Anda di halaman 1dari 45

BAB III

SISTEM KELISTRIKAN

3.1. Fasilitas Gardu Induk

Fasilitas gardu induk ini merupakan fasilitas yang sangat penting sebagai sarana

pendukung yang diperlukan suatu gardu induk, terdiri dari :

1. Ruang Kantor

2. Ruangan kontrol

3. Ruangan baterai, dan

4. Bangunan-bangunan penunjang lainya

3.2. Klasifikasi Gardu Induk

Klasifikasi gardu induk listrik dapat dibedakan menurut dua hal :

1. Menurut lokasi dan fungsi peralatanya.

Menurut lokasinya didalam sistem tenaga listrik, fungsi dan teganganya

(tinggi, menengah, atau rendah) maka gardu induk listrik dapat di bagi :

a. Gardu Induk

Adalah gardu induk listrik yang dapat dari saluran transmisi atau sub

transmisi suatu sistem tenaga listrik untuk kemudian menyalurkan ke

daerah beban (industri, kota dan lain sebagainya) melalui saluran distribusi

primer.

27
28

b. Gardu Distribusi

Adalah gardu induk yang mendapat daya dari saluran distribusi primer

yang menyalurkan tenaga listrik ke pemakaian tegangan rendah.

2. Menurut peralatan-peralatanya

Menurut penempatan peralatanya, gardu induk dapat dibagi :

a. Gardu induk pasangan dalam dimana gardu induk pasangan dalam semua

peralatanya (switch-gear, isolator dan lain sebagainya) dipasang didalam

gedung/ruang tertutup.

b. Gardu induk pasangan luar dimana gardu induk pasangan luar semua

peralatannya (switch-gear, isolator dan lain sebagainya) ditempatkan

diudara terbuka.

3.3. Peralatan Gardu Induk

Prasarana dari suatu Gardu Induk yang ada dilingkungan instalasi PT. PLN

(persero) Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) P3B Sumatera Unit Pelayanan

Transmisi (UPT) Palembang Gardu Induk Seduduk Putih Tragi Boom Baru pada

dasarnya sama diseluruh Indonesia, hanya kapasitas transformator yang berbeda, hal

ini dikarenakan faktor kebutuhan untuk pelayanan beban dari suatu wilayah.

Instalasi ketenagalistrikan di PT. PLN (persero) Penyaluran dan Pusat Pengatur

Beban (P3B) sumatera Unit Pelayanan Transmisi (UPT) Palembang Gardu Seduduk

Putih Tragi Boom Baru terdiri dari :


29

1. Transformator Tenaga

2. Peralatan Tegangan Tinggi (sisi primer) antara lain :

a. Lighting aresster

b. Spark rod

c. Pemutus tenaga (PMT)

d. Sakelar pemissah (PMS)

e. Transformator arus (CT)

f. Transformator tegangan (PT)

3. Peralatan Tegangan Menengah (sisi sekunder)

Peralatan tegangan menengah (sisi sekunder) yaitu peralatan yang digunakan

untuk tegangan menengah (sisi sekunder) yang mempunyai ragam yang sama dengan

peralatan untuk tegangan tinggi (sisi primer).

4. Peralatan Kontrol

Peralatan ini digunakan untuk mengontrol pelayanan gardu induk dari suatu

tempat di dalam gedung kontrol, peralatan ini terdiri dari :

a. Panel kontrol

b. Panel relay

c. Meter-meter pengukuran

d. Peralatan telekomunikasi seperti : telepon, PLC, dan radio pemancar

e. Baterai dan rechtifier


30

5. Peralatan lain

Selain dari peralatan yang ada diatas masih ada peralatan-peralatan yang ada

disuatu gardu induk seperti :

a. Peterson coil

b. Reaktor

c. Statik kapasitor

d. Resistor

yang berfungsi untuk memperbaiki sistem penyaluran tenaga listrik di gardu induk.

3.4. Transformator Tenaga

Transformator adalah suatu alat elektro statis yang bekerja secara magnetis yang

mengubah bentuk energi arus bolak-balik dari satu jaringan ke jaringan yang lain, dan

berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah

atau sebaliknya untuk melayani beban.

Transformator menggunakan prinsip hukum faraday dan hukum lorenzt dalam

menyalurkan daya, dimana arus bolak-balik yang mengalir mengelilingi suatu inti

besi itu akan berubah menjadi magnet. Dan apabila magnet tersebut dikelilingi oleh

suatu belitan maka pada kedua ujung belitan tersebut akan terjadi beda potensial.
31

Gambar 3.1. Hukum Lorenz

Secara teknis transformator terdiri dari :

1. Inti besi

2. Kumparan primer.

3. Kumparan skunder.

Gambar 3.2. Transformator 30 MVA yang ada di GI Bukit Siguntang


32

Gambar 3.3. Transformator 20 MVA yang ada di GI Seduduk Putih

Gambar 3.4. Name Plate Transformator 30 MVA


33

Gambar 3.5. Name Plate Transformator 20 MVA

3.4.1. Inti besi (electromagnetic circuit)

Inti besi ini berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi ditimbulkan oleh arus

listrik yang mengalir dari melalui kumparan. Besi ini terbuat dari lempengan besi

tipis yang berisolasi, yang berfungsi untuk mengurangi panas yang timbul (sebagai

rugi-rugi). Inti besi digunakan sebagai media jalanya fluks yang timbul akibat induksi

arus bolak-balik pada kumparan yang mengelilingi inti besi sehingga dapat

menginduksi kembali ke kumparan yang lain. Dibentuk dari lempengan-lempengan

besi tipis berisolasi yang disusun sedemikian rupa.


34

Gambar 3.6. Inti Besi

3.4.2. Kumparan Transformator

Beberapa lilitan kawat berisolasi akan membentuk suatu kumparan. Kumparan

tersebut diisolasi dengan baik terhadap inti besi maupun terhadap kumparan lain

dengan padat yang terbuat dari prespan, pertinax, dan lain-lain.

Umumnya pada Transformator terdapat kumparan primer dan sekunder. Bila

kumparan primer dihubungkan dengan tegangan/arus bolak-balik maka pada

kumparan tersebut akan menimbulkan fluksi. Fluksi inilah yang kemudian akan

menginduksikan tegangan tersebut, dan bila pada rangkaian sekunder tertutup akan

menghasilkan pada kumparan tersebut. Jadi kumparan ini berfungsi sebagai alat

transformasi tegangan dan arus.


35

Gambar 3.7. Gambaran fisik belitan padaTransformator Tenaga

Gambar 3.8. Kumparan Transformator

Belitan terdiri dari batang tembaga berisolasi yang mengelilingi inti besi,

dimana saat arus bolak-balik mengalir pada belitan tembaga tersebut, inti besi akan

terinduksi dan menimbulkan fluks magnetik.


36

Arus yang mengalir pada belitan primer akan menginduksi inti besi

transformator sehingga didalam inti besi akan mengalir flux magnet, dan flux magnet

ini akan menginduksi belitan sekunder sehingga pada ujung belitan sekunder akan

terdapat beda potensial.

Gardu Induk Seduduk Putih adalah suatu instalasi, terdiri dari peralatan listrik

yang berfungsi untuk :

1. Transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi

untuk mengkonversikan tenaga/daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan

rendah atau sebaliknya.

2. Pengukuran, pengawasan operasi serta pengaturan pengaman dari sistem

tenaga listrik.

3. Pengaturan daya ke gardu-gardu induk lain melalui tegangan tinggi dan

gardu-gardu distribusi melalui feeder tegangan menengah.

3.4.3. Minyak Transformator

Minyak isolasi pada transformator berfungsi sebagai media isolasi, pendingin

dan pelindung belitan dari oksidasi. Minyak isolasi transformator merupakan minyak

mineral yang secara umum terbagi menjadi tiga jenis, yaitu parafinik, napthanik dan

aromatik. Antara ketiga jenis minyak dasar tersebut tidak boleh dilakukan

pencampuran karena memiliki sifat fisik maupun kimia yang berbeda.

Sebagian besar kumparan-kumparan dan inti pada transformator tenaga

direndam didalam minyak transformator, terutama pada transformator berkapasitas

besar, karena minyak transformator mempunyai sifat sebagai media pemisah panas
37

(disirkulasi) dan minyak transformator juga bersifat sebagai isolasi sehingga minyak

transformator tersebut berfungsi sebagai media pendingin dan isolasi.

3.4.4. Bushing

Bushing merupakan sarana penghubung antara belitan dengan jaringan luar.

Bushing terdiri dari sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator. Isolator

tersebut berfungsi sebagai penyekat antara konduktor bushing dengan body main tank

transformator.

Gambar 3.9. Bushing pada Transformator


38

3.4.5. Tangki dan Konservator

Tangki merupakan tempat untuk menampung minyak transformator dan

bagian-bagian dari transformator yang terendam. Tangki juga dilengkapi dengan

konservator yang berfungsi untuk menampung pemuaian minyak transformator. Saat

kenaikan suhu emosi pada transformator, minyak isolasi akan memuai sehingga

volumenya bertambah. Sebaiknya saat terjadi penurunan suhu operasi, maka minyak

akan menyusut dan volumenya menurun. Konservator digunakan untuk menampung

minyak pada saat transformator mengalami kenaikan suhu.

Seiring dengan naiknya volume minyak di konservator akibat pemuaian dan

penyusutan minyak, volume udara didalam konservator pun akan bertambah dan

berkurang. Penambahan atau pembuangan udara didalam konservator akan

berhubungan dengan udara luar. Agar minyak isolasi transformator tidak

terkontaminasi oleh kelembaban dan oksigen dari luar, maka udara yang akan masuk

kedalam konservator akan difilter melalui silicagel.

Gambar 3.10. Tangki dan Konservator pada Transformator, serta bagannya


39

3.4.6. Pendingin

Tabel 3.1. Macam-macam Sistem Pendingin

Media
Macam Sistem Dalam Transformator Diluar transformator
No.
pendingin *) Sirkulasi Sirkulasi Sirkulasi Sirkulasi
Alamiah Paksa Alamiah Paksa
1. AN - - Udara -
2. AF - - - Udara
3. ONAN Minyak - Udara -
4. ONAF Minyak - - Udara
5. OFAN - Minyak Udara -
6. OFAF - Minyak - Udara
7. OFWF - Minyak - Air
8. ONAN/ONAF Kombinasi 3 dan 4
9. ONAN/OFAN Kombinasi 3 dan 5
10. ONAN/OFAF Kombinasi 3 dan 6
11. ONAN/OFWF Kombinasi 3 dan 7

keterangan: A = air (udara), O = Oil (minyak), N = Natural (alamiah), F = Forced

(Paksaan / tekanan)

*) Menurut IEC tahun 1976

Suhu pada transformator yang sedang beroperasi akan dipengaruhi oleh

kualitas tegangan jaringan, losses pada transformator itu sendiri dan suhu lingkungan.

Suhu operasi yang tinggi akan mengakibatkan rusaknya isolasi kertas pada

transformator. Oleh karena itu pendinginan yang efektif sangat diperlukan.

Minyak isolasi transformator selain merupakan media isolasi juga berfungsi

sebagai pendingin. Pada saat minyak bersirkulasi, panas yang berasal dari belitan

akan dibawa oleh minyak sesuai jalur sirkulasinya dan akan didinginkan pada sirip -
40

sirip radiator. Adapun proses pendinginan ini dapat dibantu oleh adanya kipas dan

pompa sirkulasi guna meningkatkan efisiensi pendinginan.

3.4.7. Tap Changer

Kestabilan tegangan dalam suatu jaringan merupakan salah satu hal yang dinilai

sebagai kualitas tegangan. Transformator dituntut memiliki nilai tegangan output

yang stabil sedangkan besarnya tegangan input tidak selalu sama. Dengan mengubah

banyaknya belitan pada sisi primer diharapkan dapat merubah ratio antara belitan

primer dan sekunder dan dengan demikian tegangan output/sekunder pun dapat

disesuaikan dengan kebutuhan sistem berapapun tegangan input/primernya.

Penyesuaian ratio belitan ini disebut Tap changer.

Proses perubahan ratio belitan ini dapat dilakukan pada saat transformator

sedang berbeban (On load tap changer) atau saat transformator tidak berbeban (Off

load tap changer).

Tap changer terdiri dari :

1. Selector Switch

2. Diverter Switch

3. Tahanan transisi

Dikarenakan aktifitas tap changer lebih dinamis dibanding dengan belitan

utama dan inti besi, maka kompartemen antara belitan utama dengan tap changer

dipisah. Selector switch merupakan rangkaian mekanis yang terdiri dari terminal

terminal untuk menentukan posisi tap atau ratio belitan primer. Diverter switch

merupakan rangkaian mekanis yang dirancang untuk melakukan kontak atau


41

melepaskan kontak dengan kecepatan yang tinggi. Tahanan transisi merupakan

tahanan sementara yang akan dilewati arus primer pada saat perubahan tap.

Gambar 3.11. OLTC pada Transformator

Keterangan :

1. Kompartemen Diverter Switch

2. Selector Switch

Media pendingin atau pemadam proses switching pada diverter switch yang

dikenal sampai saat ini terdiri dari dua jenis, yaitu media minyak dan media vaccum.

Jenis pemadaman dengan media minyak akan menghasilkan energi arcing yang

membuat minyak terurai menjadi gas C2H2 dan karbon sehingga perlu dilakukan

penggantian minyak pada periode tertentu. Sedangkan dengan metoda pemadam

vaccum proses pemadaman arcing pada waktu switching akan dilokalisir dan tidak

merusak minyak.
42

Gambar 3.12. kontak Switching pada Diverter Switch

a. ( Media pemadam arcing menggunakan minyak)

b. ( Media pemadam arcing menggunakan kondisi vaccum )

3.4.8. Pentanahan menggunakan NGR (Neutral Grounding Resistantance)

Salah satu metoda pentanahan adalah suatu pengamanan terhadap peralatan

kelistrikan terhadap sambaran petir yang mengakibatkan hubung singkat, dengan

menggunakan NGR. NGR adalah sebuah tahanan yang dipasang serial dengan neutral

sekunder pada transformator sebelum terhubung ke ground/tanah. Tujuan

dipasangnya NGR adalah untuk mengontrol besarnya arus gangguan yang mengalir

dari sisi netral ke tanah.

3.4.9. Indikator

Untuk mengawasi selama transformator beroperasi, maka perlu adanya

indikator pada transformator sebagai berikut :


43

1. Indikator minyak

2. Indikator permukaan minyak

3. Indikator sistem pendingin

Gambar 3.13. Alat Pengukur Suhu dan Indikator Permukaan Minyak

3.5. Peralatan Tegangan Tinggi (TT) dan Tegangan Menengah (TM)

Peralatan tegangan menengah (sisi sekunder) yaitu peralatan yang digunakan

untuk tegangan menengah (sisi sekunder) yang mempunyai ragam yang sama dengan

peralatan untuk tegangan tinggi (sisi primer).

3.5.1. Rel atau Busbar

Rel atau Busbar Berfungsi sebagai titik pertemuan/hubungan Transformator-

Transformator tenaga, SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi), dan peralatan listrik
44

lainya untuk menerima dan menyalurkan tenaga/daya listrik. Adapun sistem

busbar/rel yang sering dipasang di Gardu Induk, yaitu :

1. Busbar/rel tunggal (single busbar)

2. Busbar/rel ganda (double busbar)

3.5.2. Transformator Tegangan (PT)

Adalah peralatan yang mentransformasi tegangan sistem yang lebih tinggi ke

suatu tegangan sistem yang lebih rendah untuk peralatan indikator, alat ukur/meter

dan relay yang berfungsi untuk :

1. Mentransformasikan besaran tegangan sistem dari yang tinggi ke besaran

tegangan listrik yang lebih rendah sehingga dapat digunakan untuk peralatan

proteksi dan pengukuran yang lebih aman, akurat dan teliti.

2. Mengisolasi bagian primer yang tegangannya sangat tinggi dengan bagian

sekunder yang tegangannya rendah untuk digunakan sebagai sistem proteksi

dan pengukuran peralatan di bagian primer.

3. Sebagai standarisasi besaran tegangan sekunder (100, 100/√3 dan 110 volt)

untuk keperluan peralatan sisi sekunder.

4. Memiliki dua kelas, yaitu kelas proteksi (3P, 6P) dan kelas pengukuran (0,1;

0,2; 0,5 dan 1,3)

3.5.3. Transformator Arus (CT)

Berfungsi untuk menurunkan arus besaran pada tegangan tinggi menjadi arus

kecil pada tegangan rendah untuk keperluan pengukuran dan proteksi.


45

a. Menurut tipe kontruksi :

1. Tipe cincin (ring/window type)

2. Tipe cor-coran cast resin (mounded cast resin type)

3. Tipe tangki minyak (oil tangk type)

b. Menurut pasangannya :

1. Pasangan luar

2. Pasangan dalam

Gambar 3.14. Contoh komponen CT (CT tipe tangki)


46

Komponen Transformator arus tipe tangki

1. Bagian atas Transformator arus (transformator head).

2. Peredam perlawanan pemuaian minyak (oil resistant expansion bellows).

3. Terminal utama (primary terminal).

4. Penjepit (clamps).

5. Inti kumparan dengan belitan berisolasi utama (core and coil assembly with

primary winding and main insulation).

6. Inti dengan kumparan sekunder (core with secondary windings).

7. Tangki (tank).

8. Tempat terminal (terminal box).

9. Plat untuk pentanahan (earthing plate).

3.5.4. Pemisah (PMS)

Adalah suatu alat untuk memisahkan tegangan pada peralatan instalasi tegangan

tinggi. Sesuai dengan fungsinya pemisah dibagi menjadi :

1. Pemisah Peralatan, berfungsi untuk memisahkan peralatan listrik dari

peralatan lain atau instalasi lain yang bertegangan. Pemisah ini boleh

dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian yang tidak berbeban.

2. Pemisah Tanah (Pisau Pentanahan/Pembumian), berfungsi untuk

mengamankan dari arus tegangan yang timbul sesudah saluran tegangan

tinggi diputuskan atau induksi tegangan dari penghantar atau kabel lainnya.

Hal ini perlu untuk keamanan bagi orang-orang yang bekerja pada

peralatan instalasi.
47

Gambar 3.15. Pemisah (PMS)

3.5.5. Pemutus Tenaga (PMT)

Berdasarkan IEV (International Electrotechnical Vocabulary) disebutkan

bahwa Circuit Breaker (CB) atau Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan saklar

/switching mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan memutus arus beban

dalam kondisi normal serta mampu menutup, mengalirkan (dalam periode waktu

tertentu) dan memutus arus beban dalam spesifik kondisi abnormal/gangguan seperti

kondisi short circuit/hubung singkat.

Berfungsi untuk memutuskan hubungan tenaga listrik dalam keadaan gangguan

maupun dalam keadaan berbeban dan proses ini harus dilakukan secara cepat.

Jenis-jenis PMT sebagai berikut :

1. PMT dengan media minyak, jenis ini ada dua macam yaitu :
48

a. PMT dengan menggunakan banyak minyak (bulk oil)

b. PMT dengan menggunakan sedikit minyak (low oil content)

2. PMT dengan media udara, jenis ini ada dua macam yaitu :

a. PMT udara hembus (air blast)

b. PMT dengan hampa udara

3. PMT dengan menggunakan media gas

a. Media yang digunakan untuk memadamkan busur api adalah gas SF6

(sulfur hexafluride).

Jenis-jenis penggerak PMT yaitu :

a. PMT dengan penggerak pegas/per

Untuk menggerakkan kontak-kontak PMT dengan tenaga pegas/ per yang

digerakkan oleh motor listrik.

b. PMT dengan penggerak hidrolik

Adalah PMT yang digerakkan dengan hidrolis atau minyak yang dipompa

hingga tekanan tertentu.

c. PMT dengan penggerak pneumatic.

Adalah PMT yang digerakkan oleh udara tekanan tinggi.

Menurut penempatanya :

a. PMT single pull

1. Mekanik penggerak sendiri, biasa digerakkan sendiri

2. Dalam keadaan gangguan jika R gangguan dapat reclose tanpa adanya

pemadaman
49

3. Biasanya terletak di bay line

b. PMT three pull

1. Mekanik penggeraknya dijadikan satu.

2. Dapat membuat sistem menjadi singkron (serempak).

3. Terletak di bay transformator, kopel dan terdapat juga di line.

Gambar 3.16. Macam – macam PMT

3.5.6. Lighting aresster (LA)

Surge Arrester merupakan peralatan yang didesain untuk melindungi peralatan

lain dari tegangan surja (baik surja hubung maupun surja petir) dan pengaruh follow

current. Sebuah arrester harus mampu bertindak sebagai insulator, mengalirkan

beberapa miliampere arus bocor ke tanah pada tegangan sistem dan berubah menjadi

konduktor yang sangat baik, mengalirkan ribuan ampere arus surya ke tanah,

memiliki tegangan yang lebih rendah daripada tegangan withstand dari peralatan
50

ketika terjadi tegangan lebih, dan menghilangan arus susulan mengalir dari sistem

melalui arrester (power follow current) setelah surja petir atau surja hubung berhasil

didisipasikan. Lighting aresster (LA), berfungsi untuk mengamankan instalasi

(peralatan listrik pada instalasi) gangguan tegangan lebih yang diakibatkan oleh

petir.

Gambar 3.17. Komponen Lighting Aresster


51

3.6. Peralatan Kontrol

3.6.1. Panel Kontrol dan Panel Relay

Fungsi Panel Kontrol adalah sebagai tempat meletakkan tombol-tombol

pengoperasian PMT dan PMS, alat-alat ukur besaran listrik. Jenis-jenis panel kontrol

yang ada pada gardu induk terdiri dari :

a. Panel kontrol utama yang terdiri dari panel instrumen dan panel operasi

pada panel instrumen terpasang alat-alat ukur dan indikator gangguan. Pada

panel operasi terpasang sakelar operasi dari pemutus tenaga, pemisah, serta

lampu indikator posisi sakelar dan diagram rail.

b. Panel relay terdiri dari relay pengaman untuk SUTT (saluran Udara

Tegangan Tinggi), transformator dan sebagainya. Bekerjanya relay ini

diketahui dari penunjuk pada relay itu sendiri dan pada indikator gangguan

di panel kontrol utama.

3.6.2. Meter Transaksi

Secara garis besar bagan alur proses pengambilan data hasil pengukuran pada

sistem metering terdiri dari kWh meter (sebagai komponen utama), link komunikasi

dan Server utama. Sistem Metering sebenarnya dimulai dari CT/PT sisi sekunder,

pengawatan/wiring, kWh meter elektronik dan link komunikasi.

CT/PT yang digunakan adalah kelas pengukuran dengan akurasi 0,5 atau 0,2.

Penarikan kabel CT langsung ke terminal panel kWh meter, sedangkan penarikan


52

kabel PT melalui Box PT yang dilengkapi MCB ke panel kWh meter. Untuk

keperluan kWh meter Transaksi, maka rangkaian arus dari sekunder CT dan PT tidak

diijinkan digunakan untuk keperluan lain (sesuai Grid Code Jamali 2007 MC

2.4.10).

Jenis kWh meter yang digunakan pada saat ini terdiri dari berbagai macam

tipe, ada yang sudah mempunyai kemampuan TCP/IP ada juga yang hanya

mempunyai kemampuan serial. Sedangkan link komunikasi dari kWh Meter ke server

utama bisa menggunakan berbagai macam cara sesuai dengan kemampuan

komunikasi dari kWh Meter. Untuk server utama mempunyai kemampuan untuk

proses pengambilan data, pengumpulan data dan proses penampilan data transaksi

untuk keperluan billing, operasional dan lain-lain.

Gambar 3.18. Display kWh Meter


53

3.6.3. Baterai

Baterai Berfungsi sebagai sumber tenaga kontrol dan proteksi dalam Gardu

Induk. Peranannya sangat penting karena justru pada saat terjadi gangguan, baterai

inilah yang merupakan sumber tenaga untuk menggerakkan alat-alat kontrol dalam

proteksi.

Ada dua macam jenis baterai :

1. Baterai timah hitam (lead acid storage battery)

2. Baterai alkalin (alkaline storage battery)

Gambar 3.19. Baterai


54

3.6.4. Transformator Pemakaian Sendiri

Kapasitas dari transformator pemakaian sendiri ditentukan dengan

memperhatikan faktor diversitas (diversity), yaitu perbandingan antara jumlah

kebutuhan (demand) maksimum setiap bagian sistim dan kebutuhan maksimum

seluruh sistim. Dalam hal ini beban gardu dibagi menjadi beban kontinu dan beban

terputus-putus. Biasanya tenaga listrik diambilkan dari sisi sekunder atau tersier dari

transformator utama atau pada Gardu Induk yang tidak mempunyai transformator

untuk distribusi kadang kadang diambilkan dari sisi sekunder dari transformator

pentanahan netral (Earthing Transformer). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan

dalam susunan rangkaian pemakaian sendiri adalah sebagai berikut :

a. Bila tenaga untuk pemakaian sendiri diambil dari sisi tersier dari

transformator utama dalam GI yang hanya mempunyai satu transformator

utama, harus diusahakan agar dapat diterima tenaga dari jaring-jaring

distribusi dari sistim lain (sumber lain).

b. Transformator pemakaian sendiri harus terdiri dari 3 unit satu-fasa,

sehingga dalam keadaan gangguan pada sebuah transformator, kedua

transformator lainnya dapat bekerja terus dengan hubungan – V delta

terbuka.

c. Jika dipakai unit 3 – fasa untuk transformator pemakaian sendiri, harus

dipakai lebih dari 2 buah transformator dan kapasitasnya harus cukup

besar untuk dapat menyediakan tenaga dengan normal sekalipun ada

gangguan pada sebuah transformator.


55

d. Bila pengasut (starting transformer) untuk kondensator sinkron

dihubungkan pada sisi sekunder dari transformator utama, perlu diatur

agar transformator pengasut itu dapat dipakai sebagai cadangan untuk

transformator pemakaian sendiri.

T T T
P P P P
S S S
S
CB CB
CB
DS

LBS DS
TRAFO PS

TRAFO PS
CB
DS

PS. Dari tersier dengan PS. Dari tersier dengan


PS. Dari sekunder 2 trafo utama 1 trafo utama
trafo utama

Gambar 3.20. Contoh Rangkaian Transformator Pemakaian Sendiri

Jika tenaga untuk pemakaian sendiri diambil dari sisi tersier dari transformator

utama, maka sisi primer dari transformator pemakaian sendiri biasanya hanya

dilengkapi dengan pemisah, dan pemutus beban pada sisi tersier dari transformator

utama dapat dipakai untuk transformator pemakaian sendiri.

Jika tenaga untuk pemakaian sendiri diambil dari sisi sekunder dari

transformator utama, maka untuk ini perlu dipakai pemutus beban atau pengaman

lumer (power fuse). Untuk transformator pemakaian sendiri yang menurunkan


56

tegangan dari tegangan tinggi ke tegangan motor, dipakai pengaman lumer atau

pemutus tanpa pengaman lumer (no-fuse breaker) pada sisi primer dan sisi sekunder.

Dalam menentukan letak transformator pemakaian sendiri harus diperhatikan juga

kemungkinan perluasan yang akan datang.

3.6.5. Telekomunikasi

a. PLC (Power Line Carrier)

Power Line Carrier merupakan peralatan telekomunikasi yang memanfaatkan

propagasi perambatan gelombang frekuensi radio melalui konduktor transmisi SUTT

(Saluran Udara Tegengan Tinggi) dan SUTET (Saluran Udara tegangan Ekstra

Tinggi).

b. Fiber Optik

Serat Optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca

atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat

digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain.

Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah laser atau LED. Kabel berdiameter

lebih kurang dari 120 mikrometer. Cahaya yang ada di dalam serat optik tidak keluar

karena indeks bias dari kaca lebih besar daripada indeks bias dari udara, karena laser

mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan transmisi serat optik sangat

tinggi sehingga sangat baik digunakan sebagai saluran komunikasi, seperti pada

interkoneksi Gardu Induk.


57

c. Radio VHF (Very High Frequency)

Radio VHF merupakan radio multi point yang tersebar di Gardu-gardu Induk

dan Pembangkit-Pembangkit PLN yang bergerak pada frekuensi 30-300 MHz.

Komunikasi radio VHF ini bersifat half duplex. Dipergunakan untuk koordinasi

antara operator GI / Pembangkit dengan dispatcher control center.

d. Radio Microwave (Point to Point)

Radio microwave merupakan radio Point to Point bergerak pada frekuensi UHF

(Ultra High Frequency = 300-3000 Mhz) atau SHF (Super High Frequency= 3-30

GHz).

GI. A GI. B
WT WT
PMT L SUTT L PMT
A A

C C
CC
CC

PD LMU LMU
PD

PLC PLC

TELEPROTEKSI VOICE VOICE TELEPROTEKSI


(TELEPON) (TELEPON)

DATA DATA
(RTU) (RTU)

Gambar 3.21. Contoh bagan PLC


58

3.7. Peralatan Proteksi

Peralatan proteksi dari suatu instalasi tenaga listrik sangat diperlukan untuk

dapat mengoptimalkan operasional, mulai dari pusat pembangkit, gardu induk hingga

gardu tiang yang merupakan garis depan dalam memproteksi gangguan.

3.7.1. Relay Bucholz

Pada saat transformator mengalami gangguan internal yang berdampak kepada

suhu yang sangat tinggi dan pergerakan mekanis didalam transformator, maka akan

timbul tekanan aliran minyak yang besar dan pembentukan gelembung gas yang

mudah terbakar. Tekanan atau gelembung gas tersebut akan naik ke konservator

melalui pipa penghubung dan relay bucholz.

Tekanan minyak maupun gelembung gas ini akan dideteksi oleh relay bucholz

sebagai indikasi telah terjadinya gangguan internal.

Gambar 3.22. Relay Bucholz


59

3.7.2. Relay Tekanan Lebih

Alat ini berupa membran yang dibuat dari kaca, plastik, tembaga atau katup

berpegas yang berfungsi untuk mengamankan tangki Transformator terhadap

kenaikan gas yang timbul didalam tangki yang akan pecah pada tekanan tertentu yang

memiliki tekanan yang lebih rendah dari kekuatan tangki Transformator.

Gambar 3.23. Relay Tekanan Lebih

3.7.3. Relay Tekanan Rendah

Hampir sama fungsinya dengan relay bucholz, yaitu pengamanan terhadap

gangguan didalam Transformator, bedanya relay ini hanya bekerja oleh kenaikan

tekanan gas yang tiba-tiba dan langsung menjatuhkan PMT.


60

3.7.4. Relay Differensial

Relay Differensial berfungsi untuk mengamankan Transformator dari gangguan

didalam Transformator seperti flashover antara kumparan, tangki dan belitan dengan

didalam dengan belitan didalam kumparan.

Gambar 3.24. Relay Differensial

3.7.5. Relay Hubung Tanah

Relay Hubung Tanah berfungsi untuk mencegah/mengamankan Transformator

bila terjadi gangguan satu phasa ke tanah.

Gambar 3.25. Relay Hubung Tanah

3.7.6. Relay Arus Lebih

Relay Arus Lebih berfungsi untuk mengamankan Transformator dari arus yang

melebihi dari arus yang telah diperkenankan lewat dari Transformator tersebut dan

arus lebih ini dapat terjadi karena beban lebih atau gangguan hubung singkat.
61

3.7.7. Relay Thermis

Relay Termis berfungsi untuk mencegah/mengamankan Transformator dari

kerusakan isolasi kumparan. Akibat adanya panas lebih yang ditimbulkan oleh arus

lebih. Besaran yang diukur didalam relay ini adalah kenaikan temperatur.

Gambar 3.26. Bagian-bagian Relay Thermis

3.8. Jenis-Jenis Isolator

Isolator untuk saluran transmisi diklasifikasikan menurut penggunaan dan

konstruksinya menjadi Isolator Gantung (suspension), Jenis Pasak (pin-type), dan

Batang Panjang (long-rod).


62

3.8.1. Isolator Gantung (suspension)

Isolator gantung pada umumnya dipakai pada saluran transmisi tegangan tinggi.

Pada isolator gantung dikenal dua jenis, yakni clevis type dan socket type, yang

masing-masing terbuat dari porselin dengan tutup (cap) dari besi tempaan (malleable

iron) di satu pihak dan pasak baja di lain pihak, yang keduanya diikatkan pada

porselinnya dengan semen berkualitas baik. Ukuran yang dikenal adalah dengan

piringan bergaris tengah 250mm dengan gaya mekanis 16500 kg. Isolator digandeng-

gandengkan menurut kebutuhan isolasi karena tegangannya.

Gambar 3.27. Isolator Gantung

3.8.2. Isolator Jenis Pasak (pin-type)

Isolator jenis pasak (pin-type) terbuat dari porselin, yang bagian bawahnya

diberi tutup (thimble cap) besi cor yang disemenkan pada porselin serta pasak baja

yang disekrupkan padanya. Karena jenis ini dipakai sendiri (tidak dalam gandengan)
63

serta kekuatan mekanisnya rendah, maka mereka tidak dibuat dalam ukuran-ukuran

yang besar.

Gambar 3.28. Isolator Jenis Pasak

3.8.3. Isolator Batang Panjang (long-rod)

Jenis Isolator Batang Panjang (long-rod) mempunyai sedikit bagian logam

sehingga tidak mudah menjadi rusak. Oleh karena rusuknya yang sederhana maka ia

mudah tercuci oleh hujan, sehingga jenis ini sesuai sekali untuk penggunaan pada

tempat-tempat yang banyak dikotori garan dan debu. Dan isolator jenis ini dipakai

pada saluran transmisi yang relatip rendah (kurang dari 22-33kV).


64

Gambar 3.29. Isolator Batang Panjang

3.9. Pengoperasian dan Pemeliharaan

3.9.1. Sistem Pengoperasian Transformator Tenaga

Pengorasian dari suatu peralatan atau sistem tenaga listrik, baik generator

maupun transformator harus sesuai dengan urutan kerja yang telah ditentukan. Dalam

hal ini PT. PLN (Persero) telah mempunyai Sistem Operasional Prosedur (SOP) yang

harus dipatuhi atau dilaksanakan oleh operator untuk mengoperasikan atau

mematikan peralatan listrik.

a. Transformator yang baru selesai dipasang/perbaikan/overhoul

Sebelum transformator diberi tegangan, terlebih dahulu diperiksa bagian-bagian

utama, peralatan bantu dan peralatan proteksi seperti :


65

1. Tangki/isi minyak dalam konservator, dengan cara membacanya didalam

gelas penduga apakah dalam batas normal.

2. Katup-katup sirkulasi minyak sudah pada posisi operasi.

3. Klem-klem dan kawat tanah untuk pengaman sudah tidak menunggu

operasi.

4. Pengecekan kedudukan relay-relay pengaman sudah dalam keadaan siap

pakai.

5. Instalasi pemadam kebakaran yang ada harus dalam keadaan siap pakai.

6. Posisi tap changer sudah siap menunjukkan pada posisi tegangan operasi.

7. Setelah pemeriksaan persiapan dilakukan maka Transformator siap untuk

dioperasikan.

b. Pengoperasian untuk Transformator yang jatuh (trip) karena gangguan untuk

pengoperasian terlebih dahulu melepas kabel beban dan kapasitor, mendapat

relay-relay yang bekerja dan kembali, pemeriksaan secara visual, pemberian

tegangan kembali.

3.9.2. Cara Menjalankan Transformator

Apabila syarat-syarat diatas tadi sudah terpenuhi maka Transformator siap

dijalankan dengan perincian sebagai berikut :

1. Jalankan semua peralatan pendingin.

2. Masukkan pemisah-pemisahnya

3. Masukkan pemutus tenaga dengan urutan sesuai dengan arah sumber tenaga.
66

3.9.3. Pengawasan dan Pengamatan

Pengawasan secara cermat pada lokasi Transformator yang sedang beroperasi,

untuk mencegah timbulnya kerusakan dan gangguan seperti :

1. Gangguan faktor luar yang disebabkan oleh manusia, hewan, dan lain

sebagainya.

2. Gangguan dari dalam yang disebabkan oleh bocornya minyak, silicagel,

suara, tinggi permukaan minyak pendingin.

Pengamatan secara periodik sesuai dengan batas waktu internal yang

ditentukan terhadap :

1. Arus beban

2. Tegangan

3. Temperatur minyak

4. Posisi tap

5. Tinggi permukaan minyak dalam tangki dan bushing.

3.9.4. Cara mematikan Transformator tenaga

Cara mematikan Transformator tenaga dengan urutan sebagai berikut :

1. Keluarkan pemutus beban Transformator sehingga beban Transformator

menjadi nol.

2. Keluarkan pemutus tenaga sisi tegangan sekunder.

3. Keluarkan pemutus tenaga sisi tegangan primer.

4. Keluarkan semua pemisah-pemisahnya

5. Matikan semua peralatan pendingin setelah temperatur minyak Transformator

mencapai 40° c.
67

3.9.5. Pemeliharaan Gardu Induk

Pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah serangkaian tindakan atau

proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi dan meyakinkan bahwa peralatan

dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan

yang menyebabkan kerusakan.

Tujuan pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah untuk menjamin

kontinuenitas penyaluran tenaga listrik dan menjamin keandalan, antara lain :

1. Mempertahankan kemampuan kerja peralatan

2. Memperpanjang umur peralatan

3. Mengurangi resiko kerusakan

4. Mengurangi kerugian secara ekonomis

5. Kehandalan operasi.

Pemeliharaan terhadap Gardu Induk Bungaran dilakukan secara berkala dan

telah terjadwal dengan baik. Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan, yaitu :

a. Pemeliharaan Prediktive

Pemeliharaan Prediktive adalah kegiatan pemeliharaan yang pemantauan dan

pengukuran terhadap petunjuk kerja peralatan instalasi, dimana dari hasil pemantauan

dan pengukuran tersebut dapat dipakai sebagai bahan untuk memprediksi umur

peralatan dan kelangsungan pengoperasian peralatan tersebut.

Sesuai surat edaran Direksi No. 038./E/012/DIR/1998 tanggal 22 oktober 1998,

prediktive maintenance didevinisikan sebagai sistem pemeliharaan berbasis kondisi


68

(condition base maintenance) dengan cara memonitor kondisi online baik pada saat

peralatan beroperasi atau tidak beroperasi. Untuk ini diperlukan peralatan dan

personil khususnya untuk analisa.

b. Pemeliharaan Preventive

Pemeliharaan Preventive adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan

untuk mencegah terjadinya kerusakan peralatan secara tiba-tiba dan untuk

mempertahankan kerja peralatan yang otomatis sesuai umur teknisnya.

Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala dengan berpedoman kepada :

- Instruction manual dari pabrik

- Standar-standar yang ada (IEC, CIGRE, dll.)

- Pengalaman operasi dilapangan

Dilingkungan PT. PLN (Persero) telah diterbitkan buku pedoman operasi dan

pemeliharaan (buku O dan M) sebagai pedoman untuk pemeliharaan preventive. SE

032/PTS/1984 dan suplemen.

c. Pemeliharaan Korektive

Pemeliharaan Korektive adalah kegiatan pemeliharaan yang dilakukan dengan

berencana pada waktu tertentu ketika gardu induk atau transmisi mengalami kelainan

atau kerja rendah pada saat menjalankan fungsinya dengan tujuan untuk

mengembalikan pada kondisi semula disertai perbaikan dan penyempurnaan instalasi.

Pemeliharaan ini disebut juga curative maintenace bisa berupa trouble shooting atau

penggantian bagian yang rusak/kurang berfungsi dan dilaksanakan terencana.


69

d. Pemeliharaan Darurat/Perbaikan

Pemeliharaan Darurat/Perbaikan adalah kegiatan pemeliharaan yang

dilakukan setelah terjadinya kerusakan mendadak yang waktunya tidak menentu

pelaksanaanya tidak direncanakan sebelumnya dan sifatnya darurat.

e. Standar-standar dalam Pemeliharaan Peralatan

Kegiatan pemeliharaan dalam peralatan bay penghantar memiliki standar

masing-masing peralatan sesuai blanko ISO yang telah dikeluarkan oleh PT. PLN dan

pada pemeliharaan tahunan bay penghantar 70 kV.

f. Pemeliharaan PMS Busbar dan Line 70 kV

PMS busbar dan line/pemisah merupakan peralatan yang dapat membebaskan

tegangan dalam keadaan tanpa beban.

1. Pemeliharaan isolator dan pengencangan baut klemnya.

2. Pengamplasan pisau-pisau PMS dan pemberian vaselin pada pisau-pisau

3. Pemeriksaan interlock dengan PMT.

g. Pemeliharaan CT (Transformator arus)

Transformator arus berfungsi untuk mentransformasikan dari arus yang tinggi

ke arus yang rendah digunakan untuk proteksi dan pengukuran, dan harus mendapat

perhatian untuk dilakukan pelihara :

1. Pembersihan isolator CT dan pengecangan baut pada klemnya.

2. Pengukuran tahanan pengentahan.

3. Pengukuran tahanan isolator.

4. Pemeriksaan terminal-terminal peralatan.


70

h. Pemeliharaan CVT/PT (Transformator Tegangan).

Dalam hal pemeliharaan ini hampir sama dengan pemeliharaan CT hanya

beda prinsip alat PT mentransformasikan tegangan tinggi ke tegangan rendah.

i. Pemeliharaan PMT

PMT/circuit breaker merupakan pemutus tenaga dalam keadaan berbeban pada

bay penghantar. PMT hanya bisa masuk apabila semua PMS sudah keadaan masuk.

Hal-hal yang perlu dipelihara pada PMT yaitu :

1. Pembersihan isolator dan pengencangan pada baut-baut klemnya.

2. Pengecekan kepada PMT.

3. Mengukur keserempakan waktu PMT buka dan tutup.

4. Mengukur tahanan kontak pada PMT.

5. Mengukur tahanan isolasi dan tahanan isolator.

6. Pengecekan motor-motor penggerak serta pemberian grease (minyak gemuk).

3.9. 6. Penyulang

Penyulang yang terdapat pada Gardu Induk merupakan peralatan yang

berfungsi untuk menghantarkan daya Listrik dari Sistem Transmisi ke Sistem

Distribusi, yang kemudian dari Sistem Distribusi tersebut di salurkan kembali ke

konsumen.
71

Gardu Induk Seduduk Putih terdapat 7 Penyulang yang masih beroperasi, berikut

nama-nama Penyulang dan daerah Layanannya :

1. Merak = PTC Mall & Hotel NOVOTEL

2. Kenari = Kebun Sirih, Sapta Marga dan sekitarnya

3. Beo = UPT, Jln. MP. Mangku Negara dan sekitarnya

4. Murai = Sekip dan sekitarnya

5. Merpati = Jl. Pipa dan sekitarnya

6. Walet = Simpang BLK, Kenten Laut dan sekitarnya

7. Kutilang = Lapangan GOLF dan sekitarnya

Anda mungkin juga menyukai