi
sebelum persalinan.
c) Pemeriksaan putting susu
Untuk menunjang keberhasilan menyusui maka pada saat
kehamilan putting ibu perlu diperiksa kelenturannya dengan
cara :
(1) Sebelum dipegang periksa dulu bentuk putting susu
(2) Cubit areola disisi putting dengan ibu jari dan telunjuk
(3) Dengan perlahan putting susu dan areola di tarik, untuk
membentuk “dot”, bila putting susu mudah ditarik, berarti
lentur
13) Persiapan persalinan dan kelahiran bayi
Beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk persalinan adalah
sebagai berikut :
a) Biaya dan penentuan tempat serta penolang persalinan.
b) Anggota keluaga yang dijadikan sebgai pengambil keputusan
jika terjadi suatu komplikasi yang membutuhkan rujukan.
c) Baju ubu dan bayi beserta perlengkapan lainnya.
d) Surat-surat fasilitas kesehatan (misalnya ASKES, dll)
e) Pembagian peran ketka ibu berada di RS.
25

Selain beberapa hal diatas, yang tak kalah penting yang


dipersiapkan dari ibu adalah pemahaman akan tanda-tanda pasti
persalinan kepada ibu ketika kunjungan ANC trimester III yang
meliputi hal-hal sebagai berikut.
a) Rasa sakit atau melus diperut dan menjalar keperut bagian
bawah sampai kepinggang bagian belakang yang disebut
sebagai kontraksi. Kontraksi ini terjadi secara teratur dan
semakin lama semakin sering dengan intensitas yang tinggi
Minimal 3 kali dalam 10 menit dengan durasi 30-40 detik.
b) Adanya pengeluaran pervaginam berupa secret yang berwarnah
merah muda disertai lendir.
c) Kadang dijumpai air ketuban yang terjadi secara spontan
(selaput ketuban pecah) dengan ciri-ciri adanya pengeluaran air
ketuban seketika dalam jumlah banyak atau keluarnya air
ketuban sedikit-sedikit tetapi dalam waktu yang lama.
14) Pemantauan kesejahteraan janin
Salah satu indikator kesejahteraan janin yang dapat dipantau
sendiri oleh ibu adalah gerakan dalam 24 jam. Gerakan janin dalam
24 jam minimal 10 kali. Gerakan ini dirasakan dan dihitung sendiri
oleh ibu yang dikenal dengan menghitung ”gerakan sepuluh”.
15) Ketidaknyamanan dan cara mengatasinya
Beberapa ketidaknyamanan dan cara mengatasinya
a) Sering buang air kecil (trimester I dan III)
Cara mengatasi:
(1) Penjelasan mengenai sebab terjadinya.
(2) Kosongkan saat ada dorongan untuk kencing.
(3) Perbanyak minum pada siang hari.
(4) Jangan kurangi minum untuk mengurangi nokturia, kecuali
jika nokturia sangat menganggu tidur di malam hari.
26

(5) Batasi minum kopi, teh, dan soda.


(6) Jelaskan tentang bahaya infeksi saluran kemih dengan
menjaga posisi tidur, yaitu dengan berbaring miring ke kiri
dan kaki ditinggikan untuk mecegah deurisis.
b) Hemoroid (timbul pada trimester II dan III)
Cara menagtasi:
(1) Hindari konstipasi.
(2) Makan makann yang berserat dan banyak minum.
(3) Gunakan kompres es atau air hangat.
(4) Dengan perlahan masukkan kembali anus setiap kali
selesai BAB.
c) Keputihan (terjadi trimester I, II dan III)
(1) Tingkatkan kebersihan dengan mandi tiap hari.
(2) Memakai pakain dalam dari bahan katun dan mudah
menyerap.
(3) Tingkatkan daya tahan tubuh dengan makan buah dan
sayur.
d) Keringat bertambah secara perlahan terus meningkat sampai
akhir kehamilan.
Cara mengatasi:
(1) Pakailah pakaian yang tipis dan longgar.
(2) Tingkatkan asuhan cairan.
(3) Mandi secara teratur
e) Sembelit (trimester II dan III)
Cara mengatasi:
(1) Tingkatkan diet asupan cairan.
(2) Buah prem atau jus prem.
(3) Minum cairan dingin atau hangat, terutama pada saat perut
kosong.
27

(4) Istirahat cukup.


(5) Senam hamil.
(6) Membiasakan buang air besar secara teratur.
(7) Buang air besar segera setelah ada dorongan
f) Napas sesak (trimester II dan III)
Cara mengatasi:
(1) Jelaskan penyebab fisiologi.
(2) Dorong agar secara sengaja mengatur laju dan dalamnya
pernafasan pada kecepatan normal yang terjadi.
(3) Merentangkan tangan diatas kepala serta menarik nafas
panjang.
(4) Mendorong postur tubuh yang baik, melakukan pernafasan
intercostal.
g) Nyeri ligamentum rotundum (trimester II dan III)
Cara mengatasi:
(1) Berikan penjelasan mengenai penyebab nyeri.
(2) Tekuk lutut kearah abdomen.
(3) Mandi air hangat.
(4) Gunakan bantalan pemanas pada area yang terasa sakit
hanya jika tidak terdapat kontra indikasi.
(5) Gunakan sebuah bantal untuk menopang uterus dan bantal
lainnya letakkan diantara lutut sewaktu dalam posisi
berbaring miring.
h) Panas perut ( mulai bertambah sejak trimester II dan bertambah
semakin lamanya kehamilan, hilang pada persalinan )
Cara mengatasi:
(1) Makan sedikit-sedikit tapi sering.
(2) Hindari makan berlemak dan berbumbu tajam.
(3) Hindari rokok, asap rokok, alkohol dan cokelat.
28

(4) Hindari berbaring setelah makan.


(5) Hindari minum air putih saat makan.
(6) Kunyah permen karet.
(7) Tidur dengan kaki ditinggikan.
i) Perut kembung ( trimester II dan III )
Cara mengatasi:
(1) Hindari makan yang mengandung gas.
(2) Mengunyah makanan secara sempurna.
(3) Lakukan secara teratur.
(4) Pertahankan saat buang air besar yang teratur.
j) Pusing/singkop ( trimester II dan III )
Cara mengatasi:
(1) Bangun secara perlahan dari posisi istirahat.
(2) Hindari berdiri terlalu lama dalam lingkungan yang hangat
dan sesak.
(3) Hindari berbaring dalam posisi terlentang.
k) Sakit punggung atas dan bawah ( trimester II dan III )
Cara mengatasi:
(a) Gunakan posisi tubuh yang baik.
(b) Gunakan bra yang menopang dengan ukuran yang tepat.
(c) Gunakan kasur yang keras.
(d) Gunakan bantal ketika tidur untuk meluruskan punggung.
l) Parises pada kaki ( trimestar II dan III )
Cara mengatasi:
(1) Tinggikan kaki sewaktu berbaring.
(2) Jaga agar kaki tidak bersilangan.
(3) Hindari berdiri atau duduk terlalu lama.
(4) Senam untuk melancarkan peredaran darah.
(5) Hindari pakaian atau korset yang ketat
29

b. Kebutuhan Psikologis Ibu Hamil


1) Support keluarga
Kehamilan melibatkan seluruh angggota keluarga. Karena
konsepsi merupakan awal, bukan saja bagi janin yang sedang
berkembang, tetapi juga bagi keluarga, yakni dengan hadirnya
seorang anggota keluarga baru dan terjadinya perubahan hubungan
dalam keluarga, maka setiap anggota keluarga harus beradaptasi
terhadap kehamilan dan menginterpretasikannya berdasarkan
hubungan masing-masing.
Hubungan antara wanita dan ibunya terbukti signifikan dalam
adaptasi terhadap kehamilan dan menjadi ibu. Keberadaan ibu
disamping anak perempuannya selama masa kanak-kanak.
2) Support dari tenaga kesehatan
a) Memberikan penjelasan bahwa yang dirasakan oleh ibu adalah
normal.
b) Menenangkan ibu.
c) Membicarakan kembali dengan ibu bagaimana tanda-tanda
persalinan yang sebenarnya.
d) Meyakinkan bahwa anda akan selalu berada bersama ibu untuk
membantu melahirkan bayinya.
3) Rasa aman dan nyaman selama kehamilan
Untuk menciptakan rasa nyaman dapat ditempuh dengan
senam untuk memperkuat otot-otot, mengatur posisi duduk untuk
mengatasi nyeri punggung akibat janin, mengatur berbagai sikap
tubuh untuk meredakan nyeri dan pegal, melatih sikap santai untuk
menenangkan pikiran dan menenangkan tubuh, melakukan relaksasi
sentuhan atau teknik pemijatan.
4) Persiapan Menjadi Orang Tua
30

Persiapan menjadi orang tua sangat penting karena setelah


bayi lahir akan banyak perubahan peran yang terjadi, mulai dari ibu,
ayah dan keluarga. Bagi pasangan yang baru pertama mempunyai
anak, persiapan dapat dilakukan dengan banyak berkonsultasi
dengan oranag yang mampu untuk membagi pengalamannya dan
memberikan nasehat mengenai persiapan menjadi orang tua
5) Persiapan sibling
Sibling Rivalry adalah rasa persaingan diantara saudara
kandung akibat kelahiran anak berikutnya. Biasanya terjadi pada
anak usia 2-3 tahun. Rivalry biasanya ditunjukkan dengan
penolakan terhadap kelahiran adiknya, menangis, menarik diri dari
lingkungannya, menjauh dari ibunya atau melakukan kekerasan
terhadap adiknya. Kehadiran seorang adik yang baru dapat
merupakan krisis utama bagi seorang anak.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah
sibling rivalry adalah:
a) Menceritakan mengenai calon adik yang disesuaikan dengan
usia dan kemampuannya untuk memahami, tetapi tidak pada
kehamilan muda karena akan cepat bosan.
b) Jangan sampai dia mengetahui tentang calon adiknya dari
orang lain.
c) Gerakan dia merasakan gerakan janin adiknya.
d) Menjelaskan pada anak tentang posisi (meskipun ada adiknya,
ia tetap disayangi oleh ayah ibunya).
e) Melibatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adiknya.
f) Mengajarkan untuk berkomunikasi dengan bayi sejak masih
dalam kandungan.
g) Ajarkan anak untuk melihat benda-benda yang berhubungan
dengan kelahiran bayi. (Kuswanti, 2014:135-138)
31

4. Keadaan Patologis yang biasa terjadi pada kehamilan trimester III


Tanda – tanda bahaya yang perlu diperhatikan dan diantisipasi dalam
kehamilan lanjut, adalah: Jika bidan menemukan suatu tanda bahaya ini,
maka tindakan selanjutnya adalah melaksanakan semua kemungkinan untuk
membuat suatu assessment/diagnosis dan membuat rencana penatalaksanaan
yang sesuai.
a. Perdarahan pervaginam
Batasan: Perdarahan antepartum/perdarahan pada kehamilan lanjut
adalah perdarahan pada trimester terakhir dalam kehamilan sampai bayi
dilahirkan.
b. Jenis – jenis perdarahan antepartum
1) Plasenta previa
a) Gejala – gejala
(1) Gejala yang terpenting adalah perdarahan tanpa nyeri,
biasa terjadi secara tiba – tiba dan kapan saja.
(2) Bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak
pada bagian bawah rahim sehingga bagian terendah tidak
dapat mendekati pintu atas panggul.
(3) Pada plasenta previa, ukuran panjang rahim berukuran
maka pada plasenta previa lebih sering disertai kelainan
letak.
b) Deteksi dini
(1) Pengumpulan data
(2) Tanyakan pada ibu tentang karakteristik perdarahannya,
kapan mulai, seberapa banyak, apa warnanya, adakah
gumpalan dan lain – lain.
(3) Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan
berulang.
32

c) Pemeriksaan fisik
(1) Periksa TD, suhu, nadi, dan DJJ.
(2) Jangan melakukan pemeriksaan dalam dan pemasangan
tampon, karena hanya akan menimbulkan perdarahan yang
berbahaya dan menambah kemungkinan infeksi.
(3) Lakukan pemeriksaan luar (eksternal), rasakan apakah
perut bagian bawah lembut pada perabaan.
(4) Pemeriksaan inspekulo dilakukan secara hati –hati, dapat
menentukan sumber perdarahan berasal dari kanalis
servikalis atau sumber lain seperti varices yang pecah, dan
kelainan serviks (polip, erosi Ca)
d) Pemeriksaan USG
(1) Diagnosis plasenta previa dapat ditegakkan dengan
pemeriksaan ultrasonografi (USG).
2) Solusio plasenta (Abruptio Plasenta)
Adalah lepasnya plasenta sebelum waktunya, secara normal
plasenta terlepas setelah anak lahir.
a) Tanda dan gejala
(1) Darah dari tempat pelepasan keluar dari serviks dan
terjadilah perdarahan
(2) Kadang-kadang darah tidak keluar, terkumpul di belakang
plasenta (perdarahan tersembunyi/perdarahan kedalam)
(3) Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi
menimbulkan tanda yang lebih khas (rahim keras seperti
papan) karena seluruh perdarahan tertahan didalam
(4) Perdarahan disertai nyeri, juga di luar his karena isi rahim
(5) Nyeri abdomen pada saat dipegang
(6) Palpasi sulit dilakukan
(7) Fundus uteri makin lama makin naik
33

(8) Bunyi jantung biasanya tidak ada


b) Deteksi dini
Pengumpulan data
(1) Tanyakan pada ibu tentang karakteristik perdarahannya.
(2) Tanyakan pada ibu apakah ia merasakan nyeri/sakit ketika
mengalami perdarahan tersebut.
3) Gangguan pembekuan darah
Koagulopati dapat menjadi penyebab dan akibat perdarahan
yang hebat.
4) Sakit kepala yang hebat
a) Batasan
Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah serius
adalah sakit kepala yang menetap dan tidak hilang dengan
beristirahat. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah
gejala dalam preeklamsia
b) Deteksi dini
Pengumpulan data
Tanyakan pada ibu apakah dia mengalami edema pada
muka/tangan atau masalah visual
c) Pemeriksaan
(1) Periksa TD, protein urine, refleks edema/bengkak
(2) Periksa suhu, jika tinggi, pikirkan untuk mengetahui
adanya parasit malaria
5) Penglihatan kabur
a) Batasan

Masalah: wanita hamil mengeluh penglihatan yang kabur.


karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat
34

berubah dalam kehamilan. Perubahan ringan (minor) adalah


normal
b) Tanda dan gejala
(1) Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang
mengancam adalah perubahan visual yang mendadak.
(2) Perubahan penglihatan ini mungkin disertai sakit kepala
yang hebat dan mungkin menandakan preeklamsia
c) Deteksi dini
Pemeriksaan data
Periksa tekanan darah, protein urine, refleks dan edema
6) Bengkak diwajah dan jari-jari tangan
a) Hampir dari separuh ibu hamil akan mengalami bengkak yang
normal pada kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan
biasanya hilang setelah beristirahat dengan meninggikan kaki.
b) Bengkak biasa menunjukkan adanya masalah serius jika
muncul pada muka dan tangan, tidak hilang setelah beristirahat,
dan disertai dengan keluhan fisik yang lain.
c) Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau
prep-eklamsia.
7) Keluar cairan pervaginam
a) Batasan
(1) Keluarnya cairan berupa air dari vagina pada trimester 3
(2) Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses
persalinan berlangsung
(3) Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan
preterm
(4) Normalnya selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau
awal kala II
(5) Persalinan, bisa juga belum pecah saat mengedan
35

b) Deteksi dini
Strategi pada perawatan antenatal
(1) Deteksi faktor risiko
(2) Deteksi infeksi secara dini
(3) USG, biometri dan funelisasi
(4) Trimester I: deteksi factor resiko, aktifitas seksual, pH
vagina, USG, pemeriksaan gram, darah rutin, urine.
(5) Trimester II dan III: hati-hati bila ada keluhan nyeri
abdomen, punggung, kram di daerah pelvis, perdarahan
pervaginam, diare, rasa menekan di pelvis.
c) Pengumpulan data
Konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG
(1) Pemeriksaan
(a) Dengan pemeriksaan inspekulo untuk menilai cairan
yang keluar (jumlah, warna, dan bau) dan
membedakannya dengan urine.
(b) Nilai apakah cairan keluar melalui ostium uteri atau
terkumpul di forniks posterior
(c) Tentukan ada tidaknya infeksi
(d) Tentukan tanda-tanda inpartu
(2) Konfirmasi diagnosis
(a) Bau cairan yang khas
(b) Jika keluarnya cairan sediki-sedikit, tampung cairan
yang keluar dan nilai 1 jam kemudian
(c) Gerakan janin tidak terasa
(d) Masalah: ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah
kehamilan trimester 3
36

(e) Normalnya ibu mulai merasakan janinnya selama


bulan ke 5 atau ke 6, beberapa ibu dapat merasakan
bayinya lebih awal.
(f) Jika bayi tidur, gerakannya akan melemah
(g) Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika ibu
berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan
minum dengan baik.
(3) Tanda dan gejala
Gerakkan bayi kurang dari 3 kali dalam periode 3 jam
(4) Deteksi dini
Pengumpulan data
(5) Pemeriksaan
8) Nyeri perut hebat
a) Batasan tanda dan gejala
(1) Masalah: ibu mengeluh nyeri perut pada kehamilan
trimester.
(2) Nyeri abdomen yang berhubungan dengan persalinan
normal adalah normal.
(3) Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang
mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap,
dan tidak hilang setelah beristirahat.
(4) Hal ini bisa berarti apendisitis, kehamilan ektopik, aborsi,
penyakit radang panggul, persalinan preterm, gastritis,
penyakit atau infeksi lain.
b) Deteksi dini
(1) Pengumpulan data
(a) Tanyakan pada ibu tentang karakteristik dari nyeri,
kapan terjadi, seberapa hebat, kapan mulai di
selesaikan.
37

(b) Tanyakan pada ibu apakah ia mempunyai tanda dan


gejala ini seperti muntah, diare dan demam.
c) Pemeriksaan
(1) Ukuran TD,suhu dan nadi
(2) Lakukan pemeriksaan eksternal, pemeriksaan internal raba
kelembutan abdomen atau rebound tendernes.
(3) Periksa protein urine. (Suryati Romauli, 2011)
5. Pengkajian
a. Anamnesis
1) Identifikasi diri ibu hamil: Nama ibu, nama suami, alamat lengkap.
2) Status kesehatan reproduksi yang mungkin berkaitan dengan faktor
resiko.
3) Usia ibu, gravida, paritas, abortus.
4) Usia kehamilan, hari pertama haid terakhir (HPHT) /hari tafsiran
persalinan.
5) Lama haid, siklus haid.
6) Riwayat kehamilan dan persalinan.
7) Riwayat keluarga berencana (KB).
8) Riwayat penularan penyakit menular seksual (PMS).
9) Riwayat kekerasan terhadap perempuan (KtP).
10) Status kesehatan:
a) Riwayat penyakit yang pernah diderita ibu seperti: sesak nafas
dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, penyakit jantung
(berbahaya bagi kehamilan dan persalinan), diabetes (dapat
menyebabkan penyulit pada persalinan), penyakit kuning yang
erat kaitannya dengan fungsi hati dan dapat mengakibatkan
perdarahan waktu persalinan, penyakit-penyakit kronis seperti
malaria dan TBC.
38

b) Riwayat penyakit yang sedang diderita (hal yang ditanyakan


sama seperti di atas).
c) Obat yang diminum ibu hamil.
11) Hal yang dirasakan selama kehamilan sekarang.
a) Gerakan janin: kapan mulai bergerak (biasanya setelah
kehamilan 18-20 minggu sampai lahir), janin masih bergerak
atau tidak.
b) Keluhan yang berkaitan dengan perkembangan kehamilan yaitu:
pada kehamilan muda (sampai usia kehamilan 3 bulan: sakit
kepala, mual dan muntah), rasa sakit/tidak enak pada perut
bagian bawah, sering buang air kecil pada kehamilan 4-6 bulan:
sulit tidur, agak sulit bernafas, pegal didaerah bokong atau
pinggang, rasa tegang yang timbul sewaktu waktu diperut,
bengkak dikaki yang menghilang pada pagi hari setelah
bangun.
c) Pada kehamilan 7 bulan ke atas: lebih sering buang air kecil,
pegal dipinggang/bokong makin terasa, rasa mulas yang datang
secara tidak beraturan.
d) Keadaan patologis (berupa gejala obstetrik langsung) meliputi:
(1) Perdarahan melalui jalan lahir: kapan mulai terjadinya,
berapa kali terjadi dalam sehari, banyaknya darah yang
keluar (bandingkan dengan darah haid), keluhan yang
menyertai perdarahan.
(2) Gejala preeklampsia dan eklampsia: mulai timbulnya
bengkak pada kaki yang tidak menghilang pada pagi hari
setelah bangun, apakah bengkak semakin bertambah
disertai sakit kepala, mual, nyeri ulu hati hingga muntah,
penglihatan menjadi kabur, kemudian kejang-kejang.
39

(3) Keluar cairan ketuban: kapan terjadinya, bagaimana


warnanya, apakah disertai dengan tanda-tanda persalinan.
(4) Nyeri pada waktu buang air kecil.
(5) Mudah merasa lelah.
(6) Keputihan atau gatal-gatal di vulva yang tidak seperti biasa
dll.
12) Hal-hal yang mungkin dicemaskan atau ingin diketahui ibu hamil
dengan lebih jelas.
b. Pemeriksaan fisik
1) Memperhatikan: tanda-tanda tubuh yang dilakukan dengan cara
insfeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi.
2) Ukur berat dan tinggi badan. (berat badan selama hamil biasanya
naik sekitar: 9-12 status gizi kurang/buruk. Bila tinggi badan kurang
dari 145 cm diperkirakan panggul ibu sempit sehingga merupakan
faktor resiko pada persalinan.
3) Periksa tekanan darah, normalnya di bawah 140/90 mmHg. Bila
tekanan sistolik meningkat 30 mmHg atau lebih, dan tekanan
diastolik 15 mmHg atau lebih, dapat yang normal adalah sekitar
80/menit, dikatakan tidak normal bila lebih dari 120/menit.
4) Periksa konjungtiva dan kuku (tanda sehat berwarna kemerahan).
5) Periksa adanya bengkak pada wajah, tangan dan mata kaki (tanda-
tanda preeklampsia).
6) Lakukan tes refleks lutut. Bila gerakan lutut berlebihan dan cepat
merupakan tanda preeklampsia.
7) Periksa punggung di bagian ginjal (tepuk punggung dengan bagian
sisi tangan yang dikepalkan). Bila ibu merasa nyeri, mungkin
terdapat gangguan ginjal dan salurannya.
8) Lihat dan raba payudara terhadap kemungkinan adanya benjolan
yang tidak normal.
40

9) Pemeriksaan obstetrik: pemeriksaan dengan perabaan perut menurut


metoda Leopold I sampai IV untuk memperkirakan:
a) Usia kehamilan, taksiran berat janin terhadap usia kehamilan
(pada letak belakang kepala), letak janin, turunnya bagian
terendah janin dan detak jantung janin. Pada kehamilan 12
minggu, fundus uteri biasanya sedikit di atas simfisis pubis,
pada kehamilan 24 minggu fundus uteri berada di pusat, dan
secara kasar setiap bulan fundus uteri naik 2 jari.
b) Keadaan janin. Periksa denyut jantung janin (Denyut jantung
janin normal 120-160 per menit). Bila kepala janin belum turun
pada kehamilan 36 minggu, denyut jantung janin lebih dari 160
atau kurang dari 120 per menit, janin kurang bergerak atau
tidak bergerak, maka ibu hamil perlu dirujuk.
10) Pemeriksaan vulva: dalam keadaan normal tidak ada luka, rasa gatal
atau pembengkakan. Waktu memeriksa vulva, petugas memakai
sarung tangan. Raba daerah sedangkan untuk mengetahui adanya
pembengkakan kelenjar. Setelah selesai, cuci tangan dengan sarung
tangan masih terpakai, kemudian buka sarung tangan dan cuci
tangan sekali lagi dengan sabun. Bila ada luka, pembesaran kelenjar
atau nyeri pada kandung kemih, ibu perlu dirujuk. (Pinem, 2009:
98-102)
c. Pemeriksaan Laboratorium
Sederhana yaitu pemeriksaan terhadap Hb pada kunjungan
pertama dan setiap 3 bulan. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan
kemih terhadap protein bila ada tanda-tanda preeklampsia. Bila Hb
kurang dari 11 gr % atau konjungtiva pucat, ibu mengeluh cepat lelah
atau bila protein dalam kemih positif, ibu perlu dirujuk.
(Pinem, 2009: 98-102)
41

Tabel 2.1 pemeriksaan Laboratorium dan Nilainya

Tes Nilai Tidak Diagnosa / masalah


NIlai Normal
Laboratorium Normal yang terkait
Haemogglobin 10,5 - 14.0 < 10.5 Anemia
Proteoin urin Terlacak/negatif >atau =2+ Protein urin (mungkin
dipstick Bening /negatif keruh (positif) ada infeksi(PHP)
merebus
Glukosa dalam Diabetes
urin benedict’s
VDRL/KPR tes Negatif Positif Syphilis
pemeriksaan
Syphilis
Pertama
Faktor Rhesus RH + RH - RH sensitization
Gol. Darah A B O AB - Ketidacocoan ABO
HIV + AIDS
Rubella Positif Negatif Anomaly pada janin
jika ibu mengalami
infeksi
Tinja Negatif Positif Anemia akibat cacing
(Ova/Telur (cacing tambang)
cacing) dan
parasit
Sumber : Diktat Kuliah Asuhan Kebidanan I (Kehamilan ) (Yeyeh Rukiah,
2009:149)

d. Konseling
Nasehat dan konseling
Upayakan agar pemberian konseling dilakukan secara bertahap
sesuai dengan kebutuhannya setiap kali ibu hamil datang kefasilitas
pelayanan. Jangan memberikan semua nasehat sekaligus pada satu
kunjungan. Memberi nasehat dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dimengerti ibu, dan kalau bisa menggunakan alat peraga yang menarik
dan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari; Isi nasehat yang
perlu diberikan kepada ibu hamil yaitu:
1) Perawatan diri selama hamil agar ibu dapat menjaga kesehatan diri
dan janinnya dengan baik. Mandi dan sikat gigi secara teratur,
minimal 2 kali sehari dan olahraga ringan setiap hari.
42

2) Gizi: untuk menjaga kesehatan perlu makanan yang mengandung


karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral dengan gizi
seimbang dengan jumlah yang cukup untuk kehamilan. Setiap hari
makan lebih banyak makanan yang mengandung 2 jenis mineral
yang penting untuk kehamilan yaitu kalsium dan zat besi. Minum
cairan 6-8 gelas perhari.
3) Perawatan payudara meliputi manfaat perawatan payudara dan cara
perawatan payudara sejak kahamilan 7 bulan. Mempersiapkan diri
untuk menyusui bayi dengan ASI terutama pada ibu yang
mempunyai putting susu rata atau masuk kedalam dalam bimbingan
ASI Ekslusif.
4) Istirahat cukup dan mengurangi kerja fisik berat. Selama hamil ibu
perlu istrahat paling sedikit 1 jam pada siang hari dengan kaki
ditempatkan lebih tinggi dari tubuh. Tidur, istrahat dan bersantai
sangat bermanfaat bagi ibu hamil. Keluarga perlu diberitahu tentang
hal ini.
5) Menjalani masa kehamilan dengan rasa bahagia. Oleh karena itu,
ibu hamil perlu mendapat dukungan moril dari suami/keluarganya.
6) Senam hamil sangat berguna dalam menghadapi persalinan.
Manfaat senam hamil adalah: untuk melatih pernafasan, melatih
otot panggul dan vagina agar tidak kaku, melancarkan peredaran
darah yang relatif lamban pada kehamilan dan melatih meneran.
7) Perlunya pemeriksaan kehamilan secara berkala. Selama kehamilan
ada hal-hal yang perlu dipantau, agar bila ada penyimpangan dari
keadaan normal dapat segera diberikan penanganan yang sesuai.
Selain itu pada saat pemeriksaan kehamilan, ibu dapat memperoleh
pengetahuan mengenai kehamilannya, perkembangan kehamilannya
dan memberitahukan keluhannya pada petugas pemeriksa sehingga
dibangun rasa percaya diri dan rasa percaya pada petugas yang
43

merupakan dasar yang baik dalam merawat diri serta keputusan


dalam menghadapi persalinan.
8) Arti kehamilan, persalinan dan nifas
Kehamilan merupakan suatu proses pembuahan dalam rangka
melanjutkan keturunan (reproduksi) yang terjadi secara alami,
menghasilkan janin yang tumbuh dalam rahim ibu. Tubuh ibu akan
berubah selama kehamilan. Uterus (rahim) dan payudara akan
membesar, dan banyak yang merasa mual atau muntah pada
kehamilan muda.
Persalinan merupakan proses keluarnya bayi (buah kehamilan
tersebut dari rahim ibu). Keberhasilan proses persalinan sangat
ditentukan oleh tenaga penolong persalinan, tempat persalinan,
pengertian dan peran serta ibu dan keluarganya.
Perlu juga dijelaskan bahwa dalam menghadapi persalinan, sejak
awal keluarga perlu mempersiapkan biaya, transportasi pada saat
persalinan atau bila timbul bahaya. Pendamping ibu harus siap
mengantar kapan saja/setiap waktu kerumah sakit bila diperlukan.
Masa nifas adalah masa 6 minggu setelah persalinan, merupakan
masa kehamilannya keadaan tubuh seperti sebelum hamil. Pada
masa ini kesehatan ibu dan bayinya sangat terkait dengan kesehatan
ibu selama hamil dan pertolongan persalinan yang diberikan.
9) Keluhan yang biasa terjadi selama kehamilan:
Berbagai keluhan yang sering terjadi selama kehamilan, baik karena
perubahan hormonal, perubahan bentuk tubuh akibat pembesaran
janin, perubahan emosional. Hal ini perlu dijelaskan dan dipahami
oleh ibu agar ia tidak cemas dan tidak berusaha mencari pengobatan
sendiri yang mungkin dapat membahayakan dirinya dan janinnya.
44

10) Tanda-tanda bahaya kehamilan


Tanda-tanda bahaya dalam kehamilan perlu diketahui ibu dan
keluarganya agar ia waspada terhadap ancaman kesehatan dirinya
maupun janinnya. Dengan mengetahui ini ia akan segera
memeriksakan kehamilannya walaupun jadwal pemeriksaan
kehamilan berikutnya belum tiba waktunya. Berikut ini adalah
tanda-tanda bahaya yang penting diketahui ibu dan keluarganya
adalah:
a) Perdarahan melalui jalan lahir, baik sedikit maupun banyak.
b) Bengkak, mula-mula pada kaki yang tidak hilang setelah
istirahat lebah, disertai nyeri kepala, mual, nyeri ulu hati,
apalagi disertai penglihatan kabur dan kejang-kejang.
c) Keluar cairan ketuban dari jalan lahir sebelum kehamilan
cukup umur.
d) Janin tidak bergerak, atau pergerakannya jarang dalam sehari
semalam.
e) Berat badan turun atau tidak bertambah.
11) Menghindari hal berikut ini selama hamil dan menyusui:
a) Minum obat tanpa nasihat dokter dan alasan yang tepat
b) Gan yang mengganggu, asap rokok, debu dan zat kimia
beracun
c) Berada dekat orang sakit
d) Masak dan menyimpan makanan dalam wadah yang
mengandung zat kimia
Pada trimester III
Pelayanan yang diberikan pada trimester III sama dengan pelayanan
yang diberikan pada Trimester II kehamilan ditambah dengan
penyuluhan mengenai:
45

(1) Persiapan menghadapi persalinan, cara meneran yang baik pada


kala II
(2) Perawatan bayi baru lahir
(3) Persiapan keluarga dalam menghadapi persalinan
(4) Kemungkinan adanya komplikasi. (Pinem, 2011:103-107)
e. Menjadwalkan kunjungan ulang
1) Pengertian
Kunjungan ulang adalah kunjungan antenatal yang dilakukan
setelah kunjungan antenatal pertama sampai memasuki persalinan
(varney, 1997)
2) Tujuan
a) Pendeteksian komplikasi-komplikasi
b) Mempersiapkan kelahiran dan kegawatdaruratan
c) Pemeriksaan fisik terfokus
3) Element-element penting dari pemeriksaan pada kunjungan ulang
antenatal adalah:
a) Mengevaluasi penemuan masalah yang terjadi serta aspek-
aspek yang menonjol pada wanita hamil.
b) Pada kunjungan pemeriksaan difokuskan pada pendeteksian
komplikasi-komplikasi, mempersiapkan kelahiran, kegawat -
daruratan, pemerisaan fisik yang terfokus dan pembelajaran.
c) Pada tahap ini tenaga kesehatan menginventarisasi beberapa
masalah yang terjadi serta aspek-aspek yang menonjol yang
membutuhkan penanganan dan pemberian KIE.
46

4) Mengevaluasi data dasar


Tabel. 1.2 Data dasar evaluasi pada kunjungan awal
1 Amenore Diagnosis kehamilan
2 HPHT Diagnosis kehamilan
3 Keluhan yang disampaikan Pemberian konseling
4 Hasil pemeriksaan head to toe Diagnosis kehamilan
a. Kenaikan berat badan
b. Tes urine (HCG positif)
c. Cloasma gravidarum
d. Perubahan pada payudara
e. Linea nigra
f. Tanda Chadwick
g. Tanda hegar

5) Pengevaluasian keefektifan managemen/asuhan


a) Menanyakan kembali pada pasien mengenai apa yang sudah
dilakukan pada kunjungan sebelumnya.
b) Melakukan pemeriksaan fisik terutama hal-hal yang terfokus
pada pemantauan kesehatan pada ibu dan janin.
6) Pengkajian dan fokus
a) Riwayat
(1) Menanyakan tentang perasaan pasien sejak kunjungan
terakhirnya.
(2) Menyakan pada pasien apakah pasien ada keluhan sejak
kunjungan terakhirnya.
b) Gerakan janin selama 24 jam terakhir (usia kehamilan ± 20
minggu)
7) Deteksi ketidaknyamanan dan komplikasi
a) Menanyakan keluhan atau ketidaknyamanan yang pasien alami
b) Menanyakan kemungkinan tanda bahaya yang dialami oleh
pasien.
8) Pemeriksaan fisik
a) Pemeriksaan tekanan darah
47

b) Mengukur TFU
c) Melakukan palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya
kemungkinan kehamilan ganda, serta poengetahuan presentasi
letak, posisi dan penurunan kepala (jika usia kehamilan >36
minggu)
d) Memeriksa DJJ
9) Pemeriksaan laboratorium
a) Protein urine
b) Glukosa urine
10) Mengembangkan rencana sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan kehamilan.
a) Jelaskan mengenai ketidaknyamanan normal yang dialaminya.
b) Ajarkan ibu pendidikan kesehatan yang sesuai dengan
kehamilan
c) Diskusikan tentang rencana persiapan kelahiran jika terjadi
kegawatdaruratan.
d) Ajarkan ibu mengenai tanda-tanda bahaya, pastikan ibu untuk
memahami apa yang dilakukan jika menemukan tanda bahaya.
e) Buat kesepakatan untuk kunjungan berikutnya. (Jannah, 2012:
180-182)
C. Masa Persalinan
1. Pengertian
Persalinan adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus ke dunia luar. Persalinan mencakup proses fisiologis yang
memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat
melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal
merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup
bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi kepala yang
berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin.
48

2. Jenis-jenis persalinan
Persalinan dibagi menjadi tiga bagian menurut persalinan.
a. Persalinan normal atau disebut juga perslinan spontan. Pada persalinan
ini proses kelahiran bayi pada letak belakang kepala (LBK), dengan
tenaga ibu sendiri, berlangsung tanpa bantuan, alat serta tidak melukai
ibu dan bayi pada umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
b. Persalinan abnormal/buatan. Persalinan pervaginam dengan
menggunakan bantuan alat, seperti ekstraksi dengan foseps atau vacum
atau melalui dinding perut dengan operasi Sectio Caesarea atau SC.
c. Persalinan anjuran. Persalinan tersebut tidak dimulai dengan sendirinya,
tetapi baru berlangsung setelah dilakukan perangsangan, seperti dengan
pemecahan ketuban dan pemberian prostaglandin.
Menurut usia kehamilan, persalinan dapat dibagi empat macam:
a. Abortus (keguguran). Penghentian dan pengeluaran hasil konsepsi dari
jalan lahir sebelum mampu hidup diluar kandungan. Usia kehamilan
biasanya mencapai kurang dari 28 minggu dan berat janin kurang dari
1000 gram.
b. Partus prematurus. Pengeluaran hasil konsepsi baik spontan ataupun
buatan sebelum usia kehamilan 28-36 minggu dan berat janin kurang
dari 2.499 gram.
c. Partus matures atau aterm (cukup bulan). Pengeluaran hasil konsepsi
yang spontan ataupun buatan antara usia kehamilan 37-42 minggu
dengan berat janin lebih dari 2500 gram.
d. Partus postmaturus (serotinus). Pengeluaran hasil konsepsi yang spontan
ataupun buatan melebihi usia kehamilan 42 minggu dan tampak tanda-
tanda janin postmatur. (Nurul Jannah, 2014:1-2)
49

3. Teori penyebab bermulanya persalinan


a. Teori estrogen- progesteron
Teori ini mengajukan bahwa rasio estrogen-progesteron penting
dalam mempertahankan kehamilan. kadar kedua hormon tersebut
mengatur perubahan kontrasepsi reseptor oksitosin dalam uterus. Dalam
penelitian, penurunan sirkulasi progesterone terbukti memfasilitasi
kontraksi uterus dengan meningkatkan pembentukan celah pertautan
dan peningkatan pembentukan prostaglandin E2 (PGE2), estrogen
meningkatkan pembentukan celah pertautan dan meningkatkan sintesis
PGE2 (Ziatnik, 1994)
b. Teori oksitosin
Teori oksitosin menyatakan bahwa oksitosin menstimulasi
kontraksi uterus dengan bekerja secara langsung pada miometrium dan
secara tidak langsung meningkatkan produksi prostaglandin dalam
desidua. Uterus menjadi semakin sensitive terhadap oksitosin seiring
dengan pertambahan usia kehamilan. Konsentrasi tertinggi dalam
aktivitas oksitosin di dalam darah telah ditemukan pada kala dua
persalinan.
c. Teori control endokrin janin
Teori control endokrin janin mengajukan bahwa pada waktu
maturitas janin yang tepat, kelenjar adrenal janin menyekresi
kartosteroid yang memicu mekanisme persalinan. Steroid janin
menstimulasi pelapasan precursor ke prostaglandin, yang pada akhirnya
menghasilkan kontraksi persalinan pada uterus (Casey at al, 1958).
Sesaat sebelum persalinan, sensitivitas kelenjar adrenal janin terhadap
hormone adreno kortikotropik yang dihasilkan oleh hipofisis,
mengalami peningkatan, menyebabkan peningkatan produksi kortisol.
Pelepasan kortikosteroid selama priode stres telah dijadikan sebagai
sebuah penyebab persalinan premature, ini dapat terjadi jika janin dalam
50

kondisi membahayakan, seperti preeklamsi atau overdistensi uterus


akibat kehamilan multipel atau hidramnion.
d. Teori prostaglandin
Studi tentang mekanisme sintesis prostaglandin telah
menunjukkan bahwa asam arekidonat, precursor wajib pada
prostaglandin, meningkat secara nyata dalam perbandingan asam lemak
lain di cairan amnion wanita dalam proses persalinan (Reddi et al,
1987). Prostaglandin efektif dalam menginduksi kontraksi uteri pada
setiap tahap kehamilan (Cunningham et al, 1993; Granstrom et al, 1990;
Shaala et al, 1989). Prostaglandin dihasilkan oleh desidua uteri, tali
pusat dan amnion. (Reeder DKK, 2011:592-593)
4. Tanda-tanda persalinan
Persalinan yang sudah dekat ditandai dengan adanya Lightening atau
settling atau drooping dan terjadi his palsu. Persalinan itu sendiri ditandai
dengan his persalinan, yang mempunyai ciri seperti: (1) pinggang terasa
sakit menjalar kedepan, (2) His bersifat teratur, interval semakin pendek dan
kekuatannya semakin besar, (3) mempunyai pengaruh terhadap perubahan
serviks, (4) semakin beraktivitas (jalan), semakin bertambah kekuatan
kontraksinya. Selain His, persalinan ditandai juga dengan pengeluaran lendir
dari kanalis servikalis karena terjadi pembukaan dan pengeluaran darah
dikarenakan kapiler pembuluh darah pecah.
Persalinan dapat juga disebabkan oleh pengeluaran cairan ketuban
yang sebagian besar baru pecah menjelang pembukaan lengkap dan tanda
inpartu, meliputi adanya his, Bloody show, peningkatan rasa sakit,
perubahan bentuk serviks, pendataran serviks, pembukaan serviks (dilatasi),
pengeluaran cairan yang banyak atau selaput ketuban yang pecah dengan
sendirinya. (Jannah, 2014:3)
51

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan


a. Power atau His
His adalah kontraksi otot-otot uterus pada persalinan. Pada bulan
terakhir kehamilan sebelum persalinan, kontraksi rahim telah terjadi
yang disebut dengan his pendahuluan atau his palsu, yang sebetulnya
hanya merupakan peningkatan kontraksi dari Braxton Hicks. His
pendahuluan ini tidak teratur dan menyebabkan nyeri perut bagian
bawah lipatan paha serta tidak menyebabkan nyeri yang menyebar dari
pinggang keperut bagian bawah seperti his persalinan. kontraksi his
pendahuluan berdurasi pendek dan tidak bertambah kuat atau sering
berkurang ketika ibu sedang berjalan. His pendahuluan tidak bertambah
kuat seiring berjalannya waktu, bertentangan dengan persalinan yang
semakin kuat. Hal terpenting adalah bahwa his pendahuluan tidak
mempunyai pengaruh terhadap serviks.
Walaupun his persalinan merupakan kontraksia otot-otot rahim
yang fisiologis, namun kontraksinya bertentangan dengan kontraksi
fisiologis lainnya, yaitu bersifat nyeri. Kontaksi rahim dapat dipengaruhi
oleh rangsangan dari luar seperti rangsangan jari tangan.
Kontraksi rahim bersifat berkala dan harus memperhatikan hal-hal
seperti berikut:
1) Lamanya kontraksi yang berlangsung 45-75 detik.
2) Kekuatan kontraksi yang menimbulkan kenaikan tekanan
intrauterine sampai 35 mmHg.
3) Saat permulaan persalinan diantara dua kontaraksi, his timbul sekali
dalam 10 menit dan kala pengeluaran, sekali dalam 2 menit.
Menurut faalnya his persalinan meliputi his permulaan (his yang
menimbulkan pembukaan serviks), his pengeluaran (his yang
mendorong anak keluar dan biasanya disertai dengan keinginan
mengejan), dan his pelepasan uri (kontraksi untuk melepaskan uri).
52

b. Passage (jalan lahir)


Keadaan jalan lahir atau passage terdiri atas panggul ibu, yakni
bagian tulang keras, dasar panggul, vagina dan inroitus. Panggul terdiri
atas bagian keras dan bagian lunak.
1) Bagian keras panggul
a) Tulan pangkal paha (os koksae)
Tulang pangkal paha atau koksae terdiri atas tulang yang
berhubungan satu sama lain pada astebulum yang berbentuk
cawan untuk kepala tulang paha atau kaput femoris.
b) Os sacrum (tulang kelangkang), dinamakan juga
promonntorium, yang terdiri atas lima ruas tulang yang
senyawa. Tulang kelangkang berbentuk segitiga melebar diatas
dan meruncing bagian bawah. Permukaan depan tulang itu
cekung dari atas kebawah maupun kesamping terdapat lima
lubang kiri dan kanan garis tengah yang disebut foramina
sakrolia anterior dan pembuluh darah kecil. Bagian belakang
tulang kelangkang gembung dan kasar, garis tengahnya
terdapat deretan cuat-cuat duri disebut Krista sakralis. Bagian
atas sacrum yang mengadakan perhubungan ini menonjol ke
depan disebut promontorium. Sisi tulang kelangkang
berhubungan dengan tulang pangkal paha disebut artikulatio
sakroiliaka.
c) Os koksigeus (tulang tungging), berbentuk segitiga dan terdiri
atas tiga ruas yang bersatu.
2) Bagian Lunak Panggul
a) Bagian otot
Bagian otot meliputi dinding panggul sebelah dalam
dan yang menutupi panggul sebelah bawah. Bagian yang
menutupi panggul dari bawah membentuk dasar panggul dan
53

disebut difragma pelvis. Diafragma dari dalam keluar terdiri


atas pars muskularis dan pars membranasea.
Otot pars muskularis adalah muskulus levator ani yang
letaknya agak kebelakang yang merupakan suatu sekat yang di
tembus oleh rectum.
Pars membranasea disebut juga diafragma urogenitale.
Di antara m. pubokoksigeus kiri dan kanan, terdapat celah
berbentuk segitiga yang di sebut hiatus uroginitalis yang
tertutup oleh sekat yang disebut diafragma urogenitale. Sekat
ini menutupi pintu bawah panggul di sebelah depan dan pada
wanita, sekat ini di tembus oleh uretra dan vagina. Diafragma
pelvis menahan genatalia interna di tempatnya bila otot-otot
rusak atau lemah, misalnya karena persalinan yang sering dan
berturut-turut, mungkin genetalia turun atau prolaps.
b) Bagian legamen
Bagian legamen terdiri atas ligamentum latum.
Ligamentum rotundum, ligamentum infundibulo pelvikum,
ligamentum kardinale, ligamentum sakrouterina, dan
ligamentum ovarii poprium.
Ligamentum latum berupa lipatan peritoneum sebelah
lateral kanan-kiri uterus, meluas sampai ke dinding panggul
dan dasar panggul sehingga seolah-olah menggantung pada
tuba. Ruang diantara kedua lembar lipatan ini terisi oleh
jaringan yang longgar disebut parametrium, yang di lalui oleh
arteri, vena uterine, pembuluh limfe dan ureter.
Ligamentum rotundum atau disebut juga ligamentum
teres uteri, terdapat dibagian atas lateral dari uterus, kaudal dari
insertie tuba. Ligament tersebut menjalar melalui kanalis
inguinalis ke bagian cranial labia mayora. Ligamen rotundum
54

terdiri atas jaringan otot polos (identik dengan miometrium)


dan jaringan ikat dan menahan uterus dalam antafleksi. Pada
waktu hamil, ligamentum rotundum mengalami hiprtrofi dan
dapat diraba dengan pemariksaan luar.
Ligamentun infudibulo pelvikum di sebut juga
ligamentum suspensorium ovary, terdiri atas dua ligamen di
sebelah kiri dan kanan dari infidibulum dan ovarium kedinding
panggul.ligamentum ini mneggantungkan uterus pada dinding
panggul. Ditemukan juga ligamentum ovarii proprium di antara
sudut tuba dan ovarium.
3) Janin dan Plasenta (Passanger)
Cara penumpang (passanger) atau janin bergerak disepanjang
jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa factor:
a) Ukuran kepala janin
Karena ukuran dan sifatnya yang relative kaku, kepala
janin sangat mempengaruhi proses persalinan. Tengkorak janin
terdiri atas dua tulang parietal, dua tulang temporal, sati tulang
frontal, dan satu tulang oksipital. Tulang-tulang tersebut
disatukan oleh sutura membranosa yang mencakup sutura
sagitalis, lambliodalis, koronalis dan frontalis. Rongga yang
berisi membrane ini disebut fontanel. Fontanel terletak di
pertemuan sutura-sutura tersebut.
Setelah selaput ketuban pecah dalam persalinan,
fontanel dan sutura di palpasi untuk menetukan presentasi,
posisi dan sikap janin. pengkajian ukuran janin member
informasi dan usia dan kesejahteraan bayi baru lahir. Dua
fontanela yang paling penting adalah fontanel anterior dan
posterior. Fontanel yang lebih besar, fontanel anterior,
berbentuk seperti intan dan terletak pada pertemuan sutura
55

sagitalis, koronalis, dan frontalis. Fontanel itu menutup pada


usia 18 bulan. Fontanel posterior terletak di pertemuan sutura
dua tulang parietal, satu tulang oksipital, dan bebentuk segitiga.
Fontanel tersebut menutup pada usia 6-8 minggu.
Tengkorak menjadi fleksibel karena adanya sutura dan
fontanel sehingga dapat menyesuaikan diri terhadap otak bayi,
yang beberapa lama setelah lahir terus bertumbuh. Akan tetapi,
belum menyatu dengan kuat, tulang-tulang itu dapat tumpang
tindih, atau disebut juga molase, yakni struktur kepala yang
terbentuk selama persalinan.
b) Presentasi Janin
Presentasi adalah bagian janin yang pertama kali
memasuki pintu atas panggul dan terus melalui jalan lahir saat
persalinan mencapai aterm. Bagian presentasi adalah bagian
tubuh janin yang pertama kali teraba oleh jari pemeriksa atau
bidan saat pertama kali periksa dalam. Factor-faktor yang
menentukan bagian presentasi adalah letak janin, sikap janin,
dan ekstensi atau fleksi kepala janin.
(1) Letak janin
Letak janin adalah hubungan sumbu panjang
punggung janin terhadap sumbu panjang punggung ibu.
Letak janin terdiri atas dua macam, yaitu memanjang
atau vertical (sumbu panjang paralel dengan sumbu
panjang ibu) dan melintang horizontal (sumbu panjang
janin membentuk sudut terhadap sumbu panjang ibu).
Letak memanjang dapat berupa presentasi kepala, atau
presentasi sacrum (sungsang). Presentasi tersebut
tergantung pada struktur janin yang pertama memasuki
panggul ibu.
56

(2) Sikap janin


Sikap janin adalah hubungan diantara bagian tubuh
janin. Janin mempunyai postur yang khas atau sikap saat
berada di dalam rahim. hal itu sebagian dirasakan
disebabkan oleh pola pertumbuhan janin dan penyesuaian
janin terhadap rongga rahim. Pada kondisi normal,
punggung janin sangat fleksibel kearah dada dan paha
fleksi kearah sendi lutut. Sikap itu disebut fleksi umum.
Penyimpanan sikap normal dapat menimbulkan
kesulitan saat akan dilahirkan seperti pada presentasi
kepala, karena kepala janin dapat berada ekstensi atau
fleksi. Hal tersebut dapat menyebabkan diameter kepala
berada posisi pada posisi yang tidak memungkinkan
terhadap batas-batas panggul ibu. Diameter bieparetal
adalah diameter lintang terbesar kepala janin. Dari semua
anteerposterior tersebut, jelas bahwa sikap ekstensi atau
fleksi memungkinkan bagian presentasi dengan berbagai
ukuran diameter memasuki panggul ibu. Kepala yang
berada dalam sikap fleksi sempurna memungkinkan
diameter suboksipitobregmatika (diameter terkecil)
memasuki panggul sejati dengan sempurna.
(3) Posisi Janin
Presentasi atau bagian presentasi menunjukkan
bagian janin yang menempati bagian pintu atas panggul.
Bagian yang menjadi presentasi kepala biasanya adalah
oksiput pada presentasi kepala.
Engagement menunjukkan bahwa diameter tranversa
terbesar bagian presentasi telah memasuki pintu atas
panggul atau panggul sejati. Station adalah hubungan
57

presentasi janin dengan garis bayangan yang ditarik dari


spina ishiadika ibu. (Nurul Jannah, 2014:15-37)
6. Pimpinan persalinan
a. Kala I (Kala pembukaan)
1) Diagnosa Kala I
Kala I atau kala pembukaan berlangsung dari pembukaan nol
(0 cm) sampai pembukaan lengkap (10 cm). kala I untuk
Primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8
jam. Berdasarkan kurva fridman, diperhitungkan pembukaan
primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2cm/jam.
(Nurul Jannah, 2014:5)
2) Pemeriksaan Dalam (VT)
Frekuensi pemeriksaan vagina yang diperlukan selama
persalinan bergantung pada kasus individu, seringkali, satu atau dua
pemeriksaan sudah cukup, sedangkan pada kasus lain, diperlukan
lebih banyak pemeriksaan. Jika terjadi pecah ketuban, sangat
penting untuk membatasi jumlah pemeriksaan vagina guna
memberikan perlindungan terhadap infeksi. jika terjadi perdarahan
per vaginam, pertama kali yang harus diperhatikan bahwa tidak ada
diagnosis plasenta previa sebelum pemeriksaan vagina dapat
dilakukan dengan aman, jika tidak maka dapat terjadi perforasi
plasenta yang merupakan bencana besar. (Reeder DKK, 2011:621)
3) Partograf
a) Pengertian partograf
Partograf adalah alat untuk mencatat informasi
berdasarkan informasi, anamnesis, dan pemeriksaan fisik pada
ibu dalam persalinan, dan sangat penting khususnya untuk
membuat keputusan klinik selama kala I persalinan.
58

b) Tujuan utama
Tujuan utama penggunaan partograf adalah mengamati
dan mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan
menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam dan
menentukan normal atau tidaknya persalinan lama sehingga
bidan dapat membuat deteksi dini mengenai kemungkinan
persalianan lama.
c) Keuntungan partograf
Penggunaan partograf mempunyai beberapa
keuntungan yaitu efektif dan paragmatik dalam kondisi apapun,
meningkatkan mutu dan kesejahteraan janin ibu selama
persalinan dan untuk mensejahterakan janin atau ibu.
d) Indikasi
Partograf dapat digunakan untuk semua ibu selama fase
aktif kala I persalinan; semua persalinan dan kelahiran disemua
tempat seperti rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah
sakit dll. Partograf juga secara rutin digunakan oleh semua
penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu
selama persalinan dan kelahiran.
e) Bagian Partograf
Partograf berisi ruang pencatatan hasil pemeriksaan
yang dilakukan selama kala I persalinan yang mencakup
kemajuan persalinan, keadaan janin, dan keadan ibu.
(1) Kemajuan persalinan
Kemajuan persalinan yang dicatat dalam partograf meliputi
pembukaan serviks, penurunan kepala janin, dan kontraksi
uterus.
59

(2) Keadaan janin yang dicatat dalam partograf meliputi DJJ,


warna dan jumlah air ketuban, molase serta tulang kepala
janin.
(3) Keadaan ibu
Keadaan ibu mencakup nadi, tekanan darah, suhu, urin
seperti volume, protein, dan obat serta cairan intrave atau
IV.
f) Pencatat selama fase laten dan fase aktif persalinan
(1) Pencatatan selama fase laten
Fase laten ditandai dengan pembukaan serviks 1-3
cm. Selama fase laten persalinan, semua asuhan,
pengamatan, dan pemeriksaan harus dicatat terpisah dari
partograf, yaitu pada catat atau kartu menuju sehat (KMS)
ibu hamil. Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali
membuat catatan selama fase laten persalinan dan semua
asuhan serta intervensi harus dicatat.
Waktu penilaian, kondisi ibu, dan kondisi janin pada fase
laten meliputi:
(a) Denyut jantung janin, frekuensi dan lama kontraksi
uterus, nadi setiap 1 jam
(b) Pembukaan serviks, penurunan kepala, tekanan darah
dan suhu setiap 4 jam.
(c) Produksi urine, acetone dan protein setiap 2 sampai 4
jam.
Apabila ditemui tanda penyulit, penilaian kondisi ibu dan
bayi harus lebih sering dilakukan.
(2) Pencatatan selama fase aktif
Fase aktif ditandai dengan pembukaan serviks 4-10
cm. selama fase aktif persalinan, pencatatan hasil observasi
60

dan pemeriksaan fisik dimasukkan ke dalam partograf.


Pencatatan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:
(a) Informasi tentang ibu
i. Nama, umur
ii. Gravid, para, abortus
iii. Nomor catatan medis atau nomor puskesmas
iv. Tanggal dan watu mulai dirawat
v. Waktu pecah selaput ketuban
(b) Kondisi janin
i. Denyut Jantung Janin setiap 30 menit
ii. Warnah dan adanya air ketuban
iii. Penyusupan (molase) kepala janin
(c) Kemjuan persalinan
i. Pembukaan serviks setiap 4 jam
ii. Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi
janin
iii. Garis waspadah pada garis bertindak
(d) Jam dan waktu
i. Waktu mulai fase aktif persalinan
ii. Waktu actual saat persalinan atau penilaian
(e) Kontraksi uterus
Frekuensi dan lamanya
(f) Obat dan cairan yang diberikan
i. Oksitosin
ii. Obat lainnya dan cairan IV yang diberikan
(g) Kondisi ibu
i. Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh
ii. Urine (volume, aseton atau protein)
(h) Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya.
61

g) Pencatatan temuan pada partograf


(1) Informasi tentang ibu
(2) Kesehatan dan kenyamanan ibu
(a) Denyut jantung janin
Menilai dan mencatat setia 30 menit (lebih sering, jika
ada tanda gawat janin). Setiap kotak pada bagian
tersebut menunjukkan waktu 30 menit. Kisaran normal
DJJ terpanjang pada partograf diantara garis tebal
angka 180 dan 100. Akan tetapi, penolong harus sudah
waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160.
(b) Warnah dan adanya air ketuban
Air ketuban dinilai setiap melakukan pemeriksaan
dalam, selain warnah ketuban, jika pecah. Catat
temuan yang sesuai dibawah jalur DJJ dab gunakan
lambang berikut:
U : Ketuban utuh (Belum pecah)
J : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M:Ketuban sudah pecah dan air bercampur mekonium
D : Ketuban sudah pecah dan air bercampur darah
K : Ketuban sudah pecah dan Kering
Mekonium dalam air ketuban tidak selalu
menunjukkan gawat janin. Apabila terdapat
mekonium, pantau DJJ secara seksama untuk
mengenali tanda gawat janin (DJJ <100 atau >180 kali
per menit) selama proses persalinan.
(c) Molase (penyusupan kepala janin)
Penyusupan adalah indicator penting tentang
seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri
dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang
62

saling menyusup menunjukkan kemungkinan adanya


disproporsi tulang panggul (cepalopelvic
disprosortionate, CPD). Setiap kali melakukan
pemeriksaan dalam, nilai penyusupan kepala janin,
dan catat temuan di lajur air ketuban dengan
menggunakan lambang berikut ini.
0 :Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan
mudah dapat dipalpasi
1 :Tulang-tulang kepala janin hanya saling
bersentuhan
2 :Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih,
namun masih dapat dipisahkan
3 :Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak
dapat dipisahkan
(d) Kemajuan persalinan
Kolom dan lajur pada partograf adalah
pencatatan kemajuan persalinan. Angka 0-10 pada tepi
kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks.
Skala 1-5 juga menunjukkan seberapa jauh penurunan
janin.
(e) Pembukaan serviks
Penilaian dan pencatatan pembukaan serviks
dilakukan setiap 4 jam (lebih sering, jika terdapat
tanda penyulit). Tanda X harus ditulis digaris waktu
yang sesuai dengan lajur besarnya pembukaan serviks.
Beri tanda untuk temuan pemeriksaan dalam yang
dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di
garis waspada. Hubungkan tanda X setiap
pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).
63

(f) Penurunan bagian terbawah presentasi janin


Setiap melakukan pemeriksaan dalam (4 jam
atau lebih), jika terdapat tanda penyulit, catat dan nilai
bagian terbawah atau presentasi janin. Kemajuan
pembukaan serviks umumnya diikuti dengan
penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin
pada persalinan normal. Akan tetapi, penurunan
bagian terbawah janin terkadang baru terjadi setelah
pembukaan serviks sebesar 7 cm. penurunan kepala
bayi harus selalu diperiksa dengan memeriksa perut
ibu sesaat sebelum periksa dalam dengan ukuran
perlimaan diatas pintu atas panggul (PAP). Beri tanda
“0” pada garis waktu yang sesuai pada garis tidak
terputus dari 0-5 yang tertera disisi yang sama dengan
pembukaan serviks. Hubungkan tanda “0” dari setiap
pemeriksaan dengan garis tidak terputus.
(g) Garis waspada dan garis bertindak
Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks
4 cm dan berakhir pada titik dengan pembukaan
lengkap yang diharapkan jika terjadi laju 1 cm perjam.
Pencatatan selama fase aktif persalinan harus dimulai
di garis waspada. Apabila pembukaan serviks
mengarah setelah kanan garis waspada, penyulit yang
ada harus dipertimbangkan (misalnya fase aktif
memanjang, macet, dll).
(h) Jam dan waktu
i. Waktu mulai fase aktif. Bagian bawah partograf
(pembukaan serviks dan penurunan kepala janin)
tertera kotak-kotak yang diberi angka 1-16. Setiap
64

kotak menyatakan waktu 1 jam sejak dimulai fase


aktif persalinan.
ii. Waktu actual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap
kotak menyatakan 1 jam penuh dan berkaitan
dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada
lajur kontraksi dibawahnya.
(i) Kontraksi uterus
Terdapat lima lajur dengan tulisan “kontraksi
setiap 10 menit” disebelah luar kolom paling kiri
dibawah lajur waktu partograf. Setiap kotak
menyatakan satu kontraksi. Setiap 30 menit, raba dan
catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lama satuan
detik >40 detik.
(j) Obat dan cairan yang diberikan
i. Oksitosin
Apabila tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai,
dokumentasikan setiap 30 menit jum;ah unit
oksitosin yang diberikan per volume cairan IV
dan satuan tetes permenit.
ii. Obat lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat tambahan atau cairan
IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom
waktunya.
(3) Kesehatan dan kenyamanan ibu
Bagian terakhir bagian depan partograf berkaitan
dengan kesehatan ibu, meliputi hal-hal sebagai berikut.
(a) Nadi, Tekanan Darah dan temperature suhu tubuh.
Catat dan nilai nadi ibu setiap 30 menit selama fase
aktif persalinan (lebih sering jika dicurigai terdapat
65

penyulit). Beri tanda (.) pada kolom waktu yang


sesuai. Nilai tekanan darah ibu dan catat setiap 4 jam
selama fase aktif persalinan (lebih sering jika dicurigai
terdapat penyulit). Beri tanda panah dalam kolom
waktu yang sesuai pada partograf. Nilai dan catat juga
temperature tubuh setiap 2 jam dan catat temperature
tubuh dalam kotak yang sesuai.
(b) Volume urine, protein atau aseton. Ukur dan catat
jumlah produksi urine ibu sedikitnya setiap 2 jam.
Apabila memungkinkan, setiap kali ibu berkemih,
lakukan pemeriksaan aseton atau protein dalam urine.
h) Pencatatan pada lembar belakang partograf
(1) Data dasar
Data dasar terdiri atas tanggal, nama, bidan, tempat
persalinan, alamat tempat persalinan, catatan alasan
merujuk, tempat rujukan dan pendamping saat merujuk.
(2) Kala I
Data kala I terdiri atas pertanyaan tentang partograf saat
melewati garis waspada, masalah yang dihadapi,
penatalaksanaan dan hasil penatalaksanaan tersebut.
(3) Kala II
Data kala II terdiri atas episiotomi, pendamping persalinan,
gawat janin distosia bahu, masalah penyerta,
penatalaksanaan dan hasilnya.
(4) Kala III
Data kala III terdiri atas lama kala III, pemberian obat
oksitosin, penanganan tali pusat terkendali, masase uterus,
plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir >30 menit,
66

atonia uteri, jumlah perdarahan, masalah penyerta,


penatalakasanaan dan hasilnya.
(5) Kala IV
Data kala IV terdiri atas tekanan darah, nadi, suhu, TFU,
kontraksi Uterus, kandung kemih dan perdarahan.
Pemantauan kala IV sangat penting untuk menilai untuk
menilai resiko atau terjadi perdarahan pasca persalinan.
Pemantauan kala IV dilakukan setiap 15 menit pada jam
pertama setelah melahirkan dan setiap 30 menit satu jam
berikutnya.
(6) Bayi baru lahir
Data bayi baru lahir terdiri atas berat dan panjang badan,
jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir pemberian
ASI masalah penyerta, penatalaksanaan terpilih dan
hasilnya. (Nurul Jannah, 2014:60-73)
b. Kala II
Dimulai sejak pembukaan lengkap dan berakhir dengan lahirnya
bayi. Lama kala II: pada primigravida 1½ jam, pada multigravida ½
jam.
1) Penatalaksanaan
a) Perlengkapan, bahan dan obat yang dibutuhkan
Pastikan perlengkapan jenis dan jumlah bahan yang
diperlukan dalam keadaan siap pakai untuk setiap persalinan
dan kelahiran. Kegagalan untuk menyediakan semua
perlengkapan, bahan dan obat esensial pada saat asuhan yang
diberikan, dapat meningkatkan resiko terjadi penyulit pada ibu
dan bayi baru lahir yang dapat membahayakan keselamatan
jiwa mereka.
67

b) Memberikan Asuhan Sayang Ibu


(1) Pemberian dukungan emisional
(2) Pengaturan posisi
(3) Pemberian Cairan dan Nutrisi
(4) Pengosongan Kandung Kemih
(5) Persiapan Rujukan
2) Posisi saat meneran
a) Duduk atau Setengah Duduk
Posisi ini dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu dan
memberi kemudahan baginya untuk beristirahat diantara
kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya
gravitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya.
b) Jongkok atau Berdiri
Posisi ini dapat membantu mempercepat kemajuan kala
II persalinan dan mengurangi rasa nyeri.
c) Merangkak atau Miring Kiri
Beberapa ibu merasa bahwa merangkak atau miring kiri
membuat mereka lebih nyaman dan efektif untuk meneran.
Kedua posisi tersebut juga akan membantu perbaiki posisi
oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput
anterior. Posisi merangkak sering kali membantu ibu
mengurangi nyeri punggung saat persalinan. Posisi berbaring
miring kiri memudahkan ibu untuk beristirahat diantara
kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga mengurangi
resiko terjadinya laserasi perineum.
3) Mekanisme persalinan kala II
a) Penurunan kepala
Pada primigravida, masuknya kepala kedalam pintu
atas panggul (PAP) biasanya telah terjadi pada bulan terakhir
68

kehamilan. Akan tetapi pada multigravida, hal itu terjadi pada


permulaan persalinan. Masuknya kepala kedalam PAP biasanya
diserat dengan sutura sagitalis yang melintang dan fleksi yang
ringan. Masuknya kepala melewati asinklitismus. Keadaan
tersebut ditandai dengan posisi sutura sagitalis yang terdapat
ditengah-tengah jalan lahir, tepat diantara simfisis dan
promontorium. Sementara itu, pada sinklitismus, os parietal
depan dan belakang sama tingginya. Apabila sutura sagitalis
agak kedepan mendekati simfisis atau agak kebelakang
mendekati promontorium, kepala dapat dikatakan berada dalam
keadaan asinklitismus.
Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan II
persalinan. Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi
segmen atas rahim, yang menyebabkan tekanan langsung pada
bokong janin. Dalam waktu yang bersamaan, terjadi relaksasi
dari segmen bawah rahim sehingga terjadi penipisan dan
dilatasi serviks. Keadaan tersebut menyebabkan bayi terdorong
kedalam jalan lahir. Penurunan kepala itu juga disebabkan oleh
tekanan cairan intrauterin. Kekuatan mengejan atau kontraksi
otot-otot abdomen, dan posisi angka yang melurus.
b) Fleksi
Pada awal persalinan, kepala bayi fleksi ringan. Seiring
kepala yang maju, biasanya fleksi juga bertambah. Dengan
adanya fleksi, diameter suboksiptobregmatika (9,5cm)
menggantikan diameter oksipitofrontalis (11cm) Sampai
didasar panggul, kepala janin biasanya berada dalam keadaan
fleksi maksimal. Beberapa teori mengungkapkan bahwa fleksi
terjadi karena anak didorong maju, sedangkan pada saat yang
69

bersamaan, serviks, dinding panggul atau dasar panggul


menahan laju tersebut sehingga terjadi fleksi.
c) Rotasi Dalam (Putaran Paksi Dalam)
Putaran paksi dalam adalah ubun-ubun kecil (UUK)
dari bagian depan menyebabkan bagian terendah dari bagian
depan janin memutar kearah depan kebawah simfisis.
d) Ekstensi
Setelah kepala janin sampai didasar panggul dan UUK
berada dibawah simfisis, terjadi ekstensi dari kepala janin. Hal
tersebut disebabkan oleh sumbu jalan lahir pada pintu bawah
panggul mengarah kedepan dan keatas sehingga kepala harus
mengadakan fleksi untuk melewatinya.
e) Rotasi Luar (Putaran Paksi Luar)
Kepala yang telah lahir selanjutnya mengalami
restitusi, yaitu kepala bayi memutar kembali kerah
punggungnya untuk menghilangkan torsi pada leher yang
terjadi karena putaran paksi dalam. Bahu melintasi pintu dalam
keadaan miring dan akan menyesuaikan diri dengan bentuk
panggul yang dilaluinya dalam rongga panggul. Dengan
demikian, setelah kepala bayi lahir, bahu mengalami putaran
dalam didasar panggul dan ukuran bahu (diameter bisa kronial)
menempatkan diri dalam diameter anterposterior dari pintu
bawah panggul. Bersamaan dengan itu, kepala bayi juga
melanjutkan putaran hingga belakang kepala berhadapan
dengan tuber iskiadikum sepihak.
f) Ekspulsi
Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai dibawah
simfisis dan menjadi hipomoklion untuk kelahiran bahu
belakang. Setelah kedua bahu lahir, selanjutnya seluruh badan
70

bayi dilahirkan searah dengan sumbuh jalan lahir. Kontraksi


yang efektif, fleksi kepala yang edekuat dan janin yang
berukuran rata-rata menyebabkan sebagian besar oksiput yang
posisinya posterior berputar cepat, segera setelah mencapai
dasar panggul, dan persalinan tidak begitu bertambah panjang.
(Jannah, 2014 :98-106)
4) Melahirkan kepala
Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm), letakkan kain yang
bersih dan kering yang dlipat 1/3 nya dibawah bokong ibu dan
siapkan kain atau handuk bersih diatas perut ibu (untuk
mengeringkan bayi segera setelah lahir). Lindungi perineum dengan
satu tangan (dibawah kain bersih dan kering), ibu jari pada salah
satu perineum dan empat jari pada sisi yang lain dan tangan yang
lain pada belakang kepala bayi. Tahan kepala bayi agar posisi
kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati
introtus dan perineum.
Jangan melakukan pengisapan lendir secara rutin pada mulut
dan hidung bayi. Sebagian besar bayi sehat dapat menghilangkan
lendir tersebut secara alamiah pada dengan mekanisme bersin dan
menangis saat lahir. Pada pengisapan lendir yang terlalu dalam,
ujung kanul pengisap dapat menyentuh daerah orofaring yang kaya
dengan persyarafan parsipatis sehingga dapat menimbulkan reaksi
vaso-vegal.
Selalu isap mulut bayi lebih dulu sebelum menghisap
hidungnya. Menghisap hidung lebih dulu dapat menyebabkan bayi
menarik nafas dan terjadi aspirasi mekonium atau cairan yang ada
dimulutnya.
71

5) Periksa Tali Pusat Pada Leher


Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran
dan bernafas cepat. Periksa leher bayi apakah terlilit tali pusat. Jika
dengan melewati kepala bayi. Jika lilitan tali pusat sangat erat maka
jepit tali pusat dengan klem pada 2 tempat dengan jarak 3 cm,
kemudian potong tali pusat antara 2 klem tersebut.
6) Melahirkan bahu
a) Setelah menyeka mulut dan hidung dan memeriksa tali pusat,
tunggu kontraksi berikut sehingga terjadi putaran paksi luar
secara spontan.
b) Letakkan tangan pada sisi kiri dan kanan kepala bayi, minta ibu
untuk meneran sambil menekan kepala kearah bawah dan
lateral tubuh bayi sehingga bahu depan melewati simfisis.
7) Melahirkan seluruh tubuh bayi
c. Kala III
Kala III persalinan adalah priode yang dimulai ketika bayi lahir
dan berakhir pada saat plasenta seluruhnya sudah dilahirkan. Kala III
pada primigravida berlangsung 15 menit, sedangkan multigravida 10
menit.
1) Manajemen aktif kala III
a) Pemberian suntikan oksitosin
Oksitosin 10 IU secara IM dapat di berikan dalam 2
menit setelah bayi lahir dan dapat di ulangi setelah 15 menit
jika plasenta belum lahir. Berikan oksitosin 10 IU secara IM
pada 1/3 paha kanan bawah bagian luar.
b) Penanganan tali pusat terkendali
Tempatkan klem pada ujung tali pusat ±5 cm dari
vulva, lalu pegang tali pusat dari jarak dekat untuk mencegah
ovulasi tali pusat. Saat terjadi kontraksi yang kuat, plasenta di
72

lahirkan dengan penegangan tali pusat terkendali, kemudian


tangan pada dinding abdomen menekan korpus uteri kebawah
dan atas (dorsol cranial) karpus.
Lahirkan plasenta dengan penanganan yang lembut dan
keluarkan plasenta dengan gerakan ke bawah dan keatas
mengikuti jalan lahir. Ketika plasenta muncul dan keluar dari
dalam vulva, kedua tangan dapat plasanta searah jarum jam
untuk mengeluarkan selaput ketuban.
c) Pemijatan fundus uteri (masase)
Segera setelah plasenta dan selaput dilahirkan, dengan
perlahan dan kokoh, lakukan masase uterus dengan cara
menggosok uterus pada abdomen dengan gerakan melingkar
atau sirkulasi untuk menjaga uterus tetap keras dan
berkontraksi dengan baik serta untuk mendorong pengeluaran
setiap gumpalan darah.
Periksa plasenta dengan tangan kanan dan masase
uterus dengan tangan kiri, untuk memastikan bahwa katiledon
dan membrane sudah lengkap. Seluruh lobus di bagian
maternal harus ada dan bersatu atau utuh, tanpa ketidak
teraturan tersebut, sebagian fragmen plasenta mesti masih
tertinggal.
d) Pemeriksaan plasenta
Pemeriksaan plasenta meliputi hal-hal sebagai berikut.
(1) Selaput ketuban utuh atau tidak.
(2) Plasenta (ukuran plasenta) terdiri atas.
(a) Bagian maternal, jumlah kotiledon, keutuhan pinggir
kotiledon,
(b) Again fetal, utuh atau tidak.
73

(3) Tali pusat, meliputi:


(a) Jumlah arteri dan vena,
(b) Adakah arteri atau vena yang terputus untuk
mendeteksi plasenta suksenturia,
(c) Insersi tali pusat, apakah sentral, marginal, panjang tali
pusat.
2) Pemantauan kala III
Selama kala III, hal-hal yang perlu di pantau adalah sebagai
berikut:
a) Perdarahan (jumlah darah ada bekuan darah atau tidak).
b) Kontraksi uterus (bentuk dan intensitas).
c) Robekan jalan lahir (laserasi)
d) Tanda tanda vital termaksud:
(1) Tekanan darah bertambah tinggi dari sebelum persalinan,
(2) Nadi bertambah cepat,
(3) Temperature bertambah tinggi,
(4) Respirasi beranfsung normal,
(5) Gastrointestinal normal, pada awal persalinan mungkin
muntah.
e) Hygiene personal.
3) Kebutuhan ibu bersalin pada kala III
Kebutuhan ibu bersalin selama kala III dapat meliputi
ketertarikan ibu pada bayi, dengan cara mengamati bayinya,
menanyakan jenis kelamin bayi, jumlah jari, dan mulai menyentuh
bayinya. Selain itu ibu juga dapat memberi perhatian dari dirinya
sehingga bidan perlu menjelaskan kondisi ibu (seperti ada tidaknya
penjahitan) dan memberikan bimbingan tentang kelanjutan tindakan
dan perawatan ibu. Ketertarikan ibu juga dapat mengarah pada
74

plasenta yang dilahirkan hingga bidan dapat menjelaskan kondisi


plasenta, lahir lengkap atau tidak.
4) Penanganan komplikasi persalinan kala III
a) Perdarahan kala III
Penyebab perdarahan pada kala III meliputi atonia
uteri, laserasi jalan lahir, retensio plasenta dan kelainan
pembekuan darah.
(1) Atonia uteri
Ataonia uteri adalah suatu kondisi kegagalan
berkontraksi dengan baik setelah persalinan. (Safiuddin,
2002:151)
Penyebab atonia uteri diantaranya:
(a) Distensia rahim yang berlebihan
(b) Pemanjangan masa persalinan atau partus lama
(c) Grandemultipara (paritas 5 atau lebih)
(d) Kehamilan dengan mioma uterus
Tanda dan gejala Atonia Uteri:
i. Perdarahan pervaginam
ii. Konsistensi rahim lunak
(2) Laserasi jalan lahir atau robekan perineum
Berdasarkan luas robekan, laserasi jalan lahir di klasifikasi
menjadi empat derajat robekan.
(a) Derajat I Robekan sampai mengenai mukosa vagina
dan kulit perineum.
(b) Derajat II Robekan sampai mengenai mukosa vagina,
kulit perineum dan otot perineum.
(c) Derajat III Robekan sampai mengenai mukosa vagina,
kulit perineum, otot perineum dan otot sfingter ani
eksterna.
75

(d) Derajat IV Robekan sampai mengenai mukosa vagina,


kulit perineum, otot perineum, otot sfingter ani
eksterna dan mukosa rectum.
(3) Retensio plasenta
Retensio plasenta adalah plasenta yang tertahan atau
belum lahir hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah
bayi lahir. (Abdul, 2001:154-155)
Penyebab retensio plasenta:
(a) Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena
tumbuh terlalu melekat lebih dalam. Berdasarkan
tingkat perlekatannya, kondisi plasenta dibagi
menjadi:
i. Plasenta adhesive, yang melekat pada desidua
endometrium lebih dalam.
ii. Plasenta akreta, plasenta jonjot korion memasuki
sebagian miometrium.
iii. Plasenta inkreta, plasenta menembus hingga
miometrium.
iv. Plasenta perkreta, menembus sampai serosa atau
peritoneum dinding rahim.
(b) Plasenta telah lepas, tetapi belum keluar karena
i. Atonia uteri yang dapat menyebabkan banyak
perdarahan.
ii. Terdapat lingkaran kontraksi pada bagian rahim
akibat kesalahan penanganan kala III sehingga
menghalangi plasenta untuk keluar.
(4) Kelainan pembekuan darah
Perdarahan yang telah dijelaskan sebelumnya
umumnya terjadi akibat pembekuan darah intravaskuler
76

merata atau kelainan bawaan pada mekanisme pembekuan


darah.
Penanganan perdarahan persalinan pada kala III:
(a) Atonia Uteri
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
penanganan atonia uteri adalah sbb:
i. Berikan 10 IU oksitosin IM
ii. Lakukan masase uterus untuk mengeluarkan
gumpalan darah
iii. Periksa kandung kemih jika kandung kemih dapat
dipalpasi atau gunakan tehnik aseptic untuk
memasang kateter kedalam kandung kemih.
iv. Gunakan sarung tangan DTT atau steril, lakukan
kompresi bimanual interna selama 5 menit hingga
perdarahan dapat dihentikan atau uterus
berkontraksi dengan baik.
v. Anjurkan keluarga untuk menyiapkan rujukan.
vi. Jika perdarahan dapat dihentikan dan uterus
berkontraksi dengan baik.
vii. Jika perdarahan tidak terkendali dan uterus tidak
berkontraksi selam 5 menit setelah dimulai KBI.
viii. Jika uterus tetap tidak berkontraksi, ulangi
kompresi bimanual.
ix. Jika uterus berkontraksi, lepaskan tangan
perlahan-lahan dan pantau kala IV dengan
seksama.
x. Jika uterus tidak berkontraksi, rujuk segera ke
fasilitas kesehatan untuk dilakukan pembedahan.
77

(b) Laserasi jalan lahir


Penjahitan dilakukan untuk menyatukan kembali atau
mendekatkan jaringan tubuh dan mencegah kehilangan
darah yang tidak perlu. ingat bahwa setiap kali
jaringan masuk kedalam tubuh, jaringan akan terluka
dan menjadi tempat potensial untuk terjadi infeksi.
oleh karena itu pada saat menjahit gunakan panjang
dan buat sesedikit mungkin jahitan untuk mencapai
tujuan pendekatan dan hemostatis.
(c) Retensio plasenta
Pada prinsipnya, penanganan retensio plasenta sesuai
dengan etiologi atau penyebabnya.
i. Jika plasenta terlihat dalam vagina, minta ibu
untuk mengejan dan jika plasenta dan vagina
dapat diraba, keluarkan plasenta tersebut.
ii. Pastikan kandung kemih kosong
iii. Jika plasenta belum lahir setelah 30 menit
pemberian oksitosin dan uterus berkontraksi,
lakukan penarikan tali pusat terkendali.
(Jannah, 2014:166-167)
d. Kala IV
Kala IV dimulai sejak plasenta lahir sampai dengan 2 jam
sesudahnya. Hal yang perlu diperhatikan pada kala IV adalah kontraksi
uterus sampai uterus kembali ke bentuk normal.
1) Penanganan pada kala IV
a) Tanda Vital
Pemantauan dan evaluasi lanjut tanda vital meliputi
usaha untuk memastikan bahwa uterus berkontraksi dengan
baik, tidak terjadi perdarahan pervaginam atau alat genetalia
78

lainnya, plasenta dan selaput ketuban telah lahir lengkap,


kandung kemih kosong, luka pada perineum terawat baik dan
tidak terjadi hematoma. Selain itu, ibu dan bayi berada dalam
keadaan yang baik.
Tanda syok pada ibu harus diperhatikan seperti nadi
cepat dan lemah (110 kali/menit), tekanan darah rendah sistolik
>90 mmHg, pucat, berkeringat, dingin, kulit lembab, nafas
cepat, kesadaran menurun, dan urin protein sangat sedikit.
b) Kontraksi uterus
Kontraksi yang baik pada uterus adalah bahwa uterus
teraba keras dan tidak lembek dan tinggi fundus uteri berada 1-
2 jari di bawah pusat setelah melahirkan. Pemeriksaan
kontraksi uterus dilakukan 15 menit pada jam pertama
pascapartum dan 30 menit 1 jam kedua pascapartum.
c) Lockea
Selama beberapa hari persalinan, lokhea tampak merah
karena ditemukan eritrosit atau disebut lochea rubra. Setelah 3
sampa 4 hari, lochea menjadi pucat atau lochea serosa, dan hari
ke 10, lochea tampak putih atau kekuning-kuningan atau lochea
alba. Lochea berbau busuk dapat menjadi indikasi dengan
endometrisis.
d) Kandung kemih
Kandung kemih harus tetap dipertahankan dalam
keadaan kosong. Kandung yang kemih penuh dapat
menghalangi kontraksi maksimal sehingga perdarahan dapat
terjadi.
e) Perineum
Setelah persalinan, keadaan perineum harus juga
menjadi perhatian. Apabila terdapat luka jahit, perlu
79

diperhatikan tanda-tanda infeksi, luka jahitan yang terbuka, dan


kebersihan area luka jahitan.
f) Perkiraan darah yang hilang
Perkiraan darah yang hilang sangat penting bagi
keselamatan ibu. Apabila ibu mengeluh lemas, pusing,
kesadaran menurun, dan tekanan darah sistolik turun lebih dari
10 mmHg dari kondisi sebelumnya, perdarahan telah terjadi
sebanyak lebih dari 500 ml. (Jannah, 2014:167-171)

D. Bayi Baru Lahir


1. Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi Baru Lahir (Neonatus) adalah bayi yang baru saja mengalami
proses kelahiran, berusia 0-28 hari. Bayi baru lahir memerlukan penyesuaian
fisiologis berupa maturasi, adaptasi ( menyesuaikan diri dari kehidupan intra
uterin ke kehidupan ekstrauterine) dan toleransi bagi BBL untuk dapat hidup
dengan baik. Menurut M. Shaleh Kosim, (2007) Bayi baru lahir normal
adalah berat lahir antara 2500 - 4000 gram, cukup bulan, lahir langsung
menangis, dan tidak ada kelainan kogenital (cacat bawaan) yang berat.
Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai usia 12 bulan, menurut
psikologis, bayi adalah priode perkembangan dari kelahiran hingga 18 atau 24
bulan.
2. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir normal
a. Berat badan 2500-4000 gram
b. Panjang badan 48-52 cm
c. Lingkar dada 30-38 cm
d. Lingkar kepala 33-35 cm
e. Frekuensi jantung 120-160 kali /menit
f. Pernafasan ± 40-60 kali /menit
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena subkutan cukup
80

h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya sudah sempurnah


i. Kuku agak panjang dan lemas
j. Genetalia : laki-laki testis sudah turun, skrotum sudah ada. Perempuan
labia mayora sudah menutupi labia minora.
k. Reflex menghisap dan menelan sudah baik
l. Reflex morrow atau gerak memeluk ketika dikagetkan sudah baik
m. Reflex graps atau mengenggap sudah baik
n. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarnah hitam kecoklatan.
(marmi & kukuh Rahardjo, 2012:8-9)
3. Penilaian Bayi Baru Lahir
APGAR SCORE
Tanda Nilai : 0 Nilai : 1 Nilai : 2
Tubuh
Apperance Pucat /biru Seluruh tubuh
merah,ekstremitas
( warna kulit ) seluruh tubuh kemerahan
biru
Pulse
Tidak ada < 100 .> 100
( denyut jantung )
Grimace
Ekstremitas sedikit
( tonus otot ) Tidak ada Gerakan aktif
fleksi

Activity Langsung
Tidak ada Sedikit gerak
( aktivitas ) menangis
Respiration
Tidak ada Lemah/tidak teratur menangis
( pernapasan )

Interpretasi :
a. Nilai 1 – 3 asfiksia berat
b. Nilai 4 – 6 asfiksia sedang
c. Nilai 7 – 10 asfiksia ringan/normal. (Dewi, 2011:2-3)
81

4. Penatalaksanaan Awal Bayi Baru Lahir


a. Membersihkan jalan nafas sekaligus menilai Apgar menit pertama.
b. Mengeringkan badan bayi dari cairan ketuban dengan menggunakan
kain yang halus dan handuk.
c. Memotong dan mengikat tali pusat dengan memperhatikan teknik
antiseptik sekaligus menjadi Apgar menit kelima.
d. Mempertahankan suhu tubuh.
e. Membersihkan badan bayi.
f. Memberi obat untuk mencegah terjadinya infeksi pada mata.
g. Melaksanakan pemeriksaan kesehatan bayi.
h. Memasang pakaian bayi.
i. Mengajarkan ibu cara membersihkan jalan nafas, membersihkan air susu
ibu (ASI) dan manfaatnya, perawatan tali pusat, perawatan bayi sehari-
hari, perawatan payudara selama menyusui.
j. Menjelaskan pentingnya memberikan ASI sedini mungkin, makan
bergizi bagi ibu, mengikuti program imunisasi untuk bayi dan KB bagi
ibu sesegera mungkin.
k. Melaksanakan follow up atau kunjungan rumah kembali.
(Sari Wahyuni, 2011:4-5)
5. Adaptasi fisiologis Bayi Baru Lahir
Penelitian menunjukkan bahwa 50% kematian bayi dalam priode
neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan
bayi baru lahir yang sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang
mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian. Pencegahan
merupakan hal yang terbaik yang dilakukan agar neonates dapat
menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin sehingga neonates dapat
bertahan dengan baik karena priode neonatal merupakan priode yang paling
kritis dalam fase pertumbuhan dan perkembangan bayi.
82

Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyusuaian


fungsinal neonates dari kehidupan intrauterine, kemampuan adaptasi
fisiologis ini disebut juga Homeostatis. Bila terdapat gangguan, maka bayi
akan sakit.
Hemoistasis adalah kemampuan mempertahankan fungsi-fungsi vital,
bersifat dinamis, dipengaruhi oleh tahap pertumbuhan dan perkembangan,
termasuk masa pertumbuhan dan perkembangana intrauterine.masa neonates
tepat dipandang sebagai masa adaptasi dari kehidupan ekstrauterine dari
berbagai system.
a. System pernafasan
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas
melalui plasenta, setelah bayi lahir pertukaran gas terjadi pada paru-paru
(setelah tali pusat dipotong).
Rangsangan untuk gerakan pernafasan pertama kali pada neonates
disebabkan karena adanya:
1) Tekanan mekanis pada waktu torak sewaktu melalui jalan lahir.
2) Penurunan tekanan oksigen dan kenaikan tekanan karbondioksida
merangsang kemoreseptor pada sinus karotis (stimulasi kimiawi).
3) Rangsangan dingin dimuka dapat merangsang permulaan gerakan
(stimulasi sensorik).
Saat kepala melewati jalan lahir, ia akan mengalami
penekanan yang tinggi pada toraksnya, dan tekanan ini akan hilang
dengan tiba-tiba setelah bayi lahir. Proses mekanisme ini
menyebabkan cairan yang ada dalam paru-paru terdorong karena
perifer paru untuk kemudian diabsorpsi, karena terstimulus oleh
sensor kimia, suhu serta mekanis akhirnya bayi memulai aktifitas
nafas untuk yang pertama kali.
Tekanan intoraks yang negatif disertai dengan aktivasi yang
pertama memungkinkan adanya udara yang masuk kedalam paru-
83

paru. Setelah beberapa kali nafas pertama, udara dari luar mengisi
jalan nafas dan trakea dan bronkus, akhirnya semua alveolus
mengembang karena terisi udara.
b. Jantung dan sirkulasi darah
1) Peredaran darah janin
Di dalam rahim darah yang kaya dengan oksigen dan nutrisi
berasal dari plasenta masuk kedalam janin melalaui plasenta
umblicallis, sebagian masuk vena cava inferior melalui duktus
venosus arantii. Darah dari vena cava inferior masuk ke atrium
kanan dan bercampur dengan dara dari vena cava superior. Darah
dari atrium kanan sebagian melalui foramen ovale masuk ke atrium
kiri bercampur dengan darah yang berasal dari vena pulmonalis.
Darah dari atrium kiri selanjutnya ke ventrikal kiri yang kemudian
akan dipompakan ke aorta, selanjutnya melalui arteri kronaria darah
mengalir kebagian kepala, ekstremitas kanan dan ektremitas kiri.
Sebagian kecil darah yang berasal dari atrium kanan mengalir
ke ventrikal kanan mengalir bersama-sama darah yang berasal dari
vena cava superior, karena tekanan dari paru-paru belum
berkembang, maka sebagian besar dari vetrikel kanan yang
seharusnya mengalir melalui duktus arteriosus botali ke aorta
decenden dan mengalir keseluruh tubuh, sebagian kecil mengalir ke
paru-paru dan selanjutnya ke atrium kiri melalui vena pulmonalis.
2) Perubahan peredaran darah neonatus
Aliran darah dari plasenta berhenti pada saat tali pusat diklem.
Tindakan ini menyebabkan suplai oksigen ke plasenta menjadi tidak
ada dan menyebabkan serangkaian reaksi selanjutnya.
Dampak pemotongan umbilicus terhadap hemodinamik
sirkulasi janin menuju sirkulasi bayi adalah penutupan duktus
arteriosus melalui proses sebagai berikut.
84

a) Sirkulasi plasenta terhenti, aliran darah ke atrium kanan


menurun, sehingga tekanan jantung menurun, tekanan rendah
di aorta hilang sehinnga tekanan jantung kiri meningkat.
b) Risistensi pada paru-paru dan aliran darah ke paru-paru
meningkat, hal ini menyebabkan tekanan ventrikal kiri
meningkat.
Aliran darah paru pada hari pertama ialah 4-5 liter/menit
(gessner, 1965). Aliran darah sistolik pada hari pertama rendah,
yaitu 1,96 liter/menit dan bertambah pada hari kedua dan ketiga
(3,45 liter/menit) karena penutupan duktus arteriotus. Tekanan
darah pada waktu lahir dipengaruhi oleh jumlah darah yang
melalui transfusi plasenta pada jam-jam pertama sedikit
menurun, untuk kemudian naik lagi dan menjadi konstan kira-
kira 85/40 mmHg.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa
bentuk penyesuaian neonatus pada system peredaran darah
adalah sebagai berikut:
(1) Penutupan olbitarasi sel pirau, voramen oral, duktus
venosus, duktus arteriosus.
(2) Duktus venosus berfungsi dalam pengendalian tahanan
vaskuler plasenta terutama pada saat janin mengalami
hypoxia.
(3) Duktus venosus menutup beberapa menit pertama setelah
lahir dan penutupan anatomis yang lengkap terjadi pada
hari ke-20 setelah lahir.
(4) Pada neonates darah tidak bersikulasi dengan mudah, pada
kaki dan tangan sering berwarnah kebiru-biruan dan terasa
dingin dan biasanya TD : 80/46 mmHg
85

(5) Duktus anteriosus merupakan peran vaskuler yang penting


sirkulasi fetus dan melakukan peran darah dari arteri
pulmonalis ke aorta desenden (melalui paru), selama
kehidupan fetal tekanan arteri pulmonalis sangat tinggi dan
lebih dari tekanan aorta dan penutupan duktus arteriosus
disebabkan oleh peningkatan tegangan oksigen dalam
tubuh.
c. Saluran pencernaan
Bila dibandingkan dengan ukuran tubuh, saluran pencernaan pada
neonatus relatif lebih berat dan panjang dibandingkan dengan orang
dewasa. Pada masa neonatus, taktus digestivus mengandung zat-zat
yang berwarna hitam kehijauan yang terdiri dari mmukopolosarida dan
disebut mekonium. Pada masa neonatus saluran pencernaan
mengeluarkan tinja pertama yang biasanya dalam 24 jam pertama
berupa mekonium ( zat yang berwarna hitam kehijauan). Dengan adanya
pemberian susu, mekonium mulai digantikan oleh tinja tradisional pada
hari ke tiga sampai keempat yang berwarna coklat kehijauan.
Frekuensi pengeluaran tinja pada neonatus nampaknya sangat erat
hubungannya dengan frekuensi pemberian makan dan minum. Enzim
dalam saluran pencerrnaan biasanya sudah terdapat pada neonatus
kecuali amilase pankreas, aktifitas lipase telah ditemukan pada janin
tujuh sampai delapan bulan kehamilan.
Pada saat lahir aktifitas sudah berfungsi yaitu menghisap dan
menelan, saat mengisap lidah berposisi dengan palatum sehingga bayi
hanya bernafas melalui hidung, rasa kecap dan penciuman sudah ada
sejak lahir, saliva tidak mengandung enzim tepung dalam tiga bulan
pertama dan lahir volume lambung 20-50 ml.
Adapun adaptasi pada saluran pencernaan adalah:
1) Pada hari ke 10 kapasitas lambung menjadi 100 cc.
86

2) Enzim tersedia untuk mengkatalisis protein dan karbohidrat


sederhana yaitu monoscarida dan disacarida
3) Difesiensi dan lifase pada pangkres menyebabkan terbatasnya
absorpsi lemak sehingga kemampuan bayi untuk mencerna lemak
belum matang, maka susu formula sebaiknya tidak diberikan pada
bayi baru lahir
4) Kelenjar lidah berfungsi saat lahir tetapi kebanyakan tidak
mengeluarkan ludah sampai usia bayi ± 2-3 bulan.
d. Produksi panas (suhu tubuh)
Bayi baru lahir memiliki kecenderungan untuk mengalami stress
fisik akibat perubahan suhu di luar uterus. Fluktuasi (naik turunnya)
suhu di dalam uterus minimal, rentang maksimal hanya 0,6ºC sangat
berbeda dengan kondisi diluar uterus.
Tiga faktor yang paling berperan dalam kehilangan panas tubuh
bayi, diantaranya:
1) Luasnya permukaan tubuh bayi
2) Pusat pengaturan suhu tubuh bayi yang belum berfungsi secara
sempurna
3) Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.
Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tubuh tanpa
mekanisme menggigil merupaka usaha utama seorang bayi yang
kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Suhu tubuh
normal pada neonatus, adalah 36,5-37,5 ºC melalui pengukuran di aksila
dan rectum, jika nilainya turun dibawah 36,5 ºC maka bayi mengalamai
hipotermia.
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu di sekeliling bayi
rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara
tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama setelah
lahir.
87

Gejala Hipotermia:
a) Sejalan dengan turunnya suhu tubuh, maka bayi akan jadi
kurang aktif, letargi, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan
menangis lemah.
b) Pernapasan megap-megap dan lambat, serta denyut jantung
menurun.
c) Timbul skelerema yaitu kulit mengeras berwarna kemerahan
terutama bagian punggung, tungkai dan lengan.
d) Muka bayi berwarna merah terang.
e) Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme
tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung,
perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian.
(kukuh, 2012:11-26)
e. Hepar
Fungsi hati adalah metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan
asam empedu, hati juga memiliki fungsi ekskresi (aliran empedu) dan
detoksifikasi obat/toksin. Bidan harus hati-hati dalam memberikan obat
kepada neonatus dengan memperhatikan dosis ibu.
Bila menemukan bayi lebih dari 2 minggu dan feses dan berbentuk
dempul ada kemungkinan terjadi atresia belier yang memerlukan operasi
segera sebelum usia 8 minggu. Biliburan saat lahir antara 1,8-2,8 mg/dl
yang dapat meningkat sampai 5 hari pada hari ke-3 atau ke-4 imaturitas
sel hati.
f. System imunologi
Sel fagosit, granulosit, monosit mulai berkembang sejak usia
gestasi 4 bulan. Setelah lahir imunitas neonatus cukup bulan lebih
rendah dari orang dewasa. Usia 3-12 bulan adalah keadaan
imunodefesiensi sementara sehingga bayi mudah terkena infeksi.
neonatus kurang bulan memiliki kulit yang masih rapuh, merman
88

mukosa yang mudah cedera, pertahanan tubuh lebih rendah sehingga


berisiko mengalami infeksi yang lebih besar. (hj.deslidell DKK, 2011)
6. Tanda-tanda bahaya Bayi Baru Lahir
a. Pernafasan sulit atau lebih dari 60 kali /menit
b. Terlalu panas (>37,5ºC) / dingin (36,5ºC)
c. Warna kulit kuning, biru atau pucat
d. Isapan lemah (tidak mau menghisap)
e. Mengantuk berlebihan/banyak muntah
f. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan berbau busuk dan berdarah
g. Infeksi (suhu meningkat, pernapasan sulit)
h. Feses/kemih (tidak berkemih dalam 24 jam, feses lembek, kering, hijau
tua, ada lendir atau darah)
i. Aktivitas: menggigil (tangis tidak biasa, sangat mudah tersinggung,
lemas, terlalu mudah mengantuk, lunglai, kejang, kejang halus,
menangis terus menerus)
7. Mekanisme kehilangan panas
Berikut ini merupakan penjelasan tentang empat mekanisme
kemungkinan hilangnya suhu tubuh dari bayi baru lahir.
a. Konduksi
Panas dihantarkan tubuh bayi ketubuh benda sekitarnya yang
kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari tubuh bayi
ke objek lain melalui kontak langsung). Contoh hilangnya panas tubuh
bayi secara konduksi, ialah menimbang bayi tanpa alas timbangan,
tangan penolong memegang bayi baru lahir, menggunakan stetoskop
untuk memeriksa bayi baru lahir.
b. Konveksi
Panas hilang dari bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak
(jumlah panas yang hilang tergantung pada kecepatan suhu dan udara).
Contoh hilangnya panas tubuh bayi secara konveksi, ialah yaitu dengan
89

menempatkan atau membiarkan bayi baru lahir dekat jendela,


membiarkan bayi berada di ruangan yang terpasang kipas angin.
c. Radiasi
Panas yang dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya
kelingkungan yang lebih dingin (perpindahan panas antara dua objek
yang mempunyai suhu yang berbeda). Contoh bayi yang mengalami
kehilangan panas tubuh yang secara radiasi, ialah bayi baru lahir
dibiarkan berada dalam ruangan dengan Air Conditioner (AC) tanpa
diberikan pemanas (Radiant Warmar), bayi baru lahir dibiarkan
telanjang, bayi baru lahir ditidurkan berdekatan dengan ruangan yang
dingin, misalnya dekat tembok.
d. Evaporasi
Panas hilang melalui penguapan tergantung kepada kecepatan dan
keelembaban udara (perpindahan panas dengan cara merubah cairan
dengan uap). Evaporasi dipengaruhi oleh jumlah panas yang dipakai,
tingkat kelebaban udara, aliran udara yang melewati.
Akibat dari suhu tubuh yang rendah yaitu dengan metabolisme
jaringan akan meningkat dan berakibat lebih mudah terjadi asisdosis
metabolic berat hingga kebutuhan oksigen akan meningkat.
Tidak semua neonatus memiliki ketahanan suhu tubuh yang sama,
karena hal ini sangat dipengaruhi oleh : Suhu bayi, umur kehamilan dan
berat badan bayi. Untuk mengurangi kehilangan panas tersebut diatas
dapat ditanggulangi dengan mengatur suhu tubuh lingkungan,
membungkus badan bayi dengan kain hangat, disimpan didalam
incubator, mengeringkan bayi secara seksama, menyelimuti bayi dengan
selimut atau kain bersih, kering dan hangat, menutupi bagian kepala
bayi, menganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayi.
(kukuh, 2012:11-28)
90

8. Perawatan Tali Pusat


Perawatan tali pusat yang benar dan lepasnya tali pusat pada minggu
pertama secara bermakna dapat mengurangi insiden infeksi pada neonatus.
Jelly Wharton yang membentuk jaringan nekrotik dapat berkolonisasi
dengan organisme pathogen, kemudian menyebar dan menyebabkan infeksi
kulit dan infeksi sistemik pada bayi. Yang terpenting dalam perawatan tali
pusat adalah menjaga tali pusat tetap kering dan bersih. Cuci tangan dengan
sabun dan air bersih sebelum merawat tali pusat. Bersihkan dengan lembut
disekitar tali pusta dengan kapas basah, kemudian bungkus dengan
longgar/tidak terlalu rapat dengan kapas bersih/steril. Popok dan celana bayi
di ikat dibawah tali pusat, tidak menutupi tali pusat untuk menghindari
kontak dengan feses dan urin. Hindari penggunaan kancing, koin atau uang
untuk membalut tekan tali pusat.
Antiseptik dan antimikroba topikal dapat digunakan untuk mencegah
kolonisasi kuman dari kamar bersalin. Antiseptic yang biasa digunakan
adalah alcohol dan povidine-iodine. Akan tetapi, penelitian terbaru
membuktikan bahwa penggunaan povidine-iodine dapat menimbulkan efek
samping karena di absobsi oleh kulit dan berkaitan dengan terjadinya
transien hipotiriodisme. Alcohol juga tidak dianjurkan untuk merawat tali
pusat karena dapat mengiritasi kulit dan menghambat pelepasan tali pusat.
Saat ini belum ada mengenai petunjuk penggunaan antiseptic yang baik dan
aman di gunakan untuk perawatan tali pusat, karena itu dikatakan yang
terbaik adalah menjaga tali pusat tetap kering dan bersih.
(Sarwono Prawirohardjo, 2014)
91

E. Masa Nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Ada beberapa pengertian masa nifas antara lain :
a. Masa nifas dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai
dengan 6 minggu berikutnya (JHPEIGO,2002).
b. Masa nifas tidak kurang dari 10 dan tidak lebih dari 8 hari setelah akhir
persalinan, dengan pemantauan bidan sesuai dengan kebutuhan ibu dan
bayi (Bennet dan Brown,1999).
c. Masa nifas atau puerperium adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil.
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari perawatan masa nifas adalah
a. Memulihkan kesehatan umum penderita
1) Menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan
2) Mengatasi anemia
3) Mencegah infeksi dengan memperhatikan kebersihan dan sterilisasi
4) Mengembalikan kesehatan umum dengan pergerakan otot untuk
memperlancar peredaran darah
b. Mempertahankan kesehatan psikologis
c. Mencegah infeksi dan komplikasi
d. Memperlancar pembentukan produksi ASI
e. Mengajarkan ibu untuk melaksanakan perawatan mandiri sampai masa
nifas selesai dan memelihara bayi dnegan baik, sehingga bayi dapat
mengalami pertumbuhan dan perkembangan normal.
3. Tahapan-tahapan Masa Nifas
a. Puerperium dini, yaitu masa kepulihan yang dalam hal ini ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan.
b. Puerperium intermidal, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia,
yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
92

c. Remote puerperium, yaitu waktu yang di perlukan untuk pulih dan sehat
sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna mungkin beberapa minggu,
bulan dan tahun.
4. Tindak lanjut Asuhan Masa Nifas
a. Enam hari post partum
Pada kunjungan pertama ini, yang perlu bidan kaji adalah:
1) Memastikan infolusio berjalan dengan normal, uterus berkontraksi,
fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal dan tidak
ada bau
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
abnormal
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan
tanda-tanda infeksi
5) Bagaimana adaptasi pasien sebagai ibu dalam melaksanakan
perannya di rumah
6) Bagaimana perawatan diri dan bayi sehari-hari, siapa membantu
dan sejauh mana dia membantu.
Dari beberapa hasil pengkajian tersebut, bentuk asuhan yang
di berikan bidan dalam kaitannya dengan perubahan psikologis ibu,
antara lain:
a) Apabila terjadi baby blues, maka bidan harus melakukan
pendekatan kepada pasien dan keluarga, serta meningkatkan
dukungan mental terhadap pasien dengan melibatkan keluarga.
b) Menganjurkan dan memfasilitasi ibu untuk berdekatan dengan
bayinya.
c) Membantu ibu untuk mulai membiasakan untuk menyusui
sesuai permintaan bayi (on demand)
93

d) Memberi pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga


mengenai pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu dan istirahat yang
cukup setelah melahirkan.
b. Dua minggu post partum
Dalam kunjungan ini, bidan perlu mengevaluasi ibu dan bayi.
Pengkajian terhadap ibu meliputi:
1) Presepsinya tentang persalinan dan kelahiran, kemampuan yang
sekarang dan bagaimana dia merespon terhadap bayi barunya.
2) Kondisi payudara, meliputi congesti, apakah ibu menyusui atau
tidak, tindakan kenyamanan apa yang ia gunakan untuk mengurangi
ketidaknyamanan.
3) Asupan makanannya, baik kualitas maupun kuantitasnya.
4) Nyeri, kram abdomen, fungsi bowel.
5) Adanya kesulitan atau ketidaknyamanan dengan urinasi.
6) Jumlah, warna dan bau perdarahan lochea.
7) Nyeri, pembengkakan perineum dan jika ada jahitan lihat kerapatan
jahitan.
8) Adanya hemoroid dan tindakan kenyamanan yang digunakan.
9) Adanya nyeri, oedema dan kemarahan pada ekstremitas bawah.
10) Apakah ibu mendapatkan istirahat yang cukup baik pada malam
hari maupun siang hari.
Pengkajian terhadap bayi meliputi:
a) Suplai ASI.
b) Pola berkemih dan buang air besar , termaksud frekuensinya.
c) Warnah kulit bayi, apakah ikterus atau sianosis.
d) Keadaan tali pusat, tanda-tanda infeksi.
e) Bagaimana bayi berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya,
Bentuk asuhan yang diberikan padda tahap ini adalah:
94

(1) Mendorong suami dan keluarga untuk lebih


memperhatikan ibu nifas.
(2) Memberikan dukungan dan aspresiasi atas apa yang telah
dilakukan oleh ibu untuk meningkatkan kemampuan dan
keterampilannya merawat bayi dan dirinya.
(3) Memastikan tidak ada kesulitan dalam proses menyusui.
c. Enam minggu post partum
Pengkajian (melalui anamnese) seperti pada kunjungan 2 minggu
post partum ditambah.
1) Permulaan seksual jumlah waktu, penggunaan kontrasepsi.
2) Metode KB yang ingin digunakan, dan riwayat KB yang lalu.
3) Adanya gejala demam, kedinginan, pilek dan sebagainya.
4) Keadaan payudara
5) Fungsi perkemihan.
6) Latihan pencegan otot perut.
7) Fungsi pencernaan, konstipasi, dan bagaimna penanganannya.
8) Resolusi lochea, apakah haid sudah mulai.
9) Kram atau nyeri tungkai.
5. Perubahan yang terjadi pada Masa Nifas
b. Perubahan sistem reproduksi
1) Uterus
a) Involusi
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada
kondisi sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar
dari desi dua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi
neurotic (layu/mati).
Perubahan ini dapat di ketahui dengan melakukan
pemeriksaan palpasi untuk meraba dimana TFUnya (tinggi
fundus uteri).
95

(1) Pada saat bayi lahir, fundus uteri setinggi pusat dengan
berat 1000 gram.
(2) Pada akhir kala III, TFU teraba dua jari di bawah pusat.
(3) Pada 1 minggu post partum, TFU teraba pertengahan pusat
simpisis dengan berat 500 gram.
(4) Pada 2 minggu post partum, TFU teraba di atas simpisis
dengan berat 350 gram.
(5) Pada 6 minggu post partum, fundus uteri mengecil (tak
teraba) dengan berat 50 gram.
b) Lochea
Lochea adalah eskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desi dua yang
nekrotik dari dalam uterus.
Lochea di bedakan 3 jenis berdasarkan warna dan waktu
keluarnya:
(1) Lochea Rubra/merah
Lochea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke 4 masa
post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena
terisi darah segar, jaringan sisa–sisa plasenta, dinding
rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.
(2) Lochea Sanguinolenta
Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta
berlangsung dari hari ke 4 sampai hari ke 7 post partum.
(3) Lochea Serosa
Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena
mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi
plasenta. Keluar pada hari ke 7 sampai hari ke 14.
(4) Lochea Alba/Putih
96

Lochea ini mengandung leukosit, sel desi dua, sel epitel,


selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati.
Lochea alba ini dapat berlangsung selama 2 – 6 minggu
post partum.
b. Perubahan pada serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks agak
menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir. Bentuk ini di
sebabkan oleh corpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada
perbatasan antara corpus dan serviks berbentuk semacam cincin.
1) Vulva
Vulva dan vagina mengalami penekanan, serta peregangan
yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa
hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap dalam
keadaan kendor. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali
kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara
berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi
lebih menonjol.
2) Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena
sebelumnya teregan oleh tekanan bayi yang bergerak maju. Pada
postnatal hari 5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian
tonusnya, sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum
hamil.
c. Perubahan sistem pencernaan
Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal
ini disebabkan karena pada waktu persalinan, alat pencernaan
mengalami tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong,
pengeluaran cairan berlebih pada waktu persalinan, kurangnya asupan
97

cairan dan makanan, serta kurangnya aktivitas tubuh. Supaya buang air
besar normal, dapat diatasi diet tinggi serat, peningkatan asupan cairan,
dan ambulasi awal. Bila ini tidak berhasil, dalam 2 -3 hari dapat di
berikan obat laksansia.
d. Perubahan sistem perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit
untuk buang air kecil dala 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari
keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan edema leher kandung
kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan) antara kepala
janin dan tulang pubis selama persalinan berlangsung.
Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12-36 jam post
partum. Kadar hormon estrogen yang bersifat menahan air akan
mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut di sebut
“diuresis“. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal daam 6 minggu.
Dinding kandung kemih memperlihatkan odem dan hyperemia,
kadang-kadang odem trigonum yang menimbulkan alostaksi dari uretra
sehingga menjadi retensio urine. Kandung kemih dalam masa nifas
menjadi kurang sensitif dan kapasitas bertambah sehingga setiap kali
kencing masih tertinggal urine resi dual (normal kurang lebih 15 cc).
Dalam hal ini, sisa urine dan trauma pada kandung kemih sewaktu
persalinan dapat menyebabkan infeksi.
e. Perubahan sistem muskuloskeletan
Ligamen-ligamen, diafragma velvis, serta fasia yang meregang
pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih
kembali sehingga tak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi
retropleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor. Stabilisasi
secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan. Untuk
memulihkan kembali jaringan – jaringan menunjang alat genetalia, serta
98

otot-otot dinding perut dan dasar panggul, dianjurkan untuk melakukan


latihan-latihan tertentu.
f. Perubahan sistem endokrim
1) Hormon plasenta
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan.
HCG (Human Chorionic Gonadotropin) menurun dengan cepat dan
menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke 7 post partum dan
sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke 3 post partum.
2) Hormon pituitary
Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita
yang tidak menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu.
FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi polikuler
( minggu ke 3 ) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
3) Hypotalamik pituitary ovarium
Lamanya seorang wanita mendapat menstruasi juga
dipengaruhi oleh faktor menyusui. Seringkali menstruasi pertama
ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar estrogen dan
progesteron.
4) Kadar estrogen
Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar estrogen yang
bermakna sehingga aktivitas prolaktin yang juga sedang meningkat
dapat memengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.
g. Perubahan tanda vital
1) Suhu badan
Dalam 1 hari ( 24 jam ) post partum, suhu badan akan naik
sedikit (37,5oc – 38oc) sebagai akibat kerja keras sewaktu
melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan
normal, suhu badan menjadi. Biasanya, pada hari ke 3 suhu badan
naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi
99

bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu


tidak turun, kemungkinan adanya inpeksi pada endometrium
(mastitis, tractus genetalis, atau sistem lain).
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60 – 80 kali
per menit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih
cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit adalah
abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan inpeksi.
3) Tekanan darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan
darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ada
perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat post partum dapat
menendakan terjadinya pre eklamsipost partum.
4) Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan suhu dan denyut
nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal maka pernapasan juga akan
mengukutinya, kecuali bila ada gangguan khusus pada saluan
pencernaan.
h. Perubahan sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk
menampung aliran darah yang meningkat, yang diperlukan oleh plasenta
dan pembuluh darah uteri. Penarikan kembali estrogen menyebabkan
diuresis yang terjadi secara cepat sehingga mengurangi volume plasma
kembali pada proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama
setelah kelahiran bayi. Selama masa ini, ibu mengeluarkan banyak
sekali jumlah urine. Hilangnya pengesteran membantu mengurangi
retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada
jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma masa
persalinan. Pada persalinan, vagina kehilangan darah sekitar 200-500ml.
100

sedangkan pada persalinan dengan SC, pengeluaran 2 kali lipatnya.


Perubahan terdiri dari volume darah dan kadar Hmt (haematokrit).
i. Perubahan sistem hematology
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan
plasma, serta factor-faktor pembekuan darah makin meningkat pada hari
pertama post partum, kadar fibrinigen dan plasma akan sedikit menurun,
tetapi darah akan mengental sehingga meningkat faktor pembekuan
darah. Leukositosis yang meningkat dengan jumlah sel darah putih
dapat mencapai 15.000 selama proses persalinan akan tetap tinggi dalam
beberapa hari post partum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik
lagi sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan yang lama. (Sulistyawati, 2009:73-82)
6. Program dan kebijakan nasional tentang kunjungan masa nifas
Tabel 1.3 Kebijakan Program Masa Nifas
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah a. Mencegah perdarahan masa nifas akibat
persalinan atonia uteri.
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan dan rujuk jika perdarahan
berlanjut.
c. Memberi konseling pada ibu atau salah satu
anggota keluarga mengenai cara mencegah
perdarahan masa nifas akibat atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi
baru lahir.
f. Menjaga bayi tetap sehat dan mencegah
hipotermia.
g. Petugas kesehatan yang menolong
persalinan harus mendampingi ibu dan bayi
baru lahir selama 2 jam pertama setelah
101

kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam


keadaan stabil.
2 6 hari setelah a. Memastikan involusia berjalan dengan
persalinan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal,
dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya demam.
c. Memastikan agar ibu mendapatkan cukup
makanan, cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik, dan
tidak memperlihatkan tanda penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu tentang
asuhan pada bayi, perawatan tali pusat,
menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan
bayi sehari-hari.
3 3 minggu setelah a. Memastikan involusia berjalan dengan
persalinan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah
umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal,
dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya demam.
c. Memastikan agar ibu mendapatkan cukup
makanan, cairan dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik, dan
tidak memperlihatkan tanda penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu tentang
asuhan pada bayi, perawatan tali pusat,
menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan
bayi sehari-hari.
4 6 minggu setelah a. Mengkaji kemungkinan penyulit pada ibu.
persalinan b. Memberi konseling tentang keluarga
berancana (KB) secara dini.

Sumber : Walyani dan Purwoastuti, 2015


102

7. Penatalaksanaan Masa Nifas


a. After Pain (Kram perut)
Hal ini disebabkan karena adanya serangkaian kontraksi dan
relaksasi yang terus menerus pada uterus. Gangguan ini lebih banyak
terjadi pada wanita multipara dan wanita menyusui. Cara yang tepat
untuk mengurangi after pain adalah dengan mengosongkan kandung
kemih yang penuh yang menyebabkan kontraksi uterus yang tidak
optimal. Ketika kandung kemih kosong, ibu dapat telungkup dengan
bantal dibawah perut. Hal ini akan menjaga kontraksi dan
menghilangkan nyeri. Pada keadaan ini dapat juga diberi analgetik
(Parasetamol, asam mefenamat, kodein, atau asteminofen).
b. Pembengkakan payudara
Pembengkakan payudara terjadi karena adanya gangguan antara
akumulasi air susu dan meningkatnya vaskularitar dan kongesti. Hal
tersebut menyebabkan penyumbatan pada saluran limfe dan vena, terjadi
pada hari ke tiga post partum baik pada penyusui maupun tidak
menyusui dan berakhir kira-kira 24-28 jam.
Tanda dan gejala gangguan ini meliputi ibu merasa payudaranya
bengkak dan mengalami distensi, kulit payudara menjadi mengilat dan
merah, payudara jadi hangat jika disentuh, vena payudara terlihat,
payudara nyeri, terasa keras, dan penuh. Cara mengurangi, antara lain:
1) Untuk ibu menyusui
a) Menyusui sesering mungkin
Menyusui setiap 2-3 jam sekali secara teratur tanpa makanan
tambahan
Gunakan payudara saat menyusui:
(1) Gunakan air hangat pada payudara, dengan menempelkan
kain atau handuk yang hangat pada payudara
103

(2) Pada payudara di antara waktu menyusui untuk


mengurangi nyeri
(3) Minum parasetamol/asetaminofen untuk mengurangi rasa
nyeri
2) Bagi ibu yang tidak menyusui
a) Gunakan bra yang kuat menyangga payudara dan tepat
ukurannya
b) Pada payudara untuk mengurangi rasa nyeri dan menghalangi
aliran ASI
c) Yakinkan diri bahwa itu hanya terjadi selama 24-48 jam
d) Hindari masase payudara dan memberi sesuatu yang hangat
pada payudara karena dapat meningkatkan produksi ASI
e) Minum parasetamol/asetaminofen untuk mengurangi rasa nyeri
c. Nyeri perineum
Nyeri perineum dapat disebabkan oleh episotomi, laserasi atau
jahitan. Sebelum memberikan asuhan, sebaiknya bidan mengkaji apakah
nyeri yang dialami ibu normal atau ada komplikasi, seperti hematoma
atau injeksi.
Asuhan yang dapat diberikan untuk nyeri perineum, yaitu:
1) Letakkan kantong es didaerah genitalia untuk mengurangi rasa
nyeri, selama ±20 menit, 2 atau 3 kali sehari.
2) Lakukan rendam duduk dalam air hangat atau dingin selama 10-15
cm selama 30 menit, 2 atau 3 kali sehari. Perhatikan kebersihan bak
mandi agar tidak terjadi injeksi (tidak dilakukan pada ibu dengan
jahitan di perineum).
3) Lakukan latihan kegal untuk meningkatkan sirkulasi didaerah
tersebut dan membantu memulihkan tonus otot. Untuk melakukan
hal ini, bayangkan otot perineum sebagai elevator. Ketika rileks,
104

elevator tersebut berada dilantai satu. Secara perlahan, kontraksikan


otot anda untuk mengangkatkan kelantai dua, tiga dan empat.
4) Minum parasetamol/asetaminofen untuk mengurangi nyeri.
d. Manajemen konstipasi
Pada umumnya, sebagian besar wanita akan defeksi dalam tiga
hari pertama setelah persalinan, kemudian akan kembali kebiasaan
semula. Namum, ada sebagian wanita yang mungkin menemui masalah
konstipasi setelah melahirkan. Hal ini karena motilitas ususnya
berkurang selama persalinan dan sementara waktu setelahnya. Obat
anestesi selama persalinan dapat mengurangi motilitas usus. Akan
tetapi, dapat juga karena rasa takut sakit dan merusak/merobek jahitan.
Asuhan yang dapat dilakukan, antara lain:
1) Meningkatkan jumlah cairan yang diminum
2) Meningkatkan jumlah makanan berserat
3) Mengkomsumsi buah-buahan.
4) Istirahat yang cukup
5) Biasakan defekasi tepat waktu
6) Defekasi pada saat pertama kali ada dorongan
7) Beri laksatif untuk melunakkan feses bila konstipasi parah.

F. Keluarga Berencana
1. Pengertian Keluarga Berencana
Pengertian Keluarga Berencana menurut UU No.10 Tahun 1992
tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga
Sejahtera adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat
melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran,
pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil,
bahagia dan sejahtera.
105

2. Tujuan Keluarga Berencana


Defenisi keluarga berencana Menurut WHO Expert Commite,(1970)
keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan
suami istri untuk:
1) Mendapatkan objektif-objektif tertentu
2) Menghindarkan kelahiran yang tidak diinginkan
3) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
4) Mengatur interval di antara kelahiran waktu saat kelahiran
5) Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami
istri
6) Menentukan jumlah anak dalam keluarga. (Pinem, 2009:188)
3. Jenis-jenis Kontrasepsi
a. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
1) MAL adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara
ekslusif.
2) Syarat penggunaan kontrasepsi MAL adalah:
a) Ibu menyusui secara penuh
b) Belum haid
c) Umur bayi kurang dari 6 bulan
3) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan kontrasepsi
MAL agar efektif:
a) Ibu harus menyusui secara penuh atau hampir penuh
b) Perdarahan sebelum 56 hari pasca persalinan dapat di abaikan
(belum di anggap haid)
c) Bayi menghisap secara langsung
d) Menyusui di mulai dari setengah sampai satu jam setelah bayi
lahir
e) Colostrum di berikan kepada bayi
f) Pola menyusui secara on demand dan dari kedua payudara
106

g) Sering menyusui selama 24 jam termasuk malam hari


h) Hindari jarak menyusui lebih dari 24 jam
4) Keuntungan kontrasepsi:
a) Efektifitas tinggi
b) Segera efektif
c) Tidak mengganggu senggama
d) Tidak ada efek samping sistemik
e) Tidak perlu pengawasan medis
f) Tidak perlu obat atau alat
g) Tanpa biaya
5) Keuntungan non kontrasepsi:
a) Untuk bayi: mendapat antibodi perlindungan lewat ASI
(kekebalan pasif, sumber asupan gizi terbaik dan sempurna
untuk tumbuh kembang bayi yang optimal, tidak terpapar
dengan air, susu lain atau susu formula, atau alat minum yang
di pakai).
b) Untuk ibu: mengurangi perdarahan post partum, mengurangi
resiko anemia, meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi.
6) Keterbatasan/Kerugian:
a) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera
menyusui dalam 30 menit pasca persalinan.
b) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial.
c) Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau sampai
dengan 6 bulan.
d) Tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual, termasuk
hepatitis B (HBV) dan HIV/AIDS
e) Yang dapat menggunakan MAL adalah ibu yang menyusui
secara eksklusif, bayinya berusia kurang dari 6 bulan dan
belum mendapat haid setelah melahirkan.
107

b. Metode KB Alamiah (untuk menentukan saat ovulasi) yaitu:


1) Metode kalender (Ogino-Knaus)
a) Teknik metode kalender:
(1) Untuk menentukan awal masa subur dengan mengurangi
18 hari dari siklus haid terpendek.
(2) Untuk menentukan akhir masa subur dengan mengurangi
11 hari dari siklus haid terpanjang
b) Masa ovulasi
(1) Pada siklus terpendek: tanggal 26 – 14 hari= tanggal 12
september. Lebih cepat atau lebih lambat 2 hari. Jadi
ovulasi antara tanggal 10 september – 14 september.
(2) Pada pada siklus terpanjang: tanggal 29 – 14= tanggal 15
september, lebih cepat atau lebih lambat 2 hari. Jadi
ovulasi antar tanggal 13 september – 17 september. Jadi
masa ovulasi pada siklus haid 26 – 29 hari tersebut adalah
mulai tanggal 10 september sampai tanggal 17 september.
2) Metode suhu badan basal (Termal)
Peninggian suhu badan basal 0,2-0,5 °C pada waktu ovulasi.
Peningkatan suhu badan basal di sebabkan oleh peningkatan kadar
hormon progesteron, mulai 1-2 hari setelah ovulasi.
a) Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu badan basal:
(1) Influenza atau infeksi saluran pernafasan lain.
(2) Peradangan lokal lidah, mulut atau daerah anus.
(3) Penyakit-penyakit lain yang meningkatkan suhu badan.
(4) Jam tidur yang tidak teratur.
(5) Faktor-faktor situasional seperti mimpi buruk, menganti
popok bayi pada pukul 6 pagi dll.
(6) Minum minuman panas atau dingin sebelum pengambilan
suhu badan basal
108

(7) Gagal membaca termometer dengan tepat


3) Metode lendir serviks atau metode ovulasi billings (MOB)
Perubahan siklus dari lendir serviks yang terjadi karena
perubahan kadar estrogen.
Cara pemeriksaan lendir serviks:
Masa subur dapat di pantau melalui lendir serviks yang keluar dari
vagina, pengamatan sepanjang hari, dan ambil kesimpulan pada
malam hari.
a) Ciri-ciri lendir serviks pada berbagai fase dari siklus haid (30)
hari:
(1) Fase 1. Haid hari 1-5, lendir dapat ada atau tidak dan
tertutup oleh darah haid.
(2) Fase 2. Pasca haid hari ke 6-10, tidak ada lendir atau
kalaupun ada sedikit sekali
(3) Fase 3. Awal pra-ovulasi, hari 11 – 13, lendir keruh,
kuning atau putih dan liat (kenyal).
(4) Fase 4. Segera sebelum pada saat dan sesudah ovulasi hari
ke 14-17. Lendir bersifat jernih licin, basah, dapat di
regangkan konsistensinya seperti putih telur.
(5) Fase 5. Pasca ovulasi hari ke 18-21, lendir sakit, keruh dan
liat. Perasaan liat atau lembab
(6) Fase 6. Akhir pasca ovulasi atau segera pra-haid, hari ke
27-30, lendir jernih seperti air.
b) Penyulit metode lendir serviks
(1) Keadaan fisiologis: sekresi vagiana karena rangsanagan
seksual.
(2) Keadaan patologis: infeksi vagina, serviks, penyakit dan
pamekaian obat-oabatan
(3) Keadaan psikologis; stress fisik dan emosional.
109

c) Efektifitas metode lendir serviks


(1) Angka kegagalan 0,4-39,7 kehamilan pada 100 wanita
pertahun
(2) Di samping berpantangan pada saat di perlukan, masih ada
3 sebab lainnya terjadi kegagalan/kehamilan yaitu:
mulainya pengeluaran lendir terlambat, gejala-gejala
puncak timbul terlalu dini, lendir tidak dirasakan oleh si
wanita atau menilainya salah.
4) Metode senggama terputus atau coitus interuptus
Adalah suatu metode kontrasepsi dimana senggama di akhiri
sebelum terjadi ejakulasi intra-vaginal. Cara kerja: alat kelamin
(penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk
kedalam vagina. Dengan demikian tidak ada pertemuan antara
spermatozoa dengan ovum sehingga kehamilan dapat dicegah.
Keuntungan:
a) Kontrasepsi
(1) Efektif bila di laksanakan dengan benar.
(2) Tidak mengganggu produksi ASI
(3) Dapat di gunakan sebagai pendukung metode KB lainnya
(4) Tidak ada efek samping
(5) Tidak memerlukan alat, murah
(6) Selalu tersedia setiap saat
b) Nonkontrasepsi
(1) Meningkatkan keterlibatan suami dalam KB
(2) Meningkatkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang
mendalam pada pasangan
Keterbatasan:
a) Angka kegagalan cukup tinggi yaitu 4-27 kehamilan per 100
perempuan pertahun
110

b) Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam


sejak ejakulasi masih melekat pada penis
c) Memutus kenikmatan dalam hubungan seksual
c. Metode Barier
1) Kondom untuk pria
Dasar: menghalangi masuknya spermatozoa ke dalam traktus
genitalia interna perempuan.
Kondom merupakan sarung/selubung karet yang berbentuk
silinder, dapat terbuat dari lateks (karet), plastic (vini) atau bahan
alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat
bersenggama.
Indikasi penggunaan kondom:
a) Pada laki-laki: penyakit genitalia, penis sensitive terhadap
secret vagina, ejakulasi dini.
b) Pada perempuan:
(1) Vaginitis, termasuk yang sedang dalam pengobatan.
(2) Kontra indikasi terhadap penggunaan alat kontrasepsi
dalam Rahim (AKDR) sedangkan pemasangan diafragma
atau kap serviks tidak memungkinkan baik secara anatomis
maupun psikologis.
(3) Untuk membuktikan bahwa tidak ada semen yang
dilepaskan ke dalam vagina.
2) Barier Intra Vaginal pada Perempuan
Dasar: menghalangi masuknya spermatozoa ke dalam saluran
genitalia interna wanita dan immobilisasi atau mematikan
spermatozoa oleh spermisidanya.
Keterbatasan Metode Barier Intra-vaginalis:
a) Angka kegagalan relatif tinggi
111

b) Aktivitas hubungan seks harus dihentikan sementara untuk


memasangnya.
c) Perlu dipakai setiap kali bersenggama.
Macam-macam barrier intra-vaginal yaitu: diafragma, kap serviks,
spons, kondom wanita.
a) Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung (mangkok),
terbuat dari lateks (karet) yang di insersikan kedalam vagina
sebelum berhubungan dan menutup serviks.
Keuntungan diafragma:
(1) Sangat efektif bila dipakai dengan benar dan bila
digunakan dengan spermisida.
(2) Aman, tidak mengganggu kesehatan klien, tidak
mempunyai pengaruh sistemik.
(3) Diawasi sendiri oleh pemakai.
(4) Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah
terpasang sampai 6 jam sebelumnya.
(5) Hanya dipakai bila diperlukan.
(6) Tidak mempengaruhi laktasi.
(7) Dapat dipakai selama haid (tetapi sangat tidak dianjurkan).
(8) Mempunyai efek perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS
bila digunakan dengan spermisida.
Kerugian/Keterbatasan:
(1) Efektifitas angka kegagalan 6-16 kehamilan per 100
perempuan per tahun.
(2) Kurang popular karena memerlukan tingkat motivasi tinggi
dari pemakainya.
(3) Perempuan perlu memanipulasi genitalianya sendiri.
112

(4) Untuk pemakaian awal perlu bimbingan/instruksi cara


pemasangan oleh tenaga klinik yang terlatih.
(5) Menjadi mahal bila sering dipakai, karena perlu biaya
untuk pembelian spermisidnya.
(6) Insersinya relatif sulit
(7) Pada kasus tertentu dapat terasa oleh suami saat
bersenggama.
(8) Beberapa perempuan mengeluh “basah/becek” disebabkan
spermisidnya.
(9) Pada beberapa pemakai dapat menyebabkan infeksi uretra.
(10) Kemungkinan timbulnya Sindrom Syok Toksik (TSS).
Syok disebabkan oleh toksin yang dihasilkan bakteri
staphylococcus aureus.
(11) Wanita dan keluarga harus di ajari tanda-tanda TSS yaitu:
dimama, diare, muntah, nyeri otot dan ras (seperti tersengat
matahari). Jika diduga terjadi syok keracunan, segera rujuk
klien ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Berikan
rehidrasi per oral dan analgetik seperti aspirin atau antalgin
jika suhu tubuh > 38℃.
b) Kap Serviks
Kap serviks adalah suatu alat kontrasepsi yang hanya menutupi
serviks saja. Dibandingkan dengan diafragma, kap serviks lebih
tinggi kubahnya (lebih dalam) tetapi lebih kecil diameternya,
lebih kaku dan menutupi serviks karena hisapan, bukan karena
pegas. Pada saat ini kap serviks terbuat dari karet.
Keuntungan kap serviks:
(1) Efektif, meskipun tanpa spermisida, tetapi jika dibiarkan
tetap di serviks untuk waktu lebih dari 24 jam, perlu diberi
113

spermisida sebelum bersenggama untuk menambah


efektifitasnya.
(2) Kap serviks dapat dibiarkan selama seluruh periode
intermenstrual, dan hanya perlu dikeluarkan pada saat
perkiraan datangnya haid (tetapi tidak dianjurkan).
(3) Tidak terasa oleh suami saat bersenggama.
(4) Dapat dipakai oleh perempuan sekalipun ada kelainan
anatomis dari vagina.
(5) Kap serviks hanya menutupi serviks saja sehingga tidak
memerlukan pengukuran ulang bila terjadi perubahan tonus
otot vagina.
(6) Jarang terlepas selama senggama
Kerugian/keterbatasan kap serviks:
Pemasangan dan pengeluarannya lebih sulit karena letak
serviks yang jauh di dalam vagina.
Kontra indikasi penggunaan kap serviks:
(1) Erosi atau laserasi serviks
(2) Serviks terlalu panjang atau pendek
(3) Riwayat infeksi saluran perkencingan yang berulang kali
(4) Infeksi pada serviks, adnexa atau neoplasma serviks
(5) Alergi terhadap karet atau spermisida
(6) Hasil papsmear abnormal
(7) Biopsy serviks atau kriosirurgi dalam 6 minggu terakhir
(8) Post-partum < 6 − 12 minggu (pakai kondom)
(9) Ketidak mampuan perempuan untuk memasang dan
mengeluarkan kap dengan benar.
114

Efek samping dan komplikasi:


(1) Timbulnya secret yang sangat berbau bila kap serviks
dibiarkan terlalu lama di vagina.
(2) Yang selalu harus difikirkan adalah kemungkinan: toksik
syok syndrome, infeksi traktus urinarius yang berulang-
ulang, bertambahnya abnormalitas serviks sehubungan
dengan HPV (Human Papilloma Virus).
c) Spons
Sponsintral vaginal bentuknya seperti bantal dan salah satu
sisinya cekung, terbuat dari plyurethane yang mengandung
spermisida. Sisi lainnya mempunyai tali untuk mempermudah
pengeluarannya.
Kontra Indikasi:
(1) Riwayat toksik syok syndrome.
(2) Alergi terhadap polyurethane atau spermisidnya.
(3) Ketidakmampuan perempuan untuk melakukan insersi
dengan benar.
(4) Kelainan anatomis pada vagina
Efek samping dan komplikasi:
(1) Iritasi atau reaksi alergi yang umumnya disebabkan oleh
spermisidnya
(2) Kemungkinan infeksi vagina oleh jamur bertambah besar
(3) Kemungkinan timbulnya Syndrome Syok Toksik (10 per
100.000 akseptor per tahun).
d) Kondom perempuan
Dasarnya: kombinasi antara diafragma dan kondom.
115

Insersi kondom:
Cincin di pasang tinggi di dalam vagina, dan tidak perlu
dipasang tepat menutupi serviks karena akan terdorong ke atas
selama senggama.
e) Spermisida vaginal
Spermisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk
menonaktifkan atau membunuh sperma di dalam vagina
sebelum spermatozoa bergerak ke dalam traktus genitalia
interna.
Manfaat:
(1) Manfaat kontrasepi
(2) Efektif seketika (bentuk busa dan rim)
(3) Tidak mengganggu produksi ASI
(4) Biasa digunakan untuk mendukung metoda lain
(5) Aman, tidak mengganggu kesehatan klien
(6) Tidak mempunyai pengaruh sistemik
(7) Mudah digunakan
(8) Meningkatkan lubrikasi selama senggama
(9) Tidak perlu pemeriksaan khusus dan resep Dokter
Keterbatasan/kerugian:
(1) Efektifitas kurang (18-29) kehamilan per 100 perempuan
per tahun pertama).
(2) Efektifitasnya hanya 1-2 jam
(3) Karena harus diletakkan didalam vagina, ada perempuan
yang segan melakukannya.
(4) Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah aplikasi
sebelum bersenggama
(5) Dapat menimbulkan iritasi atau perasaan terbakar/panas
pada beberapa perempuan, atau iritasi penis.
116

(6) Harus diberikan berulang kali untuk senggama yang


berturut-turut.
d. Kontrasepsi Hormonal:
Macam-macam Kontrasepsi Hormon Steroid
1) Pil Oral kombinasi
Pil kombinasi mengandung estrogen dan progesterone dengan profil
sebagai berikut:
a) Efektif dan reversible
b) Harus diminum setiap hari
c) Sangat jarang terjadi efek samping yang serius
d) Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan
perdarahan bercak yang tidak berbahaya dan segera akan hilang
e) Dapat digunakan oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang
memiliki anak maupun yang belum
f) Dapat diminum setiap saat jika yakin tidak sedang hamil
g) Tidak dianjurkan diminum oleh ibu yang menyusui
h) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
Keuntungan:
a) Efektifitasnya tinggi
b) Resiko terhadap kesehatan sangat kecil
c) Tidak mengganggu hubungan seksual
d) Siklus haid menjadi teratur, mencegah anemia dan tidak terjadi
nyeri haid.
e) Dapat digunakan dalam jangka panjang
f) Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause
g) Dapat dihentikan setiap saat
h) Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan
i) Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
117

j) Dapat membantu mencegah: kehamilan ektopik, kanker


ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang
panggul, kelainan jinak pada payudara, dismenore atau akne.
Keterbatasan:
a) Mual, terutama pada 3 bulan pertama
b) Perdarahan bercak terutama 3 bulan pertama
c) Pusing
d) Berat badan naik sedikit
e) Nyeri pada payudara
f) Berhenti haid (amenorea) jarang terjadi pada pil kombinasi
g) Mengurangi produksi ASI
h) Dapat menimbulkan depresi dan perubahan suasana hati
sehingga keinginan untuk bersenggama berkurang.
i) Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan
j) Tidak mencegah IMS, HIV/AIDS
k) Mahal dan membosangkan karena harus menggunakannya
setiap hari
Efek samping dan penanganannya:
a) Amenorea (tidak ada perdarahan) atau spotting
b) Mual, pusing, atau muntah (akibat reaksi anafilaktik)
c) Perdarahan pervaginam/spotting
2) Kontrasepsi Pil yang Berisi Progestin Saja (Mini Pil)
Mini pil digunakan oleh perempuan yang ingin menggunakan
kontrasepsi oral tetapi menyusui atau untuk perempuan yang harus
menghindari estrogen oleh sebab apa pun. Mini pil:
a) Cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai pil KB.
b) Sangat efektif pada masa laktasi dan tidak menurunkan
produksi ASI.
c) Tidak memberikan efek samping estrogen.
118

d) Efek samping yang utama adalah perdarahan tidak teratur atau


perdarahan bercak
e) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat
Keuntungan mini pil:
a) Keuntungan kontrasepsi:
(1) Sangat efektif digunakan bila dengan benar
(2) Tidak mengganggu hubungan seksual
(3) Tidak mempengaruhi ASI
(4) Kesuburan cepat kembali
(5) Nyaman dan mudah digunakan
(6) Sedikit efek samping
(7) Dapat dihentikan setiap saat tidak mengandung estrogen
yang dapat menyebabkan efek samping mual, hipertensi,
nyeri tungkai bawah, sakit kepala, kloasma.
b) Keuntungan non kontrasepsi:
(1) Dapat diberikan pada perempuan yang mengalami
tromboembolik.
(2) Mengurangi nyeri haid
(3) Menurunkan keadaan/tingkat anemia
(4) Mencegah kanker endometrium
(5) Melindungi dari penyakit radang panggul
(6) Tidak meningkatkan pembekuan darah
(7) Dapat diberikan pada penderita endometriosis
(8) Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri
kepala dan depresi.
(9) Keluhan pramenstruasi sindrom (sakit kepala, perut
kembung, nyeri payudara, nyeri pada betis, lekas marah)
dapat berkurang.
119

(10) Gangguan metabolisme karbohidrat sedikit sekali sehingga


relative aman diberikan kepada perempuan yang mengidap
kencing manis yang belum mengalami komplikasi.
Keterbatasan mini pil:
a) Hampir 30-60 % mengalami gangguan haid seperti perdarahan
bercak, perdarahan menyerupai haid, variasi dalam panjang
haid siklus haid, kadang-kadang amenorea.
b) Harus diminum setiap hari dan pada waktu yang sama. Lupa
minum pil 1 atau 2 tablet saja sudah cukup untuk
menghilangkan proteksi kontrasepsinya.
c) Tidak memberi perlindungan terhadap infeksi menular seksual
atau HIV/AIDS.
d) Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 resiko
kehamilan), tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan
perempuan yang tidak menggunakan mini pil.
e) Efektivitasnya menjadi rendah bila digunakan bersama obat
tuberculosis atau obat epilepsy.
f) Pertambahan/penurunan berat badan.
3) Kontrasepsi Suntikan
Mekanisme kerja kontrasepsi suntikan:
a) Primer : mencegah ovulasi
b) Sekunder :
(1) Lendir serviks menjadi kental dan sedikit, sehingga
menjadi barrier terhadap spermatozoa
(2) Membuat endometrium menjadi kurang baik untuk
implantasi dari ovarium yang telah dibuahi
(3) Mungkin mempengaruhi kecepatan transport ovum di
dalam tuba fallopi.
120

Macam-macam kontrasepsi suntikan


a) Suntikan Progestin
Suntikan berdaya kerja lama yang hanya mengandung
progestin saja adalah:
(1) DMPA (Depot Medroxyprogesteron Asetat) atau depo
Provera, diberikan sekali setiap 3 bulan dengan dosis 150
mg.
(2) NET-EN (Norethindrone Enanthate) atau Noristerat:
diberikan dalam dosis 200 mg sekali setiap 8 minggu.
Keuntungan suntikan Progestin:
(1) Sangat efektif
(2) Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri
(3) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak
serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan
pembekuan darah
(4) Tidak mempengaruhi ASI
(5) Dapat digunakan oleh perempuan yang berusia di atas 35
tahun sampai perimenopause
(6) Mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
(7) Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara dan
penyakit radang panggul
Keterbatasan suntik progestin:
(1) Sering ditemukan gangguan haid
(2) Pada waktu tertentu harus kembali untuk mendapat
suntikan
(3) Tidak dapat dihentikan sebelum suntikan berikutnya
(4) Peningkatan berat badan, dapat menimbulkan kekeringan
pada vagina, menurunkan libido, sakit kepala dan timbul
akne
121

(5) Tidak menjamin perlindungan terhadap infeksi menular


seksual
(6) Kesuburan tidak cepat pulih kembali
b) Suntikan kombinasi
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo
Medroksiprogestron Asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat yang
diberikan injeksi nytamuskular sebulan sekali (Cyclofen).
Keuntungan kontrasepsi:
(1) Sangat efektif
(2) Resiko terhadap kesehatan kecil
(3) Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri
(4) Tidak perlu dilakukan periksa dalam
Keuntungan non kontrasepsi:
(1) Mengurangi nyeri haid, mengurangi jumlah perdarahan,
mencegah anemia
(2) Mempunyai khasiat untuk mencegah kanker ovarium dan
endometrium
(3) Mengurangi penyakit jinak payudara dan kista ovarium
(4) Mencegah kehamilan ektopik
(5) Melindungi klien dari penyakit radang panggul
Kerugian/keterbatasan:
(1) Terjadi perubahan pola haid
(2) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan
(3) Klien harus kembali setiap 30 hari untuk mendapat
suntikan
(4) Dapat menyebabkan efek samping serius seperti serangan
jantung, stroke, bekuan darah pada paru dan otak
(5) Peningkatan berat badan
122

(6) Tidak menjamin perlindungan terhadap infeksi menular


seksual, hepatitis B virus atau HIV/AIDS
(7) Pemulihan kesuburan kemungkinan terlambat setelah
pemakaian pil dihentikan.
Efek samping:
(1) Amenorea, mual, pusing, muntah
(2) Perdarahan/perdarahan bercak (spotting). (Pinem,
2009:221-280)
e. Implant (Susuk KB)
1) Indikasi
a) Pemakaian jangka waktu yang lama
b) Masih berkeinginan punya anak lagi
c) Tidak dapat memakai jenis KB lain
2) Kontra Indikasi
a) Hamil atau di duga hamil, pendarahan vagina tanpa sebab.
b) Wanita dalam usia reproduksi.
c) Telah atau belum memiliki anak.
d) Menginginkan kontrasepsi jangka panjang (3 tahun).
e) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi.
f) Pasca persalinan.
g) Pasca keguguran.
h) Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak kontrasepsi
mantap.
i) Riwayat kehamilan ektopik.
j) Tekanan darah <180/110, dengan masalah pembekuan darah,
atau anemia.
k) Tidak boleh menggunakan kontrasepsi yang mengandung
estrogen.
l) Perdarahan pervaginam yang belum di ketahui penyebabnya.
123

m) Benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara.


n) Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi.
o) Mioma uterus dan kanker payudara.
p) Gangguan toleransi glukosa.
3) Keuntungan KB implant
a) Pengambilan tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan.
b) Tidak melakukan pemeriksaan dalam.
c) Bebas dari pengaruh ekstrogen.
d) Tidak mengganggu ASI.
e) Klien hanya perlu ke klinik jika ada keluhan.
f) Perdarah lebih ringan.
g) Tidak menaikkan tekanan darah.
h) Mengurangi nyeri haid.
i) Mengurangi/memperbaiki anemia.
j) Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara.
k) Melindungi dari beberapa penyakit radang panggul.
4) Kekurangan
a) Timbul beberapa keluhan nyeri kepala, peningkatan/penurunan
berat badan, nyeri payudara, perasaan mual, pusing kepala,
perubahan mood atau kegelisahan.
b) Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan
mencabut.
c) Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular
seksual, termaksud HIV/AIDS
d) Efektifitasnya menurun jika menggunakan obat-obat
tuborkolosis atau obat epilepsy.
e) Terjadinya kehamilan ektopik sedikit lebih tinggi.
124

5) Efek samping
a) Efek samping paling utama dari implant adalah perubahan pola
haid, yang terjadi pada kira-kira 6% akseptor terutama selam 3-
6 bulan pertama dari pemakaian.
b) Yang paling sering terjadi
(1) Bertambahnya hari-hari perdarahan dalam 1 siklus haid
(2) Perdarahan bercak (spotting)
(3) Berkurangnya panjang siklus haid
(4) Amenore, meskipun jarang terjadi dibandingkan
perdarahan lama atau perdarahan bercak.
c) Umumnya perubahan-perubahan haid tersebut tidak
mempunyai efek yang membahayakan diri akseptor. Meskipun
terjadi perdarahan lebih sering dari pada biasanya, volume
darah yang hilang tetap tidak berubah.
d) Pada sebagian akseptor, perdarahan ireguler akan berkurang
dengan berjalannya waktu.
e) Perdarahan hebat jarang terjadi (cahyani, 2009).
f) Perubahan dalam priode menstruasi merupakan keadaan yang
paling sering ditemui. Kadang-kadang ada akseptor yang
mengalami kenaikan berat badan (Gunawan,1999)
6) Efektifitas
a) Lender serviks menjadi kental.
b) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi.
c) Mengurangi transportasi sperma.
d) Menekan ovulasi.
e) 99% sangat efektif (kegagalan 0, 2-1 kehamilan per 100
perempuan. (Gunawan,1999).
125

f. IUD/AKDR (Alat kontrasepsi dalam rahim)


IUD singkatan dari Intra Uterine Device yang merupakan alat
kontrasepsi paling banyak digunakan, karena dianggap sangat efektif
dalam mencegah kehamilan dan memiliki manfaat yang relatif banyak
dibanding alat kontrasepsi lainnya.
1) Cara kerja IUD:
a) Cara kerja utama mencegah sperma bertemu sel telur
b) Mencegah implantasi atau tertanamnya sel telur dalam rahim
c) Untuk IUD Minera ada tambahan cara kerjanya yaitu
mengentalkan lendir rahim karena pengaruh hormon
Levonolgestrel yang dilepaskannya.
2) Keuntungan IUD:
a) Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi (1 kegagalan dalam
125-170 kehamilan).
b) Dapat efektif segera setelah pemasangan
c) IUD merupakan metode kontrasepsi jangka panjang
d) Tidak tergantung pada daya ingat
e) Tidak mempengaruhi hubungan seksual
f) Tidak ada interaksi dengan obat-obatan
g) Membantu mencegah kehamilan diluar kandungan (kehamilan
ektopik)
3) Kerugian IUD:
a) Pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi saluran genetalia
diperlukan sebelum pemasangan IUD
b) Perdarahan di antara haid (spotting)
c) Setelah pemasangan, kram dapat terjadi dalam beberapa hari
d) Dapat meningkatkan resiko penyakit radang panggul
e) Memerlukan prosedur pencegahan infeksi sewaktu memasang
dan mencabutnya
126

f) Haid semakin banyak, lama dan rasa sakit selama 3 bulan


pertama pemakaian IUD dan berkurang setelah 3 bulan
g) Pasien tidak dapat mencabut sendiri IUD-nya
h) Tidak melingdungi pasien terhadap PMS (Penyakit Menular
Seksual), AISD atau HIV
i) IUD dapat keluar rahim melalui kanalis hingga keluar vagina.
(Mulyani, 2013:99-105)
g. Kontap/Kontrasepsi Mantap
1) Tubektomi
Adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas
seorang perempuan secara permanen. Tubektomi dilakukan dengan
mengikat dan memotong tuba sehingga sperma tidak dapat bertemu
dengan ovum.
a) Manfaat Kontrasepsi:
(1) Sangat efektif
(2) Permanen
(3) Baik bagi pasien apabila kehamilan menjadi resiko
kesehatan yang serius
(4) Pembedahan sederhana
(5) Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual
b) Manfaat Non-Kontrasepsi: berkurangnya resiko kanker
ovarium
c) Keterbatasan:
(1) Pasien dapat menyesal dikemudian hari
(2) Rasa tidak nyaman dalam jangka pendek setelah tindakan
(3) Harus dilakukan oleh dokter terlatih
d) Syarat pasien yang dapat menjalani Tubektomi:
(1) Usia >26 tahun
(2) Paritas >2
127

(3) Yakin telah mempunyai besar keluarga sesuai dengan


kehendaknya kehamilan dapat menimbulkan resiko
kesehatan yang serius
(4) Pasca persalinan atau pasca keguguran
(5) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini
2) Vasektomi
Vasektomi adalah prosedur klinis untuk menghentikan
kapasitas produksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasdeferens
sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses pertilisasi
tidak terjadi. (Obstetric, 2013:76-77)
a) Keuntungan:
(1) Tehnik operasi kecil yang sederhana dapat dikerjakan
kapan saja
(2) Komplikasi yang dijumpai sedikit dan ringan
(3) Vasektomi akan mengalami klimaktorium dalam suasana
alami (Manuaba, 1998)
(4) Baik yang dilakukan pada laki-laki yang tidak ingin punya
anak
(5) Vasektomi lebih murah dan lebih sedikit komplikasi dari
sterilisasi tubulus
(6) Tidak mempengaruhi kemampuan seseorang dalam
menikmati hubungan seksual
b) Kerugian:
(1) Cara ini tidak langsung efektif, perlu menunggu beberapa
waktu setelah benar-benar sperma tidak ditemukan
berdasarkan analisa sperma
(2) Masih merupakan tindakan operasi maka laki-laki masih
merasa takut
128

(3) Ada sedikit rasa sakit dan ketidak nyamanan beberapa hari
setelah operasi
(4) Seringkali harus melakukan dengan kompres es selama 4
jam untuk mengurangi pembengkakan, perdarahan dan
rasa tidak nyaman dan harus memakai celana yang dapat
mendukung skrotum selama 2 hari
(5) Vasektomi tidak membersihkan perlindungan terhadap
infeksi menular seksual termasuk HIV
(6) Penyesalan setelah vasektomi lebih besar jika orang itu
masih dibawah usia 25 tahun. (Mulyani, 2013:131-132)

G. Teori Pendokumentasian
Kepmenkes No : 938/MenKes/SK/VIII/2007 tentang standar asuhan
Kebidanan.
Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan
keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan yang sesui dengan wewenang
dan ruang lingkup prakteknya berdsrkan ilmu dan kiat kebidanan. Mulai dari
pengkajian, perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan,
implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.
1. Standart I: Pengumpulan Data
Pernyataan standart
Bidan mengumpulkan semua data informasi yang akurat, relevan dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Kriteria pengkajian:
a. Data tepat, akurat dan lengkap.
b. Terdiri dari data subjektif (hasil anamneses: biodata, keluhan utama,
riwayat obstetrik, riwayat kesehatan dan latar belakang social budaya) .
c. Data Objektif (hasil pemeriksaan fisik, Psikologis dan pemeriksaan
penunjang)
129

2. Standart II: perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan.


Pernyataan Standart
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,
meninterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnose
dan masalh kebidanan yang tepat.
Kriteria Perumusan diagnosa dan atau masalah
a. Diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan
b. Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien
c. Dapat diselesaikan dengan asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi
dan rujukan.
3. Standart III: Perencanaan
Pernyataan Standart
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose masalah
yang ditegakkan.
Kriteria Perencanaan
a. Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi
klien; tindakan segera, tindakan antisipasi, dan asuahn secara
komprehensif.
b. Melibatkan klien/pasien dan keluarga.
c. Mempertimbangkan kondisi psikologis dan social budaya
klien/keluarga.
d. Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien
berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang
diberikan bermanfaat untuk klien.
e. Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya
serta fasilitas yang ada.
130

4. Standart IV: Implementasi


Pernyataan Standart
Bidan melaksanakan rencana asuhan secara komprehensif, efektif,
efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien dalam
bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang
dilaksanakan secara mandiri, kaloborasi dan rujukan.
Kriteria:
a. Memperhatikan keunikan klien sebagai mahluk biopsikososial, spiritual,
cultural.
b. Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan klien dan atau
keluarganya (inform consent).
c. Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence based.
d. Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan
e. Menjaga privasi klien/pasien.
f. Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi.
g. Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambugan.
h. Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai.
i. Melaksankantindakan sesui standar.
j. Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.
5. StandarV: Evaluasi
Pernyataan Standart
Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan
untuk melihat efektifitas dan asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan
perubahan kondisi klien.
Kriteria Evaluasi:
a. Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan yang
sesuai kondisi klien.
131

b. Hasil evaluasi segara dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan


keluarga.
c. Hasil evaluasi ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien..
6. Standart VI: Pencatatan asuhan kebidanan
Pernyataan standart
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat, singkat
dan jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam
memberikan asuhan kebidanan.
Kriteria pencatatan Askeb:
a. Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formolir
yang tersedia (Rekam Medis/KMS/Status pasien/buku KIA)
b. Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP
S: adalah data subjektif, mencatat hasil anamnesa
O: adalah data Objektif, pencatatan hasil pemeriksaan
A: adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan
P: adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan
penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antsipatif,
tindakan segera, tindakan secara komprehensif: penyeluhan, dukungan,
kaloborasi, evaluasi/Foloow Up dan rujukan. (Syafruddin,2011:92-95)
7. Pengertian SOAP
SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan tertulis.
Seorang bidan hendaknya menggunakan SOAP setiap kali mengkaji pasien.
Selama antepartum, bidan dapat menulis satu catatan SOAP untuk setiap kali
kunjungan, sementara dalam masa intrapartum bidan boleh menulis lebih
dari satu catatan untuk satu pasien dalam satu hari. Bidan juga harus melihat
catatan SOAP terdahulu bila merawat seorang klien untuk mengevaluasi
kondisinya sekarang. Sebagai peserta didik, bidan akan mendapat lebih
banyak pengalaman dan urutan SOAP akan terjadi alamiah.
8. Tahap-tahap Pendokumentasian SOAP
132

Metode empat langkah yang dinamakan SOAP (Subjektif, Objektif


Asessment, Planning) disarikan dari proses pemikiran penatalaksanaan
kebidanan, dipakai untuk mendokumentasikan asuhan pasien dalam rekam
medis sebagai catatan kemajuan pasien. Subjektif adalah apa yang dikatakan
pasien. Objektif adalah apa yang dilihat dan diraskan bidan sewaktu
melakukan pemeriksaan (laboratorium, tanda vital, dan lain-lain).
Assessment adalah kesimpulan dari data-data ubjektf/objektif. Planning
adalah apa yang dilakukan berdasarkan hasil pengevaluasian.
Dokumentasi itu perlu untuk:
a. Menciptakan catatan permanen tentang asuhan yang diberikan kepada
pasien.
b. Memungkinkan berbagai informasi diantara pemberi asuhan.
c. Memfasilitasi pemberian asuhan yang berkesinambungan.
d. Memungkinkan pengevaluasian asuhan yang diberikan.
e. Memberi data untuk catatan rasional, riset, dan statistic
mortalitas/morbiditas.
f. Meningkatkan pemberian asuhan yang lebih aman dan bermutu tinggi
kepada klien.
Tujuan penggunaan catatan SOAP untuk pendokumentasian:
a. Pendokumentasian metode SOAP merupakan kemajuan informasi yang
sistematis yang mengorganisasi temuan dan kesimpulan menjadi suatu
rencana.
b. Metode ini merupakan penyaringan intisari dan proses penatalaksanaan
kebidanan untuk tujuan penyediaan dan pendokumentasian asuhan.
(Atik, 2008:83-85)
133

Alur piker bidan Pencatatan dari


asuhan kebidanan

Proses menjemen Pendokumentasian


kebidanan asuhan kebidanan

7 langkah (Varney) 5 langkah SOAP NOTES


(kompetensi bidan)
Data Data SubjektiObjektif
Masalah/ diagnosis
Antisipasi masalah Assessment/
potensial/ masalah lain Assessment/ Diagnosis

Menetapkan kebutuhan Diagnosis


segera untuk konsultasi, Planning :
kolaborasi Konsul
Perencanaan(intervensi Perencanaan
Uji diagnostik/lab
Penatalasanaan Penatalaksanaan
(implementasi) Rujukan
Evaluasi Evaluasi Pendidikan/
konseling

Follow up

H. Teori Hukum Kewenangan Bidan


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,
kewenangan yang dimiliki bidan meliputi:
134

1. Kewenangan normal:
Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan.
Kewenangan ini meliputi:
a. Pelayanan kesehatan ibu
1) Ruang lingkup:
a) Pelayanan konseling pada masa pra hamil
b) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
c) Pelayanan persalinan normal
d) Pelayanan ibu nifas normal
e) Pelayanan ibu menyusui
f) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
2) Kewenangan:
a) Episiotomi
b) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
c) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
d) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil
e) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
f) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi
air susu ibu (ASI) eksklusif
g) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan
postpartum
h) Penyuluhan dan konseling
i) Bimbingan pada kelompok ibu hamil
j) Pemberian surat keterangan kematian
k) Pemberian surat keterangan cuti bersalin
b. Pelayanan kesehatan anak
1) Ruang lingkup:
a) Pelayanan bayi baru lahir
b) Pelayanan bayi
135

c) Pelayanan anak balita


d) Pelayanan anak pra sekolah
2) Kewenangan:
a) Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk
resusitasi,pencegahan hipotermi, inisiasi menyusu dini (IMD),
injeksi vitamin K1, perawatan bayi baru lahir pada masa
neonatal (0-28 hari) dan perawatan tali pusat
b) Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk
c) Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
d) Pemberian imunisasi rutin sesuai program Pemerintah
e) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak
prasekolah
f) Pemberian konseling dan penyuluhan
g) Pemberian surat keterangan kelahiran
h) Pemberian surat keterangan kematian
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana,
dengan kewenangan:
1) Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana
2) Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom
Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus
bagi bidan yang menjalankan program pemerintah mendapat
kewenangan tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang
meliputi:
1) Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim,
dan memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
2) Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit
kronis tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)
136

3) Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang


ditetapkan
4) Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan
lingkungan
5) Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah
dan anak sekolah
6) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
7) Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian
kondom, dan penyakit lainnya
8) Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
9) Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan
antenatal terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan
pelaksanaan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) dan penyakit lainnya, serta
pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh bidan yang
telah mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut.
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa)
yang belum ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan
sementara untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar
kewenangan normal, dengan syarat telah ditetapkan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan untuk
memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal
tersebut berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut
sudah terdapat tenaga dokter.