Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN SISTEM ENDOKRIN

TENTANG HEPATIC FAILURE

KELOMPOK 1 :

Suly Septiani (C12113304)

Zakia Fitri Radiani (C12115001)

Hasmi (C12115002)

Suriati (C12115003)

Nurfaidah (C12115004)

Debi Sambak (C12115005)

Vinensia Veren Mantouw (C12115006)

Noor Azizah Lukman (C12115007)

Ita Dewi Pratiwi (C12115008)

Kamelia Darus (C12115009)

Amina (C12115010)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat-Nya sehingga makalah tentang Hepatic Failure, untuk mata kuliah Keperawatan
Sistem Endokrin dapat terselesaikan dengan baik. Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing kepada kami sebagai
mahasiswa program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Dengan makalah ini, diharapkan dapat memudahkan kita dalam mempelajari kembali
materi sistem endokrin. Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan baik dari cara
penulisan maupun isi dari makalah ini, karenanya kami siap menerima kritik maupun saran
dari dosen pembimbing dan pembaca demi tercapainya kesempurnaan dalam pembuatan
makalah berikutnya.

Kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini,
kami mengucapkan terima kasih. Semoga Tuhan yang Maha Esa senantiasa melimpahkan
berkat dan bimbingannya kepada kita semua.

Makassar,3 Oktober 2016

Penyusun

Kelompok 1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tubuh manusia merupakan suatu sistem yang sangat kompleks, yang


dilengkapi dengan berbagai organ yang saling melengkapi sehingga menjadi satu
kesatuan struktur yang fungsional.
Salah satu organ yang mempunyai peranan besar bagi tubuh kita adalah hati.
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia yakni beratnya sekitar 1.200
– 1.600 gram pada orang dewasa. Hati merupakan pusat metabolisme seluruh tubuh
yang terbagi atas 2 lobus yaitu, lobus kanan yang besar dan lobus kiri yang sedikit
lebih kecil dari lobus kanan. Hati ini terletak pada bagian atas kavum abdomialis,
dibawah diafragma.
Secara histologik, hati dibentuk oleh sejumlah lobulus hati yang terdiri dari
sebuah vena sentralis, sejumlah senusoid darah yang menyebar secara radial serta
dipisahkan satu sama lain oleh lapisan-ganda hepatosit, dan saluran porta pada
bagian tepi setiap lobulus . setiap saluran porta berisi cabang terminal dari masing-
masing arteria hepatika, vena porta dan saluran empedu (duktus intrahepatikus).
Darah dari cabang arteria hepatika dan vena porta akan masuk ke dalam sinusoid
yang kemudian dialirkan keluar lewat vena sentralis ke dalam vena hepatika.
Kanalikulus bilier yang kecil terdapat di antara sel-sel hepatosit yang bersebelahan
untuk mengalirkan keluar getah empedu ke dalam saluran empedu yang berada di
dalam saluran porta. (Marya, 2013)
Sinusoid hepatik memiliki lumen yang relatif besar dan dilapisi terutama oleh
sel-sel endotel yang membentuk lapisan tanpa-putus. Sel-sel Kupffer yang sangat
fagositik berada pada sisi luminal sel-sel endotel tersebut. Sel-sel ini menghasilkan
sekitar 80% aktivitas total fagositosis tubuh. Sebuah ruang kecil terdapat di antara
lapisan endotel sinusoid dan hepatosit. Ruang tersebut yang dikenal sebagai “the
space of Disse” berisikan serabut-serabut retikular dan kadang-kadang sel stelata
sinusoid yang fungsinya mencakup penyimpanan vitamin A. (Marya, 2013)
Di dalam hati, terjadi proses-proses yang penting bagi tubuh kita yakni, proses
penyimpanan energi, pengaturan metabolisme kolesterol, dan peneralan racun/obat
yang masuk dalam tubuh kita. Sehingga dapat kita bayangkan akibat yang akan
timbul apabila terjadi kerusakan pada hati.
Beberapa masalah yang sering terjadi pada hati diantaranya Hepatitis, Hepatic
Failure dan Hepatic Cirrochis. Namun yang akan kelompok kami bahas dalam
makalah ini adalah Hepatic Failure.
Hepatic Failure atau biasa disebut dengan gagal hati adalah kondisi medis
yang ditandai dengan ketidakmampuan sel hati untuk beregenerasi sehingga
menyebabkan kerusakan hati dan hilangnya fungsi hati. “Hepatitis adalah penyakit
peradangan hati yang terjadi karena bermacam penyebab, termasuk infeksi virus atau
pajanan ke bahan toksik, seperti alkohol, karbon tetraklorida, dan obat penenang
tertentu. Keparahan hepatitis berkisar dari ringan dengan gejala reversibel hingga
kerusakan hati akut masif dengan kemungkinan kematian dini akibat gagal hati akut.”
(Sherwood, 2009)
Peradangan hati yang berulang atau berkepanjangan, biasanya berkaitan
dengan alkoholisme kronik, dapat menyebabkan sirosis yaitu suatu keadaan di mana
hepatosit yang rusak diganti secara permanen oleh jaringan ikat. Sirosis secara
perlahan akan menyebabkan gagal hati. (Sherwood, 2009)
Di negara maju, sirosis hati sering di temukan dalam ruang perawatan bagian
penyakit dalam. Sirosis hati ini rata-rata terjadi pada pasien yang berusia 45-46
tahun. Sedangkan untuk penyakit gagal hati paling sering terjadi pada usia 30-an.
Dalam kasus ini, penanganan yang paling baik adalah dengan melakukan
transplantasi hati baik pada sirosis maupun gagal hati. Terbukti dalam beberapa tahun
terakhir, kelangsungan hidup telah meningkat secara substansial dari penderita gagal
hati. (Bernal & Wendon, 2013)
Peran dan fungsi perawat adalah memberi penyuluhan kesehatan agar
masyarakat dapat mewaspadai bahaya penyakit sirosis hepatis . Sedangkan peran
perawat dalam merawat pasien dengan penyakit sirosis hepatis adalah mencakup
perbaikan masukan nutrisi klien, membantu klien mendapatkan citra diri yang positif
dan pemahaman dengan penyakit dan pengobatanya.
B. Rumusan Masalah

1) Apa pengertian Hati?


2) Jelaskan fungsi hati?
3) Apa pengertian hepatic failure ?
4) Bagaimana etiologi terjadinya hepatic failure ?
5) Bagaimana klasifikasi hepatic failure?
6) Bagaimana patofisiologi hepatic failure ?
7) Bagaimana asuhan keperawatan hepatic failure ?

C. Tujuan Penulisan

1) Mahasiswa mampu mengetahui pengertian hati.


2) Mahasiswa mampu mengetahui fungsi hati.
3) Mahasiswa mampu mengetahui pengertian hepatic failure.
4) Mahasiswa mampu mengetahui etiologi terjadinya hepatic failure.
5) Mahasiswa mampu mengetahui kasifikasi hepatic failure.
6) Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi hepatic failure.
7) Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan hepatic failure.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hati

Hati merupakan organ terbesar kedua dan kelenjar terbesar di dalam tubuh.
Organ ini memiliki berat sekitar 1,5 kg dan terletak di rongga abdomen, di bawah
diafragma (Junqueira & Carneiro, 2007).

B. Fungsi Hati

Hati mempunyai beberapa fungsi yaitu:


a) Fungsi Pembentukan dan Eksresi Empedu
Hati mengekskresikan empedu sebanyak satu liter per hari ke dalam usus
halus. Unsur utama empedu adalah air 97%, elektrolit dan garam empedu.

b) Fungsi Metabolik
Fungsinya terdapat dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.

c) Fungsi Pertahanan Tubuh


Hati sebagai fagositosis dan imunitas, yang berperan dalam hal ini sel–sel
Kupffer, merupakan saringan penting bagi bakteri dan bahan–bahan asing
melalui proses fagositosis.
d) Fungsi Vaskular
Fungsi hati sebagai hemodinamik, hati merupakan organ yang penting
untuk mempertahankan aliran darah, hati menerima 25% darah dari
cardiac output, aliran darah hati yang normal sekitar 1500 cc/menit.

e) Fungsi detoksifikasi hati


Mekanisme detoksifikasi pada hati dapat dibagi menjadi dua fase :
 Reaksi fase I melibatkan modifikasi kimia substansi tersebut lewat
reaksi oksidasi, reduksi, hidroksilasi, deaminasi atau metilasi dll.
Reaksi semacam ini biasanya membuat substansi ini tidak aktif
 Reaksi fase II mengubah substansi tak-aktif yang larut-lemak
menjadi derivatnya yang larut-air (glukuronid,sulfat, asetil, taurin
atau glisin) dan dapat diekspresikan ke dalam getah empedu atau
urine (Marya, 2013).

C. Pengertian Hepatic Failure

Kelainan fungsi hati ini dapat menganggu kemampuan tubuh manusia untuk
memecah sel darah merah dari toksin atau racun yang terkandung didalamnya.
Berikut ini, akan di bahas mengenai hepatic failure yang merupakan salah satu resiko
penyakit yang timbul dari kelainan fungsi hati.

Seperti organ apapun, istilah “Failure” atau biasa di sebut dengan kegagalan
adalah ketidakmampuan organ untuk mempertahankan homeostasis. Gagal hati
adalah sindrom klinis yang ditandai dengan ikterus, asites, ensefalopati hepatik, dan
perdarahan yang kecenderungan karena gangguan fungsi hati; sindrom dapat
disebabkan oleh kondisi seperti hepatitis virus, hepatitis autoimun, cedera hati akibat
obat, metabolisme penyakit, dan gangguan peredaran darah. (Sugawara, Nakayama ,
& Mochida, 2012).
D. Etiologi Terjadinya Hepatic Failure

Di seluruh dunia, entitas penyakit perwakilan terkait dengan gagal


hati kronis adalah sirosis hati karena terus-menerus Infeksi virus hepatitis,
hepatitis autoimun, atau hepatitis etiologi tak tentu. Namun, demografi dan
Gambaran klinis dari gagal hati akut berbeda antara Jepang dan Eropa atau
Amerika Serikat. infeksi virus hepatitis adalah penyebab paling penting
dan umum dari gagal hati akut. (Sugawara, Nakayama , & Mochida,
2012).

E. Klasifikasi Hepatic failure

Gagal hati diklasifikasikan menjadi 2 jenis, tergantung pada klinis; yaitu,


gagal hati akut dan gagal hati kronis.
1. Gagal hati akut
Gagal hati akut adalah sindrom klinis ditandai dengan ensefalopati
hepatik dan perdarahan, kecenderungan karena gangguan berat fungsi
hati yang disebabkan oleh besar atau submasif nekrosis hati. (Brunner
& Suddarth, 2013)
Secara umum, gagal hati akut didiagnosis pada pasien dengan
gangguan fungsi hati, karena dinilai dari gejala klinis, data
laboratorium, dan pemeriksaan pencitraan, berkembang dalam 24 atau
26 minggu (6 bulan) setelah timbulnya luka hati dalam yang sudah ada
sebelumnya yang normal hati (Sugawara, Nakayama , & Mochida,
2012).
2. Gagal Hati Kronis
Hepatitis virus C infeksi (HCV) merupakan penyebab utama dari
penyakit hati kronis di seluruh dunia. infeksi HCV kronis sering
berkembang menjadi hepatitis kronis, yang dapat berlanjut ke sirosis
hati dan / atau karsinoma hepatoseluler (HCC) [1]. HCC merupakan
penyebab utama kematian dari neoplasma ganas di Jepang [2]. Sejak
sekitar 70% dari pasien HCC Jepang terinfeksi HCV, keberhasilan
pemberantasan virus ini, didefinisikan sebagai SVR (SVR), dianggap
penting untuk mengurangi kejadian kanker hati.
Gagal hati kronis didiagnosis pada pasien dengan peradangan hati
gigih dan cedera yang menunjukkan fungsi hati penurunan paling
lambat 6 bulan setelah timbulnya gejala liver. (Sugawara, Nakayama ,
& Mochida, 2012)
F. Patofisiologi

Disfungsi hati terjadi akibat kerusakan pada sel-sel parenkim hati


yang bisa secara langsung disebabkan oleh penyakit primer hati atau
secara tidak langsung oleh obstruksi aliran empedu atau gangguan
sirkulasi hepatic. Disfungsi hati bisa bersifat akut atau kronis namun
demikian, disfungsi yang kronis jauh lebih sering dari pada yang akut.
Penyakit hati yang kronis barada dalam urutan kesembilan sebagai
penyakit yang paling sering menyebabkan kematian di Amerika Serikat.
Angka penyakit hati kronis untuk laki-laki adalah dua kali lipat lebih
tinggi dari pada untuk wanita.
Proses perjalanan penyakit yang berkembang menjadi disfungsi
hepatoseluler dapat disebabkan oleh penyebab yang menular (infectious
agents), seperti bakteri serta virus, dan oleh keadaan anoksia, kelainan
metabolic, toksin serta obat-obatan, defisiensi nutrisi dan keadaan
hipersensitifitas. Penyebab kerusakan parenkim yang paling sering
ditemukan adalah malnutrisi, khususnya pada alkoholisme.
Sel-sel parenkim hati akan bereaksi terhadap unsur-unsur yang
paling toksik melalui penggantian glikogen dengan lipid sehingga terjadi
infiltrasi lemak dengan atau tanpa nekrosis atau kematian sel. Hasil akhir
penyakit parenkim hati yang kronis adalah pengecilan ddan fibrosis hati
yang tampak pada sirosis.
Manifestasi disfungsi hepatoseluler berupa perubahan fungsi
metabolik dan ekskretorik hati. Kelainan pada metabolisme karbohidrat,
lemak dan priotein akan menyertai disfungsi hati. Metabolism hati protein
yang abnormal menyebabkan penurunan konsentrasi albumin serum dan
edema. Ammonia yang merupakan produk sampingan metabolism akan
diabsorpsi dari traktus gastrointestinal tetapi tidak diubah menjadi ureum
oleh sel-sel hati yang rusak. Peningkatan kadar ammonia serum dapat
mengganggu fungsi system saraf pusat.
Arsitektur vask ular hati dapat terganggu sehingga terjadi
peningkatan tekanan darah vena porta yang menyebabkan perembesan
cairan kedalam rongga peritoneum dan varises esofagus. Banyak kelainan
endokrin juga terjadi ppada disfungsi hati karena hati tidak mampu untuk
memetabolisasi hormone secara normal dan gangguan fungsi seksual
lainnya serta perubahan ciri-ciri seks di perkirakan terjadi karena
ketidakmampuan hati untuk melakukan inaktifasi estrogen secara normal.
Kerusakan hati yang akut dapat menyebabkan kegagalan akuthati,
dapat pulih kembali secara total atau dapat pula berlanjut menjadi penyakit
hati yang kronis. Kegagalan hati terjadi bila hati tidak mampu melakukan
fungsi ekskretoriknya sementara fungsi metabolic hati tidak adekuat untuk
memenuhi kebutuhan tubuh.
GAGAL HATI FULMINANT

Gagal hati fulminan ditandai oleh ensefalopati hepatic yang terjjadi dalam
waktu beberapa minggu sesudah dimulainya penyakit pada pasien yang tidak
terbukti menunjukkan riwayat disfungsi hati. Klasifikasi yang baru untuk gagal
hati akut pernah diusulkan berdasarkan kecepatan timbulnya ensefalopati
sehubungan dengan manifestasi icterus yang pertama. Dalam system klasifikasi
ini terdapat tiga kategori : gagal hati hiperakut, akut dan subakut. Pada gagal hati
hiperakut, lamanya gejala icterus sebelum timbulnya ensefalopati adalah 0 hingga
7 hari, pada gagal hati yang akut, durasi tersebut berkisar dari 8 hingga 28 hari;
dan pada gagal hati sub akut, durasinya dalah 28 hinnga 72 hari. Penyebab ddan
prognosis ketiga kategori gagal hati akut tampak bervariasi. Ketiga tipe gagal hati
fulminant tersebut di tandai oleh kemunduran kondisi klinik yang cepat serta
dramatis akibat cedera dan nekrosis hepatoseluler yang masif. Mortalitas pada
keadaan ini sangat tinggi (60% hingga 85%) meskipun sudah dilakukan terapi
yang intensif.

Penyebab hepatitis virus merupakan penyebab gagal hati fulminant yang paling
sering di temukan; penyebab lainnya mencakup obat-obat yang toksik (misalnya,
asetaminoven dan zat-zat kimia misalnya karbon tetraklorida), gangguan
metabolic dan perubahan struktur hati.
Klasifikasi Gagal Hati Fulminant
 Gagal hati hiperakut
Dimana pada gagal hati ini ditandai dengan gejala ikterus sebelum
timbulnya ensefalopati adalah 0 hingga 7 hari.
 Gagal hati akut
Pada gagal hati akut gejala ikterus sebelum timbulnya ensefalopati
berkisar 8 hingga 28 hari.
 Gagal hati subakut
Pada gagal hati subakut gejala ikterus sebelum timbulnya
ensefalopati berkisar 28 hingga 72 hari.
Ketiga tipe gagal hati pulminan tersebut di tandai oleh kemunduran
kondisi klinik yang cepat serta dramaktis akibat cedera dan nekrosis
hepatoseluler yang masif. (Brunner & Suddarth, 2013)

Manifestasi klinik adanya gejala icterus dan anoreksia yang berat mungkin
merupakan alas an pertama bagi pasien untuk mendapatkan pertolongan medis.
Gagal hati fulminant sering disertai dengan kelainan pembekuan darah, gagal
ginjal serta gangguan elektrolit, infeksi, hipoglikemia, ensefalopati dann edema
serebri.

Penatalaksanaan bentuk-bentuk terapi gagal hati fulminant mencakup pertukaran


darah atau plasma, hemopervusi dengan karbon dan kortikosteroid. Meskipun
bentuk-bentuk terapi diatas sudah dilakukan, tetapi angka mortalitasnya tetap
tinggi. Sebagai konsekuensinya, transplantasi hati merupakan terapi pilihan bagi
penderita gagal hati fulminant.
Penanganan & Pengobatan

Bentuk-bentuk terapi gagal hati fulminan mencakup pertukaran darah atau


plasma, hemoperfusi dengan karbon dan kortikosteroid. Meskipun bentuk-bentuk
terapi tersebut sudah dilakukan, tapi angka mortalitas tetap tinggi. Maka yang
dapat kita lakukan adalah dengan memperbaiki metabolise dan dukungan gizi
serta transplantasi.

 Metabolisme dan Dukungan Gizi


Tujuan pengobatan adalah untuk mencapai keseluruhan
stabilitas hemodinamic dan metabolic, dengan reasonable. Terapi
akan sangat meningkatkan kondisi untuk regenerasi dan
meminimalkan risiko komplikasi. Pada pasien dengan gagal hati
akut, dukungan diberikan sebagai peringatan tertentu agar tidak
terjadi peningkatan resiko hipoglikemia. Kondisi hipoglikemia ini
dapat dicegah dengan infus glukosa intravena.
 Transplantasi
Meskipun transplantasi adalah pilihan pengobatan untuk
beberapa penyebab spesifik dari gagal hati akut, pengobatan
tersebut tidak tersedia secara universal. Pasien yang berisiko
hipertensi intrakranial, intraoperatif dan pasca manajemen operasi
merupakan tantangan,dan tingkat kelangsungan hidup secara
konsisten lebih rendah daripada yang diasosiasikan dengan
transplantasi hati elektif. Namun, hasil telah meningkat dari waktu
ke waktu, dengan registry Data pelaporan tingkat saat hidup setelah
transplantasi dari 79% pada 1 tahun dan 72% pada 5 tahun.
Sebagian besar kematian setelah transplantasi untuk gagal
hati akut terjadi dari infeksi selama 3 bulan pertama pasca operasi.
Risiko kematian lebih tinggi di antara penerima yang lebih tua dan
antara mereka yang menerima cangkok tua atau parsial atau
cangkok dari donor tanpa ABO identik golongan darah. (Bernal &
Wendon, 2013)
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Istilah “Failure” atau biasa di sebut dengan kegagalan adalah


ketidakmampuan organ untuk mempertahankan homeostasis. Gagal hati
adalah sindrom klinis yang ditandai dengan ikterus, asites, ensefalopati
hepatik, dan perdarahan yang kecenderungan karena gangguan fungsi hati;
sindrom dapat disebabkan oleh kondisi seperti hepatitis virus, hepatitis
autoimun, cedera hati akibat obat, metabolisme penyakit, dan gangguan
peredaran darah. (Sugawara, Nakayama , & Mochida, 2012)

B. Saran

Alhamdulillah, makalah dari kelompok 1 telah kami selesaikan


dengan baik, namun kami sadar bahwa isi dari makalah ini masih sangat
jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, kami dari kelompok meminta
kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah kami
selanjutnya. Kami harap siapapun yang membaca makalah ini, semoga
dapat mengambil manfaat dari pembahasan makalah ini. Terima kasih.
STUDI KASUS

Seorang laki-laki usia 48 tahun dirawat di ruang perawatan interna dengan


keluhan nyeri perut disertai bengkak. Hasil pemeriksaan fisik, shifting dullness
(+), nyeri skala 4, hepatomegali 2 jari di bawah costa, jaundice (+). Udem
ekstremitas derajat 2, konjungtiva pucat, pasien tampak lemah. TD 150/90 mmHg,
nadi 100 kali/menit, pernapasan 22 kali/menit, suhu 37oC.

Tugas Kelompok

1. Buatlh pathway/web of caution (WOC) berdasarkan kasus !


2. Buat asuhan keperawatan berdasarkan kasus !
3. Pemeriksaan penunjang yamg dibutuhkan berdasarkn kasus !
DAFTAR PUSTAKA

Bernal, W., & Wendon, J. (2013). Acute Liver Failure. The New England Journal of
Medicine, 2525-2531.

Brunner, & Suddarth. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC.

Digilib.unila.ac.id/2365/8/BAB%20II.pdf

Marya. (2013). Buku Ajar Patofisiologi Mekanisme Terjadinya Penyakit. Tangerang


Selatan: Binarupa Aksara.

Sherwood, L. (2009). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.

Sugawara, K., Nakayama , N., & Mochida, S. (2012). J Gastroenterol. Acute liver failure
in Japan: definition, classification,, 849.