Anda di halaman 1dari 15

1

I. PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Era globalisasi yang diiringi dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, memberikan banyak manfaat dan kemudahan bagi
manusia dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari, seperti kemudahan
dalam berkomunikasi, bepergian, mendeteksi penyakit dan dalam melakukan
pekerjaan lainnya. Namun, dibalik semua dampak positif tersebut, terdapat
permasalahan yang semakin kompleks, seperti pemanasan global dan
degradasi moral. Hal ini mengidentifikasikan bahwa tantangan yang dihadapi
generasi yang akan datang pun akan semakin berat. Salah satu keterampilan
yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa yang datang adalah
keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) atau sering pula
disebut keterampilan berpikir kritis (critical thinking) ataupun keterampilan
berpikir kreatif (creative thinking). Keterampilan berpikir kritis bukan
merupakan suatu keterampilan yang dapat berkembang dengan sendirinya
seiring dengan perkembangan fisik manusia. Keterampilan ini harus dilatih
melalui pemberian stimulus yang menuntut seseorang untuk berpikir kritis.
Sekolah sebagai suatu institusi penyelenggara pendidikan memiliki tanggung
jawab untuk membantu siswanya mengembangkan keterampilan berpikir
kritis dan kreatif.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:
1. Apakah yang dimaksud dengan keterampilan berpikir kritis dan kreatif?
2. Apa saja aspek keterampilan berpikir kritis dan kreatif?
2

3. Bagaimana penilaian keterampilan berpikir kritis dan kreatif secara


nasional dan global?
4. Bagaimana isu-isu pembelajaran IPA terkait keterampilan keterampilan
berpikir kritis dan kreatif?
5. Bagaimana cara meningkatkan keterampilan keterampilan berpikir kritis
dan kreatif?

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Menjelaskan pengertian keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
2. Menjelaskan aspek keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
3. Menjelaskan penilaian keterampilan berpikir kritis dan kreatif secara
nasional dan global.
4. Mengkaji isu-isu pembelajaran IPA terkait keterampilan berpikir kritis dan
kreatif.
5. Menjelaskan cara meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
3

II. KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif

A. Keterampilan Berpikir Kritis

Proses belajar diperlukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi


yang dipelajari. Dalam proses belajar terdapat pengaruh perkembangan mental
yang digunakan dalam berpikir atau perkembangan kognitif dan konsep yang
digunakan dalam belajar. Beberapa pengertian mengenai berpikir kritis
diantaranya:
1. Menurut Beyer (Muhfahroyin, 2009) berpikir kritis adalah sebuah cara
berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas
sesuatu (pernyataan-penyataan, ide-ide, argumen, dan penelitian).
2. Menurut Screven dan Paul serta Angelo (Muhfahroyin, 2009) memandang
berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari konseptualisasi,
penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi aktif dan berketerampilan yang
dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi, pengalaman, refleksi,
penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah penuntun menuju kepercayaan
dan aksi.
3. Rudinow dan Barry (Muhfahroyin, 2009) berpendapat bahwa berpikir
kritis adalah sebuah proses yang menekankan sebuah basis kepercayaan-
kepercayaan yang logis dan rasional, dan memberikan serangkaian standar
dan prosedur untuk menganalisis, menguji dan mengevaluasi.

Keterampilan berpikir kritis tergantung pada perilaku berkarakter yang


dimiliki siswa. Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian yang
terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini
dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan
bertindak. Selain itu, keterampilan berpikir kritis tergantung juga pada faktor
4

nature dan nurture. Faktor nature berdasarkan daya nalar, logika dan analisis,
sedangkan faktor nurture adalah berasal dari lingkungan yang memfasilitasi
pengembangan dan pengungkapan pikiran termasuk kemampuan
mempertahankan dan menerima argumen yang berbeda. Kalau kedua poin ini
terpenuhi akan memberikan hasil yang luar biasa. Berpikir kritis merupakan
kemampuan dan kebiasaan yang sangat perlu dilatih sedini dan sesering
mungkin.

Elder (2007) mengungkapkan 5 (lima) ciri seseorang yang memiliki


keterampilan berpikir kritis yaitu:
a. dapat memunculkan pertanyaan dan masalah yang penting dan
merumuskannya dengan jelas dan tepat;
b. dapat mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan serta
menggunakan ide-ide abstrak untuk menafsirkannya secara efektif;
c. dapat menyimpulkan dan memberikan solusi yang baik, dan
mengujinya berdasarkan kriteria dan standar yang relevan;
d. memilki keterbukaan pemikiran terhadap pemikiran, pengakuan dan
nilai lain;
e. dapat berkomunikasi secara efektif dengan orang lain untuk
memecahkan masalah yang kompleks.

B. Keterampilan Berpikir Kreatif

Marzano (1998) mengatakan bahwa untuk menjadi kreatif seseorang harus:


(1) bekerja di ujung kompetensi bukan ditengahnya, (2) tinjau ulang ide, (3)
melakukan sesuatu karena dorongan internela dan bukan karena dorongan
eksternal, (4) pola pikir divergen/ menyebar, (5) pola pikir lateral/imajinatif.

Sedangkan Rahmat (2005) menyatakan bahwa indikator orang berpikir kreatif


itu meliputi:
1) Ingin tahu,
2) mencari masalah,
3) menikmati tantangan,
5

4) optimis,
5) mampu membedakan penilaian,
6) nyaman dengan imajinasi,
7) melihat masalah sebagai peluang,
8) melihat masalah sebagai hal yang menarik,
9) masalah dapat diterima secara emosional,
10) menantang anggapan/ praduga, dan
11) tidak mudah menyerah, berusaha keras.

Kreativitas sebagai proses merefleksikan kemahiran dalam berfikir yang


meliputi: kemahiran (fluency), fleksibilitas (flexibility), originalitas
(originality), dan elaborasi (ellaboration) (Sumarmo et.al., 2012).

2.2 Aspek Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif

A. Aspek Keterampilan Berpikir Kritis

Menurut Luthvitasari, Made, dan Linuwih (2012) :


- mencari penjelasan berdasarkan teori dan pertanyaan
- memberi alasan
- mencoba tetap relevan dengan ide utama
- menjaga ide dasar dan orisinil dalam pikiran
- mengambil keputusan ketika bukti-bukti dan alasan memungkinkan untuk
melakukannya

B. Aspek Keterampilan Berpikir Kreatif

Menurut Luthvitasari, Made, dan Linuwih (2012) : fluency, flexibility,


originality, dan elaboration. Lalu menerangkan Flexibility merupakan
keterampilan berpikir luwes artinya menghasilkan gagasan, jawaban,
pertanyaan yang bervariasi, mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-
beda. Berbagai alternatif jawaban yang terlahir dari aspek berpikir flexibility,
6

kemudian dianalisis berdasarkan pemikiran kritis untuk diambil sebuah


keputusan ketika bukti dan alasan memungkinkan untuk melakukannya.

Kemudian Sumarmo et.al. (2012) menjabarkan sebagai berikut :


1. Kemahiran/kelancaran: mencetuskan banyak ide, jawaban, cara atau saran
penyelesaian masalah atau pertanyaan;
2. Kelenturan: menghasilkan gagasan, alternatif jawaban, atau pertanyaan
yang bervariasi; melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-
beda; mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
3. Keaslian: melahirkan ungkapan yang baru dan unik; menyusun cara yang
tidak lazim; membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-
bagiannya
4. Elaborasi: mengembangkan suatu gagasan atau produk; memperinci detil-
detil dari suatu obyek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih
menarik.
7

III. PEMBAHASAN

3.1 Penilaian Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif Secara Global


Menurut Rahman (2012) kemampuan berpikir kritis dan kreatif dapat
dilihat dari kelancaran siswa dalam menyelesaikan masalah dengan tepat,
melalui cara yang tidak baku atau luwes. Selain itu, siswa yang memiliki
kemampuan berpikir kreatif akan memerinci dan memperluas jawaban
dengan menggunakan bahasa, cara, atau idenya sendiri. Menurut
Wardhani dan Rumiati (2011), soal-soal pada TIMSS dan PISA
substansinya kontekstual, menuntut penalaran, argumentasi, dan
kreativitas dalam menyelesaikanya. Soal matematika dalam TIMSS
mengukur tingkatan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah yang
sederhana sampai masalah yang membutuhkan penalaran tingkat tinggi,
sedangkan soal-soal matematika dalam PISA mengukur kemampuan
menalar, berargumentasi dan menggunakan matematika untuk
memecahkan masalah sehari-hari. Indonesia Pada tahun 2015, menduduki
peringkat 62 dari 70 negara yang mengikuti PISA dengan skor rata-rata
403, sehingga menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis dan kreatif
siswa Indonesia sangat rendah.

3.2 Penilaian Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif Secara Nasional


Pendidikan nasional dapat dilihat dari Ujian Nasional (UN), dimana UN
mengukur kompetensi siswa. UN merupakan salah satu usaha Pemerintah
dalam menyetarakan mutu pendidikan di Indonesia. UN diselenggarakan
untuk mengukur dan menilai ketercapaian standar nasional pendidikan
terkait dengan pencapaian standar kompetensi lulusan siswa secara
nasional. Pada Pasal 1 Ayat 4 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 19 Tahun 2005 dijelaskan bahwa “standar kompetensi lulusan adalah
8

kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan


keterampilan. Tetapi Ramadhan dan Wasis (2013) yang menyatakan
bahwa jenjang kognitif UN yang diukur masih rendah pada level tinggi
seperti menganalisis dan mengevaluasi. Padahal sebenarnya aspek
kognitif yang diukur pada soal UN mengacu pada tujuan pendidikan yaitu
sejalan dengan ranah kognitif Taksonomi Bloom. Aspek tersebut
berhubungan dengan kemampuan intelektual dan kemampuan berpikir.
Sehingga perlunya peningkatan kualitas penilain skala nasional untuk
melatih keterampilan berpikir siswa.

3.3 Isu-Isu Pembelajaran IPA Terkait Keterampilan Berpikir Kritis dan


Kreatif
Adapun masalah-masalah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir
kritis dan kreatif adalah:
1. Guru cenderung kurang kreatif dalam mengembangkan metode dan
strategi dalam proses pembelajaran, sehingga siswa menjadi pasif.

2. Pembelajaran IPA cenderung menekankan aspek pemahaman


berdasarkan ingatan dan sangat jarang membangun kemampuan
keterampilan berpikir krits dan kreatif siswa.

3. Proses pembelajaran selama ini masih terlalu berorientasi terhadap


penguasaan teori dan hafalan dalam semua bidang studi yang
menyebabkan kemampuan belajar peserta didik menjadi terhambat.
Metode pembelajaran yang terlalu berorientasi kepada guru (teacher
centered), sehingga tidak menuntut keterampilan berpikir siswa.

3.4 Cara Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif


Dalam hubungannya dengan pengembangan keterampilan berpikir kritis,
Elder (2007) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan kemampuan
berpikir dalam rangka pemecahan masalah dapat dilakukan melalui
9

langkah-langkah berikut: a) mengidentifikasi masalah, informasi yang


sesuai, dan ketidakmenentuan; b) mengeksplorasi penafsiran; c)
menentukan prioritas alternatif dan mengkomunikasikan kesimpulan; dan
d) mengintegrasikan, memonitor, dan memperhalus strategi untuk
mengatasi kembali masalah.

Rahmat (2005) menyatakan bahwa untuk dapat berpikir kreatif seseorang


perlu memiliki metode berpikir kreatif. Berbagai metode yang dapat
dilakukan antara lain: (1) evolusi, yakni gagasan-gagasan baru berakar
dari gagasan lain, solusi-solusi baru berasal dari solusi sebelumnya, hal-
hal baru diperbaiki/ditingkatkan dari hal-hal lama, setiap permasalahan
yang pernah terpecahkan dapat dipecahkan kembali dengan cara yang
lebih baik , (2) sintesis, yakni adanya dua atau lebih gagasan-gagasan
yang ada dipadukan ke dalam gagasan yang baru, (3) revolusi, yakni
gagasan baru yang terbaik merupakan hal yang benar-benar baru, sebuah
perubahan dari hal yang pernah ada, (4) penerapan ulang, yakni melihat
lebih jauh terhadap penerapan gagasan, solusi, atau sesuatu yang telah
dirumuskan sebelumnya, sehingga dapat dilihat penerapan lain yang
mungkin dapat dilakukan, dan (5) mengubah arah, yakni perhatian
terhadap suatu masalah dialihkan dari satu sudut pandang tertentu ke
sudut pandang yang lain. Hal ini dimaksudkan untuk memecahkan suatu
masalah, bukan untuk menerapkan sebuah pemecahan masalah
10

IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah :
1. Keterampilan berpikir kritis adalah sebuah cara berpikir disiplin yang
digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas sesuatu
(pernyataan-penyataan, ide-ide, argumen, dan penelitian). Sedangkan
keterampilan berpikir kreatif yaitu kreativitas sebagai proses
merefleksikan kemahiran dalam berfikir yang meliputi: kemahiran
(fluency), fleksibilitas (flexibility), originalitas (originality), dan
elaborasi (ellaboration).
2. Guru cenderung kurang kreatif dalam mengembangkan metode dan
strategi dalam proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran IPA
cenderung menekankan aspek pemahaman berdasarkan ingatan dan
sangat jarang membangun kemampuan keterampilan berpikir krits dan
kreatif siswa.
3. Perlunya peningkatan sistem penilaian skala nasional yang mengukur
keterampilan berpikir kritis dan kreatif, sehingga menuntut siswa
untuk lebih aktif dalam proses pembelajajaran.

4.2 Saran
Guru hendaknya mampu menemukan cara untuk mendorong dan
mengembangkan potensi siswa. Tanpa usaha ini sulit untuk tercipta siswa
yang memiliki kemampuan pemahaman yang baik. Proses pembelajaran
diharapkan untuk melatih berpikir siswa dalam mengambil keputusan,
bukan berpikir dengan hanya mendengarkan dan tanpa suatu tindakan.
11

DAFTAR PUSTAKA

Elder, L. 2007. Our Concept of Critical Thinking. Foundation for Critical


Thinking. Diakses melalui http://www.criticalthinking.org pada 10 April 2018

Luthvitasari, N., Made N. D.P., dan Linuwih, S. 2012. Implementasi


Pembelajaran Fisika Berbasis Proyek Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis,
Berpikir Kreatif Dan Kemahiran Generik Sains. Journal of Innovative
Science Education. 1 (2) : 92-97.

Marzano. 1998. Dimensions of Thinking: A Framework for Curriculum and


Instruction. Alexandria, Va: ASCD

Muhfahroyin. 2009. Memberdayakan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa melalui


Pembelajaran Konstruktivistik. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. 16 (1):
90-99.

Rahmat, J. 2005. Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak. Bandung: Mizan


Leraning Center.

Qoni’ah, L. 2017. Analisis Soal Ujian Nasional Matematika Tingkat Smp/Mts


Tahun 2013-2015 Berdasarkan Perspektif Higher Order Thinking Skill (Hots).
Jurnal Pendidikan Matematika. 3 (12) : 70-79.

Ramadhan, Danny dan Wasis. 2013. Analisis Perbandingan Level Kognitif dan
Keterampilan Proses Sains Dalam Standar Isi (SI), Soal Ujian Nasional (UN),
Soal Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), Dan
Soal Programme for International Student Assessment (PISA). Jurnal Inovasi
Pendidikan Fisika. 2 (1) : 20-25.
12

Sumarmo, U., Hidayat, W., Zukarnaen, R., Hamidah., dan Sariningsih, R. 2012.
Kemampuan Dan Disposisi Berpikir Logis, Kritis, Dan Kreatif Matematik.
Jurnal Pengajaran MIPA. 17 (1): 17-33.
13

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun ucapkan ke hadirat Allah Subhanahuwata’ala yang


telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah ‘Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif’ dengan baik.
Penyusun menyusun makalah ini dalam rangka untuk memenuhi tugas mata
kuliah Hakikat dan Inovasi Pembelajaran IPA. Dalam penyusunan makalah ini,
penyusun mengalami beberapa kendala, tetapi berkat rahmat Allah
Subhanahuwata’ala dan kerja sama kelompok, penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini.

Dalam hal ini penyusun menyadari bahwa makalah ini masih terdapat
kekurangan. Untuk itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini
dapat memberikan manfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi
pembaca.

Bandar lampung, 13 April 2018


14

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................... ii

DAFTAR ISI......................................................................................................... iii

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah...................................................................................... 1
1.3 Tujuan........................................................................................................ 2

II. KAJIAN TEORI


2.1
2.2

III. PEMBASAHAN
3.1
3.2
3.3
3.4

IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
15

KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF


(Tugas Mata Kuliah Hakikat dan Inovasi Pembelajaran IPA)

Disusun Oleh :
Angga Prayoga 1723025015
Nurul Syahru Ramadhania 1723025018

PROGRAM STUDI MAGISTER KEGURUAN IPA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2018