Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KEUANGAN YANG DIKONSOLIDASI

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keuangan Lanjutan II


dosen pengampu : Risa Refina Pratiwi, SE., M.Ak., Ak

oleh :
Kelompok 4

Tanfika Radita Putri 12150164


Herda 12150321
Edi Wardani 12150202
Ida Ikhyasa 12150318
Nurkomala 12150240
Linda Purnamasari 12150121
Nur Komariyah Safitri 12150313
Heni Nuryana 12150335

Kelas : 6 I Akuntansi

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


UNIVERSITAS BINA BANGSA BANTEN
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, berkat rahmat dan hidayah-Nya
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Adapun pembahasan yang dibahas dalam makalah ini adalah “Laporan Keuangan yang
Dikonsolidasi”. Penulisan ini bertujuan agar pembaca mengetahui apa itu laporan keuangan yang
dikonsolidasi serta mengetahui metode apa saja yang terlibat dalam laporan keuangan yang
dikonsolidasi dan bagaimanakah contoh dari masing-masing metode tersebut.
Penulisan makalah ini telah diselesaikan dengan semaksimal mungkin. Namun, sekiranya
masih terdapat kesalahan dan kekurangan, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Serang,

Kelompok 4

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................ii
DAFTAR ISI…………………..……..……………….…..……..iii
BAB I PENDAHULUAN.........................................................4
A. Latar Belakang Penelitian.............................................4
B. Rumusan Masalah Penelitian........................................5
C. Tujuan Penelitian...........................................................5
BAB II PEMBAHASAN............................................................6
A. Pengertian Laporan Kondolidasi...................................6
B. Kegunaan Laporran Konsolidasi...................................7
C. Pembahasan Laporan Konsolidasi................................8
1. Metode Equity....................................................8
2. Hutang Piutang antar Perusahaan Afiliasi.......25
3.Metode Harga Perolehan...................................28
3. Pembagian Deviden.........................................35
BAB III PENUTUP....................................................................41
A. Kesimpulan.................................................................41
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................42

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di era ini, proses pengabungan unit bisnis menjadi hal yang lazim ditemui.
Kemudahan teknologi, perjanjian perdagangan bebas, dan motif mencari keuntungan adalah
3
beberapa hal yang lazim melatar belakangi suatu perusahaan untuk melakukan
penggabungan.Bentuk penggabungan bisa beraneka ragam seperi joint venture, akuisisi,
maupun merger.Aktivitas penggabungan bisnis tersebut tidak hanya berdampak pada
kegiatan produksi atau pemasarannya saja, melainkan semua aspek termasuk aspek
keuangannya.
Karena terdiri dari beberapa unit perusahaan yang tergabung menjadi satu, pencatatan
keuangan perusahaan yang telah berkonsolidasi tidak sama dengan perusahaan yang hanya
berdiri sendiri. Pencatatan keuangan perusahaan yang telah berkonsolidasi menjadi lebih
rumit dibandinkan dengan perusahaan yang berdiri sendiri.Dalam pencatatan keuangan
konsolidasi, dikenal entitas induk (yang mengendalikan) dan entitas anak (yang
dikendalikan).
Hal yang membuat mengapa laporan keuangan konsolidasi rumit adalah adanya
peraturan yang mengharuskan dibuatnya laporan keuangan konsolidasi bagi unit usaha yang
bergabung dan telah memenuhi syarat. Selain adanya peraturan yang mengharuskan adanya
laporan keuangan konsolidasi, hal yang membuat pelaporan keuangan ini menjadi rumit
adalah pemahaman bahwa entitas induk dan anak adalah berbeda, namun dalam
perhitungannya ada akun-akun yang sama yang harus dieliminasi. Adanya kepentingan
nonpengendali juga membuat laporan keuangan konsolidasi lebih rumit dibandingkan
laporan keuangan perusahaan yang berdiri sendiri.
Pada makalah ini selanjutnya akan dijelaskan lebih detail mengenai apa itu pelaporan
keuangan konsolidasi, gabungan usaha yang seperti apa yang harus mengadakan laporan
keuangan konsolidasi, serta cara perhitungan laporan keuangan konsolidasi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pembuatan makalah yang telah dituliskan diatas, maka
bisa diintisarikan rumusan masalah dari penulisan makalah ini yang nantinya menjadi pokok
bahasan, yaitu:
1. Apa pengertian dari laporan keuangan konsolidasi?
2. Jenis laporan keuangan konsolidasi?
3. Apa itu metode equity pada pelaporan keuangan konsolidasi?
4
4. Apa itu metode harga perolehan pada pelaporan keuangan konsolidasi?
5. Bagaimana hutang piutang antar perusaan afiliasi?
6. Bagaimana pembagian deviden dari saldo laba yang ditaham sebelum saat kepemilikan
saham?

C. Tujuan Pembahasan
Setelah pokok bahasan dari makalah ini terjawab, maka tujuan dari penulisan
makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui definisi dari keuangan konsolidasi
2. Untuk mengetahui manfaat dari dibuatnya laporan keuangan konsolidasi
3. Untuk mengetahui metode metode laporan konsolidasi
4. Untuk mengetahui hutang piutang antar perusaan afiliasi
5. Untuk mengetahui pembagian deviden dari saldo laba yang ditaham sebelum saat
kepemilikan saham

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Laporan Konsolidasi

Konsolidasi adalah kombinasi bisnis yang terjadi karena pengendalian tidak


menyatukan proses entitas-entitas yang bergabung. Masing-masing entitas tetap beroparasi
secara terpisah dan independen serta membuat laporan keuangan individu.Akan tetapi,
entitas-entitas tersebut berada dalam satu pengendalian yang dilakukan oleh pihak yang
bergabung.Entitas pengendali disebut dengan entitas induk dan entitas yang dikendalikan
disebut dengan entitas anak. Konsolidasi diharuskan jika suatu perusahaan memiliki
mayoritas saham beredar dari perusahaan lain.

5
Karena entitas-entitas yang bergabung dalam pengendalian tetap beroprasi secara
individu, Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mensyaratkan disusunnya suatu laporan
keuangan gabungan, yang dalam istilah akuntansi disebut laporan keuangan
konsolidasi.PSAK 4 revisi 2009 memberi istilah Laporan Keuangan Konsolidasi sebagai
lampiran keuangan suatu kelompok usaha yang disajikan seperti suatu entitas ekonomi
tunggal.Laporan keuangan konsolidasi wajib disusun oleh entitas induk atau pengendali
tertinggi dalam suatu kelompok usaha.
Laporan keuangan konsolidasi di Indonesia mengacu pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) 4 revisi 2009, tentang Laporan Keuangan Konsolidasi dan
Laporan Keuangan Tersendiri. PSAK 4 ini diadopsi dari Standar Akuntansi Internasional
(IAS) 27 tahun 2009, yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada tanggal 22
Desember 2009.PSAK 4 yang terbit 22 Desember 2009 ini sebagai revisi dari PSAK 4
tanggal 7 September 1994.
Secara hukum, entitas induk dan entitas anak adalah entitas-entitas yang berbeda,
bahkan undang-undang anti trust mensyaratkan arm’s length transaction diantara entitas
yang berafiliasi. Dengan persyaratan ini, entitas induk tidak diperkenankan membedakan
harga jual atau pembelian produk terhadap entitas anak dan entitas lain yang tidak
berafiliasi.

B. Kegunaan Laporan Keuangan Konsolidasi

Laporan keuangan konsolidasi terutama ditunjukan untuk kepentingan pihak-pihak


yang memiliki kepentingan jangka panjang dengan induk perusahaan seperti pemegang
saham, kreditur dan penyedia dana. Laporan keuangan konsolidasi seringkali merupakan
satu-satunya cara untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari total sumber daya perusahaan
hasil gabungan tersebut.
Pemegang saham yang ada dan calon pemegang saham dari induk perusahaan
umumnya mempunyai kepentingan paling besar atas laporan keuangan konsolidasi
disbanding laporan masing-masing perusahaan secara individu karena nasib induk
perusahaan dipengaruhi oleh oprasi dari anak-anak perusahaan. Ketika anak perusahaan
menghasilkan laba, laba tersebut akan diakui oleh induk perusahaan. Dan sebaliknya,

6
kerugian yang diterima oleh anak perusahaan juga akan berpengaruh kepada induk
perusahaan. Dengan melihat laporan keuangan konsolidasi, pemilik dan calon pemilik lebih
mampu untuk menentukan efisiensi dari manajemen dalam memanfaatkan sumber daya yang
berada pada pengendaliannya.
Kreditur jangka panjang dari induk perusahaan juga memperhatikan kegunaan
laporan keuangan konsolidasi karena pengaruh oprasional anak perusahaan terhadap
kesehatan keseluruhan perusahaan dan masa depan induk perusahaan,relevan untuk
pengambilan keputusan kreditur. Walaupun induk perusahaan dan anak perusahaan adalah
entitas yang terpisah, kreditur induk perusahaan mempunyai klaim tidak langsung atas asset-
aset anak perusahaan.
Manajemen induk perusahaan mempunyai kepentingan yang berkelanjutan untuk
informasi terkini baik mengenai oprasi gabungan dari entitas konsolidasi dan juga mengenai
perusahaan-perusahaan individual yang membentuk entitas konsolidasi.Sebagai contoh, anak
perusahaan individual dapat mempunyai volatilitas tinggidalam oprasinya, setelah hasiloprasi
dan neraca digabung, manager dapat mengetahui pengaruh keseluruhan aktivitas pada
periode tersebut.Sebaliknya, informasi mengenai perusahaan-perusahaan individual dalam
entitas konsolidasi juga dapat berguna. Contohnya, manajer dapat mengkompensasi
kekurangan kas di suatu anak perusahaan dengan kelebihan kas dari anak perusahaan lain
tanpa perlu melakukan pinjaman dari luar yang memerlukan biaya tambahan. Manajer induk
perusahaan menaruh perhatian kepada laporan keuangan konsolidasi untuk mengevaluasi
kinerja dari masing-masing entitas.

C. Pembahasan Laporan Keuangan Konsolidasi

Jika saham saham perusahaan lain dimiliki/dibeli oleh suatu perusahaan, rekening
Investasi Saham didebit sebesar “harga perolehan” (cost)-nya. Akan tetapi prosedur
pencatatan berikutnya dapat dipakai salah satu dari dua metode yang berikut : yaitu pertama
perusahaan induk dapat mengakui dan mencatat setiap perubahan (perkembangan) yang
terjadi terhadap hak hak pemegang saham perusahaan anak, dengan jalan melakukan
penyesuaian terhadap rekening Investasi Saham; dan yang kedua tetap mencatat Investasi
Saham pada perusahaan anak sebesar harga perolehan (original cost)

7
Dalam hal (pencatatan) Investasi Saham pada perusahaan anak, selalu diadakan
penyesuaian terhadap adanya perubahan (perkembangan) yang terjadi dalam perusahaan
anak, sehingga rekening Investasi Saham senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi
pada perusahaan anak maka prosedur pencatatan itu disebut dengan “Metode Equity”. Jika
terhadap rekening Investasi tidak pernah dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang terjadi
dalam perusahaan anak disebut dengan Metode Harga Perolehan (Cost Method)
Dalam rangka penyusunan Laporan/Neraca Konsolidasi pada dasarnya pengertian
terhadap metode dan prosedur pencatatan Investasi Saham tersebut adalah penting. Hal ini
berhubungan erat dengan sifat dan dasar dari titik tolak untuk eliminasi yang diperlukan
terhadap pos-pos/rekening-rekening yang timbak balik diantara perusahaan induk dan
perusahaan anak. Akan tetapi terlepas dari metode penctatan yang digunakan terhadap
Investasi Saham pada perusahaan anak, pada pokoknya penyusunan Laporan/Neraca
Konsolidasi didasarkan pada suatu pandangan bahwa perusahaan induk dan perusahaan-
perusahaan anaknya merupakan suatu kesatuan ekonomi.

1. Metode Equity
Pencatatan Investasi Saham pada perusahaan anak dengan metode equity,
didasarkan pada suatu anggapan investasi pada perusahaan anak sejajar dan sama dengan
investasi pada perusahaan-perusahaan cabangnya.
Alasan diterapkannya metode equity juga didasarkan atas suatu fakta bahwa
perusahaan nakanya merupakan bagian-bagian dari suatu kesatuan usaha, seperti halnya
hubungan antara kantor pusat dan kantor cabang. Oleh sebab itu perubahan-perubahan
yang terjadi didalam hak-hak pemegang saham pada perusahaan anak harus diakui dan
dicatat oleh perusahaan induk, untuk dapat mengikuti dan melaporkan posisi keuangan
dan perkembangan usahanya secara lengkap. Secara garis besar hal-hal penting yang
harus diperhatikan dalam prosedur pencatatan terhadap investasi saham pada perusahaan
anak dengan menggunakan metode equity adalah :
a. Rugi dan Laba bersih dari Perusahaan Anak
Laba keuntungan bersih, akan menaikkan kekayaan dan Laba Yang Ditahan
dari perusahaan anak; sedang Rugi usaha sebaliknya mengakibatkan berkurangnya
kekayaan disuatu pihak dan Laba Yang Ditahan dipihak lain. Telah dikatakan bahwa

8
pencatatan Investasi Saham dengan metode equity, dimaksudkan untuk dapat
mengikuti perubahaan/perkembangan yang terjadi pada perusahaan anak. Oleh
karena keuntungan yang didapat dan rugi yang diderita berakibat terjadinya
perubahan yang dimaksud, maka terhadap keuntungan yang diperoleh dan atau rugi
yang didetrita oleh perusahaan anak, harus diakui dan dicatat oleh perusahaan
induk.
Terhadap keuntungan yang diperoleh perusahaan anak, perusahaan induk
mengakui bagian keuntungan tersebut dengan prosedur pencatatan sebagai berikut :
Investasi Saham pada Perusahaan Anak xxx
Pendapatan dari Perusahaan Anak xxx
Sedangkan pengakuan terhadap rugi yang diderita oleh perusahaan anak dicatat
seperti :
Kerugian dari Perusahaan Anak xxx
Investasi Saham pada Perusahaan Anak xxx
Rekening-rekening “Pendapatan dari Perusahaan Anak” dan “Rugi dari
Perusahaan Anak” merupakan rekening nominal dan oleh karenanya saldo dari
rekening-rekening tersebut akhirnya ikut diikhtisarkan dalam Laporan Laba Rugi
periodik dari perusahaan induk dalam rangka menentukan besarnya keuntungan dan
atau kerugian periodik.
b. Dividend yang dibagikan oleh Perusahaan Anak
Sama halnya dengan para pemegang saham pada umumnya, realisasi
keuntungan yang didapat bagi perusahaan induk terjadi pada saat pembagian
deviden dilakukan oleh perusahaan anak.
Dilihat dari segi perusahaan anak, pembagian dividen ini akan berakibat
berkurangnya saldo Laba Yang Ditahan disatu pihak dan menaikan jumlah hutang
lancer (dalam hal pembayaran tidak dilakukan bersamaan dengan pengumuman
pembagian dividen) atau mengurangi jumlah uang kas (dalam hal pembayarannya
dilakukan tunai) dipihak lain. Dari segi perusahaan induk, oleh karena pencatatan
dan pengakuan terhadap laba perusahaan anak terjadi pada saat perusahaan anak
melaporkan adanya laba tersebut, maka dengan dibagikannya seluruh atau sebagian
keuntungan itu tidak berakibat bertambah atau berkurangnya hak-hak perusahaan
induk atas kepemilikan pada perusahaan anak.
Dengan adanya pembagian deviden ini, perubahan yang terjadi pada
perusahaan induk ialah perubahan bentuk dari kekayaan (aktiva) yang semula
9
berupa hak atas laba pada perusahaan anak (yang tercermin dalam rekening
“Investasi Saham Perusahaan Anak”) ke dalam bentuk kekayaan (aktiva) yang lain
(“Piutang Deviden” atau “Kas”). Prosedur pencatatan jika metode equity ini dipakai
seperti yang dijelaskan diatas sama dengan prosedur pencatatan didalam hubungan
antara Kantor Pusat dan Kantor Cabang, yang telah dibahas sebelumnya
Secara diagramatik, persamaan-persamaan terhadap prosedur pencatatan
“Investasi”; “Laba” atau “Rugi” dan prosedur penyelesaian dan atau pembagian
dividen

 Pencatatan dengan Metode Ekuitas


 Laba perusahaan anak
Investasi saham perusahaan anak xxx
Laba-rugi xxx
(% kepemilikan x laba perusahaan anak)

 Rugi perusahaan anak


Laba-rugi xxx
Investasi saham perusahaan anak xxx
(% kepemilikan x rugi perusahaan anak)

 Dividen perusahaan anak


Piutang dividen/kas xxx
Investasi saham perusahaan anak xxx
(% kepemilikan x dividen perusahaan anak)

 Pencatatan dengan Metode Biaya


 Laba perusahaan anak
Tidak dijurnal

 Rugi perusahaan anak

10
Tidak dijurnal

 Dividen perusahaan anak


Piutang dividen/kas xxx
Pendapatan dividen xxx
(% kepemilikan x dividen perusahaan anak)

2. Berikut adalah contoh penerapan Equity Method atau Metode Ekuitas


Satu perusahaan anak dalam beberapa periode
Berikut adalah neraca PT. A dan PT. B per 31 Desember 2001 (sesaat setelah
penguasaan 75% saham beredar PT. B oleh PT. A), 2002 dan 2003 (dalam ribuan) :

Rekening 2001 2002 2003


PT.A PT. B PT. A PT. B PT. A PT. B
Investasi pd PT.B 140 - 155 - 147,5 -
Aktiva 300 250 345 280 382,5 260
Total Aktiva 440 250 500 280 530 260
Utang 180 90 170 100 160 90
Modal Saham 200 100 200 100 200 100
Agio Saham 20 10 20 10 20 10
Laba ditahan 40 50 110 70 150 60
Total Utang & 440 250 500 280 530 260
Modal

Transaksi yang berhubungan dengan investasi saham adalah sebagai berikut :


1. Tanggal 05/12/2002 PT.B mengumumkan dividen kas Rp. 30.000
2. Tanggal 20/12/2002 PT.B membayar dividen kas
3. Tanggal 31/12/2002 PT.B melaporkan laba tahun 2002 Rp. 50.000

11
4. Tanggal 31/12/2003 PT.B melaporkan rugi tahun 2003 Rp. 10.000
Selisih Lebih antara HP-NB diakui sebagai goodwill (amortisasi 20 tahun)

Selisih HP-NB
2001 HP Rp. 140.000
NB 75% x (250-90) Rp. 120.000
Goodwill Rp. 20.000

2002 HP Rp. 155.000


NB 75% x (280-100) Rp. 135.000
Goodwill Rp. 20.000

Amortisasi Goodwill = 1 Th x Rp. 20.000/20 thn)


= Rp. 1.000
NB Goodwill = Rp. 20.000 – Rp. 1.000
= Rp. 19.000

2003 HP Rp. 147.500


NB 75% x (260-90) Rp. 127.500
Goodwill Rp. 20.000

Amortisasi Goodwill = 2 Th x Rp. 20.000/20 thn)


= Rp. 2.000
NB Goodwill = Rp. 20.000 – Rp. 2.000
= Rp. 18.000

Jurnal
05/12/2002 Piutang Dividen Rp. 22.500
Investasi Saham PT. B Rp. 22.500
(75% x dividen PT. B Rp. 30.000)

12
20/12/2002 Kas Rp. 22.500
Piutang dividen Rp. 22.500
(75% x dividen PT. B Rp. 30.000)

31/12/2002 Investasi Saham PT. B Rp. 37.500


Laba Rugi Rp. 37.500
(75% x laba PT. B Rp. 50.000)

31/12/2003 Laba rugi Rp. 7.500


Investasi Saham PT. B Rp. 7.500
(75% x rugi PT. B Rp. 10.000)
Perubahan Investasi Saham pada PT. B
Investasi per 31/12/2001 Rp. 140.000
Dividen (Rp. 22.500)
Laba Rp. 37.500
Rp. 15.000
Investasi per 31/12/2002 Rp. 155.000
Rugi Rp. 7.500
Investasi per 31/12/2003 Rp. 147.500

PT. A dan Perusahaan Anak PT. B


Worksheet Konsolidasi
31 Desember 2001
Rekening PT.A PT.B Eliminasi NK
D K D K
Investasi pd PT.B 140 140
Goodwill 20 20
Aktiva 300 250 550
Total Aktiva 440 250
Utang 180 90 270
PT.A Modal Saham 200 200
Agio Saham 20 20
Laba Ditahan 40 40

13
PT.B
Modal Saham 100
Eliminasi 75% 75
Minority Int 25% 25
Agio Saham 10
Eliminasi 75% 7,5
Minority Int 25% 2,5
Agio Saham 50
Eliminasi 75% 37,5
Minority Int 25% 12,5
Total Utang & Modal 440 250 140 140 570 570

PT. A dan Perusahaan Anak PT. B


Neraca Konsolidasi
31 Desember 2001
Aktiva 550.000 Utang 270.000
Goodwill 20.000 Modal :
Minority (PT.B):
Modal Saham 25.000
Agio Saham 2.500
Laba ditahan 12.500
40.000
Mayority (PT.A):
Modal Saham 200.000
Agio Saham 20.000
Laba ditahan 40.000
260.000
Total Aktiva 570.000 Total Utang&Modal 570.000

14
PT. A dan Perusahaan Anak PT. B
Worksheet Konsolidasi
31 Desember 2002
Rekening PT.A PT.B Eliminasi NK
D K D K
Investasi pd PT.B 155 155
Goodwill 20 1 19
Aktiva 345 280 625
Total Aktiva 500 280
Utang 170 100 270
PT.A Modal Saham 200 200
Agio Saham 20 20
Laba Ditahan 110 1 109

PT.B
Modal Saham 100
Eliminasi 75% 75
Minority Int 25% 25
Agio Saham 10
Eliminasi 75% 7,5
Minority Int 25% 2,5
Agio Saham 70
Eliminasi 75% 52,5
Minority Int 25% 17,5
Total Utang & Modal 500 280 156 156 644 644

PT. A dan Perusahaan Anak PT. B


Neraca Konsolidasi
31 Desember 2002
Aktiva 625.000 Utang 270.000
Goodwill 19.000 Modal :
Minority (PT.B):
Modal Saham 25.000
Agio Saham 2.500
Laba ditahan 17.500

15
45.000
Mayority (PT.A):
Modal Saham 200.000
Agio Saham 20.000
Laba ditahan 109.000
329.000
Total Aktiva 644.000 Total Utang&Modal 644.000

PT. A dan Perusahaan Anak PT. B


Worksheet Konsolidasi
31 Desember 2003
Rekening PT.A PT.B Eliminasi NK
D K D K
Investasi pd PT.B 147,5 147,5
Goodwill 20 2 18
Aktiva 382,5 260 642,5
Total Aktiva 530 260
Utang 160 90 250
PT.A Modal Saham 200 200
Agio Saham 20 20
Laba Ditahan 150 2 148

PT.B

16
Modal Saham 100
Eliminasi 75% 75
Minority Int 25% 25
Agio Saham 10
Eliminasi 75% 7,5
Minority Int 25% 2,5
Agio Saham 60
Eliminasi 75% 45
Minority Int 25% 15
Total Utang & Modal 530 260 149,5 149,5 660,5 660,5

PT. A dan Perusahaan Anak PT. B


Neraca Konsolidasi
31 Desember 2003
Aktiva 642.500 Utang 250.000
Goodwill 18.000 Modal :
Minority (PT.B):
Modal Saham 25.000
Agio Saham 2.500
Laba ditahan 15.000
42.500
Mayority (PT.A):
Modal Saham 200.000
Agio Saham 20.000
Laba ditahan 148.000
368.000
Total Aktiva 660.500 Total Utang&Modal 660.500

Dua Perusahaan Anak dalam Satu Periode


Pada tahun 2000 PT. A membeli secara tunai saham beredar dua perusahaan sbb :
Tanggal 30/06/2000 membeli 2.250 saham PT. B Rp. 267.500
Tanggal 30/09/2000 membeli 3.200 saham PT. C Rp. 328.000
17
Neraca PT. A, PT. B dan PT. C per 31 Desember 2001 adalah sebagai berikut :

Rekening PT.A PT.B PT.C


Kas 100.000 30.000 80.000
Piutang Wesel 150.000 50.000 100.000
Piutang Sewa 20.000 5.000 -
Piutang Dividen (PT.C) 40.000 - -
Peralatan 150.000 400.000 100.000
Gedung 200.000 - 300.000
Akumulasi Depresiasi (350.000) (300.000) (200.000)
Investasi pd PT. B 215.000 - -
Investasi pd PT. C 380.000 - -
Aktiva Lain-lain 745.000 325.000 550.000
Total Aktiva 1.650.000 510.000 930.000
Utang Wesel 200.000 90.000 -
Utang Sewa - - 10.000
Utang Dividen 80.000 - 50.000
Utang Lain-lain 220.000 160.000 370.000
Modal Saham @ Rp. 100 700.000 300.000 400.000
Laba ditahan 450.000 (40.000) 100.000
Total Utang & Modal 1.650.000 510.000 930.000

Dalam piutang wesel PT.C dan utang wesel PT.B tersebut termasuk Rp. 30.000 utang
piutang antara PT.B dan PT.C. Dalam piutang sewa PT.A dan utang wesel PT.C tersebut
termasuk Rp. 10.000 utang piutang antara PT.A dan PT.C.

PT.A PT.B PT.C


Modal Saham (@ Rp. 100) 700.000 300.000 400.000
LYD 31/12/1999 140.000 60.000 (40.000)
Dividen kas 2000, diumumkan
20/12/2000 dibyr 10/1/2001 80.000 50.000
Laba rugi 2000 190.500 (60.000) 100.000
Dividen kas 2001, diumumkan
20/12/2001 dibyr 10/1/2002 80.000 50.000
Laba rugi 2001 200.000 (40.000) 140.000

Perlakuan Selisih HP-NB :


18
1. Selisih HP-NB saham PT.B Rp. 10.000 untuk penyesuaian peralatan (UE 5 tahun) sisanya
diakui sebagai goodwill (UE 10 tahun).
2. Selisih HP-NB saham PT.C untuk penyesuaian nilai gedung (UE 5 tahun).

Kepemilikan oleh PT.A


Saham PT.B
Jumlah lembar saham = Rp. 300.000/ Rp. 100
= 3.000 lembar
Prosentase kepemilikan = 2.250/3.000 lembar
= 75%

Saham PT.C
Jumlah lembar saham = Rp. 400.000/ Rp. 100
= 4.000 lembar
Prosentase kepemilikan = 3.200/4.000 lembar
= 80%

Selisih HP-NB saham PT.B


Saat perolehan
HP Rp. 267.500
NB MS = 75% x Rp. 300.000 Rp. 225.000
LYD 1999 = 75% x Rp. 60.000 Rp. 45.000
Rugi 2000 = 75% x 6/12 x (Rp. 60.000) (Rp. 22.500)
Rp. 247.500
Selisih lebih Rp. 20.000
Kenaikan peralatan Rp. 10.000
Goodwill Rp. 10.000

19
Per 31/12/2001
HP Rp. 215.000
NB MS = 75% x Rp. 300.000 Rp. 225.000
LYD 2001 = 75% x (Rp. 40.000) (Rp. 30.000)
Rp. 195.000
Selisih lebih Rp. 20.000
Kenaikan peralatan Rp. 10.000
Goodwill Rp. 10.000

Selisih HP-NB saham PT.C


Saat perolehan
HP Rp. 328.000
NB MS = 80% x Rp. 400.000 Rp. 225.000
LYD 1999 = 80% x (Rp. 40.000) (Rp. 32.000)
Laba 2000 = 80% x 9/12 x Rp. 100.000 Rp. 60.000
Rp. 348.000
Penurunan nilai gedung (Rp. 20.000)

Per 31/12/2001
HP Rp. 380.000
NB MS = 80% x Rp. 400.000 Rp. 320.000
LYD 2001 = 80% x Rp. 100.000 Rp. 80.000
Rp. 400.000
Penurunan nilai gedung (Rp. 20.000)

Jurnal
30/06/2000 Investasi saham PT. B 267.500
Kas 267.500
30/09/2000 Investasi saham PT. C 328.000
Kas 328.000
20/12/2000 Piutang Dividen 40.000
Investasi saham PT. C 40.000
31/12/2000 Laba Rugi 22.500

20
Investasi saham PT. B 22.500
Investasi saham PT. C 20.000
Laba Rugi 20.000
10/01/2001 Kas 40.000
Piutang Dividen 40.000
20/12/2001 Piutang Dividen 40.000
Investasi saham PT. C 40.000
31/12/2001 Laba Rugi 30.000
Investasi saham PT. B 30.000
Investasi saham PT. B 112.000
Laba Rugi 112.000

Perubahan Investasi PT.B, PT.C dan LYD PT.A


Investasi PT.B Investasi PT.C LYD PT.A
Saldo 31/12/1999 140.000
Perolehan 30/06/2000 267.500
Perolehan 30/09/2000 328.000
Dividen Kas 20/12/2000
PT. C (40.000)
PT.A (80.000)
Laba Rugi 2000
PT.A 190.500
PT.B (22.500) (22.500)
PT.C 20.000 20.000
Dividen Kas 20/12/2001
PT. C (40.000)
PT.A (80.000)
Laba Rugi 2001
PT.A 200.000
PT.B (30.000) (30.000)
PT.C 112.000 112.000
Saldo per 31/12/2001 215.000 380.000 450.000

PT. A dan Perusahaan Anak PT. B dan PT.C


Neraca Konsolidasi
31 Desember 2001
Kas 210.000 Utang Wesel 260.000
Piutang Wesel 270.000 Utang Dividen 90.000
Piutang Sewa 15.000 Utang Lain-lain 750.000
Peralatan 660.000
Gedung 480.000 Modal :
Akumulasi Depresiasi (848.000) Minority (PT.B):
21
Goodwill 8.500 Modal Saham 75.000
Aktiva Lain-lain 1.620.000 Laba ditahan (10.000)
65.000
Minority (PT.C):
Modal Saham 80.000
Laba ditahan 20.000
100.000
Mayority (PT.A):
Modal Saham 700.000
Laba ditahan 450.500
1.150.500
Total
Total Aktiva 2.415.500 Utang&Mod 2.415.500
al

3. Hutang Piutang antar Perusahaan Afiliasi

Neraca Konsolidasi adalah neraca gabungan dari beberapa perusahaan afiliasi


yang dipandang sebagai satu kesatuan ekonomis. Oleh sebab itu dalam neraca yang
dikonsolidasikan tidak lagi dibenarkan melaporkan hak-hak dari perusahaan yang satu
atas perusahaan lain yang berafiliasi atau sebaliknya yang kewajiban-kewajiban dari
suatu perusahaan kepada perusahaan lain yang berafiliasi tersebut.
Transaksi-transaksi antar perusahaan yang berafiliasi sering mengakibatkan
timbulnya piutang dari suatu pihak dan hutang bagi pihak lain, dalam perusahaan-
perusahaan yang berafiliasi tersebut. Saldo rekening-rekening yang timbal balik yang
timbul dapat berasal dari transaksi-transaksi : penjualan, pemberian uang muka/piutang
diantara perusahaan afiliasi, (pengumuman) pembagian deviden bagi perusahaan anak
dan lain sebagainya. Saldo rekening-rekening timbal balik tersebut, harus dieleminasi
kedalam neraca konsolidasi. Eliminasi dilakukan hanya dalam daftar lajur, dengan
mendebit rekening hutang dan kredit pada rekening piutang atau aktiva.
Agar lebih memperoleh gambaran tentang hal ini, berikut ini akan diberikan
beberapa contoh sebagai berikut :

Contoh 1 :

22
Dalam neraca PT H (sebagai perusahaan induk yang memiliki 80% saham-saham
perusahaan anak) pada tanggal 31 Desember 1980 terdapat saldo debit rekening Uang
Muka kepada PT A (perusahan anak) sebesar Rp.1.000.000,00. Sedang neraca PT A pada
tanggal yang sama terdapat saldo kredit rekening Uang Muka dari PT H (perusahaan
induk) sebesar Rp.1.000.000,00. Terhadap pos-pos tersebut eliminasi dalam daftar lajur
yang dibuat oleh PT H dalam rangka penyusunan Neraca Konsolidasi akan nampak
sebagai berikut :

Rekening-Rekening Eliminasi Neraca


Neraca PT H PT A Konsolidasi
D K D K
Debit
1.000.000 1.000.000
Uang Muka kpd PT A
Kredit
1.000.000 1.000.000
Uang Muka dari PT H

Dari contoh diatas dilihat bahwa eliminasi terhadap hutang-piutang antar


perusahaan induk dan perusahaan anaknya tidak didasarkan atas besarnya/prosentase
pemilikan saham-saham (investasi) melainkan semata-mata didasarkan pada
anggapan/pandangan bahwa diantara perusahaan afiliasi tersebut tidak lagi merupakan
dua perusahaan yang berdiri sendiri akan tetapi merupakan suatu kesatuan usaha,
sehingga tidak lagi dibenarkan adanya hutang disatu pihak dan piutang dipihak lain.
Terhadap hutang-piutang, pada prinsipnya didalam Neraca Konsolidasi harus dieliminasi
seluruh jumlah kewajiban dan hak dari masing-masing unit usaha tersebut. Utuk lebih
jelasnya berikut ini diberikan contoh, apabila hanya sebagian dari jumlah hutang piutang
yang merupakan pos-pos/jumlah yang timbal balik beserta prosedur eliminasinya

Contoh 2 :
PT H memiliki 80% saham-saham PT A yang dibeli beberapa tahun yang lalu.
Pada tangga 20 Desember 1980 PT A mengumumkan pembagian deviden sebesar
Rp.500.000,00 yang akan dibayarkan pada tanggal 20 Januari 1981

23
Dalam hal ini PT A akan melaporkan didalam neracanya pada tanggal 31 Desember 1980
seluruh jumlah Hutang Deviden sebesar Rp.500.000,00

Sebaliknya PT H akan melaporkan sebesar haknya atas deviden tersebut sebesar


Rp.400.000,00 (80% x 500.000) yang merupakan jumlah yang timbal balik (reciprocal
amount) didalam hubungan antara perusahaan induk dan perusahaan anaknya. Eliminasi
terhadap saldo hutang-piutang deviden itu didalam daftar lajur untuk penyusunan neraca
konsolidasi pada tanggal 31 Desember 1980 adalah sebagai berikut :

Rekening-Rekening Eliminasi Neraca


Neraca PT H PT A Konsolidasi
D K D K

Debit
400.000 400.000
Piutang Deviden

Kredit
500.000 400.000 100.000
Hutang Deviden

Didalam Neraca Konsolidasi masih tetap tercantum Hutang Deviden sebesar


Rp.100.000,00 yaitu kewajiban perusahaan afiliasi kepada para pemegang saham
minoritas pada perusahaan anak. Dengan demikian jumlah hak dan kewajiban antaar
perusahaan afiliasi merupakan satu-satunya faktor yang harus dipertimbangkan didalam
proses eliminasi terhadap hutang-piutang antar perusahaan afiliasi.

24
4. Metode Harga Perolehan

a. Pendahuluan

Pada bab sebelumnya telah dikemukakan bahwa ada 2 metode pencatatan yang
berlaku terhadap investasi saham-saham perusahaan anak, khusunya apabila tujuan
kepemilikan tersebut adalah untuk memperoleh posisi kontrol (mengendalikan baik usaha
maupun manajemen perusahaan lain tersebut), dan untuk jangka waktu relatif permanen.

Salah satu metode pencatatan tersebut telah dibahas secara mendetail sampe kepada
pengaruh/konsekuensi metode pencatatan tersebut didalam penyusunan Neraca Konsolidasi
nya

Pada bab ini selanjutnya akan dibicarakan tentang metode pencatatan terhadap
investasi saham-saham perusahaan anak tersebut yang disebut sebagai metode “harga
perolehan” atau cost method. Akan tetapi perlu diingatkan disini bahwa pada metode harga
perolehan ini tetap berlaku konsep-konsep yang mendasari dan syarat-syarat penyusunan
neraca konsolidasi yang sama dengan metode equity yang telah dikemukakan sebelumnya.

b. Metode Harga Perolehan (Cost Method)

Apabila metode “harga perolehan” (cost method) diikuti untuk mecatat investasi
saham-saham perusahaan anak, maka hanya deviden atas saham-saham tersebut (yang telah
dibagikan oleh perusahaan anak) yang diakui sebagai pendapatan (revenue) oleh perusahaan

25
induk. Sebaliknya laba/rugi atas pemilikan modal (saham) hanya timbul apabila sebagian
atau seluruh jumlah saham yang dimiliki itu dijual. Kedua hal tersebut merupakan perbedaan
prinsipal antara kedua metode pencatatan investasi saham-saham perusahaan anak. Pada
metode equity pendapatan atas investasi diakui( yang pada akhirnya harus disajikan dalam
laporan laba-rugi perusahaan induk) pada saat perusahaan anak melaporkan adanya
keuntungan usaha. Seblaiknya apabila perusahaan anak menderita rugi, maka harus pula
diakui kerugian yang timbul atas investasi saham. Pembagian laba yang dilakukan oleh
perusahaan anak hanya merupakan realisasi atas bagian laba yang telah diakui sebelumnya
oleh perusahaan induk. Oleh sebab itu pula didalam metode equity (saldo) rekening investasi
saham-saham perusahaan anak berubah-ubah sejalan dengan perubahan jumlah kekayaan
bersih perusahaan anak.

Pada metode “harga perolehan” sebaliknya, saldo rekening investasi saham


perusahaan anak : selalu tetap jumlahnya, kecuali apabila terjadi penjumlahan atau pembelian
tambahan atas saham-saham yang dimiliki, karena “harga perolehan” hanya terjadi sekali
pada saat pemilikan. Pada metode harga peolehan, perusahaan induk tidak mencatat atas
bagian laba yang diperoleh perusahaan anak sampai dengan laba tersebut dibagikan sebagai
deviden. Oleh sebab itu laporan laba rugi perusahaan induk (sebgai perusahaan individual)
tidak mencantumkan “pendaatan dan atau kerugian” atas investasi (sahamnya) pada
perusahaan anak. Bagian atas laba yang diperoleh (yang belum dibagikan sebagai deviden)
atau rugi yang harus ditanggung, oleh perusahaan induk hanya diakui dalam laporan keungan
(neraca) yang dikonsolidasi. Pada metode harga perolehan bagian deviden yang dibagikan
oleh perusahaan anak; dicatat debit dalam rekening piutang deviden (kas), dengan rekening
lawan kredit “penghasilan deviden”

Untuk lebih jelasnya berikut ini diberikan contoh pencatatan dan penyusunan neraca
konsolidasi apabila metode harga perolehan dipakai.

Contoh 1
Pada tanggal 1 Januari 1980 PT PI membeli 80% saham-saham PT PA dengan harga
seluruhnya Rp.1.000.000,00. Pada saat itu modal saham PT PA yang telah beredar sebesar

26
nominal Rp.1.000.000,00 sedangkan rekening Laba Yang Ditahan mempunyai saldo kredit
sebesar Rp.200.000,00. Sedangkan untuk 6 bulan pertama tahun 1980 PT PA memperoleh
laba sebesar Rp.200.000,00. Sedangkan untuk 6 bulan kedua dalam tahun yang sama rugi
sebesar Rp.50.000,00. Pada tanggal 10 Desember 1980 PT PA mengumumkan pembagian
deviden sebesar Rp.100.000,00 sedangkan realisasi pembayarannya baru terjadi pada tanggal
20 Desember. Dalam oprasinya selama tahun buku 1980 PT PI memperoleh laba (tidak
termasuk penghasilan deviden dari perusahaan lain) sebesar Rp.250.000,00

1. Neraca Konsolidasi per 1 Januari 1980 (sesaat setelah terjadi pemilikan saham-saham
perusahaan anak)
Untuk mudahnya terlebih dahulu dibuat daftar lajurnya. Adapun bentuk daftar lajur, yang
dibuat sesaat setelah terjadinya pemilikan saham baik pada Metode Harga Perolehan
maupun pada Metode Equity adalah sama. Hal ini disebabkan konsepsi yang mendasari dan
syarat-syarat penyusunan neraca konsolidasi sama pada kedua metode tersebut. Pada saat
pemilikan perbedaan nilai investasi saham yang dicatat dengan metode equity, dan nilai
investasi saham yang dicatat dengan metode harga perolehan praktis tidak ada. Oleh karena
pada saat tersebut belum ada perubahan kekayaan bersih perusahaan anak yang dicatat
dalam rekening investasi saham pada metode equity. Dengan demikian daftar lajur maupun
neraca konsolidasi yang disusun pada tanggal 1 Januari 1980 sama dengan pada contoh
nomor 1 dalam bab XIII
2. Jurnal yang harus dibuat PT PI dalam hubungannya dalam pemilikan saham-saham PT PA
selama tahun buku 1980, disajikan dalam bentuk perbandingan dengan metode equity
sebagai berikut :
Transaksi Metode Harga Perolehan Metode Ekuitas (Equity
(Cost Method) Method)
30 Juni 1980 Investasi Saham-Saham, PT
PT PA melaporkan laba PT PI tidak mencatat
PA (D)
sebesar : Rp.160.000,00
Rp.200.000,00 Rugi-Laba, PT PA (K)
Rp.160.000,00
10 Desember 1980 Piutang Deviden (D) Piutang Dividen (D)
PT PA mengumumkan Rp.80.000,00 Rp.80.000,00
Penghasilan Deviden (K) Investasi Saham-saham PT
deviden sebesar :
Rp.80.000,00
27
Rp.100.000,00 PA (K)
Rp.80.000,00
20 Desember 1980 Kas (D) Kas (D)
Pembayaran Deviden oleh Rp.80.000,00 Rp.80.000,00
Piutang Deviden (K) Piutang Dividen (K)
PT PA
Rp.80.000,00 Rp.80.000,00

31 Desember 1980 Rugi- Laba (D)


PT PA melporkan rugi PT PI tidak mencatat Rp.40.000,00
Investasi Saham-Saham PT
sebesar :
Rp.50.000,00 PA (K)
Rp.40.000,00

3. Penyusunan Neraca Konsolidasi pada tanggal 31 Desember 1980, mengikuti prosedur


sebagai berikut :
Eliminasi terhadap saldo rekening Investasi Saham-Saham, PT PA dengan saldo modal
(hak-hak pemegang saham) PT PA dilakukan dengan bertitik tolak dari posisi pada saat
pemilikan saham terjadi. Selisih antara saldo rekening Investasi Saham-Saham PT PA,
dengan bagian pemilikannya atas hak-hak pemegang saham merupakan selisih lebih atau
kurang harga perolehan dari nilai buku saham. Sedang sisa kredit hak-hak pemegang saham
PT A setelah dieliminasinya bagian pemilikan perusahaan induk merupakan saldo Hak-Hak
Pemegang Saham Minoritas.
Oleh karena saldo Laba Yang Ditahan PT PA dalam hal ini tidak lagi sama dengan saldo
pada saat terjadi pemilikan saham maka timbul persoalan didalam menentukan besarnya
bagian yang merupakan hak para pemegang saham minoritas dan yang harus diakui sebagai
haknya perusahaan induk seperti diatas. Untuk itu dipakai pedoman sebagai berikut :
Setelah hak-hak pemilikan perusahaan induk eliminasi, langkah berikutnya adalah
menentukan Hak-Hak Para Pemegang Saham Minoritas (Minority Interest). Hak pemegang
saham minoritas dihitung dengan bertitik tolak dari posisi keuangan terakhir (saat
penyusunan neraca konsolidasi) PT PA
Sisa kredit (debit) hak-hak para pemegang saham PT PA setelah dikurangi dengan jumlah
hak pemilikan perusahan induk dan jumlah hak pemegang saham minoritas merupakan hak
bagian) atas perubahan kekayaan bersih yang harus dikuasai oleh perusahaan induk. Pada
contoh ini jumlah tersebut adalah sebesar Rp.40.000,00 yaitu 80% dari kenaikan saldo
Laba Yang Ditahan PT PI dengan demikian tidak saja bertambah dengan laba operasi
sendiri sebesar Rp.250.000,00 tetapi juga ditambah dengan penghasilan deviden atas

28
investasi saham-saham PT PA sebesar Rp.80.000,00 dan bagian atas kenaikan kekayaan
bersih PT PA Rp.40.000,00
Adapun bentuk daftar lajur penyusunan neraca konsolidasi pada tanggal 31 Desember 1980
adalah sebagai berikut :

PT PI dan Perusahaan Ananknya PT PA


Daftar Lajur Penyusunan Neraca Konsolidasi
Per 31 Desember 1980

Penjelasan Daftar Lajur


1. Investasi saham-saham PT PA sebesar Rp.1.000.000,00 adalah harga perolehan untuk
80% saham PT PA pada tanggal 1 Januari 1980, yang oleh PT PI dicatat sebagai berikut:
Investasi Saham-Saham, PT PA Rp.1.000.000,00
Kas Rp.1.000.000,00

29
2. Macam-Macam Aktiva, PT PI sebesar Rp.2.830.000,00 terdiri dari saldo awal sebesar
Rp.2.500.000,00 ditambah dengan laba operasi sendiri Rp.250.000,00 dan penghasilan
deviden sebesar Rp.80.000,00
3. Macam-Macam Aktiva PT PA sebesar Rp.2.050.000,00 terdiri dari saldo awal
Rp.2.000.000,00 ditambah dengan laba semester 1 1976 Rp.200.000,00 dan dikurangi
pembagian deviden Rp.100.000,00 dan rugi semester II sebesar Rp.50.000,00
4. Macam-Macam Hutang PT PI sebesar Rp.2.000.000,00 dari PT PA sebesar
Rp.800.000,00. Pada contoh ini saldo hutang tidak ada perubahan pada awal dan akhir
tahun 1980
5. Saldo Laba Yang Ditahan PT PI sebesar Rp.830.000,00 terdiri dari saldo awal sebesar
Rp.500.000,00 ditambah dengan laba operasi sendiri Rp.250.000,00 dan penghasilan
deviden Rp.80.000,00
6. Saldo Laba Yang Ditahan PT PA sebesar Rp.250.000,00 terdiri dari saldo awal
Rp.200.000,00 ditambah laba operasi 6 bulan pertama Rp.200.000,00 dan dikurangi
dengan rugi operasi 6 bulan kedua sebesar Rp.50.000,00 dan pembagian deviden sebesar
Rp.100.000,00

Eliminasi saldo modal PT PA dilakukan dengan bertitik tolak daari posisi awal
sebesar prosentase pemilikannya pada contoh ini adalah (80% x Rp.1.000.000 dan 80% x
Rp.20.000). Hak-Hak pemegang saham minoritas ditentukan dengan bertitik tolak pada
posisi terakhir (pada saat penyusunan neraca konsolidasi). Pada contoh ini adalah 20% dari
modal saham sebesar Rp.1,000.000 dan 20% dari Laba Yang Ditahan sebesar Rp.250.000
Selisih antara saldo kredit rekening-rekening modal PT PA dengan hal pemilikan PT
PI yang telah dieliminasi dan Hak Pemegang Saham Minoritas yang telah ditentukan
merupakan bagian atas kenaikan kekayaan bersih (Laba Yang Ditahan), sejak terjadinya
pemilikan saham-saham untuk perusahaan induk. Sedangkan selisih saldo debit rekening
Invesatasi Saham-Saham PT PA dengan jumlah bagian pemilikannya (eliminasinya)
merupakan cost or book value excess. Pada metode ahraga perolehan ini besarnya cost of
book value excess praktis tidak ada masalah seperti halnya pada metode equity. Besarnya
cost of book value excess didalam daftar lajur pada metode harga perolehan dihitung juga
atas dasar posisi keuangan pada saat terjadinya pemilikan saham. Adapun seraca konsolidasi
yang disusun atas dasar daftar lajur tersebut nampak sebagai berikut :

30
5. Pembagian Deviden dari Saldo Laba Yang Ditahan sebelum saat Pemilikan Saham

31
Didalam metode harga perolehan penghasilan atas investasi saham-saham pada
perusahaan anak timbul apabila perusahaan anak membagikan laba yang diperoleh,
sebagai deviden. Namun demikian sangat dimungkinkan terjadinya pembagian deviden
oleh perusahaan anak atas laba yang diakumulasikan sebelum pemilikan saham-saham
oleh perusahaan tidak terjadi
Apabila deviden semacam ini terjadi dan oleh karena pencatatan investasi saham pada
metode harga perolehan bertitik tolak pada posisi keuangan (perusahaan anak) pada saat
terjadi pemilikan saham, maka tidak boleh diakui sebagai penghasilan bagi perusahaan
induk. Pembagian deviden berakibat terjadinya perubahan posisi keuangan pada
perusahaan anak (yaitu berkurangnya aktiva dan sebagian hak hak pemegang saham)
menjadi tidak sesuai dengan posisi keuangan pada saat pemilikan saham-saham terjadi
Oleh sebab itu deviden yang dibagikan oleh perusahaan anak atas laba yang
diakumulasikan sebelum terjadinya pemilikan saham, harus dicatat sebagai pengurangan
terhadap “nilai” investasi saham, seperti halnya deviden likuidasi. Dalam hal ini
penurunan (nilai) kekayaan bersih pada perusahaan anak, harus pula diakui sebagai
penurunan (nilai) investasi saham-saham pada perusahaan anak. Hal ini sesuai dengan
anggapan bahwa tidak ada Saldo laba (Yang Ditahan) bagi perusahaan yang baru
dibentuk dan belum melakukan operasinya. Dengan demikian apabila pada perusahaan
yang baru dibentuk membagikan sebagian harta miliknya kepada para pemegang saham
berarti harus diakui sebagai penarikan kembali dari sebagian atas penanaman modalnya
dengan anggapan seperti tersebut diatas, maka apabila dalam pembagian deviden ternyata
ada sebagian diantaranya merupakan laba yang diakumulasikan sebelum terjadinya
pemilikan sahan (oleh perusahaan induk), harus dipisahkan secara tegas berhubung
masing-masing harus diperlakukan berbeda satu sama lain
Agar lebih jelasnya berikut ini diberikan contohnya sebagai berikut :

Berikut ini adalah neraca singkat PT Dani dan PT Dian pada tanggal 1 Juli 1977, yaitu
sesaat setelah PT Dani membeli 750 lembar saham-saham PT Dian dengan harga
@Rp.15.000 perlembar

32
PT Dani PT Dian
Aktiva
 Investasi Saham-Saham, PT Dian Rp.11.250.000 -
 Macam-Macam Aktiva Rp.13.750.000 Rp.15. 000. 000
Jumlah Aktiva Rp.25.000.000 Rp.15. 000. 000
Hutang & Modal
 Macam-macam Hutang Rp. 7.500.000 Rp. 2. 000. 000
 Modal Saham (1.000 lembar @
Rp.10.000) Rp.10.000.000 Rp.10. 000. 000
 Laba Yang Ditahan Rp. 7.500.000 Rp. 3. 000. 000
Jumlah Hutang & Modal Rp.25.000.000 Rp.15. 000. 000

Dalam operasinya untuk periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember 1977 masing-masing
perusahaan memperoleh laba sebagai berikut :
 PT Dani Rp.1.250.000
 PT Dian Rp. 750.000
PT Dian membagikan deviden sebesar Rp.1.000.000 untuk tahun 1977 pada akhir bulan
Desember 1977
Dalam hubungannya dengan pembagian deviden tersebut, maka oleh PT Dani dicatat :

Kas Rp.750.000
Invesatasi Saham-Saham PT Dian Rp.187.500
Penghasilan Deviden Rp.562.500

Perhitungan :
Laba PT Dian 1 Juli sampai dengan 31 Des
1997 dibagikan sebagai deviden (maksimum) Rp750.000
 Bagian Deviden PT Dani
75% x Rp750.000 Rp.562.500
 Jumlah laba sebelum pemilikan saham yang
dibagikan sebagai deviden tahun 1977
33
(75% x Rp.1.000.000 –Rp.750.000) Rp.187.500

Jumlah uang (kas) yang diterima PT Dani Rp.750.000

Apabila pada akhir tahun buku 1977, dibuat neracca konsolidasi, masing-masing pada saat
sebelum dan sesudah pembagian deviden oleh PT Dian, maka bentuk daftar lajur untuk
penyusunan neraca konsolidasi nampak sebagai berikut :

34
Penjelasan pos-pos daftar lajur yang disusun, sesudah pembagian deviden :
1. Saldo rekening Investasi Saham-saham PT Dian sebesar Rp.11.062.500 berasal dari saldo
awal Rp.11.250.000 dikurangi dengan penarikan kembali sebagian investasi sebesar
Rp.187.500 (75% x Rp.250.000) atau pembagian laba yang diakumulasikan sebelum
terjadi pemilikan saham-saham
2. Eliminasi saldo hak-hak pemilikan pada perushaan anak, dilakukan dengan bertitik tolak
pada posisi keuangan (perusahaan anak) pada saat terjadi pemilikan saham-saham. Oleh
karena itu terjadi pembagian laba yang diakumulasikan sebelum saat pemilikan saham,
maka berakibat saldo Laba Yang Ditahan berkurang menjadi dibawah saldo pada saat
terjadinya pemilikan saham, oleh karena itu eliminasi saldo Laba Yang Ditahan bertiitk
tolak pada jumlah yang teah berkurang tersebut. Dengan demikian “Selisih Lebih Harga
Perolehan diatas Nilai Buku Saham-Saham, PT Dian” tetap sama dengan neraca
konsolidasi yang disusun sebelum terjadi pembagian deviden oleh PT Dian. Adapun
bunyi jurnal eliminasinya adalah sebagai berikut :

35
Modal Saham, PT Dian Rp. 7.500.000
Laba Yang Ditahan, PT Dian Rp. 2.060.500
Selisih Harga Perolehan Diatas Nilai
Buku Saham Rp. 1.500.000
Investasi saham-saham PT Dian Rp.11.062.500

3. Macam-Macam Aktiva, masing masing PT Dani sebesar Rp.15.750.000 dan PT Dian


sebesar Rp.14.750.000 terdiri dari :

PT Dani :
Saldo Awal Rp.13.750.000
Ditambah :
Laba Operasi Sendiri Rp. 1.250.000
Penghasilan Deviden Dan Penarikan kembali
sebagian investasi pada PT Dian Rp. 750.000
Saldo per 31 Des 1977 Rp.15.750.000

4. Macam-Macam Hutang, untuk menyederhanakan pada contoh ini dianggap saldonya


sama dengan saldo pada awal periode, yaitu masig-masing PT Dani sebesar Rp.7.500.000
dan PT Dian sebesar Rp.2.000.000
5. Laba yang ditahan PT Dani sebesar rp 9.312.500, terdiri dari :
Saldo Awal Rp.7.500.000
Ditambah dengan :
Laba operasi sendiri Rp.1.250.000
Penghasilan deviden atas investasi
pada PT Dian Rp. 562.500
Saldo per 31 Des 1977 Rp.9.312.500

Laba yang ditahan PT Dian (sebelum eliminasi) sebesar Rp.2.750.000 terdiri dari :
Saldo Awal Rp.3.000.000
Ditambah dengan :
Laba Operasi Rp. 750.000
Dikurangi dengan :
Deviden yang dibagikan (Rp.1.000.000)
Saldo per 31 Desember 1977 Rp .2.750.000

36
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

37
Konsolidasi adalah kombinasi bisnis yang terjadi karena pengendalian tidak
menyatukan proses entitas-entitas yang bergabung. Masing-masing entitas tetap beroparasi
secara terpisah dan independen serta membuat laporan keuangan individu.Akan tetapi,
entitas-entitas tersebut berada dalam satu pengendalian yang dilakukan oleh pihak yang
bergabung.Entitas pengendali disebut dengan entitas induk dan entitas yang dikendalikan
disebut dengan entitas anak. Konsolidasi diharuskan jika suatu perusahaan memiliki
mayoritas saham beredar dari perusahaan lain.
Jika saham saham perusahaan lain dimiliki/dibeli oleh suatu perusahaan, rekening
Investasi Saham didebit sebesar “harga perolehan” (cost)-nya. Akan tetapi prosedur
pencatatan berikutnya dapat dipakai salah satu dari dua metode yang berikut : yaitu pertama
perusahaan induk dapat mengakui dan mencatat setiap perubahan (perkembangan) yang
terjadi terhadap hak hak pemegang saham perusahaan anak, dengan jalan melakukan
penyesuaian terhadap rekening Investasi Saham; dan yang kedua tetap mencatat Investasi
Saham pada perusahaan anak sebesar harga perolehan (original cost)
Dalam hal (pencatatan) Investasi Saham pada perusahaan anak, selalu diadakan
penyesuaian terhadap adanya perubahan (perkembangan) yang terjadi dalam perusahaan
anak, sehingga rekening Investasi Saham senantiasa mengikuti perkembangan yang terjadi
pada perusahaan anak maka prosedur pencatatan itu disebut dengan “Metode Equity”. Jika
terhadap rekening Investasi tidak pernah dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang terjadi
dalam perusahaan anak disebut dengan Metode Harga Perolehan (Cost Method).

DAFTAR PUSAKA

Karyawati Golrida : 2011, Akuntansi Keuangan Lanjutan Edisi IFRS, Jilid II, Erlangga
Harnanto Hadori Yunus : 2009, Akuntansi Keuangan Lanjutan Edisi Pertama, BPFE Yogyakarta

38